Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label TTM - Tribute To Mary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TTM - Tribute To Mary. Tampilkan semua postingan

MARIA PENGURAI SIMPUL



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
DEVOSI FAVORIT PAUS FRANSISKUS :
"MARIA PENGURAI SIMPUL -
MARY UNDOER OF KNOTS"
Devosi kepada Maria Pengurai Simpul.
Sejak tahun 1700, sebuah lukisan Maria diletakkan dan dihormati di Gereja St. Peter di Perlack, Augsburg, Jerman.
Menggambarkan pertolongan lewat Maria yang diberikan Putranya kepada kita, seorang pelukis Jerman di abad pertengahan; Johann Melchior Georg Schmittdner, membuat lukisan "Mary Undoer of Knots - Maria Pengurai Simpul" ini.
Ia terinspirasi dari perenungan Santo Irenaeus, (Uskup Lyon yang menjadi martir pada tahun 202), yang membandingkan Adam dengan Yesus.
Santo Irenaeus juga membandingkan antara Hawa dan Maria, dengan mengatakan :
"Hawa, oleh ketidak taatannya, membuat ikatan/simpul kehinaan bagi umat manusia, sementara Maria, oleh ketaatannya, melepaskan ikatan itu."
Apakah ikatan-ikatan atau simpul-simpul ini ?
Adalah masalah-masalah dan pergulatan hidup yang kita hadapi sehari-hari, yang kita tidak melihat jalan keluarnya.
Simpul beban permasalahan di dalam keluarga, kurangnya saling pengertian antara anak dan orang tua, kekerasan, pengkhianatan, sakit hati antara suami istri, hilangnya damai dan sukacita di dalam keluarga.
Adalah juga simpul kemarahan, kekecewaan, kecanduan, kemiskinan, keputus asaan, kesepian, sakit penyakit,
Adalah semua masalah yang mengikat dan menyedihkan hati dan jiwa kita, yang mengakibatkan hilangnya sukacita dan memisahkan kita dari Allah.
Demi alasan itu, Maria Pengurai Simpul menolong.
Berikan semuanya kepada Maria dan ia akan mengurai satu- persatu masalah-masalah yang membelit hidup kita.
Maria menjanjikan kemenangan, damai, berkat, dan pemulihan.
DOA :
"Ibu tersuci Maria,
Kau yang mengurai simpul-simpul yang mengikat anak-anakmu, ukurkanlah tangan belas kasihmu kepadaku.
Kupercayakan kepadamu hari ini, simpulku ini,.. (ucapkan permohonanmu).., dan semua akibat buruknya yang terjadi dalam hidupku.
Kuberikan kepadamu simpul ini yang menyiksaku, yang membuat aku tidak bahagia, yang menjauhkan aku dari menyatukan diriku denganmu dan Putra Ilahimu Yesus penyelamatku, ya Maria pengurai simpul."
-----------
DOA KEPADA MARIA PENGURAI SIMPUL
Perawan Maria, Ibu penuh kasih,
Ibu yang tak pernah menolak datang memberi pertolongan kepada anaknya yang membutuhkan,
Ibu yang tangannya tak pernah berhenti melayani anak-anak terkasihmu, tergerak oleh cinta Ilahi dan belas kasihan yang begitu besar di hatimu,
Arahkanlah pandangan belas kasihmu kepadaku dan lihatlah kekusutan simpul-simpul yang ada di dalam hidupku.
Engkau tahu benar bagaimana keputusasaanku, deritaku, dan bagaimana aku terikat pada simpul-simpul ini.
Maria, engkau yang telah dipercayakan oleh Allah untuk mengurai simpul-simpul dalam hidup anak-anakNya,
Aku percayakan ke dalam tanganmu, jalinan hidupku.
Tak ada seorangpun, bahkan si jahat itu sendiri, dapat mengambilnya dari penjagaanmu yang berharga.
Di dalam tanganmu, tak ada simpul yang tak dapat terurai.
Ibu yang berkuasa, dengan rahmat dan perantaraanmu kepada Putramu, Pembebasku, Yesus, ambillah ke dalam tanganmu hari ini simpulku ini.. (sebutkan permohonan).
Aku memohon engkau, demi kemuliaan Tuhan; mengurainya dan melepasnya untuk selamanya.
Engkaulah pengharapanku.
O ibunda, engkaulah satu-satunya penghiburan yang diberikan Allah kepadaku, benteng atas kelemahanku, kekayaan atas kepapaanku, dan bersama Kristus, adalah kebebasan dari rantaiku.
Dengarkanlah ratapanku.
Jagalah aku, bimbinglah aku, lindungilah aku, O perlindungan amanku. Amin.
----------
Mary, Undoer of Knots, pray for me.
Virgin Mary, Mother of fair love,
Mother who never refuses to come to the aid of a child in need,
Mother whose hands never cease to serve your beloved children because they are moved by the divine love and immense mercy that exist in your heart,
cast your compassionate eyes upon me and see the snarl of knots that exists in my life.
You know very well how desperate I am, my pain, and how I am bound by these knots. Mary, Mother to whom God entrusted the undoing of the knots in the lives of his children, I entrust into your hands the ribbon of my life.
No one, not even the evil one himself, can take it away from your precious care.
In your hands there is no knot that cannot be undone.
Powerful Mother, by your grace and intercessory power with Your Son and My Liberator, Jesus, take into your hands today this knot.
[Mention your request here]
I beg you to undo it for the glory of God, once for all. You are my hope.
O my Lady, you are the only consolation God gives me, the fortification of my feeble strength, the enrichment of my destitution, and, with Christ, the freedom from my chains.
Hear my plea.
Keep me, guide me, protect me, o safe refuge!

TOUR DE MARIA @ PULAU GALANG - BATAM.



TOUR DE MARIA
@ PULAU GALANG - BATAM.
"MAKE LOVE" NOT WAR.
Inilah penggalan salah satu kata khas tipikal John Lennon dan para penggiat gerakan damai "non violence". Inilah juga yang terngiang ketika pada tahun awal tahun 1970an di Vietnam terjadi perang saudara. Rakyat yang sejatinya sebangsa dan setanah air itu menjadi korban.
Di saat itulah muncul fenomena “boat people” atau manusia perahu. Dengan perahu sederhana, mereka meninggalkan negaranya yang porak poranda bagaikan neraka itu.
Dengan alat transportasi laut sederhana, mereka mengarungi samudera luas dan ganas, untuk mencari tempat yang aman dan damai. Salah satu tempat yang disinggahi adalah Pulau Galang, Kepulauan Riau, Indonesia. Dalam matra wilayah gerejani, lokasi Pulau Galang ini termasuk dalam bagian teritorial Keuskupan Pangkalpinang, dengan Mgr A. Sunarko OFM sebagai uskup-nya sekarang.
Tak kurang dari 250.000 pengungsi menetap di sana. Pulau yang berada 50 km dari Pulau Batam ini menjadi saksi dan teman sejarah yang tertulis bukan dengan tinta, tapi dengan air mata, keringat, darah dan aneka derita.
Secara khusus, saksi bisu lainnya di Pulau Galang ini adalah Gereja/Kapel St. Maria Immakulata (Nhà Thờ Đức Mẹ Vô Nhiễm) yang terletak di pulau Galang yang kadang dijuluki "Kampung Vietnam" ini, yang merupakan sebuah camp pengungsian seluas 80an hektar yang di bangun saat terjadinya perang saudara di Vietnam pada tahun 1975.
Meski hampir seluruh bangunan gereja itu berbahan kayu, dan sepertinya terlihat sudah sangat tua, namun masih berdiri tegak di tengah sunyi sepinya Pulau Galang.
Di atas bangunan tersebut, tampak sebuah salib kayu yang menjulang tinggi, sebagai bentuk penghormatan tertinggi pada kebesaran dan pengorbanan Tuhan. Di bawah salib tadi tampak gambar Bunda Maria, yang diukir dengan nuansa estetika.
Satu hal yang menarik di lingkungan sekitar gereja adalah keberadaan Patung Bunda Maria. Di bagian depan gereja, para pengungsi juga membangun sejumlah patung, di antaranya patung Bunda Maria yang menggendong seorang anak dan berada di atas perahu serta seorang bapak merangkul kedua anak.
Patung Ibunda Yesus ini dibuat, selain karena kecintaan mereka pada Bunda Suci itu, juga konon karena sebagian dari pengungsi Vietnam tadi sempat menyaksikan penampakan Bunda Maria.
Mereka percaya bahwa penampakan Bunda Maria ini sangat meneguhkan hati para pengungsi di pulau itu. Mereka juga percaya Bunda Maria telah dan tanpa lelah setia menyertai mereka dalam perjalanan menuju tanah pengungsian ini: "“Ketika aku seorang asing, engkau memberiku tumpangan”.
Menyitir pengalaman beberapa peziarah, sejak awal memasuki kompleks sekitaran Gereja di Pulau Galang ini, aura Marial terasa:
Mulai dari sebelum "route" Jalan Salib, disana ada Patung Hati Maria Tak Bercela. Dkl: Sebelum memulai Jalan Salib, kita diajak "berlari" kepada Maria yang sudah mengalami Jalan Salib Yesus, kita mohon kepadanya agar membimbing kita, mendoakan kita dan bersama kita menjalani karakter murid Kristus.
Setelah itu, menuju kompleks Gereja yang lagi lagi lekat dengan nuansa Marial.
Nama Gerejanya adalah: Gereja Maria Immaculata (Immaculate Conception).
Dkl: Setelah Maria membimbing kita dalam Jalan Salib, kini kita diajak untuk memetik buah buah salib dan mengalami bersama kebangkitan Kristus yang dirayakan dalam Ekaristi di Gereja yang berlindung pada nama Maria ini.
Nuansa Marial semakin kental memasuki kompleks Gereja Maria Immaculata. Di dalam gereja; ada patung Maria berukuran lumayan besar berdiri diatas sebuah kapal.
Bagi para "serdadu Maria", terlebih para pembimbing rohani atau perwira dan anggota aktif Legio Mariae, bisa jadi tersentak ketika mendekati patung ini.
Patung ini dijaga oleh sebuah tanda yang bagi semua Legioner pasti tidak asing lagi, di sisi kiri terdapat sebuah tugu kecil dengan bentuk menyerupai gambar Tessera.
Rupanya benar ketika semakin mendekat nampaklah Vandel dengan tulisan “Legio Mariae” dan dibawahnya diukir salah satu seruan dalam Tessera dengan bahasa Vietnam, pada sisi kanan diukir doa Salam Maria dalam bahasa Inggris, agak masuk ke dalam pada posisi di tengah kedua tugu tersebut terdapat sebuah “tungku” persis seperti yang dipakai untuk membakar "bunga-bunga rohani' dalam rapat presidium khusus dan dalam Perayaan Ekaristi; disana juga ada tulisan kecil Legio Mariae dan beberapa kata gerejani dalam bahasa Vietnam.
Bisa jadi, para Legioner Vietnam yang adalah juga para pengungsi ini dulunya setia larut hanyut khusyuk dalam Ekaristi dan untaian doa Rosario Suci menguatkan pahit getir hidup merek di "tanah rantau".
Dan, tepat di atas kapal, Patung Maria ada dalam posisi hormat menyembah dan setia berdoa (tangan terkatup di dada) dan tepat di depannya sebuah Altar untuk Ekaristi.
Indahnya kaki Altar untuk Perayaan Ekaristi adalah huruf “M” yang pasti bermakna “Maria”! Sungguh menggambarkan peran Maria dalam sejarah keselamatan umat manusia, secara khusus di tempat para pengungsi ini yanf dikenal dengan julukan “Boat People”.
Adapun, arus pengungsi ini mulai mengalir sejak menjelang jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan Komunis (1975) dan di saat itu tentara Amerika Serikat mulai meninggalkan Vietnam Selatan.
Pihak Gereja Katolik Indonesia yang pertama-tama mengambil inisiatif untuk menangani pengungsi-pengungsi pertama yang terdampar dan semakin hari semakin membanjir di pulau-pulau yang tersebar di Kep. Riau bagian utara.
Diantara pengungsi ini, banyak juga yang beragama Katolik, bahkan ada juga sejumlah imam, frater, suster bruder dari Vietnam yang ikut melarikan diri dari negerinya, maka terbentuklah suatu komunitas umat Katolik Vietnam di Pulau Galang.
Pada waktu itu, keuskupan setempat yakni Keuskupan Pangkalpinang bekerjasama dengan MAWI (sekarang KWI) dan LPPS ikut ambil bagian dalam pelayanan kepada para pengungsi di Pulau Galang.
Terbentuklah paroki khusus pengungsi di Pulau Galang dan MAWI waktu itu meminta Provinsial SJ untuk mengirim imam yang khusus melayani pengungsi ini dan menjadi pastor paroki di P. Galang.
Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto selaku Sekjen MAWI waktu itu berkenan datang ke P. Galang untuk kemudian juga memberkati gereja paroki St. Yosef yang dibangun sendiri oleh pengungsi Vietnam.
Sampai Camp pengungsi P. Galang ditutup tahun 1992, ada ratusan ribu pengungsi Vietnam yang pernah tinggal dan menjadi umat paroki khusus pengungsi di Pulau Galang ini. Sekarang mereka sudah tersebar pencar dan menetap di berbagai negara, antara lain: Amerika Serikat, Canada, Australia dsb.
