Ads 468x60px

Jumat, 1 Feb 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.                     
                 
Jumat, 1 Feb 2019
Ibrani (10:32-39)   
(Mzm 37:3-4.5-6.23-24.39-40)
Markus (4:26-34)

“Adveniat regnum Tuum – Datanglah kerajaanMu!”

Sering kita mendengar pewartaan biblis tentang biji sesawi yang mengilustrasikan bahwa yang kecil itu bisa menjadi besar dan yang biasa itu bisa menjadi luar biasa karena adanya penyelenggaraan ilahi.

Nah, berdasarkan iman akan penyelenggaraan ilahi, ternyata ‘sesawi’, yang “SEderhana, SAbar dan manusiaWI" ini mengajak kita memiliki tiga poros iman, antara lain:

1. Berakar dalam CINTA:
Tuhan setia mengasihi kita mulai dari hal-hal yang terkecil. Ia menjadi ‘PAM’, pupuk yang menyuburkan – air yang menyegarkan – matahari yang menghangatkan. Inilah “akar”, kekuatan dasar bahwa Allah telah lebih dahulu mencintai kita.

2. Bertumbuh dalam SUKACITA:
Sesawi (sinapis nigra) adalah sejenis sayuran berwarna hitam dan paling banyak tumbuh di wilayah selatan dan timur negara Mediterania-Mesopotamia, dan kerap dipergunakan sebagai penyedap masakan. Ukurannya memang sangat kecil, dengan diameter sekitar 0.5 cm. Namun biji ini dapat tumbuh menjadi pohon besar.

Nah, sebagaimana biji sesawi yang merupakan biji terkecil dapat tumbuh dan menjadi pohon yang terbesar demikian juga Kerajaan Allah. Meskipun pada mulanya kecil namun akhirnya akan tumbuh menjadi besar (Dan 4:12 dan Yeh. 17:23 dan 31:6). Inilah yang seharusnya membuat hidup kita penuh sukacita.

3. Berbuah dalam KARYA NYATA:
Seperti sesawi yang memiliki cabang yang lebat hingga burung-burung di udara dapat bersarang nyaman padanya, kita juga diajak menjadi rumah yg meneduhkan karena "Kerajaan Allah itu bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus". (Rm 14:17), maka perjuangan merajakan Allah harus ditandai dengan pelbagai kebaikan yang nyata: real dan kontekstual.

“Cari mangga di Taman Sari – Ciptakanlah surga setiap hari.”

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

NB:
POPE FRANCIS:
Nostra in loca Spiritum Sanctum invitemus, eum ante opera suscipienda invocemus: “Veni, Sancte Spiritus”.

Invite the Holy Spirit to be part of your activities. Call upon Him before you even start: “Come, Holy Spirit!”.

Undang Roh Kudus untuk menjadi bagian dari kegiatanmu. Panggilah Dia bahkan sebelum kamu memulai : “Datanglah, Roh Kudus!”.

1.
“Rex Mundi – Raja Semesta.”

Adapun kerajaanNya yang datang itu digambarkan dengan perumpamaan biji sesawi yang "SEderhana, SAbar dan manusiaWI."

Ya, KerajaanNya itu dimulai hanya dengan Yesus dan sekelompok kecil murid yang sederhana dan penuh penyerahan diri (Yoh 20:22; Kis 2:4).

Akan tetapi, perwujudan yang kelihatan dari kerajaan itu bertumbuh sampai menjadi besar dan meneduhkan banyak orang.

Sesawi yang dimaksudkan di sini sendiri ialah sejenis tanaman yang dapat tumbuh setinggi kira-kira tiga meter dan merupakan tanaman terbesar yang tumbuh di Israel.

Pertumbuhannya yang luar biasa dari biji yang terkecil menjadi sebuah semak yang seukuran dengan sebuah pohon kecil secara nubuat melukiskan pertumbuhan Kerajaan Allah dari awal yang tak berarti berupa murid-murid Yesus yang sederhana menjadi suatu Gereja yang besar dan mekar di tengah dunia.

Disinilah kita belajar untuk menghadirkan kerajaanNya dengan 3 poros, al:

A.Berawal dari hidup sehari-hari:
Tuhan itu hadir lewat banyak pengalaman harian yang biasa-biasa dan tak melulu luar biasa.
Ia hadir dan menyapa lewat banyak perjumpaaan kita dengan sesama+semesta.

B.Bertumbuh setiap hari:
Semua kebaikan membutuhkan proses untuk berkembang dan kita diajak untuk bersabar dalm proses kehidupan karna bukankah semua hal itu pada awalnya datang dari hal-hal yang kecil?

C.Berbuah dan terus memberi:
Seperti pohon sesawi yang memberi keteduhan, kita juga diajak berbuah nyata dalam iman kristiani.
Hidup kita memberi dan membuahkan keteduhan bagi smakin banyak orang lain.

"Cari mangga di Kalisari - Ciptakan surga setiap hari."

2.
“Venite– Datanglah.”

Yesus sendiri mengajarkan perumpamaan KerajaanNya seperti biji sesawi dan ragi, yang ternyata mengandung tiga syarat dasar supaya kerajaanNya sungguh datang di tengah carut marut hidup harian kita, antara lain:

A.Simplicitas-Sederhana:
"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Biji sesawi (“SEderhana, SAbar dan manusiaWI”)

Biji sesawi dapat berasal dari 3 jenis tanaman yang berbeda: biji sesawi hitam (nigra), biji sesawi Indian berwarna coklat (juncea) dan biji sesawi putih/kuning (hirta/sinapis alba). Diameter biji sesawi kurang lebih 1 milimeter. Biji sesawi juga biasa dipakai sebagai bahan penyedap makanan.

Namun biji ini dapat tumbuh menjadi pohon besar. Nah, sebagaimana biji sesawi yang merupakan biji terkecil dapat tumbuh dan menjadi pohon yang terbesar demikian juga Kerajaan Allah: meskipun pada mulanya kecil namun akhirnya akan tumbuh menjadi besar (Dan 4:12 dan Yeh. 17:23 dan 31:6).

B.Integritas-Keseluruhan:
"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." Bukankah kedamaian Kerajaan Surga berlangsung secara perlahan namun nyata dan menyeluruh?

Seperti “ragi” (“RAjin berbaGI), proses transformasinya tidak selalu kelihatan mencolok, tetapi akibatnya terhadap seluruh dunia jelas dan tegas terlihat.

C.Fraternitas:
Kerajaan Allah dimengerti sebagai realitas yang membuat terwujudnya “syalom” (damai): seperti burung yang terlindung dengan nyaman dalam cabang-cabang pohon sesawi yang bertumbuh besar dan seperti ragi yang meresap dalam tepung terigu sehingga menjadi roti yang enak dinikmati.

Inilah suasana “syalom” yang didasari semangat persaudaraan, ketika yang tawar dan hambar menjadi benar benar hangat dan bermanfaat.

“Abdullah berenang di sungai Gangga – Ciptakanlah kerajaan Surga.”

3.
In Paradisum – Dalam surga.

Bicara soal surga, itu adalah sebuah tempat di alam akhirat yang dipercaya sebagai lokasi berkumpulnya roh-roh manusia yang semasa hidupnya berbuat kebajikan.

Adapun akar katanya dalam beberapa bahasa, antara lain: Sanskrit: Svarga; Jw: Swarga; Arab: Jannah, Hokkian: Thian/天. Surga juga punyai nama lain, yakni Kahyangan. Istilah Kahyangan berasal dari bahasa Jawa Kuno dan Sunda yang jika dipilah menjadi ka-hyang-an, "tempat tinggal para Hyang/leluhur".

Dalam kacamata Islam, surga tertinggi tingkatannya adalah Firdaus (فردوس) - Pardis (پردیس), dimana para nabi dan rasul, martir dan orang saleh tinggal. Dalam kacamata iman kita, surga jelas adalah kehidupan kekal, di mana Allah berada dan meraja.

Lewat hal inilah, Yesus tampak hadir sebagai Tuhan yang benar-benar insani. Ia ajarkan hal ilahi dengan cara yang manusiawi.

Artinya:
Tuhan dan kerajaanNya itu dekat dengan kita, tidak usah menunggu kiamat tapi bisa tercipta setiap hari secara manusiawi dengan cara-cara yang manusiawi juga, seperti: mudah bersyukur dan berterimakasih, suka berbagi dan memuji, sabar dan bersikap jujur dll.

KerajaanNya bekerja secara tersembunyi
dan menyebabkan perubahan yang baik dari dalam, bukan sebaliknya. Ia mengubah kita yang menerima kehidupan baru yang ditawarkan Yesus Kristus kepada kita. Yang berdosa pun diubah dan diperbaharui terus-menerus seturut karya Roh Kudus: Yang berdosa pun diubah dan diperbaharui terus-menerus seturut karya Roh Kudus.

Lebih lanjut, Yesus menjelaskan perihal Kerajaan Surga (Sanskrit: Svarga, Jw: Swarga, Hokkian: Thian, 天) sebanyak tujuh kali perumpamaan dalam sebuah bab di Injil Matius (Bdk. Mat 13).

