Ads 468x60px

Rabu, 26 April 2017


HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI
HARAPAN, IMAN, KASIH.
Rabu, 26 April 2017
Hari Biasa Pekan II Paskah
Kisah Para Rasul (5:17-26)
(Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9)
Yohanes (3:16-21)
"Deo gratias - Syukur kepada Allah".
Itulah salah satu pesan pokok hari ini bahwa kita mestinya selalu bersyukur atas karunia iman Katolik karena Allah yang kita imani adalah Allah yang mempunyai 3 karakteristik dasar, al:
1. Mengasihi:
"Begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal."
Allah kita benar-benar mengasihi kita bahkan telah rela memberikan anakNya yang tunggal pada kita sebagai korban dan hadiah paskah. Ia adalah kasih yang hadir secara nyata dalam hidup harian kita, tidak hanya dengan kata-kata tapi dengan tindakan nyataNya.
2. Menghidupkan:
"Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa tapi beroleh hidup yang kekal".
Allah adalah Allah atas orang hidup dan orang mati. Ia mengalahkan maut dan Ia selalu hidup di setiap keberadaan kita: Where there is love, there is life."
3. Menyelamatkan:
"Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi tapi untuk menyelamatkannya."
Allah kita bukanlah semata-mata "hakim" yang mengadili tapi Ia adalah "hakim" yang menyelamatkan. Ia ingin kita semua mengalami keselamatan yang nyata, "syalom" dengan hati, sesama, semesta dan dengan diriNya sendiri.
Yang pasti, keyakinan akan Allah yang "mengasihi- menghidupkan dan menyelamatkan" seharusnya juga menggerakkan hati kita untuk dengan penuh rasa syukur mau belajar terus menjadi berkat secara nyata yang bisa "mengasihi-menghidupkan dan menyelamatkan" orang lain, terlebih yang kecil dan tersingkir, walau kadang penuh resiko: dicap buruk dan "ditahan" dalam penjara keterasingan/kesendirian, karena "idealitas/harapan" tak selalu berteman dengan "realitas/kenyataan".
Selamat mengasihi - menghidupkan menyelamatkan!
"Cari bahan di warung Tegal - Ikut Tuhan tak akan pernah gagal."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
“Iesus Hominem Salvator - Yesus Penyelamat Manusia."
Itulah kalimat yang terpampang di atas kapel adorasi Goa Maria Mojosongo di Solo, ketika saya bersama teman-teman asyik-masyuk menyiapkan acara "TTM"-"Tribute To Mary" pada pembukaan Bulan Maria beberapa tahun yang lalu.
Mengacu pada bacaan injili, adapun kalimat yang menegaskan bahwa Yesus datang sebagai penyelamat adalah: "Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya bukan untuk menghakimi dunia melainkan menyelamatkannya."
Dari kalimat sarat makna ini, ada 3 permenungan iman yang bisa kita maknai, antara lain:
A."Pengalaman dicintai":
Ia begitu banyak telah mengasihi kita, bahkan Ia rela memberikan anakNya yang tunggal kepada kita. Disinilah, kita juga diajak belajar memulai hidup dengan nada dasar c "cinta" kepada sesama lewat hidup kita sehari-hari secara nyata.
B."Pengalaman diselamatkan":
Ia memberikan iman dan kepercayaan supaya kita mempunyai kehidupan yang kekal. Disinilah kita diajak untuk mempunyai hidup yang penuh iman untuk diwartakan, bahwa semua yang kita miliki ini ada adalah semata sebagai sarana untuk memuji memuliakanNya.
C."Pengalaman diampuni":
Ia datang bukan melulu sebagai "hakim" tapi juga sebagai "penyelamat" yang rahim. Ia tidak selalu mudah menghakimi tapi selalu mau terbuka untuk memahami umatNya. Dengan kata lain: Kita juga diajak menjadi orang yang terbuka hati dan budi, untuk berjiwa besar dan berani mengampuni sesama demi kualitas hidup yang lebih baik.
"Ada louhan di kebun tomat -Tuhan kita itu Juru Selamat!"

Selasa, 25 April 2017






HIK – HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN, IMAN, KASIH.
Selasa, 25 April 2017
Pesta St Markus, Penulis Injil
Petrus (5:5b-14)
(Mzm 89:2-3.6-7.16-17)
Markus (16:15-20)
“Ite et donate – Pergi dan Bagikanlah”.
Gereja pada hari ini mengenangkan salah satu penulis Injil yakni St Markus (Lat: Mārcus, Yun: Μᾶρκος; Koptik: Μαρκοϲ; Ibr: מרקוס). Ia adalah seorang Yahudi dari suku Lewi yang terlahir di Gyréne, satu dari lima kota barat di Libya, di sebuah desa kecil bernama Aberyatolos dan besar di Yerusalem. Ibunya adalah salah satu "Maria" yang mengikuti Kristus dan ayahnya adalah Artistopolos, sepupu istri Santo Petrus Rasul.
Adapun tiga semangat dasarnya yang penuh Harapan Iman dan Kasih, al:
1.Bersemangat:
Lambang Markus sebagai penulis injil adalah singa bersayap, yang menggambarkan keadaan siaga serta semangat penuh keyakinan/optimisme yang terus menyala. Markus yang adalah keponakan Barnabas dan dipermandikan oleh Petrus berkarya dengan semangat. Ia antusias menemani para rasul dari Yerusalem ke Antiokia, Siprus, Roma dan Alexandria (Mesir).
Hidupnya bersemangat, walau kadang juga pernah “gagal”, ketika ia kembali lagi ke Yerusalem karena “tidak tahan” menemani Paulus-Barnabas di Siprus. Ia pernah jatuh tapi bangkit lagi.
2.Bersahabat:
St. Markus bukan termasuk bilangan dua belas Rasul Yesus tapi dia bersahabat dengan para rasul. Dia adalah teman perjalanan St. Paulus dan Barnabas dalam karya Pewartaan Injil ke Antiokia (Kis12:25) dan Siprus (Kis13:4-5). Dia juga seorang murid serta asisten St. Petrus. Bahkan St. Petrus memperlakukannya seperti "anak sendiri": “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku” (1 Ptr 5:13).
Selain itu, rumah Markus biasanya digunakan sebagai pertemuan para sahabatnya. Ketika Petrus dipenjarakan, banyak sekali orang Kristen berkumpul di rumahnya dan berdoa bagi keselamatan Petrus. Dkl: Ia mengenal-mencintai dan semakin bersahabat dengan Yesus melalui pewartaan dan perjumpaan iman dengan para Rasul yang adalah para sahabatnya.
3.Bermanfaat:
Markus (nama Romawi ) yang berarti “palu”, ternyata memiliki nama lain, yaitu "Yohanes" yang adalah nama Yahudi dan berarti "Kebaikan Allah/Allah yang menganugerahi" (Kis 13:5, 13). Seperti “palu” yang bermanfaat bagi tukang bangunan, ia juga bermanfaat bagi Gereja: Ia mahir berbahasa Yunani, Latin dan Ibrani. Dia juga belajar hukum, kitab suci dan sejarah para nabi.
Dengan kekayaan pengetahuan itulah, ia melayani Barnabas-Paulus di Antikohia dan Siprus. Di Roma, ia menjadi pembantu dan juru bicara Petrus. Menurut Eusebius dari Kaisarea, pada tahun ke-2 Kaisar Claudius, Markus mendampingi Petrus sebagai penterjemah. Ia mencatat segala sesuatu yang diingatnya tentang ucapan Petrus kepada orang banyak.
Ia juga berangkat ke Aleksandria dan mendirikan gereja Aleksandria, yang sekarang menjadi gereja Koptik Ortodoks. Dia menjadi uskup pertama di Aleksandria dan dihormati sebagai pendiri kristianitas di Afrika dan penulis injil Markus.
Jelas, hidupnya benar-benar bermanfaat, bahkan Paulus mengakui Markus (yang dulu telah ditolaknya dan di cap ‘orang yang gagal’) sebagai rekan yang sangat berharga: "Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku” (2 Tim 4:11).
Bersama teladan St Markus yang “bersemangat-bersahabat dan bermanfaat, kita sebenarnya juga diutus untuk selalu bersaksi: pergi dan membagikan warta Injil (Yun: "euangalion"= kabar baik, "KAsih-saBAR dan Bahagia Ikut Kristus”, buku “TANDA”, Kanisius) tentunya dengan hati yang bersemangat, hidup yang bersahabat dan karya yang bermanfaat bagi kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa.
"Ada tikus suka makan bakmie - Santo Markus doakanlah kami”
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!
NB:
1.
Pesta St Markus.
