Ads 468x60px

Nyala Cinta yang Hidup

Sebuah terjemahan dari salah satu puisi mistikus gereja, St Yohanes dari Salib, yang kami beri judul dalam bahasa Indonesia sebagai: "Nyala Cinta yang Hidup".

O nyala cinta yg hidup, yang dengan lembut melukai.
O nyala cinta yang merobek tirai, pada perjumpaan yang singkat ini.
O nyala luka cinta yang halus manis, belaian yang lembut. Engkau berbicara tentang cinta yang kekal, yang mengubah kematian dalam hidup.
O nyala cinta yang menciptakan segala.
O nyala cinta yang kekal dan agung. Nyalamu lebih kuat daripada segala sesuatu, lebih kuat daripada kematian.

Pati Sajroning Urip, Urip Sajroning Pati

Pati sajroning urip, urip sajroning pati - Hidup itu dengan sendirinya sudah menggendong kematian, hanya dengan demikian, orang boleh hidup dengan sungguhan." Itulah pepatah orang Jawa yang mengamini pepatah orang latin: "Homo proponit, sed Deus disponit, yg berarti "manusia berencana, Tuhan yang memutuskan." 

"HIK": Senyuman - SEtia NYUMbangkan iMAN."

“Hadapi dengan senyuman - semua yang terjadi biar terjadi - hadapi dengan tenang jiwa - semua kan baik-baik saja. Bila ketetapan Tuhan - sudah ditetapkan - tetaplah sudah - tak ada yang bisa merubah - dan takkan bisa berubah.Relakanlah saja ini -bahwa semua yang terbaik - terbaik untuk kita semua - menyerahlah untuk menang.”.

RIP-Requescat in Pace, Beristirahatlah dalam damai

RIP-Requescat in Pace, Beristirahatlah dalam damai. Inilah sebuah ajakan iman Gereja untuk setiap arwah orang beriman. Tentunya kedamaian ini juga berlaku buat setiap pribadi yang pernah/sedang ditinggal mati. Untuk itulah, saya tampilkan lagi sepenggal puisi sastrawi yang juga saya kenangkan ketika "in memoriam", memperingati meninggalnya bapak saya di tahun 2007: