Ads 468x60px

Selasa, 05 Februari 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.                     

Selasa, 05 Februari 2019
Peringatan Wajib Sta. Agata, Perawan dan Martir
Ibrani (12:1-4)
(Mzm 21:2b-27;8.30.31-32)
Markus (5:21-43)       

"Evangelium Vitae - Injil Kehidupan!"

Injil sebagai kabar baik yang hidup banyak mengisahkan tentang orang sakit yang menjamah Yesus. (Mr 3:10; 5:27-34; 6:56) atau Yesus yang menjamah mereka. (Mr 1:41-42; 7:33-35; Mat 8:3,15; 9:29-30; 20:34; Luk 5:13; Luk 7:14-15; 22:51)

Sentuhan dan kehadiran Yesus itulah yang menghidupkan. SentuhanNya berkuasa untuk menghidupkan karena Ia mengasihani kelemahan kita dan Ia adalah sumber kehidupan yg penuh kasih karunia dan kehidupan (Ibr 4:16).

Hari ini, marilah kita juga belajar beriman dari Yairus. Dinamika imannya yang hidup meliputi: mencari Yesus, melihat Dia, tersungkur di depan kaki-Nya, dan memohon kepada-Nya. Di tengah ketakjubannya bersama banyak orang, ia tidak lupa bersyukur atas kehadiran Tuhan yang menyelamatkan anaknya.

Dkl: Tanggung jawab kita dalam mendambakan kesembuhan adalah mendekatkan diri kepada Yesus serta hidup di hadapanNya (Mat 17:20).

Pada bacaan hari ini, putri Yairus, si kepala rumah ibadat itu sudah meninggal (Mr 5:35). Tanggapan Yesus ialah membangun iman sang ayah, bahkan dalam situasi yang tampaknya tak berpengharapan.

Sepanjang sejarah penebusan, orang percaya telah menempatkan kepercayaan mereka kepada Allah sekalipun kelihatannya seakan segala sesuatu tidak memberi harapan lagi.

Pada saat-saat seperti itu, Allah menganugerahkan iman yang diperlukan dan melepaskan umat-Nya sesuai dengan tujuan dan kehendak-Nya (Maz 22:5; Yes 26:3-4; 43:2).

Hal ini berlaku bagi banyak pahlawan iman yang hidup, al:

Abraham (Kej 22:2; Yak 2:21-22),
Musa (Kel 14:10-22; 32:10-14),
Daud (1Sam 17:44-47),
Yosafat (2Taw 20:1-2,12),
Yairus (Mrk 5:21-23,35-42).

Pastinya, berlaku juga buat kita semua bukan?

Akhirnya, bersama dengan teladan St Yohanes Bosco yang akan kita kenangkan di akhir bulan ini, baiklah kita ingat pesan terakhirnya di tempat tidurnya:

“Kasihilah satu sama lain seperti saudara. Berbuatlah baik kepada semua orang dan janganlah berbuat jahat kepada siapa pun. Katakanlah kepada anak-anak bahwa aku menanti mereka semua di Surga.”

"Abdullah cari galah - Bangkitlah dan bergeraklah."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

NB:
1.
ULASAN EKSEGETIS
BACAAN INJIL (Mrk 5:21-43) :
"DASHYATNYA BERHARAP".

Rekan-rekan yang baik!
Kali ini ada kisah mukjizat yang unik susunannya. Kisah mengharukan mengenai kesembuhan seorang perempuan dari sakit pendarahan (Mrk 5:25-34) terbingkai di dalam kisah Yesus menghidupkan kembali anak perempuan Yairus (Mrk 5:21-24, 35-43). Kedua peristiwa itu terjalin satu sama lain lewat harapan yang kuat dan penuh kepercayaan dari orang-orang yang mendekat kepada Yesus, baik Yairus maupun perempuan tadi. Kekuatan penyembuh dalam diri Yesus tidak bisa tinggal diam di hadapan harapan yang sebesar itu dan kepercayaan yang selugu itu.

A.
MENGHIDUPKAN HARAPAN.

Ketika Yesus kembali dari seberang danau dengan perahu, orang banyak datang berbondong-bondong mengerumuninya. Mereka ingin mendengarkan pengajarannya. Seperti biasa, orang-orang itu juga memintanya menyembuhkan orang sakit. Seorang di antara mereka bernama Yairus, kepala rumah ibadat.

Orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang ini datang ke hadapan Yesus dan bersujud. Ini tindakan penghormatan yang luar biasa, apalagi bila dilakukan oleh seorang kepala rumah ibadat. Dimintanya dengan sangat agar Yesus datang menumpangkan tangan pada anak perempuannya yang sedang sakit, katanya, “agar selamat” dan “tetap hidup”.

Permintaan ini mengungkapkan harapan yang amat besar pada Yesus. Boleh diduga, sudah macam-macam upaya dijalankannya tetapi tanpa hasil. Kini ia amat khawatir anak perempuannya itu tidak bakal sembuh. Tidak diceritakan apa jawaban Yesus. Hanya disebutkan bahwa ia pergi bersama Yairus diikuti orang banyak yang berdesak-desakan. Markus kiranya hendak mengungkapkan betapa besarnya harapan Yairus dan rasa ingin tahu orang banyak itu. Apa yang bakal dilakukan Yesus? Dapatkah ia menyembuhkan seperti biasa? Sampai saat ini memang belum ditampilkan perkataan Yesus sendiri.

Di antara kerumunan itu ada seorang perempuan yang menderita penyakit pendarahan. Semacam haid yang berkepanjangan dan tak teratur. Ada hal penting yang jelas bagi pembaca waktu itu walaupun tidak dituliskan dalam kisah ini.

Menurut hukum agama Yahudi, perempuan dalam keadaan ini dianggap menajiskan tempat yang dipakainya berbaring atau tikar tempat duduknya. Juga siapa saja, laki atau perempuan, yang bersentuhan dengan barang-barang tadi akan ikut najis. Mereka harus menjalankan upacara pembersihan diri. Lihat peraturan yang terperinci dalam Im 15:25-30.

Jadi perempuan itu harus disingkiri dan dijauhi. Boleh jadi juga ia sendiri memisahkan diri. Hidupnya terkucil. Ia sudah menerima nasib. Putus asa. Tak ada tabib yang bisa menyembuhkannya dan uangnya sudah habis dipakai berobat. Tapi kali ini ada sesuatu yang lain. Banyak telah didengarnya mengenai Yesus.

Hanya Markuslah yang menuliskan hal ini, seakan-akan ia dapat menyelami batin perempuan itu. Dan kita diajak ikut merasakan yang dirasakan Markus. Matius dan Lukas tidak merasa perlu memasuki batin perempuan itu.

Perempuan tadi datang mendekat kepada Yesus, kendati ada orang banyak yang dalam keadaan biasa tentu menjauhi dan dijauhi perempuan itu. Kabar tentang Yesus yang sampai ke telinganya ternyata menghidupkan kembali harapan yang sudah berangsur-angsur pudar dan mati. Perempuan itu menemukan keberanian mendekat ke tokoh tenar dan penyembuh hebat ini. Ia juga tidak membiarkan diri terhalang oleh rambu-rambu yang telah menyingkirkan dirinya.

B.
MENYENTUH JUBAH.

Maka kata perempuan tadi dalam hati, “Asal kusentuh saja jubahnya, aku akan sembuh!” Dan terjadilah demikian. Menarik diamati, dalam kisah ini, peristiwa menyentuh jubah itulah yang membuat Yesus mulai berbicara, “Siapa menyentuh jubahku?” Pertanyaan aneh. Juga bagi orang zaman itu. Karena itulah murid-murid menyahut, lihat sendiri, kan ada banyak orang berdesak-desakan, kok bertanya siapa menyenggol jubah segala! Gimana sih Bapak Guru ini. Tetapi tidak aneh bagi Yesus – ia merasa ada kekuatan dari dirinya tertarik keluar.

Pakaian yang paling luar, jubah, memberi bentuk pada orang yang memakainya. Bagi orang zaman itu, pakaian membuat orang yang memakainya bisa dikenal secara khusus. Motif seperti ini sering dijumpai: di sebuah gunung nanti pakaian Yesus jadi putih berkilauan, di bawah salib nanti pakaian luarnya diundi, di kubur nanti ada sosok yang berpakaian jubah putih – dan juga kisah penuh tanda tanya mengenai pemuda yang akan ikut ditangkap di Getsemani tapi berhasil meloloskan diri dengan melepaskan pakaiannya yang hanya sehelai itu. Ia tidak lagi dikenali karena tak berpakaian lagi.

Dalam peristiwa kali ini, perempuan yang sakit pendarahan tadi melihat Yesus yang sudah banyak didengarnya itu dengan mata kepala sendiri dan mengenali siapa dia: tumpuan harapan satu-satunya. Dan sisi Yesus yang dikenalinya itulah yang disentuhnya. Dan ada kekuatan yang keluar daripadanya yang mengubah keadaannya.

