Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

"TTM - TRIBUTE TO THOMAS MERTON."



HIK: HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI
HARAPAN IMAN KASIH.
"TTM - TRIBUTE TO THOMAS MERTON."
(By His Holiness the Dalai Lama).
Hari ini saya sangat terharu dalam memorial ini, mengingat kembali perjalanan hidup Thomas Merton dan saya senang kita telah melakukannya.
Melihatnya sebagai seorang praktisi religius, khususnya seorang praktisi monastik, Thomas Merton sungguh seseorang yang dapat kita teladani.
Pada satu sisi pandang, dia seorang yang memiliki kemampuan mendengarkan yang sempurna -yaitu belajar, kontemplasi, mengajar, dan meditasi.
Ia juga memiliki kemampuan untuk belajar, untuk berdisiplin, dan memiliki hati yang baik.
Ia tidak hanya dapat melakukannya bagi dirinya sendiri, namun memiliki pandangan yang sangat, sangat luas.
Itu sebabnya, bagi saya, pada momen memperingati beliau, kita harus mencari untuk mengikuti contoh yang telah ia berikan kepada kita.
Dalam hal ini, walaupun babak kehidupannya telah berakhir, apa yang ia harapkan ia ingin lakukan, akan tetap untuk selamanya.
Bukan saja dalam teladan indahnya yang diikuti dalam biara ini, namun nampak bagi saya, jika kita semua meniru teladan ini, akan menjadi tersebar luas dan dapat menjadi kebaikan yang besar bagi dunia.
Dan bagi diri saya sendiri, saya selalu menganggap diri saya sebagai salah satu saudara Budha nya.
Jadi, sebagai sahabat dekat, atau sebagai saudaranya, saya selalu mengingatnya, dan selalu mengagumi kegiatannya dan cara hidupnya.
Sejak pertemuan dengan nya, dan sering kali ketika sedang mengexamin diri sendiri, saya benar-benar mengikuti beberapa teladannya.
Dalam beberapa kesempatan, seperti pada pertemuan ini, saya benar- benar merasa puas mengetahui bahwa saya telah berkontribusi untuk mengabulkan keinginannya.
Dan untuk seumur hidup saya, pengaruh dari pertemuan dengannya akan tinggal pada saya sampai nafas terakhir.
Saya sungguh ingin menyatakan bahwa saya mengatakan ini, dan akan tetap demikian sampai nafas terakhir saya.
Terima kasih.
Abbey of Gethsemani,
Kentucky
Juli 1996.
NB:
DIA.LO.GUE:
Dalai Lama dan Thomas Merton.
Dalai Lama dan Thomas Merton bertemu pada bulan November 1968 di Dharamsala, India ketika Dalai Lama tinggal di pengasingan. Mereka sendiri mengalami tiga kali pertemuan panjang selama delapan hari Merton tinggal bersama Dalai Lama.
Setelah pertemuan terakhir mereka, Merton menulis: “Itu adalah sebuah momentum diskusi hangat dan ramah, dan pada akhirnya saya merasa bahwa kami telah menjadi teman yang sangat baik. Saya merasa sangat menghormati, mengagumi dan menyenanginya sebagai seorang pribadi dan percaya juga bahwa ada ikatan spiritual yang nyata di antara kami.”
Dalam auto-biografinya, "Freedom in Exile" , Dalai Lama juga menggambarkan kunjungan Merton sebagai salah satu "memori atau kenangan yang sangat membahagiakan saat ini" dan mengatakan bahwa Thomas Mertonlah yang "mengenalkannya kepada makna sebenarnya dari kata 'Kristen'."
Kemudian, dalam sebuah wawancara, ketika ditanya tiga orang paling berpengaruh dalam hidupnya, Dalai Lama menjawab: "Guru Dharma, Ketua Mao Tse-tung dan Thomas Merton". Bahkan, berkali-kali selama bertahun-tahun dalam ajaran publiknya, Dalai Lama senantias mengangkat figur Thomas Merton sebagai model dialog antar agama dan perdamaian dunia.
Di Biara Trappist "Our Lady of Gethsemane" pada tahun 1996, Dalai Lama mengatakan: “Saya selalu menganggap diri saya sebagai salah satu saudara Buddhis [Thomas Merton]. Jadi, saya selalu mengingatnya dan sekaligus mengagumi aktivitas dan gaya hidupnya. Sejak pertemuan saya dengannya, saya benar-benar mengikuti beberapa contoh hidup rohaninya, jadi sepanjang sisa hidup saya, dampak pertemuannya akan tetap ada sampai nafas terakhir saya.”
Dalam sebuah acara di New York Times beberapa waktu lalu, Dalai Lama kembali berbicara tentang pertemuannya pada tahun 1968 dengan Thomas Merton dan perlunya agama-agama untuk menyoroti "apa yang menyatukan kita."
Menariknya, Merton sering dikritik oleh beberapa umat Katolik karena tidak "cukup Katolik" menjelang akhir hayatnya (ketika dia melakukan perjalanan menjelajah Asia dalam sebuah perjalanan ke sebuah konferensi antar agama di Thailand, di mana dia secara tidak sengaja tersengat listrik). Merton juga dikritik karena dianggap tidak menginginkan untuk kembali menjalani kehidupan religius setelah perjalanan menjelajah Asia. Kritik ini sendiri muncul saat Merton dimasukkan dalam daftar tokoh Katolik di "Katekismus Katolik Amerika Serikat untuk Orang Dewasa pada tahun 2005".
Kedua kritik ini dijawab oleh jurnalnya yang tebal, tulisannya yang diterbitkan pada saat itu, surat-surat yang dia kirim ke biara selama perjalanannya, serta komentar kuat dari saudara-saudaranya di Biara Gethsemani dan pastinya sebuah komentar dari Dalai Lama, yang meminta agar Merton untuk tetap "sangat setia" kepada agama Kristen:
“Memang, setiap agama memiliki eksklusivitas sebagai bagian dari identitas intinya. Meski begitu, saya yakin ada potensi asli untuk saling mengerti. Sementara melestarikan iman terhadap tradisi seseorang, seseorang dapat menghormati, mengagumi dan menghargai tradisi lainnya."
"Saya mengingat pertemuan awal saya dengan Thomas Merton di India sesaat sebelum kematiannya yang terlalu cepat di tahun 1968. Merton mengatakan kepada saya bahwa dia benar-benar setia kepada agama Kristen, namun sekaligus dapat juga belajar secara mendalam dari agama-agama lain seperti Buddhisme. Hal yang sama juga berlaku bagi saya untuk terdorong mempelajari agama besar dunia lainnya."
"Poin utama dalam diskusi saya dengan Merton adalah bagaimana cinta kasih itu menjadi pesan kunci agama Kristen dan Budha. Dalam bacaan saya tentang Perjanjian Baru, saya menemukan diri saya terilhami oleh kasih sayang Yesus. Keajaiban 5 roti dan 2 ikannya, pelbagai kesembuhan dan aneka ria pengajarannya semua dimotivasi oleh keinginan untuk meringankan penderitaan manusia. Lebih lanjut, saya sangat percaya pada kekuatan kontak pribadi untuk menjembatani perbedaan, jadi saya sudah lama tertarik pada dialog dengan orang-orang dengan pandangan religius lainnya. Fokus pada belas kasihan yang diamati Merton dan saya dalam dua agama kami mengejutkan saya sebagai sebuah benang pemersatu yang kuat di antara semua agama besar.”
Ambil contoh lain, Yudaisme, misalnya. Saya pertama kali mengunjungi sebuah sinagoga di Cochin, India, pada tahun 1965, dan telah bertemu dengan banyak rabi selama bertahun-tahun. Saya ingat dengan jelas rabi di Belanda yang memberi tahu saya tentang Holocaust dengan intensitas sedemikian sehingga kami sama-sama menangis. Dan saya telah belajar bagaimana Talmud dan Alkitab mengulangi tema belas kasih, seperti dalam bagian dalam Imamat yang menasihati, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
"Dalam perjumpaan saya dengan para ilmuwan Hindu di India, saya telah melihat betapa sentralitas kasih sayang tanpa pamrih dalam Hinduisme - seperti yang diungkapkan, misalnya, dalam Bhagavad Gita, yang memuji orang-orang yang "senang dengan kesejahteraan semua makhluk". Saya tergerak oleh cara-cara nilai ini diungkapkan dalam kehidupan makhluk agung seperti Mahatma Gandhi, atau Baba Amte yang kurang dikenal, yang mendirikan sebuah koloni penderita kusta tidak jauh dari pemukiman Tibet di Negara Bagian Maharashtra di India. Di sana ia memberi makan dan melindungi orang kusta yang tidak dijauhi. Ketika saya menerima Hadiah Nobel Perdamaian saya, saya memberikan sumbangan ke koloninya."
"Belas kasih sama pentingnya dalam Islam - dan menyadari bahwa hal itu menjadi sangat penting di tahun-tahun sejak 11 September, terutama dalam menjawab mereka yang melukis Islam sebagai sebuah keyakinan militan. Pada peringatan pertama 9/11, saya berbicara di Katedral Nasional di Washington, memohon agar kita tidak membabi buta mengikuti jejak beberapa orang di media berita dan membiarkan tindakan kekerasan beberapa individu mendefinisikan keseluruhan agama."
"Mari saya ceritakan tentang Islam yang saya tahu. Tibet telah memiliki komunitas Islam selama 400 tahun, meskipun kontak terkaya saya dengan Islam telah berada di India, yang memiliki populasi Muslim terbesar kedua di dunia. Seorang imam di Ladakh pernah mengatakan kepada saya bahwa seorang Muslim sejati harus mencintai dan menghormati semua makhluk Allah. "
Dan menurut pemahaman saya, Islam mengabadikan kasih sayang sebagai prinsip spiritual inti, yang tercermin dalam nama Tuhan, "Yang Maha Pengasih dan Penyayang," yang muncul di awal hampir setiap bab Alquran. Menemukan kesamaan di antara agama dapat membantu kita menjembatani kesenjangan yang tidak perlu pada saat tindakan terpadu lebih penting daripada sebelumnya. Sebagai spesies, kita harus merangkul kesatuan manusia saat kita menghadapi isu global seperti pandemi, krisis ekonomi dan bencana ekologis. Pada skala itu, tanggapan kita harus sama seperti satu. Harmoni di antara agama-agama besar telah menjadi unsur penting koeksistensi damai di dunia kita. Dari perspektif ini, saling pengertian di antara tradisi-tradisi ini bukan semata-mata bisnis orang beragama - itu penting untuk kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan."
Akhir-akhir ini kita perlu menyoroti apa yang menyatukan kita. Di era di mana orang-orang di seluruh dunia merasa semakin terbelah oleh hal-hal seperti ras dan agama, kita dapat merasakan penghiburan dalam pengetahuan bahwa, baru-baru ini, Paus Fransiskus menilai Thomas Merton bersama Martin Luther King, Jr., Abraham Lincoln, dan Dorothy Day Sebagai orang Amerika yang paling dikagumi. Secara khusus, Paus Fransiskus merujuk pada Merton sebagai "seorang pria yang berdialog, promotor perdamaian antara masyarakat dan agama.
Hal ini terjadi setelah bertahun-tahun segelintir umat Katolik di Amerika Serikat mencoba mengecilkan pentingnya karya Merton sebagai tokoh pemahaman dialog antar agama.
Minat Merton terhadap agama-agama Timur khususnya membawanya ke Asia pada tahun 1968, di mana Merton dan Dalai Lama bertemu untuk diskusi tiga hari tentang agama dan spiritualitas di tanah pengasingan Dalai Lama di Dharamsala, India.
Jika momen itu bermakna bagi Merton , itu juga mungkin yang dirasakan oleh Dalai Lama sendiri yang waktu itu baru berusia 30-an (Merton sudah berusia 50-an tahun).
Dalai Lama merasakan hubungan spiritual dengan Merton dan kadang menggambarkannya hampir seperti ayah atau kakak laki-laki. Dia menggambarkan Merton sebagai yang memiliki dan mengenalkan saya pada arti sebenarnya dari kata 'Kristen'.
