Ads 468x60px

Examen Conscientiae



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Merawat Ingatan
Memupuk Harapan.
"Examen Conscientiae"
Ten Point Spiritual Self Examination
John Wesley made a habit of asking questions to stimulate spiritual growth. Depending on the list there were either 21 or 22 standard questions. These questions were designed to spur reflection and personal examination of the spiritual issues.
The following Ten Point Spiritual Self Examination is a collection of questions to end the 2017 calendar year.
1.
Am I closer to God now than January 1st 2017?
If yes, what are you doing to keep growing in 2018?
Spiritual growth is not static or still. To keep growing, we must be willing to continue to put an effort into spiritual disciplines.
* Worship
* Bible reading
* Prayer: Who are you praying for? What are you praying for? How are you praying? How often are you praying?
* Service:
What are you doing for God on a monthly, weekly and daily basis?
If no, what do you need to do to solve the problem?
2.
Am I a slave to anything?
* Habits
* Work
* Possessions
* What owns you?
3.
Am I overwhelmed by any area of life?
When we are overwhelmed by situations or circumstances it impacts our spiritual life. These are usually matters that should be handled with great prayer.
* Being overwhelmed limits our ability to sense Gods presence
* Being overwhelmed limits our ability to trust God's provision
* Being overwhelmed limits our ability to experience God's peace
4.
Does the Bible live in me?
* Do I give time for the Bible to speak to me?
Allowing the Word of God to speak into our lives is the best way to let it live in us. Knowing scripture is not enough, we must apply it to our lives and live it out.
5.
Is there something that God has told me to do that I am not doing?
* What needs to be resolved? What steps need to be taken to bring to obedience?
6.
Do I enjoy my relationship with God?
* How is this joy growing?
* How is my heart impacted by God's joy growing in me?
7.
Am I financially faithful to God?
Financial faithfulness is more than just putting something in the offering plate as it goes by. Financial faithfulness is being obedient to God in the matters of money. Being financially faithful to God has less to do with money and more to do with the heart.
– Am I robbing God?
Other financial questions:
What do I earn?
What do I own?
What do I owe?
What do I give?
8.
Who has hurt me over the past year?
Everyone deals with hurts and pains, especially those that flow from relationship problems.
* Whom have I hurt over the past year?
* Who do I need to forgive?
* Whose forgiveness do I need to seek?
Forgiveness is the first step to healing the pains of the past. The moment that we make the choice to forgive those who have wronged us, we begin to heal.
9.
What were my priorities in 2017?
Think about how you spent your time and money. The calendar and the checkbook are two good sources of determining what our priorities were.
* Where do I need to invest my time?
* What priorities do I need to change for 2018?
10.
What situation or circumstance am I dwelling on?
* What has caused me the most stress during 2017?
* What needs to change to reduce this stress in 2018?
====
Versi Indonesia - Terjemahan Sederhana
Sepuluh Pemeriksaan Diri secara Spiritual
John Wesley membuat kebiasaan mengajukan pertanyaan untuk merangsang pertumbuhan rohaninya. Mengacu pada daftar, ada 21 atau 22 pertanyaan standar, dimana pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk memacu refleksi dan pemeriksaan pribadi dari segi spiritual.
Berikut pemeriksaan batin dan kumpulan pertanyaan untuk mengakhiri tahun 2017.
1. Apakah saya lebih dekat dengan Tuhan sekarang daripada 1 Januari 2017?
Jika ya, apa yang Anda lakukan untuk terus tumbuh pada tahun 2018?
Pertumbuhan rohani tidak statis, datar atau diam. Untuk terus berkembang, kita harus bersedia untuk terus menempatkan pelbagai upaya dalam disiplin spiritual.
* Ibadah
* Membaca Alkitab
* Doa:
Siapa yang Anda doakan?
Apa yang Anda doakan?
Bagaimana Anda berdoa?
Seberapa sering Anda berdoa?
* Pelayanan:
Apa yang Anda lakukan untuk Tuhan secara bulanan, mingguan dan harian?
Jika tidak, apa yang Anda perlu lakukan untuk memecahkan masalah?
2. Saya itu menjadi "budak" apa?
* Kebiasaan
* Kerja
* Harta
* Apa yang "memiliki" Anda?