Setelah mendengar reaksi Yesus, perempuan itu menjadi takut dan gemetar, lalu bersujud kepada Yesus. Ini pengakuan akan siapa Yesus itu. Tetapi apa yang dikatakan Yesus kepadanya? Sapaannya penuh perhatian, “Nak, imanmu telah menyelamatkanmu. Bukan hanya kesembuhan dari pendarahan belaka diperoleh oleh perempuan itu.

Berita tentang dia yang telah banyak didengar, itulah yang menyelamatkannya dari apatisme dan keputusasaan serta pengucilan diri dari masyarakat. Yesus masih menambahkan, “Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!” Harapan sembuh dari penyakit yang diidap 12 tahun itu menjadi kenyataan dan bukan hanya itu, ia mendapat tambahan lebih besar lagi, bisa hidup damai dengan diri sendiri dan dengan orang lain, dan akan tetap begitu. Inilah yang didapat oleh perempuan yang mengenali siapa Yesus itu dan berani mendekat kepadanya. Keluguan dan keberanian perempuan seperti itu masih bisa dijumpai kini juga dan perlu lebih diakui.

C.
TETAP PERCAYA!

Pada saat itu beberapa orang dari keluarga Yairus datang dan mengatakan bahwa anak perempuannya sudah mati. Tak perlu lagi merepotkan sang Guru. Mereka tidak melihat siapa dia sesungguhnya. Memang ia bisa menyembuhkan, tapi menghidupkan yang sudah mati? Mana bisa. Tak usah saling mempermalukan nanti. Begitulah jalan pikiran mereka.

Pembaca bagaimana? Kisah penyembuhan perempuan berpendarahan tadi membuat pembaca tahu bahwa Yesus dapat menghidupkan harapan yang sudah mati. Memang Markus bermaksud membuat pembaca melihat perkara ini sambil mengikuti jalan peristiwa yang dituturkannya.
Pembaca boleh ikut merasakan yang dialami Yairus. Nasi sudah jadi bubur! Apa permintaannya menumpangkan tangan dan menyembuhkan anaknya masih ada artinya? Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Jangan takut, percaya saja!” Dan ia berjalan ke rumahnya untuk menemui anak perempuannya.

Dalam Injil, “jangan takut” dipakai untuk mengisyaratkan kekuasaan ilahi. Dan ditambahkannya “percaya saja!”. Bila teks aslinya diikuti, maka perlu diterjemahkan “Terus percaya saja!” (Lukas memakai bentuk yang bisa diterjemahkan “Percayalah saja!”, tapi ia juga menambahkan, “maka ia akan diselamatkan!” Luk 8:50).

Orang-orang mulai menertawakan Yesus ketika ia berkata bahwa anak perempuan itu hanya tidur, tidak mati, maka tak usahlah ribut-ribut menangisinya. Mereka tak bisa percaya. Apa sebetulnya yang terjadi? Apakah Yesus yakin anak itu tidur. Tidak usah kita menduga-duga. Baginya hidup atau mati itu urusan yang di atas sana.

Nanti, seperti dikisahkan dalam Injil Yohanes, ia memanggil keluar Lazarus yang sudah empat hari mati. Baik anak perempuan tadi maupun Lazarus memang sudah mati, tetapi kematian pun kiranya tidak dapat bertahan di hadapan Yesus. Inilah yang ditampilkan bagi kita.

Hanya Markuslah yang menyebut anak itu berusia 12 tahun. Pembaca diingatkan bahwa perempuan yang sakit pendarahan itu telah menderita 12 tahun juga sebelum berjumpa dengan sang pemberi kehidupan baru. Tapi ada juga alasan lain. Pada usia itu seorang anak mulai menjadi dewasa menurut hukum Taurat. Hingga umur ini seorang anak ada di bawah pengajaran bapaknya, yakni Yairus. Pada umur 12 seorang anak akan diserahkan kepada Taurat sendiri.

Di dalam kisah ini anak perempuan itu dipanggil bangun oleh sang Taurat yang hidup. Dalam kisah ini anak itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendengar. Dan yang didengarnya pertama kali dari Taurat hidup ini ialah panggilan penuh perhatian “Talita”, artinya domba betina yang masih kecil, tapi dalam bahasa Aram juga dipakai untuk menyapa anak perempuan, seperti “Nak!”. Kemudian didengarnya pula perintah “Qum” (=Bangunlah!) dari dia yang menyapa dengan penuh perhatian tadi. Dan anak perempuan Yairus itu menurut dan hidup kembali.

Ketiga murid terdekat, yakni Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ikut menyaksikan bagaimana kematian pun tidak bisa bertahan di hadapan perkataan dia yang membawakan kehidupan baru ini. Mereka melihat sendiri bagaimana harapan dan kepercayaan Yairus menjadi hidup dalam diri anak perempuannya. Dan inilah yang dibagikan tokoh-tokoh yang paling berwibawa itu kepada kita semua lewat Markus dalam Injil hari ini.

Pada awal ulasan disebutkan Yesus tidak bisa tinggal diam di hadapan harapan yang sebesar itu dan kepercayaan yang selugu itu. Dan yang diberikannya kepada mereka ialah perhatian yang nyata. Ini kasih. Dan inilah yang menyembuhkan, yang menghidupkan. Itulah dahsyatnya berharap padanya. Di situlah letak mukjizatnya. (AG).

2.
MONK. MISSION. MERCY.

Carilah Tuhan setiap hari.
Tapi carilah Ia di dalam hatimu, bukan di luarnya.
Dan ketika kau menemukan Ia, berdirilah dengan takut dan gemetar, seperti kerubim dan serafim, karena hatimu telah menjadi tahtaNya.
Untuk dapat menemukan Tuhan, orang harus merendah seperti menjadi debu di hadapanNya, karena Tuhan melarang kesombongan, Ia hanya mengunjungi mereka yang rendah hati : "Siapakah yang kucari, yaitu dia yang lemah lembut dan rendah hati."

3.
Kutipan Teks Misa.

“Tuhan Yesus Kristus, Guru yang baik, aku bersyukur, sebab aku telah Kauberi kekuatan untuk mengatasi siksaan agoljo.” (St. Agata)
 
Antifon Pembuka
Inilah perawan yang budiman, yang keluar menyongsong Kristus dengan pelita bernyala.

Doa Pembuka
Ya Tuhan, Santa Agata, perawan dan martir, senantiasa menyenangkan hati-Mu karena berani mempertahankan kemurnian dan rela mati demi iman. Kami mohon, berikanlah belas kasih-Mu kepada kami berkat doa-doanya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
       
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (12:1-4) 
"Marilah kita berlari dengan tabah hati dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita."
   
Saudara-saudara, kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita. Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Dialah yang memimpin kita dalam iman, dan Dialah yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan! Dengan mengabaikan kehinaan Ia tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Yesus, yang tabah menanggung bantahan terhadap diri-Nya, bantahan yang datang dari pihak orang-orang berdosa. Janganlah kamu menjadi lemah dan putus asa, sebab dalam pergumulanmu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Orang yang mencari Engkau, ya Tuhan, akan memuji-muji Engkau.
Ayat. (Mzm 21:2b-27;8.30.31-32)
1. Nazarku akan kubayar di depan orang-orang yang takwa. Orang miskin akan makan sampai kenyang, orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia; biarlah hati mereka hidup untuk selamanya!
2. Segala ujung bumi akan menjadi sadar, lalu berbalik kepada Tuhan; segala rumpun bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya. Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah: Semua orang sombong di bumi, di hadapan-Nya akan berlutut semua orang yang telah kembali ke pangkuan pertiwi.
3. Dan aku akan hidup bagi Tuhan, anak cucuku akan beribadah kepada-Nya. Mereka akan menceritakan hal ikhwal Tuhan kepada angkatan yang akan datang, dan menuturkan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti. Semua itu telah dikerjakan oleh Tuhan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Yesus memikul kelemahan kita, dan menanggung penyakit kita.
   
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (5:21-43) 
"Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!
     
