Ads 468x60px

Kamis 23 Mei 2013

Consuetudinis vis magna est”.

Pekan Biasa VII
Sir 5:1-8; Mrk 9:41-50

“Consuetudinis vis magna est - Pengaruh sebuah kebiasaan sungguh luar biasa.” Hari ini, Yesus mengajak kita terbiasa menjadi berkat dengan cintakasih yang nyata pada semua sesama demi kebaikan bersama. Adapun tiga kebiasaan baik yang dianjurkan Yesus supaya kita bisa menjadi berkat yang luar biasa dan menghadirkan Kerajaan Allah secara real, aktual dan operasional, antara lain:

1. Jadilah Terang dengan bertobat: 
Kita kadang menjadi batu sandungan dan bukan batu penjuru, entah dengan perkataan, penglihatan ataupun terlebih dengan tindakan kita. Kita membuat sesama menjadi terhambat untuk maju dan terlambat untuk mendekat kepada Tuhan. Kita kadang menyesatkan bahkan mematikan masa depan sesama hanya karena rasa sentimen atau rasa “supermen“: merasa lebih dibanding yang lain. Disinilah, Tuhan mengingatkan kita bahwa kerahimanNya juga berbanding lurus dengan keadilanNya. Ia mengajak kita untuk “benar benar bersih” dengan senantiasa bertobat, sehingga kita tidak lagi menjadi batu sandungan bagi semua sesama. Bukankah dengan sikap bertobat yang tulus dan penuh kerendahan hati, kita juga bisa belajar menjadi terang bagi yang lain? Yang pasti, dunia dan banyak sesama membutuhkan terang, dan kita bisa menjadi terang itu pertama-tama dengan sikap yang senantiasa mau bertobat. Yah, mungkin bukan terang yang besar, tapi terang lilin yang kecil, yang hanya bisa menyinari ruangan yang kecil, namun kita bisa mengajak terang lilin kecil yang lain untuk menyinari dunia ini, bukan?

Rabu 22 Mei 2013

“Homo homini SOCIUS.”
Pekan Biasa VII
Sir 4:11-19; Mrk 9:38-40

“Homo homini SOCIUS - Manusia adalah sahabat bagi sesamanya”. Inilah semangat dasar yang coba saya tawarkan ketika di medio tahun 2008 kami mulai membentuk “rumah socius” dan mengumpulkan para eks narapidana dari pelbagai latar belakang agama. Adapun satu kesadaran awalnya bahwa semua manusia adalah sama-sama citra Allah, walau memang berbeda latar belakang agama dan budayanya. Premis “homo homini socius-manusia adalah sahabat bagi sesamanya” ini sendiri merupakan antitesis dari premis lama ala Hobessian yang berbunyi, “homo homini lupus-manusia adalah serigala bagi sesamanya.” 

Pastinya, seperti Yesus yang hari ini bersabda: "Barangsiapa tidak melawan kita, ia memihak kita", bisa jadi kita diajak untuk mengenakan pola pikir “persahabatan” bukan “perseteruan”, menganggap sesama sebagai “sahabat”, bukan sebagai “serigala.” (Buku “HERSTORY”, Sahabat: “SAtu dalam suka, HADir dalam duka, berjaBAT dalam doa”). Dkl: Yesus mengajak kita untuk belajar berpikir positif dan bersahabat dengan sesama. De facto, bukankah seringkali kita ini berpola negatif, entah lewat pikiran perkataan bahkan tindakan kita: 'permusuhan', 'balas dendam', 'iri hati', 'penyingkiran', member cap buruk? Adapun tiga penyebab dasar pola negatif ini adalah “3K”, antara lain:

Suara dari balik Gedung DPRD Solo: “Urip Iku Urup”



YOHANES FIDELIS SUKASNO, SH

“Urip Iku Urup”

“Hidup itu nyala! Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentulah akan lebih baik.” Itulah filosofi hidup seorang umat Katolik bernama Yohanes Fidelis Sukasno, yang splendor veritatis – penuh dengan warna warni pelangi kemanusiaan - dan kini masih menjadi ketua DPRD kota Solo selama dua periode terakhir. 

Figur dan tuturnya “down to earth”, jauh dari sosok seorang pejabat dan tidak tersilaukan oleh gilang gemilang harta dan kekuasaan. Ia lebih memilih untuk tinggal di rumahnya yang coreng moreng daripada di rumah dinasnya yang mentereng karena rumahnya yang asli nyata-nyata berada di tengah perkampungan padat penduduk di kawasan Gandekan - Jebres. Ia mengakui bahwa dengan tinggal dan tetap berada di tengah perkampungan padat penduduk, ia selalu diingatkan untuk benar-benar dekat dan bersahabat dengan jerit tangis dan aspirasi banyak rakyat yang diwakilinya. Uang gaji bulanannya sebagai ketua DPRD pun kerap digunakannya untuk membantu pelbagai karya sosial dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Selasa 21 Mei 2013


“Servite in caritate”.

Pekan Biasa VII
Sir 2:1-11; Mrk 9:30-37

“Servite in caritate - Layanilah dalam cinta kasih” Inilah ajakan Yesus supaya kita bisa menjadi pribadi beriman yang terbesar dan terdahulu: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya" (Mrk 9:35). Inilah jalan iman yang ditawarkan Yesus kepada kita hari ini, yakni belajar melayani dengan menjadi seperti anak-anak (children) dan bukan bersikap kekanak-kanakan (childish). Adapun tiga indikasi dasar dari sikap anak-anak supaya kita bisa menjadi orang beriman yang terbesar dan terdahulu, antara lain: