Ads 468x60px

Sabtu, 15 September 2018

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Sabtu, 15 September 2018
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita
Ibrani (5:7-9)
(Mzm 31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20)
Yohanes (19:25-27) atau Lukas (2:33-35)
"Mater Dolorosa - Bunda Dukacita"
Inilah salah satu gelar Maria yang dikenangkan pada hari ini setelah pesta Salib Suci.
Pada awalnya, peringatan ini bergelar “Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasih” (Our Lady of Compassion) dengan menekankan besarnya kasih Maria ("compassion": "cum" et "patior", menderita bersama).
Selanjutnya, gelar ini sejatinya diberikan kepada Maria dengan menitik-beratkan pada 7 dukacitanya, antara lain:
- Nubuat Simeon,
- Pengungsian ke Mesir,
- Yesus hilang & diketemukan di Bait Allah,
- Maria berjumpa dengan Yesus dalam perjalananNya ke Kalvari,
- Maria berdiri di kaki salib,
- Maria memangku jenasah Yesus, dan
- Yesus dimakamkan.
Dari 7 dukacita Maria inilah, hatinya kerap dilukiskan terbuka dengan tujuh pedang menembusinya.
Disinilah, kita diajak punya pedang iman berpola "3K", antara lain:
1.Keberanian.
Maria berdiri dengan berani & setia di kaki salibNya (Yoh 19:26-27). Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium, menulis:
"Maria sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatNya. Disitulah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korbanNya yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.” (#58).
2.Kasih.
Ketika Yesus hilang di bait Allah, ia terus mencariNya dengan penuh kasih juga ketika orang banyak kekurangan anggur di Kana, ia berkata padaNya: "Mereka kehabisan anggur!"
Tepatlah St. Bernardus menulis, “Ia wafat secara jasmani oleh karena kasih yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipahami manusia."
3.Kepasrahan.
Mengacu pada Fiat-nya:
"Aku ini HAMBA Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu", kita diajak untuk berpasrah dengan semangat dasar Maria, "MAu Rendahhati Ikut Allah."
"Dari Samaria ke Sukabumi - Bunda Maria doakanlah kami"
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
A.
O Dolorosa - Dukacita Sang Bunda.
(Buku MOM - Mary Our Mother. RJK).
Injil menghubungkan bagian pertama kehidupan Maria sebagai rangkaian saat rahmat dan bahagia, tapi perannya sebagai seorang ibu menjadi lebih sulit setelah Anaknya dibaptis dan memulai pelayananNya.
Yesus meninggalkan rumah dan mulai berkhotbah dan mengumpulkan murid baru. Maria hadir dan mendorong terjadinya mukjizat pertamaNya, ketika Yesus mengubah air menjadi anggur di Pernikahan Kana.
Menjanda, Maria mengikuti anaknya dalam beberapa perjalananNya, yakin akan ajaran-ajaranNya, tapi sebagai seorang ibu, dia kuatir tentang Anaknya, yang memberikan seluruh hidupNya sementara para musuhNya pun makin bertambah.
Yesus sering mengingatkan Ibunya bahwa mereka yang percaya kepada-Nya adalah keluargaNya yang sesungguhnya, dan Ia juga mengatakan bahwa Ia telah ditakdirkan untuk menderita dan dibunuh. Kata-kata ini membuat Maria mencintai Anaknya semakin lebih lagi.
Terakhir kalinya Maria melihat Anaknya adalah ketika ia pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, Yesus berumur tiga puluh tiga tahun.
Maria berada di istana Pontius Pilatus. Ia mendengar hukuman mati dijatuhkan atas Puteranya, dan ikut berada di sepanjang jalan salib; dimana Anaknya menderita dan disiksa begitu berat.
Maria juga berada berdiri di kaki salib, hatinya tertusuk dengan kesedihan mendalam menyaksikan Anaknya wafat, diturunkan dari salib, dan dikuburkan.
B.
Stabat Mater Dolorosa - Kidung Derita Bunda
(Buku MOM - Mary Our Mother. RJK).
“Stabat Mater” adalah nama dari sebuah himne pada abad ketiga belas yang menceritakan penderitaan Perawan Maria.
Himne ini pada awalanya dibuat dalam bahasa Latin oleh seorang biarawan Fransiskan yang bernama Jacapone da Todi di Italia, dan dimulai dengan kata-kata ini:
"Stabat mater dolorosa, juxta crucem lacrimosa" (Ibu berdiri penuh kesedihan, menangis di samping Salib).
Ini adalah suatu karya berbentuk meditasi panjang yang mengundang seseorang untuk berbagi kesedihan seorang wanita yang melihat anaknya meninggal dalam penderitaan yang mengerikan:
"Hai quam tristis et afflicta fuit illa Benedicta, mater unigeniti" (Betapa sedih dan tertekannya ibu dari Putra Yang Tunggal.)
Merupakan salah satu dari beberapa himne yang menceritakan tentang kedukaan Maria, Stabat Mater menjadi terkenal seiring dengan pertumbuhan devosi kepada Maria. Selama berabad-abad, para komposer besar telah membuatkan lirik kata-kata untuk musiknya, termasuk Pergolesi, Scarlatti, Vivaldi, Haydn, Schubert, dan Verdi.
Dalam liturgi, Stabat Mater dikaitkan dengan perayaan “Maria yang Berdukacita” pada tanggal lima belas September, sehari setelah perayaan Hari Raya Salib Suci pada empat belas September-nya.
C.
“SDM” - Sapta Duka Maria
(Buku MOM - Mary Our Mother. RJK).
Episode paling menyakitkan dalam kehidupan Maria telah mengilhami sejumlah gambar dan karya seni tradisional.
“Maria Berdukacita”, atau “Mater Dolorosa” yang menekankan“Tujuh Dukacita Maria” salah satunya. Disebutkan dalam liturgi Gereja Ortodoks Timur dari awal Abad Pertengahan, devosi kepada "Bunda Berdukacita" belum meluas sampai abad ketiga belas.
Salah satu praktek yang paling intensif dan massif menghormati "tujuh kesengsaraan" Maria diprakarsai oleh Servite, anggota Ordo Duta Maria, yang didirikan pada 1233 di Florence, Italia.
Ini adalah komunitas biarawan kontemplatif yang memusatkan ibadah mereka pada Maria dan terutama pada penderitaannya. Mereka menciptakan sebuah rosario khusus yang terbuat dari tujuh seri dari tujuh manik-manik, yang dipergunakan kala membacakan tujuh duka, mengingat kata-kata Simeon kepada Maria di Bait Allah, yaitu :
Pembunuhan kanak kanak Yesus yang tak bersalah,
Pelarian ke Mesir,
Kejadian Yesus hilang dan ditemukan di Bait Allah,
Maria di sepanjang Jalan Salib Yesus,
Maria berdiri di kaki salib Kristus,
Maria memeluk tubuh Putranya setelah diturunkan dari palang salib,
Maria di makam Yesus.
Dalam banyak gambaran baik patung maupun lukisan, duka ini sering diwakili oleh tujuh belati atau pedang yang menusuk hati Maria.
Hari raya perayaan Maria Berdukacita adalah setiap tanggal lima belas September.

D.
Kutipan Teks Misa:
“Ibu tersuci, kami menyebut engkau lebih dari seorang martir, karena kecemasan hati yang kauderita melebihi semua penderitaan badani” (St. Bernardus Abas)
Antifon Pembuka (Bdk. Lk 2: 34-35)
Simeon berkata kepada Maria, “Anak ini menentukan jatuh bangkitnya banyak orang di Israel. Ia menjadi tanda yang menimbulkan pertentangan. Dan hatimu sendiri akan ditembus dengan pedang.”
Simeon said to Mary: Behold, this child is destined for the ruin and rising of many in Israel, and to be a sign of contradiction; and your own soul a sword will pierce.
Pengantar
Santa Perawan Maria sebagai martir, terkandung dalam nubuatan Simeon, tampil di hadapan mata dalam kisah sengsara Tuhan kita. Orang tua yang diberkati, yaitu Simeon, berkata tentang kanak-kanak Yesus, "Anak ini ditentukan sebagai tanda yang akan ditentang," dan kepada Maria, "Hatimu akan ditembus pedang."
Jangan heran, Saudara-saudara, bahwa Maria dikatakan menderita sebagai martir dalam jiwanya. Tetapi ada orang akan heran, yaitu mereka yang lupa akan kata-kata Paulus tentang orang kafir, bahwa di antara cacat mereka, yang paling berat ialah bahwa mereka tidak mengenal belas kasih. Tidak begitulah Maria! Semoga jangan sampai begitu mereka, yang menghormati dia! (St. Bernardus, Sumber: Bacaan Ofisi Para Kudus 3, Yogyakarta - Kanisius, 1982, hlm. 34-36)
Doa Pembuka
Allah Bapa sumber kekuatan kami, ketika Putra-Mu ditinggikan di salib, Ibunda-Nya berdiri di situ dan ikut menderita. Semoga kami pun ikut serta dalam sengsara yang diderita Kristus demi keselamatan umat manusia, agar kami dapat ikut serta pula dibangkitkan bersama Dia. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Ketaatan kepada Allah mendatangkan salib dalam hidup kita. Namun demikian, ketaatan yang sama juga mendatangkan keselamatan abadi bagi kita.
.
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (5:7-9)
Saudara-saudara, dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat; dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya. Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, sudi dengarkan rintihan umat-Mu.
Ayat. (Mzm 31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20)
1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku.
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
3. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.
4. Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, aku berkata, “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskanlah dari orang-orang yang mengejarku.
5. Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu, yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu!