BagiNya, surga itu datang dengan sederhana dan lewat hal-hal sederhana, seperti seorang penabur benih, gandum di tengah ilalang, biji sesawi, ragi, harta terpendam, mutiara dan hari ini ditegaskan surga seperti jala/pukat berisi ikan yang baik.

Hari inilah, kita diutus untuk berjuang menciptakan surga secara nyata, dengan: menjadi “benih” yang berakar bertumbuh dan berbuah, menjadi “gandum” yang hidup di tengah lalang, menjadi “sesawi” yang menyejukkan karena SEderhana-SAbar dan manusiaWI, menjadi “ragi” yang mengembangkan kebaikan karena RAjin berbaGI, memiliki “harta terpendam” yang penuh HARapan dan sukaciTA, memiliki “mutiara yang berharga” karena setia “MUliakan Tuhan-TIngkatkan iman+ARAhkan ke tujuan, serta berjuang menjadi “ikan yang baik” di dalam pukat/jalanya Tuhan.

Bukankah tak ada hal yang lebih membahagiakan selain, bertemu dengan Allah, lalu sesudah itu memantulkan cahaya wajahNya kepada orang lain?

Mat 17:20:
“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah dan takkan ada yang mustahil bagimu.”
Ite missa est . Pergilah kamu diutus!

4.
"In Te Domine speravi - PadaMu Tuhan aku berharap."

Ya, bersama dengan HatiNya yang lemah lembut dan murah hati, Tuhanlah yang seharusnya menjadi pengharapan kita, sebagai yang empunya Kerajaan Surga. Seperti yang saya tulis dalam buku "XXX-Family Way" (Kanisius), ada banyak nama tentang surga al: Firdaus/2Kor 12:2 - Kerajaan Allah/Ef 5:5 - Rumah Bapa/Yo 14:2- Tanah Air surgawi/Ibr 1116,  dengan beberapa ciri: kekal dan abadi, diciptakan Allah, tidak terukur, tinggi, kudus dan tahta Allah. 

Adapun hari ini kita diajak juga untuk menciptakan surga, "SUaRa untuk Gemakan Allah" dengan belajar dari biji sesawi, antara lain:

A.SEderhana:
Seperti sesawi yang tampaknya biasa, surga juga datang lewat hal-hal biasa dan orang-orang yang sederhana. Itu berarti bahwa Kerajaan Allah mulai dari hal-hal yang kecil yang tumbuh dalam hari setiap orang yang menerima sabda Allah.

Kerajaan Allah bekerja secara tersembunyi dan menyebabkan perubahan yang baik dari dalam, bukan sebaliknya. Ia mengubah kita yang menerima kehidupan baru yang ditawarkan Yesus Kristus kepada kita. Yang berdosa pun diubah dan diperbaharui terus-menerus seturut karya Roh Kudus.

Bukankah biji sesawi mulanya adalah sangat sederhana, kecil dan tidak menarik? Bukankah Tuhan juga suka berkarya mencipta surga di bumi juga lewat banyak hal sederhana dan biasa? Ssst...Sudah sederhanakah kita dalam kata, tindakan dan gaya hidup sehari-hari?

B.SAbar:
Sesawi itu asalnya hanyalah kecil saja tapi perlahan ia akan tumbuh menjadi pohon yang sangat besar, dan itu pasti memerlukan kesabaran yang luar biasa, menghadapi aneka tantangan "angin dan hujan kehidupan."

Yang pasti, bukankah sabar itu mengajak kita untuk bisa mencecap surga karena jelas Allah kita juga adalah Allah yang Maha Sabar, yang tidak mudah menghakimi tapi selalu belajar memahami.

Indahnya, kerajaan Allah bekerja perlahan secara tersembunyi dan menyebabkan perubahan yang baik dari dalam, bukan sebaliknya. Ia mengubah kita yang menerima kehidupan baru: Yang berdosa pun diubah dan diperbaharui terus-menerus seturut karya Roh Kudus.

Biji sesawi itu walau sangat kecil dan bahkan tidak banyak diperhitungkan, tapi ia terus "on becoming": bersabar dan tumbuh perlahan. Ia mengajak kita juga untuk sabar menciptakan surga dalam keseharian hidup kita. Sikap sabar ini harus terus-menerus "dipelihara, dipupuk dan disirami" juga dengan doa dan matiraga, devosi dan penghayatan ekaristi juga. Sst..Tetap sabarkah kita ketika ada banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan?

C.manusiaWI:
Yesus selalu hadir sebagai Tuhan yang benar-benar insani. Ia ajarkan hal ilahi dengan cara yang manusiawi. Artinya: Tuhan dan kerajaanNya itu dekat dg kita, tidak usah menunggu kiamat tapi bisa tercipta setiap hari secara manusiawi dengan cara-cara yang manusiawi juga, seperti: mudah bersyukur dan berterimakasih, suka berbagi dan memuji, sabar dan bersikap jujur dll.

Biji sesawi itu terus tumbuh secara alami. Ia bukan produk karbitan/abal-abal. Ia otentik: terus bertumbuh secara alami lewat alam. Ia hadir sangat manusiawi: Ia tidak hanya berguna untuk kepentingan diri tapi juga untuk orang lain: buahnya bisa dipetik dan dimakan orang, dahan-dahannya juga bisa menjadi tempat bernaung bagi banyak burung. Ssst...sudah manusiawikah hidup iman kita setiap harinya? Adakah gunanya iman kita bagi hidup dan karya orang lain secara nyata?

"Cari celana kembar di Gunung Kawi – Mari kita hidup sederhana, sabar dan lebih manusiawi".

5.
"What the kingdom of God is like"

Scripture: Mark 4:26-34
And he said, "The kingdom of God is as if a man should scatter seed upon the ground, and should sleep and rise night and day, and the seed should sprout and grow, he knows not how. The earth produces of itself, first the blade, then the ear, then the full grain in the ear. But when the grain is ripe, at once he puts in the sickle, because the harvest has come." And he said, "With what can we compare the kingdom of God, or what parable shall we use for it? It is like a grain of mustard seed, which, when sown upon the ground, is the smallest of all the seeds on earth; yet when it is sown it grows up and becomes the greatest of all shrubs, and puts forth large branches, so that the birds of the air can make nests in its shade." With many such parables he spoke the word to them, as they were able to hear it; he did not speak to them without a parable, but privately to his own disciples he explained everything.

Meditation
What can mustard seeds teach us about the kingdom of God? The tiny mustard seed literally grew to be a tree which attracted numerous birds because they loved the little black mustard seed it produced. God's kingdom works in a similar fashion. It starts from the smallest beginnings in the hearts of men and women who are receptive to God's word. And it works unseen and causes a transformation from within. Just as a seed has no power to change itself until it is planted in the ground, so we cannot change our lives to be like God until God gives us the power of his Holy Spirit.

The Lord of the Universe is ever ready to transform us by the power of his Spirit. Are you ready to let God change you by his life-giving Word and Spirit? The kingdom of God produces a transformation in those who receive the new life which Jesus Christ offers. When we yield to the Lord Jesus and allow his word to take root in us, our lives are transformed by the power of the Holy Spirit who dwells within us.

Paul the Apostle says, "we have this treasure in earthen vessels, to show that the transcendent power belongs to God and not to us" (2 Corinthians 4:7). Do you believe in the transforming power of the Holy Spirit?

Peter Chrysologous (400-450 AD), an early church father, explained how the "tree of the cross" spread its branches throughout the world and grew into a worldwide community of faith offering its fruit to the whole world:

It is up to us to sow this mustard seed in our minds and let it grow within us into a great tree of understanding reaching up to heaven and elevating all our faculties; then it will spread out branches of knowledge, the pungent savor of its fruit will make our mouths burn, its fiery kernel will kindle a blaze within us inflaming our hearts, and the taste of it will dispel our unenlightened repugnance.

Yes, it is true: a mustard seed is indeed an image of the kingdom of God. Christ is the kingdom of heaven. Sown like a mustard seed in the garden of the virgin’s womb, he grew up into the tree of the cross whose branches stretch across the world. Crushed in the mortar of the passion, its fruit has produced seasoning enough for the flavoring and preservation of every living creature with which it comes in contact.

As long as a mustard seed remains intact, its properties lie dormant; but when it is crushed they are exceedingly evident. So it was with Christ; he chose to have his body crushed, because he would not have his power concealed….

Christ became all things in order to restore all of us in himself. The man Christ received the mustard seed which represents the kingdom of God; as man he received it, though as God he had always possessed it. He sowed it in his garden, that is in his bride, the Church. The Church is a garden extending over the whole world, tilled by the plough of the gospel, fenced in by stakes of doctrine and discipline, cleared of every harmful weed by the labor of the apostles, fragrant and lovely with perennial flowers: virgins’ lilies and martyrs’ roses set amid the pleasant verdure of all who bear witness to Christ and the tender plants of all who have faith in him. Such then is the mustard seed which Christ sowed in his garden. When he promised a kingdom to the patriarchs, the seed took root in them; with the prophets it sprang up; with the apostles it grew tall; in the Church it became a great tree putting forth innumerable branches laden with gifts.

And now you too must take the wings of the psalmist’s dove, gleaming gold in the rays of divine sunlight, and fly to rest for ever among those sturdy, fruitful branches. No snares are set to trap you there; fly off, then, with confidence and dwell securely in its shelter. (Sermon 98)

Do you allow the seed of God's word to take deep root in your life and transform you into a fruit-bearing disciple of Jesus Christ?

