Ads 468x60px

Selasa, 30 April 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Selasa, 30 April 2019
Hari Biasa Pekan II Paskah
Kisah Para Rasul (4:32-37)
(Mzm 93:1ab.1cd-2.5)
Yohanes (3:7b-15)
"Veni vidi vici - Aku datang aku lihat aku menang."
Inilah salah satu motto yang kerap kali kita dengar dalam banyak musim olimpiade antar bangsa. Inilah juga yang bisa dimaknai dari arti nama Nikodemus (Yun: “nikos: pemenang" dan “demos: rakyat/bangsa").
Kitapun diajak menjadi "bangsa pemenang" di tengah banyak "pecundang" dengan tiga sikap dasar Nikodemus yang punya "NIat dan KOmitmen DEmi Membela YesUS", antara lain:
1."Kerinduan hati":
Hati Nikodemus ingin sekali bertemu dengan Yesus. Diantara 6000 orang Farisi dan 70 Sanhedrin yang lainnya, Nikodemus yang adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi (Sanhedrin) justru menjadi tertarik untuk mengenal Yesus lebih dalam. Ia datang untuk mencari dan berbincang dengan Yesus di waktu malam hari.
2."Kerendahan hati":
Nikodemus mau diajar dan dibentuk Yesus. Walaupun Nikodemus adalah seorang tokoh agama terpandang, ia tak segan menyapa Yesus sebagai “Rabi (Guru). Ia mau belajar dari “Si Tukang Kayu”. Inilah sikap rendah hati, yang selalu terbuka dan mau terus blajar dari yang lain.
3."Perubahan hati":
Setelah berjumpa dengan Yesus, Nikodemus semakin rindu untuk belajar kepada Yesus. Hidupnya juga menjadi berubah dan berbuah sebagai orang beriman. Ia jadi berapi untuk membela Yesus di depan umum (Yoh 7:45-52). Bahkan, ia setia pada akhir kematian Yesus (Yoh 19:38-40). Ia juga yang membawa campuran minyak mur dan gaharu (Yoh 19:39) untuk membubuhi mayat Yesus.
Karena perubahan hatinya, ada pernyataan terkenal Yesus kepada Nikodemus yang baik untuk kita ingat: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa tapi beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).
"Dari Penang ke Tarsus - Mari menang dalam nama Tuhan Yesus."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
1.
"Via positiva - Jalan positif".
Itulah yang diharapkan pada hari ini bahwa kita selalu bisa berpikir positif bahkan terhadap pengalaman buruk dan musuh kita sekalipun karena tepatlah apa yang dikatakan oleh filsuf Prancis, Rene Descartes, "cogito ergo sum - aku berpikir maka aku ada."
Dengan kata lain:
Bukankah pikiran menentukan kualitas tindakan dan hidup kita?
Masalahnya:
Kita sering mudah berpikir buruk-berperasaan negatif dan menghakimi orang. Itulah yang juga terjadi pada diri orang-orang Yahudi yang mudah curiga dan mudah menghakimi tanpa melihat konteks utuhnya: asyik bicara "TENTANG" tapi tidak pernah bicara "DENGAN".
Baiklah kita sekarang belajar juga dari figur Nikodemus (Yun: "pemenang") dengan 3 sikap dasarnya seperti yang saya tulis dalam buku "TANDA" (Kanisius), al:
A."NI"at:
Dia datang malam hari untuk mencari dan menjumpai Yesus (Yoh 3). Sudahkah kita juga selalu punya "goodwill", niat baik dalam kata-kata dan pikiran kita?
B."KO"mitmen:
Nikodemus adalalah orang yang bersama Yusuf Arimatea menurunkan jenazah Yesus dan meminyakinya dengan banyak minyak wangi (Yoh 19). Ia setia mengikuti Tuhan. Sudahkah kita juga berkomitmen dalam gulat geliat iman kita?
C."DEmi Membela YesUS":
Hari ini, Nikodemus membela Yesus di depan teman-temannya, para Farisi yang suka menghakimi Yesus (Yoh 7). Ya, memang jelas bahwa Yesus tidak perlu dibela, tapi bukankah Yesus adalah "Sang Kebenaran-Kebaikan+Keadilan". Jada setiap kali kita membela hidup dan pikiran "yang benar-yang baik dan yang adil", kita juga membela Yesus sendiri yang hadir disitu?
"Berenang di kali - Jadilah pemenang buat yang Ilahi".
2.
Kutipan Teks Misa:
“Dengan kebangkitan-Nya, Tuhan memotong kematian dari daging.” (St. Agustinus).
“Kristus yang telah bangkit hidup dalam hati umat beriman” (Katekismus Gereja Katolik, 655)
Antifon Pembuka (bdk. Why 19:7.6)
Marilah kita bergembira dan memuliakan Tuhan, Raja yang Mahakuasa, alleluya.
Let us rejoice and be glad and give glory to God, for the Lord our God the Almighty reigns, alleluia.
Doa Pembuka
Allah Bapa Mahakuasa, semoga kami mewartakan kemuliaan Putra-Mu yang telah bangkit, agar dapat memperoleh kurnia yang Kaujanjikan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kisah Para Rasul (4:32-37)
"Mereka sehati dan sejiwa."
Kumpulan orang yang telah percaya akan Yesus sehati dan sejiwa. Dan tidak ada seorang pun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Di antara mereka tidak ada seorang pun yang berkekurangan. Karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 836
Ref. Segala bangsa bertepuk-tanganlah, berpekiklah untuk Allah raja semesta.
atau Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan!
Ayat. (Mzm 93:1ab.1cd-2.5)
1. Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, dan kekuatanlah ikat pinggang-Nya.
2. Sungguh, telah tegaklah dunia, tidak lagi goyah! Takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.
3. Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu berhiaskan kekudusan, ya Tuhan sepanjang masa.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 3:14b.15)
Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (3:7b-15)
"Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia."
Dalam percakapannya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Janganlah engkau heran karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau; engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu darimana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Nikodemus menjawab, katanya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui, dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan
Tujuan utama hidup manusia yang harus diperjuangkan ialah memperoleh hidup yang kekal. Hidup yang kekal berarti hidup bersama Allah selamanya. Sekarang ini di dunia, manusia hanya hidup sementara. Akan ada kehidupan baru setelah kita mati. Kehadiran Tuhan Yesus di dunia adalah bukti dari cinta kasih Allah yang mendalam kepada umat manusia. Allah menghendaki semua manusia memperoleh keselamatan. Tetapi untuk memeperoleh keselamatan manusia harus percaya kepada Allah. Percaya kepada Allah tidak hanya sekedar kata-kata seperti doa "Aku Percaya" yang biasanya kita ucapkan saat perayaan Ekaristi. Percaya kepada Allah harus diwujudkan dalam tindakan. Selain itu, orang yang percaya kepada Allah lebih banyak mengucap bersyukur dan memuji Allah. Kita bisa belajar dari umat Israel. Pada waktu mereka sudah menyeberangi laut Teberau mereka berungut-sungut kepada Allah dan kepada Musa. Akibatnya banyak dari mereka yang digigit ular. Dan kita sendiri bisa melihat pengalaman kita bahwa sikap bersungut-sungut justru membuat hati kita tidak tentram dan damai. Sebaliknya sikap bersyukur dan berserah kepada kebaikan Allah akan mendatangkan suka cita.
Antifon Komuni (Bdk. Luk 24:46,26)
Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, dan masuk ke dalam kemuliaan-Nya, alleluya.
The Christ had to suffer and rise from the dead, and so enter into his glory, alleluia.
Doa Malam
Ya Bapa, kini kami telah mengakhiri satu hari yang telah kami isi dengan berbagai pengalaman dan perjumpaan dengan sesama. Kami bersyukur karena kami boleh menyapa-Mu sebagai Bapa kami. Engkau selalu menyertai dan menjaga kami, maka dalam istirahat malam ini kami pun tetap Kaujaga dan Kaulindungi serta Kauantar kepada hari baru yang cerah. Doa ini kami unjukkan pada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Senin, 29 April 2019.

HIK : HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI
HARAPAN IMAN KASIH
29 April 2019.
St. Katarina dari Siena,
Perawan dan Pujangga Gereja
“Fluctuat nec mergitur - Terombang-ambing tapi tak tenggelam”.
Inilah motto kota Perancis yang juga saya tulis dalam buku “Carpe Diem” (RJK, Kanisius). Adapun, para murid Yesus juga “terombang-ambing” karena berada jauh dariNya. Inilah sebuah pemaknaan iman bahwa mereka berada dalam situasi keterpisahan dengan lima indikasi: “kedinginan-kegelapan-ketakutan-kegelisahan dan kebimbangan mendalam”. Ya, kapal yang mereka naiki terombang-ambing oleh badai dan gelombang di danau Galilea.
Adapun Danau Galilea terkait-paut dengan keberadaannya yang membentang luas di daerah Galilea (Mat 4:18; Mrk 1:16). Dlm KSPL, danau ini dikenal dengan yam Kinneret, karena bentuk danau itu menyerupai kecapi (Ibrani: ‘yam’= laut/danau, ‘kinnor’=kecapi). Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, danau ini juga disebut danau Genesaret (Mrk 6:53; Mat 14:34; Luk 5:1).
Dua ajaran iman yang mendasar kita peroleh dari kata-kata Yesus hari ini, antara lain:
A. ”Ini Aku”:
Ia membagikan kesaksian, karena ungkapan ini yang dalam bhs Yunani, “ego eimi”, mempunyai tekanan ilahi kuat untuk menggemakan nama Yahwe seperti yang terdapat dlm Yes 43:10,13,25. Jadi, Yesus adalah kehadiran ilahi.
B. “Jangan takut”:
Ia membagikan kekuatan. Sebuah analogi sederhana: kata “takut” memiliki 5 huruf, di tengah-tengah huruf itu ada huruf “K”, yg bisa berarti “Kristus.” Jadi, mengapa kita takut jika kita yakin dan mengimani ada “K”, yaitu “Kristus” di tengah-tengah pergulatan hidup kita?
Nah, bagaimana kita juga bisa belajar berbagi kekuatan dan kesaksian?
Mengacu pada Latihan Rohani Ignasian, ada empat langkah yg bisa kita buat, antara lain:
a. Kita perlu mempertegas visi misi hidup, yakni tercapainya keselamatan hidup karena memuji, menghormati dan mengabdi Allah.
b. Kita perlu menisbikan segala barang ciptaan yang ada di dalam maupun di luar tubuh kita.
c.Kita perlu mendalami-mengagumi dan merasuki misteri derita serta wafat Yesus Kristus untuk mencapai kebangkitan.
d.Marilah kita merasakan dan menikmati cinta Allah yang sudah ada dalam hidup kita, sehingga rasa takut tidak mendominasi hati dan hidup kita setiap harinya.
"Dari Kebon Kacang ke Pulau Tarsus – Walau hidup sedang tergoncang tetaplah dekat dg Yesus.”
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
1.
"Saevis tranquillus in undis - Tetap tenang dalam gelombang".
Inilah yang kita rasakan ketika ruwet renteng dan carut marut hidup kita letakkan dalam kasih dan penyelenggaraan ilahi. Tuhan jelas mengalahkan ketakutan itu sendiri.
Lihatlah kata "takut"! Bukankah di awal dan akhirnya terdapat huruf "T" yang artinya bisa dimaknai sebagai "Tuhan"? Dan bukankah pada huruf tengahnya ada "K" yang bisa dimaknai sebagai "Kristus"?
Dengan kata lain: Kita mengimani bahwa Tuhan selalu ada di awal dan akhir hidup kita dan juga hadir di tengah suka duka dan tawa tangis hidup kita. Pada hari Natal, Ia datang sebagai "Immanuel" yang menyertai kita dan pada hari Paskah, Ia datang sebagai "Alpha et Omega", yang ada di awal dan akhir hidup kita.
De facto, kita kerap terombang-ambingkan oleh berbagai macam "HTAG"-"Hambatan Tantangan Ancaman Gangguan, seperti perahu para murid yang diombang-ambingkan angin kencang di atas laut.
Inilah realitas yang mesti kita hadapi, tapi bersama Tuhan, kita pasti sampai di tujuan dengan selamat: "Ini Aku, Jangan takut" (Yoh 6:16-21). Ia selalu hadir dan menyertai kita.Ia tdk pernah meninggalkan kita asal kita juga setia untuk tinggal bersamaNya ("Manete in Deo"), lewat cinta-doa dan ekaristi yang kita rayakan dan wujudkan secara nyata dlm hidup sehari-hari.
"Makan bakut di warung jamu - Jangan takut karena Tuhan selalu besertamu."
2.
Pesan Paus Fransiskus.
"BIARKAN HIDUP KITA DITAKLUKKAN DAN DIUBAH OLEH KEBANGKITAN!"
Paus Fransiskus memimpin para peziarah di Lapangan Santo Petrus, Vatikan untuk menyanyikan dengan meriah "Kristus telah bangkit!"
"Di dalam Dia, melalui Pembaptisan kita, kita telah bangkit, kita telah berpindah dari kematian menuju kehidupan, dari perbudakan dosa menuju kebebasan kasih", kata Paus Fransiskus.
"Ini adalah kabar baik di mana kita dipanggil untuk membawanya kepada orang lain di setiap lingkungan, dijiwai oleh Roh Kudus", beliau berujar.
"Iman akan kebangkitan Yesus dan harapan yang telah Ia bawa kepada kita adalah karunia terindah yang dapat dan harus ditawarkan seorang Kristiani kepada saudara dan saudarinya". lanjut Paus Fransiskus.
"Kepada seseorang dan semua orang, oleh karena itu, janganlah bosan mengulang : Kristus telah bangkit", beliau mendesak umat yang hadir di Lapangan Santo Petrus, mengundang mereka untuk mengulangi kalimat itu bersama beliau sebanyak tiga kali.
Paus Fransiskus mengatakan Kabar Baik Kebangkitan seharusnya "bersinar dalam wajah kita, dalam perasaan kita dan dalam perilaku kita, dalam cara yang di dalamnya kita memperlakukan orang lain".
"Kita memberitakan kebangkitan Kristus ketika cahaya-Nya menerangi saat-saat gelap dari keberadaan kita, dan kita dapat membagikannya dengan orang lain; ketika kita tahu kapan harus tersenyum bersama orang-orang yang tersenyum, dan menangis bersama orang-orang yang menangis; ketika kita menemani orang-orang yang bersedih dan beresiko kehilangan harapan; ketika kita menceritakan pengalaman iman kita kepada mereka yang sedang mencari makna dan kebahagiaan", kata Paus Fransiskus.
"Dan di sana - dengan sikap kita, dengan kesaksian kita, dengan hidup kita - kita mengatakan 'Yesus telah bangkit', dengan jiwa kita".
Paus Fransiskus menyebutkan kebenaran yang "sukar dipahami" yang diberlakukan Liturgi dalam seluruh Oktaf - delapan hari - Paskah sebagai salah satu hari, untuk "membantu kita masuk ke dalam misteri" pesta.
3.
SEPANJANG JALAN KENANGAN :
Dari Yerusalem ke Emaus........
Dominus vivit – Tuhan itu hidup.
Dominus surrexit – Tuhan itu bangkit.
