Ads 468x60px

Minggu, 07 April 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Minggu, 07 April 2019
Hari Minggu Prapaskah V
Yesaya (43:16-21)
(Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6)
Filipi (3:8-14)
Yohanes (8:1-11)
Mercy's Way – Jalan Kerahiman
Inilah salah satu judul buku terbaru saya yang terinspirasi dari pesan injili bahwa Allah selalu mengasihi tak peduli banyaknya dosa kita. Ia mengundang kita untuk datang kepadaNya dengan penuh iman-menerima kerahimanNya dan membiarkannya mengalir bagi yg lain.
Sebaliknya, kaum Farisi malahan merasa dirinya lebih bersih dan selalu berhasrat untuk menjadi “hakim” bg orang lain. Mereka adalah kaum munafik yang bisa jadi juga hidup dalam hati kita: “Mereka datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya padahal hatinya menjauh drpdKu” (Yes 29:13).
Hari inilah, kita diajak menanggalkan kesombongan dan mengenakan kerahiman! Mengacu pada “DKI-Devosi Kerahiman Ilahi” yang saya tulis dalam buku “SKI-Sekolah Kerahiman Ilahi”, ada 3 jalan kerahiman, yakni “KUD”, al:
K arya belaskasih
U capan belaskasih
D oa belaskasih
Adapun karya jasmani kerahiman, al:
memberi makan pada yang lapar-memberi minum pada yang haus-memberi tumpangan pada tunawisma-mengenakan pakaian pada yang telanjang-mengunjungi orang miskin dan tahanan serta menguburkan orang yang mati.
Sedangkan karya karya rohani kerahiman, al:
mengajar-memberi nasehat-menghibur-membesarkan hati-mengampuni-menanggung dg sabar+mendoakan org.
Dari pelbagai tindakan dan karya kerahiman ini, kita diajak mempunyai 3 poros dasar sebuah kerahiman ilahi, al:
1."Pengampunan":
Mengampuni (forGIVE) berarti menjadi “giver”, memberi ruang kebebasan secara fair bagi orang lain untuk memperbaiki diri dan dilandasi nada dasar kasih yang tulus bukan yang penuh akal bulus, karena di dalam kasih tidak ada ketakutan dan kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.
2. "Peneguhan":
Tak seorang pun sia-sia ketika ia meringankan beban orang lain, bukan? Yesus meringankan beban berat yang diderita pendosa: dicap buruk-disingkirkan dan dikorbankan. Ia memberi peneguhan bahwa pendosa ini tidak dihukum.
3. "Perutusan":
Yesus mengutusnya untuk ”pergi dan jangan berbuat dosa lagi.”Ia mengajak kita yang penuh dosa ("sin") untuk bermisi menjadi penuh cinta ("saint"), lahir sebagai manusia baru dan mewartakan secara nyata dengan pelbagai hal baik entah lewat pikiran, kata/tindakan nyata.
“Burung Garuda Burung Indonesia - Tanggalkan semua noda biar hidup kita tak sia-sia.”
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
1.
“Pax et Bonum - Damai dan Kebaikan”.
Inilah salah satu semangat dasar para Fransiskan yang saya tulis dalam buku “HERSTORY” (RJK, Kanisius) dan ditampilkan Yesus kepada wanita pendosa yang berzinah pada bacaan hari ini.
Ya, dalam tradisi Yahudi, zinah bisa mendatangkan hukuman mati tapi dalam Injil hari ini, Yesus datang sebagai raja Damai dan Kebaikan, yang mengampuni pezinah yang bertobat.
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, zinah adalah segala jenis tindakan yang melanggar bidang seksual/susila dan dihukum keras dalam hukum kekudusan (Im 18:20).
Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, ada 2 arti zinah, al:
- “Porneia”, semacam pelanggaran seksual (1Kor 6:13-18; Ef 5:3; Mat 5:32) dan
- “Akatharsia”, yakni kenajisan ibadat (Rom 1:24; 2Kor 12:21; Gal 5:19).
Yang pasti, bukankah kita juga pernah “berzinah” dalam artian rohani, ketika hidup dan iman kita tidak setia - murtad/menduakan Tuhan dengan menyembah "tuhan-tuhan kecil": harta-tahta dan kuasa (Bdk.Kitab Yehezkiel dan Hosea).
Adapun 3 pesan dasar Yesus supaya kita selalu punya “pax et bonum”, al:
A. ”Aku tidak menghukum kamu”:
Ia ajak kita untuk ”berbelaskasihan” pada org lain, terlebih org kecil-tersingkir/disingkirkan karena kita juga banyak mendapat pengampunan dariNya, terebih orang kecil kerap hanya menjadi korban/kambing hitam penguasa, entah di gereja/masyarakat.
B. ”Pergilah”:
Ia mengajak kita untuk ”berubah”: pergi dari manusia lama ke manusia baru, bongkar/tinggalkan pola lama dan membangun hidup sebagai manusia yang lahir baru.
C. ”Jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”:
Ia mengajak kita untuk ”berbuah”. Pengalaman dicintai membuat kita mau mencintai, pengalaman diampuni membuat kita juga mau mengampuni dan bukankah itu adalah buah nyata dari sebuah pengalaman cinta dan perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi? Disinilah kita diajak untuk semakin mau konsisten: menjauh dari kegelapan (“malum”) dan mendekat kepada sumber kebaikan (“bonum”) dengan doa-kata-kata dan tindakan cinta kita, tidak lagi menjadi batu sandungan tapi jadi berkat buat semakin banyak org.
“Bermain kayang di kota Palu - Yesus kusayang terkenang selalu”.
2.
"Ab imo pectore - Dari lubuk hati yang paling dalam."
Inilah yang diharapkan dari semangat pengampunan seperti pada Injil hari ini yang menampilkan sosok Yesus yang mengampuni perempuan yang dicap buruk dan disingkirkan karena dianggap berzinah.
Disinilah, kita diajak untuk menjadi pribadi yang mengampuni karena “yang murah hati akan memperoleh kemurahan Allah.”(Mat 5:7).
Etika Kristiani sendiri memang selalu menekankan hubungan timbal balik: Kita ingin dihormati orang? Hormatilah orang lain! Kita minta dilayani? Jadilah pelayan! Bila kita mengharapkan pengampunan maka tiket yang mesti kita bayar adalah tiket kesediaan untuk mengampuni: ”Penghakiman yang tak berbelas-kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasih” (Yak 2:13).
Adapun 2 jenis pengampunan:
a.”pengampunan formal”: mulut memaafkan tapi hati tetap panas. Pemazmur menegur pengampunan jenis ini: ”Biarlah doanya menjadi dosa”(Mzm 109:7). Mengapa? Sebab berdoa dengan mulut memuji Tuhan tapi dengan hati yang sesak oleh amarah dan dendam adalah dosa. Norman Vincent Peale menegaskan: “kebencian/dendam tidak menyakiti orang yang kita benci tapi setiap hari dan setiap malam perasaan itu malahan akan menggerogoti kita sendiri.
b.”pengampunan sementara”: sekarang memaafkan tapi siap untuk mengungkitnya kembali. Dengan kata lain: Kesalahan orang disimpan di ”gudang”. Padahal sebenarnya orang yang tidak pengampun adalah orang yang dengan sengaja menutup pintu pengampunan bagi dirinya sendiri, karena begitu mudah minta pengampunan tapi begitu sulit mengampuni.
Disinilah, satu hal yang paling penting bahwa Allah hanya berkenan mengampuni orang yang pengampun: "jika kamu tidak mengampuni maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”(Mark 11:25-26). Bukankah setiap relasi itu kerap 70% memaafkan dan 30% mencintai, maka marilah kita belajar menjadi pribadi yang murah hati dan lebih berhati-hati, yang mau belajar untuk saling mengampuni.
"Ada arang di Bakauheni - Jadilah orang yang mengampuni."
3.
“Salva nos omnes - Selamatkanlah kami semua.”
Inilah harapan kita karena percaya bahwa Yesus adalah rahim dan penuh belaskasihan. Ia hadir untuk menyelamatkan dan ini sekaligus menunjukkan tujuan-Nya dalam menebus umat manusia (Yoh 3:16).
Adapun, Yesus tidak menghukum wanita tersebut sebagai orang yang tidak layak diampuni, tetapi menghadapinya dengan lembut dan kesabaran supaya menuntunnya kepada pertobatan (Luk 7:47).
Yesus dapat saja melemparkan batu kepada perempuan itu sebab Dia tanpa dosa; tetapi Dia lebih memperhatikan pemulihan orang berdosa itu ketimbang ketaatan pada hukum Taurat secara teliti.
Apabila perkataan-Nya, “Aku pun tidak menghukum engkau”, kedengaran terlalu lunak, maka hal tersebut diimbangi oleh kelanjutannya, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi”.
Sungguh berbeda sikap Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi bukan? Yesus yang paling layak untuk melempari perempuan itu dengan batu malahan menyatakan pengampunan-Nya dengan memperbolehkan perempuan itu pergi dalam pertobatan.
Nah, kita yang telah mendapat banyak anugerah-Nya juga wajib menerima dan mengasihi orang lain karena inilah yang Allah inginkan, belas kasih kepada sesama dan bukan sikap menghakimi.
"Ada galah di pohon kurma - Berbelaskasihanlah kepada sesama."
4.
“Relicti sunt duo, misera et misericordia”.
