Ads 468x60px

Senin 4 Maret 2013

2 Raj 5:1-15a; Luk 4:24-30

“Sentire cum Deo-sehati dengan Tuhan.” Itulah tugas seorang nabi, jubir/jurubicaranya Allah (Ibr: “Nabiy”=messenger/prophet=utusan/pembawa kabar). Dlm buku saya, “BBM” (Kanisius), ada 4 sikap nabi, al: “SAFT”: Siddiq/jujur; Amanah/trpercaya; Fathonah/rajin+Tabligh/berbagi. 

Hari ini, disebutkan nama tiga nabi besar, yakni: 
- Elia ("Yahweh adl Allah"); 
- Elisa ("Allah adl kselamatan") dan 
- Yesus (“Yahweh yg menyelamatkan”). 

Mereka mempunyai 4 karakteristik dsr, al: 

Minggu 3 Maret 2013


Prapaskah III
Kel 3:1-15; 1Kor 10:1-12; Luk 13:1-9

“Dura lex sed lex-Hukum itu keras tp itulah hukum”. Inilah salah satu pepatah y
ang saya tulis dalam buku “Carpe Diem” (Seize The Day/Reguklah Hari Ini) bersama dengan penegasan Yesus pada Minggu Prapaskah III: “Jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa”. Ya, Ia ternyata bukan hanya mempunyai hukum kasih (“sibarani - SIap BAgikan RAhmat imaNI”) dan hukum pelayanan (“silalahi - SIap Layani yang iLAHI”), tapi Ia juga mempunyai hukum pertobatan (“sitorus - SIap berTObat tRUS”) supaya kita layak "sinaga" (SIap NAik ke surGA). 

Hari ini, k
ita yang tidak mau bertobat (Yun:metanoia, berbalik) disamakan dengan sebuah pohon ara yang tidak berbuah dan siap "ditebang". Adapun tiga modal dasar supaya kita berbuah adalah “PAM”. “PAM” sendiri adalah sebuah proyek rohani, doa bersama pada jam dan hari yang sama, yang kami buat serentak di 20 kapel stasi yang tersebar-pencar dengan melibatkan semua umat beserta para frater/suster dan para pastor paroki yang bersangkutan. 

Sabtu 2 Maret 2013


Prapaskah II
Mi 7:14-15.18-20; Luk 15:1-3.11-32

“In nomine patris et misericordia - Dalam nama Bapa dan kerahimanNya.”
Mengacu pada buku saya, "XXI -Interupsi" (Kanisius), adapun kisah “Kembalinya Anak yang Hilang" mempunyai 3 tahap dasar, al:

1. Anak bungsu: 
Kita mencintai hidup yang dinamis: "terbang" – pergi dan sibuk ke banyak tempat - bertemu dengan banyak orang dan banyak soal tapi pada akhirnya kita tersungkur "jatuh" dan merasa amat lelah-letih-“habis” dan tidak punya rumah. Kita rindu pulang menantikan sambutan uluran dan pelukan Bapa. Dengan kata lain: Kita menjadi si bungsu yang "sayap"nya rapuh karena hidup tidak berhati-hati. 

Jumat 1 Mrt 2013

Kej 37:3-4.12.13a.17b-28; 21:33-43.45-46

“Ametur Ubique Terrarum Cordis Iesu Sacratissimi
- Dikasihilah Hati Kudus Yesus di Seluruh Dunia.” Inilah semangat iman dalam buku saya “XXI” (Kanisius) tepat dengan Jumat Pertama pada hari ini. Dalam Kitab Suci, hati manusia disebut 1100x dan mengacu pada “suasana batin terdalam”. Dalam Yer 31:31-34; 32:37-41+Yeh 11:17-20; 36:24-27, Allah menjanjikan hati baru: ”Aku akan memberi hati baru".

Berangkat d
ari pernyataan Blaise Pascal bahwa "hati punya alasan yang tidak dikenal akal" - "le coeur a ses raisons que la raison ne connait pas”, hari ini ditampakkan bahwa dua tokoh iman kita, yakni Yusuf dan Yesus menjadi korban iri hati dan congkak hati orang. Dalam bahasa Rama Mangun, “keganasan” mereka seperti “ikan homa, ido dan ikan hiu” yang saling mengincar dan tega menghabisi lawannya. Adapun Yusuf ditolak oleh saudara-saudara sekandungnya sendiri dan Yesus juga ditolak oleh ahli taurat-imam dan tua-tua yang seharusnya lebih mengenal dan peka akan kehadiran Tuhan. Bisa jadi bukan karena mereka adalah orang jahat, tapi karena hati mereka tidak bisa melihat Tuhan yang datang lewat sesama. Hati mereka sudah tumpul-tuli dan buta karena iri hati. Disinilah, Yusuf dan Yesus menjadi kurban (Yun: hosti) dengan 4 sikap dasar, al: