Ads 468x60px

Minggu, 27 Agustus 2017


HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Minggu, 27 Agustus 2017
Hari Minggu Biasa XXI
Yesaya (22:19-23)
(Mzm 138:1-2a.2bc-3.6.8bc; Ul: 8bc)
Roma (11:33-36)
Matius (16:13-20)
"Vox Dei - Suara Tuhan."
Pengenalan akan suara Tuhan yang mempunyai "KUNCI"-"Kuasa Untuk Nampakkan Cinta Ilahi" adalah sebuah proses "on becoming" yang sebenarnya terdiri dari tiga tahapan iman, antara lain:
1."Dialogal":
Tuhan menyapa kita dan berdialog dengan kita lalu mengajak kita: "Ikutlah Aku!" (Mat 4:19), "Marilah dan kamu akan melihatnya!" (Yoh 1:39).
2."Comunal":
Setelah sekian lama hidup bersama Yesus (Luk 8:1), melihat apa yang dilakukan serta mendengar apa yang diajarkanNya, Yesus bertanya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Dengan ini, Yesus mau mengetahui sejauh mana para murid peka untuk mendengar dan menangkap konteks sekitar secara aktual.
3."Personal":
Yesus mengajak kita mengimaniNya berdasarkan pengalaman dan keyakinan pribadi, yang bukan sekedar ikut ikutan: "Tetapi, apa katamu, siapakah Aku ini?" Adapun, pertanyaan ini disampaikan di tengah perjalanan, ketika tiba di Kaisarea Filipi.
Hal ini mempunyai 2 arti, yakni:
a. Pengenalan akan Yesus itu ditemukan, diungkapkan dan dihayati sepanjang dan di dalam perjalanan hidup kita.
b. Kaisarea Filipi adalah tempat yang tenang, ada sumber yang mengalirkan air segar hingga nyaman untuk beristirahat sejenak setelah perjalanan yang melelahkan. Dengan kata lain: 'Kaisarea Filipi' adalah "oase", tempat menemukan lagi akrabnya suasana dengan Tuhan yang hidup dalam suka duka kita.
"Ada buaya di Tarsus - Aku percaya pada Tuhan Yesus."
NB:
Kutipan Teks Misa:
Yesus mempercayakan kepada Petrus wewenang yang khusus: "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga" (Mat 16:19). "Kuasa kunci-kunci" berarti wewenang untuk memimpin rumah Allah, ialah Gereja. Yesus "gembala yang baik" (Yoh 10:11), menegaskan tugas ini sesudah kebangkitan-Nya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yoh 21:15-17).
Wewenang untuk "mengikat" dan "melepaskan" menyatakan wewenang di dalam Gereja untuk membebaskan dari dosa, mengambil keputusan menyangkut ajaran dan memberikan keputusan-keputusan disipliner. Kristus mempercayakan otoritas ini kepada Gereja melalui pelayanan para Rasul Bdk. Mat 18:18. dan terutama melalui Petrus, kepada siapa Ia secara khusus menyerahkan kunci-kunci Kerajaan-Nya. (Katekismus Gereja Katolik, 553)
Antifon Pembuka (Bdk. Mzm 86:1-3)
Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, dan dengarkanlah aku. Selamatkanlah hamba-Mu, yang berharap kepada-Mu. Kasihanilah aku, ya Tuhan, kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.
Turn your ear, O Lord, and answer me; save the servant who trusts in you, my God. Have mercy on me, O Lord, for I cry to you all the day long.
Inclina, Domine, aurem tuam ad me, et exaudi me: salvum fac servum tuum, Deus meus, sperantem in te: miserere mihi, Domine, quoniam ad te clamavi tota die.

Doa Pembuka
Ya Allah, Engkau menyatukan hati umat beriman dalam mengejar tujuan yang sama. Bantulah kami mencintai yang Engkau perintahkan dan merindukan yang Engkau janjikan agar di tengah hal-ihwal dunia ini hati kami terarah kepada-Mu, sumber sukacita yang sejati. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (22:19-23)
"Aku akan menaruh kunci rumah Daud di atas bahunya."
Beginilah firman Tuhan kepada Sebna yang mengurus istana raja, “Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan. Maka, pada waktu itu, Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia. Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya; ikat pinggangmu akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya. Maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. Aku akan menaruh kunci rumah Daud di atas bahunya. Apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Aku akan memberi dia kedudukan yang teguh seperti gantungan yang dipasang kuat-kuat pada tembok yang kokoh; maka ia akan menjadi kursi kemuliaan bagi kaum keluarganya.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 4/4, PS 816
Ref. Tuhan mendengarkan doa orang beriman.
Ayat. (Mzm 138:1-2a.2bc-3.6.8bc; Ul: 8bc)
1. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hati, sebab Engkau mendengarkan kata-kata mulutku; di hadapan para dewata aku akan bermazmur bagi-Mu, aku hendak bersujud ke arah bait-Mu yang kudus.
2. Aku hendak memuji nama-Mu oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
3. Tuhan itu tinggi, namun Ia memperhatikan orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong jauh. Ya Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi, janganlah Kautinggalkan buatan tangan-Mu!

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (11:33-36)
"Segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah dan menuju Allah."
Saudara-saudara, alangkah dalamnya kekayaan, kebijaksanaan dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-Nya, sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada Allah, sehingga Allah wajib menggantinya? Sebab segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah dan menuju kepada Allah. Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = a, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 10:27)
Engkau adalah Petrus, dan di atas wadas ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam menguasainya.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (16:13-20)
"Engkaulah Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga."
Sekali peristiwa Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi. Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis; ada juga yang mengatakan: Elia, dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa saja yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa saja yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya memberitakan kepada siapa pun bahwa Dialah Mesias.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan:
Peristiwa penting yang menunjukkan bahwa Yesuslah yang mendirikan Gereja terdapat dalam kisah pengakuan Petrus (Mat 16:13-20).
Ketika Yesus bertanya kepada para rasul “menurut kamu, siapakah aku ini?”, maka hanya Petruslah yang memberikan jawaban. Petrus tampil sebagai juru bicara rasul lainnya, menyatakan pengakuan imannya yang tidak berasal dari daging dan darah, melainkan dari Bapa: “Engkaulah Mesias, Putra Allah yang hidup”.
Lalu Yesus pun menjawab:
“Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”
Kata “jemaat-ku”, dalam Kitab Suci berbahasa Inggris ditulis sebagai “my Church”, atau dalam bahasa latin ecclesiam meam, dan dalam bahasa Yunani ekklesia.
Kristus tidak mendirikan gereja-gereja, melainkan hanya mendirikan satu Gereja. Dan sudah sejak di abad kedua, kita mengetahui bahwa Gereja Kristus adalah Gereja Katolik.
Tulisan St. Ignatius Antiokhia (35-108 AD) menegaskan hal tersebut: “Di mana pun Yesus Kristus berada, di sana ada Gereja Katolik.” (Letter to the Smyrnaeans, Ch. 8)
Gereja selalu menafsirkan batu karang yang dimaksud sebagai pribadi Petrus dan juga pengakuan imannya, sebagaimana terlihat dalam Doa Pembuka Misa Tridentine untuk Hari Raya St. Petrus dan Paulus:
Grant, we beseech thee, O almighty God, that we, whom thou hast founded on the rock of the Apostolic Faith, may be never shaken by any troubles.
Dan jelas sekali ada kaitan yang erat antara Gereja dan Petrus, sebagaimana diungkapkan dalam bahasa latin: ubi Petrus, ibi ecclesia: di mana ada Petrus, di sana ada Gereja.
Ada ikatan yang tidak terpisahkan antara Kristus dan para rasul, antara Yesus dan Gereja. Kita tidak bisa mengaku sebagai pengikut Kristus kalau kita menolak Gereja-Nya; kita bukanlah pengikut Kristus kalau kita menolak untuk berada dalam persekutuan dengan penerus Petrus dan para rasul. Sebagaimana diperingatkan St. Siprian: “Tak seorangpun dapat memiliki Allah sebagai Bapa, yang tidak memiliki Gereja sebagai Ibu.”
Keberadaan Gereja, pertama dan terutama, merupakan karunia atau pemberian Allah. Manusia tidak dapat mendirikan gereja dengan usahanya sendiri, kita hanya dapat menerima Gereja dari Kristus, seperti ditegaskan Kardinal Ratzinger:
Pada tempat pertama, tak seorangpun dapat membuat Gereja oleh dirinya. Sebuah kelompok tidak bisa semata berkumpul bersama, membaca Perjanjian baru dan menyatakan: “Sekarang kita adalah Gereja karena Tuhan hadir ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya.” Unsur “menerima” secara hakiki merupakan milik Gereja, sama seperti iman yang berasal dari “pendengaran” dan bukan akibat keputusan atau permenungan… Seseorang tidak dapat membuat Gereja tetapi hanya bisa menerimanya… (Joseph Ratzinger, The Ecclesiology of Vatican II)
[1] Mungkin ada yang bertanya mengenai istilah Katolik Roma yang sering kita dengar.
Sejujurnya, secara historis istilah Katolik Roma merupakan “ejekan” bagi umat Katolik (yang adalah pengikut Paus) yang diciptakan oleh kaum Anglikan di abad 16, dengan maksud untuk mengakui diri mereka sebagai Katolik.
Istilah Katolik Roma sendiri juga tidak pernah terdapat dalam dokumen-dokumen resmi Gereja, misalnya dalam dokumen Konsili Vatikan II.
[2] Argumen yang sering digunakan oleh Protestan ialah adanya perbedaan kata antara petros dan petra, yang mana petros berarti batu kecil, sedangkan petra berarti batu yang besar dan kuat, yang menandakan bahwa keduanya mengacu pada hal yang berbeda.
Namun hal ini dapat dengan mudah dibantah: saat itu Yesus berbicara menggunakan bahasa Aram, dan hanya ada satu kata untuk kata batu karang yakni Kefas, dan dengan demikian mengacu kepada pribadi Petrus.
Jadi ayat tersebut berbunyi demikian: Engkau adalah Kefas dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku. Mengenai distingsi petros dan petra, sebenarnya kata Yunani yang digunakan untuk batu kecil adalah lithos, bukan petros. Dalam tata bahasa Yunani, kata memiliki gender entah itu maskulin atau feminin. Petra merupakan bentuk feminin (yang menggambarkan batu karang), sedangkan petros adalah bentuk maskulin (karena mengacu ke nama Petrus yang adalah laki-laki), namun keduanya mengacu kepada Petrus.