Meskipun Merton sendiri secara tragis tersengat listrik dan meninggal pada usia 53 tahun, dampak mendalam dari pertemuan ini terhadap Dalai Lama telah menumbuhkan harapan akan adanya lebih banyak lagi kasih sayang dan pengertian di seluruh agama selama dekade-dekade berikutnya.
Morgan C. Atkinson, seorang produser dan sutradara film dokumenter “The Many Storeys and Last Days of Thomas Merton”, yang menemui Dalai Lama menyatakan bahwa yang Dalai Lama ingin lakukan hanyalah membicarakan Thomas Merton: “Ini tidak terlalu mengejutkan karena kami mewawancarainya sebagai bagian dari sebuah film dokumenter tentang Merton. Meskipun demikian, pertemuan kami dijadwalkan lima menit tapi lima belas menit kemudian Dalai Lama masih berbicara dengan antusias tentang waktunya bersama Merton. Seolah-olah mereka telah berbicara kemarin daripada 45 tahun sebelumnya. Ini jelas merupakan persahabatan yang langgeng, seperti kata Dalai Lama: “Saya sendiri menganggapnya sebagai teman dekat, teman yang paling istimewa, saudara spiritual.”
Indahnya, Paus Fransiskus sendiri menempatkan Merton bersama Abraham Lincoln, Martin Luther King dan Dorothy Day sertamemuji keempatnya sebagai orang Amerika teladan yang paling dia kagumi. Dalam menggambarkan Merton, Paus Francis mengatakan “Dia adalah ... seorang pria dialog, promotor perdamaian antara masyarakat dan agama.”
Menurut Dalai Lama ketika mengenang waktu berjumpa Merton. Dia teringat kesan pertamanya. Dia mengagumi sabuk kulit lebar dan jubah Trappist yang dipakai Merton. Ia juga mengingat sambal tertawa lebar, “kepalanya cukup signifikan, sangat bersinar! Itu kesan yang sangat kuat.” Dalai Lama memang sering tertawa dalam menggambarkan waktu bersama Merton. Dengan nada yang lebih serius, dia mengamati bahwa Merton tampak menjadi seorang praktisi sejati dari iman Kristennya. Ia “membawa pesan Yesus 24 jam.”
Satu hal yang dicatat dan dihargai adalah bahwa Merton membuat “usaha serius untuk belajar dari berbagai tradisi, terutama Buddhisme ... Jadi, kali ini, momen ini sangat penting. Kontak dekat, dan kemudian, sebagai hasil hubungan yang lebih dekat, secara otomatis ada rasa saling menghormati. Seringkali ini digambarkan sebagai jembatan yang sangat, sangat kuat antara biarawan Katolik, tradisi Katolik dan tradisi Buddhis. “
Adapun percakapan dengan Dalai Lama ini dipimpin oleh Paul Pearson, Direktur Eksekutif Thomas Merton Center di Bellarmine University. Dr. Paul Pearson memberikan hadiah kenang-kenangan kepada Dalai Lama. Pada umumnya, Dalai Lama menerima banyak hadiah dalam perjalanannya dan biasanya menyerahkannya kepada seorang ajudan setelah dengan sopan memeriksanya secara singkat.
Tapi, satu hadiah Pearson ini diperlakukan dengan cara yang berbeda. Hadiah yang berupa foto Merton dan Dalai Lama yang diambil pada pertemuan mereka di tahun 1968, diperiksanya dengan seksama dan dipegangnya sendiri. Ya, Merton berada di puncaknya di usia 53, namun hanya beberapa minggu dari kematiannya dan Dalai Lama di usia 33 masih dalam perjalanannya yang luar biasa untuk menyebarkan pesan belas kasih. “Ini terlihat saya adalah anaknya,” kata Dalai Lama dengan sekali lagi tertawa lebar. Kemudian, dengan lebih serius, “Saya pikir memang secara spiritual dia lebih tua, dan saya lebih muda. Jadi secara spiritual saya berpikir seperti ini, ayah memang lebih berpengalaman, maka yang lebih muda, itu adalah anak laki-lakinya.”
Ketika waktu untuk berpamitan, Dalai Lama tampak enggan karena terbersit pikiran lain tentang hubungannya dengan Merton: “Saya selalu merasakan tanggung jawab dari apa yang dia harapkan dari saya sampai kematian juga menjemput saya. Ya, secara logis ada dua orang dengan konsep yang sangat mirip, sekarang seseorang telah berlalu dan hanya seorang lagi yang tersisa yang memiliki tanggung jawab lebih. Anda melihat satu orang melakukan usaha baik, itu bagus! Tapi kalau ada 10 orang yang melakukannya, tentu lebih baik! Jadi sekarang saatnya untuk maju. Lakukan sesuatu bersama yang lainnya.”
“Lakukan sesuatu”!
Sebuah nasihat yang perlu dipikirkan dan dilakukan, bukan?

Filosofi Sufi



HIK : HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
"Filosofi Sufi"
Belajar dari 10 Sajak Rumi
Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi.
Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, ia mampu berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Darisanalah, Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan ahli matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.
Karya.
Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.
Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.
Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik.
Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Yesus dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai dan diliputi oleh cinta Ilahi. Dan, inilah 10 kumpulan sajak ala Rumi dalam Divan Samshi Tabris :
1.
Bagaimana kau mesti bertobat bagi dosa-dosamu yang banyak kepadanya, o Hatiku? Kekasih setia, kau tidak.
Jiwanya sangat pemurah, kau begitu banyak meminta. Kurnianya begitu berlimpah ke atasmu, namun banyak dosa kaulakukan kepadanya.
Dalam hatimu iri, niat buruk dan fikiran keji bersarang; sedangkan dalam hatinya bersemayam pesona, kasih sayang dan berkah.
Kepada siapakah kasih sayangmu ini dicurahkan? Kepada jiwamu yang pahit agar berubah menjadi manis. Kepada siapakah seluruh pesonanya ditunjukkan? Kepada kau agar dapat bersatu dalam persaudaraan para pecinta.
Kau akan menjadi orang yang gemar menyesali dosa-dosamu; dengan bibirmu, kauseru nama Tuhan berulang-ulang; pada saat itulah hatimu akan dianugerahi kesenangan kerana dialah yang memberimu hidup.
Kemudian kau takut disebabkan dosa-dosamu, kaucari jalan keselamatan dengan penuh penyesalan; pada saat itu mengapa tak kaulihat dia yang menyelinapkan rasa takut ke dalam hatimu?
Ditutupnya matamu rapat-rapat, di tangannya kau bagaikan batu kerikil; diremasnya kau olehnya lantas dilempar ke udara.
Ditanamnya bibit nafsu memburu emas dan wanita ke dalam sifat-sifatmu; disemainya cahaya Mustafa ke dalam jiwamu.
Yang satu menarikmu untuk mencintai dunia; yang lain berusaha menjauhkanmu dari dunia; namun di tengah permainan gelombang pasang ini kapal mesti berlayar terus atau karam.
Berdoalah berulang-ulang, menangislah sejadi-jadi kala malam, sampai gema dahsyat terdengar dari langit dan merobek pendengaranmu.
"Apabila kau orang yang bergelimang dosa, kumaafkan kau dan kuampuni dosa-dosamu. Apakah sorga yang kauinginkan? Jika itu inginmu, sekarang juga akan kuberi, diamlah dan akhiri permohonanmu!"
Syu'aib menjawab, "Ini dan itu tidak kuingin. Yang kuingin ialah menatap wajah Tuhan saja. Walau tujuh samudra menjelma kobaran api yang menakutkan, diriku akan kucebur ke dalamnya kalau aku dapat berjumpa dengan-Nya!
Namun kalau aku tak diperkenankan menatap-Nya, kalau mataku yang terendam air mata ditutup rapat sehingga terhalang untuk menyaksikan impian itu, aku lebih baik tinggal dalam api neraka, sorga bukan tempat tinggalku.
Tanpa pertolongan-Nya sorga adalah neraka bagiku. Aku akan dililit oleh warna kelam dan bau busuk sang maut; di mana cahaya abadi yang kemilau itu dapat kujumpai?"
Mereka berkata, "Akhiri ratap tangismu, agar penglihatanmu tak rabun. Matamu akan buta jika menangis berlebihan."
Syu'aib menjawab, "Jika dua mataku buta disebabkan menangis, setiap bagian dari diriku akan berubah menjadi mata; mengapa aku harus bersedih disebabkan buta?
Namun apabila dia mesti merampas mataku untuk selamanya, biarlah penglihatanku buta sama sekali disebabkan tidak pantas menatap Junjungan Kasih!"
Setiap orang di dunia ini mesti memilih satu saja yang harus dicintai, baik atau buruk, sesuai takaran sifatnya. Karena itu celakalah apabila kami membinasakan diri kami untuk tujuan lain yang sia-sia..
Pada suatu hari Syekh Bayazid mengekori seorang musafir. Syekh berkata, "Dagang apakah yang kaupilih, hai penjahat?"
Musafir itu menjawab, "Aku penunggang hemar!" Syekh berseru, "Menjauhlah kau dariku -- Tuhan, anugerahilah dia karena hemarnya dapat binasa sewaktu-waktu, sedangkan musafir itu dapat menjadi seorang hamba-Mu yang setia!"
2
O Pecinta, pecinta! Kau dan aku telah karam dalam gelombang air: siapakah yang dapat berenang?
Walaupun arus dunia akan mengamuk melambungkan airnya dan ombak naik menjulang bagaikan punggung unta, mengapa burung air mesti ketakutan? Sepatutnya burung udaralah yang ketakutan.
Wajah kita akan bercahaya, riang dan bahagia, bersatu dalam laut dan ombak selamanya, kerana laut dan aruslah yang menyebabkan ikan hidup dan berkembang biak.
Mari kawan, buang tuala itu; Air, biarkan kami tenggelam dalam lautmu!; Musa bin Imran, mari kemari! Belahlah air laut ini dengan tongkatmu.
Angin ini menghembus nafsu yang berbeza kepada setiap kepala; biarlah kucurahkan nafsuku kepada dia, si pembawa piala anggur, dan kau curahkan nafsumu kepada yang lain.
Kemarin Saqi merampas serban pemabuk ini. Kini kami diberi anggu lagi. Dia ingin membuang pakaian kami dan menelanjangi kami.
O Bulan dan Jupiter yang cemburu, mengapa kau malu menampakkan wajah bagaikan seorang bidadari, tidak maukah kau mengatakan kemana aku akan dibawa pergi?
Namun kemana pun kau pergi, kau bersamaku jua, kaulah mata dan sinarku; kalau kau berhasrat, mabukkan aku! Kalau kau mau, karamkan dan hanyutkan aku ke dalam ketiadaan.
Dunia ini bagaikan Bukit Sinai, dan kami ialah Musa yang mencari sinar-Nya; kerana setiap petunjuk berasal daripada-Nya, kemuncak bukit ini pecah berkeping-keping.
Sebahagian menjadi hijau, sebahagian putih, sebahagian menjelma mutiara, sebahagian menjelma manikam dan batu ambar.
Kau yang begitu rinduk pada wajah-Nya, lihat pecahan batu bukit-Nya ini. O Bukit, angin apa yang bertiup di atasmu? Kami mabuk mendengar gemanya.
O Penjaga taman! Mengapa kau datang dan ingin memukul kami? Kalau kami memang mencuri anggurmu, ambilah pundi-pundi kami sebagai gantinya.
3
Kini kusaksikan kekasihku, mutiara segala ciptaan dan kejadian, terbang ke langit, mikraj bagaikan roh Mustafa.
Matahari malu memandang wajahnya, cuaca kebingungan di angkasa bagaikan hati; cahayanya membuat air dan lumpur lebih berkilauan daripada api.
Aku berkata, "Yang manakah tangga tempatmu naik, tunjukkan! Aku ingin naik juga!" Dia menjawab, "Tangga naik ke langit tidak lain ialah kepalamu, titahkan kepalamu bersujud di bawah kakimu!"
Kalau kakimu dijejakkan di atas kepalamu, kakimu akan menunggang bintang-bintang; kalau kau ingin mengarung angkasa, angkatlah kakimu ke langit!
Di hadapanmu seratus jalan menuju langit akan terbentang, setiap subuh kau akan terbang ke langit bagaikan untaian doa.