01. Para ahli tafsir sepakat bahwa perikop ini ditambahkan ke dalam Injil Keempat oleh generasi sesudah Yohanes karena tidak ditemukan dalam manuskrip kuno baik yang berbahasa Yunani maupun Latin. Nampaknya beberapa bapa Gereja seperti Tertulianus, Cyprianus, Tatianus, Yohanes Chrysostomus, Clemen dan Origenes juga tidak mengenal perikop ini karena mereka sama sekali tidak menyebut teks ini dan memberikan komentar atasnya.
Selain itu baik tata bahasa maupun gaya penuturannya pun berbeda dengan gaya Yohanes, malah lebih dekat dengan Injil Sinoptik, terutama Injil Lukas. Namun kisahnya menarik, khas dan tindakan Yesus yang diceritakan dalam kisah itu sesuai dengan karakter yang diceritakan dalam keempat Injil. Maka Gereja tanpa ragu-ragu memasukkannya ke dalam kanon. Eusebius dari Caesaria (275-339) dan Hieronimus (347-420) menyebut teks ini otentik dan mempunyai asal-usul rasuli. Nampaknya kisah ini tidak dimasukkan ke dalam Injil Yohanes sejak semula karena dikawatirkan bisa dimaknai secara keliru sehingga dapat menimbulkan sikap permisif terhadap perzinaan. Perikop ini kiranya dimaksudkan sebagai ilustrasi konkret dari sabda Yesus dalam Yoh 8:15, “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorang pun.”
02. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menghadapkan kepada Yesus seorang perempuan yang tertangkap basah melakukan zinah. Mereka mengacu pada ketentuan Hukum Taurat yang menegaskan bahwa para pelaku zinah harus dihukum mati. Tetapi mereka memanipulasikannya untuk menjebak Yesus. Dalam Im 20:10 dan Ul 22:22 disebutkan bahwa yang dihukum mati itu adalah kedua belah pihak, yakni laki-laki dan perempuan; dan tidak disebutkan bagaimana hukuman mati itu harus dijalankan.
Dalam kisah ini mereka hanya menangkap yang perempuan dan meminta pendapat Yesus apa yang mesti dilakukan terhadap perempuan itu. Bahkan secara halus mereka menggiring Yesus masuk ke dalam jebakan agar Dia memutuskan untuk melempari perempuan itu dengan batu sampai mati, padahal dalam hukum Taurat hukuman seperti itu hanya diberlakukan untuk perzinahan yang dilakukan oleh perempuan yang sudah bertunangan atau bersuami, “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan, jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia.“ (Ul 22:23-24).
03. Mereka menempatkan Yesus dalam sebuah dilemma yang cukup sulit. Bila Yesus melarang melempari perempuan itu dengan batu sampai mati berarti Ia tidak melaksanakan hukum Taurat dengan setia. Dengan demikian ada alasan bagi mereka untuk membawa Yesus ke depan Sanhedrin dengan tuduhan melanggar hukum Taurat. Namun bila Yesus menyetujui untuk melempari perempuan itu dengan batu sampai mati berarti Yesus mengadakan pengadilan jalanan dan melanggar hukum Romawi yang melarang Sanhedrin atau lembaga Yahudi mana pun menjatuhkan hukuman mati tanpa persetujuan Roma. Selain itu pewartaan Yesus tentang kasih dan kerahiman Allah kepada orang yang berdosa tidak bisa dipercaya lagi. Sungguh sebuah dilemma yang tidak gampang ditemukan solusinya.
04. Yesus tidak langsung menanggapi masalah itu, tetapi malah membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah. Tidak ada penjelasan apa yang ditulis Yesus. Para ahli tafsir memaknai tindakan Yesus ini dengan penjelasan yang berbeda-beda. Ada yang menjelaskan bahwa Yesus menuliskan keputusan yang akan dijatuhkan kepada perempuan itu dengan mengacu pada tata cara pengadilan Romawi. Sebelum menjatuhkan vonis, ketua pengadilan menuliskan terlebih dahulu keputusan itu. Namun kiranya tidak terlalu bermanfaat menduga-duga apa yang dituliskan Yesus. Perubahan postur tubuh Yesus dari duduk mengajar (ay. 2) kemudian membungkuk menuliskan sesuatu di tanah (ay. 6) merupakan bahasa tubuh yang mengungkapkan penolakannya untuk menanggapi masalah yang dibawa oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Yesus merasa diri-Nya bukan merupakan pihak yang kompeten untuk mengadili dan menjatuhkan vonis untuk perkara seperti itu. Ada lembaga yang lebih berkompenten yakni Mahkamah Agama.
05. Setelah didesak-desak, Yesus akhirnya memberikan tanggapan yang sangat cemerlang, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (ay. 7). Yesus memakai model yang dipakai dalam Taurat untuk menentukan kredibilitas sebuah kesaksian, “Saksi-saksi itulah yang pertama-tama menggerakkan tangan mereka untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat” (Ul 17:7 bdk Ul 13:9 dan Im 24:14). Yesus tidak menolak hukum tetapi mengajak untuk menggali semangat dasar yang ada di balik rumusan hukum. Hukum tidak dimaksudkan untuk menghancurkan kehidupan namun justru sebaliknya, bertujuan untuk melindungi kehidupan dari kejahatan yang dapat menghancurkannya. Maka hakekat hukuman adalah untuk mendorong orang untuk bertobat atau membuat efek jera agar orang tidak melakukan kesalahan yang sama dan dengan demikian kejahatan dan keburukan dapat diminimalisir, “Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.” (Ul 22:21.24 dst). Hukuman seberat apa pun kalau tidak menimbulkan efek jera dan tidak mendorong orang untuk bertobat serta berkembang dalam kebaikan maka hukum gagal menjalankan fungsinya.
Dengan adanya hukum seharusnya menjadikan kita semakin mencintai kebaikan, kebenaran dan kesucian. Hukum mesti dijalankan dengan hati nurani yang jernih untuk memajukan kebaikan dan keadilan bukan karena dendam dan kebencian. Karena itu Yesus menekankan perlunya memeriksa motivasi yang mendasari kita menghakimi sesama. Sebelum mengadili orang lain sepantasnya kita melihat hidup kita sendiri. Yesus pernah memberikan teguran, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”. (Mat 7:3 bdk. Mat 18:31-35). Tanggapan Yesus menyadarkan bahwa hidup mereka pun tidak lebih baik dari perempuan itu, sehingga pantas mengadilinya. Maka satu demi satu mulai dari yang paling tua, mereka meninggalkan tempat itu. Seperti kebaikan, dosa pun berproses, berkembang dari waktu ke waktu. Kisah ini ditutup dengan ungkapan yang menarik, “Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu” (ay. 9). St. Agustinus merumuskan, “Relicti sunt duo, misera et misericordia”. Yang tinggal hanya dua: manusia pendosa yang mendamba belaskasih dengan Sang Sumber Belas Kasih.
06. Yesus tidak menempatkan wanita itu di hadapan hukum, tetapi di hadapan diri-Nya, Sang Wajah Kerahiman Allah, Sang Mahakasih yang menjelma menjadi manusia. St. Agustinus mengatakan, “Pokok pewartaan Injil adalah kisah Sang Maha Belas Kasih yang mencari dan menjumpai manusia berdosa dan menderita”. Dari atas kayu salib Yesus mengampuni semua pendosa, membangun kembali kebaikan asali manusia seperti saat diciptakan di Firdaus (bdk. Luk 23:43, : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”), memperbaharui ciptaan agar semakin sempurna menjadi citra Allah, gambar dan rupa kebaikan, kebenaran dan kesucian yang sempurna. Dan membangunnya menjadi umat-Nya yang baru. Pengampunan-Nya mendahului pertobatan manusia. Dia mengampuni kita masing-masing secara pribadi, aku dan kamu, manusia berdosa ini. Bukan karena bertobat kita diampuni tetapi karena kita sudah diampuni maka sepantasnya kita bertobat. Karena itu Tuhan bersabda, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (ay. 11). Betapa pun hebatnya kita, kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan mengubahnya. Kita tidak bisa mengembalikan bubur menjadi nasi lagi. Kita diajak untuk menerima masa lalu sebagai sebuah realitas yang sudah terjadi. Menjalani dan berfokus pada saat ini dengan keyakinan bahwa Tuhan selalu ada di dalam setiap usaha dan perjuangan untuk mempersiapkan masa depan dengan penuh optimis, tanpa rasa takut. Menjalani saat demi saat, detik demi detik dalam kesadaran akan pendampingan dan penyertaan Tuhan.
07. Berhadapan dengan belas kasih dan kerahiman Allah mungkin kita bertanya-tanya : mengapa Yesus lebih mencintai dan merangkul para pendosa dari pada mereka yang selalu setia kepada-Nya? Dalam perumpamaan tentang “Anak Yang Hilang”, anak sulung itu menjadi iri dan marah karena ayahnya menerima kembali adiknya dengan penuh cinta dan kegembiraan bahkan memulihkan kembali hak-haknya seperti semula. Tentu saja Allah berkenan kepada mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk setia sampai akhir. Bunda Maria mendapatkan mahkota kemuliaan karena kesetiaannya sampai akhir. Namun kerahiman Allah secara melimpah tercurah kepada para pendosa karena merekalah yang paling membutuhkannya. Bukankah cinta dan perhatian seorang ibu lebih besar tercurah kepada anaknya yang sakit atau cacat? Seperti seorang dokter yang hadir untuk menyembuhkan para penderita sakit, Sang Penebus datang untuk mencari yang hilang, yang sakit, yang terperangkap dalam dosa. Kepada kita yang dengan kerendahan hati memohon pengampunan dari-Nya, Dia akan bersabda, "Aku pun tidak menghukum engkau.”