[3] Beberapa Protestan dan juga Orthodox sering menggunakan argumen batu karang=pengakuan iman Petrus sebagai alasan untuk menolak primat Petrus, dengan menggunakan teks dari Bapa Gereja.
Memang beberapa Bapa Gereja mengartikan batu karang sebagai pribadi Petrus dan pengakuan imannya, namun bila tulisan Bapa Gereja diteliti lebih lanjut, tidak ada Bapa Gereja yang membatasi arti batu karang hanya sebatas pada pengakuan iman Petrus, sebaliknya justru kedua arti ini dipertahankan dan mereka juga mendukung primat Petrus.
Gereja Katolik selalu mengkaitkan pengakuan iman Petrus dengan pribadinya, tanpa adanya pribadi Petrus maka pengakuan imannya tidak mungkin terjadi. Dengan demikian, makna batu karang sebagai pribadi Petrus menempati tempat utama dalam menafsirkan Mat 16:18.
Antifon Komuni (lih. Mzm 104:13-15)
Bumi penuh buah karya-Mu, ya Tuhan. Engkau menganugerahkan roti dari dalam tanah dan anggur yang menggembirkaan hati manusia.

St. bernard dari Clairvaux 5


HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Suatu perjalanan kembali ke Allah:
"Saint Bernard, Un itine'raire de retour, a Dieu"
BAGIAN II (B)
AJARAN SANTO BERNARDUS (5 - 7).
5. TINGKAT-TINGKAT KASIH.
Pada titik tolak pendidikan, kembali terdapatlah kasih kodrati manusia akan diri sendiri. Pertama-tama tiap orang mengasihi diri sendiri demi diri sendiri, dan bukannya karena suatu ketidakberesan kehendak kodrati, melainkan karena keharusan kodrat. Bagaimana mungkin orang hidup, kalau ia pertama-tama tidak memikirkan makanan, pakaian, perumahan dan pembelaan diri?
Tingkat pertama kasih ini memang dipusatkan sepenuhnya pada pribadinya sendiri. Meskipun begitu kasih tersebut bukannya tidak mampu meluaskan jangkauannya sampai mencakup juga obyek-obyek lain.
Di sinipun, “pertimbangan" akan diri sendiri tak bisa dielakkan oleh orang yang mau memilih jalan lurus ke Allah. Mengenal kemalangannya sendiri sekaligus juga berarti menyadari kemalangan orang lain. Jika mengukur dalamnya kejatuhan kita, mau tidak mau kita mengalami kerendahan diri yang menimbulkan rasa iba akan diri kita sendiri. Tetapi dengan sendirinya kita juga merasa iba akan kemalangan serupa yang juga diderita oleh sesama kita.
Jadi kasih duniawi yang dimiliki tiap orang terhadap dirinya sendiri berkembang menjadi kasih sosial yang terungkap dalam sedekah dan karya amal yang dipraktikkan di mana-mana oleh orang Kristen sejati.
Tidakkah Kristus sendiri memberikan teladan kepada kita? Tidak satupun karya amal yang dapat dibandingkan dengan penjelmaan seorang Allah yang menjadi manusia untuk mengalami kemalangan kita dan menderita sengsara yang menyakitkan demi bela rasa dengan kita. Pribadi Yesus Kristus adalah bela rasa dan kasih ilahi yang menjelma supaya dapat dilihat oleh mata duniawi yang pengenalannya berakar pada indra.
Oleh. sebab itu devosi indrawi kepada Kristus mendapatkan tempat penting sekali dalam spiritualitas Santo Bernardus. Tiada seorangpun bicara tentang hal ini dengan lebih baik dengan tekanan lebih mantap dan emosi lebih mendalam daripada dia.
Dalam doktrin Santo Bernardus, devosi kepada Kristus termasuk inti seperti juga dalam spiritualitas lain. Misalnya dalam spiritualitas fransiskan yang didapati dalam Santo Bonaventura.
Meskipun begitu, devosi tersebut hanyalah penyucian bela rasa kodrati yang dimiliki orang terhadap sesama saudara yang berada dalam kemalangan yang diilahikan oleh penjelmaan dan kematian Yesus Kristus.
Orang yang dijiwai oleh kasih ini mudah membiarkan diri digerakkan oleh amanat yang diucapkan Yesus. Ia mendengarkan, membaca dan merenungkan dengan senang hati segala sesuatu yang ada hubungannya dengan penebusan, yang namanya saja sudah merupakan sumber renungan yang tak tertimba habis dan sumber rahmat bagi orang yang tak jemu-jemunya mengulang-ulanginya. Kalau sahabat Kristus memandang dan mendoakan obyek kasihnya, maka yang mengunjungi rohnya ialah gambar indrawi Kristus yang lahir, menjadi besar, mengajar, meninggal dunia, bangkit dan naik ke surga.
Kasih ini merupakan pengantara seperti Yesus sendiri dan anugerah besar sekali. Tetapi ia dimasukkan untuk mengantar kepada tingkat-tingkat tertinggi, yaitu dengan mengangkat jiwa dari Sabda yang menjelma ke Sabda Kebijaksanaan yang kunjungannya merupakan rahmat paling tinggi yang dapat diterima manusia di dunia ini.
Dengan demikian, semenjak di tingkat kasih duniawi rahmat sudah mengerjakan transfigurasi yang. mengubah kasih kodrati menjadi kasih adikodrati dan rohani dalam arti kata yang sesungguhnya.
Tingkat pertama kasih di mana orang mengasihi diri sendiri demi sendiri diam-diam mengantar perenung naik ke tingkat kedua, di mana orang mencari batu loncatan untuk keluar dari kemalangannya, dan yang ditemukannya tidaklah lain kecuali Allah. Mengasihi Allah pertama-tama dan lebih-lebih demi kebaikan yang diharapkan sendiri sebenarnya masih sama dengan mengasihi diri sendiri pertama-tama, sebab kasih tersebut masih merupakan kasih berpamrih yang lebih demi sendiri dari pada demi Allah.
Meskipun begitu, sekali ia mengasihi Allah demi kepentingannya pribadi, orang seakan-akan sudah menjalin hubungan pribadi dengan Dia. Dengan memikirkan Allah karena memerlukan bantuannya, orang membaca kitab suci untuk mengambil pelajaran dari padanya, ia berdoa kepada Allah, ia bicara dengan Allah dalam kemalangannya, ia mencari kehendak-Nya dan taat kepada-Nya. Dengan demikian terjalinlah hubungan kekeluargaan antara jiwa dan Allah.
Setelah menikmati manisnya pergaulan tersebut, orang mencapai kasih ketiga, dimana ia mengasihi Allah baik demi kepentingannya maupun demi Allah sendiri. Kebanyakan orang Kristen berada pada tingkat ini. Di dunia ini orang tidak mungkin naik melebihi tingkat ini secara definitif, bahkan yang paling sempurnapun tidak bisa.
Naik lebih tinggi, yaitu mencapai kasih tingkat keempat berarti mengasihi Allah hanya demi Allah semata-mata tanpa ada bekas kasih akan diri sendiri sedikitpun juga. Tingkat ini akan dicapai oleh para pilihan dalam kehidupan abadi. Tetapi sekarangpun, meskipun hanya untuk sekejap mata saja, tingkat ini sudah dicapai oleh jiwa yang dikunjungi Sabda dalam kegembiraan ekstasis.
Kehendak orang yang menerima rahmat ini berada dalam kesatuaan sempurna dengan Allah yang dikasihinya demi Allah sendiri seperti Allah mengasihi demi diri-Nya sendiri.
Dengan demikian, sekaligus dicapai kemiripan sempurna antara makhluk dan Penciptanya. Di sinilah letak kesatuan paling erat yang dapat dibayangkan antara manusia dengan Allah.
6. PENGALAMAN MISTIK.
Kalau harus melukiskan keadaan mistik tersebut di atas Santo Bernardus mengakui bahwa ia berhadapan dengan sesuatu yang tak terungkapkan.
Akal budi tidak mampu menangkap hal ygng dicapai oleh pengalaman. Meskipun ia rendah hati dan lebih senang berdiam diri, ia sendiri harus mengakui bahwa pengalaman tersebut tidak asing baginya.
Sebab tanpa adanya pengalaman tersebut, ia akan terpaksa harus diam sama sekali tentangnya. Dalam membicarakan hal tersebut ia menekankan juga bahwa pengalaman mistik yang paling tinggi adalah juga yang paling pribadi, atau barangkali malahan unik.
Di situ, lebih dari pada di mana saja, tiap jiwa adalah seperti taman rahasia yang diutarakan oleh kitab suci, tiap orang harus minum dari air yang ditimba dari sumbernya sendiri: hortus conclusus, fons signatus (taman tertutup, sumber termeterai).
Tanpa bermaksud memberanikan diri membicarakan ekstasis yang dialami orang lain, Santo Bernardus melukiskan bahwa ekstasis yang dialaminya adalah mendadak, tak terduga sebelumnya, jarang dan singkat.
Kehadiran sabda di dalam jiwa dapat dikenal dari kegembiraan affektif yang murni. Yaitu suatu emosi hati yang polos tidak tercampur dengan kata ataupun gambar sama sekali. Sejauh ia dapat mengatakannya sesudah pengalaman itu berlalu, pada waktu itu jiwa mengalami kesan seakan-akan jiwa ditembus sepenuhnya oleh Sabda dan luluh sama sekali di dalam-Nya, seperti sepotong besi yang dibakar dan tidak terpisahkan dengan api tukang besi tanpa kehilangan dirinya sendiri di dalam perapian itu. Maka selesailah sudah semua pertanyaan dan jawaban. Kalau Sabda menembus demikian ke dalam jiwa, Ia bukan lagi pribadi yang ditanya, diinginkan, ditunggu, apalagi Ia bukan lagi hakim yang ditakuti.
Dalam keadaan seperti itu kasih Allah melulu yang berkuasa dalam hati manusia segala ketakutan lenyap di dalam damai dan istirahat yang tak tergoyangkan: O si durasset! O sekiranya keadaan itu bertahan!
Tetapi saat-saat seperti itu jarang terjadi dan singkat saja. Semuanya itu hadir serentak dan menenggelamkan kita dalam keagungan Allah selama kehadirannya berlangsung terus.