4
Setiap saat ilham diturunkan ke dalam relung hatimu dari langit, "Berapa lamakah usia hidupmu, yang bagaikan ampas, akan bertahan di bumi? Naiklah!"
Seberat apa pun beban jiwa seseorang, pada akhirnya akan menjadi ampas. Apabila ampas memenuhi bejana, bersihkan ia secepatnya!
Jangan keruhkan lumpur ini setiap saat, agar airnya jernih. Agar kotorannya dibuang dan dukamu pulih.
Begitulah roh, seperti obor, asapnya lebih tebal dibanding cahayanya. Apabila gumpalan asap lenyap, cahaya dalam rumah tidak akan dipermainkan lagi.
Kau bercermin ke dalam air keruh, kerana itu tidak dapat melihat bulan atau matahari. Apabila langit diliputi kegelapan, matahari dan bulan tersembunyi.
Angin utara bertiup, udara pun segar. Begitulah angin sepoi di subuh hari bertiup agar udara segar di bumi.
Tiupan angin roh menyegarkan dada yang sesak derita. Nafas ringan dihela dan jiwa lega.
Roh ialah pengembara asing di atas bumi, negeri tak bertempat itulah yang dirindukan. Sebab apakah nafsu amarah sentiasa gelisah?
Roh suci, berapa lama lagikah kau mau mengembara di atas bumi ini? Kau elang raja, kembalilah kepada siul Baginda.
5
O Pecinta, pecinta! Masa bersatu dan berhadap-hadapan telah tiba. Dari langit terdengar suara, "Para rupawan yang molek seolah-olah bulan, selamat datang di sini!"
Orang-orang yang bahagia, kebahagiaan telah datang, jubahnya menyentuh bumi; kami rebut rantai yang membelenggu kami dan dibuangnya pakaian kami.
Minuman hangat itu telah dihidangkan; syaitan berduka cita, duduk bersendirian di pojok; Roh yang rindukan maut, berangkatlah kau! Saqi kekal, masuklah!
Langit berlapis tujuh mabuk kepayang kepadamu maka ia pun berahi; dalam tanganmu kami ialah meja tempat membayar; kerana kaulah hidup kami diliputi kedamaian.
Musafir, bunyikan gentamu setiap saat; pasang pelana kudamu; Angin sepoi, tiuplah roh kami!
O suara buluh perindu, dalam nadamu kukecap manisnya madu; siang malam nadamu memberi kecupan kesetiaan kepadaku.
Nyanyikan lagi dari awal, dendangkan lagu itu sekali lagi; O matahari kemilau, kau semata yang kupuja.
Diam jangan robek cadarnya; diam, tuanglah anggur ke dalam gelas dia yang sedang diam; jadikan dirimu cadar, jadikan dirimu cadar, biasakan duduk di sisi kemurahan Tuhan.
6
Sungguh nikmat berkata-kata, menyerahkan kepala, berbincang dengan bibirnya, apalagi ia membuka pintu dan menyambut, "Tuan budiman, masuklah!"
Didendangkannya kisah Telaga Khaidir kepada bibirku: Sesuai ukuran badan si pemakai sang penjahit jubah cintanya memotong kain.
Mata air mabuk menatap pandangan matanya yang nanar. Pohon-pohon menari di hadapan angin sepoi subuh.
Burung bulbul berbisik kepada rumpun mawar, "Rahasia apakah yang kausembunyikan dalam hatimu? Katakanlah, kawan! Tidak ada orang selain kau dan aku di tempat ini!
Rumpun mawar menjawab, "Jika kau masih dibelenggu hawa nafsumu, kebahagiaan tidak akan datang. Ringankan jiwamu dari beban nafsu dunia!
Lubang jarum nafsu itu sempit: Kau takkan dapat memasukkan dua benang ke dalamnya bersama-sama.
Lihat, bagaimana matahari bertambah panas, berkat wajahnya wajah bumi berkilauan cahaya.
Pada saat Musa melompat ke dalam semak yang terbakar, semak berkata, "Aku ialah air Telaga Kautsar, lepaskan terompahmu!"
"Jangan takutkan api, aku air dan madu dalam api! Kini sudah saatnya kau dianugerahi harta karun itu. Tahta ini untukmu, selamat!
Kau mutiara keluhuran, intan hatiku, roh yang bertempat dan tidak. Kau umur yang tidak pernah berkurang, apakah ada ciptaan lain sebagus kau?"
Di tangan pecinta setiap tangan berubah menjadi neraca salah dan benar. Berkat kau dunia yang diliputi pengkhianatan menjadi mata air kesetian dan pengabdian.
Tatkala kau datang, kulihat piala raja ada di tanganmu. Kau undang aku untuk memeriahkan pestamu seraya berkata, "Sila!"
Bagaimana hatiku tidak akan bergembira apabila tangan kekasih meremas-remas tanganku dengan gemasnya? Bagaimana hati bijih-bijih besi apabila mendengar ucapan selamat datang daripada batu filosuf?
Kini ia muncul, tangannya memegang tombak bagaikan orang Baduwi. Aku berkata, "Apakah yang harus kulakukan untukmu? Jawabnya, "Perlihatkan dirimu!"
Hatiku terperanjat dan berkata, " Apakah aku yang harus tampil lebih dahulu?" Pikiran berkata, "Atau aku yang mesti menunjukkan diri?" Katanya, "Kalian berdua, pikiran dan hati bersama-sama, jangan berpisah!"
Jika hidangan rohani sudah turun dari langit, tangan dan mulut mesti dibersihkan, jangan lagi ada bau bekas makanan.
Lihat, ujarku, tanganku sudah bersih. Kalau kau memang pemurah dan penyayang, angkatlah gelas anggurmu dan beri pula aku piala: mari kita berpesta sehingga subuh!
Sesudah itu akan kututup kedua bibirku, agar lampu siang dan malam dan nyala api lidahku serta merta sanggup menceritakan kembali seluruh kisah itu.
7
Raja datang, raja datang! Potong jari-jarimu, muliakan si tampan dari Kana'an.
Kerana jiwa segala jiwa sudah datang, masih perlukan membicarakan jiwa: tidakkah berkat kehadiran jiwa segala jiwa ini jiwa kita terpelihara untuk dijadikan qurban?
Pada mulanya aku ini gunung, kemudian menjelma jerami makanan kuda sang raja.
Orang Tajik atau Turki, hamba ini hampir dengannya seperti roh dengan badan: sayang, badan tidak mengenal roh.
Lihat, kawan-kawan mulai berkumpul, alangkah riang mereka: saat meringankan beban fikiran tiba; Raja Sulaiman melangkah ke arah singgasananya, sambil menghalau syaitan.
Mengapa kau diam? Angkatlah kakimu cepat-cepat! Mengapa kau bimbang dan lesu? Kalau kau tak tahu jalan menuju istana Raja, bertanyalah kepada Hudhud.
Ucapkanlah doa-doamu di sana, katakan niat dan hasratmu yang tersembunyi; Raja Sulaiman mengerti bahasa para burung.
Percakapan, o Pengabdi, hanya tiupan angin yang membingungkan hati. Namun ia menitahkan, "Hai orang yang bercerai berai, berhimpunlah!"
8
Apakah pernah kau jumpai pecinta mabuk cinta seperti ini? Apakah pernah kau temui ikan yang sangat berahi kepada lautan ini?
Apakah pernah kau melihat wayang yang melarikan diri dari pengukirnya? Apakah pernah kau mendapatkan Wamiq bertobat kepada kepada Azra?
Pada waktu berpisah, pecinta bagaikan nama tanpa erti; tetapi satu nama seperti Kekasih tak memerlukan nama.
Kau laut, aku ikannya -- peganglah aku sesuka hatimu; berilah aku tujuan, perlihatkan kemuliaan seorang raja. Tanpa kau aku terlunta-lunta.
Raja yang megah, kurang apakah petunjuk jalan ini? Kalau kau tiada, api menjulang.
Apabila api memandangmu, tentu ia akan pergi; kerana itu siapa pun yang dapat memetik mawar daripada unggunan api, api akan mengurniakan mawar yang lebih indah.
Tanpa kau dunia ini membuatku sengsara, mungkin binasa; aku memohon kepadamu demi hidupku, tanpa kau hidup ialah lingkaran aniaya dan derita bagiku.
Bayanganmu seolah sosok seorang sultan yang sedang bertamasya di dalam hatiku, malahan bagaikan Raja Sulaiman pada waktu berkunjung ke masjid al-Aqsa di Yerusalem.
Beribu-ribu lentera dinyalakan, tabir semua masjid disingkapnya; sekeliling Syurga dijaga malaikat Ridwan dan bidadari-bidadari.
Segala puji kepada Tuhan! Di Syurga beribu-ribu bulan bersinar terang. Rumah suci ini pun didiami malaikat dan bidadari-bidadari, namun mereka terlindung daripada penglihatan si buta.
Burung molek dan bahagia itulah yang bertempat dalam Cinta! Siapakah yang dapat mencapai kemuncak Bukit Qaf selain `Anqa?
Molek si `Anqa mulia, Maharaja Syamsi Tabriz! Dialah Matahari yang tidak berasal daripada Barat atau pun Timur, tidak dari mana pun.
9
Esok alangkah bahagianya apabila tangannya membelai tanganku dengan penuh kasih sayang dan memperlihatkan wajahnya di jendela bagaikan bulan purnama.
Apabila mawar hatiku datang menghalau beban yang membelenggu tangan dan kakiku, kerana tangan dan kakiku ini masih terikat tangan dunia.
Lalu akan kubisikkan, "Demi kau, aku berjanji, o Nyawa rohku, apakah ada sahabat lain di dunia ini yang dapat menerbitkan keriangan hati selain kau, sebab anggut pun tidak sanggup membuatku mabuk!"
Apabila dia membelalakkan mata, menjawab sambil marah, "Pergilah kau! Apa yang kau kehendaki dariku? Aku kuatir kesedihanmu membuatku murung!"
Maka akan kuserahkan sebilah pedang dan kain kafan kepadanya, biar leherku dipenggal sebagai ternak qurban, sambil berkata, "Aku telah menyusahkan kau, baik, sembuhkan kini kepalamu yang pening!"
"Aku tak mau hidup tanpa kau, demi Tuhan yang mencabut nyawa insan, aku lebih baik mati daripada terlunta-lunta di bumi;
Aku tak percaya kau akan meninggalkan abdimu ini; kuceritakan berulang-ulang, tetapi setiap kali musuh-musuhku menyebarkan berita bohong semata.
Kaulah hatiku, tanpa hati aku takkan mengerti bagaimana mesti hidup: kaulah hatiu, tanpa kau aku akan buta.
O Musafir, tariklah suaramu yang nyaring, gesek biola dan tabuhlah rebana kalau kau tak punya buluh perindu.
10
Bawalah anggur yang banyak kemari: peras dan gilinglah dalam roda cakrawala yang berputar cepat ini.
Walau si piala gaib itu telah kenyang namun ia masih mengintai, tidak dapat menahan rasa kepayang dan kebiasaan jeleknya.
Cinta, kau sentiasa riang, manis dan lembut, lepaskan cadar yang menutup wajahmu.
Pujaanku, si wajah anggun, tuangkan anggur dari botol ke cawan itu agar tawa yang riuh pecah berderai.
Apabila kau tidak menginginkan kelopak mawar itu menguncup dan layu, mengapa kau membuka kedai minyak wangi?
Kami telah disesatkan oleh penglihatan mata ini dan membiarkan sungai mengalir deras sehingga arusnya menghanyutkan kami.
O roh, ke bumi luas kerontang ini kami dijatuhkan, bagaikan bebijian jagung dan sepanjang hari berdoa agar hujan diturunkan secepatnya.
Utusan baru berdatangan dari tiap-tiap penjuru, "Hujan tidak akan turun, pergilah kau!" Katakan dengan lantang, "Namun Tuhan melindungi kami!" kepada gagak pembawa warta kematian itu.
O penyebar kekacauan bagi jiwa, pencuri ulung dari Goa yang laknat, kaulah yang telah merampas biola Abu Bakar si penggesek biola yang piawai..
Kini kau hendak membuat hatiku mabuk sehingga aku berahi dan mabuk kepayang,
Kaulah sumber hayatku, jadilah engkau alamat baik bagaikan hari kiamat, kerana susu unta yang berkudis sekali pun ialah sumber kehidupan bagi orang Baduwi.
