Ads 468x60px

Tradisi dan Inkluturasi - Makna Tradisi Leluhur Malam Imlek (Chuxi)



HIK: HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
Tradisi dan Inkluturasi - Makna Tradisi Leluhur Malam Imlek (Chuxi)
TAHUN ANJING TANAH
Imlek 2569 (Jumat, 16 Februari 2018)
Jumat, 16 Februari 2018 pada penanggalan Masehi dirayakan sebagai Hari Raya Nasional Tahun Baru Imlek. Komunitas Tionghoa biasanya menjelang Imlek mulai membersihkan rumah dan memasang lampion dan hiasan bernuansa merah.
Pada hari hari terakhir menjelang imlek, baju yang sobek dan lauk-pauk yang belum habis dimakan akan dibuang menjelang datangnya hari Tahun Baru dengan maksud agar kemiskinan tidak datang. Yang Unik dalam Perayaan Imlek yaitu : Acara makan besar bersama keluarga di malam Tahun Baru Cina.
Malam Tahun Baru sendiri disebut "chuxi", artinya menghapus yang lama dan hal-hal jelek. Juga berdoa malam terakhir sebelum imlek untuk menyongsong kedatangan tahun baru disebut juga dengan "Da Nian Ye" (dapat diterjemahkan secara harafiah menjadi 'new year's eve). Orang Hokkian menyebut dengan 'Sa cap me', Mandarinnya 'shanshi ye', artinya "malam tanggal 30 ".
A.
In Memoriam: Mendoakan Arwah
Pada hari ini juga, biasanya diadakan upacara sembahyang yang dikenal sebagai upacara Sembahyang Tutup Tahun ( tanggal 30 bulan 12 Imlek ). Bagi keluarga Tionghoa yang masih memelihara abu leluhur, selalu mengadakan upacara Sembahyang Tutup Tahun, untuk menghormati para leluhur, sebagai ungkapan rasa Bhakti (Hauw) anak terhadap Orang Tua / Leluhur.
Upacara ini juga merupakan wujud dari pelaksanaan ajaran moral Confusianis yang bersifat humanis, religius dan yang berakar kuat pada penekanan konsep bakti atau disebut "xiao", dalam bahasa Inggris disebut juga "filial piety".
B.
Feast: Perjamuan - Makan bersama.
Setelah itu dalam perayaan Sa Cap Meh (malam tahun baru Imlek) tradisional tanggal 30 Cap Dji Gwee (bulan 12), biasanya seluruh anggota keluarga yang bekerja dan memiliki kesibukan di daerah lain, akan pulang ke rumahnya untuk berkumpul makan bersama dan saling bercerita atau mengobral santai menyambut datangnya Tahun Baru Imlek yang penuh harapan ini. Biasanya dimana orang tuanya tinggal merupakan tempat berkumpul untuk makan bersama sebagai ungkapan kebersamaan dan keutuhan keluarga dalam menyambut tahun baru Imlek bersama sama mensyukuri kehidupan.
Makan bersama ini memiliki makna sebagai ungkapan kebersamaan dan keutuhan keluarga dalam menyambut tahun baru Imlek. Makan adalah sumbu hidup. Makan bersama adalah untuk bersama sama mensyukuri kehidupan. Apapun agamanya, pada malam tahun baru Imlek ini seluruh anggota keluarga akan berkumpul bersama untuk mensyukuri sumbu kehidupan yang masih menyala, yang dilakukan dalam bentuk makan bersama.
Makanan yang tersaji pun terkesan lain dari biasanya, sebab mempunyai harapan yang besar di malam tahun baru agar keluarga selalu terjaga keharmonisan dan kebaikan.
Makanan yang disiapkannya, berisikan "Doa Ibu" yang memasaknya agar keluarganya dilimpahkan berbagai berkat sepanjang tahun. Bahan makanan yang dipilih adalah bahan makanan yang memiliki artinya sendiri-sendiri;
Beberapa makanan tersebut adalah:
1. Rebung = Harapan dan Keberuntungan.
2. Rumput Laut Hitam (Fucai) = Kemakmuran.
3. Mie = Panjang umur.
4. Ayam dan Ikan = Kebahagiaan dan Keberuntungan.
5. Bebek = Kesetiaan dan Ketaatan.
6. Haisom/Teripang laut = Kesehatan.
7. Jeruk Mandarin = Kekayaan, Keberuntungan dan keutuhan (meskipun terpisah-pisah tetap bersatu dalam satu keluarga).
8. Kue Keranjang = Tekstur yang lengket melambangkan keluarga selalu Rukun.
Di Tiongkok utara ada kebiasaan makan jiaozi (penganan berbentuk pempek kapal selam mini, terbuat dari tepung khusus berisi daging dan sayur). Alasannya, ada pepatah berbunyi nian nian you yu "setiap tahun ada sisa". Kata yu yang berarti "sisa" berbunyi sama dengan kata yu yang berarti "ikan".
Kesamaan bunyi itulah yang menyebabkan mengapa ikan menjadi hidangan wajib di malam tahun baru. Dengan makan ikan, berarti dalam segala hal ada sisa. Tentu saja yang dimaksud adalah kelebihan rezeki.
Makanan wajib lainnya, kue keranjang yang disebut nian gao. Kata gao "kue" berbunyi sama dengan gao yang bermakna "tinggi". Dengan makan kue keranjang, diharapkan rezeki seseorang setiap tahun bertambah tinggi.
Buah jeruk menjadi lambang keberuntungan karena lafal kata jeruk dalam bahasa Mandarin-juzi-mirip ji yang berarti "keberuntungan".
Kini ada tradisi baru dengan menambahkan yee sang atau yusheng, berupa salad ikan segar, irisan sayur wortel dan lobak. Irisan daging tuna atau ikan salem yang sudah direndam minyak wijen. Juga disiapkan minyak goreng yang mengandung saus campuran buah prem, gula pasir dan bubuk kayu manis. Bahan-bahan disiapkan dalam sebuah piring besar, lalu minyak dituangkan, dan seluruh anggota keluarga mengaduk bersama-sama dengan sumpit. Makanan ini dihidangkan sebagai makanan pembuka.
C.
"Senjata" Petasan: Mengusir Roh Jahat
Sejak zaman Dinasti Tang, malam tahun baru Imlek dirayakan dengan pesta kembang api atau mercon, sehingga kebanyakan keluarga melek semalam suntuk sampai pagi untuk menyambut tahun baru, menyalakan petasan dan kembang api untuk mengusir 'nian' mahluk jahat yang menurut legenda hobi makan manusia. Suara keras petasan dipercaya menakuti si "nian" tadi.
Bagi anggota keluarga yang masih sehat, lazimnya tidak tidur pada malam menjelang hari Tahun Baru Imlek (“Shoushui”). Anak-anak paling senang karena pagi harinya sudah mandi dan mengenakan baju baru (bersih) lalu berkeliling rumah keluarga guna mendapatkan amplop merah (angpao).
Oh ya, bila menghidupkan petasan tidak diizinkan dapat digantikan dengan menyalakan pelita serta mendoakan semua keluarga memiliki kesehatan, kesejahteraan dan keharmonisan, juga untuk bangsa dan negara. Anak atau anggota keluarga yang lebih muda akan ungkapan rasa terima kasih dan permohonan maaf atas kesalahan kepada orang tua dengan bersujud sebagai bentuk bakti.
Pastinya, Tahun baru imlek sebagai wujud rasa bakti dan memiliki makna tersendiri. Sembayang tutup tahun dengan bertobat, dan menyalakan pelita serta mendoakan semua keluarga memiliki kesehatan, kesejahteraan dan keharmonisan, demikian dengan bangsa dan negara ini. Setelah itu yg terpenting adalah ungkapan terima kasih dan permohonan maaf atas aemua kesalahan kepada orang tua dengan bersujud sebagai bentuk bakti.
Mengutip puisi dari Dinasti Tang (618- 907) yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia: “Lautan cinta membawa angin kasih, terhampar di daratan amal bikin hati bersih.”
Selamat Menyongsong Tahun Baru Imlek 2569.
Sin Cun Kiong Hie, semoga semua mahluk berbahagia.
Daun waru daun kucai - met taun baru gong xi fa cai”.
"Ada rayap ada bakpau- mhn maaf ga ada angpau ..."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Sharing dari Jendela Sebelah: Ramalan di Awal Tahun
Pagi baru merekah. Seperti biasa setelah semua anggota keluarga bangun, berdoa pagi dan mandi, kami berkumpul di meja makan untuk sarapan. Kakakku muncul dari kamarnya sambil berseru,”Yuk kita baca apa ramalan shio kita tahun ini”.
Kemudian ia membacakan isi dari ramalan kehidupan sepanjang tahun 2018 ini, sesuai dengan tahun kelahiran (shio) kami masing-masing. Memang di awal tahun seperti ini, media massa umumnya berlomba menyajikan ramalan hidup manusia untuk tahun yang baru, sesuai bulan kelahiran (zodiak) atau tahun kelahiran menurut penanggalan Cina (shio).
Tanpa sadar, kami membiarkan kakak membacakannya. Prediksi dari berbagai aspek hidup mulai dari kesehatan, asmara, keuangan hingga karir dibahas. Ada rasa asyik campur tegang saat mendengar “nasib” kami dibacakan. Pada saat ramalannya baik, senyum mengembang dan harapan merekah, tetapi saat ramalannya kurang mengenakkan, rasanya hati menjadi kecil dan tidak ingin mempercayainya bahkan ingin mengabaikannya saja.
Salah satu dari kami lantas nyeletuk,”Tapi herannya kok ramalan semacam itu sering benar ya, sesuai dengan kejadian hidup yang kemudian kita alami”. Dahi kami jadi berkerut. Apakah yang kami lakukan ini baik?
Kebanyakan orang menikmati membaca ramalan nasib /kehidupannya di masa depan, walau hanya sekilas.
Namun di balik keasyikan yang ditimbulkannya, dan komentar semacam, “ah itu hanya sekedar untuk main-main saja kok”, sesungguhnya kita tidak selalu sadar bagaimana hal itu mempengaruhi iman kita kepada Tuhan dan mempengaruhi bagaimana kita menyikapi hidup ini. Ramalan yang tidak baik menggantikan semangat dan kegembiraan kita dengan rasa was-was, seperti kalah sebelum bertanding saja. Sementara ramalan yang baik memberi harapan semu, seolah kita telah meraih apa yang kita inginkan sebelum benar-benar memperjuangkannya. Apa yang sebenarnya Tuhan katakan di dalam Kitab Suci?
Ulangan 18: 10:
“Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, atau pun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi Tuhan, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah Tuhan, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu. “
KGK 2116:
Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8..). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.
Tuhan mengerti bahwa kita sering merasa khawatir terhadap hari esok, terhadap hal-hal yang belum kita ketahui. Tetapi Ia tidak mengatakan supaya kita mempelajari cara mengetahui hari esok agar kita tenang. Melainkan Ia mengajarkan kita untuk percaya sepenuhnya kepadaNya, untuk tidak takut, karena Ia adalah Tuhan atas hari esok, dan agar kita mengisi hari ini dengan sebaik-baiknya sambil menikmatinya dengan syukur, oleh karena itu Ia berkata, “kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6: 34b).
Betapa indahnya menikmati hari ini, demikian kita katakan itu dan jalani setiap hari. Maka sikap itulah yang akan selalu membawa kita ke hadiratNya setiap hari dalam hidup kita, penuh keceriaan dan harapan. Jelaslah bahwa rasa was-was dan khawatir terhadap hari depan bukan berasal dari Tuhan. Patah semangat dan takut apalagi. Ini suasana yang disukai si Jahat untuk makin leluasa mengambil alih damai sejahtera kita dalam Tuhan.
Bagaimana cara terbaik mengantisipasi berbagai kemungkinan hidup termasuk yang tak terduga atau yang tidak enak? Jalanilah bersama Perancangnya, yang selalu ingin memberi kan kita yang terbaik. “Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi. Dia tahu apa yang ada dalam gelap, dan terang ada pada-Nya” (Daniel 2:22)
Tuhan adalah Sang Perancang Agung dari kehidupan, yang dikaruniakan-Nya kepada kita atas dasar cinta, bermuara kepada keselamatan abadi bersamaNya. Kejadian yang baik adalah buah dari kerja keras dan doa yang membawa berkat dari Tuhan. Sementara kejadian yang “buruk” atau yang dianggap sebagai tidak berhasil di mata dunia, mungkin justru suatu berkat terselubung, di mana Tuhan melatih kita untuk menjadi lebih tangguh, membentuk kita menjadi lebih beriman, mengasah hati kita lebih peka terhadap penderitaan sesama, atau membekali kita dengan pengalaman berharga untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di kesempatan berikutnya.