Tetapi sekali ia menarik diri, jiwa seperti air mendidih yang mendadak dijauhkan dari nyala api, segera jiwa berhenti bergetar. Ia jatuh kembali pada dirinya sendiri. Lalu ia menjadi dingin meskipun masih tetap menyimpan pengalaman itu dan sangat merindukan kedatangannya kembali. Ia juga tetap, merasa adanya pembaharuan kehidupan batin, nafsu-nafsunya tertekan, atau lebih tepat dagingnya dikuasainya dengan tenang. Ini semua mewartakan tranfigurasi yang akan dialaminya dalam kemuliaan.
Theologi mistik Santo Bernardus dari Clairvaux tetap merupakan salah satu puncak tertinggi pikiran Kristen. Orang-orang abad pertengahan melihat ini dengan baik,sehingga bahkan pada awal abad 14 tatkala theologi skolastik sudah menghasilkan karya-karya agung yang paling sempurna, kepribadian agung Santo Bernardus masih tampak sebagai lambang utama bagi hidup bersatu dengan Allah.
Di dalam “Divina Comedia”, Santo Bernarduslah yang akhirnya mengantar jiwa Kristen kepada ekstasis final yang menutup kidung suci. Beatric sendiri mengundurkan diri di hadapan tokoh tua yang digelorakan oleh kasih Allah, ditranfigurasikan oleh kasih menjadi gambar kasih, tokoh yang selagi masih di dunia ini sudah mulai menikmati suka cita surgawi.
Jadi orang tidak bisa memahami arti arti terdalam”Divina Comedia” tanpa harus mengadakan kontak dengan pribadi dan theologi mistik Santo Bernardus. Ini berarti bahwa memang sudah sewajarnya bahwa karya-karya Santo Bernardus harus mendapatkan tempat di dalam koleksi “Orang Kristen dari segala zaman”.
7. MISTIK SEJATI DAN MISTIK PALSU.
Kehadiran Santo Bernardus dalam koleksi tulisan-tulisan Kristen sepanjang zaman dapat merupakan bahaya. Yaitu kalau tulisan-tulisannya dijadikan bahan sastra semata-mata bagi orang yang ingin tahu, menjadi bahan hiburan bagi akal budi atau lebih parah lagi, menjadi dalih untuk penyesatan-penyesatan rohani bagi beberapa mistik amatir.
Keaslian sejati pengalaman rohani Santo Bernardus menyebabkan dia di mata orang-orang sezamannya seperti dimeterai oleh tanda suci dan diliputi oleh keagungan yang tak dapat didekati oleh siapapun juga di zaman itu.
Muridnya yang paling dekat, bahkan murid yang melanjutkan kotbahnya tentang madah agung, yaitu Gilbert dari Hoyland, langsung menyatakan dirinya tidak kompeten menyusun pasal tentang mistik. Bagaimana mungkin mempertahankan komentarnya pada tingkat kehidupan mistik yang hanya bisa dibicarakan jika didasarkan atas pengalaman? Dan pengalamannya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman Santo Bernardus.
Gilbert memang punya pengalaman yang bisa dipandang sebagai pendekatan ilahi, sekurang-kurangnya kalau itu memang benar. Tetapi pengalaman itu berhenti seketika dan lebih menyerupai loncatan serangga dari pada penerbangan burung, "donec iterum locustarum more subitum excutiar in saltum", “sampai akhirnya aku seperti belalang dikebaskan lagi ke dalam lembah”, demikianlah kata Gilbert.
Oleh sebab itu orang tidak heran kalau dengan demikian Gilbert berpendapat lebih bijaksana menurunkan komentarnya dari arti mistik ke arti moral: "Quapropter de mysteriis ad mores descendamus”, “Karena itu marilah kita turun dari mistik ke moral”.
Gilbert mengingatkan kita akan hak hidup yang dimiliki oleh moral dan askesis. Peringatan ini sungguh tepat bagi kita.
Ekstasis yang dialami oleh Santo Bernardus merupakan mahkota yang diberikan cuma-cuma oleh Allah bagi perjuangan heroik kehendak yang berperang mati-matian melawan diri sendiri, yang berusaha terus-menerus untuk mengikis habis sampai seakar-akarnya “proprium” (kehendak sendiri) yang memisahkan jiwa dengan Allah.
Jangan lupa, bahwa teladan Santo Bernardus adalah teladan seorang pahlawan askesis Sistersiensis. Usaha nyata untuk menjadi kurang buruk sedikit merupakan tanda lebih baik bahwa orang memaharmi Santo Bernardus, dari pada menulis buku besar tentang doktrinnya atau menyamakan impian dengan ekstasis.
Lebih baik tinggal. dalam tingkat pertama kerendahan hati dari pada mengira sudah melewati tingkat keduabelas. Bahkan lebih baik tidak pernah membuka karya Santo Bernardus sama sekali dari pada melemparkannya bagi nafsu ingin tahu yang sia-sia.
Yang diajarkan oleh Santo Bernardus termasuk doktrin paling ketat, semacam ilmu paling eksak, yang seluruh bangunannya akan runtuh kalau satu saja.dari pondamennya goyah.
Kekeliruan yang dapat terjadi dalam hal ini dan yang khususnya mengancam orang abad 20 ini ialah: menurunkan mistik Santo Bernardus menjadi semacam emosi poetis yang kabur di mana jiwa rnerasa disatukan sesecara kodrati dengan prinsip ilahi segala hal.
Meskipun hanya singkat, analisa theologi mistik Santo Bernardus yang kami paparkan di atas sudah cukup untuk menghancurkan jembatan antara dia dan segala macam pantheisme sentimentil yang sejenis.
Tetapi kalau hanya berhenti pada hal ini saja, orang belum menyentuh masalah yang sesungguhnya. Untuk mengukur bobot problem yang sebenarnya orang harus mengerti bahwa paradoks hanya terletak pada mistik yang otentik saja. Sebab paradoks tersebut memang adalah hakekat mistik itu sendiri.
Tidak ada mistik dalam arti yang sesungguhnya jika transendensi radikal Allah tidak membuat persatuan jiwa dengan Allah secara kodrati mustahil dan memberikan kepada ekstasis sifat adikodrati dalam arti teknis sepenuh-penuhnya.
Segala macam pantheisme, meskipun yang paling lembutpun, tidak menguntungkan mistisisme melainkan menghancurkannya. Jika kita menempatkan jiwa yang pada hakikatnya ilahi dalam suatu alam pada hakikatnya ilahi, kita bukannya mendefinisikan data problem mistisisme melainkan meniadakannya. Sebab orang akan mudah menarik kesimpulan bahwa mistik semacam itu akan menjadi kodrati.
Dalam konteks semacam ini, kita berada di luar segala mistik Kristen pada umumnya, dan di luar mistik Santo Bernardus pada khususnya. Sebab yang dituntut oleh mistik Santo Bernardus ialah justru bahwa tidak mungkin ada pemecahan kodrati bagi problemnya. Satu-satunya Allah kristianisme adalah transenden terhadap segala ciptaannya dan tak terjangkau oleh mereka. Dialah satu-satunya penyebab yang mengadakan ekstasis kalau harus ada “pengilahian” (divinisasi) makhluk, hal ini hanya dapat terjadi atas prakarsa Allah sendiri tanpa jasa sedikitpun juga dari pihak makhluk.
Allah sendirilah yang dapat membuat manusia mengarungi jarak tak terbatas yang memisahkan dia dengan Penciptanya.
Allah memang menghendaki pengilahian ini.
Hal ini dinyatakan oleh Yesus Kristus sendiri. Di dalam Yesus terdapat kesatuan konkrit yang sempurna antara kodrat ilahi dan kodrat insani. Dengan demikian, Yesus bukanlah hanya janji ekstasis mendatang, ia juga merupakan substansi, jaminan dan sarana bagi pengangkatan integral manusia oleh Allah yang dialami sebagai prarasa dalam ekstasis di kehidupan ini dan akan terjadi secara penuh di kehidupan mendatang.
Menyangkal adanya jarak tak terbatas antara manusia dan Allah tidaklah memudahkan pengalaman-pengalaman tersebut. Penyangkalan tersebut malahan berarti melupakan syarat fundamental bagi kemungkinannya dan sekaligus secara radikal meniadakan problem yang sebenarnya dipecahkan oleh pengalaman-pengalaman itu.
Oleh sebab itulah maka dalam doktrin seperti yang diajarkan oleh Santo Bernardus pengilahian kodrat insani tidak berarti penghancuran kodrat insani itu sendiri.
Disini tidak ada kemiripan dengan Budhisme. Sebaliknya semuanya menentangnya. Justru karena jarak yang memisahkan manusia dengan Allah tak terbatas, orang tidak dapat memikirkan kesatuan maupun antara keduanya, betapapun akrabnya, di mana percampurnan kedua kodrat meniadakan jarak itu. Baik transendensi Allah, maupun substansis manusia tetap utuh.
Mistik Kristen yang diajarkan oleh Santo Bernardus dari Clairvaux justru mentransfigurasikan manusia dalam kemungkinannya yang paling luhur, meniadakan segala sesuatu yang mengurangi martabat manusia karena merusak wujudnya yang sebenarnya, menempatkan manusia secara final dalam kesempurnaan gambar ilahi sebagaimana dikehendaki oleh Allah sendiri. Tidak ada yang lebih asing bagi Santo Bernardus dari pada negativisme yang sering mencengkam banyak ahli filsafat dewasa ini.
Mistik Santo Bernardus membebaskan kita dari absurdisme, dari kemualan dan dari putus asa. Bahkan kegelapannyapun sebenarnya merupakan jalan menuju ke Cahaya. Sebagai gambar Allah, manusia dapat dan harus mendambakan kesadaran penuh akan dirinya, asal sebelumnya ia mendambakan pengenalan akan Allah.
=====
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

St. Bernard dari Clairvaux 4



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Suatu perjalanan kembali ke Allah:
"Saint Bernard, Un itine'raire de retour, a Dieu"
BAGIAN IV
PENGANTAR PADA KOTBAH SANTO BERNARDUS TENTANG "MADAH AGUNG"
Bakat Santo Bernardus tampak secara penuh dalam 86 buah kotbahnya tentang Madah Agung.
Tidak terdapat tulisan lain di mana ajaran rohani dan pengalamannya diuraikan demikian mendalam, hidup dan spontan seperti dalam ceramah-ceramahnya ini, yang merupakan buah tahun-tahunnya yang paling matang.
Seperti halnya orang-orang cemerlang lainnya yang afektif dan intuitif, yang berhasil memusatkan seluruh kekuatan jiwanya kepada Allah, Santo Bernardus menampakkan ciri-ciri prinsipiil ajaran rohaninya setiap karya-karyanya yang penting.