Ia yang hidup dan yang bangkit adalah Ia yang setia menyertai perjalanan kita seperti ketika Ia hadir dan berjalan bersama dengan dua murid menuju Emaus dalam bacaan injil hari ini. Ia menjadi Immanuel, yang menyertai kita dan Ia menjadi Alpha et Omega, Awal dan Akhir dalam setiap suka-duka dan gulat-geliat “dokar”, doa dan karya kita.
Pertanyaannya: Mengapa Emaus?
Secara geografis: Emaus adalah “dusun”, sebuah desa kecil yang letaknya kira-kira 11 km dari Yerusalem. Kerap lokasinya disamakan dengan “Emaus” yang disebut dalam kitab 1 Makabe (3:40-57; 4:3; 9:50) dimana di Emaus lah pernah terjadi kemenangan Yudas Makabe terhadap kekuasaan asing pada tahun 166 SM. Disinilah, Emaus seakan menyuburkan harapan akan datangnya seorang Mesias yang membangun kembali kejayaan bangsanya.
Tetapi secara teologis, Emaus bisa berarti: “Ekaristi Mengubah Aku Untuk Sembuh”. Ya, di tengah banyak penyakit dan rasa sakit, banyak orang yang mau sembuh bukan? Sembuh dari racun penyakit, sembuh dari rasa kecewa dan marah, sembuh dari luka dan prasangka, dari derita dan airmata yang kadang juga diciptakannya sendiri.
Nah, adapun tiga jalan iman ”Emaus Way” yang bisa membuat kita “sembuh”, semakin berakar dalam iman, bertumbuh dalam harapan dan berbuah dalam kasih. Tiga jalan “Emaus Way” itu, antara lain:
A. Via Purgativa – Jalan Pemurnian:
Emaus adalah sebuah dusun kecil. Namanya tidak banyak tercatat, tidak terkenal dan tidak menjadi tujuan wisata. Tidak ada kompleks perumahan, tak ada mall, plaza, kuliner ataupun sinagoga pun gereja yang megah dan indah. Ia bukanlah tempat yang menonjol dan ia tidaklah diperhitungkan.
Disinilah, kita diajak untuk mengalami pemurnian bahwa Tuhan memilih jalan yang kecil, yang tidak populer dan tidak diperhitungkan dan itulah “via dolorosa, jalan salib”. Ia mengingatkan kita bahwa derita adalah bagian tak terpisahkan dari cinta, bahwa yang redup itu dekat dengan yang hidup, bahwa tidak ada hidup tanpa pengorbanan, tidak ada kebangkitan tanpa kematian, dan tidak ada kemuliaan tanpa penyaliban.
Sebenarnya hidup kita sendiri adalah sebuah perjalanan seperti kedua murid Emaus itu. Kita sering ditimpa “malam gelap”: ketika hidup terasasuram dan muram, frustrasi dan tanpaekspresi, putus asa, merasa kecil dan tidak diperhitungkan sehingga sulit melihat kehadiran dan penyertaan Tuhan.
Disinilah, perjumpaan dengan Yesus yang menyertai di Jalan Emaus merupakan sebuah Jalan Pemurnian supaya kita sungguh berani hidup tulus, intentiopura dan bukan intentio pura-pura, serta tidak takut menderita bersamaNya, karena mengikutiNYA tidaklah selalu mulus dan lurus, karena tahtaNya juga bukan melulu singgasana yang indah dan megah tapi sebuah salib yang hina; pakaianNya bukan dari bahan yang halus berkilau-kilau tapi tubuh telanjang berlumur darah; mahkotaNya bukan dari emas tapi dari duri; tongkat pemerintahanNya adalah sebatang buluh dan minumNya adalah cuka dan empedu asam. Inilah jalan iman, “jalan turun” yang mesti kita lalui dengan rendah hati, yang dalam Bahasa Dom Helder Camara mendapatkan peneguhannya: “Tuhan bila SALIB menimpa kami maka hancurlah hidup kami, tapi bila Engkau yang datang bersama SALIB, Engkaulah yang setia memeluk kami.”
B. Via illuminativa – JalanPencerahan:
Hanya satu dari kedua orang murid tadi disebutkan namanya, yakni Kleopas (Luk 24:18). Mengapa? Siapa yang satunya? Lelaki atau perempuan? Injil tidak menjelaskannya karena sesungguhnya nama murid yang satu itu bisa jadi adalah nama diri kita sendiri, ya kita yang hina dandina ini, kita yang mudah terluka – kecewa dan patah semangat ini, kita yang mudah menggerutu dan sulit bersatu ini diperkenankan tercatat dan ikut berjalan bersama Yesus.
Perjalanan kita dari Yerusalem ke Emaus sendiri adalah sebuah proses katekisasi tentang Yesus. Caranya sederhana: Bersama Kleopas, kita diajak untuk bercerita, mengingat-ingat kembali semua yang sudah pernah didengar tentang Yesus. Sembari menceritakan rasa dan pengalaman tentang Yesus, kita-pun dicerahkan, dari “buta” menjadi “terbuka” serta dihadapkan kepada sumber-sumber yang sejati, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Disinilah, kita diajak untuk setia berbagi pengalaman iman dengan orang lain serta mau untuk terus belajar dari kitab suci dan Gereja Suci agar dicerahkan olehNya, dan tidak lagi menjadi “orang bodoh dan lamban pikiran” seperti yang dikecam Yesus.
C. Via Unitiva – JalanPersatuan:
Hati kedua murid yang awalnya membeku dan muram mulai mencair dan tentram. Itu tampak dalam hospitalitas, keramahan ketika mereka menawarkan tumpangan: "Mane Nobiscum Domine – Tuan, Tinggallah bersama kami!" Dan terjadilah, ketika Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah roti dan membagi-bagikannya kepada mereka, saat itulah mata kedua murid terbuka. Mereka melihat dan mengenali Yesus yang bangkit! Mereka mengalami bahwa kini Yang Ilahi bisa benar-benar hadir dan bersatu di tengah-tengah yang insani!
Pengalaman persatuan inilah yang sungguh mengubah mereka, yaitu dari hati yang ngoss/muram dan suram (Luk 24:17) kepada hati yang joss/hangat dan berkobar (Luk 24:32). Inilah "transformasi sejati”, dari hati amarah ke yang fitrah, dari hati yang iri ke yang fitri, dari hati takabur menjadi lebur, dari hati yang mencaci ke hati yang suci, dari hati yang banyak akal bulus kehati yang sungguh tulus dan kudus, dari hati yang galau menjadi hati yang berkilau karena yakin akan cinta dan penyertaannya Tuhan.
Dan….pengalaman persatuan ini bukan melulu berhenti pada waktu kita mengikuti perayaan ekaristi saja tapi sungguh lebih terjadi ketika kita juga mewujud-nyatakan apa yang kita rayakan, yakni menjadi pribadi ekaristis, menjadi “roti” dan “anggur” hidup, yang siap dan rela dipecah dan dibagi-bagi untuk yang lain, lewat KUD, K-arya yang murah hati, U-capan yang memberkati dan D-oa yang sepenuh hati.
“Cari bahan di Meruya – Pujilah nama Tuhan, Haleluya!”
4.
“Berhati-hatilah, untuk melaksanakan satu perayaan Ekaristi. Sebab terdapat satu Tubuh Tuhan kita, Yesus Kristus, dan satu piala Darah-Nya yang membuat kita satu, dan satu altar, sama seperti terdapat satu Uskup bersama dengan para imam dan diakon, sesama pelayan seperti saya.” (St. Ignatius dari Antiokhia)
Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Alleluya.
Cry out with joy to God, all the earth; O sing to the glory of his name. O render him glorious praise, alleluia.
Jubilate Deo omnis terra, alleluia: psalmum dicite nomine eius, alleluia: date gloriam laudi eius, alleluia, alleluia, alleluia.
Paus Pius XII dalam surat ensikliknya tentang Liturgi Suci, Mediator Dei (1947) mendefinisikan liturgi sebagai, “ibadat publik yang dilakukan oleh Penebus kita sebagai Kepala Gereja kepada Allah Bapa dan juga ibadat yang dilakukan oleh komunitas umat beriman kepada Pendirinya [yaitu Kristus], dan melalui Dia kepada Bapa. Singkatnya, liturgi adalah ibadat penyembahan yang dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus secara keseluruhan, yaitu Kepala dan anggota-anggota-Nya” (Mediator Dei, 20). Definisi ini terpenuhi dalam tingkat yang tertinggi dalam perayaan Ekaristi/ Misa kudus. Sebab dalam Misa Kudus, kurban Kristus yang satu dan sama itu oleh kuasa Roh Kudus, dihadirkan kembali oleh Gereja, untuk keselamatan umat manusia. Maka perayaan Misa adalah doa Gereja yang sempurna (par excellence), yaitu doa Kristus yang dipersembahkan oleh Gereja kepada Allah.
Bagi umat Kristen yang tidak mempercayai dan tidak melakukan perayaan Ekaristi, peristiwa perjalanan ke Emaus adalah seperti peristiwa di masa lalu dan sulit untuk dihubungkan dengan apa yang terjadi pada saat ini secara lebih mendalam. Namun, bagi umat Katolik, peristiwa ini dihadirkan kembali setiap hari, dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi yang menjadi pusat kehidupan Gereja perdana akan terus menjadi pusat kehidupan Gereja Katolik sampai akhir zaman, sampai terjadinya Perjamuan kawin Anak Domba (lih. Why 19:9). Dapat dikatakan bahwa iman akan Ekaristilah yang dapat menguak misteri Sabda Allah di Lukas 24:13-35 secara lebih mendalam, karena itulah yang dialami para murid, itulah yang dilakukan oleh jemaat perdana, itulah yang dilakukan oleh Gereja sepanjang sejarah Gereja, dan itulah yang dilakukan oleh Gereja Katolik saat ini, sampai segala abad. Sesungguhnya yang pertama kali mengajarkan tata cara perayaan Ekaristi [yaitu adanya liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi] adalah Tuhan Kristus sendiri, yaitu melalui penampakan-Nya kepada kedua orang murid di perjalanan ke Emaus (Lih. Luk 24:13-35); sedangkan tentang prinsip liturgi Ekaristinya sendiri mengacu kepada apa yang diajarkan Yesus dalam Perjamuan Terakhir dengan para Rasul-Nya (Mat 26:26-28; Mrk 14:27-31; Luk 22:24-38).
5.
Para murid mengenali Tuhan Yesus ketika Ia memecah-mecahkan roti, alleluya - The disciples recognized the Lord Jesus in the breaking of the bread, alleluia.
Cantate Domino, alleluia: cantate Domino, benedicite nomen eius: bene nuntiate de die in diem salutare eius, alleluia, alleluia. (Mzm 96:2)
Menyanyilah bagi Tuhan, alleluya, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari, alleluya, alleluya. (Mzm 96:2)
"Berhati-hatilah supaya kamu jangan menjadi rusak akibat mengasihi kaum sesat; oleh sebab itu, jangan menerima ajaran sesat apapun dengan mengatasnamakan kasih."—St. Yohanes Krisostomus
====
Inilah perawan bijaksana yang keluar menyongsong Kristus dengan pelita bernyala, alleluya.
Here is a wise virgin, from among the number of the prudent, who went forth with lighted lamp to meet Christ, alleluia.
Ya Allah, Engkau mengobarkan hati Santa Katarina dengan kasih ilahi setiap kali ia merenungkan sengsara Kristus dan melayani Gereja-Mu. Semoga berkat doa dan permohonannya umat-Mu, yang dipersatukan dengan misteri Kristus, selalu bersukacita memandang kemuliaan-Nya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

----------------------------------------------


HIK – HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN, IMAN, KASIH.
Senin, 29 April 2019
Peringatan Wajib St. Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja
Kisah Para Rasul (4:23-31)
(Mzm 2:1-3.4-7a.7b-9)
Yohanes (3:1-8)
“Nikodemus - Kaum Pemenang”
Nama Nikodemus disebut dalam beberapa tulisan apokrif seperti Injil Nikodemus (Nicodemi Evangelium).
Berdasarkan tradisi Kristiani, Nikodemus
("nikos": pemenang, "demos" : "rakyat/kaum/ bangsa) dianggap sebagai salah satu martir pada abad pertama. Ia adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi. Dengan kata lain:pengetahuan dan kesalehan Nikodemus tidak perlu diragukan.
Adapun tiga hal yang bisa kita petik sebagai “kaum pemenang”,antara lain :
1.Datang kepadaNya:
Nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam. Inilah sebuah simbol kerapuhan diri, yang gelap-pekat. Kita diajak untuk datang kepada sumber terang, terlebih ketika hidup terasa hambar: sumbunya mulai pudar dan nyalanya mulai redup.
2. Bersama denganNya:
Nikodemus yang bersama dengan Yesus perlu dilahirkan kembali agar mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Yesus kemudian menjelaskan bahwa orang baru dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kalau dilahirkan dari air dan roh.
Hal ini merujuk kepada Yeh. 36:25-27 yang menjelaskan bahwa air adalah tanda pentahiran, sedangkan Roh diberikan untuk memberikan pembaharuan. Ini menegaskan bahwa dosa telah membuat semua orang tidak layak masuk ke dalam kemuliaan Tuhan, kecuali bila dibaharui Roh.
3.Berbuah dalam namaNya:
Orang dapat dilahirkan kembali dari air dan roh jika percaya akan Yesus dan karena itu akan menerima roh hidup kekal. Bicara soal “roh”, baik dalam bahasa Ibrani (ruah) maupun dalam bahasa Yunani (pneuma), kata yang sama berarti angin/nafas. Dan, sebagaimana halnya dengan angin, sekalipun tidak tampak, namun diketahui karena aktivitas dan desirannya, demikian pula Roh Kudus diketahui melalui “buah”: tindakan nyata dalam keseharian hidup.
"Dari Pasar Baru ke Sriwedari - Mari lahir baru setiap hari."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
“Ya Allah, Engkau telah melimpahkan anugerah kepada Santa Katarina yang menghiasi jiwanya dengan kemurnian, kesabaran dan rahmat pertolonganMu, sehingga ia menang dalam melawan serangan roh-roh jahat. Dengan demikian ia tetap setia dalam kasih cinta kepada namaMu yang suci. Kami mohon, bantulah kami supaya mampu mengikuti teladannya, tak acuh terhadap kesia-siaan dunia, serta menang terhadap serangan musuh, sehingga kami dapat dengan damai mencapai kemuliaanMu di Surga. Oleh Kristus Tuhan kami. Amin.” (Doa Mohon Semangat St. Katarina dari Siena)
1.
MADAH HARIAN PAGI
(Senin, 29 April 2019 - Peringatan wajib Santa Katarina dari Siena, Perawan & Pujangga Gereja)
"Inilah perawan bijaksana yang keluar menyongsong Kristus dengan pelita bernyala, alleluya - Here is a wise virgin, from among the number of the prudent, who went forth with lighted lamp to meet Christ, alleluia."
Ya Allah, Engkau mengobarkan hati Santa Katarina dengan kasih ilahi setiap kali ia merenungkan sengsara Kristus dan melayani Gereja-Mu. Semoga berkat doa dan permohonannya umat-Mu, yang dipersatukan dengan misteri Kristus, selalu bersukacita memandang kemuliaan-Nya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Nyalakanlah pelitamu
Engkau perawan Tuhanku
Masuklah ke perjamuan
Teriring lagu pujian.