"Lord Jesus, fill me with your Holy Spirit and transform me into the Christ-like holiness you desire. Increase my zeal for your kingdom and instill in me a holy desire to live for your greater glory."

Psalm 51:1-5,8-9
Have mercy on me, O God, according to your
steadfast love; according to your abundant
mercy blot out my transgressions.
Wash me thoroughly from my iniquity, and
cleanse me from my sin!
For I know my transgressions, and my sin is ever
before me.
Against you, you only, have I sinned, and done
that which is evil in your sight, so that you are
justified in your sentence and blameless in
your judgment.
Behold, I was brought forth in iniquity, and in sin
did my mother conceive me.
Fill me with joy and gladness; let the bones
which you have broken rejoice.
Hide your face from my sins, and blot out all my
iniquities.

Daily Quote from the Early Church Fathers
"The sum of all is God, the Lord of all, who from love of his creatures has delivered his Son to death on the cross. For God so loved the world that he gave his only begotten Son for it. Not that he was unable to save us in another way, but in this way it was possible to show us his abundant love abundantly, namely, by bringing us near to him by the death of his Son. If he had anything more dear to him, he would have given it to us, in order that by it our race might be his. And out of his great love he did not even choose to urge our freedom by compulsion, though he was able to do so. But his aim was that we should come near to him by the love of our mind. And our Lord obeyed his Father out of love for us." (Isaac of Nineveh, 613-700 A.D., excerpt from Ascetical Homily 74.28)

6.
ULASAN EKSEGETIS
BACAAN INJIL
(Mrk 4:26-34)

Rekan-rekan yang budiman,
Dalam Mrk 4:26-34  didapati dua buah perumpamaan mengenai Kerajaan Allah (ayat 26-29 dan 30-32) diikuti sebuah catatan bahwa Yesus memakai perumpamaan bagi orang banyak tapi bagi para murid diberikannya penjelasan tersendiri (ayat 33-34). Perumpamaan yang pertama hanya didapati dalam Injil Markus, sedangkan yang kedua diceritakan juga dalam Mat 13:31-32 dan Luk 13:18-19. Guna memahami warta petikan ini baiklah ditengok sejenah gagasan apa itu Kerajaan Allah.

A.
Kerajaan Allah.

Ungkapan “Kerajaan Allah” kerap dijumpai dalam Injil Markus dan Lukas. Injil Matius mengungkapkannya dengan “Kerajaan Surga”. Makna ungkapan ini bukanlah wilayah atau pemerintahan seperti dalam “kerajaan Majapahit” melainkan kebesaran, kemuliaan, kekuasaan Tuhan yang diberitakan kedatangannya kepada umat manusia. Maklum pada zaman itu orang Yahudi mengalami pelbagai kekuasaan yang amat berbeda dengan masa lampau mereka sendiri sebagai umat-Nya Tuhan. Pada zaman Yesus mereka tidak lagi bisa menganggap diri umat merdeka seperti leluhur mereka karena mereka ada di bawah kuasa Romawi. Di kalangan umat ada harapan satu ketika nanti mereka akan kembali menjadi umat Tuhan seperti dahulu. Tak jarang harapan ini berujung pada keinginan untuk merdeka dari kekuasaan Romawi dan menjadi negeri dengan pemerintahan dan kekuasaan sendiri. Namun cukup jelas harapan seperti ini tidak bakal terwujud. Ada bentuk rohani dari harapan akan kembali menjadi umat-Nya Tuhan. Yesus termasuk kalangan yang mengajarkan bentuk rohani harapan ini. Begitu pula para rahib yang juga dikenal pada zaman itu. Namun kebanyakan dari mereka menghayati harapan itu dengan menjauh dari kehidupan ramai dan pergi bertapa di padang gurun dan sekitar Laut Mati. Kelompok Yesus berbeda. Mereka tetap berada dalam masyarakat namun berusaha menumbuhkan iman akan kebesaran Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka yakin bahwa kebesaran-Nya tetap ada, juga di dunia ini, namun sering sukar dialami. Bagaimanapun juga bagi kelompok ini berusaha menemukan apa itu kehadiran-Nya yang mulia di dalam kehidupan mereka. Kehadiran-Nya diimani oleh kelompok ini sebagai yang dekat, yang melindungi dan memberi kekuatan dari hari ke hari, yang tidak menghitung-hitung kedosaan melainkan bersikap pengampun. Semua ini juga didapati dalam doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus.

Inilah warta yang digambarkan dengan pelbagai perumpamaan dalam Injil-Injil. Juga dalam petikan yang dibacakan kali ini. Menurut Injil Markus, Yesus mulai tampil di Galiea dengan warta bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan orang-orang diajak untuk bertobat, yakni meninggalkan anggapan yang bukan-bukan seperti di atas dan memegang warta yang sejati dengan mempercayainya sebagai warta gembira (Mrk 1:15, lihat juga Mat 4:17).

B.
Dua Perumpamaan.

Dengan latar penjelasan mengenai Kerajaan Allah di atas, kini dapat ditengok perumpamaan pertama. Di situ pertumbuhan Kerajaan Allah digambarkan sebagai biji yang ditaburkan dan dibiarkan bertunas, tumbuh hingga berbuah dan dituai pada musimnya. Bagaimana menangkap maksudnya?

Sebaiknya perumpamaan ini jangan difahami sebagai penjelasan bahwa Kerajaan Allah itu butuh waktu untuk tumbuh hingga berbuah. Pendapat seperti itu memang tidak keliru – semua pertumbuhan memerlukan waktu dan keuletan dst. Tetapi perumpamaan ini justru tidak memusatkan perhatian ke sana. Yang ditonjolkan dalam perumpamaan ini ialah kuasa ilahi yang tidak bergantung pada upaya manusia. Dengan demikian diajarkan agar orang membiarkan kehadiran ilahi ini bergerak menurut iramanya sendiri.

Apakah tafsiran ini berlawanan dengan pengertian bahwa manusia perlu menerima dan menanggapi anugerah ilahi agar pemberian itu betul-betul menjadi nyata? Guna mendalami pertanyaan ini baiklah diingat sebuah perumpamaan lain mengenai penabur dalam Mrk 4:1-20 yang menebar benih di lahan berbeda-beda: pingir jalan, tanah berbatu-batu, semak berduri, dan tanah yang baik. Hanya di tanah yang baik sajalah benih akan tumbuh terus dan berbuah berlipat ganda. Begitu digambarkan pula bahwa benih membutuhkan lahan yang cocok. Namun pengajaran dalam perumpamaan itu bukannya untuk menilai dan menghakimi mana lahan yang tak baik, melainkan untuk mengajak agar orang mengusahakan agar benih mendapat lahan yang baik. Bila mendapati benih jatuh di pingir jalan, bawalah ke tanah yang baik, begitu pula bila mendapati benih di tanah yang berbatu-batu dan semak duri, pindahkan ke tanah yang baik! Perumpamaan diberikan untuk menghimbau, bukan untuk mengadili.

Bila demikian maka perumpamaan dalam Mrk 4:26-29 yang dibicarakan kali ini dapat dimengerti sebagai ajakan untuk membiarkan benih tumbuh terus dengan daya yang ada di dalamnya. Sudah diandaikan bahwa lahannya ialah lahan yang cocok. Hanya butuh dibiarkan dan dijaga agar tetap baik. Membiarkan daya ini bergerak sendiri ialah kerohanian yang dapat memberi kepuasan batin. Orang boleh merasa aman karena sadar dirinya tanah yang baik dan telah menerima benih. Nanti bila waktunya tiba maka akan ada tuaian yang besar. Begitulah perumpamaan ini.

Perumpamaan kedua, Mrk 4:30-32, mengenai biji sesawi, yang disebut biji terkecil dari segala jenis biji, tapi bila ditabur – tentunya di tanah yang cocok – dan bertumbuh akan menjadi besar sehingga burung-burung di udara dapat membuat sarang di dahan-dahannya dan bernaung di situ. Yang hendak disampaikan di sini kiranya ialah besarnya Kerajaan Allah sendiri yang tak terduga-duga sebelumnya. Dari yang paling kecil tumbuhlah yang sedemikian besar. Pendengar dan juga pembaca akan bertanya-tanya biji apakah biji sesawi itu? Orang tergugah rasa ingin tahu. Boleh dikatakan, zaman itu juga orang tidak tahu persis apa biji sesawi yang dibicarakan Yesus. Bahkan Yesus sendiri pun bisa jadi tak pernah melihat apa tu biji sesawi. (Bandingkan dengan orang Jawa yang bisa bicara mengenai Pandawa lima tanpa pernah bertemu dengan salah seorang pun dari mereka, karena memang mereka tak pernah ada!) Ungkapan itu dipakai sebagai perumpamaan dan tidak perlu dicari-cari apa padanannya dalam dunia pengetahuan tumbuh-tumbuhan! Beberapa waktu yang lalu dalam ilmu tafsir memang sering “pengetahuan” seperti ini dicari-cari dan dijadikan ukuran bagi penafsiran, tapi sekarang para ahli tafsir lebih berusaha menyadari makna sastra perumpamaan.