Sekuensia (Lihat Bunda Yang Berduka / Stabat mater dolorosa), do = f, 4/4, PS 639 (fakultatif)
1. Lihat bunda yang berduka / di depan salib Sang Putra ; air mata bergenang. /
O betapa jiwa ibu / tersedu menanggung pilu, bagai ditembus pedang.
2. Bunda Putra Tunggal Allah disebut Yang Berbahagia / kini sangat bersedih. / Hatinya dirundung duka, kar'na putra yang termulia bersengsara di salib.
3. O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus menangisi Putranya?
/ Dan siapa tak tergugah menyelami duka bunda kar'na siksa Anak-Nya.
4. Dilihatnya Yesus, putra, yang tersiksa dan terluka / kar'na dosa umat-Nya /
dan bergumul sendirian / menghadapi kematian / menyerahkan nyawa-Nya.
5. Wahai bunda sumber kasih, / biar turut kuhayati dukamu yang mencekam;
biar hatiku bernyala / mengasihi Putra Allah dan pada-Nya berkenan.
6. Biarlah sengsara aib / dari Dia yang tersalib tersemat di hatiku;
biar siksa salib itu / yang ditanggung-Nya bagiku kudekap bersamamu.
7. Biar aku di sampingmu / pilu kar'na wafat Kristus di sepanjang hidupku;
inilah keinginanku: / di dekat salib Putramu besertamu tersedu.
8. O perawan yang terpilih, / perkenankan aku ini ikut dikau bersedih;
biar kematian Tuhan / dan darah-Nya yang tercurah kukenangkan tak henti.
9. Biar aku pun terluka / menghayati salib Tuhan, digerakkan kasih-Nya. Hatiku engkau kobarkan; / biar aku dibebaskan dalam penghakiman-Nya.
10. Biarlah salib Tuhanku / jadi benteng naunganku, dan kurasa rahmat-Nya.
Bila nanti aku mati / biar aku mewarisi kemuliaan yang kekal.
Stabat mater dolorosa
juxta crucem lacrimosa,
dum pendebat filius.
Cujus animam gementem,
contristatam et dolentem
per transivit gladius.
O quam tristis et afflicta
fuit illa benedicta
Mater Unigeniti!
Quae moerebat et dolebat,
et tremebat cum videbat
nati poenas inclyti.
Quis est homo qui non fleret,
Christi materm si videret
in tanto supplicio?
Quis non posset contristari,
piam Matrem contemplari
dolentem cum Filio?
Pro peccatis suae gentis,
vidit Jesum in tormentis
et flagellis subditum.
Vidit suum dulcem natum,
morientem, desolatum,
dum emisit spiritum.
Eja Mater, fons amoris,
Me sentire vim doloris
Fac, ut tecum lugeam.
Fac, ut ardeat cor meum
In amando Christum Deum,
Ut sibi complaceam.
Sancta Mater, istud agas,
Crucifixi fige plagas
Cordi meo valide.
Tui nati vulnerati,
Tam dignati pro me pati,
Mecum poenas divide.
Fac me vere tecum flere,
Crucifixo condolere,
Donec ego vixero.
Juxta crucem tecum stare,
Te libenter sociare
In planctu desidero.
Virgo virginum praeclara,
Mihi jam non sis amara,
Fac me tecum plangere.
Fac, ut portem Christi mortem,
Passionis eius sortem,
Et plagas recolere.
Fac me plagis vulnerari,
Cruce hac inebriari,
Ob amorem Filii.
Inflammatus et accensus
Per te, Virgo, sim defensus
In die judicii.
Fac me cruce custodiri,
Morte Christi muniri,
Confoveri gratia.
Quando corpus morietur,
Fac, ut animae donetur
Paradisi gloria.
Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Berbahagialah Engkau, Sang Perawan Maria, sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir tanpa menumpahkan darahmu

Setelah Yesus memikul salib-Nya dan wafat di salib, Maria menjadi murid pertama yang memanggul salib itu. Maria menerimanya dalam diam namun penuh percaya.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (19:25-27)
"Inilah anakmu." "Inilah ibumu."
Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, isteri Kleopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Atau:
Pedang penderitaan dari Tuhan menjadi sesuatu yang memurnikan jiwa Maria. Selain itu, kekuatan iman dan rahmat juga ditambahkan dalam diri Maria.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:33-35)
Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Antifon Komuni (Bdk. 1Ptr 4:13)
Bersukacitalah ketika kamu berbagi dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
Rejoice when you share in the sufferings of Christ, that you may also rejoice exultantly when his glory is revealed.
Doa Malam
Allah Bapa sumber kekuatan, dengan perantaraan doa Bunda Maria, kuatkanlah iman, harapan dan cinta kami. Semoga karenanya, kami tetap setia menjadi murid-murid-Mu terlebih menjadi saksi-saksi nyata dalam kehidupan ini. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Jumat, 14 September 2018