Bersatulah suci murni
Dengan pengantin surgawi
Dalam pelukan yang mesra
Bahagia selamanya.
Semoga Santa Maria
Ratu perawan semua
Sudi melindungi Greja
Yang berjuang di dunia.
Terpujilah Allah Bapa
Bersama Putra dan Roh-Nya
Yang memberi kemenangan
Kepada para perawan. Amin.
DOA
Allah mahapengasih, hati Santa Katarina Kaukobarkan dengan cinta ilahi dalam merenungkan penderitaan Kristus dan mengabdikan diri kepada Gereja. Semoga berkat doa permohonannya umat-Mu tetap diikutsertakan dalam penebusan Kristus dan bersukaria melihat kemuliaan-Nya. Sebab Dialah pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.
2.
Sketsa Historiografi.
MANE NOBISCUM DOMINE
(RJK, Buku "HERSTORY", Kanisius).
PROLOG
Katarina dari Siena (1347-1380) adalah seorang perempuan yang bergelar Pujangga Gereja. Mengenai orang kudus pelindung negeri Italia ini, kita mengutip apa yang ditulis oleh Rhonda Chervin (dalam Mary Neil OP dan Ronda Chervin, GREAT SAINTS - GREAT FRIENDS): “Cerita tentang Katarina dari Siena, meskipun kurang dikenal dibandingkan dengan cerita tentang Fransiskus dari Assisi, adalah cerita yang spektakuler, penuh semangat dan membuat dirinya disayangi. Siapa yang tidak akan merasa takjub membaca tentang seorang perempuan yang diangkat menjadi seorang Pujangga Gereja, yang tadinya buta huruf sampai diajar membaca oleh Yesus sendiri?”
SKETSA PROFIL
Gereja Katolik mengenal empat Santa Katarina dalam sejarahnya, dengan abad yang relatif berbeda jauh.
Ada Katarina dari Alexandria, yang hidup pada permulaan abad pertama.
Ada St. Katarina dari Bologna, yang terlahir pada tanggal 9 Maret 1463.
Yang ketiga adalah St. Katarina dari Laboure, yang dilahirkan 2 Mei 1806, di Fain-les-Motiers, Perancis, seorang suster biarawati dari Kongregasi Puteri Kasih yang juga mengalami penampakan Bunda Maria, yang terkenal dengan Medali Wasiatnya.
Pada tgl 29 April ini, kita akan mengenal Katarina yang keempat, yakni:
Katarina dari Siena.
Pada abad ke-14, kota Siena menjadi ibukota sebuah republik yang makmur dan merdeka. Di kota inilah, tepat pada perayaan Minggu Palma tahun 1347 yang jatuh pada tanggal 25 Maret, lahirlah Katarina. Keluarganya tergolong besar tapi sederhana. Katarina sendiri adalah anak ke-24 dari 25 anak (saudara kembarnya, anak ke-23, meninggal pada saat kelahiran).
Orangtuanya bernama Jacomo dan Mona Lapa Benincasa, yang bekerja sebagai tukang celup pakaian di Siena, Italia Utara. Sungguh berbahagia Mona Lapa isteri Jacomo ini, karena bayi yang dilahirkannya itu di kemudian hari menjadi pemudi termasyhur yang mengagungkan kota Siena, kota kelahirannya.
Mona Lapa, seorang perempuan yang berbudi baik dan sangat cekatan dalam menyelenggarakan rumah tangganya.
Namun keinginan akan kehidupan abadi belum dapat menggetarkan hatinya. Lapa selalu giat penuh perhatian bagi peristiwa-peristiwa dunia sekitarnya. Maka dari jantung ibu Mona Lapa mengalir sifat keberanian yang selalu siap giat ke dalam kalbu Katarina, sedangkan kebaktian serta kelembutan hati diwarisinya dari bapa Jacomo.
Katarina kecil, anak kesayangan penghuni Via dei Tintori ini amat riang lagi lemah lembut tingkah lakunya. Anak yang berparas ayu dan lincah ini bertumbuh menjadi gadis yang riang gembira, sedikit keras kepala tapi sangat religius. Katarina sendiri tidak bersekolah dan tidak pandai menulis. Keterampilan membaca sangat sedikit dikuasainya (hal ini sedikit menolongnya untuk mengikuti doa ofisi di kemudian hari ketika ia masuk biara).
Mulut Katarina sendiri tak mungkin diam. Tutur katanya ringan lagi cepat, bagai ombak air yang tak pernah surut. Katarina kecil selalu berlompat-lompatan sambil berlagu merdu. Hanya bila para biarawan Dominikan lewat, barulah Katarina tenang. Diamat-amatinya langkah para biarawan yang berjubah hitam putih. “Aku juga mau menjadi Dominikan kelak!” seru Katarina ketika barisan para biarawan telah melewatinya.
Dan gadis kecil itu tak mengerti mengapa ia ditertawakan. Bibirnya menjorok ke muka seakan-akan hendak menangis. “Tak mengapa manis, tapi para biarawan Dominikan harus banyak berdoa dan berdiam diri,” bujuk seorang wanita. “Aku pun dapat,” jawab Katarina kecil. Keteguhan hatinya mulai memancarkan keindahannya. Sejak hari itu, Katarina belajar berdiam dan berdoa beberapa saat setiap senja.
Pada suatu senja, ketika Katarina berumur kurang lebih 6 tahun, bersama Stephano kakaknya yang lebih tua sedikit, pulang dari rumah kakak Bonaventura yang letaknya dekat menara San Ansana. Tiba-tiba, di dekat bukit Camporeggi yang menghijau di sekeliling gereja San Domenico, Katarina berhenti. Matanya terbelalak tiada berkedip memandang jauh ke langit seakan-akan dilihatnya sesuatu yang indah. Stephano, yang tidak melihat apa-apa, marah kepada Katarina. Dipegangnya dan diguncang-guncangnya bahu adiknya sambil berteriak, “Katarina, gilakah engkau? Ayo! Kita harus pulang sebelum gelap!” Katarina mengeluh sambil memandang Stephano dengan penuh keheranan. Bisiknya dalam hatinya, “Ah! Sekarang hilang lenyap! Jika engkau pun dapat melihatnya tentu tak mengganggu.” Tanpa bercakap-cakap mereka beriring berjalan terus.
Beberapa wanita nampak sedang menanti di sumber mata air dan anak-anak sedang bermain di halaman rumah. Tapi Katarina tak mengacuhkan lagi hal itu. Segala sesuatu seakan berubah baginya. Ya, sejak senja itu, Katarina terpikat pada penampakan surgawi di langit terbelah.
Pada suatu hari, ketika ajakan itu menggema lagi dalam kalbunya, pergilah Katarina meninggalkan rumah ayah ibunya. Dan, ketika dilihatnya pintu gerbang Sant Sano terbuka lebar-lebar, ditinggalkannya pula kota Siena. Tiada lama antaranya, tibalah Katarina di lembah Vallepiatta yang kaya akan bukit karang dan gua-gua yang terbentuk oleh tetesan air hujan yang meresap ke dalam batu karang kapur.
“Hah, ini padang gurun tempat para pertapa tinggal,” pikir Katarina sambil memasuki sebuah gua. la berlutut dan mulai berdoa hingga melupakan segala sesuatu di sekelilingnya. Ketika Katarina kecil sadar kembali, matahari telah terbenam dan bunyi jangkrik telah ramai membelah kesunyian alam. Tiba-tiba Katarina merasa takut kalau-kalau pintu gerbang kota telah ditutup. Entah bagaimana, bagaikan melayang saja, Katarina telah tiba dekat Sant Sano.
Dalam perkembangan waktu, Katarina mengalami pelbagai peristiwa ajaib, yang memberi tanda surgawi bahwa ia akan dipilih Allah untuk suatu tugas khusus dalam Gereja. Ia juga pernah melihat Yesus Kristus di atas gereja Santo Dominikus yang sedang memberkatinya. Peristiwa ini menyebabkan perubahan besar dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia suka memencilkan diri untuk berdoa.
Dalam hidup doanya, Katarina sering mengalami penglihatan-penglihatan dan mendengar suara-suara. Setelah pengalaman itulah, hanya satu hal yang terang baginya, Katarina berjanji kelak tak akan menikah. Ia berniat mengabdikan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Tuhan. Sejak hari itu juga Katarina mulai berpantang untuk makan daging.
Melihat kepribadian dan kebiasaan Katarina yang suka menyendiri dan berdoa ini, Mona Lapa kadang bersungut-sungut, “Akan kusuruh bekerja hingga jera si keras kepala itu!” Namun Mona Lapa salah sangka. Katarina malahan bekerja dengan rajin sekuat tenaganya dengan penuh hormat dan ramah, tetapi ia tetap teguh memegang pendiriannya. Akhirnya bapa Jacomolah yang membantunya. Ia tak sampai hati melihat Katarina semakin pucat dan kurus. Maka pada suatu hari dilarangnya Mona Lapa “mengganggu” Katarina. “Biarlah anak itu menuruti dorongan kalbunya. Masakan kita berhak merintangi pergaulan yang suci itu. Malahan kita akan terberkati oleh doanya!”
Untuk mempersiapkan dirinya menjadi anggota Ordo Ketiga Dominikan, Katarina mengurung dirinya selama tiga tahun di bawah bengkel ayahnya. Dia keluar dari isolasinya pada tahun 1366 guna menanggapi dorongan untuk – dalam nama Kristus – melayani orang-orang sakit dan dipenjara. Dia juga melakukan evangelisasi, menjelaskan bahwa keberanian diperlukan seseorang apabila mau mengikuti jejak Kristus di dunia.
Di dalam biara, ia tetap melaksanakan doa dan meditasi di samping karya amal dan kerasulannya. Lama-kelamaan ia menjadi pusat perhatian semua anggota biara. Begitulah ia melanjutkan hidupnya, menjadi suster. Pemikirannya mengenai kehidupan menggereja dan teologi begitu tinggi walaupun ia tidak pernah mempelajari hal tersebut secara formal, hanya berdasarkan pengalaman imannya dalam kehidupan sehari-hari dan bimbingan rohani yang diterimanya dari Raymondus dari Capua.
Pengalaman mistisnya pun berlanjut terus, ia banyak mendapatkan penglihatan akan Yesus, Bunda Maria dan orang kudus lainnya. pada tahun 1375. Yah, sebagai seorang mistikus, Katarina mempunyai banyak pengalaman rohani yang berpuncak pada tahun 1375. Ia mengalami rasa sakit sama seperti yang dialami Yesus di kayu salib (stigmata). Akan tetapi gejala-gejala itu tidak terlihat dari luar.
Pengalaman-pengalaman mistik Katarina menginspirasikan Buku tentang Doktrin Ilahi, yang dinilai berisikan tulisan-tulisan tentang mistisisme Kristiani paling besar di abad ke 14. Semua tulisan Katarina sendiri dipenuhi dengan kesadaran akan cintakasih dan pengampunan Kristus.
Dia bercakap-cakap dengan Allah, yang mengatakan kepadanya hal-hal seperti mengapa orang-orang Kristiani harus mengasihi sesama mereka: “Jiwa yang mengenal Aku langsung berkembang untuk mengasihi sesamanya, karena dia melihat bahwa Aku mengasihi sesama itu dengan cara yang tak terlukiskan, jadi dia sendiri mengasihi obyek di mana dilihatnya Aku telah mengasihi lebih lagi. Dia juga akan lebih lanjut mengetahui bahwa dia tidak ada gunanya bagi-Ku dan bagaimana pun tidak dapat membayar kembali kepada-Ku cintakasih murni dengan mana dia merasakan dirinya dikasihi oleh-Ku, dengan demikian dia berusaha untuk membayar kembali itu melalui medium yang telah Kuberikan kepadanya, yaitu sesamanya, yang adalah medium yang melaluinya kamu semua dapat melayani Aku” (Lawrence G. Lovasik SVD, BEST – LOVED SAINTS, hal. 99).
Kesucian hidup Katarina juga menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat dan membawa banyak sekali pertobatan. Karena perhatiannya terhadap hal-hal yang bersifat kemasyarakatan, ia juga menjadi pusat perhatian seluruh lapisan warga kota Siena, baik itu bangsawan, rakyat jelata, maupun para rohaniwan dan kaum awam lainnya. Cerita-cerita mengenai penglihatan-penglihatan spiritual dan karya amalnya menarik sekelompok sahabat dan pengikutnya yang dikenal sebagai Caterinati yang selalu mengikuti ke mana saja Katarina pergi.
Menjelang usia 30 atau pada tahun 1377, ia menjadi juru damai antara penguasa Firenze dan negara Kepausan. Ia membujuk agar Paus Gregorius XI meninggalkan Avignon (Perancis) dan kembali ke Roma, Paus Gregorius pun menyetujuinya. Tetapi ketika Paus Gregorius wafat dan digantikan dengan Paus Urbanus VI, timbul perpecahan besar sehingga muncullah Paus tandingan.
Pada tahun 1378, Katarina dengan sekitar 24 orang pengikutnya berangkat ke Roma untuk mencoba membantu Paus Urbanus VI mengatasi masalah skisma kepausan.
Pada waktu itu ada dua orang anti paus, sehingga memecah-belah Gereja Barat ke dalam kelompok-kelompok yang saling bertentangan. Katarina berjuang keras membela Paus Urbanus VI dengan mendiktekan (Katarina tidak pernah belajar menulis) sebuah surat yang bernada ajakan tegas dan tak kenal kompromi kepada kaum gerejawan dan pemimpin awam dimana-mana.
Dalam pengamatan lebih lanjut, Katarina memang diakui memiliki kharisma yang besar untuk mempengaruhi banyak orang. Ia berhasil membawa kembali banyak pendosa ke jalan Tuhan, termasuk mendamaikan raja-raja dengan Gereja. Ia sendiri menganggap dirinya hanyalah alat Tuhan untuk menegakkan kemuliaan Tuhan.
Kumpulan surat-surat dan risalahnya yang menggambarkan kedekatannya dengan Tuhan membuahkan sebuah tulisan yang berjudul, “Dialogue” (percakapan).
Sebuah pengalaman rohani yang indah bersama dengan Tuhan dan merupakan tulisan yang menakjubkan serta menjadi harta karun bagi kehidupan sejarah iman dan spiritualitas dalam Gereja Katolik.
Masa Paskah di tahun 1380, Katarina mencapai umur 33 tahun. Ia tak berdaya lagi pergi ke gereja. Badannya hanya tinggal tulang terbalut kulit. Beberapa minggu Katarina jatuh sakit. Ia dirawat oleh Lisa dan ibu Mona Lapa. Pada tanggal 29 April tepat jam 12 siang, Katarina berpulang.
Harum mewangi sekeliling jenazahnya. Dan, meski jenazah itu tiga hari tinggal terbaring di peti, tetap bagus dan anggota tubuhnya mudah digerakkan seperti orang yang hanya tertidur saja. Pada saat itu barulah diketahui stigmata yang dialaminya bertahun-tahun sebelumnya.
Sekali lagi pohon-pohon zaitun di Via Romana melambai-lambaikan dahannya kepada Katarina pada tanggal 5 Mei 1383, ketika jenazah Katarina diusung dan akan dimakamkan di kotanya.