Sekali peristiwa, setelah Yesus menyeberang dengan perahu, datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia. Ketika itu Yesus masih berada di tepi danau. Maka datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika melihat Yesus, tersungkurlah Yairus di depan kaki-Nya. Dengan sangat ia memohon kepada-Nya, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati. Datanglah kiranya, dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakkan di dekat-Nya. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sampai habislah semua yang ada padanya; namun sama sekali tidak ada fadahnya, malah sebaliknya: keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus. Maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kujamah saja jubah-Nya aku akan smebuh.” Sungguh, seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa badannya sudah sembuh dari penyakit itu. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya. Maka Ia berpaling di tengah orang banyak itu dan bertanya, “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab, “Engkau melihat sendiri bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu! Bagaimana mungkin Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Lalu Yesus memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan itu. Maka perempuan tadi menjadi takut dan gemetar sejak ia mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya. Maka ia tampil dan tersungkur di depan Yesus. Dengan tulus ia memberitahukan segala sesuatu kepada Yesus. Maka kata Yesus kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah mati! Apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus, dan Yohanes, saudara Yakobus. Dan tibalah mereka di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana Yesus melihat orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk, Yesus berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” tetapi mereka menertawakan Dia. Maka Yesus menyuruh semua orang itu keluar. Lalu Ia membawa ayah dan ibu anak itu, dan mereka yang bersama-sama dengan Yesus masuk ke dalam kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum”’ yang berarti, “Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Yesus berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu. Lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan
Hati penuh belas kasih dinyatakan oleh Yesus Sang Guru Junjungan saat berhadapan dengan sikap iman wanita yang telah dua belas tahun sakit pendarahan. Cukup banyak orang dan sahabat yang mempunyai kerinduan untuk mendapatkan kasih karunia Allah. Pelbagai macam cara diungkapkan, ada yang berdoa, berkunjung ke berbagai tempat ziarah, dan berusaha dengan aneka cara yang lain. Ada juga keluarga dan kerabat yang berjuang mencari cara pengobatan alternatif berdasarkan info yang diterima melalui para sanak saudara dan kenalan. Ada juga upaya melalui sikap batin yang dipadu dengan sikap pasrah sumarah oleh anak-anak dan kerabat bagi orang tuanya yang sudah dalam batas daya kemampuan agar bersiap memasuki keabadian dalam kesatuan kasih dengan Sang Pencipta. Hal-hal semacam ini menjadi dinamika hidup beriman. Kehadiran sanak saudara atau kerabat dalam komunitas lingkungan atau paguyuban menjadi kekuatan atau peneguh.

Hingga saat ini cukup banyak umat yang mengungkapkan tindakan simbolik dalam perayaan liturgi atau devosi atas pengalaman kehidupan yang menimpa dan memohon rahmat kasih Tuhan. Doa devosi Adorasi Ekaristi dan penyembahan

Sakramen Mahakudus, ziarah sembilan gua Maria, novena Tiga Salam Maria adalah beberapa jenis doa devosi yang sangat populer bagi umat. Hal ini menjadi penanda bahwa ungkapan iman seperti yang dinyatakan oleh wanita yang sudah dua belas tahun 5akit pendarahan, menjadi ungkapan iman yang diwujudkan dalam hidup harian umat. Tidak sedikit, orang tua yang ambil bagian memberikan dukungan bagi anak-anaknya yang sedang ujian atau mencari pekerjaan dengan jenis puasa tertentu. Para imam dan religius dalam ibadat harian atau Ekaristi yang dipersembahkan menyampaikan doa ermohonan dan intensi khusus bagi sanak saudara dengan ujud-ujud tertentu yang dimohon atau telah dijanjikan untuk didoakan. Semoga aneka tindakan iman dan perwujudan yang dibuat, selalu berpaut pada kemurahan hati Bapa yang berbelas kasih dan dinyatakan sangat jelas oleh Yesus Kristus Putra-Nya melalui anugerah Ekaristi bagi kehidupan kita.

Antifon Komuni (Mrk 6:56)
Semua orang yang menjamah Yesus menjadi sembuh.

Senin, 04 Februari 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.       

Senin, 04 Februari 2019
Hari Biasa Pekan IV
Ibrani (11:32-40) 
(Mzm 31:20.21.22.23.24)
Markus (5:1-20)

“I H S” – “Iesus Hominem Salvator” – “Yesus Penyelamat Manusia.”

Itulah salah satu slogan iman kita yang juga saya tulis dalam buku "HERSTORY" (RJK, Kanisius), yang juga bisa berarti “In Hoc Signum” – “Dalam Tanda Ini”.

Ya, Yesus datang sebagai “tanda keselamatan” bagi dunia: tanda kebaikan yang mengalahkan kejahatan, tanda cinta yang mengalahkan sengketa dan tanda ketulusan yang mengalahkan kebusukan dengan segala akal bulus dunianya.

Kehadiran Yesus sebagai “signal” yang “significant” bahkan bisa juga menghancurkan “legion”, segerombolan roh jahat yang kadang meracuni tubuh kita.

Adapun trilogi dasar kehadiran Yesus, antara lain:

1.”Liberator: Pembebas”.
Dengan kuasaNya, Ia membebaskan kita dari kuasa kejahatan karena hidup kita kadang terbelenggu oleh roh jahat yang membuat kita menjadi orang yang tidak bebas , yang terikat pada pola “hedonis-materialis dan egois”

2.”Redemptor: Penebus”.
Dengan salibNya, Ia menebus hidup kita dari kuasa kedosaan. Adapun kita sebagai manusia (Jawa:”menungso - menus menus kakehan doso”) tak lepas dari roh jahat, al: Lucifer/sombong; Mamon/tamak; Asmodeus/cabul. Satan/marah; Beelzebul/rakus; Leviathan/iri; Belphegore/ malas. Ke-7 roh jahat ini membuat kita menjadi tawanan neraka.

3.”Salvator: Penyelamat”.
Dengan kasihNya, Ia selamatkan kita dari kuasa maut, karena roh jahat membuat kita jatuh dalam dosa dan ketedakselamatan. Dosa (KGK pasal 10), adalah “pikiran, perkataan, keinginan dan perbuatan/ sikap acuh yang dilarang oleh Allah”. Akibat hadirnya roh jahat dalam hati kita, yakni: membunuh hidupnya rahmat Tuhan: “Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahannya ialah kematian.” (Roma 6:21).

Yang pasti, pengalaman rohani dan pribadi bahwa Yesus sungguh "membebaskan, menebus dan menyelamatkan", baiklah juga untuk kita wartakan secara nyata kepada orang lain dengan sikap hidup kita sehari-hari.

Mari kita juga belajar menjadi “yesus-yesus kecil", yang membebaskan, menebus dan menyelamatkan hidup orang lain dengan pikiran yang positif - perkataan yang inspiratif dan tindakan kasih yang produktif bagi kemuliaan nama Tuhan dan keselamatan jiwa sesama.

“Kopassus markasnya di Cijantung - Bersama Yesus, hidup kita pasti akan selalu beruntung”.

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

NB:
A.
"Tell them how much the Lord has done for you"

Scripture: Mark 5:1-20:
They came to the other side of the sea, to the country of Gerasenes. And when he had come out of the boat, there met him out of the tombs a man with an unclean spirit, who lived among the tombs; and no one could bind him any more, even with a chain; for he had often been bound with fetters and chains, but the chains he wrenched apart, and the fetters he broke in pieces; and no one had the strength to subdue him.

Night and day among the tombs and on the mountains he was always crying out, and bruising himself with stones. And when he saw Jesus from afar, he ran and worshiped him; and crying out with a loud voice, he said, "What have you to do with me, Jesus, Son of the Most High God? I adjure you by God, do not torment me."

For he had said to him, "Come out of the man, you unclean spirit!" And Jesus asked him, "What is your name?" He replied, "My name is Legion; for we are many." And he begged him eagerly not to send them out of the country. Now a great herd of swine was feeding there on the hillside; and they begged him, "Send us to the swine, let us enter them." So he gave them leave. And the unclean spirits came out, and entered the swine; and the herd, numbering about two thousand, rushed down the steep bank into the sea, and were drowned in the sea.

The herdsmen fled, and told it in the city and in the country. And people came to see what it was that had happened. And they came to Jesus, and saw the demoniac sitting there, clothed and in his right mind, the man who had the legion; and they were afraid. And those who had seen it told what had happened to the demoniac and to the swine. And they began to beg Jesus to depart from their neighborhood. And as he was getting into the boat, the man who had been possessed with demons begged him that he might be with him. But he refused, and said to him, "Go home to your friends, and tell them how much the Lord has done for you, and how he has had mercy on you."

And he went away and began to proclaim in the Decapolis how much Jesus had done for him; and all men marveled.

Meditation:
Do you ever feel driven by forces beyond your strength? A man driven mad by the evil force of a legion found refuge in the one person who could set him free. A legion is no small force - but an army more than 5,000 strong! For the people of Palestine, hemmed in by occupied forces, a legion, whether spiritual or human, struck terror! Legions at their wildest committed unmentionable atrocities. Our age has also witnessed untold crimes and mass destruction at the hands of possessed rulers and their armies.

What is more remarkable - the destructive force of this driven and possessed man - or the bended knee at Jesus' feet imploring mercy and release? God's word reminds us that no destructive force can keep anyone from the peace and safety which God offers to those who seek his help. A thousand may fall at your side, ten thousand at your right hand; but it will not come near you...Because you have made the Lord your refuge, the Most High your habitation (Psalm 91:7,9).

Jesus took pity on the man who was overtaken by a legion of evil spirits. The destructive force of these demons is evident for all who can see as they flee and destroy a herd of swine. After Jesus freed the demoniac the whole city came out to meet him. No one had demonstrated such power and authority against the forces of Satan as Jesus did.