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Jumat, 14 September 2018
Pesta Pemuliaan Salib Suci
Bilangan (21:4-9)
(Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38)
Filipi (2:6-11)
Yohanes (3:13-17)
"Ave crux spes unica - Salam ya salib harapan kami."
Inilah kalimat Edith Stein (St Theresia Benedicta dari Salib) yang kerap dikutip Paus Yohanes Paulus II.
Tapi, mengapa harus SALIB? Pertanyaan ini mungkin juga muncul dari orang-orang Israel dalam bacaan 1 ketika Allah meminta Musa membuat ULAR TEMBAGA untuk menyelamatkan umatNya.
Adapun, ular mempunyai makna yang buruk & hina sebagai salah satu simbol dosa, bahkan banyak orang yang merasa takut & jijik ketika melihat ular.
Nah, seperti ular yang hina, salib yang adalah juga hukuman hina, menakutkan & menjijikkan ternyata menjadi tanda keselamatan: "IHS" : "In Hoc Signum - Dalam Tanda Ini - Iesus Hominem Salvator - Yesus menyelamatkan manusia"
Disinilah menjadi nyata bahwa cintaNya tampak dalam deritaNya & sukacita tak bisa lepas dari dukacita karena Allah kita juga Allah yang rela hina menderita & berdukacita.
Itulah juga yang menguatkan Dom Helder Camara ketika mengalami aneka "penyaliban dunia", distigmatisasi/dicap jelek, dimarginalisasi/dipinggirkan dan divictimisasi/dikambinghitamkan : "Tuhan bila salib menimpa kami maka hancurlah hidup kami, tapi bila Engkau yang datang bersama salib -Engkaulah yang setia memeluk kami."
Akhirnya, bersama dengan pesta salib suci yang dikaitkan dengan kisah penemuan salib Yesus oleh St. Helena, kitapun diajak ingat bahwa iman kita identik dengan salib, di satu sisi-kita diselamatkan berkat salibNya tapi di sisi lain, kita juga dikuatkan untuk memikul salib kita karena "SALIB - Saat Aku Lemah Ingatlah Bapa"
Ya, kita diajak mengingat Bapa yang ajak kita untuk selalu membuat "tanda salib" di kening-dada dan bahu kita, dimana kita menyatukan "kognisi/budi (kening), afeksi/hati (dada) dan aksi/tindakan (dua bahu) kita kepada penyelenggaraan dan kasih Allah semata, "in cruce salus - dalam salib ada keselamatan".
"Bunga tulip di Sriwedari - Lihatlah indahnya salib setiap hari."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Ecce lignum crucis,
in quo salus mundi pependit..
Venite adoremus...
Langkah pertama: Lihat salib Yesus...
Langkah kedua: Pegang salib Yesus..
Langkah ketiga: Pikul salib Yesus..
Langkah keempat: Bawa salib Yesus.....
1.
"TRIUMPH OF THE CROSS"
St. Fransiskus Asisi:
“Kami menyembah Engkau, ya Kristus dan memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia…..”
Setiap tanggal 14 September, Gereja merayakan Pesta Salib Suci, disebut juga "Exaltation of the Holy Cross", atau "Triumph of the Cross", atau "Elevation of the Cross", yaitu memperingati peristiwa “penemuan” dan “pemulihan” Salib asli Yesus.
A.
PENEMUAN SALIB ASLI YESUS.
Adalah Santa Helena; ibu dari Kaisar Constantine, pada tahun 300-an, (saat itu ia berusia 80 tahun) yang mengadakan perjalanan ke Yerusalem untuk berziarah, yaitu untuk menelusuri jejak-jejak Yesus semasa hidupNya.
Santa Helena juga bertekad mencari relic-relic peninggalan Yesus, di antaranya adalah tempat Yesus disalibkan dan Salib asliNya.
Setelah menanyai banyak penduduk lokal dan dengan bantuan Uskup Yerusalem, St. Macarius; Santa Helena berhasil menemukan lokasi dimana Yesus disalibkan bersama kedua penjahat.
Dalam penggalian, mereka menemukan tiga buah salib, paku-paku dan sebagian besar plat kayu yang bertuliskan "INRI" (Iesus Nazaranus Rex Iudaeorum, Yesus dari Nazareth - Raja Orang Yahudi)
Sejarawan Rufinus menuliskan, dari ketiga salib yang ditemukan itu, identitas Salib yang asli milik Yesus dibuktikan ketika seorang wanita yang sakit parah dihadapkan untuk menyentuh salib tersebut satu persatu, sementara St. Makarius berdoa :
"Ya Tuhan, yang oleh Sengsara Putra Tunggal-Mu di kayu salib, telah berkenan untuk mengembalikan keselamatan bagi umat manusia, dan yang sekarang telah mengilhami Helena; putrimu, untuk mencari kayu yang terberkati yang padanya Sang Keselamatan kami telah dipakukan; tunjukkanlah pada kami dengan jelas, yang mana di antara ketiga salib ini, yang telah dinaikkan untuk kemuliaan-Mu.
Bedakan kayu itu dari yang lainnya, yang hanyalah kayu untuk eksekusi biasa.
Biarkan wanita ini, sekarang akan kembali dari pintu kematian begitu dia tersentuh oleh kayu penyelamatan."
Wanita yang sakit tersebut menyentuh kayu salib satu persatu, dan pada saat menyentuh kayu salib yang ketiga, ia sembuh secara ajaib, membuktikan itulah kayu Salib Yesus.
Peristiwa penemuan dan mukzijat ini, menurut tradisi dikatakan terjadi pada 3 Mei tahun 326.
Santa Helena kemudian mendirikan Gereja di tempat Yesus disalibkan, dimakamkan dan bangkit itu, yang sampai kini dikenal dengan "Gereja Makam Suci", "Church of the Holy Sepulchre, yang terletak di akhir Jalan Salib/Via Dolorosa", yaitu jalan yang ditempuh Yesus saat memanggul salibnya di Yerusalem.
Gereja ini dipersembahkan oleh anaknya, Kaisar Constantine pada 13 -14 September 335.
Santa Helena sendiri meninggal tidak lama setelahnya.
Kayu Salib Yesus ini adalah benda yang sangat berharga bagi Gereja dan menjadi obyek penghormatan, dan pestanya dirayakan pada 3 Mei menurut kalender Roma lama, (yaitu tanggal penemuan Salib) dan pada tanggal 14 September menurut kalender Roma yang baru (yaitu tanggal berdirinya Gereja Makam Suci).
B.
KAYU SALIB DICURI.
Pada tahun 614, bangsa Persia dibawah Raja Chosroas, menduduki Syria dan Palestina, dan menjarah banyak harta Yerusalem, termasuk Salib Suci Yesus.
Lalu pada tahun 629, Kaisar Heraclius, dengan pasukannya pergi ke Persia merebut kembali dan mengembalikan Salib ke Gereja Makam Suci Yerusalem, dan ia tiba di sana persis di tanggal 14 September juga, dan dirayakan Yerusalem sebagai "Triump of the Holy Cross / kemenangan Salib Suci."
Dikisahkan bahwa, Kaisar Heraclius memanggul Salib milik Yesus pada bahunya, sebagai tindak penghormatan, pada saat mengembalikan Salib ke tempatnya, namun ia tak dapat menggerakkannya.
Hanya setelah Kaisar menanggalkan pakaian kebesarannya dan mengenakan pakaian sederhana dan dengan kaki telanjang sebagai simbol pertobatan, ia baru dapat meletakkan Salib kepada tempatnya.
-------
3 Mei 326 : St. Helena menemukan Salib Asli Yesus di Yerusalem.
14 September 335 : Kaisar Constantine mempersembahkan Gereja Makam Suci
Tahun 614 : Yerusalem diduduki bangsa Persia yang juga mencuri Salib Yesus
14 September 629 : Salib Yesus ditemukan dan dikembalikan ke tempatnya di Yerusalem.
2.
PESTA SALIB SUCI.
A.
Hari ini kita merayakan pesta Salib Suci, untuk mengenang Tuhan Yesus Kristus yang disalibkan untuk kita. Gereja merayakannya sambil juga mengenang St. Helena yang menurut tradisi Gereja, telah turut berjasa menemukan kembali salib suci Kristus di Yerusalem.
Sehubungan dengan ini, ada juga fakta sejarah yang perlu kita ketahui, agar semakin memantapkan iman kita.
Pemberontakan bangsa Yahudi di abad awal mendorong Hadrian, Kaisar Romawi yang berkuasa saat itu (117-138), untuk menghapus nama Yudea, dan menamakan daerah itu menjadi Syria Palestina.
Hadrian juga mengubah nama ibukota Yerusalem menjadi Aelia Capitolina dan melarang orang Yahudi untuk masuk ke sana. Saat itu Yerusalem, termasuk bait Allah, memang sudah menjadi reruntuhan akibat revolusi di tahun 70. Kaisar Hadrian meluluh-lantakkan apa yang masih tersisa di sana, dengan maksud menghabisi agama Yahudi.
Hal serupa dilakukannya untuk menumpas pengaruh agama Kristiani. Ia meratakan bukit Kalvari dan membangun sebuah kuil dewa Yupiter di atasnya. Ia juga meratakan bukit di mana kubur Yesus terletak, dan membangun kuil bagi dewi Venus di atasnya.
Ironisnya, bangunan- bangunan tersebut malah kemudian menjadi tanda dan bukti sejarah akan keberadaan tempat- tempat suci, di mana Tuhan Yesus sungguh telah disalibkan, dikuburkan dan bangkit dari mati.
Setahun setelah Kaisar Konstantin naik tahta di tahun 312, ia me-legalkan agama Kristiani di wilayah kekuasaan Romawi dengan "Edict Milano" - nya. Pada waktu itu, ibunya, St. Helena, juga menjadi Kristen.
Dengan kuasa dari puteranya, di tahun 324 St. Helena pergi ke "Holy Land" untuk berziarah sekaligus napak tilas dan menemukan tempat-tempat kudus sehubungan dengan Kristus dan mengabadikannya dengan membangun gereja di tempat- tempat itu.
Demikianlah, ia membangun gereja Nativity di Betlehem, dan gereja Ascencion di bukit tempat Yesus naik ke Surga.
Dua tahun berikutnya, kuil Yupiter dan kuil Venus dirobohkan. Para pekerja menggali lokasi tersebut dan menemukan kubur Yesus. Mereka lalu membangun gereja atasnya yang terus dilestarikan di sepanjang sejarah, dan yang sekarang kita kenal dengan nama the Church of the Holy Sepulchre di Yerusalem.
Demikian pula, dengan dibongkarnya kuil tersebut, tersingkaplah lokasi penyaliban Tuhan Yesus di Kalvari/ Golgota.
Seperti yang telah dijabarkan di atas di sebelah timur lokasi itu, di dalam sebuah sumur batu, ditemukan tiga buah salib dan plakat kayu yang bertuliskan INRI (Iesus Nazaranus Rex Iudaeorum).
Menurut tulisan para Bapa Gereja, ketiga salib dan plakat itu kemudian dikeluarkan dari sumur. Seorang wanita yang sakit parah dan dalam sakrat maut dibawa ke sana. Wanita itu menyentuh ketiga salib itu satu persatu. Setelah menyentuh salib yang ketiga, ia sembuh seketika, dan dengan demikian orang-orang mengetahui salib yang mana di antara ketiga salib itu, yang adalah salib Kristus. IHS - In Hoc Signum.
B.
Pesta Salib Suci yang dalam kalender liturgi Gereja Katolik Ritus Latin disebut “Exaltatione Sanctae Crucis” hadir untuk mengenangkan Salib Kristus yang diketemukan oleh Santa Helena pada tahun 326 pada saat ia berziarah ke Yerusalem.
Di lokasi penemuan ini didirikan Gereja Makam Suci (Church of the Holy Sepulchre) yang hingga kini masih berdiri di Yerusalem. Pemberkatan Gereja Makam Suci ini dirayakan secara meriah pada tanggal 13 dan 14 September 335. Salib Suci sendiri diperlihatkan kepada umat pada tanggal 14 September 335 sehingga tanggal inilah yang digunakan hingga hari ini.
Nah siapakah Santa Helena?
Ia adalah ibu dari kaisar Konstantinus, dilahirkan di Drepanum, dekat Izmit, Turki walaupun ada sumber lain yang menyatakan ia lahir di Bitynia, Asia Kecil sekitar tahun 250.
Pada tahun 270, puteri pengusaha rumah penginapan ini, menikah dengan seorang jenderal Romawi yang kemudian berhasil menduduki takhta kekaisaran Romawi bagian Barat menggantikan Deokletianus: Flavius Valerius Konstantius, yang disebut juga Konstantius Klorus. Mereka tinggal di Naissus (sekarang: Nis, Serbia). Di sanalah pada tahun 274 Helena melahirkan Flavius Valerius Aurelius Constantinus atau Konstantinus I.
Suami Helena, Kaisar Konstantius Klorus meninggal dunia pada tahun 308 dalam suatu ekspedisi ke Britania.
Setelah terlibat dalam beberapa peperangan, Konstantinus I kemudian menjadi Kaisar Romawi Barat.
Empat tahun kemudian, terdapat lima kaisar di Kekaisaran Romawi yang saling bersaing: Konstantinus, Maxentius, Licinius, Galerius dan Maximinus.
Tatkala Galerius meninggal dunia, kekaisaran dibagi dalam empat bagian: Konstantinus memerintah di Gaul (Prancis), Britania (Inggris) dan Raetia (Swiss); Maxentius di Spanyol, Italia dan Afrika Utara; dan bagian Timur kekaisaran diperintah oleh Licinius dan Maximinus.
Pada tahun 312, Maxentius menyerang Konstantinus. Indahnya, dalam kegentingan di Jembatan Milvian yang melintasi sungai Tiber di sebelah utara Roma, Konstantinus mengalami suatu penglihatan ajaib: sebuah salib tampak di langit dengan pancaran cahaya yang kilau-kemilau dan kalimat dalam bahasa Yunani “En Toutoi Nika” yang artinya, “dalam tanda ini engkau akan menang” atau dalam bahasa Latin ”In Hoc Signo vinces” (IHS).
Konstantinus kemudian menuliskan huruf Chi-Ro dalam abjad Yunani yang merupakan inisial kata ’Kristus’ pada perisai-perisai pasukannya dan kemudian menang dengan mudah atas Maxentius dan ia memasuki Roma dengan jaya.
Karena kemenangannya di bawah panji salib, Konstantinus I seketika itu mengabaikan seremoni pemujaan terhadap dewa-dewi Romawi. Kaisar Konstantinus dan Helena, ibunya, mulai menjadi pengikut Kristus.
Pada tahun 313 Konstantinus mengumumkan "Edict Milano", "Maklumat Milan" yang mengakhiri pelarangan terhadap Kristen dan memberikan kebebasan beragama bagi penduduk di wilayah Kekaisaran Romawi Barat. Semua orang Kristen yang masih dalam penjara dibebaskan, dan semua kekayaan Gereja yang dijarah dikembalikan, pula ia menghadiahkan banyak tanah kepada Gereja.