Ia sendiri dinyatakan kudus oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pada tahun 1970, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja. Katarina menerima kehormatan besar ini karena ia melayani Gereja Kristus dengan gagah berani sepanjang masa hidupnya yang singkat.
REFLEKSI TEOLOGIS
SEJUTA
“Setia, Jujur dan Takut akan Allah”.
“Nada te turbe, nada te espante,
quien a Dios tiene, nada le falta”, “
...Jangan biarkan sesuatu mengganggumu,
jangan biarkan sesuatu menakutkanmu,
barangsiapa memiliki Allah, ia tidak kekurangan sesuatupun...”,
(Br. Roger Schultz, Taize)
Sejuta adalah sebuah angka nominal dengan enam angka nol di belakangnya. Tapi sejuta sendiri sebenarnya punya arti, yakni : “Setia, Jujur dan Takut akan Allah”. Indahnya, Katarina dari Siena juga memiliki ketiga keutamaan iman ini.
- SETIA:
Situasi gereja pada masa itu kacau-balau. Imam-imam dan pimpinan Gereja tidak setia pada tugas perutusan Yesus. Pengkhianatan dan peperangan antar negara dan antar raja-raja juga timbul dimana-mana. Di samping itu, Paus di Avignon, Perancis yang sudah berusia 70 tahun menimbulkan percekcokan di kalangan pemimpin-pemimpin gereja.
Disinilah Katarina tetap setia pada Yesus dan Gerejanya. Katarina berhasil meyakinkan Paus untuk pulang ke Roma sebagai kota abadi dan pusat Gereja. Pada masa itu, Gereja mengalami banyak sekali masalah ketidaksetiaan dan banyak pertikaian yang terjadi di seluruh Italia. Dengan setia, Katarina kerap menulis surat-surat kepada para raja dan ratu. Ia bahkan datang menghadap para penguasa agar berdamai dengan paus dan mencegah peperangan.
Sebuah cerita lain:
Suatu malam, sebagian besar penduduk Siena ke luar ke jalan-jalan untuk suatu perayaan. Yesus menampakkan diri kepada Katarina yang sedang setia berdoa seorang diri dalam kamarnya. Bersama Yesus, datang juga Bunda Maria. Bunda Maria memegang tangan Katarina lalu memberikannya kepada Putra-nya. Yesus menyematkan sebentuk cincin di jari tangan Katarina dan ia menjadi pengantin-Nya. Katarina tidak pernah lupa bahwa Yesus ada dalam hatinya.
Melalui dia, Yesus setia memelihara orang-orang sakit yang dirawatnya. Melalui dia, Yesus setia menghibur para tahanan yang dikunjunginya di penjara.
- JUJUR:
Katarina adalah seorang yang amat jujur dan terus terang di hadapan Yesus. Suatu ketika ia bertanya kepada-Nya, “Di manakah Engkau, Tuhan, ketika aku mengalami cobaan yang begitu mengerikan?” Yesus menjawab, “Puteri-Ku, Aku ada dalam hatimu. Aku membuatmu menang dengan rahmat-Ku.” Yah, ia adalah seorang pribadi yang jujur kepada Tuhan, sebagai buah nyata atas kedekatannya dengan Tuhan.
- TAKUT AKAN ALLAH:
Alkitab menggunakan beberapa kata untuk mengartikan takut atau ketakutan. Yang paling umum adalah kata Ibrani יראה - YIR'AH dan פחד - PAKHAD, Yunani φοβος – phobos . Ketakutan yang kudus (ketaatan kepada Allah) adalah pemberian Allah, yang memampukan orang takut sekaligus menghormati kekuasaan Allah, mentaati perintah-perintah Allah, membenci sambil menjauhkan diri dari semua bentuk kejahatan. Lagi pula takut akan Tuhan itu permulaan hikmat (Mazmur 111:10), rahasia kelurusan hati (Amsal 8:13), ciri umat yang disenangi Allah (Mazmur 147:11), dan kewajiban setiap orang (Pengkhotbah 12:13).
Dan sikap iman inilah yang dimiliki oleh Katarina Siena sejak masa mudanya.
Begini kisahnya:
Dalam perjalanan waktu, ketika Katarina berumur 12 tahun. Kemudian Mona Lapa, ibunya mulai mempengaruhi Katarina. Dibujuknya Katarina, supaya ia mau bersolek sedikit dan dilarang bepergian seorang diri. Rupanya Katarina terbujuk oleh ibunya, hingga pada bulan Agustus tahun 1362, Bonaventura kakak yang sangat dicintainya meninggal dengan tiba-tiba.
Tiba-tiba pula, sadarlah Katarina akan keteledorannya. Katarina sangat menyesali kelalaiannya akan janji sucinya itu. Yah, walaupun pada awalnya, ayah dan ibunya menghendaki agar ia menikah dan hidup bahagia. Tetapi, Katarina hanya ingin menjadi seorang biarawati. Untuk menyatakan tekadnya, ia memotong rambutnya yang panjang dan indah. Ia ingin menjadikan dirinya tidak menarik.
Orangtuanya amat jengkel dan seringkali memarahinya. Mereka juga menghukumnya dengan memberinya pekerjaan rumah tangga yang paling berat. Tetapi Katarina pantang menyerah karena takutnya pada Tuhan jauh lebih besar daripada takutnya terhadap orang lain. Semenjak masuk ke dalam Ordo ketiga Santo Dominikus, Katarina juga makin memperkeras puasanya dan mempererat kedekatannya dengan Yesus.
EPILOG
Katarina dari Siena adalah seorang anggota Dominikan awam yang meneladani dan mengikuti semangat St. Dominikus. Dalam hidupnya, Katarina menghabiskan hidupnya berbicara dengan Tuhan, tentang Tuhan dan bersama Tuhan. Ia juga menerima stigmata sebagai tanda kesalehan hidupnya. Jelaslah, ia merupakan salah seorang yang paling populer dari semua orang kudus perempuan yang memiliki karunia profetis (kenabian).
Kebesaran dan kepopuleran Katarina bukan karena kegiatan politis dan sosialnya, tetapi terlebih dalam kesucian, kepercayaan dan perhatiannya yang meluap-luap terhadap rakyat jelata dan keselamatan sesama manusia. Meskipun dia banyak melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial dan politik zamannya, yang patut dicatat adalah kesuciannya dan kepercayaannya akan perlunya persatuan dan kesatuan umat Kristiani.
Maka, bersama Katarina dari Siena, bolehlah kita senantiasa berseru penuh harap, ‘Mane Nobiscum Domine - Tuhan, tinggallah bersama kami”.
ASPIRASI.
“Engkau bagaikan misteri yang dalam sedalam lautan; semakin aku mencari, semakin aku menemukan, dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari Engkau.
Tetapi, aku tidak akan pernah merasa puas; apa yang aku terima menjadikanku semakin merindukannya. Apabila Engkau mengisi jiwaku, rasa laparku semakin bertambah, menjadikanku semakin kelaparan akan terang-Mu.” (Katarina dari Siena)
3.
"Dominus te cum - Tuhan sertamu!"
Inilah yang dialami oleh Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi dan kaum Farisi. Namanya disebut dalam beberapa tulisan apokrif seperti Injil Nikodemus (Nicodemi Evangelium). Ia juga dianggap sebagai salah satu martir pada abad pertama dan diperingati setiap 3 Agustus sebagai orang yang berhati lurus dan setia.
Adapun nama "Nikodemus" berarti: "nikos" ("pemenang") dan "demos" ("rakyat/bangsa") dengan 3 sikap dasarnya, antara lain:
A."Mengetahui Yesus":
Nikodemus percaya dan tahu benar bahwa Yesus adalah seorang Guru yang diutus Allah: "Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."
B."Menjumpai Yesus":
Dia ingin bertemu dan bercakap-cakap dengan Yesus. Ia datang pada waktu malam untuk berbicara secara pribadi. Hal ini terjadi pada tahun pertama Yesus memulai pelayanannya dalam rangka perayaan Paskah di Yerusalem. Inti percakapan Yesus dan Nikodemus adalah tentang "lahir kembali" dan "hidup kekal".
Sebuah pernyataan terkenal Yesus kepadanya: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.”
C."Mencintai Yesus":
"Lamentation" (Ratapan atas kematian Kristus) adalah sebuah karya Giotto yang menggambarkan kecintaan Nikodemus. Setelah Yesus mati disalibkan, Yusuf Arimatea meminta kepada Pilatus supaya diperbolehkan menurunkan mayat Yesus dan menguburkannya. Nikodemus juga datang kesitu dan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira 50 kati beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah.
Dengan kata lain:
Nikodemus adalah orang yang setia mencintai Yesus sampai mati. Bagaimana dengan kita?
"Abdullah berenang bersama Johan - Jadilah kaum pemenang bersama Tuhan."
4.
"Unless one is born anew"
Scripture: John 3:1-8
Now there was a man of the Pharisees, named Nicodemus, a ruler of the Jews. This man came to Jesus by night and said to him, "Rabbi, we know that you are a teacher come from God; for no one can do these signs that you do, unless God is with him." Jesus answered him, "Truly, truly, I say to you, unless one is born anew, he cannot see the kingdom of God." Nicodemus said to him, "How can a man be born when he is old? Can he enter a second time into his mother's womb and be born?" Jesus answered, "Truly, truly, I say to you, unless one is born of water and the Spirit, he cannot enter the kingdom of God. That which is born of the flesh is flesh, and that which is born of the Spirit is spirit. Do not marvel that I said to you, `You must be born anew.' The wind blows where it wills, and you hear the sound of it, but you do not know whence it comes or whither it goes; so it is with every one who is born of the Spirit."
Meditation
Do you nourish your faith with prayerful reflection of the word of God? When Nicodemus heard about Jesus' miracles and extraordinary teaching, he decided to meet with him privately, away from the crowds and the public spotlight. Nicodemus was no ordinary Jew. He was a religious ruler and member of the Sanhedrin, which was the supreme court of the Jews, and a teacher of Israel (John 3:10). He was a devout Pharisee who sought to perfectly follow the law of Moses, as prescribed in the Five Books of Moses (Genesis, Exodus, Deuteronomy, Leviticus, and Numbers) and further elaborated in the numerous scribal laws, recorded in the Mishnah and the Talmud.
Nicodemus decided to meet with Jesus at night, possibly for two reasons. He may have been cautious and not ready to publicly associate himself with Jesus since many Pharisees opposed Jesus' teaching and called him a Sabbath breaker. It is also likely that Nicodemus chose the night as the best time for seeking a private and undisturbed conversation with Jesus. The rabbis declared that the best time to study the law was at night after the day's work was completed and the household was at rest. When Nicodemus saw Jesus he addressed him as rabbi (a teacher of God's word and law) and acknowledged that Jesus' teaching came from God.
Jesus' conversation with Nicodemus went to the very heart of the Mosaic law - how can one get right with God and enter God's kingdom? Jesus' answer was brief and startling: "Unless one is born anew, he cannot see God." The new birth which Jesus spoke about was not a physical birth but the beginning of a spiritual birth which is something completely new and radical, and from above, namely from God himself. Jesus said that this rebirth was necessary if one was to enter God's kingdom.
Nicodemus thought that to be born again, even spiritually, was impossible. He probably knew too well from experience that anyone who wants to be changed from within, can't accomplish this by oneself. Jesus explained that this change could only come about through the work and action of the Holy Spirit. This rebirth in the Spirit is very real and experiential, like the wind which can be felt and heard while it is visibly unseen to the naked eye.
Rebirth in the Spirit
What does it mean to be reborn in the Spirit? The new birth which Jesus speaks of is a spiritual birth to a life which is transformed through the power of God. This new life brings us into an experiential relationship with God as his adopted sons and daughters (Romans 6:4; 8:10-11). This new birth is made possible when one is baptized into Christ and receives the gift of the Holy Spirit. God wants to renew all of his people in the gift of new life in his Holy Spirit. This new life in the Spirit brings us into God's kingdom of righteousness, peace, and joy (Romans 14:17).
What is the kingdom of God - which is also called the kingdom of heaven? God's kingdom - his reign and blessing as King over us - is the abundant everlasting life and power from heaven which God shares with those who accept him as the Eternal Father and Author of Life and Ruler of All he has created. Jesus explains in the prayer he gave to his disciples, what we call the Lord's Prayer or the Our Father, that God's kingdom is that society of men and women who acknowledge God as their Lord and Ruler and who obey his word and live according to his will on earth as it is in heaven (Matthew 6:10).
To be reborn in the Spirit is to enter that society in which God is honored and obeyed. Those who willingly accept God's rule in their lives become citizens of God's heavenly kingdom and members of God's family - his adopted sons and daughters. And they enter into possession of the life which comes from God himself, an everlasting life of love, peace, joy, and freedom from sin, oppression, and corruption. Do you know the joy and freedom of the new birth and abundant life which Jesus Christ has won for you?
"Lord Jesus Christ, you offer us abundant new life and power to live as sons and daughters of our Father in heaven. Renew in me the gift of faith to accept and obey your life-giving word and to cooperate with the transforming power of your Holy Spirit who changes us into your likeness. May your kingdom come and your will be done in my life today, tomorrow, and always."
Psalm 2:1-9
Why do the nations conspire, and the peoples plot in vain?
The kings of the earth set themselves, and the rulers take
counsel together, against the LORD and his anointed,
saying,
"Let us burst their bonds asunder, and cast their cords
from us."
He who sits in the heavens laughs; the LORD has them in
derision.
Then he will speak to them in his wrath, and terrify them
in his fury, saying,
"I have set my king on Zion, my holy hill."
I will tell of the decree of the LORD: He said to me,
"You are my son, today I have begotten you.
Ask of me, and I will make the nations your heritage, and
the ends of the earth your possession.
You shall break them with a rod of iron, and dash them
in pieces like a potter's vessel."
Daily Quote from the Early Church Fathers
"And then that rebirth, which brings about the forgiveness of all past sins, takes place in the Holy Spirit, according to the Lord's own words, 'Unless one is born of water and the Spirit, one cannot enter the kingdom of God.' But it is one thing to be born of the Spirit, another to be fed by the Spirit; just as it is one thing to be born of the flesh, which happens when a mother gives birth, and another to be fed from the flesh, which appears when she nurses the baby. We see the child turn to drink with delight from the bosom of her who brought it forth to life. Its life continues to be nourished by the same source which brought it into being." (Augustine of Hippo, 354-430 A.D., excerpt from Sermon 71.19)
5.
Kutipan Teks Misa.
"Berhati-hatilah supaya kamu jangan menjadi rusak akibat mengasihi kaum sesat; oleh sebab itu, jangan menerima ajaran sesat apapun dengan mengatasnamakan kasih."—St. Yohanes Krisostomus
Antifon Pembuka
Inilah perawan bijaksana yang keluar menyongsong Kristus dengan pelita bernyala, alleluya.
Here is a wise virgin, from among the number of the prudent, who went forth with lighted lamp to meet Christ, alleluia.
Doa Pembuka
Ya Allah, Engkau mengobarkan hati Santa Katarina dengan kasih ilahi setiap kali ia merenungkan sengsara Kristus dan melayani Gereja-Mu. Semoga berkat doa dan permohonannya umat-Mu, yang dipersatukan dengan misteri Kristus, selalu bersukacita memandang kemuliaan-Nya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kisah Para Rasul (4:23-31)
"Ketika para rasul berdoa, mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani."