Jadi, di dalam Tuhan, semua pengalaman adalah baik, dan semua peristiwa ada baiknya. Penderitaan – sebagaimana Kristus telah memberikan teladan agungNya – juga tidak selalu harus dihindari, apalagi penderitaan seringkali justru mendekatkan kita kepada Tuhan yang adalah tujuan akhir hidup kita. Rasul Paulus menulis bahwa Tuhan mengatakan, “di dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”. (2Kor 12: 9a). Penderitaan di dunia yang Tuhan ijinkan dapat membawa keselamatan dan memulihkan manusia dari dosa-dosa dunia.
Sebagaimana relasi antara dua orang yang saling mencinta, cinta melahirkan rasa percaya kepada satu sama lain, percaya bahwa pihak yang mencintai akan selalu memberikan yang terbaik pada pihak yang dicintai. Tuhan yang menciptakan kita karena cinta dan mencintai kita sampai kekal, selayaknya dan seharusnya mendapatkan kepercayaan kita sepenuhnya, bahwa bersama Dia dan dalam Dia, kita akan sampai kepada tujuan kita dalam hidup ini dan hingga kelak sampai kesudahannya. Itulah bukti cinta kita kepadaNya. Di dunia ini tidak ada persembahan apapun kepada Tuhan yang Tuhan belum mempunyainya, kecuali cinta kita kepada-Nya.
Salam HIKers,
Tuhan berkati & Bunda merestui.
Fiat Lux - Be the Light!

MALAIKAT PELINDUNG



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
"MALAIKAT PELINDUNG" :
SKETSA BIBLIS & EKLESIOLOGIS.
Di dalam Alkitab PL kita mengetahui bahwa para malaikat diutus Allah untuk menjaga umat-Nya, seperti contohnya dalam:
kisah Lot (lih. Kej 28-29);
bangsa Israel (lih. Kel 12-13);
Nabi Musa (Kel 32:34).
Dalam kitab Mazmur 91:11,
“sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.”
Dalam PB, Yesus mengajarkan,
“Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini.
Karena Aku berkata kepadamu:
Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.”
(Mat 18:11).
Maka kita mengetahui bahwa Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk menjaga manusia, bahkan anak-anak kecil.
Malaikat ini yang tak terbatas oleh tubuh, menjaga manusia, namun pada saat yang sama mereka memandang Allah.
Hidup Yesus sendiri tak terlepas dari para malaikat-Nya,
di saat kelahiran-Nya,
saat Ia berpuasa di padang gurun,
dan saat ia berdoa di Taman Getsemani.
Para rasulpun mengalami perlindungan para malaikat, contohnya saat Rasul Petrus dibebaskan dari penjara
(lih. Kis 12:1-19).
Maka Rasul Paulus mengajarkan,
“Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?” (Ibr 1:14). Dan ‘roh-roh yang melayani’ ini adalah para malaikat.
Malaikat Pelindung dalam KGK-Katekismus Gereja Katolik:
* KGK 336:
Sejak masa anak-anak (Mat 18:10) sampai pada kematiannya (Luk 16:22) malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan (Mzm 34:8; 91:10-13) dan doa permohonan (Ayb 33:23-24; Za 1:12; Tob 12:12).
“Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan”.
(Basilius, Eun. 3,1).
* KGK 352:
Gereja menghormati para malaikat yang mendampingi Gereja dalam ziarah duniawinya dan melindungi setiap manusia.
Ada beberapa peran para malaikat, al:
memuliakan dan melayani Tuhan serta melindungi manusia dan memperhatikan keselamatannya.
Adapun setiap umat beriman mempunyai malaikat pelindung, seperti St. Basilius yang dikutip di KGK dan juga St. Jerome yang mengajarkan,
“Betapa besarnya martabat jiwa manusia, sebab setiap jiwa dari kelahirannya mempunyai satu malaikat yang ditugaskan untuk menjaganya”.
Angel of God,
My Guardian Dear to whom God’s love commits me here.
Ever this day be at my side to light and guard and rule and guide.
Amen.
Malaikat Tuhan,
Pelindungku yang terkasih,
yang olehnya Kasih Tuhan bekerja padaku di sini.
Selalu pada hari ini, tetaplah di sisiku untuk menerangi, dan menjaga, dan memimpin dan membimbingku.
Amin.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

Sabtu, 27 Januari 2018



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Sabtu, 27 Januari 2018
Hari Biasa Pekan III
2 Samuel (12:1-7a.10-17)
(Mzm 51:12-13.14-15.16-17)
Markus (4:35-41)
"O Adonai - O Tuhan."
Inilah salah satu gelar Yesus yang pernah saya bawakan dalam perayaan natal "YOS - Yayasan Oikumene Surakarta" yang dibuka dengan pujian dari Kopassus Kandang Menjangan Kartasura bersama dengan ribuan warga Solo Raya.
Inilah juga yang dihadirkanNya ketika Ia menghardik taufan dan taufan pun diam mendengar gertakanNya. Dengan kata lain: Ia menjadi Tuhan atas diri kita dan semua yang ada di sekitar kita, atau dalam bahasa St Clara, "Deus meus et omnia - Tuhanku dan Tuhan semua."
Disinilah, kita disadarkan tentang maraknya penyertaan ilahi dalam kehidupan insani, ya: "di tengah situasi yang "membahayakan" tetaplah hadir yang "membahagiakan."
Jelasnya, hidupNya sungguh membahagiakan karena bisa meredakan keributan dan menenangkan kegaduhan badai/gelombang hidup kita masing-masing.
Nah, bersama dengan Tuhan yang ikut turun tangan, kitapun juga diajak menjadi wajah-wajah Tuhan yang siap turun tangan meneduhkan sesama dengan pola "3K", al:
1.Kehadiran:
Seperti Tuhan yang hadir di tengah badai, kita juga diajak mau hadir bagi derita sesama, terlebih bagi mereka yang sedang terombang-ambing oleh badai kehidupan.
2.Kata-kata:
Dunia kita berubah dan bertumbuh dengan kata-kata tapi bukan kata-kata klise yang hampa dan basa basi tapi kata-kata nyata-nyata yang menjadi daging, yang punya "power" untuk menghidupkan dan meneduhkan sesama.
3.Karya nyata:
Yesus berkarya nyata setiap harinya.
Ia sembuhkan yang sakit – buta dan lumpuh.
Ia kenyangkan yang lapar dan dahaga.
Ia bangkitkan yang mati dan terlupakan. Karya nyataNya menjadi "kotbah yang hidup" karena sarat dengan kesaksian dan kenyataan harian.
"Makan bakut minum jamu -
Jangan takut Tuhan besertamu."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
A.
Kutipan Teks Misa:
Hati manusia merindukan dunia di mana kasih bertahan, di mana karunia-karunia dibagikan, di mana kesatuan dibangun, di mana kebebasan menemukan maknanya dalam kebenaran, dan dimana identitas ditemukan dalam persekutuan yang saling menghormati. Iman kita dapat menanggapi pengharapan-pengharapan ini : semoga kamu menjadi pelopornya! (Paus Benediktus XVI - Pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-43, 24 Mei 2009)
Antifon Pembuka (Mzm 51:12)
Ciptakanlah hati murni dalam diriku, ya Allah, dan baruilah semangat yang teguh dalam batinku.
Doa Pembuka
Allah Bapa yang Mahakuasa, semoga Kristus tidak ditolak dunia, karena kekurangan kami yang menghadirkan-Nya dengan terlalu samar-samar. Semoga kami bersama Kristus, mempedulikan, melayani, serta mengilhami dunia ini, karena Roh Kristus yang hadir dalam diri kami, namun semoga kami sendiri tidak sampai terseret oleh roh duniawi. Kami percaya bahwa Engkau senantiasa menyertai dan membantu kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Kedua Samuel (12:1-7a.10-17)
"Daud mengaku telah berdosa kepada Tuhan."
Pada waktu itu Daud melakukan yang jahat di hadapan Allah: ia mengambil isteri Uria menjadi isterinya; maka Tuhan mengutus Natan kepada Daud. Natan datang kepada Daud dan berkata kepadanya, “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain seekor anak domba betina yang masih kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar bersama dengan anak-anak si miskin, makan dari suapannya, minum dari cawannya, dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu hari orang kaya itu mendapat tamu; ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing domba atau lembunya untuk dimasak bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Maka ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu. Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan, “Demi Tuhan yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena orang yang melakukan hal itu tidak kenal belas kasihan.” Kemudian berkatalah Natan kepada Daud, “Engkaulah orang itu! Beginilah sabda Tuhan, Allah Israel: Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu. Beginilah sabda Tuhan:’Malapetaka yang datang dari kaum keluargamu sendiri akan Kutimpakan ke atasmu. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; dan orang itu akan tidur dengan isterimu di siang hari. Engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.’ Lalu berkatalah Daud kepada Natan, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Dan Natan berkata kepada Daud, “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati, karena dengan perbuatan itu engkau sangat menista Tuhan.” Kemudian pergilah Natan, pulang ke rumahnya. Tuhan mencelakakan anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. Lalu Daud memohon kepada Allah bagi anak itu; ia berpuasa dengan tekun, dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman ia berbaring di tanah. Maka datanglah para tua-tua yang ada di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi Daud tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Ciptakanlah hati murni dalam diriku, ya Allah.
Ayat. (Mzm 51:12-13.14-15.16-17)
1. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!
2. Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang durhaka, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.
3. Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah penyelamatku, maka lidahku akan memasyhurkan keadilan-Mu! Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu!
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 13:16)
Demikian besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal. Setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki hidup abadi.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (4:35-41)
"Angin dan danau pun taat kepada Yesus."
Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak yang ada di sana lalu bertolak, dan membawa Yesus dalam perahu itu di mana Ia telah duduk; dan perahu-perahu lain pun menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau pun menjadi teduh sekali. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapakah gerangan orang ini? Angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan
Peristiwa yang menimpa para rasul bersama Yesus di danau Genesaret mengajak kita untuk merenungkan tentang siapa sebenarnya Yesus itu. Nasib naas dialami ketika datang angin taufan menerjang perahu mereka. Ombak besar menerjang dan air masuk ke dalam perahu dan perahu hampir tenggelam. Namun ternyata Yesus tertidur di dalamnya. Para rasul panik dan ketakutan, dan bertanya dengan nada menggugat: "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?. "Yesus menanggapi situasi itu dan sekaligus mewahyukan siapa Diri-Nya yang sesungguhnya. Dalam keadaan seperti itu memang semua murid merasa khawatir. Hidupnya terancam, kalau perahu tenggelam, maka wajarlah kalau mereka kemudian berpaling kepada Yesus yang sepertinya tak menyadari situasi yang sedang menimpa. Yesus yang sedang tidur diminta bertindak, agar mereka tidak terancam keselamatannya karena angin sakal itu.
Yesus lalu menghardik angin itu: "Diam! Tenanglah." Sungguh mengagumkan, angin reda dan danau menjadi teduh sekali. Luar biasa, tentu saja para murid kagum sekaligus takut. Maka muncullah pertanyaan, siapa sebenarnya Yesus itu? Malahan Yesus balik bertanya: "Mengapa kalian takut dan tidak percaya?" Yesus menantang para murid untuk berani percaya kepada Yesus, yang adalah Mesias, utusan Bapa yang menyampaikan karya keselamatan untuk semua orang. Tentu kita pun tentu merasa tertantang melalui peristiwa yang dialami oleh para rasul ini untuk lebih beriman kepada Yesus.
Antifon Komuni (Mrk 4:31)
Yesus bangun, menghardik angin dan berkata kepada danau, "Diam dan tenanglah!" Maka angin mereda dan danau menjadi tenang sekali.
B.
Saturday, 27 January
"Why are you afraid?"
Scripture: Mark 4:35-41.