Walaupun memang Maklumat Milan itu tidak menyatakan Kristen sebagai agama negara ataupun melarang sama sekali agama pagan Romawi yang memuja dewa-dewi, Maklumat Milan melepas penderitaan para pengikut Kristus yang selama bertahun-tahun dikejar dan dianiaya oleh Kaisar Romawi. Adapun, Konstantinus walaupun di Gereja Ortodoks dan Katolik Timur, digelari sebagai Santo tetapi Gereja Katolik Latin sendiri tidak memberinya gelar Santo.
Kembali kepada Helena, di usia sekitar 63 tahun, berziarah ke Tanah Suci Yerusalem pada tahun 324 untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberi banyak rahmat berkat kepada keluarganya. Dalam ziarah suci itu Helena berusaha mencari, dan akhirnya menemukan, salib Yesus. Pada tahun 326 Helena menemukan tiga salib dalam sebuah waduk batu, berikut titulus yaitu prasasti kayu di mana tertulis Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum (INRI) yang berarti Yesus dari Nazareth Raja Orang Yahudi.
Sumber-sumber lain juga menyebutkan mengenai penemuan alat-alat siksa Sengsara Yesus sesudahnya. Dan yang paling penting, adalah catatan Santo Ambrosius bahwa ketika Helena menemukan salib yang asli, “Helena tidak menyembah kayu, melainkan Raja, yaitu Dia yang tergantung pada kayu salib. Ia berkobar-kobar dalam kerinduan sejati untuk menyentuh jaminan hidup abadi.”
Santo Sirilus dari Yerusalem mengajukan beberapa bukti pendukung. Dalam suratnya kepada Kaisar Konstantius (putera dan penerus Konstantinus), Santo Sirilus memaklumkan, “Kayu salib yang menyelamatkan ditemukan di Yerusalem pada masa Konstantinus.” Dalam Pengajaran Katekese yang keempat, ia menulis, “Ia sungguh disalibkan demi dosa-dosa kita. Sebab, jika engkau menyangkalnya, tempat ini secara tak terelakkan membuktikan kesalahanmu; Golgota yang terberkati ini, di mana kita sekarang berkumpul demi Dia yang disalibkan di sini; dan sejak itu seluruh dunia telah dipenuhi dengan potongan-potongan kayu Salib.”
Karena kegembiraannya menemukan Salib Kristus, Helena meminta puteranya mendirikan sebuah gereja di atas bukit Golgota untuk menyimpan Salib Suci yaitu Gereja Makam Suci. Ia memotong sebagian salib untuk dikirim ke Roma dan Konstantinopel. Bersama Gereja Makam Suci adalah Kapel Penemuan Salib Suci, yang menandai lokasi waduk batu.
Ia membangun pula dua buah gereja lain, yaitu Gereja Kelahiran Kristus (Church of The Nativity) di Betlehem untuk menandai Kelahiran Kristus dan Gereja Bukit Zaitun (Eleona Church on the Mount of Olives) untuk menandai tempat Kenaikan Kristus ke Surga.
Di Konstantinopel, ia mendirikan Gereja Para Rasul Suci (Church of the Holy Apostles). Di Roma sendiri terdapat Basilika Santa Croce in Gerusalemme yang berasal dari kapel dalam istana tempat tinggal Helena. Basilika ini menyimpan relik-relik yang dibawa dari Yerusalem, yaitu potongan Salib Suci, paku untuk menyalibkan tubuh Yesus, duri dari mahkota duri Yesus, dan sepertiga bagian dari titulus yang bertuliskan kata ’Nazarene’. Pada awalnya, Gereja ini berlantaikan tanah yang dibawa dari Yerusalem, sehingga menggunakan kata ’di Yerusalem’ pada namanya.
Santa Helena wafat pada tahun 330 dalam usia sekitar 80 tahun; jenazahnya dimakamkan dalam makam keluarga kaisar tetapi kemudian disemayamkan di Museum Pio-Clementino di Vatikan.
Pesta Santa Helena sendiri dirayakan oleh Gereja Katolik pada tanggal 18 Agustus, sementara Gereja Ortodoks merayakan pestanya pada tanggal 21 Mei, sebagai satu kesatuan dengan pesta Konstantinus, putranya.
Tradisi merayakan penemuan Salib Suci berlanjut dan setiap tahun dirayakanlah Pesta Salib Suci di Yerusalem. Kekhidmatan perayaan ini menarik sejumlah besar biarawan dari Mesopotamia, Syria, Mesir dan dari provinsi-provinsi Romawi lainnya untuk datang ke Yerusalem.
Setiap tahunnya, tidak kurang dari 40 uskup menempuh perjalanan jauh dari dioses mereka untuk menghadiri perayaan ini.
Di Yerusalem, pesta ini berlangsung selama 8 hari berturut-turut dan, pada masa itu, pesta ini menjadi suatu perayaan yang hampir sama pentingnya dengan Paskah dan Epifani. Pesta ini kemudian menyebar ke luar Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) sampai ke Roma pada akhir abad ketujuh, dan akhirnya masuk ke dalam kalender liturgi Gereja Katolik sebagai suatu pesta wajib.
Tetapi perayaan di Yerusalem sendiri tidak berjalan baik. Sebagai tempat yang disucikan bagi tiga agama samawi, Yerusalem selalu menjadi tempat perebutan kekuasaan dan peperangan sejak dulu, bahkan hingga kini.
Tentara Persia merebut Damaskus pada tahun 613 dan kemudian menguasai Yerusalem pada tahun 614. Gereja Makam Suci dirusak, dan potongan Salib Suci yang berada dalam Gereja dibawa pergi oleh pasukan Persia dibawah Raja Khusrau II. Kaisar Byzantine yaitu Heraclius mendapatkannya kembali setelah mengalahkan Khusrau pada tahun 628. Salib Suci dikembalikan ke Gereja Makam Suci setahun kemudian setelah Heraclius sempat membawanya ke Konstantinopel.
Sebuah kisah yang juga sudah dipaparkan di atas menceritakan bahwa Heraclius ingin mengembalikannya sendiri ke Yerusalem dalam perayaan meriah dan dengan membawa sendiri potongan salib itu ke Gereja Makam Suci yang berada di Kalvari. Ia mengenakan pakaian kebesarannya sebagai kaisar berhiaskan emas dan bertatahkan batu mulia menggendong Salib di pundaknya.
Ketika Kaisar tiba di gerbang Yerusalem, tiba-tiba ia tak sanggup bergerak maju. Uskup Yerusalem, Zachary, yang menyambut kedatangan rombongan Kaisar mengatakan kepadanya bahwa dengan busana kebesarannya, Kaisar tidak menampakkan diri sebagai pengikut Yesus yang miskin dan rendah hati. Heraclius kemudian melepaskan jubah kekaisarannya dan sepatunya. Dalam jubah biasa dan bertelanjang kaki Heraclius dapat melanjutkan perjalannya membawa kayu Salib Kristus ke Kalvari, tanpa kesulitan.
Gereja Makam Suci yang berada di Golgota kemudian terbakar sebagian pada pintu dan atapnya di tahun 966. Pada 18 Oktober 1009 Gereja Makam Suci dihancurkan hingga ke fondasinya, sebuah peristiwa yang kemudian menjadi salah satu pemicu perang yang berlangsung hingga dua abad.
Kekaisaran Byzantin awalnya mengupayakan pembangunannya kembali lewat negosiasi. Restorasi Gereja Makam Suci sendiri selesai pada tahun 1048 walaupun tidak berhasil sepenuhnya tampil seperti semula.
Di tengah pertikaian antara kelompok-kelompok yang berusaha menduduki Yerusalem, Gereja Makam Suci terus diusahakan untuk diperbaiki walaupun karena perang, usaha restorasi seringkali kemudian rusak lagi.
Para Fransiskan melanjutkan usaha restorasi mulai pada tahun 1555 namun sebuah kebakaran di tahun 1808 mengakibatkan struktur rotunda Gereja runtuh.
Pembangunan atap dimulai setahun kemudian yaitu tahun 1809-1810. Untungnya kebakaran ini tidak mencapai bagian makam, sehingga bagian terlama yang dapat dilihat sekarang adalah bagian makam yang dilapisi marmer yang berasal dari perbaikan di tahun 1555. Struktur kubah baru dibangun kembali pada tahun 1870. Renovasi besar-besaran baru dimulai pada tahun 1959 dan renovasi kubah dilakukan pada 1994-1997.
Area di dalam Gereja Makam Suci ini dikapling-kapling berdasarkan keputusan di tahun 1767, awalnya dibagi untuk Gereja Katolik, Armenia, Ortodoks Timur dan Ortodoks Yunani sebagai pemegang kapling terbesar.
Di tahun 1852, dikeluarkan keputusan bahwa Gereja Ortodoks Koptik, Ortodoks Ethiopia dan Ortodoks Syria mendapatkan kapling yang lebih kecil.
Menariknya bahwa jalan masuk ke Gereja ini sejak tahun 637 dipegang kepada dua keluarga muslim hingga hari ini. Keluarga Joudeh memegang kuncinya dan keluarga Nusseibeh menjaga pintunya. Dua kali sehari, seorang anggota keluarga Joudeh membawa kunci yang kemudian akan digunakan untuk mengunci atau membuka pintu oleh seorang anggota keluarga Nusseibeh.
Karena sejarah Salib Suci Kristus ini adalah bagian dari sejarah Gereja Purba, tidak heran bahwa Pesta Salib Suci ini bukan saja dirayakan oleh Gereja Katolik Latin di Roma, tetapi juga bersama-sama dengan Gereja Ortodoks Timur, Katolik Timur, Armenia, Ethiopia, Syria-Malankara, hingga pada sebagian Anglikan dan Lutheran.
Bahkan di Gereja Ortodoks Timur, Pesta ini dirayakan hingga lebih dari seminggu, dengan tanggal 14 September sebagai hari puasa. Tanggal 13 September adalah permulaan dari pestanya di mana Salib ditahtakan di altar dan umat melakukan tuguran semalam suntuk hingga tanggal 14 September.
Puncak perayaannya adalah tanggal 14 September dimana uskup atau imam membawa salib ke tengah-tengah umat yang berkumpul dan umat bersujud bersyukur dan pada akhir perayaan menerima berkat dalam salib. Salib kemudian ditahtakan dalam gereja hingga 8 hari kemudian.
Di awal tadi kita mengetahui bahwa Pesta Salib Suci ini bermula di Yerusalem, kemudian menyebar dan dirayakan umat Kristiani, mula-mula di Timur, yakni di Byzantium/Konstantinopel baru kemudian semakin dirayakan oleh jemaat di Roma dan akhirnya seluruh dunia.
Awalnya juga hanya merayakan penemuan Salib Kristus oleh Santa Helena pada tahun 326, tetapi dewasa ini juga merayakan dua peristiwa yang berkaitan, yaitu pemberkatan Gereja Makam Kudus (Basilica of the Holy Sepulchre) tahun 335 dan peristiwa tahun 629 yaitu Kaisar Heraclius membawa kembali potongan Salib Kristus yang dibawa pergi dari Yerusalem oleh tentara Persia.
Pada peringatan Pesta Salib Suci 2008, Paus Benediktus XVI berada di Lourdes untuk merayakan 150 tahun penampakan Bunda Maria di Lourdes. Bapa Suci berada di Lourdes selama 4 hari dari tanggal 12 hingga 15 September.
Pada audiensi umumnya di Vatikan 17 September siang setelahnya, Bapa Suci mengungkapkan kesan-kesan perjalannya ke Paris dan Lourdes pada akhir pekan yang lalu, ia mengungkapkan kegembiraannya bahwa kunjungannya ke Lourdes bertepatan dengan perayaan Pesta Salib Suci.
Bapa Suci menjelaskan bahwa Bunda Maria membuat tanda salib saat tampil pertama kalinya di hadapan Bernadette Soubirous di Grotto Massabielle. Seluruh pesan Bunda Maria di Lourdes, kata Bapa Suci, ditemukan dalam tanda salib yang dibuat oleh Bunda Maria. ”Bunda Maria menyatakan pokok iman Kristen: Tanda Salib adalah dasar iman kita, dan melakukannya dengan segenap jiwa kita memasuki kepenuhan misteri penyelamatan kita.”
Bapa Suci meneruskan dengan:
”Di Lourdes, dalam contoh Bunda Maria, sang rasul Kristus yang pertama dan sempurna, para peziarah belajar untuk menghargai salib-salib hidup mereka sendiri dalam terang yang dipancarkan Salib Kristus.”
”Allah sedemikian mencintai kita hingga Ia memberikan diriNya sendiri bagi kita, dan itulah pesan dari salib, dalam salib ada misteri kematian dan kejayaan,” sambung Bapa Suci.
”Salib mengingatkan kita bahwa tidak ada cinta kasih tanpa penderitaan, tidak ada rahmat kehidupan tanpa kesakitan.”
Bapa Suci Benediktus XVI menutup renungannya saat audiensi ini dengan ”Banyak peziarah telah mengalami dan mempelajari kebenaran ini di Lourdes, yang adalah tempat menimba pengalaman iman dan harapan, karena Lourdes juga adalah tempat untuk belajar mencintai dan melayani sesama.”
3.
Kutipan Teks Misa.
“Salib adalah Kurban Kristus yang unik, “satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia” (1 Tim 2:5). Tetapi karena dalam Pribadi ilahi-Nya yang menjadi manusia, Ia dalam suatu cara telah menyatukan diri-Nya dengan setiap manusia, “Kemungkinan untuk menjadi rekan, dalam cara yang diketahui Allah, dalam misteri Paskah” ditawarkan kepada setiap manusia (GS 22,2).
Yesus mengajak murid-murid-Nya, untuk “memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat 16:24), karena “Kristus pun telah menderita untuk [kita] dan telah meninggalkan teladan bagi [kita], supaya [kita] mengikuti jejak-Nya” (1 Ptr 2:21). Ia ingin mengikut-sertakan dalam kurban penebusan-Nya ini, pada tempat pertama, orang-orang yang menjadi ahli waris-Nya (Bdk. Mrk 10:39; Yoh 21:18-19; Kol 1:24)
Hal ini dicapai secara sangat mendalam oleh Ibu-Nya, yang dihubungkan dengan lebih intim daripada siapapun dalam misteri penderitaan-Nya yang menebus manusia (Bdk. Luk 2:35)” (Sta. Rosa dari Lima).
Antifon Pembuka (Gal 6:14)
Kita harus bangga akan salib Tuhan kita Yesus Kristus pohon keselamatan, kehidupan dan kebangkitan kita, sumber penebusan dan pembebasan kita.
We should glory in the Cross of our Lord Jesus Christ, in whom is our salvation, life and resurrection, through whom we are saved and delivered.
Ref. Nos autem gloriari oportet, in cruce Domini nostri Iesu Christi: in quo est salus, vita, et resurrectio nostra: per quem salvati, et liberati sumus.
Ayat.
1. Deus misereatur nostri, et benedicat nobis: illuminet vultum suum super nos, et misereatur nostri.
2. Ut cognoscamus in terra viam tuam: in omnibus gentibus salutare tuum.
3. Confiteantur tibi populi, Deus: confiteantur tibi populi omnes.