Sekarang di Pulau Galang masih tersisa sedikit peninggalan para pengungsi Vietnam antara lain barak-barak dan juga seperti yang saya kupas diatas yakni Gereja St. Maria dan Patung Bunda Maria diatas perahu yang konon dibuat oleh para pengungsi Vietnam sendiri.
Mengacu pada bingkai historis, sewaktu jumlah pengungsi sudah mencapai ribuan orang, barulah pemerintah Indonesia di era Soeharto turun tangan juga badan-badan internasional lainnya seperti Palang Merah Internasional, PBB - UNHCR dan lain-lain. Maka pada tahun 1978 oleh pemerintah RI dibukalah tempat penampungan khusus pengungsi Vietnam di Pulau Galang-Riau.
Di pulau itu, dengan bantuan PBB dibangun prasarana sehingga menjadi Camp Pengungsi yang memadai, tempat persinggahan pengungsi Vietnam sebelum disalurkan ke negara lain yang bersedia menerima mereka.
Ya, UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees)-lah yang membangun camp untuk pengungsi di pulau Galang ini. Camp pengungsi tersebut mencakup wilayah 16 km2 atau 20% dari seluruh wilayah pulau. Pulau Galang sendiri merupakan bagian dari Kepulauan Riau.
Camp pengungsi ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap, ada kantor administrasi, Rumah Sakit Palang Merah, sekolah, gedung gereja Katolik, vihara, pekuburan dan Youth Center yang dikelola oleh para pengungsi sendiri.
Camp pengungsi ini terdiri dari tiga bagian (Blok IA, IB dan blok II. Ada sekitar 250.000 manusia perahu dari Vietnam (juga Kamboja dan Laos) yang ditampung di sini dari tahun 1975 hingga 1990an.
Sekarang, bekas Camp pengungsi itu dikelola sebagai tempat wisata oleh Batam Industrial Development Authority (BIDA). Dari Batam ke Pulau Galang, dapat ditempuh dalam waktu 1 jam dengan mobil, melintasi 6 jembatan yang dikenal dengan jembatan Barelang, singkatan dari nama tiga pulau Batam, Rempang dan Galang. Jembatan pertama sepanjang 642 km yang bernama jembatan Tengku Fisabililah menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan.
NB:
REPOST:
Kisah Perjalanan.
1.
Pada tahun 1970an, PBB via UNHCR mengamanatkan kepada Indonesia untuk menjadikan Pulau Galang sebagai tempat penampungan para pengungsi perang dari Vietnam, apalagi pada masa itu Pulau Galang masih kosong tak berpenghuni.
Kemudian didirikanlah camp pengungsian lengkap dengan berbagai fasilitas seperti barak-barak, rumah sakit, tempat ibadah, sekolah bahkan penjara.
Memasuki kawasan Wisata "Kampung Vietnam" di Pulau Galang ini, kita merasakan suasana "silentium" alias sunyi - sepi, tapi sepanjang jalan terlihat pipa air yang baik instalasinya menuju kampung Vietnam.
Ada beberapa wilayah di kampung ini. Ada kuil Dewi Kuan Im dengan memorabilia foto-foto para biksu dan kegiatan di kuil tanpa ada banyak keterangan sebagai saksi bisu sejarah.
Ada juga patung Bunda Maria dan gerejanya juga beraksentuasi kayu, cukup unik dan artistik. Ada juga kompleks pemakaman orang-orang Vietnam yang mengungsi kemari.
Selain kuil, gereja dan patung Maria, kawasan ini juga dilengkapi dengan rumah sakit, museum, barak-barak bagi pengungsi, kandang rusa, sekolah, penjara, youth center dan fasilitas sosial lainnya yang tampak terbengkalai.
Di museum, ada 1000 wajah penghuni kampung Vietnam ini. Dimana pada masa itu, mereka terisolir karena mereka membawa wabah dari negeri mereka sendiri yang dinamakan "Vietnam Rose".
Mereka mengarungi Laut Cina Selatan selama berbulan-bulan hingga 10 bulan lamanya dengan kapal kayu kecil yang padat sarat muatan hingga sanggup mengangkut 100 orang. Terlihat penderitaan mereka selama pelayaran melalui lukisan-lukisan mereka yang dipajang di museum.
Kapal-kapal itu diangkut dari laut menggunakan tower craine dan dinaikkan ke fuso oleh pemerintah Indonesia dari laut dan dipajang di kawasan Kampung Vietnam ini sehingga bisa dibayangkan penuh sesaknya kapal kayu kecil ini pada masa itu.
Kawasan ini kosong semenjak mereka dikembalikan ke Vietnam pada tahun 1996. Terlihat tempat ini menjadi saksi sejarah kehidupan pengungsi Vietnam masa itu yang menyelamatkan diri dari ancaman komunis.
Kadang, ada kunjungan kembali ke pulau Galang dari orang-orang Vietnam yang mengunjungi makam para leluhurnya. Kawasan makam terlihat baik dan terawat dengan tanda salib dan juga buddha. Ada warung penjual kopi dan makanan ringan dan habitat monyet pada kawasan ini.
Ada rasa sedih di lokasi ini membayangkan situasi saat harus meninggalkan negara yang kacau balau karena perang demi menyelamatkan diri hidup terasing belasan hingga puluhan tahun di pulau terisolir ini tanpa bisa berinteraksi dengan dunia luar bahkan dengan penduduk Indonesia sendiri.
2.
Pulau Galang di sekitar tahun 1980-an cukup dikenal dunia karena menjadi tempat pengungsian bagi warga Vietnam yang mencari perlindungan pasca terjadinya konflik internal antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.
Para pengungsi Vietnam telah mempertaruhkan sepotong nyawa mereka, mengambil resiko tinggi dengan menjadi manusia perahu. Mereka berlayar meninggalkan negara mereka, mengarungi samudra dengan hanya berbekalkan perahu kecil seadanya yang dijejali penumpang yang jauh melebihi kapasitasnya.
Terapung-apung berbulan-bulan lamanya mengarungi Laut China Selatan. Sebagian harus merelakan nyawanya di tengah lautan dan sebagian lainnya berhasil meraih daratan, termasuk berlabuh di wilayah Indonesia.
Mereka terpaksa melakukan itu untuk lari dari perang saudara yang melanda mereka di tahun 1979. Sebenarnya, para manusia perahu tidak secara langsung berlabuh di Pulau Galang.
Awalnya, gelombang manusia perahu mendarat di Kepulauan Natuna bagian Utara, Kepulauan Anambas, dan Pulau Bintan. Para pengungsi diterima oleh masyarakat setempat. Namun, karena gelombang pengungsi terus berdatangan, tentunya menimbulkan permasalahan tersendiri.
Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk menempatkan para pengungsi di Pulau Galang. Selain alasan kemudahan penyaluran pengungsi ke negara ketiga, juga karena Pulau Galang masih cukup luas dan dapat menampung para pengungsi.
Para pengungsi ditempatkan di Desa Sijantung, sebagai tempat penampungan sementara. Para pengungsi Vietnam menjalani hidup dan kehidupannya di Pulau Galang hingga tahun 1995. Ada sebagian di antara mereka yang kembali ke negara asalnya dan sebagian lainnya mendapatkan suaka dari negara-negara maju.
Kehidupan di camp pengungsi dibuat terisolasi dari lingkungan sekitar maupun dari penduduk setempat. Waktu itu dilakukan untuk mempermudah pengawasan dan penjagaan keamanan. Juga untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin yang menjangkiti para pengungsi Vietnam, yang dikenal dengan "Vietnam Rose".
Sekarang, jika kita berkunjung ke Pulau Galang, tidak terlalu sulit, karena antara Pulau Batam-Pulau Rempang-Pulau Galang telah tersambung dengan jembatan yang dikenal dengan nama Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang). Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam berkendara mobil dari pusat Kota Batam ke Pulau Galang.
Terdapat 6 jembatan yang menghubungkan pulau-pulau kecil di sana. Jika kita berada di jembatan tersebut, terpampang lukisan alam yang sangat indah. Selaksa lukisan pemandangan alam yang sering dilukis oleh para pelukis. Pandangan mata seakan dimanjakan oleh paparan lukisan alam nan indah, perpaduan antara laut biru dan hutan mangrove di sepanjang pantai yang sebagian besar masih asri.
Perjalanan menuju Camp Vietnam harus melewati jalan yang berkelok-kelok, membelah hutan Pulau Galang. Untuk memasuki Camp Vietnam, tidak ada gerbang mencolok, hanya berupa gapura bentuk perahu. Di perjalanan kita masih dapat menemui sekumpulan monyet yang berkeliaran, turun dari hutan yang ada di kanan kiri jalan, bermain di tengah jalanan.
Di Pulau Galang inilah, jejak-jejak peninggalan para manusia perahu, para pengungsi Vietnam, masih dapat kita telusuri. Dalam kawasan yang dikenal dengan Kampung Vietnam seluas sekitar 80 Ha. kita seolah diajak untuk turut membayangkan kehidupan mereka pada waktu itu.
Di kawasan bekas pengungsi Vietnam, tersebar bangunan-bangunan maupun benda-benda peninggalan yang dapat membantu kita untuk mewujudkan gambaran kehidupan para pengungsi yang cukup memilukan.
Suasana Camp Vietnam ketika kami kunjungi sangat sepi, seolah hanya kami pengunjungnya. Berkeliling sendiri, mencoba menggalang puing-puing sejarah peninggalan para pengungsi yang masih tertinggal di Pulau Galang.
Suasana sunyi, pepohonan yang rimbun, cuaca yang tidak begitu panas, bangunan-bangunan yang minim perawatan, terbengkalai dan merana, seolah memperkuat suasana yang ingin dibangun. Seakan turut memberikan gambaran tentang kehidupan mereka dulu. Ingin meneriakkan pilu, menyebarkan duka yang mereka alami.
Terdapat banyak bangunan yang membawa kita pada kenangan para pengungsi Vietnam. Berawal dari Humanity Statue (monumen kemanusiaan) yang terletak tidak jauh dari gerbang.
Monumen ini berbentuk patung seorang wanita. Humanity Statue seakan berupaya untuk mengingatkan kita akan salah satu peristiwa atau lebih tepatnya tragedi kemanusiaan yang menimpa salah satu pengungsi wanita di sana. Tinh Han Loai, seorang wanita pengungsi yang mati bunuh diri karena harus menanggung malu akibat diperkosa oleh sesama pengungsi.
Memang banyak peristiwa kriminal yang terjadi antar sesama pengungsi sehingga pemerintah dan UNHCR merasa perlu untuk membangun sebuah penjara di Camp Vietnam. Fungsinya selain untuk memberikan pelajaran bagi para pelaku kejahatan, juga untuk menahan para pengungsi yang mencoba untuk melarikan diri. Mungkin kondisi stres dan depresi yang menimpa mereka turut mempengaruhi.
Di Camp Vietnam, kita juga dapat menemukan perahu-perahu yang konon katanya sebagian merupakan perahu asli yang digunakan oleh para pengungsi dalam mengarungi Laut Cina Selatan. Terbayang sudah bagaimana mereka hidup berhimpitan selama berbulan-bulan dalam perahu yang relatif kecil yang katanya dijejali oleh sekitar 40-100 orang.
Terdapat pula museum di kawasan wisata sejarah Camp Vietnam. Di dalamnya terpampang foto-foto para pengungsi plus foto-foto kegiatan yang mereka lakukan.
Beberapa bangunan yang ada di sana tidak terawat. Beberapa benda peninggalan dibiarkan berkarat tanpa pemeliharaan yang berarti. Padahal, benda-benda dan bangunan-bangunan tersebut merupakan bagian dari sejarah yang sayang jika dilupakan begitu saja.
3.
Pulau Galang kini tak banyak berpenghuni tapi pulau di wilayah gerejani Keuskupan Pangkalpinang ini kini menjadi tempat peziarahan. Ia juga menyimpan jejak sejarah yang "mengharumkan" nama Indonesia di dunia internasional.
Pulau Galang sendiri terletak di bagian selatan Pulau Batam. Saat jalan semakin ke selatan, pemandangan terhampar luas. Jalan lurus bergelombang di depan mata. Di sisi kiri dan kanan jalan, bukit-bukit berbaris dengan beragam pepohonan hijau. Sesekali, tatkala bukit terlewati, biru laut terpapar ke bola mata. Pulau-pulau kecil menampakkan batang hidungnya di tengah laut biru tak bertepi itu. Satu dua perahu kecil melintas di kejauhan, menambah keelokan sore itu.
Untuk mencapai Pulau Galang, kita harus melewati lima jembatan yang menghubungkan lima pulau (Batam, Tonton, Nipah, Rempang, dan Galang). Pulau Galang adalah pulau ke lima yang bisa dicapai setelah melewati jembatan-jembatan ini.
Setelah Pulau Galang, masih ada satu pulau lagi yang bernama Galang Baru. Ia adalah pulau terakhir yang dihubungkan juga dengan jembatan. Semuanya ada enam jembatan.