3. Apakah saya kewalahan dalam setiap bidang kehidupan?
Ketika kita kewalahan oleh situasi atau keadaan itu sebagai dampak kehidupan rohani kita dan ini biasanya adalah hal-hal yang harus ditangani dengan doa yang besar.
* Menjadi kesempatan untuk merasakan kehadiran Tuhan
* Menjadi kesempatan untuk mempercayai pemeliharaan Allah
* Menjadi kesempatan untuk mengalami kedamaian Allah
4. Apakah Alkitab tinggal di dalam Aku?
* Apakah saya memberikan waktu bagi Alkitab untuk berbicara kepada saya?
Membiarkan Firman Tuhan berbicara dalam hidup kita adalah cara terbaik untuk membiarkannya hidup di dalam kita. Mengetahui kitab suci tidak cukup, kita harus menerapkannya ke hidup kita.
5. Apakah ada sesuatu yang Allah telah mengatakan kepada saya untuk melakukanny tapi saya tidak melakukannya?
* Apa yang perlu diselesaikan? Langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk menjalaninya dengan ketaatan?
6. Apakah saya menikmati hubungan saya dengan Tuhan?
* Bagaimana sukacita ini berkembang?
* Bagaimana hatiku dipengaruhi oleh sukacita Tuhan yang tumbuh dalam diriku?
7. Apakah saya secara finansial juga setia kepada Allah?
- Apakah saya merampok Allah?
Pertanyaan lainnya:
Apa yang saya peroleh?
Apa yang saya miliki sendiri?
Apa yang saya berutang?
Apa yang harus saya berikan?
8. Siapa yang telah menyakiti saya selama setahun terakhir?
Setiap orang berurusan dengan sakit dan nyeri, terutama yang mengalir dari masalah seputar relasi.
* Siapa yang saya menyakiti selama tahun lalu?
* Siapa yang harus saya maafkan?
* Apa pengampunan yang harus saya cari?
Pengampunan adalah langkah pertama untuk penyembuhan penderitaan masa lalu. Saat kita membuat pilihan untuk mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita, kita mulai untuk sebuah penyembuhan.
9. Apa prioritas saya pada tahun 2017?
Pikirkan tentang bagaimana Anda menghabiskan waktu dan uang. Kalender dan buku cek dua sumber yang baik untuk menentukan apa yang menjadi prioritas:
* Di mana saya harus menginvestasikan waktu saya?
* Prioritas Apa yang saya perlu ubah untuk 2018?
10. Apa situasi atau keadaan saya tinggal?
* Apa yang menyebabkan saya stres paling selama 2017?
* Apa yang perlu berubah untuk mengurangi stres ini pada tahun 2018?
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

Jumat, 29 Desember 2017



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Jumat, 29 Desember 2017
Hari Kelima dalam Oktaf Natal
1 Yohanes (2:3-11)
(Mzm 96:1-2a.2b-3.5b-6)
Lukas (2:22-35)
"Nunc Dimittis!"
Inilah kata-kata pertama dalam bahasa Latin pada pujian berdasarkan ucapan/kidung Simeon (Luk. 2:29-32), atas rasa syukurnya karena telah melihat penyelamatan terhdap umat dan semua bangsa.
Kata-kata khas Simeon ini sekarang dimasukkan sebagai bagian dalam doa malam “completorium” di setiap biara dan seminari. Simeon sendiri adalah "seorang benar, saleh dan Roh Kudus ada di atasnya".
Ia yang sungguh menantikan penghiburan sejati dan kini telah menyaksikan dalam diri Yesus yang sedang dipersembahkan di bait Allah, maka ia pun memuji Allah serta bersyukur:
"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa".
Marilah kita belajar dari Simeon, pribadi yang penuh Roh Kudus dan berjumpa dengan Bayi Yesus.
Dengan kata lain:
Simeon adalah pribadi yang penuh Roh Kudus. Ia adalah pribadi yang peka pada bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus selalu ada padanya hingga ia menangkap tanda-tanda bahwa ia tak akan mati sebelum melihat Mesias, Tuhan.
Ia berbicara dengan Roh Kudus dan belajar mendengarkan isnpirasi suci-Nya. Hidupnya tak hanya diinspirasi dan dipenuhi Roh Kudus, tetapi juga digerakkan daya Roh Kudus.