"Pax tibi Marce, evangelista meus. Hic requiescet corpus tuum-
Damai padamu, Markus, penginjilKu. Di sini berbaring tubuhmu".
St Markus Penginjil yang adalah pelindung kota Venesia juga adalah pelindung dari notaris, penulis, pekerja kaca, pelukis kaca dan pembuat kacamata.
Ia lahir di luar Palestina dari keluarga kaya dan wafat pd tahun 68 sebagai Martir di kota Alexandria, Mesir.
Pd 24 April tubuhnya ditarik di sepanjang jalan ke Alexandria dengan tali diikat dilehernya lalu dibuang ke penjara.
Keesokan harinya ia dianiaya dengan keji dan meninggal. Tubuhnya yg dibakar berhasil diselamatkan oleh umat beriman.
Relikwi St Markus berhasil dibawa dari Alexandria ke Venesia pd tahun 828 oleh dua legenda pedagang Venesia: Rustico dari Torcello dan Buono dari Malamocco.
Relikwi disambut dg sukacita di Venesia dan menarik para peziarah dari seluruh Eropa.
Sebuah Basilika kemudian dibangun th 832 tp mengalami kebakaran th 976 yg menyebabkan rakyat marah dan melawan Duke Candiano IV yg saat itu memimpin Venesia.
Tubuh St Markus pun hilang tak diketemukan.
Tahun 1063 berhasil dibangun kembali Basilika dan dipersembahkan u/St Markus tanggal 25 Apr1094.
Proses konsakrasinya didahului dg tiga hari masa tobat dan puasa dan doa untuk memohon mukjizat diketemukannya tubuh Orang Kudus itu.
Setelah Misa pemberkatan Basilika oleh Uskup, terjadilah mukjizat itu dengan terbelahnya batu marmer yg melapisi sebuah pilar di sebelah kanan basilika di samping altar kotbah (ambo), dan tampaklah sebuah peti kaca yang menyimpan relikwi St Markus dan segeralah tercium wangi harum di seluruh Basilika.
Adapun simbol St Markus adalah sebuah patung singa yg mengangkat pedang dan satu kakinya menginjak sebuah buku bertuliskan:
"Pax tibi Marce, evangelista meus.
Hic requiescet corpus tuum."
2.
“Ite missa est - Pergilah kamu diutus!”
Itulah kata-kata di akhir misa yang juga saya tulis dalam buku “HERSTORY” (RJK, Kanisius).
Ya, bersama teladann St Markus, kita diutus untuk bermisi sebagai “duda” : “duta damai”, tergerak - bergerak dan berarak dari altar perjamuan ke pasar kehidupan.
Jelasnya, kita diutus ber-misi sebagai “model”/teladan iman umat Allah, “mediator”/perantara kuasa Allah dan “messenger/pembawa pesan Allah”.
Dalam bahasa Dom Helder Camara yang saya tulis dalam buku “XXI - Interupsi” (RJK, Kanisius), bermisi sebagai duta damaiNya berarti: mau meninggalkan, pergi dan keluar dari diri sendiri, memecah dinding egoisme, yang memenjarakan kita, dalam ke”AKU”an. Misi berarti berhenti berkisar pada diri sendiri. Misi selalu berarti meninggalkan, tapi tidak selalu mengadakan perjalanan. Di atas semua itu, misi berarti membuka diri dan hati bagi Tuhan dan bagi yang lain, sebagai saudara dan saudari, menemukan dan menjumpai mereka dalam Tuhan.
Adapun 3 semangat dasar sebuah karya misi ilahi, al:
A."Societas: Kebersamaan".
Ia memanggil 12 murid dan mengutus mereka berdua-dua. Iman kita tidak hanya berdimensi personal tapi juga sosial (socius: sahabat, sosial:bersahabat). Gereja sebagai “Umat Allah” diajak berjalan bersama sebagai sahabat seperjalanan, sebagai suatu gerakan komunio, “societas perfecta” menuju surga abadi.
B. "Simplicitas: Kesederhanaan".
Mereka dilarang membawa banyak bekal, kecuali tongkat-sehelai baju dan alas kaki, supaya lebih fokus pada tugas perutusan dan bersemangat “lepas bebas” - tidak terbebani dengan kelekatan tak teratur pada berbagai bekal jasman dan materi. Bukankah Yesus yang ber-“kenosis”- yang mengosongkan diri juga sekaligus datang sebagai “yang sederhana”: terbaring di palungan dan terpaku di penyaliban?
C. "Totalitas: Kepenuhan",
Inilah sikap berserah secara utuh, penuh dan menyeluruh. Mereka diajak untuk cuma bersandar pada Tuhan, terlebih mereka telah diberi “bekal ilahi”, kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang sakit. Nilai dasar yang ditawarkan adalah “Deus providebit - Tuhan yang menyelenggarakan”, semacam kepercayaan akan “providential divina - penyelenggaraan ilahi”, bahwa Tuhan akan selalu ikut berkarya dalam suka duka hidup dan gulat geliat karya kita.
“Ikan louhan cari makan - Ikut Tuhan semuanya akan dicukupkan".
3.
"Ite inflammate omnia - Pergilah kobarkan API bagi dunia!"
Inilah seruan Ignatius kepada Xaverius yang diyakini kesadaran magis bahwa Yesus mengajak kita "pergi & diutus" dari altar ke pasar, dengan 3 sikap dasar yang diberikanNya, antara lain:
A. Otoritas.
Inilah kenangan iman bahwa Yesus pernah memberikan tenaga & kuasa ilahi serta mengutus ke12 muridNya untuk mewakili Dia dalam kata & tindakan. Ke12 murid itu kini menjadi orang yang berkuasa untuk mengusir setan & menyembuhkan penyakit. Mereka bukan bangsawan tapi dipakai Allah secara menawan untuk mewartakan KerajaanNya. Adapun perintah yang diberikan kepada ke12 orang itu, menurut ayat paralelnya di kitab Matius adalah pergi kepada "domba-domba yang hilang dari umat Israel" (Mat 10:6). Tapi setelah kebangkitanNya, Yesus mengubah jangkauannya kepada segala bangsa, "sampai akhir zaman" (Mat 28:18-20; Mrk 16:15-20).
B. Prioritas.
Misi utama Yesus adalah untuk memberitakan Kerajaan Allah dengan perintah untuk menyembuhkan orang sakit & mengusir setan (Mat 9:35-38; 10:7-8; Mrk 3:14-15; 6:7-13; Mrk 16:15,17; Luk 9:2,6; 10:1,9; bdk Luk 4:17-19). Dengan kata lain: Kita diajak menomorsatukan kehendak Allah dimana pemberitaan Injil juga harus disertai dengan penyembuhan & pembebasan secara real-aktual & kontekstual.
C. Totalitas.
Yesus berpesan supaya para murid tidak membawa apa-apa dalam perjalanan, termasuk bekal (Yun: pēra). Bekal yang dimaksud adalah dompet yang dibawa seorang pengemis, dengan kata lain: Yesus melarang mereka mengemis sebagaimana kadang dilakukan penganut agama lainnya. Jelasnya, mereka tidak diperkenankan mengandalkan penampilan luar tapi harus sepenuh hati mengandalkan pemeliharaan Allah & kebaikan orang lain sehingga selalu terfokus pada tujuan utama tugas perutusan yaitu memberitakan Injil kerajaan Allah.
"Ada galah ada kaktus - Pergilah kamu semua diutus!"
4.
"Fiat voluntas Tua - Jadilah kehendakMu."
Inilah kalimat terakhir yang saya tulis dalam buku pertama saya tentang Maria di tahun 2008 ("BBM", RJK, Kanisius) yang mengajak kita untuk tidak takut karena bukan kehendakku tapi KehendakNya saja yang berkuasa. Dan, ketika diutus datang ke dunia, Yesus jelas berkehendak untuk membinasakan perbuatan Iblis (Mr 1:27; 1Yoh 3:8) dan membebaskan mereka yang ditindas oleh Iblis (Luk 4:18).
Kitapun juga diutus untuk menjadikan kehendakNya nyata dalam hidup semua orang. Itu sebabnya, Yesus memberikan "kuasa" kepada kita untuk mengalahkan kejahatan dengan beberapa modal, antara lain:
A."Keberdayaan".