Sekitar dua jam perjalanan, tibalah kita di Pulau Galang. Gapura bertuliskan “Batam Pulau Galang” terpampang menyambut. Jalannya beraspal. Di sisi kiri dan kanan, pohon-pohon tinggi berjejer. Rumput hijau menjalar di sepanjang sisi jalan. Monyet-monyet berlari-larian, tak peduli pada mobil yang semakin mendekat. Tak ada rumah.
GALANG SITE I.
Sekitar lima menit setelah melewati pos jaga, kita bisa berbelok ke kanan. Jalanan sedikit menanjak. Di sebelah kirinya itu ada "Via Dolorosa", perhentian-perhentian Jalan Salib. Umat biasanya mengadakan Jalan Salib di sini. Ini disebut Galang Site I.
Ketika tanjakan itu usai, Patung Bunda Maria berdiri tegak di hadapan kita. Patung setinggi sekitar satu meter itu di bangun dengan latar belakang layar perahu. Di bagian kiri patung, terdapat lantai cukup luas yang merupakan bekas bangunan gereja, yang pernah menjadi pusat pelayanan pastoral bagi para pengungsi yang saat itu sudah mencapai 70.000 orang.
Tak jauh dari situ, ada sebuah rumah tua tak berpenghuni. Atapnya sudah lapuk dan berlubang. Cat putih pada tembok yang terbuat dari papan itu pun tampak pudar. Patung Bunda Maria dan rumah tua itu dikelilingi pohon-pohon tinggi, sehingga tak mungkin terlihat dari kejauhan.
Dari jejak-jejak bangunan di Galang Site I ini tampak bahwa bekas hunian ini tidak tertata rapi. Pasalnya, Galang Site I menjadi tempat transit. Pengungsi yang ditempatkan di sini adalah mereka yang diproses untuk mendapatkan suaka politik di negara lain seperti Australia, Amerika, Kanada, dan negara-negara maju lainnya.
GALANG SITE II.
Lalu, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Galang Site II. Ini merupakan tempat hunian yang lebih tertata rapi karena para pengungsi tinggal dalam waktu relatif lebih lama. Dulunya, di sini terdiri dari barak-barak atau rumah panjang yang di pakai untuk menampung pengungsi, bahkan ada yang dua lantai.
Namun sayang, sebagian besar barak-barak itu sudah roboh, bahkan tak berbekas. Hanya tertinggal dua rumah reyot. Itu pun sudah lapuk, tak terurus. Atapnya sudah tak kelihatan lagi karena tertutup pohon-pohon tinggi.
Ada dua perahu besar bercat biru yang dipajang di sisi kanan jalan ke Galang II ini. Kedua perahu itu diberi atap sehingga terlindung dari hujan dan terkesan baru. Dua perahu itu menjadi replika perahu yang dipakai para pengungsi Vietnam Selatan saat mereka lari ke Indonesia.
Tak jauh dari kedua perahu ini terdapat sebuah museum. Di dalamnya, terdapat beragam jenis barang dan ada juga sejumlah ukiran patung Buddha berukuran kecil memenuhi sebuah meja panjang. Hasil lukisan para pengungsi juga menghiasi dinding ruangan itu. Ada gambar perahu dengan orang berjubel di atasnya terombang-ambing oleh gelombang laut.
Ada pula potongan-potongan batu putih persegi bertuliskan “Ta On Duk Me”, yang mengandung arti "Syukur kepada Allah" atau "Terima kasih kepada Yang Mahakuasa.”
Adapun pelbagai patung dan gambar-gambar ini adalah peninggalan para pengungsi. Mereka memiliki rasa seni yang sangat tinggi. Selama mereka di sini, selain mendapat bantuan dari PBB, mereka juga mendapat uang dari hasil penjualan gambar dan ukiran ini sebagai salah satu usaha bertahan hidup dalam situasi pelarian.
Hingga saat ini, setiap satu atau dua tahun sekali para mantan pengungsi Vietnam Selatan atau anak cucunya mengunjungi Galang. Mereka sekadar bernostalgia atas derita yang mereka alami, nyekar ke makam serta ingin mengunjungi rumah yang dulu pernah mereka tinggali. Ada yang menangis ketika melihat rumahnya sudah lapuk, bahkan tak ada lagi. Terkadang mereka juga tidak lagi tahu persis letak rumahnya.
Di Galang Site II ini, juga terdapat Gereja St Maria. Gereja itu berdinding kayu dengan salib menjulang tinggi di bubungannya. Di sisi kiri gereja itu, ada sebuah replika perahu yang dibuat dari semen. Replika perahu ini juga merupakan karya seni para pengungsi.
Di atas perahu terdapat sebuah patung Maria dengan tinggi lebih dari satu meter. Di sebelahnya lagi terdapat patung Santo Johanes Don Bosco.
Pada masa itu, baik di Galang Site I maupun Site II, Gereja terlibat penuh melayani para pengungsi. Ada beragam kegiatan pastoral di lakukan bagi para pengungsi, mulai dari Misa, pelayanan orang sakit, pembinaan umat, pembinaan iman anak-anak, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.

TOUR DE MARIA @ BORNEO: BERITA DARI "KOTA KATULISTIWA"



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
TOUR DE MARIA
@ BORNEO: BERITA DARI "KOTA KATULISTIWA"
Patung Bunda Maria "Ratu Pencinta Damai
- Bunda Segala Suku", di Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjungan - Sungai Pinyuh, Anjungan, Keuskupan Agung Pontianak, Kalimantan Barat, dengan tinggi 12 meter, yang lokasinya konon 70 kilometer dari Pontianak.
Peresmiannya hari ini diberkati oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus pada hari Minggu ini, 27 Mei 2018 (HR Tritunggal Mahakudus) dengan perayaaan ekaristi konselebrasi, dilanjutkan dengan penerbangan balon "RRI - Rosario Rasa Indonesia" berwarna merah putih serta penerbangan balon aneka warna dan balon merpati.
Secara simbolis, Patung Bunda Maria Ratu Pencinta Damai ini melambangkan:
1. Di kepalanya, ada mahkota dengan 12 bintang (Bdk. Kitab Wahyu 12:1, "tampaklah seorang perempuan, berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya dan dua belas bintang di atas kepalanya...")
2. Di dadanya, ada tulisan mandarin.
3. Di kakinya, ada 6 perwakilan suku yaitu Dayak, Tionghoa, Jawa, Manado, Batak dan Flores yang menampilkan nuansa ke-bhinekaan.
4. Gaun nya bermotif khas Dayak karena berada di bumi Kalimantan.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
KILAS BALIK.
Duta Besar (Dubes) Vatican untuk Indonesia Monsigneur (Mgr) Piero Pioppo memimpin prosesi liturgi pemberkatan Gereja Katolik Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila, Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (11/3/2018).
Piero yang datang untuk pertama kalinya ke Kalimantan Barat itu langsung disambut dengan tarian Dayak dan belasan pasangan yang mengenakan pakaian adat nusantara ketika tiba di depan gedung gereja, Minggu pagi.
Dalam memimpin misa pemberkatan, Piero didampingi Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, Uskup Sanggau Mgr Julius Giulio Mencuccini, Uskup Emeritus Hirronimus Bumbun dan konselebran para imam Katolik.
Dalam sambutannya, Piero menekankan agar umat Katolik senantiasa menjaga persatuan dan menghormati umat agama lain. Kehadirannya di Pontianak sebagai gembala agung, juga memberikan pesan dan semangat untuk selalu menjaga perdamaian.
"Saya senang berada di Indonesia, terlebih bisa hadir disini di Gereja Maria Ratu Pencinta Damai Pontianak yang begitu indah," ungkap Pieoro dalam bahasa Italia yang diterjemahkan oleh Pastor William Chang.
Kehadiran Piero dalam pemberkatan gereja nomor dua terbesar di Kalimantan Barat itu guna memenuhi undangan Uskup Agung Pontianak. Sebelumnya, Piero direncanakan memimpin pemberkatan sekaligus peresmian gereja MRPD Pancasila pada 1 Januari 2018 lalu.
Sementara itu, Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengungkapkan kedatangan Piero Pioppo ke Pontianak mewakili Paus Fransiskus sebagai gembala utama umat Katolik di seluruh dunia.
"Kedatangan beliau adalah untuk memberikan support dan kekuatan kepada umat Katolik untuk tetap bersatu," ujar Agustinus Agus.
"Dan di mana-mana beliau itu mengajak umat Katolik untuk damai, untuk menghargai kebhinekaan, untuk menghargai orang lain. Tadi dalam khutbah pun menekankan itu,” sambungnya.
Agus juga berharap kepada setiap umat untuk saling menjaga kebersamaan, bersatu untuk memperjuangkan kedamaian.
“Pada intinya saya mengundang (Dubes) adalah untuk memberikan dukungan semangat kepada umat Katolik khususnya yang ada di Kalimantan Barat ini,” terangnya.
Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja MRPD Pancasila, Karolin Margret Natasa mengaku bersyukur karena proses pembangunan gereja yang dimulai sejak pertengahan tahun 2015 itu bisa selesai tepat pada waktunya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu, terutama kepada seluruh warga yang berada di sekitar Gereja MRPD yang selama ini mendukung pembangunan gereja ini sehingga bisa digunakan oleh umat Katolik yang ada di daerah sini,” ujar Karolin.
Karolin berharap, dengan selesainya pembangunan gereja ini dapat semakin meningkatkan keimanan umat dan kerukunan antar umat beragama.
“Juga semakin meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yang mudah-mudahan kedepan membawa Kalimantan Barat ke arah yang lebih maju,” ujar Karolin.
Lokasi Gereja MRPD Pancasila ini terletak di Jalan Gusti Hamzah atau yang lebih dikenal dengan nama Jalan Pancasila yang merupakan nama jalan yang lama. Sehingga, umat terbiasa menyebut gereja ini dengan mama Gereja Pancasila, karena terletak di Jalan Pancasila.
Selain itu, berjarak kurang dari 200 meter terdapat sebuah Mesjid yang posisinya berseberangan jalan dengan gereja ini. Karolin berpandangan, hal ini membuktikan bahwa semangat kebersamaan dalam perbedaan tetap terjaga dengan baik di Kalbar.
“Tadi ketika misa sedang berlangsung, kita juga mendengarkan suara adzan dikumandangkan. Saya rasa inilah keindahan Indonesia, di mana kita bisa berdampingan. Masing-masing dapat melaksanakan ibadahnya kepada Tuhan,” ujar Karolin.

GAMBAR MARIA GUADALUPE



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
“PENJELASAN SOSIO HISTORIS-TEOLOGIS SEPUTAR GAMBAR MARIA GUADALUPE.”
(Buku "MOM - Mary Our Mother" - RJK)
'The Lord is good and upright.
He shows the path to those who stray,
He guides the humble in the right path,
He teaches his way to the poor.'
Our Lady of Guadalupe, pray for us.
Inilah yang diakui Gereja sebagai penampakan Bunda Maria, dan kita peringati setiap tgl 12 Desember. Inilah salah satu penampakan tertua Perawan Maria terjadi di Meksiko pada tahun 1531.
Dalam penampakannya kepada Juan Diego pada tanggal 8, 9 dan 12 Desember 1531, Maria memberi “bukti” gambar dirinya yang timbul pada tilma/ kain Juan Diego ketika Juan Diego membukanya di hadapan Uskup dan beberapa saksi lain.
Sejak saat itu hingga kini, telah sangat banyak kali tilma bergambar itu diteliti oleh para ahli dengan menggunakan berbagai teknik, namun tak ada kesepakatan yang bisa membuktikan secara ilmiah (untuk membuktikan ketidak asliannya).
Tidak dapat dibuktikan waktu/ tahun/ masa pembuatannya, tekniknya, cat yang digunakan, bahkan tidak ada jejak kuas (jika gambar tersebut adalah palsu atau buatan manusia).
Dan sejumlah fakta lain, antara lain kenyataan bahwa kain tersebut tidak rusak atau pudar selama waktu berabad-abad ini dan bahkan ketika terjadi ledakan bom yang menghancurkan bangunan dan benda- benda berat di sekitarnya, kain ini tetap utuh tak kurang suatu apapun, dan banyaknya mukjizat yang terjadi yang diakui sebagai pertolongan yang didapat dari kepercayaan kepadanya.
Secara singkat, beberapa keterangan menarik tentang gambar Maria Guadalupe :
1. Ada yang mempercayai, kata-kata Maria : “Panggil / sebut aku dan gambarku itu sebagai “Santa Maria de Guadalupe” itu kemungkinan salah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol, karena Juan Diego dan pamannya ( yang mendapat pesan itu) berbahasa asli Indian Aztec.
Bisa jadi kata yang dimaksud adalah "coatlaxopeuh" yang diucap "quatlasupe" yang berarti “dia yang menginjak/menghancurkan ular”. (lihat Kej 3:15)
2. Gambar figur Maria berdiri di depan cahaya matahari:
Ini melambangkan bahwa Maria lebih besar daripada dewa matahari yang disembah orang-orang Indian saat itu.
Lihat Wahyu 12 : 1, Maka tampaklah suatu tanda besar di langit:
Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya....
3. Kakinya berdiri di atas bulan sabit berkulit ular :
Ini melambangkan bahwa Maria lebih besar daripada dewa ular yang disembah orang-orang Aztec, sebagai lambang kemenangan atas kejahatan/setan.