Alangkah tak tepermanai keindahan dan kemuliaanmu; Diamlah! Jangan berbisik, jangan bangunkan aku apabila kantuk sedang menceburkan diriku ke dalam lautan tidur yang sekejap.

---------------

HIK : HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
50 "Jalan Sufi" ala Jalaluddin Rumi:
Sebuah Negasi terhadap Dehumanisasi
Rumi – nama lengkapnya, Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al-Khattabi al-Bakhri – lahir di Balkh (Afghanistan sekarang) pada tanggal 30 September 1207.
Para Orientalis di Barat mengakui Rumi sebagai penyair yang terbesar dari semua penyair mistik yang pernah ada dalam peradaban Islam. Dan para sufi di Timur Tengah mengakui bahwa karya-karyanya dianggap sebagai Al-Qur’an kedua karena kedalaman maknanya.
Jalaluddin Rumi adalah pendiri “Tarekat Mevlevi” di Turki. Sebelum Perang Dunia II, pengikut Tarekat Mevlevi berjumlah 100.000 yang tersebar di seluruh Balkan, Afrika, dan Asia. Tidak ada penyair di dalam sejarah – tidak juga Shakespeare Atau Dante – yang secara nyata mempunyai dampak pada peradaban seperti yang dilakukan oleh Rumi. Dan tak ada puisi yang mampu membangkitkan ekstase mistik dan kebahagiaan kepada pembacanya seperti puisi-puisi yang ditulis oleh Rumi.
Rumi adalah satu pribadi di antara sedikit pribadi di bumi yang memiliki kesadaran universal – selain Ramakrishna, Aurobindo, dan Kabir – yang dihasilkan oleh agama, dan telah mewarnai kehidupan serta peradaban manusia dengan kemuliaan cinta.
Maka, pada saat ini, ketika kita membutuhkan suatu inspirasi untuk mencintai dunia yang tengah terancam kehancuran karena teror dan horor, ketika kita sudah melupakan identitas keilahian, kebahagiaan, serta tanggung jawab kemanusiaan kita, Rumi hadir sebagai seorang pemandu dan seorang saksi atas kemuliaan Tuhan serta keagungan jiwa manusia. Rumi hadir membawa esensi agama yaitu cinta yang universal.
Bagi Rumi, cinta melebihi semua dogma agama, cinta hadir untuk memeluk keseluruhan ciptaan, cinta adalah hakekat agama yang mempersatukan seluruh umat manusia dalam cahaya Keilahian.
Disinilah, bersama denga Bulan Juni yang bagi iman kami dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus dan bagi umat Islam, dirayakan sebagai Bulan Ramadhan, saya tampil kenangkan 50 puisi terbaik Rumi seputar kasih:
1
Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.
2
Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu. Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku.
3
Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung laksana sinar matahari yang menerangi bumi. Namun, kasih-Nya tidaklah berasal dari berbagai bentuk yang ada di bumi. Kasih-Nya melampaui setiap bentuk yang ada di bumi, sebab bumi ini dan segala isinya tercipta sebagai perwujudan dari kasih-Nya.
4
Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada wajah sahabatmu tercinta.
5
Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri.
6
Demi Allah, ketika kau melihat Jatidirimu sebagai Yang Maha Indah, maka kau pun akan menyembah dirimu sendiri.
7
Di mana saja kau berada, apa pun keadaanmu, cobalah selalu menjadi seorang pecinta yang senantiasa dimabuk oleh kasih-Nya. Sekali kau dikuasai oleh kasih-Nya, maka kau akan hidup menjadi seorang pecinta yang hidup bagaikan dalam pusara. Dan kau akan tetap hidup hingga hari kebangkitan itu tiba, lantas kau pun akan dibawa ke dalam surga dan hidup kekal selamanya. Namun, jika kau belum menjadi seorang pecinta, maka pada hari pembalasan seluruh pahalamu tidak akan dihitung.
8
Pada Hari Kebangkitan, orang-orang akan berjalan sempoyongan. Di depan-Mu, mereka akan menggigil dengan wajah pucat karena ketakutan. Maka, aku akan memeluk kasih-Mu dan berkata kepada mereka: “Mintalah apa pun; mintalah atas namaku.”
9
Ketika aku mati sebagai manusia, maka para malaikat akan datang dan mengajakku terbang ke langit tertinggi. Dan ketika aku mati sebagai malaikat, maka siapa yang akan mendatangiku? Kau tak akan pernah dapat membayangkannya!
10
Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan. Namun, janganlah tergesa melarikan diri dari kenyataan pahit ini dengan pergi berdoa atau membaca kitab suci. Lepaskan semua tindakan mekanis yang berasal ketaksadaran diri. Biarkan keindahan Sang Kekasih menjelma dalam setiap tindakan kita. Ada beratus jalan untuk berlutut dan bersujud kepada-Nya.
11
Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu.
12
“Mintalah sesuatu kepada-Ku,” begitu Kau berkata suatu ketika. Aku tertawa dan berkata: “Aku telah cukup bersama-Mu. Tanpa kehadiran-Mu, seluruh dunia ini hanyalah sebatang kayu yang mengapung dan terombang-ambing di samudera-Mu.”
13
Yakinlah, di Jalan-Cinta itu: Tuhan akan selalu bersama-Mu.
14
Tak ada pilihan lain bagi jiwa, selain untuk mengasihi. Namun, pertama kali jiwa harus merangkak dan merayap di antara kaki para pecinta. Hanya para pecinta yang dapat lepas dari perangkap dunia dan akhirat. Hanya hati yang dipenuhi dengan cinta yang dapat menjangkau langit tertinggi. Bunga mawar kemuliaan hanya dapat bersemi di dalam hati para pecinta.
15
Segalanya yang kau lihat mempunyai akarnya di dalam dunia yang tak terlihat. Bentuk akan berubah, namun intisarinya tetaplah sama.
16
Ketika sedih, aku bersinar bagaikan bintang pagi. Ketika patah hati, hakekatku justru tersingkap sendiri. Ketika aku diam dan tenang seperti bumi, tangisku bagaikan guntur yang menggigilkan surga di langit tertinggi.
17
Hati manusia selalu terbuka dan dapat menerima segalanya: semua yang baik dan buruk menjadi bagian dari Sufi.
18
Aku kehilangan duniaku, ketenaranku, dan pikiranku. Ketika matahari terbit, maka semua bayang-bayang lenyap. Aku berlari mendahului bayang-bayang tubuhku yang lenyap saat aku berlari. Namun, cahaya matahari itu berlari mendahuluiku dan memburuku, hingga aku pun terjatuh dan bersujud pasrah ditelan samudera kilau-Nya yang mempesona.
19
Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna.
20
Karena Cinta segalanya menjadi ada. Dan hanya karena Cinta pula, maka ketiadaan nampak sebagai keberadaan.
21
Badan ini hanyalah suatu cermin surga. Energinya membuat para malaikat cemburu. Kemurniannya membuat malaikat Seraphim terkejut. Dan Iblis yang berdiam di urat-urat syarafmu pun menggigil takut.
22
Kau lebih mahal dibanding surga dan bumi. Apa yang bisa kukatakan lagi? Kau tak mengetahui bahwa selama ini segala yang berharga telah menjadi milikmu. Janganlah menjual dirimu dengan harga murah, sesungguhnya dirimu sangatlah mahal di mata Tuhan.
23
Cintaku pada-Nya adalah hakikat jiwaku. Hidupku adalah gelora yang selalu merindukan-Nya. Aku hidup seperti seorang gipsi pengembara, aku tak pernah menetap di tempat yang sama, namun setiap malam aku selalu bernyanyi dan menari ditemani bintang-bintang di bawah langit yang sama.
24
Kematianku adalah perkawinanku dengan keabadian.
25
Meski aku terbakar habis, namun aku tetap tertawa, karena abuku masih tetap hidup! Aku telah mati ribuan kali: namun abuku selalu menari dan lahir kembali dengan ribuan wajah baru.
26
Di gurun pasir tanpa batas, aku kehilangan jiwaku, dan menemukan bunga mawar ini.
27
Aku telah melihat wajah mulia Sang Raja. Dia adalah mata dan matahari surga. Dia adalah teman seperjalanan dan penyembuh semua mahluk. Dia adalah jiwa dan alam semesta yang melahirkan jiwa-jiwa. Dia menganugerahkan kebijaksanaan pada kebijaksanaan, kemurnian pada kemurnian. Dia adalah tikar sembahyang bagi jiwa orang-orang suci. Setiap atom di tubuhku berlompatan sambil menangis dan berkata: “Terpujilah Tuhan.”
28
Apapun juga yang mereka katakan atau pikirkan, aku tetap ada di dalam Kau, karena aku adalah Kau. Tak seorang pun dapat memahami hal ini, sampai ia mampu melampaui pikirannya.
29
Jika kau dapat bertemu dengan Jatidirimu meski hanya sekali, maka rahasia dari segala rahasia akan terbuka bagimu. Wajah dari Yang Maha Tersembunyi, yang ada di luar alam semesta ini, akan nampak pada cermin persepsimu.
30
Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar. Namun, janganlah kau berputus asa, karena mereka semua datang dari sumber yang sama, dari Keabadian. Masukilah Keabadian itu, maka kau akan melihat segala sesuatu tumbuh dan berkembang, memberi hidup baru dan kegembiraan baru bagimu.
31
Ayat-ayat Tuhan itu tersimpan di hati langit yang paling rahasia. Suatu hari, seperti hujan, ayat-ayat Tuhan itu akan jatuh dan menyebar, sehingga misteri Keilahian akan tumbuh menghijau di seluruh dunia.
32
Jika kau berputar mengelilingi matahari, maka kau pun akan menjadi matahari. Jika kau berputar mengelilingi seorang Guru, maka kau pun akan bersatu dengan-Nya. Kau akan menjadi sebutir permata, jika kau menari mengelilingi-Ku. Dan kau akan berkelip seperti emas, jika kau menari mengelilingi-Nya.
33
Kau hanya memerlukan aroma anggur, karena makrifat akan menyala dengan sendirinya dari kesunyian hatimu setelah mencium aroma anggur itu, seperti juga nyala api akan tersilap dan berkobar dari aroma anggur! Bayangkan jika kau adalah anggur itu sendiri.
34
Sufi adalah seorang lelaki atau seorang perempuan yang telah patah hati terhadap dunia.
35
Kekasih, beri aku kesempatan untuk selalu mengetahui bagaimana cara menyambut-Mu, dan sulutkanlah obor di tangan-Mu agar membakar habis rumah ke-ego-an di dalam diriku.
36
Sembunyikan rahasia-Ku di dalam harta karun jiwamu. Sembunyikan perasaan ekstase itu di dalam dirimu. Jika kau menemukan Aku, maka sembunyikan Aku di dalam hatimu. Sadarilah kemabukan ini sebagai Kebenaran Mutlak!
37
Ingatlah bahwa Nabi Muhammad pernah berkata: “Satu penglihatan tentang-Nya adalah suatu berkah yang tak terhingga.” Setiap daun dari suatu pohon membawa suatu firman dari dunia yang tak terlihat. Lihatlah, tiap-tiap daun yang jatuh ke tanah sebagai suatu berkah dari-Nya. Segala sesuatu di alam ini senantiasa menari dalam harmoni, bernyanyi tanpa lidah, dan mendengar tanpa telinga, ya, semua itu adalah berkah yang tak terhingga dari-Nya.
38
Isi aku dengan anggur dari sunyi-Mu, biarkan anggur itu merendam pori-poriku, hingga Keindahan dari Yang Maha Agung akan terungkap bagiku. Inilah arti berkah bagiku!
39
Jika kau mendefinisikan dan membatasi “Aku” dengan berbagai konsepmu, maka kau akan kelaparan dengan dirimu sendiri. Lalu “Aku” pun akan jatuh ke dalam suatu kotak yang terbuat dari kata-kata, dan kotak itu adalah peti mayatmu sendiri.
40
Aku tidak tahu siapa sebenarnya “Aku”. Tetapi, ketika aku berjalan ke dalam diriku sendiri, maka aku pun terkejut: ternyata “Aku” adalah suara milik-Mu, gema yang terpantul dari “Dinding-Keilahian”.