Setiap karangan hasil penanya bisa dipandang sebagai karangan tentang cinta kasih. Namun seperti ditemukan dalam kotbah-kotbah tentang Madah Agung dapat dikatakan sebagai suatu sintese seluruh pengajaran rohaninya.
Di sekitar kalimat-kalimat utama kotbah-kotbah tersebut orang dengan mudah dapat mengelompokkan kalimat-kalimat paralel dari karya-karyanya yang lain.
Karya-karya yang lain dapat menambahkan sedikit nuansa, kadang-kadang bahkan beberapa perkembangan yang penting dalam pikirannya, tetapi tidak menambahkan sesuatu yang sama sekali baru.
Abas dari Clairvaux ini memang bicara melulu tentang cinta kasih. Kalimat berikut meringkas seluruh ajarannya: “Betapa agung cinta kasih, asal ia kembali kepada asalnya.... sesudah mengalir kembali ke sumbernya, ia memperoleh kekuatan yang segar untuk menuangkan diri sekali lagi.”
Kedua kalimat di atas berisi seluruh program rohaninya: membimbing cinta manusia kepada Allah; dengan pertolongan rahmat Allah mengembalikan suatu kekuatan berjalinan yang terlalu melihat pada makhluk, agar sekali dibebaskan ia dapat menemukan kembali keluhuran asalnya.
Dalam kitab suci, Bernardus menemukan suatu buku yang diinspirasikan yaitu "Madah Agung Salomo", yang melukiskan drama mengenai hubungan jiwa dengan Allah bentuk cinta yang menyatukan mempelai wanita dengan mempelai pria.
Benarlah bahwa Bernardus sering menerapkan kepada Gereja kata-kata yang ditujukan kepada mempelai wanita dalam madah cinta ini. Ada sejumlah khotbah yang membahas pokok ini.
Juga sekali waktu, ia mengatakan kepada kita bahwa Perawan Maria adalah satu-satunya makhluk dalam mana kesatuan istimewa dengan Allah terealisir secara sempurna.
Tetapi ajarannya yang pokok diberikan untuk melukiskan kegembiraan kesatuan cinta antara jiwa perorangan dengan Sabda.
Untuk menghargai dan mengerti dengan baik arti yang dalam mengenai Madah itu, adalah lebih baik mencintai daripada mempelajari. Seperti Santo Bernardus mengatakan:
“Kasih suci adalah satu-satunya pokok yang dibicarakan dalam Madah ini. Kita harus ingat bahwa cinta mewahyukan diri, bukannya dengan kata-kata atau kalimat, melainkan dengan perbuatan dan pengalaman. Cintalah yang berbicara di sini, dan bila seseorang ingin mengerti dia, biarkanlah dia pertama-tama mencinta. Kalau tidak begitu sungguh bodohlah membaca Madah cinta ini, sebab secara mutlak tidak mungkin bagi hati yang dingin memahami arti bahasa yang begitu bernyala".
Dalam rangkaian kotbah, Santo Bernardus kerap mendasarkan diri pada pengalaman pribadinya.
Seluruh hidup dan ajarannya disinari oleh kunjungan mistik dari Sabda yang menurut pengakuannya telah berkenan mendatanginya. Hubungan pribadi dengan Allah inilah yang membuat dia seorang santo yang begitu agung.
Terhadap sanggahan bahwa rahmat yang sedemikian tidak diberikan bagi setiap orang dan bahwa perangai mempengaruhi beberapa orang dalam hal ini, Santo Bernardus menjawab:
“Mereka yang belum menikmati suatu pengalaman sedemikian itu harus sangat menginginkannya” sebab “kami tidak ragu-ragu menyatakan terus terang bahwa setiap jiwa, jika waspada dan hati-hati dalam praktek semua keutamaan, dapat mencapai ketenangan suci ini dan menikmati pelukan pengantin".
Kitab Suci menyediakan banyak teks yang menekankan kebutuhan akan hubungan pribadi dengan Allah dalam transformasi jiwa. Hukum tertulis, yang dipaksakan dari luar, bahkan bila pengarangnya Allah sendiri, tidak sanggup menghasilkan kesempatan yang sedemikian. “Aku akan meletakkan hukumku dalam kedalaman ada mereka dan akan menuliskannya dalam hati mereka ... dan lalu tak seorangpun akan diajar lagi oleh sesamanya”.
Pengajaran manusiawi tidak dapat memuaskan hati manusia, teologipun tidak; dia butuh pengalaman pribadi akan Allah.
Santo Bernardus sendiri membicarakan realitas-realitas yang memberi dasar bagi harapan kita untuk memperoleh kembali persahabatan ilahi; di sinilah terdapat antropologinya.
1. Antropologi Santo Bernardus.
Santo Bernardus memberi semangat rahib-rahibnya untuk mencita-citakan kesatuan dengan Allah: "Barangkali anda ingin istirahat dalam kontemplasi?" Mereka harus mencari kecupan mulut, suatu rahmat istimewa; partisipasi dalam hidup Tri Tunggal Maha Kudus, Roh Kudus, pengetahuan dan cinta yang timbal balik dari Bapa dan Putera.
Manakah dasar keberanian dan kepercayaan yang sedemikian itu? Jawaban untuk pertanyaan ini berganda;
Pertama: pengetahuan akan Allah yang melindungi dari putus asa, “sebab Allah penuh belas kasih, hakikatnya serba baik dan perbuatannya berbelaskasihan serta pengampun”.
Kedua: pengetahuan akan diri, karena ini melindungi dari kesombongan: "Tak ada sesuatu yang lebih berhasil dalam memperoleh kerendahan hati dari pada pengetahuan akan diri kita seperti adanya”.
Pengetahuan yang ganda ini menjamin keselamatan, karena dalam cahayanya tampak kebutuhan akan pertemuan antara kemalangan manusia dan belaskasihan Allah. Di sinilah dasar harapan yang rendah hati. Meskipun semua pengetahuan itu baik selama tidak menyombongkan diri, keduanya ini adalah yang paling berguna karena mengantar kepada Allah.
Untuk mengenal Allah, orang harus mengenal dirinya, dan antara kedua pengenalan ini harus ada suatu persamaan, karena setiap pengetahuan mengandaikan keserupaan: “iam in aliquo similis”, (sudah sama dalam arti tertentu). Kristus membuat diri-Nya dikenal dan dicintai dengan menjadi serupa dengan manusia.
Bunga api kecil yang selalu berpijar di dalam lubuk jiwa, gambaran Allah tak terhapuskan yang kehilangan dari keserupaannya dengan-Nya, merupakan titik tolak ontologis yang membuka bagi manusia kemungkinan untuk kembali ke rumah Bapa. "Bahkan di dalam daerah ketidakserupaan, jiwa tetap memiliki persamaan dasarnya dengan Allah, suatu tanda yang nyata dari asalnya yang ilahi”.
Tiga hal dalam manusia mengingatkannya kepada Tritunggal Kudus: akal yang selalu siap untuk tergelincir ke dalam kesesatan; kehendak yang dikoyakkan oleh nafsu-nafsunya; dan ingatan yang mudah mengalami kelupaan.
Bagi Santo Bernardus, jiwa sendiri terdiri dari ketiga kekuatan bersebut. Betapapun jauhnya jiwa mengembara dari Allah gambaran yang tidak dapat dirusakkan ini mengingatkan dia kepada Modelnya dan mengijinkan dia untuk berharap, tidak hanya akan pengampunan dosa, tetapi juga akan persatuan yang paling mesra dengan Sabda.
“Meskipun jiwa dibebani dosa, dibelenggu oleh cacat dan dijerat oleh kenikmatan daging ...seakan-akan dihukum dan divonis untuk putus asa, namun kita tahu bahwa ia dapat menemukan dalam dirinya sesuatu yang dapat membimbingnya kepada harapan akan pengampunan dan belas kasihan, dan kepada kerinduan akan perkawinan rohani dengan Sabda. Bagaimana mungkin ia tidak berhasil memiliki keberanian dan kepercayaan akan Allah, jika ia melekat gambaran Allah dalam dirinya?”
Teks-teks semacam ini menunjukkan keahlian Santo Bernardus dalam menemukan kepedihan yang tersembunyi dari kemalangan manusia.
Drama jiwa manusia seperti digambarkan itu merupakan konflik antara cita-cita kodrat manusia dan kebejatan kegiatan kesusilaannya.
Orang yang memberontak melawan Allah mengingkari kebutuhan hidupnya yang paling fundamental.
“Jiwa yang kehilangan kesamaan ilahi, memasukkan ke dalam dirinya suatu disharmoni, suatu perpecahan batin, yang justru makin sulit ditanggung karena kesamaan dengan Allah yang asli tetap berdampingan dengan ketidaksamaan yang baru diperoleh. Jiwa disobek antara harapan dan putus asa. Oleh kebejatan hidup dan kesusilaannya, jiwa menjadi tidak serupa dengan kodratnya sendiri yang benar".
Yang dilihat dengan jelas oleh Santo Bernardus adalah keluhuran pribadi manusia yang selalu tinggal sebagai benih kelahiran kembali.
Kebenaran agung ini merangsang optimismenya. Ia tidak dapat menemukan kata yang memadai untuk mengidungkan keluhuran manusia.
Dia menambahkan kalimat demi kalimat: Celsa creatura (ciptaan mulia). Ciptaan mulia yang mencerminkan keagungan Allah, sungguh agung kemampuan jiwa:
“O quanta animae latitude'' (O betapa besar kelapangan hati) yang dianggap layak untuk menerima dalam dirinya kehadiran Allah (capax Dei).
"Egregia natura” ciptaan yang tak ada bandingnya, oh sayang, telah kehilangan kesamaan ilahi karena menurunkan dirinya ke taraf hewan.
Jadi keluhuran manusia terdapat dalam kodratnya, gambar Allah yang tidak bisa dirusakkan.
Lain dari pada itu, ada persaudaraan khusus antara jiwa dan Sabda, Pribadi kedua dari Tritunggal Kudus. Sabda inilah satu-satunya gambar Allah yang sungguh tepat. Manusia telah diciptakan bukan sebagai gambar Allah, melainkan menurut gambar Allah.
Ada suatu hubungan antara keserupaan, Sabda dan manusia yang dibuat menurut keserupaan: “Untuk menyamai Sabda secara sempurna, jiwa, yang sudah agung oleh kodratnya, karena ia sanggup akan kebaikan kekal, harus juga menjadi jujur".