Setelah dilepaskan oleh Mahkamah Agama Yahudi, pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya, “Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap, dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi. Mereka melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu. Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami. Maka berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu. Mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Mu, ya Tuhan
Ayat. (Mzm 2:1-3.4-7a.7b-9)
1. Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya: “Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari kita!”
2. Dia, yang bersemayam di surga, tertawa; Tuhan memperolok-olok mereka. Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya, Ia mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya: “Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!”
3.Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan: Ia berkata kepadaku, “Anak-Kulah Engkau! Pada hari ini Engkau telah Kuperanakkan. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, dan memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.”
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Kol 3:1)
Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (3:1-8)
"Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus; ia seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang kepada Yesus pada waktu malam dan berkata, “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, kata-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimana mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Janganlah engkau heran karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau; engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu darimana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan
Bacaan Injil hari ini mengkisahkan tentang Nikodemus seorang pemimpin Yahudi yang melihat tanda-tanda yang dibuat Kristus yang tak seorang pun mampu mengadakan tanda seperti yang dibuat Yesus. Yesus berkata bahwa seseorang harus dilahirkan kembali di dalam air dan Roh agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (lih. Yoh 3:5). Kelahiran kembali di dalam air dan Roh inilah yang disebut sebagai Pembaptisan. Karena itu, Pembaptisan ini menjadi pintu gerbang kehidupan di dalam Roh dan awal yang memungkinkan kita menerima sakramen-sakramen yang lain, yang menguduskan kita dan mengarahkan kita kepada keselamatan kekal. Melalui Pembaptisan, dosa-dosa kita diampuni; kita dilahirkan kembali sebagai anak-anak angkat Allah, sebagai anggota Kristus dan dipersatukan dengan Gereja-Nya, serta mengambil bagian di dalam misi Gereja. Tanpa Yesus dan belas kasih Allah maka kita akan sulit mencari dan mendapatkan kejelasan tentang keselamatan tersebut. Maka, kita pun sudah seharusnya dilahirkan terus-menerus dalam nama Yesus tanpa memandang umur. Siapa pun, usia berapa pun, dan dalam keadaan apa pun, setiap orang dapat menerima Allah kapan pun juga. Sebab Roh Allah akan pergi ke mana pun ia mau untuk menyelamatkan domba-domba-Nya. Janganlah kamu heran. Allah bertindak maka semuanya terjadi.
Antifon Komuni (Yoh 17:24)
Ya Bapa, Aku menghendaki agar semua orang yang Kauserahkan kepada-Ku, tinggal bersama Aku di tempat Aku berada, supaya mereka memandang kemuliaan, yang telah Kauberikan kepada-Ku. Alleluya.
Doa Malam
Terima kasih, ya Tuhan, atas rahmat Pembaptisan yang telah kuterima. Semoga Sakramen yang selalu menyertai langkah hidupku sehari-hari, menjaga aku dari segala keinginan yang tak teratur. Amin

Minggu Pesta Kerahiman Ilahi 28 April 2019

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Minggu Pesta Kerahiman Ilahi
28 April 2019
“Misericordia – Kerahiman Ilahi”
Inilah tema pokok pada Minggu Paskah II yang kita rayakan hari Minggu ini, 28/4/2019.
Secara semiotik, kata "kerahiman" (Ibr: "rahamim") terkait dengan kata "rehem" ("rahim, kandungan"), menunjuk pada belas kasih Allah yang sifatnya seperti rahim Ibu "Sang Bunda Pemersatu": seorang ibu yang hadir untuk melindungi-menghidupi- menghangatkan-memberi pertumbuhan-menjaga dan mengasihi tanpa syarat.
Dan, bersama dengan syukur atas rahmat kerahiman Tuhan untuk kita, mengacu pada peziarahan saya ketika napak tilas dan berkesempatan memimpin misa di Biara St Faustina Krakow dan tempat favorit St John Paul II di Jasna Gora Polandia, adapun seluruh novena menjelang Pesta Kerahiman dan sekaligus HMKI - Hari Minggu Kerahiman Ilahi ini adalah usaha PENGUDUSAN, "conceratio", yakni: dikuduskan kepada ALLAH sekaligus digabungkan dengan GEREJA yang menyertainya, dimana Gereja yang rahim adalah "rumah bersama", bukan melulu museum untuk para kudus tapi terlebih juga rumah buat para pendosa dan yang acuh tak acuh pada kerahiman TUHAN.
Jelasnya, kita semua terlebih yang menghayati kerahiman dipanggil untuk menjadi kudus, yakni menjadi milik khusus Bapa dan komunitas, bukan milik diri sendiri lagi. Menjadi berkat dan berbagi berkat, juga bagi setiap orang yang pernah menyakiti hati kita, sehingga nama TUHAN terus dimuliakan dan keselamatan sesama terus diperjuangkan.
Mengacu pada pesan kerahiman Yesus sendiri, adapun "tiga vitamin iman" supaya kita sungguh menjadi kudus dan menjadi milik khususnya Allah dan Gereja yang juga merangkul "unchurched people", orang yang acuh tak acuh, yaitu:
A:
Ask for His Mercy ~ Mohon Belas Kasih Allah
Tuhan mau supaya kita memiliki “HARAPAN" kepadaNYA.
Pada bagian Injil di Masa Paska, Tuhan selalu memberikan harapan yang penuh kedamaian di tengah kegalauan, bahkan diserukanNya sampai 3x (Yoh 20:19b.21.26b): "DAMAI SEJAHTERA BAGIMU".
Ya, jika dalam masa Natal, Tuhan banyak disebut sebagai “Imanuel-Tuhan beserta kita”, maka dalam masa Paskah, Ia disebut sebagai “Alpha et Omega-Awal dan Akhir” karena Ia selalu hadir dari awal sampai akhir hidup kita.
Disinilah, kita sebagai pribadi dan komunitas diajak untuk setia mengajak orang lain untuk datang kepada-Nya dalam doa, bertobat dengan sungguh dimana dalam bahasa St Benediktus, datang dengan "pertobatan yang sungguh (ad veram morum conversionem) dan terpusat pada ketaatan yang iklas "(alacri oboedientia).
Jelasnya, dengan modal "sejuta", SEtia - JUjur dan TAkut akan Allah, kita diajak untuk terus menyesali dosa-dosa kita dan mohon kepada-Nya untuk terus mencurahkan belas kasih-Nya atas kita, komunitas dan atas seluruh dunia terlebih untuk mereka yang "kuli" - kurang peduli, "kuman" - kurang beriman, "kudis" - kurang disiplin, "kutu" - kurang bersekutu, "kurap" - kurang berharap, "kuper" - kurang percaya, "kusem" - kurang semangat dan "kutang" - kurang tanggung jawab:.
Yesus sendiri berpesan kepada St Faustina: “Jiwa-jiwa yang mohon belas kasih-Ku menyenangkan hati-Ku. Kepada jiwa-jiwa ini aku menganugerahkan bahkan lebih banyak dari yang mereka minta. Aku tak dapat menghukum bahkan seorang pendosa besar sekalipun, jika ia mohon belas kasih-Ku (1146)…. Mohonlah belas kasih bagi seluruh dunia (570)…. Tak satu jiwa pun yang mohon belas kasih-Ku akan dikecewakan (1541).”)
B:
Be Merciful ~ Berbelas Kasih kepada Sesama
Tuhan mau supaya kita memiliki “KASIH" kepadaNYA.
Kita menerima belas kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama.
Dengan sepenuhnya menjadi milik khusus Allah dengan cara menjadi milik khusus Gereja, kita bisa belajar berbelaskasih terlebih kepada mereka yang acuh dan "kuli" alias"kurang peduli", lewat tiga hal berpola "KUD"
K: Karya yang murah hati
U: Ucapan yang memberkati
D: Doa yang sepenuh hati, entah pribadi atau bersama.
Pesan Yesus sendiri kepada St Faustina: “Aku menghendaki dari kalian perbuatan-perbuatan belas kasih yang timbul karena kasih kepada-Ku. Hendaklah kalian menunjukkan belas kasih kepada sesama di setiap waktu dan di setiap tempat. Janganlah kalian berkecil hati atau berusaha mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya…. Bahkan iman yang terkuat sekalipun tak akan ada gunanya tanpa perbuatan (742)…. Apabila jiwa tak melakukan perbuatan belas kasih dengan cara apapun, ia tak akan mendapatkan belas kasih-Ku pada hari penghakiman (1317).”)
C:
Completely Trust ~ Percaya Penuh kepada-Nya
Tuhan mau supaya kita memiliki “IMAN" kepadaNYA.
Ia memberikan kekuatan dan keberanian kepada kita yang kadang dicekam ketakutan. Seperti bacaan injil pada Pesta Kerahiman, “Tuhan” yang pada awalnya disangka sebagai “Hantu” berkenan masuk ke dalam rumah untuk hadir dan menguatkan iman para murid. Dan seperti pada bacaan Injil di masa Paskah dan Natal, Tuhan selalu berkata: "Jangan takut!"
Disinilah, kita semakin tahu bahwa rahmat-rahmat belas kasih-Nya tergantung pada besarnya iman kita. Semakin kita percaya kepada-Nya, semakin berlimpah rahmat yang kita terima sehingga kita tidak mudah takut dan kecut tapi tetap tegar sabar dan berkobar.
Paus Yohanes Paulus II (Paus Kerahiman) sendiri pernah berkata: "Jangan takut !
Milikilah keberanian dan kerendahan hati untuk menampilkan pada dunia; dirimu yang bertekad untuk menjadi suci, karena kebebasan yang penuh dan sejati lahir dari kesucian."
Yang pasti, St.Agustinus juga pernah mengatakan: “Dengan pengakuan Thomas dan dengan menjamah luka-luka Tuhan, ia sudah mengajarkan kepada kita apa yang harus dan patut kita percayai. Ia melihat “sesuatu” dan percaya akan “sesuatu”. Matanya memandang kemanusiaan Yesus, namun imannya mengakui keallahan Yesus, sehingga dengan suara penuh kegembiraan tercampur penyesalan mendalam ia berseru dengan penuh kedamaian: ‘Ya Tuhanku dan Allahku.”
Pesan Yesus sendiri kepada St Faustina:
“Aku telah membuka Hati-Ku sebagai sumber belas kasih yang hidup. Biarlah segenap jiwa menimba hidup darinya. Biarlah mereka menghampiri samudera belas kasih ini dengan penuh kepercayaan (1520). Di salib, sumber belas kasih-Ku dibuka lebar-lebar dengan tombak bagi segenap jiwa - tak suatu jiwa pun Aku kecualikan! (1182). Rahmat-rahmat belas kasih-Ku diperoleh dengan sarana satu timba saja, yaitu - kepercayaan. Semakin suatu jiwa percaya, semakin banyak ia menerima (1578)”
Akhirnya, bersama dengan "dokar:, yakni doa dan karya kita untuk gereja dan dunia, semoga kita semakin hidup kudus dengan tiga vitamin iman di hari yang penuh syukur ini:
A sk for His Mercy
B e Merciful
C ompletely Trust
Cari kardus di Kramat Jati - Jadilah kudus sampai mati.
Ikan louhan di Salatiga - Berkat Tuhan buat kita sekeluarga
Dari Mekah ke kota Surabaya - Selamat Paskah. Haleluia
Marilah Berdoa:
Bapa yang kekal, pandanglah dengan mata penuh kerahiman pada jiwa-jiwa kami. Dari hati-Nya yang maharahim, Putera-Mu pernah mengeluarkan keluhan di Bukit Zaitun, “Biarlah cawan ini berlalu daripada-Ku." (Mat26:39).
Kami mohon demi sengsara yang dahsyat dari Putera-Mu terkasih Tuhan kami Yesus Kristus dan demi sakratul maut-Nya selama 3 jam di salib, nyalakanlah semangat baru dalam hati kami, untuk menjunjung kehormatan-Mu.
Tuangkanlah ke dalam hati kami, harapan iman dan kasih yang benar, supaya kami hidup kembali dan mampu melaksanakan perbuatan belas kasih di dunia ini dan akhirnya memuji kerahiman-Mu di surga untuk selama-lamanya. Amin
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
SEKILAS TENTANG "HMKI - HARI MINGGU KERAHIMAN ILAHI"
Pada tanggal 30 April 2000, bertepatan dengan proses kanonisasi Santa Faustina Kowalska, Paus Yohanes Paulus II mengumumkan bahwa Hari Minggu Paskah II, hari Oktaf Paskah (hari ke-7 setelah Paskah), sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi dan Gereja Katolik di seluruh dunia diminta untuk merayakannya.
Pemberian nama ini mirip dengan hari oktaf Natal (hari ke-7 setelah Natal) yang disebut Hari Raya Bunda Allah (1 Januari).
Santa Faustina Kowalska adalah seorang biarawati yang mendapat penampakan-penampakan Yesus dan menggalakkan devosi kepada Kerahiman Ilahi.
Pengumuman Paus Yohanes Paulus II ini kemudian ditindaklanjuti oleh Kongregasi untuk Ibadat dan Sakramen.
Melalui Dekrit "Misericos et Miserator" yang diterbitkan pada 5 Mei 2000, Kongregasi untuk Ibadat dan Sakramen menyatakan secara resmi bahwa Hari Minggu Paskah II disebut Hari Minggu Kerahiman Ilahi, saat untuk mengenang karunia-karunia rahmat Bapa yang Maharahim.
KWI sudah mencantumkan hal ini sejak tahun 2001 dalam buku Penanggalan Liturgi. Jadi, perayaan Hari Minggu Kerahiman Ilahi bukanlah manasuka, tapi wajib untuk seluruh Gereja. Perayaan Kerahiman Ilahi adalah perayaan resmi Gereja dan berlaku untuk semua Gereja Katolik sedunia.
Pesta Kerahiman Ilahi juga bukan peringatan untuk Santa Faustina Kowalska, sebab pada Minggu Paskah II itu tidak disebutkan sama sekali nama Santa Faustina Kowalska.
Meski devosi Kerahiman Ilahi didasarkan pada wahyu pribadi yang diterima Santa Faustina, tetapi perayaan tersebut tidak harus merujuk pada devosi Kerahiman Ilahi yang digalakkan Santa Faustina.
Perayaan Kerahiman Ilahi juga tidak bisa disebut sebagai milik gerakan devosional Kerahiman Ilahi tersebut. Maka, kurang tepat jika dikatakan bahwa Hari Minggu Kerahiman Ilahi ini mencampurkan devosi dan liturgi resmi Gereja.
Pentingnya Kerahiman Ilahi berulang-ulang digarisbawahi Paus Yohanes Paulus II, bahkan sampai saat-saat terakhir hidupnya.
Pada saat terakhir hidupnya, 2 April 2005, beliau menuliskan pesan kepada dunia. Isi pesan ini kemudian diumumkan pada saat doa Angelus pada hari Minggu Kerahiman Ilahi, 3 April 2005.