Bagaimana dengan kita?
"Cari kardus di Pasar Kenari – Hiduplah kudus setiap hari."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Kutipan Teks Misa
Memang Anak kecil yang diberikan kepada kita, tetapi di situ bersemayam ke-Allah-an sepenuhnya.-- St. Bernardus
Antifon Pembuka (bdk. Yoh 3:16)
Demikian besar cinta kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia menyerahkan Putra Tunggal-Nya, agar semua orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh hidup abadi.
God so loved the world that he gave his Only Begotten Son, so that all who believe in him may not perish, but may have eternal life.
Pada Misa ini ada Madah Kemuliaan
Doa Pembuka
Allah Bapa yang Mahakuasa, Engkau mengutus Putra-Mu untuk menerangi dunia yang gelap. Bantulah kami untuk memperingati kelahiran-Nya dengan puji-pujian yang pantas. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes (2:3-11)
"Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang."
Saudara-saudara terkasih, inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata “Aku mengenal Allah”, tetapi tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan tidak ada kebenaran di dalam dia. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu kasih Allah sungguh sudah sempurna; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Allah. Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Allah, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Saudara-saudara terkasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu; perintah ini telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang melenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barangsiapa berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi karena kegelapan itu telah membutakan matanya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = d, 3/4; 4/4, PS 806
Ref. Hendaklah langit bersuka cita, dan bumi bersorak-sorai dihadapan wajah Tuhan, kar'na Ia sudah datang.
Ayat. (Mzm 96:1-2a.2b-3.5b-6)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya!.
2. Kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari pada-Nya, ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku.
3. Tuhanlah yang menjadikan langit, keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan hormat ada di tempat kudus-Nya.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Luk 2:32)
Kristuslah cahaya yang menerangi para bangsa. Dialah kemuliaan bagi umat Allah.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:22-35)
"Kristus cahaya para bangsa."
Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat, Maria dan Yusuf membawa kanak-kanak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada diatasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika kanak-kanak Yesus dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Kanak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,”Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Antifon Komuni (Luk 1:78)
Melalui rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, Fajar pagi dari tempat yang tinggi akan mengunjungi kita.
Through the tender mercy of our God, the Dawn from on high will visit us.
Doa Malam
Yesus, Engkau hadir dalam dunia fana ini, gembirakanlah hati kami selalu akan rahmat kehadiran-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

SANTA CLAUS IS COMING TO TOWN.



SANTA CLAUS IS COMING TO TOWN...
SANTA....
Semuanya diawali dengan imajinasi dan ke­inginan bergembira.
Santo Nikolas pun jadi Sinterklas dan jadi Santa Klaus. Nun di benua yang dingin, legenda tentang seorang suci di abad ke-4 berkembang jadi tradisi yang tak jelas lagi asal-usul dan unsur-unsurnya.
Ada bekas kepercayaan orang Jerman sebelum Kristen tentang Dewa Odin, tapi ada juga gambaran yang dibentuk lewat sebuah sajak yang tersiar di abad ke-19 dan kemudian diperkuat sebuah iklan Coca-Cola.
Ia makhluk asing yang tak disebutkan Injil. Ia produk Eropa yang dirakit di Amerika.
"Ia tampak seperti seorang penjaja yang membuka kantong dagangannya," demikian ia dideskripsikan dalam sajak yang ditulis Clement Moore menjelang Natal 1822. "Pipinya merona seperti mawar, hidungnya seperti sebutir buah ceri, mulut kecilnya yang lucu melengkung seperti busur, dan… perutnya kecil bulat, terguncang-guncang bila ia tertawa…."
Moore sebenarnya bukan seorang penyair; ia guru besar theologi di sebuah sekolah tinggi Kristen di New York. Sajak itu ditulisnya untuk dibaca di lingkungan keluarganya sendiri di malam Natal. Tak disangkanya profil manusia ajaib yang dikhayalkannya itu (yang ketika itu masih disebut "St. Nicholas") kemudian menyebar dan merasuk ke dalam hidup orang Amerika.
Mungkin di negeri Protestan itu tersirat niat untuk menampilkan seorang santo yang lain dari yang diproyeksikan Gereja Katolik: orang "suci" ala Amerika ini gembil dan gendut.