Kepercayaan kepada Maria ini kemudian mengurangi dan mengakhiri pengorbanan manusia yang dilakukan bangsa Aztec sebagai persembahan kepada setan/dewa ular.
4. Seorang Cherub menopang Maria :
Malaikat dipercayai sebagai makhluk surgawi.
Ini menandakan bahwa Maria datang dari Surga.
5. Wajah Maria :
Adalah wajah etnik, sebuah wajah baru perpaduan antara suku asli Indian dan bangsa penakluk mereka, Spanyol.
6. Kepala dan mata Maria tertunduk :
Dewa dewi suku Aztec selalu digambarkan menatap lurus dengan mata besar dan kepala tegak.
Kepala dan mata Maria yang tunduk ke bawah memberitahu bahwa ia bukan dewa atau dewi, bahwa ada kuasa yang lebih besar daripada ia.
7. Rambut Maria :
Kebiasaan suku Aztec, wanita yang rambutnya tidak diikat menandakan sedang mengandung.
Sedangkan rambut belah tengah adalah untuk para gadis.
Rambut Maria yang tidak diikat dan berbelah tengah menandakan bahwa ia adalah "ibu yang perawan".
8. Salib pada kalungnya :
Maria mengakui Tuhannya adalah Kristus, Tuhan orang-orang Spanyol.
9. Posisi tangan :
Tangannya berada dalam gerakan menyembah, menandakan bahwa ia menyembah suatu kuasa yang lebih besar dari dirinya sendiri.
10. Warna biru mantelnya :
Ini adalah warna yang dikenakan para kaum bangsawan atau petinggi, menunjukkan ia adalah seorang ratu.
11. Ikat pinggang hitam :
Pada budaya Aztec, ini dipakai oleh wanita yang sedang mengandung.
12. Bintang-bintang pada mantelnya :
Ini menandakan bahwa ia lebih besar daripada bintang-bintang yang disembah bangsa Aztec. Sebuah gambar virgo (= perawan) ada di tengah badannya dan sebuah bintang utara pada kepalanya.
Gambar bintang-bintang pada mantel Maria adalah sama seperti gugusan bintang yang tampak di langit pada hari itu, 12 Desember 1531 jam 10 malam waktu setempat.
Kebudayaan Aztec mempercayai bahwa suatu masa berakhir dan sebuah era baru dimulai selalu ditandai dengan kemunculan komet atau gugusan bintang.
Penampakan Maria di Mexico ini mengakhiri kepercayaan suku Indian akan dewa-dewi, mengakhiri ritual pengorbanan manusia, dan dalam waktu beberapa tahun saja mempertobatkan 9 juta (dari total 10 juta) orang suku Aztec kepada iman Kristiani.
Paus St. Yohanes Paulus II menetapkan Maria Guadalupe sebagai pelindung Mexico dan Amerika, dan Kuil Maria Guadalupe termasuk salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi peziarah setiap tahunnya.
====
Salah satu penampakan tertua Perawan Maria terjadi di Meksiko pada tahun 1531.
Juan Diego, seorang pria pribumi tua berusia 57 tahun yang telah bertobat dan beralih ke iman Katolik, sedang dalam perjalanan menuju Misa hariannya ketika melewati bukit Tepeyac, di barat laut Meksiko.
Tertarik oleh suara burung bernyanyi, ia memanjat bukit dan melihat seorang wanita muda dalam gaun panjang yang bersinar.
Batu-batu di sekelilingnya berbinar, dan Juan Diego melihat pelangi memenuhi langit.
Wanita muda tersebut, yang menyatakan kepadanya bahwa dia adalah Perawan Maria, memerintahkan Juan Diego untuk meminta Uskup untuk membangun sebuah kapel di tempat itu.
Juan Diego melaporkan hal itu dua kali kepada Uskup tapi tidak dipercayai.
Pada tanggal 12 Desember, Maria memberinya tanda yang dengannya kemudian dapat meyakinkan Uskup dan Imam lainnya: jubah Juan Diego secara ajaib tercetak dengan gambaran Maria.
Tanpa ragu lagi, mereka memulai pembangunan tempat kudus, sebuah gereja yang segera menarik para peziarah hingga saat ini.
Sampai pada hari ini, gambar ajaib yang muncul di jubah Juan Diego masih sejelas seperti pada saat pertama kali muncul, dan kain biasa yang sudah berumur beberapa abad itu masih dalam kondisi baik.
Analisa ilmiah yang dilakukan tanpa hasil yang jelas hanya semakin memperdalam misterinya.
Pada 14 November 1921, seorang pekerja pabrik menaruh bom dan meledakkan altar Gereja dimana disimpan jubah tersebut.
Ledakan menghancurkan lantai altar dari marmer dan kaca-kaca gereja serta rumah-rumah sekitar, melengkungkan salib tembaga di altar, tetapi kain jubah Juan Diego bergambar Maria tersebut tidak mengalami kerusakan.
Sejak 1993, kain tersebut kemudian dilindungi, disimpan dalam kotak kaca anti peluru.
Dengan lebih dari lima belas juta pengunjung tiap tahun, Gereja Nuestra Senora de Guadalupe di bukit Tepeyac menjadi salah satu tempat ziarah terkenal di dunia dan La Virgen de Guadalupe diakui menjadi pelindung Meksiko dan Amerika Latin.
====
Kutipan Bunda Maria dari Guadalupe, Pelindung Evangelisasi Baru :
“Aku sungguh adalah Ibundamu yang berbelas kasih : Ibumu dan ibu dari semua orang yang berdiam di tanah ini dan Ibunda bagi segala bangsa yang mencintai aku dan memanggil serta memohon kepadaku. Akulah Ibu dari semua orang yang mencari aku dan menempatkan kepercayaan mereka didalam Aku”
“Ketahuilah, dan taruhlah di dalam hatimu, putra kecilku, yang paling kusayangi, bahwa Akulah Santa Perawan Maria Selamanya yang sempurna, dan Aku memiliki hak untuk Menjadi Ibu Allah yang benar, Pemberi Kehidupan, Pencipta orang-orang, Pemilik apa yang dekat dan jauh, Tuhan Langit dan Bumi”
“Karena sebenarnya aku merasa terhormat untuk menjadi Ibunda yang berbelas kasih kepada kalian semua, kamu dan semua orang yang tinggal bersama di tanah ini, dan semua orang dari leluhur yang berbeda, mereka yang mencintai aku, mereka yang menangis kepadaku, mereka yang mencari aku, mereka yang menghormati aku dengan menempatkan kepercayaan mereka dalam perantaraanku.
Karena aku akan selalu mendengar tangisan mereka, dukacita mereka, untuk membersihkan, menyembuhkan semua penderitaan mereka, permasalahan mereka, penderitaan mereka”
“Dengar, taruhlah didalam hatimu, yang paling kecil dari putra-putraku :
Jangan biarkan apapun menakutkan atau membuatmu sedih
Jangan biarkan hatimu diganggu
Jangan takut akan penyakit atau penderitaan
Bukankah aku ada disini, yang adalah Ibumu?
Bukankah kamu ada dalam perlindunganku?
Bukankah aku adalah kesehatanmu?
Tidakkah kamu gembira ada di dalam lipatan jubahku, digenggam aman didalam tanganku?
Apakah kamu memerlukan sesuatu yang lain lagi?
Jangan biarkan apapun mencemaskanmu atau mengganggumu”
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
A.
Berkenalan dengan St Juan Diego.
Nama Juan Diego mungkin masih kurang populer di Indonesia. Ia adalah seorang Santo dari suku Indian yang dilahirkan pada 1474 di Tlayacac, Cuautitlan, sebuah desa kecil sekitar 35 mil sebelah utara Tenochtitlan (kota Meksiko).
Nama aslinya Cuauhtlatoatzin, artinya “Elang Berbicara”. Juan Diego dibaptis pada usia 50 tahun oleh seorang imam Fransiskan. Pada saat menerima penampakan Bunda Maria Guadalupe, Juan Diego sudah berusia 57 tahun, dengan status duda cerai mati tanpa anak.
Dalam penampakannya di bukit Tepeyak, Bunda Maria meminta kepada Juan Diego untuk menyampaikan kepada Uskup Meksiko saat itu agar mendirikan sebuah gereja di tempat ia menampakkan diri.
Ketika diminta oleh Uskup untuk memerikan tanda, Bunda Maria menyuruh Juan Diego mendaki sebuah bukit dan mengumpulkan bunga mawar yang sedang mekar di situ, padahal waktu itu musim dingin dan hanya tumbuhan kaktus yang tumbuh di bukit tersebut.
Bunga-bunga mawar itu dikumpulkan dan dibungkus dalam mantolnya (Spanyol: Tilma). Ketika mantol itu dibuka di hadapan Uskup, ternyata di mantol itu terlukis secara ajaib gambar Bunda Maria dari Guadalupe yang kita kenal sekarang.
Dengan izin Uskup, Juan Diego menjalani sisa hidupnya untuk menjaga gambar ajaib Bunda Maria Guadalupe. Ia tinggal di sebuah kamar mungil di samping kapel di mana lukisan suci Bunda Maria disimpan.
Juan Diego wafat pada 30 Mei 1548 saat berusia 74 tahun. Paus Yohanes Paulus II memuji dia karena imannya yang bersahaja dan menetapkannya sebagai teladan kerendahan hati bagi kita semua.
Pada 9 Mei 1990, Juan Diego dibeatifikasi, dan pada 31 Juli 2002 dikanonisasi. Kedua peristiwa itu dilakukan di Basilika St Maria dari Guadalupe, kota Meksiko oleh Paus Yohanes Paulus II.
Beberapa keutamaan lain yang bisa kita teladani dari St. Juan Diego.
1. Rasul Ekaristi
St. Juan Diego selalu menghadiri perayaan Ekaristi, meskipun ia harus berjalan sekitar 9 km dari rumahnya melewati jalan berbukit-bukit sampai akhirnya tiba di gereja.
2. Teladan ketekunan
Dengan disemangati Bunda Maria, St. Juan Diego tekun menjalankan tugasnya untuk menyampaikan pesan Bunda Maria kepada Uskup, meskipun beberapa kali ditolak dan diragukan.
3. Rasul Awam
St. Juan Diego bukan seorang imam atau biarawan. Ia adalah seorang awam, yang setia dalam hidup perkawinan sampai maut yang memisahkan. Ia menjadi teladan pewarta awam yang sampai akhir hayatnya tak pernah lelah mewartakan kabar gembira lewat penampakan Bunda Maria Guadalupe.
Penampakan Bunda Maria Guadalupe berbeda dari penampakan Bunda Maria di tempat lain. Di bukit Tepeyak, Bunda Maria menampakan diri ketika St. Juan Diego dalam perjalana menuju gereja.
Perjumpaan dengan Bunda Maria, membuat St. Juan Diego menghentikan langkahnya sejenak, bercakap-cakap dengan Bunda Maria dan setelah itu ia melanjutkan perjalanannya kembali.
B.
Doa Mohon Pertolongan Bunda Maria dari Guadalupe (Buku "DOA – Dikuatkan Oleh Allah" - Romo Jost Kokoh)
Bunda tercinta, kami mengasihimu.
Kami berterimakasih atas janjimu untuk menolong kami bila kami berada dalam kesesakan.
Kami mempercayakan diri ke dalam kasihmu yang kuasa mengeringkan airmata dan menghibur hati kami.
Ajarilah kami menemukan damai di dalam diri Yesus Putramu dan berkatilah kami di sepanjang hari-hari hidup kami.
Jadikanlah hati kami menjadi seindah bait yang telah dibangun di atas gunung Tepeyac bagimu.
Suatu bait penuh penyerahan, pengharapan dan cinta kasih kepada Yesus yang terus berkembang setiap hari.
Bunda tercinta,
Engkau memilih tinggal bersama kami dengan menghadiahkan gambar dirimu sendiri yang amat ajaib dan suci pada jubah Juan Diego.
Biarlah kami menikmati kehadiranmu yang penuh kasih itu apabila kami memandang wajahmu.
Berilah kami keberanian seperti Juan Diego untuk menyampaikan pesan pengharapanmu pada semua orang.
Engkaulah bunda kami dan sumber inspirasi kami.
Sudi dengarkanlah kami dan jawablah doa-doa kami.
Amin.
Salam Maria... (3 x)
C.
Remembering the apparitions of Our Lady of Guadalupe.
First Apparition: Saturday, December 9, 1531
Juan Diego was on his way to the church in Mexico – Tlatilolco, near the hill called Tepeyac, when he heard someone singing like the song of many precious birds
Then, he heard someone calling him, *“Juanito, Dearest Juan Diego”.
She told him: “Know, know for sure, my dearest and youngest son, that I am the perfect ever virgin holy Mary, Mother of the One Great God of truth who gives us life…I want very much that they build my sacred little house here…”
Second Apparition: end of day, Saturday, December 9, 1531
Juan Diego begs our Lady to send someone more esteemed than him to deliver the message.
Our Lady told him: “Listen, my youngest and dearest son, know for sure that I have no lack of servants or messengers to whom I can give the task of carrying my breath, my word…; but it is very necessary that you, personally, go and plead, that my wish, my will, become a reality…”
C.