On that day, when evening had come, he said to them, "Let us go across to the other side." And leaving the crowd, they took him with them in the boat, just as he was. And other boats were with him. And a great storm of wind arose, and the waves beat into the boat, so that the boat was already filling. But he was in the stern, asleep on the cushion; and they woke him and said to him, "Teacher, do you not care if we perish?" And he awoke and rebuked the wind, and said to the sea, "Peace! Be still!" And the wind ceased, and there was a great calm. He said to them, "Why are you afraid? Have you no faith?" And they were filled with awe, and said to one another, "Who then is this, that even wind and sea obey him?"
Meditation
How can we fight fear with faith? Jesus' sleeping presence on the storm-tossed sea reveals the sleeping faith of his disciples. They feared for their lives even though their Lord and Master was with them in the boat. They were asleep to Christ while he was present to them in their hour of need. The Lord is ever present to us. And in our time of testing he asks the same question: Why are you afraid? Have you no faith? Do you recognize the Lord's presence with you, especially when you meet the storms of adversity, sorrow, and temptation? Whenever we encounter trouble, the Lord is there with the same reassuring message: "It is I, do not be afraid."
What are the characteristics of faith and how can we grow in it? Faith is an entirely free gift that God makes to us. Believing is only possible by grace and the help of the Holy Spirit, who moves the heart and who opens the eyes of the mind to understand and accept the truth which God has revealed to us. Faith enables us to relate to God rightly and confidently, with trust and reliance, by believing and adhering to his word, because he is utterly reliable and trustworthy. If we want to live, grow, and persevere in faith, then it must be nourished with the word of God.
Fear does not need to cripple us from taking right action or rob us of our trust and reliance on God. Courage working with faith enables us to embrace God's word of truth and love with confidence and to act on it with firm hope in God's promises. The love of God strengthens us in our faith and trust in him and enables us to act with justice and kindness towards our neighbor even in the face of opposition or harm. Do you allow the love of Christ to rule in your heart and mind, and to move your will to choose what is good in accordance with his will?
"Lord Jesus, increase my faith in your redeeming love and power that I may always recognize your abiding presence with me. And give me courage to do your will in all circumstances."
Psalm 51:12-17
Restore to me the joy of your salvation, and
uphold me with a willing spirit.
Then I will teach transgressors your ways, and
sinners will return to you.
Deliver me from blood-guiltiness, O God, the
God of my salvation, and my tongue will sing
aloud of your deliverance.
O Lord, open my lips, and my mouth shall show
forth your praise.
For you have no delight in sacrifice; were I to
give a burnt offering, you would not be
pleased.
The sacrifice acceptable to God is a broken spirit;
a broken and contrite heart, O God, you will
not despise.
Daily Quote from the Early Church Fathers
"When you have to listen to abuse, that means you are being buffeted by the wind. When your anger is roused, you are being tossed by the waves. So when the winds blow and the waves mount high, the boat is in danger, your heart is imperiled, your heart is taking a battering. On hearing yourself insulted, you long to retaliate; but the joy of revenge brings with it another kind of misfortune - shipwreck. Why is this? Because Christ is asleep in you. What do I mean? I mean you have forgotten his presence. Rouse him, then; remember him, let him keep watch within you, pay heed to him... A temptation arises: it is the wind. It disturbs you: it is the surging of the sea. This is the moment to awaken Christ and let him remind you of those words: 'Who can this be? Even the winds and the sea obey him.'" (Augustine of Hippo, 354-430 A.D., excerpt from Sermons 63:1-3)

APAKAH INTl DARI HIDUP CISTERCIENSIS?



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
SERI MONASTIK.
SHARING ABDIS:
Sr. Martha E. Driscoll, OCSO.
APAKAH INTl DARI HIDUP CISTERCIENSIS?
Seluruh anggota Ordo bertanya diri: “Apa sih karisma Cisterciensis itu?” Carta Caritatis mengatakan bahwa kita buat semua yang sama dengan Biara Baru di Citeaux, satu peraturan, satu cinta kasih, dan kebiasaan-kebiasaan yang sama. Setiap nas harus ditafsirkan sama dengan para Bapa pendiri. Satu peraturan - ya, PSB tapi ditafsirkan secara berbeda di mana-mana. Satu cinta kasih - memang kita harap, meskipun masalah dan konflik dalam Ordo tidak berkurang juga. Kebiasaan-kebiasaan sudah tidak semua sama.
Pada tahun ‘60-‘70, banyak orang meninggalkan imamat, hidup religius. Ada gerakan menuju kepada hidup monastik Iebih sederhana di pingiran Gereja institusional. Kadang-kadang Gereja dilihat terlalu sempit maka keterbukaan kepada agama-agama lain, filsafat dan tradisi monastik lain berkembang dalam semacam relativisme yang mengancam identitas Katolik sendiri. Adalah mungkin menjadi terlalu terbuka, terlalu menekankan kesamaan hidup monastik pada umumnya - pencarian akan yang mutlak - sampai identitas sendiri yang khas hilang.
Sejak Vatikan II, kita berada di dalam periode pembaharuan. Kembali kepada akar-akar. Tetapi musim semi yang dinantikan segera akan terjadi masih dinantikan. Sudah waktunya untuk Gereja dan Ordo mengamati dan mempertimbangkan usaha pembaharuan dengan berani dan terus terang. Biasa bagi manusia maju dengan Iancar dari salah satu ekstrim kepada yang lain. Saat ini adalah saat rahmat, saat kita rnenyadari bahwa kita perlu mencari jalan tengah, jalan benar. Sampai mana kita reaktif saja daripada memperbaharui?
Sesudah Vatikan II, Gereja dan Ordo membuka pintu kepada dunia - yang sedang mencari keenakan dan kebebasan. Apakah Ordo telah pergi terlalu jauh dalam arah keenakan itu sehingga menghilangkan cara hidup yang alternatif yang melawan konsumerisme? Apakah kita telah menyesuaikan diri terlalu banyak kepada humanisme sekulir? Apakah kita masih menawarkan suatu anjuran hidup monastik injili yang radikal kepada yang mencari kebenaran Kristus sesudah dikecewakan oleh semua tawaran keenakan yang tak berarti dan tak bertujuan? Tantangan apa yang kita sediakan bagi orang yang ingin memberi hidupnya demi membangun dunia yang Iebih baik, bagi keselamatan kekal semua manusia yang menderita dan meninggal dalam zaman ini yang tidak adil dan penuh kekerasan?
Karisma ditrarismisikan dari satu generasi kepada yang lain. Apakah yang kita terima yang kita sedang transmisikan? Mungkin rahmat dari Kapitel Umum 2002 adalah pengakuan bahwa sesuatu tidak beres, ada sesuatu yang berkurang. “Kita harus menemukan kembali dan mewujudkan komplementaritas antara observansi, nilai-nilai dan komunio sehingga dapat dikomunikaskan kepada anggota-anggota baru.”
Kemudian Penyelenggaraan Ilahi memberi Program Studi dan Ordo tentang “Observansi”. Kami sudah membuat kapitel/renungan tentang itu dan tentang kata “obervansi” dalam PSB. ltu membantu kita untuk mengerti arti dan maksud pemahaman yang diinginkan oleh para Bapa Pendiri Citeaux yang punya niat untuk kembali kepada penghayatan PS8. Juga kita telah merenungkan pengajaran St. Bemardus tentang observansi (6 tempayan di Kana): perlu air observansi untuk sampai kepada anggur kontemplasi.
Pernah saya dengar bahwa kekurangan pembentukan yang baik disebabkan oleh kehilangan ingatan bersama, amnesi institusional. Kehilangan ingatan menyebabkan kehilangan arti dan tujuan. Kalau kita kurang kontak dengan apa yang kita terima, kita tidak punya apa-apa untuk diberi. Kalau kita tidak mengenal dan tidak percaya kepada karisma kita sendiri, segalanya menjadi kabur. Masing--masing mengarahkan hidupnya sendiri tanpa tujuan jelas.
Dalam sejarah Ordo, biasanya gerakan pembaharuan mulai dengan kembali kepada PSB. Tetapi sesudah Vatikan II, lebih-lebih Ordo mau kembali kepada Bapa-bapa Cisterciensi dan Bapa-bapa padang gurun. Tekanannya adalah menjadi lebih Cisterciensi dan mengurangi pengaruh Trappist. Sering PSB ditinggalkan, dilalaikan, dicurigai, ditafsirkan sebagai sisa-sisa dari zaman patriarkal yang tidak punya sangkut paut dengan pengalaman zaman kini dan mungkin PSB-lah yang menyebabkan hidup yang tertalu keras pada masa sebelum Vatikan II. Orang merasa alergi dengan semua “harus”, jangan”, “tidak boleh”, harus dijatuhkan hukuman. Kalau PSB disingkirkan, tak ada alasan pun untuk pergi ke ruang kapitel tiap hari. Kalau bacaan pribadi berkembang, tak perlu kapitel oleh abas/abdis. Kedewasaan berarti baca dan pikir sendiri - tak perlu pengajaran dari orang lain. Kedewasaan berarti mempertimbangkan sendiri kehendak Allah melalui dialog - bukan lagi menerima keputusan dari orang lain.
Juga nilai leisure - “waktu luang” diberi kepentingan besar.... perlu banyak waktu bebas, perlu kamar pribadi, lalu menjadi hidup agak mapan. Kerja sedikit untuk mampu bebas berkontemplasi. Nilai-¬nilai seperti kerja berat, pemberian diri, korban demi komunitas, hidup bersama kurang dihargai dan dihayati. Demi kontemplasi, hidup menjadi individualistis. Demi menjadi lebih Cisterciensi, yang dianggap sangat humanistis, hidup menjadi enak. Demi “inkulturasi” apa saja yang tidak sama dengan hidup masyarakat di keliling biara dihilangkan seperti hal yang kuno dan asing. “lnkulturasi” salah arah dan mau menyesuaikan diri dengan mentalitas dunia daripada menjadi “Cahaya Kristus’ yang menerangi budaya dengan kriteri hidup berdasarkan kebenaran dan kasih.
Mungkin sudah waktunya untuk kembali kepada PSB dan observansi sebagai cara khas kita untuk mengikuti Yesus secara radikal - dan syukurlah kita berjuang untuk tak pernah meninggalkannya. Ordo pergi dari penafsiran yang terlalu ketat dan keras - tapi tanpa arti yang mendalam - kepada penafsiran yang terlalu longgar - juga mungkin tanpa menemukan arti yang benar.
Tugas kita sekarang adalah menyadari bahwa kita perlu observansi untuk menghayati nilai-nilai monastik yang menuju kepada transformasi. Dalam proses transformasi ke dalam keserupaan dengan Yesus, Putera Allah, kita belajar untuk hidup dalam komunio sejati dan dalam kesunyian yang mendalam - bukan seperti dua hal yang berlawanan melainkan sebagai dua dimensi dari satu kenyataan.
Dari identitas ketat sebagai Trappist, terjadi usaha untuk mengkhaskan identitas Cisterciensis yang beda dengan Trappist dan beda dengan OSB (dan sudah sebelumnya jelas beda dengan OSC). Mencari perbedaan seperti itu memperkecilkan, menyempit, menutup - meskipun demi tujuan cakrawala yang lebih luas. Kita menemukan ciri khas kita bukan dengan menyatakan bagaimana kita berbeda dengan orang lain melainkan dengan mengarahkan diri pada tujuan dalam karisma kita. Yang penting bukan menyatakan yang berbeda melainkan memakai sarana karisma untuk maju kepada Allah.