Bila hal di atas diterima, maka boleh dibayangkan bahwa Yesus justru memakai kata “biji sesawi” yang bakal mengherankan banyak orang guna menyampaikan warta khas mengenai Kerajaan Allah. Keheranan, ketakjelasan mengenai apa itu biji yang dimaksud justru menjadi bagian dari wartanya. Kerajaan Allah tetap misteri, namun pertumbuhannya nyata dan lingkupnya amat besar tak terduga-duga. Orang dihimbau untuk menjadi seperti burung di udara, membangun sarang dan bernaung padanya.

Dalam penjelasan di atas, kedua perumpamaan mengenai Kerajaan Allah dipahami sebagai ajakan untuk membiarkannya tumbuh dengan daya ilahi yang ada di dalamnya dan menghormati bahkan mengherani kebesaran yang kerap tidak segera tampak. Dengan demikian perumpamaan ini dapat menjadi pengajaran yang menumbuhkan rasa percaya akan daya ilahi sendiri.

C.
Pengajaran Khusus – Bagi Siapa?

Dalam ay. 33-34 disebutkan bahwa Yesus tidak berbicara kepada orang banyak tanpa memakai perumpamaan, tetapi penjelasannya ia berikan kepada para murid. Kepada orang banyak Yesus menyampaikan imbauan, seperti dalam uraian di atas. Kepada para murid, yakni kelompok yang lebih dekat padanya, diberikannya uraian secara tersendiri. Dalam kaitan dengan dua perumpamaan tadi Injil Markus tidak memberi penjelasan lebih jauh tentang uraian Yesus itu. Pembaca boleh menduga-duga. Tetapi tak akan sampai pada pengertian baru. Perlu diingat bahwa catatan Markus itu mengenai para murid, bukan mengenai kita pada zaman ini. Kelirulah bila kita ingin menyamakan diri sebagai para murid yang dikatakan telah menerima uraian tersendiri. Ini semacam sikap sok rohani yang mau menonjolkan diri telah dapat pengajaran khusus. Bisa-bisa malah menghimpit iman. Lebih baik menganggap diri sama seperti “orang banyak”, pendengar umum, yang disebut dalam Injil, yang mendengarkan perumpamaan dan menikmatinya. Sikap ini lebih memberi kemerdekaan batin, lebih memungkinkan orang memasuki dunia perumpamaan dan memetik hikmatnya. Bila langsung ingin menyamakan diri dengan para murid waktu itu, paling banter orang hanya akan sampai pada pernyataan-pernyatan moralistis basi tanpa mengolah makna perumpamaannya. (AG).

7.
KUTIPAN TEKS MISA.

Jumat, 01 Februari 2019
Hari Biasa Pekan III

Dengan penciptaan, Sabda menyatakan Allah itu Pencipta --- St Ireneus.
   
Antifon Pembuka (Mzm 37:3)
Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia.

Doa Pembuka
Allah Bapa sumber iman kepercayaan, kami mohon iman akan Sabda-Mu, dan resapkanlah ke dalam lubuk hati kami janji-Mu akan memberi kehidupan, agar kami menjadi orang yang berkenan di hati-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
 
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (10:32-39)   
"Kalian telah menderita banyak, sebab itu janganlah melepaskan kepercayaanmu."
   
Saudara-saudara, ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita karena kamu harus bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman, dan ketika hartamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih langgeng sifatnya. Sebab itu janganlah melepaskan kepercayaanmu, karena besarlah upah yang menantinya. Kamu sungguh memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Sebab dalam Alkitab tertulis: "Sedikit, atau bahkan sangat sedikit waktu lagi, Dia yang ditetapkan untuk datang itu akan tiba tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, Aku tidak berkenan lagi kepadanya." Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan akan binasa! Sebaliknya: Kita ini orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan.
Ayat (Mzm 37:3-4.5-6.23-24.39-40)
1. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia; bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memenuhi keinginan hatimu!
2. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah pada-Nya, maka Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan menampilkan hakmu seperti siang.
3. Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Kalaupun ia jatuh, tidaklah sampai binasa, sebab Tuhan menopang tangannya.
4. Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik. Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana. 

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (4:26-34)
"Kerajaan Surga seumpama orang yang menabur benih. Benih itu tumbuh, namun orang itu tidak tahu."

Pada suatu ketika Yesus berkata, "Beginilah halnya Kerajaan Allah: Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah. Malam hari ia tidur, siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas, dan tunas itu makin tinggi! Bagaimana terjadinya, orang itu tidak tahu! Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkai, lalu bulir, kemudian butir-butir yang penuh isi pada bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba". Yesus berkata lagi, "Dengan apa hendak kita bandingkan Kerajaan Allah itu? Atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain, dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam rimbunannya". Dalam banyak perumpamaan semacam itu Yesus memberitakan sabda kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka. Tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
Ketika mendengar kabar bahwa seribu hari meninggalnya bapak atau ibu itu akan diadakan minggu depan misalnya, kita biasa berkomentar: “Lho kok sudah seribu hari, ya, bapak/ibu itu meninggalkan kita.…” Sebuah reaksi yang umum dan wajar, ”tidak terasa”. Walaupun sebenarnya harus dikatakan bahwa bagi keluarga yang ditinggalkan, meninggalnya bapak atau ibu itu tetaplah sebuah peristiwa yang menyedot emosi dengan proses perjuangan untuk menerima yang tidak mudah pula.

Proses yang sebenarnya penuh perjuangan tetapi tidak terasa bagi banyak orang adalah salah satu ciri kehadiran Kerajaan Allah. Dalam perumpamaan dari Yesus tentang benih yang ditabur pada hari ini, jelas sekali makna pewartaan Yesus bahwa Kerajaan Allah itu karya Allah yang tidak selalu dirasakan atau diketahui oleh manusia, dan bahwa Kerajaan Allah itu sering mulai dari hal-hal yang kecil dan sepele. Banyak proses dalam hidup ini yang disertai oleh Allah sendiri tetapi nyatanya tidak diketahui dan tidak dilihat oleh manusia. Dalam contoh di atas, perjuangan untuk menerima saudaranya yang dipanggil Tuhan tetaplah proses yang tidak mudah untuk sebagian orang. Tetapi bagi tetangga, semuanya seperti berjalan begitu saja, dan tahu-tahu seluruh proses penerimaan itu telah selesai. Begitu pula hal lain, seperti proses pendidikan anak-anak kita, proses “pengmsanan kita” di suatu tempat tinggal baru, proses untuk memasuki lingkungan kerja yang baru… benar-benar butuh perjuangan awal yang tidak mudah, tetapi tahu-tahu lha kok sudah sekian tahun itu berjalan dengan baik. Bagaimana bisa? Jawabannya satu: karena Tuhan menyertai proses itu, Tuhan mengurus dan bekerja bukan hanya dari tahun ke tahun, tetapi dari detik ke detik, menit ke menit setiap harinya.

Marilah kita menghargai proses perjuangan hidup ini, yang secara manusiawi sering tidak mudah, tetapi nyatanya dapat berjalan dengan baik setelah sekian waktu lamanya, dan tahu-tahu buah akhirnya indah dan memesona. Itu hanya ada satu kemungkinan jawaban: Tuhan yang mengurus dan menyertai proses tersebut, sebagaimana benih yang ditabur dan pada waktunya menghasilkan buah dan siap dipanen!
 
Doa Malam
Allah Bapa sumber kebahagiaan, kami bersyukur bahwasanya Engkau telah memulai membuka kedamaian di tengah-tengah kami melalui Yesus, Sabda-Mu yang terpercaya. Kami mohon, semoga kami selalu setia dalam kata dan karya mengingat kebahagiaan umat manusia. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. Amin.

Kamis, 31 Januari 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.       
       
Kamis, 31 Januari 2019
Peringatan Wajib St. Yohanes Bosco, Imam
Ibrani (10:19-25) 
(Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6)
Markus (4:21-25) 

"Veritas - Kebenaran."

Inilah tema pokok yg sy wartakan dlm kotbah Natal Oikumene yg diadakan oleh “YOS – Yayasan Oikumene Surakarta” di kota Solo, "Spirit Of Loving Others".

Bersamaan dg upaya utk menebar mutiara kebenaran, Yesuspun jelas hadir sebagai KEBENARAN.
Yesus menyatakan sebuah prinsip yg berlaku dlm KerajaanNya:
org percaya harus terus-menerus mencari dan menebar mutiara kebenaran krn jikalau tdk demikian maka apa yg ada pada mrk itu akan hilang:
Krn siapa yg mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yg tdk mempunyai, apa pun jg yg ada padanya akan diambil.”

Disinilah, kt diajak belajar utk menjadi "veritas-veritas kecil" dg hidup menurut pola Kristus sebagai sang VERITAS yg mempunyai 3 karakter :

1.Memberkati:
Iman harus kt nyatakan dan tidak tersembunyi bagi yg lain.
Inilah yg dikehendaki oleh Yesus agar pelita itu ttp bernyala dan menyinari semua org.

Dg memberi cahaya/pelita bagi org lain lewat harta-talenta/sukacita, tentu kt telah hidup menurut pola Kristus yg sll hadir utk memberkati.