Santo Bernardus membenarkan persamaannya antara jiwa dan Sabda dengan tiga keserupaan mereka - kesederhanaan dan ketidakmatian, yang sempurna dalam Sabda dan hanya relatif dalam manusia, dan khususnya kehendak bebas yang memungkinkan manusia memutuskan dan memilih.
Kekuatan jiwa manusia dilukai oleh dosa yang dibuat bukan karena keharusan kodrat melainkan karena kelemahan kehendak. Jatuh karena.salahnnya sendiri dan tidak mampu bangkit lagi; ia terperosok ke dalam keadaan perhambaan suka rela. Ia menghendaki perbudakannya sendiri. Perbudakan ini ditemani oleh ketakutan yang timbul dari keinginan tak teratur. Keinginan tak teratur ini menyeret jiwa kepada benda-benda ciptaan dan dengan demikian merintangi kebebasan kehendak.
Kesederhanaan itu sendiri telah diubah menjadi kemunafikan. "Dapatkan anda menemukan bagi saya, seorang anak Adam yang menghendaki, saya tidak berkata menginginkan, melulu menerima untuk dikenal seperti adanya sesunggunnya?" Ketidakmatian juga dilukai. Badan harus meninggal, dan jiwa karena dosa dapat binasa selamanya.
Bagaimana manusia bisa menyelamatkan diri? "Ia harus bertumpu pada rahmat, dan bukan pada kodrat, bukan pula pada usahanya sendiri yang tulus. Ia harus kembali kepada Sabda, karena persaudaraan yang menghubungkan jiwanya dengan Dia bukanlah khayalan belaka. Pertalian keluarga ini dibuktikan oleh keserupaan yang tinggal. Keserupaan ini menjadi sempurna hanya dalam kasih. "Kita kagum atas kasih Allah, yang meskipun dihina oleh manusia, toh tidak berhenti memanggil dia kembali kepada Pembuatnya. Buanglah dosa, yang menyebabkan ketidak-serupaan ini, maka anda akan memperoleh kesatuan rohani, penglihatan sempurna dan kasih timbal balik".
2. Jalan kembali kepada Allah
Kembali kepada Allah adalah mungkin bagi manusia melalui Sabda, yang keserupaannya dimiliki manusia dalam dirinya, dan khususnya melalui Sabda yang menjelma, yang menjadi serupa dengan manusia.
Menurut Santo Bernardus, hal pertama yang harus diperhatikan oleh manusia yang ingin menikmati keakraban dengan Sabda ialah perlunya mempraktikkan keutamaan.
Praktik perbuatan baik dan latihan keutamaan harus mendahului buah ketenangan suci. Praktik keutamaan ini tidak kenal akhir dalam hidup ini, sebab perjuangan tidak berhenti. Hawa hidup dalam daging kita dan ular mengunakan nafsu yang diturunkannya kepada kita untuk memasang jerat kita dengan godaannya yang terus menerus... Tidak cukup berbuat baik sekali atau dua kali: kita harus bekerja setiap waktu. Praktik keutamaan adalah suatu batu ujian yang baik untuk menilai kontemplasi sejati yang diberikan sebagai hadiah bagi kerja.
Ketaatan adalah kerja utama manusia."Jangan menggambarkan bahwa demi cinta akan waktu luang anda sendiri, anda punya hak untuk melalaikan perbuatan ketaatan. Jika anda berbuat demikian, Sang Pengantin tidak akan datang berbaring dengan anda; dan jelas tidak di tempat tidur yang hanya anda beri jerami dan jelatang ketidaktaatan, sebagai ganti bunga-bunga ketaatan. Dia tidak akan mendengarkan doa-doa anda, tidak akan mengindahkan ratapan anda, sebab anda pemberontak; anda tidak akan mendapatkan sesuatupun dari Dia yang mencintai ketaatan sedemikian sehingga lebih senang wafat daripada tidak mempraktikkan ketaatan".
Pertobatan juga penting. Ia merupakan dorongan pertama yang dianugerahkan Allah kepada seorang pendosa yang mulai kembali kepadaNya. Ia adalah "kecupan pada kaki" yang diberikan wanita pendosa dalam Injil: “Rebahkanlah dirimu ke tanah, rangkullah kaki-Nya.... basuhlah kaki-Nya dengan air mata anda; dan dengan demikian basuhlah bukan kaki-Nya melainkan diri anda sendiri”.
Jika orang bertobat, ia mengadili dirinya, ia menghukum dirinya, supaya dia menyelamatkan diri dari pengadilan Allah.
Pertobatan memang keutamaan pertama pada jalan kembali, tetapi harus dilaksanakan sepanjang hidup, sebab cacat cela tiap kali tumbuh lagi seperti tunas yang dipangkas. "Percayalah padaku, setelah dipangkas, tunas-tunas yang tak berperasaan tumbuh lagi, cacat-cacat yang telah digusur kembali lagi... nafsu-nafsu yang sebentar dipadamkan, bernyala lagi ... Selama anda diam dalam tubuh ini, betapapun besar kemajuan yang anda capai, anda akan tertipu bila anda mengira bahwa cacat-cacat anda sudah direnggut seakar-akarnya dan bukan hanya dikontrol saja”.
Tetapi bagi Santo Bernardus, tidak ada sesuatupun yang terhindar dari pengaruh cinta; bahkan tobat harus dibasahi dengan balsemnya. Namanyapun menjadi berbeda. Orang-orang kuno menyebut itu compunctio (remuk redam). Tusukan hati ini adalah tusukan cinta, cinta yang menderita karena tidak secara memadai, karena telah melukai Sang Cinta.
Bagi Santo Bernardus, ada dua macam compunctio (remuk redam). Yang satu dilahirkan oleh kesusahan atas dosa dan yang lain dilahirkan oleh kegembiraan karena mendapat kebaikan ilahi.
Kemurnian, kesabaran, kegembiraan (hilaritas), kesederhanaan, kemurnian hati yang tidak menerima motif lain kecuali cinta murni akan Allah (Solum in, uirere Deum propter ipsum solum : mencari Allah semata-mata, hanya demi Dia melulu), pengejaran akan damai, adalah serentetan keutamaan yang harus dilaksanakan oleh pencari Allah.
Santo Bernardus menekankan secara khusus perlunya cintakasih persaudaraan. “Celakalah manusia .yang mengganggu ikatan kesatuan... Saya mohon kepada anda, saudara-saudaraku, lemparkanlah jauh-jauh dari diri anda dosa yang demikian keji dan jahat itu… Tak ada sesuatupun yang dapat menyusahkan atau mencabarkan hati anda selama damai dan cinta kasih persaudaraan meraja di antara anda.... Kebaikan yang tertinggi, rahmat yang tak terbandingkan, adalah cinta".
Tetapi di antara semua keutamaan yang perlu untuk pengarahan kembali cinta, yang paling perlu adalah kerendahan hati. Ia begitu tak terpisahkan dari kasih persaudaraan sehingga menjadi seperti sisi yang lain dari keutamaan itu. Kerendahan hati adalah kehampaan dalam jiwa yang diisi oleh cinta.
Ada hubungan langsung antara kerendahan hati dan penerimaan rahmat yang paling luhur, "Kerendahan hati adalah keutamaan agung. Dia begitu siap menarik Keagungan ilahi. Mutlak perlu bagi orang yang ingin naik ke misteri cinta ilahi yang mulia, bahwa ia mempunyai pendapat yang rendah mengenai dirinya. Jika ia tidak mempunyai dasar kerendahan hati yang pasti ini, dia akan jatuh bahkan sampai ke bawah keluhuran kodratinya”.
Jiwa yang ingin akan Allah harus insaf bahwa perbuatan ilahi datang terlebih dulu, jika ia mau menghindari berubahnya berkat yang agung menjadi kebinasaan rohani yang parah.
"Betapa sering kita melihat rahmat yang sangat mulia mengakibatkan kejahatan-kejahatan yang sangat buruk. Ini terjadi setiap waktu kita menjadi sombong akan rahmat yang kita terima dan menggunakannya seolah-olah ia bukan kurnia Allah, sehingga kita tidak memuliakan Allah atas anugerahnya itu. Jiwa hanya mencari Sabda jika ia terlebih dahulu dicari oleh-Nya".
Santo Bernardus juga menasehatkan praktek-praktek tertentu dan sikap-sikap jiwa yang sangat besar sumbangannya bagi pertumbuhan cinta. Dengan tak henti-hentinya jiwa harus disantapi dengan Sabda Allah.
"Di tanah air pengembaraanku ini aku telah membiasakan diri untuk memberi jiwaku santapan Kitab Hukum dan Nabi-nabi, serta Mazmur-mazmur yang bicara begitu indah tentang Dikau. Aku telah menjelajahi padang Injil yang menyenangkan dan duduk di kaki Kisah Para Rasul. Aku juga telah mengambil untung dari pembacaan kehidupan dan tulisan para kudus”.
Santo Bernardus mendasarkan ajarannya sendiri pada Para Bapa dan Kitab Suci yang dibacanya terus-menerus.
Orang mudah tersesat di jalan-jalan hidup rohani, maka orang harus berusaha tetap setia kepada ajaran Gereja Katolik dan mencari nasehat orang-orang terpelajar yang berpengalaman dalam hal ini.
“Biarkanlah memperhatikan kata-kataku, mereka yang tidak takut berbuat tanpa pembimbing atau guru dalam hidup rohani! Betapa sering kita melihat jiwa seperti itu tersesat jauh dari jalan yang benar? Tanpa mengetahui apa-apa tentang tipu muslihat setan, mereka mulai dalam roh dan berakhir dalam daging, mereka menjadi korban godaan yang memalukan dan kejatuhan yang bersalah".
Jiwa yang mencinta, menyadari dirinya mencita-citakan suatu kebaikan di atas kekuatannya, maka ia mohon pertolongan dari atas. Ia harus mohon rahmat, jika ia akan mengikuti Kristus dan menjalani hidup rohani.
Ia harus juga berjaga dan terus-menerus memperhatikan gerakan rahmat.
Jiwa harus penuh perhatian, bijaksana, penuh minat tetap awas dan waspada ia harus meperhatikan dengan seksama petunjuk-petunjuk paling kecil dari kehendak-Nya. "Jiwa yang jatuh cinta pada Tuhan tahu bagaimana caranya menanti Dia dengan rendah hati dan penuh perhatian”. Orang memperhatikan Allah, jika dia tinggal dalam kehadiran-Nya. Inilah barangkali yang terpenting dari semua disposisi jiwa: dengan rendah hati tinggal di hadirat Allah.