08. Seorang ibu memberikan nasehat pada putrinya yang mulai menginjak dewasa, “Anakku, kalau kamu pengin hidupmu bermakna dan bahagia, belajarlah dari pensil ini. Pertama, Pensil bisa menghasilkan tulisan indah dan mempunyai nilai seni tinggi hanya bila di tangan sang penulis yang handal. Hal itu mengingatkan bahwa kamu pun bisa membuat hal-hal yang hebat dalam hidup ini karena ada dalam tangan Sang Penulis Kehidupan. Jangan pernah lupa ada tangan yang selalu membimbing langkahmu. Dialah Allah yang selalu ada dalam setiap langkahmu. Kedua, Dalam proses menulis, kadang beberapa kali kita harus menggunakan rautan untuk menajamkan kembali ujung pensil. Rautan ini pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah diraut, pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena semua itu akan membuatmu menjadi lebih baik. Ketiga, ketika kita salah menulis selalu ada kemungkinan untuk dihapus, dikoreksi. Memperbaiki kesalahan dalam hidup ini membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar. Keempat, Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalamnya. Maka, hati-hatilah dan sadarilah caramu berpikir dan merasakan, waspadailah perspektif atau sudut pandangmu. Kelima, Sebuah pensil selalu meninggalkan goresan. Hal itu mengingatkan bahwa apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah berhati-hati dengan setiap tindakan yang kamu pilih dan sadarilah segala konsekuensinya. Berkah Dalem.
5.
GAGASAN HOMILI
Bacaan Injil Hari Minggu Prapaskah V
Tahun C – 7 April 2019 (Yoh 8:1-11):
"KASUS DI BAIT ALLAH."
Rekan-rekan yang baik!
Kebanyakan para ahli tafsir beranggapan bahwa kasus perempuan zinah dalam Yoh 8:1-11 yang dibacakan pada hari Minggu Prapaskah V/C pada awalnya tidak termasuk Injil Yohanes meskipun mereka setuju asalnya dari tradisi mengenai kehidupan Yesus juga.
Peristiwa ini tidak termuat di dalam naskah-naskah tertua Injil Yohanes dalam bahasa Yunani. Juga dari segi gaya bahasa ada perbedaan. Misalnya, Yohanes biasa menyebut “orang banyak” dengan kata Yunani “okhlos”, bukan “laos” seperti di sini. Kata untuk “pagi-pagi” biasanya “prooi”, tapi di sini dipakai “orthrou”. Nama “Bukit Zaitun” tidak dijumpai dalam Injil Yohanes kecuali di sini. Juga ahli Taurat tidak disebut musuh Yesus selain di sini.
Baru pada abad ke-4 kisah perempuan zinah itu mulai didapati di dalam naskah-naskah Kitab Suci Yunani. Tetapi kisahnya agaknya sudah dikenal sebelumnya di kalangan Gereja Latin di Barat dan termasuk bahan bacaan selama liturgi.
Oleh karenanya tidak mengherankan bila menjadi bagian Injil. Biasanya tempatnya di antara Yoh 7:52 dan 8:12, boleh jadi untuk menyiapkan pembaca agar mengerti kata-kata Yesus nanti dalam Yoh 8:15 “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorang pun.”
Tapi ada pula beberapa naskah yang menaruhnya sebagai tambahan di bagian belakang Injil Yohanes. Karena teks ini telah lama diterima sebagai bagian dari Injil Yohanes dalam liturgi, wajarlah bila kita mendalaminya seperti bagian Injil juga.
A.
BUKIT ZAITUN, BAIT ALLAH, PENYALIBAN
Peristiwa yang sedang dibicarakan ini terjadi di dalam minggu terakhir kehidupan Yesus. Selama waktu itu dari pagi hingga sore ia berada di Yerusalem tetapi malam hari dilewatkannya di Bukit Zaitun, di sebelah timur kota, bersama murid-muridnya.
Seperti disebutkan dalam Mrk 11:11, setelah meninjau Bait Allah, Yesus bersama dua belas muridnya ke Betania pada sore hari, yaitu sebuah perkampungan di sisi timur Bukit Zaitun. (Bukan Betania di seberang sungai Yordan yang disebut dalam Yoh 1:28.)
Latar di atas membuat peristiwa yang dibacakan hari ini berhubungan erat dengan penyaliban dan kebangkitan Yesus. Dia yang tidak menjatuhkan hukuman kepada pendosa yang dihadapkan kepadanya itu sama dengan dia yang nanti wafat di kayu salib menanggung dosa-dosa orang lain dan kemudian bangkit – tidak lagi tertindih dosa dan hukuman. Yang bersedia menerima warta ini bakal ikut mendapat kekuatan untuk tidak membiarkan diri terus ditindih dosa dan hukuman, dengan kata lain, untuk sungguh bertobat.
Peristiwa yang dibacakan hari ini terjadi di dalam Bait Allah, pusat kekayaan spiritual. Ke sanalah orang-orang berkiblat, di situlah orang bertanya, di tempat inilah diberikan jawaban dari Tuhan. Dan jawaban ini berujud manusia yang dapat dikenali, dapat diajak berdialog, dapat dibayang-bayangkan. Tetapi juga bisa dijauhi, dimusuhi, dan dibunuh. Kehadiran Tuhan seperti ini membuat orang perlu berpikir lebih dalam.
B.
MENULIS DI TANAH?
Dalam ayat 6 dipakai kata Yunani “kategraphen” yang artinya “ia mencatat”, bukan sekedar menulis, yang memang muncul dalam ayat 8 sebagai “egraphen”. Dalam kedua ayat itu ada keterangan “di tanah”, artinya, bisa dilihat siapa saja, tidak ditutup-tutupi.
Pertanyaan kita, apakah Yesus betul-betul mencatat dan menulis sesuatu? Dan apa itu? Tidak dilaporkan apa yang ditulis Yesus di tanah. Ada yang menafsirkan bahwa dalam ayat 6 dan 8 ia menuliskan kata-kata yang nanti diucapkannya dalam ayat 7, yaitu “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Ada pelbagai upaya tafsir. Ada yang merujuk pada tatacara Romawi yang mewajibkan ketua pengadilan menulis terlebih dahulu keputusan yang bakal diucapkannya. Bila begitu maka kata-kata dalam ayat 7 itulah keputusan yang dimintakan para ahli Taurat dan orang Farisi. Walaupun tidak lebih dari sekadar dugaan belaka, penjelasan ini menarik.
Kedua kata kerja Yunani dalam ayat 6 tadi ada dalam bentuk yang biasanya dipakai membicarakan kejadian yang sedang berlangsung di masa lampau. (Istilah tatabahasa Yunani ialah bentuk imperfekt).
Tapi bentuk ini juga tak jarang menandakan tindakan yang tidak utuh terjadi, bahkan sering digunakan untuk membicarakan perbuatan yang hanya diniatkan belaka. Dalam pemakaian seperti itu maka ayat 6 sebetulnya mengatakan “(Yesus membungkuk,) SIAP mencatat di tanah” dan ayat 8 “(Lalu ia membungkuk lagi) MAU menulis”. Jadi ia belum mencatat atau menulis apapun. Dalam tatabahasa Yunani bentuk ini dinamai “imperfekt konatif” (“imperfekt coba-coba”).
Contoh lain, Luk 5:6, ketika tangkapan ikan banyak, “jala mereka HAMPIR koyak (dierreesseto)”. Jala tidak koyak betul-betul sehingga ikan-ikannya tidak lepas kembali! Menurut Yoh 21:11 jala memang tidak koyak. Mrk 15:23, sebelum menyalibkan Yesus, disebutkan “mereka BERMAKSUD memberinya (edidoun) anggur yang dicampur mur, tetapi Yesus menolaknya.” Anggur tidak benar-benar diberikan, karena jelas dikatakan di situ Yesus menolaknya. Ada banyak lagi contoh imperfekt konatif seperti itu.
Secara ringkas, tidak bisa dikatakan bahwa Yesus benar-benar mencatat atau menulis sesuatu. Juga tidak bisa dikatakan Yesus tidak menggubris para ahli Taurat dan orang Farisi yang datang kepadanya. Sebaliknya, pencerita malahan menyarankan bahwa Yesus siap mencatat dan menulis bila memang ada yang patut dituliskan saat itu.
Penjelasan ini ada hubungannya dengan perubahan postur tubuh Yesus. Dari duduk mengajar, Yesus membungkuk mencatat dan menulis. Apa artinya? Dengan perubahan postur tubuh itu ia hendak menunjukkan bahwa ia mau mencatat dan menuliskan kebijaksanaan para ahli Kitab dan orang Farisi bila mereka memang memiliki sesuatu yang dapat diajarkan. Tapi para ahli Taurat dan orang Farisi itu tidak berani menerima peralihan peran itu. Bahkan mereka “terus menerus bertanya kepadanya” (ayat 7).
Pada saat itulah Yesus bangkit berdiri lalu berkata, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa hendaklah ia yang pertama yang melemparkan batu kepada perempuan ini” (ayat 7). Segera sesudah berkata demikian ia membungkuk lagi dan siap menulis di tanah, supaya bisa dilihat semua yang hadir.