Novena in Honor of Our Lady of Guadalupe (Feast: December 12)
Memorare of Our Lady of Guadalupe
(to be prayed each day...)
Remember, O most gracious Virgin of Guadalupe, that in your heavenly apparitions on the mount of Tepeyac, you promised to show your compassion and pity towards all who, loving and trusting you, seek your help and call upon you in their necessities and afflictions.
You promised to hear our supplications, to dry our tears, and to give us consolation and relief.
Never has it been known that anyone who fled to your protection, implored your help, or sought your intercession, was left unaided. Inspired by this confidence, we fly to you, O Mary, ever-Virgin Mother of the true God!
Though grieving under the weight of our sins, we come to prostrate ourselves before you. We fully trust that, standing beneath your shadow and protection, nothing will trouble or afflict us, nor do we need to fear illness or misfortune, or any other sorrow.
O Virgin of Guadalupe, you want to remain with us through your admirable Image, you who are our Mother, our health, and our life. Placing ourselves beneath your maternal gaze, and having recourse to you in all our necessities, we need do nothing more.
O Holy Mother of God, despise not our petitions, but in your mercy hear and answer us. Amen
1.
First Day - December 4
Dearest Lady of Guadalupe, fruitful Mother of holiness, teach me your ways of gentleness and strength. Hear my humble prayer offered with heartfelt confidence to beg this favor...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
2.
Second Day - December 5
O Mary conceived without sin, I come to your throne of grace to share the fervent devotion of your faithful children who call upon you under the glorious title of Guadalupe. Obtain for me a lively faith to do your Son’s holy will always: May His will be done on earth as it is in heaven...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
3.
Third Day - December 6
O Mary, most sorrowful, whose Immaculate Heart, was pierced by seven swords of grief, help me to walk valiantly amid the sharp thorns strewn across my pathway. Obtain for me the strength to be a true imitator of you. This I ask you, my dear Mother...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
4.
Fourth Day - December 7
Dearest Mother of Guadalupe, I beg you for a fortified will to imitate your divine Son’s charity, to always seek the good of others in need. Grant me this, I humbly ask of you...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
5.
Fifth Day - December 8
O most holy Mother, I beg you to obtain for me the pardon of all my sins, abundant graces to serve your Son more faithfully from now on, and lastly, the grace to praise Him with you forever in heaven...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
6.
Sixth Day - December 9
Mary, Mother of vocations, we beg you to multiply priestly vocations and fill the earth with religious houses which will be light and warmth for the world, and safety in stormy nights. Beg your Son to send us many holy priests and religious. This we ask of you, O Mother...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
7.
Seventh Day - December 10
O Lady of Guadalupe, we beg you that parents live a holy life and educate their children in accordance with the true Catholic faith; that children obey and follow the directions of their parents; and that all members of the family pray and worship together. This we ask of you, O Mother...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
8.
Eighth Day - December 11
O Lady of Guadalupe, with my heart full of the most sincere veneration, I prostrate myself before you, O Mother, to ask you to obtain for me the grace to fulfill the duties of my state in life with faithfulness and constancy...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
9.
Ninth Day - December 12 - Feast of Our Lady of Guadalupe
O God, you have been pleased to bestow upon us unceasing favors by having placed us under the special protection of the Most Blessed Virgin Mary. Grant us, your humble servants, who rejoice in honoring her today upon earth, the happiness of seeing her face to face in heaven...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe.
===


Dalam penampakannya kepada Juan Diego di Tepeyak Mexico pada Desember 1531, Maria menyatakan hal hal ini:
“Aku sungguh adalah Ibundamu yang berbelas kasih.
Ibumu dan ibu dari semua orang yang berdiam di tanah ini dan Ibu bagi segala bangsa yang mencintai aku dan memanggil serta memohon kepadaku.
Akulah Ibu dari semua orang yang mencari aku dan menempatkan kepercayaan mereka didalam Aku.”
“Ketahuilah, dan taruhlah didalam hatimu, putra kecilku, yang paling kusayangi, bahwa Akulah Santa Perawan Maria Selamanya yang sempurna, dan Aku memiliki hak untuk menjadi Ibu Allah yang benar, Pemberi Kehidupan, Pencipta orang-orang, Pemilik apa yang dekat dan jauh, Tuhan Langit dan Bumi.”
“Karena sebenarnya aku merasa terhormat untuk menjadi Ibunda yang berbelas kasih kepada kalian semua, kamu dan semua orang yang tinggal bersama di tanah ini, dan semua orang dari leluhur yang berbeda, mereka yang mencintai aku, mereka yang menangis kepadaku, mereka yang mencari aku, mereka yang menghormati aku dengan menempatkan kepercayaan mereka dalam perantaraanku.
Karena aku akan selalu mendengar tangisan mereka, dukacita mereka, untuk membersihkan, menyembuhkan semua penderitaan mereka, permasalahan mereka, penderitaan mereka.”
“Dengar, taruhlah didalam hatimu, yang paling kecil dari putra-putraku:
Jangan biarkan apapun menakutkan atau membuatmu sedih
Jangan biarkan hatimu diganggu
Jangan takut akan penyakit atau penderitaan
Bukankah aku ada disini, Aku yang adalah Ibumu?
Bukankah kau ada dalam perlindunganku?
Bukankah aku adalah kesehatanmu?
Tidakkah kamu gembira ada di dalam lipatan mantolku, digenggam aman didalam tanganku?
Apakah kamu memerlukan sesuatu yang lain lagi?
Jangan biarkan apapun mencemaskanmu atau mengganggumu.”

MUKJIZAT KESEMBUHAN DARI LOURDES



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
OLEH OLEH DARI LOURDES....
MUKJIZAT KESEMBUHAN SUSTER BERNADETTE MORIAU DIAKUI SEBAGAI MUKJIZAT PENYEMBUHAN KE-70 DI LOURDES
Suster Bernadette Moriau menderita kelumpuhan parah dan tidak dapat berjalan sejak tahun 1987. Namun, setelah melakukan ziarah ke Lourdes, ia sembuh pada tanggal 11 Juli 2008.
Selama 40 tahun biarawati berusia 79 tahun itu menderita penyakit tulang belakang kronis karena saraf tulang belakangnya yang terjepit. Ia didiagnosa menderita masalah tulang belakang pada usia 27 tahun. Ia menjalani empat kali operasi untuk tulang belakangnya, yakni antara tahun 1968 dan 1975 dan pada 1980.
Suster Bernadette Moriau berkata, "Secara mengejutkan saya bisa bergerak tanpa rasa sakit. Kaki saya yang keseleo sembuh seperti sedia kala. Saya pergi mencari seorang suster dan mengatakan kepadanya, 'Lihatlah apa yang terjadi padaku'. Aku menangis berhari-hari. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padaku karena aku tidak dapat membayangkan hal seperti itu terjadi pada diriku. Aku telah banyak berdoa untuk orang sakit, tetapi aku tidak pernah memohon kesembuhan. Aku tidak pernah memiliki gagasan itu, aku pikir aku akan seperti ini seumur hidup".
Dalam konferensi pers atas pengukuhan mukjizat yang ia alami, Suster Bernadette bercerita tentang dua barang yang ia lepaskan setelah kunjungannya ke gua Maria di Lourdes. Dua barang itu adalah morfin yang selama ini ia gunakan untuk meredakan perih, serta penjepit kakinya. “Saya di sini untuk memberi kesaksian, bukan untuk membuat Anda memercayai saya”, katanya. Atas kesembuhan yang dialaminya, Bernadette menyebut dirinya ‘bukan bintang’ melainkan ‘anak kecil’ yang senang bisa berjalan bebas lagi.
Setelah 10 tahun mempelajari, para dokter menyimpulkan bahwa penyembuhan sang biarawati tersebut tidak dapat dijelaskan berdasarkan pengetahuan ilmiah terkini.
Oleh karena itu, keuskupan setempat telah memutuskan secara resmi untuk mengakui mukjizat tersebut melalui siaran pers pada Pesta Bunda Maria dari Lourdes pada tanggal 11 Februari 2018. Mukjizat tersebut adalah mukjizat ke-70 yang diakui secara resmi sejak tahun 1858, tahun penampakan Bunda Maria kepada Santa Bernadet Soubirous di Lourdes.
(PS).
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
A.
MARY: WOMAN & MOTHER.
Lewat Maria,
menjadi nampak bahwa Gereja bukanlah sekedar institusi belaka.
Gereja adalah seorang pribadi.
Ia adalah seorang wanita (woman).
Ia adalah seorang ibu (mother). Ia sungguh hidup. Dan hanya menjadi seperti Maria, kita menjadi Gereja.
Juga pada awal mulanya, Gereja tidak dibuat, tetapi dilahirkan. Ia dilahirkan ketika fiat’ muncul dari lubuk hati Maria.
Inilah keinginan yang paling dalam dari Konsili :
agar Gereja dibangun kembali di dalam hati kita, dan Maria telah menunjukkan jalannya.
Bunda yang bernama Maria ini sepenuh hati dihormati secara istimewa oleh umat Katolik dan Ortodoks serta dihormati oleh umat Protestan sebagai Perawan yang melahirkan Yesus Kristus. Ia juga diakui dan sangat dihormati dalam Islam sebagai “wanita” sekaligus “ibu” yang mulia dalam tradisi Yudaisme, walau mereka tidak mengakui Anaknya sebagai Mesias.
Pastinya, aneka-ria sembah bakti dalam rupa devosi kepada Bunda Maria tak terhitung jumlahnya, demikian pula pelbagai legenda bestari tentangnya selama berabad-abad. Ia telah menampakkan diri kepada ribuan orang beriman di seluruh dunia, dan para devosan mengaitkan beragam keajaiban dan kuasa yang telah terjadi berkat perantaraannya. Ia juga telah mengilhami begitu banyak seniwan-seniwati: pemahat, dramawan, penyair, dan musisi dalam pelbagai karya seni dengan pelbagai tekstur, kontur dan gesture-nya .
Di lain matra, para penginjil hanya sedikit memberikan rincian tentang kehidupan dan kepribadiannya. Dalam beberapa buku yang saya catat-ketat dengan tema besar seputar “Maria”, saya melihat dan mengingat kembali bahwa dari kebanyakan tulisan Perjanjian Baru, Maria memang hampir tidak disebut. Hanya ada beberapa teks yang menyinggung tentang Maria antara lain:
a. Galatia 4:4 :
Maria diakui sebagai ibu Yesus, yang melahirkanNya secara fisik.
b. Kisah Para Rasul 1:14 :
Mereka bertekun dalam doa bersama Maria, ibu Yesus, dan bersama beberapa perempuan lain.
c. Wahyu 12 :
Dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan, ia berteriak kesakitan.
d. Yohanes 2: 1-12 :
Maria, Ibu Yesus menyertai Yesus. Ia ada dalam perkawinan di Kana.
e. Yohanes 19:25-27:
Ia juga berdiri di bawah salib Yesus, puteranya.
f. Markus 3:20-21 :
Kaum keluarga datang hendak mengambil Yesus.
g. Matius 1 dan 2:
Kisah masa kanak-kanak Yesus. (Bdk. Lukas 1 dan 2).
Pendek kata:
Dari teks Perjanjian Baru, sedikit saja informasi tentang Maria, tapi indahnya adalah, kontribusi dan partisipasi Maria ditampilkan sebagai “alpha et omega”, yakni pada awal maupun pada akhir pelayanan Yesus. Mengacu dari teks aslinya: Pada awal pelayananNya, yaitu peristiwa sukacita di Kana, Yohanes menulis bahwa Yesus memanggil ibu-Nya (“mother”), dengan sebutan ”woman” (Yoh 2:4: ”Mau apakah engkau daripadaKu, wanita? ”); Pada akhir pelayanan-Nya, yaitu peristiwa dukacita di Golgota, Yesus sekali lagi menyebut ibu-Nya (“mother”) dengan ”woman” (Yoh 19:25: ”Wanita, inilah anakmu!”).
Sebutan ”wanita” ini merujuk pada peran ke”ibu”an rohani dari Maria. Artinya, dengan menyebut bunda-Nya (mother) sebagai ”wanita” (woman), Yesus memberikan Bunda-Nya sebagai ibu rohani para murid-Nya.
Penginjil Yohanes juga hendak menunjukkan bahwa Ibu Yesus adalah ”wanita” yang dirujuk oleh Kejadian 3:15, yang akan mengadakan permusuhan dengan setan. Ibu Maria itulah “Hawa Baru”. Demikian pula, Ibu Maria adalah wanita yang dimaksudkan Yohanes dalam kitab Wahyu 12:1-6, ketika berbicara tentang wanita dan naga.
Pastinya, walaupun teks-teks Perjanjian Baru, memang tidak terlalu banyak menginformasikan tentang Maria, sebagai “mother” sekaligus “woman”. Tapi misteri kelahiran Anaknya dan harapan tak terbendung yang lahir pada awal iman kristiani telah mengilhami sejumlah teks yang kaya dengan detail cerita yang telah diyakini sejak lama oleh umat beriman.