Merenungkan perjalanan ini, perjalanan kita dalam usaha untuk menghayati observansi sebagai sarana untuk pertobatan dan membangun komunio, dua kata jelas bergema di dalam hati saya:
Ideals and Reality, Ideal dan Kenyataan. Judul dari buku sejarah Cisterciensi oleh Louis Lekai. Ada ideal yang tinggi - mungkin lebih tinggi daripada tradisi monastik kontemplatif lain karena bukan hanya mencari kesatuan dengan Allah dalam doa pribadi. Ideal Cisterciensi adalah kesatuan dengan Allah yang dialami bersama dalam hidup komunitas dalam komunio. Menciptakan suasana surgawi di dunia ini. Yang paling dijunjung tinggi adalah satu cinta kasih dalam Gereja Monastik dan sernua observansi dan sarana dipakai untuk membangun hidup bersama dalam kasih dan pengampunan dan belaskasihan yang dapat dialami bersama. Kenyataan: ldealnya sendiri mengajak kita menghadapi kenyataan hidup manusia secara langsung dan telanjang. Kita mengalami kesulitan hidup bersama, kebutuhan kita masing-masing yang sering berlawanan, egoisme, ketakutan dan kesombongan yang menghalangi komunio. Semua observansi punya tujuan untuk mempertobatkan kita dari egoisme dan hidup dalam kasih dan pengampunan. Dulu observansi dibuat demi perfektionisnie pribadi, bukan tujuan kasih. Lalu observansi disingkirkan demi nilai kontemplatif atau suasana bebas dan akrab. Tetapi sekarang observansi perlu dipakai sebagai sarana penyangkalan diri yang mutlak perlu untuk hidup dalam Komunio kasih Kristus. Ideal dan Reality harus dipegang sekaligus: mengutamakan jalan Kristus sekonkret-konkretnya dalam kemiskinan kita yang makin memperlihatkan kebutuhan kita akan keselamatan-Nya dan makin menyatukan kita dalam anugerah belaskasihan.
Ideal tinggi merupakan visi akan tujuan itu, yang dalam dan kuat, yang dipegang dengan semangat dan pantang mundur. Akan tetapi harus dihayati dalam semangat belaskasihan yang besar dan mendalam atau akan jatuh lagi dalam usaha perfeksionis. Tata hidup mengungkapkan ideal hidup dan dihayati sebagai pertobatan dalam kesadaran bahwa kita tidak mampu menghayatinya. ltulah bedanya dengan dulu. Penghayatan sempuma tidak dituntut dengan keras sambil saling mengadili melainkan ditujukan bersama sarnbil saling menyemangati dan mendukung dalam kesadaran akan kerapuhan yang penuh belaskasihan setiap kali kita jatuh.
Padahal “Humanae Vitae” diterbitkan - melarang kontrasepsi -, Fr. Louis Bouyer, OP mengatakan: Ya, betul dan benar tetapi Gereja akan harus menjadi Gereja yang berbelaskasih. Sambil mewartakan kebenaran moral menurut iman kita akan wahyu - martabat manusia sejak dikandung dan keluhuran anugerah prokreasi, Gereja harus sadar bahwa seringkali orang tak mampu menghayati nilai yang tinggi itu. Harus rela mengampuni terus. ltu tidak meninggalkan kebenaran yang tinggi karena kelemahan manusia melainkan memahami kelemahan manusia yang belum mengerti atau belum cukup kuat imannya untuk membatinkan dan menghayatinya. Ideal dan Reality. Gereja Kudus mewartakan keluhuran manusia tetapi menerima manusia berdosa.
Sama bagi kita. Kita berpegang kepada Ideal komunio melalui observansi demi pertobatan sambil mengalami ketidakmampuan kita - tanpa lari, tanpa putus asa, tanpa Ioyo, tanpa meniadakan atau meremehkan tata hidup karena ‘tidak realistis’.
Saya bahagia dengan semangat yang diungkapkan Sabtu sore dengan saling memberi peringatan pada pertemuan “Tata Hidup”. ltulah semangat Cisterciensi untuk memperhatikan hal-hal kecil dalam hidup sebagai panggilan Tuhan untuk lebih peka akan kehadiran orang lain dan kehadiran Dia dalam perhatian kepada sesama dan barang.
Ordo sedang menyadari diri. Saya bahagia karena saya menemukan dalam buku Michael Casey “Seni Bacaan Rohani” (yang merupakan petunjuk-petunjuk untuk Iectio pribadi sebagal jalan metode kontemplasi/mistik dari Gereja Barat) kalimat berikut: “Kita harus memindahkan spiritualitas dan misticisme dari ruang individual dan menempatkannya kembali dalam konteks Gerejawi.” Dari spiritualitas yang terlalu individual, vertikal, subyektif. rahasia, perfektionisitis kepada mistik gerejawi, terbuka dalam komunio kasih persaudaraan yang adalah pengalaman akan Allah yang hidup yang kita cari. Pengalaman akan Allah yang hidup tidak terbatas kepada saat doa di gereja atau di kamar, di sudut sendiri di mana kehadiran orang lain mengganggu melainkan merupakan pengalaman komunio dalam komunitas sepanjang hari.
Mengapa kita berdoa bagi kesatuan, mempersembahkan diri dalam ketaatan demi kesatuan? Karena itulah Kasih yang membahagiakan. (Dalam mentalitas toleransi kesatuan tidak diperlukan lagi karena semua diterima - tapi juga tidak ada kegembiraan Kristus.)
Kesaksian kita akan iman akan Yesus Kristus, Putera Allah dalam hidup Cisterciensis adalah kegembiraan dalam kesatuan yang memang belum sempurna tetapi terus dibangun dalam belaskasihan dan pengampunan. Kesaksian terjadi kalau orang melihat komunitas bahagia, bebas, tekun, tak tertekan, tidak takut - atau dalam proses menghadapi ketakutan dasar secara dewasa dengan iman dan kasih yang mengalahkannya. Kesaksian itu berbicara jauh Iebih daripada semua kata-kata.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

SPIRITUALITAS DAN ASKETIKON MENURUT ST. BASILIUS AGUNG (PART II)



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
SERI MONASTIK
SPIRITUALITAS DAN ASKETIKON
MENURUT ST. BASILIUS AGUNG (PART II)
A.
ASAL-USUL MONASTISISME KRISTIANI.
Bilamana dan bagaimana timbulnya monastisisme kristiani masih tetap belum terjawab dengan tuntas. Jawaban tradisional adalah mengikuti Riwayat Antonius dan dari sana menyebar ke seluruh dunia kristiani.
Basilius cocok dengan pola ini: diinspirasikan oleh keluarganya, bersama Gregorius, ia mengunjungi Mesir dan beberapa pusat monastisisme lainnya.
Ketika kembali, terinspirasi oleh Pakomius, pelopor hidup senobit di Mesir, ia mendirikan biara pertamanya di Asia Minor di Annisa.
Para rahib Siria juga mengakui bahwa monastisisme di sana berasal dari Mesir, dalam diri rahib pengembara S.Awgen dan 70 temannya yang datang dari Nitria. Mereka mendirikan biara di G.Izla, dekat Nisibis. Namun pendapat seperti ini masih menimbulkan perdebatan.
Pengaruh monastisisme Mesir bisa dikatakan jelas pada dunia-Latin. Namun, di daerah Timur tengah bagian timur tampaknya monastisisme tumbuh dalam waktu yang lebih kurang sama tanpa tergantung satu sama lain.
Karena itu, tampak berbagai bentuk monastisisme, yang ditentukan oleh lingkungan sosial dan geografis, dan agama asli setempat. Melihat beragamnya bentuk monastisisme ini, para ahli cenderung sepakat untuk mengatakan adanya kesinambungan aliran asketisme di awal abad kristianitas dengan monastisisme dalam abad IV, meski dapat disaksikan unsur-unsur baru juga setelah Kaisar Konstantinus menjadi kristen: hidup monastik yang terorganisasi semakin nyata dalam kristianitas.
Jika hidup asketis pada awal kristianitas biasanya bercirikan kekerasan hidup dan terasing dari masyarakat, maka Athanasius, Basilius, Hironimus, dan Agustinus memperlihatkan bahwa keterasingan itu relatif, sekaligus menunjukkan perananan monastisisme yang menjadi semakin penting dalam hidup menggereja.
Kita sudah menyaksikan pengaruh hidup asketis dalam keluarga besar Basilius pada diri Basilius sendiri.
Akan tetapi hal ini tidak menghapus keagungannya yang berhasil menggabungkan ciri asketisme dengan isu teologis waktu itu yaitu homoousios, yang mengemuka sebagai akibat aliran bidaah Arianisme. Hal ini dirumuskannya dengan istilah eusebia (=hidup saleh), yang juga bisa berarti ajaran atau kepercayaan benar.
B.
AJARAN BASILIUS YANG BERKEMBANG.
Socrates menulis dalam Sejarah Gereja bahwa ada kaitan antara pendirian biara-biara oleh Basilius dengan usahanya untuk melawan Arianisme. Bisa jadi pernyataan ini tidak benar, tapi tetap benar bahwa ia adalah sosok tangguh dalam usaha mempertahankan ajaran homoousios.
Komitmen Basilius pada karya apostolis gerejawi berasal dari konteks hidup asketis. Ketika semakin terlibat dalam usaha memerangi bidaah, ia tetap memperhatikan penghayatan hidup asketisnya. Kegiatan ini mengkibatkannya bertentangan dengan penguasa pemerintahan sipil Modestus dan Kaisar Valens.
Namun, meski terdapat perselisihan dalam bidang iman, Kaisar Valens mendukung usaha Basilius untuk menolong kaum miskin, yang terkenal dengan sebutan Basileiados.
Baginya, pelayanan terhadap kamum miskin bukan hanya perbuatan baik para rahib atau pelayanan kepada masyarakat, melainkan merupakan bagian tidak terpisahkan dari hidup asketis itu sendiri, dan adalah perintah Kristus sendiri.
Dan, selama menjabat Uskup Basilius secara berkala mengunjungi komunitas-komunitas asketis. Dalam masa inilah ia mengumpulkan sejumlah pertanyaan beserta jawabannya; bisa jadi kumpulan ini yang kemudian dikenal sebagai Asketikon.
Kendati tetap menghayati hidup asketisnya, Basilius tetap waspada terhadap aliran-aliran yang cenderung berlebihan seperti Manikeisme dan Enkratisme.
Perdebatan publik mengenai keilahian Roh Kudus kiranya mempengaruhi hubungan Basilius dengan Eustakhius yang pernah menjadi gurunya dalam hidup asketis. Sementara Eustakhius condong menolak keilahian RohKudus, Basilius justru pembela gigih keilahian RohKudus.
Di Gereja Barat/Latin, PSB (pertengahan abad VI) diawali dan ditutup dengan acuan pada S.Basilius.
Awal Prakata PSB mengacu pada tulisan yang diakukan kepada S.Basilius, yaitu Amanat bagi seorang putra rohani, dan pasal terakhir PSB memuat rekomendasi agar mempelajari lebih lanjut “peraturan Bapa kita yang suci S.Basilius”.
Yang dimaksud peraturan Basilius di sini tentulah Instituta Monachorum terjemahan yang dikerjakan oleh Rufinus dari Aquileia dalam 396/7 bagi Urseius, abas Pinetum dekat Ravenna.
Kini diketahui, bahwa teks yang diterjemahkan Rufinus adalah edisi awal Aturan (Asketikon) pendek, yang kiranya disusun ketika Basilius masih seorang imam. Bisa jadi satu kopi Aturan pendek dikirimkan ke biara di Bukit Zaitun yang dikenal baik oleh Basilius. Karena Rufinus tinggal di Yerusalem dalam antara 380-397, tentulah ia bisa memperoleh kopi dari Aturan pendek tersebut.
Basilius “menyusun” dua Aturan: Aturan pendek, dan Aturan panjang. Kata ‘pendek’ dan ‘panjang’ ditambahkan untuk membedakan bagaimana Basilius menjawab atau mengulas permasalahan yang diutarakan.
Aturan pendek berisi 318 pertanyaan dengan jawaban-jawaban pendek atau singkat, sedangkan Aturan panjang berisi 55 pertanyaan dengan jawaban-jawaban panjang lebar atas permasalahan. Keduanya menunjukkan karakter yang sejalan, sesuai dengan keyakinan Basilius mengenai hidup filosofis-kristiani. Pada prakata Aturan pendek Basilius menjelaskan:
“(...) Sudah semestinya, kami yang dipercaya sebagai pelayan sabda senantiasa memperhatikan jiwa saudara-saudara agar mencapai kesempurnaan. Kadang-kadang kami mesti berbicara di muka jemaat, dan pada waktu yang lain mesti melayani pembicaraan pribadi sesuai dengan permohonan saudara yang datang yang berkehendak secara sehat menghayati imannya sesuai dengan Injil (...) Mengingat Tuhan telah mengumpulkan kita bersama di sini (...) maka janganlah kita mencari-cari kesibukan lain (...) melainkan marilah kita melewatkan waktu malam ini sedemikian sehingga kita dengan hati-hati bersama-sama mengusahakan yang memang diperlukan.”