They feared Jesus as a result and begged him to leave them. Why would they not want Jesus to stay? Perhaps the price for such liberation from the power of evil and sin was more than they wanted to pay. Jesus is ready and willing to free us from anything that binds us and that keeps us from the love of God. Are you willing to part with anything that might keep you from his love and saving grace?

"Lord Jesus, unbind me that I may love you wholly and walk in the freedom of your way of life and holiness. May there be nothing which keeps me from the joy of living in your presence."

Psalm 3:1-7a:
O LORD, how many are my foes! Many are rising
against me;
many are saying of me, there is no help for him in
God.
But you, O LORD, are a shield about me, my
glory, and the lifter of my head.
I cry aloud to the Lord, and he answers me from
his holy mountain.
I lie down and sleep; I wake again, for the
LORD sustains me.
I am not afraid of ten thousands of people who
have set themselves against me round about.
Arise, O LORD! Deliver me, O my God!

Daily Quote from the Early Church Fathers:
"Yes, he is recognized by demons (Luke 4:33-34, Mark 1:23-24), drives out demons (Matthew 8:16, Mark 1:34), drowns deep a legion of spirits (Matthew 8:32; Mark 5:9,13; Luke 8:30,33) and sees the prince of demons falling like lightning (Luke 10:18).

He is stoned, yet not hit (John 8:59; 10:31,39); he prays yet he hears prayer (Matthew 8:13; Mark 1:35). He weeps (John 11:35), yet he puts an end to weeping (Luke 7:13; 8:522; 23:28). He asks where Lazarus is (John 11:34) - he was man; yet he raises Lazarus (John 11:43-44) - he was God."

(Gregory of Nazianzus, 330-390 A.D., excerpt from Oration 29, On the Son 20)

B.
Kutipan Teks Misa:

Berada dalam Gereja, Tubuh Mistik Kristus, bagaimanapun implisit dan misteriusnya, adalah syarat esensial untuk keselamatan. (St. Yohanes Paulus, Paus; Audiensi Umum 31 Mei 1995)
 
Semua penderitaan Yesus ditanggung demi kita agar kita mendapat keselamatan. (St. Ignatius dari Antiokhia) 

Antifon Pembuka (Mzm 31:20)
Alangkah berlimpah-limpah kebaikan-Mu, ya Tuhan, yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu.

Doa Pembuka
Allah Bapa, sumber kedamaian, setiap orang Kaukenal namanya. Semoga kami mengalami pemeliharaan-Mu yang penuh kasih sayang, dan perkenankanlah kami memasuki kedamaian-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kami, yang bersama Dikau dan dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. Amin.
   
Ada bermacam-macam tokoh iman untuk menjadi contoh bagi hidup kita. Kehidupan iman mereka telah memberi kesaksian bahwa Allah mempunyai rencana yang terbaik untuk hidup kita untuk mencapai kesempurnaan.
 
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (11:32-40) 
"Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita, tanpa kita."
 
Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing. Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik. Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung. Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, kalian semua yang berharap kepada Tuhan.
Ayat. (Mzm 31:20.21.22.23.24)
1. Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu.
2. Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu terhadap persengkongkolan orang-orang; Engkau melindungi mereka dalam pondok terhadap pembantahan lidah.
3. Terpujilah Tuhan! Ia telah menunjukkan kasih setia-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan!
4. Dalam kebingunganku aku menyangka, "Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu." Tetapi ternyata Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong.
5. Kasihilah Tuhan, hai semua orang yang dikasihi-Nya! Tuhan menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang yang congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. oleh solis Lukas 7:2/4
Seorang nabi besar telah muncul di tengah kita, dan Allah mengunjungi umat-Nya.

Yesus menyembuhkan seorang yang kerasukan setan dari pekuburan. Setelah disembuhkan, Yesus mengutus dia untuk memberitakannya ke kampungnya. Orang itu pun pergi dan mewartakan apa yang dialaminya dari Yesus. Banyak orang menjadi heran.
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (5:1-20)
"Hai roh jahat, keluarlah dari orang ini!"

Sekali peristiwa, sampailah Yesus dan murid-murid-Nya di seberang danau Galilea, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah kepada-Nya seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan. Orang itu diam di sana dan tidak ada lagi yang sanggup mengikatnya, dengan rantai sekali pun! Sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantai itu diputuskannya dan belenggu itu dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli diri dengan batu. Ketika melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya. Ia lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya, “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Yesus bertanya kepada orang itu, “Siapa namamu?” Jawabnya, “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. Adalah di sana , di lereng bukit, sekawanan babi sedang mencari makan. Lalu roh-roh itu meminta kepada Yesus, katanya, “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, dan biarkanlah kami memasukinya!” Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu, dan memasuki babi-babi itu. Maka kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu! Mereka menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk; orang yang tadinya kerasukan legion itu, kini berpakaian dan sudah waras. Maka takutlah mereka. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceritakan apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Yesus. Tetapi Yesus tidak memperkenankannya. Yesus berkata kepada orang itu, “Pulanglah ke rumahnu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala yang telah diperbuat Tuhan atasmu, dan ceritakan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itu pun pergi, dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala yang telah diperbuat Yesus atas dirinya, dan mereka semua menjadi heran.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
Setan tidak layak berdiam atau bersembunyi dalam diri manusia, karena dalam diri manusia ada Bait Allah. Manusia adalah ciptaan Allah yang secitra dengan-Nya, sehingga yang seharusnya tinggal dalam diri manusia adalah Allah sendiri. Bagaimana mungkin yang menciptakan Allah, tetapi yang mendiami setan? Untuk itu, mari kita menjadi orang yang berhikmat, dengan mengarahkan diri kita hanya kepada Allah dan membiarkan Dia menguasai diri kita supaya tubuh kita menjadi suci dan tak bercela.

Antifon Komuni (Mrk 5:19)
Yesus bersabda, "Pulanglah ke rumah dan kampungmu, dan beritakan segala sesuatu yang diperbuat Tuhan, dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau."

Doa Malam 
Yesus, Tuhanku dan Allahku, kuasa-mu membuat aku bisa bertahan. Jauhkanlah kuasa kegelapan agar hanya kuasa Yesus yang menyemangati hidup dan karyaku sehari-hari. Amin.

Minggu, 03 Februari 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.         

Minggu, 03 Februari 2019
Hari Minggu Biasa IV
Yeremia (1:4-5.17-19) 
(Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17)
1 Korintus 12:31 – 13:13 (Singkat: 13:4-13)
Lukas (4:21-30)

“O Rex gentium - O Raja para bangsa.”

Dalam kacamata kristiani, Yesus hadir sebagai Raja bagi semua bangsa dengan semangat kenabiannya.

Bicara soal nabi, ada banyak macamnya. Dalam dunia sosial: ada nabi modern, misalnya, Romero, Uskup El Salvador yang ditembak karena menyuarakan keadilan. Ada juga nabi palsu, yang cuma memberikan nasehat dusta untuk menyenangkan raja ( 1 Raj 18). Dalam dunia seni, Kahlil Gibran menulis buku Sang Nabi, dll.

Yang pasti, akar kata nabi adalah, “naba” (kabar/ berita/sabda). Nabi adalah orang yang mendapat kabar/berita/sabda, agennya Allah (Ibrani : Nabiy, messenger/utusan dan prophet/pembawa berita).

Secara umum, seperti yang saya tulis dalam buku “BBM” (RJK, Kanisius), seorang nabi mempunyai 4 sifat, antara lain:
S    iddiq/konsisten-bukan pembohong;
A    manah/terpercaya-bukan pengkhianat;
F    athonah/rajin-bukan pemalas;
T    abligh/suka berbagi-bukan orang pelit.

Secara khusus, kita juga dipanggil menjadi nabi untuk semua orang dengan 3 fungsi pokok, antara lain :

1. "Meneguhkan: Fungsi mistik".
Jika kita melihat segalanya berjalan baik, maka tugas kita adalah meneguhkan supaya semua yang baik terus bertahan dan bisa berkembang secara nyata, bukan malahan menjadi batu sandungan dengan segala intrik taktik dan gosip-gosipan yang sarat sentimen pribadi.

2. "Mengkritik: Fungsi prophetik".
Jika kita melihat ada yang melenceng, maka tugas kita adalah menyampaikan kritik demi kebaikan, juga sekaligus tak malu membuat otokritik untuk diri kita sendiri pastinya.

3. "Menghibur: Fungsi parakletik":
Jika kita melihat ada penderitaan dan masalah, bencana-kesedihan dll, kita harus tampil dan terlibat untuk memberikan penghiburan. Adapun dasarnya adalah kasih. Inilah core values nabi. Kasih akan membuat kita selalu maju, walau kadang ditolak dan disakiti, dijatuhkan dan disingkirkan.