2.Rendah hati:
Kt diajak utk sll mau belajar mendengarNya.
Ini tentunya memerlukan semangat rendah hati utk tdk terfokus melulu pd diri sendiri tp mau belajar dari sesama-semesta dan dari kehadiran Yang Ilahi.

3.Hati hati:
Yesus mengajak kita utk berhati-hati dlm berucap dan bersikap, krn ”ukuran yg kamu pakai utk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu."

Dkl: Kt diajak hidup dlm refleksi/instrospeksi dan tidak mudah larut dlm rutinitas harian yg kerap membuat kt ter-alienasi (terasing) dan sok gengsi/suka eksebisi.

"Dari Tangerang ke Pondok Palma-
Jadilah terang bagi sesama."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)       
         
NB: 
A.
PAUS FRANSISKUS :
"ORANG KRISTIANI MEMILIKI HATI YANG BESAR UNTUK MENYAMBUT SEMUA ORANG."

Bacaan Ekaristi :
Mrk 4:21-25

Orang Kristiani bermurah hati karena kita dilahirkan dari Bapa yang penuh kasih dan tangan kita harus terbuka lebar untuk menyambut semua orang dengan kemurahan hati - itulah apa yang dikatakan Paus Fransiskus di Casa Santa Marta, Vatikan.

"Misteri Allah adalah terang" - kata Paus Fransiskus - yang mengulas Bacaan Injil hari itu (Mrk 4:21-25) yang di dalamnya Yesus mengatakan bahwa pelita bukan supaya "ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian untuk menerangi".

"Dan ini adalah salah satu ciri dari seorang Kristiani yang telah menerima terang dalam Pembaptisan dan harus memberikannya. Artinya, orang Kristiani adalah seorang saksi dari Kesaksian. Salah satu kekhasan perilaku Kristen. Orang Kristiani yang membawa terang, harus menunjukkannya karena ia adalah seorang saksi. Ketika seorang Kristiani akan lebih memilih untuk tidak menunjukkan terang Allah tetapi lebih suka kegelapannya sendiri, hal ini memasuki hatinya karena ia takut akan terang. Dan berhala-berhala, yang gelap, ia sukai terbaik. Jadi ia tidak memiliki : ia kehilangan sesuatu dan bukan seorang Kristiani sejati : Saksi : seorang Kristiani adalah seorang saksi akan Yesus Kristus, Sang Terang Allah. Ia harus meletakkan terang itu di kaki dian kehidupannya".

Dalam Injil, Yesus berkata: "Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu". "Sifat lain dari orang Kristiani", kata Paus Fransiskus, "adalah kemurahan hati, karena ia adalah anak dari seorang bapa yang murah hati, anak dari hati yang besar".

"Orang Kristiani bermurah hati. Hatinya terbuka, selalu. Ia bukan hati yang tertutup pada keegoisannya sendiri. Atau hati yang menghitung : hingga titik ini, sampai di sini. Bila kalian memasuki terang Yesus ini, ketika kalian masuk ke dalam persahabatan Yesus, ketika kalian membiarkan diri kalian dibimbing oleh Roh Kudus, hati menjadi terbuka, murah hati ... Orang Kristiani, maka, tidak mendapatkan, tetapi kehilangan. Tetapi ia kehilangan untuk mendapatkan sesuatu yang lain, dan dalam (di antara tanda kutip) 'menaklukkan' kepentingan ini, ia mendapatkan Yesus, ia mendapatkan dengan menjadi saksi Yesus".

Paus Fransiskus kemudian memberi amanat kepada mereka yang hadir yang merayakan 50 tahun pelayanan dalam imamat : "Bagi saya merupakan sebuah sukacita merayakan bersama kalian hari ini, ketika kalian memperingati 50 tahun imamat kalian : 50 tahun di jalan terang dan memberikan kesaksian, 50 tahun berusaha untuk menjadi lebih baik, berusaha untuk membawa terang ke kaki dian. Kadang-kadang kita jatuh, tetapi kita bangun lagi, selalu dengan keinginan untuk memberikan terang, dengan berlimpah, yaitu, dengan bermurah hati. Hanya Allah dan ingatan kalian sendiri yang tahu berapa banyak orang yang telah menerima dengan berlimpah kebaikan ayah, kebaikan saudara-saudara ... berapa banyak orang yang hatinya sedikit 'gelap' telah memiliki terang, terang Yesus. Terima kasih. Terima kasih untuk apa yang telah kalian lakukan dalam Gereja, bagi Gereja dan bagi Yesus".

"Semoga Tuhan memberi kalian sukacita, sukacita besar ini", kata Paus Fransiskus. "karena telah menabur dengan baik, karena telah menunjukkan terang dengan baik dan setelah membuka tangan mereka untuk menerima semuanya dengan keluhuran budi".

B.
"Filosofi Kesederhanaan."
(Via, Veritas, Vita - RJK)

1.
Saran praktis untuk memiliki kesederhanaan secara lahiriah.(Outer Simplicity) :

- Belilah barang-barang yang tujuannya untuk digunakan, bukan untuk prestise.

- Tolaklah segala hal yang mendatangkan kecanduan/keterikatan.

- Bangunlah kebiasaan memberi barang-barang yang tidak kita butuhkan kepada orang lain.
Kadang kita sering tak sadar mengumpulkan barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan.

- Belajarlah untuk memiliki sesedikit mungkin barang-barang yang tidak perlu bagi perjalanan hidup iman dan kemasyarakatan.

- Jangan mudah percaya apa yang diiklankan. Iklan menciptakan kebutuhan dalam diri kita atas barang atau hal-hal yang sesungguhnya tidak kita butuhkan.

- Belajarlah menikmati barang tanpa harus memilikinya.
Membaca di perpustakaan contohnya.

- Hindari membeli dengan berhutang. Kartu kredit adalah salah satunya.

- Berhati-hati juga bahwa membeli barang yang murah tidak selalu berarti kesederhanaan.

2.
Saran praktis untuk memiliki kesederhanaan secara batiniah.(Inner Simplicity):

- Belajarlah akan kearifan, mencukupkan diri dengan apa yang ada.

- Sadarilah bahwa, kita sesungguhnya hanya butuh "sedikit".

- Belajarlah mendengar secara kritis suara-suara batiniah dan membedakannya dengan suara-suara luar.

- Belajarlah untuk mengetahui mana suara Allah dan mana yang bukan.

- Milikilah rasa aman dan harga diri di dalam Kristus, bukan pada berbagai gelar, posisi, atau harta benda kita.

C.
Kutipan Teks Misa.

“Sebagai orangtua, tidak boleh ada letusan-letusan marah terhadap anak-anak dan pandangan yang menghina, kata-kata yang menekan.” (St. Yohanes Bosko) 
 
Antifon Pembuka (Mat 5:19)
Siapa yang mengajarkan dan melakukan sabda Tuhan, dialah yang akan disebut besar dalam Kerajaan Surga.

Doa Pembuka
Ya Allah, Engkau telah mengobarkan hati Santo Yohanes Bosko, Imam-Mu, untuk menjadi bapa dan guru bagi kaum muda. Kami mohon, perkenankanlah agar dengan nyala api yang sama, kami pun mampu memperhatikan kaum muda, mencari jiwa-jiwa, dan mengabdi hanya kepada-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
 
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (10:19-25) 
"Marilah kita berpegang teguh pada harapan! Marilah kita saling memperhatikan dan saling mendorong dalam cinta kasih."
   
Saudara-saudara, berkat darah Yesus, kita sekarang dapat masuk ke dalam tempat kudus dengan penuh keberanian, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang memberi hidup bagi kita, yakni melalu tabir, yang tidak lain adalah diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Agung sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat, dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan akan harapan kita, sebab Dia, yang menjanjikannya, adalah setia! Di samping itu marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadat umat, seperti dibiasakan oleh beberapa orang! Sebaliknya marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 3/4, PS 803
Ref. Bukalah pintu hatimu, sambutlah Raja Sang Kristus.
Atau Itulah angkatan orang-orang yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6)
1. Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagat dan semua yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkan bumi di atas lautan, dan menegakkannya di atas sungai-sungai.
2. Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan diri kepada penipuan.
3. Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah, penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku, dan cahaya bagi jalanku.
   
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (4:21-25) 
"Pelita dipasang untuk ditaruh di atas kaki dian. Ukuran yang kamu pakai akan dikenakan pula padamu."
   
Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Orang memasang pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada suatu rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Lalu Yesus berkata lagi, “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan dikenakan pula padamu; dan malah akan ditambah lagi! Karena siapa yang mempunyai, akan diberi lagi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil.”

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan 
Pada tahun 1990 an, di kampung-kampung tempat saya bertugas, listrik belum ada. Pada malam hari, beberapa orang menyalakan petromax, kalau ada minyak tanah. Masyarakat yang lain memasang pelita. Umumnya pelita itu dibuat dari bekas kaleng susu atau bekas kaleng sarden yang digepengkan di salah satu sudutnya dan diberi sumbu. Kami berkumpul dan duduk di tikar dengan penerangan petromaks atau pelita yang dibawa oleh Markus. Kami bisa melihat rekan-rekan, siapa yang bicara dan menulis sesuatu karena ada terang / cahaya. Rekan yang terlambat datang pun bisa mendapatkan tempat duduk yang masih kosong, tanpa harus menabrak atau menginjak kaki orang lain. Terang yang dibawa masuk oleh Markus, memungkinkan orang untuk melanjutkan pertemuan, mengenal siapa yang datang, dan mereka dapat tempat duduk tanpa mengorbankan orang lain. Terang telah memungkinkan orang untuk memikirkan dan merencakan yang baik dan hebat bagi diri sendiri, kelompok masyarakat, bahkan untuk seluruh bangsa manusia. Jadilah pelita dalam kegelapan biar orang lain melihat sesuatu yang baik untuk dikerjakan.