Sekali lagi ia meminta mereka mengajarkan apa yang bisa ia tuliskan, ia siap untuk itu. Apa yang terjadi? Satu per satu mereka pergi meninggalkan tempat itu, mulai dari yang paling senior. Yesus tidak menyaingi para ahli Taurat dan orang Farisi atau mengecilkan peran mereka. Ia justru minta mereka menunjukkan apa mereka dapat mengajarkan sesuatu yang patut dicatat dan ditulis bagi orang banyak. Ternyata tak ada seorang pun yang tampil. Mengapa? Di hadapan orang yang tulus hati ini, suara hati ahli Taurat dan orang Farisi itu sendiri tidak mengizinkan mereka mengajarkan hukuman atau tindakan keras yang mempersyaratkan kebersihan diri sendiri dulu.
C.
AJAKAN AGAR GANTI HALUAN
Dalam cerita ini dua kali Yesus berbicara mengenai “dosa”. Yang pertama kepada para ahli Taurat dan orang Farisi (ayat 7), yang kedua kalinya kepada perempuan yang dihadapkan kepadanya (ayat 11). Dua kali pula Yesus “bangkit berdiri” dan mulai menyapa masing-masing pihak (ayat 7 dan 10).
Begitulah cara pencerita menunjukkan Yesus memberi perlakuan yang sama baik kepada perempuan tadi maupun kepada para ahli Taurat dan orang Farisi. Ironis, kaum terpandang itu sebetulnya tidak lebih baik dari pada orang yang mereka anggap pendosa yang patut dihukum mati.
Pernyataan Yesus bahwa siapa yang tak berdosa hendaknya melempar batu pertama mengikis habis perbedaan yang boleh jadi disembunyi-sembunyikan. Di hadapan utusan Tuhan yang sedang menampilkan kewibawaannya mengajar di Bait Allah ini semua orang sama, sama berdosanya. Pengadilan dengan pikiran manusia saja tidak mencukupi. Semua orang membutuhkan kerahiman Tuhan.
Yesus meminta kepada para penuduh agar melihat apakah mereka sendiri tanpa dosa. Mereka perlu memeriksa diri, menengok ke belakang. Kepada perempuan itu Yesus mengatakan “mulai sekarang” jangan lagi berdosa. Ada pandangan ke masa depan.
Pembaca yang menyelami kisah ini akan melihat bahwa baik para ahli Taurat dan orang Farisi maupun perempuan itu sama-sama diajak melepaskan jalan hidup mereka yang lama, yang menindih diri mereka sendiri, agar dapat menempuh arah baru.
Pengalaman perempuan itu membawanya ke jalan baru yang dijanjikan Tuhan dalam nubuat yang diucapkan di dalam bacaan pertama Yes 43:16-21. Setelah membebaskan umat-Nya dari pembuangan di Babel, Tuhan memperkenalkan diri sebagai Dia yang pernah menuntun keluar umat-Nya (keluar dari Mesir) lewat laut dan menghancurkan pengejar-pengejar mereka (ayat 16-17).
Ditegaskan agar mereka kini tak usah lagi mengungkit-ungkit perkara lama (ayat 18) tetapi hendaknya melihat hal baru yang dibuat Tuhan, yakni jalan di padang gurun (ayat 19) di situ ia membuat air memancar di padang gurun untuk memberi minum umat pilihan-Nya (ayat 20). Mereka akan memberitakan kemasyhuran-Nya bersama-sama dengan ciptaan lain yang ikut menerima kebaikannya (ayat 21).
Dalam bacaan kedua (Fil 3:8-14) Paulus bersaksi, setelah menemukan Kristus Kebenaran Sejati itu, ia menganggap semua hal lain tidak banyak artinya lagi. Ia merasa telah ditangkap oleh kebenaran itu. Ia juga telah melupakan yang ada di belakang dan sekarang mau berlomba-lomba mendekat ke hadirat Yang Ilahi. Perempuan tadi pergi dan berganti cara hidup, para penuduhnya juga satu demi satu meninggalkan pandangan mereka sendiri, Paulus juga melepaskan dirinya yang lama. Mereka semua ini telah bertemu dengan Dia yang menerangi relung-relung gelap dan meluruskan hati. Inilah peristiwa menggembirakan yang boleh diharapkan dalam menyongsong Minggu Suci sepekan lagi. (AG)
===
Ada beberapa pertanyaan dari pembaca mengenai Yoh 8:1-11:
TANYA: Bagaimana sih kok pendosa zinah dilepas begitu saja dan habis perkara? Apa tidak aneh?
JAWAB: Memang akan kurang masuk akal bila petikan itu dibaca sebagai peristiwa pengadilan. Tetapi peristiwa yang dikisahkan bukan pengadilan. (Tidak seperti pengadilan Yesus di hadapan Mahkamah Agama nanti yang memang pengadilan). Penghakiman tidak dijalankan di Bait Allah. Yang dilakukan di situ ialah ibadat, perlindungan, dan pengajaran dalam ujud dialog atau simposium atau seminar para ahli agama. Nah dalam suatu seminar seperti itu tampillah guru-guru ternama seperti Yesus, ahli Taurat & orang Farisi, dan perempuan pezinah yang mereka datangkan sebagai narasumber otentik bagi studi kasus mereka. Dalam kesempatan ini ada juga banyak pengikut dan murid yang dalam Yoh 8:2 disebut “orang banyak/rakyat”. Mereka belajar dari kepintaran guru-guru tadi. Karena situasi ini bukan situasi pengadilan dan bukan tindak lanjut penggerebekan tempat zina, tidak ada risiko bahwa perempuan itu akan betul-betul dilempari batu menurut hukum rajam seperti termaktub dalam Ul 22:21-24. Namun demikian, seminar itu bukan sekadar anggar kata mengenai perzinahan dengan tiga profesor kondang yang bila selesai ya bubar, lalu orang ambil piagam untuk dapatkan kredit guna kenaikan pangkat. Peristiwa itu langsung berdampak pada sikap hidup masing-masing peserta. Yesus berhasil menghadapkan ahli Taurat dan orang Farisi ke suara batin mereka sendiri seperti dijelaskan dalam ulasan di atas. Dan ini terjadi di Bait Allah, bukan di ruang pengadilan. Hal ini penting disadari penafsir. Dalam pengadilan yang sungguh, juga di kalangan orang Yahudi dulu, perasaan hakim, penuduh, pembela tidak bisa berperan langsung. Para anggota Sanhedrin yang mendakwa Yesus menghujat memang tidak bisa lain kecuali mendakwa menurut hukum mereka. Jadi peristiwa kali ini bukan kisah pengadilan pezinah melainkan kisah penjernihan suara hati manusia dalam rangka menyiapkan diri memahami peristiwa paskah Yesus nanti. Maka hal yang disebut dalam ayat 2 bahwa peristiwa ini terjadi di Bait Allah dan dalam rangka pengajaran amat penting bagi penafsiran warta petikan ini.
TANYA: Apa “melempari dengan batu” (Yoh 8:5 dan 7) itu sama dengan praktek “hukum rajam”?
JAWAB: Ancaman dirajam sampai mati termaktub dalam Taurat, juga dalam kasus perzinahan, lihat Ul 22:21-24, bandingkan Yehezkiel 16:40 23:47. Beberapa tindak pidana lain juga dikenai sanksi rajam sampai mati: menyembah berhala: Ul 13:10 17:5; menghujat Tuhan Im 24:14 bdk. Yoh 10:33; mengorbankan anak: Im 20:2; praktek jalangkungan & nini thowokan Im 20:27; melanggar hari Sabat: Bil 15:32-36 dan beberapa kasus lain. Namun apakah ancaman hukuman mati dengan rajam bisa divoniskan begitu saja dan sungguh dieksekusikan adalah perkara lain. Pertama-tama boleh dicatat bahwa bagi orang Yahudi dari zaman ke zaman hukum kasuistik (“bagi perkara X, hukumnya Y”) dalam Taurat lebih berfungsi sebagai sumber “berteologi” dan tidak diberlakukan begitu saja sebagai pasal-pasal hukum KUHP. Mereka memiliki semacam KUHP yang rinci yang dijabarkan dari Taurat, dan kemudian dikenal antara lain dengan nama Misyna. Hukum-hukum yang ada di dalamnya perlu dipelajari dengan komentar para yurist mereka. Di situ ada aturan-aturan rumit cara mempidana orang. Ada peraturan yang tidak memudahkan orang bisa dikenai hukuman begitu saja. (Misalnya hanya bila tertangkap basah, mesti ada lebih dari satu saksi, dst.) Juga ada beberapa aturan pelaksanaan atau eksekusi dengan tenggang waktu cukup lama agar memungkinkan pengampunan pada hari raya tertentu.
Dalam pelbagai masyarakat di pelbagai kebudayaan, ancaman atau sanksi hukuman yang amat keras sering tidak dijalankan harfiah. Ini memiliki dampak pada teologi. Nabi-nabi Perjanjian Lama dulu berbicara mengenai ketaksetiaan Israel yang ipso facto mestinya mendatangkan kehancuran umat (=putusan hukuman mati), tetapi belas kasihan Tuhan menyelamatkan umat dari kehancuran total. Di Firdaus difirmankan, bila makan buah pengetahuan baik dan buruk akan mati seketika. Tetapi Hawa dan suaminya tidak mati seketika walaupun makan buah itu. Kesimpulan teologis yang bisa ditarik pembaca: Tuhan berbelaskasihan sehingga hukuman yang ditetapkan-Nya sendiri diubah-Nya menjadi “nasib” ular, wanita dan lelaki dan pengusiran dari Firdaus pada akhir Kej 3. Tetapi, sebelum itu, perhatikan Kej 3:21, Tuhan yang baru saja menjatuhkan firman kutukan tadi itu tiba-tiba berubah menjadi penuh perhatian kembali kepada manusia. Ia membuatkan manusia dan istrinya pakaian dari kulit binatang dan “mengenakannya kepada mereka”, artinya, ia mengukur persis persis bahu, dada, lengan, pinggul ke bawah, sehingga pakaian kulit binatang itu tidak kedodoran.