Pada Misa ini Madah Kemuliaan dinyanyikan/didaraskan, Syahadat ditiadakan.

Doa Pembuka
Ya Allah, Engkau menghendaki Putra Tunggal-Mu menanggung salib demi keselamatan umat manusia. Perkenankanlah kami, yang menghormati misteri salib Putra-Mu di dunia, kelak menerima anugerah penebusan di surga. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Ular tembaga menjadi tanda dosa umat pilihan Allah yang tidak percaya. Selain itu, menjadi tanda kebaikan Allah yang mau menerima kembali orang berdosa.

Bacaan dari Kitab Bilangan (21:4-9)
"Semua orang yang terpagut ular akan tetap hidup, bila memandang ular perunggu."
Ketika umat Israel berangkat dari Gunung Hor, mereka berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom. Bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa, “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air! Kami telah muak akan makanan hambar ini!” Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel itu mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata, “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandangnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan
Ayat. (Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38)
1. Dengarkanlah pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut untuk mengatakan Amsal, aku mau menuturkan hikmat dari zaman purbakala.
2. Ketika Allah membunuh mereka, maka mereka mencari Dia; mereka berbalik dan mendambakan Allah; mereka teringat bahwa Allah adalah Gunung Batu , bahwa Allah yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.
3. Tetapi mulut mereka tidak dapat dipercaya, dan dengan lidah mereka membohongi Allah. Hati mereka tidak berpaut pada-Nya, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.
4. Akan tetapi Allah itu penyayang! Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan amarah-Nya, dan tidak melampiaskan keberangan-Nya.

Yesus mengorbankan segalanya untuk
keselamatan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Hendaknya kita tetap mengakui Dia yang adalah Tuhan.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (2:6-11)
"Yesus merendahkan diri, maka Allah sangat meninggikan Dia."
Saudara-saudara, Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahkan-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuklututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. Ya Kristus, kami menyembah dan memuji Dikau, sebab dengan salib-Mu, Engkau telah menebus dunia.
Begitu besar kasih Allah kepada kita. Putra-Nya telah dianugerahkan kepada kita. Maka, hendaknya kita menerima dan mengakui Yesus sepanjang hidup agar kita beroleh keselamatan dari pada-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (3:13-17)
"Anak manusia harus ditinggikan."
Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Antifon Komuni (Yoh 12:32)
Tuhan bersabda: Apabila Aku telah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku.
When I am lifted up from the earth,I will draw everyone to myself, says the Lord.
atau
Per signum Crucis de inimicis nostris libera nos, Deus noster

Doa Malam
Tuhan Yesus, bertahan dan menderita bersama salib sungguh menguatkanku hari ini meski terasa pedih dan perih. Dalam ingatan bahwa Engkau besertaku, maka aku menjadi kuat. Syukur dan terima kasih atas pengalaman hari ini, ya Tuhan Yesus. Amin.