Mungkin ada sebab lain: St. Nicholas jadi Santa Klaus yang kocak, ramah, dan pemurah karena orang-orang—dimulai di Belanda—menghendaki sejenak kegembiraan. Mereka tak ingin terus-menerus takluk dipelototi para rohaniwan Calvinis yang mengharamkan sukacita lahiriah.
Atau mungkin sebab lain: di New York pada dua dasawarsa pertama abad ke-19 itu, ketika kapitalisme tumbuh dan bank-bank besar mulai didirikan, ada kebutuhan membuat keajaiban akrab kembali. Maka berkembanglah imajinasi tentang seseorang yang datang malam-malam dari negeri misteri dan masuk ke rumah diam-diam melalui cerobong asap. Ia tak menakutkan. Sekilas tampak sebagai seorang penjaja, ia sebenarnya tak berjualan apa-apa; ia malah membagi-bagikan mainan gratis.
Tapi jika "adat" itu dianggap sebagai subversi terhadap masyarakat yang dikuasai jual-beli, "perlawanan" itu tak bisa bertahan. Dengan segera kapitalisme menangkap dan menyulap tokoh dongeng ini.
Konon kostumnya yang merah-putih itu berasal dari penampilannya dalam serangkaian iklan Coca-Cola tahun 1940-an—meskipun sebenarnya Santa sudah tampil seperti itu dalam ilustrasi yang dibikin Norman Rockwell di sampul majalah The Country Gentlemen pada 1921. Bagaimanapun, modal dan media massa mencetaknya dengan sebuah identitas yang diulang-ulang. Ia dibuat agar mudah dikenali dan diingat sebagaimana lazimnya komoditas. Tanpa kejutan, tanpa ketakjuban.
Dan dengan energi baru Santa Klaus pun menembus pusat-pusat belanja. Ia bagian dari sekularisasi Natal, ketika saat yang disebut dengan syahdu dalam lagu "Malam Sunyi" itu ditarik keluar dari ruang yang takzim dan jadi bagian pasar yang meriah. Natal dan ke-Kristen-an berpisah. Di Jepang yang tak percaya Yesus, misalnya, ketika orang bersuka ria dengan pesta bounenkai (mari-lupakan-ini-tahun) di ujung Desember, satu acara Natal yang menarik dibuat di Roppongi: "Sexy Santa Party".
Orang-orang Kristen yang alim akan merengut, tentu, melihat hura-hura Santa macam itu—yang makin menegaskan pemisahan Natal dari iman. Tapi umumnya kita lupa, orang Protestan sendiri pernah mengharamkan Natal. Ketika mereka menguasai Inggris, pada 1647, Parlemen menyatakan Natal sebagai "festival kepausan", papal festival, yang tak berdasarkan Alkitab. Di Boston, Amerika, perayaan Natal dilarang selama 20 tahun sejak 1659. Baru di pertengahan abad ke-19 orang Boston terbiasa bilang Merry Christmas. Kini di kota itu bahkan bisa dibaca iklan "Santa Claus for Hire", menawarkan tenaga-tenaga yang bisa memerankan Santa Klaus buat pesta.
Santa yang disewakan, yang bisa dipertukarkan, dengan segera jadi Santa yang muncul di segala sudut dunia seperti McDonald's dan Starbucks. Di abad ke-19 Thomas Nast menggambar sosoknya di majalah Harper's Weekly dengan wajah orang pedalaman yang kasar: ia dikesankan sebagai penghuni Kutub Utara yang belum dijinakkan peradaban. Kini ia lebih necis dan borjuis, bergerak tanpa paspor tanpa visa.
Mungkin sebab itu pemerintah Kanada membuat satu kampanye jenaka: Desember 2008, Santa Klaus diberi status warga negara. Kata menteri urusan kewarganegaraan, Santa "berhak kembali ke Kanada setelah perjalanannya melanglang dunia selesai".
Apa salahnya jenaka? Santa toh bagian kegembiraan (dan barang dagangan) yang tak perlu pikiran mendalam.
(GM).

Gereja “Sejuta” Umat!



Belajar dari Air Sungai Cisadane:
Foto @ Stasi Teluk Naga Tangerang,
Natal 2007.
Gereja “Sejuta” Umat!