TANYA: Ada yang pernah mendengar penjelasan sbb.: “…..batu yang dilempar itu bukan batu besar, tapi batu kecil-kecil. Batu tersebut tidak ditujukan ke badan/tubuh si wanita, melainkan dilempar ke depannya. Orang yang yang melempar batu menyatakan setuju wanita itu harus dihukum mati dan dibawa ke penguasa Romawi agar hukuman disahkan. Jadi batu itu sebagai alat menghitung (seperti voting).” Bagaimana pendapat Romo tentang tafsiran ini?
JAWAB: Tafsir itu akibat kerancuan degan praktek “membuang undi” dalam meramal atau mengundi barang yang dadunya bisa dibayangkan besarnya seperti kerikil…! Memang lembaga peradilan Yahudi pada zaman Yesus tak berhak menjatuhkan hukuman mati. Bila menurut hukum mereka memang harus dikenai pidana mati,maka perlu dibawa dan disahkan oleh penguasa Romawi (lihat juga Yoh 18:31). Tidak dikenal praktek pungut suara di Bait Allah, kalau toh mau dijajaki pendapat para tetua maka akan dilakukan di mahkamah,tidak di Bait Allah. (AG)
6.
MADAH HARIAN PAGI
(Minggu, 7 April 2019 - Hari Minggu Prapaskah V)
Kami menghadap pada-Mu
Allah yang baik selalu
Hati kami hancur luluh
Kami menangis mengaduh.
Kami sungguh menyadari
Kedosaan diri kami
Namun kami tetap ingat
Akan Dikau sumber rahmat.
Ampunilah dosa kami
Yang sudah kami sesali
Semoga berkat restu-Mu
Kani bertobat selalu.
Kami mohon pada Tuhan
S’moga masa persiapan
Yang kami langsungkan ini
Kaulimpahi rahmat suci. Amin.
DOA
Tuhan Allah mahapengasih, Putera-Mu telah menyerahkan nyawa dan wafat demi keselamatan dunia. Semoga dengan pertolongan-Mu kami meneladan cinta kasih-Nya. Sebab Dialah pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.
7.
Kutipan Teks Misa.
Minggu, 07 April 2019
Hari Minggu Prapaskah V
Tradisi Gereja telah memasukkan juga "hal menegur para pendosa" ini di antara perbuatan-perbuatan kasih yang bersifat spiritual. Pentinglah memulihkan kembali dimensi kasih kristiani ini. Kita tidak boleh diam saja terhadap kejahatan. Saya ingat akan semua orang kristiani yang, hanya karena pertimbangan manusiawi atau hanya karena kecocokan dengan selera pribadi lebih mengadaptasi mentalitas yang sedang berlaku umum dari pada menegur saudara dan saudarinya untuk menentang cara berpikir dan bertindak yang bertentangan dengan kebenaran dan yang tidak mengikuti jalan kebaikan. --- Pesan Paus Benediktus XVI, Prapaskah 2012
Antifon Pembuka (Bdk. Mzm 43:1-2)
Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh. Luputkanlah aku dari penipu dan orang yang curang. Sebab Engkaulah Allahku dan kekuatanku.
Iudica me Deus, et discerne causam meam de gente non sancta: ab homine iniquo et doloso eripe me: quia tu es Deus meus, et fortitudo mea.
Doa Pembuka
Tuhan dan Allah kami, Putra-Mu telah menyerahkan diri-Nya sampai wafat karena kasih-Nya kepada kami. Kami mohon, semoga berkat bantuan-Mu, kami hidup dan bertindak penuh semangat dalam kasih yang sama. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Yesaya (43:16-21)
"Aku hendak membuat sesuatu yang baru dan Aku akan memberi minum umat pilihan-Ku."
Tuhan telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat; Ia telah menyuruh kereta dan kuda keluar untuk berperang, dan membawa tentara serta pasukan yang gagah, yang terbaring dan tidak dapat bangkit lagi, yang sudah mati dan padam laksana sumbu. Beginilah firman Tuhan yang telah melakukan semua itu, “Janganlah mengingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh; belumkah kamu mengetahuinya? Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Binatang hutan akan memuliakan Aku, demikian pula serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku. Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.”
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6)
1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah kepada kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
4. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di
Filipi (3:8-14)
"Oleh karena Kristus aku telah melepaskan segala sesuatu, sambil membentuk diri menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya."
Saudara-saudara, segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus dan berada dalam Dia, bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena iman kepada Kristus, yaitu kebenaran yang dianugerahkan Allah berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah: mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, dan bersatu dalam kematian-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya akhirnya aku pun beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan berarti aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya; tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku, dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku; aku berlari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yl 2:12-13)
Berbaliklah kepada-Ku dengan sepenuh hatimu, sabda Tuhan, sebab Aku maha pengasih dan penyayang.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (8:1-11)
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini."
Sekali peristiwa Yesus pergi ke Bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah, lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari dengan batu perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal ini?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis di tanah dengan jari-Nya. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.” Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah. Tetapi setelah mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu, yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawab perempuan itu, “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Antifon Komuni (Tahun C; Yoh 8:10-11)
Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau? Tidak ada Tuan. Aku pun tidak menghukum engkau: mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi.
===
"Go, and do not sin again"
Gospel Reading: John 8:1-11
Early in the morning he came again to the temple; all the people came to him, and he sat down and taught them. The scribes and the Pharisees brought a woman who had been caught in adultery, and placing her in the midst they said to him, "Teacher, this woman has been caught in the act of adultery. Now in the law Moses commanded us to stone such. What do you say about her?" This they said to test him, that they might have some charge to bring against him. Jesus bent down and wrote with his finger on the ground. And as they continued to ask him, he stood up and said to them, "Let him who is without sin among you be the first to throw a stone at her." And once more he bent down and wrote with his finger on the ground. But when they heard it, they went away, one by one, beginning with the eldest, and Jesus was left alone with the woman standing before him. Jesus looked up and said to her, "Woman, where are they? Has no one condemned you?" She said, "No one, Lord." And Jesus said, "Neither do I condemn you; go, and do not sin again."
Old Testament Reading:
Isaiah 43:16-21
Thus says the LORD, who makes a way in the sea, a path in the mighty waters, who brings forth chariot and horse, army and warrior; they lie down, they cannot rise, they are extinguished, quenched like a wick: "Remember not the former things, nor consider the things of old. Behold, I am doing a new thing; now it springs forth, do you not perceive it? I will make a way in the wilderness and rivers in the desert. The wild beasts will honor me, the jackals and the ostriches; for I give water in the wilderness, rivers in the desert, to give drink to my chosen people, the people whom I formed for myself that they might declare my praise.
Meditation
Are you ready to be changed and transformed in Christlike holiness? God never withholds his grace from us. His steadfast love and mercy is new every day (Lamentations 3:22-23). Through the gift and grace of the Holy Spirit we can be changed and made new in Christ. He can set us free from our unruly desires and passions. Jesus never lost an opportunity to bring freedom to those oppressed by sin and guilt. His frequent association with sinners, however, upset the sensibilities of the religious leaders. When a woman caught in adultery was brought to them for trial, they confronted Jesus on the issue of retribution. Jewish law treated adultery as a serious crime since it violated God’s ordinance and wreaked havoc on the stability of marriage and family life. It was one of the three gravest sins punishable by death.
This incident tells us a great deal about Jesus’ attitude to the sinner. The scribes and Pharisees wanted to entrap Jesus with the religious and civil authorities. That is why they brought a woman caught in adultery before Jesus. Jesus turned the challenge towards his accusers. In effect he said: Go ahead and stone her! But let the man who is without sin be the first to cast a stone. The Lord leaves the matter to their own consciences. When the adulterous woman is left alone with Jesus, he both expresses mercy and he strongly exhorts her to not sin again. The scribes wished to condemn, Jesus wished to forgive and to restore the sinner to health. His challenge involved a choice – either go back to your former way of sin and death or to reach out to the new way of life and happiness with him. Jesus gave her pardon and a new start on life. God’s grace enables us to confront our sin for what it is – unfaithfulness to God, and to turn back to God with a repentant heart and a thankful spirit for God’s mercy and forgiveness. Do you know the joy of repentance and a clean conscience?
"God our Father, we find it difficult to come to you, because our knowledge of you is imperfect. In our ignorance we have imagined you to be our enemy; we have wrongly thought that you take pleasure in punishing our sins; and we have foolishly conceived you to be a tyrant over human life. But since Jesus came among us, he has shown that you are loving, that you are on our side against all that stunts life, and that our resentment against you was groundless. So we come to you, asking you to forgive our past ignorance, and wanting to know more and more of you and your forgiving love, through Jesus Christ our Lord." (Prayer of Saint Augustine)
Psalm 126:1-6
When the LORD restored the fortunes of Zion,
we were like those who dream.
Then our mouth was filled with laughter, and our
tongue with shouts of joy; then they said
among the nations, "The LORD has done great
things for them."
The LORD has done great things for us; we are
glad.
Restore our fortunes, O LORD, like the
watercourses in the Negeb!
May those who sow in tears reap with shouts of
joy!
He that goes forth weeping, bearing the seed for
sowing, shall come home with shouts of joy,
bringing his sheaves with him.

Sabtu, 06 April 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Sabtu, 06 April 2019
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah
Yeremia (11:18-20)
(Mzm 7:2-3.9b-10.11-12)
Yohanes (7:40-53)
"Veni vidi vici - Aku datang aku lihat aku menang."