Jiwa, yang meluangkan diri untuk ini dan menyisihkan semua kesibukan lainnya, menantikan Tuhan. Bersikap penuh perhatian seperti ini dalam iman yang murni merupakan keagungan hati yang besar.
Untuk ini, sekurang-kurangnya semua orang dipanggil, ini merupakan kegiatan yang paling berpahala, ini menuntut kekuatan dan energi, energi dan kekuatan cinta, tetapi tidak ada ketegangan.
Sebaliknya, orang tetap relax, receptif; orang menunggu, mencinta. Jika Allah datang, segalanya akan jadi mudah: quid difficile sibi illo comite ( Jika Allah mendampingi, mana bisa sulit baginya?)
Ada satu syarat yang dituntut bagi setiap orang yang ingin memasrahkan diri kepada Cinta Ilahi. Kebebasan dari setiap cinta yang kodrati semata-mata. “Jiwa harus menguasai nafsu-nafsunya, jika ingin menjadi tempat kediaman Allah ... Berikan daku jiwa yang mencinta Allah semata-mata dan segala sesuatu demi Dia; yang telah menyadari bahwa Kristuslah satu-satunya alasan hidupnya, suatu jiwa yang saat kerjanya dan waktu luangnya terarah kepada istirahat dalam kehadiran Allah; ... jiwa ini pantas menerima cumbuan Pengantin”.
3. Jalan Iman.
Kita tidak perlu menggambarkan segala keutamaan yang diperlukan jiwa untuk kembali kepada Allah.
Sebagai gantinya kita cukup mengatakan secara sederhana bahwa ia harus mencari Allah. Ketulusan gerakan cinta ini mengandaikan adanya semua keutamaan.
Usaha mencari Allah mempersatukan hidup kesusilaan seseorang. Ia menghasilkan kegiatan rohani yang kontinu dan bermacam-macam menurut keadaan.
Tetapi mencari Allah, menyadari kekurangannya sendiri, menggantungkan diri pada Sabda, mengandaikan hidup dalam suatu suasana adikodrati. Realitas rahmat yang agung selalu hadir di dalam semua teks yang telah kami kutip.
Seluruh bangunan rohani bersandar pada perkembangan keutamaan theologal dalam jiwa. Setiap kali bila Santo Bernardus berbicara tentang cinta akan Allah, dia memaksudkan kasih adikodrati. Ketergatungan pada Sabda dan kepercayaan akan Dia (fiducia) menandakan harapan. Tetapi titik tolak seluruh pendakian rohani ialah iman. “Iman hiduplah yang mendapatkan rahmat paling luhur bagi kita”.
Iman memberikan pengetahuan yang paling pasti. Ia menyentuh bagian yang tak pernah dapat dikenal oleh indera dan tidak dapat diberikan oleh pengalaman. Iman melindungi dari segala kesesatan. Ia memegang hal-hal yang tak kelihatan;... ia melampaui batas akal manusia, penggunaan kecakapan kodrati dan batas pengalaman.
Santo Bernardus menunjukkan kekuasaan iman yang mencapai Allah sendiri, dan dia mengutarakan juga sifat yang memurnikan. Dia menempatkan iman di atas pengalaman, sebab iman mengantar manusia melampaui segala pengetahuan kodrati untuk mencapai penglihatan Allah yang gelap, membimbing manusia melalui banyak cobaan yang memurnikan.
Sekali jiwa memutuskan untuk menanggapi rahmat, ia diserang oleh setiap jenis percobaan. Perasaannya diliputi oleh kejemuan dan kelembaman kemuakan, kedukaan, hampir putus asa. Kekerasan hati, kelemahan, pemberontakan, segala kabut percobaan datang menimpa dia. Bahkan Allah sendiri adalah nyala api yang memurnikan. Tetapi api itu, Allah, datang untuk menelan tanpa menyedihkan; ia membakar tetapi dengan manis, ia merampas tetapi memuliakan. Ia sungguh-sungguh api yang membinasakan tetapi perbuatan yang membinasakan itu mengerjakan cacat-cacat demikian rupa sehingga ia menuangkan kemanisan dalam hati. Setiap bekas dosa dan karat cacat dibinasakan oleh nyala api ini.
Keadaan berubah-ubah yang harus dialami oleh jiwa - kunjungan singkat Pengantin yang diikuti ketidak hadiran yang lama - bertujuan memurnikan cinta dalam jiwa dengan membuatnya hidup dalam iman melulu. "Dia cepat pergi. Seperti biasanya, dia berangkat setelah kunjungan singkat".
Jika iman sendiri mencapai Allah, maka mereka yang tidak mempunyai pengalaman batin yang luar biasa akan dihibur. Barangkali rahmat sedemikian yang tidak essensiil ini dianugerahkan hanya kepada orang yang lebih lemah.
Bagaimanapun juga, “hendaknya mereka yang tidak mempunyai pengalaman yang demikian, percaya dengan teguh mereka akan memperoleh hasil rahmat–rahmat ini karena pahala imannya".
4. Cinta affektif akan kemanusiaan Kristus.
Santo Bernardus membandingkan jiwa yang berdosa dengan mempelai yang tidak setia, yang ditolak oleh para kekasihnya; motif tobatnya bukanlah suatu motif yang mulia, dia dipaksa kembali kepada suami yang sah. Kembalinya pada Allah ini mungkin sebab kodrat manusia, meskipun terluka tetap memiliki keserupaan dengan Allah. Lagi pula bi1a usaha semacam itu nyata-nyata mengatasi kekuatannya, pertolongan diberikan kepadanya oleh Sabda akan melengkapinya. Dengan bertumpu pada Allah, ia bisa mempraktekkan keutamaan dan begitu mempersiapkan jalan untuk kedatangan cinta kasih.
Jelas bahwa jalan kembali pada Allah mengandaikan cinta kepada Kristus. Dia sendiri merupakan jalan yang mutlak diperlukan oleh manusia untuk pergi kepada Bapa. Cinta affektif hati manusia menduduki tempat penting sekali dalam ajaran rohani Abas Clairvaux.
Yang dimaksud di sini ialah cinta afiektif bahkan kepada tubuh Kristus dan segala sesuatu yang dilakukan dan diajarkanNya dalam daging-Nya. Maka hal ini perlu dipelajari dengan perhatian khusus.
Menurut Santo Bernardus, penggabungan dengan kemanusiaan Tuhan kita merupakan titik pusat yang menentukan pengarahan kembali cinta; cinta yang bersifat daging akan menjadi rohani, nafsu akan menjadi cinta kasih. Emosi yang dapat dirasa kelembutan yang dialami manusia dalam merenungkan penderitaan Kristus- adalah salah satu unsur psikologis utama dalam teori Santo Bernardus tentang tobat.
Menurut Santo Bernardus, tidak mungkin orang tanpa menanggung akibat buruk meniadakan kekerasan tak terhancurkan yang dimiliki oleh cinta affektif.
Dari lain pihak, akan merupakan ilusi bila orang percaya bahwa bahkan dengan pertolongan rahmatpun orang dengan cepat dapat berhasil mengubah cinta yang bersifat daging menjadi cinta rohani.
Apa yang harus dilakukan? Memberikan kepada cinta yang bersifat daging suatu obyek yang seimbang dengannya dan lebih nikmat daripada ciptaan manapun yang berdosa. Bukankah Santo Augustinus pernah berbicara tentang “bona delectio victrix” (kenikmatan baik yang mengalahkan)?
Santo Bernardus menulis: “Kasih anda terhadap Tuhan Yesus harus lembut dan mesra, untuk melawan bujukan manis dari kehidupan bernafsu. Kemanisan mengalahkan kemanisan seperti paku yang satu mendorong keluar paku yang lain!”
Di sinilah tampak gunanya mengarahkan cinta affektif seseorang kepada kemanusiaan Kristus. Dengan demikian kekuatan vital cinta tersebut diarahkan kepada obyek yang kelihatan dan lebih menarik. Obyek kelihatan yang baru ini adalah tempaat kediaman Allah, yang secara bertahap akan mewahyukan diri dengan menarik jiwa ke dalam kesucianNya.
Santo Bernardus sendiri mempraktekkan ajarannya ada permulaan tobatnya. Dengan semangat yang bernyala-nyala dan kelembutan dia merenungkan seluruh adegan kehidupan Kristus; seperti "bingkisan mur” yang ditempatkannya di dadanya.
Meditasi yang terus-menerus tentang misteri Kristus yang bersifat baik liturgis maupun pribadi adalah kebijaksanaan sejati, filsafat sejati, pengetahuan akan keselamatan, jalan rajawi. Itulah sebabnya nama Yesus selalu ada di lidahnya, di hatinya dan di ujung penanya. Nama Yesus adalah cahaya, santapan dan obat bagi hati manusia yang papa.
Santo Bernardus tidak menerima pendapat bahwa kemanusiaan Kristus bukan obyek yang cukup mulia untuk kontemplasi. Ia menganggap pandangan semacam itu suatu penipuan yang membawa kepada jerat kesombongan rohani.
Refleksi atas penderitaan Yesus mengakibatkan kepercayaan istimewa dalam manusia. Penjelmaan Sabda membuat Sabda menjadi serupa dengan manusia dan sangat dekat dengannya: "Jiwa lebih ikhlas mengenang kembali kehinaan Kristus, sebab melalui itu, Dia telah mengambil hatinya. Ini bukanlah hanya merupakan titik pangkal bagi cinta kita kepadanya, tetapi merupakan juga seluruh keterangannya. Allah yang adalah cinta tidak pernah dapat berhenti mencinta, tetapi jika Ia tidak datang di antara kita, Dia tidak pernah dicintai”.
Santo Bernardus mengakui cinta affektif akan Kristus ini sebabai suatu kurnia agung Roh Kudus, tetapi dia melihat juga bahwa itu belumlah cinta yang sempurna. Sekalipun demikian, cinta affektif ini berharga sebab ia mengusir kejasmanian dari hati dan membuat manusia memandang rendah dunia. Ia menyesuaikan diri dengan semua yang diajarkan Gereja tentang Kristus. Ia mencapai kesempurnaan dengan menjadi rohani.
Meskipun Santo Bernardus mengalami suatu perasaan yang lembut dalam memandang (kontemplasi) misteri Kristus, dia tidak pernah jatuh ke dalam sentimentalitas melulu. Dia selalu melihat Sabda melalui kemanusiaan Yesus yang jernih.