Petunjuk pertemuan di malam hari, di Kapadokia tidak berarti suatu kegiatan monastik. Surat 223 menyatakan, bahwa [Basilius] kerapkali mengunjungi kelompok para saudara, dan sepanjang malam berdoa serta bertanya-jawab tentang hal-hal rohani. Tampaknya, selama hidupnya Basilius mendampingi kelompok-kelompok para saudara yang menghayati hidup kristiani yang terdapat di wilayahnya.
Bentuk tanya-jawab ini sebenarnya bukan hal yang istimewa dalam literatur monastik perdana. Kita mengenal Apophtegmata Patrum atau Collationes juga menggunakan bentuk yang serupa. Apakah Basilius dipengaruhi oleh tulisan-tulisan seperti itu?. Kiranya tidak, karena selama belajar di Atena ia pasti sudah terbiasa dengan cara itu.
Istilah yang biasa dipergunakan Basilius untuk hidup orang Kristen ialah eusebeia (hidup saleh). Ia mendasarkan hidup kristen ini pada Kitab Suci. Amat jelas dari jawaban-jawaban Basilius yang kerapkali mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Sebagai guru yang mahir, ia sering menyebut “para rasul”, khususnya “Sang Rasul”, sebagai ilustrasi atas penjelasan yang diberikannya.
C.
ATURAN PANJANG.
I.
Mengingat sabda Tuhan memperkenankan kami mengajukan pertanyaan, pertama-tama kami bertanya, apakah terdapat urutan dalam perintah-perintah Tuhan, sedemikian sehingga yang satu harus didahulukan terhadap yang lain, atau kesemuanya saling bergantung sehingga urutannya tidak perlu diperhatikan; dan seseorang dapat menentukan sendiri perintah yang akan dijadikan awal, seperti halnya pada suatu lingkaran?
Pertanyaan saudara bukan hal baru dan sudah pernah dikemukakan dalam Injil, ketika seorang ahli Kitab datang kepada Tuhan dan bekata, “Guru, manakah perintah utama dalam Hukum?”, dan Tuhan menjawab, “Hendaklah kamu mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatan dan budimu. Inilah perintah utama dan agung. Dan yang kedua yang setara dengannya, hendaknya kamu mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri” (Mat 22.37-39).
Tuhan sendiri memberikan urutan ini. Dinyatakannya perintah mengasihi Allah adalah yang utama dan agung; dan yang kedua yang setara dengannya, atau melengkapi dan berasal darinya, adalah perintah mengasihi sesama. Maka, dari yang sudah kita lihat, dan dari teks-teks yang sejajar dalam Kitab yang diinspirasikan, mungkinlah kita mengenali urutan dari keseluruhan perintah Tuhan.
Komentar:
Tampaknya pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada Basilius yang tinggal bersama para saudara: semacam dialog. Tentunya bukan dialog antar teman atau sahabat, melainkan antara Guru dan murid.
Sangat menarik, bahwa Asketikon dimulai dengan pertanyaan ini. Mengapa Basilius memulai Aturannya dengan pertanyaan mengenai urutan ‘perintah’’ [Tuhan]? Bukankah lebih masuk akal mengikuti contoh seruan Kristus atau Yohanes Pembaptis yang berisi ajakan untuk bertobat yang merupakan dasar hidup asketis kristen?
Kiranya Basilius berhadapan dengan kelompok yang telah melewati tahapan awal, dan kini berkehendak mengikuti Kristus lebih dekat.
Jelas, Basilius mau mengawali Aturannya dengan kasih, sekaligus juga dengan ‘perintah’. Yang dibahas Basilius dalam Aturannya secara umum adalah hidup yang dihidupi menurut ‘perintah’. Ia menyebut kelompok pendengarnya sebagai ‘atlet-atlet perintah Kristus’. Artinya, perintah yang dibahasnya adalah ‘perintah Kristus’. Sebagaimana Yesus perintah agungnya dari Hukum Musa, demikian pula Basilius tidak memisahkan Perjanjian Lama dari yang Baru. Yang bersabda dalam kedua Perjanjian adalah Tuhan yang sama.
Meskipun dapat terlihat jelas bahwa kasih dan pengajaran Kristus memang penting, pertanyaan mengenai urutan ‘perintah-perintah’ menimbulkan tanda tanya. Sepertinya menempatkan kebebasan injili dibawah disiplin militer.
Dari jawaban yang diberikannya tampak bahwa Basilius memandang penting keinginan untuk mengetahui urutan ‘perintah-perintah’.
Pertanyaan yang diajukan sebenarnya sederhana: dari mana mesti mulai? Urutan atau tatanan [yang] baik memang merupakan satu dari beberapa tema utama ajaran Basilius. Kata yang dipakai adalah eutaxia. Dalam Aturannya ia menyatakan sikap dan tindak dalam hidup bersama kita hendaknya dilaksanakan sepantasnya dan dalam tatanan baik. Tanpa disiplin dan tatanan yang baik hidup kristen dengan mudah merosot, dan Basilius sebagai gembala tentu mempunyai banyak pengalaman dalam hal ini.
PERINTAH GANDA KASIH.
Meski Basilius terdidik dalam filsafat dan pernah belajar di Atena, ajarannya didasarkan sepenuhnya pada Kitab Suci. Berbicara sebagai Guru yang punya otoritas, ia membawa kelompoknya kepada Injil. Ia adalah sungguh-sungguh pelayan Sabda.
Ia mengawali Aturannya bukan dengan suatu diskusi abstrak tentang ‘perintah’, juga tidak membahas pengetahuan tingkat tinggi, malainkan dengan teks-agenda: kedua perintah kasih dalam Mat 22. Dlk. dari Tuhan sendiri, kita menerima urutan ‘perintah’ dan tatanan hidup kita.
Maka Kitab Suci adalah pusat pembahasan Basilius; bukan hanya sebagai proof-text, melainkan sebagai dasar pembahasan-pembahasannya. Tentulah hal ini merupakan hasil lectio divina-nya yang telah dijalankannya selama bertahun-tahun sedemikian sehingga telah menyatu pada pola pikirnya (menurut istilah psikologi: telah mengisi bawah-sadar-nya). Tidak diragukan bahwa lectio divina adalah praktek utama dalam hidup rohani bagi para Bapa Gereja.
Basilius memang memberi komentar pada teks-teks Kitab Suci, tetapi juga tidak takut menyatakan permenungannya. Perintah kasih yang kedua bukan hanya mengikuti yang pertama, melainkan juga menyempurnakannya. “dengan melaksanakan perintah pertama, seorang sekaligus melaksanakan yang kedua; dan melalui yang kedua ia kembali lagi ke yang pertama”. Seorang mengasihi sesamanya dalam Allah, dan Allah dalam sesamanya. Maka pertanyaan pertama ini merupakan pertanyaan utama dalam hidup kristen.
Bagian akhir jawaban Basilius, mungkin terasa agak berlebihan, namun hal ini menunjukkan bahwa ia sungguh yakin akan Kitab Suci sebagai sumber “pengetahuan” bagi orang kristen.
Adiknya, Gregorius Nisa kiranya tidak seoptimis Basilius. Ia menyatakan: “Mengenai keutamaan, yang manakah yang mesti dipandang lebih unggul, atau manakah yang mesti didahulukan, tidak mungkin dikatakan”.
KASIH, YANG PERTAMA ATAU TERAKHIR?
Sangat menarik jika membandingkan Aturan Basilius ini dengan karya Kasianus. Jika Basilius menempatkan perintah ganda ini di tempat pertama, maka Kasianus tidak menggunakannya.
Mengapa? Karena Kasianus mengikuti gurunya, Evagrius, yakin bahwa kasih adalah buah dari suatu perkembangan asketis dan spiritual.
Namun, perlu diketahui, bahwa bagi Evagrius dan Kasianus adalah keutamaan unggul yang menghilangkan ketakutan. Dalam arti ini, kasih adalah yang terakhir dan bukan yang pertama. Bagaimana dengan Benediktus?
II.
Bicaralah kepada kami pertama-tama tentang kasih kepada Allah. Karena kami telah mendengar bahwa seorang mesti mengasihi-Nya, dan kami mau belajar bagaimana agar berhasil melakukannya.
Kasih kepada Allah tidak dapat diajarkan. Sebagaimana kita tidak belajar dari orang lain untuk bersukahati dalam terang dan memeluk kehidupan, begitu juga tidak seorang pun yang mngajari kita untuk orang tua kita yang telah mendidik kita.
Secara sama, atau dengan lebih dalam, kesadaran akan kerinduan kasih ilahi (photos) bukan berasal dari luar, melainkan ketika manusia diciptakan, suatu benih sabda (logos spermatikos) ditanamkan di dalam kita, yang adalah awal terhadap kecondongan untuk mengasihi.
Para murid di sekolah perintah Allah, dengan bantuan rahmat Allah dimampukan untuk melakukannya dengan hati-hati, untuk memupuknya dengan “pengetahuan”, dan untuk mengembangkannya menuju kesempurnaan.
Begitu pula, kami dengan menyambut semangat baik kalian yang diperlukan untuk mengenali tujuan kita, dengan kurnia Allah dan penyertaan doa-doa kalian dalam karya pendampingan ini, akan menyalakan percikan kerinduan akan kasih ilahi yang tersembunyi dalam kalian, sesuai dengan kuasa yang dianugerahkan oleh Roh.
Hendaknya kalian sadari bahwa keutamaan ini, meski tunggal, namun memuat kuasa untuk memenuhi dan merasuki setiap perintah. Karena, ‘seorang yang mengasihi aku’ Tuhan berkata, ‘ akan melakukan perintah-perintahku’ (Yh 14.23), dan lagi, pada kedua perintah ini bergantung semua hukum dan nabi-nabi’ (Mat 22.40).
Dan sekarang kita akan mencoba untuk menelusuri seluruh seluk-beluk dengan teliti (karena kita akan kehilangan arti utuhnya jika memusatkan pada rincian), sejauh kemampuan kita dan sesuai tujuan kita kali ini, yaitu membangkitkan kasih (agape) kita kepada Allah.
Pertama-tama, aku mengatakan: Berkenaan dengan semua perintah yang dianugerahkan Allah, kita telah menerima daya-kekuatan untuk melaksanakannya, sehingga kita tidak mungkin merasa tidak berdaya seakan-akan sesuatu yang asing dituntut dari pada kita, atau tidak merasa sungguh-mampu seakan-akan kita membayar lebih dari yang telah diberikan kepada kita.
Dengan kekuatan ini, jika bekerja secara benar dan tepat, kita menghayati hidup keutamaan. Namun jika gegabah, kita menghayati hidup-cacat. Inilah definisi cacat: suatu penyalahgunaan sedemikian sehingga bertentangan dengan perintah Tuhan, berkenaan dengan yang dianugerahkan kepada kita demi kebaikan. Maka keutamaan adalah penggunaan anugerah Tuhan bersesuaian suara hati yang didasarkan pada perintah Tuhan.
Demikian juga tentang kasih. Setelah menerima perintah kasih, kita mempunyai daya untuk mengasihi yang ditanam dalam kita pada saat kita diciptakan. Tidak bisa dibuktikan dari luar, tetapi siapa pun juga mampu menyadari dan mempelajarinya dari diri sendiri dan dalam diri sendiri.
Secara kodrati kita kita menyukai yang indah, meski kita berbeda pendapat tentang keindahan paling unggul; dan tanpa diajarkan kita tertarik pada yang juga menyayangi kita, dan serta-merta kita menghormati mereka yang membantu kita.
Nah, adakah yang lebih unggul dari pada keindahan ilahi? Apakah yang mengungguli kuat-kuasa Allah? Kerinduan kasih manakah dalam jiwa yang lebih mencekam selain yang dianugerahkan Allah kepada jiwa yang telah dibersihkan dari segala cacat dan berseru dengan kesungguhan: “aku terluka karena kasih”? (Kid 2.5).
Sungguh, yang tak dapat dilukiskan dan dipahami adalah pancaran keindahan ilahi ini: kata-kata tidak mampu menyatakannya, pendengaran tidak mampu menangkapnya. Meski kalian berbicara menggunakan sinar bintang timur, menggunakan terangnya bulan atau sinar matahari, semuanya tanpa arti dibandingkan kemuliaan keindahan ilahi seperti gelapnya malam tanpa bulan terhadap sinar matahari tengah hari.