“Makan bakut buatan Bibi - Jangan takut menjadi seorang nabi!”

=====
"Deus est liberator - Allah adl Pembebas."

Inilah inti pesan ketika Yesus datang ke Nazareth dan mengatakan: "Roh Tuhan ada padaKu sebab Aku diurapiNya untuk menyampaikan kabar baik". Dkl: Ia menjadi "kabar baik" (Yun: euaggelion, injil) bagi smua orang.

Adapun ciri orang yang menjadi "kabar baik", al:

1. KAsih:
Hdpnya penuh kasih. Ia kasih pembebasan bwt org tertindas+tertawan. Ia juga kasih penglihatan bwt org buta. Ia kasih kbebasan di tengah keterbelengguan. Inilah sebuah nada dsr spy kita tdk sibuk menghakimi tp mau mengasihi, tdk gandrung berpikir buruk tp sll berpikir positif krn de facto kt kerap sibuk berprasangka dan menaruh rasa curiga, yg “semper accusat”-sll menuduh yg lain.

2. saBAR:
Ketika byk org Nazaret yg notabene adl warga sekampungnya malahan sinis "menolak"Nya krn mrk mudah berburuk sangka+irihati mlihat+mendengar "kepopuleran Yesus, Yesus tetap sabar. Ia tdk byk bicara apalagi membalas. Ia tdk melawan+meladeni tp memilih pergi meninggalkan+tetap mewartakan kabar baik di tempat lain.

Waktu+hdpNya tdk mau dihabiskan u/menanggapi org yg irihati krn iri hati memang membuat org bisa jahat+sok shg mudah ngrasani/memperguncingkan yg buruk/menghakimi org lain dan lupa meng-instrospeksi dirinya sndiri. Disinilah, kt diajak u/bersabar dg tdk mudah mencap buruk org lain tp sll terbuka+tulus melihat kehadiran Tuhan lwt setiap org di sekitar kita.

3. BAhagia Ikut Kristus:
Yesus diberikan kurnia RohKudus: diurapi+diutus. Bukankah kt jg dberikan kurnia RK sejak dibaptis? Penyertaan Roh Tuhan sdh sharusnya membuat kt lbh bahagia+brsyukur shg tdk mudah berkeluh kesah+asyik memperguncingkan org lain seolah kita jauh lbh baik/lbh suci darinya.

"Makan kari di kompleks Kopasus - Org iri dibenci Tuhan Yesus."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)           

NB:
A.
"Prophet - Sang Nabi!"

Inilah salah satu judul buku Kahlil Gibran. Inilah juga yang ditampilkan Yesus ketika pulang ke Nazaret, kampung halamannya setelah dibaptis di Yordan (Luk 3:21-22) dan berpuasa di padang gurun (Luk 4:1-13).

Ia hadir sebagai "Sang Nabi", jurkam-nya Allah yang dalam bahas Arab, kerap disebut mempunyai 4 sikap dasar, "SAFT – Siddiq, Amanah, Fathonah dan Tabliq".

Lewat diri Yesus ini, tampak juga 4 sikap dasar sang Nabi yang bisa kita teladani, antara lain:

1."Daya pikat":
Banyak orang yang terpikat dengan kharismaNya ketika Yesus masuk ke Bait Allah-membaca nats kitab suci dan mengajar orang banyak.

2."Daya tahan":
Selain ada yang terpikat, juga ada banyak orang yang sinis, meragukan dan meremehkanNya (Luk 4:22). Mereka mengusir dan hendak melemparkanNya dari tebing (Luk 4:29). Menghadapi ini semua, Yesus tidak patah arang, tidak gusar dan berlaku kasar. Ia menghadapinya dengan hati dan sikap yang tenang bahkan menjadikannya sebagai bahan pengajaran yang real dan aktual.

3. "Daya cinta":
CintaNya jelas yakni membebaskan belenggu/keterikatan, terlebih bagi "korban - silent victim", orang kecil yang "buta-miskin-tertindas dan tertawan". Ia menjadi "kabar baik", injil yang hidup bagi sesama yang kecil dan tersingkir.

4."Daya mistik":
Di tengah banyak orang yang mengepungNya, Ia bisa pergi dengan tenang lewat dari tengah mereka. Tidak ada yang bisa menahan dan menangkapNya karena semangat "prophetik"-nya sungguh berasal dari pengalaman "mistik"-nya akan Allah sendiri. Ia mempunyai "inner power", kekuatan ilahi yang didapatnya dari relasi personal dengan Allah Bapa sendiri. Bagaimana dengan kita?

"Sate babi sate kambing -Jadilah nabi yang harus siap diombang ambing."

B.
Kutipan Teks Misa.

Kebangkitan Kristus adalah masalah iman: campur tangan transenden dari Tuhan sendiri dalam ciptaan dan sejarah. Di situ ketiga Pribadi ilahi bekerja bersama-sama dan serentak juga menyatakan sifat-Nya yang khas. Peristiwa itu terjadi oleh kekuasaan Bapa, yang "membangkitkan" Kristus, Anak-Nya Bdk. Kis 2:24. dan menerima sepenuhnya kodrat manusia-Nya - bersama dengan tubuh-Nya - dalam Tritunggal. Yesus dinyatakan secara definitif "sebagai Putra Allah menurut Roh kekudusan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa" (Rm 1:3-4). Santo Paulus menekankan wahyu kekuatan Allah Bdk. Rm 6:4; 2Kor13:4; Flp 3:10; Ef 1:19-22; Ibr 7:16. oleh karya Roh yang menghidupkan kodrat manusia Yesus yang sudah mati dan mengangkatnya ke dalam keadaan mulia, ke dalam keadaan sebagai Tuhan. -- Katekismus Gereja Katolik, 648

"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1Timotius 4:12)

Antifon Pembuka (Mzm 105:47)
Selamatkanlah kami, ya Tuhan Allah kami, dan kumpulkanlah kami dari antara bangsa-bangsa supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus dan bermegah-megah dalam puji-pujian kepada-Mu.

Save us, O Lord our God! And gather us from the nations, to give thanks to your holy name, and make it our glory to praise you.

atau

Lætetur cor quærentium Dominum: quærite Dominum, et confirmamini: quærite faciem eius semper.

Doa Pembuka
Tuhan, Allah kami, perkenankanlah kami menghormati Engkau dengan segenap akal budi dan mencintai semua manusia dengan kasih sejati. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Bacaan dari Kitab Yeremia (1:4-5.17-19) 
"Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
 
Pada masa Raja Yosia turunlah firman Tuhan kepadaku, Yeremia, sebagai berikut, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau. Dan sebelum engkau dilahirkan, Aku telah menguduskan engkau; Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Maka, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka, segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sungguh, pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau. Sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau.”

Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 2/4, PS 829
Ref. Aku hendak memuji nama-Mu, ya Tuhan, selama-lamanya.
Ayat. (Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17)
1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku.
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku, ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeram orang-orang lalim dan kejam.
3. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.
4. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari pada-Mu, ya Allah Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang akan memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus 12:31 – 13:13 (Singkat: 13:4-13)
"Sekarang tinggal iman, harapan dan kasih; namun yang paling besar di antaranya ialah kasih."
   
Saudara-saudara, berusahalah memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan; sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. (Kasih itu sabar, murah hati dan tidak cemburu. Kasih itu tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan. Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi atas kebenaran. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, dan pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap, dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna itu. Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula. Tetapi sekarang, setelah menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Sekarang kita melihat gambaran samara-samar seperti dalam cermin, tetapi nanti dari muka ke muka. Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, sebagaimana aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan, dan kasih; dan yang paling besar di antaranya ialah kasih).

Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Ayat. (Luk 4:18-19)
Tuhan mengutus Aku memaklumkan Injil kepada orang yang hina dina, dan mewartakan pembebasan kepada orang tawanan.
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (4:21-30)
"Seperti halnya Elia dan Elisa, Yesus diutus bukan hanya kepada orang-orang Yahudi."
 
Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak di rumah ibadat di kota asalnya, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas Kitab Suci pada waktu kamu mendengarnya.” Mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya.Lalu mereka berkata, “Bukankah Dia ini anak Yusuf?” Maka berkatalah Yesus kepada mereka, “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri! Perbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!” Yesus berkata lagi, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel, ketika langit tertutup selama tiga tahun enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel, tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain Naaman, orang Siria itu.” Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota, dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan
POLA PIKIR MENJADI PENGHALANG
SUATU ketika diadakan beberapa lomba antar stasi di paroki kami. Lomba tersebut meliputi paduan suara, lomba Mazmur dan juga lomba Kuis Kitab Suci. Ketika tiba pengumuman hasil lomba, ada yang mulai tidak terima dengan hasil yang diumumkan. ”Masa dari stasi itu bisa menang? Mereka saja jarang ikut lomba! Pelatihnya aja masih di bawah kami kemampuannya.” Masih banyak kalimat keluar untuk menunjukkan bahwa mereka tidak terima bahwa stasi itu muncul sebagai juara.

