Ads 468x60px

Jesuit dan Ignatius Loyola



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Jesuit dan Ignatius Loyola.
Ordo Serikat Yesus, sering dikenal dengan "Jesuit" adalah Ordo Katolik Roma yang didirikan lima abad yang lalu oleh mantan tentara dari suku Basque, yang kemudian menjadi seorang mistikus, Ignatius Loyola.
Dengan semangat berusaha untuk "menemukan Tuhan dalam segala hal", para Jesuit mendedikasikan diri untuk “kemuliaanAllah yang lebih besar - Ad Maiorem Dei Gloriam - For the Greater Glory of God" dan kebaikan seluruh umat manusia.
Dengan 16.000 lebih para imam, bruder, dan novis di seluruh dunia, Serikat Yesus menjadi ordo laki- laki terbesar dalam Gereja Katolik, yang memberi pelayanan dalam segala bidang, baik di dalam Gereja dan di masyarakat, dengan berdasarkan pada tradisi dan spiritualitas Ignasian.
Anggota Ordo, yang melihat diri sebagai "sahabat- sahabat Yesus" mengambil tiga sumpah: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan; dan sumpah keempat adalah ketaatan khusus dalam hal misi ke seluruh dunia.
Setiap Jesuit harus siap untuk menerima misi apapun yang dibutuhkan Paus, sumpah yang mencerminkan dedikasi yang lebih luas kepada Gereja universal, dan untuk kebaikan semua orang dari berbagai agama dan budaya.
Di bawah ini, saya lampirkan kembali sepenggal kisah founding father, St Ignatius Loyola.
1. Inigo dan Masa Mudanya.
Inigo, begitulah nama Ignatius Loyola, adalah seorang anak bungsu dari 12 bersaudara. Lahir di Basque, daerah utara spanyol dari keluarga bangsawan di Puri Loyola. Di tempat inilah Inigo dibesarkan dan memulai takdirnya dalam hidup kebangsawanan dan juga ksatria. Pada umur 14 tahun dia mulai dididik untuk menjadi bagian dari kebangsawanan Raja Spanyol.
Masa mudanya penuh dengan semangat dan gaya hidup bangsawan serta didikan untuk menjadi seorang ksatria, yang tentunya menarik hati banyak wanita dalam romantisme kebangsawanan atau juga machoisme sebagai seorang ksatria. Sulit untuk menduga bahwa garis hidup yang demikian adalah cara Tuhan “menggodok” seorang Santo
Renungan:
Sebagaimana kita merenungkan kisah hidup Inigo, apa yang anda pikirkan tentang hidup anda sendiri? Mungkin kita sering merasakan dimanakah Tuhan dalam hidup saya ketika saya berjuang jatuh bangun untuk membangun diri dan hidup yang saya impikan? Seringkali cara terbaik untuk menemukan Dia, adalah dengan tetap setia dan sabar melihat kedalaman diri dan hati tanpa judgement, tanpa prasangka, berpikir positif dan tetap percaya bahwa Tuhan hadir dan menyertai. Melihat secara realistis apa yang terjadi dalam hidup, merefleksikannya di dalam kedalaman hati kita, jujur dan tulus dengan hidup ini bisa jadi merupakan “jalur” yang baik untuk menemukan kehendakNya.
====
Kisah hidup berikut adalah sebuah kisah pertempuran di Pamplona. Dalam pertempuran dahsyat antara Spanyol dan Perancis, Inigo dengan semangat gagah berani ikut mempertahankan mati-matian benteng Pamplona dari serbuan massal pasukan Perancis. Semangatnya yang pantang mundur membuatnya tetap bertahan dan mengambil alih kendali pasukan ketika pasukan Spanyol sendiri sudah banyak yang putus asa dan lari menyelamatkan diri.
Dalam pertempuran yang hebat itu, sebuah peluru meriam menerjang kakinya, meninggalkan Inigo dengan luka dan cedera yang serius. Dia pun harus dipapah pasukan Perancis sebelum akhirnya dibawa kembali ke Loyola. Cedera kakinya, yang membuatnya pincang sungguh meruntuhkan kebanggaan dirinya, ambisi pribadi, kepercayaan diri, dan juga mimpi-mimpinya. Dia menjadi frustrasi karena cedera ini seperti menyingkirkan dia dari aksi-aksi kebangsawanan yang gagah berani dan tentu saja kesempurnaan.
Saat kegagalan di Pamplona rupanya menjadi saat dimana Tuhan berkarya. Kekalahan Spanyol adalah berkat buat Inigo. Saat-saat sakitnya adalah moment penting bagi Inigo untuk merasakan sentuhan Tuhan dan membuat dirinya sungguh bisa bekerja sama dengan rahmat Tuhan sendiri. Bukankah memang seringkali moment-moment yang penting dalam perubahan hidup kita terjadi ketika kita dalam kekecewaan, tak berdaya, dan pada saat kita gagal? Saat-saat itu bisa sungguh menjadi saat dimana kita mulai memahami cinta dan hidup yang mendalam; menjadi sebuah moment dan tempat dimana kita menemukan benih-benih untuk berkembang dalam hidup.
Renungan:
Apakah ada dalam moment hidup anda yang mengingatkan anda akan peristiwa Pamplona sebagaimana Inigo alami- saat dimana anda bertindak tanpa hati-hati, dengan kenekatan dan keberanian? atau ketika anda sungguh merasa tak berdaya dan dalam kegagalan? Kalau melihat ke belakang, melihat peristiwa-peristiwa itu, apa yang bisa anda rasakan dan pikirkan sekarang ini?
2. Inigo, Mimpi dan Pengorbanannya.
Inigo mengalami pertobatan yang radikal ketika berada dalam masa pemulihan dari cedera kakinya yang didapat dalam pertempuran di Pamplona (baca Novena Hari 1). Selama berbaring di Puri Loyola, dia banyak membaca kisah para Santo, dan juga buku-buku spiritualitas yang akhirnya mengubah perspektif hidupnya, yang semula dipenuhi dengan ambisi kebangsawan menjadi ambisi untuk membaktikan diri pada semangat-semangat religius, dan persembahan diri pada Tuhan. Pertobatan ini membuat dirinya berani untuk pergi meninggalkan Puri Loyola dan memulai pejiarahan.
Dalam perjalanan pejiarahannya, Inigo sampai di Manresa tepatnya di dekat Biara Montserrat, di atas pegunungan yang indah. Di situ dia melakukan pengakuan dosa, yang menurut tradisi biasanya dilakukan selama 3 hari. Dalam proses pejiarahan batinnya di Manresa inilah Inigo pertama kali menuliskan pengalamannya dan juga insight rohaninya yang mendalam tentang doa, yang menjadi salah satu bagian pokok dalam Latihan Rohani Santo Ignatius yang terkenal itu.
Pengalaman rohani yang mendalam di Manresa ini mengantar Inigo untuk masuk ke dalam keputusan lain yang lebih radikal, untuk mengikuti Tuhan: Dia memberikan pakaian kebangsawanannya kepada seorang pengemis, dan menukarnya dengan pakaian sederhana khas pejiarah. Dia juga menyerahkan pedangnya di atas altar sebagai simbol penyerahan atas masa lalu dan juga nilai-nilai yang dia pegang dalam hidupnya terdahulu, serta juga sebagai simbol atas komitmentnya dalam membaktikan diri pada Tuhan.
Renungan:
Dapatkah anda melihat saat-saat dalam hidup anda ketika anda dipenuhi oleh idealisme dan impian yang membuat anda berani untuk menyerahkan segala sesuatu demi impian dan idealisme yang dirasakan dalam diri anda dan menguasai hati anda? Pernahkah hidup anda dipenuhi oleh semangat dan idealisme, ataukah hanya biasa-biasa saja, membiarkan hidup mengalir saja? Dapatkah anda “seperasaan” dengan Inigo yang mengejar impian dan cita-citanya secara total?
Inigo meninggalkan pedang dan pakaian kebangsawanan untuk mengejar impian dan hasrat mendalamnya untuk mengikuti panggilan Tuhan. Dalam semangat yang sama, apakah yang pernah atau bahkan sekarang ini membuat anda berani untuk meninggalkan dan mengorbankan apa yang dianggap berharga demi sebuah impian dan cita-cita yang lebih luhur? Apakah anda adalah orang yang berani dan mau berkorban buat orang yang anda cintai, buat keluarga anda?
Bila anda merasa tidak memiliki mimpi dan impian hidup, apakah ada kemungkinan bahwa anda kurang melihat diri lebih mendalam tentang apa yang sesungguhnya anda mau dalam hidup ini? Bila anda sulit untuk berkorban atau meninggalkan masa lalu anda, apakah yang membuat anda tidak memiliki keberanian untuk melakukannya?
Tidak perlu menghakimi diri anda….tetapi tetaplah tulus dan sadar apa yang terjadi dalam diri anda. Bila anda merefleksikan hal-hal di atas….telitilah apa yang anda rasakan dan inginkan saat ini….
3. Inigo dan Pembedaan Roh.
Pengalaman Inigo di perbukitan dekat Biara Montserrat membuahkan pengalaman rohani yang begitu mendalam dan memantapkan tekadnya untuk membaktikan diri pada Tuhan. Penyerahan pedang di atas altar, dan juga memberikan pakaian kebangsawanannya kepada pengemis sungguh menggambarkan sikap batin Inigo yang total. Rupanya pengalaman rohaninya begitu dahsyat dan transformatif sampai-sampai menggerakannya untuk berbuat secara total pula.
Inigo, memutuskan untuk berjiarah ke Yerusalem dengan kapal dari Barcelona. Namun sebelum berangkat ke Barcelona, dia memutuskan untuk “turun gunung” dan tinggal beberapa hari di Manresa. Semangatnya masih meluap-luap. Pengalaman rohaninya masih “hangat” sehingga dengan tekad bulat dia pun menghidupi dirinya sebagai pengemis di Manresa, dan tinggal di tepi sungai. Ya, inilah cara hidup seorang peziarah.
Berjuang hidup sebagai peziarah dan pengemis membuat dia bertemu dengan “setan” dalam dirinya. Kerinduan akan nostalgia di Puri Loyola, kesepian batin, sampai akhirnya keinginan untuk bunuh diri mewarnai hari-hari inigo di Manresa. Naik turunnya dorongan batin dan suasana hati Inigo rupanya menjadi guru yang baik baginya untuk memahami gerak batin dan gerak roh; untuk semakin memahami bagaimana Tuhan menyentuhnya dan berkarya dalam hidup. Dia menjadi peka dan belajar menghadapi dorongan batin, melihat kelemahan diri dan juga memahami cinta Tuhan secara realistis. Godaan dan dorongan batin yang ada sungguh mengajarkan kepada Inigo bagaimana menggunakan perasaan, reaksi dan ingatan serta kehendak, mencari kehendak Tuhan dan menemukan jalan yang membawanya kepada Tuhan.
Renungan:
Ingatlah saat-saat pengalaman “puncak” ketika anda begitu merasa dekat dengan Tuhan dalam doa-doa anda, dimana anda penuh dengan inspirasi dan semangat. Ingatlah juga ketika anda harus membawa buah-buah doa itu ke dalam realitas harian. Apakah kegembiraan dan semangat itu tetap bertahan ketika anda menghadapi problem dan realitas hidup sehari-hari? Apakah hanya lalu lenyap ditelan oleh rutinitas, arus jaman, pengaruh buruk, atau karena kita tidak berpendirian?
Ketika anda mengalami dinamika “manresa” yaitu ketika mencari atau mewujudkan kehendak Tuhan dalam hidup anda, yang anda dapatkan dari pengalaman doa-doa, apakah anda sungguh peka terhadap gerakan-gerakan batin yang ada dalam diri anda? Sejauh manakah gerakan batin, godaan-godaan dan keinginan-keinginan sesaat yang anda alami dimengerti sebagai sebuah jalan untuk semakin berkembang dan matang dalam hidup rohani dan juga hidup pribadi?
4. Inigo dan Kerendahan Hati.
Perjalanan hidup Inigo setelah Manresa dipenuhi dengan kekecewaan, tantangan dan frustrasi. Keinginannya untuk mengajarkan injil dan berkotbah pun membawanya berurusan dengan lembagai Inkuisisi Gereja. Bagaimana mungkin seorang awam, pada waktu itu, yang tidak pernah mengenyam pendidikan seminari mau berkotbah? Otoritas Gereja dan bahkan sekuler rupanya menentang niat mulia Inigo ini, karena dikuatirkan hanya akan menyesatkan orang. Inigo tidak patah semangat. Dia tetap berusaha dan gigih untuk bisa melayani banyak orang walaupun harus menghadapi tantangan dari banyak sisi.
Dia sadar bahwa cara satu-satunya untuk dapat diterima secara kredibel di mata Gereja adalah dengan ditahbiskan. Untuk itu dia rela kembali untuk mengenyam pendidikan, belajar bahasa latin dan juga teologi. Di usianya yang menjelang 40 tahun, dia rela untuk bersama belajar bahasa latin dengan anak-anak usia 20 tahunan. Sikap rendah hatinya ini berbuah besar di kemudian hari.
Renungan:
Ingatkah anda akan masa-masa dimana anda merasa banyak memiliki tantangan dan halangan dalam mewujudkan cita-cita dan harapan yang baik dalam hidup anda? apakah anda dengan rendah hati tetap teguh memegang cita-cita itu, dan berusaha dari langkah ke langkah untuk mewujudkannya? Apakah anda pernah merasa malu, rendah diri karena dianggap tidak kompeten dalam usaha anda ini? Lihatlah kembali pengalaman anda itu, dan bagaimana anda menyikapinya. Bagaimanakah pengalaman Inigo bisa menjadi inspirasi buat anda?