Doa Malam
Allah Bapa Maha Pengasih, semoga kami memahami Engkau dengan pengantaraan manusia penuh kasih, yang telah menanggung segala dosa kami, yaitu Yesus Putra-Mu. Maka, perkenankanlah kami bersyukur dengan sepenuh hati. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. Amin.

Rabu, 30 Januari 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.                                 
   
Rabu, 30 Januari 2019
Hari Biasa Pekan III
Ibrani (10:11-18) 
(Mzm 110:1-4)
Markus (4:1-20)

In omnibus quaraent Dei - Dalam segala menemukan Tuhan.”

Lewat perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajak kita untuk menemukan Tuhan secara kontekstual. Adapun perumpamaan tentang penabur adalah perumpamaan pertama dalam Injil tertua, Markus dengan tiga matra pokoknya, al:

1.Penabur:
Allah sang penabur, selalu setia dan bermurah hati menaburkan kasihNya kepada setiap orang. Ia selalu berinisiatif menawarkan rahmatNya.

2.Benih:
Sabda Tuhan yang penuh kasih dan kedamaian adalah seumpama benih ("semen"), yang pada awalnya cuma keci, biasa dan sederhana. Tapi ternyata, kalau tekun dirawat dan selalu diperHATIkan, benih kecil itu akan menjadi besar dan berbuah banyak.

3."Tanah":
Manusia memiliki “tanah”, yakni “hati” sebagai alas/dasar pusat kehendak pikiran dan tindakannya. Ada macam-macam konteks “tanah” pada baaan injil ini: di pinggir jalan (hati yang tertutup karena hiruk-pikuk dan riuh/ruwet renteng dunia); berbatu-batu (hati yang keras karena imannya dangkal/tdk mendalam dan dan tidak berdaya tahan); di tengah semak duri (hati yang penuh konflik krn terhimpit olejh aneka kepentingan dan kelekatan duniawi).

Tiga jenis “tanah” ini membuat iman kita terpisah dari hidup harian, sehingga kerap merasa tidak bermasalah dengan iman, asalkan masih sempat memaksa diri ke gereja pada hari Minggu kendati harus mengumpat mendengarkan kotbah yang tak menyentuh.

Disinilah, dimunculkan juga jenis tanah yang baik, sebuah gambaran hati yg subur: seperti yang saya tulis pada buku “3 Bulan 5Bintang 7 Matahari” (RJK, Kanisius), yang “berakar” pada pengalaman kasih Allah, yang “bertumbuh” dalam semangat persaudaraan, kerjasama dan dialog dengan semua orang dan yang “berbuah” dalam karya dan pelayanan kasih.

Yang pasti:
Bukankah tolak ukur kemajuan hidup menggereja tidak hanya dilihat dari menjamurnya aneka kegiatan kultis dan devosional liturgis, tp juga bagaimana Gereja bisa menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia secara nyata? ”Nosce te ipsum! Kenalilah dirimu sendiri!

“Naik dokar dari Payakumbuh sampai Pasar Buah - Mari berakar bertumbuh dan terus berbuah.”

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)                 
                             
NB:
1. "Via illuminativa - Jalan pencerahan."

Inilah salah satu hal yang diwartakan Yesus bahwa kitapun diajak untuk menjadi "illuminata et illuminatrix-cerah dan mencerahkan" dengan belajar pada Yesus, Sang Penabur Sejati yang memiliki beberapa pencerahan, antara lain:

A.Universal:
Ia mengajar kebaikan kepada semua orang. Ajaran dan kasihnya sungguh terbuka, universal, lintas batas dan tidak ter-gap atau tidak tersekat oleh pengkotak+kotakan antar golongan.

B.Sosial:
Ia menjadi orang yang iklas membagikan/menyebar-pencarkan rahmat dan tidak sibuk menumpuk/menyimpan rahmat untuk diri sendiri. Hidupnya ada untuk berbagi, apapun resiko yang dihadapi.

C.Integral:
Ia menjadi orang yang utuh, antara doa dan karya. Ia juga ajak kita menjadi orang yang integral dengan lebih mudah mendengarkan karena kerap kita lebih mudah "besar mulut" daripada "lebar telinga".

Nah, 3 pencerahan ilahi ini bisa kita dapatkan dengan mengingat salah satu penegasan dari St Thomas bahwasannya kita mutlak membutuhkan rahmat Tuhan, yakni rahmat yang memberi pencerahan pada akal budi dan hati kita. Oleh karena itu, yang utama yang harus kita lakukan untuk menjadi "sang pencerah" yang universal-sosial dan integral, adalah dengan selalu rendah hati untuk membuka diri dan mendengarkan sapaanNya lewat sesama dan semesta, lewat kitab suci dan sakramen2 suci gerejaNya.

" Makan bubur dan minum selasih di Wisma Bahari - Mari menabur cinta kasih setiap hari."

2. Wednesday, 23 January
"Jesus taught people using parables"

Scripture: Mark 4:1-20
Again he began to teach beside the sea. And a very large crowd gathered about him so that he got into a boat and sat in it on the sea; and the whole crowd was beside the sea on the land. And he taught them many things in parables, and in his teaching he said to them: "Listen! A sower went out to sow. And as he sowed, some seed fell along the path, and the birds came and devoured it. Other seed fell on rocky ground, where it had not much soil, and immediately it sprang up, since it had no depth of soil; and when the sun rose it was scorched, and since it had no root it withered away.

Other seed fell among thorns and the thorns grew up and choked it, and it yielded no grain. And other seeds fell into good soil and brought forth grain, growing up and increasing and yielding thirty fold and sixty fold and a hundredfold." And he said, "He who has ears to hear, let him hear."And when he was alone, those who were about him with the twelve asked him concerning the parables. And he said to them, "To you has been given the secret of the kingdom of God, but for those outside everything is in parables; so that they may indeed see but not perceive, and may indeed hear but not understand; lest they should turn again, and be forgiven."
And he said to them, "Do you not understand this parable? How then will you understand all the parables? The sower sows the word. And these are the ones along the path, where the word is sown; when they hear, Satan immediately comes and takes away the word which is sown in them. And these in like manner are the ones sown upon rocky ground, who, when they hear the word, immediately receive it with joy; and they have no root in themselves, but endure for a while; then, when tribulation or persecution arises on account of the word, immediately they fall away. And others are the ones sown among thorns; they are those who hear the word, but the cares of the world, and the delight in riches, and the desire for other things, enter in and choke the word, and it proves unfruitful. But those that were sown upon the good soil are the ones who hear the word and accept it and bear fruit, thirty fold and sixty fold and a hundredfold."

Meditation
Why did Jesus speak to people in parables? Like the rabbis of his time, Jesus used simple word-pictures, called parables, to help people understand who God is and what his kingdom or reign is like. Jesus used images and characters taken from everyday life to create a miniature play or drama to illustrate his message. This was Jesus' most common way of teaching. His stories appealed to the young and old, poor and rich, and to the learned and unlearned as well. Over a third of the Gospels by Matthew, Mark, and Luke contain parables told by Jesus.
Cyril of Alexandria (150-215 AD), an early church teacher, described the purpose of Jesus' parables:

Parables are word pictures not of visible things, but rather of things of the mind and the spirit. That which cannot be seen with the eyes of the body, a parable will reveal to the eyes of the mind, informing the subtlety of the intellect by means of things perceivable by the senses, and as it were tangible. (Commentary on the Gospel of Luke 8.5.4)

Parable of the sower
What does the parable about seeds and roots say to us about the kingdom of God? Any farmer will attest to the importance of good soil for supplying nutrients for growth. And how does a plant get the necessary food and water it needs except by its roots? The scriptures frequently use the image of fruit-bearing plants or trees to convey the principle of spiritual life and death. Blessed is the man who trusts in the Lord, whose trust is the Lord. He is like a tree planted by water, that sends out its roots by the stream, and does not fear when heat comes, for its leaves remain green, and is not anxious in the year of drought, for it does not cease to bear fruit (Jeremiah 17:7-8; see also Psalm 1:3).

Jesus' parable of the sower is aimed at the hearers of his word. There are different ways of accepting God's word and they produce different kinds of fruit accordingly. There is the prejudiced hearer who has a shut mind. Such a person is unteachable and blind to what he or she doesn't want to hear. Then there is the shallow hearer. He or she fails to think things out or think them through; they lack depth. They may initially respond with an emotional reaction; but when it wears off their mind wanders to something else.

Another type of hearer is the person who has many interests or cares, but who lacks the ability to hear or comprehend what is truly important. Such a person is too busy to pray or too preoccupied to study and meditate on God's word.