Uniknya, devosi kepada Maria yang adalah “mother” sekaligus “woman” di masa awal kristiani dengan cepat-pesat “dolan-dolin” dan “wara-wiri” menyatu-padu serta bercampur-baur dengan penghargaan kultural kepada dewa perempuan kuno klasik. Diambil dari tradisi kuno, ritual populer, aneka dogma gereja Katolik dan Ortodoks, dan banyaknya penampakan atau fenomena ajaib, kultur dan kultus seputar Maria telah memberikan pengaruh penting ke dalam budaya kekristenan di dunia saat ini. Dari situlah kita bisa menangkap banyak tentang hidup Maria sebagai teladan sikap orang beriman terhadap Allah: Maria sebagai penyambut sabda dan karya Allah, Maria sebagai hamba Tuhan, Maria sebagai figur kerendahan hati, Maria sebagai pendoa – pembela dan perantara dan pelbagai gelar yang melekat dekat pada Maria, sang “mother” sekaligus “woman” ini.
Nah, untuk itulah sketsa historis dan teologis sederhana dan singkat saja tentang kisah seputar wanita sekaligus bunda bernama “Maria" yang muncul belasan kali di Loudes inilah saya hadir-kenangkan kembali sebagai sesuatu yang hidup (geschichte) bagi mekar-kembang dan kekar-tumbuhnya harapan iman dan kasih di taman bunga setiap pribadi.
Begini kisah pendeknya:
Pada tahun1858, Lourdes hanya sebuah kota pasar kecil di Pyrenees, barat daya Perancis, di mana keluarga Soubirous hidup dalam kemiskinan. Putri sulung, Bernadette, empat belas tahun saat itu, tapi tidak bisa membaca atau menulis.
Pada tanggal 11 Februari tahun 1858, di sebuah gua di Massabielle, dekat Lourdes, di Perancis selatan, gadis itu pergi untuk mengumpulkan kayu bakar bersama dengan dua temannya. Ia sedang hendak menyeberangi sungai ketika ia mendengar suara angin kencang.
Ketika ia mendongak, ia melihat seorang wanita muda yang sangat cantik berdiri diam sambil memegang untaian manik-manik rosario. Pemandangan itu kemudian menghilang. Hanya Bernadette saja yang melihat penampakan itu, sedangkan teman-temannya tidak melihat apa-apa.
Wanita muda tersebut menampakkan diri kepada Bernadette delapan belas kali, sampai pada bulan Juli. Setelah Bernadette menceritakan apa yang telah dia lihat, dia diikuti oleh orang banyak yang tertarik.
Ketika ditanya, ia menggambarkan bahwa wanita muda tersebut berpakaian putih dengan sabuk pinggang biru, mawar kuning di kakinya, dan memegang rosario di tangannya.
Dalam penampakannya, wanita itu mengatakan kepada Bernadette untuk bertobat dan meminum air serta mandi di mata air yang muncul secara ajaib di daerah kering itu, dan meminta agar sebuah kapel dibangun di sana.
Pada tanggal 25 Maret, wanita tersebut mengungkapkan dirinya kepada Bernadette sebagai “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda”. Adapun penampakan terakhir terjadi pada 16 Juli.
Sebuah pemeriksaan gereja dimulai atas peristiwa tersebut dan menyimpulkan empat tahun kemudian bahwa penampakan tersebut otentik.
Lourdes saat ini telah menjadi tempat ziarah yang sangat terkenal dan selalu ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia. Hampir 6000 laporan mukjizat dan penyembuhan terjadi berkat permohonan kepada Maria di Lourdes, namun secara resmi Gereja hanya mengakui hanya enam puluh delapan kasus.
B.
KISAH PENAMPAKAN YANG DICERITERAKAN SENDIRI OLEH BERNADETTE:
"Suatu hari saya dan dua gadis lain pergi ke pinggir sungai Gave. Tiba-tiba saya mendengar bunyi gemerisik. Saya mengarahkan pandangan ke arah padang yang terletak di sisi sungai, tetapi pepohonan di sana tampak tenang dan suara itu jelas bukan datang dari sana. Kemudian saya mendongak dan memandang ke arah gua di mana saya melihat seorang perempuan mengenakan gaun putih yang indah dengan ikat pinggang berwarna terang. Di atas masing-masing kakinya ada bunga mawar berwarna kuning pucat, sama seperti warna biji-biji rosarionya.
Saya menggosok-gosok mata saya, kemudian saya tergerak untuk memasukkan tangan saya ke dalam lipatan baju saya di mana tersimpan rosario. Saya ingin membuat tanda salib, tetapi tidak bisa, tangan saya lemas dan jatuh kembali. Kemudian perempuan itu membuat tanda salib. Setelah usaha yang kedua saya berhasil membuat tanda salib meskipun tangan saya gemetar. Kemudian saya mulai berdoa rosario sementara perempuan itu menggerakkan manik-manik di antara jari-jarinya tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali. Setelah saya selesai mendaraskan Salam Maria, perempuan itu tiba-tiba menghilang.
Saya bertanya kepada kedua gadis yang lain apakah mereka melihat sesuatu, tetapi mereka mengatakan tidak. Tentu saja mereka ingin tahu apa yang telah terjadi. Saya katakan kepada mereka bahwa saya melihat seorang perempuan mengenakan gaun putih yang indah, namun saya tidak tahu siapa dia. Saya minta mereka untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun. Mereka mengatakan saya bodoh karena memikirkan yang bukan-bukan. Saya katakan bahwa mereka salah, dan saya merasa terdorong untuk kembali lagi ke sana hari Minggu berikutnya.
Ketiga kalinya saya ke sana, perempuan itu berbicara kepada saya dan meminta saya untuk datang selama lima belas hari. Saya katakan saya bersedia datang. Kemudian perempuan itu meminta saya untuk menyampaikan kepada imam agar sebuah kapel dibangun di sana. Ia juga meminta saya minum dari sumber air. Saya pergi ke sungai Gave, satu-satunya sungai yang ada di sana. Tetapi perempuan itu menyadarkan saya bahwa bukan Gave yang ia maksudkan. Ia menunjuk ke sebuah aliran air kecil di dekat situ. Ketika saya sampai di sana, saya hanya dapat menemukan beberapa tetes air dan banyak lumpur. Saya menadahkan tangan untuk mendapatkan lebih banyak air, tetapi tidak berhasil. Karenanya saya menggali tanah. Saya berhasil memperoleh beberapa tetes air, baru setelah usaha yang keempat saya mendapatkan cukup air untuk diminum. Kemudian perempuan itu menghilang dan pulanglah saya ke rumah.
Saya datang setiap hari selama lima belas hari, dan setiap kali, kecuali hari Senin dan Jum'at, perempuan itu menampakkan diri. Ia meminta saya mencari aliran sungai dan membersihkan diri di sana serta pergi kepada imam meminta agar sebuah kapel didirikan di sana. Saya juga harus berdoa, katanya, untuk pertobatan orang-orang berdosa. Berkali-kali saya bertanya kepadanya apa arti semua itu, tetapi perempuan itu hanya tersenyum. Akhirnya, dengan tangannya terentang dan matanya memandang ke langit, ia berkata bahwa dialah "Immaculate Conception" (Yang Dikandung Tanpa Dosa).
C.
Doa Novena Kepada Bunda Maria Dari Lourdes
Bunda Maria yang terberkati, Bunda dari Sang Penyelamat Yesus Kristus, kami datang kepadamu dengan mengandalkan belas kasihmu. Kami juga menyesali dosa-dosa kami di masa lalu. Karena kami tahu bahwa Engkau mendapat kuasa dari Allah, maka kami mohon pertolongan dalam ujud kami ini ............. Kami yakin engkau akan meneruskannya kepada Putramu, untuk mendapatkan rahmat itu serta apa yang kami perlukan, juga rahmat untuk hidup meneladani engkau. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Pertama
Ibu Yesus berkata kepada-Nya:"Mereka kehabisan anggur" Yoh2:3
Bunda yang terberkati, karena engkau memintanya, Tuhan kami melakukan mukjizat-Nya yang pertama pada pesta perkawinan di Kana. Tolonglah ajukan ujudku kepada-Nya seperti engkau pernah melakukannya untuk pasangan pengantin Kana.Dengan rasa terima kasih, kami berjanji hidup baik, menghindari dosa dan lebih tekun berdoa untuk memuliakan Putramu dan menghormati engkau. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Kedua
"......dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri ......" Luk2:35
Bunda yang sangat berbelas kasih, dalam kehidupanmu engkau tidak asing dengan kedukaan. Dengan mengingat-ingat dukamu itu, kami memohon sudilah engkau menjadi perantara kami.Dengan rasa terima kasih, kami berusaha untuk meneladani engkau, meneladani kesabaran dan kepercayaanmu pada Allah, ketika mengalami pencobaan dan kesulitan hidup. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Ketiga
"Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami?" Luk2:48
Bunda yang mengasihi kami, engkau tidak mengerti jalan Allah; kami pun demikian. Datanglah kepada kami dan tolonglah kami sekarang, dan tolonglah semua orang yang percaya akan kebaikan Allah. Dengan rasa terima kasih, kami berusaha, dengan bantuanmu, untuk menyimpan di hati kami kata-kata dan teladan Yesus, serta menuruti perintah-Nya. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Keempat
"Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar" Luk1:53
Bunda yang paling bijaksana, Tuhan telah membalas imanmu dengan rahmat melimpah. Dalam kebaikanmu, anggaplah ujud kami ini sebagai ujudmu sendiri. Kami percayakan persoalan kami ini ke dalam tanganmu, agar kami bersukacita karena pertolonganmu itu. Dengan rasa terima kasih, kami berusaha untuk berlaku rendah hati dan murni, meneladani kebajikan-kebajikanmu. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Kelima
"...... jadilah padaku menurut perkataan-Mu" Luk1:38
Bunda yang paling taat, walaupun engkau merasa takut dan ragu-ragu, engkau membuktikan ketaatanmu kepada kehendak Allah. Semoga itu pun terjadi pada kami, supaya dengan bantuanmu, kami juga pasrah kepada Allah dalam ketakutan dan keresahan kami. Dengan rasa terima kasih yang tulus, kami akan berusaha untuk menjadi hamba yang setia dan taat kepada Putramu, Penyelamat kami. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Keenam
"Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia" Luk1:48
Perawan dan Bunda yang terberkati, Tuhan telah membalas kesetiaanmu dengan membuat keturunan manusia menyadari kuasamu. Tolong datanglah kepada kami dan perlihatkan lagi kuasamu secara baru. Bunda yang berbelas kasih, kami akan selalu melambungkan pujian akan kebaikanmu dan berterima kasih kepadamu, dengan menaati hal-hal dari Allah. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Ketujuh
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya:"Inilah ibumu" Yoh19:27
Perawan yang paling berduka, engkau berdiri dekat Putramu ketika Dia menderita di kayu salib. Demi rasa pedihmu saat itu, kasihanilah kami ini, dalam kesusahan kami. Tolong mohon kepada Putramu, Sang Juru Selamat, untuk mengabulkan permohonan kami ini. Bunda pengasih, dengan bantuanmu yang tak akan pernah gagal, kami akan selalu dekat dengan engkau dan salib Kristus. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Kedelapan
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya. Mat2:11
Maria, Bunda yang mulia, di tempat yang mulia dekat takhta Allah, ingatlah akan kesulitan dan permohonan kami. Tolonglah, sebutkan itu kepada Putramu yang Ilahi; demi engkau Dia akan mengabulkan permohonan kami. Bunda yang penuh perhatian, kami akan menunjukan rasa terima kasih kami dengan mengikuti teladanmu dan meniru kebajikanmu. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.
Hari Kesembilan
Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Why12:1
Bunda yang sangat mulia, engkau selalu bersama Putamu. Berbicaralah dengan-Nya tentang kebutuhan-kebutuhan kami yang mendesak. Putramu pasti tidak akan menolak permohonanmu. Berkat bantuanmu yang terus-menerus, semoga kami selalu dekat padamu dan Putramu. Amin
Bunda dari Lourdes, doakanlah kami.
Santa Bernadette, doakanlah kami.

Peringatan Maria dari Guadalupe.



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
12 Desember,
Peringatan Maria dari Guadalupe.
Our Lady of Guadalupe - Bunda dari Guadalupe."
“PENJELASAN SOSIO HISTORIS-TEOLOGOS SEPUTAR GAMBAR MARIA GUADALUPE.”
(Buku "MOM - Mary Our Mother" - RJK)
'The Lord is good and upright.
He shows the path to those who stray,
He guides the humble in the right path,
He teaches his way to the poor.'
Our Lady of Guadalupe, pray for us.
Inilah yang diakui Gereja sebagai penampakan Bunda Maria, dan kita peringati setiap tgl 12 Desember. Inilah salah satu penampakan tertua Perawan Maria terjadi di Meksiko pada tahun 1531.
Dalam penampakannya kepada Juan Diego pada tanggal 8, 9 dan 12 Desember 1531, Maria memberi “bukti” gambar dirinya yang timbul pada tilma/ kain Juan Diego ketika Juan Diego membukanya di hadapan Uskup dan beberapa saksi lain.
Sejak saat itu hingga kini, telah sangat banyak kali tilma bergambar itu diteliti oleh para ahli dengan menggunakan berbagai teknik, namun tak ada kesepakatan yang bisa membuktikan secara ilmiah (untuk membuktikan ketidak asliannya).