Kamis, 13 September 2018

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Kamis, 13 September 2018
Peringatan Wajib St. Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja
“Allah telah mendirikan Gereja seperti pelabuhan di tepi laut, agar kamu dapat berlindung dari pusaran kekhawatiran dan menemukan kedamaian dan ketenangan” – St. Yohanes Krisostomus
St. Yohanes Krisostomus dilahirkan di Antiokhia sekitar tahun 344 dari keluarga bangsawan. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi. Ibunya memilih untuk tidak menikah lagi. Ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membesarkan putra dan putrinya. Ibunya banyak berkorban agar Yohanes kelak dapat menjadi salah seorang guru yang terbaik.
Yohanes seorang anak yang amat cerdas dan kelak pasti dapat menjadi seorang yang hebat. Jika Yohanes bercerita, semua orang senang mendengarkannya. Sesungguhnya, namanya, Krisostomus berarti “Bermulut emas.”
Namun demikian, Yohanes ingin memberikan dirinya seutuhnya kepada Tuhan. Ia menjadi seorang imam dan di kemudian hari diangkat menjadi uskup kota besar Konstantinopel.
Yohanes Krisostomus jelasnya dididik dalam tata cara hidup sesuai dengan kebangsawanan mereka. Ketika umur 20 tahun, ia belajar ilmu pidato/retorika. Pada umur yang sama, ia dipermandikan. Kemudian ia belajar teologi.
Selama 6 tahun ia hidup menyendiri sebagai rahib di pegunungan Antiokia. Sekembali ke kota, Yohanes ditahbiskan menjadi diakon, selanjutnya ditahbiskan imam. Pada masa itu, kehidupan susila penduduk kota Antiokia sangat merosot. Hal itu mendesak Yohanes Kristotomus untuk melancarkan pembaharuan moral di seluruh kota dan di kalangan biarawan-biarawati.
St. Yohanes adalah seorang uskup yang mengagumkan. Meskipun ia selalu sakit, ia melakukan begitu banyak karya yang mengagumkan. Ia berkhotbah satu atau dua kali sehari, memberi makan fakir miskin serta memberikan perhatian kepada yatim piatu.
Ia memperbaiki kebiasaan umat berbuat dosa serta menghentikan pertunjukan-pertunjukkan yang tidak layak dipertontonkan. Ia mengasihi semua orang, namun demikian ia tidak takut untuk menegur mereka, bahkan ratu sekalipun, apabila mereka berbuat salah.
Ya, kepandaiannya berpidato dimanfaatkannya untuk melancarkan pembaharuan hidup dan iman umat dan kaum religius, dimana kotbahnya sungguh tepat sesuai kehidupan susila umat.
Oleh karena itu, ia dibenci oleh pembesar-pembesar kota dan para uskup lainnya. Program pembaharuannya ditantang keras. Ia dikucilkan oleh uskup-uskup. Tetapi tak lama kemudian ia dipanggil kembali karena reaksi keras dari seluruh umat yang sayang kepadanya.
Karena memerangi dosa, St. Yohanes mempunyai banyak musuh – bukan cuma sesama uskup dan imam tapi bahkan ratu sendiri. Ia dikucilkan kembali karena kritikannya yang pedas kepada Kaisar wanita, bernama Eudoxia dan pembantu-pembantunya. Ratu mengusirnya dari Konstantinopel.
Dalam perjalanan, St Yohanes menderita demam yang hebat, kekurangan makan serta kurang istirahat. Meskipun begitu, ia berbahagia dapat menderita bagi Yesus. Sesaat sebelum kematiannya, ia berseru, “Kemuliaan kepada Allah!”
St. Yohanes wafat di Turki pada tanggal 14 September 407. Hujan es dan angin ribut yang dahsyat menyerang Konstantinopel pada saat ia meninggal. Empat hari kemudian, ratu yang jahat itu pun meninggal juga. Puteranya menghormati jenasah St. Yohanes dan menunjukkan betapa ia menyesal atas apa yang telah diperbuat ibunya.
Lebih lanjut, Santo Yohanes Krisostomus (349-407) terkenal dengan sebutan “Si Mulut Emas”. Mengapa? Karena dia adalah seorang pengkhotbah yang amat cerdas. Jika Yohanes Krisostomus berbicara dan berkotbah, semua orang akan terpana mendengarkannya. Kata-katanya sejuk, menyentuh hati, dan menyemangati.
Sebagai seorang Uskup Agung, Yohanes Krisostomus mengasihi semua orang dan berusaha merangkul semua kalangan. Meski demikian ia tidak pernah kehilangan ketegasannya.
Ia tidak pernah ragu untuk menegur mereka yang berbuat salah; bahkan ratu sekalipun. Ia pernah menegur Ratu Eudoxia, istri dari Kaisar Arcadius, karena gaya hidup yang amat mewah dan sangat boros. Teguran ini tidak disukai sang Ratu dan anak buahnya, lalu mereka menyebarkan fitnah terhadap Yohanes. Sidang Sinode menjatuhi hukuman pengasingan kepada sang Uskup dan ia diusir dari Konstantinopel (Istambul, Turki).
Pastinya: mengenang dan merenungkan riwayat serta keteladanan hidup Santo Yohanes Krisostomus, ada banyak kata-kata mutiara yang diwariskannya kepada kita. Kata-kata itu merupakan hasil permenungannya:
“Ketika kalian berada di depan altar di mana Kristus hadir, jangan lagi beranggapan bahwa kalian berada di antara manusia; tetapi yakinlah bahwa bala tentara malaikat serta malaikat agung berdiri di sampingmu, dan dengan gemetar karena hormat berada di hadapan Pencipta Langit dan Bumi yang Mahakuasa. Oleh sebab itu, ketika kalian berada dalam Gereja, hadirlah di sana dalam keheningan, dengan khidmad, dan khusuk.”
“Tidak ada seorang yang dapat beralasan tidak berdoa dengan dalih dipenuhi kesibukan sehari-hari atau tidak dapat berada di gereja. Di mana pun, tidak peduli di mana kamu menemukan dirimu, kamu dapat menegakkan sebuah altar kepada Allah dalam hatimu dengan cara berdoa .”
“Merasa malulah kamu ketika berbuat dosa, bukan ketika kamu bertobat. Di sini ada dua hal yaitu dosa dan pertobatan. Dosa adalah luka, pertobatan adalah obat. Dosa diiringi dengan rasa malu; pertobatan diiringi dengan keberanian. Iblis telah menipumu tentang kenyataan ini dan justru memberimu keberanian untuk berbuat dosa serta rasa malu untuk bertobat.”
“Apakah kamu berbuat dosa? Masuklah ke Gereja dan bertobatlah dari dosa-dosamu, karena di sini menyediakan Tabibnya, bukan untuk menghakimimu, di sini tidak ada proses investigasi, dan seseorang menerima pengampunan dosanya.”
=====
"Nasihat St. Yohanes Krisostomus (hidup tahun 349-407) tentang keluarga."
*Anak-anakmu akan selalu "kaya" jika mereka menerima kebaikan dari pengasuhanmu yang baik dalam moralitas dan perilaku mereka.
*Karena keluarga adalah sesungguhnya sebuah gereja kecil, maka dengan membuat diri menjadi suami dan istri yang baik adalah tugas yang lebih penting daripada lainnya.
*Karena manusia adalah citra Allah, saat kita mengajar anak kita untuk menjadi baik, untuk bersikap lembut, untuk memaafkan , untuk bermurah hati, untuk mencintai sesama mereka, -hal-hal yang bersifat seperti Allah-, kita menanamkan kebajikan di dalam jiwa mereka, dan mengungkapkan citra Allah di dalam diri mereka.
*Tidak ada hubungan antara pria dan wanita yang lebih dekat seperti antara suami dan istri, jika mereka bersama-sama dalam segala hal sebagaimana mestinya.
*Ketika suami dan istri bersatu dalam pernikahan, mereka tidak lagi tampak seperti sesuatu yang duniawi, tapi seperti citra Tuhan sendiri.
*Tidak ada pengaruh yang lebih kuat dibanding ikatan cinta, terutama untuk suami dan istri.
Seorang pembantu rumah bisa diajari melalui rasa takut; tapi jika ditakuti terlalu banyak, ia akan segera melarikan diri.
Tapi rekan hidup, ibu dari anak-anakmu, sumber sukacita seorang suami, jangan pernah kau belenggu dengan ketakutan dan ancaman, tapi dengan cinta dan kesabaran.
*Rela menderitalah demi pasanganmu, dan jangan pernah mempermalukannya.
*Panggillah nama istrimu dengan rasa sayang, dengan penghormatan, dengan banyak cinta.
Hormatilah dia, dan dia tidak akan membutuhkan penghormatan dari orang lain; istrimu tidak akan menginginkan pujian yang datang dari orang lain, jika dia mendapatkannya darimu.
Pujilah dia atas kecantikan dan kecerdasannya, dan dalam segala hal yang dia lakukan.
Dengan demikian Anda akan membuatnya untuk memberi seluruh perhatiannya ke dalam keluarga dan kepada suaminya.
Ajari dia untuk takut akan Tuhan, dan semua hal baik akan mengalir dari situ seperti dari mata air, dan rumahmu akan penuh dengan sepuluh ribu berkat.
*Seorang istri harus menghormati suaminya bahkan saat suami tidak menunjukkan cintanya,
dan suami harus mencintai istrinya bahkan saat istri tidak menghormatinya.
*Jangan berusaha mengajari anakmu kata-kata yang pandai, tapi ajari dia untuk mencintai kebijaksanaan.
Dia tidak akan menderita jika dia tidak memiliki kata-kata yang cerdas; tetapi jika dia tidak memiliki kebijaksanaan, semua kata-kata di dunia tidak dapat menolongnya.
Pola hidup yang baik adalah apa yang dibutuhkan anak-anakmu, bukan pidato kosong melainkan karakter, bukan kepintaran melainkan perbuatan, bukan kata-kata melainkan kebajikan.
*Beginilah kekuatan cinta: ia merangkul, dan menyatukan, dan mengikat bersama tidak hanya mereka yang hadir dan dekat dan terlihat, tapi juga terhadap mereka yang jauh.
Dan tak ada pemisahan waktu, jarak, atau hal-hal semacam itu yang dapat memecah dan memisahkan kasih sayang yang saling datang dari jiwa.
*Tidak ada yang lebih kuat dari pada wanita saleh dan bijaksana untuk membawa suaminya kepada jalan yang benar, dan untuk membentuk jiwa suaminya seperti yang dia kehendaki.
Karena suami tidak akan mendengarkan nasihat dan pendapat temannya, atau gurunya, atau atasannya lebih daripada ia mendengarkan istrinya, karena nasihat istrinya itu membawa kesenangan untuknya, karena dia yang memberikan nasihat itu adalah orang yang sangat dicintai.
*Kasihi istrimu lebih dari dirimu sendiri. Jangan menjadi asing bagi istrimu tetapi jadilah dirimu yang sejati.
Lebih memilih menemaninya di rumah daripada pergi keluar.
Kagumi dan hargai ia di mata umum, dan nasihati dia secara pribadi.
Berdoa bersama, pergi ke Gereja bersama, berdiskusilah tentang bacaan- bacaan suci dan doa.
Jika hidup pernikahanmu seperti ini, kesempurnaan menjadi seorang suami menandingi kesucian para biarawan.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