5. Para Jesuit Pertama.
Perjuangan Inigo belajar bahasa latin dengan penuh kerendahan hati, demi cita-citanya melayani Gereja mulai membuahkan hasil. Dia berhasil menyelesaikannya dan sekarang Inigo mulai memasuki kehidupan universitas: Studi di Paris.
Di Paris, karisma Inigo rupanya menarik hati teman-temannya yang tinggal bersamanya. Kedekatan Inigo dengan beberapa orang seperti Fransiskus Xaverius, dan Petrus Faber ternyata menggerakkan Inigo untuk mau berbagi pengalaman rohaninya di Manresa. Pengalaman rohani tentang doa dan pembedaan roh, ternyata sungguh mengubah hidup kedua orang sahabatnya ini.
Pengalaman dan catatan-catatan rohani Inigo tentang doa dan pembedaan roh inilah yang sekarang kita kenal dengan Latihan Rohani Santo Ignatius. Rupanya, efek dari Latihan Rohani ini sungguh bergema, sehingga dalam beberapa tahun, persahabatan orang-orang ini berkembang sampai 7 orang. Pada tanggal 15 Agustus 1534, dalam sebuah rekreasi bersama mereka semua akhirnya berjanji untuk melayani Tuhan dan berikrar bersama sebagai Sahabat-sahabat Yesus, alias Serikat Jesus.
Renungan:
Pernahkah anda merasakan bahwa pengalaman rohani anda mengubah hidup anda secara fundamental? Apakah hidup rohani anda sungguh merupakan sebuah pengalaman hidup yang integral ataukah hanya semata-mata ritual belaka?
Apakah anda memiliki “teman rohani” dimana bisa saling berbagi satu sama lain tentang insight ataupun inspirasi hidup? Sejauh mana pertemanan itu bisa saling memperkaya satu sama lain?
6. La Storta.
Tahun 1536, pada waktu itu Inigo sudah ditahbiskan menjadi imam (diosesan?), dan mengubah namanya menjadi Ignatius. Dalam perjalanannya menuju Roma, Ignatius berdoa di sebuah kapel di La Storta, dan rupanya pengalaman di La Storta ini merupakan salah satu pengalaman penting dalam konteks pejiarahan rohani Ignatius. Mengapa demikian?
Dalam doanya di Kapel La Storta, Ignatius mengalami sebuah pengalaman rohani mendalam dimana dia melihat Allah Bapa menempatkan dirinya di samping PutraNya Yesus. Pengalaman rohani ini merupakan sebuah pengalaman rohani yang transformatif bagi Ignatius karena meyakinkannya bahwa doanya sungguh terkabul. Dia selalu meminta kepada Tuhan, dalam doa-doanya,supaya ditempatkan bersama dengan Kristus sendiri, dan sekarang entah bagaimana, dia mengalami sebuah pengalaman rohani yang begitu “agung” tetapi sekaligus “misteri”. Pengalaman La Storta ini bagi Ignatius semakin meneguhkan keinginannya mengabdi Allah dan Gereja, dan juga hidupnya dalam Serikat Jesus.
Renungan:
Berefleksi dari pengalaman Ignatius di La Storta, apakah anda pernah mengalami pengalaman personal “berjumpa dengan Allah” dalam doa-doa anda? Apakah anda pengalaman perjumpaan itu menyentuh realitas hidup anda? Sejauh mana perjumpaan itu memberikan pencerahan dalam diri anda tentang makna dan arah hidup anda? Apakah itu memberi energi dan inspirasi baru untuk anda? Ataukah anda hanya memahaminya sebagai sebuah moment “sentimental” dalam doa?
Apakah doa-doa anda sungguh menggerakkan anda secara integral? atau hanyakah itu menjadi sebuah rutinitas harian yang lama-kelamaan menjadi kosong dan membosankan?
7. Ignatius di Roma.
Ignatius dan para sahabatnya setelah diteguhkan dalam Latihan-Latihan Rohani, bertekad teguh untuk mengabdikan diri mereka kepada Gereja. Itulah sebabnya, Ignatius pada tahun 1537 pergi ke Roma untuk memberikan diri mereka pada Bapa Suci dalam semangat ketaatan kepada Gereja.
Ignatius sungguh diterima oleh Paus Paulus III pada waktu itu, dan dalam kesempatan itu Ignatius juga mengungkapkan keinginan mereka untuk pergi ke Yerusalem dan bekerja disana sebagai sebuah impian dan cara untuk melayani Gereja. Agaknya Bapa Suci sendiri tidak terlalu antusias untuk mengirim mereka ke Tanah Suci, dan sebaliknya dalam sebuah kesempatan, secara spontan Bapa Suci pernah mengatakan “Mengapa kamu begitu ingin pergi ke Yerusalem? Itali bisa menjadi sebuah Yerusalem kalau kalian memang sungguh-sungguh mau bekerja bagi Gereja”. Nampaknya perkataan Bapa Suci ini dalam kesempatan berikutnya sungguh menjadi nyata.
Roma pada waktu itu terancam bahaya kelaparan, banyak gelandangan, pengungsi dan juga tingkat pertumbuhan ekonomi yang buruk akibat adanya perang Turki yang mempengaruhi stok pangan dan kebutuhan hidup lainnya. Setting kota yang seperti ini menjadi kesempatan buat Ignatius dan kawan-kawannya untuk berbuat sesuatu membantu banyak orang yang menderita dalam kegiatan sosial. Kegiatan Ignatius ini menjadi sungguh signifikan dan besar sampai-sampai ribuan orang sudah dilayani oleh mereka. Lambat laun mereka mulai sadar bahwa impian pergi ke Yerusalem bukanlah sesuatu yang realistis, mengingat situasi politik dan ekonomi, dan apalagi kalau melihat apa yang ternyata bisa mereka buat di Roma pada waktu itu.
Renungan:
Dalam spiritualitas Ignasian, impian atau keinginan seringkali merupakan pintu masuk untuk menemukan hidup anda dan juga bahkan menemukan kehendak Tuhan sejauh anda mau membawa dan menimbang-nimbangnya di dalam doa dan percakapan hidup anda.
Setiap kali kita melakukan Latihan Rohani, ataupun berdoa secara Ignasian, kita selalu diajak meminta rahmat secara spesifik, yang kita dambakan di awal doa kita. Mengapa demikian? Karena doa dan hidup kita adalah 2 hal yang integral dan terkait satu sama lain. Rahmat Tuhan bekerja lewat kodrat kita sebagai manusia dengan segala dimensinya. Dalam impian-impian kita, energi untuk hidup dan berkembang itu sungguh nyata dan tumbuh. Integrasi keduanya dalam doa dan lewat pembedaan roh sebenarnya merupakan inti pokok dalam spiritualitas Ignasian.
Sekarang soalnya adalah: apakah anda masih berdoa dan memiliki impian hidup? Ataukah 2 hal ini seringkali merupakan 2 hal yang terpisah? Sejauh mana hidup anda merupakan hidup yang terinspirasi dari doa-doa anda? atau hidup anda hanya terinspirasi dari impian anda saja? Ataukah anda hanya hidup dari harapan-harapan kosong doa anda yang lepas dari realitas sehari-hari? Masihkah menemukan ruang dimana energi dalam impian anda itu anda “timbang-timbang” dalam doa dan percakapan anda dengan Tuhan?
8. Ignatius dan Desolasi.
Dimanakah Tuhan ketika kita kesepian? Dimanakah Dia ketika kita terpuruk dalam kelemahan kita? Dimanakah Dia ketika penderitaan datang? Rasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut sangatlah tidak asing dalam hidup kita. Apakah Tuhan sungguh meninggalkan kita pada saat-saat yang demikian?
Membaca kisah hidup Santo Ignatius, kita bisa melihat bahwa dari pertobatannya, hidup Ignatius selalu diwarnai dengan kesepian jiwa atau kesepian rohani selain kegembiran dan semangat rohani atau batin yang luar biasa pula. Dalam pertobatannya, kesepian pun dirasakan. Dalam perjalanan rohaninya seringkali dia merasa lelah, putus asa, sendirian, pun bila itu semua adalah demi Kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
Kesetiaan Ignatius dan keteguhan iman Ignatius-lah yang membuat imannya berbuah dan semakin meyakinkan dia bahwa Tuhan hadir. Kesepiannya tidak membuat Ignatius goyah iman, tetapi dengan sabar mencoba “menjiarahi” batinnya, menyelami alam kesepian dan berjumpa dengan Tuhan sendiri disana. Kesepian, ibarat Tuhan yang diam, tetapi tetap hadir menemani kita untuk berani masuk ke dalam “gelap”, menyelami relung hati kita, dan terkadang melihat wajah kita yang sesungguhnya…..wajah yang seringkali tidak berani kita tatap sungguh-sungguh, karena penuh dengan kelemahan dan dosa kita.
Inilah yang dalam Spiritualitas Ignasian disebut dengan desolasi (kesepian rohani). yang harus dihadapi dengan dengan besar hati dan sikap berserah kepada Tuhan. Ini mengandaikan iman dan harapan yang besar akan cinta Tuhan sendiri. Kita kiranya bisa sungguh belajar dari Ignatius. Latihan Rohani-nya yang dahsyat itu adalah hasil buah iman dan kepercayaan yang sungguh besar akan kasih Tuhan, dan juga menunjukkan sikap kerendahan hati seorang Ignatius.
Saya mengajak anda merenungkan saat dimana kita berada dalam kesepian rohani dan batin, dan merenungkan sungguh bagaimana kita menghadapinya dengan iman.
9. Ad Maiorem Dei Gloriam.
Ambillah ya Tuhan kebebasanku
kehendakku, budi ingatanku
pimpinlah diriku dan Kau kuasai
perintahlah, akan ku taati
Hanya rahmat dan cintaMu padaku
yang ku mohon menjadi milikku
hanya rahmat dan cinta dariMu
berikanlah menjadi milikku
Lihatlah semua yang ada padaku
kuhaturkan menjadi milikMu
pimpinlah diriku dan Kau kuasai
perintahlah akan kutaati
Doa dan lagu yang sering kita dengar ini adalah bagian dari Latihan Rohani St. Ignatius (no.234), yang bisa menjadi sebuah “ringkasan” perjalanan hidup Ignatius: Mengabdi Sang Pencipta.
Keinginannya adalah mengabdi Tuhan, membawa orang kepada Tuhan dan mencintai orang miskin. Kita mungkin bisa bertanya, darimanakah energi yang Santo Ignatius dapatkan sehingga ia berani meninggalkan Puri Loyola yang megah dan status kebangsawanannya, pergi berjiarah, menjadi pengemis, kembali ke bangku sekolah dan belajar hingga mendirikan Serikat Jesus? Sebuah pejiarahan hidup yang sangat panjang dan tentunya melelahkan.
Satu-satunya jawaban adalah: Perasaan dicintai oleh Tuhan yang begitu besar. Ya, perasaan cinta Tuhan yang begitu besar inilah yang menggerakkan Ignatius. Energi yang dia dapat bersumber dari pengalaman dicintai oleh Tuhan sendiri yang begitu besar. Kisah Ignatius adalah kisah seorang santo yang sangat manusiawi. Dia tidak lepas dari ketakutan, kesepian, godaan atau kelemahan-kelemahan manusiawi lain
Namun alih-alih lari dari realitas itu, Ignatius malah berani menghadapinya, merasakan godaan yang ada dan akhirnya menjadi peka akan kelemahan diri, gerakan roh baik dan jahat serta karakter dirinya. “Menjadi suci adalah menjadi semakin manusiawi, bukan menjadi sempurna”, mungkin begitulah kisah Ignatius bisa kita lukiskan. Artinya, dengan merengkuh nyata kemanusiawian kita, lengkap dengan segala kelemahan dan kedosaan, kita semakin juga merasakan cinta Allah yang besar dalam seluruh perjalanan hidup kita.
Dalam kelemahan kita, Allah pun bekerja, dan seringkali kita menemukan bahwa pengalaman jatuh kita merupakan sebuah ajakan untuk bertemu Dia dan juga ajakan untuk mengenal diri kita secara lebih mendalam. Disinilah cinta Tuhan sungguh menjadi lebih nyata: “Menjadi suci adalah menjadi semakin manusiawi, bukan menjadi sempurna”
Apakah anda pernah merasakan cinta Tuhan? Dimanakah dan bagaimanakah cinta Tuhan itu anda terima dan rasakan? Apakah dalam kelemahan dan pergulatan diri anda, anda pernah menemukan dan berjumpa dengan Tuhan sendiri? Sejauh mana perjumpaan itu membekas dan sungguh mengubah diri anda? Darimanakah energi yang menggerakkan hidup anda sekarang? apakah hidup kita hanya digerakkan semata-mata atas kebutuhan untuk “survive”, semata-mata hanya karena kita harus bekerja, mencari uang, menghidupi diri atau keluarga? atau adakah dimensi spiritual dari apa yang kita kerjakan dalam hidup ini? Dimanakah Tuhan dalam hidup anda?
Mungkin ada baiknya kita menyisihkan waktu untuk merenungkan hal ini….dan akhirnya bisa bertanya sebagaimana Santo Ignatius pun bertanya dalam dirinya kepada Kristus yang tersalib:
“Apa yang telah kulakukan untuk Dia”
“Apa yang sedang kulakukan untuk Dia”
“Apa yang akan kulakukan untuk Dia”
Ad Maiorem Dei Gloriam- begitu semboyan dari Ignatius, yang artinya Demi Kemuliaan Tuhan yang Lebih Besar. Apakah hidup kita adalah wujud ekspresi “Ad Maiorem Dei Gloriam”? Semoga!
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

