Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Sensus Catholicus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sensus Catholicus. Tampilkan semua postingan

Sketsa Historiografi "First Pope" - "Simon Petrus".

HIK – HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
Sketsa Historiografi "First Pope" - "Simon Petrus".

Identitas Diri
Simon adalah nama Yunani, yang berasal dari kata Ibrani Syimon, singkatan dari nama Simeon (Kis 15:14; 2 Ptr 1:1; Luk 2:25).
Sedangkan Kefas adalah nama Ibrani-Aram untuk kata Yunani Petros dari kata Latin Petrus, yang artinya “batu karang”. Penginjil Yohanes kerap kali menggabungkan nama Simon Petrus, sehingga Simon menjadi nama pertama dan Petrus adalah gelar atau sebutan.
Dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya nama Simon digabungkan dengan nama bapak dan saudaranya, yakni Simon bin Yunus (Mat 16:17) atau Simon anak Yohanes (Yoh 1:42) dan saudaranya adalah Andreas.
Simon Petrus berasal dari Betsaida (Yoh 1:44). Ia menikah di Kapernaum dan hidup di sana bersama istri dan mertuanya (Mrk 1:30). Tentang panggilannya menjadi murid Yesus, para penginjil menceritakan dengan berbagai versi. Menurut Penginjil Markus, Matius dan Lukas, Simon dipanggil sewaktu bekerja di danau Genesaret (Mrk 1:16- 20; Mat 4:18-22; Luk 5:1-il). Sedangkan Penginjil Yohanes melaporkan panggilan Simon Petrus berkaitan dengan kegiatan Yohanes Pembaptis dan Andreas yang mempertemukannya dengan Yesus (Yoh 1:35-42).
Peran Simon Petrus yang sangat menentukan terjadi di Kaisarea Filipi saat Yesus bertanya kepada para murid: “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Simon mewakili para murid menjawab dengan keyakinannya: “Engkau adalah Mesias!” (Mrk 8:27-33 // Mat 16:13-18 // Luk 9:18-21). Menurut Penginjil Matius, kepada Simon Petrus itu Yesus berkata: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga ... Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 6:17-19).
Sejak awal Simon Petrus sudah menjadi juru bicara bagi para murid Yesus (bdk. Luk 5:1-11). Di antara kedua belas murid, yang menjadi pengikut setia Yesus dan inti pembentukan umat Israel baru, Simon Petrus berada di tempat pertama (Mat 10:1-4; Mrk 3:13-19; Luk 6:12-16). Posisi pertama Simon Petrus juga tampak dalam kelompok kecil, tiga murid pilihan yang menyertai Yesus, sewaktu Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Mrk 5:37), Yesus berubah rupa di gunung Tabor (Mrk 9:2) dan Yesus berdoa di taman Getsemani (Mrk 14:33).
Yesus juga memilih Simon Petrus untuk memancing ikan dan dengan dirham yang ditemukan dalam mulut ikan itu ia harus membayar bea Bait Allah. Kisahnya demikian: “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu? Jawabnya: Memang membayar. Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: Apakah pendapatmu, Simon? Dan siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dan rakyatnya atau dan orang asing? Jawab Petrus: Dan orang asing! Maka kata Yesus kepadanya: Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga” (Mat 17:24-27).
Sementara itu sikap pemberani dan penyerahan Simon Petrus kepada Yesus begitu nyata dalam banyak tindakannya. Pada waktu Perjamuan Malam Terakhir, Simon Petrus menyatakan kesiapannya untuk memberikan nyawanya: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau” (Luk 22:33). Ketika Yesus mengatakan bahwa satu dan murid-murid-Nya akan mengkhianati-Nya, Simon Petrus meminta Yohanes menanyakan siapa orangnya (Yoh 13:21-26) dan ia berjanji akan setia tanpa syarat sampai mati: “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu” (Yoh 13:37). Lagi katanya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 26:33); “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Mrk 14:31).
Sebelum peristiwa itu, sewaktu banyak murid-murid mengundurkan diri, Simon Petrus mewakili kedua belas murid berkata: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69). Pada waktu Yesus mau ditangkap oleh para prajurit hanya Simon Petrus yang berani melawan dengan menghunus pedang dan memutuskan telinga kanan Malkhus (Yoh 18:10 // Mat 26:51 // Mrk 14:47 // Luk 22:50). Ketika murid-murid Yesus lari meninggalkan-Nya, Simon Petrus mengikuti dari jauh sampai ke dalam halaman Imam Besar dan di situ ia duduk di antara pengawal-pengawal sambil berdiang dekat api (Mrk 14:54/! Mat 26:58/! Luk 22:54- 551/ Yoh 18:15-16).
Di sisi lain, kenyataan bahwa Simon Petrus juga orang yang lemah tampak dalam berbagai kesempatan. Yesus dengan tegas mengingatkannya: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Yoh 13:38; 18:17-18, 25-27 // Mat 26:34, 69-75 // Mrk 14:30, 66-72 // Luk 22:34, 56-60). Waktu bersama dengan Yakobus dan Yohanes tertidur di taman Getsemani pun Yesus mengingatkan Simon Petrus: “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mrk 14:37-38 /1 Mat 26:40-41 II Luk 22:46).
Meski demikian Simon Petrus itulah, yang bersama dengan murid yang dikasihi Yesus, berlari-lari ke kubur dan masuk ke dalamnya ketika Yesus bangkit (Yoh 20:1-10) dan kedua murid dari Emaus bersaksi: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan teIah menampakkan diri kepada Simon” (Luk 24:34). Penampakan itu terjadi di Danau Tiberias waktu Simon Petrus dan murid-murid lainnya pergi menjala ikan (Yoh 21:1-15) dan Yesus menguji kesetiaan Simon Petrus sampai tiga kali: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” (Yoh 21:15-17). Simon Petrus menjawab dengan tegas: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau,” sehingga Yesus menugaskannya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku,”
Kuasa Simon Petrus untuk menggembalakan domba-domba didasarkan pada kasihnya kepada Yesus yang bangkit. Kasih kepada Yesus itu penting, sebab domba-domba yang harus ia gembalakan bukan miliknya sendiri, melainkan milik Yesus. Karena itu ia akan mengalami penderitaan dan kematian demi kemuliaan Allah: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh 21:18-19).
Karya Kerasulan
Sesudah kenaikan Yesus ke surga, sambil menantikan datangnya Roh Kudus, Simon Petrus mengumpulkan para murid Yesus dan bersama-sama memilih Matias untuk menggantikan tempat lowong yang ditinggalkan Yudas Iskariot (Kis 1:12- 26). Pada hari Pentakosta, Simon Petrus berkhotbah untuk pertama kalinya bahwa Yesus adalah Mesias terjanji: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36).
Selanjutnya bersama Yohanes, Simon Petrus berkhotbah di Serambi Bait Allah dan di hadapan Mahkamah Agama, dan ia pun menyembuhkan orang lumpuh dengan kuasa Yesus (Kis 3:1-4:22) dan membuat berbagai mukjizat (Kis 5:1-16; 9:32- 43). Bersama dengan kesebelas rasul lainnya, Simon Petrus memilih ketujuh diakon untuk melayani orang-orang miskin (Kis 6:1-7). Bersama Yohanes, Simon Petrus pergi ke Samaria untuk meminta turunnya Roh Kudus atas orang-orang percaya dan menobatkan Simon si tukang sihir (Kis 8:14-24). Lalu ia menobatkan perwira Kornelius, seorang kafir di Kaisarea, dan mempertanggungjawabkan baptisan itu kepada orang-orang percaya di Yerusalem (Kis 10:1-11:18). Dalam Sidang di Yerusalem, ia juga menegaskan bahwa orang-orang kafir yang percaya dan dibaptis dalam nama Yesus tidak perlu mengambil alih seluruh hukum Yahudi (Kis 15:1-11).
Dari kesaksian Paulus dalam Gal 2:7-8, Simon Petrus disebut rasul untuk orang-orang bersunat yang di Antiokhia sikapnya ditentang oleh Paulus, “karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia” (Gal 2:11-13).
Tentang sunat dan tidak sunat itulah yang menjadi problem jemaat di Antiokhia, sebab menurut beberapa orang Yahudi, “orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa” (Kis 15:5), sebab “jikalau tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, tidak dapat diselamatkan” (Kis 15:1).
Maka, dalam Sidang di Yerusalem Simon Petrus berbicara dengan tegas: “Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga” (Kis 15:7-11).
Yerusalem adalah tempat Simon Petrus berkarya hingga terjadi pengejaran terhadap orang-orang percaya oleh Herodes Agrippa (41-44), yang bersama dengan Yakobus anak Zebedeus, ia dipenjarakan. Sejak saat itu sekitar tahun 42/43 ia dijauhkan dari Yerusalem dan tahun 49 tinggal di Antiokhia Siria.
Menurut Surat Pertama Clement bab 5 dan penemuan arkeologis di bawah Basilika St. Petrus, Simon Petrus sampai di Roma sebelum tahun 67. Surat Pertama Petrus ditulis di Roma sebelum tahun 64, sebelum penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dilancarkan oleh Kaisar Nero. Eusebius memperkirakan bahwa Simon Petrus mati sebagai martir di Roma tahun 68 dalam pemerintahan Kaisar Nero. Gereja Katolik Roma menurut otoritas Paus sampai pada Simon Petrus diduga karena Simon Petrus adalah uskup Roma pada waktu ia meninggal.
Tertulianus dan Origenes menulis bahwa Simon Petrus dihukum mati dengan disalibkan dan posisi kepala di bawah, di taman Kaisar Nero, tepatnya di kompleks Vatikan sekarang dan dikuburkan dekat kaki bukit Vatikan.
Konon, ketika Kaisar Valerianus mulai menganiaya orang-orang Kristen pada tahun 258, tulang-tulang Simon Petrus disimpan di makam Jl. Apius. Lalu dikembalikan ke kubur semula dan sekitar tahun 352 Kaisar Konstantinus mendirikan sebuah basilika di kaki bukit Vatikan itu, yang pada abad ke-16 diberi nama Basilika St. Petrus.
Pada awal tahun 1960-an para arkeolog Vatikan mengadakan penggalian di bawah Basilika St. Petrus dan menemukan sebuah kuburan Romawi dari abad pertama, dengan sebuah makam yang digali secara tergesa-gesa, yang mungkin adalah makam Simon Petrus.
Tempat-tempat khusus penghormatan kepada Simon Petrus adalah: Basilika St. Petrus di Roma, tempat dikuburkan jenazahnya; Gereja Quo Vadis di Via Appia; Penjara Mamertine, tempat ia dipenjarakan di Roma; Gereja St. Petrus di Grado dekat Pisa di mulut sungai Arno, tempat ia pertama kali mendarat di Roma. Gereja Petrus Galicantu di Yerusalem, tempat ia menyangkal Yesus; Gereja St. Petrus di Kapernaum yang dibangun di atas rumah tinggalnya. Pestanya dirayakan bersama dengan Paulus setiap tanggal 29 Juni.
Catatan:
Meskipun penulis Surat Kedua Petrus memperkenalkan dirinya bernama Petrus (2 Ptr 1:1), namun itu bukanlah suatu bukti kalau surat itu ditulis oleh Simon Petrus. Banyak ahli berpendapat bahwa surat itu ditulis baru sekitar tahun 125 untuk jemaat yang terancam ajaran bidaah.
Refleksi dan Aksi
Simon Petrus adalah orang yang realistis, yang tampil apa adanya dengan penuh percaya diri. Ia tipe orang yang polos, yang bertindak tanpa banyak kompromi dan manipulasi. Karena itu sesudah sesumbar mau ikut dan cinta Yesus sampai mati, tiba-tiba bisa ingkar janji sebab berhadapan dengan ancaman yang membahayakan keselamatan dirinya. Demi guru-Nya ia melawan musuh dengan pedang, tetapi guru-Nya itu juga yang ia sangkal karena takut mati. Namun spirit Yesus Sang Guru telah menjiwai dan menggerakkan seluruh hidupnya menjadi murid sejati. Ia mati-matian mewartakan Yesus Kristus sampai benar-benar mati sebagai martir.
Siapa dan apa yang kita wartakan? Mengapa kita pun sering hanya mau enaknya dan menyingkir dari beban tanggung jawabnya. Ikut Yesus berarti ikut jalan salib-Nya. Karena itu kalau takut mati karena Kristus, seharusnya kita hidup demi Kristus. Mau hidup untuk apa kita sekarang?
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Gereja Petrus Callicantu
Cium pengkhianatan Yudas Iskariot menjelang tengah malam itu telah menghantar Yesus ke hadapan pengadilan Mahkamah Agama. Para prajurit menangkap-Nya, membelenggu dan membawa-Nya ke rumah Imam Besar, Yusuf alias Kayafas, di mana di situ telah berkumpul imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua (Mat 26:57-68).
Sementara Yesus diadili oleh Mahkamah Agama, di luar rumah Petrus bergabung dengan orang-orang yang berdiang di halaman. Saat itulah tiga kali ia menyangkal Yesus sebelum ayam berkokok: “Aku tidak kenal orang itu” (Mat 26:69-75). Karena itu di tempat bekas rumah Kayafas itu dibangun sebuah gereja dengan nama Petrus Gallicantu, yang artinya “Petrus Kokok Ayam”.
Gereja itu awalnya berupa gereja Bizantin yang didirikan pada abad ke-4 untuk mengenang air mata Petrus yang menetes di tempat itu setelah sadar akan penyangkalannya. Namun gereja itu dihancurkan oleh pasukan Persia tahun 614 dan baru pada abad ke-12 dibangun lagi oleh para pejuang Perang Salib dengan nama Gereja Petrus Gallicantu. Di gereja itu terdapat sebuah penjara dari abad pertama dengan tiang batu berlubang yang diduga untuk memasung para tahanan. Ada pula satu ruangan yang disebut penjara Kristus, sebab di tempat itu dahulu Yesus diadili dan dipenjarakan sebelum dihadapkan kepada Pontius Pilatus.

SEKILAS SEJARAH KONTROVERSI ADAT CHINA



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
SENSUS CATHOLICUS:
SEKILAS SEJARAH KONTROVERSI ADAT CHINA.
A.
GARIS BESAR.
Kontroversi adat kebiasaan China, yaitu ajaran konfusianisme dan ritual China, telah menjadi perdebatan panjang di antara misionaris Katolik di China selama abad ke-17 dan ke-18.
Perdebatannya terutama berfokus pada apakah praktek adat China untuk menghormati leluhur, kebiasaan adat kerajaan, dan ajaran konfusian yang lain dapat diterima sebagai ajaran religius dan karenanya bisa disesuaikan dengan ajaran iman Katolik.
Para misionaris Jesuit berpendapat bahwa kebiasaan adat China itu adalah praktek sekular yang cocok dengan kekristenan, sampai pada batasan tertentu, karenanya bisa ditoleransi.
Sementara para Dominikan dan Fransiskan, tidak setuju, dan mereka lalu melaporkan masalah ini ke Roma.
Sacred Congregation for the Propagation of the Faith di Roma memihak Dominikan pada tahun 1645, dengan mengatakan bahwa praktek-praktek adat China itu dilarang.
Akan tetapi, pada tahun 1656, larangan ini dicabut dan kini badan tersebut condong memihak para Jesuit.