Pesan itu berbunyi: "Sebagai karunia kepada umat manusia, yang kadang tampak bingung dan terdesak oleh kuasa kejahatan, egoisme, dan ketakutan, Tuhan yang bangkit menawarkan kasih-Nya yang mengampuni, mendamaikan, dan membuka kembali hati bagi kasih. Inilah sebuah kasih yang mempertobatkan hati dan memberikan damai. Betapa dunia perlu mengerti dan menerima Kerahiman Ilahi! Tuhan, yang menyatakan kasih Bapa dengan wafat dan kebangkitan-Mu, kami percaya pada-Mu dan dengan yakin mengulangi kepada-Mu hari ini: Yesus, Engkau andalanku, limpahkan kerahiman atas kami dan atas seluruh dunia".
Nama "Kerahiman Ilahi" dengan indah sekali sangat cocok dengan doa-doa, bacaan-bacaan, dan Mazmur pada hari raya itu, yaitu tentang Kerahiman Ilahi.
Sesungguhnya perayaan ini merujuk pada kasih kerahiman Allah yang sudah tampak dalam tradisi kuno dan sudah diungkapkan dalam liturgi hari Minggu Paskah II itu.
Secara liturgis, perayaan Oktaf Paskah itu selalu dipusatkan pada tema Kerahiman Ilahi dan pengampunan.
Maka, Bapa Suci hanyalah mengeksplisitkan apa yang sudah ada dalam liturgi Gereja dan secara resmi menetapkannya sebagai perayaan liturgis Gereja Universal.
Paus Yohanes Paulus II menunjukkan Kerahiman Ilahi itu dalam khotbahnya sesudah doa Regina Caeli pada Minggu Kerahiman Ilahi, tahun 1995: "Seluruh Oktaf Paskah adalah bagaikan satu hari, ... yang dimaksudkan untuk mengungkapkan syukur atas kebaikan Allah yang telah ditampakkan kepada manusia dalam seluruh misteri Paskah".

-----------------------------------------


HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Minggu, 28 April 2019
Hari Minggu Paskah II - Minggu Kerahiman Ilahi
Kisah Para Rasul (5:12-16)
(Mzm 118:2-4.22.25-27a; Ul:1)
Wahyu (1:9-11a.12-13.17-19)
Yohanes (20:19-31)
“Fides et misericordia – Iman dan kerahiman”
Inilah tema pokok pada Minggu Paskah II yang merupakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi.
Secara semiotik, adapun kata "kerahiman" (Ibr: "rahamim") terkait-paut dengan kata "rehem" ("rahim, kandungan"), menunjuk pada belas kasih Allah yang sifatnya seperti rahim ibu: melindungi-menghidupi- menghangatkan-memberi pertumbuhan-menjaga-menerima tanpa syarat.
Sedangkan dalam bahasa Latin, kerap diartikan sebagai “misericordia” (miseri: orang yang berduka, cordia: hati, punyai hati untuk sesama yang ‘berduka’).
Seperti yang saya tulis dalam buku “357” (RJK, Kanisius), pesan utama Kerahiman Ilahi adalah bahwa Allah selalu mengasihi kita. Ia mengundang kita untuk datang kepadaNya, menerima belas kasihNya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama (Bdk: Salam Kerahiman “ABC”,
A sk for His mercy (mohon belaskasihNya);
B e merciful (berbelaskasih pada sesama);
C ompletely (turut/percaya penuh kpdNya).
Adapun tiga kerahiman ilahi yang ditampakkan Yesus, antara lain:
1. Penguatan: "Jangan takut"
Ia memberikan kekuatan dan keberanian kepada para murid yang dicekam ketakutan pada orang Yahudi. Ketika mereka “ngumpet” di pintu rumah yang terkunci rapat, “Tuhan” yang pada awalnya disangka sebagai “Hantu” masuk ke dalam rumah untuk hadir dan menguatkan mereka. Karena pesan Tuhan inilah, para murid menjadi gagah dan berani untuk menjadi martir iman.
Bahkan menurut tradisi, yang dibenarkan oleh St. Ambrosius dan Hieronymus, salah satu muridNya yang sempat “kuper-kurang percaya”, yakni Tomas (“Tuhan Omong Maka Aku Sadar”) mewartakan Injil sampai ke India Milaipur (Madras) dan mati ditusuk tombak.
Catatan lain tentang Tomas termuat dalam: Kitab Wahyu Tomas terjemahan berbahasa Latin (Baca A. Santos Otero) dan Injil Tomas dari sekitar tahun 140-150, yang mirip dengan ogia Jesu (kumpulan sabda-sabda Yesus) dan ditemukan dalam naskah Nag Hammadi pada tahun 1945 di Mesir (Baca R.M. Wilson, The Gospel of Thomas).
Pastinya, di dalam kasih tidak ada ketakutan karena kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan' (1Yoh 4:18).
2. Perdamaian: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Ia memberikan kedamaian di tengah kegalauan, bahkan diserukanNya sampai 3x (Yoh 20:19b.21.26b). Jika dalam masa Natal, Tuhan banyak disebut sebagai “Imanuel-Tuhan beserta kita”, maka dalam masa Paskah, Ia disebut sebagai “Alpha et Omega-Awal dan Akhir” karena Ia selalu hadir dari awal sampai akhir hidup dan pergulatan karya kita. Ia tak pernah membiarkan kita berjalan sendirian di tengah kegalauan hidup.
Yang pasti, belajar dari St Thomas, St.Agustinus pernah mencatat: “Dengan pengakuannya dan dengan menjamah luka-luka Tuhan, ia sudah mengajarkan kepada kita apa yang harus dan patut kita percayai. Ia melihat “sesuatu” dan percaya akan “sesuatu”. Matanya memandang kemanusiaan Yesus, namun imannya mengakui keallahan Yesus, sehingga dengan suara penuh kegembiraan tercampur penyesalan mendalam ia berseru dengan penuh kedamaian: ‘Ya Tuhanku dan Allahku.”
3. Perutusan: "Aku mengutus kamu"
Ia memberikan perutusan supaya kita juga mau berbelaskasihan lewat "KUD", Karya yang murah hati, Ucapan yang memberkati dan Doa yang sepenuh hati. Dkl: Perutusan bisa dimulai dengan karya belas kasih (memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada tunawisma, mengenakan pakaian kepada yang telanjang, mengunjungi orang miskin, mengunjungi orang tahanan, menguburkan orang mati); ucapan belas kasih (mengajar, memberi nasehat, menghibur, membesarkan hati, mengampuni) maupun dengan “doa yang penuh belaskasihan”.
Menyitir kata-kata Yesus dalam buku harian St. Faustina: “Ya, hari Minggu pertama sesudah Paskah adalah Pesta Kerahiman Ilahi, namun demikian haruslah ada perbuatan-perbuatan belas kasih…. Aku menuntut dari kalian perbuatan-perbuatan belas kasih yang timbul karena kasih kepada-Ku. Hendaklah kalian menunjukkan belas kasih kepada sesama di setiap waktu dan di setiap tempat. Janganlah kalian berkecil hati atau berusaha mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya” (742).
“Cari kurma dan delima - Mari berderma bagi sesama”.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Madah Ibadat Bacaan, Pagi, Siang
Pesta Kerahiman Ilahi
Ya Allah, bersegeralah menolong aku
Ya Tuhan, perhatikanlah hambaMu
Kemuliaan..
Alleluya..
MADAH IBADAT BACAAN
Ini sungguh hari Tuhan
Hari penuh kesukaan
Dosa kita dibersihkan
Oleh darah suci Tuhan
O betapa mengagumkan
Bahwasanya cinta Tuhan
Berhasil meniadakan
Ketakutan yang menekan
O betapa mentakjubkan
Bahwasanya kematian
Berhasil mengembalikan
Hidup yang tak terkalahkan
Terpujilah Kristus Tuhan
Kaukalahkan kematian
Engkau dibangkitkan Bapa
Dengan kekuatan RohNya
Amin
MADAH IBADAT PAGI
Fajar menyingsinglah sudah
Langit menggemakan madah
Bumi bersorak-sorailah
Neraka mengaduh kalah
Kala raja nan perkasa
Menggempur markas neraka
Menggilas kuasa maut
Dengan gagah tanpa takut
Meskipun tertutup batu
Dijaga banyak serdadu
Namun pemenang yang luhur
Bangkit mulya dari kubur
Mulyalah Engkau ya Tuhan
Yang bangkit tak terkalahkan
Serta Bapa dan Roh suci
Mulyalah kekal abadi
Amin
MADAH IBADAT SIANG
Ya Roh kudus sumber cinta
Serta Bapa dan Putera
Datanglah di tengah kami
Membawa hidup Ilahi
Gerakkanlah hati kami
Agar giat penuh bakti
Menyanyikan lagu puji
Mengamalkan cinta suci
Kabulkanlah doa kami
Ya Allah Bapa surgawi
Bersama Putera dan RohMu
Sekarang serta selalu
Amin
BACAAN SINGKAT
(Kis 10,40-43)
Allah telah membangkitkan Yesus pada hari yang ketiga, dan dengan kuasa Allah, Yesus menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah.
Kamilah saksi-saksi itu, kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari alam maut.
Kepada kami ditugaskan oleh Allah mewartakan kepada seluruh bangsa dan memberi kesaksian bahwa Yesuslah yang ditentukan Allah menjadi hakim atas orang yang hidup dan yang mati.
Tentang Dialah semua nabi memberi kesaksian, bahwa barang siapa percaya kepadaNya akan mendapat pengampunan dosa demi namaNya.
DOA
Allah maharahim, pada hari raya Paska Engkau membaharui iman umatMu.
Tambahkanlah rahmat dalam hati kami, supaya kami mengerti: betapa agungnya sakramen pembaptisan, betapa luhurnya Roh yang melahirkan kami kembali dan betapa indahnya darah yang telah menebus kami.
Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa.
Amin
1.
"Sadhana - Jalan menuju Tuhan."
Inilah salah satu buku yang saya pelajari ketika ada di Seminari Menengah. Adapun bersama dengan “HMKI”, kt juga diajak ber-"sadhana" dengan 3 jalan iman, antara lain:
A."Kedamaian":
Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah para murid dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Banyak orang kudus juga selalu menawarkan kedamaian meski sama-sama hidup dalam konteks ketidakdamaian akibat perang. Mereka membuat ruang dialog dengan antar agama, budaya dan orang miskin, demi terciptanya "pacem in terris - damai di bumi."
B."Kekudusan":
Ia memberikan kita Roh Kudus: yang menyembuhkan (ruah), yang menguatkan (parakleitos) dan menghangatkan (spiritus).
Itu sebabnya juga Paus Kerahiman, yakni Paus Yohanes Paulus II dengan mottonya "Totus Tuus" ("Total untukMu") selalu mengatakan pada setiap "World Youth Day": "Jangan takut menjadi suci."
C."Kerahiman":
Hari ini, kita merayakan Pesta Kerahiman Ilahi. Bacaan Injil berbicara tentang Yesus yang hadir di tengah-tengah para murid, terlebih untuk meyakinkan Tomas ("Tuhan Omong Maka Aku Sadar").
Dengan kerahimanNya, Ia menjadi Allah yang mau "turun", memahami kedegilan Thomas dan tidak langsung menghakmi tapi mengajak Tomas untuk melihat dan mengalami langsung sehingga menjadi orang pertama yang mengakui "kemahakuasaan Allah:
"Ya Tuhan dan Allahku".
"Dari Bekasi ke Kalimati - Mari bersaksi sepenuh hati."
2.
“Visio beatifica - Pandangan yang membahagiakan.”
Pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit trnyata mengubah kehidupan para murid dengan beberapa dimensi dasar, antara lain:
A.Kedamaian:
Diceritakan bagaimana Yesus menampakkan diri kepada murid-muridnya ketika mereka mengunci diri ketakutan akan para penguasa Yahudi. Yesus mengucapkan salam: "damai sejahtera". Saat itu juga ketakutan mereka lenyap dan mereka mulai merasakan kedamaian.
B.Kehidupan:
Seperti dalam penciptaan manusia dulu (Kej 2:7), kini para murid menerima nafas kehidupan dari Yesus yang telah bangkit (Yoh 20:22). Yesus berbagi kehidupan dengan para murid. Dalam perjamuan terakhir disebutkan bahwa ia sadar betul bahwa dirinya berasal dari Bapa dan akan kembali kepada-Nya. Semuanya sudah terjadi. Dan kini, dia yang telah kembali bersatu dengan Bapa itu berbagi nafas dengan para murid. Artinya, kini mereka sungguh dapat menjadi anak-anak Bapa yg hidup baru.
C.Kebangkitan:
Setelah mendapat kedamaian dan kehidupan baru, para murid diajak "bangkit", ikut serta menjalankan perutusan dari Bapanya. Iman akan kebangkitan membangun ruang seluas-luasnya bagi kita agar semakin menjadi makhluk yang mampu mengalami Yang Maha Kuasa sebagai yang penuh kerahiman dan berbagi pengalaman ini dengan sesama.
Lebih lanjut, Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan membuatnya berseru, “Tuhanku dan Allahku!” Saat itulah mata batin Tomas terbuka. Melihat Yesus berarti melihat Allah Yang MahaTinggi.
Itulah sebabnya Tomas menyerukan dua sebutan itu. Yesus sendiri dulu mengatakan, siapa mengenalnya akan mengenali Bapanya pula (Yoh 8:19; 14:7.9-11).
"Dari Tarsus ke Maluku - Yesus itu andalanku."
3.
Renungan Dan Doa Harian St.Faustina
@ Pesta Kerahiman Ilahi.
(Minggu, 28 April 2019).
Hari ini kembali kupersembahkan diriku lagi sebagai jiwa silih untuk para pendosa. Ya Yesusku, jika akhir hidupku sudah mendekat, aku mohon dengan sangat, terimalah kematianku dalam persatuan dengan-Mu sebagai kurban silih yang pada hari ini dalam keadaan sehat total dan secara sadar kupersembahkan dengan tiga tujuan;
Pertama, supaya karya kerahiman-Mu meluas keseluruh dunia dan Pesta Kerahiman Ilahi disahkan secara resmi dan dirayakan.
Kedua, supaya para pendosa, khususnya mereka yang sedang menghadapi ajalnya, mengungsi kedalam kerahiman-Mu sambil mengalami dampak kerahiman-Mu yang tak terucapkan itu.
Ketiga, supaya seluruh karya kerahiman-Mu dilaksanakan sesuai dengan kehendak-Mu; juga untuk seseorang yang menangani karya ini.
Terimalah, ya Yesus yang amat rahim, kurbanku yang tak berarti ini, yang pada hari ini kupersembahkan di hadapan segenap isi surga dan bumi.
Semoga Hati-Mu yang maha kudus, yang penuh kerahiman, melengkapi apa yang kurang padaku dan mempersembahkannya kepada Bapak-Mu demi pertobatan para pendosa. Aku merindukan jiwa-jiwa, ya Kristus. (1680).
BHSF.1325
Ya Allahku, biarlah segala yang ada dalam diriku memuji Engkau, Tuhan dan Penciptaku, dengan segenap denyut jantungku, aku ingin memuji kerahiman-Mu yang tak terselami.
Aku ingin menuturkan kebaikan-Mu kepada jiwa jiwa dan aku ingin mendorong mereka untuk mengandalkan kerahiman-Mu. Inilah misiku, yang telah Engkau percayakan sendiri kepadaku, ya Tuhan, dalam hidup ini dan dalam kehidupan yang akan datang.
A.