ST INIGO & MANAGEMENT



ST INIGO & MANAGEMENT...
When Pope Francis assumed the papacy in 2013, there were cheers from many around the world. Francis was the first pope from the Americas and the first Jesuit. While his appointment focused new attention on the Jesuit Order, the Society of Jesus has been around since 1540, when it was founded by St Ignatius Loyola.
A saint might seem a surprising source of inspiration for a business school dean, but more than 350 years before the first MBA degree, St Ignatius gave us a model of how to lead a multinational enterprise. Many organisational leaders today would be proud to emulate his principles and approach. His entrepreneurial spirit and management abilities led to the creation of a vast global organisation that has thrived and fulfilled its mission for nearly 500 years. Those principles underlie McDonough School of Business, which is based at Georgetown University, America’s oldest Catholic and Jesuit institution of higher learning, founded in 1789.
Every leadership expert stresses the importance of leading by example and of staying in touch in meaningful ways with those outside the top “C-suite” echelons of management and life of privilege. St Ignatius was born into the C-suite. As a member of the nobility he spent his early years in the 16th-century equivalent of a jet-setting life. Yet he surrendered frivolity for devotion to God, to walk with the poor and survive by begging. We now admire the chief executive who lunches in the staff canteen, much as our most compelling images of Pope Francis are those in which he emerges from his tiny car and stays in touch with the dispossessed around the world by, quite literally, touching them.
St Ignatius understood that shared governance would help to attract and unleash the best talent. Leadership involves not just articulating a vision but also inspiring others to follow and execute it. Take St Francis Xavier, who travelled to Goa, India, in 1542 and established the first Jesuit school. Think of the courage it took to voyage to new lands with little money and no weaponry. He had courage and a commitment to the “company’s” vision of making a positive difference. Such courage is often hard to find today as we face the challenges of business in a more integrated and hospitable world.
The type of humility shown by St Ignatius creates trust. He delegated responsibilities in a time when strict hierarchy prevailed. The trust implicit in the modern practices of shared governance, delegation and employee empowerment are fundamentally rooted in a leader’s humility.
It is widely accepted today that organisations need a strong shared mission and culture to create and execute strategies. St Ignatius understood the importance of this for the Society of Jesus. Through the Spiritual Exercises, prayers and contemplative practices he developed and are still widely practised, he helped the Jesuits to understand who they were and why they were. By the time he died, priests as far away as Brazil and Japan, with no connection to the headquarters in Rome, were guided by a common sense of purpose. Without technology or staff meetings, St Ignatius bound together a global community of shared purpose and values.
Priests as far away as Japan, with no connection to ‘headquarters’ in Rome, shared a common purpose
Structures, systems and processes in many ways define the life of an organisation and what it does well. St Ignatius explained in detail in the Jesuit Constitutions how the Society of Jesus would operate. He outlined everything from rules for those joining the seminary to the role of senior Jesuits, including how to shape the organisation, train people and give them the flexibility to structure their lives.
St Ignatius emphasised the need for self-reflection and self-knowledge, as today we encourage people to learn about their strengths and weaknesses. He also left much to the discretion of local decision makers, balancing global consistency with local flexibility.
Ignatian principles have inspired generations of religious leaders, educators and students. But I believe St Ignatius is also a management hero. The principles and practices he established have survived for five centuries and lie at the heart of a complex multinational organisation that runs some 360 secondary schools and 175 universities around the world, and is engaged in activities from healthcare to assisting refugees. Guided by principles established by St Ignatius, the Society of Jesus has a remarkable track record of improving our world.
====
Paul Almeida is dean and William R Berkley chair at McDonough School of Business, Georgetown University, Washington DC

Serial "Back to Nature" : M E R P A T I



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Serial "Back to Nature" : M E R P A T I
Mengapa merpati sering digunakan dlm perumpamaan oleh Tuhan? Matius 10:16
1. Merpati burung yg gak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah ada merpati yg suka berganti pasangan? Jawabannya adalah TIDAK
Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya.
2. Merpati burung yg tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yg pulang ke tempat lain? Jawabannya adalah TIDAK
3. Merpati burung yg romantis. ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya adalah TIDAK
4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya adalah TIDAK
5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “KEPAHITAN” sehingga tidak menyimpan DENDAM !
Jika seekor burung saja mampu melakukannya, mengapa manusia tidak bisa?
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

Serial "Back to Nature" : Koepoe Koepoe



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Serial "Back to Nature" : Koepoe Koepoe
“.....Kupu-kupu jangan pergi
Terbang dan tetaplah di sini
Bunga-bunga menantimu
Rindu warna indah dunia
Anak kecil tersenyum manis
Pandang tarianmu indah
Bahagia dalam nyanyian
Kupu-kupu jangan pergi....”
(Melly Goeslaw)
“The Time of Butterflies” (Las Mariposas) adalah judul sebuah film historis yang digarap-serap dari novel Julia Alvarez, dimana kupu-kupu menjadi inspirasi dan aspirasi perjuangan sejati para aktivis.
Dan, bersama dengan segelontor orang yang suka membuat tato kupu-kupu (entah pada pinggul, dada, punggung atau bagian tubuhnya yang lain), banyak seniwan-seniwati kita juga ter-inspirasi dengan kupu-kupu. Sebut saja: Ebiet G.Ade dengan “Kupu-kupu Kertas” nya; Titiek Puspa dan Ariel Noah dengan “Kupu-kupu Malam” nya, Iwan Fals dengan “Kupu-kupu Hitam Putih” nya, bahkan kelompok musik Slank dengan Gank Potlotnya juga menaruh-luruh kupu-kupu sebagai simbol komunitas mereka.
Kupu-kupu sendiri merupakan jenis serangga dalam ordo lepidoptera/bersayap sisik. Secara sederhana, mereka aktif di waktu siang (diurnal) dan kerap memiliki warna yang indah. Kupu-kupu juga amat banyak jenisnya, di Pulau Jawa dan Pulau Bali saja tercatat lebih dari 600 spesies kupu-kupu. Bahkan, Indonesia yang memiliki 1600 jenis spesies kupu-kupu merupakan negara nomor dua terbanyak jenis kupu-kupunya di dunia setelah Brazil.
Dalam mitologi Yunani kuno, kupu kupu (ψύχη, psȳchē) berarti jiwa. Psyche dihadirkan sebagai seorang gadis cantik bersayap seperti kupu-kupu yang melambangkan keabadian jiwa.
Kupu-kupu juga kerap diartikan “Venessa” (Venus: dewi cinta dan kecantikan). Memang, kupu-kupu melambangkan jiwa dan cinta kasih yang abadi, seperti yang dituang-kenangkan dalam legenda Tiongkok “Sampek - Engtai”.
Ada juga budaya kuno yang percaya bahwa kupu-kupu adalah makhluk “libera et sacra” (bebas dan kudus) yang membawa jiwa dari bumi ke surga. Masyarakat tradisional Jepang bahkan menganggap kupu-kupu sebagai personifikasi roh seseorang yang kita cintai, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal.
Adapun di tanah Bali, terdapat juga sebuah tari kupu-kupu, yang melukiskan kedamaian jiwa sekelompok kupu-kupu yang dengan riangnya berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain.
Sesungguhnya, kupu-kupu sebenarnya berumur pendek (“brevis”), tetapi nilai filosofisnya sangatlah panjang, kalau tidak mau dikatakan abadi (“longa”). Harapannya, dengan belajar dari spiritualitas kupu kupu, ada semacam “butterfly effects”, yang terus mampu mencipta angin yang menyejukkan sekaligus menggores warna yang mencerahkan untuk hidup kt ke depannya.
Kupu-kupu juga menggambarkan adanya usaha ber-metamorfosis bersama: dari ulat (simbol “tergantung pada dunia”) menjadi kepompong (simbol “terbelenggu dunia”), dan akhirnya menjadi kupu-kupu (simbol ‘libertas’, kebebasan dari ketergantungan dan keterbelengguan kepentingan diri).
Secara filosofis:
Pertama-tama dia adalah sebuah telur yang melambangkan “impotensi”, ketidak-berdayaan, pasif dan nasibnya tergantung pada pihak lain/lingkungannya.
Ketika telur pecah, berubahlah dia menjadi ulat yang ter-alienasi (terasing) dan ter-stigmatisasi (dicap buruk karena “merusak”: parasit bagi tetumbuhan yang didiaminya. Aktivitasnya adalah makan, makan dan makan. Gerakannya lambat, makannya banyak).
Setelah melewati “fase ulat”, berikutnya ia berubah menjadi kepompong. Ia membungkus dirinya dengan tabung yang menjadi tabir bagi dirinya dalam berhubungan dengan lingkungannya. Sang ulat bersembunyi di bawah sehelai daun dan ”bertapa”. Ia ber-“silentio magnum.”
Dalam kehidupan iman kristiani, inilah fase “kontemplasi”. Tatkala kita mulai hening-merenungi jalan dan guratan hidup serta mencoba menjaga jarak. Inilah sebuah langkah untuk ber-ruminatio (mengunyah-kunyah) menjadi seekor kupu-kupu yang menebarkan keindahan dan kehangatan bagi sesama.
Spiritualitas ala kupu kupu jelasnya ingin hadir sebagai sebuah upaya sederhana mencari kearifan yang bebas sekaligus abadi: bersama-sama mengalami kelahiran, menggulati pertumbuhan (yang diwarnai proses gulat-geliat perjuangan) untuk mencapai sebuah kebangkitan yang mengagumkan bagi kebaikan banyak orang.
Akhir kata, kalau orang dulu pernah bilang jika rumahnya kedatangan kupu-kupu menandakan ada tamu istimewa yang datang membawa “rezeki”. Semoga, itu juga yang kita alami, kita boleh “kedatangan tamu istimewa” alias mendapatkan limpahan berkat Tuhan, diantaranya: “fraternitas-persaudaraan, caritas-kasih, serta unitas in diversitas - kesatuan dalam keberagaman.”
“Pergilah menuju tempat di mana kau tak dapat pergi,
menuju yang tak mungkin.
Itulah satu-satunya jalan pergi atau datang”
(“The Prayers and Tears of Derrida”)
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

NB:
Kupu-kupu yang lucu
kemana engkau terbang
Hilir-mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang
Berayun-ayun
Pada tangkai yang lemah
Tidakkah sayapmu
Merasa lelah
Kupu-kupu yang elok
Bolehkah saya serta
Mencium bunga-bunga
Yang semerbak baunya
Sambil bersenda-senda
Semua kuhampiri
Bolehkah kuturut
(Ibu Sud)
Adalah seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul dari kepompong. Orang itu duduk dan mengamati selama beberapa jam bagaimana si kupu-kupu berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.
Ternyata, kupu-kupu itu mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, dan sayapnya mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang dalam waktu.
Ternyata, semuanya tak pernah terjadi. Kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang.
Kebaikan dan ketergesaan orang tersebut merupakan akibat dari ketidakmengertiannya bahwa kepompong yang menghambat, dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah “jalan Tuhan” untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu berpindah ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga sayapnya menjadi kuat, dan siap terbang begitu memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang pejuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.
Bukankah tepat kata-kata Thomas Aquinas, bahwa “siapapun yang bersungguh-sungguh dalam proses pencarian, maka ia akan menemukan apa yang dicarinya?”
Kupu-kupu yang cantik itu telah melewati berbagai tahap kehidupan yang mengantarkannya pada sosok yang indah seperti sekarang ini. Berasal dari seekor ulat yang menjijikkan dan bahkan tak jarang dijauhi. Dari ulat menjadi kepompong, menggantung di dahan atau dedaunan. Ia tak peduli walau panas terik menyengat serta dingin malam menusuknya.
Ia tetap jost dan kokoh untuk berubah, berbenah dan berbuah menjadi diri yang lebih baru, diri yang lebih penuh pesona, indah memukau dengan sayap barunya dan tubuh yang cantik, tremens et fascinans! Lalu ia pun terbang berkelana mencari kuntum-kuntum bunga yang indah untuk menghisap sari bunga dan menebarkan telur-telur penerus kehidupannya.
Ia ber-metamorfosis, menjalani setiap episode kehidupan ini dengan jiwa besar dan hati ringan. Ia berpikiran luas seluas laut dan langit yang biru. Bebas dan tidak direkayasa. Itulah harapan yang juga menjadi dambaan kita.
Something coming …
Viens.
Something unforeseeable and incomprehensible
Viens.
Tout autre …
Let every one say,
Viens
To every gift,
Viens, oui, oui.
Amen
“Sesuatu datang …
Datanglah!
Sesuatu yang tak teramalkan dan tak terpahamkan
Datanglah!
Yang Sama Sekali Lain
Biarkan setiap orang berkata,
Datanglah!
Kepada setiap pemberian,
Datanglah! Ya, ya.
Amin.”
(The Prayers and Tears of Jacques Derrida)

Sabtu, 25 November 2017



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Sabtu, 25 November 2017
Hari Biasa Pekan XXXIII
1 Makabe (6:1-13)
(Mzm 9:2-3.4.6.16b.19)
Lukas (20:27-40)
"Dominus vivit - Tuhan itu hidup!"
Injil hari ini mengisahkan sebagian dari serangan para lawan Yesus yang dengan berbagai macam cara mencoba "mematikan" Yesus.
Mengacu pada Luk 20, secara bergantian imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan orang Saduki mengajukan pelbagai pertanyaan yang “mematikan”. Tapi, Yesus selalu hadir memberikan jawaban yang menghidupkan sebab memang benar Ia adalah Allah yang hidup: "Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup!"
Kali ini, Yesus ditanya soal "kebangkitan" yang sebenarnya dilematis, sebab kalau Yesus mengatakan ada kebangkitan, maka Yesus dianggap menentang Hukum Musa. Sementara, jika Yesus mengatakan tidak ada kebangkitan, hal itu bertentangan dengan ajaranNya bahwa Anak Manusia akan bangkit pada hari ketiga.(Luk 18:33).
Saduki sendiri adalah kelompok yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Perlulah kita bertanya, mengapa mereka tidak percaya kepada kebangkitan. Kelompok Saduki adalah kelompok yang sangat setia pada Hukum Taurat sehingga mereka hanya mau menerima ajaran yang terdapat dalam Pentateukh. Oleh karena gagasan kebangkitan tidak terdapat dalam Pentateukh, maka mereka tidak mau menerima gagasan tesebut.
Selain itu, kelompok Saduki biasanya juga memegang posisi yang tinggi di Bait Allah. Hidup mereka sudah nyaman, tidak kekurangan suatu apa pun.Bagi mereka, kebangkitan tidak ada maknanya sama sekali. Apa lagi yang diharapkan?
Dalam Injil Yohanes, sebelum membangkitkan Lazarus dari kematian, Yesus bersabda, "Akulah kebangkitan dan kehidupan, barangsiapa percaya pada-Ku akan hidup meski sudah mati; dan barangsiapa percaya pada-Ku tidak akan pernah mati. Percayakan kamu tentang hal ini?" (Yoh 11:25).
Nah, bagi kita sendiri, apakah kebangkitan dan hidup kekal itu memang sesuatu yang sungguh-sungguh kita percaya sekaligus kita rindukan? Ataukah kita larut hanyut di tengah gemerlap dunia fana ini?
"Ada bukit di Kalvari - Mari bangkit setiap hari!"
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Kutipan Teks Misa:
Buatlah ya Tuhan supaya aku tetap setia akan apa yang kuakui dalam syahadat kelahiran-kembali diriku, ketika aku dibaptis dalam Bapa, dalam Putra dan dalam Roh Kudus. Semoga aku menyembah Engkau Bapa kami, dan Putra-Mu bersama dengan Dikau; semoga aku pantas menerima Roh Kudus-Mu yang berasal dari Engkau melalui Putra-Mu yang tunggal. ... Amin. – St. Hilarius dari Poitiers, Uskup Poitiers dan Doktor Gereja
Antifon Pembuka (Luk 20:37b.38)
Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, karena semua orang hidup bagi Dia..
Doa Pembuka
Allah Bapa kami yang Maharahim, semoga kami semua dapat bertobat berkat sabda Yesus Putra-Mu, penjelmaan belas kasih-Mu dan harapan hidup kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Kekuasaan dunia tidak bertahan lama. Raja Antiokhus sadar akan kesalahannya. Kekalahan demi kekalahan yang dialaminya itu karena ia telah melakukan kejahatan terhadap Yerusalem.
Bacaan dari Kitab Pertama Makabe (6:1-13)
"Karena segala kejahatan yang kuperbuat terhadap Yerusalem, maka aku sekarang mati dalam kepedihan yang besar."
Pada waktu itu Raja Antiokhus menjelajahi wilayah pegunungan Persia. Didengarnya kabar bahwa Elimais, sebuah kota di negeri Persia, termasyhur karena kekayaan perak dan emas. Lagipula di kota itu ada sebuah kuil yang sangat kaya, karena di sana disimpan alat-alat perang emas, serta baju baja dan senjata yang ditinggalkan Aleksander, putra Filipus, raja Makedonia, yang mula-mula menjadi raja atas orang-orang Yunani. Maka Antiokhus pergi ke sana dan berusaha merebut kota itu serta menjarahnya. Tetapi ia tidak berhasil karena maksudnya ketahuan oleh penduduk kota itu. Mereka memberikan perlawanan kepada raja, sehingga ia melarikan diri dari situ dan dengan menyesal mau kembali ke kota Babel. Kemudian datanglah seseorang ke daerah Persia memberi tahu raja, bahwa bala tentaranya yang memasuki negeri Yudea sudah dipukul mundur. Khususnya Lisias yang berperang dengan bala tentara yang kuat telah dipukul mundur oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi itu bertambah kuat karena senjata, pasukan dan banyak barang rampasan yang mereka peroleh dari tentara yang sudah mereka kalahkan. Mereka telah membongkar juga patung berhala yang didirikan oleh raja di atas mezbah di Yerusalem. Mereka telah memagari bait suci dengan tembok-tembok tinggi seperti dahulu. Demikian pula halnya dengan Bet-Zur, salah satu kota raja. Mendengar berita itu, maka tercenganglah raja dan sangat kacau pikirannya. Ia merebahkan diri di ranjang dan jatuh sakit karena sakit hati. Sebab semuanya tidak terjadi sebagaimana diinginkannya. Berhari-hari raja berbaring di ranjangnya dan terus menerus dihinggapi kemurungan besar. Ketika merasa akan meninggal dipanggilnya semua sahabatnya lalu dikatakannya kepada mereka, “Tidur sudah lenyap dari mataku dan hatiku hancur karena kemasygulan. Maka dalam hati aku berkata: Betapa besar keimpitan dan kemalangan yang menimpa diriku sekarang ini! Padahal aku ini selalu murah hati dan tercinta dalam kekuasaanku! Tetapi, teringatlah aku sekarang akan segala kejahatan yang telah kuperbuat terhadap Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh menumpas penduduk Yerusalem dengan sewenang-wenang. Sekarang aku menjadi insyaf bahwa semuanya itulah sebabnya aku ditimpa malapetaka ini. Sungguh aku sekrang jatuh binasa di negeri asing dengan amat sedih hati.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, aku bergembira atas kemenangan-Mu.
Ayat. (Mzm 9:2-3.4.6.16b.19)
1. Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau bermazmur bagi nama-Mu, ya yang Mahatinggi.
2. Sebab musuhku telah mundur, tersandung jatuh, dan binasa di hadapan-Mu. Engkau menghardik bangsa-bangsa, dan telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya.
3. Kakinya terperangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (2Tim 1:10b)
Juruselamat kita Yesus Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan. Yesus menunjukkan kesesatan mereka. Allah kita bukanlah Allah orang-orang mati, melainkan Allah orang-orang hidup. Di hadapan Dia, semua orang hidup.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (20:27-40)
"Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."
Pada suatu ketika datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, Musa menulis untuk kita perintah ini: Jika seorang yang mempunyai saudara laki-laki mati meninggalkan istri tetapi tidak meninggalkan anak, maka saudaranya harus kawin dengan wanita itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya. Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang wanita lalu mati tanpa meninggalkan anak. Lalu wanita itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga, dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu. Mereka semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya wanita itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan wanita itu? Siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Seebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Berkatalah Yesus kepada mereka, “Orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi orang yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi. Mereka sama dengan malaikat-malaikat dan menjadi anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, karena di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Maka mreka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Antifon Komuni (Luk 20:35-36)
Orang yang layak mengambil bagian dalam dunia yang akan datang dan dalam kebangkitan orang mati, tidak lagi menikah atau dinikahi, sebab mereka tidak dapat mati lagi. Mereka serupa para malaikat dan menjadi putra putri Allah, karena mereka itu putra dan putri kebangkitan.
Doa Malam
Syukur dan terima kasih kepada-Mu, ya Tuhan, karena aku dapat menyelesaikan tugas-tugasku hari ini. Semoga aku juga mampu menghargai jerih payah sesamaku yang ikut berperan dalam tugas-tugasku. Amin.

Jumat, 24 November 2017



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Jumat, 24 November 2017
Peringatan Wajib St. Andreas Dung-Lac, dkk., Imam dan Martir
1 Makabe (4:36-37.52-59)
(MT 1Taw 29:10.11abc.11d-12a.12bcd)
Lukas (19:45-48)
"Ecclesia semper reformanda - Gereja harus selalu diperbaharui!"
Inilah salah satu pesan iman ketika Yesus "membersihkan" Bait Allah. Pembersihan ini sendiri menjadi tindakan besar pertama pelayananNya di muka umum (Yoh 2:13-22) dan sekaligus tindakan besar terakhir pelayananNya di muka umum (Mat 21:12-17; Mrk 11:15-17).
Dikisahkan bahwa Ia mengusir orang fasik, orang tamak dan mereka yang merusak tujuan rohani yang benar dari Bait Allah.
Tindakan Yesus yang dua kali membersihkan Bait Allah selama tiga tahun pelayananNya menunjukkan betapa pentingnya reformasi/perubahan dengan 4 pilar dasar ini, antara lain:
1.Kekudusan.
Ia sangat menginginkan kekudusan dalam gerejaNya (Yoh 17:17,19).
Ia mati untuk "menguduskannya, menyucikannya dan menempatkan jemaat, kudus dan tidak bercela" (Ef 5:25-27).
2.Kesatuan.
Ibadah gerejani haruslah bersatu dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24). Dengan kata laiin: Gereja harus menjadi suatu tempat doa yg bersekutu dengan Allah dan jemaatNya (Mat 21:13).
3.Keadilan.
Ia akan menghukum semua orang yg menggunakan gereja dan Injil demi keuntungan, kemuliaan/kemajuan pribadi dan kelompoknya.
4.Kemurnian.
Kita diajak untuk tulus dan murni melawan mereka yang mencemarkan/merendahkan GerejaNya (1Kor 6:9-11;?Gal 1:6-10;Why 2:1-3:22).
Nah, bersama dengan harapan bahwa Gereja mesti selalu diperbarui, mari kita lahir baru juga sekaligus kita persembahkan hidup kita kepadaNya, supaya semakin menjadi gereja yang hidup, yang punya kekudusan-kesatuan-keadilan & kemurnian hidup setiap harinya.
"Ke Pasar Koja naik bis patas - Bangunlah gereja yang punya vitalitas dan kualitas."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Kutipan Teks Misa.
“Terimalah apa pun yang Yesus berikan; dan berikanlah apa pun yang Dia minta, dengan senyum yang lebar.” (St. Teresa dari Kalkuta)
Antifon Pembuka (Bdk. Gal 6: 14; Bdk. 1Kor 1:18)
Semoga kita tidak pernah bermegah, kecuali dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus. Sebab pemberitaan tentang salib adalah kekuatan Allah bagi kita yang diselamatkan.
May we never boast, except in the Cross of our Lord Jesus Christ. For the word of the Cross is the power of God to us who have been saved.
Doa Pembuka
Ya Allah, Engkau telah menguatkan Gereja-Mu dengan pelayanan yang mengagumkan melalui kesaksian para martir yang kudus, Andreas Dung Lac dan kawan-kawannya. Semoga umat-Mu, yang setia kepada perutusan yang telah dipercayakan kepada Gereja-Mu itu, memperoleh kebebasan beragama yang lebih besar dan memberi kesaksian tentang kebenaran di hadapan dunia. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Pertama Makabe (4:36-37.52-59)
"Mereka menahbiskan mezbah dan dengan sukacita mempersembahkan kurban."
Pada waktu itu Yudas Makabe serta saudara-saudara berkata, “Musuh kita sudah hancur. Baiklah kita pergi mentahirkan bait Allah dan mentahbiskannya kembali.” Setelah seluruh bala tentara dihimpun berangkatlah mereka ke Gunung Sion. Dalam tahun 148, pada tanggal dua puluh lima bulan ke-9, yaitu bulan Kislew, pagi-pagi benar seluruh rakyat bangun untuk mempersembahkan kurban sesuai dengan hukum Taurat di atas mezbah kurban bakaran baru yang telah mereka buat. Tepat pada jam dan tanggal yang sama seperti waktu orang-orang asing mencemarkannya, mezbah itu ditahbiskan dengan kidung yang diiringi gambus, kecapi dan canang. Maka meniaraplah segenap rakyat dan sujud menyembah, serta melambungkan pujian ke surga, kepada Dia yang memberi mereka hasil yang baik. Delapan hari lamanya perayaan pentahbisan mezbah itu dilangsungkan. Dengan sukacita dipersembahkanlah kurban bakaran, kurban keselamatan dan kurban pujian. Bagian depan bait Allah dihiasi dengan karangan-karangan keemasan dan utar-utar. Pintu-pintu gerbang dan semua balai diperbaharui dan pintu-pintu dipasang padanya. Segenap rakyat diliputi sukacita yang sangat besar. Sebab penghinaan yang didatangkan orang-orang asing itu sudah terhapus. Yudas serta saudara-saudaranya dan segenap umat Israel menetapkan sebagai berikut, ‘Perayaan pentahbisan mezbah itu tiap-tiap tahun harus dilangsungkan dengan sukacita dan kegembiraan delapan hari lamanya, tepat pada waktunya, mulai tanggal dua puluh lima bulan Kislew.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Kidung Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, kami memuji nama-Mu yang agung.
Ayat. (MT 1Taw 29:10.11abc.11d-12a.12bcd)
1. Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah Israel leluhur kami dari kekal sampai kekal.
2. Ya Tuhan, milik-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya milik-Mulah segala yang ada di langit dan di bumi, ya Tuhan, milik-Mulah kerajaan.
3. Engkaulah yang tertinggi melebihi segala-galanya, kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu.
4. Engkaulah yang menguasai segala-galanya. Dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan, dalam tangan-Mulah kuasa untuk memperluas dan memperkokoh kerajaan.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 10:27)
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan; Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (19:45-48)
"Rumah-Ku telah kalian jadikan sarang penyamun."
Pada waktu itu Yesus tiba di Yerusalem dan masuk ke bait Allah. Maka mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ. Ia berkata, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!” Tiap-tiap hari Yesus mengajar di bait Allah. Para imam kepala dan ahli Taurat serta orang-orang terkemuka bangsa Israel berusaha membinasakan Yesus. Tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Antifon Komuni (Mat 5:10)
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Blessed are they who are persecuted for the sake of righteousness, for theirs is the Kingdom of Heaven.
atau Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di Surga. (Mat 10:32)

Red Wednesday



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
"Red Wednesday", 22 November 2017 adalah gerakan bersama dalam membela "faith and freedom", iman dan kebebasan secara simbolik dengan menyalakan lampu merah di bangunan-bangunan penting dunia dan khususnya di Gereja-Gereja yang berpartisipasi, di seluruh dunia.
Gerakan "Rabu Merah" ini sebagai tanda solidaritas terhadap penderitaan umat kristiani yang teraniaya bahkan sampai mati karena iman mereka. Adapun "Merah" dalam liturgi kristiani adalah warna lambang kemartiran.
De facto, umat kristiani adalah kelompok yang paling banyak dianiaya saat ini. Penganiayaan tidaklah selalu berbentuk fisik, namun juga banyak dalam pelbagai bentuk penolakan dan diskriminasi, baik dalam bekerja, dan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Gerakan Red Wednesday ini juga sebagai belarasa terhadap umat beragama lain di seluruh dunia yang tertindas oleh kelompok lain dan yang mengalami diskriminasi.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

Fr. Miguel Pro



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
IN MEMORIAM
90 Tahun Kemartiran "Padre Pro"
Beato Miguel Agustin Pro SJ.
23 Nov 1927 - 23 Nov 2017
Semoga Tuhan mengampuni Anda!
Semoga Tuhan memberkati Anda!
Tuhan, Engkau tahu bahwa saya tidak bersalah! Dengan sepenuh hati saya mengampuni musuh-musuh saya!"
~ Padre Pro, sesaat sebelum kemartirannya.
Beato Mikael/Miguel Agustin Pro SJ dilahirkan di Guadalupe, Meksiko pada tahun 1891. Nama lengkapnya adalah José Ramón Miguel Agustín Pro Juárez. Beliau merupakan seorang martir dari abad keduapuluh yang tewas dalam penganiayaan yang dilakukan oleh pemerintah Meksiko terhadap Gereja yang dimulai pada tahun 1911.
Miguel menjalani masa novisiat di Biara Serikat Yesus pada tahun 1911. Waktu itu ia seorang pemuda berusia dua puluh tahun, murah hati, pemberani serta penuh semangat.
Tahun 1914 gelombang penganiayaan dari pemerintah yang anti Gereja semakin hebat hingga para novisiat Jesuit terpaksa diungsikan. Mereka dikirim ke seminari-seminari di luar negeri untuk melanjutkan pendidikan mereka.
Frater Pro diungsikan ke Los Gatos, California Amerika Serikat; kemudian pergi melanjutkan studinya di Granada, Spanyol (1915-1919), dan kemudian ke Nikaragua (1919-1922). Miguel kemudian menyelesaikan pendidikan imamnya di Belgia dan ditahbiskan pada tahun 1926.
Kesehatan imam muda ini tidak begitu baik. Ia sering mengalami sakit perut berkepanjangan. Namun hal ini tidak menyurutkan niatnya untuk pulang dan melayani umat di negara asalnya yang saat itu hidup dalam penindasan.
Padre Pro tiba di Mexico pada tanggal 8 Juli 1926. Kepulangannya ke Meksiko merupakan sukacita di satu pihak dan derita di lain pihak. Ia melihat bagaimana rakyat ditindas oleh pemerintah yang seharusnya melayani mereka.
Mexico saat itu dipimpin oleh Presiden Plutarco Elías Calles yang sangat anti Khatolik. Ia memberlakukan peraturan yang disebut “Hukum Calles” yang memberikan hukuman khusus tanpa pengadilan bagi para imam Khatolik yang mengkritik pemerintah (lima tahun penjara); bahkan memenjarakan siapa saja yang mengenakan pakaian klerikal di luar gereja.
Banyak Gereja ditutup dan para imam dikejar-kejar dan ditangkap. Biara-biara disegel dan para suster dipaksa untuk meninggalkan kaul mereka dengan menikah.
Padre Pro terpaksa melayani Gereja dan umatnya secara sembunyi-sembunyi. Dengan hati-hati ia merayakan Ekaristi secara sembunyi-sembunyi dan melayani sakramen-sakramen lain untuk kelompok-kelompok kecil umat Katolik.
Ia juga banyak menulis surat gembala untuk menguatkan iman umat yang sedang dalam penindasan itu. Surat-surat tersebut biasa ditanda-tanganinya dengan nama samaran “Cocol”. Padre Miguel sangat pintar menyamar. Ia menyelinap keluar masuk bangunan dan ruangan dan kehidupan. Ia selalu saja nyaris tertangkap, ketika kemudian tiba-tiba ia menghilang.
Pro dengan tabah dan berani tetap melaksanakan pelayanan imamatnya hingga akhirnya ia tertangkap pada bulan November 1927. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati tanpa melalui proses pengadilan. Presiden Calles yang kejam mendokumentasikan dengan cermat proses hukuman mati padre Pro untuk mempublikasikannya pada surat kabar di seluruh Mexico.
Pada tanggal 23 November 1927, Padre Pro digiring dari selnya tempat eksekusi. Sejenak Ia berhenti di dekat para tentara anggota regu penembak dan memberkati mereka. Permintaan terakhirnya agar diperbolehkan untuk berlutut dan berdoa dikabulkan; dan ia pun berdoa dengan sangat khusuk.
Saat detik-detik eksekusi tiba; Padre Miguel menolak memakai penutup mata. Ia memilih menghadapi para algojo dengan mata terbuka.
Padre Pro merentangkan kedua tangannya seperti Kristus saat disalibkan; sebuah salib digenggamnya di satu tangan dan sebuah rosario di tangan lainnya.
Dalam posisi ini ia berseru :
"Semoga Tuhan mengampuni Anda! Semoga Tuhan memberkati Anda! Tuhan, Engkau tahu bahwa saya tidak bersalah! Dengan sepenuh hati saya mengampuni musuh-musuh saya!".
Sesaat sebelum peluru menerjang tubuhnya; Padre Pro kembali berseru dengan lantang : "Viva Cristo Rey!" (Hidup Kristus Raja)...........
Dan senapan para algojo pun menyalak. Tubuh martir Kristus ini pun rubuh bermandikan darah; namun ia belumlah meninggal dunia. Untuk memastikan kematiannya, seorang algojo lalu menembak dahinya dari jarak dekat.
Presiden Calles melarang upacara pemakaman seperti biasanya bagi Pastor Pro. Ia bahkan mengancam akan menghukum siapa saja yang menghadiri pemakaman imam tersebut.
Meskipun begitu, tercatat lebih dari 40.000 orang umat mengikuti prosesi pemakaman Pastor Pro dan 20.000 lainnya menunggu di pemakaman. Mereka berdiri sambil berdoa dalam hati, mengucap syukur kepada Tuhan oleh karena hidup dan kesaksian Pastor Miguel Agustin Pro.
Pastor Miguel Agustin Pro, SJ dibeatifikasi pada tanggal 25 September 1988 oleh Paus St. Yohanes Paulus II.

Kamis, 23 November 2017



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Kamis, 23 November 2017
Hari Biasa Pekan XXXIII
1 Makabe (2:15-29)
(Mzm 50:1-2.5-6.14-15)
Lukas (19:41-44)
"Domus Pacis - Rumah Damai."
Inilah yang selalu hadir ketika kita menyebut nama Yerusalem.
Adapun, mengacu pada bacaan hari ini, Yesus menjadi rumah damai dengan 3 sikap dasar penuh harapan iman kasih yang dibuatNya, antara lain:
1. MENANGISINYA (Luk 19:41).
Karena tahu bahwa para pemimpin dan umat Israel mengharapkan Mesias yang bergerak dalam bidang politik dan bahwa mereka akan menolak Dia sebagai Mesias, maka "Dominus flevit- Yesus menangis" sebab Ia mengasihani umat itu yang akan segera mengalami hukuman yang dahsyat.
Kata "menangis" dalam bahasa Yunani tidak hanya berarti meneteskan air mata tapi menunjukkan terjadinya ratapan, raung tangisan, rasa sesak di dada, isak dan tangisan jiwa yang menderita.
Sebagai Allah, Yesus menampakkan bukan hanya perasaanNya sendiri tapi juga hancurnya hati Allah atas keterhilangan dan penolakan manusia pada keselamatan (Mark 11:9).
Inilah sikap Allah yang maha rahim.
2. MEMPERINGATINYA.
“Musuhmu akan mengelilingi engkau (Luk 19:43)!" Nubuat Yesus ini digenapi 40 tahun kemudian (70 M) ketika Yerusalem diruntuhkan oleh tentara Romawi dan ratusan ribu orang Yahudi dibunuh.
Peristiwa itu menggenapi nubuat Yesus yang menyatakan bahwa hukuman IIahi akan "ditanggung angkatan ini" (Mat 23:36; Luk 23:27-30) sebab mereka menolak Mesias dan tidak mau berpaling dari dosa mereka.
Inilah gambaran Allah yg maha kuasa.
3. MEMPERBAHARUINYA.
Ia memperbaharui perjanjianNya dan mempercayakan "kebun anggurNya" kepada org lain (Luk 20:16, Mat 21:43).
Dkl: KerajaanNya diambil dari Israel dan dibuka untuk semua bangsa lain dan itu tidak akan berakhir sebelum zaman itu digenapi, yang mungkin dimaksudkan ketika Kristus ber-"parousia", datang dalam kemuliaan dan kuasa untuk menegakkan pemerintahanNya atas segala bangsa (Luk 1:32-33; Yer 23:5-6; Za 6:13; 9:10; Rom 11:25-26; Wahy 20:4).
Disinilah, Ia hadir sebagai Allah yang terbuka, yang siap turun tangan di tengah ruwet renteng kehidupan harian kita.
"Makan siomay sambil berderma - Hiduplah berdamai dengan sesama."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Kutipan Teks Misa
“Selain dosa, semua yang kamu miliki datang dari Tuhan.” (St. Agustinus)
Antifon Pembuka (Mzm 50:15)
Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, niscaya Aku akan menyelamatkan dikau dan engkau akan memuliakan Daku.
Doa Pembuka
Allah Bapa kami di surga, perkenankanlah kami menemukan apa yang dapat mendatangkan kedamaian. Semoga kami semua patuh setia akan sabda Putra-Mu yang menjadi cahaya di dalam perjalanan kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
Kesaksian indah diberikan oleh Matatias dan anak-anaknya. Mereka tidak mau melakukan ketetapan raja. Mereka tetap setia melaksanakan hukum Tuhan. Mereka rela meninggalkan segalanya untuk mengikuti jalan Tuhan.
Bacaan dari Kitab Pertama Makabe (2:15-29)
"Kami akan menaati hukum nenek moyang kami."
Pada masa pemerintahan Raja Antiokhus Epifanes orang-orang Yahudi dipaksa meninggalkan ketetapan hukum Taurat. Sekali peristiwa para pegawai raja datang ke Kota Modein untuk menuntut orang-orang Yahudi mempersembahkan kurban kepada berhala. Banyak orang Israel datang kepada mereka. Matatias dan anak-anak berkumpul juga. Pegawai raja itu angkat bicara dan berkata kepada Matatias, “Saudara adalah seorang pemimpin, orang terhormat dan pembesar di kota ini,dan lagi didukung oleh anak-anak serta kaum kerabat. Baiklah Saudara sekarang juga maju ke depan sebagai orang pertama untuk memenuhi ketetapan raja. Hal ini telah dilakukan semua bangsa, bahkan juga orang-orang Yehuda dan mereka yang masih tinggal di Yerusalem. Kalau demikian niscaya Saudara serta anak-anak Saudara termasuk dalam kalangan sahabat-sahabat raja dan akan dihormati dengan perak, emas dan banyak hadiah!” Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang, “Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi perintah Seri Baginda dan masing-masing murtad dari agama nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah Seri Baginda, namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku hendak tetap hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. Semoga Tuhan mencegah kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. Titah raja itu tidak dapat kami taati. Kami tidak dapat menyimpang sedikit pun dari agama kami.” Belum lagi Matatias selesai berbicara, seorang Yahudi tampil ke depan umum untuk mempersembahkan kurban di atas mezbah berhala di kota Modein menurut penetapan raja. Melihat itu Matatias naik darah dan gentarlah hatinya karena geram yang tepat. Disergapnya orang Yahudi itu dan digoroknya di dekat mezbah. Petugas raja yang memaksakan kurban itupun dibunuhnya pada saat itu juga. Kemudian mezbah itu dirobohkannya. Tindakannya untuk membela hukum Tuhan itu serupa dengan yang dahulu pernah dilakukan oleh Pinehas terhadap Zimri bin Salmon. Lalu berteriaklah Matatias dengan suara lantang di Kota Modein, “Siapa saja yang rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian hendaknya mengikuti aku!” Kemudian Matatias serta anak-anaknya melarikan diri ke pegunungan. Segala harta miliknya di kota ditinggalkannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Siapa yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.
Ayat. (Mzm 50:1-2.5-6.14-15)
1. Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya. Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar.
2. "Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Daku, perjanjian yang dikukuhkan dengan kurban sembelihan!" Maka langit memberitakan keadilan-Nya; Allah sendirilah Hakim!
3. Persembahkanlah syukur sebagai kurban kepada Allah, dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi. Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, maka Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Daku."
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mzm 95:8ab)
Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah suara Tuhan.
Yesus menangisi Yerusalem. Alasannya, karena kota itu tidak terbuka hatinya untuk menerima karya Tuhan dalam Diri-Nya. Yesus lalu menubuatkan kehancuran Yerusalem.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (19:41-44)
"Andaikan engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu!"
Pada waktu itu ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, katanya, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, musuhmu mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Dan mereka akan membinasakan dikau beserta semua pendudukmu. Tembokmu akan dirobohkan dan tiada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Sebab engkau tidak mengetahui saat Allah melawati engkau.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Antifon Komuni (Mzm 50:14-15)
Persembahkanlah syukur sebagai kurbab syukur kepada Allah, dan bayarlah nazarmu kepada Allah yang Mahatinggi. Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, maka Aku akan meluputkan dikau, dan engkau memuliakan Daku.
Doa Malam
Tuhan Yesus, jangan biarkan diriku terlena oleh aneka tawaran dunia yang dapat menjauhkan diriku dari tujuan utama perjalanan hidup ini. Jadikanlah damai sejahtera-Mu senantiasa menguasaiku. Maka bentengilah diriku dengan perisai iman, buah anugerah-Mu agar tak ada satu kekuatan pun yang dapat menghancurkan aku. Amin.