Ia memberikan daya/kuasa untuk mengusir setan. (Mrk 3:14-15; Mat 10:1)
Dan, setelah mengutus 72 murid, Ia memberikan kepada mereka "daya dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh". (Luk 10:1,17-19; Mat 10:1-8; Mr 6:7,13)
B."Keberagaman"
Para murid itu bukan saja diutus untuk memberitakan Injil. (Mrk 3:14; Mat 10:7), supaya mereka bertobat dan percaya kepada Injil (Mrk 1:14), tapi juga untuk mewartakan aneka ragam keselamatan ilahi, al melawan Iblis, mengusir roh jahat dan menyembuhkan segala penyakit (Mat 10:1,7-8). Adapun penyembuhan dengan jalan mengoleskan minyak (Yak 5:14) sebagai lambang dari kehadiran dan kuasa Roh Kudus (Za 4:3-6)
C."Kebersamaan".
"Ia memanggil ke12 murid itu dan mengutus mereka berdua-dua."
Jelaslah bahwa perutusan kita itu bukan berpola "single fighter dan popularitas" tapi ada dalam suasana "keterbukaan dan komunitas" yakni kebersamaan untuk bekerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik.
Ya, kita tidak dipanggil sendiri tapi diajak untuk berjalan bersama di belakang Yesus, mengikutiNya dengan semangat rendah hati sekaligus murah hati.
"Dari Brastagi ke Korintus - Mari pergi kita diutus!"
5.
Madah Ibadat Bacaan-Pagi-Siang
(Selasa 25 April 2017)
PESTA ST. MARKUS
Ya Allah bersegeralah menolong aku
Ya Tuhan perhatikanlah hambaMu
Kemuliaan..
Alleluya..
MADAH BACAAN
Allah mahkota mulia
Bagi pahlawan yang jaya
Kami memuji martirMu
Sambil mohon doa restu
Ia menumpahkan darah
Rela mati dengan tabah
Tetap teguh dalam iman
Tanpa dapat digoncangkan
Berkat doa pahlawanMu
Ya Allah yang mahatahu
Ampunilah dosa kami
Meski ynag besar sekali
Dipuji dimulyakanlah
Allah Bapa mahamurah
Bersama Putra dan RohNya
Sepanjang segala masa
Amin
MADAH PAGI
Ya martir pahlawan suci
Jejak Kristus kau ikuti
Musuh sudah kau kalahkan
Kini engkau dimulyakan
S’moga doamu yang sakti
Menghapuskan dosa kami
Menyingkirkan kejahatan
Yang merusak kesatuan
Terlepas sudah tubuhmu
Dari ikatan belenggu
Lepaskan belenggu kami
Agar dapat hidup suci
Dipujilah Allah Bapa
Bersama Putra tercinta
Dan Roh penghibur ilahi
Selalu tak kunjung henti
Amin
MADAH SIANG
Yesus penebus ilahi
Kami mohon Kaudampingi
Dalam usaha mengabdi
Kepada sesama kami
Sudilah Engkau berkarya
Melalui suka duka
Yang harus kami alami
Dalam kehidupan ini
Sampaikanlah doa ini
Ya Yesus junjungan kami
Kepada Bapa surgawi
Dalam kuasa Roh suci
Amin
BACAAN PILIHAN
Segala kesempurnaan dalam hidup ini biasanya masih mengandung hal-hal yg tidak sempurna; dan segala pandangan kita kebanyakan tentu masih berkabut.
Mengenal diri sendiri dengan kerendahan hati adalah jalan lebih aman menuju Allah daripada pemeriksaan mendalam dan teliti berdasarkan ilmu pengetahuan.
Sudah barang tentu kita tidak boleh mencela ilmu atau pengetahuan yg sederhana mengenai hal apa pun juga yg pada hakikatnya adalah baik dan diatur oleh Tuhan, tetapi tidaklah dapat diingkari, bahwa suara hati yang baik dan hidup bertakwa adalah lebih baik daripada semuanya ini.
“….Dan kelak, di saat begitu banyak jalan - pergilah kemana HATI membawamu."
(Va’ dove ti porta il cuore)

DOA YESUS - JESUS PRAYER


HIK – HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN, IMAN, KASIH.
Meditasi “DOA YESUS”: Sebuah Introitus.
“DOA YESUS” atau “JESUS PRAYER” (berbeda dengan ‘Doa yang diajarkan Yesus’ = Bapa Kami) adalah suatu rumusan doa singkat (hanya 1 kalimat) yang umum digunakan dalam tradisi Ortodoks dan Katolik, khususnya Ritus Timur, sejak lama.
Para pertapa, entah yang hidup senobit dan terlebih yang hidup eremit serta para Bapa Gereja dari abad lampau memiliki kebiasaan bermeditasi dengan mengucapkan doa ini berulang-ulang dalam keseharian mereka, dengan bantuan tali doa/ prayer rope/ komboskini ataupun mendaraskannya tanpa henti di dalam hati, untuk menghindarkan diri dari obrolan remeh temeh dan memusatkan diri dalam persatuan dengan Tuhan dalam doa setiap saat.
“Doa Yesus” ini dipercaya, jika didaraskan dengan penghayatan penuh setiap kata-katanya, adalah doa yang sempurna, yang berkekuatan besar untuk mendapatkan indulgensi (baik bagi diri sendiri atau dipersembahkan kepada jiwa-jiwa di api penyucian), dan memberi perlindungan yang kuat terhadap setan, karena di dalam satu kalimat saja, tersimpul/terangkum banyak doktrin iman.
Rumusan Doa Yesus tidak dirumuskan secara pasti, namun intinya adalah sama. Versi tersingkatnya bisa hanya berupa kata “Yesus” saja, atau “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku/ Kyrie eleison”, yang diulang-ulang, namun versi yang paling populer dan umum digunakan adalah :
Yunani:
"Κύριε Ἰησοῦ Χριστέ, Υἱὲ τοῦ Θεοῦ, ἐλέησόν με τὸν ἁμαρτωλόν."
Kyrie Iesou Christe, Huie tou Theou, Eleēson me ton hamartolon
Inggris:
"Lord Jesus Christ, Son of God, have mercy on me, a sinner."
Indonesia:
"Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa."
=======
Meditasi DOA YESUS menurut Kitab Suci
1.Κύριε (Kyrie)
Adalah kata tunggal yang menunjuk pada Kyrios = Tuhan.
a. Efesus 4:5 :
Satu Tuhan (Kyrios), satu iman, satu baptisan.
b. 1 Korintus 8:6 :
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan (Kyrios) saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
c. Filipi 2:10-11 :
Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan (Kyrios)”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!
2. Ἰησοῦ (Iesou)
Kata tunggal dari Iesous, berasal dari bahasa Ibrani : Yeshua, yang berarti “keselamatan”.
a. Matius 1:21 :
Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus (Iesous) karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.
b. Lukas 23:42 :
Lalu ia berkata: Yesus (Iesous), ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.
c. Wahyu 19:10b :
Karena kesaksian Yesus (Iesous) adalah roh nubuat.
3. Χριστέ (Christe)
Dari kata Christos yang berarti : Yang terurapi, Sang Mesias, Kristus.
a. Matius 16:16 :
Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias (Christos), Anak Allah yang hidup!"
b. Yohanes 20:31 :
tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias (Christos), Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
c. Titus 2:13 :
dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Christos).
4. Υἱὲ (Huie),
Dari kata huios, berarti : Anak (laki-laki)
a. 1 Yohanes 5:11-12
Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya (Huios).
Barangsiapa memiliki Anak (Huios), ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak (Huios), ia tidak memiliki hidup.
b. Matius 28:19 :
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak (Huios) dan Roh Kudus.
c. Matius 3:17 :
lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku (Huios) yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.
5. τοῦ Θεοῦ (tou Theou)
Dari kata Theos, berarti : Allah
a. 1 Yohanes 4:15 :
Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah (Theos), Allah (Theos) tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah (Theos).
b. 1 Yohanes 5:13
Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah (Theos), tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.
c. 1 Yohanes 5:5 :
Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah (Theos) ?
6. ἐλέησόν με (Eleēson me): Have mercy on me = Kasihanilah aku.
Ungkapan yang tepat tentang siapa diri kita dibandingkan dengan Jesus, bahwa kita memerlukan “belas kasihan”Nya.
a. Matius 15:22 :
Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku (Eleēson me), ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
b. Markus 10:47 :
Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku (Eleēson me)!"
c. Lukas 18:35-38 :
Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis..... Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku (Eleēson me)!"
7. τὸν ἁμαρτωλόν (ton hamartolon).
Bentuk tunggal dari hamartolos, yang berarti : orang berdosa.
a. Markus 2:17 :
Yesus... berkata kepada mereka: "... Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa (hamartolos).”
b. Lukas 5:8 :
Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa (hamartolos).”
c. Lukas 15:7 :
Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa (hamartolos) yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.
=================
Kyrie Iesou Christe, Huie tou Theou, Eleēson me ton hamartolon
Lord Jesus Christ, Son of God, have mercy on me, a sinner.
Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

RP. Paul Henricus Janssen, C.M.



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN, IMAN, KASIH.
Pahlawan Kemanusiaan": From Zero to Hero.
RP. Paul Henricus Janssen, C.M.
Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar "Pahlawan Kemanusiaan" kepada alm. RP. Paul Henricus Janssen, C.M. atas seluruh jasa dan amal baktinya bagi bangsa dan negara lewat pelayanan kepada kaum miskin dan difabel.
Romo Prof Dr Paulus Henricus Janssen CM yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Janssen sendiri lahir di sebuah kota kecil di Belanda, Venlo, pada 29 Januari 1922, putra dari pasangan Hubertus Janssen dan Maria Helena Fillot.
Sejak awal tak ada cita-cita lain kecuali menjadi misionaris. Tahun 1940 masuk biara CM (Kongregasi Misi) dan ditahbiskan menjadi imam pada 13 Juli 1947. Moto imamatnya adalah “Kamu adalah alat pilihan untukKu, untuk membawa namaKu ke bangsa-bangsa. Dan Aku akan menunjukkan kepadamu betapa banyak engkau akan bersusah-payah demi namaKu”.
Romo Paulus Henricus Janssen CM adalah adik dari Romo Willem Paul Janssen yang telah dipanggil Tuhan.
Tepat satu bulan ditahbiskan, cita-citanya terpenuhi. Berlayar menuju Cina. Dua bulan ada di kapal dagang sampai akhirnya tiba di Shanghai. Tugas pertamanya bukan di Shanghai tapi di Nan Chang yang terletak di tengah-tengah Cina.
Baru setengah tahun di Nan Chang beliau ditarik ke Kasim, kota di sebelah selatan Shanghai, untuk mengajar di Seminari.
Kesan romo selama tugas di Cina adalah tersentuh oleh penderitaan dan kemelaratan manusia akibat perang, lebih-lebih selama musim dingin. Saat itulah romo melihat dari dekat, penderitaan yang dialami oleh anak-anak yang sakit, cacat, terlantar di jalan, dibuang oleh keluarganya sendiri karena kesulitan ekonomi, dan tidak sedikit yang yatim piatu, karena perang.
Hal yang paling berat dialami romo dalam tugasnya di lain benua namun dijalankan dengan tabah dan setia sebagai misionaris, adalah saat mendapat kabar ibunya wafat.
Kesetiaan atas panggilan misinya, ditunjukkan dengan tidak sering pulang ke negara asal kelahirannya. Baru setelah 17 tahun di luar negeri, romo mengambil cuti dan melihat tanah air yang telah lama ditinggalkan.
Malapetaka karena perang belum berakhir, muncul prahara baru, serbuan komunis dari Utara. Kota Nan Changpun mereka rebut. Terjadilah pertempuran antara pengikut Mao Zhedong dan Chiang Khai Sek. Keadaan hidup serba tidak menentu. Dan yang paling tragis adalah serbuan komunis membuat misionaris terjepit.
Tak ada pilihan lain, Internuntius memutuskan agar semua frater dan profesor (sebutan untuk para dosen) dipidahkan ke luar negeri. Maka seminari dipecah menjadi dua bagian, yang CM pindah ke Manila dan yang Praja pindah ke Italia.
Akhir 1948, Romo Janssen bersama kira-kira 20 frater menuju ke Manila, Filipina. Di Manila kongregasi CM memiliki 5 seminari, salah satunya adalah seminari Projo yang dipercayakan ke CM.
Kesibukannya membina calon imam projo, tidak menyurutkan romo untuk melanjutkan studi. Romo Janssen melanjutkan studinya di Universitas Santo Thomas dan memperoleh gelar Doktor dalam bidang Theologi dengan disertasinya berjudul: "Katolisitas Gereja dalam Karya Santo Agustinus".
Di Universitas yang sama, romo memperdalam bidang pendidikan, khususnya guidance, counseling dan psikologi.
Tahun 1950 Romo meninggalkan Filipina. Mau ke China tak mungkin karena dominasi politik komunis yang merajalela. Pilihannya untuk melanjutkan karya misinya di Chili, Amerika Latin ditolak oleh Provinsial. Tempat baru Romo adalah Indonesia.
1 Mei 1950 Romo Janssen tiba di Surabaya dan bertemu dengan Uskup. Terus terang kedatangannya ke Indonesia tak terlalu membuatnya gembira. Mengapa? Karena amat kuatir akan ditempatkan dibagian pendidikan, padahal kerinduannya adalah untuk menjadi misionaris. Uskup sempat bertanya: "Mau menjadi misionaris? Kalau begitu silahkan ke Kediri."
5 Mei 1951 Romo sudah berada di Kediri. Ketika bertugas di Pohsarang, Romo sangat senang. Inilah tempat yang selama ini dicari. Stasi-stasi kecil dikunjunginya dengan naik sepeda. Pastor Kepala waktu itu, Pastor E Mensvoort yang amat fasih berbahasa Jawa, menawarkan nasehat kepada Romo Jannsen, bagaimana mulai mengenal budaya Jawa. "Jangan mulai belajar bahasa Indonesia, mulailah belajar bahasa Jawa," demikian tawaran Romo E Mensvoort CM.
Kebahagiaan Romo dalam tugas semakin bertambah ketika menemukan suasana yang penuh dengan kelembutan, keramahan, keterbukaan, yang konon menjadi ciri khas orang Jawa.
Tugas utama Romo Janssen adalah mencari orang-orang yang dulu sudah menjadi Katolik namun kemudian kurang mendapat perhatian.
Bersama dengan Romo Wolters CM, Romo Janssen membangun daerah Pohsarang dan Gereja Pohsarang. Salah satu kegiatan rohani yang patut dicatat di Kediri ialah berdirinya Legio Maria pertama di Indonesia. Pendirinya tak lain adalah Romo Janssen.
Dalam melakukan pelayanan pastoralnya berkeliling ke daerah Gringging, Kalinanas dan Kalibago, Romo Janssen menemui banyak sekali orang yang sakit TBC dan frambosia. Beliau juga banyak berjumpa dengan anak-anak cacat, miskin dan terlantar. Hati Romo Janssen mulai tersentuh untuk menangani anak-anak cacat dan miskin itu.
Menghadapi umatnya yang banyak mengidap penyakit TBC, Romo kadang juga harus bertindak sebagai "dokter". Obat-obatan beliau usahakan dengan mencari bantuan ke Surabaya.
Selain menjalankan tugas pastoralnya, Romo Janssen mulai giat mendirikan sekolah baik Taman Kanak Kanak "Montesori", SD maupun SMP Don Bosco. Dasar pemikirannya adalah orang dapat terbantu melalui pendidikan yang diperolehnya. Untuk merekrut tenaga guru, beliau datang ke Jogjakarta.
Selain itu beliau juga mendirikan kursus B1 Pendidikan (sebagai cikal bakal Perguruan Tinggi Pendidikan Guru, yang kemudian menjadi FKIP).
Aktivitasnya mendirikan dan mengelola/menyelenggarakan lembaga pendidikan, tidak mengurangi perhatiannya pada anak-anak cacat, terlantar dan miskin.
Juli 1959, Romo Janssen hijrah ke Madiun. Di kota inilah Romo Janssen mendirikan ALMA (Akademi Lembaga Misionaris Awam), tepat pada peringatan 300 tahun wafatnya Vincensius A Paulo, yang jatuh pada 27 September 1960.
Pada 8 September 1963, di Jalan Wilis No 21 Madiun, 7 orang secara resmi mengikat diri seumur hidup untuk menjalankan karya dan pelayanan yang sesuai dengan nasehat Injil. Mereka adalah Ibu C Pariys D, Ismilah, Yustine Sumringah, Cecilia Suliyah, Modesta, Robutine dan Maria. Lembaga ini terus berkembang, sampai tahun 1997 tercatat 200 orang tergabung di komunitas ini.
Namun dalam perkembangannya, berdasarkan renungan pendiri ALMA, Romo Janssen, yang dijiwai oleh pandangan dasar Konsili Vatikan II (Romo Janssen sendiri hadir dan mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II di Roma), bahwa tugas Gereja dalam dunia adalah tugas seluruh umat, timbul gagasan pendiri untuk menjalankan tugas Kristiani dari dan dalam situasi yang kongkrit dunia.
Kader awam yang dimaksud adalah awam yang menyerahkan hidupnya untuk membawa umat kepada Kristus dalam situasi awam melalui karisma yang diberikan dan dikembangkan oleh mereka menurut panggilan masing-masing. Maka ALMA yang kita kenal sekarang adalah Asosiasi Lembaga Misionaris Awam yang tanggal lahirnya 8 September 1968.