Rabu, 12 September 2018

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Rabu, 12 September 2018
Hari Biasa Pekan XXIII
1 Korintus (7:25-31)
(Mzm 45:11-12.14-15.16-17)
Lukas (6:20-26)
"Beati - Berbahagialah!"
Inilah pokok pewartaan iman ilahi hari ini:
"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah."
"Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan." "Berbahagialah, hai kamu yg sekarang ini menangis karena kamu akan tertawa". "Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat."
Mereka yang disapa berbahagia adalah mereka yang "kecil", yang tampak dalam 4 tipologi, antara lain:
1.Orang miskin.
Orang miskin (Yun: ptöchós) dalam bahasa Yahudi disebut anî (‘ânâh: bergantung pada orang lain), yang membentuk kata ‘anaw', orang kecil, bersahaja dan saleh. Tuhan hadir sebagai "Tuhan yang mencintai orang kecil dan sederhana", karena hidup sederhana menjadikan orang lebih mudah terbuka dan selalu mengandalkan penyelenggaraan ilahi sehingga memiliki kerajaan Allah.
2.Orang yang lapar.
Kelaparan adalah konsekuensi dari kemiskinan. Disinilah, Tuhan hadir sebagai "Tuhan yang maha mengenyangkan", karena mereka yang lapar akan dipuaskan, diikutkan dalam perjamuan yang memuaskan (Yes 25:6) dan tidak akan merasa lapar lagi (Yes 49:10.13; Yeh 34:29).
3.Orang yang menangis.
Ia menjanjikan "sukacita mesianis", dimana mereka yang menangis akan tertawa (Mzm 126,2).Tuhan hadir sebagai "Tuhan yang maha mengubah", duka menjadi sukacita, airmata menjadi mata air.
4.Orang yang tertindas.
Ia menjanjikan penghiburan yang sejati bagi setiap orang yang "teraniaya", dibenci-dikucilkan-dicela-ditolak karena nama Tuhan. Ia hadir sebagai "Tuhan yang maha penghibur."
Indah dan adil-nya, ternyata disamping mengucapkan "berkat/perhatian" kepada orang kecil: "miskin, lapar, menangis dan dianiaya", Yesus juga mengucapkan "kutuk/peringatan" kepada orang yang "besar": kaya-kenyang-tertawa- suka dipuja-puji.
Jelaslah, Tuhan disini hadir sebagai Tuhan yg mempunyai 3 cita rasa, yakni Tuhan yg esa, kuasa dan berbelarasa, yang memiliki keberpihakan dan keterlibatan pada orang kecil yang miskin-lapar-menangis-teraniaya
Bagaimana dengan kita? Selamat bersaksi dan selamat ber-interupsi.
"Ada bedil di atas loyang - Tuhan itu adil dan berlimpah kasih sayang."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Kutipan Teks Misa.
“Allah telah mendirikan Gereja seperti pelabuhan di tepi laut, agar kamu dapat berlindung dari pusaran kekhawatiran dan menemukan kedamaian dan ketenangan” – St. Yohanes Krisostomus
“Tanpa Ekaristi Kudus tidak ada kebahagiaan di dunia ini; tidak ada yang menopang hidup. Ketika kita menerima Komuni Kudus, kita menerima kegembiraan dan kebahagiaan kita. Allah yang baik, berkenan memberikan diri-Nya sendiri bagi kita dalam Sakramen Cinta kasih-Nya. Ia memberikan kepada kita kerinduan yang hebat dan besar dan hanya Dia sendiri dapat memuaskannya. Di hadapan Sakramen yang indah ini, kita laksana seorang yang hampir mati kehausan dan tiba di tepi sungai – dia hanya perlu menundukkan kepalanya saja; seperti seorang yang tetap miskin dekat dengan harta karun yang besar – dia hanya perlu mengulurkan tangannya saja. Dia yang menerima Komuni kehilangan dirinya di dalam Allah, seperti setitik air di dalam lautan. Mereka tidak dapat dipisahkan lagi.” — St. Yohanes Maria Vianney
Antifon Pembuka (Luk 6:20)
Berbahagialah orang yang miskin karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah.
Doa Pembuka
Ya Allah, kami bersyukur karena melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau telah menyampaikan Sabda Bahagia kepada kami yang miskin dan lemah ini. Semoga, Sabda Putra-Mu itu menjadikan kami kaya akan belas kasih dan perhatian kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan menderita. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Engkau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (7:25-31)
"Adakah engkau terikat pada seorang wanita? Janganlah mengusahakan perceraian. Adakah engkau tidak terikat pada seorang wanita? Janganlah mencari seseorang."
Saudara-saudara, mengenai para gadis aku tidak mendapat suatu perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercaya berkat rahmat yang telah kuterima dari Tuhan. Aku berpendapat bahwa mengingat zaman darurat sekarang ini baiklah orang tetap dalam keadaannya. Adakah engkau terikat pada seorang wanita? Janganlah mengusahakan perceraian. Adakah engkau tidak terikat pada seorang wanita? Janganlah mencari seorang. Tetapi kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi, orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani, dan aku mau menghindarkan kalian dari kesusahan itu. Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan: Waktunya singkat! Sebab itu dalam waktu yang masih sisa ini: mereka yang beristeri hendaknya berlaku seolah-olah tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli. Pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia yang kita kenal sekarang ini akan berlalu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Dengarlah, hai puteri, lihatlah dan sendengkanlah telingamu.
Ayat. (Mzm 45:11-12.14-15.16-17)
1. Dengarlah, hai puteri, lihatlah dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi bergairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!
2. Keindahan belaka puteri raja itu, pakaiannya bersulamkan emas. Dengan pakaian bersulam berwarna-warni ia dibawa kepada raja; anak-anak dara mengikutinya, yakni teman-temannya, yang didatangkan untuk dia.
3. Dengan sukacita dan sorak sorai mereka dibawa, mereka masuk ke dalam istana raja. Para leluhurmu akan diganti oleh anak-anakmu nanti; mereka akan kauangkat menjadi pembesar di seluruh bumi.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Luk 6:23ab)
Bersukacitalah dan bergembiralah, karena besarlah upahmu di surga.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:20-26)
"Berbahagialah orang yang miskin, celakalah orang yang kaya."
Pada waktu itu Yesus memandang murid-murid-Nya, lalu berkata, “Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kalian yang kini kelaparan, karena kalian akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kalian yang kini menangis, karena kalian akan tertawa. Berbahagialah, bila demi Anak Manusia kalian dibenci, dikucilkan, dan dicela serta ditolak. Bersukacitalah dan bergembiralah pada waktu itu karena secara itu pula nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kalian, orang kaya, karena dalam kekayaanmu kalian telah memperoleh hiburan. Celakalah kalian, yang kini kenyang, karena kalian akan lapar. Celakalah kalian, yang kini tertawa, karena kalian akan berdukacita dan menangis. Celakalah kalian, jika semua orang memuji kalian; karena secara itu pula nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Injil Lukas hendak berbicara kepada orang yang miskin, yakni orang yang kekurangan material, orang yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup, paling-paling pas-pasan saja. Tetapi Injil juga berbicara kepada orang berkepunyaan, orang yang berkelebihan, orang yang tak merasakan kekurangan. Kepada yang miskin dikatakan bahwa mereka tak dilupakan Kerajaan Allah, mereka itu malah boleh merasa empunya Kerajaan Allah. Kepada orang kaya tidak dikatakan kalian tak memiliki Kerajaan Allah. Namun kehidupan mereka itu kiranya tak ada artinya ("celakalah....") bila mereka sudah puas dan merasa aman dengan kelimpahan mereka. Wartanya apa? Yesus tidak menjajakan kemiskinan sebagai keutamaan dan mencerca kekayaan sebagai sumber laknat. Orang bisa sombong dan sukses dan bersukaria secara berlebihan dan dalam kegagalan bisa merasa terpukul sampai putus asa, karena orang terpaku pada yang dilihat dan dialami sekarang ini. Ia lupa bahwa masih ada takdir yang tidak terelakkan dan hidup yang akan datang. Sabda bahagia hendaknya juga menjadikan kita makin sadar akan pentingnya mengembangkan semangat solider. Orang Kristen perlu belajar menjembatani jurang pemisah yang makin menganga antara kaya-miskin, kenyang-lapar, terkenal-terlupakan.
Antifon Komuni (Luk 16:20)
Berbahagialah kalian yang miskin, sebab milik-Mulah Kerajaan Allah.