Ini adalah salah satu dari banyak perselisihan antara para Jesuit dan Dominikan di China dan tempat-tempat lainnya di Asia, termasuk di Jepang dan India.
Perbedaan pendapat ini sampai melibatkan universitas- universitas ternama di Eropa, Kaisar Qing Dynasty China; Kangxi, termasuk juga Paus Klemen XI dan Paus Klemen XIV, dan kantor-kantor di Tahta Suci.
Pada menjelang akhir abad ke-17, banyak Imam Dominikan dan Fransiskan yang berubah pandangan dan menyetujui pendapat para Jesuit, tapi Roma tidak menyetujuinya.
Paus Klemen XI melarang praktek adat pada 1704.
Paus Benediktus XIV pada tahun 1742 menegaskan kembali larangan tersebut dan melarang perdebatan selanjutnya.
Pada tahun 1939, setelah dua abad berlalu, Tahta Suci meninjau kembali masalah itu.
Paus Pius XII mengeluarkan dekrit pada 8 Desember 1939, yang memberi ijin kepada Katolik China untuk menjalankan adat leluhur dan boleh berpartisipasi dalam cara penghormatan menurut ajaran Konfusian.
Prinsip umum bahwa; terkadang, memasukkan tradisi asli setempat bahkan ke dalam liturgi Gereja, selama bahwa tradisi tersebut harmonis dengan semangat asli liturgi yang benar, dinyatakan dalam Konsili Vatikan II (1962-1965).
B.
AWAL MULA ADAPTASI TERHADAP KEBIASAAN SETEMPAT.
Tidak seperti Amerika yang ditaklukkan dengan kekuatan militer oleh Spanyol dan Portugal, para misionaris Eropa yang datang ke daerah Asia, menemukan bahwa daerah-daerah tersebut belum tersentuh oleh pengaruh asing.
Alessandro Valignano, adalah salah satu misionaris Jesuit di Jepang yang mula-mula menyarankan untuk mengadaptasikan kebiasaan Kristen dengan adat istiadat masyarakat Asia.
Di China, adalah misionaris dari Italia, Matteo Ricci, yang memakai cara tersebut dan mengadaptasikannya dengan konteks adat China.
Ada suatu masa ketika para Jesuit bahkan memakai jubah kasar seperti para rahib Budha, sebelum kemudian menggantinya dengan jubah silk yang lebih bergengsi.
Secara khusus, pandangan Matteo Ricci terhadap aliran Konfusian dan praktek adat China yang sering disebut “The Directives of Matteo Ricci” diikuti oleh para misionaris lainnya.
Dalam dekrit yang ditandatangani 23 Maret 1656, Paus Alexander VII menyatakan menerima praktek-praktek budaya China yang paling baik, termasuk di antaranya pemakaian bahasa China dalam liturgi, sebagai pengecualian dari aturan jaman itu yang melarang dipergunakannya bahasa setempat dalam liturgi (diharuskan memakai bahasa Latin).
Pada tahun 1659, sebuah instruksi diberikan Sacred Congregation for the Propagation of the Faith kepada para misionaris ke Asia, dengan jelas menyatakan bahwa dalam pemberitaan Injil/evangelisasi, sangatlah penting untuk beradaptasi dengan kebiasaan daerah atau negara yang dituju :
“Jangan bersemangat untuk; jangan mengajukan argumen untuk meyakinkan orang-orang agar mengubah adat mereka, kebiasaan mereka, kecuali jika terbukti hal itu benar-benar berlawanan dengan iman kristen (Katolik) dan moralitas.
Lebih-lebih lagi tidak masuk akal untuk membawa kepada mereka (orang-orang China) ini; kebiasaan-kebiasaan dari Prancis, Spanyol, Italia, atau kebiasaan negara Eropa lainnya.
Jangan membawa kepada mereka; negara-negara kita, tetapi bawalah mereka kepada IMAN; iman yang tidak menolak atau melukai adat orang lain, dan tidak menyalahkan, tetapi menjaga dan melindungi mereka.”
(ini adalah penggalan dari instruksi tahun 1659 yang diberikan Sacred Congregation for the Propagation of the Faith kepada Mgr Francois Pallu dan Mgr Lambert de la Motte dari Paris Foreign Missions Society)
C.
PENERIMAAN PARA MISIONARIS DI CHINA.
Para Jesuit berhasil memasuki China dan melayani di istana sekitar tahun 1680-an.
Kaisar Kangxi pada mulanya bersahabat dengan para misionaris ini.
Mereka berhasil mengesankan istana dengan pengetahuan astronomi dan mekanik ala Eropa mereka, dan bahkan kemudian mereka yang menjalankan observatorium kekaisaran.
Metode yang para Jesuit pakai; mampu dengan akurat memprediksi kapan terjadi gerhana, yang mengesankan Kaisar, dan yang kemudian menjadi pelopor dalam pembaharuan kalender China dengan menggunakan metode perhitungan ala barat.
Kaisar juga terutama kagum akan kemampuan yang mereka miliki dalam bidang astronomi, matematika, geografi, diplomatik, pembuatan senjata dan seni.
Pada akhir abad ke-17, dengan diterimanya mereka ke dalam lingkungan kerajaan, para Jesuit telah membuat banyak orang yang beralih kepada iman Kristen.
Suatu timbal balik juga, bahwa para Jesuit juga terkesan akan ilmu dan kecerdasan para murid dari Konfusian China Han, yang berbaur dengan cara hidup adat China.
Melalui korespondensi dengan dengan para ilmuwan Eropa, mereka jugalah yang pertama kalinya memperkenalkan ilmu pengetahuan dan kultur China kepada Eropa.
Pada tahun 1692, Kaisar Kangxi mengeluarkan maklumat menerima kekristenan, antara lain menyatakan:
“Orang-orang Eropa ini sangat diam, mereka tidak menimbulkan gangguan di wilayah-wilayah, mereka tidak menyakiti orang, mereka tidak melakukan kejahatan, dan doktrin mereka sama sekali tidak sama dengan sekte-sekte sesat yang selama ini ada di kerajaan, pun tidak menghasut.
Karenanya, kami memutuskan bahwa semua kuil yang dipersembahkan kepada Tuhan Surgawi, di mana pun, akan dilindungi, dan diperbolehkan dimasuki oleh siapa saja yang hendak memuji Tuhan.
Wangi-wangian akan diberikan kepada mereka yang hendak melakukan praktek upacara menurut tradisi kristianinya.
Janganlah ada yang melarang atau menentangnya.”
Maklumat ini adalah pernyataan kesetaraan status Kristen dengan Konfusian di China.
D.
PERTENTANGAN.
Para Jesuit secara bertahap terus mengembangkan dan beradaptasi dengan adat China.
Saat itu, para kaum terpelajar China lebih terikat pada ajaran Konfusian, sementara kalangan menengah dan kalangan rendah lebih kepada Budhis dan Tao.
Walau demikian, ketiganya berada dalam kerangka yang sama di dalam kehidupan negara dan masyarakat sehari-hari.
Praktek Konfusian dan Tao antara lain menekankan penghormatan kepada leluhur.
Selain para Jesuit, ordo lain seperti Dominikan, Fransiskan dan Agustinian, juga memulai karya misi ke China, di abad 17, kebanyakan mereka datang dari Filipina yang saat itu dijajah Spanyol.
Berbeda dengan Jesuit, mereka menolak untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat dan ingin menerapkan di China; prinsip yang telah mereka pakai di tempat lain, dan mereka terkejut akan praktek yang dilakukan para Jesuit di situ.
Hal ini menimbulkan perselisihan yang memanas dan akhirnya dibawa ke Roma.
3 point utama yang menjadi keberatan mereka adalah:
1.
Penetapan kata Tuhan dalam bahasa Chinese secara umum adalah 天主 Tiānzhǔ (Lord of Heaven = Raja Surgawi), sementara para Jesuit memperbolehkan orang Kristen China memakai kata 天 Tiān (Heaven) or 上帝 Shàngdì (Lord Above / Supreme Emperor).
2.
Larangan kepada orang Kristen untuk berpartisipasi dalam upacara-upacara musiman Konfusian.
3.
Larangan kepada orang Kristen untuk memakai bentuk-bentuk “kertas bertulisan”, pelarangan tempat/situs roh, dan larangan bentuk pemujaan leluhur.
Di Roma, para Jesuit beralasan bahwa semua adat China ini lebih merupakan praktek sosial daripada keagamaan, dan bahwa umat yang telah menjadi Kristen hendaknya diperbolehkan mengikutinya.
Jesuit mempertahankan hal ini dilakukan umat Katolik China; seperti juga tindakan penghormatan kepada Kaisar dan leluhur, dan melihatnya sebagai bentuk alami dari sopan santun dan karenanya tidak bertentangan dengan ajaran Kristen.
Sebaliknya, para penentang membantah dengan mengatakan bahwa pemujaan seperti ini adalah ekspresi dari kepercayaan kuno dan tidak sejalan dengan iman Katolik.
E.
KEPUTUSAN PAUS KLEMEN XI.
Paus Klemen XI akhirnya menyatakan mengutuk adat China dan ritual-ritual Konfusian, dan melarang adanya bantahan atau diskusi lagi tentang hal ini dengan mengeluarkan dekrit Cum Deus optimus pada 20 November tahun 1704.
Paus menegaskan pelarangan kata “Tian” dan “Shangdi”, dan menyetujui pemakaian kata “Tianzhu” sebagai sebutan bagi Allah.
Pada 1705, Paus mengirim wakil kepausan kepada Kaisar Kangxi, untuk mengkomunikasikan kepada Kaisar tentang larangan praktek adat China terhadap orang Karolik di sana.
Misi ini dipimpin Charles- Thomas Maillard De Tournon yang tiba pada Januari 1707, namun dengan hasil; mereka ditolak dan diusir ke Macao.
Lebih jauh, Paus mengeluarkan bulla “Ex illa die” yang secara resmi melarang praktek adat China pada tahun 1715, dengan menyatakan :
"Paus Klemen XI menyatakan hal –hal ini diketahui untuk seterusnya di seluruh dunia.. :
I.
Dunia barat menyebut Tuhan Sang Pencipta Surga, bumi dan segalanya di semesta.
Karena kata Tuhan tidak terdengar benar dalam bahasa Chinese, orang asing yang ada di China dan orang China yang Katolik; menggunakan kata “Tianzhu = Heavenly Lord.
Kata “Tian” dan “Shangdi” tidak boleh lagi digunakan, karena Tuhan harus diposisikan sebagai Tuhan Surga dan bumi dan seisi dunia.
Prasasti/tablet/kertas yang bertuliskan “penghormatan kepada surga” tidak diperbolehkan digantung di dalam Gereja Katolik dan jika ada harus segera diturunkan.
II.
Perayaan musim semi, musim gugur, pemujaan Konfusius, juga pemujaan leluhur, tidak diperbolehkan bagi orang Katolik. Bahkan tidak boleh hadir dalam kegiatan tersebut sebagai pengamat, karena walaupun hanya sebagai pengamat, dengan melihat atau menghadiri penyembahan berhala seperti ini adalah bagai seperti juga berpartisipasi secara aktif.
III.
Orang-orang pejabat China, di kota-kota, yang telah bertobat dan menjadi Katolik, tidak diperbolehkan melakukan penyembahan di kuil pada setiap awal bulan dan hari ke-15 dalam bulan.
IV.
Orang Katolik China tidak ada yang diperbolehkan menyembah leluhur di kuil milik keluarga.
V.
Apakah di rumah, atau saat penguburan, seorang Katolik China tidak diperbolehkan mengadakan ritual penghormatan leluhur.
Ia juga tidak diperbolehkan melakukannya walaupun sedang bersama-sama orang non Katolik.
Hal tersebut adalah berhala.
Selain keputusan di atas, saya menegaskan bahwa kebiasaan dan tradisi China lainnya yang tidak dapat diartikan sebagai penyembahan berhala dapat terus dilakukan oleh umat China.
Cara pengelolaan kepemerintahan negara tidak diturut campuri.
Untuk secara persis, kebiasaan apa yang boleh dan tidak boleh dilanjutkan, wakil kepausan di China akan mengambil keputusan yang dibutuhkan.
Sementara jika wakil kepausan tidak ada, tanggung jawab dalam pengambilan keputusan tersebut terletak pada Ketua Misi China dan Uskup China.
Secara singkat, kebiasaan dan tradisi yang tidak bertentangan dengan Katolik Roma diperbolehkan, dan yang jelas- jelas bertentangan tidak akan ditoleransi di bawah keadaan apapun."
Pada tahun 1742, Paus Benediktus XIV mengulangi kembali seruan ini dalam Bulla Kepausan “Ex quo singulari Clement XI’s decree”.
Paus juga meminta para misionaris di China mengucap janji yang melarang mereka mendiskusikan hal ini lagi.
F.
PERLAWANAN DARI ISTANA.
Pada awal abad 18, ketika Roma menentang tradisi adat China, menyebabkan ditariknya banyak misionaris dari China.
Pada Juli 1706, utusan dari Paus membuat marah Kaisar Kangxi, yang menyebabkan Kaisar mengeluarkan perintah bahwa semua misionaris; untuk mendapat ijin untuk tinggal, harus menyatakan bahwa mereka/ia mengikuti “aturan Matteo Ricci”.
Pada 1721, Kaisar Kangxi yang tidak setuju dengan dekrit Paus Klemen, melarang dan mengusir misionaris dari China.
Kaisar menanggapi Dekrit Paus dengan menyatakan demikian :
“Membaca pernyataan ini, saya menyimpulkan bahwa orang barat sungguh picik. Adalah tidak mungkin beralasan dengan mereka karena mereka tidak mengerti isu yang lebih besar seperti yang kita mengerti tentang mereka di China.
Tidak ada satupun orang barat yang berpengalaman dalam karya orang China dan ucapan mereka sering luar biasa dan menggelikan.
Menilai dari pernyataan ini, agama mereka ternyata tidak berbeda dengan sekte-sekte kecil fanatik.
Saya belum pernah melihat dokumen yang mengandung omong kosong begini.
Mulai sekarang, semua orang barat tidak diperbolehkan mengajar agama di China, untuk menghindari masalah yang lebih lanjut.”
Orang-orang China yang telah menjadi Katolik juga terlibat dalam pertentangan ini dengan menulis surat-surat protes, buku-buku, selebaran dll.
Perdebatan terutama terjadi antara kelompok Katolik Liberat dan Uskup Katolik di provinsi Fujian melawan kelompok Katolik dan Uskup yang didukung para Jesuit.
Pada tahun 1724, Kaisar Yongzheng mengeluarkan larangan terhadap “Sekte Tuhan Surgawi”, atau “Tianzhujiao”, yaitu nama yang dipakai untuk menyebut “Katolik” di China pada masa itu.
Penganiayaan terhadap umat Katolik semakin meningkat pada masa pemerintahan Kaisar Qianlong yang mengeluarkan peraturan “anti-kristen” pada tahun 1737.
Di Roma, Paus Klement XIV menyatakan membubarkan Serikat Jesus/ Jesuit pada tahun 1773.
G.
KEPUTUSAN PAUS PIUS XII.
Kontroversi mengenai adat/tata cara kebiasaan China telah mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan iman kristen dan pertobatan di China selama dua ratus tahun.
Pada tahun 1939, beberapa minggu setelah terpilihnya, Paus Pius XII memerintahkan Congregation for the Evangelization of Peoples untuk bersikap lebih lunak terhadap beberapa aspek yang disebutkan oleh Paus Klemen XI dan dekrit yang dikeluarkan Benediktus XIV mengenai masalah ini.
Setelah Vicar Apostolik menerima jaminan dari pemerintahan Manchukuo saat itu di China yang menegaskan bahwa apa yang disebut sebagai “adat China” hanyalah suatu bentuk tindakan lahiriah saja, maka Tahta Suci pada 8 Desember 1939 mengeluarkan dekrit baru “Plane Compertum”, yang antara lain menyatakan :
- Umat Katolik diperbolehkan untuk menghadiri upacara-upacara penghormatan Konfusian di kuil-kuil atau di sekolah-sekolah.
- Pemajangan gambar Konfusius diperbolehkan di sekolah Katolik.
- Pejabat dan murid-murid sekolah China yang Katolik diperbolehkan menghadiri; namun secara pasif saja, upacara publik yang dinilai "berbau tahayul".
- Adalah sah dan tidaklah “tidak pantas”; untuk menundukkan kepala dan perilaku lain yang biasa dilakukan sebagai kebiasaan masyarakat, terhadap gambar leluhur/nenek moyangnya.
- Larangan terhadap adat China yang dinyatakan oleh Paus Benedict XIV adalah berlebihan, dan tidak sepenuhnya berlaku lagi setelah dengan adanya peraturan baru ini.
Pernyataan ini berarti mengatakan bahwa kebiasaan adat Chinese tidak lagi dianggap tahayul, tapi lebih sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang kepada keluarga dan nenek moyang, dan karenanya; diperbolehkan kepada orang Katolik China.
Ajaran Konfusian juga lebih dianggap sebagai filosofi dan kultur dalam budaya China daripada dianggap sebagai agama sesat yang bertentangan dengan ajaran Katolik.
Tidak lama setelahnya, pada tahun 1943, pemerintah China memulihkan hubungan diplomatik dengan Vatikan.
Dekrit kepausan itu telah mengubah suasana ke-Gereja-an di China secara revolusioner. Gereja-gereja Katolik kini dipenuhi umat.
Paus Pius XII lalu mendirikan keuskupan setempat, dan di tahun 1946 menunjuk Thomas Tien Ken-Sin, SVD menjadi Uskup Agung Peking dan juga menunjuknya menjadi Kardinal, menjadikan ia orang berkebangsaan China pertama yang menjadi seorang Kardinal.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

SIGNS OF SILENCE



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
“SIGNS OF SILENCE”.
Ordo Sistersien Observansi Ketat (O.C.S.O.; Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae), adalah salah satu tarekat religius Katolik Roma yang menjalani kehidupan monastik kontemplatif tertutup dengan mengikuti Peraturan Santo Benediktus yang ditulis pada abad ke-6, yang mendeskripsikan nilai-nilai dari kehidupan monastik sebagai panduan hidup.
Bagi komunitas yang mengikuti peraturan St. Benediktus, kehidupan dalam keheningan dianggap suatu cara untuk mencapai kekudusan dan berdiam diri dimaksudkan untuk menguduskan hari yang sedang dijalani.
Para Trapis biasanya hanya berbicara jika diperlukan; dengan demikian bicara tak berguna/omong kosong sangat tidak dianjurkan.
Menurut St. Benediktus, banyak bicara dapat mengarah kepada pembicaraan remeh temeh, yang dapat mengganggu daya penerimaan dan ketenangan seorang murid, dapat menggoda seseorang untuk mengikuti kehendaknya sendiri/ kehendak duniawi dan bukannya kehendak Allah, dan terbuka kepada godaan setan.
Bicara yang mengarah pada gelak tawa atau hiburan yang tidak baik dipandang sebagai kejahatan dan dilarang.
Untuk menjaga keheningan/ silentium, para Trapis di abad ke-9 mulai mengembangkan bentuk bahasa isyarat/ bahasa tanda untuk berkomunikasi satu sama lain tanpa banyak bersuara, namun “catatan resmi” mengenai bentuk bahasa tanda ini lebih banyak ditemukan berasal dari masa setelah abad ke-12.
Bahasa isyarat ini diajarkan turun temurun, dan masih ditemukan dipakai oleh para Trapis yang lebih tua.
Bahasa tanda adalah suatu produk dari kebutuhan berkomunikasi dalam komunitas sembari memelihara “warisan” praktek suci keheningan.
-----------
BAHASA TANDA CISTERCIENSIS
Abang / kakak =
Tangan ditarik dari dagu seperti menarik janggut.
Abas =
Telunjuk dan jari tengah diletakkan di dahi,
Abu =
Ibu jari, telunjuk dan jari tengah digeser-geserkan.
Adik =
Tanda abang dan muda
Ada =
Kedua ujung telunjuk bertemu dengan membentuk sudut sekitar enam puluh derajat.
Ajar/ belajar =
Kedua tangan dikepal, diletakkan di atas dahi.
Aduk/ mengaduk =
Tangan kanan digerak-gerakkan seperti mengaduk.
Air =
Ibu jari dan jari-jari lainnya dikumpulkan dan diarahkan ke atas.
Ayah/ bapak =
Tanda “abas” dan “orang dunia”.
Ayam =
Tanda “burung” dan “telur”.
Aku =
Ujung telunjuk diarahkan ke dada.
Allah/ Tuhan =
Kedua ibu jari dan telunjuk dipersatukan membentuk segitiga yang tegak mengarah ke atas.
Ambil =
Tangan digerakkan seperti mengambil.
Ampun/ maaf =
Memukul-mukul dada.
Anak =
Kelingking diletakkan di mulut.
Anjing =
Daun telinga ditarik dengan ibu jari dan telunjuk.
Anggur =
Ujung telunjuk diletakkan di ujung hidung.
Angin =
Tangan digerak-gerakkan di muka mulut sambil dihembus.
Angkat =
Tangan digerakkan seperti mengangkat.
Antiphonarium =
Ibu jari tangan kiri dijepitkan antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan.
Apa =
Mengangkat bahu dengan muka seperti bertanya.
Api =
Ujung telunjuk dihembus.
Arang =
Tanda “kayu” dan “hitam”.
Arca =
Lidah dikeluarkan sedikit, sedangkan telunjuk dan ibu jari tengah diletakkan di kanan-kirinya.
Atas =
Tangan dilayangkan ke atas.
Babi =
Telunjuk ditekankan ke sisi hidung sambil diputar-putar.
Baptis =
Tangan berbuat seperti mencurahkan air, mempermandikan.
Bagaimana =
Mengangkat bahu, muka seperti bertanya.
Bagi/ bagian =
Tangan kanan digerakkan di lengan kiri, membentuk gerakan seperti memotong-motong.
Bagus =
Di dekat muka tangan kanan ditarik dari atas ke bawah.
Baik =
Tangan kanan digeserkan di dada.
Bayi =
Tanda “anak” dan “kecil”.
Bakul/ tenggok =
Telunjuk membuat lingkaran horisontal, lalu dengan kedua tangan membuat seperti mengangkat bakul.
Bola =
Kedua tangan digerakkan membentuk bola.
Balik =
Tangan digerakkan ke belakang. ( = kembali)
Bangku =
Tanda “meja” dan “rendah”.
Bangun =
Ibu jari dan telunjuk dilekatkan lalu dibuka dekat mata.
Baris =
Kelingking tangan kanan digariskan di tangan kiri.
Baru =
Kelingking diletakkan di mulut.
Bahasa =
Lidah diperlihatkan dan hampir disentuh dengan telunjuk.
Baca/ membaca/ bacaan =
Kedua tangan dipersatukan membentuk buku lalu diamat-amati seperti membaca.
Batu =
Tangan mengepal lalu dipukulkan ke kepala.
Bawa =
Tangan kanan melakukan gerakan seperti membawa.
Bawah =
Tangan kanan diserokkan ke bawah.
Bel =
Berbuat seperti mengebel.
Belakang =
Tangan kanan digerakkan ke belakang.
Benih =
Ibu jari digerak-gerakkan pada ujung kelingking.
Berapa =
Tanda “bagaimana” dan “banyak”.
Berat =
Tangan digerakkan seperti mengangkat benda berat.
Beres =
Kedua tangan digeser-geserkan pada dada.
Beri/ memberi =
Tangan berbuat seperti memberi.
Berkat/ memberkati =
Tangan terbuka membuat salib seperti memberkati.
Bersih =
Sama dengan “bagus”.
Besar =
Tangan terbuka digerakkan ke atas tinggi-tinggi.
Besi =
Telunjuk dan jari tengah tangan kanan digeser-geserkan di atas telunjuk dan jari tengah tangan kiri.
Besok =
Tangan mengepal diturunkan ke muka.
Biji =
Sama dengan “benih”.
Bimbang =
Sama dengan “kira-kira”.
Binatang =
Punggung telunjuk melengkung diletakkan di ujung hidung.
Biru =
Tangan mengepal diletakkan di mata.
Bodoh =
Sama dengan “batu”.
Buah =
Lengan kanan ditegakkan, siku disandarkan pada tangan kiri.
Buat =
Tangan kanan mengepal dipukulkan pada tangan kiri yang mengepal juga.
Bubur =
Tangan kanan terbuka dijatuhkan pada tangan kiri yang mengepal.
Buku =
Tangan kanan dan tangan kiri ditepukkan dan dibuka-buka seperti membuka buku.
Bulan/ month =
Tangan kanan terbuka miring, diletakkan pada tangan kiri di atas siku.
Bunga =
Ibu jari, telunjuk dan jari tengah dipersatukan lalu didekatkan ke hidung seperti mencium bunga.
Burung =
Tanda “binatang” dan “sayap”.
Buta =
Mata ditutup dengan ibu jari dan telunjuk.
Cat =
Tangan kanan diusap-usapkan pada tangan kiri seperti orang mengecat.
Celana =
Membuat seperti memakai celana.
Cermin =
Tanda “kaca” dan “arca”.
Cium/ pax =
Tangan mencium seperti pada “pax tecum”.
Cukup =
Ibu jari digariskan di bawah dada.
Cukur =
Berbuat seperti menggunting rambut.
Curi =
Tangan kanan digerakkan serong ke muka lalu ke belakang.
Cuci =
Ujung tangan kanan ditepuk-tepukkan pada bagian dalam tangan kiri.
Daftar =
Tanda “baris”.
Dahulu =
Tanda “kemarin”.
Damai =
Tangan mengepal dibawa ke mulut seperti akan dicium.
Dapur =
Tanda “rumah” dan “masak”.
Darah =
Tanda “air” dan “merah”.
Datang =
Telunjuk melengkung ke atas digerak-gerakkan seperti memanggil.
Daun =
Tanda “kertas” dan “hijau”.
Demam =
Berbuat seperti memeriksa nadi, tangan kanan diletakkan di pergelangan tangan kiri.
Dengan =
Tangan kanan dan tangan kiri digerakkan-gerakkan hampir bertepuk.
Dengar =
Telinga diketuk-ketuk dengan kelingking.
Diam =
Mulut ditutup dengan ibu jari.
Dingin =
Tangan digerakkan gemetar seperti kedinginan dengan jari-jari dalam keadaan melengkung.
Doa =
Kedua tangan dibuat seperti berdoa.
Dokter =
Tanda “orang” dan “demam”.
Domba =
Tanda “binatang” dan “pakaian”.
Dosa =
Memukul dada.
Duduk =
Berbuat seperti duduk.
Ember =
Buat lingkaran dan tanda “angkat” dan “air”.
Enak/ lezat =
Lidah diperlihatkan sedikit dan tangan digerakkan dari atas ke bawah di mukanya.
Engkau =
Menunjuk kepada orang yang dikehendaki.
Entah =
Menjungjung bahu atau tanda “tidak” dan “mengerti”.
Es =
Tanda “air” dan “keras”.
Foto =
Tanda “arca” dan membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuk di muka mata.
Gambar =
Tanda “arca”
Gandum =
Tanda “benih” dan dua tangan mengepal digosok-gosokkan.
Garam =
Telunjuk diletakkan pada ujung lidah.
Garpu =
Ketiga jari terbuka seperti membuat garpu.
Gelap =
Tanda “buta”.
Gemuk =
Kedua tangan membulat di pipi kanan dan kiri.
Gereja =
Kedua tangan diangkat lalu dipersatukan di muka dada.
Gergaji =
Tangan kanan berbuat seperti menggergaji tangan kiri.
Gudang =
Tanda “rumah” dan “simpan”.
Gunung =
Dua tangan bergerak membentuk puncak gunung.
Guru =
Tanda “kepala” dan “belajar”.
Habis =
Tangan terbuka diangkat ke atas.
Halus =
Tangan kanan mengusap punggung tangan kiri dengan perlahan-lahan.
Harus =
Tangan mengepal diletakkan di lengan kiri yang mengepal juga.
Hati =
Tanda “jantung”.
Hari =
Telunjuk diletakkan di pipi kanan.
Hawa =
Tanda “angin”.
Hijau =
Telunjuk dan jari tengah membuat garis dari telinga ke hidung.
Hilang =
Tangan kanan disapukan tangan kiri.
Hitam =
Telunjuk diletakkan di kumis.
Hujan =
Jari-jari dipersatukan, tangannya diturunkan ke bawah.
Huruf =
Ibu jari dan telunjuk berbuat seperti menulis.
Hutan =
Tanda “tempat” dan “kayu”.
Imam =
Kedua tangan diangkat sepertin konsekrasi.
Iman =
Jari-jari disilangkan.
Ini/ now =
Telunjuk menunjuk ke bawah.
Itu =
Telunjuk menunjuk ke kejauhan.
Injil/ diakon =
Tanda “buku” dan “stola miring di dada”.
Jahit =
Berbuat seperti menjahit.
Jalan/ berjalan =
Dua tangan terbuka sejajar miring, digerakkan maju.
Jam/ time =
Dua kelingking digerak-gerakkan, sedangkan jari-jari lainnya mengepal.
Jantung =
Dengan kedua telunjuk membuat tanda hati di dada.
Jarum =
Telunjuk kiri ditunjuk dengan jari kanan serta membuat tanda “jahit”.
Jauh =
Tangan terbuka dilemparkan jauh-jauh ke muka.
Jendral/ umum =
Tangan mengepal digerak-gerakkan.
Jubah =
Memegang sebagian dari lengan jubah.
Kaya =
Tanda “banyak’ dan “uang”.
Kayu =
Tangan kanan menggelangi tangan kiri.
Kamar =
Tanda “rumah”.
Kamus =
Tanda “buku” dan “kata”.
Kap =
kapnya dipegang.
Kapal =
Kedua tangan terbuka dipersatukan ke muka.
Kapan =
Tanda “hari” atau “waktu” dan “apa”.
Kapas =
Tanda “pakaian”.
Kapur =
Tanda “tulis” dan “putih”.
Kasar =
Punggung tangan kiri digaruk-garuk tangan kanan.
Katak =
Kulit kerongkongan ditarik.
Kata =
Telunjuk diletakkan di mulut.