Karya besar romo yang paling tak boleh kita lupakan adalah mendirikan Yayasan Bhakti Luhur di Madiun pada 5 Agustus 1959.
Perjalanan karya Romo Janssen berikutnya, secara singkat dapat dicatat sebagai berikut :
1. Pada 26 Agustus 1967, Mgr AEJ Albert OCarm secara resmi menerima ALMA sebagai Institut Sekulir dibawah yuridiksi Uskup Malang.
2. Perkembangan selanjutnya adalah berdirinya ALMA Putra, yang banyak berkecimpung pada karya evangelisasi, pelayanan anak-anak cacat dan CBR (Community Based Rehabiltion). Romo Janssen tetap hadir sebagai pelindung sekaligus bapak rohani.
3. 1973, Institut Pembangunan Masyarakat didirikan oleh Romo Janssen tahun 1969, menempati gedung di Galunggung, Malang.
4. Menjadi guru besar di IKIP Malang
5. Mendirikan SMPS (Sekolah Menengah Pekerja Sosial) di Malang
6. 29 Juni 1968 mendirikan IPI (Institut Pastoral Indonesia), di Malang
7. Mendirikan Sekolah Evangelisasi Katolik di Malang
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
In Memoriam:
Requiescat in Pace.
(Venlo, 29 Jan 1922 - Malang, 20 April 2017)
Berpulang, aku berpulang
Tenang dan damai, aku berpulang
Tidaklah jauh, lewati pintu terbuka
Tugas telah usai, tiada cemas tersisa
Bunda menanti, ayah pun menunggu
Banyaklah wajah yang kukenal,
dari masa lalu
Ketakutan lenyap, kesakitan hilang
Rintangan musnah, perjalanan usai
Bintang fajar terangi jalanku
Mimpi buruk hilang sudah
Bayang-bayang telah berlalu
Terang kini tiba
Di hidup abadilah aku
Tiada jeda, tiada akhir
Hanya ada kehidupan
Tersadar penuh, dengan senyuman
Untuk selamanya
Berpulang, aku berpulang
Bayang bayang telah berlalu
Terang kini tiba
Hidup abadi kumulai
Aku kini berpulang
========
“Saat seseorang berpulang, segumpal awan menjelma menjadi malaikat,
dan melayang ke surga meminta Tuhan untuk meletakkan
setangkai bunga di atas sebuah bantal
Sang burungpun menyampaikan pesan itu ke bumi dan melantunkan seuntai doa
yang menyebabkan hujan menangis
Mereka memang harus pergi, tapi mereka tidak benar-benar pergi
Roh mereka di atas sanalah yang menidurkan matahari, membangunkan rerumputan dan memutar bola dunia
Kadang kau dapat melihat mereka menari di dalam awan di siang hari
di saat mereka seharusnya nyenyak tertidur
Mereka melukis keindahan pelangi dan juga temaram matahari senja
dan membangunkan ombak di lautan
mereka melambungkan bintang jatuh dan mendengarkan semua harapan,
nyanyian mereka merdu dalam hembusan angin, berbisik pada kita :
“Jangan terlalu sedih. Pemandangan di sini indah dan aku baik-baik saja”
----------
“When somebody dies, a cloud turns into an angel,
and flies up to tell God to put another flower on a pillow.
A bird gives the message back to the world and sings a silent prayer
that makes the rain cry.....
People dissappear, but they never really go away.
The spirits up there put the sun to bed, wake up grass, and
spin the earth in dizzy circles.
Sometimes you can see them dancing in a cloud during the day-time,
when they’re supposed to be sleeping
They paint the rainbows and also the sunsets,
and make waves splash and tug at the tide.
They toss shooting stars and listen to wishes,
and they sing wind-songs, they whisper to us:
“Don’t miss me too much. The view is nice and I’m doing just fine”
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

ANTOLOGI RENUNGAN H.I.K


HIK – HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN, IMAN, KASIH.
ANTOLOGI RENUNGAN H.I.K
1.
Kis 8:1b-8
Yoh 6:35-40
"Venite - Datanglah!"
Pernyataan "Aku adalah roti hidup" yang mengundang kita untuk datang kepadaNya adalah nubuat pertama dari 7 nubuat "Aku adalah" dalam Injil Yohanes (Bdk: “Bulan Bintang Matahari”, Kanisius, RJK). Pernyataan ini memberitahukan kita bahwa Kristus adalah makanan yang memelihara jiwa (Yoh 6:53).
Adapun 6 pernyataan lainnya adl:
"terang dunia" (Yoh 8:12),
"pintu" (Yoh 10:9),
"gembala baik" (Yoh 10:11,14),
"kebangkitan+hidup" (Yoh 11:25),
"jalan-kebenaran-hidup" (Yoh 14:6)
dan "pokok anggur yg benar" (Yoh 15:1,5).
Indahnya, Yesus sebagai "roti hidup" berjanji akan menerima semua orang yang datang kepada-Nya. Mereka yang datang kepada Yesus datang sebagai jawaban terhadap kasih karunia yang diberikan Allah dengan beberapa inti permenungan iman, al:
1) Bukan kehendak Allah bahwa seorang beriman jatuh dari kasih karunia (Gal 5:4) dan dengan demikian terpisah dari Allah; juga bukan kehendak-Nya jikalau ada orang binasa (2Pet 3:9) atau gagal datang kepada kebenaran dan diselamatkan (1Tim 2:4).
2) Akan tetapi, ada perbedaan besar di antara kehendak Allah yang sempurna dengan kehendak-Nya yang mengizinkan.
Dia tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk bertobat dan percaya sekalipun itu berarti kehendak-Nya yang sempurna tidak tercapai (Luk 19:41).
3) Keinginan Allah bahwa orang beriman akan dibangkitkan pada akhir zaman tidak membebaskan mereka dari tanggung jawab untuk menaati dan mendengarkan suara-Nya serta mengikuti-Nya (Yoh 10:27; 14:21).
Pastinya, “Semua orang yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu ia tidak akan Kubuang”.
Yesus mau mewujudkan kehendak Bapa di dalam hidupNya dengan menerima dan menebus semua orang yang datang kepadaNya.
Misi Yesus adalah menyelamatkan semua orang.
Bagaimana dengan kita?
"Makan bubur di Taman Sari - Mari menabur kasih stiap hari."
2.
Kis 2:36-41; Mzm 33:4-5.18-19.20.22; Yoh 20:11-18.
"Visio beatifica - Pandangan yang membahagiakan!"
Itulah yang dialami oleh Maria Magdalena sehingga ia bersaksi, "Aku telah melihat Tuhan!” Maria Magdalena sendiri adalah murid perempuan yang paling terkenal, yang tercatat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Namanya disebut 12 kali dalam ke-4 Injil, kebanyakan pada saat penyaliban dan kebangkitan Yesus.
Henri-Dominique de Lacordaire, dalam “Sainte Marie Madeleine 1860”, malahan menegaskan: “Magdalena tak setinggi Petrus dalam hirarki tapi lebih dekat kepada Yesus melalui hatinya". Paus Gregorius juga mengatakan bahwa “Dia adalah seorang perempuan, yang menemukan hidup baru dalam Kristus.”
Beberapa sifat dasarnya sehingga bisa mendapatkan visio beatifica, antara lain:
a.Pertobatan:
Ia adalah wanita pendosa yang mengurapi kaki Yesus (Luk 7) dan yang dibebaskan dari 7 roh jahat (Luk 8). Ia adalah perempuan berdosa yang bertobat, yang memperoleh pengampunan sekaligus persahabatan dengan Kristus.
b.Perjuangan:
Ia berjuang menjadi saksi. Ia adalah saksi karya mukjizat dan ajaranNya (Luk 8:2); Saksi sengsara dan wafatNya (Mat 27:56; Mark 15:40,Yo 19:25); Saksi pemakamanNya (Mat 27:61, Mark 15:47) dan yang pasti ia menjadi saksi kebangkitan Yesus: melihat makam terbuka (Yoh 20:2), bertemu malaikat (Mat 28:1; Mark 16:1; Luk 24:10) dan bertemu dengan Yesus yang bangkit (Mat 28:1; Mark 16:9; Yoh 20:8). Dengan kata lain: Ia menjadi teladan bagi setiap orang yang dengan tulus hati berjuang menjadi saksi dan mengejar kekudusan, dalam bahasa Uskup Agung Genoa, Jacobus de Voragine, ia menjadi “illuminata et illuminatrix-Cerah dan Mencerahkan.”
c.Pengorbanan:
Ketika jenazah Yesus hilang dan ketika para murid pergi, Ia tetap tinggal sendirian dan menangis; terbakar oleh rasa kasih yang hebat pada Tuhannya. Ia yang tinggal sendirian untuk mencari Kristus adalah satu-satunya yang pertama melihat Dia. Karena pengorbanan dan ketekunan diperlukan dalam setiap perbuatan baik, seperti sang kebenaran mengatakan kepada kita: “orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
"Makan nasi di Cikini - Mari bersaksi dan mengimani."