41
Jatidiri kita adalah Cahaya. Cinta-Ilahi adalah Matahari-Keagungan. Sinar-Nya adalah firman. Dan mahluk adalah bayang-bayang-Nya.
42
Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia. Tiadakan dirimu, maka Jatidirimu akan terungkap tanpa kata-kata.
43
Ketika kami mati, jangan cari pusara kami di bumi. Tetapi, temukan di dalam hati para pecinta.
44
Ketika pikiran dilampaui, maka keindahan cinta pun datang menghampiri, berjalan dengan anggun, serta membawa secangkir anggur di tangannya. Ketika cinta dilampaui, maka Yang Maha Esa pun datang menghampiri – Ia adalah Zat yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata dan hanya bisa disebut sebagai “Itu”.
45
Setiap orang yang tinggal jauh dari sumber-Nya, dari Jatidirinya, maka ia akan selalu rindu untuk kembali ke masa ketika ia masih dipersatukan dengan-Nya.
46
Surga dibuat dari asap hati yang terbakar habis. Dan orang yang diberkahi oleh Tuhan adalah orang yang hatinya telah terbakar habis.
47
Awan-awan berada dalam keheningan meski penuh dengan berjuta kilat. Cinta akan memberi kelahiran baru bagi para filsuf berkepala batu. Jiwaku adalah ombak di dalam samudera kemuliaan-Mu. Dan di dalam keheningan: alam semesta beserta segala isinya tenggelam di dasar samudera kemuliaan-Mu.
48
Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu saja ada tamu baru yang datang: kegembiraan, kesedihan, ataupun keburukan; lalu kesadaran sesaat datang sebagai suatu pengunjung yang tak diduga. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua hanya membawa dukacita. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua dengan kasar menyapu dan mengosongkan isi rumahmu. Perlakukan setiap tamu dengan hormat, sebab mereka semua mungkin adalah para utusan Tuhan yang akan mengisi rumahmu dengan beberapa kesenangan baru. Jika kau bertemu dengan pikiran yang gelap, atau kedengkian, atau beberapa prasangka yang memalukan, maka tertawalah bersama mereka dan undanglah mereka masuk ke dalam rumahmu. Berterimakasihlah untuk setiap tamu yang datang ke rumahmu, sebab mereka telah dikirim oleh-Nya sebagai pemandumu.
49
Saat kau datang ke dunia ini, suatu tangga telah ditempatkan di depanmu, dan tangga itu akan mengantarmu kepada-Nya. Dari bumi ini, kau pun naik menjadi tumbuhan. Dari tumbuhan kau pun naik menjadi hewan. Setelah itu kau pun naik menjadi manusia – mahluk yang mewarisi pengetahuan melalui akal dan iman. Lihatlah, tubuhmu merupakan turunan dari debu, tetapi bagaimana bisa tubuhmu menjadi begitu sempurna? Lalu, mengapa kau takut dengan kematian? Ketika kau berhasil melampaui bentuk manusia ini, maka tak diragukan lagi kau akan menjadi malaikat dan membumbung melampaui lapisan-lapisan langit tertinggi. Tetapi, janganlah berhenti di sana, bahkan badan surgawimu itu akan tetap tumbuh menjadi tua, lampaui lagi surga itu dan melompatlah ke dalam “Samudera Kesadaran Yang Maha Luas”. Biarkan dirimu – yang bagaikan setetes air itu – menjelma menjadi seratus samudera. Tetapi, jangan berpikir bahwa hanya setetes air itulah yang telah menjelma menjadi samudera, sebab samudera juga telah menjelma menjadi setetes air.
50
Sssttt! Diamlah! Dengarkan suara dalam dirimu. Ingatlah firman pertama-Nya: “Kita melampaui setiap kata.”

ADA APA DIBALIK GERAKAN YESUS

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
ADA APA DIBALIK GERAKAN YESUS
Selayang Pandang.
“Kesadaran manusia berubah seiring dengan setiap perubahan dalam kondisi eksistensi materialnya”.
Karl Marx menyakini bahwa gerakan atau perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat ditentukan oleh substruktur (bangunan bawah) yang tidak lain adalah bidang ekonomi. Perubahan dalam struktur masyarakat terjadi ketika basis ekonominya berubah.
Apakah Gerakan Yesus yang menjadi cikal bakal jemaat Perdana juga berangkat dari permasalahan ekonomis (masyarakat tertindas) seperti ini?
Menarik, mencermati gerakan keagamaan yang dipelopori oleh Yesus dari Nazaret ini berubah menjadi jemaat Perdana yang berwajah helenistik dan mampu menjadi gerakan keagamaan yang ‘mendunia’ seperti sekarang ini.
Mengapa bisa sedemikian hebat?
Adakah roh/ kekuatan dasyat yang menggerakkannya?
Ataukah gerakan ini sebenarnya juga tidak terlepas dari berbagai macam dinamika kehidupan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Yahudi pada waktu itu?
Berangkat dari injil-injil Sinoptik dan karya sejarah Josephus Flavius sebagai sumbernya, tergambarkan secara sosiologis dinamika gerakan Yesus di kalangan masyarakat Yahudi yang beralih kepada pembentukan jemaat Perdana dimana Jemaat Perdana ini merupakan sebuah gerakan pembaharuan di dalam institusi religius Yahudi.
Adapun tiga model analisis sederhana untuk memahami realitas kehidupan para pengikut Yesus dari Nazaret atau jemaat Perdana dan masyarakat Palestina umumnya pada awal mula Kekristenan. Tiga model analisis itu adalah: analisis peran, analisis faktor, dan analisis fungsional.
Dalam analisis peran,
kita bisa menyelidiki pola-pola perilaku dari tiga unsur utama dalam Gerakan Yesus, yakni para nabi karismatik jalanan, para simpatisan, dan Anak Manusia (Yesus) sebagai pengemban wahyu.
Dalam analisis faktor,
kita bisa menyelidiki hubungan sebab-akibat dari interaksi antara berbagai unsur utama di atas dan interaksi dunia Yahudi Palestina dengan dunia luar Palestina (Yunani-Romawi). Interaksi ini mencakup berbagai faktor seperti faktor sosio-politis, sosio-ekonomis, sosio-ekologis, dan sosio-budaya. Untuk melihat hubungan sebab akibat tersebut, kita bisa menyoroti gejala-gejala yang muncul, membuat analogi, mengemukakan tujuan dan sebab-sebab yang bermain di balik setiap faktor hubungan tersebut.
Dalam analisa fungsional,
kita bisa membahas implikasi Gerakan Yesus ini terhadap masyarakat secara keseluruhan dan bagaimana pula pengaruh masyarakat terhadap dinamika Gerakan Yesus. Secara umum menurut analisis fungsional ini, ada empat fungsi yang diemban oleh gerakan ini seperti juga fungsi umum setiap agama, yakni fungsi restriktif, fungsi kreatif, fungsi integratif, dan fungsi antagonistik.
Seperti kita ketahui, organisasi gerakan mencakup unsur-unsur kepemimpinan kolektif dan kepemimpinan dalam setiap komunitas lokal, unsur keanggotaan yang sangat bervariasi namun memiliki satu kesadaran kolektif dan satu komitmen, satu cita-cita dan satu tujuan, unsur jejaring (networking) antar anggota dan antar komunitas di dalam gerakan, dan unsur-unsur lainnya yang menunjang kelancaran kontak organisatoris antara kelompok atau individu di dalam gerakan itu.
Pada Gerakan Yesus, kunci kekuatannya terletak pada kemampuan mereka membentuk jejaring antar komunitas yang saling menunjang.
Dalam konteks sosiologi agama, khususnya sosiologi gerakan keagamaan baru, kita bisa memperbandingkan Gerakan Yesus dengan aneka gerakan keagamaan dan politis lain yang ada pada waktu itu, seperti kaum Saduki, Farisi, ahli-ahli Taurat dan pemerintah penjajah Romawi.
Satu kesadaran yang muncul adalah bahwa jemaat Kristen Perdana di Palestina adalah jemaat yang terbangun di atas konteks sosial tertentu; bahwa jemaat Kristen Perdana adalah jemaat yang dinamis, yang berproses dan berinteraksi dengan berbagai kelompok sosial yang berdampak pada dinamika gerakan mereka sendiri serta refleksi mereka atas kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomis, ekologis, dan agama yang pada gilirannya juga mempengaruhi perkembangan Kekristenan sesudahnya. Selamat bergerak !
NB:
A.
GEREJA SEBAGAI PERSEKUTUAN
MURID-MURID
I. Beberapa Pendekatan Konsep Gereja sebagai Persekutuan Murid-Murid
a) Murid-Murid dalam Pelayanan Yesus di Depan Umum
Dasar dari model Gereja sebagai persekutuan murid-murid dapat ditelusuri dalam PB dan bahkan dalam pelayanan Yesus selama hidup-Nya di dunia. Gambaran murid dalam masa ini adalah kumpulan orang-orang yang terpilih di dalam persekutuan yang lebih luas, yang terdiri dari orang-orang yang menerima Yesus sebagai guru yang diutus Allah. Mereka sengaja dipilih untuk menyertai Yesus dalam perjalanan-perjalanan-Nya.
Akan tetapi persekutuan murid-murid tersebut semakin terlihat derajat keakrabannya dalam diri keduabelas rasul yang membentuk kesatuan inti yang merupakan orang-orang terpilih secara pribadi dan diangkat oleh Yesus untuk suatu tugas yang penting.
Bersama Yesus, murid-murid ini secara simbolis menghadirkan Israel baru dan yang dibarui. Misi mereka adalah mengingatkan sisa umat akan nilai transenden Kerajaan Allah lewat kesaksian. Mereka bertindak atas dasar peraturan dan tugas yang ditetapkan oleh Yesus dan semua ini dijalankan dengan sukarela, sebab mereka menemukan satu keluarga baru dalam persekutuan dengan Yesus.
Dan pada saat menjelang akhir karya Yesus, persekutuan murid-murid ini mendapat ciri baru yakni bahwa untuk hidup sebagai murid dituntut mengambil bagian dalam penderitaan-Nya yang menyelamatkan.
b) Persekutuan Murid-Murid Sesudah Paska
Sesudah Yesus wafat dan naik ke surga, gagasan murid-murid mengalami suatu perubahan lebih lanjut. Gagasan murid mengalami perluasan, seperti dalam Kisah Para Rasul yang melihat semua orang beriman Kristen disebut murid-murid (Kis.6:2).
Perluasan gagasan murid-murid ini dapat juga dilihat dalam Kitab Perjanjian Baru, seperti pada ayat-ayat terakhir Injil Matius yang menuliskan bahwa kesebelasan diberi tugas untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-murid. Bahkan para pengarang PB memberi nilai rasa yang berbeda-beda terhadap kata murid agar lebih efektif menjawab situasi khusus jemaat.
Selama abad-abad pertama, keanggotaan dalam Gereja mempertahankan sifat yang tegas dan berani yang tampak jelas dalam pengertian tentang murid. Mereka melihat persekutuan Kristen sebagai suatu masyarakat yang lain dari lain, dengan tetap mempertahankan jarak kritis terhadap lingkungan kafir.
Di antara mereka sendiri terjalin hubungan saling mencintai secara mendalam dan sadar akan tuntutan hidup sebagai seorang murid, mereka siap untuk menerima kemungkinan akan dipenjarakan, dibuang dan bahkan dihukum mati.
c) Gereja dalam suatu Masyarakat yang Dikristenkan
Ketika agama kristen menjadi agama resmi bagi seluruh Kerajaan Roma dan orang-orang kristen mulai terlibat dalam tugas-tugas biasa dalam kehidupan sipil, cita-cita hidup sebagai murid tidak hilang sama sekali.
Mereka dinasihati untuk menjalankan panggilan hidup sebagai murid secara batiniah, yang meliputi nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan yang telah ditetapkan oleh Yesus.
Pada masa ini hidup yang radikal sebagai murid adalah kehidupan religius, dimana banyak orang mengambil satu bentuk hidup yang keras dengan mempraktekkan nasihat Injil (kemiskinan, kemurnian, ketaatan dan penyangkalan diri) secara lebih sungguh-sungguh.