Itulah sebuah kesan lestari dari “sejuta” pesan bestari yang coba saya ungkit-rakit menjadi satu baris-garis dalam judul tulisan kesan-pesan ini.
Yang pasti, medio 2007 - 2009, saya bertugas sebagai pastor muda di salah satu paroki tertua di KAJ dalam relung larung dan karung marung perjalanan iman bersama “sejuta” karakter umat dengan populasi hampir dua puluh ribu jiwa yang tersebar-pencar di pelbagai stasi.
Adapun waktu itu, paroki ini bernama Gereja “SanMar” (Santa Maria) Tangerang. Saya sendiri menjadi moderator beberapa kelompok kategorial (PDKK-PDKM, Misdinar, KTM, KEP, Legio Mariae dll) dan untuk dua stasi teritorial di Tanjung Kait (28 km Barat Laut) dan Teluk Naga (14 km ke utara), sedangkan Rm Sriyanto SJ berfokus di stasi Gregorius Kotabumi dan Rm Toto Yulianto SJ di stasi Agustinus Poris dan Rajek. Selama saya bertugas, saya juga mencecap-recap tugas pastoral bersama Rm Edy Mulyono SJ dan Rm Swasono SJ.
Pertengahan tahun 2009, saya berpindah tugas ke paroki Salib Suci Cilincing Tanjung Priok bersama dengan para imam tarekat CM. Adapun yang menggantikan saya waktu itu, Rm Situmorang SJ bersama dua imam diosesan, yakni Ari Dianto dan Charles.
Bicara soal “Gereja Sejuta Umat” ini, ada “sejuta” memoria, semacam kenangan yang otentik, unik dan kadang menggelitik. Ada yang klasik, ada juga yang menarik. Ada kisah yang datang dan pergi. Ada juga kasih yang datang mengilhami.
Salah satunya adalah setiap kali saya membuka tirai jendela kamar di lantai tiga, tampaklah “river view”, Sungai Cisadane yang bersebelahan dengan kompleks gereja yang selalu setia menyapa saya setiap harinya: “Vidi aquam-Aku melihat air!” Dari Sungai Cisadane inilah, saya mencandra trilogi karakter “Gereja Sejuta Umat” Tangerang, yakni:
1.”Caritas”:
Air selalu mencintai. Ia selalu “kasih” dan memberi secara “sukarela” dan bukan “sukar-rela”. Ia bisa diambil untuk apa saja dan siapa saja. Ia bisa dipakai untuk mengisi aquarium ikan mas koki, untuk cuci baju, piring, gelas juga untuk mencuci kaki: yang kotor dibersihkan, yang haus disegarkan dan yang bau dijernihkan.
Disinilah, saya setiap hari mengalami cinta” “sejuta” umat, dari sapaan afektif dan perjumpaan reflektif sampai oleh-oleh rekreatif khas Cina Benteng: bakmie Medan, siomay Sewan, sate babi, kaki babi sampai kulit babi juga. Yah, setiap hari, saya diberkati oleh tangan Tuhan yang tak kelihatan.
Sederhananya, lewat “sejuta” perjumpaan kasih inilah, saya tak perlu mencari Tuhan jauh-jauh, karena “sejuta” perjumpaan dengan umat Tangerang, bahkan yang biasa dan sederhana adalah penjelmaan dari Tuhan yang luar biasa dan istimewa. Bukankah yang baik pasti menarik yang baik? Bukankah jika sebuah sikap lahir dari ketulusan hati, ia berusaha menjangkau banyak hati yang lain?
2.”Vitalitas”:
Air selalu menghidupkan (Bhs Latin: “vita”: hidup). Lihat tubuh kita, ada banyak air bukan? Kita minum, mandi, cuci muka, sikat gigi, keramas dll dengan air. Bahkan seorang filsuf Yunani kuno, Thales menyatakan bahwa semua berasal dari air karena semua makhluk hidup mempunyai kandungan air.
Jelasnya, air mempunyai semangat: “bikin hidup lebih hidup.” Roh itu juga yang saya rasakan setiapkali saya hadir dan mempersembahkan misa di “Gereja Sejuta Umat”, terlebih pada masa Natal dan Paskah: “sejuta” umat berjubel khidmat datang memenuhi gereja dan pelatarannya.