Keindahan ini tak dapat dilihat oleh mata jasmani, dan terpahami hanya oleh jiwa dan budi orang suci yang telah dicerahkannya, dan meninggalkan cekaman atas kerinduan kasih ilahi.
Orang suci seperti ini, kelelahan dengan hidup dunia ini, akan berseru: “Celakalah aku, karena masa tinggalku di sini diperpanjang!” (Mz 120.5), “Bilakah aku akan datang menghadap wajah Allah?” (Mz 42.2), dan “Pergi [dari sini] dan bersatu dengan Kristus akan lebih baik bagiku” (Flp 1.23), dan “Jiwaku merindukan Allah yang kuat dan hidup” (Mz 42.2), dan “Tuhan, biarkanlah hambamu berpulang” (Lk 2.29).
Menghadapi hidup ini, mereka yang jiwanya disentuh oleh kerinduan akan kasih ilahi, hampir tidak mampu menahan cekaman-cekamannya. Mereka tak henti-hentinya berharap agar mampu memeluk keindahan ilahi dan berdoa agar tatapan atas kemanisan Tuhan akan berlanjut sampai keabadian.
Maka, manusia secara kodrati merindukan keindahan. Tetapi kebaikan adalah yang sesungguhnya indah dan layak dikasihi. Nah, Allah adalah baik, segalanya merindukan kebaikan. Dlk. segalanya merindukan Allah.
Komentar
Pertanyaan kedua ini melanjutkan yang pertama dan membahas yang terunggul dari perintah ganda kasih. Yang berikut membahas perintah yang menempati urutan kedua.
Dalam terjemahan Latin atas Aturan pendek dan dalam penelitian-penelitian mutakhir atas Aturan panjang, keduanya bersama yang ketiga, keempat, kelima, dan keenam bercirikan jawaban yang sangat panjang. Teks panjang yang lebih menyerupai pembahasan atas “perintah” dari pada jawaban langsung Basilius, kiranya memang merupakan bentuk asli Aturan panjang. Ketujuh pertanyaan pertama inilah yang merupakan pertanyaan. Dengan pertanyaan kedelapan dimulai “bagian” baru.
SEKOLAH PERINTAH ALLAH
Ketika membaca uraian pertama seorang bisa terkagum-kagum oleh keindahan dan kekayaan pengajaran dan lukisan-lukisan Basilius.
Ia memang seorang yang dipenuhi Roh Kudus, dan sebagai penatua-terpenuhi-roh, tugasnya adalah menyalakan percikan api kerinduan akan kasih ilahi, yang dimiliki oleh para pendengarnya dalam diri masing-masing.
Bahasa Basilius menunjukkan bahwa ia menyambut baik antusiasme (spoude) para saudara; dan ia mengidentifikasi diri sebagai bagian dari mereka.
Ia bermaksud merangkul para saudara yang sangat bersemangat, dan menyatukannya pada Gereja resmi di Kapadokia. Para saudara adalah pengikut sekolah perintah Allah, yang di sana Allah mengajar mereka baik melalui perintah itu sendiri maupun melalui Basilius yang dipenuhi roh. Baik kita ingat bahwa PSB juga menyebut “sekolah pengabdian Allah” yang dikutipnya dari Regula Magistri, bukan?
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

SPIRITUALITAS DAN ASKETIKON MENURUT ST. BASILIUS AGUNG (PART I)



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
SERI MONASTIK
SPIRITUALITAS DAN ASKETIKON
MENURUT ST. BASILIUS AGUNG (PART I)
A.
LATAR BELAKANG KELUARGA DAN TEMPAT KELAHIRAN.
Basilius lahir sekitar tahun 330 dalam keluarga kaya raya yang memiliki tanah luas di tiga provinsi.
Sebagian besar hidupnya dilewatkan di Pontus dan Kapadokia, yang sekarang merupakan bagian tengah dan utara Turki. Keseluruhan daerah ini disebut juga Anatolia atau Asia Minor, yang merupakan dataran di bagian tengah, dengan pegunungan dan tanah landai sampai laut di sebelah Utaranya dan Selatannya.
Pontus merupakan negara merdeka sampai ditaklukkan Roma dalam abad I sM, dan sejak waktu itu termasuk daerah pemerintahan Yunani di sepanjang laut Hitam.
Dibawah Kaisar Diokletianus (284-305), dimekarkan menjadi tiga provinsi: Helenopontus, Pontus Polemoniakus dengan ibukota Neokaisarea, dan Armenia Minor dengan ibukota Sebaste.
Pontus juga merupakan nama pemerintahan daerah setempat, sehingga kerapkali disamakan dengan Kapadokia.
Mudahnya dapat dikatakan bahwa Kapadokia adalah bagian Timur dari bagian tengah Asia Minor yang merupakan dataran batu karang, sedangkan Pontus merupakan pegunungan berhutan yang menghadap Laut Hitam.
Jika bagian barat Asia Minor merupakan daerah subur dengan kota-kotanya a.l. Efesus, maka bagian timur adalah daerah tandus dengan kota-kotanya yang berjauhan satu sama lain. Iklimnya tidak ramah, dingin membeku di musim dingin dan panas menyengat di musim panas. Kuda dan gandum adalah hasil utama daerah ini, selain ekspor batu mulia dan budak. Kristianitas sudah berkembang sejak abad pertama. Surat pertama S.Petrus dialamatkan kepada jemaat yang terpencar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia, dan Bitinia.
Uskup yang ternama di sini adalah murid Origenes: Gregorius Taumaturgus. Ia berasal dari Pontus dan menjadi uskup Neokaisarea dalam 240.
Melalui neneknya, Macrina yang menjadi Kristen sewaktu terjadi penganiayaan, keluarga besar Basilius berhubungan erat dengan uskup ini dan para muridnya. Darinyalah Basilius belajar ‘ajaran kesucian’ ketika dibesarkan di Neokaisarea. Tema ini yang kelak ditekankannya dalam surat dan kotbah-kotbahnya, yang dengannya ia menampilkan diri sebagai penganut ajaran Origenes.
Orangtua Basilius sudah menganut kristianitas, yaitu ayahnya yang juga bernama Basilius, dan ibunya Emmelia. Mereka dianugerahi sembilan anak, empat laki-laki dan lima perempuan.
Basilius senior yang kaya adalah guru retorika di Neokaisarea. Darinya Basilius mewarisi seluruh tradisi dan pola hidup Yunani.
Tiga anak laki-laki tertua, Basilius, Gregorius, dan Naukratius menerima pendidikan klasik dan menyiapkan diri mengikuti jejak Basilius senior.
Dalam usia enambelas, setelah ayahnya meninggal, Basilius melanjutkan pendidikannya di Kaisarea, Kapadokia.
Kemudian ia ke Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur, dan menjadi murid Libanius yang bersemangat mempertahankan nilai-nilai tradisional pola hidup Yunani. Dalam 349 atau 350 Basilius pergi ke Atena, yang adalah akar pola pikir dan budaya Yunani. Disinilah ia bersahabat dengan Gregorius Nazianzus.
Dengan latar belakang keluarga besarnya dan jalan hidup asketis yang mereka anut, nyata bahwa keluarganya sangat berpengaruh padanya.
Basilius kemudian mengembangkan pola hidup itu menjadi jalan hidup kristiani. Maka keluarga besar Basilius menjadi semacam pola jalan hidup baru injili di Asia Minor dalam abad IV.
Dalam Riwayat S.Macrina tulisan Gregorius Nisa, adik Basilius, tidak disinggung sama sekali pengaruh Eustasius dari Sebaste terhadap Basilius. Sedangkan Basilius sendiri tidak pernah menyinggung Macrina adiknya. Kemungkinan, ada perselisihan dalam keluarga besar Basilius yang mengakibatkan hilangnya nama Eustatius ini. Tapi, bagaimana dengan Macrina yang tidak muncul dalam tulisan maupun kotbah Basilius? Sampai saat ini belum ada penjelasan yang memuaskan.
Namun, sosok Macrina yang dikisahkan Gregorius dalam RSM begitu mengesankan sehingga akhir-akhir ini Macrina dipandang sebagai sosok keempat disamping tiga sosok Kapadokian: Basilius, Gregorius Nazianzus, dan Gregorius Nisa.
Setelah suaminya, Basilius senior meninggal, antara 341 dan 345, Emelia dan anak perempuan tertuanya, Macrina, pindah dari Neokaisarea ke tanah keluarga di Annisa, tepatnya Pontus, di lembah s.Iris.
Basilius senior mempunyai kedudukan penting di Neokaisarea, sehingga bukan luar biasa bahwa setelah wafatnya, keluarganya pindah ke tanah keluarga di pedalaman.
Anak-anak dalam keluarga besar Basilius dididik dalam iman orangtuanya; tetapi setelah berpindah ke Annisa, tanggung jawab ini beralih ke tangan Macrina, yang telah memutuskan untuk hidup sebagai perawan setelah tunangannya meninggal dalam tahun 340.
Ia memeluk hidup asketis, memerdekakan semua budaknya, dan kerja manual bersama sejumlah sahabatnya [yang sebelumnya adalah budaknya]. Tidak lama kemudian, ibunya menggabungkan diri bersamanya.
Adik Basilius, Naucratius, dalam 352 juga memulai hidup asketis bersama beberapa sahabatnya di hutan dekat s.Iris. Ia menggunakan ketrampilannya berburu untuk “membiayai” hidup asketisnya.
Basilius kembali dari Atena dalam 355 dan mendapati bahwa keluarganya telah menjalani hidup asketis. Antara 355-357 ia dibaptis oleh Uskup Kaisarea Dianius. Semangat radikalitas hidup kristen memang sangat tinggi dalam abad IV, juga berpengaruh pada Basilius.
Setelah dibaptis, ia memeluk hidup asketis di tempat yang berseberangan dengan rumah Macrina, kendati tidak identik dengan yang dihayati Macrina atau Naucratius.
Namun, karakteristik hidup asketis [keluarga] Basilian adalah: menarik diri dari keramaian [duniawi] dalam kebersamaan, kerja manual, meniadakan perbedaan status, dan melayani kaum papa. Mudahnya bisa dikatakan, mereka ini menghayati radikalitas hidup bersahaja, memangkas yang berlebihan.
B.
PERSAHABATAN BASILIUS - GREGORIUS NAZIANZUS.
Gregorius dilahirkan dalam waktu yang sama dengan Basilius, di keluarga Arianzus yang tinggal di dekat Nazianzus, Kapadokia Selatan. Ayahnya, Gregorius senior, ditahbiskan menjadi Uskup Nazianzus dalam 330.
Sebelum memeluk kristianitas karena pengaruh istrinya, Nonna, sosok ibu yang sangat saleh, ia seorang penganut sekte sinkretis Hipsistarian. Gregorius dan Nonna dianugerahi tiga anak: Gorgonia, Gregorius, dan Kaisarius yang menjadi pejabat pemerintahan kekaisaran.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Nazianzus, Gregorius pergi ke Kaisarea di Kapadokia. Di sini ia pertama kali berjumpa dengan Basilius. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Kaisarea (Palestina) dan Aleksandria.
Origenes, yang pernah mengajar di kedua tempat ini dalam abad III, sangat berpengaruh baginya; kendati tempat pendidikan yang paling berpengaruh adalah Atena. Ia berangkat ke Atena sebelum Basilius.
Gregorius dan Basilius ketika bersama-sama di Atena menjadi murid para guru terkenal, seperti Himmerius, dan Prohaeresius yang penganut kristianitas. Mereka mengalami ketegangan sekaligus ikatan antara iman keluarga besar mereka dan ajaran-ajaran Hellenis.
Sikap Gregorius sangat positif terhadap ajaran Hellenis; baginya Atena merupakan sumber segalanya yang menarik. Sedangkan Basilius menunjukkan sikap yang mendua; pada surat-suratnya yang awal, ia menulis ‘aku meninggalkan Atena dan menganggap sampah semua yang ada di sana’. Tetapi ketika kembali ke Pontus dalam 355 ia merasakan manfaat pendidikan yang telah dijalaninya dan sempat mengajar di Kaisarea tempat Gregorius, adiknya, belajar.
Tampaknya, pada waktu kembali dari Atena, Basilius mulai menghargai pendidikan-Atena-nya. Saat yang menentukan muncul ketika ia dibaptis, perjalanannya mencari Eustakius dalam 356/7, keputusannya untuk menjalai hidup asketis di Annisa dalam 357/8, dan terutama kematian Naucratius serta keputusan ibunya untuk menjalani hidup asketis dalam 357.