Pengalaman itu merupakan contoh yang umum kita jumpai. Banyak dari kita menilai sesuatu atau seseorang dari latar beiakangnya, bukan dari hasil atau bukti yang ada di hadapan kita. Demikian juga ketika Yesus muncul di hadapan umum dan mengajar dengan baik, orang banyak tidak fokus pada apa yang diajarkan-Nya tetapi justru mempersoalkan Iatar belakang keluarga dan asal-usulnya. Mereka malah bertanya, "Bukankah Ia ini anak Yusuf?" (Luk 4:22).

Orang banyak menolak Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah, karena melihat latar belakangnya sebagai orang Nazaret dan sebagai anak tukang kayu. Mereka menolak Yesus karena tidak sesuai dengan pola pikir mereka, dengan konsep-konsep yang ada dalam pikiran mereka mengenai datangnya Mesias. Mereka tidak meiihat apa yang dilakukan Yesus, tapi justru memvonis hanya berdasarkan latar belakang keluarganya.

Mendengar hal itu berkatalah Yesus kepada mereka, "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai Tabib, sembuhkanlah DiriMu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asaI-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!" Dan kata-Nya lagi, "Aku berkata kepadamu: Sungguh, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (ay. 23-24). Penolakan mereka mendatangkan konsekuensi besar. Yesus menunjukkan bahwa pola pikir mereka yang demikianlah yang membuat Allah enggan untuk berkarya di kota Nazareth bahkan sejak zaman para nabi. Yesus tidak bermaksud untuk membuat diskriminasi kepada orang sekampung-Nya, melainkan karena pola pikir mereka kerap menghalangi Allah menunjukkan haI-hal besar bagi mereka.

Bagaimana dengan kita? Penolakan orang Israel jangan-jangan menjadi penolakan kita juga. Kita bisa saja menerima Yesus hanya kalau apa yang dilakukan-Nya dalam hidup kita sesuai dengan yang kita harapkan dan cocok dengan pikiran kita. Kalau suatu saat ternyata pikiran kita berbeda dengan cara kehadiran Yesus, apakah kita tetap menerima dan percaya kepada-Nya?

Latar belakang memang berpengaruh dalam kualitas seseorang, namun bukanlah penentu utama. Sebab Allah turut bekerja di dalam sejarah hidup manusia, sebagaimana tampak dalam kisah Nabi Yeremia, "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan” (Yer 1:4-5). Hanya saja, pola pikir yang salah bisa menjadi penghaiang karya Allah dalam kehidupan kita, bahkan menolak kehadiran-Nya. 

Antifon Komuni (Mzm 31:17-18)
Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu. Selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu. Tuhan, janganlah membiarkan aku mendapat malu, sebab aku berseru kepada-Mu.

Let your face shine on your servant. Save me in your meciful love. O Lord, let me never be put to shame, for I call to you.

Illumina faciem tuam super servum tuum, et salvum me fac in tua misericordia: Domine, non confundar, quoniam invocavi te.

Sabtu, 02 Februari 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.               

Sabtu, 02 Februari 2019
Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah 
Maleakhi (3:1-4)
Mzm 24:7.8.9.10; R: 10b)
Ibrani (2:14-18)
Lukas (2:22-40) (Singkat: 2:22-32) 

"Jubilate Deo - Pujilah Tuhan."

Inilah ajakan iman supaya kita mempersembahkan suka-duka hidup dengan penuh pujian kepadaNya.

Adapun beberapa tokoh yang berperan, antara lain:

1.Yusuf dan Maria:
Mereka mengantar dan menyerahkan Yesus kepada Bapa. Dengan kata lain: kita diajak untuk mau mengantar dan menyerahkan keluarga kita kepada Tuhan.

Adapun persembahan sepasang burung tekukur menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga sederhana (Im 12:8). Ya, sejak awal, Tuhan memilih untuk hadir di tengah orang sederhana. (Luk 9:58; Mat 8:20; Why 2:9).

2.Simeon:
Ia adalah orang yang "benar/tulus" (Luk 1:6). Ini adalah terjemahan dari kata Yun: “dikaios” (Ibr: yasher), artinya "lurus". Dalam Perjanjian Lama, kata ini tidak hanya berarti kepatuhan kepada perintah tapi menunjukkan bahwa ia benar di hadapan Allah, baik dalam hati maupun tindakan (Maz 32:2) dengan beberapa dasar:

a) Kebenaran yg dicari adalah kebenaran yang datang dari hati, berdasar harapan dan iman yang benar kepada Allah serta kasih kepada Allah (Ul 4:10,29; 5:29). Keadaan hati seperti ini juga terlihat dalam diri Zakaria yang hidup menurut "segala perintah Tuhan (Luk 1:6; Kej 7:1; 1Raj 9:4).

b) Orang benar bukan orang yang sempurna.
Ketika berdosa, mereka memperoleh pengampunan dg jalan mempersembahkan korban kpd Allah sebagai pertobatan iman (Im 4:27-35). Adapun, simeon setia kepada Allah. Ia mempunyai kesabaran dan kerinduan iman, yang berjaga-jaga sepanjang malam, sambil menantikan tuannya kembali (Mat 24:45-47) krn berkat terbesar kita ialah memandang wajah Kristus (Luk 2:26; Why 22:4), siap siaga dan hidup selamanya di hadapan Dia (Why 21:1-22:21).

3. Hana:
Ia adalah seorang nabi perempuan yg bertekun dan berharap akan kedatangan Kristus. Ia mengabdikan dirinya kepada Tuhan, "berpuasa dan berdoa" siang malam. Ia terus menyenangkan hati Tuhan dengan sepenuhnya menyerahkan diri kepadaNya (1Kor 7:32-35).

Bagaimana dengan kita?
"Cari baju di Korintus - Mari maju bersama Kristus."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

NB:
A.
"Sagrada Familia - Keluarga Kudus."

Inilah nama gereja megah di Spanyol yang sampai hari ini masih belum selesai pembangunannya. Kitapun diajak untuk selalu berjuang membentuk keluarga kudus karna keluarga adalah "ecclesia domestica-gereja basis".

Adapun "core values" untuk setiap keluarga yang mengandung 4 ajakan iman ( KE-cilkan emosi, LU-askan isi hati, AR-ahkan ke ilahi, dan GA-lang relasi ), antara lain:

a.Mencintai keimanan:
Yosef dan Maria hadir sebagai orang yang taat dan mencintai tradisi keimanannya. Mereka setia membawa Yesus untuk dipersembahkan ke Bait Allah: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah" (Luk 2:23). Sebagaimana Yusuf-Maria dahulu mencintai keimanannya dan mempersembahkan Yesus, demikianlah kita juga harus semakin beriman dan menyerahkan "hidup": suka duka dan pahit manis, semua anggota keluarga kita kepada Tuhan (Lat: Familia, Ing: Family, "Father And Mother I Love You").

b.Mencintai kesederhanaan:
Adapun persembahan sepasang burung tekukur menunjukkan bahwa Yusuf dan Maria itu adalah orang sederhana (Im 12:8). Dengan kata laiin: Sejak awal Yesus telah digolongkan sebagai orang sederhana dan mencintai orang2 yang sederhana (Luk 9:58; Mat 8:20; Why 2:9). Lihatlah Natal: Yesus lahir di kandang hewan dan dihadiri oleh para gembala yang sederhana.

c.Mencintai ketulusan:
Selain Yosef dan Maria, Simeon dan Hana dihadirkan sebagai orang yang "benar/tulus"(Luk 1:6). Ini adalah terjemahan dari kata Yunani: dikaios (Ibr: "yasher, lurus"). Dalam Perjanjian Lama, kata ini tidak hanya berarti kepatuhan kepada perintah tapi menunjukkan bahwa kita menjadi benar di hadapan Allah, baik dalam hati/tindakan (Maz 32:2). Inilah kebenaran yang datang dari hati, berdasarkan iman yang benar kepada Allah serta kasih dan takut akan Allah (Ul 4:10,29; 5:29), yang hidup menurut "segala perintah dan ketetapan Tuhan" (Luk 1:6; Kej 7:1; 1Raj 9:4).

"Dari Telaga ke Sungai Gangga - Bersama keluarga mencapai surga."