HR TUHAN YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Sebuah Persiapan
Minggu XXXIV
HR TUHAN YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
"Adveniat regnum Tuum - Datanglah kerajaanMu."
Inilah salah satu harapan iman yang kita kenangkan di perayaan “Cristo Regi – Kristus Raja Semesta Alam. Ia merajai hidup sekaligus menjadi hakim atas hidup kita dan seluruh isinya. Jelasnya, Yesus adalah Tuhan yang bersahaja tapi sekaligus juga mempunyai sifat-sifat seorang raja (Bhs. Inggris: KING).
Dalam bahasa I ggris, “raja” kerap diartikan “KING”, dan adapun keempat sifat Yesus sebagai RAJA/KING, al:
1.Kasih:
Yesus pasti punya kasih, karena Ia banyak bicara soal kasih, dan hidupNya pun penuh kasih bagi setiap orang. "Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi," (2 Petrus 1:4)
2.Iman:
Setiap mukjijat Yesus, terjadi karena manusia punya iman. Bartimeus di Yerikho, Marta di Betania, Seorang perwira di Kapernaum, dan Bunda Maria di Kana menjadi contohnya. Yang pasti, Yesus pasti penuh iman, terlebih ketika Ia mau mentaati BapaNya sampai rela mati di kayu salib yang hina dina.
3.Nubuat:
Banyak perumpamaan, dan pernyataan nubuat Yesus yang dicatat dalam Injil, bahkan yang masih bergema sampai sekarang. NubuatNya banyak menginspirasi orang, dari Presiden sekaliber Ronald Reagan, sampai bahkan mungkin seorang ahli psikologi dan motivasi sekelas Andri Wongso dkk.
4.Gaya Hidup:
Yesus memiliki gaya hidup yang khas. Dalam setiap hidupNya, ternyata Ia selalu memilih kelompok yang KLMTD, Kecil Lemah Miskin Tersingkir dan Difable. Ketika Ia datang ke dunia, saksi pertama bukan Raja Herodes di Yudea, atau Kaisar Agustus di Roma,tapi kawanan gembala sederhana yang sedang tidur di padang rumput. Ketika Yesus memulai karyaNya pada usia 30 tahun, murid pertama yang dia pilih bukan para ahli kitab suci atau mahasiswa cerdik pandai di kota Yerusalem, tapi Yesus memilih Simon Petrus dan Andreas, seorang nelayan, penjala ikan yang miskin dan tidak pintar. Ketika Yesus bangkit dari mati, saksi pertama bukan wartawan Metro TV atau jurnalis KOMPAS atau majalah TEMPO, tapi Maria Magdalena, mantan pelacur yang bertobat.
“….Oh, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya…” [Roma 11:33-36].
Sudahlah kita juga belajar dari sang “KING” ini?
"Dari Tarsus ke Jayakarta - Tuhan Yesus adalah Raja kita."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
1.
Inspirasi A:
BERKUASA ATAS SEMESTA ALAM?
Pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam tahun B ini dibacakan Yoh 18:33b-37. Petikan ini memperdengarkan pembicaraan antara Pilatus dan Yesus. Pilatus menanyai Yesus apakah betul ia itu raja orang Yahudi ketika memeriksa kebenaran tuduhan orang terhadap Yesus. Yesus menjelaskan bahwa keraja¬an¬nya bukan dari dunia sini. Ia datang ke dunia untuk bersaksi akan kebenaran.
Injil mengajak kita mengenali Yesus yang sebenarnya, bukan seperti yang dituduhkan orang-orang, bukan pula seperti anggapan Pilatus yang sebenarnya tidak begitu peduli siapa Yesus itu. Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini juga merayakan kebesaran manusia di hadapan alam semesta. Itulah kebenaran yang dipersaksikan Yesus dan yang dipertanyakan Pilatus.
RAJA DALAM PERJANJIAN LAMA
Dalam alam pikiran Perjanjian Lama, raja berperan sebagai wakil Tuhan di dunia. Di Kerajaan Selatan, yakni Yudea, peran ini dipegang turun-temurun. Kepercayaan ini terpantul dalam silsilah Yesus dalam Injil Matius yang melacak leluhur Yesus, anak Daud, anak Abraham (Mat 1:1-17). Lukas menggarisbawahinya dan melanjutkannya sampai Adam, anak Allah, yakni “gambar dan rupa” sang Pencipta sendiri di dunia ini (Luk 3:23-38). Tetapi dalam menjalankan peran ini, raja sering diingatkan para nabi agar tetap menyadari bahwa Tuhan sendirilah yang menjadi penguasa umat. Kehancuran politik yang berakibat dalam pembuangan di Babilonia (586-538 s.M.) mengubah sama sekali keadaan ini. Raja ditawan dan dipenjarakan, kota Yerusalem dan Bait Allah dijarah, negeri terlantar dan morat-marit hampir selama setengah abad. Pengaturan kembali baru mulai setelah pembuangan, pada zaman Persia. Bait Allah mulai dibangun kembali (baru selesai 515 s.M.), walau kemegahannya tidak seperti sebelumnya. Tidak ada lagi raja seperti dulu walau ada penguasa setempat yang berperan dengan cukup memiliki otonomi di dalam urusan keagamaan. Pada zaman Yesus, keadaan ini tidak banyak berubah. Memang ada harapan dari sementara kalangan orang-orang Yahudi bahwa kejayaan dulu akan terwujud kembali. Maka itu, ada harapan akan Mesias Raja. Harapan ini mendasari pelbagai gerakan untuk memerdekakan diri. Hal ini sering malah memperburuk keadaan. Penguasa asing menumpas gerakan itu dan memperkecil ruang gerak orang Yahudi sendiri. Maka itu, di kalangan pemimpin Yahudi ada kekhawatiran apakah Yesus ini sedang membuat gerakan yang akan mengakibatkan makin kerasnya pengaturan Romawi. Mereka mendahului menuduh Yesus di hadapan penguasa
PATUTKAH IA?
Menurut Yohanes, memang orang pernah bermaksud mengangkat dia sebagai raja (Yoh 6:15, sehabis memberi makan 5.000 orang). Akan tetapi, tak sedikit dari mereka itu nanti juga meneriakkan agar ia disalibkan. Bukannya mereka tak berpendirian. Mereka itu seperti kebanyakan orang ingin hidup tenteram. Mereka mendapatkan roti dan ingin terus, tetapi mereka juga berusaha menghindari kemungkinan mengetatnya pengawasan dari penguasa Romawi. Di dalam kisah sengsara memang tercermin anggapan yang beredar di kalangan umum bahwa Yesus itu bermaksud menjadi raja orang Yahudi: olok-olok para serdadu (Mat 27:29; Mrk 15:9.18; Luk 23:37; Yoh 19:3), papan di kayu salib menyebut Yesus raja orang Yahudi (Mat 27:37; Mrk 15:26; Luk 23:38; Yoh 19:19-21), olok-olok para pemimpin Yahudi di muka salib (Mat 27:42; Mrk 15:32), kata-kata Pilatus di depan orang Yahudi (Yoh 19:14-15).
Kisah kelahiran Yesus menurut Matius juga menceritaan kedatangan para orang bijak dari Timur mencari raja orang Yahudi yang baru lahir (Mat 2:2). Namun demikian, seluruh kisah itu justru menggambarkan kesederhanaannya. Gambaran yang sejalan muncul dalam kisah Yesus dielu-elukan di Yerusalem (Mat 21:1-11; Mrk 11:1-10; Luk 19:28-38; dan Yoh 12:12-13). Ia disambut sebagai tokoh yang amat diharap-harapkan dan diterima sebagai raja, terutama dalam Yohanes. Jelas juga bahwa tokoh ini ialah raja yang bisa merasakan kebutuhan orang banyak.
Menurut Markus, Matius, dan Lukas, di hadapan Pilatus Yesus tidak menyangkal tuduhan orang Yahudi bahwa ia menampilkan diri sebagai raja, tetapi tidak juga mengiakan (Mat 27:11; Mrk 15:2; Luk 23:2-3). Dalam Yoh 18:33-39, ia justru menegaskan bahwa ia bukan raja dalam ukuran-ukuran duniawi.
Injil mewartakan Yesus sebagai Mesias dari Tuhan. Dalam arti itu, ia memiliki martabat raja. Namun demikian, wujud martabat itu bukan kecermelangan duniawi, melainkan kelemahlembutan, kemampuan ikut merasakan penderitaan orang, dan mengajarkan kepada orang banyak siapa Tuhan itu sesungguhnya.
RAJA SEMESTA ALAM
Guna mendalami Injil Yohanes mengenai Yesus, sang raja yang bukan dari dunia ini meski dalam dunia ini, marilah kita tengok madah penciptaan Kej 1:1-2:4a. Injil Yohanes, khususnya dalam bagian pembukaannya (Yoh 1:1-18), mengandaikan pembaca tahu bahwa ada rujukan ke madah penciptaan itu.
Ciptaan terjadi dalam enam hari pertama (Kej 1:1-31) dan manusia sendiri baru diciptakan pada hari keenam. Dalam enam hari itu, Tuhan mencipta dengan bersabda. SabdaNya menjadi kenyataan. Diciptakan berturut-turut: waktu siang dan malam (Kej 1:3-5), langit (ay. 6-8), bumi beserta tetumbuhan (ay. 9-12), matahari, bulan, dan bintang-bintang (ay. 14-19), ikan di laut dan burung di udara (ay. 20-23), hewan-hewan di bumi (ay. 24-25), dan akhirnya manusia.
Sesudah menciptakan hewan-hewan pada hari keenam itu, Tuhan bersabda, “Marilah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita!” (Kej 1:26). Ungkapan “kita” memuat ajakan kepada seluruh alam ciptaan yang telah diciptakanNya itu untuk ikut serta dalam pen¬cipta¬an manusia. Seluruh alam semesta yang telah di¬ciptakan kini “menantikan” puncaknya, yakni manusia. Dalam diri manusia terdapat peta kehadiran Tuhan Pencipta yang dapat dikenali oleh alam semesta. Oleh karena itu, manusia juga diserahi kuasa menjalankan pengaturan bumi dan isinya (Kej 1:29).
Manusia diciptakan “laki-laki dan perempuan” (Kej 1:27). Dalam cara bicara Ibrani, ungkapan dengan dua bagian ini merujuk kepada keseluruhan manusia, jadi seperti kata “kemanusiaan” atau “humankind” dalam bahasa Inggris. Bandingkan dengan ungkapan “benar-salahnya”, maksudnya “kebenarannya”; “jauh-dekatnya” maksudnya “jaraknya”.
Pada hari ketujuh (Kej 2:1-4a) sang Pencipta beristirahat dan memberkati hari itu. Pekerjaan yang telah diawaliNya itu kini dilanjutkan oleh manusia karena manusia memetakan kehadiranNya. Hari ketujuh tak berakhir, inilah zaman alam semesta yang diberkati Tuhan Pencipta.
Gambaran di atas menjadi gambaran ideal manusia sebagai raja yang mewakili Tuhan di hadapan alam semesta. Kebesaran manusia sang “gambar dan rupa” Tuhan dan alam semesta itu diterapkan Yohanes kepada Yesus. Dalam hubungan ini Yohanes merujuk Yesus sebagai “Sabda”, yakni kata-kata “Terjadilah…!” dst. yang diucapkan Tuhan dalam menciptakan alam semesta berikut isinya, termasuk manusia sendiri.
Dengan latar di atas, makin jelas apa yang dimaksud Yesus ketika berkata kepada Pilatus (Yoh 18:36) bahwa kerajaannya bukan dari dunia ini, bukan dari sini. Yesus itu memang raja dalam arti puncak ciptaan sendiri, kemanusiaan yang sejati seperti dulu dikehendaki sang Pencipta. Dalam ay. 37 Yesus menambahkan bahwa untuk itulah ia lahir, untuk itulah ia datang. Seluruh kehidupannya mempersaksikan kebenaran, yaitu manusia yang dikehendaki Pencipta sebagai puncak ciptaan yang membadankan unsur-unsur ilahi dan ciptaan dalam dirinya.
Dengan demikian, dalam perayaan Kristus Raja Semesta Alam, dirayakan juga kebesaran manusia, yakni manusia seperti dikehendaki Pencipta. Itulah kebesaran martabat manusia sejati. Sesudah perayaan ini, orang Kristen menyongsong Masa Adven untuk menantikan pesta kedatangan Yesus, Raja yang bakal lahir dalam kemanusiaan yang sederhana tapi yang juga mendapat perkenan Yang Maha Kuasa.
Kembali ke dialog antara Pilatus dan Yesus. Dalam Yoh 18:37 disebutkan Yesus datang ke dunia, ke tempat yang dalam alam pikiran Injil Yohanes dipenuhi kekuatan-kekuatan yang melawan Allah Pencipta, untuk mempersaksikan “kebenaran”. Apa kebenaran itu? Pertanyaan ini juga diucapkan oleh Pilatus. Ini juga pertanyaan kita yang dalam banyak hal memeriksa Yesus. Menurut Injil Yohanes, “kebenaran” yang dipersaksikan Yesus itu ialah kehadiran ilahi di kawasan yang dipenuhi kekuatan gelap. Ia menerangi kawasan yang gelap. Inilah yang dibawakan Yesus kepada umat manusia. Inilah yang membuatnya pantas jadi Raja Semesta Alam. Orang yang mengikutinya akan menemukan jalan kembali ke martabat manusia yang asali, yakni sebagai “gambar dan rupa” Allah sendiri. Orang yang mendekat kepadanya dapat berpegang pada kebenaran ini. Masyarakat manusia kini, di negeri kita, butuh cahaya itu juga. Dan kita-kita yang percaya kepada terang itu diajak untuk ikut membawakannya kepada semua orang. Inilah makna perayaan Kristus Raja Semesta Alam yang kita rajakan bersama Injil Yohanes tahun ini.
2.
Inspirasi B
Kepada jemaat di Korintus, Paulus memaparkan bahwa salib adalah hikmat Allah: "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia." (1Kor 1:22-25) Paulus begitu mengagumi hikmat Allah yang dinyatakan dalam wafat Yesus disalib. Tak terbayangkan baginya bahwa sebagai orang Yahudi dia akan tersandung oleh salib di jalan menuju Damsyik, tetapi kemudian dibangkitkan untuk menjadi pewarta kebangkitan. Di dalam cahaya kebangkitan, maka salib Yesus bagi-Nya mempunyai makna yang begitu dalam. Salib menjadi ungkapan kasih Allah dalam Yesus yang rela mati agar manusia boleh bangkit bersama-Nya. Dia tidak lagi malu untuk mewartakan misteri salib yang menyimpan kekalahan sekaligus kemenangan, yang menyimpan penghinaan sekaligus pemuliaan. Salib yang dulunya menjadi sandungan dan pangkal ketidakpercayaannya pada Yesus, kini menjadi kebanggaannya. Ketika para musuh Paulus menghina dan merendahkan dia di Galatia, Paulus menulis surat yang mengesankan. Dia memang merasa diri rapuh dan lemah sehingga layak dihina oleh para musuhnya, tetapi dia tidak kehilangan alasan untuk bermegah dan bangga atas kerapuhannya berkat misteri kasih Allah dalam salib Yesus : "Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." (Gal 6:14) Paulus tidak membalas penghinaan itu dengan menunjukkan kelebihan-kelebihannya, sebaliknya dia mengakuinya dengan tulus dan jujur karena memang bukan kemegahan dirinya yang dia cari. Justru di dalam kelemahan itu dia merasakan kekuatan Allah. Salib menjadi satu-satunya alasannya untuk bermegah. Selemah dan serapuh apapun umat manusia, dia boleh bermegah kerna Allah mengasihinya dalam Yesus sampai dengan kematian-Nya di kayu salib.