Secara umum dapat dikatakan, Basilius tidak pernah mengingkari manfaat pendidikan klasiknya. Ia berusaha mengabdikannya dalam pola hidup kristianinya.
Dengan latar belakang dan kemampuannya, Basilius sebenarnya bisa meraih posisi penting dalam pemerintahan seperti halnya Kaisarius, saudaranya. Tetapi, ia memilih jalan hidup filosofis bersama sahabatnya ketika tinggal di Atena.
C.
PONTUS.
Rupanya sejak masih bersama di Atena, kedua sahabat ini telah memutuskan untuk pada suatu saat kelak menjalani hidup filosofis-asketis. Kesepakatan ini bukan sesuatu yang luar biasa mengingat pendidikan filsafat yang mengandaikan hidup asketis.
Dengan memulai hidup asketis di Annisa, Basilius memutuskan untuk meninggalkan cara hidup lama [baca: pola hidup di Atena] dan menjalani hidup yang baru: hidup kristiani dan menunjuk Mat 16.24, tentang memanggul salib dan mengikuti Kristus, dan mempelajari Kitab Suci.
Meski pada awalnya Gregorius menghendaki tinggal di Tiberina dekat Nazianzus, namun akhirnya ia setuju untuk begabung dengan Basilius di Pontus, Annisa.
Disana mereka berdua mengabdikan hidupnya pada doa dan kerja manual, belajar Kitab Suci, dan menyusun Philokalia, suatu bunga rampai yang terdiri dari tulisan-tulisan utama Origenes, khususnya mengenai penafsiran Kitab Suci, dan cara penyampaiannya kepada kaum kafir.
Yang pertama besesuaian dengan pola hidup asketis mereka sedangkan yang kedua menunjukkan bahwa kendati menyendirikan diri mereka tetap memperhatikan karya Gereja keseluruhan. Namun kebersamaan di Pontus ini tidak berlangsung lama. Gregorius dalam 359 kembali ke keluarganya.
Tentang kebersamaannya bersama Basilius di Pontus, Gregorius mengungkapkannya dalam suratnya kepada Basilius sbb:
(…)
Seandainya aku kembali mengalami hari-hari kebersamaan itu, yang dengannya aku bersamamu dilimpahi hidup yang keras; sebab menanggung derita secara sukarela jauh lebih berharga dari pada kesenangan yang dipaksakan.
Seandainya kita bisa mengalami kembali pendarasan mazmur dan ibadat malam yang membubung ke hadapan Allah; katakanlah, hidup yang bukan material.
Seandainya kita bisa mengalami kembali keakraban dan kesatuan spiritual yang bersamamu diilahikan karena dipersembahkan kepada Tuhan; seandainya kita bisa mengalami kembali gairah penghayatan keutamaan-keutamaan yang dihayati dalam kerangka kebiasaan dan aturan;
Seandainya kita bisa mengalami kembali kerja kasih, dan cahaya yang kita alami dengan bimbingan RohKudus.
Dalam acara harian, seandainya kita bisa mengalami kembali kerja manual, mengumpulkan kayu bakar dan membelah batu;
Seandainya kita bisa mengalami kembali duduk bersama di bawah pohon yang jauh lebih berharga dari pada tahta dewa Yunani, bukan sebagai Raja yang mewah, melainkan sebagai rahib yang menghayati hidup keras
(…).
Dengannya bisa diperkirakan pola hidup filosofis asketis yang mereka berdua hayati dalam beberapa bulan di Pontus, yang jelas akan melatar-belakangi hidup mereka selanjutnya.
D.
KARYA APOSTOLIS.
Berkaitan dengan cita-cita yang disusun ketika Basilius dan Gregorius di Atena, periode Pontus merupakan perwujudan ideal.
Basilius memang tampak sebagai sosok yang hatinya terpusat pada hidup ini; sedangkan Gregorius seakan mendua: di satu pihak memang terserap pada hidup asketis Pontus ini, di lain pihak ia tidak mampu mengingkari hubungan dekatnya dengan keluarga atau lingkungan asalnya. Akhirnya, Basiliuspun mesti meninggalkan hidup filosofis-asketisnya demi karya apostolis Gerejawi.
Menjelang akhir 359, setelah keberangkatan Gregorius, Basilius meninggalkan Pontus untuk menghadiri Sinode di Konstantinopel.
Dalam waktu yang sama ia ditahbiskan lebagai lektor. Ia kembali ke Pontus di awal 362, dan Gregorius kembali bergabung dengannya karena enggan menerima tahbisan imamat dari ayahnya.
Tahbisan imamat diterima Basilius pada akhir tahun itu setelah Gregorius akhirnya kembali ke keluarganya. Mengenai hal ini Gregorius menulis:
meski sebaiknya tetap menghayati hidup filosofis-asketis dan meski sebaiknya tahbisan imamat ini tidak terjadi, namun demi keselamatan Gereja yang terancam bidaah dan jemaat yang mempercayakan diri padanya, tidak bisa tidak tahbisan ini mesti diterima.
Basilius memang tinggal dan bekerja di Kaisarea setelah tahbisannya, dan bekerja pada Eusebius, Uskup yang baru; namun karena perselisihan di antara mereka, Basilius kembali ke Pontus dalam 363 dan tinggal di sana sampai 365. Setelah tahun itu ia tidak kembali lagi ke Pontus. Ia menerima tahbisan Uskup lima tahun kemudian.
Tampaklah kedua bersahabat ini mempunyai perbedaan karakter. Gregorius senantiasa mendua antara hidup filosofis-asketis dan hubungan dengan keluarganya. Sedangkan Basilius, mampu menggabungkan hidup filosofis dan imamat dalam komitmen tunggalnya pada Tuhan dan Gereja.
Dalam perbedaan itu kelihatan bahwa Basilius cenderung dominan, bahkan sejak awal persahabatan mereka ketika tinggal bersama di Atena, Yunani.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

PENGARUH YOHANES KASSIANUS.



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
SERI MONASTIK
PENGARUH YOHANES KASSIANUS.
Penyelidikan mendetail yang kita lakukan tentang ajaran Kassianus, mengijinkan kita untuk menghargai tinggi mutu pribadinya.
Dia itulah seorang klasik dalam arti kata yang lebih sempit, sebab klasisismenya dibuat pertama-tama oleh suatu pengikatan yang sangat mendalam kepada tradisi.
Ia bukanlah sebagai yang pertama menulis untuk para rahib. Dia sendiri senang mengingat nama para pendahulunya yang termasyur: St. Basilius dan St. Hironimus. Bentuk dialog pada Collationes dapat disandarkan pada contoh-contoh besar dalam dunia kapir kuno: Plato, Cicero, Séneques, Epitete.
Gagasan-gagasan dasar yang diolahnya ialah dari Kristen Timur pada jamannya, lebih tepatnya adalah warisan Evagrius yang mengadaptasikan ajaran Origenes pada hidup kerahiban, yang dikumpulkan demi keuntungan hidup kerahiban barat.
Akan tetapi keturunannya tidak akan menyambut sama sekali ajarannya begitu saja, tanpa ujian dan tanpa jaminan; ia akan melemparkan ajaran yang terkecuali atas Collationes 13 itu, di mana ia bertentangan dengan St. Augustinus, atas biaya ortodoksi sendiri.
Marilah kita memperhatikan hal itu: rumusan-rumusannya yang keliru atau yang melulu bersifat tendensius, tidak menghentikan sama sekali akan penjelasan tentang ajaran rohaninya. Collationes 13 sama sekali bukan bagian hakiki dari tubuh ajaran Kassianus dan dapat dilepaskan tanpa kesulitan. Collationes 13 itu menjawab terhadap perhatian terus-menerus yang tak dikenal dari orang-orang timur yang cemas terutama untuk melindungi kristianisme dari setiap penafsiran yang bersifat fatalist.
Lebih daripada suatu karya asli, di sini rupanya Kassianus ingin mengadakan suatu adaptasi pikiran para gurunya tentang problem-problem yang menyerang dunia Barat.
Barangkali ia memimpikan St. Krisostomus tanpa cukup memperhitungkan perbedaan-perbedaan pandangan. Uskup Konstantinopel itu adalah seorang pengajar yang penuh perhatian terhadap persoalan-persoalan praktis dan yang menjawabnya lebih melalui empirisme daripada melalui pertimbangan spekulatif. Uskup Hipo dan lawan-lawannya para kaum Pellagian bertentangan atas suatu wilayah yang sama sekali lain.
Pada Kassianus, polemik tidak menunjukkan suatu pikiran yang mendalam. Ia bermutu sebagai seorang pengarang populer yang baik.
Ia ulung dalam hal mengemukakan inti sari hidup monastik dan tidak membiarkan pembacanya tersesat dalam keanehan hidup menyendiri yang kerap kali lebih indah daripada yang dapat ditiru, jika kita percaya di dalamnya kesaksian-kesaksian lain dari perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan mereka.
Bukan sebagai plagiator atau kompilator, Kassianus telah memberikan kepada para rahib Barat dua buah pegangan yang mereka butuhkan. Bakatnya yang praktis membantunya untuk mengharap dalam suatu karya yang menuntut suatu pandangan yang sangat tinggi akan gagasan dan suatu psikologi yang sangat tahu akan realitas-realitas konkret.
Pendeknya ia adalah seorang pribadi: ”orang yang memiliki keputusan” dan “pengalaman” yang harus ada dan tinggal sebagai suatu mata rantai tradisi yang sempurna dan seorang guru yang bijaksana serta universil.
Pada bagian kali ini, kita menarik segi-segi utama suatu pengaruh yang tersebar dan berlangsung secara khusus lewat diri Yohanes Kassianus.
A.
SAMPAI DENGAN ABAD PERTENGAHAN
1. Dari Masa Hidup Kassianus.
Kita tidak tahu sama sekali bagaimana Kassianus telah memimpin keabasan St. Victor di Marseille, tetapi kemasyuran dan tindakannya pribadi atas permulaan monakisme gallo-romawi, menampilkan cukup banyak surat yang memuat kata persembahan yang dimasukkan dalam pendahuluan karya-karyanya dan terutama peranannya dalam pertikaian anti-augustinian yang mana dia adalah salah seorang dari yang memegang peran utamanya.
Minat akan episode terakhir ini yang lebih dogmatis, kita hanya akan menahannya melulu detail-detail khas untuk menunjukkan tempat yang diduduki Kassianus dalam lingkungan monastik di daerah Provence.
Dalam tahun 428 atau 429, Prosperus Aquitanus dan Hilarius, dua orang awam, memberitahu St. Augustinus tentang perlawanan yang dijumpai di antara rahib-rahib Gallia oleh gagasan-gagasannya tentang rahmat; Mereka ini tidak menyebut Kassianus dan rupanya tidak mengetahui karya-karyanya.
Karya-karyanya itu belum memberikan pengaruh di seberang lingkup monastik, kepada mana pengarang mengalamatkan karyanya itu.
Setelah kematian uskup Hippo (430), terjadi sesuatu yang benar-benar lain. “Epigrammata in obtrectorem Augustini” karangan St. Prosperus rupanya mengarah kepada Abbas dari St. Victor itu; bagaimanapun “De gratia et libero arbitrio contra Collatorem” yang ditulis mungkin sekitar tahun 433 atau 434 membuktikan bahwa “pelajaran latihan” yang menenangkan kecuali Kassianus sendiri, sekurang-kurangnya mereka yang menyandarkan diri padanya.
Tulisan-tulisan polemik itu lagipula menunjukkan kepada kita bahwa “pemberi wejangan” itu dipandang tidak sebagai “bapa” ajaran anti-augustinian, tetapi benar-benar sebagai wakilnya yang utama.
2. Awal Kerahiban Barat.
Pengaruh dogmatis Kassianus itu berlangsung setelah kematiannya karena pengaruh Faustus, Abbas Lérins (433) sebelum menjadi uskup Riez (sebelum 462), tanpa bahwa penyimpangan-penyimpangan doktrinal tidak membohongi apa-apa tindakan yang dilaksanakan atas kemajuan monakisme Barat.