Dalam Gereja Katolik Roma, hidup religius lebih dikaitkan dan diperluas kepada konsep imamat. Tuntutan selibat imam dilihat sebagai aplikasi konsep PB tentang kehidupan seorang murid.
Katolisisme dewasa ini tidak membatasi kehidupan sebagai murid pada para imam dan kaum biarawan-wati saja. Tetapi sesungguhnya kaum awamlah yang mempunyai tanggungjawab khusus sebagai seorang murid. Merekalah yang bertugas meresapi dunia sekular dengan semangat Kristus, dan meragikan dunia dengan ragi Injil, sehingga usaha-usaha manusia dapat dilandasi harapan dan dibimbing ke arah penyempurnaan ilahi yang telah ditentukan.
d) Murid dan Hidup Sakramental.
Agar Gereja sebagai keseluruhan dapat menunaikan tugas sebagai murid dalam arti yang penuh, diperlukan pelbagai macam karunia dan panggilan. Gambaran tokoh-tokoh dalam Injil hendak menampilkan pengejawantahan dari cita-cita hidup yang aktif dan kontemplatif. Yesus membangun persekutuan orang beriman dengan Sabda dan Sakramen.
Di sini diperlukan saat kontemplasi supaya mereka mampu mengenal dan percaya kepada Allah dan Yesus sebagai utusan Allah.
Semua orang kristen diwajibkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan hidup sebagai murid, terutama untuk ibadat/liturgi. Liturgi mencapai titik puncaknya dalam kegiatan-kegiatan yang disebut sakramen.
Sakramen merupakan momen khusus dalam kehidupan Gereja dan anggota-anggotanya bila Tuhan yang disalibkan dan bangkit itu diimani sungguh-sungguh hadir dan berkarya sesuai dengan janji-Nya. Sakramen merupakan satu transaksi antara Tuhan yang hidup dengan persekutuan para murid. Sakramen berdimensi sosial dan eklesial. Pengertian akan sakramen diperoleh dalam hubungannya dengan para murid.
Permandian:
si calon secara resmi mulai menapaki jalan hidup sebagai seorang murid dan umat yang lain berkewajiban membimbing si calon dalam mengikuti Kristus.
Krisma :
anggota, dengan pencurahan Roh Kudus, menerima secara batiniah arti-arti dan nilai yang ditanam melalui pengajaran sebagai anggota yang dewasa dan bertanggungjawab untuk memberi kesaksian tentang iman.
Ekaristi :
persatuan yang terdalam dan paling akrab dengan Yesus, yang menjadikan diri-Nya santapan dan minuman, yang menopang hidup keluarga rohani.
Pengakuan dosa :
orang Kristen yang telah gagal untuk hidup sesuai tuntutan sebagai murid, dipersatukan kembali dengan jemaat dan didamaikan dengan Tuhan.
Pengurapan orang sakit :
kuasa penyembuhan Kristus bagi yang sakit dan sakitnya dipersatukan ke dalam penderitaan Kristus yang menyelamatkan.
Perkawinan :
memulai hidup bersama sebagai murid yang dipersatukan, yang saling membantu untuk berjalan menjejaki langkah-langkah-Nya dan menjadi orangtua dalam keluarga Kristen yang baru.
Tahbisan :
menjadi penampakan dari kehadiran-Nya yang hidup dan diberi tanggungjawab untuk berdoa terus-menerus dan menjalin hubungan akrab dengan-Nya yang telah bangkit. Ini adalah contoh yang tepat bagi hidup sebagai murid.
e) Pembentukan Orang Kristen dalam Jemaat
Proses pembentukan orang Kristen membutuhkan peranan para gembala yang mampu menjembatani kesenjangan antara model institusi dan persekutuan. Maka dari itu para gembala umat harus dekat dengan Kristus sebagai pemimpin, tetapi mereka juga harus dilihat sebagai murid-murid di bawah kekuasaan gembala umat.
Para gembala atau pemimpin tersebut hendaklah memajukan persekutuan cinta, iman dan kerukunan dengan sesama murid lewat perhatian mereka. Kini, tugas itu diemban oleh Paus, para Uskup dan para imam yang dengan rahmat tahbisan mewakili Kristus di depan umum dalam pelayanan sabda, sakramen dan kegiatan pastoral. Mereka diwajibkan untuk menjalin kerjasama secara erat dengan para petugas awam.
Bagi anggota-anggota baru, demi keberhasilan pewartaan iman Kristen, sangatlah penting menemukan satu jemaat yang dengan gembira menyambut mereka dan bersama-sama dididik dalam cara hidup Tuhan.
Hal ini sesuai dengan hakikat iman yakni kepercayaan akan Tuhan yang hidup, yang menghadirkan diri dalam dan melalui jemaat dan para pelayannya. Sikap iman tiap anggota dibentuk melalui jemaat yang berdoa dan beribadat. Dengan ini harapan Paus Yohanes Paulus II untuk menjadikan jemaat dalam keluarga sebagai Gereja kecil dapat terwujud.
Akan tetapi tantangan dan hambatan selalu menyertai proses pembentukan ini. Masih banyak orang Kristen yang memandang Gereja hanya sebagai satu institusi besar yang impersonal, yang menguasai anggota-anggotanya. Mereka masih jarang mengalami Gereja sebagai persekutuan untuk saling menopang dan mendukung.
f) Murid dan Dekristianisasi
Tantangan kemuridan dewasa ini adalah menghidupkan kembali nilai-nilai dan sikap-sikap Kristen di tengah arus modernisasi yang semakin berkembang. Kaum muda, yang adalah subyeknya, terasa asing terhadap simbol-simbol kristiani yang semakin tenggelam oleh kemajuan zaman.
Keluarga Kristen tidak terlalu sanggup menyampaikan nilai-nilai kristiani kepada anggota keluarga yang masih muda, yang sangat dipengaruhi oleh kelompok-kelompok sebaya dan oleh media komunikasi. Maka dari itu kiranya dibutuhkan suatu “novisiat bagi kehidupan” yang diperuntukkan bagi kaum awam yang mau menghayati agamanya atau menjadi wadah latihan dalam olah hidup rohani untuk mencapai cara hidup sebagai murid yang sejati dalam Gereja.
Mengacu pada bentuk pengembangan yang ditawarkan dalam surat pastoral para Uskup Amerika beberapa waktu lalu, kiranya yang harus dilakukan agar kita dapat bertahan sebagai orang Kristen di tengah situasi keterasingan dari nilai-nilai Kristen adalah :
mengambil sikap yang tegas terhadap aksioma-aksioma dunia yang diterima umum.
mempersenjatai diri untuk dapat menyatakan iman Gereja yang penuh dalam masya-rakat yang semakin sekular.
mengembangkan rasa solidaritas, yang dipererat oleh hubungan dengan orang Kristen yang dewasa dan patut dijadikan anutan, yang menghadirkan Kristus dan cara hidup-Nya.
g) Murid dan Karya Misi
Hidup sebagai murid senantiasa merangkum serentak fase sentripetal yaitu ibadat dan fase sentrifugal yaitu misi. Gereja akan lebih menjadi Gereja bila ia berkumpul untuk mendengarkan Sabda dan merayakan ibadat, serta berani keluar dari persekutuan untuk melanjutkan karya Kristus di dunia.
Lewat evangelisasi dan pelayanan, karya misi Gereja dibuka. Tugas dan tanggungjawab terhadap karya misi ini menjadi kewajiban setiap murid Kristus, baik para rohaniwan maupun kaum awam.
Perutusan Gereja ini memiliki dasar sejak Paska dimana para murid mempunyai motivasi baru untuk menyebarkan Kabar Gembira ke segala penjuru dunia. Sebagai persekutuan murid-murid, Gereja harus meneruskan bentuk-bentuk misi yang diberikan Yesus kepada pengikut-pengikut-Nya yang pertama dengan penyesuaian seperlunya. Disini Gereja harus mengulangi karya Kristus dengan lebih memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dan tuntutan zaman.
Disamping itu Gereja harus juga membawa perutusannya ke dalam. Seperti halnya pada abad-abad pertama dimana Gereja lebih menitikberatkan karya misionernya dengan memusatkan daya tarik sebagai masyarakat yang lain daripada lain. Kini, Gereja harus dapat menumbuhkan persekutuan murid-murid yang semakin erat dan memperkembangkan dari dalam.
h) Kecocokan Model Gereja sebagai Murid
Beberapa kelebihan model Gereja sebagai persekutuan murid-murid adalah :
lebih dekat kepada pengalaman dan memberikan arah bagi pembaharuan yang serasi.
mendorong anggota Gereja untuk meneladani Kristus dalam kehidupan mereka sendiri.
membuat anggota Gereja merasa betah di dalam Gereja yang senantiasa harus menemukan jawabnya dalam situasi yang sedang berubah dan mengalir cepat.
Dalam pandangan Kitab Suci dan teologi, sifat-sifat yang sama, yang membuat Gereja sebagai sakramen Kristus, membenarkan juga sebutan sebagai persekutuan murid-murid.
Pertama, persekutuan ini tidak ayal lagi mempunyai asalnya dalam Kristus, yang mendirikannya selama pelayanan-Nya di dunia dan kemudian memperkuatnya oleh karunia Roh.
Kedua, para murid secara kelihatan menghadirkan Kristus, karena seorang murid sebagai utusan.
Ketiga, Yesus sungguh-sungguh hadir dalam persekutuan murid-murid, seperti dalam sakramen.
Akhirnya, kehadiran Kristus dalam persekutuan murid-murid bersifat dinamis dan efektif.
Akan tetapi model persekutuan murid-murid memiliki keuntungan tertentu jika dibandingkan dengan model sakramen. Model sakramen kedengarannya anonim dan menimbulkan kesan bahwa Gereja tanpa cacat. Sedangkan persekutuan murid-murid memberi kesan bahwa Gereja tidak sempurna, perlu mendapat koreksi dan menuntut jawaban pribadi dari pihak anggotanya.
Tetapi meskipun kelihatannya baik, model persekutuan para murid juga mempunyai keterbatasan dan kelemahan seperti halnya model yang lain.
Disini akan dipaparkan keberatan-keberatan yang muncul dan jawaban yang diberikan sebagai tanggapan atas keberatan tersebut.
1. Gambaran Gereja sebagai masyarakat yang lain dari lain cenderung menonjolkan keistimewaan-keistimewaan yang menempatkan orang-orang Kristen terpisah dari manusia-manusia lain di dunia.
Hal ini mendorong Gereja ke arah kekristenan tipe sekte, yang berlawanan dengan tipe Gereja sebagai khas Katolik.
Jawaban :
Gereja sebagai persekutuan para murid mempunyai kelebihan karena mengarahkan perhatian kepada penolakan radikal terhadap nilai-nilai duniawi, yang dituntut sebagai tanda kesetiaan kepada Yesus. Nah, disinilah para murid Kristus ditantang untuk berani memilih penderitaan seperti Kristus sendiri supaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga.
2. Model persekutuan murid kelihatannya memberikan tuntutan yang berlebihan terhadap orang-orang Kristen yang biasa.
Panggilan untuk menjadi murid kelihatannya merupakan panggilan khusus, yang hanya diberikan kepada segelintir orang di dalam persekutuan orang beriman umumnya.
Jawaban :
Setiap orang Kristen dipanggil masuk lebih jauh ke dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus dan berperan serta dalam kerasulan Gereja. Sumbangan model persekutuan para murid salah satunya adalah bahwa ia mengingatkan orang-orang Kristen bahwa dengan mencintai diri sendiri dan mengejar kenikmatan, mereka telah gagal hidup sesuai dengan norma-norma yang mereka anuti. Kekristenan mewajibkan para anggotanya menempatkan panggilan Kristus di atas segala kepentingan.
3. Model persekutuan murid kelihatannya mengandung pengandaian bahwa Gereja adalah satu persekutuan bebas yang terdiri dari orang-orang yang ingin ikut serta secara sukarela dalam pelayanan yang tanpa pamrih.
Hal ini bertentangan dengan pandangan Gereja Katolik yang melihat Gereja sebagai satu masyarakat yang perlu untuk melahirkan anggotanya dan merawat mereka selama hidup.