Inilah salah satu motto yang kerap kali kita dengar dalam banyak musim olimpiade antar bangsa. Inilah juga yang bisa dimaknai dari arti nama Nikodemus (Yun: “nikos: pemenang" dan “demos: rakyat/bangsa").
Kitapun diajak menjadi "bangsa pemenang" di tengah banyak "pecundang" dengan tiga sikap dasar Nikodemus yang punya "NIat dan KOmitmen DEmi Membela YesUS", antara lain:
1."Kerinduan hati":
Hati Nikodemus ingin sekali bertemu dengan Yesus. Diantara 6000 orang Farisi dan 70 Sanhedrin yang lainnya, Nikodemus yang adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi (Sanhedrin) justru menjadi tertarik untuk mengenal Yesus lebih dalam. Ia datang untuk mencari dan berbincang dengan Yesus di wkt malam hari.
2."Kerendahan hati":
Nikodemus mau diajar dan dibentuk Yesus. Walaupun Nikodemus adalah seorang tokoh agama terpandang, ia tak segan menyapa Yesus sebagai “Rabi (Guru). Ia mau belajar dari “Si Tukang Kayu”. Inilah sikap rendah hati, yang selalu terbuka dan mau terus blajar dari yang lain.
3."Perubahan hati":
Setelah berjumpa dengan Yesus, Nikodemus semakin rindu untuk belajar kepada Yesus. Hidupnya juga menjadi berubah dan berbuah sebagai orang beriman. Ia jadi berapi untuk membela Yesus di depan umum (Yoh 7:45-52). Bahkan, ia setia pada akhir kematian Yesus (Yoh 19:38-40). Ia juga yang membawa campuran minyak mur dan gaharu (Yoh 19:39) untuk membubuhi mayat Yesus.
Karena perubahan hatinya, ada pernyataan terkenal Yesus kepada Nikodemus yang baik untuk kita ingat: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa tapi beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).
"Dari Penang ke Tarsus - Mari menang dalam nama Tuhan Yesus."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Jika kau dapat menolong seseorang, lakukanlah.
Jika kau tak dapat menolong, berdoalah baginya.
Jika kau tak dapat berdoa, pikirkanlah tentang yang baik untuknya.
Dan ini saja sudah membantu, karena pikiran-pikiran yang baik juga adalah persenjataan yang baik.
1.
SENSUS CATHOLICUS.
Gereja Katolik konon memiliki tradisi untuk mendedikasikan hari dan bulan kepada Kristus dan/atau orang kudus/misteri ilahi tertentu.
HARI
Minggu :
Kebangkitan dan Allah Tritunggal
Senin :
Roh Kudus dan Jiwa-jiwa di Api Penyucian
Selasa :
Para Malaikat Kudus
Rabu :
Sto.Yosef
Kamis :
Sakramen Mahakudus (Ekaristi)
Jumat :
Wafat Kristus dan Hati Kudus Yesus
Sabtu :
Santa Perawan Maria dan Hati Tak Bernoda Maria
BULAN
Januari :
Nama Kudus Yesus dan Kanak-kanak Yesus
Februari :
Keluarga Kudus
Maret :
Sto.Yosef
April :
Sakramen Mahakudus (Ekaristi)
Mei :
Bunda Maria
Juni :
Hati Kudus Yesus
Juli :
Darah Kristus
Agustus :
Hati Tak Bernoda Maria
September :
Tujuh Dukacita Maria
Oktober :
Rosario (dan non-formal : para Malaikat Kudus)
November :
Jiwa-jiwa di Api Penyucian
Desember :
Maria Dikandung Tanpa Noda
===
EKARISTI
Elok KArena kRIStus ada di haTI
Belajarlah untuk menempatkan Ekaristi sebagai pusat hidupmu. Dengan merenungkan Injil, engkau akan memperdalam pemahamanmu akan maknanya. Hal ini akan membantumu untuk menemukan kembali nilai dan keindahan persekutuan Ekaristi hari Minggu, sukacita menjadi bagian dari orang-orang yang membawa Kristus yang disalibkan dan bangkit dalam hati mereka. ( St. Yohanes Paulus II )
===
Gereja hidup dari Ekaristi tentu saja bukan pertama-tama karena ritus-upacaranya, tetapi terutama karena apa yang dirayakan dalam ritus itu, yakni misteri penebusan Kristus melalui peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitanNya.
Disinilah, Ekaristi yang menjadi jantung hidup Gereja (EE 3) sekaligus sumber dan puncak hidup beriman, fons et culmen (LG 11), memiliki arti mendasar yakni: “Elok KArena kRIStus ada di haTI, .” Dan, bukankah Ekaristi menjadi lebih elok jika kita merenung-menungkannya bersama Maria Sang Bunda Ekaristi, Mater Eucharistia?
Pastinya:
Kerendahan hati Yesus: di Betlehem, di Nazaret, di Kalvari. Akan tetapi, lebih merendahkan diri dalam Hosti terkudus; lebih daripada di kandang, lebih daripada di Nazaret, lebih daripada di atas salib. Itulah sebabnya mengapa kita harus begitu mencintai
ekaristi, bukan?
Selamat menjadi pribadi ekaristis yang berpola "4 dimensi" :
Di pilih
Di berkati
Di pecah
Di bagi bagi
===
Santo Michael Malaikat Agung,
belalah kami dalam pertempuran,
jadilah pelindung kami terhadap kejahatan dan jerat iblis.
Semoga Tuhan menegurnya,
kami memohon dengan rendah hati.
Dan engkau, panglima surgawi;
dengan kuasa Allah,
doronglah ke dalam neraka,
setan dan roh-roh jahat yang berkeliaran di dunia untuk menghancurkan jiwa. Amin.
2.
"Via positiva - Jalan positif".
Itulah yang diharapkan pada hari ini bahwa kita selalu bisa berpikir positif bahkan terhadap pengalaman buruk dan musuh kita sekalipun karena tepatlah apa yang dikatakan oleh filsuf Prancis, Rene Descartes, "cogito ergo sum - aku berpikir maka aku ada."
Dengan kata lain:
Bukankah pikiran menentukan kualitas tindakan dan hidup kita? Masalahnya, kita sering mudah berpikir buruk-berperasaan negatif dan menghakimi orang. Itulah yang juga terjadi pada diri orang-orang Yahudi yang mudah curiga dan mudah menghakimi tanpa melihat konteks utuhnya: asyik bicara "TENTANG" tapi tidak pernah bicara "DENGAN".
Baiklah kita sekarang belajar juga dari figur Nikodemus (Yun: "pemenang") dengan 3 sikap dasarnya seperti yang saya tulis dalam buku "TANDA" (Kanisius), al:
A."NI"at:
Dia datang malam hari untuk mencari dan menjumpai Yesus (Yoh 3). Sudahkah kita juga selalu punya "goodwill", niat baik dalam kata-kata dan pikiran kita?
B."KO"mitmen:
Nikodemus adalalah orang yang bersama Yusuf Arimatea menurunkan jenazah Yesus dan meminyakinya dengan banyak minyak wangi (Yoh 19). Ia setia mengikuti Tuhan. Sudahkah kita juga berkomitmen dalam gulat geliat iman kita?
C."DEmi Membela YesUS":
Hari ini, Nikodemus membela Yesus di depan teman-temannya, para farisi yang suka menghakimi Yesus (Yoh 7). Ya, memang jelas bahwa Yesus tidak perlu dibela, tapi bukankah Yesus adalah "Sang Kebenaran-Kebaikan+Keadilan". Jada setiap kali kita membela hidup dan pikiran "yang benar-yang baik dan yang adil", kita juga membela Yesus sendiri yang hadir disitu?
"Berenang di kali - Jadilah pemenang buat yang Ilahi".
3.
Kutipan Teks Misa:
“Hidup ini hanya berlangsung beberapa jam saja, namun luar biasa besar imbalannya nanti” (St. Theresia dari Avila).
Antifon Pembuka (Mzm 17:5-7)
Rintihan maut membisingkan telingaku, jeritan neraka menegakkan bulu romaku. Terhimpit aku berteriak kepada Tuhan, dan dari bait-Nya yang suci Ia mendengarkan seruanku.
The waves of death rose about me; the pains of the netherworld surrounded me. In my anguish I called to the Lord, and from his holy temple he heard my voice.
Doa Pembuka
Allah Bapa Yang Mahamurah hati, bimbinglah kiranya hati kami, sebab kami sadar bahwa tanpa Engkau kami tak dapat hidup baik. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Yeremia (11:18-20)
"Aku seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih."
Nabi berkata, “Tuhan memberitahukan ancaman-ancaman yang dirancang orang terhadapku; maka aku mengetahuinya. Pada waktu itu Engkau, ya Tuhan, memperlihatkan ancaman mereka kepadaku. Dulunya aku seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih; aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku dengan berkata, “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!” Tetapi, Tuhan semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, Allahku, pada-Mu aku berlindung.
Ayat. (Mzm 7:2-3.9b-10.11-12)
1. Ya Tuhan, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku, dan lepaskanlah aku, supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan.
2. Hakimilah aku, Tuhan, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.
3. Perisaiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Luk 8:15)
Orang yang mendengarkan firman Tuhan, dan menyimpannya dalam hati yang baik, akan menghasilkan buah dalam ketekunan.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (7:40-53)
"Apakah Engkau juga orang Galilea?"