Paulus mensharingkan hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, ketika pada suatu kali dia meminta tambahan rahmat agar boleh merasa diri kuat menghadapi tantangan hidup. Dalam pengalaman rohaninya dia mendengar sabda Yesus: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2Kor 12:9). Paulus ungguh disadarkan berkat pengalaman rohani itu. Menyusul kesaksiannya akan sabda Yesus itu, Paulus mengatakan: "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (2Kor 12:9b-10)
Bercermin pada kesaksian Paulus ini kita dapat memahami mengapa dalam HR Kristus Raja Semesta Alam dipilih teks penyaliban Yesus. Tak lain karena di dalam salib-Nya, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Raja Cinta-kasih. Di atas salib, seorang penjahat mengakui Yesus sebagai Raja dan Penyelamat. Yesus yang tersalib baginya adalah harapan untuk keselamatan dalam hidup kekal. Kitapun boleh berbangga bersama Paulus atas salib Cintakasih itu. Jika penjahat yang disalib bersama Yesus dapat sampai pada keyakinan bahwa Dia adalah Raja yang membawa keselamatan abadi, lebih-lebih kita sekalian yang telah dibaptis dalam nama-Nya. Dengan salib suci-Nya Dia telah menebus dunia. Dialah Raja kita, bahkan Dialah Raja semesta alam.
Pengangkatan Daud sebagai raja atas Israel bersatu
Bacaan pertama menggambarkan pengakuan dan pengangkatan suku-suku Utara (Israel) terhadap Daud sebagai raja mereka. Peristiwa ini terjadi setelah suku-suku Utara tidak dapat lagi mempercayakan pemerintahan atas mereka kepada Isyboset dan keturunan Saul lainnya. Peristiwa ini dipandang penting karena dengan pengakuan suku-suku Utara tersebut Daud berhasil menjadi raja atas Israel bersatu (Israel dan Yehuda). Ia menjadi raja dan diakui oleh dua belas suku Israel. Daud adalah figur raja yang nantinya melahirkan idealisme Yahudi tentang Mesias. Bagi mereka, Mesias adalah keturunan Daud dan akan melanjutkan tahta Daud.
Yesus Anak Allah yang meraja
Bacaan kedua merupakan uraian Paulus kepada jemaat di Kolose tentang Yesus sebagai Anak Allah yang meraja, yang mengatasi dan menguasai segala ciptaan serta kuasa di bumi. Segala ciptaan diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kuasa duniawi dari Yesus disatukan dengan kuasa Ilahi sebagai gambar Allah, pendamai antara bumi dan sorga, penebus dan pengampun atas dosa manusia. Kendati Paulus memberi kesaksian tentang gambaran Kristus yang begitu mulia dan rajawi itu, ia tetap menegaskan bahwa itu semua harus dicapai lewat salib. Antara salib dan kemuliaan terjadi suatu paradoks ilahi yang merupakan misteri bagi umat manusia. Paradoks ini semakin jelas kelihatan dalam kisah Injil Minggu ini.
Seorang Raja sejati yang dhukum salib
Yesus Sang Raja digambarkan sebagai pesakitan yang dibawa menuju bukit Tengkorak (Aram: Gulguta) untuk disalibkan. Ia dibawa ke Golgota bersama dengan dua penjahat yang akan mengalami hukuman yang sama. Ia terhitung di antara para penjahat, disalibkan di antara dua penjahat. Lukas mengisahkan doa Yesus di salib: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". Yesus memahami benar ketidaktahuan para musuh yang menyalibkan Dia. Untuk itu Ia mohon pengampunan Bapa bagi mereka. Doa Yesus ini dikontraskan dengan cemoohan para pemimpin. Dalam peristiwa penyaliban, Lukas membedakan para audience Yesus: para pemimpin Yahudi, prajurit, orang banyak, para pengikut Yesus (termasuk para perempuan dari Galilea), dan Yusuf dari Arimatea (anggota majelis besar). Pada peristiwa penyaliban, "orang banyak" hanya berdiri menonton, tidak ikut mengejek. Nanti pada ayat 48 dikatakan bahwa: "Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri". Seolah-olah mereka hadir sebagai saksi netral yang menyaksikan Yesus sebagai orang benar yang dihukum dan para pemimpin Yahudi sebagai penghukum yang tak henti-hentinya mengolok-olok Yesus. Pada akhirnya, orang banyak itu tahu dan yakin bahwa Yesus adalah orang benar. Sikap mereka dinyatakan lewat tokoh "kepala pasukan" yang melihat apa yang terjadi lalu memuliakan Allah dengan berkata: "Sungguh, orang ini adalah orang benar". Mereka yang tidak secara khusus beriman pada Yesus, hanya sampai pada pengakuan bahwa Yesus adalah orang benar yang menderita (Bdk. Mzm 22). Namun, bagi penjahat yang bertobat dan para murid yang beriman pada Yesus, kematian Yesus merupakan ungkapan kasih total dari Dia yang berkuasa atas hidup dan mati.
Para prajurit membuang undi atas pakaianNya (bdk. Mzm 22:19). Tidak ada lagi yang tertinggal pada Yesus ketika Ia disalib. PakaianNya yang sebenarnya sudah berlepotan darah itupun diundi. Para pemimpin mengejek Yesus. Apa yang menjadi ini ejekan mereka? Tak lain adalah soal keselamatan. Rupanya para pemimpin bukan hanya tidak kenal siapa Yesus tetapi juga tidak mengerti makna keselamatan yang diwartakanNya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah" (bdk. Mzm 22:9). Para prajurit ikut mengolok Dia dan menawarkan anggur asam pada-Nya. Dalam Mzm 69:22 anggur asam merupakan tanda ejekan. Meskipun begitu, anggur asam dalam peristiwa penyaliban Yesus dimaksudkan untuk membuat-Nya mabuk sehingga tidak merasakan sakitNya.
Antara penghinaan dan pemuliaan
Selain tentang "keselamatan", ejekan para pemimpin dan prajurit juga mengarah pada tuduhan yang dikenakan pada Yesus, yaitu sebagai Mesias atau Raja (bdk. frekwensi penggunaan kata-kata tersebut pada ay 35-38). Bahkan salah satu penjahat yang ada disampingNya ikut mencemooh dengan sebutan Mesias (Raja) mengulangi cemoohan para pemimpin pada ayat 35. Akan tetapi penjahat yang lain justru membela Dia. Ia mengakui bahwa dirinya layak dihukum karena memang bersalah. Akan tetapi Yesus tidak layak dihukum, karena Ia tidak bersalah, Ia orang benar. Rupanya penjahat yang membela Yesus itu sudah sampai pada iman akan Yesus sebagai Raja dalam arti sebenarnya, ketika berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja". Ironi ini begitu tajam. Yesus yang disalib dan sedang dicemooh itu disebut sebagai Raja oleh penjahat yang bertobat. Dalam ayat berikutnya Yesus menanggapi permohonan penuh iman itu dengan sabda keselamatan: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus".Yesus yang dianggap tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri itu ternyata justru menawarkan keselamatan di firdaus bagi penjahat yang memohon kepadaNya itu.
Peristiwa salib Yesus memang kaya dengan ironi, antara lain dengan adanya dua pandangan kontras yang dibiarkan hadir bersama-sama. Mereka yang mencemooh Yesus dan menganggapnya sebagai Mesias politik yang telah gagal dikontraskan dengan mereka yang beriman padaNya dan memahamiNya sebagai Mesias sejati (diwakili oleh salah satu penjahat, kepala pasukan, sejumlah orang yang menyaksikan penyaliban, para murid perempuan, dan Yusuf dari Arimatea).
Salib tanda kemuliaan
Mengapa Gereja memilih teks penyaliban Yesus untuk dibaca pada hari raya Kristus Raja semesta alam? Alasannya, justru dalam peristiwa yang begitu menyedihkan dan menyakitkan itu, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Raja yang sejati. Apa yang terjadi sepertinya sungguh bertentangan dengan logika manusia. Namun, penyaliban Yesus sesungguhNya telah menempatkan diriNya sebagai Raja pengampunan, raja perdamaian, raja belas kasih. Dalam suasana yang penuh kekerasan dan kekejaman itu Yesus justru berdoa: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". Salib Yesus meruntuhkan batas antara sorga dan dunia. Tabir Bait Suci terbelah menjadi dua, berarti batas antara yang ilahi dan yang duniawi dipertemukan di dalam salib Yesus. Sampai pada saat-saat terakhir hidupNya Yesus menunjukkan diri sebagai Pengampun dan Penyelamat. Dengan cara itulah Allah Bapa menawarkan keselamatan kepada umat manusia. Dalam melaksanakan misi keselamatan inilah Yesus layak kita imani sebagai Raja alam semesta. Refleksi ini sebenarnya masih harus dilengkapi lagi dengan refleksi mengenai kebangkitan.
Menggali pesan bacaan
- Gereja memilih teks penyaliban Yesus sebagai pendukung tema HR Kristus Raja semesta alam. Pada saat Yesus disalib semakin tampaklah martabat-Nya sebagai Raja Belas Kasih dan keselamatan. Kasih-Nya yang tulus dan total kepada umat manusia menjadi kekuatan dalam menanggung segala derita dan olok-olok dari para lawan-Nya.
- Bagaimana kita sekalian yang mengimani Yesus? Bukankah Dia adalah Raja kita? Bukankah salib yang kita kenakan dan kita pasang di rumah menunjukkan keyakinan itu?
- Yesus bukan hanya Raja umat manusia tetapi Raja semesta alam. Gelar yang diberikan pada-Nya itu merupakan gelar yang diperoleh-Nya berkat kebangkitan-Nya dari mati. Kita ingat tulisan Paulus dalam Flp 2:8-11:
"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
3.
Inspirasi C
Dialog dalam pertemuan antara Yesus dan Pilatus dapat disebut sebagai sebuah dialog yang macet. Pertanyaan terakhir Pilatus « Apakah kebenaran itu ? », tidak memperoleh jawaban dari Yesus. Namun semua apa yang terjadi setelah Pilatus cuci tangan dan menyerahkan Yesus untuk dihukum salib, tentunya menjawab dengan lebih berlimpah pertanyaannya itu. Sebagai gambaran situasi, saat itu Yesus berhadap-hadapan dengan Pilatus untuk diinterogasi di dalam gedung pengadilan yang disebut litostrotos, sedang di luar ada kerumunan besar orang banyak, yang kali ini berada di pihak sebagai musuh dan pendakwa Yesus. Tentu ada pembesar-pembesar romawi dan pasukan tentaranya sedangkan Yesus, seorang diri. Mari kita meditasikan dan refleksikan Kisah Injil pada hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini.
Dialog dalam tiga tahap :
Tahap pertama (ayat 33-35), interogasi mengenai istilah Raja orang Yahudi. Pertanyaan Pilatus kepada Yesus tampaknya menjadi sesuatu yang obsesif, mewakili gejolak pada dirinya sendiri. Perwakilan Kaisar itu « takut » pada orang Galilea, yang disebut sebagai raja orang Yahudi ini. Suatu kuasa yang cemas pada kuasa-kontra, yang bisa mengancam sewaktu-waktu dominasi Romawi di Palestina. Yesus mencoba menguji Pilatus yang memberikan pertanyaan sindiran « Engkau inikah raja orang Yahudi ?» dengan balik mempertanyakan apakah itu pengetahuan dan motif Pilatus sendiri tentang sebutan Raja orang Yahudi itu. Pilatus sebetulnya mengakui ketidaktahuannya, karena sebetulnya maknanya bisa berbeda antara apa yg dimaksud oleh Yesus dan apa yang dituduhkan oleh orang Yahudi. Kemungkinan besar istilah raja orang Yahudi atau raja Israel itu diambil Pilatus dari teriakan orang banyak saat Yesus masuk ke Yerusalem, ketika mereka bersorak-sorai menyambut Yesus : « Hosana, terpujilah Dia yang datang atas nama Tuhan. Terpujilah dia Raja Israel, Putra Raja Daud » ; walau sekarang orang banyak yang sama itu pulalah yang ikut mengajukan Yesus ke pengadilan Pilatus. Maka di tahap pertama ini, Pilatus tidak mendapatkan jawaban dari Yesus dan juga tidak bisa menjawab pertanyaan Yesus. Dan untuk melanjutkan penyelidikan ia bertanya « Apa yang telah Engkau buat, sehingga bangsa-Mu sendiri dan orang-orang Yahudi menyerahkan Engkau untuk kuadili?
Tahap kedua (ayat 36), Yesus lalu menjelaskan sifat dan kodrat kerajaan-Nya. Kerajaan yang tidak bertentara, yang tidak punya kekuatan militer, tidak berwilayah dan tidak berpemerintahan dan tidak berasal dari dunia ini atau tidak bersifat seperti kerajaan duniawi .