Jawaban :
Eklesiologi yang individualistis tersebut merupakan pengertian keliru tentang hakikat Gereja sebagai persekutuan murid-murid. Hakikat murid senantiasa bergantung pada undangan dan panggilan yang lebih dahulu datang dari Kristus, satu undangan yang menantang, yang membawa serta rahmat yang perlu untuk menerimanya. Gereja mengantarai panggilan Kristus dan mewartakan Sabda Allah serta memberikan sakramen. Jadi persekutuan murid-murid dalam arti tertentu lebih dahulu dari anggota-anggotanya.
II. Tanggapan sebagai Penekanan.
Ada beberapa hal yang patut ditekankan lebih dalam untuk memahami kekhasan dari model Gereja sebagai persekutuan murid-murid tersebut.
Beberapa penekanan itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
a) Arti dari persekutuan para murid.
Persekutuan atau communio (bahasa Latin) berasal dari kata Yunani “koinonia” yang memiliki arti paguyuban, persekutuan umat, dan komunikasi. Communio memiliki arti persekutuan semua orang kristen baik dalam jerih payahnya setiap hari maupun dalam harapan akan kebangkitan.
Jadi communio berarti perkumpulan yang bercirikan iman akan Kristus. Persekutuan itu bersumberkan pada daya Roh Kudus yang menyatukan dan menjiwai kehidupan Gereja, sehingga setiap orang beriman mampu bersatu dengan Kristus. Kesatuan dan kerukunan Gereja adalan tanda dari Roh Kudus.
Dalam konteks ini, persekutuan para murid menjadi bagian dari persekutuan semua orang kristen. Gereja sebagai persekutuan para murid mau menjelaskan bahwa keberadaan atau eksistensi Gereja berasal dari bersatunya orang-orang yang dipilih dan dipanggil secara khusus oleh Yesus dan percaya kepada-Nya serta mau mengikuti-Nya. Jadi berkumpulnya para murid itu berasal dari inisiatif Yesus yang memanggil dan gerak tanggapan para murid yang mau mengikuti-Nya.
b) Hubungan yang tetap antara Gereja dan Kristus, yang terus membimbing Gereja melalui Roh Kudus.
Secara tidak langsung, model Gereja sebagai persekutuan para murid mendasarkan diri pada persekutuan Allah Trinitas (LG 4).
Gereja sebagai persekutuan para murid terbentuk dari kebersamaan hidup yang berorientasi pada pribadi Yesus. Yesus yang sejak awal telah memanggil, memilih dan memberikan tugas khusus kepada orang-orang yang mau mengikuti-Nya senantiasa menyertai Gereja sampai akhir zaman melalui perantaraan Roh Kudus. Kesatuan antara Kristus dengan Gereja ini menjadikan Gereja sebagai sakramen Kristus.
Kehidupan para murid dalam membangun Gereja tidak lepas dari kesatuannya dengan Yesus. Arah dan tujuan hidup mereka selalu didasarkan pada peraturan dan tugas yang telah ditetapkan oleh Yesus sendiri. Tuntutan hidup untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus yang menyelamatkan menjadi sikap hidup dari seorang murid.
c) Mampu menjelaskan aspek institusional dan sakramental Gereja.
Gambaran Gereja sebagai persekutuan para murid membutuhkan peranan gembala dalam proses pembentukan dan pemekarannya. Gembala tersebut menjadi perpanjangan tangan Kristus yang senantiasa memajukan persekutuan iman, harapan dan kasih dengan sesama murid yang lain.
Kini, peran gembala tersebut diemban oleh para kaum hirarki yakni Paus, Uskup dan para imam dengan menjalin kerjasama dengan kaum awam. Segi institusional dari model persekutuan murid-murid ini tidak terlalu mencolok, sebab tidak terlalu memisahkan atau membatasi golongan hirarki dengan awam.
Mereka bersama-sama mengemban tanggung jawab sebagai murid dengan mengambil bagian dalam tugas dan fungsi Kristus sebagai imam, nabi dan raja di dunia berdasarkan karisma dan panggilan hidup masing-masing.
Sakramentalitas persekutuan para murid mewujud nyata dalam kegiatan ibadat atau liturgi. Inilah yang menjadi tuntutan dari kebersamaan hidup sebagai murid yang selalu mengenangkan perjamuan terakhir Yesus. Ibadat dan liturgi menjadi titik puncak dari kepenuhan hidup seorang murid.
Disinilah unsur sakramental Gereja tampak jelas bahwa melalui doa dan karya terjadi suatu transaksi antara Tuhan yang hidup dengan persekutuan para murid. Pengertian akan sakramen menjadi jelas dalam hubungannya dengan hidup para murid.
d) Sebagai dasar untuk tugas evangelisasi dan pelayanan Gereja.
Tugas seorang murid tidak hanya bersifat intern atau demi kepentingan dan perkembangannya sendiri. Tetapi seorang murid harus berani keluar dari kelompoknya untuk mewartakan dan melanjutkan karya Kristus ke segala ujung bumi. Tugas perutusan seperti inilah yang sering disebut dengan karya misi.
Karya misi menjadi konkrit dalam tugas evangelisasi dan pelayanan. Hal ini menjadi tanggung jawab semua murid Kristus, entah awam maupun rohaniwan-wati.
Gereja sebagai persekutuan para murid harus meneruskan karya Kristus di dunia melalui kegiatan-kegiatan misinya demi semakin meluasnya Kabar Gembira dengan lebih memperhatikan kebutuhan dan tuntutan zaman.
Maka, seorang murid harus mampu berinisiatif dan proaktif di dalam usaha meluaskan karya Kristus bersama dengan Gereja. Melalui para murid itulah, Gereja yang berciri misioner semakin menampakkan perwujudannya di dunia.
III. Catatan Kritis.
Pertama,
Gereja yang dimengerti sebagai persekutuan para murid tidak dapat berdiri sendiri. Ia selalu mengandaikan adanya hubungan dengan persekutuan Allah Trinitas. Koinonia dalam Kitab Suci pertama-tama menunjuk relasi manusia dengan Allah.
Persekutuan yang pertama dan paling dasar yang dialami Gereja adalah persekutuan dengan Allah. Persekutuan dengan Allah itu terungkap dalam partisipasi Gereja atau umat beriman dalam hidup ilahi trinitas atau dalam komunitas kasih antara Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
Demikianlah Gereja menjadi kebersamaan atas dasar hubungan khasnya dengan Trinitas, dimana Gereja dimasukkan oleh Roh Kudus ke dalam persekutuan dan kebersamaan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Di hadapan dunia dan sejarah Gereja menjadi gambar dan bahkan Sakramen Trinitas.
Hal ini ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dengan mengutip kata-kata Santo Paulus yang berkata, Gereja adalah “umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (LG 4).
Kedua,
Gereja sebagai persekutuan murid-murid mau tidak mau selalu berdimensi vertikal dan horizontal, serta berciri kristologis dan eklesiologis.
a. Berdimensi vertikal dan horizontal.
Berdimensi vertikal menunjukkan suatu communio antara manusia (para murid) dengan Allah Trinitas (LG 2-4). Kesatuan para murid dengan Yesus Kristus yang menjadi anutan membentuk Gereja. Disitulah para murid menghayati hidup dalam kebersamaan dengan Kristus.
Di lain pihak, ketika Kristus meninggalkan dunia, Ia memberikan jaminan tuntunan kepada persekutuan para murid melalui kehadiran Roh Kudus. Ia senantiasa membimbing Gereja dalam perjuangannya di dunia. Maka dari itu, Gereja sebagai persekutuan para murid menampakkan dan menghadirkan persekutuan dan kebersamaan Bapa, Putera dan Roh Kudus kepada dunia (LG 4).
Di sisi lain, Gereja sebagai persekutuan murid-murid juga menunjuk dimensi horizontal. Dimensi horizontal dimengerti sebagai communio yang terjadi antara manusia. Murid-murid saling membangun dan membantu sebagai satu tubuh melalui persaudaraan, solidaritas dan hidup bersama. Kebersamaan hidup mereka membentuk suatu Gereja yang nyata di dunia ini dengan cara hidup yang khas (LG 7).
b. Berciri kristologis dan eklesiologis.
Gereja sebagai persekutuan para murid yang berciri kristologis menunjukkan persekutuan dengan Putera Allah (1 Kor 1, 9), persekutuan dalam tubuh dan darah Kristus (1 Kor 10, 16), persekutuan dalam penderitaan Kristus (Fil 3, 10), dan persekutuan dengan Bapa dan Putera (bdk. 1 Yoh 1, 3). Ciri ini kiranya senada dengan Gereja sebagai communio yang berdimensi vertikal.
Sedangkan ciri eklesiologis dari Gereja persekutuan murid-murid lebih menjelaskan persekutuan dalam Roh Kudus (Fil 2, 1), persekutuan orang beriman atas dasar tradisi ajaran (bdk. 1 Yoh 1, 3), kemajemukan pelayanan dan kharisma untuk persekutuan dalam Roh Kudus (Rom 15, 26).
Persekutuan ini direalisir dalam solidaritas dan kerjasama serta aneka pelayanan diantara para murid dan dengan kelompok lain di luar mereka. Persekutuan para murid tersebut diikat dalam satu persaudaraan dalam iman dan kasih, solidaritas dalam suka dan duka, dalam penderitaan dan kelemahan dan dalam kemuliaan yang akan datang.
Communio ini senantiasa dipenuhi oleh kesatuan, damai, pengampunan, kegembiraan, pemberian dan toleransi satu sama lain. Persekutuan yang terjadi diantara para murid tidak hanya sebagai persekutuan kebersamaan hidup, namun juga kebersamaan keselamatan.
Dalam arti mereka bersama-sama sebagai orang yang ditebus dan diselamatkan, kini sedang menempuh perjalanan kepada keselamatan abadi. Dapat berarti pula, Gereja merupakan komunitas orang beriman yang berkumpul dari Kristus dan kini sedang berjalan kepada tujuan dan sasaran akhir pembentukan komunitas itu, yakni penyelesaian keselamatan di akhir zaman (eskatologis).
Ketiga,
model Gereja sebagai persekutuan para murid mendapatkan bentuk atau wujudnya dalam paguyuban-paguyuban. Seperti halnya zaman para rasul dan murid-murid Gereja Perdana, persekutuan dalam Gereja terwujud terutama dalam jemaat-jemaat kecil yang berkumpul di sekitar altar Tuhan (bdk. Kis 2, 1-47).
Dalam jemaat-jemaat itu, meski kecil dan tersebar: “hiduplah Kristus dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik” (LG 26).
Dengan demikian perwujudan pertama communio Gereja nampak dalam Gereja setempat. Gereja-Gereja setempat itu bersama-sama mewujudkan suatu communio dari communio-communio, communio dari paguyuan-paguyuban.
Dasar dari persekutuan paguyuban-paguyuban itu adalah berkat sakramen baptis. Dengan sakramen baptis mereka menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus (bdk. LG 31).
Karena mengambil bagian dalam hidup Kristus sebagai imam, nabi dan raja gembala umat, persekutuan para murid itu selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (leitourgia), mewartakan kabar gembira yang memerdekakan (kerygma), dan iklas tanpa pamrih melaksanakan pelayanan (diakonia) bagi semua orang.
Seperti halnya Kristus melaksanakan tugas perutusan dengan mempertaruhkan hidup-Nya sampai mati sebagai saksi iman, maka para murid sebagai pengikut Kristus pun melaksanakan tugas-tugas perutusan itu dengan menghayati spiritualitas kesaksian (martyria).
Akhirnya, gagasan model Gereja sebagai persekutuan murid-murid Yesus merupakan gambaran Gereja yang ditampilkan dalam tulisan Markus.
Menurut Markus, yang menjadi misi Yesus adalah mewartakan Kerajaan Allah. Terhadap warta Kerajaan Allah itu manusia dipanggil untuk percaya (Mrk.1,14-15), bahkan akhirnya menjadi murid Yesus (Mrk.1,16-20).
Bagi Markus, Gereja adalah persekutuan murid-murid Yesus. Sebagai murid, mereka mengikuti Yesus di jalan yang ditempuh Yesus sendiri yakni mewujudkan rencana keselamatan Allah dalam pelayanan kepada orang lain sampai pada wafat-Nya. Dan murid-murid yang mengikuti jalan Yesus ini juga menampilkan persekutuan baru yang didasarkan pada pelaksanaan kehendak Allah (bdk. Mrk.3,31-35), dan menampilkan pelayanan bagi sesama (Mrk.10,45).