PESTA MINGGU KERAHIMAN ILAHI
Buku Catatan Harian St Faustina memuat setidak-tidaknya empat belas bagian di mana Tuhan kita meminta suatu “Pesta Kerahiman Ilahi” ditetapkan secara resmi dalam Gereja.
“Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”
Tergerak oleh permenungan akan Allah sebagai Bapa yang Maharahim, maka Bapa Suci Yohanes Paulus II menghendaki agar sejak saat ditetapkannya, Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh segenap Gereja semesta.
Hal ini dimaklumkan beliau pada tanggal 30 April 2000, tepat pada hari kanonisasi St Faustina Kowalska. Lebih lanjut, Paus Yohanes Paulus II memberikan tugas kepada para imam, sebagaimana tercantum dalam Dekrit Penitensiary Apostolik 29 Juni 2002, untuk memberikan penjelasan kepada umat Katolik mengenai Minggu Kerahiman Ilahi ini.
B.
PENGHORMATAN LUKISAN KERAHIMAN ILAHI
Lukisan Yesus, Allah yang Maharahim, hendaknya mendapat tempat terhormat yang istimewa pada Pesta Kerahiman Ilahi, sebagai suatu sarana pengingat yang kelihatan atas segala yang telah Yesus lakukan bagi kita melalui Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Nya .… dan juga, sebagai sarana pengingat akan apa yang Ia kehendaki dari kita sebagai balasannya, yaitu percaya penuh kepada-Nya dan berbelas kasih kepada sesama.
“Aku menghendaki lukisan ini diberkati secara khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah, dan Aku menghendaki lukisan ini dihormati secara umum agar setiap jiwa dapat tahu mengenainya (341).”
C.
INDULGENSI KHUSUS PADA MINGGU KERAHIMAN ILAHI
Tuhan kita berjanji untuk menganugerahkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman pada Pesta Kerahiman Ilahi, seperti dicatat sebanyak tiga kali dalam Buku Catatan Harian St Faustina; setiap kali dengan cara yang sedikit berbeda:
“Aku akan menganugerahkan pengampunan penuh kepada jiwa-jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus pada Pesta Kerahiman Ilahi (1109).”
“Jiwa yang menghampiri Sumber Hidup pada hari ini akan dianugerahi pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (300).”
“Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (699).”
Sebagai kelanjutan dari dimaklumkannya hari Minggu pertama sesudah Paskah sebagai Minggu Kerahiman Ilahi, Imam Agung di Roma, terdorong semangat yang berkobar untuk menggairahkan semaksimal mungkin praktek Devosi Kerahiman Ilahi dalam diri umat Kristiani dengan harapan mendatangkan buah-buah rohani yang berguna bagi kaum beriman, maka pada tanggal 13 Juni 2002 beliau memaklumkan bahwa Gereja memberikan indulgensi, baik indulgensi penuh maupun sebagian, kepada mereka yang mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi dengan syarat-syarat seperti yang ditetapkan Gereja.
D.
RAHMAT-RAHMAT LUAR BIASA
Satu hal tampak jelas: melalui janji di atas, Tuhan kita menekankan nilai tak terhingga Sakramen Tobat dan Komuni Kudus sebagai mukjizat-mukjizat belas kasih-Nya. Tuhan ingin kita menyadari bahwa karena Ekaristi adalah Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allah-an-Nya Sendiri, maka Ekaristi adalah “Sumber Hidup” (300).
Ekaristi adalah Yesus, Ia Sendiri, Allah yang Hidup, yang rindu mencurahkan DiriNya sebagai Belas kasih ke dalam hati kita.
Dalam penampakan-penampakan-Nya kepada St Faustina, Tuhan kita menunjukkan dengan jelas apa yang Ia tawarkan kepada kita dalam Komuni Kudus dan betapa amat melukai hati-Nya apabila kita acuh tak acuh terhadap kehadiran-Nya:
“Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan DiriKu dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa. Namun, jiwa-jiwa bahkan tak mengindahkan Aku; mereka mengacuhkan DiriKu dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedih Aku sebab jiwa-jiwa tak mengenali Kasih! Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati (1385)….”
“Sungguh amat menyakitkan hati-Ku apabila jiwa-jiwa religius menerima Sakramen Cinta Kasih hanya karena kebiasaan belaka, seolah mereka tak mengenali santapan ini. Aku tak mendapati baik iman maupun kasih dalam hati mereka. Aku datang ke dalam jiwa-jiwa demikian dengan keengganan besar. Akan lebih baik seandainya mereka tak menerima Aku (1258)….”
“Betapa menyakitkan Aku bahwa jiwa-jiwa begitu jarang mempersatukan dirinya dengan-Ku dalam Komuni Kudus. Aku menanti jiwa-jiwa, dan mereka acuh tak acuh terhadap-Ku. Aku ingin mencurahkan rahmat-rahmat-Ku atas mereka, tetapi mereka tak hendak menerimanya. Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati, padahal Hati-Ku penuh cinta dan belas kasih. Agar engkau dapat memahami setidak-tidaknya sedikit rasa sakit-Ku, bayangkanlah seorang ibu yang paling lembut hati, yang amat mengasihi anak-anaknya, namun anak-anaknya itu menolak kasihnya. Bayangkan betapa pilu hatinya. Tak seorang pun akan mampu menghibur hatinya. Begitulah, gambaran akan kasih-Ku (1447).”
Jadi, janji Tuhan kita akan pengampunan penuh merupakan suatu peringatan sekaligus panggilan. Suatu peringatan bahwa Ia nyata hadir dan nyata hidup dalam Ekaristi, berlimpah kasih bagi kita, menanti kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan. Suatu panggilan bagi kita semua untuk dibasuh bersih dalam Kasih-Nya melalui Sakramen Tobat dan Komuni Kudus - tak peduli betapa berat dosa-dosa kita - dan kita memulai hidup baru kembali. Yesus menawarkan kepada kita suatu permulaan yang baru, suatu lembaran yang bersih.
Agar dapat sungguh memahami janji ini, kita perlu melihatnya dalam konteks janji-janji lain yang Tuhan Yesus tawarkan kepada kita dalam Pesta Kerahiman. Ia tidak hanya menawarkan satu rahmat saja, melainkan rahmat-rahmat yang tak terhingga:
“Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku. Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman. Pada hari itu seluruh pintu-pintu rahmat Ilahi dari mana rahmat-rahmat mengalir akan dibuka (699).”
Dalam “Penilaian Resmi” Sensor Teologis Kedua atas catatan-catatan St Faustina, kita dapati penjelasan terperinci mengenai limpahan rahmat istimewa ini:
“Agar Pesta Kerahiman Ilahi dapat sungguh menjadi suatu pengungsian bagi segenap jiwa-jiwa, kemurahan hati Yesus yang terdalam dibuka lebar pada hari ini guna mencurahkan ke atas jiwa-jiwa, tanpa menahan-nahan sedikit pun, segala macam dan segala tingkatan rahmat - bahkan yang belum pernah dikenal sekalipun. Kemurahan hati ini merupakan … motivasi untuk memohon kepada Kerahiman Ilahi, dengan kepercayaan penuh serta tanpa batas, segala karunia rahmat yang ingin Tuhan curahkan pada hari Minggu ini….”
Apakah yang harus kita lakukan agar memperoleh rahmat-rahmat yang ingin Tuhan curahkan atas kita? Lagi, “Penilaian Resmi” Sensor Teologis Kedua menyajikan jawabnya:
“Karena kepercayaan penuh merupakan sarana menghampiri Belas Kasih Ilahi, patut kita simpulkan bahwa makna mendalam dari harapan dan janji-janji sehubungan dengan Pesta Kerahiman Ilahi adalah sebagai berikut:
Pada hari Pesta-Nya, Yesus ingin menganugerahkan kepada kita semua - teristimewa orang-orang berdosa - suatu limpahan rahmat yang luar biasa. Dan karenanya, pada hari ini Ia menanti kita datang menghampiri Kerahiman-Nya dengan kepercayaan semaksimal mungkin.”
E.
BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN PANTAS?
Salah satu cara yang terpenting, tentu saja, dengan menyambut Komuni Kudus pada hari Minggu Kerahiman Ilahi dan menerima Sakramen Tobat yang bahkan dapat dilakukan sebelum Pekan Suci; sepanjang Masa Prapaskah merupakan persiapan untuk menyambut Minggu Kerahiman Ilahi!
Tetapi, kita tidak hanya sekedar dipanggil untuk mohon belas kasih Tuhan dengan penuh kepercayaan, melainkan kita juga dipanggil untuk berbelas kasih kepada sesama. Perkataan Tuhan kita kepada St Faustina mengenai tuntutan untuk berbelas kasih kepada sesama sangat tegas dan jelas:
“Ya, hari Minggu pertama sesudah Paskah adalah Pesta Kerahiman Ilahi, namun demikian haruslah ada perbuatan-perbuatan belas kasih…. Aku menuntut dari kalian perbuatan-perbuatan belas kasih yang timbul karena kasih kepada-Ku. Hendaklah kalian menunjukkan belas kasih kepada sesama di setiap waktu dan di setiap tempat. Janganlah kalian berkecil hati atau berusaha mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya” (742).
Novena Kerahiman Ilahi
Pada hari Jumat Agung 1937, Yesus meminta St Faustina mendoakan suatu novena khusus menjelang Pesta Kerahiman Ilahi; novena dimulai pada hari Jumat Agung hingga Sabtu sebelum Minggu Paskah II. Yesus Sendiri yang mendiktekan intensi-intensi novena untuk tiap-tiap hari. Dengan novena ini, St Faustina diminta untuk membawa kepada Hati Yesus Yang Mahakudus sekelompok jiwa-jiwa yang berbeda setiap hari dan membenamkan mereka ke dalam samudera belas kasih-Nya, mohon pada Allah Bapa - dengan mengandalkan jasa-jasa Sengsara Yesus - rahmat-rahmat bagi mereka.
Tidak seperti Novena Koronka, yang dengan jelas Tuhan kehendaki agar setiap orang mendaraskannya, Novena Kerahiman tampaknya diperuntukkan terutama bagi kepentingan pribadi St Faustina. Hal ini dapat dilihat dari perintah Tuhan, di mana Tuhan menyebutkan kata “kamu” dalam bentuk tunggal.
Namun demikian, karena St Faustina diperintahkan untuk menuliskannya, pastilah Tuhan bermaksud agar novena didoakan oleh yang lain juga. Begitu diterbitkan, novena segera menjadi sangat populer; orang banyak mendoakan novena, bukan hanya sebagai persiapan merayakan Minggu Kerahiman Ilahi, melainkan mereka mendoakannya di waktu-waktu lain juga.
Dengan mendoakan Novena kepada Kerahiman Ilahi, kita sungguh menjadikan intensi-intensi Tuhan Yesus sebagai intensi kita sendiri - sungguh suatu perwujudan nyata yang indah dari hak dan kewajiban istimewa Gereja, sebagai Mempelai Kristus, menjadi pendoa di sisi Kristus yang bertahta di atas singgasana belas kasih.
==
“ABC – Tiga Vitamin Iman”
. A: Ask for His Mercy:
Mintalah Belas Kasih AllahTuhan menghendaki supaya kita memiliki “HARAPAN”.
Kita datang kepada-Nya dalam doa secara terus-menerus, menyesali dosa-dosa kita dan mohon kepada-Nya untuk mencurahkan belas kasih-Nya atas kita dan atas dunia.
“Jiwa-jiwa yang mohon belas kasih-Ku menyenangkan hati-Ku.
Kepada jiwa-jiwa ini aku menganugerahkan bahkan lebih banyak dari yang mereka minta.
Aku tak dapat menghukum bahkan seorang pendosa besar sekalipun, jika ia mohon belas kasih-Ku" (1146)
. B: Be Merciful:
Berbelaskasihanlah.
Tuhan menghendaki supaya kita memiliki “KASIH”.
Kita menerima belas kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama.
Tuhan menghendaki kita memperluas kasih serta pengampunan kepada sesama seperti yang Ia lakukan kepada kita.
“Aku menghendaki dari kalian perbuatan belas kasih yang timbul karena kasih kepada-Ku.
Hendaklah kalian menunjukkan belas kasih di setiap waktu dan di setiap tempat.
Janganlah berkecil hati atau berusaha mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya, bahkan iman yang terkuat sekalipun tak akan ada gunanya tanpa perbuatan" (742).
. C: Completely Trust:
Percaya Penuh kepada-Nya.
Tuhan ingin menghendaki supaya kita memiliki “IMAN”.
Kita tahu bahwa rahmat-rahmat belas kasih-Nya tergantung pada besarnya iman kita.
Semakin kita percaya kepada-Nya, semakin berlimpah rahmat yang kita terima.
“Aku telah membuka Hati-Ku sebagai sumber belas kasih yang hidup.
Biarlah segenap jiwa menimba hidup darinya.
Biarlah mereka menghampiri samudera belas kasih ini dengan penuh kepercayaan" (1520).
4.
Kutipan Teks Misa:
Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah” (Dei Verbum 5). Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rom 1:17) Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). (Katekismus Gereja Katolik, 1814)
Antifon Pembuka (1Ptr 2:2)
Jadilah seperti bayi yang baru lahir, yang selalu haus akan air susu rohani yang murni supaya olehnya kamu tumbuh dan diselamatkan, alleluya.
Quasi modo geniti infantes, alleluia: rationalbiles, sine dolo lac concupiscite, alleluia, alleluia, alleluia.
Like newborn infants, you must long for the pure, spiritual milk,that in him you may grow to salvation, alleluia.
Doa Pembuka
Allah Yang Maharahim, dalam perayaan pesta Paskah ini Engkau menyalakan iman umat yang dikuduskan bagi-Mu. Tambahkanlah rahmat yang telah Engkau anugerahkan agar kami semua semakin memahami betapa agung pembaptisan yang menyucikan kami, betapa luhur Roh yang melahirkan kami kembali, dan betapa mulia darah yang menebus kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kisah Para Rasul (4:32-35)
"Kumpulan orang yang percaya itu sehati dan sejiwa."
Kumpulan orang yang telah percaya akan Yesus sehati dan sejiwa. Dan tidak seorang pun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Di antara mereka tidak ada seorang pun yang berkekurangan. Karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = bes, 2/4, PS 831
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 118:2-4.16ab-18.22-24)
1. Biarlah Israel berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya!" Biarlah kaum Harun berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya!" Biarlah orang yang takwa pada Tuhan berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya!"
2. Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan, tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan. Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan. Tuhan telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan daku kepada maut.
3. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes (1Yoh 5:1-6)
"Semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia."
Saudara-saudaraku yang terkasih, setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Dan perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, yakni iman kita. Tidak ada orang yang mengalahkan dunia, selain dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah! Dia inilah yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus; bukan saja dengan air tetapi dengan air dan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Bait Pengantar Injil, do = es, 4/4, kanon, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 20:29)
Yesus bersabda, "Hai Tomas, karena melihat Aku, engkau percaya; berbahagialah yang tidak melihat namun percaya."
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (20:19-31)
"Delapan hari kemudian Yesus datang."