Tahap ketiga (ayat 37, 38), karena Yesus menyebut “kerajaan-Ku”, maka Pilatus menyimpulkan dengan pertanyaan “jadi Engkau adalah Raja?” namun tidak lagi mengatakan Raja orang Yahudi. Dan Yesus menjawab untuk menegaskan bahwa Pilatus sebetulnya telah mengatakan Yesus adalah Raja dari hatinya sendiri: “Engkau mengatakan bahwa Akulah Raja”. Di sini Pilatus mengasumsikan tanggungjawab dari pengadilannya, sebagai penguasa romawi di sana, namun Yesus menjelaskan duduk-perkara alasan dan tujuan atau misi-Nya, mengapa dan untuk apa Ia datang membawa kerajaan-Nya itu. Yakni untuk bersaksi akan kebenaran dan membawa setiap orang dengan kuasa otoritas-Nya kepada kebenaran, hal yang sama sekali tidak mengancam eksistensi romawi. Dan dialog berakhir dengan pertanyaan Pilatus tentang apakah kebenaran itu, yang tak memperoleh jawab dari Yesus.
Kerajaan Politis dan Kerajaan Spiritual
Monolog singkat Yesus di ayat 36 atau di tahap 2 dialog menegaskan transisi antara dua elemen dialog. Pertama, yang berkaitan dengan konsep kerajaan yang lebih bersifat politis (ayat 33-35), di mana Yesus diajukan oleh bangsa Yahudi ke pengadilan dengan tuduhan mau menggalang kekuatan politis melawan penguasa Romawi saat itu dengan ungkapan, “Siapa mengaku dirinya raja, melawan Kaisar (ayat 12) atau “Kami tidak punya raja, selain Kaisar (ayat 15). Hal mana, jika benar berarti menjadi ancaman bagi regim romawi saat itu.
Kedua, yang sudah diberi tafsiran teologis yang lebih luas, yakni bahwa Pilatus, figure dari dunia pagan ini mendapat penjelasan cukup dari Yesus dan siap untuk mengakui pada diri Yesus, suatu kerajaan yang bersifat spiritual, melalui pewahyuan mengenai kebenaran. Dalam Injil Yohanes, kebenaran ini tak lain adalah pewahyuan rencana keselamatan Allah dalam diri Yesus sendiri. Kerajaan-Nya ini tidak memiliki nasionalisme atau ambisi duniawi, karena Ia memang bukan dari dunia ini dan ketika Ia mengumpulkan orang, mereka dipanggil tidak untuk menjadi tentara yang siap berperang mempertahankan kekuasaan atau kedudukan, namun menjadi murid-murid yang penuh perhatian pada suara Gurunya dan yang musti mengaku diri sebagai saksi-saksi kebenaran dan yang nantinya tak kenal lelah bersaksi tentang Dia. Bila kisah diteruskan, kita tahu bahwa setelah itu Pilatus hendak membebaskan Yesus karena memang tidak menemukan kesalahan apapun pada-Nya, dan lebih dari itu Yesus tidak membahayakan dirinya atau kekuasaan romawi.
Rancangan Allah, bukan rancangan manusia.
Kisah Kerajaan ini menjadi makin ironis ketika Pilatus tak mampu menolak keinginan orang banyak. Sebuah rencana akan berdirinya kerajaan yang bersifat universal dan abadi sebagai perwujudan kasih Allah pada bangsa-manusia dengan memberikan Putera-Nya yang tunggal dan terkasih, sepertinya dengan mudah menjadi layu sebelum berkembang, ketika Pilatus akhirnya memilih cuci tangan, dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Namun cara inilah yang dipilih Allah, karena memang Allahlah yang tahu jalan-jalan terbaik untuk mengasihi manusia. Lewat jalan-jalan yang sulit dimengerti manusia itulah Ia menghadirkan Kerajaan-Nya. Ia mempersiapkan kerajaannya hanya dengan 3 tahun masa bakti-Nya di dunia. Ia memilih dan menempatkan orang-orang di kerajaannya, bukan dari kaum cerdik-pandai, namun dari golongan marginal yang polos dan sederhana. Mahkotanya adalah rangkaian duri dan tahta-Nya adalah kayu salib. Namun kerajaannya itu, yang nota bene berdurasi sejak inkarnasi-Nya sampai parousia, memang tidak dari dunia ini, atau lebih tepatnya mengatasi dunia ini. Ia sendiri, merubuhkan kerajaan maut musuh abadinya,melalui sengsara dan wafat-Nya, membangun Kerajaan Barunya hanya dalam 3 hari lewat misteri kebangkitan-Nya. Dan melihat Dia berani mengaku diri sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup, Akulah Alfa dan Omega, maka kita memahami bahwa kerajaan-Nya itu bersifat dahulu, sekarang dan yang akan datang alias tanpa batas dan tanpa akhir alias mengatasi segala ruang dan waktu alam semesta ini.
Apa yang bisa kita petik dari pemahaman akan Kerajaan Allah seperti ini?
Pertama, ketika Yesus diakui sebagai Raja dengan ciri-ciri tadi, berarti Ia meraja tidak untuk menonjolkan kuasa-Nya, melainkan untuk memberi pada kita kebebasan atau kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Yesus memberi kebebasan kepada setiap orang dengan menawarkan jalan keselamatan dengan memberikan hukum kasih: Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Dan Kasih sebagai jalan keselamatan itu diteladankan Allah dengan menyerahkan anak-Nya yang tunggal. Oleh karena tak seorangpun mampu menjalankan hukum kasih dengan sempurna, maka Allah, si pembuat hukum sendiri, yang menjelma menjadi manusia yang melaksanakan hukum itu secara paripurna untuk memungkinkan penebusan dosa dalam rencana keselamatan itu. Ya, itu karena hanya Allah sajalah yang dapat mengasihi, mengampuni, menghapus dan menebus dosa manusia, secara penuh. Jadi Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk menerima pemberian kasih-Nya itu atau sebaliknya menolaknya.
Kedua, untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya ini, yang diperlukan adalah pertobatan. Karena soal keselamatan adalah soal terbebasnya manusia dari belenggu dosa dan maut. Ketika Yohanes Pembaptis mengawali karyanya, ia berseru-seru, bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus juga mengundang kepada pertobatan, kepercayaan kepada Injil dan pemberian diri untuk dibaptis karena kerajaan Allah sudah dekat. Jadi untuk menyambut dan masuk ke Kerajaan Allah ini, orang lebih dahulu harus menjadi pantas dan layak, bersih dari dosa.
Ketiga, kita dalam kerajaan ini, tidak perlu mengandalkan apapun selain kasih Allah. Karena ini adalah Kerajaan Allah, maka memang cara Allah yang musti dipakai. Ya, walaupun cara Allah, yang meraja tanpa kuasa seperti ini, dapat menjadi skandal: baik dahulu maupun sekarang. Bagi orang Yahudi ini batu sandungan: sebab mesias haruslah jaya dan pemenang, pengusir penjajah romawi. Jadi mesias yang tak berdaya di kayu salib, jelas-jelas skandal yang naif dan tidak bisa diterima. Lalu bagi orang Yunani ini kebodohan : kebodohan salib. Orang pandai tak mungkin melakukan kegilaan seperti ini. Kerajaan tanpa tentara, tanpa senjata tanpa kuasa-kuasa yang membuat orang bergetar ketakutan, dapat saja dan umumnya diragukan. Namun bagi kita, yang percaya, ini adalah kebijaksanaan dari kehendak Allah. Mulai dari kesederhanaan dalam saat kelahiran-Nya di Betlehem, hidup dalam kemiskinan di Nazareth yang jauh dari gambaran jaya garis keturunan Daud, Bapa leluhurnya ; Raja yang « blusukan » tanpa batas dengan mereka yang lepra, yang kumuh, yang dihindari masyarakat ; Raja yang bergabung dengan para pendosa, yang berkelana dari desa ke desa ; Raja yang dengan tangan kosong berhadapan dengan para penangkapnya di taman zaitun dan sendirian di hadapan penguasa dunia saat itu dan puncak skandal Raja ini adalah ketakberdayaan dalam penyiksaan dan hukuman di kayu salib, lalu mati. Tak ada kuasa, tak ada wibawa, hanyalah kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkannya pada mereka yang mencerca, menghina dan memusuhinya, tatapan teduh pada setiap pengikutnya, hati yang berbelaskasih pada mereka yang lapar, dan pengampunan bagi para pendosa yang bertobat dan pada para pembunuh-Nya. Ia yang mahatinggi telah mengambil tempat terendah, menjadi hamba dari para hamba, mengambil ras dari bumi, ras insani. Menjadi Anak domba kelu yang digiring ke tempat pembantaian. Lahir dalam kerendahan dan mati dalam kehinaan.
Pembalikan Radikal : Inti Iman Kita
Sekali lagi melihat itu semua mustinya tak ada alasan apapun yang bisa mendukung kerajaannya akan bisa tumbuh dan berkembang. Waktu terlalu singkat, sarana-prasarana tak memadai, dan infrastruktur tidak jelas dan berantakan. Namun akan menjadi salahlah kalau kita hanya berhenti di situ, karena akan ada pembalikan total yang mengubah segala skandal dan batu sandungan itu, yakni kebangkitan-Nya. Pembalikan sempurna ini untuk membentuk keseluruhan ekstrim yang serba gelap dan tanpa nilai positif itu menjadi ekstrim gemilang dan terang-benderang. Lewat cahaya Paska, kebangkitan-Nya, kita dapat melihat bahwa apa yang dilakukan-Nya adalah suatu bentuk konsekuensi dan konsistensi total dengan seluruh sabda-Nya sendiri, karena Ia adalah pelaksana sempurna hukum yang dibuat-Nya sendiri. “Barang siapa ingin menjadi yang terkemuka, hendaklah ia menjadi pelayan bagi semua; yang meninggikan diri akan direndahkan, yang terdepan akan menjadi yang terbelakang, barangsiapa ingin menjadi sempurna, hendaklah ia melepaskan segala miliknya, barangsiapa ingin menjadi pembesar ia harus menjadi seperti anak kecil, barangsiapa kehilangan nyawanya, akan mendapatkannya kembali. »
Raja Semesta Alam
Pembalikan total inilah yang menjadi inti iman kita dan setelahnya kita tahu bahwa Ia yang telah mengasihi tanpa batas dengan kasih agung pergurbanan diri, menjadi sahaya dari para sahaya inilah yang kemudian memiliki Nama, yang melebihi segala nama. Pada Dia yang dahulu menerima segala hojat dan hinaan serta fitnah keji inilah, yang kelak segala lutut akan bertekuk dan bersujud, serta segala lidah akan mengaku bahwa Ia adalah Tuhan dan Juru selamat. Dia yang mengawali kerajaan-Nya tanpa wilayah dan zero-modal ini ternyata adalah pemilik semesta alam, Raja segala raja. Berkuasa penuh atas segala milik-Nya, sehingga bisa berkata dosamu sudah diampuni, bangkitlah dan berjalanlah!, Hai anak muda bangkitlah!, hari ini juga engkau akan bersama-Ku di firdaus.. ; sebab sebagai penguasa semesta alam Ia tahu di mana Dia dahulu berada, kini berada dan akan berada; Ia tahu isi hati setiap manusia.
“Layaklah Anak domba yang disembelih itu, menerima kuasa, kemuliaan, kebijaksanaan, kekuatan dan hormat. Bagi-Nya, yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan dan kekuasaan sampai selama-lamanya. Amin.” (Wahyu 5, 12 dan 1,6).
4.
Inspirasi D
Pada hari Minggu ini kita memperingati Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Minggu ini merupakan hari minggu terakhir dalam masa liturgi sebelum kita memulai tahun liturgi yang baru dengan Masa Adven. Gereja mau menutup seluruh rangkaian perjalanan tahun liturgi dengan suatu kesimpulan bahwa seluruh sejarah dan waktu adalah milik Tuhan semata: Yesus Kristuslah Raja Semesta Alam.
Bacaan hari Minggu ini pun secara khusus mengajak kita untuk merenungkan perihal raja. Dalam bagian pembukaan dikatakan bahwa Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan-Nya dan Ia akan bersemayam di atas tahta-Nya. Bagi kita orang kristiani, sebutan Anak Manusia dalam Perjanjian Baru mengacu kepada diri Yesus sendiri dan bahkan beberapa kali Yesus menyebut diri-Nya sendiri sebagai “Anak Manusia”. Istilah tahta sendiri tentu tidak bisa dipisahkan dari seorang raja. Jadi Yesuslah yang akan duduk di atas tahta sebagai Raja.
Jika Yesus memang sungguh adalah raja semesta alam berarti Dia juga seharusnya merajai kita. Nah, sudahkan Yesus meraja di hati kita? Bagaimana aku bisa mengetahuinya?
Injil memberikan jawaban bahwa caranya adalah lewat kepedulian dan tindakan kasih kepada sesama yang menderita. Penderitaan orang-orang kecil adalah masalah yang serius di mata Tuhan. Sejak dari Perjanjian Lama, Allah telah bersabda agar orang-orang kecil senantiasa mendapat perhatian. Bahkan dalam Perjanjian Baru, Yesus menyamakan diri dengan orang-orang kecil, malahan justru Yesus hadir secara nyata dalam diri mereka. Orang-orang kecil dan menderita memang perlu mendapat perhatian khusus sebab justru merekalah yang terkadang terlupakan. Padahal penderitaan yang mereka alami kadang begitu berat. Justru Tuhan mau mengajak kita semua untuk memberi perhatian kepada mereka. Kita diajak sedikitnya membantu meringankan penderitaan mereka. Jika sesamanya manusia saja tidak memperhatikan mereka, siapa lagi yang akan mereka harapkan? Kepedulian dan tindakan kasih bagi mereka yang menderita akan menentukan bagaimana keadaan kita kelak. Apakah akan ditempatkan sebagai domba yang akan menikmati Kerajaan atau ditempatkan sebagai Kambing yang akan menerima kecelakaan.
Dalam Injil telah disebutkan 6 contoh tindakan kasih kepada sesama. Tentu saja masih banyak contoh lainnya yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita masing-masing.
Jadi menerima Yesus sebagai raja berarti mau melayani Yesus yang hadir dalam diri mereka yang miskin dan menderita. Mungkin kita belum bisa melihat Yesus yang sungguh hadir dalam diri mereka namun yakinlah bahwa semua yang kita lakukan untuk mereka kita lakukan juga untuk Tuhan Yesus.