B.
"Nunc dimittis!"

Inilah penggalan awal Kidung Simeon ketika Yesus dipersembahkan di Kenisah pada hari ini. Adapun "3K" supaya kita juga bisa menjadi persembahan yang hidup, antara lain:

a."Kekudusan":
Dipersembahkan berarti dikhususkan, yakni dikuduskan sebagai milik Allah. Nah, bersama Yesus yang dipersembahkan, ada juga dua nabi yang penuh Roh Kudus: Simeon seorang yang benar dan saleh hidupnya serta Hana seorang yang tidak pernah meninggalkan Bait Allah yang sepanjang hari berdoa dan berpuasa kepada Tuhan. Mereka peka akan kedatangan Keluarga Kudus karena terbiasa untuk hidup kudus. Dengan kata lain: Kita juga diajak untuk peka terhadap suara Tuhan dengan berlaku kudus setiap harinya.

b."Kepenuhan":
Dalam Imamat 12:1-8, Tuhan memerintahkan agar 40 hari setelah melahirkan, seorang ibu harus ditahirkan dan pada saat pentahiran, si anak sekaligus dipersembahkan kepada Tuhan (ay.6-8). Mereka diwajibkan membawa persembahan domba dan seekor burung merpati/tekukur (ay. 6). Tapi, jika tidak mampu, mereka cukup membawa 2 ekor burung tekukur/merpati. Inilah yang dibuat Yosef dan Maria. Mereka adalah orang yang sederhana tapi tetap total mengikuti hukum Tuhan. Mereka sepenuh hati datang dari desa Nazareth ke kota Yerusalem dengan membawa 2 ekor merpati.

c."Kebersamaan":
Tradisi Gereja Universal kerap memeriahkan pesta ini dengan prosesi lilin + pemberkatan lilin("Candlemass") bersama kidung "Nunc Dimittis servum tuum Domine secundum verbum tuum in pace-quia viderunt oculi mei salutare tuum-quod parasti ante faciem omnium populorum." Disini, Gereja menekankan dimensi kebersamaan, bahwa iman tidak hanya berdimensi vertikal yakni personal kepada Allah tapi juga berdimensi horisontal yakni sosial/comunal kepada sesama. Ya, seperti Yosef dan Maria, kita juga diajak untuk mempersembahkan dan membawa keluarga kita smakin dekat dan hangat dengan Tuhan.

"Ada karang di Tamansari - Jadilah terang setiap hari."

C.
2 February
"The favor of God was upon him"
Scripture: Luke 2:22-40
Alternate reading: Mark 5:21-43

And when the time came for their purification according to the law of Moses, they brought him up to Jerusalem to present him to the Lord (as it is written in the law of the Lord, "Every male that opens the womb shall be called holy to the Lord") and to offer a sacrifice according to what is said in the law of the Lord, "a pair of turtledoves, or two young pigeons." Now there was a man in Jerusalem, whose name was Simeon, and this man was righteous and devout, looking for the consolation of Israel, and the Holy Spirit was upon him. And it had been revealed to him by the Holy Spirit that he should not see death before he had seen the Lord's Christ.

And inspired by the Spirit he came into the temple; and when the parents brought in the child Jesus, to do for him according to the custom of the law, he took him up in his arms and blessed God and said, "Lord, now let your servant depart in peace, according to your word; for my eyes have seen your salvation which you have prepared in the presence of all peoples, a light for revelation to the Gentiles, and for glory to your people Israel." And his father and his mother marveled at what was said about him; and Simeon blessed them and said to Mary his mother, "Behold, this child is set for the fall and rising of many in Israel, and for a sign that is spoken against (and a sword will pierce through your own soul also), that thoughts out of many hearts may be revealed."

And there was a prophetess, Anna, the daughter of Phanuel, of the tribe of Asher; she was of a great age, having lived with her husband seven years from her virginity, and as a widow till she was eighty-four. She did not depart from the temple, worshiping with fasting and prayer night and day. And coming up at that very hour she gave thanks to God, and spoke of him to all who were looking for the redemption of Jerusalem. And when they had performed everything according to the law of the Lord, they returned into Galilee, to their own city, Nazareth. And the child grew and became strong, filled with wisdom; and the favor of God was upon him.
Meditation

Do you know the favor of the Lord? After Jesus' birth, Mary fulfills the Jewish right of purification after childbirth. Since she could not afford the customary offering of a lamb, she gives instead two pigeons as an offering of the poor. This rite, along with circumcision and the redemption of the first-born point to the fact that children are gifts from God. Jesus was born in an ordinary home where there were no luxuries. Like all godly parents, Mary and Joseph raised their son in the fear and wisdom of God. He, in turn, was obedient to them and grew in wisdom and grace. The Lord's favor is with those who listen to his word with trust and obedience. Do you know the joy of submission to God? And do you seek to pass on the faith and to help the young grow in wisdom and maturity?

The Holy Spirit reveals the presence of the Savior of the world
What is the significance of Simeon's encounter with the baby Jesus and his mother in the temple? Simeon was a just and devout man who was very much in tune with the Holy Spirit. He believed that the Lord would return to his temple and renew his chosen people. The Holy Spirit also revealed to him that the Messiah and King of Israel would also bring salvation to the Gentile nations. When Joseph and Mary presented the baby Jesus in the temple, Simeon immediately recognized this humble child of Bethlehem as the fulfillment of all the messianic prophecies, hopes, and prayers. Inspired by the Holy Spirit he prophesied that Jesus was to be "a revealing light to the Gentiles". The Holy Spirit reveals the presence of the Lord to those who are receptive and eager to receive him. Do you recognize the indwelling presence of the Lord with you?

The 'new temple' of God's presence in the world
Jesus is the new temple (John 1:14; 2:19-22). In the Old Testament God manifested his presence in the "pillar of cloud" by day and the "pillar of fire" by night as he led them through the wilderness. God's glory visibly came to dwell over the ark and the tabernacle (Exodus 40:34-38). When the first temple was built in Jerusalem God's glory came to rest there (1 Kings 8). After the first temple was destroyed, Ezekiel saw God's glory leave it (Ezekiel 10). But God promised one day to fill it with even greater glory (Haggai 2:1-9; Zechariah 8-9). That promise is fulfilled when the "King of Glory" himself comes to his temple (Psalm 24:7-10; Malachi 3:1). Through Jesus' coming in the flesh and through his saving death, resurrection, and ascension we are made living temples of his Holy Spirit (1 Corinthians 3:16-17). Ask the Lord to renew your faith in the indwelling presence of his Spirit within you. And give him thanks and praise for coming to make his home with you.

Mary receives both a crown of joy and a cross of sorrow
Simeon blessed Mary and Joseph and he prophesied to Mary about the destiny of this child and the suffering she would undergo for his sake. There is a certain paradox for those blessed by the Lord. Mary was given the blessedness of being the mother of the Son of God. That blessedness also would become a sword which pierced her heart as her Son died upon the cross. She received both a crown of joy and a cross of sorrow. But her joy was not diminished by her sorrow because it was fueled by her faith, hope, and trust in God and his promises. Jesus promised his disciples that "no one will take your joy from you" (John 16:22). The Lord gives us a supernatural joy which enables us to bear any sorrow or pain and which neither life nor death can take way. Do you know the peace and joy of a life surrendered to God with faith and trust?

The Holy Spirit renews our hope in the promise of God
Simeon was not alone in recognizing the Lord's presence in the temple. Anna, too, was filled with the Holy Spirit. She was found daily in the temple, attending to the Lord in prayer and speaking prophetically to others about God's promise to send a redeemer. Supernatural hope grows with prayer and age! Anna was pre-eminently a woman of great hope and expectation that God would fulfill all his promises. She is a model of godliness to all believers as we advance in age.

Advancing age and the disappointments of life can easily make us cynical and hopeless if we do not have our hope rightly placed. Anna's hope in God and his promises grew with age. She never ceased to worship God in faith and to pray with hope. Her hope and faith in God's promises fueled her indomitable zeal and fervor in prayer and service of God's people.

Our hope is anchored in God's everlasting kingdom of righteousness, peace, and joy
What do you hope for? The hope which God places in our heart is the desire for the kingdom of heaven and everlasting life and happiness with our heavenly Father. The Lord Jesus has won for us a kingdom of righteousness, peace, and joy in the Holy Spirit (Romans 14:17). The Holy Spirit gives hope to all who place their trust in the promises of God. God never fails because his promises are true and he is faithful. The hope which God places within us through the gift of the Spirit enables us to persevere with confident trust in God even in the face of trails, setbacks, and challenges that may come our way.

Is there anything holding you back from giving God your unqualified trust and submission to his will for your life? Allow the Lord Jesus to flood your heart with his peace, joy, and love. And offer to God everything you have and desire - your life, family, friends, health, honor, wealth, and future. If you seek his kingdom first he will give you everything you need to know, love, and serve him now and enjoy him forever.

"Lord Jesus, you are my hope and my life. May I never cease to place all my trust in you. Fill me with the joy and strength of the Holy Spirit that I may boldly point others to your saving presence and words of eternal life."