3.
Kis 13:14,43-52; Why 7:9,14b-17; Yoh 10:27-30,22
“Pastores Dabo Vobis - Aku memberikan kamu para gembala”.
Inilah salah satu janji Yesus yang bisa kita kenangkan pada Minggu Paskah IV yang sejak tahun 1963 juga dijadikan sebagai Hari Minggu Panggilan. Bacaan Injil jelasnya mengajak kita untuk merenungkan figur dan tutur Yesus sebagai “Gembala Baik” (Lat: Pastor Bonus).
Adapun tiga kebaikan dasarNya, yakni:
- menyelamatkan/salvator,
- menghidupkan/animator dan
- membebaskan/liberator.
Bersama dengan Minggu Panggilan inilah, kita juga terpanggil dan terpilih untuk menjadi “pastor bonus” yg mau berjuang menyelamatkan, menghidupkan dan membebaskan hidup setiap orang di sekitar kita, entah sebagai rasul-rasul awam maupun secara khusus sebagai imam, bruder, dan suster.
Adapun sebuah cara sederhana spy kita bs mjd “pastor bonus” adl “dia.lo.gue” (baca: dialog), yakni sebuah ruang perjumpaan diri kita dengan “the others", yang lain - liane” yang kaya dan terbuka akan kontak sosial, al:
a. ”Dia.lo.gue” dengan Tuhan:
Inti masa Paskah yang masih kita rayakan pada hari ini adl mengenangkan dan mensyukuri karya penyelamatan Allah yang terlaksana dalam diri Yesus Kristus. Dengan adanya kesadaran iman yang terus di dialogkan dalam doa dan olah rohani inilah, kita memiliki akar yang kuat untuk selalu BERSYUKUR karena telah diselamatkan. Inilah makna teologisnya.
b. ”Dia.lo.gue” dengan sesama:
Kesadaran dan syukur atas karya keselamatan Allah yang berlaku universal ini menumbuhkan semangat kita untuk juga terus BERBAGI dengan sesama, terlebih orang yang kecil dan tersingkir, tanpa pandang bulu dan suku, lintas agama, gaya dan budaya, tentunya demi keselamatan jiwa-jiwa, atau dalam bahasa Romo Mangun: “mengangkat manusia-memuliakan Allah”. Inilah juga yang diwartakan Paulus dan Barnabas dalam bacaan pertama (Kis 13:47), bahwa mereka juga diutus “menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah dan membawa keselamatan sampai ke ujung bumi” Inilah makna sosiologisnya.
c. ”Dia.lo.gue” dengan alam:
Universalitas keselamatan Allah juga ditegaskan dalam bacaan kedua, dimana Yohanes menyampaikan penglihatannya bahwa orang-orang yang diselamatkan itu “merupakan kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa” (Why 7:9). Mereka yang telah mengalami keselamatan itu “tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi; matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi” (Why 7:16).
Yah, semua alam semesta dari pelbagai belahan dunia turut mengalami “syalom” karena telah turut diselamatkanNya. Kesadaran akan universalitas kasih Allah ini membuat kita juga seharusnya bisa selalu BERPEDULI terhadap alam sekitar. Inilah makna ekologisnya.
Adapun ketiga “dia.lo.gue” dasar ini mengandaikan sudah adanya juga kebiasaan untuk ber-“dia.lo.gue” dengan diri sendiri sebagai ruang untuk selalu ber-refleksi dan ber-instrospeksi.
Untuk melengkapi pelbagai “dia.lo.gue” di atas, baiklah kita ingat sepenggal pesan Bapa Suci Benedictus XVI (emeritus) untuk hari Minggu Panggilan: “Tuhan tinggal di tengah komunitas para murid, yaitu Gereja, dan hingga hari ini Dia masih memanggil orang-orang untuk mengikuti Diri-Nya. Panggilan dapat muncul setiap saat. Hari ini juga Yesus terus-menerus berkata: Datanglah ke mari dan ikutilah Aku”
“Naik skuter di Taman Sari - Ayo jadi suster dan masuk seminari”
Tuhan memberkati dan Bunda merestui. Fiat Lux!
4.
Kis 12:24-13:5a;
Mzm 67:2-3,5,6,8;
Yoh 12:44-50
“Lumen Gentium - Terang Para Bangsa”.
Inilah salah satu judul dokumen Konsili Vatikan II yang terpenting bahwa Tuhan datang sebagai “Lux Aeterna – Terang Abadi”:
"Aku datang sebagai terang supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan."
Secara ideal, inilah misteri Allah yg harus kita maknai:
Belajar menerangi tanpa menyakiti, tegar menghangatkan tapi tidak menyilaukan
Secara real, kita senyatanya hidup di dunia yang gemerlap dengan terang “hedonis-egois dan materialis, dimana segala sesuatu kini terang-terangan menjadi sangat komersial sekaligus dangkal: Uang menjadi seakan ”hosti”, mall menjadi seakan “gereja”, komputer dan televisi menjadi seakan “tabernakel”, bahkan kedirian seakan menjadi “Tuhan” bagi sesama.
Di tengah terang dunia yang tidak benar-benar terang inilah, kita kadang turut masuk dalam pusaran dan lingkaran kegelapan.
Hidup menjadi seolah seperti komedi putar: makin cepat dan makin cepat, namun tidak bisa keluar dari putaran itu sendiri.
Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang instan: ambil uang tinggal tekan tombol, ingin makan tinggal pesan di KFC atau Mc D, malas mencuci pakaian-langsung bawa ke laundry.
Jelasnya, kita hidup di dunia pasca-aksara, di mana mimpi dan kenyataan berlapis-lapis, yg nyata kadang seperti maya atau sebaliknya, yg maya mjd nyata.
Implikasinya: banyak orang beriman yang mengalami “malam gelap”: kaya harta tapi miskin cinta, cantik tapi kadang terjerat narkotik, sibuk "di luar" tapi hampa "di dalam",
terkenal tapi sebenarnya kesepian dan pelbagai topeng kepalsuan yang dialami oleh banyak pribadi dari pinggir desa sampai tengah kota.
Berangkat dari konteks real-aktual inilah, adapun tata nilai dasar yang saya usulkan supaya kita bisa menjadi “terang sejati” bagi yang lain adalah "4S", seperti yang saya tulis dalam buku “Via Veritas Vita”, al:
a."Solitude/Kesendirian”:
Bukankah Yesus punya kebiasaan untuk pergi dan sendirian bersama Allah di tempat yang sunyi?
Setiap kali kembali dari “persembunyiannya”, wajahnya menjadi bercahaya.
Harus diakui bahwa kita pasti memerlukan kesendirian “alone with GOD”-hanya bersama Allah yang sangat mencintai, supaya wajah kita juga bisa memancarkan terang Allah yang mendamaikan.
b."Silence/Keheningan”:
Bukankah seorang empu pembuat keris tidak hanya membuat pisau tajam berkelak-kelok belaka, tapi harus ada pamor nya?
Bukankah seorang penari tidak hanya menari dengan baik, tapi harus memiliki greget nya?
Dan, bukankah itu menjadi lebih ranum dan harum dalam keheningan?
c."Stillness/Ketenangan”:
“Lilin Lilin Kecil”. Inilah lagu yg mengajak kita untuk perlahan tapi pasti setia menanggalkan “gelap” dan mengenakan “terang”:
Yang lemah akan menjadi kuat-
yg kuat akan menjadi lemah,
yg skrg berjalan akan berhenti, dan yg skrg brdiri akan jatuh.
Siapa yang tenang tentu dialah yang siap “menang”, ya walau kadang terang kita diperdaya oleh iri dan dengki sesama, tapi kita diajak untuk berani terus menerus berdaya-cahaya dengan tenang, karena bukankah tepat kata Yeremia bahwa kita berharga di mataNya? (Bdk: Yer 29:11-14).
d."Simplicity/Kesederhanaan:
Bukankah lebih banyak orang yang jatuh dan salah arah, dari pada mereka yang berkembang?
Untuk sampai pada kesempurnaan hidup rohani, orang yang demikian harus mengalami proses 'dark night of the soul'.
Satu sikap yang paling utama untuk bisa berkembang mengatasi situasi itu adalah "simplicity"-kesderhanaan yang dekat-lekat dengan 'humility-kerendahan hati', karena membiarkan Allah yang benar-benar menyelenggarakannya.