Then there is the one whose mind is open. Such a person is at all times willing to listen and to learn. He or she is never too proud or too busy to learn. They listen in order to understand. God gives grace to those who hunger for his word that they may understand his will and have the strength to live according to it. Do you hunger for God's word?

Secrets of the kingdom
Why does Jesus say that the secrets of the kingdom of God will be revealed to some while others will not be able to recognize nor understand the kingdom of God (Mark 4:11-12)? Origen (185-254 AD), an early church Bible scholar, comments on why Jesus makes a distinction between those who are ready to hear and understand his message with those who are not ready to hear nor understand:

Sometimes it does not turn out to be an advantage for one to be healed quickly or superficially, especially if the disease by this means becomes even more shut up in the internal organs where it rages more fiercely. Therefore God, who perceives secret things and who knows all things before they come to be, in his great goodness delays the healing of such persons and defers the remedy to a later time. If I may speak paradoxically, God heals them by not healing them, lest a premature recovery of health should render them incurable. This pertains to those whom our Lord and Savior addressed as 'those outside,' whose hearts and reins he searches out. Jesus covered up the deeper mysteries of the faith in veiled speech to those who were not yet ready to receive his teaching in straightforward terms. The Lord wanted to prevent the unready from being too speedily converted and only cosmetically healed. If the forgiveness of their sins were too easily obtained, they would soon fall again into the same disorder of sin which they imagined could be cured without any difficulty.

(On First Principles 3.1.7)
The Lord Jesus will give us perceiving eyes and listening ears to understand the message of his kingdom if we approach him with faith and humility and the readiness to be taught. The proud cannot see nor hear the truth of God's kingdom because they trust in their own opinion and perception of what is true or real. They have shut their minds to supernatural truth of God and his word. Do you approach God's word with trust and humility or with doubtful pride and skepticism?

"Lord Jesus, faith in your word is the way to wisdom, and to ponder your divine plan is to grow in the truth. Open my eyes to your deeds, and my ears to the sound of your call, that I may understand your will for my life and live according to it."

Psalm 89:1,3-4,26-29
I will sing of thy steadfast love, O LORD, for
ever; with my mouth I will proclaim your
faithfulness to all generations.
You have said, "I have made a covenant with
my chosen one, I have sworn to David my
servant:
`I will establish your descendants for ever,
and build your throne for all
generations.' [Selah]
He shall cry to me, `You are my Father, my
God, and the Rock of my salvation.'
And I will make him the first-born, the highest
of the kings of the earth.
My steadfast love I will keep for him for ever,
and my covenant will stand firm for him.
I will establish his line for ever and his throne
as the days of the heavens.

Daily Quote from the Early Church Fathers
"As the sower fairly and indiscriminately disperses seed broadly over all his field, so does God offer gifts to all, making no distinction between rich and poor, wise and foolish, lazy or diligent, brave or cowardly. He addresses everyone, fulfilling his part, although knowing the results beforehand.… Why then, tell me, was so much of the seed lost? Not through the sower, but through the ground that received it—meaning the soul that did not listen.… Even though more seed would be lost than survive, the disciples were not to lose heart. For it is the way of the Lord never to stop sowing the seed, even when he knows beforehand that some of it will not respond. But how can it be reasonable, one asks, to sow among the thorns, or on the rock, or alongside the road? Maybe it is not reasonable insofar as it pertains only to seeds and earth, for the bare rock is not likely to turn into tillable soil, and the roadside will remain roadside and the thorns, thorns. But in the case of free wills and their reasonable instruction, this kind of sowing is praiseworthy. For the rocky soul can in time turn into rich soil. Among souls, the wayside may come no longer to be trampled by all that pass, and may become a fertile field. The thorns may be destroyed and the seed enjoy full growth. For had this not been impossible, this sower would not have sown. And even if no change whatever occurs in the soul, this is no fault of the sower, but of those who are unwilling to be changed. He has done his part." (John Chrysostom, 347-407 A.D., excerpt from Gospel of St. Matthew, Homily 44.5.1)

3. Kutipan Teks Misa:

Melalui perumpamaan - satu bentuk mengajar-Nya yang khas - Yesus mengajarkan supaya masuk ke dalam Kerajaan-Nya Bdk. Mrk 4:33-34.. Lewat perumpamaan Ia mengundang ke perjamuan Kerajaan-Nya Bdk. Mat 22:1-14., tetapi menuntut juga keputusan yang radikal. Untuk memperoleh Kerajaan itu, orang harus melepaskan segala sesuatu Bdk. Mat 13:44-45.; kata-kata hampa tidak mencukupi; perbuatan sangat dibutuhkan Bdk. Mat 21:28-32.. Perumpamaan perumpamaan itu seakan-akan menempatkan sebuah cermin di depan manusia, dalamnya ia dapat mengerti: Apakah ia menerima kata-kata itu sebagai tanah yang berbatu-batu atau sebagai tanah yang baik? Bdk. Mat 13:3-9. Apa yang ia lakukan dengan talenta yang ia terima? Bdk. Mat 25:14-30. Yesus dan kehadiran Kerajaan di dunia adalah inti semua perumpamaan. Orang harus masuk ke dalam Kerajaan, artinya harus menjadi murid Kristus, untuk "mengetahui rahasia Kerajaan surga" (Mat 13:11). Untuk mereka yang "ada di luar (Mrk 4:11), segala sesuatu tinggal rahasia Bdk. Mat 13:10-15.. (Katekismus Gereja Katolik, 541)
   
Jika kamu mencari contoh kerendahan hati, lihatlah pada salib! (St. Thomas Aquino)

Antifon Pembuka (Mzm 110:1)
Tuhan bersabda, "Duduklah di sisi kanan-Ku, sampai musuh-musuhmu Kujadikan tumpuan kakimu."
   
Doa Pembuka
Allah Bapa Yang Maharahim, Engkau telah memperbarui perjanjian-Mu dengan kami, melalui Yesus Kristus, Putra-Mu. Mampukanlah kami agar taat dan setia pada sabda-Nya yang telah Kaumeteraikan dalam hati dan budi kami. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
   
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (10:11-18) 
"Kristus menyempurnakan untuk selama-lamanya orang-orang yang dikuduskan-Nya."
   
Saudara-saudara, setiap imam melakukan pelayanannya tiap-tiap hari, dan berulang-ulang mempersembahkan kurban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Kristus hanya mempersembahkan satu kurban karena dosa, dan sesudah itu Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah. Sekarang Ia hanya menantikan saat, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. Sebab oleh satu kurban itu saja Kristus telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. Tentang hal itu Roh Kudus pun memberi kesaksian kepada kita, sebab Ia sendiri bersabda, "Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka, pada hari-hari yang akan datang: Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka". Jadi apabila untuk semuanya itu sudah ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan kurban karena dosa.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Engkaulah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.
Ayat. (Mzm 110:1-4)
1. Beginilah firman Tuhan kepada tuanku, "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kubuat menjadi tumpuan kakimu!"
2. Tongkat kuasamu akan diulurkan Tuhan dari Sion; berkuasalah Engkau di antara musuhmu!
3. Engkau meraja di atas gunung yang suci sejak hari kelahiranmu, sejak dalam kandungan, sejak fajar masa mudamu.
4. Tuhan telah bersumpah, dan tidak akan menyesal; "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek".

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Benih itu melambangkan Sabda Allah, penaburnya ialah Kristus. Semua orang yang menemukan Kristus akan hidup selamanya. Alleluya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (4:1-20)
"Seorang penabur keluar untuk menabur."
     
Pada suatu hari Yesus mengajar di tepi danau Galilea. Maka datanglah orang yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia terpaksa naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh, lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu ada di darat, di tepi danau itu. Dan Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka dalam bentuk perumpamaan. Dalam ajaran-Nya itu Yesus berkata kepada mereka, "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga benih itu tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dengan subur dan berbuah; hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat". Dan Yesus bersabda lagi, "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Ketika Yesus sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid menanyakan arti perumpamaan itu. Jawab-Nya, "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menangkap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, biar mereka jangan berbalik dan mendapat ampun". Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan sabda. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat sabda itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar sabda, lalu datanglah iblis dan mengambil sabda yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar sabda itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi sabda itu tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena sabda itu, mereka segera murtad. Dan yang lain, yang ditaburkan di tengah semak duri, ialah yang mendengar sabda itu, tetapi sabda itu lalu dihimpit oleh kekuatiran dunia, tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain sehingga sabda itu tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut sabda itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat".

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan
Selama melakukan pekerjaan, seorang petani tidak sekadar bercocok tanam atau menabur benih. Ia, dapat dipastikan akan menjaga, merawat, memelihara benih yang sudah ditanamnya. Semua usaha tersebut dibarengi dengan semangat lain, yakni adanya sikap sabar dan harapan. Sabar untuk menjalani proses dan berharap akan menuai buah atau hasil yang baik dari benih yang ditanamnya.

Yesus banyak memakai perumpamaan dari dunia pertanian untuk menjelaskan tentang Kerajaan Allah. Dia membandingkan Allah sebagai pribadi yang menabur benih pada tanah yang berbeda-beda. Dalam perumpamaan itu dinyatakan bahwa penabur menabur tanpa pilih-pilih, sekalipun ia mengetahui bahwa sebagian benih akan jatuh di tempat di mana benih itu tidak akan tumbuh.