Saya teringat pada sebuah misa pertama di malam Paskah tahun 2008, buku yang disediakan panitia sebanyak 7000 buah habis tak tersisa. Dashyat! Salah satu dari “sejuta” pengalaman lain yang membekas di hati: ketika para umat dengan inisiatif-nya menyelenggarakan misa IMLEK, banyak umat sangat antusias “bergotong-royong” walaupun tidak mendapat dana sama sekali dari paroki: “vox populi vox dei - suara rakyat suara Tuhan”.
Selain itu, pada masa-masa biasa juga terdapat “sejuta komunitas kategorial” yang terus bertumbuh seperti Legio Maria, Persink, Putera Altar-Puteri Sakristi, Mudika, PDKK-PDKM, Komunitas Tri Tunggal Maha Kudus, Kerahiman Ilahi, Teater Teduh, Majalah Terang, komunitas buruh, alumni KEP dan masih banyak lagi.
Pelataran gereja beserta aula St. Maria dan Aula St. Agustinus yang menjadi gedung serba guna seakan menjadi saksi bisu vitalitas “sejuta umat” Tangerang ini. Tak ayal, mereka juga kadang hiruk pikuk dan getol bernyanyi seperti “jutaan burung”, tak perduli siapa yang mendengar, dan apa yang mereka pikirkan, karena inilah dinamika mereka: kadang romantis, sesekali skeptik, kadang ironik dan problematik, kadang ada tawa dan tangis, pesimis dan optimis, kadang gosipan picisan-kadang juga masukan yang penuh keprihatinan.
3.”Humilitas”:
Air selalu taat. Ia mempunyai “humilitas/kerendahan hati”: Diisi dalam botol - ia mengambil bentuk menjadi botol, dialirkan ke dalam pipa - ia mengambil bentuk menjadi pipa. Ia juga selalu mengalir ke yang lebih rendah. Ia mau “turun dan membumi”.
Merupakan sebuah berkat bahwa “Gereja Sejuta Umat” berlindung di bawah nama Bunda Maria yang teladan kerendahan hatinya sudah tak diragukan lagi.
Ditambah lagi dengan adanya Goa Maria paroki yang teduh, seakan mengajak saya untuk selalu membawa magnificat di dalam doa dan gerak karya: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. (Lukas 1:46).
Di paroki inilah, saya menulis dua buku pertama saya tentang Bunda Maria karena saya menjumpai banyak umat yang menghadir-kenangkan kerendahan hati Bunda Maria yang mau mendengarkan: dari pengurus lingkungan, wilayah, seksi kategorial, dari anak kecil sampai yang besar, dari yang muda sampai yang tua.
Selain itu, dengan adanya sekolahan Strada: TK-SD-SMP-SMK (sehingga kadang “Gereja Sejuta Umat” ini disebut juga “Gereja STRADA”), adanya panti jompo dan pusat rehabilitasi bagi ex-pasien kusta: ”Marfati” serta banyaknya penjara, rumah sakit, pabrik serta riuh pasar dan arus modernitas yang hiruk pikuk merupakan sebuah “pembelajaran iman” bahwa “Gereja Sejuta Umat” tidak berjalan sendirian di menara gadingnya.
Ia ada dan terlibat dengan rendah hati di bawah perlindungan Bunda Maria dalam gulat geliat hidup masyarakat yang nyata. Ia mengajak kita ”berakar sekaligus bersayap”. Artinya: semakin mau memperdalam keberakaran dalam iman pada Yesus, sekaligus diajak berani memperluas sayap-sayapnya pada pelbagai perjumpaan dan gulat geliat iman dengan semua orang.
Ya, bukanlah sebuah kebetulan bahwa persis di depan ”Gereja Sejuta Umat” ini, terdapat KFC, di sampingnya terdempet area mall Robinson dengan Mc Donald-nya, di seberangnya terdapat Pizza Hut dengan aneka pasar tradisional beserta rentetan aneka barang dagangan, dari yang sakral juga kadang yang liar dan vulgar. Juga ada stasiun kereta api, pangkalan mikrolet, ojek dan becak.
Bukankah fenomen ini menegaskan bahwa ”Gereja Sejuta Umat” adalah sebuah rumah bersama yang hangat dan dekat dengan kehidupan, sungguh sebuah altar yang dekat dengan pasar?
Bicara lebih lanjut soal usulan, de facto perluasan bangunan fisik sudah tidak memungkinkan, bukan? Ke depan terhalang oleh Jl.Daan Mogot, ke belakang terbentur oleh Sungai Cisadane, Ke samping kiri dan kanan pun tak mungkin karena ada banyak gedung dan bangunan. Kita perlu memperluas “bangunan spiritual”. Adapun empat bidang kehidupan menggereja yang kembali perlu dicermati, yakni: “LKMD”, antara lain:
- Liturgia:
Dilatar belakangi konteks bahwa Tangerang yang berdempetan dengan kawasan perumahan kelas menengah di sekitar Tangerang Selatan (Alam Sutra, BSD City, Gading Serpong, Villa Melati Mas sampai Lippo Karawaci) seakan ber-transisi menjadi “kota satelit” yang hiruk pikuk, struktur masyarakat yang tadinya sangat kental diwarnai suasana agraris, perlahan tapi pasti berubah menjadi urban bahkan metropolis dengan maraknya plaza, mall, ruko, kampus dan sekolah bertaraf internasional serta perumahan kelas menengah, maka mungkinkah dibuat “kapel adorasi” dan atau gereja dengan “liturgi yang lebih komunikatif dan inkulturatif” untuk menjawab kebutuhan rohani “sejuta” umat yang ingin ber-waktu hening, ber-“intimitas cum Deo di tengah kebisingan kota dan dunia harian?
- Koinonia - Kerugma:
Di sebuah Negara Islam terbesar di dunia ini, (dimana Gereja Katolik yang minoritas senantiasa berusaha merumuskan peran dan keberadaannya dalam masyarakat yang beragam dan berbeda), “Gereja Sejuta Umat” seharusnya semakin berani menyatakan keunikan imannya.
Mengingat konteks real lain bahwa banyaknya orang muda dan maraknya perjumpaan dengan budaya lain dan tingginya potensi pernikahan beda agama di Tangerang, baiklah jika umat bersama imamnya bersatu semakin “merapatkan barisan”. Mungkinkah juga diadakan gerakan “sekolah iman bulanan”, semacam pembekalan kekayaan iman Katolik setiap bulan, dengan katekese secara berkelanjutan yang tentunya disajikan dengan menarik dan up to date?
- Martyria:
Tangerang dikenal sebagai tempat penampungan anak-anak nakal dan orang-orang pesakitan (ada 5 penjara) serta tempat penampungan penderita kusta (RS Sitanala). Belum lagi, banyaknya rumah sakit dan rumah pendidikan serta dekatnya “Gereja Sejuta Umat” dengan Bandara Sukarno Hatta dan pelbagai lokasi pabrik yang strategis. Bukankah ini sebuah ruang dan peluang supaya “Gereja Sejuta Umat” bisa semakin bersaksi di tengah masyarakat?
Terlebih kini, tercandra keanekaragaman umat, entah dalam bidang sosial-ekonomi maupun latar belakang agama-budaya, mungkinkah digalakkan terus “program orangtua asuh” dan kunjungan atau aksi sosial? Mungkinkah “Gereja Sejuta Umat” bisa bersaksi menjadi ‘pontifex maximus’: jembatan penghubung (in-between) antara “sejuta jurang”: kaya dan miskin, antara agama, suku dan kepercayaan, majikan dan buruh, dialog keilmuan, dsbnya?
- Diakonia:
Tentunya sambil menimba inspirasi dari Bunda Maria sebagai pelindung paroki, ada banyak karya pelayanan kasih yang bisa dibuat bukan? Mungkinkah ada kunjungan ke lingkungan yang lebih tertata dan terjadwal? Melibatkan semua potensi kelompok kategorial, mungkinkah mereka juga dilibatkan secara aktif dan koordinatif untuk menyapa umat di lingkungan yang tersebar pencar?
Demikianlah umpan telah dilempar ke air, adakah ikan akan terpancing, ataukah hanya sekedar gelombang kecil yang menyebar dari jatuhnya umpan itu?
“Cari bantal di pasar Kerang -
Selamat natal buat umat paroki Tangerang.
Ikan Paus terdampar di Pasar Kramat -
Banyak apllaus buat Gereja Sejuta Umat.”