Sekali peristiwa Yesus mengajar di Yerusalem. Beberapa di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan Yesus, berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Yesus. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Maka ketika penjaga-penjaga yang ditugaskan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi pergi kepada imam-imam kepala, orang-orang Farisi berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang Farisi itu kepada mereka, “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Orang banyak itu tidak mengenal hukum Taurat! Terkutuklah mereka!” Nikodemus, seorang dari mereka yang dahulu telah datang kepada Yesus, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum ia didengar, dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci, dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Dalam hidup ini berbagai persoalan ringan atau berat bisa saja terjadi pada setiap orang. Tidak terkecuali berbagai ancaman atau teror menyerang kehidupan seseorang. Ada kemungkinan jika kita bertindak benar, jujur dan adil di tengah-tengah kebohongan dan kepalsuan hidup pada masa kini, kita juga akan menghadapi aneka tekanan dan ancaman serta terror, dan kita merasa sendirian serta berada ‘di ujung tanduk’. Sering kita jumpai keluh kesah seorang pegawai, yang diketahui beragama Katolik sendirian di tempat ia bekerja: ia merasa diawasi terus menerus, dicari-cari kesalahan dan kekurangannya serta ada kesan mau disingkirkan atau dipecat. Jika Anda mengalami atau menghadapi macam itu marilah kita tetap tegar, lemah lembut dan rendah hati, setia pada tugas dan panggilan kita dan dalam hati berdoa seperti Yeremia: ”Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”. Janganlah takut, karena Tuhan menjadi hakim yang adil. Penyerahan diri kepada Allah adalah cara yang terbaik. Marilah kita tetap bertindak dengan benar, jujur dan adil serta percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi kita. Percayalah bahwa kebenaran, keadilan dan kejujuran pasti akan menang atas kebohongan, kepalsuan dan ketidak-adilan.
Dalam rangka menyambut pemilihan umum 2019 kami berharap Anda sekalian yang telah memiliki hak pilih menggunakan hak pilih dengan sebaik-baiknya. Siapa pun calon dan partai apa pun pilihan Anda, hendaknya dipilih dengan keyakinan bahwa calon tersebut dan partainya akan mewakili rakyat dengan berjuang bersama seluruh komponen masyarakat mewujudkan cita-cita bersama bangsa Indonesia, menghargai dan membela kemajemukan agama, suku, etnis dan ras yang ada di Indonesia dan mampu mengelolanya menjadi sebuah taman bunga Indonesia yang indah dan menawan yang dibangun di atas dasar Pancasila. Pilihlah calon yang rekam jejaknya menunjukkan semangat kebangsaan yang mendalam yang tampak dalam sikap toleransi, komitmen kebebasan beragama dan beribadah serta keberanian untuk membela kelompok-kelompok minoritas dalam masyarakat, memiliki kematangan pribadi, menghormati dan membela kehidupan, menghargai dan memperjuangkan hak-hak asasi manusia, melayani dan mengusahakan kesejahteraan umum serta berkomitmen terhadap kelestarian alam dan keutuhan ciptaan, memiliki komitmen yang kuat dan tegas untuk memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Hendaknya pilihan Anda tidak dipengaruhi oleh uang atau imbalan-imbalan lainnya. Membeli suara pemilih dengan uang atau barang lainnya, membiarkan suara hati dibeli dengan uang serta memanipulasi hasil Pemilu adalah tindakan-tindakan yang berlawanan dengan Perintah Allah yang mulia: “Jangan menipu” (bdk. Ul. 5:20). Lebih dari itu politik uang menodai prinsip-prinsip moral Kristiani yang menjadi landasan kehidupan bersama yakni kejujuran, kebenaran, keadilan dan kesejahteraan umum.
Antifon Komuni (Bdk. 1 Ptr 1:18-19)
Dengan Darah Kristus yang sama seperti Darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat kita telah ditebus.
By the precious Blood of Christ, the Blood of a spotless and unblemished Lamb, we have been redeemed.
Doa Malam
Yesus, Engkau tetap sabar, apa yang benar selalu Kulakukan, namun tidak pernah diakui oleh mereka yang memusuhi-Mu. Ajarilah aku untuk bersabar hati seperti Engkau dan berilah aku keberanian untuk selalu bertindak benar tanpa takut menderita bila harus menghadapi ketidakadilan. Amin.

Kamis, 04 April 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Kamis, 04 April 2019
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah
Keluaran (32:7-14)
(Mzm 106:19-20.21-22.23)
Yohanes (5:31-47)
“Habemus Papam - Kami memiliki Paus”.
Mengacu pada bacaan harian bahwa Yesus datang sebagai saksi yang siap bekerja: “Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya.” (Yoh 5,36),
Bersama dengan kenangan 6 tahun terpilihnya Paus Fransiskus yang terlahir pada 17 Des 1936 dari orang tua yang adalah pekerja rel kereta dan imigran dari Italia ini, kita diajak untuk menjadi "saksi" (“Siap Ajarkan Kabar Sukacita Ilahi”) yang siap bekerja dengan 3 semangat dasar, antara lain:
1. Kerendahan hati: ”SSD - Servus Servorum Dei - Hamba dari Segala Hamba Tuhan”:
Inilah semboyan pokok yang selalu muncul pada akhir konklave di Kapel Sistina Vatikan. Kardinal Bergoglio alias Paus Fransiskus sendiri memang terkenal rendah hati: Di Argentina, ia memilih tinggal di rumah sederhana daripada katedral, memasak/mencuci piring dan mengembalikan limosine untuk memilih pergi dengan naik bus. Ia juga mengambil nama kepausan, “Fransiskus” (Asisi), pendiri “OFM-Ordo Fratrum Minorum-Saudara Hina Dina” yang terkenal dengan semangat kesederhanaannya untuk menciptakan "Pax et Bonum - Damai dan Kebaikan".
2. Kesadaran diri: ”AMDG - Ad Maiorem Dei Gloriam - Demi Semakin Besarnya Kemuliaan Nama Tuhan”:
Inilah semboyan khas para Jesuit dimana Kardinal Bergoglio alias Paus Fransiskus sendiri adalah salah satu anggotanya. Adapun paus terakhir yang juga adalah anggota tarekat yakni Paus Gregorius XVI dari tarekat Benediktin (1831).
Ia sungguh bersadar diri, itu sebabnya juga sebelum memberi berkat kepausan perdana kepada umat, Paus Fransiskus ini juga lebih dulu meminta doa dan berkat dari semua umat supaya sungguh semuanya hanya demi kemuliaan Tuhan semata.
3. Kegairahan misi: ”IIM - Ite Inflammate Omnia - Pergilah dan kobarkanlah api Tuhan ke dunia”:
Inilah semboyan salah satu founding father Jesuit, St Fransiskus (Xaverius). Adapun Kardinal Bergoglio alias Paus Fransiskus ini merupakan paus pertama yang berasal dari Amerika Latin. Kata-kata perdananya di Vatikan: “Saya datang dari ujung dunia yang jauh. Mari kita pergi memulai perjalanan ini bersama, perjalanan persahabatan-kasih-kepercayaan dan iman."
Selain itu, selama ini, Paus Fransiskus juga dikenal sebagai pembela kaum miskin dan tidak gentar mengkritik ketidakadilan sosial-ekonomi dalam setiap tugas misi dan perutusannya. Kini, Tuhan juga seolah mengajak kita bersama Gereja untuk pergi bersaksi dengan semangat api yang berkobar-kobar di tengah carut maut dan ruwet renteng dunia.
Pastinya:
Kita sendiri kerap mengenal kesaksian Malaikat Gabriel yang berkata kepada Maria: “anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1,35; bdk. ay. 32); juga kesaksian Yohanes Pembaptis: “Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1,34); lalu kesaksian dari Allah Bapa sendiri: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan” (Mt 3,17). Dan, indahnya - dalam Injil hari ini, Yesus memberikan kesaksian dari diri-Nya sendiri, bukan dengan kata-kata dan pengajaran tetapi dengan pekerjaan yang Ia lakukan. Sebagai Anak, Ia mengerjakan pekerjaan Bapa yang mengutus-Nya.
Nah, bagaimana dengan kita sendiri?
AYO KERJA!!
"Kereta senja dari Yogyakarta - Mari kita bekerja dengan sukacita."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
1.
"Labora - Kerja!"
Inilah salah satu dimensi iman bahwa kita diajak untuk selalu bekerja dengan giat, dengan "keras, cerdas dan ikhlas - hand-head dan heart", yang dalam bahasa Yesus: “Aku mempunyai suatu kesaksian tentang segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu jugalah yang sekarang Kukerjakan dan yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa yang mengutus Aku dan yang bersaksi tentang Aku" (Yo 5:36).
Dengan kata lain: kualitas iman kita ditentukan tdk melulu oleh apa yang "dikatakan" tapi terlebih oleh apa yang "dikerjakan" dalam keseharian.
Secara ideal, ada 3 tujuan kerja orang beriman, antara lain: kebaikan untuk masa depan dunia (bonum utile), kebaikan untuk kemanusiaan (bonum humanum) dan kebaikan untuk hidup bersama (bonum commune).
Secara real, kita kerap malas bekerja tapi malahan sibuk berkata-kata belaka, seperti tampak dalam cerita singkat ini:
"Dulu hiduplah seekor singa liar dan buas. Setiap kali bertemu makhluk lain dan terutama manusia pasti saja diterkam dan dilahap habis.
Ketika tahu bahwa orang Kristiani adalah orang-orang baik, maka berkatalah ia kepada teman-teman yang lain: "Aku telah mendengar seruan di padang gurun dan aku ingin bertobat. Aku tak akan mengganggu orang-orang Kristiani lagi. Aku akan membiarkan mereka tetap hidup dan tak akan menjadikan mereka santapan pemuas isi perutku.