Tidak dapat dibuktikan waktu/ tahun/ masa pembuatannya, tekniknya, cat yang digunakan, bahkan tidak ada jejak kuas (jika gambar tersebut adalah palsu atau buatan manusia).
Dan sejumlah fakta lain, antara lain kenyataan bahwa kain tersebut tidak rusak atau pudar selama waktu berabad-abad ini dan bahkan ketika terjadi ledakan bom yang menghancurkan bangunan dan benda- benda berat di sekitarnya, kain ini tetap utuh tak kurang suatu apapun, dan banyaknya mukjizat yang terjadi yang diakui sebagai pertolongan yang didapat dari kepercayaan kepadanya.
Secara singkat, beberapa keterangan menarik tentang gambar Maria Guadalupe :
1. Ada yang mempercayai, kata-kata Maria : “Panggil / sebut aku dan gambarku itu sebagai “Santa Maria de Guadalupe” itu kemungkinan salah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol, karena Juan Diego dan pamannya ( yang mendapat pesan itu) berbahasa asli Indian Aztec.
Bisa jadi kata yang dimaksud adalah "coatlaxopeuh" yang diucap "quatlasupe" yang berarti “dia yang menginjak/menghancurkan ular”. (lihat Kej 3:15)
2. Gambar figur Maria berdiri di depan cahaya matahari:
Ini melambangkan bahwa Maria lebih besar daripada dewa matahari yang disembah orang-orang Indian saat itu.
Lihat Wahyu 12 : 1, Maka tampaklah suatu tanda besar di langit:
Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya....
3. Kakinya berdiri di atas bulan sabit berkulit ular :
Ini melambangkan bahwa Maria lebih besar daripada dewa ular yang disembah orang-orang Aztec, sebagai lambang kemenangan atas kejahatan/setan.
Kepercayaan kepada Maria ini kemudian mengurangi dan mengakhiri pengorbanan manusia yang dilakukan bangsa Aztec sebagai persembahan kepada setan/dewa ular.
4. Seorang Cherub menopang Maria :
Malaikat dipercayai sebagai makhluk surgawi.
Ini menandakan bahwa Maria datang dari Surga.
5. Wajah Maria :
Adalah wajah etnik, sebuah wajah baru perpaduan antara suku asli Indian dan bangsa penakluk mereka, Spanyol.
6. Kepala dan mata Maria tertunduk :
Dewa dewi suku Aztec selalu digambarkan menatap lurus dengan mata besar dan kepala tegak.
Kepala dan mata Maria yang tunduk ke bawah memberitahu bahwa ia bukan dewa atau dewi, bahwa ada kuasa yang lebih besar daripada ia.
7. Rambut Maria :
Kebiasaan suku Aztec, wanita yang rambutnya tidak diikat menandakan sedang mengandung.
Sedangkan rambut belah tengah adalah untuk para gadis.
Rambut Maria yang tidak diikat dan berbelah tengah menandakan bahwa ia adalah "ibu yang perawan".
8. Salib pada kalungnya :
Maria mengakui Tuhannya adalah Kristus, Tuhan orang-orang Spanyol.
9. Posisi tangan :
Tangannya berada dalam gerakan menyembah, menandakan bahwa ia menyembah suatu kuasa yang lebih besar dari dirinya sendiri.
10. Warna biru mantelnya :
Ini adalah warna yang dikenakan para kaum bangsawan atau petinggi, menunjukkan ia adalah seorang ratu.
11. Ikat pinggang hitam :
Pada budaya Aztec, ini dipakai oleh wanita yang sedang mengandung.
12. Bintang-bintang pada mantelnya :
Ini menandakan bahwa ia lebih besar daripada bintang-bintang yang disembah bangsa Aztec. Sebuah gambar virgo (= perawan) ada di tengah badannya dan sebuah bintang utara pada kepalanya.
Gambar bintang-bintang pada mantel Maria adalah sama seperti gugusan bintang yang tampak di langit pada hari itu, 12 Desember 1531 jam 10 malam waktu setempat.
Kebudayaan Aztec mempercayai bahwa suatu masa berakhir dan sebuah era baru dimulai selalu ditandai dengan kemunculan komet atau gugusan bintang.
Penampakan Maria di Mexico ini mengakhiri kepercayaan suku Indian akan dewa-dewi, mengakhiri ritual pengorbanan manusia, dan dalam waktu beberapa tahun saja mempertobatkan 9 juta (dari total 10 juta) orang suku Aztec kepada iman Kristiani.
Paus St. Yohanes Paulus II menetapkan Maria Guadalupe sebagai pelindung Mexico dan Amerika, dan Kuil Maria Guadalupe termasuk salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi peziarah setiap tahunnya.
====
Salah satu penampakan tertua Perawan Maria terjadi di Meksiko pada tahun 1531.
Juan Diego, seorang pria pribumi tua berusia 57 tahun yang telah bertobat dan beralih ke iman Katolik, sedang dalam perjalanan menuju Misa hariannya ketika melewati bukit Tepeyac, di barat laut Meksiko.
Tertarik oleh suara burung bernyanyi, ia memanjat bukit dan melihat seorang wanita muda dalam gaun panjang yang bersinar.
Batu-batu di sekelilingnya berbinar, dan Juan Diego melihat pelangi memenuhi langit.
Wanita muda tersebut, yang menyatakan kepadanya bahwa dia adalah Perawan Maria, memerintahkan Juan Diego untuk meminta Uskup untuk membangun sebuah kapel di tempat itu.
Juan Diego melaporkan hal itu dua kali kepada Uskup tapi tidak dipercayai.
Pada tanggal 12 Desember, Maria memberinya tanda yang dengannya kemudian dapat meyakinkan Uskup dan Imam lainnya: jubah Juan Diego secara ajaib tercetak dengan gambaran Maria.
Tanpa ragu lagi, mereka memulai pembangunan tempat kudus, sebuah gereja yang segera menarik para peziarah hingga saat ini.
Sampai pada hari ini, gambar ajaib yang muncul di jubah Juan Diego masih sejelas seperti pada saat pertama kali muncul, dan kain biasa yang sudah berumur beberapa abad itu masih dalam kondisi baik.
Analisa ilmiah yang dilakukan tanpa hasil yang jelas hanya semakin memperdalam misterinya.
Pada 14 November 1921, seorang pekerja pabrik menaruh bom dan meledakkan altar Gereja dimana disimpan jubah tersebut.
Ledakan menghancurkan lantai altar dari marmer dan kaca-kaca gereja serta rumah-rumah sekitar, melengkungkan salib tembaga di altar, tetapi kain jubah Juan Diego bergambar Maria tersebut tidak mengalami kerusakan.
Sejak 1993, kain tersebut kemudian dilindungi, disimpan dalam kotak kaca anti peluru.
Dengan lebih dari lima belas juta pengunjung tiap tahun, Gereja Nuestra Senora de Guadalupe di bukit Tepeyac menjadi salah satu tempat ziarah terkenal di dunia dan La Virgen de Guadalupe diakui menjadi pelindung Meksiko dan Amerika Latin.
====
Kutipan Bunda Maria dari Guadalupe, Pelindung Evangelisasi Baru :
“Aku sungguh adalah Ibundamu yang berbelas kasih : Ibumu dan ibu dari semua orang yang berdiam di tanah ini dan Ibunda bagi segala bangsa yang mencintai aku dan memanggil serta memohon kepadaku. Akulah Ibu dari semua orang yang mencari aku dan menempatkan kepercayaan mereka didalam Aku”
“Ketahuilah, dan taruhlah di dalam hatimu, putra kecilku, yang paling kusayangi, bahwa Akulah Santa Perawan Maria Selamanya yang sempurna, dan Aku memiliki hak untuk Menjadi Ibu Allah yang benar, Pemberi Kehidupan, Pencipta orang-orang, Pemilik apa yang dekat dan jauh, Tuhan Langit dan Bumi”
“Karena sebenarnya aku merasa terhormat untuk menjadi Ibunda yang berbelas kasih kepada kalian semua, kamu dan semua orang yang tinggal bersama di tanah ini, dan semua orang dari leluhur yang berbeda, mereka yang mencintai aku, mereka yang menangis kepadaku, mereka yang mencari aku, mereka yang menghormati aku dengan menempatkan kepercayaan mereka dalam perantaraanku.
Karena aku akan selalu mendengar tangisan mereka, dukacita mereka, untuk membersihkan, menyembuhkan semua penderitaan mereka, permasalahan mereka, penderitaan mereka”
“Dengar, taruhlah didalam hatimu, yang paling kecil dari putra-putraku :
Jangan biarkan apapun menakutkan atau membuatmu sedih
Jangan biarkan hatimu diganggu
Jangan takut akan penyakit atau penderitaan
Bukankah aku ada disini, yang adalah Ibumu?
Bukankah kamu ada dalam perlindunganku?
Bukankah aku adalah kesehatanmu?
Tidakkah kamu gembira ada di dalam lipatan jubahku, digenggam aman didalam tanganku?
Apakah kamu memerlukan sesuatu yang lain lagi?
Jangan biarkan apapun mencemaskanmu atau mengganggumu”
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
A.
Doa Mohon Pertolongan Bunda Maria dari Guadalupe (Buku "DOA – Dikuatkan Oleh Allah" - Romo Jost Kokoh)
Bunda tercinta, kami mengasihimu.
Kami berterimakasih atas janjimu untuk menolong kami bila kami berada dalam kesesakan.
Kami mempercayakan diri ke dalam kasihmu yang kuasa mengeringkan airmata dan menghibur hati kami.
Ajarilah kami menemukan damai di dalam diri Yesus Putramu dan berkatilah kami di sepanjang hari-hari hidup kami.
Jadikanlah hati kami menjadi seindah bait yang telah dibangun di atas gunung Tepeyac bagimu.
Suatu bait penuh penyerahan, pengharapan dan cinta kasih kepada Yesus yang terus berkembang setiap hari.
Bunda tercinta,
Engkau memilih tinggal bersama kami dengan menghadiahkan gambar dirimu sendiri yang amat ajaib dan suci pada jubah Juan Diego.
Biarlah kami menikmati kehadiranmu yang penuh kasih itu apabila kami memandang wajahmu.
Berilah kami keberanian seperti Juan Diego untuk menyampaikan pesan pengharapanmu pada semua orang.
Engkaulah bunda kami dan sumber inspirasi kami.
Sudi dengarkanlah kami dan jawablah doa-doa kami.
Amin.
Salam Maria... (3 x)
B.
Remembering the apparitions of Our Lady of Guadalupe.
First Apparition: Saturday, December 9, 1531
Juan Diego was on his way to the church in Mexico – Tlatilolco, near the hill called Tepeyac, when he heard someone singing like the song of many precious birds
Then, he heard someone calling him, *“Juanito, Dearest Juan Diego”.
She told him: “Know, know for sure, my dearest and youngest son, that I am the perfect ever virgin holy Mary, Mother of the One Great God of truth who gives us life…I want very much that they build my sacred little house here…”
Second Apparition: end of day, Saturday, December 9, 1531
Juan Diego begs our Lady to send someone more esteemed than him to deliver the message.
Our Lady told him: “Listen, my youngest and dearest son, know for sure that I have no lack of servants or messengers to whom I can give the task of carrying my breath, my word…; but it is very necessary that you, personally, go and plead, that my wish, my will, become a reality…”
C.
Novena in Honor of Our Lady of Guadalupe (Feast: December 12)
Memorare of Our Lady of Guadalupe
(to be prayed each day...)
Remember, O most gracious Virgin of Guadalupe, that in your heavenly apparitions on the mount of Tepeyac, you promised to show your compassion and pity towards all who, loving and trusting you, seek your help and call upon you in their necessities and afflictions.
You promised to hear our supplications, to dry our tears, and to give us consolation and relief.
Never has it been known that anyone who fled to your protection, implored your help, or sought your intercession, was left unaided. Inspired by this confidence, we fly to you, O Mary, ever-Virgin Mother of the true God!
Though grieving under the weight of our sins, we come to prostrate ourselves before you. We fully trust that, standing beneath your shadow and protection, nothing will trouble or afflict us, nor do we need to fear illness or misfortune, or any other sorrow.
O Virgin of Guadalupe, you want to remain with us through your admirable Image, you who are our Mother, our health, and our life. Placing ourselves beneath your maternal gaze, and having recourse to you in all our necessities, we need do nothing more.
O Holy Mother of God, despise not our petitions, but in your mercy hear and answer us. Amen
1.
First Day - December 4
Dearest Lady of Guadalupe, fruitful Mother of holiness, teach me your ways of gentleness and strength. Hear my humble prayer offered with heartfelt confidence to beg this favor...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
2.
Second Day - December 5
O Mary conceived without sin, I come to your throne of grace to share the fervent devotion of your faithful children who call upon you under the glorious title of Guadalupe. Obtain for me a lively faith to do your Son’s holy will always: May His will be done on earth as it is in heaven...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
3.
Third Day - December 6
O Mary, most sorrowful, whose Immaculate Heart, was pierced by seven swords of grief, help me to walk valiantly amid the sharp thorns strewn across my pathway. Obtain for me the strength to be a true imitator of you. This I ask you, my dear Mother...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
4.