Seperti Yesus, kita juga harus menaburkan benih yang baik kapan dan di mana saja. Allah saja yang mengatur di mana benih itu akan jatuh dan bagaimana pertumbuhannya. Yang penting adalah kita menabur dan menjaga, merawat, memelihara benih yang sudah ditanam.

Antifon Komuni (Markus 4:20)
Tanah yang baik ialah orang yang mendengar dan menyambut sabda itu, lalu berbuah.

Selasa, 29 Januari 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.               
                 
Selasa, 29 Januari 2019
Hari Biasa Pekan III
Ibrani (10:1-10) 
(Mzm 40:2.4ab.7-8a.10.11)
Markus (3:31-35) 

"Caritas et fraternitas - Kasih dan persaudaraan."

Inilah tema yang diangkat ketika saya mempersembahkan misa "Angela's Day" di aula besar sekolah St Maria Juanda Jkt beberapa tahun lalu.

Yesuspun memberikan dua hal itu pada bacaan hari ini:
"Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu."

Secara sederhana, ada 3 langkah untuk menciptakan "kasih dan persaudaraan", al:

1.Keterbukaaan:
Yesus tidak menolak ikatan persaudaraan berdasarkan hubungan darah.
Terhadap Maria, Ia juga tetap menghormatinya sebagai ibu yang telah mengandung, melahirkan dan mengasuhNya.
Ketika Ia bergantung di salib dan Maria ada di dekatNya, Ia pun menyebut Maria, ibuNya.

Namun, tampak di sini, Yesus  membuka diri terhadap semua orang.
Ia memperluas ikatan persaudaraan, yang tidak hanya dibatasi pada hubungan darah semata tetapi berdasarkan iman/kepercayaan.

2.Kebersamaan:
Yesus tidak "sembunyi" tapi selalu hadir dan mengalir di antara banyak orang: di Bait Allah, di pinggir pantai, di atas bukit, dll.
Hidup-ucapan dan karyaNya ada nyata bersama dengan orang lain sehingga benar2 bisa mrasakan pergulatan hati sesamaNya secara lebih mendalam.

3.Kesatuan:
Dengan air pembaptisan, kita semua bersatu dengan Yesus dan diangkat menjadi anak-anak Allah.
Dan kita akan sungguh-sungguh bersatu dan menghayati persaudaraan tersebut, kalau kita benar-benar "satu" antara teori dan praktek, antara ucapan dan tindakan.

Dkl: di tengah budaya "NATO-No Action Talk Only", kita diajak menjadi orang yang "satu", yang mendengarkan dan juga melakukan kehendak Tuhan setiap harinya.

"Cari batu di Taman Kota -
Yesus itu saudara kita."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)                 
                                 
NB:
Kutipan Teks Misa:

“Masuklah ke dalam luka-luka Kristus yang tersalib. Di situ engkau akan belajar menjaga indramu, engkau akan memiliki kehidupan batin dan dengan tak henti-hentinya engkau mempersembahkan kepada Bapa penderitaan Allah kita Yesus Kristus dan penderitaan Bunda Maria, untuk menebus dosamu dan dosa semua manusia.” ― St. Josemaría Escrivá

“Cinta menutupi dosa yang tak terbilang banyaknya; tak ada akhir bagi kesabarannya.” (Paus Klemens I)
 
Antifon Pembuka (Mzm 40:10)
Aku menggambarkan keadilan di tengah jemaat besar, bibirku tidak kutahan terkatup. Engkau tahu itu, ya Tuhan.

Doa Pembuka
Allah Bapa Mahakuasa dan kekal, kehendak-Mu telah terlaksana sepenuhnya pada diri Yesus Mesias, Tuhan kami, yang taat setia melakukan kehendak-Mu. Kami mohon, semoga kami dapat menemukan dan memahami kehendak-Mu dan mewujudkan kedamaian dalam tingkah laku kami sehari-hari. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
   
Hakikat keselamatan itu bukan isi Taurat tetapi Tubuh Yesus sendiri yang dipersembahkan sesuai dengan kehendak Allah untuk menebus dosa manusia. Dengan pengorbanan Kristus, manusia menjadi kudus sekali untuk selamanya.
 
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (10:1-10) 
"Aku datang untuk melaksanakan kehendak-Mu, ya Allah."
   
Saudara-saudara, di dalam Taurat hanya terdapat bayangan dari keselamatan yang akan datang, bukan hakikat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu, dengan kurban yang sama, yang setiap tahun diulangi, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang ambil bagian di dalamnya. Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak lagi mempersembahkan kurban itu; mereka yang melakukan ibadah itu tidak lagi merasa berdosa, sebab telah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh kurban-kurban itu setiap tahun orang diperingatkan akan dosa-dosa mereka. Sebab tidak mungkin darah lembu atau domba jantan menghapus dosa! Karena itu ketika Kristus masuk ke dunia, Ia berkata, “Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki! Sebagai gantinya Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau juga tidak berkenan. Maka Aku berkata: Lihatlah, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku, sebagaimana tertulis dalam gulungan Kitab tentang Aku. Jadi mula-mula Ia berkata, “Engkau tidak menghendaki kurban dan persembahan; Engkau tidak berkenan akan kurban bakaran dan kurban penghapus dosa” – meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat -. Dan kemudian Ia berkata, “Lihat, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Jadi yang pertama telah Ia hapuskan untuk menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak Allah inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan Tubuh Yesus Kristus.

Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 4/4, PS 850
Ref. Ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-Mu.
Ayat. (Mzm 40:2.4ab.7-8a.10.11)
1. Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjengukku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita.
2. Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata, “Lihatlah, Tuhan, aku datang!”
3. Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.
4. Keadilan-Mu tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan dan keselamatan-Mu kubicarakan, kasih dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan tapi kuwartakan kepada jemaat yang besar.
 
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Terpujilah Engkau, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana. Alleluya.
 
Yesus menegaskan bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya adalah setiap orang yang melakukan kehendak Allah. Kehendak Allah menjadi ukuran dan kriteria dasar. .
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (3:31-35) 
"Barangsiapa melaksanakan kehendak Allah, dialah saudara-Ku."
   
Sekali peristiwa datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus ke tempat Ia sedang mengajar. Mereka berdiri di luar, lalu menyuruh orang memanggil Yesus. Waktu itu ada orang banyak duduk mengelilingi Dia; mereka berkata kepada Yesus, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Yesus memandang orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu, lalu berkata, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku!”

Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
 
Renungan 
Ucapan Yesus dalam Injil hari ini bukanlah bentuk kedurhakaan seorang anak kepada ibu dan saudara-saudara-Nya. Yesus justru ingin menyadarkan setiap orang bahwa perihal dekat dan akrab dengan-Nya adalah hak setiap orang. Syaratnya yaitu melakukan kehendak Allah. Oleh karena itu, menjadi dekat dan akrab dengan Yesus berarti membiarkan kehendak Allah yang terjadi dan bukan kehendak kita. Sudahkah kita melakukan kehendak-Nya?

Doa Malam
Allah Bapa Mahakuasa, Engkau telah membangun umat baru, yang tidak berdasarkan warna kulit atau darah ataupun adat-istiadat kuno. Berkenanlah mengumpulkan umat lebih banyak lagi dari semua golongan dan negeri, mengitari altar-Mu, agar jadilah kehendak-Mu di mana pun di dunia. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

=====
HIDUP ITU SINGKAT

Pernah suatu kali, saya menunggu sahabat saya di sebuah perusahaan. Saya menunggu karena direktur sedang memberikan briefing kepada para karyawan.

Saya sengaja menunggu, karena briefing tentu waktunya tidak lama. Dan benar, dalam beberapa menit, teman saya ini sudah keluar dari kantornya.

“Viva est brevis” – hidup itu singkat. Orang Jawa memunyai ungkapan, “urip iku mung mampir ngembe” dan Kitab Amsal menulis, “Hidup kita seperti bayang-bayang berlalu!” Itulah sebabnya, Horance (....) menulis, “Vita est brevis spem nos vetat in cohare longam” – hidup yang singkat mengubur khayalan kosong. Intinya, hidup yang singkat itu, jangan disia-siakan hanya dengan melamun.

Yang dibutuhkan dalam “hidup yang pendek” itu “take action” dan kurangi menyalahkan lingkungan sekitar. Ini sudah dikatakan oleh Pepatah India, “Orang yang tidak becus menari akan menyalahkan lantai.”  Kita ini seolah-olah berpacu dengan waktu, seperti yang dikatakan Kahlil Gibran (1883 – 1931), “Yesterday is but today’s memory and tomorrow is today’s dream” – Kemarin hanya menjadi ingatan hari ini dan besok adalah mimpi dari hari ini.

Socrates (469 – 399 seb. M) berkenaan dengan “Vita est brevis” ini menulis, “Terminat hora diem; terminat auctor opus” – Jam diselesaikan oleh hari, penulis menyelesaikan pekerjaannya. Ia hendak mengatakan bahwa hidup manusia ada rentang masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Tak mungkin kita akan kembali ke masa lalu. Yang bisa kita buat hanyalah belajar, menyesali, meratapi dan memaknai masa lalu yang telah berlalu. (MM)