Daily Quote from the Early Church Fathers:
"For this reason it seems wonderful that the sacrifice of Mary was not the first offering, that is, 'a lamb a year old,' but the second, since 'she could not afford' (Leviticus 5:7) the first. For as it was written about her, Jesus' parents came 'to offer a sacrifice' for him,'according to what is said in the law of the Lord, "a pair of turtledoves, or two young pigeons."' But this also shows the truth of what was written, that Jesus Christ 'although he was rich, became a poor man' (2 Corinthians 8:9). Therefore, for this reason, he chose both a poor mother, from whom he was born, and a poor homeland, about which it is said, 'But you, O Bethlehem Ephratha, who are little to be among the clans of Judah' (Micah 5:2), and the rest." (Origen of Alexandria, 185-254 A.D., excerpt from Homilies on Leviticus 8.4.3)

D.
Kutipan Teks Misa:

“Hanya dalam kebenaran-lah kasih bersinar terang, hanya dalam kebenaran kasih dapat dihidupi secara otentik. Kebenaran adalah terang yang memberi makna dan nilai kepada kasih.“ – Paus Benediktus XVI, Ensiklik Caritas in Veritate.

PEMBERKATAN LILIN DAN PERARAKAN
(Pemberkatan lilin dan perarakan tersedia dalam dua cara, dengan perarakan atau perarakan masuk meriah, selengkapnya lihat Buku Misa Minggu dan Hari Raya)

Antifon

Ecce Dominus noster cum virtute veniet, ut illuminet oculos servorum suorum, alleluia.

Tengoklah! Tuhan akan datang dengan kekuatan besar, akan bersinarlah mata semua orang yang mengabdi kepada-Nya, alleluya.

Behold, our Lord will come with power, to enlighten the eyes of his servants, alleluia.
   
Pengantar
Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah sudah sejak abad ke-5 dirayakan di kota Yerusalem (Ritus Timur), dan sejak abad ke-6 diperluas ke seluruh Gereja Barat. Di Roma pesta ini dirayakan dengan nada pertobatan, sedangkan di Perancis dengan pemberkatan meriah dan perarakan lilin, sehingga sekarang masih dikenal sebagai "Misa Terang". Sejak tahun 1960 perayaan ini ditetapkan sebagai "Pesta Tuhan", sebelumnya dikenal dengan "Pesta Maria".

Pada hari ini kita memperingati peristiwa mulia Kanak-kanak Yesus dipersembahkan kepada Allah oleh orangtua-Nya pada hari ke-40 sesudah kelahiran-Nya, sesuai dengan peraturan Hukum Taurat yang berlaku bagi setiap anak laki-laki sulung. Dalam diri Anak itu, Simeon yang sudah tua mengenal Sang Mesias, yang disebutnya "Terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa". Secara tradisional pada hari ini diadakan Perarakan Lilin atau sedikitnya Pemberkatan Lilin untuk menyambut dan menghormati Yesus yang "datang ke kenisah-Nya sebagai Terang bagi bangsa-bangsa"
 
Doa Pemberkatan Lilin

KIDUNG PERARAKAN (atau Puji Syukur 478, Sekarang Tuhanku)

Kristuslah cahaya para bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.
Sekarang Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu.
Kristuslah cahaya para bangsa dan kemuliaan bagi uamt-Mu Israel.
Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu, ya Tuhan.
Kristuslah cahaya para bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.
Yang Kausediakan di hadapan para bangsa.
Kristuslah cahaya para bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.

atau

Lumen ad revelationem gentium, et gloriam plebis tuæ Israel.

Antifon Pembuka (Mzm 48:10-11)
Kami telah menerima kasih setia-Mu, ya Allah, dalam bait-Mu yang kudus. Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.

Suscepimus Deus, misericordiam tuam in medio templi tui: secundum nomen tuum Dues, ita et laus tua in fines terræ: iustitia plena est dextera tua.
Mzm. Magnus Dominus, et laudablis nimis: in civitate Dei, in monte sancto eius. (Mzm 48:10-11, 2)   
Pada Misa ini ada Madah Kemuliaan

Doa Pembuka
Allah Bapa yang Mahakuasa dan kekal, hari ini Putra Tunggal-Mu yang telah menjadi manusia seperti kami, dipersembahkan kepada-Mu di kenisah. Di hadapan hadirat-Mu yang agung kami mohon dengan rendah hati, sucikanlah hati dan budi kami agar kami pun menjadi persembahan yang pantas bagi-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Nubuat Maleakhi (3:1-4)   
"Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya."
   
Beginilah firman Tuhan semesta alam, “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Tuhan yang kamu cari itu dengan mendadak akan masuk ke bait-Nya. Malaikat perjanjian yang kamu kehendaki itu sesungguhnya, Ia datang. Siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia laksana api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan kurban yang benar kepada Tuhan. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala, dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.”

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 3/4, PS 803
Ref. Bukalah pintu hatimu, sambutlah Raja Sang Kristus.
Ayat. (Mzm 24:7.8.9.10; R: 10b)
   
1. Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!
2. Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan, yang jaya dan perkasa, Tuhan yang perkasa dalam peperangan!
3. Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan.
4. Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!

Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (2:14-18)
"Karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai."
   
Saudara-saudara, orang-orang yang dipercayakan Allah kepada Yesus adalah anak-anak dari darah dan daging. Maka Yesus menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian, Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham. Itulah sebabnya dalam segala hal Yesus harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Agung yang menaruh belas kasihan, yang setia kepada Allah utnuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = es, 4/4, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Luk 2:32)
Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. Alleluya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:22-40) (Singkat: 2:22-32)   
"Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu."
   
Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yusuf membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel; Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya, untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” [Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang. Ada juga di situ seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah Hana pun datang ke Bait Allah, dan bersyukur kepada Allah serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus ke kota kediamannya, yaitu Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.]

InilahI Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

“Begitu banyak umat terbaptis kehilangan identitas dan keanggotaannya : mereka tidak tahu konten iman yang esensial atau mereka berpikir bahwa mereka bisa menumbuhkan iman terpisah dari perantaraan Gerejawi. Dan sementara banyak orang melihat dengan ragu pada kebenaran-kebenaran yang diajarkan Gereja, yang lainnya mereduksi Kerajaan Allah menjadi suatu nilai-nilai besar, yang tentu berhubungan dengan Injil, tapi tidak lagi berhubungan dengan inti iman Kristen…Dalam konteks ini, bagaimana kita menghidupi tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita oleh Tuhan?” – Paus Benediktus XVI

Renungan
Adalah kepada Musa, Allah berfirman agar setiap anak laki-laki sulung dikuduskan bagi Allah. Dengan ini Allah mau menyadarkan bahwa setiap anak manusia "adalah pemberian-Nya, adalah berasal dari pada-Nya. Dan ini mengingatkan manusia bahwa Allah adalah Tuhan, penguasanya dan manusia harus tunduk pada Allah. Maka, manusia harus tumbuh (sesuai kehendak Allah, yang mempunyainya!

Yosef dan Maria mempersembahkan Yesus sesuai adat dan aturan ini, bukan karena Yesus itu belum kudus, belum suci, tetapi Yosef dan Maria mau menunjukkan bahwa mereka patuh dan taat pada hukum agama, ajaran turun-temurun nenek moyang yang diyakini berasal dari Allah. Yosef dan Maria juga menunjukkan iman mereka bahwa Yesus adalah sungguh anak Allah, milik Allah, kepunyaan Allah dan mereka meyakini dan merayakan sesuai tuntutan adat dan hukum.

Sebagai orang tua, apakah kita menjaga kekudusan anak-anak kita sebagai anak Allah, memperlakukan mereka sebagai milik Allah, yang harus tumbuh dalam iman, kasih dan takut akan Allah? Apakah kita membantu anak-anak kita ber-iman akan Allah, menjadikan Allah sebagai Allah, Bapa, Tuhan mereka? Juga, keluarga-keluarga Katolik, ikhlaskah kita mengarahkan anak-anak kita secara khusus, menjadi imam, biarawan atau biarawati? (TP)

Contemplatio: Ingatlah hari pembaptisan anakmu; genggam dia sekali lagi dalam pelukanmu, lihat Tuhan menyambutnya, merangkulnya, menandainya dengan tanda salib... Baharuilah janjimu untuk terus menemani dia menjadi ”anak Allah”.

Antifon Komuni (Luk 2:30-31)
Mataku telah melihat keselamatan-Mu yang Kausediakan bagi segala bangsa.

Persembahan Yesus dalam kenisah Bdk. Luk 2:22-29. menunjukkan Dia sebagai Anak sulung, yang dipersembahkan kepada Tuhan Bdk. Kel 13:12-13.. Dalam Simeon dan Anna terjadilah pertemuan - demikianlah tradisi Bisantin menamakan pesta ini - seluruh pengharapan Israel dengan Penebus-Nya. Yesus dikenal sebagai Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan, sebagai "cahaya bangsa-bangsa" dan "kemuliaan Israel", tetapi juga sebagai "tanda pertentangan". Pedang dukacita, yang diramalkan untuk Maria, menandakan "persembahan" yang lain, yang sempurna dan yang satu-satunya, di salib, yang akan menganugerahkan keselamatan, "yang Allah persiapkan untuk segala bangsa". --- Katekismus Gereja Katolik, 529