Fourth Day - December 7
Dearest Mother of Guadalupe, I beg you for a fortified will to imitate your divine Son’s charity, to always seek the good of others in need. Grant me this, I humbly ask of you...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
5.
Fifth Day - December 8
O most holy Mother, I beg you to obtain for me the pardon of all my sins, abundant graces to serve your Son more faithfully from now on, and lastly, the grace to praise Him with you forever in heaven...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
6.
Sixth Day - December 9
Mary, Mother of vocations, we beg you to multiply priestly vocations and fill the earth with religious houses which will be light and warmth for the world, and safety in stormy nights. Beg your Son to send us many holy priests and religious. This we ask of you, O Mother...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
7.
Seventh Day - December 10
O Lady of Guadalupe, we beg you that parents live a holy life and educate their children in accordance with the true Catholic faith; that children obey and follow the directions of their parents; and that all members of the family pray and worship together. This we ask of you, O Mother...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
8.
Eighth Day - December 11
O Lady of Guadalupe, with my heart full of the most sincere veneration, I prostrate myself before you, O Mother, to ask you to obtain for me the grace to fulfill the duties of my state in life with faithfulness and constancy...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe
9.
Ninth Day - December 12 - Feast of Our Lady of Guadalupe
O God, you have been pleased to bestow upon us unceasing favors by having placed us under the special protection of the Most Blessed Virgin Mary. Grant us, your humble servants, who rejoice in honoring her today upon earth, the happiness of seeing her face to face in heaven...
(Here mention your requests)
Our Father, Hail Mary, Glory Be and Memorare of Our Lady of Guadalupe.
===
Dalam penampakannya kepada Juan Diego di Tepeyak Mexico pada Desember 1531, Maria menyatakan hal hal ini:
“Aku sungguh adalah Ibundamu yang berbelas kasih.
Ibumu dan ibu dari semua orang yang berdiam di tanah ini dan Ibu bagi segala bangsa yang mencintai aku dan memanggil serta memohon kepadaku.
Akulah Ibu dari semua orang yang mencari aku dan menempatkan kepercayaan mereka didalam Aku.”
“Ketahuilah, dan taruhlah didalam hatimu, putra kecilku, yang paling kusayangi, bahwa Akulah Santa Perawan Maria Selamanya yang sempurna, dan Aku memiliki hak untuk menjadi Ibu Allah yang benar, Pemberi Kehidupan, Pencipta orang-orang, Pemilik apa yang dekat dan jauh, Tuhan Langit dan Bumi.”
“Karena sebenarnya aku merasa terhormat untuk menjadi Ibunda yang berbelas kasih kepada kalian semua, kamu dan semua orang yang tinggal bersama di tanah ini, dan semua orang dari leluhur yang berbeda, mereka yang mencintai aku, mereka yang menangis kepadaku, mereka yang mencari aku, mereka yang menghormati aku dengan menempatkan kepercayaan mereka dalam perantaraanku.
Karena aku akan selalu mendengar tangisan mereka, dukacita mereka, untuk membersihkan, menyembuhkan semua penderitaan mereka, permasalahan mereka, penderitaan mereka.”
“Dengar, taruhlah didalam hatimu, yang paling kecil dari putra-putraku:
Jangan biarkan apapun menakutkan atau membuatmu sedih
Jangan biarkan hatimu diganggu
Jangan takut akan penyakit atau penderitaan
Bukankah aku ada disini, Aku yang adalah Ibumu?
Bukankah kau ada dalam perlindunganku?
Bukankah aku adalah kesehatanmu?
Tidakkah kamu gembira ada di dalam lipatan mantolku, digenggam aman didalam tanganku?
Apakah kamu memerlukan sesuatu yang lain lagi?
Jangan biarkan apapun mencemaskanmu atau mengganggumu.”
-------------



NB:
HOMILI PAUS FRANSISKUS
DALAM MISA PESTA SANTA MARIA DARI GUADALUPE (MISA UNTUK AMERIKA LATIN) 12 Desember 2017 :
"BUNDA MARIA ADALAH POLA GEREJA"
Bacaan Ekaristi :
Za 2:14-17; Ydt 13:18bcde,19; Luk 1:26-38
Injil (Luk 1:26-38) yang baru saja dikumandangkan adalah kata pengantar dua kidung agung : kidung Maria yang dikenal sebagai "Magnificat" dan kidung Zakaria, "Benedictus", dan saya suka menyebutnya "kidung Elisabet atau kidung kesuburan".
Ribuan umat kristiani di seluruh dunia mengawali hari menyanyikan : "Terpujilah Tuhan", dan mereka mengakhiri hari "mengumandangkan keagungan-Nya karena Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya".
Jadi, hari demi hari, orang-orang percaya dari berbagai bangsa berusaha mengingat, mengingat bahwa dari generasi ke generasi kerahiman Allah meluas ke semua bangsa, seperti yang dijanjikan-Nya kepada para nenek moyang kita.
Dan dalam konteks kenangan penuh syukur ini, kidung Elisabet berkembang dalam bentuk sebuah pertanyaan : "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?". Kita mendapati Elisabet, perempuan yang ditandai dengan tanda kemandulan, berkidung di bawah tanda kesuburan dan keheranan.
Saya ingin menggarisbawahi dua aspek ini : Elisabet, perempuan yang berada di bawah tanda kemandulan dan di bawah tanda kesuburan.
1. Elisabet, sang perempuan mandul, dengan semua itu menyiratkan mentalitas keagamaan pada zamannya, yang menganggap kemandulan sebagai hukuman ilahi, buah dari dosanya atau dosa suaminya. Tanda perasaan malu ditanggungkan dalam tubuhnya sendiri atau karena dianggap patut dihukum atas sebuah dosa yang tidak ia lakukan atau karena merasa dirinya tidak berarti apa-apa karena tidak sesuai dengan ukuran apa yang diharapkan dari dirinya.
Marilah kita membayangkan, sejenak, pandangan kerabatnya, tetangganya, terhadap dirinya ... kemandulan, yang membuatnya terpuruk dan akhirnya melumpuhkan seluruh hidupnya. Kemandulan yang bisa memiliki banyak nama dan bentuk setiap kali sehingga seseorang merasakan di dalam tubuhnya perasaan malu melihat dirinya mengalami stigmatisasi atau merasakan dirinya tak berarti apa-apa.
Kita bisa merasakan hal tersebut dalam diri Juan Diego, seorang Indian yang sederhana, ketika ia berkata kepada Maria, "Sebenarnya aku tidak berarti apa-apa, aku Mecapal, aku Cacaxtle, aku adalah ekor, aku merasa bersayap, tunduk dan hingga tuntutan ke luar negeri, bukan darimana asalku atau bukan apakah aku pergi ke sana ke tempat engkau berkenan mengutusku".[1]
Jadi, perasaan ini juga bisa ada - seperti diperlihatkan oleh para uskup Amerika Latin kepada kita - dalam "komunitas-komunitas Indian dan Afro-Amerika kita yang, pada banyak kesempatan, tidak diperlakukan dengan martabat dan persamaan kondisi; atau dalam banyak perempuan, yang dikucilkan oleh karena jenis kelamin, ras atau keadaan sosial ekonomi mereka; kaum muda yang menerima pendidikan bermutu rendah dan tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi mereka atau memasuki pasar kerja untuk mengembangkan diri mereka dan membentuk sebuah keluarga; banyak orang miskin, pengangguran, migran, pengungsi, penggarap lahan, yang mencoba bertahan dalam ekonomi informal; anak laki-laki dan anak perempuan yang menjadi sasaran pelacuran anak yang seringkali terkait dengan pariwisata seksual".[2]
2. Dan, bersama dengan Elisabet, sang peremuan mandul, kita merenungkan Elisabet sang perempuan yang subur dan keheranan.
Dialah orang pertama yang mengenali dan memberkati Maria. Dia itulah yang sudah lanjut usia mengalami dalam hidupnya, dalam tubuhnya, penggenapan janji yang dibuat oleh Allah. Dia yang tidak memiliki anak mengandung dalam rahimnya sang perintis keselamatan.
Kita memahami dalam dirinya impian Allah itu tidak atau tidak akan menjadi mandul atau menstigmatisasi anak-anak-Nya atau memenuhi mereka dengan rasa malu, tetapi berkembang dalam diri mereka dan dari mereka sebuah kidung berkat.
Kita melihatnya dengan cara yang sama dalam diri Juan Diego. Sebenarnya dialah, dan tidak ada orang lain, yang memajang dalam tilma (semacam jubah khas Indian yang terbuat dari serat kaktus dan dipakai di bagian depan, seringkali digunakan untuk membawa benda-benda)-nya gambar Sang Perawan : Sang Perawan berkulit hitam dan berwajah Mestizo, yang ditopang oleh seorang malaikat bersayap burung quetzal, pelikan dan macaw; Sang Bunda dapat mengambil ciri-ciri anak-anaknya untuk membuat mereka merasakan bagian dari berkatnya.
Tampaknya berulang kali Allah bertekad untuk menunjukkan kepada kita batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru (bdk. Mzm 118:22).
Saudara-saudara terkasih, di tengah-tengah dialektika kemandulan-kesuburan ini marilah kita lihat kekayaan dan keragaman budaya bangsa-bangsa Amerika Latin dan Karibia, inilah tanda kekayaan yang besar di mana kita diundang tidak hanya melestarikannya tetapi, terutama di zaman kita, menjaganya dengan keberanian dari semua upaya penyeragaman, yang diakhiri dengan pemaksaan - di bawah slogan-slogan yang menarik - hanya satu cara pikir, cara keberadaan, cara merasakan, cara hidup, yang akhirnya membuat tidak sah atau mandul semua yang telah kita warisi dari leluhur kita; yang akhirnya membuat kita merasakan, terutama kaum muda kita, sedikit hal yang menjadi milik budaya ini atau itu.
Singkatnya, kesuburan kita memanggil kita untuk menjaga bangsa-bangsa kita dari sebuah penjajahan ideologis yang menghapuskan <bagian> yang terkaya, entah mereka orang-orang Indian, Afro-Amerika, Mestizo, para petani atau orang-orang pinggiran kota.
Bunda Allah adalah pola Gereja (Lumen Gentium, 63) dan dari dirinya kita ingin belajar menjadi Gereja dengan wajah Mestizo, dengan wajah petani Indian, Afro-Amerika, atau seorang anak laki-laki atau seorang anak perempuan, orang tua atau orang muda, sehingga tak seorang pun yang merasa mandul atau tidak berbuah, sehingga tak seorang pun yang merasa malu atau tak berguna.
Tetapi, sebaliknya, sehingga masing-masing orang, seperti Elisabet dan Juan Diego, merasakan dirinya memiliki sebuah janji, sebuah harapan, dan mampu mengatakan dari keberadaannya yang terdalam : "ya Abba, ya Bapa!" (Gal 4:6) dari misteri hubungan darah itu yang, tanpa menghapuskan sifat masing-masing orang, kesemestaan kita membentuk kita sebagai sebuah umat.
Saudara-saudara, dalam atmosfir kenangan penuh syukur akan keberadaan kita sebagai orang-orang Amerika Latin ini, marilah kita mengidungkan di dalam hati kita, kidung Elisabet, kidung kesuburan, dan marilah kita mengatakannya bersama-sama kepada bangsa-bangsa kita agar tidak bosan mengulanginya : Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
[1] Nican Mopohua, 55.
[2] bdk. Aparecida, 65.
===
Pope Francis' Homily at Mass for Latin America (December 12, 2017)
■ “Blessed is she who has believed”: with these words, Elizabeth anoints the presence of Mary in her house. Words born of her womb, that come from within; words that manage to echo all that she experienced with the visit of her cousin.
■ When God visits us, He leaves us restless, with the healthy restlessness of those who feel they have been invited to proclaim what He lives, and is in the midst of His people.
■ This is what we see in Mary, the first disciple and missionary, the new Ark of the Covenant who, far from remaining in the reserved space of our temples, goes out to visit and accompany with her presence the gestation of John.
■ The society we are building for our children is increasingly marked by the signs of division and fragmentation, leaving many people out of play, especially those who find it difficult to obtain the minimum necessary to lead a dignified life.
■ A society that likes to vaunt its scientific and technological advances, but that has become blind and insensitive to the thousands of faces that are there along the way, excluded by the blind pride of the few.
■ A society that ends up establishing a culture of disillusionment, disenchantment and frustration in many of our brothers, and even anguish in many others due as they experience the difficulties they need to face so as not to lose their way.
■ It would seem that, without realising, we have become used to living in a society of distrust, with all that this presupposes for our present and especially for our future; distrust that gradually engenders states of apathy and dispersal.
■ Celebrating Mary is, first and foremost, making memory of the mother, remembering that we are not and never will be an orphaned people. We have a Mother! And where there is the mother, there is always the presence and flavour of home.
■ To look at the Guadalupana is to recall that the visit of the Lord always passes through those who manage to “make flesh” His Word, who seek to embody the life of God within themselves, becoming living signs of His mercy.
■ To celebrate the memory of Mary is to assert against all odds that “in the heart and life of our peoples there is a strong sense of hope, notwithstanding conditions of life that seem to overshadow all hope”.