Kaca =
Gigi diketuk-ketuk dengan ujung kuku telunjuk.
Kacang =
Telunjuk dan jari tengah digeser-geserkan telunjuk kiri.
Katolik =
Membuat tanda salib.
Kaul =
Telunjuk kanan dihubungkan erat dengan telunjuk kiri.
Kebun =
Kedua telunjuk membuat lingkaran horisontal.
Keju =
Tangan kanan diusap-usapkan tangan kiri.
Kehendak =
Tangan kanan berbuat seperti memotong pergelangan tangan kiri.
Keledai =
Ibu jari diletakkan di ujung telinga dan kelingking digerak-gerakkan.
Keluarga =
Tangan kanan berjabatan dengan tangan kiri.
Kentang =
Telunjuk kanan diletakkan dan diputar-putar di tangan kiri.
Kepala/ pimpinan =
Jari tengah diperlihatkan tegak.
Keras =
Punggung tangan kiri diketuk dengan punggung telunjuk kanan yang melengkung.
Kerja =
Tanda “buat’.
Kereta =
Kedua ibu jari digerak-gerakkan seperti roda.
Kering =
Ujung telunjuk kanan diketukkan pada punggung tangan kiri.
Kertas =
Punggung tangan kanan dan kiri digeser-geserkan.
Kecewa =
Tanda “nangis”.
Kecil =
Kelingking diperlihatkan tegak.
Khayal =
Tangan terbuka dilayangkan di atas kepala.
Khotbah =
Tangan kanan dan kiri digerakkan sejajar seperti baru berkhotbah.
Kitab =
Tanda “buku”.
Koki =
Tanda “kepala” dan “masak”.
Kopi =
Tangan kanan mengepal diputar-putarkan pada tangan kiri yang mengepal juga.
Koor =
Tangan kanan dan kiri membuat sudut.
Kotor =
Tangan kanan melakukan gerakan seperti mengambil kotoran dari hidung.
Kuat =
Tangan mengepal kuat serta mengangkat.
Kubis/ kol =
Tangan dua mengepal dipersatukan.
Kuburan =
Tanda “tempat” dan “mati”.
Kuda =
Tangan ditempatkan di kepala, jari-jarinya terbuka lalu tertutup.
Kudus =
Dua tangan bersilang diletakkan di dada.
Kukula/ kovel =
Tangan kanan ditarik di bawah lengan kiri seperti menunjukkan kukula (kovel).
Kulit =
Ibu jari dan telunjuk menjepit kulit punggung tangan kiri.
Kunjungan =
Tanda “keluarga”.
Kuning =
Telunjuk dan jari tengah membuat garis dari dahi ke hidung.
Kunci =
Melakukan gerakan seperti memutar-mutar kunci.
Kucing =
Melakukan gerakan seperti memutar-mutar kumis.
Lain =
Tangan kanan dan kiri diputar-putar saling melingkari.
Layan =
Tangan dua berbuat seperti mengenakan ikat pinggang.
Lama/ tua =
Punggung dibungkukkan seperti orang tua.
Lampu =
Tanda “api”.
Langit/ surga =
Memandang dan menunjuk ke atas langit.
Lari =
Tanda “berjalan” dan “cepat”.
Lebah =
Tanda “sayap” dan “manis”.
Lebih =
Tanda “terlalu banyak”.
Lelah =
Tangan dua diturunkan seperti orang kelelahan.
Lembu =
Tangan diletakkan di atas kepala, telunjuk dan ibu jari tengah dalam keadaan mengacung.
Lilin/ akolit =
Tangan kanan disangga pada bagian siku oleh tangan kiri, dan telunjuk diperlihatkan.
Lem/ perekat =
Telunjuk dan ibu jari dilekat-lekatkan.
Licin =
Tangan kanan digelincirkan di punggung tangan kiri.
Luar =
Telunjuk kanan diletakkan di antara telunjuk dan jari tengah tangan kiri, lalu dikeluarkan.
Lupa =
Tangan berbuat seperti lenyap dari kepala.
Maaf =
Memukul dada.
Maju/ di muka =
Tangan diajukan.
Mahkota =
Membuat lingkaran di kepala.
Makan =
Tiga jari beberapa kali diarahkan ke mulut.
Malaikat =
Tanda “sayap” dan “kudus”.
Malam =
Tanda “buta”.
Mandi =
Tangan berbuat seperti mandi.
Manis =
Telunjuk diletakkan di antara bibir.
Mantol =
Tangan terbuka lalu keduanya mengepal di dada.
Maria =
Tanda ‘ibu’ dan ‘Tuhan’.
Martir =
Tanda ‘kudus’ dan ‘merah’.
Martyrologium =
Tanda “buku” dan “segala orang kudus”.
Mas/ gold =
Tanda ‘besi’ dan ‘kuning’.
Masak =
Jari-jari kedua tangan dipersatukan, lalu digerak-gerakkan ke atas.
Masam =
Tenggorokan digaruk dari dagu ke araj jakun.
Asin =
Tanda ‘garam’.
Masuk =
Telunjuk kanan dimasukkan di antara telunjuk dan jari tengah tangan kiri.
Mati =
Tangan mengepal, sedangkan ibu jarinya tegak ditekankan pada dagu.
Macam =
Tanda “baris”.
Meja =
Tanda ‘kayu’ dan kedua tangan dipersatukan secara horisontal, lalu perlahan-lahan diceraikan.
Menit =
Telunjuk dan ibu jari bergeseran.
Mentega =
Ujung jari-jari tangan kanan diusap-usapkan pada telapak tangan kiri.
Merah =
Ujung telunjuk diletakkan pada bibir.
Mesin =
Tanda “kereta”.
Minyak =
Telunjuk diusapkan di antara kedua bibir.
Minta =
Tangan diletakkan di mulut.
Minum =
Ujung ibu jari ditempatkan di bibir, sedangkan keempat jari lainnya mengepal, tangan digerakkan ke atas sedikit.
Miskin =
Tangan kanan berbuat seperti meminta-minta.
Muda =
Tanda “baru”.
Nama =
Ibu jari dan telunjuk berbuat seperti menulis.
Nasi =
Tanda “benih” dan “putih”.
Natal =
Tanda “hari” dan “Tuhan” dan “anak”.
Perlahan-lahan =
Tanda “halus”.
Perlu =
Tangan kanan menjepit lengan jubah kiri bagian bawah.
Pesta =
Tangan kanan berkali-kali menggergaji pergelangan tangan kiri.
Petani =
Tanda “orang mencangkul”.
Peti =
Kedua tangan merupakan sisi-sisi kotak.
Pecah/ rusak =
Kedua tangan mengepal, lalu melakukan gerakan seperti memecahkan sesuatu.
Pikir =
Tanda “khayal”.
Pilihan/ stem =
Tangan kiri memegang tangan kanan.
Pintu =
Tanda “kayu”.
Pipa =
Ibu jari dan telunjuk melakukan gerakan seperti memegang pipa di muka mulut.
Piring =
Membuat lingkaran dengan telunjuk di tangan kiri yang terbuka, lalu ujung telunjuk diletakkan di tengahnya.
Pisau =
Melalukan gerakan seperti mengiris.
Psalm =
Ibu jari di mulut dan jari-jari lainnya yang terbuka digerak-gerakkan.
Puas =
Tanda “beres”.
Puasa =
Ibu jari dan telunjuk menjepit mulut.
Putih =
Telunjuk dna jari tengah digaruk-garukkan di bawah mulut.
Putus =
Tanda “pecah”.
Rabuk =
Tangan kanan mengepal digosok-gosokkan di pelipis.
Raja =
Tanda “mahkota”.
Rahasia =
Tangan kanan disembunyikan di ketiak kiri.
Rebus =
Tanda “masak”.
Rendah =
Tangan kanan ditempatkan ke bawah rendah-rendah.
Roda =
Kedua ibu jari digerak-gerakkan seperti roda.
Roh=
Tanda “khayal”
Roma =
Tanda “tempat” dan “Paus”.
Roti =
Kedua ibu jari dan telunjuk dipersatukan horisontal.
Rumah =
Jari-jari tangan kanan dan kiri dipersatukan seperti atap.
Rumput =
Kedua tangan terbuka ke bawah, sejajar, digerakkan naik-turun satu persatu.
Sabun =
Tangan mengepal digosok-gosokkan ke pipi.
Sayang =
Telunjuk diusap-usapkan di bawah mata seperti air mata.
Sayap =
Ujung ibu jari diletakkan di sudut kanan mulut dan jari-jari lainnya digerak-gerakkan.
Sayur =
Tanda “minyak”.
Sayuran =
Tanda ‘rumput’ dan ‘hijau’.
Salam/ PF =
Kedua tangan diacungkan dan dilambai-lambaikan.
Salib =
Kedua telunjuk membentuk salib.
Sama =
Kedua telunjuk dipersatukan sejajar lalu digeser-geser.
Sampai =
Ujung jari-jari tangan kanan dan kiri saling bertemu.
Sangat =
Ibu jari digerak-gerakkan di leher bagian atas.
Sapu =
Tangan berbuat seperti menyapu.
Segala/ semua =
Tangan mengepal, tegak, lalu digerak-gerakkan.
Segera/ cepat =
Kedua tangan mengepal saling ditumbukkan.
Selesai =
Kedua telunjuk diketuk-ketukkan pada ujungnya.
Sempit =
Kedua tangan hampir dipersatukan dengan jarak sempit.
Senapan =
Tanda “perang”.
Saringan =
Jari-jari kedua tangan yang terbuka diletakkan secara bersilangan.
Sendok =
Telunjuk dan jari tengah dibawa ke mulut seperti sendok.
Separoh =
Telunjuk kanan membelah telunjuk kiri.
Sepatu =
Tanda “kulit” dan menunjukkan kaki.
Serta/ dengan =
Kedua tangan didekatkan sejajar.
Setan =
Ujung kelingking dititik-titikkan di dahi.
Stempel/ cap =
Tangan berbuat seperti mengecap.
Seterika =
Berbuat seperti menyeterika.
Siang =
Tanda “separuh” dan “hari”.
Siapa =
Mengangkat bahu dan membuat tanda “orang-pater”.
Sikat =
Berbuat seperti menyikat.
Sisi =
Tanda “koor”.
Sopir =
Tanda “orang” dan berbuat seperti menyupir.
Sore =
Telunjuk diletakkan pada mata tertutup.
Suara =
Menjimpit jakun.
Sungut-sungut =
Tangan digaruk-garukkan di pipi. ( = menggerutu )
Surat =
Tangan kanan dan kiri digeser-geserkan pada punggungnya.
Susah =
Tanda “sayang” dan “menangis”.
Susu =
Telunjuk kiri ditarik-tarik seperti memerah susu.
Taat =
Berbuat seperti membuka topi.
Tahbisan =
Berbuat seperti memberkati.
Tahu/ mengerti =
Telunjuk diletakkan di dahi.
Tahun =
Tangan diletakkan di bahu kiri.
Tak/ tidak =
Telunjuk digoyang-goyangkan.
Takut =
Tanda “dingin”.
Tamu =
Tanda “orang”.
Tanah =
Tanda “abu”.
Tanda =
Jari-jari tangan kanan dan kiri digerak-gerakkan.
Tangga =
Kedua tangan digerakkan ke atas satu persatu membentuk tangga.
Tangkap =
Tangan di muka kepala berbuat seperti menangkap.
Tasbeh/ rosario =
Ibu jari dan telunjuk digerak-gerakkan seperti sedang berdoa tasbeh/ rosario.
Tata tertib =
Kelingking digariskan di tangan kiri.
Telat/ kasep =
Telunjuk digarukkan pada hidung.
Telur =
Telunjuk kanan menggaruk bagian dalam telunjuk kiri.
Tembaga =
Tanda “besi” dan “merah”.
Tempat =
Kedua telunjuk membuat lingkaran horisontal.
Tengah =
Tanda “separuh”.
Tentang =
Kedua kepalan tangan ditubrukkan.
Tepung =
Ibu jari dan telunjuk digeser-geserkan.
Terima =
Tanda berbuat seperti menerima.
Terima kasih =
Tanda “minta”.
Tertawa/ senang =
Tanda “kehendak”.
Tesmak/ kacamata =
Telunjuk dan ibu jari merupakan lingkaran yang diletakkan di mata.
Tetapi =
Tanda “tinggal” dan “api”.
Tidur =
Pipi miring diletakkan di tangan kanan.
Tikus =
Tanda “kucing” dan “kecil”.
Timbang =
Kedua tangan terbalik satu persatu naik turun.
Tinggal =
Kedua tangan sejajar menetap.
Tinggi/ besar =
Tangan kanan dinaikkan ke atas.
Tinta =
Tanda “air”, “hitam” atau “merah” dan “tulis”.
Titik =
Telunjuk dititikkan di tangan kiri.
Tolong =
Tanda “layan”.
Tongkat =
Telunjuk diperlihatkan membengkok.
Topi =
Ibu jari, telunjuk dan jari tengah diletakkan di kepala.
Tua =
Tanda “lama”.
Tugas =
Tangan kanan disampirkan pada bahu kiri.
Tuhan =
Tanda “Allah”.
Tukar =
Tanda “lain”.
Tulang relikwi =
Tanda “kulit” dan “cium”.
Tulis =
Berbuat seperti menulis.
Tunggu =
Tanda “tinggal”.
Uang =
Telunjuk dan ibu jari digerakkan di tangan kiri seperti menghitung uang.
Ubah =
Tanda “lain”.
Ubi =
Telunjuk kanan disisir-sisirkan pada telunjuk kiri.
Ular =
Telunjuk digerakkan maju berkelok-kelok.
Umum =
Tanda “segala”.
Ungu =
Telunjuk dan jari tengah diletakkan di atas kepala.
Upacara lit =
Ujung kedua ibu jari dan kelingking bertemu atau membuat huruf L dengan telunjuk/ ibu jari.
Urus/ atur =
Tanda ‘tata tertib’.
Asah/ tak usah =
Tanda “perlu”.
Uskup =
Ibu jari membuat tanda salib di dada.
Waktu =
Kelingking digerak-gerakkan, jari-jari lainnya mengepal.
Wanita =
Telunjuk dan jari tengah digariskan di dahi horisontal.
Warna =
Tanda “cat”.
----------
MONASTERIALES INDICIA
The following is a modern English translation of Monasteriales Indicia, an Anglo-Saxon list of hand gestures used in Benedictine monasteries in order to keep silence.
The text, written in Old English and dating to the 11th century, is preserved in folios 97v-101v of the Cotton Tiberius A.iii manuscript, kept at the British Library.
The complete text is below, with rearranged the items in order to classify them by type.
These are the signs that one should use and earnestly follow with the help of God when silence is to be held in the monastery according to the Rule.
Ecclesiastical Persons
First, the abbot's sign is to set two fingers on your head and at the same time grab your hair.
The deacon's sign is that one should make a motion with one hand hanging, as if to ring a small bell.
To indicate the prior, raise your forefinger over your head, for that is his sign.
This is the steward's sign, for one to twist with his hand as if to unlock a lock.
The sign of the schoolmaster, who cares for the children, is for one to set two fingers on his eyes and raise up his little finger.
The churchwarden's sign is for one to set two fingers on his eyes and make a motion with his hands as if to pull a hanging bell.
If you would indicate something concerning the church, make a motion with your two hands, as if to ring a bell, then set your forefinger to your mouth and afterwards raise it up.
The sign of the bishop is to stroke with a hand on each shoulder downward over your breast in the sign of a cross.
If you would indicate something about a certain monk, whose sign you do not know, then take yourself by your own hood.
The sign for nuns is to set your two forefingers on your forehead, then stroke along your cheeks in the sign of the holy veil.
If you would have a masspriest who is not a monk, then stroke with your forefinger in the shape of a circle and, with your hand outstretched, make a sign as if you were blessing.
When you would have a deacon, stroke in the same manner with your forefinger and make the sign of the cross on your forehead in betokening of the holy gospel.
The sign of an unmarried priest is to stroke as we said before on your cheek with your forefinger.
Books
These are the signs of the books that one shall use at the divine service in church.
When you would like a gradual, move your right hand and crook your thumb, for this is how it is denoted.
If you would like a sacramentary, then move your hand and make a motion as if you were blessing.
The sign of the epistolary is for one to move his hand and make the sign of the cross on his forehead with his thumb, because one reads the word of God there as well as on the Gospel-book.
When you would have a troper, then move your right hand with your right forefinger turned forward toward your breast, as if you were using it.
If you would like an oblong book, extend your left hand and move it, then set your right (hand) over your left arm the same distance as the length of the book.
Liturgical Vestments and Objects
When you would have a superumeral, then stroke with your two forefingers, from the top of your head, underneath your cheeks and down your arms.
If you would have an alb, then move your garment back and forth slightly with your hands.
When you would have a belt, set your hands in front of you with your nails down and stroke to your two hips.
When you would have a stole, put your two hands on your cheeks and then stroke downwards.
If you would have a chasuble, stroke with outspread hands down over your breast.
When you would have a maniple, then stroke with the edge of your right hand over your left.
If you would have the offering, move your vestment back and forth, then raise up your two hands.
The sign of the chalice and the paten is for one to lift up his two hands and make the sign of blessing.
If you would have a sacramental wafer, bend your forefinger to your thumb.
When you would like wine, make a motion with your two fingers as if to remove the spigot from a tun.
If you would like a wine-horn, make a motion with your right forefinger on your left hand, as if you would pull a spigot, then raise your forefinger up to your head.
When you would have a censer, move your hand downwards and move it back and forth, as if swinging.
If you need tapers, blow on your forefinger and raise up your thumb.
If you would have a candlestick, blow on your forefinger and hold your hands locked together as if you had a candlestaff.
If you need a small candle, blow on your forefinger.
When you would like a flat candlestick, stretch out your left hand and set it perpendicular to your right.
Matins
These are the signs of the books that one uses at matins.
If you would have a Bible, move your hand back and forth, raise up your thumb and set your hand flat against your cheek.
When you need a legendary, move your hand back and forth, lay your right forefinger over your hand and lay your hand flat against your cheek.
If you would like some other book, containing a homiliary, then lay your right hand under your cheek and make a cross on your forehead.
When you need a psalter, stroke with your right forefinger on your left hand as if you would hold a large one.
The hymnal's sign is to move your open hand back and forth and raise up the little finger.
When you would have a large cross, lay your finger over your right finger and raise up your thumb.
The sign of the little cross is thus, but also to raise up the little finger.
When you would have a small candlestick, make a motion as we described before and raise up your little finger.
Commands and Requests
If you want to sit in the church because of illness, move your hand downward and with bowed head set your hand on your breast and ask leave for yourself.
If you wish a sitting man to rise, turn your hand and move it up quickly in stages.
If you wish him to sit, then turn it downward and move it down in stages.
If someone offers to a certain brother more of something, of which he has enough, then you turn his open hand down and with your hand stretched out, move it slightly.
If he would like to have what is offered, he should move his hand vertically down and move it slightly outwards in agreement.
If he does not want it, he should also move it slightly forward.
Places and Objects
If you would like to indicate something about the chapterhouse, set your hand on your forehead and bow a little bit as if you would ask forgiveness for yourself.
The sign of the bakehouse is to move your two hands locked together as if you were rolling out dough.
When you would like a small martyrology, move your hand back and forth, then lay your forefinger over your throat and raise up your little finger.
The sign of the Rule is to move your hand back and forth and stroke with your forefinger along your left hand, as if you were ruling.
If you would like a rod, move your fist back and forth as if flogging.
When you would have a whip, move your fist back and forth as we described before, and raise up your two fingers.
When you would have a lamp, raise up your right hand with outspread fingers and puff on your forefinger.
Refectory Objects
If you would indicate something about the refectory, then place your three fingers, as if putting food in your mouth.
When you would like a seat-cover, pluck your own clothes with two fingers, then spread out your hands and move them back and forth, as if to arrange a seat.
If you would like the folding stool for the mealtime reader, or another man, then clasp your hands together and move them the way you do when you fold it.
If you would like a cloth or napkin, set your two hands over your lap and spread them as if you were stretching the corners.
If you need a dish, raise up one hand and spread your fingers.
When you would have a loaf of bread, set your two thumbs together and your two forefingers one against the other.
If you need a knife, cut with one finger over the other as if carving.
If you need a spoon, move your hand as if you were eating with a spoon.
Food
The sign for boiled vegetables is to put one hand down by your side, as if you were scraping vegetables.
When you would like green vegetables, set your finger on your left hand.
If you would like a leek, make a motion with your finger, as if you would bore in on your hand, then move your open hand to your nose, as if you smelled something.
The sign of porridge is to move your fist back and forth as if stirring porridge.
When you would like pepper, shake with one forefinger over the other.
If you would like beans, set your forefinger up on your thumb's first joint.
The sign of cherries is to set the thumb on the front part of the little finger.
When you would like cheese, set your two hands flat together, as if pressing.
If you would like butter or fat, stroke with your three fingers on the inside of your hand.
If you would like milk, stroke your left finger with your right hand as if you were milking.
If you need eggs, scrape with your finger up on your left thumb.
When you would like salt, bring down your hand with three fingers together, as if you were salting something.
The sign of honey is to set your finger on your tongue.
When you would like fish, move your hand back and forth the way a fish moves its tail, when it swims.
The sign for an eel is to move the right hand, set it over the left arm and with the left hand stretched out, strike across it with the right, as if mincing an eel in order to stick it on a spit.
If you would like an oyster, close your left hand as if you had an oyster in your hand, and make a motion with a knife or finger as if to wrench open the oyster.
When you would like an apple, bend your right thumb to the middle of your hand, seize it with your finger(s) and raise up your fist.
If you would like a pear, make a sign with your fist as we said above, then join your fingers together the length of your hand.
When you would have a plum, close your left hand in the same manner and stroke along your fist with your forefinger.
The sign for cherries is to set your left thumb on your little fingertip, then pinch it with your right hand.
If you would like a sloe, set your thumb the same way and push your forefinger into your left hand to indicate the thorn that it grows on.
When you would have saltflesh for any reason, with your right hand pinch the lower part of your left, where the flesh is thickest and make a motion with your three fingers, as if you were salting.
When you want a cup or mug, place your hand downwards and spread your fingers.
When you would like a lid, lift your left hand closed together and then the right arched over the left as if covering a cup.
The sign for a large goblet is to raise up your right hand, spread your fingers, then lay your forefinger to your cheek and raise up your thumb.
If you would like a little drinking cup, raise up your three fingers, then lay your right forefinger to your cheek and raise up your little finger.
When you wish to drink, lay your forefinger along your mouth.
If you would like strained wine, make a motion with your right forefinger on your left hand, as if you would put a tap into a cask, then move your forefinger down and pinch it with your two fingers as if to wipe off a drop.
The sign for beer is to knead one hand on the other.
When you would like barm, move your fist as if you would pound plants and lay your forefinger to your lips.
Sleep
If you would indicate something about the dormitory, lay your right hand under your right cheek.
When you need a lamp, turn your forefinger to the ground, but also guard it and wet (it) in the middle with your forefinger, as if you would set a wick.
When you would have bedclothes, move your robe back and forth and lay your hand to your cheek.
The sign of a pillow is to stroke with your forefinger inward on your left hand in the sign of a feather and lay (it) to your ear.
Hygiene and Clothing
The sign of the latrine is to set your right hand flat over your stomach and use the sign for asking leave of your elder, if you want to go thither.
If you would indicate something about the bathhouse, stroke with your right hand open over your breast and your stomach as if washing yourself.
When you would like to ask in signs if you might wash your head, stroke with an open hand on your hair, as if washing it.
If you need water, make a motion as if washing your hands.
When you would like soap, rub your hands together.
The sign of the razor is to put one forefinger over the other, as if carving and then to stroke your cheek with your finger as if shaving.
When you would like a comb, stroke with your fingers on your hair downwards, as if combing yourself.
If you would like an undergarment, take your sleeve in your hand and move it back and forth.
The sign of breeches is to stroke with your two hands up on your thigh.
When you would have a leg band, put your two hands around your shin.
If you would like hose, stroke upward on your shin with your two hands.
The sign for a fur garment is to stretch forth your left sleeve and pluck the inside with your left hand.
When you would like a cowl, move your sleeve back and forth and seize your hood.
If you need a short cloak to obey some order, then stroke edgewise with each hand over the other arm around the outside, where the short cloak's sleeves end.
When you would like a glove, stroke one hand along the other with an open palm.
If you would like slippers, set your forefinger upon your foot and stroke on both sides of your foot, in the manner which they are shaped.
The sign of socks is to set your forefinger in the same manner and raise up your thumb.
Then the sign of shoes is to set your forefinger right on your foot without any other signing.
The sign of shears is to move the forefinger and middle finger of your right hand on some cloth, as if to cut it with shears, or around your head as if barbering.
If you need a needle, fold the hem of your left sleeve in your right hand over your left forefinger and make a motion over it with three fingers as if sewing.
Writing
When you would like a stylus, set your three fingers together, as if you had a stylus, and move them as if you were writing, then beckon with your forefinger.
If you would like a small wax tablet, stretch out your two hands, set them down together and fold them up as if folding a wax tablet.
When you would like a large wax tablet, stroke with two fingers on the front of your breast as if you were erasing, then stroke your arm and set your hand on your left elbow.
If you have no ruling stick, stretch your hand upward and stroke with your forefinger along your left hand as if you were ruling.
When you would like an inkstand, raise three fingers as if to dip and move your hand down and clench your fingers, as if you were picking up an inkstand.
The sign of a quill is to join your three fingers together as if you were holding a quill, then dip it, and move your fingers as if writing.
People - Non-Ecclesiastical
The sign of the king is to move your hand down, then seize your head on top with all your fingers in the shape of a crown.
The sign of the king's wife is to stretch your hand over your head and then set it on your head.
The sign of a layman is to take yourself with both hands by the chin as if taking yourself by the beard.
The sign of a laywoman is to move your fingers across your forehead from one ear to the other in the sign of a headband.

SANTO GREGORIUS GRASSI DKK. (+1900), Martir Perang Boxer Tiongkok



SENSUS CATHOLICUS:
SANTO GREGORIUS GRASSI DKK. (+1900), Martir Perang Boxer Tiongkok
Peringatan: 9 Juli
Pada tanggal 1 Oktober Tahun Yubileum 2000, Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasikan 120 orang menjadi “orang-orang kudus martir Tiongkok”. Sebagai kelompok, boleh juga disebut “Santo Augustinus Zhao Rong (+1815) dan 119 kawan-kawannya”.
Sebanyak 87 orang adalah orang-orang Tionghoa Katolik dan 33 orang adalah misionaris dari negeri-negeri barat. Mereka mengalami kemartiran dalam kurun waktu antara abad ke-7 (1648) sampai 1930.
Mereka menjadi martir karena karya pelayanan mereka, dan dalam sejumlah kasus karena menolak untuk murtad dari iman-kepercayaan Kristiani mereka.
Banyak dari mereka adalah martir Perang Boxer (Pemberontakan Boxer) di mana berbagai pihak (termasuk para petani) dalam masyarakat di negeri itu yang membenci orang-orang asing membantai sekitar 30.000 orang Tionghoa Kristiani, bersama para misionaris dan orang-orang asing lainnya.
Gereja memperingati (peringatan falkutatif) para martir Tiongkok ini setiap tanggal 9 Juli.
Pada tanggal 8 Juli, secara khusus para anggota keluarga besar Fransiskan memperingati (peringatan wajib) Santo Gregorius Grassi dkk, para martir Perang Boxer di Tiongkok.
Beberapa dokumen sejarah yang dapat dipercaya memberikan bukti adanya kebencian anti-Kristiani yang menyulut pembantaian para misionaris dan orang-orang Tionghoa yang sudah menjadi Kristiani.
Salah seorang promotor utama dari gerakan boxer adalah gubernur Yu Xien yang bertempat tinggal di Daiyuanfu, Shanxi.
Pada malam tanggal 5 Juli, pasukan serdadu Yu Xien mendatangi pusat Misi Fransiskan dan kemudian menangkap dua orang uskup:
Mgr. Gregorius Grassi, Vikaris Apostolik Shanzi Utara dan ko-adjutornya Mgr. Fransiskus Fogolla, dua orang imam dan seorang bruder, tujuh orang suster FMM dan delapan orang awam Kristiani yang bekerja di pusat Misi Fransiskan itu. Disitu juga tempat sebuah seminari dan panti asuhan yang dikelola oleh para Suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) yang baru datang setahun sebelumnya.
Pada waktu sudah berada di tahanan penjara, ada tiga orang awam yang datang bergabung secara sukarela.
Jadi, total 26 orang yang terdiri dari:
5 (lima) orang Saudara Dina OFM, yaitu:
(1) Mgr. Gregorius Grassi OFM,
(2) Mgr. Fransiskus Fogolla OFM,
(3) Elias Facchini OFM – Imam,
(4) Theodoric Balat OFM – Imam,
(5) Andreas Bauer OFM – Bruder;
7 (tujuh) orang suster FMM, yaitu:
(1) Sr. Maria Hermina FMM,
(2) Sr. Mariana Giuliani FMM,
(3) Sr. Maria Klara Clelia Nanetti FMM,
(4) Sr. Maria dari Kelahiran Suci [Jean Marie Kerguin] FMM,
(5) Sr. Maria dari S. Yustus Anna Moreau FMM, (6) Sr. Maria Adolfin Anna Dierk FMM,
(7) Sr. Maria Amandina Paula Jeuris FMM;
11 (sebelas) orang Fransiskan sekular, yaitu:
(1) Yohanes Zhang Huan, siswa seminari – OFS,
(2) Patrick Dong Bodi, siswa seminari – OFS, (3) Yohanes Wang Rui, siswa seminari – OFS, (4) Filipus Zhang Zhihe, siswa seminari – OFS, (5) Yohanes Zhang Jingguang, siswa seminari – OFS,
(6) Tomas Shen Jihe OFS – pelayan rumahtangga.
(7) Simon Qin Cunfu OFS – katekis,
(8) Petrus Wu Anbang OFS,
(9) Fransiskus Zhang Rong OFS – petani,
(10) Matius Feng De OFS,
(11) Petrus Zhang Banniu OFS, pekerja buruh;
3 (tiga orang) awam non-Fransiskan, yaitu:
(1) Yakobus Yan Guodong, petani,
(2) Yakobus Zhao Quenzin, pelayan rumahtangga
(3) Petrus Wang Erman, juru masak.