Setelah Yesus wafat di salib, pada malam pertama sesudah hari Sabat, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, "Damai sejahtera bagi kamu!" Sesudah berkata demikian, Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi, "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Yesus menghembusi mereka dan berkata, "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." Pada waktu Yesus datang itu Tomas, seorang dari kedua belas murid, yang juga disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka. Maka kata murid-murid yang lain kepada-Nya, "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu, dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang. Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, "Damai sejahtera bagi kamu!" Kemudian Yesus berkata kepada Tomas, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku. Ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah!" Tomas menjawab kepada-Nya, "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini. Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh imanmu kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
Renungan
Penampakan diri Yesus kepada kesebelas murid-Nya, di mana Rasul Tomas juga hadir, merupakan penampakan yang memberikan ketegasan iman kepada para murid-Nya dan kita sekaligus yang percaya kepada Yesus. Rasul Tomas sebetulnya mewakili kita manusia yang tidak berjumpa dengan Yesus. Kita mendengarkan berita tentang Yesus, termasuk tentang wafat dan kebangkitan-nya lewat pewartaan para rasul. Kadang iman kita pun seperti Rasul Tomas, kita kurang percaya kalau belum "menyentuh" Yesus secara langsung.
Kepada Tomas, Yesus menunjukkan diri-Nya. Yesus mengecam kedegilan hati Tomas. Iman berarti kepercayaan mutlak akan pewartaan para rasul tentang wafat dan kebangkitan Yesus. Iman itu ditopang pula oleh sikap hidup yang penuh penyerahan Yesus. Seperti Yesus yang menyerahkan hidup-Nya kepada Bapa di surga, demikian pun kita, berserah diri kepada Yesus dan membiarkan diri dibimbing oleh-Nya. Seruan "Ya Tuhanku dan Allahku" adalah seruan iman yang harus kita dengungkan setiap hari dalam hidup kita. Mari kita berserah diri kepada-Nya.
Antifon Komuni (Yoh 20:27)
Ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku. Jangan sangsi lagi, tetapi percayalah, alleluya.
Mitte manum tuam, et cognosce loca clavorum, alleluia: et noli esse incredulus, sed fidelis, alleluia, alleluia.
Bring your hand and feel the place of the nails,and do not be unbelieving but believing, alleluia. incredulus, sed fidelis, alleluia, alleluia.
5.
ULASAN EKSEGETIS
BACAAN MISA HARI MINGGU PASKAH II
(Yoh 20:19-31; 1Ptr 1:3-9) :
“DAMAI SEJAHTERA BAGI KAMU!”
Peristiwa kebangkitan diwartakan dalam Injil Yohanes sebagai penjelasan mengapa Yesus yang baru saja dimakamkan itu tidak lagi diketemukan lagi di situ, dan mengapa para murid tidak lagi merasa kehilangan dia. Bahkan kini mereka semakin merasakan kehadirannya.
Agak ada miripnya dengan ingatan mengenai akan orang-orang yang sudah mendahului tetapi tetap menjadi bagian hidup kita. Tetapi besar pula bedanya.
Bagi para murid, menimang-nimang ingatan akan dia yang pernah berada bersama mereka di dunia bukan lagi hal yang penting. Dia bukan lagi sekadar kenangan mereka. Mereka malah merasa lebih menjadi bagian Yesus yang bangkit itu. Itulah persepsi mereka akan kebangkitan Yesus.
Dan pengalaman ini mengubah kehidupan mereka dari yang dirundung ketakutan menjadi penuh kedamaian. Ini disampaikan dalam Yoh 20:19-31 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah II.
A.
DAMAI & HIDUP SEJAHTERA
Diceritakan bagaimana Yesus menampakkan diri kepada murid-muridnya ketika mereka mengunci diri ketakutan akan para penguasa Yahudi. Yesus mengucapkan salam damai sejahtera dan kemudian menghembusi mereka dengan Roh (Yoh 20:21-22; lihat juga ay. 26).
Saat itu juga ketakutan mereka lenyap dan mereka mulai merasakan kedamaian. Memang pengalaman ini belum terjadi pada banyak orang lain. Barulah kelompok kecil ini yang melihat Yesus yang telah bangkit. Juga bekas luka paku dan tusukan tombak mereka saksikan.
Pembicaraan mengenai bekas luka di situ dimaksud untuk menegaskan bahwa yang kini menampakkan diri itu sama dengan dia yang tadi meninggal di salib. Yang kini datang di tengah-tengah mereka itu bukan sekedar ingatan belaka. Orang-orang lain yang tidak hadir dalam peristiwa itu hanya dapat mendengar kesaksian mereka. Dan ini memang bukan perkara yang mudah.
Cerita penampakan Yesus kepada Tomas dalam Yoh 20:24-29 mengolah kesulitan ini. Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan memintanya meraba bekas luka itu sendiri bila tindakan ini bakal membuatnya percaya. Tomas diminta memutuskan sendiri apa dia yang kini datang itu sama dengan yang dulu diikutinya.
Kepercayaan yang sedemikian besar dari pihak yang bangkit itu membuat Tomas mengenalinya. Ia berseru, “Tuhanku dan Allahku!” Saat itulah mata batin Tomas terbuka. Melihat Yesus berarti melihat Allah Yang Maha Tinggi yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah sebabnya Tomas menyerukan dua sebutan itu. Yesus sendiri dulu mengatakan, siapa mengenalnya akan mengenali Bapanya pula (Yoh 8:19; 14:7.9-11). Dan Bapanya itu Allah.
Bagi murid-murid dari zaman kemudian, amat besarlah daya kata-kata Yesus kepada Tomas pada akhir peristiwa itu (Yoh 20:29), “Karena engkau melihat aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” Walaupun kata-kata itu ditujukan kepada Tomas, isinya diperdengarkan kepada siapa saja, baik yang ada di situ waktu itu maupun kepada pembaca kisah tadi sepanjang masa. Dia yang bangkit itu mempercayakan diri kepada manusia agar dikenali dalam hidup mereka, seperti yang terjadi pada Tomas.
B.
MAKNA “MELIHAT” MENURUT YOHANES
Dalam kisah kebangkitan ini penulis Injil memerankan diri sebagai “murid yang dikasihi” yang ikut mendengar dari Maria Magdalena bahwa Yesus tak ditemukan di makam.
Bersama Petrus ia lari ke makam dan mendahuluinya. Ia menjenguk ke dalam dan tampaklah kain kafan di tanah. Petrus masuk dan mendapati kafan terletak di tanah, kain peluh yang tadinya di kepala Yesus didapatinya terlipat tidak di tanah, tapi di tempat lain. Murid yang tadi ikut masuk dan melihat yang dilihat Petrus.
Saat itulah “ia percaya” (Yoh 20:8), maksudnya percaya bahwa Yesus sudah bangkit. Dapat dibayangkan betapa murid yang tak disebut namanya ini kemudian merasa dikuatkan ketika mendengar kata-kata Yesus kepada Tomas tadi.
Tetapi memang “melihat” itu memiliki makna khusus. Yohanes menggarap hubungan antara melihat dan percaya dalam kisah pengalaman orang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus (Yoh 9) dengan cara yang khas. Ketika orang-orang sibuk menanyai siapa yang membuatnya melek, jawabnya (ay. 11), “Orang yang bernama Yesus itu” mengutuhkan penglihatannya dengan lumpur dan menyuruhnya mandi di kolam Siloam.
Beberapa waktu kemudian ketika beberapa orang Farisi menanyainya, jawabnya makin tegas (ay. 17), “Ia itu nabi!” Tetapi orang-orang Farisi itu malah berusaha mengintimidasi orang tadi. Ketika bertemu Yesus lagi dan Yesus bertanya apa ia percaya kepadanya - Yesus menyebut diri “Anak Manusia” - orang itu balik bertanya, mana orangnya supaya ia bisa menyatakan diri percaya. Yesus mengatakan bukan saja ia melihat tapi sedang berbicara dengannya. Dan saat itu orang yang tadinya buta itu berseru (ay. 38), “Aku percaya, Tuhan!”
Pada awalnya orang itu hanya mengenal Yesus sebagai orang yang menyembuhkannya, kemudian menegaskannya sebagai nabi, tapi akhirnya bersujud dan percaya kepadanya, maksudnya mengakui keilahian yang ada pada dirinya.
Kisah penampakan Yesus kepada para murid dan kepada Tomas menunjukkan proses yang amat mirip. Melihat membuat orang berkembang dan mengenali kebenaran. Tapi bila melihat tidak berkembang, bisa jadi orang malah tidak dapat mempercayai apapun.
Orang Farisi dalam kisah penyembuhan orang buta itu melihat tapi tak percaya. Mengapa? Karena mereka tidak terbuka untuk mengakuinya, apalagi mempercayainya. Mereka sebenarnya bukan menolak untuk percaya, bukan itu yang diminta. Mereka tidak bisa menerima diri dipercaya agar dapat mengenali apa yang sedang terjadi. Tragis.
Bagaimanapun juga, dalam pertumbuhan iman masih perlu bantuan dari yang dipercaya atau dari orang yang bisa membantu mempersaksikan kebenaran iman. Hal ini dapat disimak lewat kisah penampakan Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh 20:11-18).
Dikatakan dalam ay. 16 bahwa perempuan itu melihat Yesus tapi tidak segera mengenalinya. Baru setelah mendengar sapaan “Maria!”, ia bisa mengenali Yesus. Maria Magdalena seperti domba yang mengenal suara gembalanya (Yoh 10:4). Tapi seandainya Maria Magdalena tidak melihat orang yang disangkanya sebagai tukang kebun tadi, boleh jadi panggilan “Maria!” tadi tak segera berarti. Kita ingat dahulu kala Samuel muda berulang kali mendengar dirinya disapa oleh Tuhan, tapi hanya mengira sedang dibangunkan oleh Eli. Baru setelah Eli menjelaskan apa yang terjadi, maka Samuel pun mulai mengerti dan mendengar betul.
C.
NAFAS KEHIDUPAN.
Seperti dalam penciptaan manusia dulu (Kej 2:7), kini para murid menerima nafas kehidupan dari Yesus yang telah bangkit (Yoh 20:22). Yesus kini berbagi kehidupan dengan para murid.
Dalam perjamuan terakhir disebutkan bahwa ia sadar betul bahwa dirinya berasal dari Bapa dan akan kembali kepada-Nya. Semuanya sudah terjadi. Dan kini, dia yang telah kembali bersatu dengan Bapa itu berbagi nafas dengan para murid. Artinya, kini mereka sungguh dapat menjadi anak-anak Bapa.
Dalam bagian pembukaan Injil Yohanes disebutkan bahwa sang Sabda datang kepada miliknya tetapi orang-orang miliknya itu tidak menerimanya (Yoh 1:11) Dalam ayat berikutnya dikatakan, semua orang yang menerimanya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu orang-orang yang percaya dalam namanya (ay. 12).
Mereka ini orang-orang yang menerima Yesus, menerima sang Sabda dan mereka telah sering mendengar bahwa Yang Maha Kuasa itu boleh dan ingin dipanggil Bapa. Mereka ini kumpulan kecil yang bisa menerima kekuatan menjadi anak-anak Allah.
Dan apa kekuatan yang sesungguhnya itu? Kekuatan itu ialah nafas yang dihembuskan Yesus ketika ia menampakkan diri kepada mereka di situ. Apa itu anak-anak Allah? Yohanes sendiri memberi penjelasan dalam Yoh 1:13, yaitu orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani...melainkan dari Allah. Inilah yang berpadanan dengan hembusan nafas kehidupan dalam Kej 2:7. Dalam peristiwa penampakan kepada para murid itulah lahirlah kemanusiaan baru.
D.
MAKNA KEBANGKITAN
Apa makna kebangkitan bagi orang zaman sekarang? Pada dasarnya, percaya bahwa Yesus telah bangkit itu sama bagi murid-murid yang pertama dan bagi orang sekarang. Setelah mendapat kekuatan Rohnya, para murid diajaknya ikut serta menjalankan perutusan dari Bapanya.
Dalam bahasa yang mudah dipahami orang waktu itu, mengampuni dosa atau menyatakan dosa tetap ada (Yoh 20:23). Yang dimaksud dengan dosa ialah sikap menjauhi dan menolak dia yang membawakan kehidupan dari sumber kehidupan itu sendiri. Murid-murid dulu ditugasi untuk hidup sesuai dengan semangat kebangkitan, yakni hidup merdeka sebagai anak-anak Allah sendiri.
Iman akan kebangkitan membangun ruang seluas-luasnya bagi manusia agar semakin menjadi makhluk yang mampu mengalami Yang Maha Kuasa sebagai yang penuh kerahiman dan berbagi pengalaman ini dengan sesama. Pengutusan dan perutusan yang sama masih ada hingga kini buat semua orang dan demi semua orang.
E.
DARI BACAAN KEDUA (1Ptr 1:3-9)
Bagian surat ini menggambarkan inti hidup orang yang percaya, yakni hidup yang “dipelihara” oleh kekuatan Allah sendiri, seperti ditegaskan dalam 1Petr 1:5. Dalam ungkapan Yunani yang dipakai di situ, termuat pula gagasan “dilindungi, dijaga, diawasi” oleh kekuatan ilahi. Inilah pokok yang digarisbawahi dalam petikan kali ini. Karena itu orang beriman boleh merasa aman meski sedang berjalan di tengah-tengah kesulitan dan pelbagai hal yang terasa mengancam. Inilah kegembiraan yang muncul dari dalam iman.
Surat ini dialamatkan kepada pelbagai komunitas kristiani asal Yahudi yang berkebudayaan Yunani yang dulu hidup di wilayah timur dan utara negeri Turki sekarang, juga sekitar Istambul (1Petr 1:1 ...kepada orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia....). Mereka ini menghayati alam pikiran leluhur, yang amat menekankan kepercayaan akan naungan Allah dan hidup sejalan dengan pengaturannya. Akan tetapi dengan menjadi kristiani, mereka juga menyadari bahwa naungan ilahi ini nyata dalam kedatangan sang Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan.
Yang dibawakannya ialah kehidupan baru yang penuh harapan akan kebahagiaan nanti di akhirat. Pusat perhatian mereka meluas dari kesejahteraan yang bisa didambakan dalam hidup di dunia ini menjadi keselamatan yang dialami sekarang di dunia ini tapi yang juga berlangsung terus kelak. Yang terakhir ini tadinya tidak begitu ditekankan dalam keagamaan Yahudi yang mereka kenal sebelumnya. Dalam komunitas kristiani justru inilah yang dijadikan pegangan dalam kehidupan kini.
Dengan latar itu jelaslah mengapa surat ini menekankan harapan, keteguhan kepercayaan serta penyerahan kepada Yesus Kristus sang Mesias yang dikirim Allah sendiri demi keselamatan mereka.
Gagasan-gagasan tadi memang amat berakar dalam kehidupan agama dan kerohanian mereka dulu. Bagaimana dengan orang dari tempat lain dan zaman lain seperti kita? Namun rasa-rasanya di mana pun dan kapan pun, kiranya hasrat-hasrat untuk berada dekat dengan kekuatan ilahi yang melindungi, mengawasi, mengawani ...memelihara tadi bisa mendapatkan peneguhan dari kata-kata surat Petrus kali ini. Satu tambahan. Acapkali kehadiran ilahi tadi sudah ada di dekat, hanya butuh disadari, atau seperti terjadi pada Tomas dalam Injil Yoh 20:28, diakui dan diseru. (AG)