Setelah lewat beberapa hari, seorang Kristiani lewat. Singa liar itu malahan lagi-lagi melahap orang itu. Seluruh bagian tubuh orang tersebut dimakan habis tak tersisa, kecuali bibirnya saja.
Ia lalu dicemooh teman- temannya: 'Bukankah engkau ingin bertobat dan berjanji tak akan menjadikan orang kristen sebagai santapan lezatmu? Kenapa hari ini engkau justru membunuh orang Kristiani lagi?
Setelah berpikir panjang, singa buas itu menjawab: 'Aku memang sudah berjanji untuk tidak menerkam orang Kristiani. Tapi orang yang telah kumakan itu telah kucium dulu sebelum diterkam. Ternyata sama sekali tak tercium aroma kekristenan, kecuali bibirnya saja. Karena itu bibirnya sajalah yang tidak kumakan.'
2.
Meditasi “DOA YESUS”: Sebuah Introitus.
“DOA YESUS” atau “JESUS PRAYER” (berbeda dengan ‘Doa yang diajarkan Yesus’ = Bapa Kami) adalah suatu rumusan doa singkat (hanya 1 kalimat) yang umum digunakan dalam tradisi Ortodoks dan Katolik, khususnya Ritus Timur, sejak lama.
Para pertapa, entah yang hidup senobit dan terlebih yang hidup eremit serta para Bapa Gereja dari abad lampau memiliki kebiasaan bermeditasi dengan mengucapkan doa ini berulang-ulang dalam keseharian mereka, dengan bantuan tali doa/ prayer rope/ komboskini ataupun mendaraskannya tanpa henti di dalam hati, untuk menghindarkan diri dari obrolan remeh temeh dan memusatkan diri dalam persatuan dengan Tuhan dalam doa setiap saat.
“Doa Yesus” ini dipercaya, jika didaraskan dengan penghayatan penuh setiap kata-katanya, adalah doa yang sempurna, yang berkekuatan besar untuk mendapatkan indulgensi (baik bagi diri sendiri atau dipersembahkan kepada jiwa-jiwa di api penyucian), dan memberi perlindungan yang kuat terhadap setan, karena di dalam satu kalimat saja, tersimpul/terangkum banyak doktrin iman.
Rumusan Doa Yesus tidak dirumuskan secara pasti, namun intinya adalah sama. Versi tersingkatnya bisa hanya berupa kata “Yesus” saja, atau “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku/ Kyrie eleison”, yang diulang-ulang, namun versi yang paling populer dan umum digunakan adalah :
Yunani:
"Κύριε Ἰησοῦ Χριστέ, Υἱὲ τοῦ Θεοῦ, ἐλέησόν με τὸν ἁμαρτωλόν."
Kyrie Iesou Christe, Huie tou Theou, Eleēson me ton hamartolon
Inggris:
"Lord Jesus Christ, Son of God, have mercy on me, a sinner."
Indonesia:
"Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa."
=======
Meditasi DOA YESUS menurut Kitab Suci
1.Κύριε (Kyrie)
Adalah kata tunggal yang menunjuk pada Kyrios = Tuhan.
a. Efesus 4:5 :
Satu Tuhan (Kyrios), satu iman, satu baptisan.
b. 1 Korintus 8:6 :
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan (Kyrios) saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
c. Filipi 2:10-11 :
Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan (Kyrios)”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!
2. Ἰησοῦ (Iesou)
Kata tunggal dari Iesous, berasal dari bahasa Ibrani : Yeshua, yang berarti “keselamatan”.
a. Matius 1:21 :
Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus (Iesous) karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.
b. Lukas 23:42 :
Lalu ia berkata: Yesus (Iesous), ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.
c. Wahyu 19:10b :
Karena kesaksian Yesus (Iesous) adalah roh nubuat.
3. Χριστέ (Christe)
Dari kata Christos yang berarti : Yang terurapi, Sang Mesias, Kristus.
a. Matius 16:16 :
Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias (Christos), Anak Allah yang hidup!"
b. Yohanes 20:31 :
tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias (Christos), Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
c. Titus 2:13 :
dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Christos).
4. Υἱὲ (Huie),
Dari kata huios, berarti : Anak (laki-laki)
a. 1 Yohanes 5:11-12
Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya (Huios).
Barangsiapa memiliki Anak (Huios), ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak (Huios), ia tidak memiliki hidup.
b. Matius 28:19 :
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak (Huios) dan Roh Kudus.
c. Matius 3:17 :
lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku (Huios) yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.
5. τοῦ Θεοῦ (tou Theou)
Dari kata Theos, berarti : Allah
a. 1 Yohanes 4:15 :
Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah (Theos), Allah (Theos) tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah (Theos).
b. 1 Yohanes 5:13
Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah (Theos), tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.
c. 1 Yohanes 5:5 :
Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah (Theos) ?
6. ἐλέησόν με (Eleēson me): Have mercy on me = Kasihanilah aku.
Ungkapan yang tepat tentang siapa diri kita dibandingkan dengan Jesus, bahwa kita memerlukan “belas kasihan”Nya.
a. Matius 15:22 :
Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku (Eleēson me), ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
b. Markus 10:47 :
Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku (Eleēson me)!"
c. Lukas 18:35-38 :
Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis..... Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku (Eleēson me)!"
7. τὸν ἁμαρτωλόν (ton hamartolon).
Bentuk tunggal dari hamartolos, yang berarti : orang berdosa.
a. Markus 2:17 :
Yesus... berkata kepada mereka: "... Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa (hamartolos).”
b. Lukas 5:8 :
Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa (hamartolos).”
c. Lukas 15:7 :
Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa (hamartolos) yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.
=================
Kyrie Iesou Christe, Huie tou Theou, Eleēson me ton hamartolon
Lord Jesus Christ, Son of God, have mercy on me, a sinner.
Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa.
3.
Kutipan Teks Misa:
“Kemenangan salib tidak tertutup bagi orang yang lemah, siapa pun juga” (St. Leo Agung)
Antifon Pembuka (Mzm 105:3-4)
Bergembiralah orang yang mencari Tuhan. Rindukanlah Tuhan dan kamu akan dikuatkan. Pandanglah selalu wajah-Nya.
Doa Pembuka
Allah Bapa Mahakudus, kami telah Kausucikan karena bertobat dan melatih diri dalam amal baik. Dengan rendah hati kami mohon kemurahan hati-Mu, semoga kami selalu menaati perintah-mu dengan tulus ikhlas, agar dapat merayakan Paskah dengan hati murni. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Keluaran (32:7-14)
"Allah menyesali malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya."
Di Gunung Sinai Allah berfirman kepada Musa, “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak perilakunya. Begitu cepat mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka. Mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah serta mempersembahkan kurban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” Lagi firman Tuhan kepada Musa, “Telah Kulihat bangsa ini, dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk! Oleh sebab itu biarkanlah murka-Ku bangkit terhadap mereka, dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar.” Lalu Musa mencoba melunakkan hati Tuhan, Allahnya, dengan berkata, “Mengapakah Tuhan, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu, dan menyesallah akan malapetaka yang hendak kaudatangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.” Dan menyesallah Tuhan atas malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Ingatlah akan daku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umatku.
Ayat. (Mzm 106:19-20.21-22.23)
1. Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Yang Mulia dengan patung sapi jantan yang makan rumput.
2. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di tanah Mesir; yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, dan perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi laut Teberau.
3. Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yoh 3:16)
Begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, beroleh hidup yang kekal.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (5:31-47)
"Yang mendakwa kamu adalah Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapan."
Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang Yahudi, “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar. Ada yang lain yang bersaksi tentang Aku, dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes, dan ia telah bersaksi tentang kebenaran. Tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Yohanes adalah pelita yang menyala dan bercahaya, dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku supaya Aku melaksanakannya. Pekerjan itu jualah yang sekarang Kukerjakan, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. Dialah yang bersaksi tentang Aku! Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-Kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup kekal. Tetapi walupun Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku, dan kamu tidak menerima Aku. Jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimanakah kamu dapat percaya, karena kamu menerima hormat seorang dari orang lain tetapi tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa, yaitu Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab Musa telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulis oleh Musa, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Aku katakan?”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Tanda-tanda tertentu bisa membantu kita untuk mengenali seseorang. Hari ini Yesus berusaha meyakinkan orang tentang diri-Nya. Dengan berbagai cara Ia menegaskan bahwa Dia adalah Anak Allah. Sebagai Anak, Ia memiliki hubungan yang sangat dekat bahkan memiliki kesatuan yang tak terpisahkan. Namun kata-kata-Nya belum membantu kita untuk semakin percaya. akhirnya Ia hanya mengatakan, "Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku." Yesus menegaskan bahwa kesaksian yang paling utama tentang diri-Nya sebagai Anak Allah adalah pekerjaan yang Ia lakukan, yakni melaksanakan kehendak Bapa. "Makananku adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" begitulah Ia mempunyai prinsip (Yoh 4:34). Hidup kekal menjadi tujuan terakhir peziarahan hidup orang beriman. Hidup kekal berarti percaya kepada Allah yang hidup dan kepada Yesus Kristus yang diutus-Nya. Barangsiapa percaya kepada-Nya akan hidup dan selamat.
Antifon Komuni (Yer 31:33)
Tuhan bersabda, "Hukum-Ku Kutaruh dalam batin mereka dan Kutulis dalam hati mereka. Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat-Ku."