Harapannya: In nomine Dei feliciter, dalam nama Tuhan semoga makin berbuah krn jelaslah kita hanyalah pantulan sinar dari matahari, hanyalah air yang mengalir dari sumbernya bukan?
"Sabun Lux ada di Tangerang - Fiat Lux jadilah terang!"
5.
Kis 13:44-52;
Mzm 98:1,2-3ab;
Yoh 14:7-14
“In Omnibus Quaerant Dei -
Dalam segala sesuatu menemukan Tuhan.”
Inilah harapan iman kita bahwa kita selalu bisa melihat Tuhan dalam keseharian. Permintaan Filipus kepada Yesus: “Tuhan, tunjukkan Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” mewakili kita yg kadang bingung tentang kehadiran Tuhan.
Yesus pun menjawab: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa.”
Lewat pertanyaan sederhana Filipus itulah, Penginjil Yohanes mau memaparkan cara Yesus menyatakan misteri dan identitas diri-Nya bahwa dalam diri Yesus, Allah yang tak kelihatan menjadi tampak: “Ecce homo et Deus est - Lihatlah manusia dan kamu akan melihat Tuhan”.
Menurut tradisi, Filipus sendiri dikenal sebagai penulis “Injil Filipus” yang ditemukan di Nag Hammadi dan penulis “Perbuatan-perbuatan Filipus”.
Adapun tiga sikap dasar Filipus yg bisa kita petik, al:
a. Sederhana:
Filipus adalah orang yang mempertemukan orang lain (Natanael) kepada Yesus.
Ia adalah seorang sederhana yang tertarik untuk lebih mengerti Yesus dan mengantar banyak orang kpd Yesus. Filipus lebih suka berbuat dari pada berbicara.
Ia tidak meladeni Natanael dan tidak mengajak orang-orang Yunani untuk berdiskusi adu ber-argumentasi, tetapi membawa mereka langsung pada intinya, yaitu bertemu dengan Yesus. Mempertemukan orang lain kepada Yesus merupakan pilihan hidupnya. Bahkan ketika merasa bingung karena tidak serta-merta bisa melihat dan mengenali Allah yang bersatu denganNya, ia langsung bertanya kepada Yesus.
Ya, begitu dia menghadirkan manusia, sekaligus dia
juga menghadirkan Allah; begitu dia melihat manusia, dia juga sekaligus melihat Allah.
Sederhana bukan?
b. Setia:
Filipus tetap mengikuti Yesus walau kadang ia merasa bingung dan tidak langsung mengerti tentang Yesus.
Ia tipikal orang yang tahan uji dan mudah percaya. Ia tetap setia menjadi muridNya, bahkan ketika krisis melanda murid-murid Yesus dan banyak yang mengundurkan diri serta tidak lagi mengikuti Yesus karena perkataan Yesus yang keras dan kadang tidak mudah dimengerti (Yoh 6:60-71).
c.Semangat:
Filipus itulah yang setelah kebangkitan Yesus, bersama dengan sebelas murid yang lain diutus menjadi rasul dan menerima kuasa untuk mewartakan Yesus yang bangkit.
Ia juga menerima pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis 1:13; 2:1-4). Ia bersemangat mewartakan Injil di Perancis, Rusia Selatan, Asia Kecil dan India sampai dipenjarakan di Skitia.
Menurut Uskup Polikarpus dan Antiokhia dan Kiemens dan Aleksandria, Filipus dianiaya dan meninggal sebagai martir di Frigia — Hierapolis dengan disalibkan terbalik. Jenazahnya kemudian dibawa dan dikuburkan di Konstantinopel, lalu ke Roma. Pada abad ke-6 Paus Pelagius mendirikan Gereja yang didedikasikan kepada St. Filipus dan St. Yakobus Alfeus.
Gereja itu disebut “Gereja para Rasul Kudus” dan kedua jenazah mereka dimakamkan di bawah altar utama.
“Cari semangka di Tarsus-Kita bersuka punya Tuhan Yesus.

Credo et gaudo - Aku percaya dan bersukacita



HIK – HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN, IMAN, KASIH.
"Credo et gaudo - Aku percaya dan bersukacita”.
Kis 11:19-26; Mzm 87:1-3,4-5,6-7; Yoh 10:22-30
Yesus, Gembala Baik (Pastor Bonus) mengharapkan kita 100% percaya dan mengimaniNya seperti teladan Rasul Barnabas.
Dalam bacaan pertama (Kisah 11:24), ditampakkan tiga kualitas dasar yang dimiliki Barnabas sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan, yakni: orang yang baik/ bermoral; yang penuh dengan Roh Kudus/dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga menghasilkan buah-buah roh; yang juga penuh dengan iman/100% percaya akan Tuhan.
Berangkat dari historiografi Gereja, tercatat bahwa ada tiga komunitas imani yang terbangun pada abad pertama kristianitas, antara lain:
a. Jemaat di Yerusalem dengan Yakobus sebagai “pastor”nya .
b. Jemaat di Efesus dengan Yohanes sebagai “pastor”nya.
c. Jemaat di Antiokhia di bawah penggembalaan “pastor” Barnabas.
Sejarah mencatat bahwa jemaat di Yerusalem hancur, karena terlalu tertutup, jemaat di Efesus juga terpecah-belah dan tercerai-berai karena terlalu banyaknya konflik. Satu-satunya jemaat Gereja perdana yang bertahan: berakar dalam iman-bertumbuh dalam persaudaraan dan semakin berbuah dalam karya pelayanan adalah jemaat Antiokhia dengan Rasul Barnabas sebagai “pastor”/gembalanya: “Di Antiokhialah, murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kisah 11:26).
Barnabas! Siapa dia? Mungkin banyak dari kita yang belum mengenalnya secara utuh dan penuh, bukan? Padahal pepatah klise kerap berkata, ‘tak kenal maka tak sayang, bukan?’ Kadang juga nama rasul ini malahan tertukar dengan nama Barabas, penjahat yang dibebaskan dalam konteks penghakiman Yesus. Sebenarnya siapa itu Barnabas, bisa kita lihat dalam sepenggal kisah di Kis 4:36: “Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.”
Nama Barnabas ini berasal dari sepenggal kata dalam bahasa Ibrani, בר - BAR, yang berarti "anak", dan kata נביא - NEBI, "nabi". Banyak ahli yang menafsirkan nama ini juga lekat dengan kata “BAR” (yang berarti ‘anak’), serta “NABAS”, (yang berhubungan dengan kata NEWAHA, (Aram), yang berarti 'perdamaian' atau 'penghiburan'). Namun, secara komprehensif, Lukas sebenarnya tidak bermaksud memberikan etimologi ilmiah, tetapi lebih untuk menunjukkan watak orang itu secara deskriptif.
Barnabas sendiri, yang nama aslinya adalah Yusuf, berasal dari keluarga imam Yahudi-Siprus, dan Yohanes Markus dari Yerusalem adalah kemenakannya (Kolose 4:10), dan dia sendiri adalah anggota dari gereja di Yerusalem, yang menjual miliknya (barangkali di Siprus) untuk menjadi milik umum (Kisah 4:36). Secara sederhana, Barnabas, dalam bahasa Inggris, banyak disebut sebagai “son of encouragement”, yang artinya jauh lebih besar dari sekedar anak penghiburan. Ia adalah pendorong dan pengobar semangat yang penuh kepercayaan pada Tuhan. Mengacu pada pelbagai bagian dari Kisah Para Rasul, terbukti bahwa Barnabas benar-benar pantas menyandang julukannya sebagai pendorong dan pengobar semangat.
Bagaimana Barnabas bisa disebut sebagai ‘son of encouragement’ atau anak penghiburan, pendorong dan pengobar semangat? Ternyata ada 5 jurus cinta dari Barnabas sebagai orang percaya yang selalu "menghibur" dan "memberi semangat", seperti yang saya tulis dalam buku “3 Bulan 5 Bintang 7 Matahari” (Kanisius), al:
1. BERMURAH HATI:
Ia memberi secara sukarela dari harta miliknya (Kis 4:36-37). Bandingkanlah sepenggal pernyataan dari Kisah 4:36-37: “Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.”
Kita kerap memberi semangat hanya berhenti pada kata-kata, tetapi Barnabas melakukan lebih dari itu. Ia melakukan sesuatu yang “magis” (lebih dari sekedar, bersemangat maksimal), untuk mendorong dan menyemangati orang lain. Ia memiliki jurus pertama, yakni: bermurah hati kepada orang lain. Barnabas menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul dengan sukarela (bukan dengan sukar rela). Di lain matra, Barnabas tidak seperti banyak rekannya, ia mencari nafkahnya sendiri dan ia tidak meminta-minta dari gereja-gereja (Bdk. 1 Korintus 9:6).