Empat hari kemudian, tanggal 9 Juli 1900, mereka semua digiring ke tribunal Gubernur Yu Xien, beberapa di antara mereka dipukuli dan disayat-sayat dengan pedang sepanjang perjalanan dari penjara menuju tribunal.
Gubernur Yu Xien kemudian memerintahkan untuk membunuh mereka di tempat. Serta merta pedang para serdadu pun menghabiskan para martir itu.
Itulah hari kemartiran ke-26 para murid Yesus di Daiyuanfu. Ada orang Italia, Perancis, Alsace-Lorraine, Belgia, Belanda dan Tiongkok; ada yang sudah berumur dan ada pula yang relatif masih muda usia.
Mereka dibeatifikasikan pada tanggal 3 Januari 1943 oleh Paus Pius XII.
Bersama-sama dengan para martir Daiyuanfu, dibeatifikasikan juga tiga orang Saudara Dina (ketiga-tiganya berasal dari Italia), yang berkarya di Provinsi Hunan bagian selatan, yaitu:
(1) Antonius Fantosati, OFM uskup yang dibunuh pada tanggal 7 Juli,
(2) Yosef Maria Gambaro, Imam yang dibunuh pada tanggal 7 Juli, dalam perjalanan mereka kembali ke Hengcow
(3) Cesidio Giacomantonio OFM, Imam muda yang dibunuh dengan hukuman bakar secara perlahan-lahan pada tanggal 4 Juli di Hengcow).
Pemberontakan Boxer sendiri dimulai di Shandong kemudian meluas ke Tscheli tenggara, melalui Shanxi dan Hunan. Tcheli pada waktu itu adalah Vikariat Apostolik Xianxian yang dikelola oleh para misionaris Yesuit.
Pada waktu sampai ke Tcheli, telah beribu-ribu umat Kristiani menjadi martir Kristus di Tiongkok.
Yang tercatat mati terbunuh di Tscheli dan sekitarnya paling sedikit ada 52 orang awam, juga ada 4 (empat) orang Yesuit dari negeri Perancis, yaitu:
Leo Mangin SJ (Imam 59 th.)
Paulus Denn (Imam 60 th.)
Rémy Isoré SJ (Imam 61 th.)
Modeste Andlauer SJ (Imam).
KEMARTIRAN
Gereja dibangun atas para martir Kristus. Beberapa ratus tahun pertama, sejarah Gereja penuh dihiasi dengan nama-nama mereka. Mereka adalah saksi-saksi dari sabda Tuhan dan Juruselamat kita: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat 16:26).
Untuk menyelamatkan nyawa/jiwa kita agar dapat mengalami hidup kekal di surga bersama-Nya, kita pun harus siap untuk mengorbankan hidup kita, daripada memisahkan diri dari Allah dan Iman-kepercayaan kita.
Santo Paulus menulis:
“Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita” (1Tm 2:11-12).
Kemartiran adalah rahmat yang besar. Tidak jarang emosi kita terbawa manakala kita mendengar cerita tentang penganiayaan kejam yang dilakukan atas para martir.
Kita bertanya,
“Bagaimana mereka bisa tahan siksaan-siksaan kejam seperti itu?”
Yang jelas kita tidak seharusnya merasa takut karena Allah tidak pernah menuntut hal yang tidak mungkin dari diri kita.
Di lain pihak, apabila saat yang menentukan itu tiba, Allah akan mengangkat jiwa orang yang bersangkutan kepada suatu tingkat cintakasih yang sedemikian, sehingga memungkinkanya berseru bersama Santo Paulus: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
Seperti ada tertulis:
‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan’ (Mzm 44:23). Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melaluji Dia yang telah mengasihi kita” (Rm 8:35-37). Dengan demikian, tidak ada alasanlah bagi para murid Kristus untuk menjadi takut akan kemartiran ini.
Kemartiran memberikan kepada kita imbalan yang berlimpah-limpah. Yesus sendiri pernah bersabda: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).
Oleh karena itu mengorbankan nyawa kita demi Sahabat kita yang bernama Yesus, akan menghapus dosa-dosa kita dan menghantar kita ke surga.
Inilah kemartiran yang sejati dari umat Kristiani, yang masih terus terjadi setiap waktu sampai hari ini di berbagai tempat di dunia ini.
Sebagai penutup, baiklah saya mengutip tiga ayat dari ‘Ucapan Bahagia’ Yesus:
Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu
(Mat 5:10-12).

Kesembilan Belas Martir kota Gorkum 9 Juli.



SENSUS CATHOLICUS.
Kesembilan Belas Martir kota Gorkum
9 Juli.
Pada tanggal 26 Juni 1572 kota Gorkum jatuh ke tangan para bajak laut Belanda yang beragama Protestan.
Penduduk memang mendapat jaminan keselamatan dan keamanan hidupnya, namun para imam dan biarawan tahu dan insyaf bahwa mereka akan mengalami banyak hambatan dalam karyanya, bahkan terancam juga hidup mereka.
Untuk itu mereka seyogianya bersedia dan menanggung segala akibat buruk dari pendudukan itu. Mereka menyiapkan batin dengan mengaku dosa-dosanya dan menerima Komuni Kudus.
Betullah dugaan mereka. Para bajak laut itu segera menangkap dan memenjarakan mereka. Selama delapan hari mereka diadili dan disiksa.
Di antara mereka terdapat dua orang Pastor Gorkum, yakni Pater Leonardus Vechel dan Pater Nikolas Poppel. Bersama mereka ada juga 9 orang imam dan 2 orang bruder Ordo Saudara-saudara Dina Santo Fransiskus, di bawah pimpinan Pater Nikolas Pieck.
Beberapa hari kemudian ditangkap lagi Pastor Joanes, seorang imam Dominikan disebuah desa tak jauh dari Gorkum, seorang imam dan dua orang bruder Tarekat Santo Norbertus.
Pada tanggal 6 Juli para rohaniwan itu dibawa dengan kapal ke kota Brielle. Sepanjang perjalanan mereka terus disiksa dan tidak diberi makan.
Keesokan harinya kapal itu berlabuh di pelabuhan Brielle. Lumey, kepala komplotan bajak laut itu datang menjemput mereka di pelabuhan.
Mereka diolok-olok dan diarak menuju tiang gantungan yang sudah disiapkan di pasar. Mereka ditanyai perihal ketaatannya kepada Sri Paus di Roma dan imannya akan kehadiran Kristus di dalam Sakramen MahaKudus.
Atas pertanyaan Lumey, seorang Bruder Fransiskan dengan tegas menjawab: "Saya meyakini semua yang diajarkan Gereja Katolik dan dipercayai oleh pemimpin biaraku." Pater Nikolas Pieck, pemimpin biara Fransiskan dibebaskan karena keseganan para bajak laut itu terhadapnya. Tetapi Pater Nikolas sendiri tidak tega hati membiarkan rekan-rekannya disiksa. Ia menolak meninggalkan saudara-saudaranya sendirian menanggung penderitaan karena imannya.
Lumey membujuk mereka untuk meninggalkan imannya dan menyangkal kepemimpinan Sri Paus atas Gereja. Namun usahanya ini sia-sia saja. Para martir itu dengan gigih mempertahankan imannya dan rela mati demi imannya. Lumey yang sudah hilang kesabarannya itu segera memerintahkan anak buahnya untuk menggantung para martir itu ditiang gantungan.
Seorang imam tua yang sudah berusia 70 tahun mendapat giliran terakhir. Para penjahat itu bimbang dan bermaksud melepaskan imam tua itu. Tetapi imam tua itu dengan senang hati menyerahkan diri untuk digantung agar dapat mati bersama saudara-saudaranya yang lain.
Demikianlah kesembilan belas martir itu menjadi korban kebencian kaum Protestan Calvinis Belanda pada tanggal 9 Juli 1672, karena imannya akan kehadiran Kristus dalam Sakramen MahaKudus dan kesetiannya kepada Sri Paus di Roma sebagai pemimpin Gereja.
Para Martir Gorkum doakanlah kami
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

Pentahtaan Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang Tak Bernoda di Rumah



SENSUS CATHOLICUS:
Pentahtaan Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang Tak Bernoda di Rumah
A.
Apa maksud pentahtaan Hati Yesus dan Hati Maria?
Pentahtaan Hati Kudus Yesus di tengah keluarga adalah sesuai dengan kehendak Yesus yang berkata, “Aku akan meraja melalui Hati-Ku”. Pentahtaan ini dimaksudkan untuk menempatkan Tuhan Yesus sebagai Raja yang memerintah keluarga tersebut atas dasar kasih.
Pentahtaan ini dimulai dengan sebuah upacara sederhana, yang dipimpin oleh imam, dan dihadiri oleh seluruh anggota keluarga. Kepala keluarga menempatkan gambar atau patung Hati Kudus Yesus di tempat terhormat, di ruang utama di rumah, seperti seolah di tahta.
Setelah itu, diikuti oleh doa penyerahan/ konsekrasi keluarga kepada Hati Kudus Yesus. Dengan demikian mereka berjanji untuk hidup seolah Hati Kudus Yesus secara nyata sungguh tinggal di tengah-tengah mereka seperti ketika Ia hidup di Nazaret; dan memperlakukan Dia sebagai anggota istimewa dalam keluarga. Demikian pula, Bunda Maria yang selalu hadir bersama Tuhan Yesus.
B.
Apakah pentahtaan ini sudah merangkum semua devosi?
Belum. Upacara ini hanya awal dari suatu kehidupan baru yang didasari kasih dan ketaatan kepada perintah Kristus dan Gereja; kehidupan doa terutama doa bersama sebagai keluarga di hadapan gambar Hati Kudus Yesus ini, doa Rosario bersama, kehidupan yang Ekaristis, kerap menerima Komuni dalam perayaan Ekaristi, bahkan setiap hari, sehingga terhubunglah tempat suci di gereja dan di rumah; dan terakhir, kehidupan pertobatan Kristiani, dengan menolak gaya hidup pagan, dan dengan berbuat silih bagi dosa-dosa, secara khusus dosa menentang kemurnian, seperti perselingkuhan, dosa-dosa seksual, penggunaan kontrasepsi, dst.
C.
Bagaimana pentahtaan ini akan memulihkan keluarga kepada Kristus?
Dalam pentahtaan ini, keluarga menempatkan Kristus dan kepentingan-Nya di tempat pertama. Maka Hati Kudus Yesus pun memperhatikan kepentingan keluarga tersebut. Tuhan Yesus berjanji akan memberkati dan menguduskan keluarga-keluarga yang mentahtakan-Nya sebagai Raja.
Ia meminta St. Margaret Maria yang kepadanya Ia telah menyatakan Hati Kudus-Nya agar Ia diperbolehkan untk meraja di rumah-rumah umat-Nya, agar Ia dapat secara resmi diterima sebagai Raja dan Sahabat, dan agar Hati Kudus-Nya dihormati dan dicintai.
“Aku akan memberikan damai di rumah mereka. Aku akan memberi mereka semua rahmat yang diperlukan bagi hidup mereka; Aku akan menghibur mereka dalam kesusahan mereka; Aku akan memberkati setiap usaha mereka.” Ini adalah cara yang dipilih oleh Tuhan Yesus sendiri untuk memulihkan hak-hak-Nya sebagai Raja atas keluarga dan melalui keluarga-keluarga, atas masyarakat itu sendiri.
D.
Apakah pentahtaan Hati Kudus Yesus telah disetujui?
Ya. Pertama oleh Hati Kudus Yesus sendiri, yang terlihat dari banyaknya pertobatan yang diakibatkannya. St. Pius X menyebut Pentahtaan ini sebagai karya penyelamatan masyarakat. Paus Benediktus XV memuji Fr. Mateo, yang mendirikan tradisi ini: “Tak ada yang lebih baik daripada usahamu.”
Paus XI memberkati karya ini berkali-kali baik secara publik maupun pribadi. Demikian pula Paus Pius XII menulis kepada Fr. Mateo agar terus melanjutkan karyanya, “Pentahtaan yang sangat cocok untuk mengembangkan merajanya cinta dan belas kasih Hati Kudus Yesus dalam keluarga.”
E.
Apa yang harus dilakukan untuk mentahtakan Hati Kudus Yesus dalam rumahku?
Pertama, ketahuilah apakah Pentahtaan itu dan mengapa itu penting. Juga penting agar imam dapat memimpin upacara tersebut, walaupun hal itu tidak esensial untuk memperoleh indulgensi. Untuk alasan-alasan yang serius, ayah atau seorang yang lain dapat memimpin doa-doanya.
Jika memungkinkan, dapat dipersembahkan Misa Kudus di pagi hari untuk intensi agar Hati Kudus Yesus meraja di rumah Anda, dan sebagai tanda kasih dan silih kepada Hati Kudus Yesus. Seluruh keluarga hendaknya menerima Komuni dalam Misa ini, atau di Misa yang lain.
Tempatkanlah gambar atau patung Hati Kudus Yesus [dan Hati Maria yang tak bernoda]. Di bawah gambar atau patung itu, persiapkanlah semacam “tahta” atau “altar” yaitu semacam meja yang diberi taplak putih, dengan lilin dan bunga.
Sebelum upacara, gambar atau patung dan air suci ditempatkan di meja kecil dekat “tahta” tersebut. Undanglah kerabat atau sahabat untuk hadir, dan dengan demikian Anda telah menjadi “rasul bagi Hati Kudus Yesus”. Dapat disediakan hidangan setelah upacara, anak-anak semua diundang hadir. Jadikanlah hari tersebut sebagai hari yang istimewa bagi seluruh keluarga, suatu peristiwa untuk selalu dikenang.
Adalah paling cocok, jika sebagai pasangan suami istri yang baru menikah untuk memulai kehidupan rumah tangga mereka dengan mentahtakan Hati Kudus Yesus di rumah mereka yang baru.
1.
Persiapan Pentahtaan.
Pilihlah hari Pentahtaan yang mempunyai arti penting bagi keluarga (misalnya hari ulang tahun perkawinan) atau pesta liturgis yang sesuai, atau suatu hari dimana imam dapat hadir, jika mungkin. Semakin baik dan serius persiapan Pentahtaan ini diadakan, semakin besar rahmat yang dapat diperoleh dari peristiwa tersebut. Persiapan dapat dilakukan selama tiga hari (triduum) atau sembilan hari (novena).
2.
Doa persiapan Pentahtaan.
Hati Kudus Yesus & Hati Maria yg tak bernoda
O Hati Yesus yang Ilahi, datang dan tinggallah di antara kami,
sebab kami mengasihi-Mu.
Kunjungilah rumah kami
seperti dulu Engkau mendatangi sahabat-sahabat-Mu
di Kana, Betania, rumah Zakeus pemungut cukai.
Kami ingin menempatkan keluarga kami
dalam pemeliharaan-Mu
dan bawalah dalam kesatuan yang intim denganMu,
O Hati Kudus Yesus,
Engkaulah Sahabat kami yang paling setia.
Tak seorangpun yang pernah mengasihi kami
seperti yang telah Kau lakukan.
Dan kami ingin mengasihi Engkau,
demi mereka yang tidak mengasihi Engkau,
sebab Engkaulah Tuhan dan Penyelamat kami.