IV. Kesimpulan Teologis.
Gereja sebagai persekutuan murid-murid selalu bersumberkan pada persekutuan dengan Allah Trinitas. Orientasi hidup mereka berdasarkan kepada pribadi Yesus yang memanggil dan memberi pegangan bagi hidupnya persekutuan.
Wujud persekutuan murid-murid itu nampak dalam kebersamaan hidup sebagai murid yang melaksanakan tugasnya di dunia. Dengan pewartaan, kesaksian, pelayanan, dan hidup sakramental, mereka semakin menghadirkan bentuk Gereja persekutuan yang berkembang subur di tengah masyarakat, dulu dan sekarang.
Perkembangan Gereja sebagai kesatuan para murid yang dulu telah terbentuk semakin mengejawantah dalam hidup sekarang ini yang dipenuhi dengan tantangan dan tuntutan zaman. Peran mereka sebagai murid yang mau mengikuti Yesus dengan segala risikonya diuji. Mereka harus mampu menghadirkan Kristus di dalam kebersamaan hidup di dunia.
Dalam penerapannya, model Gereja sebagai persekutuan murid-murid menjadi cita-cita Gereja Katolik di Indonesia yang hendak mengikuti Yesus dengan setia melalui bentuk persekutuan paguyuban-paguyuban.
Persekutuan ini berciri alternatif profetis: terbuka, bersahabat, saling mangasihi secara tulus dan mengutamakan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Harapannya ialah supaya umat beriman kristiani sebagai pengikut Kristus mampu dan mau melibatkan diri dalam perutusan-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menegakkannya di tengah masyarakat. Dengan demikian Gereja sebagai persekutuan murid-murid Kristus semakin hidup di dunia.
B.
Quis veritas est? Apa itu kebenaran?
Pertanyaan seorang pejabat Romawi, Pontius Pilatus pada abad pertama ini bisa jadi merupakan titik berangkat dalam perjuangan kita untuk senantiasa mencari kebenaran.
Merupakan fakta, kebenaran menjadi ‘kata sakti’ yang dicari pun diabdi manusia di era korban yang penuh dengan “yang destruktif” ini.
Jelasnya, abad ke-20 yang baru saja lewat menjadi saksi bisu bagi “yang destruktif” itu. Di masa ketika konon peradaban manusia mencapai puncaknya, kita - sendiri atau berbondong-bondong - melihat dengan telanjang betapa yang destruktif itu begitu mudah muncul dan menyisakan luka sebagai sebuah antitesis kebenaran.
Ada banyak buku data, cerita dan fakta yang menjadi sebuah usaha mem’promosi’kan kebenaran dalam ruang publik, melalui pisau analisis filsafat-teologi. Usaha ini sendiri tak luput menggunakan dialektika ala Hegelian, antara refleksi pemikiran dengan aksi tindakan.
Di tegaskan, bahwa sebuah keyakinan akan kebenaran sungguh menjadi kebenaran bila mendorong seseorang melakukan praksis kebenaran. Demikian pula sebaliknya, tindakan seseorang benar bila didasari dengan keyakinan akan kebenaran.
Disinilah, sebuah kebenaran mesti terbuka terhadap ‘yang lain’ bila diadopsi di zaman yang berbeda. Adalah tindakan yang naif, bila orang memaksakan klaim kebenaran tertentu digunakan begitu saja di zaman yang berbeda.
Namun, inilah yang seringkali terjadi di sekitar kita. Orang kehilangan historisitas dari suatu keyakinan akan kebenaran tertentu sehingga yang terjadi seringkali sebuah pemaksaan ”yang destruktif”.
Kebenaran: Sebuah Spirit!
Kekerasan selalu punya alibi. Dan itu tak semata lahir dari kebencian. Ia juga berbiak dari ambisi menertibkan, dari otoritas mengatur dan menundukkan yang-beda. Karena itu, kekerasan tak akan pernah berhenti di kamp Auschwitz.
Dalam kehidupan yang terus berputar, kita akan menemukan kekerasan itu terulang di tempat lain, di “Auschwitz-Auschwitz” baru: Aceh, Kalimantan, Papua, Legian, Poso dsbnya.
Betul, kekerasan itu seperti sebuah spiral. Ia seperti bergerak tak putus-putus dari satu garis ke garis lain. Menyalakan api di sini, membubuhkan bara di sana. Seperti bakteri, ia merambah ke mana-mana dan, dengan atau tanpa sadar, membentuk cara pandang “kita” terhadap “mereka”. Kekerasan, bahkan bermula ketika kita memberanikan diri menyentuh Wajah sang lain, ketika terbersit kehendak untuk mengurai dan membiarkan kemisteriusannya tersingkap.
Di sinilah persis, refleksi kita semua terlebih para pejabat publik serta ahli filsafat dan teologi tidak hanya menjadikan kebenaran sebagai sebuah wacana, tapi kita diajak untuk menghadirkan kebenaran sebagai spirit, kedalaman jiwa yang mendasari persaudaraan sejati dan mengatasi kekerasan. Kebenaran dalam hal ini bukanlah sebuah definisi stagnan. Namun, kebenaran yang tetap terbuka terhadap kritik.
Kebenaran menjadi spirit berarti juga bahwa kebenaran sungguh menjiwai setiap pencarian kebenaran itu sendiri. Pencarian kebenaran itu mendorong seseorang untuk mengungkapkannya dalam kesaksian hidup. Kebenaran bukan melulu ditentukan oleh benar dan sahihnya premis-premis.
Namun lebih dari itu, kebenaran berkaitan dengan imperatif moral dan religius yang terungkap dalam sikap dan perilaku yang benar untuk tidak memanipulasi penjelasan yang hanya omong kosong. Dengan demikian mengabdi kebenaran akan menumbuhkan dalam dirinya a loving veneration of truth, sikap hormat yang dilandasi cinta akan kebenaran.
Kebenaran yang menjadi spirit itu juga nampak dalam rajutan tulisan dan sumbangan pemikiran beberapa tokoh historis, dari Thomas Aquinas, Walter Benjamin, Levinas, Bhattcharya, Averroes sampai seorang Mochtar Lubis. Dan, ide-ide filosofis-teologis mereka menjadi teman akrab dalam diskursus, ngobrol “ngalor-ngidul” seputar fenomena dan masalah-masalah yang terjadi di dalam masyarakat kita hic et nunc.
Thomas Aquinas sendiri pernah mengemukakan bahwa kebenaran harus senantiasa terus dicari, dipelihara dan dicintai sambil menentang segala kepalsuan cara bertindak dan berpikir yang sering meracuni. Dengan demikian, kebenaran adalah suatu kategori perintah yang mesti dijalankan.
Sementara itu, bagi Walter Benjamin, tidak ada kebenaran yang netral. Kebenaran selalu mempunyai tendensi karena sejarah yang melatarbelakangi kebenaran tersebut. Dengan demikian, unsur historisitas menjadi sesuatu hal yang kental dari setiap premis kebenaran.
Historisitas, bukan hanya apa yang ada di masa lampau, namun mendorong untuk maju ke masa mendatang. Adanya tradisi kebenaran di masa lampau, mendorong adanya kreativitas dan perubahan kebenaran, karena jelaslah dipandang dari pespektif Heideggerian, sejarah di sini bukan melulu sebagai narasi masa lalu (Historie), tapi sebagai sesuatu yang hidup (Geschichte).
Selain berpijak atas filsafat barat, kita bisa melengkapi mekar segarnya refleksi kebenaran dengan mengarahkan paradigma ke filsafat timur. Bhattacharya, seorang filsuf India abad 20, mencoba melakukan sintesis atas filsafat barat dengan filsafat Vedanta yang sebenarnya mencerminkan refleksi diri manusia India dalam terang filsafat klasik timur dan barat.
Filsafat yang berdoa
La philosophie orante, filsafat yang berdoa, adalah ungkapan Maurice Blondel dalam bukunya La Pensee (1934).
Ungkapan ini sendiri diteruskan oleh Aime Forest dalam tulisan kecilnya yang berjudul La philosophie. Ungkapan ini jelasnya hendak menegaskan hubungan mendasar antara metafisika dengan religiusitas. Bahkan, Forest menandaskan bahwa philosophie naturaliter pia, filsafat pada dasarnya adalah religius.
Di sini, hendak diyakinkan bahwa suatu kebenaran bukan sekedar soal pengetahuan, melainkan sebuah praksis. Dengan demikian pemikiran filosofis menjadi spirit dari setiap tindakan.
Dialektika semacam inilah yang juga saya yakini secara pribadi. Sebagai seorang pecinta kebijaksanaan, diyakini dan disadari, bahwa filsafat tidak hanya merupakan himpunan pegetahuan, namun merupakan iman yang dihayati dan diper-saksikan.
Dkl: Tampak, bahwa kebenaran sebagai sebuah spirit mendasari seseorang untuk bertindak. Kebenaran tersebut akhirnya akan membawa manusia pada sikap hormat kepada Sang Maha Benar, Allah sendiri. Sikap hormat ini terungkap dalam solidaritas dan penghargaan terhadap sesama umat manusia.
Ireneus, seorang suci dari Lyon, mengatakan bahwa Gloria Dei vivens homo, kemuliaan Allah nampak dalam manusia yang hidup. Kata-kata inilah yang selalu dikutip salah seorang pengabdi kebenaran, yaitu almarhum Paus Yohanes Paulus II.
Kebenaran yang mendorong ke arah tindakan tercermin dalam bagian mengenai Hak Azasi Manusia. Sejalan dengan pemikiran Walter Benjamin, penulis mengatakan bahwa HAM dipahami pertama-tama sebagai imperatif dialektis-negatif. Dari historisitasnya terlihat bahwa HAM sebenarnya lahir dari kondisi penderitaan tertentu, bukan dari inspirasi filsafat tertentu. HAM lahir sebagai reaksi kolektif terhadap penderitaan yang dialami.
Menikmati jelajah dialektika seputar perjuangan mencari kebenaran ini, pertanyaan “quis veritas est?” kiranya mendapatkan jawaban filosofis sekaligus religius bahwa kebenaran itu bukan semata-mata pemikiran, melainkan juga sebuah praksis kehidupan yang berdasar cinta akan kebenaran. Dialektika semacam ini kiranya membuka wacana baru bagi masyarakat yang sedang ruwet-renteng mencari kebenaran.
Sekali lagi, semoga hal ini bukan sekedar wacana belaka, namun sungguh menjadi spirit dalam bertindak. Dengan demikian, sebuah tindakan dapat dipertanggung jawabkan secara rasional demi suatu tata dunia yang lebih baik dan benar

------------



Kepada Peminta-minta
@ Chairil Anwar
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga.
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku..
Pertanyaan yang seharusnya mempertemukan agama-agama dan pemikiran-pemikiran filosofis adalah pertanyaan tentang penderitaan, atau pada umumnya pertanyaan tentang keburukan (malum) dan pertanyaan klasik: dari mana keburukan (unde malum)?
Refleksi filosofis yang berbicara tentang masalah ini dikenal dengan nama Teodice.
Hemat saya, pertanyaan-pertanyaan klasik kemanusiaan, yakni tentang asal dan tujuan manusia serta bagaimana nasib manusia sesudah kematian, mendapat klimaksnya dalam pertanyaan tentang keburukan, malum.
Sebab, pada dasarnya pengalaman keburukanlah yang melahirkan pertanyaan tentang asal dan tujuan manusia.
Kalau kita mesti menghadapi keburukan, apabila kita mesti berhadapan dengan sekian banyak hal yang tidak kita kehendaki, maka akan muncul rentetan pertanyaan mendasar di atas:
Siapakah kita sebenarnya?
Dari manakah kita? Milik siapakah kita sehingga kita harus menghadapi pengalaman keburukan dan menjadi sekian tak berdaya di hadapan pengalaman itu?
Kemanakah arah perjalanan kita, ke mana biduk kehidupan ini akan menuju, apabila untuk ke sana kita mesti menghadapi sekian banyak gelombang yang menakutkan, yang memberikan rasa tidak aman?