2. BERPIKIR POSITIF:
Ia menerima orang lain apa adanya (Kis 9:20-27). Lihatlah sepenggal kisah yang tercatat dalam Kis 4:26-27: “Setibanya di Yerusalem, Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid. Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.” Dalam Kis 9:1-19, diceritakan pertobatan dramatis dari Saulus. Sewaktu Saulus yang telah bertobat datang ke Yerusalem, para rasul dan banyak orang Kristen disana menganggapnya sebagai spionase: "mata-mata Yahudi".
Disinilah, Barnabas dengan pikiran positifnya, memperkenalkan Saulus kepada tokoh utama rasul dan meyakinkan mereka tentang pertobatan dan kesungguhan hati Saulus. Dkl: ketika para murid skeptis dan tidak langsung mempercayai pertobatan Saulus (Kis 4:26), Barnabas malahan tetap berpikir positif, dengan berani menerima Saulus tanpa banyak kecurigaan atau stigma negatif (Kis 4:27). Dan, karena Barnabas-lah, Saulus akhirnya diterima oleh para rasul dan para murid yang lain. Jelaslah, Barnabas mengajak kita untuk memiliki jurus keduanya, yakni: belajar berpikir positif terhadap orang lain. Ia menanggalkan kecurigaan dan stigmatisasi terhadap orang lain.
3. BERSIKAP SPORTIF:
Ia bersukacita melihat kemajuan orang lain (Kis 11:19-23). Lihatlah lagi sebuah kesaksian yang tercatat dalam Kis 11:19-24: “Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan. Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia.
Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.”
Dalam Kisah Rasul bab 1-10, terlihat bahwa kekristenan awal hanya disebarkan kepada orang Yahudi saja. Tapi, dalam perkembangan selanjutnya, pada Kisah Rasul bab 11, dicatat bahwa kekristenan mulai disebar-pencarkan juga kepada banyak orang non Yahudi. Ketika pimpinan gereja di Yerusalem mendengar kabar tentang jemaat di Antiokhia, maka mereka mengirim seseorang, yaitu Barnabas.
Secara umum, kaum Yahudi pada saat itu menganggap bahwa keselamatan hanyalah untuk orang Yahudi, sedangkan orang non-Yahudi tidak pantas diselamatkan dan bahkan tidak pantas untuk menyembah Allah yang sama, namun Barnabas tidak melihat dari kacamata sempit tersebut. Lukas mencatat bahwa Barnabas bersukacita dan menasihati mereka (Kis 11:23). Barnabas bersukacita melihat kasih karunia Tuhan yang dinyatakan kepada orang non Yahudi. Iniah jurus yang ketiga, Barnabas mengajak kita untuk berani bersikap sportif. Ia mengajak kita berani mengakui, menghargai dan mengagumi kelebihan orang lain, bahkan orang yang kadang berbeda latar belakang dan tidak sekelompok dengan kita.
4. BEKERJASAMA:
Ia mau melibatkan orang lain bahkan memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertumbuh, bahkan bertumbuh melebihi mereka (Kis 11:25-26). Lihatlah lagi sepenggal kisah lain yang tercatat pada Kis 11:25-26: ”Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”
Satu hal pokok yang menjadi perhatian kita adalah bahwa yang dikirim ke Antiokhia, sebenarnya hanyalah Barnabas. Secara sederhana, ia bisa saja melakukan hal tersebut sendiri. Namun, ia tahu bahwa ada seseorang yang lebih mampu untuk mengajar jemaat di Antiokhia, sehingga ia membawa Paulus (Kis 11:25). Apa yang terjadi? Tindakannya untuk membawa Paulus adalah tepat karena jemaat di Antiokhia berkembang pesat dan dicatat bahwa di Antiokhia ini, para murid Yesus itu untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kis 11:26).
Inilah jurus Barnabas yang keempat. Ia mengajak kita untuk berani bekerjasama. Kita bukan bersemangat, “single fighter”, tapi bersemangat dalam sebuah suasana penuh kerjasama dan persaudaraan. Pada awalnya, Barnabas-lah yang memang diminta mewakili para rasul di Antiokhia untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi dalam jumlah besar. Gerakan ini dilihatnya sebagai pekerjaan Allah dan dilandasi niat baik, Barnabas mendatangkan Saulus untuk ikut bekerjasama.
Disinilah tampak bahwa Barnabas rindu melihat orang lain bertumbuh. Itulah alasan mengapa ia memberi kesempatan pada Paulus, bahkan walaupun itu berarti Paulus sangat bisa bertumbuh melebihi dirinya sendiri.
Perhatikanlah: Di awal pelayanan, disebutkan susunan mereka adalah Barnabas dan Saulus (Kis 11:30), tetapi kemudian susunan ini telah berubah menjadi Paulus dan Barnabas (Kis 13:42). Penjabarannya: Pada awal karya, ditampakkan bahwa Barnabas adalah pemimpin, sedangkan Paulus muridnya. Urutan inilah, yang selalu dipegang oleh penulis Kisah Para Rasul, sampai mereka meninggalkan Siprus, yakni: ‘Barnabas dan Saulus’. Sesudah itu, penginjil Lukas sekaligus penulis Kisah Para Rasul ini, biasa mengatakan ‘Paulus dan Barnabas’ (lihat Kisah 13:43, 46,50; Kisah 15:2, 22, 35).
Dkl: Pengobar semangat yang sejati tidak pernah mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri dengan bekerja sendiri melulu, melainkan mencari kemuliaan hanya bagi Kristus dan oleh karenanya, dia terbuka dan rendah hati untuk mau bekerjasama dengan orang lain, yang sama-sama berkehendak baik.
5. BERANI MEMBERI KESEMPATAN:
Ia terus berani memberi kesempatan kepada orang lain, bahkan orang yang kerap di cap “gagal”, untuk hidup lebih baik (Kis 15:35-41). Buktinya, lihatlah kisah yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 15:35, “Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan firman Tuhan. Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: "Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan.”
Mengacu pada sejarah Gereja perdana, dicatat sebelumnya dalam Kisah Para Rasul bahwa Markus bergabung dalam pelayanan pertama Barnabas dan Paulus, tetapi ia meninggalkan pelayanannya di tengah jalan. Ia ditolak sebagai orang yang gagal. Barnabas dan Paulus berbeda pendapat mengenai sikap kepada orang yang 'gagal' ini". Paulus memiliki hati seorang penginjil (baginya pelayanan itulah yang penting), tapi Barnabas memiliki hati seorang gembala (baginya manusianya itulah yang terpenting).
Barnabas melihat ada potensi dan nilai baik dalam diri Markus yang gagal ini, dan Barnabas berani ambil resiko untuk memberikan kesempatan kedua untuknya. Inilah jurus kelima dari Barnabas. Ia berani memberi kesempatan kepada orang lain. Ia tidak mudah memberi cap atau stigma negatif, tapi ia malahan memberikan kepercayaan dan kesempatan kedua kepada rekan atau sesamanya yang pernah “gagal, “jatuh” dan salah.”
Merupakan sebuah kenyataan, kadang para ‘korban’ (orang-orang yang pernah salah, jatuh dan gagal) mengalami tiga macam ‘penyaliban’: stigmatisasi/di-cap buruk, marginalisasi/disingkirkan, serta viktimisasi/dikorbankan. Tapi, hal ini tidak berarti sama bagi Barnabas. Hatinya penuh belarasa, yang bukan cuma sloganistik tapi sungguh menjadi kenyataan harian, yang bukan cuma “pabrik kata-kata” tapi menjadi tindakan cinta yang benar-benar nyata.
“Ada buaya ada louhan-Orang percaya disayang Tuhan”.
Tuhan memberkati dan Bunda merestui.
Fiat Lux!
NB:
Sebuah tambahan pengetahuan tentang figur Barnabas:
Surat kepada Orang Ibrani yang dicatat dalam Kitab Suci Kristiani, sering dianggap berasal dan ditulis oleh Barnabas, sedikit-sedikitnya sejak zaman Tertulianus. Ia juga pernah dianggap sebagai penulis Surat 1 Petrus oleh AC McGiffert (Christianity in the Apostolic Age, 1897 p 593).
Ada pula sebuah buku “apokrif”, yang disebut Injil Barnabas, yang berasal dari abad pertengahan (+ antara abad XIII s/d XVI) untuk kepentingan propaganda dan syiar gama tertentu dan jelas-jelas ditulis bukan oleh Barnabas.