Murid-murid St. Augustinus yang paling bergelora bukanlah yang terakhir mulai pada sekolah rahib Marseille itu. Lawan Faustus, St. Fulgentius de Ruspe setelah membaca Institutiones dan Collationes, mulai melakukan pejiarahan ke Mesir.
Peraturan yang ditetapkan di Lérins oleh St. Honoratus dikenal sampai kita hanya lewat peraturan-peraturan yang berasal darinya dan yang membuktikan kepada kita betapa berdayaguna keinginan pendiri suci itu untuk membentuk rahib-rahibnya berkat membaca Collationes Kassianus.
Di antaranya semuanya, kesaksian St. Cesarius dan Arles berharga bagi kita. Murid yang ditetapkan oleh St. Augustinus itu, sebagai inspirator Konsili Orange II yang mana kanon 8 secara langsung mengarah kepada Kassianus menulis “Statuta Sanctarum virginum” yang ditujukan kepada para religius di biara St. Yohanes di Arles dan di mana pengaruh Institutiones Kassianus nampak jelas sampai dalam kata-katanya.
Kita bertanya apakah St. Cesarius sebetulnya tidak diilhami oleh Peraturan St. Benediktus. Kronologi tidak menguntungkan apa-apa terhadap hipotese ini dan persaudaraan dari kedua Peraturan cukup diterangkan oleh penggunaan bersama teks Kassianus.
Legislator dari Monte Cassino itu mengikuti modelnya dengan suatu cara yang jauh lebih literal daripada perasaan yang khas Gallia. Tidak boleh dikatakan bahwa St. Benediktus seolah-olah sebagai seorang peniru seperti budak.
Perbandingan antara Peraturan St. Benediktus dengan Institutiones benar-benar menilai bakat khas dari bapa para rahib itu. Namun seorang sejarawan terkenal dapat menulis:
”St. Benediktus banyak tergantung pada Kassianus, secara tak terbandingkan lebih banyak daripada pengarang lain.”
Tidak hanya ia mengutipnya dan diilhami, tetapi ia “merasuki”nya. Ia mengenal Institutiones dan Collationes pada titik pandangan: disesuaikan: kosa kata, susunan kalimat, gayanya.
Jelaslah bahwa suatu ketergantungan yang begitu ketat, buah dari suatu hubungan yang penuh semangat, tidak terbatas pada bentuk, tetapi tersebar sampai pada ajarannya.
Anjuran tegas yang dibuat untuk rahib-rahibnya oleh pengarang Peraturan St. Benediktus untuk membaca “Collationes para Bapa dan Institutiones” membuat pada Kassianus suatu hutang yang tidak akan disangkal oleh seorang pendiripun.
Cassiodorus, dalam biaranya di Vivarium, mempertahankan rahib-rahibnya melawan para sesat yang ditolak olah St. Prosperus; ia tidak mengundang mereka kecuali untuk “membaca dengan penuh perhatian dan mendengarkan dengan senang hati imam Kassianus”.
Melawan persetujuan yang serupa, kekerasan Decretum dari Pseudo-Gelasius yang mendaftar Kassianus di antara para “apocryptes” untuk jangan dibaca, tidak dapat mempunyai hasil yang benar-benar dapat dirasa. Juga para pendiri dan pembuat undang-undang dari biara-biara, tidak setuju untuk mengambil sebagai model terhadap pengarang kita itu dan memperkenalkannya.
Di Spanyol, St. Isidorus (+ 636) diilhami oleh Institutiones pada fasal tentang Differentiae-nya yang dicurahkan kepada “empat cacat”; St. Fructuosus (+ 665) pendiri dan penyusun undang-undang biara ganda di Alcala, memperlakukan Kassianus sebagai salah satu dari terang hidup monastik.
St. Aurelianus, salah seorang dari para pengganti St. Cesarius, demikian bahwa pengarang peratuan Tarnat (biara yang tidak dinyatakan benar) dimasuki oleh ajaran Institutiones.
Lingkungan daerah Lyon, di mana terlaksana kegiatan St. Eucherius, sahabat dan peringkas Kassianus, melanjutkan untuk mengikuti, yang terakhir itu.
St. Romanus, pendiri biara Condat membuat bacaannya yang utama dari “Institutiones abbatum” yang gemilang itu.
St. Yohanes, pendiri Réomé berkontak dengan Institutiones ketika pada suatu hari ada di Lérins, dalam biaranya di Atane dekat Limoges, jika kita pencaya Gregorius dari Tours, mempunyai guru utama yaitu Kassianus.
Lérins, dalam membawa pengaruhnya yang khas sampai di Irlandia, dalam membawa ke sana pengaruh dari rahib Marseille itu. Pengaruhnya itu meninggalkan suatu jejak yang dapat dipungut terutama dalam kebiasaan-kebiasaan liturgis.
Pengaruh itu, yang begitu mudah dibedakan dalam perundang-undangan atau dalam liturgi monastik, tentu berkenaan dengan hidup batin jiwa-jiwa.
Perlipatgandaan naskah dan penyebarannya adalah merupakan sebuah bukti. Orang mencapainya dengan suatu cara yang kurang materiil dalam karya-karya spiritualitas yang ditujukan untuk memberi santapan pada askese individuil.
Tema-tema pokok yang ditulis oleh Kassianus sebagai salah satu dari karya-karya pertama, jika tidak selalu sebagai yang pertama, telah diambil orang-orang lain dan dimasukkan sedemikian rupa pada warisan tradisi. Semacam itulah perbandingan dari dua “kehidupan”. Orang tentunya kagum bahwa Yulianus Pomerus tidak disantapi oleh karya Kassianus sebelum menulis “De Vita contemplativa”.
Dan lagi semacam teori tentang cacat-cacat. Teori tentang cacat-cacat ini khususnya menjadi obyek dari suatu revisi yang serius dalam “Moralia” karya St. Gregorius Agung, selanjutnya sebagai teori dari dua kehidupan.
Kiranya, orang akan terikat tanpa kesulitan pada keputusan Dom L. Gougaud: ”Kassianus, yang merupakan penghubung utama antara Timur dan Barat untuk penyebaran institusi-institusi monastik, juga merupakan pelaku utama propaganda teori dua kehidupan dan pengertiannya”.
Suatu angket yang cepat melintasi abad pertengahan akan mengijinkan kita untuk menghargai lebih baik akan ketepatannya.
Seperti orang dapat mengharapkannya, pengaruh penulis Gallia di Timur itu lebih sulit untuk diikuti.
Untuk menetapkan asal-usul dalam waktu, perlulah dapat menetapkan waktu risalah bahasa Yunani yang disiarkan di bawah nama St. Athanasius.
Orang tahu bahwa ringkasan itu dikerjakan oleh pengarang “De octo vitiis” yang dimasukkan pada karya Pseudo-Nil. Philokalia (cinta akan keindahan) mengumpulkan beberapa fragmen Kassianus yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.
Namun kesaksian Photius berguna baginya sebagai satu-satunya singgungan yang samar-samar. Ia memegang suatu ringkasan Institutiones.
Penilaiannya pasti mengungkapkan lebih daripada suatu pendapat pribadi, bila ia menjamin bahwa pengajaran Kassianus memiliki sesuatu yang bersifat ilahi dan biara-biara yang diilhami berhutang akan kesuburannya, sedangkan mereka yang menolaknya, berjalan menuju kehancuran.
Dari pihaknya, Yohanes Klimakus membuktikan bahwa Kassianus dibaca dan dihargai oleh rahib-rahib Sinai pada abad VIII: bagi mereka, ia disebut “Kassianus Agung”.
II. ABAD PERTENGAHAN.
Penyajian ajarannya memberi kita cukup untuk mendengar bahwa Kassianus adalah seorang praktikus dari tingkah laku rohani.
Pengaruhnya tidak harus mencari dalam tulisan-tulisan spekulatif. Malam dalam tulisan-tulisan yang mengarah suatu tujuan praktis, St. Gregorius Agung atau Yulianus Pomerus (Pseudo-Prosperus), sambil menanti Hugo dari St. Victor, kadang-kadang lebih besar secara eksplisit dipanggil daripada dia.
Ia tidak kurang sebagai pengarang klasik yang dibaca di dalam keabasan. Dia adalah seorang guru pada siapa St. Bernardus dapat menemukan apa yang memberi santapan inspirasi-inspirasi mistiknya sendiri.
Padanyalah acara harian monastik harus mengharapkan suatu “collatio” harian, kepada collatio itu Sinode diosisan Mayence dan Châlon-su-Saône menyinggungnya.
Bila orang mengutip “Collationes Patrum”, terjadilah orang menghargai apophtegmata Geronticon. Suatu “Confessio theologica” yang dianggap berasal dari dia, telah dikembalikan oleh Dom A. Wilmart kepada Jeannelinus, Abas kedua dari Fécamp.
Dalam kompilasi-kompilasi, Kassianus berdekatan dengan para guru besar. Liber de virtutibus et vitiis karya Alcuinus (+ 804), buku pegangan bagi seorang awam, diilhami dalam bagian pertama dari St. Augustinus, tetapi dalam bagian kedua, ia meringkas dan merangkum ajaran Kassianus dan St. Gregorius tentang cacat-cacat. Penyalin Codex St. Yakobus malah memindahkan secara harafiah bagian-bagian yang diambil dari Institutiones.
Raban Maurus (+ 856), di dalam De clericorum institutione puas dengan mencontoh tulisan dari Kassianus tentang keempat jenis doa.
Dalam pertahanan para rahib melawan para pemfitnah, orang menggunakannya sebagai “suatu kewibawaan yang tak terlawankan”.
St. Petrus Damianus menghubungkan dengan ringkasan yang diberikan oleh St. Eucherius untuk membuktikan bahwa pakaian para eremit itu disesuaikan dengan tradisi primitif.
Rupertus Abbas dari Deutz (+ 1129), dalam bukunya De Vita vere apostolica, melaporkan sepanjang fasal 5 dan 6 dari Collationes 18 untuk menetapkan bahwa para rahib adalah para pewaris sejati dari hidup apostolik.
Dari pihaknya, para kanunik regulir membaca karya-karya Kassianus.
Pastilah, para Victorian tidak bermimpi untuk mengutipnya. Mereka mengikuti jejak para spekulatif/pemikir besar, St. Anselmus dan St. Bernardus; mereka berhubungan dengan St. Augustinus malah dalam karangan-karangan mereka tentang keutamaan.
Akan tetapi, seorang Inggris, Adam de Dryburgh (Adam Scot) pada suatu kesempatan ingat akan Collationes yang dibaca setiap sore pada kapitel sebelum Completorium.
Orang-orang lain yang masih membaktikan diri pada peraturan St. Augustinus menarik keuntungan dari Collationes itu.
Jika kita percaya akan bukunya tentang “Vita”, St. Dominikus berhutang kesempurnaannya yang tinggi padanya. Vincent de Beauvais yang melaporkan kepada kita kesaksian itu mengakui bahwa ia tahu sedikit buku yang begitu merangsang seperti buku Kassianus.
Di mata St. Thomas, murid para Bapa Padang Gurun membuat figur sejati “kewibawaan”. Ia hanya ada untuk yakin melulu untuk sampai kepada daftar para pengarang yang dikutip dalam 2a.2acD.
Humbertus dari Romans (+ 1277), guru umum dari para Ordo Pengkotbah mengutip Collationes dalam bukunya tentang “Expositio regulae St. Augustini” dan “Expositio super Constituiones fratrum Praedicatorum”.
Demikian pula Melchior Cano dalam “La Victoria de si mismo” ysng diilhami oleh sesama saudaranya Carioni, kepada mana orang berhutang kepada suatu apologi yang hangat dari Kassianus dalam bukunya tentang “Via diaperta verita”.
Pada para moralis yang terutama berminat pada praktek pembimbingan, Kassianus menduduki suatu tempat pilihan.
David dari Augsburg, karena diilhami dalam teorinya tentang cacat-cacat, memberi kepercayaan pada putera-putera St. Fransiskus.
Rahib Kartusia termasyur Dionisius de Ryckel secara khusus bekerja untuk memperkenalkan orang yang disebutnya “bapa yang sangat termasyur dan pujangga dari seluruh biarawan”. Tidak puas untuk dimasuki oleh semangat Kassianus ia menjadikannya bacaan yang lebih mudah melalui suatu penjelasan dalam mana ia menyederhanakan gaya dan bahasa rahib gallo-romawi itu.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)