Di sini, lebih dari pada di tempat lain, studi tentang kotbah-kotbahnya tentang Madah Agung dapat dilengkapi dengan kutipan-kutipan dari tulisan-tulisannya yang lain. Peranan yang dimainkan oleh Perawan Maria dalam berkarya bersama Kristus untuk membawa cinta kita kembali kepada Allah, juga patut mendapat uraian yang penuh.
5. Rahmat Kesatuan - Perkawinan Rohani.
Santo Bernardus telah menunjukkan bobot rahmat luar biasa yang dicari mempelai jika ia minta kecupan Sabda; suatu partisipasi dalam hidup Tritunggal Kudus yang berbahagia.
Dia hampir tidak pernah memberikan definisi yang abstrak tentang perkawinan rohani. Ia lebih suka memberikan lukisan sangat indah mengenai hal itu. Perkawinan rohani itu sungguh suatu rahmat yang tak terperikan. Hidup seseorang dikuasai dan diterangi oleh kurnia Allah yang tak terkatakan ini.
"Saya mengaku kepada anda bahwa saya kerapkali menerima kunjungan Sabda. Saya tidak dapat mengetahui saat yang tepat dari kedatanganNya. Ia tidak masuk sama sekali, sebab orang yang masuk datang dari luar. Tetapi saya mendapatkan Dia lebih dekat dengan saya daripada saya sendiri. Bagaimana saya dapat merasakan kehadirannya di dalam diri saya? Sungguh penuh hidup dan daya guna, dan baru saja Ia masuk, jiwaku yang malas ini segera terbangun. Ia menggerakkan, menghangatkan dan melukai hatiku, betapapun keras, membatu dan sakitnya hatiku. Hanya semata-mata oleh gerakan hatiku, saya mengerti bahwa Ia ada dalam diriku, dan saya menyadari kekuasaan karyaNya, bila saya melihat kecenderungan-kecenderungan saya yang jahat menghilang dan nafsu saya yang rendah menjadi tenang.... Sekali Ia pergi, semuanya jatuh kembali ke dalam tidur, semuanya menjadi dingin seperti panci berisi minyak mendidih diangkat dari api".
Memang sukar bagi jiwa yang dikunjungi Cinta Illahi untuk memberikan uraian mengenai keadaannya. Pengalaman luar biasa seperti itu sering diungkapkan dengan kata-kata, tetapi orang tidak selalu menguasai- nya. Cinta yang bernyala dan berkobar meletus tak terkendalikan dan mengungkapkan diri tanpa ambil pusing akan arti dan bobot kata-katanya.
Santo Bernardus kerap menggunakan kata-kata affectio, afficere, affectus, untuk menyebutkan kodrat emosi atau nafsu yang “menyentuh" dan menghinggapi orang dalam tata kodrati.
Jika soalnya menyangkut hubungan seseorang dengan Allah, arti yang sama dipertahankan, tetapi ada passivitas lebih besar. Dua affeksi utama yang selalu dibicarakan Santo Bernardus ialah takut dan cinta.
Harus ditambahkan juga kesedihan dan kegembiraan. Pengetahuan dan pengertian memang perlu, tetapi untuk bertobat kepada Allah dan berjalan pada jalan yang membimbing ke keselamatan, tidak cukuplah orang diajar.
Orang harus "disentuh" juga. Artinya orang harus digerakkan dan disergap oleh rahmat. Itulah sebabnya takut, takut akan neraka, merupakan permulaan kebijaksanaan dan cintakasih penyempurnaannya.
Tempat mana diberikan kepada pengajaran dalam spiritualitas seperti itu? Peranan khusus ialah untuk menerangi dan membentuk pendirian seseorang. Tetapi kalau hanya ada pengetahuan tentang jalan dan tujuan tidaklah cukup. Orang memerlukan kekuatan untuk menyusuri jalan itu dan “affeksi” itulah yang memberikan pertolongan yang diperlukan.
Affeksi adalah gerakan yang vital. Sampai sekarang kita telah mendengarkan kebijaksanaan yang memberikan pengajarannya seperti dari kursi seorang mahaguru.
Nah, jika ketakutan menangkap kita, ajaran-Nya menembus jiwa kita dan menggoncangkan kita sedalam-dalamnya, sebab kita digerakkan (afficiamur) oleh ajaran-ajaran itu. Matahari tidak menghangatkan setiap orang yang diteranginya. Bukan pengetahuan akan kekayaan yang membuat orang kaya, melainkan pemilikannya. Demikian pula bukan pengetahuan akan Allah yang membuat orang bijaksana pada permulaan hidup rohani, melainkan ketakutan, sebab ia menyentuh hati.
Tetapi jelaslah bahwa jauh lebih dari pada takut, cinta menguasai manusia sepenuhnya dan membuatnya masuk ke dalam Allah. Pengalaman ini merupakan anugerah cuma-cuma belaka. Allah menganugerahkannya secara bebas, kepada orang yang dikehendakinya pada waktu dan dengan cara yang dikehendakiNya.
Rahmat ini jarang diberikan dan hanya sebentar saja. Hidup seorang mistik bukanlah ekstasis yang kontinue. Ini hanya untuk waktu yang begitu singkat. Begitu orang berpikir memilikinya, begitu tiba-tiba ia menyelinap pergi. Jika sekali-sekali ia membiarkan dirinya dipegang, ia tidak mau ditahan. Dengan cepat ia pergi akibatnya seolah-olah melarikan diri dari pelukan anda. Meskipun cinta yang sangat menyenangkan ini terus, namun karena hanya singkat dan sepintas lalu saja, kesatuan di dunia ini tidak bisa lengkap.
Bagaimanapun gemilangnya rahmat ini, ia selalu terselubung dalam kegelapan. Sekali rahmat itu pergi, pikiran tentang itu menghasilkan kedukaan lebih dari pada penghiburan. Itu hanyalah mencicipi, yang menyalakan kerinduan lebih besar akan surga. Ketidakhadiran Sang Mempelai menjadi api penyucian cinta.
Dalam bentuk apa rahmat ini diberikan kepada jiwa? Sering dikatakan bahwa mistik sistersiensis tidak tahu apa-apa tentang penglihatan visiun atau fenomin luar biasa lainnya.
Hal yang dikatakan Santo Bernardus tentang pengalamannya sendiri menunjukkan bahwa baginya ekstase adalah pertama-tama ekstase cinta. "Jiwa tidak mengingkari bahwa ia dimabukkan, tetapi oleh cinta bukan oleh anggur.” Ia juga mengalami pikirannya menerima penerangan adikodrati. “Ada dua macam keterlarutan dalam kontemplasi yang membahagiakan ini; yang satu dalam pikiran dan yang lain dalam affeksi”.
Tetapi apa yang dimaksud Santo Bernardus dengan ekstase? Sifat yang menyolok mata dari keadaan ini seperti yang digambarkannya, ialah pengangkatan jiwa di atas segala jenis gambaran dan cara pengetahuan kodrati. "Setiap kali anda mendengar atau membaca bahwa Sabda dan jiwa berbicara bersama dan saling memandang satu sama lain, jangan mengira bahwa soalnya menyangkut suara yang didengar dalam telinga atau visiun yang dilihat dalam imaginasi. Bahasa Sabda ialah kebaikannya yang menganugerahkan rahmat ini, dan bahasa jiwa ialah cintanya yang menyala”.
Dalam kontemplasi jiwa kehilangan ingatan akan benda-benda yang hadir; ia dibebaskan bukan hanya dari daya tarik obyek-obyek yang lebih rendah dan badani, tetapi juga dari pikiran akan obyek-obyek itu, sehingga ia bisa menikmati ketenangan yang sejati. Kemurnian jiwa harus begitu besar sehingga ia sama sekali bebas dari segala gambaran indrawi.
Dengan kata lain, di dalam hubungan antara Allah dan manusia ini tidak ada indera ataupun imaginasi yang turut bicara. Sebagai pengganti, ia diberi hak istimewa untuk menerima Sabda dalam lubuk hidupnya yang sedalam-dalamnya. Ia hadir, bukan dalam gambar, tetapi dalam kenyataan; ia tidak dapat dilihat, tetapi dia menampakkan kehadiran-Nya oleh cinta yang dibangkitkan-Nya dalam jiwa-“non apparentem sed afficientem” ( tidak menampakkan diri, tetapi menyentuh).
Abas dari Clairvaux ini mengenal baik keterlarutan intelektual. Beberapa teks menunjukkan ini. Katanya, kecupan "adalah penuangan kegembiraan yang tak terbatas, suatu penyingkapan misteri, suatu perpautan yang mentakjubkan dan yang tak terbedakan antara cahaya ilahi dengan jiwa yang diterangi ... Bila semua noda dosa dan karat cacat telah dibinasakan oleh nyala api ini dan suara hati dibersihkan.dan dipenuhi dengan damai, maka tiba-tiba jiwa menjadi lapang luar biasa dan digenangi cahaya yang menerangi budi untuk memahami kitab suci dan menyelami misteri ilahi".
Walaupun demikian, Santo Bernardus adalah terutama seorang genius yang affektif. Cinta adalah bidangnya yang sebenarnya, dan melalui cintalah, ia mencapai pengalamannya yang paling tinggi. Dalam hal ini kita tidak perlu mencari-cari kutipan-kutipan yang terpisah-pisah. Ada tersedia kumpulan tak terbatas dari kutipan semacam itu. Kelimpahan hatinya sungguh, meluapkan diri begitu saja.
Jika cinta mencapai kemurnian jiwa, gambar mendapatkan kembali keserupaannya dengan Sabda. Allah adalah cinta, cinta yang murni, dan bila jiwa oleh cinta kepadaNya menjadi serupa dengan Dia secara sempurna, perkawinan rohani tercapai.
"Keserupaan semacam itu menyatukan jiwa dengan Sabda. Jiwa sudah serupa dengan Sabda oleh kodratnya, sekarang ia mulai menjadi serupa oleh kehendak-Nya. Ia mencintai seperti ia dicintai. Jika ia mencintai Allah dengan sempurna, ia dinikahkan dengan Dia. Manakah yang lebih manis daripada keserupaan ini? Manakah yang lebih menarik dari pada cinta ini yang membuat dia bersatu mesra dengan Sabda?”.
