“Consuetudinis
vis magna est”.
Pekan Biasa VII
Sir 5:1-8; Mrk 9:41-50
“Consuetudinis vis magna est - Pengaruh sebuah kebiasaan sungguh luar biasa.” Hari ini, Yesus mengajak kita terbiasa menjadi berkat dengan cintakasih yang nyata pada semua sesama demi kebaikan bersama. Adapun tiga kebiasaan baik yang dianjurkan Yesus supaya kita bisa menjadi berkat yang luar biasa dan menghadirkan Kerajaan Allah secara real, aktual dan operasional, antara lain:
1. Jadilah Terang dengan bertobat:
Kita kadang menjadi batu sandungan dan bukan batu penjuru, entah dengan perkataan, penglihatan ataupun terlebih dengan tindakan kita. Kita membuat sesama menjadi terhambat untuk maju dan terlambat untuk mendekat kepada Tuhan. Kita kadang menyesatkan bahkan mematikan masa depan sesama hanya karena rasa sentimen atau rasa “supermen“: merasa lebih dibanding yang lain. Disinilah, Tuhan mengingatkan kita bahwa kerahimanNya juga berbanding lurus dengan keadilanNya. Ia mengajak kita untuk “benar benar bersih” dengan senantiasa bertobat, sehingga kita tidak lagi menjadi batu sandungan bagi semua sesama. Bukankah dengan sikap bertobat yang tulus dan penuh kerendahan hati, kita juga bisa belajar menjadi terang bagi yang lain? Yang pasti, dunia dan banyak sesama membutuhkan terang, dan kita bisa menjadi terang itu pertama-tama dengan sikap yang senantiasa mau bertobat. Yah, mungkin bukan terang yang besar, tapi terang lilin yang kecil, yang hanya bisa menyinari ruangan yang kecil, namun kita bisa mengajak terang lilin kecil yang lain untuk menyinari dunia ini, bukan?
Pekan Biasa VII
Sir 5:1-8; Mrk 9:41-50
“Consuetudinis vis magna est - Pengaruh sebuah kebiasaan sungguh luar biasa.” Hari ini, Yesus mengajak kita terbiasa menjadi berkat dengan cintakasih yang nyata pada semua sesama demi kebaikan bersama. Adapun tiga kebiasaan baik yang dianjurkan Yesus supaya kita bisa menjadi berkat yang luar biasa dan menghadirkan Kerajaan Allah secara real, aktual dan operasional, antara lain:
1. Jadilah Terang dengan bertobat:
Kita kadang menjadi batu sandungan dan bukan batu penjuru, entah dengan perkataan, penglihatan ataupun terlebih dengan tindakan kita. Kita membuat sesama menjadi terhambat untuk maju dan terlambat untuk mendekat kepada Tuhan. Kita kadang menyesatkan bahkan mematikan masa depan sesama hanya karena rasa sentimen atau rasa “supermen“: merasa lebih dibanding yang lain. Disinilah, Tuhan mengingatkan kita bahwa kerahimanNya juga berbanding lurus dengan keadilanNya. Ia mengajak kita untuk “benar benar bersih” dengan senantiasa bertobat, sehingga kita tidak lagi menjadi batu sandungan bagi semua sesama. Bukankah dengan sikap bertobat yang tulus dan penuh kerendahan hati, kita juga bisa belajar menjadi terang bagi yang lain? Yang pasti, dunia dan banyak sesama membutuhkan terang, dan kita bisa menjadi terang itu pertama-tama dengan sikap yang senantiasa mau bertobat. Yah, mungkin bukan terang yang besar, tapi terang lilin yang kecil, yang hanya bisa menyinari ruangan yang kecil, namun kita bisa mengajak terang lilin kecil yang lain untuk menyinari dunia ini, bukan?