Engkau adalah juga Tuhan dan Raja kami.
Sebab ada banyak cemooh,
kami ingin memohon kekuatan dari-Mu atas keluarga kami.
Jadikanlah rumah kami sebagai milik-Mu,
di mana kami sediakan tahta
sebagai tempat kehormatan bagi-Mu.
Berilah agar hari Pentahtaan
menjadi bagi keluarga kami dan bagi Engkau,
hari yang penuh sukacita,
dan awal hidup kami yang sungguh
dalam ketaatan dan kesatuan yang intim dengan-Mu.
Semua pikiran dan tindakan kami
haruslah sesuai dengan Hukum-Mu yang kudus.
Kami hendak membuang cinta diri yang tak teratur
dan kami mau mengasihi sesama kami
seperti Engkau telah mengasihi kami dan terus mengasihi kami.
Hidup di dunia yang, di banyak tempat
telah menjadi pagan kembali dan tak lagi mengenal Engkau,
O Hati Yesus yang Ilahi,
kami mohon kehadiran-Mu yang rahim,
belas kasih seperti yang dimiliki jemaat perdana,
para rasul dan martir.
Berilah agar melalui rumah tangga ini
yang ingin menjadi milik-Mu sepenuhnya,
keluarga-keluarga lain dapat memeluk kasih-Mu
dan dengan demikian, dari keluarga ke keluarga,
seluruh dunia akan tunduk pada Kuasa-Mu.
O Hati Maria yang tak bernoda,
teladan sempurna dari kesetiaan
kepada Tuhan kita dan kesatuan dengan-Nya,
perluaslah dan kuatkanlah,
dalam hati kami dan keluarga kami,
kemenangan cinta kasih dan kemenangan Hati Kudus Yesus.
Amin.
Litani Hati Kudus Yesus
Tuhan kasihanilah kami
Tuhan kasihanilah kami
Kristus kasihanilah kami
Kristus kasihanilah kami
Tuhan kasihanilah kami; Kristus dengarkanlah kami
Kristus kabulkanlah doa kami
Allah Bapa di surga, kasihanilah kami.
Allah Putra, Penebus dunia,
Allah Roh Kudus,
Allah Tritunggal Mahakudus, Tuhan Yang Maha Esa,
Hati Yesus yang Mahakudus,
Hati Yesus Putra Bapa kekal,
Hati Yesus yang diwujudkan oleh Roh Kudus dalam ribaan Bunda Perawan,
Hati Yesus yang dipersatukan dengan Sabda Allah dalam satu wujud,
Hati Yesus yang mulia tak terbatas,
Hati Yesus Bait Kudus Allah,
Hati Yesus Kemah Allah dan Pintu Surga,
Hati Yesus Perapian Cinta Kasih yang bernyala-nyala,
Hati Yesus Perbendaharaan Keadilan dan Cinta Kasih,
Hati Yesus Lubuk penuh keutamaan,
Hati Yesus amat patut dipuji-puji,
Hati Yesus Raja dan pusat segala hati,
Hati Yesus tempat semua harta kebijaksanaan dan pengetahuan,
Hati Yesus tempat tinggal keallahan seluruhnya,
Hati Yesus yang berkenan kepada Bapa,
Hati Yesus yang kaya raya dan murah hati kepada kami,
Hati Yesus kerinduan bukit-bukit yang kekal,
Hati Yesus yang murah hati bagi semua orang yang berseru kepada-Mu,
Hati Yesus sumber kehidupan dan kesucian,
Hati Yesus kurban pelunas dosa kami,
Hati Yesus yang ditimpa penghinaan,
Hati Yesus yang taat sampai mati,
Hati Yesus yang tertusuk dengan tombak,
Hati Yesus sumber segala penghiburan,
Hati Yesus kehidupan dan kebangkitan kami,
Hati Yesus pokok damai dan pemulihan kami,
Hati Yesus kurban untuk orang berdosa,
Hati Yesus keselamatan bagi orang yang berharap kepada-Mu,
Hati Yesus pengharapan orang yang meninggal dalam Engkau,
Hati Yesus kesukaan orang kudus,
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
sayangilah kami, ya Tuhan.
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
kasihanilah kami.
Yesus yang lembut dan murah hati,
jadikanlah hati kami seperti hati-Mu.
Marilah berdoa. (hening)
Allah yang Mahakuasa dan kekal, terimalah segala pujian dan penghapusan dosa yang dipersembahkan Hati Yesus kepada-Mu atas nama semua orang berdosa. Sudilah Engkau mengampuni dosa-dosa umat-Mu, yang memohon belas kasih-Mu dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami, yang bersatu dengan Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin
Litani Perawan Maria yang Terberkati
Tuhan, kasihanilah kami.
Kristus, kasihanilah kami.
Tuhan, kasihanilah kami; Kristus, dengarkanlah kami.
Kristus, kabulkanlah doa kami.
Allah Bapa di surga, kasihanilah kami.
Allah Putra, Penebus dunia,
Allah Roh Kudus,
Allah Tritunggal Kudus,
Tuhan Yang Mahaesa,
Santa Maria, doakanlah kami.
Santa Bunda Allah,
Santa Perawan termulia,
Bunda Kristus,
Bunda Gereja,
Bunda rahmat ilahi,
Bunda yang tersuci,
Bunda yang termurni,
Bunda yang tetap perawan,
Bunda yang tak bercela,
Bunda yang patut dicintai,
Bunda yang patut dikagumi,
Bunda penasihat yang baik,
Bunda Pencipta,
Bunda Penebus,
Perawan yang amat bijaksana,
Perawan yang harus dihormati,
Perawan yang harus dipuji,
Perawan yang berkuasa,
Perawan yang murah hati,
Perawan yang setia,
Cermin kekudusan, doakanlah kami.
Takhta kebijaksanaan,
Pohon sukacita kami,
Bejana rohani,
Bejana yang patut dihormati,
Bejana kebaktian yang utama,
Bunga mawar yang gaib,
Benteng Daud,
Benteng gading,
Rumah kencana,
Tabut perjanjian,
Pintu surga,
Bintang Timur,
Keselamatan orang sakit,
Perlindungan orang berdosa,
Penghibur orang berdukacita,
Pertolongan orang kristen,
Ratu Para malaikat,
Ratu Para bapa-bangsa,
Ratu Para nabi
Ratu Para rasul,
Ratu Para saksi iman,
Ratu Para pengaku iman,
Ratu Para perawan,
Ratu Para orang kudus,
Ratu yang dikandung tanpa dosa,
Ratu yang diangkat ke surga,
Ratu rosario yang amat suci,
Ratu pencinta damai,
Anakdomba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia, sayangilah kami.
Anakdomba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia, kabulkanlah doa kami.
Anakdomba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia, kasihanilah kami.
Selama Masa Adven:
Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan,
bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.
Marilah kita berdoa. (Hening) Ya Allah, dengan kabar malaikat, Engkau menghendaki sabda-Mu menjelma menjadi manusia dengan perantaraan Bunda Maria. Kami mohon, agarkami sungguh percaya, bahwaYesus Kristus yang akan datang sebagai manusia menjadi pengantara kami kepada-Mu. Dialah Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. (Amin.)
Dari awal Masa Natal sampai 2 Februari:
Sabda sudah menjadi manusia,
dan tinggal di antara kita.
Marilah kita berdoa. (Hening)
Ya Allah, Engkau telah mengutus Putra-Mu ke dunia, yang dilahirkan dengan perantaraan Bunda Maria yang tetap perawan. Maka kami mohon, agar kami Kauperkenankan ikut menik­mati karya keselamatan Putra-Mu itu, kini dan sepan­jang masaa. (Amin.)
Dari 2 Februari sampai Hari Raya Paskah; dan sesudah Masa Paskah sampai Adven:
Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah,
supaya kami dapat menikmati janji Kristus.
Marilah kita berdoa. (Hening)
Ya Allah, kami hamba-Mu berdoa kepada-Mu, semoga oleh karena belas kasih-Mu kami memperoleh keselamatan badan dan jiwa, serta karena doa Santa Perawan Maria, kami terhindar dari kesusahan dunia ini dan dapat merasakan kebahagiaan kekal di surga. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. (Amin.)
Selama Masa Paskah:
Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya!
Sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluya!
Marilah kita berdoa. (Hening)
Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra­Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon: Perke­nankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal karena doa Santa Perawan Maria. Demi Kristus, peng­antara kami. (Amin.)
3.
Upacara Pentahtaan
Disarankan agar diadakan Misa untuk intensi keluarga tersebut di hari Pentahtaan itu, atau setidaknya keluarga menghadiri Misa bersama sebagai satu keluarga dan menerima Komuni kudus setidaknya di hari Minggu sebelum hari pentahtaan. Persiapkan “tahta/ altar” atau berupa meja dengan taplak putih. Gambar atau patung diletakkan di meja kecil, juga diberi taplak putih dengan lilin dan bunga. Disediakan juga botol air suci.
4.
Pemberkatan Rumah.
Pada waktu yang ditentukan, orangtua, anak-anak dan para sahabat berkumpul di ruang utama rumah untuk upacara. Kalau rumah belum diberkati, imam memberkatinya terlebih dahulu.
I. Pertolongan kami adalah dalam nama Tuhan
U. yang menciptakan langit dan bumi.
I. Tuhan sertamu.
U. Dan bersama rohmu.
Marilah berdoa
O Tuhan Allah yang mahakuasa, berkatilah rumah ini. Semoga di dalamnya ada kesehatan, kemurnian, kemenangan atas dosa, kekuatan, kerendahan hati, kebaikan hari dan kemurahan hati, ketaatan penuh terhadap hukum-Mu dan rasa syukur kepada Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Dan semoga berkat ini tetap tinggal atas rumah ini dan atas orang-orang yang hidup di sini, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Pemberkatan gambar Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang tak bernoda
I. Pertolongan kami adalah dalam nama Tuhan
U. Yang menciptakan langit dan bumi.
I. Tuhan sertamu.
U. Dan bersama rohmu.
Marilah berdoa:
Allah yang mahakuasa dan kekal, Engkau tidak melarang kami untuk menggambarkan para orang kudus-Mu dengan patung atau lukisan supaya setiap kali kami memandang mereka dengan mata jasmani, kami dapat merenungkan kekudusan mereka dengan mata hati kami dan dipimpin untuk meniru perbuatan mereka.
Dalam kebaikan-Mu, kami mohon kepada-Mu untuk memberkati dan menguduskan gambar-gambar (patung-patung) yang dimaksudkan untuk menghormati dan mengingatkan akan Hati yang Mahakudus dari Putra-Mu yang Tunggal, Tuhan kami Yesus Kristus dan Hati Maria yang tak bernoda, Bunda-Nya yang tersuci.
Semoga semua orang yang dalam kehadiran Mereka merendahkan diri untuk melayani dan menghormati Putra-Mu yang tunggal, Tuhan kami Yesus Kristus dan Perawan Maria yang terberkati, oleh jasa-jasa dan doa perantaraan Mereka, memperoleh daripada-Mu, rahmat dalam hidup sekarang ini dan kemuliaan kekal dalam hidup yang akan datang. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Lalu imam memerciki gambar-gambar/ patung-patung dengan air suci.
5.
Pentahtaan gambar-gambar.
Lalu kepala keluarga menempatkan gambar/ patung Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang tak bernoda di tempat terhormat (di “altar” tersebut yang sudah dipersiapkan), untuk memberikan penghormatan kepada keduanya.
6.
Pengucapan Syahadat.
Setelah pemberkatan, untuk menyatakan iman secara eksplisit, seluruh keluarga dan semua yang hadir mengucapkan syahadat, sambil berdiri.
Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa
Pencipta langit dan bumi;
Dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal,
Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria,
Yang menderita sengsara, dalam pemerintahan Pontius Pilatus,
Disalibkan, wafat dan dimakamkan,
Yang turun ke tempat penantian,
Pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati,
Yang naik ke Surga,
duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa,
Dari situ Ia akan mengadili orang yang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja Katolik yang kudus,
Persekutuan para kudus,
Pengampunan dosa,
Kebangkitan badan,
Kehidupan kekal,
Amin.
7.
Khotbah Imam.
Semua yang hadir duduk untuk mendengarkan khotbah imam. Ia mengingatkan:
– Pentingnya Pentahtaan
– Hidup Kristiani, yaitu ketaatan, kepercayaan dan kasih yang dinantikan oleh hati Yesus kepada keluarga yang telah menghormati Yesus dan Bunda Maria ini.
-Rahmat istimewa yang akan diberikan kepada keluarga-keluarga umat beriman yang setia kepada janji mereka kepada Yesus dan Maria.
-Janji keluarga untuk kerap memperbaharui konsekrasi mereka, terutama dalam doa-doa sore bersama.
8.
Konsekrasi keluarga kepada Hati Kudus Yesus.
Doa disusun oleh Paus Pius X, 19 Mei 1908, yang disyaratkan untuk memperoleh indulgensi, untuk diucapkan sambil berlutut oleh imam dan umat yang hadir. Jika imam tidak hadir, doa dipimpin oleh kepala keluarga:
O, Hati Kudus Yesus,
yang memberitahukan St. Margaret Maria,
keinginan-Mu yang membara
untuk meraja dalam keluarga-keluarga Kristiani,
lihatlah kami yang berkumpul di sini hari ini,
untuk menyatakan bahwa
Engkaulah yang berkuasa mutlak di rumah kami.
Karena itu kami bermaksud
menjalani hidup seperti hidup-Mu,
sehingga di antara kami dapat berkembang kebajikan-kebajikan
yang melaluinya Engkau menjanjikan damai di dunia.
Dan untuk tujuan ini kami akan membuang dari antara kami
roh dunia yang sangat tidak Kau sukai.
Engkau akan meraja atas pengertian kami,
oleh karena kesederhanaan iman kami.
Engkau akan meraja di atas hati kami,
oleh karena kasih yang membara kepada-Mu.
Dan semoga api kasih ini selalu menyala di hati kami,
oleh karena sering menerima Ekaristi Kudus.
Berkenanlah, Sang Hati Ilahi,
untuk memimpin pertemuan-pertemuan kami,
berkatilah usaha kami,
baik yang rohani maupun jasmani,
buanglah semua kekuatiran,
kuduskanlah sukacita kami,
dan ringankanlah kesedihan kami.
Jika siapapun di antara kami
mengalami kemalangan yang menyedihkan,
Hati Kudus-Mu, ingatkanlah dia
akan kebaikan dan belas kasih-Mu
terhadap pendosa yang bertobat.
Akhirnya, ketika saat perpisahan tiba,
dan kematian akan menenggelamkan rumah kami
ke dalam duka cita,
semoga kami semua, setiap kami,
berserah kepada kehendak-Mu yang kekal
dan mencari penghiburan dalam pemikiran
bahwa kami akan suatu hari kelak disatukan kembali di Surga,
dimana kami akan menyanyikan pujian dan berkat
kepada Hati Kudus-Mu untuk selamanya.
Semoga Hati Maria yang tak bernoda,
dan Patriark St. Yusuf yang mulia,
mempersembahkan kepada-Mu penyerahan diri kami,
dan mengingatkan kami akan hal yang sama,
setiap hari dalam hidup kami.
Kemuliaan kepada Hati Yesus yang Ilahi, Raja kami,
dan Bapa kami.
Penghormatan kepada Hati Maria yang tak bernoda
Semua berdiri, untuk berterima kasih kepada Hati Maria yang tak bernoda, dan atas rahmat yang telah Yesus berikan melalui Pentahtaan kepada keluarga tersebut, dan untuk menyatakan Bunda Maria sebagai Ratu di rumah tersebut. Gambarnya dipasang di sebelah gambar Hati Kudus Yesus. Semua mendaraskan:
Salam ya Ratu, Bunda kerahiman,
salam, hidup, hiburan dan harapan kami.
Kami semua memanjatkan permohonan,
kami amat susah, mengeluh, mengesah dalam lembah duka ini.
Ya, Ibunda, pelindung kami,
limpahkanlah kasih sayang-Mu yang besar kepada kami.
Dan Yesus, Putra-Mu yang terpuji itu,
semoga Kau tunjukkan kepada kami,
o Ratu, o, Ibu, o Maria, Bunda Kristus.
9.
Konsekrasi keluarga kepada Hati Maria yang Tak Bernoda.
O, Hati Maria yang tak bernoda, Bunda Hati Yesus,
Bunda dan Ratu rumah tangga kami,
agar kami dapat memenuhi kehendakmu yang membara,
kami menyerahkan diri kami kepada mu
dan kami mohon agar engkau memimpin keluarga kami.
Pimpinlah setiap kami, ajarilah kami
bagaimana menjadikan Hati Putramu terkasih,
Tuhan kami Yesus Kristus, menguasai dan meraja di dalam kami
dan sekitar kami, seperti Hati Yesus
telah menguasai dan meraja di dalam engkau.
Pimpinlah kami, Bunda yang terkasih
supaya kami menjadi milikmu
dalam kesejahteraan maupun kemalangan,
dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit,
dalam hidup maupun mati.
O, Hati Maria yang paling berbelarasa,
Ratu para perawan,
awasilah pikiran kami dan hati kami,
dan jagalah dari luapan kesombongan, ketidakmurnian
dan kebiasaan pagan yang paling menyedihkan hatimu.
Kami ingin melakukan silih
bagi begitu banyak kejahatan yang dilakukan
terhadap Yesus dan engkau.
Kami memohon bagi bangsa kami, dan seluruh dunia,
damai sejahtera Kristus dalam keadilan dan cinta kasih.
Karena itu kami berjanji akan meniru teladan-Mu
dengan melaksanakan hidup Kristiani
dan dengan Komuni kudus yang sering dan sungguh-sungguh,
tanpa mencari penghargaan dari manusia.
Kami datang dengan yakin kepadamu,
Tahta Kebijaksanaan dan Bunda Kasih sejati;
nyalakanlah dalam hati dan rumah kami,
cinta akan kemurnian,
semangat yang membara bagi jiwa-jiwa,
dan kehendak untuk kesucian hidup keluarga.
Kami menerima sekarang, semua kurban
yang akan disyaratkan oleh hidup Kristiani
dan kami persembahkan kepada Hati Yesus,
melalui Hatimu yang tak bernoda
dalam semangat silih dan tobat.
Bagi Hati Kudus Yesus dan Maria,
kasih, hormat, kemuliaan selama-lamanya. Amin.
10.
Doa untuk anggota keluarga yang tidak hadir dan yang telah meninggal.
Untuk acara ini sebaiknya tak seorangpun anggota keluarga yang absen, maka mereka yang telah meninggal juga dikenang. Maka didaraskan satu kali doa Bapa Kami dan doa Salam Maria bagi anggota keluarga yang sudah meninggal, dan bagi anggota keluarga yang tidak dapat hadir (karena suatu tugas tertentu, misal karena tugas pengabdian, dst).
Bapa Kami…
Salam Maria…
Semoga jiwa-jiwa orang beriman,
melalui belas kasih Allah, beristirahat dalam damai.
U. Amin.
I. Kuduskanlah, O Tuhan,
mereka yang membaktikan diri mereka
untuk pelayanan-Mu.
U. Dan semua orang yang menaruh harap di dalam Engkau.
11.
Konsekrasi anak-anak kepada Hati Kudus Yesus.
Jika ada anak-anak, mereka dapat mendaraskan doa ini:
O Hati Kudus Yesus,
Hati Sahabat kami dan Raja kami yang terkasih,
Engkau telah mendirikan tahta-Mu di rumah ini,
supaya selalu tinggal bersama kami.
Berkatalah kepada kami perkataan yang sama itu:
“Biarlah anak-anak datang kepada-Ku”
O Hati Kudus Yesus,
pandanglah kami yang berlutut di kaki-Mu,
Dan yang sejak saat ini berjanji
Untuk menjadi taat dan penuh hormat seperti Engkau dulu
kepada orangtua kudus-Mu di rumah Nazaret,
Sehingga kami dapat bertumbuh
dalam kebajikan dan kebijaksanaan
dengan bertambahnya umur kami.
Hati Kudus Yesus yang terkasih,
Engkau juga ingin memiliki hati kami,
sebab Engkau berkata:
“Anak-Ku, berikanlah hatimu kepada-Ku.”
Engkau ingin untuk tetap tinggal di dalam hati kami,
dan kami harus menghibur Engkau dengan kasih kami,
demi semua orang yang tidak mengenal Engkau
atau tidak mau mengasihi Engkau.
Yesus yang termanis,
Sahabat ilahi bagi anak-anak,
terimalah hati kami,
jadikanlah hati kami murni, suci dan gembira.
Terimalah juga tubuh kami, jiwa kami,
dan semua kekuatan kami.
Kami menyerahkan diri kami kepada-Mu,
kini dan selamanya.
Engkaulah satu-satunya Raja kami.
Semua pikiran, perkataan, perbuatan dan doa kami,
kami serahkan kepada-Mu,
Sahabat kami dan Raja kami.
Semua bagi-Mu, O Hati Kudus Yesus!
Anak-anak dapat membaca sajak atau menyanyikan lagu untuk menghormati Hati Kudus Yesus.
12.
Doa Syukur.
Seluruh keluarga mengucapkan doa ini:
Kemuliaan kepada-Mu, O Hati Kudus Yesus,
untuk belas kasih-Mu yang tak terbatas,
yang telah Engkau curahkan
kepada para anggota keluarga ini.
Engkau telah memilih keluarga kami
dari ribuan keluarga lainnya
sebagai penerima kasih-Mu dan
sebagai tempat kudus bagi silih,
dimana Hati-Mu yang terkasih
menemukan penghiburan atas penolakan
dari orang-orang yang tidak berterima kasih.
Betapa besar, O Tuhan Yesus, kebingungan sekumpulan
dari kawanan umat beriman-Mu,
ketika kami menerima penghormatan
yang bukan karena jasa kami,
ketika mereka melihat Engkau memimpin keluarga kami.
Dalam keheningan kami menyembah Engkau,
sangat bergembira memandang Engkau,
mengambil bagian dalam kerja keras,
perhatian dan sukacita dari anak-anak-Mu
dengan tinggal di rumah ini.
Sungguh benar bahwa kami tidak layak
bahwa Engkau dapat masuk dalam rumah kami yang sederhana,
tetapi Engkau telah menjamin kami,
bahwa Engkau menyatakan Hati Kudus Yesus kepada kami,
dengan mengajarkan kami untuk menemukan
dalam luka-luka Lambung-Mu yang kudus,
sumber rahmat dan hidup yang kekal.
Dalam semangat yang penuh kasih dan iman,
kami memberikan diri kami kepada-Mu,
Engkau yang adalah Hidup yang tak pernah berubah.
Tinggallah bersama kami, ya Hati yang Mahakudus,
sebab kami sangat rindu
untuk mengasihi Engkau dan membuat Engkau dikasihi.
Semoga rumah kami menjadi tempat peristirahatan bagi-Mu,
semanis rumah di Betania, di mana Engkau dapat beristirahat
di tengah sahabat-sahabat-Mu yang mengasihi,
yang seperti Maria telah memilih tempat yang terbaik,
dalam keintiman Hati-Mu yang penuh kasih.
Semoga rumah ini bagi-Mu, ya Juruselamat yang terkasih,
tempat penghiburan yang sederhana tetapi ramah,
selagi para musuh-Mu mengasingkan Engkau.
Datanglah, Tuhan Yesus,
datanglah sebab di sini seperti di Nazaret,
kami memiliki kasih yang tulus
kepada Perawan Maria, Bunda-Mu yang termanis,
yang telah Engkau berikan kepada kami
untuk menjadi ibu kami.
Datanglah untuk memberi kehadiran-Mu yang manis
ketika terjadi kekosongan yang disebabkan oleh kemalangan
dan kematian di tengah kami.
O, Sahabat yang paling setia,
jika Engkau di sini di tengah dukacita kami,
air mata kami akan berkurang pahitnya,
dan damai yang menghibur
akan meringankan luka-luka yang tersembunyi ini,
yang hanya diketahui oleh Engkau sendiri.
Datanglah, sebab bahkan sekarang mungkin telah mendekat
senja kesukaran besar dan
kemerosotan dari hari-hari masa muda
dan angan-angan kami.
Tinggallah bersama kami,
sebab telah lambat, dan dunia yang sesat
telah berusaha melingkupi kami
dalam kegelapan pengingkarannya
sementara kami ingin melekat kepada-Mu,
yang adalah satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup.
Ulangilah bagi kami perkataan-Mu yang dahulu:
“Hari ini, Aku harus tinggal di rumah ini” (Luk 19:5).
Ya, Tuhan yang terkasih,
ambillah tempat kediaman kami bagi-Mu,
supaya kami dapat hidup
dalam kasih-Mu dan kehadiran-Mu,
kami yang menyatakan Engkau sebagai Raja kami,
tak menginginkan yang lain.
Semoga Hati-Mu yang jaya, O Yesus,
selamanya dikasihi, diberkati, dan dimuliakan di rumah ini.
Datanglah Kerajaanmu! Amin!
Hati Yesus yang kudus, datanglah kerajaan-Mu (3x).
Hati Maria yang tak bernoda, doakanlah kami.
St. Yusuf, doakanlah kami.
St. Pius X, doakanlah kami.
St. Margaret Maria Alacoque, doakanlah kami!
St. Claude de la Columbiere, doakanlah kami!
Jayalah Hati Kudus Yesus selama-lamanya.
Amin.
Semua doa dan rangkaian upacara ini akhirnya ditutup dengan berkat Imam, dimana Imam memberkati semua yang hadir.

NB:
Aneka Doa Tambahan "Penyerahan Pribadi kepada Hati Maria yang Tidak Bernoda."
O, Hati Maria yang tak bernoda,
Ratu Surga dan bumi,
dan Bunda yang penuh kasih sayang
bagi umat manusia,
sesuai dengan kehendakmu yang membara
yang kausampaikan di Fatima,
aku menyerahkan kepada Hatimu yang tak bernoda,
diriku sendiri, saudara-saudariku, bangsaku
dan seluruh umat manusia.
Pimpinlah kami, ya Bunda Allah yang tersuci,
dan ajarilah kami
bagaimana menjadikan Hati Putramu terkasih,
Tuhan kami Yesus Kristus,
menguasai dan meraja di dalam kami,
seperti Hati Yesus
telah menguasai dan meraja di dalam engkau.
Pimpinlah kami, Perawan yang terberkati,
supaya kami menjadi milikmu
dalam kesejahteraan maupun kemalangan,
dalam suka maupun duka,
sehat maupun sakit, dalam hidup maupun mati.
O, Hati Maria yang paling berbelarasa, Ratu Surga,
awasilah pikiran kami dan hati kami,
dan jagalah dari ketidakmurnian
yang paling menyedihkan hatimu di Fatima.
Bantulah kami untuk meniru teladan-Mu
dalam segala sesuatu, terutama dalam kemurnian.
Bantulah kami untuk memohon bagi bangsa kami,
dan seluruh dunia, damai sejahtera Allah
dalam keadilan dan cinta kasih.
Karena itu, Perawan dan Bunda yang paling murah hati,
aku berjanji akan meniru kebajikan-kebajikanmu
dengan melaksanakan hidup Kristiani yang sejati
tanpa mencari penghargaan dari orang lain.
Aku bertekad untuk menerima Komuni Kudus secara teratur
dan mempersembahkan kepadamu
lima dekade Rosario setiap hari,
bersama dengan matiragaku,
dalam semangat silih dan tobat.
Amin.
Doa Persembahan pagi
O Tuhanku, dalam kesatuan dengan Hati Maria yang tidak bernoda
(di sini Skapular dicium sebagai tanda penyerahan diri kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria),
aku mempersembahkan kepada-Mu,
Darah Yesus yang paling berharga dari semua altar di dunia,
dan menggabungkannya dengan persembahan
semua pikiranku, perkataanku dan perbuatanku hari ini.
O Yesusku,
aku berkehendak untuk memperoleh setiap indulgensi
dan pahala yang dapat kuterima
dan aku mempersembahkannya,
bersama dengan diriku sendiri,
kepada Bunda Maria yang tak bernoda,
supaya ia dapat membagikan semua itu [kepada umat-Mu]
menurut kehendak Hati-Mu yang mahakudus.
Darah Yesus yang berharga, selamatkanlah kami!
Hati Maria yang tak bernoda, doakanlah kami!
Hati Yesus yang Mahakudus, kasihanilah kami!
Amin.
(Imprimatur: Uskup Hungaria, Ref: Revue de Coeur Immacule Reine de la Paix, Vol. I, No. 4).
Doa Harian
Penyerahan diri kepada Hati Yesus dan Hati Maria
“Hati Yesus yang Mahakudus dan Hati Maria yang tak bernoda,
aku menyerahkan seluruh diriku
kepada Kasih yang mahakudus dari kedua Hati-Mu.
Aku ingin membuat silih bagi semua dosa-dosa dunia,
termasuk dosa-dosaku sendiri.
Aku mempersembahkan hal-hal berikut ini,
kepada kasih Hati Yesus dan Maria:
Aku akan menjaga pikiranku pada hal-hal yang baik dan
membalikkan pikiranku dari hal-hal yang jahat.
Aku akan menahan kemarahanku
dan menanggung kesalahan orang lain dengan cintakasih
dan hati yang mengampuni.
Aku akan menerima jika aku salah
dan mohon maaf kepada sesama.
Aku tidak akan menonjolkan diri dan akan tetap rendah hati.
Aku akan mencari kehendak Allah dan bukan kehendakku sendiri.
Aku akan menunjukkan penghargaan
untuk semua kebaikan, berkat-berkat yang kuterima
dan bersyukur kepada Tuhan untuk segala sesuatu.
Aku akan melakukan segala sesuatu dalam hidupku
demi kasih kepada Tuhan.
O, Hati Yesus yang Mahakudus,
melalui perantaraan doa Hati Maria yang tidak bernoda,
terimalah persembahan dan penyerahan diriku kepada-Mu.
Jagalah aku supaya tetap setia sampai mati.
Bawalah aku suatu hari kelak
ke dalam rumah yang bahagia di Surga.
Aku ingin selamanya bersama Allah Bapa dan Roh Kudus
dan bersama-Mu, Yesusku,
bersama dengan Ibu-Mu yang tiada bernoda.
Amin.