Ini merupakan perjanjian perkawinan suci dan rohani atau lebih tepat ini merupakan suatu pelukan di mana kehendak disatukan. Dua roh kini menjadi satu. Ketidak-samaan kedua pasang mempelai itu tidak melumpuhkan keselarasan kehendak, sebab cinta tidak ambil pusing akan penghormatan. "Cinta berasal dari kata ‘mencinta’, dan bukan dari kata ‘menghormati’. Orang yang mencintai, mencinta dan tak tahu apa-apa lainnya”. Allah memang patut dihormati dan dikagumi, namun Ia lebih suka dicintai. "Mereka adalah sepasang mempelai kini, dan ikatan mana yang ada antara dua mempelai selain ikatan cinta yang timbal balik?".
Di sini jiwa, di samping menikmati dirinya dengan cinta, menikmati Sabda dengan aman. Seringkali ia ditarik dari inderanya, sehingga ia kehilangan seluruh pikiran tentang dirinya, karena terselam dalam kasih dan kontemplasi akan Sabda. Ini terjadi bila jiwa terseret oleh kemanisan Sabda yang tak terperikan dan dalam arti tertentu direnggut dari serta dibawa ke atas dirinya untuk menikmati Sabda.
Bagi Santo Bernardus Clairvaux, orang tidak dapat menemukan kata yang lebih tepat untuk mengungkapkan hubungan timbal balik antara Sabda dan jiwa selain kata pengantin dan mempelai.
6. Hasil persatuan dengan Allah.
Bagi Santo Bernardus hasil pertama dari persatuan dengan Allah ialah suatu cinta kasih persaudaraan yang selalu bertambah besar. Tidaklah mungkin bagi jiwa yang digenangi rahmat besar itu untuk menyimpan bagi dirinya sendiri kegembiraan yang dialaminya; ia mesti membaginya. Cinta ini yang dinyalakan oleh api cinta ilahi sendiri, tak mengenal satu bataspun dan tidak menutup seorangpun.
Bidang perbuatannya pertama-tama diarahkan kepada para dermawan meliputi juga semua saudara dan malah merangkum musuh-musuh yang pahit. Ia menyesuaikan diri dengan setiap orang dan berbela rasa dengan semua perasaan.
Tetapi harus diusahakan baik-baik bahwa kasih yang ditujukan kepada sesama hanyalah kasih yang secara penuh dari Allah. Jika tidak, kemiskinan kita akan menjadi beban bagi orang lain. "Jadilah gudang cinta, dan bukan melulu saluran”. Itulah sebabnya ketenangan kontemplatif orang lain, terutama para pembesar, harus dihormati. Sebab bagaimana ia akan menolong saudaranya jika mereka tidak berusaha tetap tinggal dalam sentuhan Allah, dan dipenuhi olehNya dengan cinta ilahi?
Cinta kasih persaudaraan yang paling agung ialah mengajarkan arti hidup yang sejati setelah mengalaminya sendiri dalam dirinya. "Dia telah membawa saya ke dalam kamar yang penuh simpanan anggur cinta... saya telah masuk ke sana seorang diri, tetapi tidak untuk kegunaanku sendiri. Setiap langkah yang saya ambil adalah juga langkah anda, bagi andalah saya maju. Semua yang bisa saya peroleh berkelimpahan dari kemurahan hati ilahi, saya bagikan kepada anda.
Tidak perlu takut bahwa jika diserap Allah, jiwa akan melupakan saudaranya. Sebaliknya, cinta Allah adalah nyala api ilahi yang mamberi makan dan menerangi cinta persaudaraan sejati. “Patutlah bagi kontemplasi sejati yang murni, bahwa ia dalam jiwa menggiatkan api cinta ilahi sedemikian rupa sehingga segera ia lagi menahan keinginan kuat untuk menyampaikan kepada orang lain, merekapun ditelan oleh cinta.
Dengan senang ia meninggalkan ketenangan kontemplasi suci untuk berkhotbah dengan ikhlas. Jika keinginannya terpenuhi, ia kembali dengan semangat yang jauh lebih besar kepada kontemplasinya...
Lalu sekali lagi, setelah mencicipi kemabukan cinta kontemplatif, ia berjuang untuk menarik jiwa-jiwa dengan semangat berkorban seperti biasa dan dengan keberanian yang diperbaharui”.
Inilah pengalaman Santo Bernardus sendiri: “Dengan sabar saya rela direnggut dari pelukan Rachel yang mandul agar Dia memberi saya buah-buah kemujuran rohani anda. Doa... bacaan... meditasi... dan kegiatan lain sungguh berfaedah bagi hidup rohani, tetapi jika anda memanggil saya dari latihan-latihan itu, saya meninggalkan mereka karena tidak lagi berfaedah untuk jiwaku".
Santo Bernardus terus terang menghadapi problem dua cinta. Tetapi istilah-istilah yang sering kita gunakan dapat menunjukkan pemecahan yang palsu. Dia sendiri lebih senang menggunakan istilah "ordo caritatis”, Yaitu tata tertib yang harus dimasukkan dalam latihan cinta. Hanya ada satu cinta adikodrati yang diarahkan baik kepada Allah maupun kepada sesama.
Dalam pertumbuhan manusia kepada cinta yang sempurna, Santo Bernardus membedakan tiga macam affeksi. Yang pertama ialah keturunan daging yang tidak tunduk kepada hukum ilahi. Ia menyenangkan tetapi berdosa. Yang kedua taat kepada akal, ia tunduk kepada Allah. Ia kuat tetapi kering. Ia membangkitkan perbuatan-perbuatan baik. Itulah cintakasih aktif. Yang ketiga dirempahi oleh kebijaksanaan. Ia merasakan dan menikmati kemanisan Allah yang tak terperikan. Itulah cintakasih affektif.
Affeksi yang pertama jahat dan tak punya tempat di sini, tetapi harus ada suatu proporsi antara dua affeksi yang lain. Cinta aktiflah yang pada umumnya menjadi obyek perintah; ia punya hak untuk mendapatkan pahala. Cinta yang lain, yaitu cinta affektif yang menikmati Allah, lebih diberikan sebagai hadiah. Di dunia ini orang dapat mengalami cinta yang menggembirakan ini sedikit banyak, tetapi kesempurnaannya disisihkan khusus bagi surga.
Bagaimanapun jika hati kering dan tanpa cinta, Santo Bernardus tidak akan membatasi dia pada pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan baik. “Salah satu kejahatan yang paling buruk bisa menimpa orang, ialah hidup tanpa affeksi”.
Keluhuran dua cinta itu tidak sama. Yang menentukan ada mereka ialah obyek yang mereka tuju. Cinta kasih aktif menyibukkan diri dengan tugas-tugas yang lebih rendah, ia membantu orang-orang lain. Cinta kasih affektif mempunyai obyek yang lebih mulia: menikmati Allah.
Santo Bernardus nyata-nyata lebih menyukai cinta yang terakhir ini, cinta akan Allah. Tetapi, dalam praktek, urutan yang terbalik harus diikuti. Pelayanan akan sesama mungkin lebih urgen. “Siapa akan mengingkari bahwa manusia yang berdoa asyik dengan Allah? Walaupun demikian, sering kali terjadi, bahwa demi tata kasih kita mesti meninggalkan percakapan dengan Allah untuk kepentingan mereka yang membutuhkan pertolongan atau bombongan kita... Kerja di ladang sering mengharuskan kita untuk meniadakan Misa Agung ... Urutan yang tepat kelihatannya terbalik, tetapi keperluan tidak mengenal hukum, ia tidak memperhitungkan nilai obyektif hal-hal, tetapi kebutuhan manusia yang mendesak".
Di lain pihak cinta kasih affektif memperhatikan hirarki nilai-nilai. Ia menghargai hal-hal seperti adanya dan merasakan hal-hal itu dalam seluruh kepenuhannya. Berkat cinta kasih semacam itu, jiwa pertama-tama mencintai Allah dengan seluruh kekuatan yang ada pada ciptaan. Lalu ia mencintai diri sendiri sejauh diakuinya bahwa ia tidak bernilai sedikitpun juga sejauh ia menjadi milik Allah. Akhirnya ia mencintai sesamanya sejauh ia mencintai Allah atau dibaktikari kepada cinta tersebut. Jadi kalau dimengerti demikian, cintai kasih affektif adalah kebijaksanaan sejati, dan sebagai kebijaksanaan ia mencapai perkembangan yang penuh hanya di surga di mana problem tentang dua cinta tidak ada lagi”.
Dari sebab itu, hasil pertama dari rahmat persatuan adalah cinta kasih persaudaraan, cinta persaudaraan yang hanya sempurna jika ia bersumber pada cinta akan Allah. Kita tidak mengerti manusia, kemalangannya, kebutuhannya, keagungannya, kecuali jika ia dilihat dalam cahaya ilahi.
Hasil kedua yang mesti dikemukakan, dan yang hanyalah merupakan penerapan khusus dari yang pertama, ialah kebaikan, kehalusan budi yang menguasai hati manusia jika ia dikosongkan dari diri sendiri dan dipenuhi oleh cinta melalui kontak dengan Allah. Ini khususnya perlu bagi mereka yang diserahi kekuasaan oleh Gereja.
Menurut pandangan Santo Bernardus rahmat persatuan dengan Allah sungguh perlu bagi para pemimpin, sebab sungguh tidak masuk akal kalau ada orang yang berani memimpin saudaranya tanpa mempunyai pengalaman dalam hidup rohani. "Nec debet omnino praeesse aliis qui in eam (cellam vinariam) necdum meruit introduci” “Tak seorangpun boleh memimpin saudara lain, bila ia sendiri belum diperkenankan masuk ke dalam gudang anggur persatuan ilahi”.
Suatu kepercayaan tak terbatas adalah hasil ketiga dari rahmat persatuan. Ini merupakan bentuk keutamaan harapan yang paling indah. "Suatu kepercayaan luar biasa dilahirkan oleh keakraban yang ada antara Sabda dan jiwa”. Dan sebabnya ialah jiwa yang mencintai secara bernyala-nyala tidak dapat meragukan bahwa ia dicintai kembali.
Semua perasaan yang ia rasa terhadap Allah, perhatiannya yang konstan kepadaNya, usaha dan semangatnya yang tidak henti-hentinya dalam menantikan Allah, keinginannya yang abadi untuk menyenangkan hati-Nya, semuanya itu menyebabkan dia percaya dengan teguh bahwa Allah mengalami cinta yang sama terhadap dia. Ia tahu bahwa cinta Allah datang terlebih dahulu. "Kepastian adalah buah cinta. Mempelai tahu bahwa ia tidak akan pernah mencari Allah jika ia sendiri tidak terlebih dahulu dicari oleh-Nya”.
======
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)