Selasa 11 September 2018

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Selasa 11 September 2018
Hari Biasa Pekan XXIII
1 Korintus (6:1-11)
(Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b)
Lukas (6:12-19)
"Discipulus - Pemuridan"
Bersama dengan maraknya gerakan disiplin nasional di negeri kita yang sedang carut marut ini, inilah nuansa khas yang melekat pada diri para murid yang kerap disebut "disciple" dan bukan "student."
Dari sinilah juga sebenarnya muncul kata yang kerap kita dengar, yakni "disiplin". Dengan kata lain: sikap "disiplin" sangat dekat dengan dimensi pemuridan ala Yesus.
Nah, bersama dengan teladan Yesus dengan "kabinet kerjanya " atau bilangan 12 rasul, kita bisa melihat tiga hal baik yang diteladankanNya supaya kita menjadi murid yang benar benar disiplin, antara lain:
1. Intimitas.
Sebelum memutuskan pilihan, Yesus ber-"intimitas cum Deo", berdoa semalam-malaman kepada BapaNya. Ia menjalin relasi intensif dengan BapaNya.
2. Kolegialitas.
Ia tidak bekerja sendirian, tapi bekerja bersama dengan yang lainnya, yang berangkat dari aneka latar belakang.
Adapun 12 "disciple" (sebagai pengganti "12 suku israel"), yang termasuk dalam "kabinet kerja Yesus", antara lain : Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus dan Simon orang Zelot, Yudas anak Yakobus dan Yudas Iskariot.
3. Responsibilitas.
Setiap pilihan mengandung sebuah tanggung jawab ("respons & ability: kemampuan untuk me-respons"). Yesus-pun memilih dengan sadar dan siap menerima aneka karakter dan paramater muridNya: Petrus yang bergelora, Thomas yang skeptis sampai Yudas yang berkhianat.
Yang pasti, bukankah diantara "B" (birth/kelahiran) dan "D" (death/kematian) terdapat "C" (choice/pilihan). Bukankah di setiap "choice/pilihan" terdapat "change/perubahan" dan "chance/kesempatan". Pilihlah cintamu dan cintailah pilihanmu!
"Ada Mba Karsih ada Mas Galih - Jadilah orang yang selalu bersih dan terpilih."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
A.
"Oremus - Marilah berdoa!"
Inilah ajakan setiap imam dalam membuka dan mengakhiri misa kudus. Inilah juga yang selalu dibuat Yesus pada awal dan akhir karyaNya.
Mengacu pada bacaan injil hari ini, Yesus ke bukit untuk berdoa semalam-malaman. Ia menjadi pribadi yang integral/utuh dan penuh.
Pada malam hari, Ia berdoa ("ora", menjadi "pendoa/prayer"). Pada siang hari, Ia bekerja ("labora", menjadi "pengajar/teacher dan penyembuh/healer").
Pastinya, Yesus menjadi orang yang seimbang, karena di tengah kesibukan karya, Ia selalu meluangkan waktu untuk berdoa, ber-"intimitas cum Deo", khususnya pada saat-saat hendak mengambil keputusan penting dengan 3 keutamaan yang diwartakanNya, pada kita, antara lain:
1.Ketekunan.
DoaNya yang penuh-utuh dan bersungguh-sungguh semalam suntuk itu menghasilkan sesuatu yang luar biasa (Yak 5:16). Kitapun juga diajak untuk bertekun dalam doa (Bdk: Roma 12:12) karena doa sejatinya adalah relasi, tidak melulu berbentuk permohonan tapi juga bisa berupa syukur/pujian.
De facto, kita kerap menjadi orang yang "sibuk untuk Tuhan", tapi lupa "sibuk dengan Tuhan," bukan? "PUSH"-"Pray Until Something Happened."
2.Kebersamaan.
Setelah bertekun dalam doa, Yesus memilih ke-12 orang untuk menjadi muridNya ("murid": disciple" bukan "student", Lat: discipulus: disiplin).
Ia tidak ber-"single fighter"dan tidak menjadi "one man show", tapi Ia selalu melibatkan semakin banyak orang lain sebagai "rekan/mitra sekerja." Inilah pentingnya sebuah komunitas yang saling menguatkan dan memberdayakan, bukannya saling menjatuhkan/memperdayakan.
3. Keselamatan.
Ia menjadi "syalom" yang hidup. Ia mengusir banyak roh jahat serta menyembuhkan banyak orang sakit (Luk 6:17-19). Ia juga mengajar dan menyampaikan khotbahNya dengan tulus dan kudus (Luk 6:20-49).
Ia menawarkan keselamatan yang paripurna dengan cara-cara hidup yang sederhana dan bersahaja. Bagaimana dengan kita?
"Buah srikaya banyak di dahan - Mari berkarya dalam nama Tuhan."
B.
“Temet nosce - Kenalilah dirimu sendiri.”
Hari ini, Yesus mengajak kita mengenali diri sebagai para murid yang telah dipanggil dan dipilihNya.
Adapun tiga jenis “relasi” dasar yang mesti dibangun supaya kita semakin mengenali diri sebagai para murid yang telah dipanggil dan dipilihNya, al:
1. Berdoa:
Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ia mengajak kita “alone with God” dengan berdoa”, mengalami “intimitas cum Deo”, sehingga kita memiliki relasi dengan Allah secara pribadi.
Yang pasti, dalam sebuah doa adalah lebih baik mempunyai hati tanpa kata-kata, daripada kata-kata tanpa hati, karena orang yang selalu berdoa tidak selalu memikirkan doa yang dilakukannya melainkan memikirkan Allah yang menjadi tujuan doanya: “Yesus, datanglah ke hatiku, berdoalah denganku, berdoalah didalamku – agar aku bisa belajar dari-Mu cara untuk berdoa.”
2. Bersaudara:
“Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya dan memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul.
Beberapa diantaranya: Ia memanggil serta memilih Simon dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus sahabatnya, bahkan ada tiga nama yang sama dalam bilangan dua belas rasul: Ada Simon (Petrus) dan Simon (orang Zelot), ada Yakobus (Alfeus) dan Yakobus (Zebedeus), ada Yudas (Tadeus) dan Yudas (Iskariot).
Dkl: Ia mengajak kita untuk “bersaudara”, memiliki relasi hangat dengan keluarga dan kerabat dekat kita dengan penuh rasa syukur karena hidup itu kadang ibarat es krim. Nikmatilah dengan penuh rasa syukur sebelum cair.
3. Berkarya:
“Lalu Yesus turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar murid-murid-Nya dan banyak orang lain .... Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka: juga mereka yang kerasukan roh-roh jahat mendapat kesembuhan. “
Hal inilah yang dikerjakan Yesus menjelang siang sampai sore hari, Ia berkarya dan melayani banyak orang. Ia mengajarkan kebaikan, menyembuhkan pelbagai kelemahan dan membebaskan dengan mengusir pelbagai setan dan roh jahat.
Kitapun diajak untuk terus berkarya secara utuh dan penuh untuk saling mengajarkan kebaikan, saling menyembuhkan kelemahan dan saling memberikan pembebasan dari plbagai bentuk kejahatan: Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, namun kita memperoleh kehidupan dengan apa yang kita beri, bukan? Ecce ego quia vocasti me! Inilah aku, sebab Engkau telah memanggilku!
“Cari jalan di kota Tarsus - Mari terus berjalan bersama Yesus.”
C.
Kutipan Teks Misa
Selasa, 11 September 2018
Hari Biasa Pekan XXIII
“Janganlah mencintai dunia atau pun barang-barang duniawi, sebab dunia ini akan segera berlalu” (St. Nikolaus Tolentino)
Bagaimana kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Kitab Suci adalah satu sejauh Sabda Allah itu satu. Rencana penyelamatan Allah itu satu, dan inspirasi ilahi dari kedua Perjanjian itu juga satu. Perjanjian Lama mempersiapkan yang Baru dan Perjanjian Baru menyempurnakan yang Lama, keduanya saling menerangkan satu sama lain. (Kompendium Katekismus Gereja Katolik, No. 23)
Antifon Pembuka (Mzm 149:1)
Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaat orang-orang saleh!
Doa Pembuka
Ya Allah, melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau telah memilih kami menjadi anak-anak-Mu. Engkau juga mengutus kami sebagai pewarta Kabar Gembira. Berilah kami kekuatan untuk menunaikan tugas kami dengan setia dan gembira serta penuh cinta kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Dalam hidup dengan banyak orang, perselisihan tidak bisa dihindari. Akan tetapi, keadilan haruslah diutamakan. Keadilan diperoleh dalam diri orang yang hidup dalam iman.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (6:1-11)
"Saudara yang satu menuntut keadilan terhadap saudara yang lain, justru pada orang yang tidak beriman!"
Saudara-saudara, jika di antara kalian ada perselisihan, apakah salah satu pihak sampai hati mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar dan bukan pada orang-orang kudus? Atau tidak tahukah kalian bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tanganmu, tidakkah kalian sanggup mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kalian, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari! Meskipun demikian, jika kalian harus mengurus perkara-perkara biasa, urusan itu kalian serahkan kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat! Hal ini kukatakan untuk membuat kalian malu. Tidak adakah di antaramu seorang yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara saudaranya? Adakah saudara yang satu menuntut keadilan terhadap saudara yang lain, justru pada orang yang tidak beriman! Adanya perkara di antaramu saja, antara seorang saudara terhadap saudara yang lain, telah merupakan kekalahan bagimu. Mengapa kalian tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapa kalian tidak lebih suka dirugikan? Sebaliknya kalian sendiri melakukan ketidakadilan, kalian sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kalian lakukan terhadap saudara-saudaramu sendiri. Atau tidak tahukah kalian, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kalian dahulu demikianlah adanya. Tetapi kalian telah memberi dirimu disucikan, kalian telah dikuduskan, kalian telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan berkenan kepada umat-Nya.
Ayat. (Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b)
1. Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.
2. Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
3. Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada di dalam kerongkongan mereka. Itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 15:16)
Kalian telah Kupilih dari dunia dan Kutetapkan agar pergi dan berbuah, dan buahmu tinggal tetap.
Bagi Yesus, doa adalah dasar mengambil keputusan. Karena itu, setelah berdoa kepada Bapa-Nya, Ia memanggil dan memilih rasul-rasul-Nya. Mereka dipilih untuk menyertai-Nya.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:12-19)
"Semalam-malaman Yesus berdoa. Lalu Ia memilih dua belas orang, yang disebut-Nya rasul."
Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya dan memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Mereka itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Andreas, saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Yesus turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang kerasukan roh-roh jahat mendapat kesembuhan. Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, sebab dari pada-Nya keluar suatu kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan
Berdoa membantu kita dalam memutuskan segala hal, sehingga keputusan yang diambil tidak menyesatkan. Dengan berdoa, kita mau melibatkan Tuhan dalam hidup sekaligus bersedia menerima bimbingan-Nya. Tentu bimbingan Tuhan mengarahkan kita kepada jalan yang benar dan tidak akan membuat kita menjadi sesat. Lalu, bagaimana dengan orang yang berdoa dan masih sesat? Mengapa bisa demikian (sesat)?
Antifon Komuni (Yoh 15:6)
Kalian telah Kupilih dari dunia dan Kutetapkan agar pergi dan berbuah dan buahmu tinggal tetap.
Doa Malam
Tuhan Yesus, semalam-malaman Engkau berdoa kepada Bapa. Terima kasih, ya Yesus, Engkau memberi teladan kepada kami untuk selalu menjalin relasi yang akrab dengan Bapa di surga, selalu berdoa sebelum mengambil sebuah keputusan penting dalam hidup kami. Amin.
No automatic alt text available.

Senin,10 September 2018

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Senin,10 September 2018
Hari Biasa Pekan XXIII
1 Korintus (5:1-8)
(Mzm 5:5-6.7.12)
Lukas (6:6-11)
“Sensus Catholicus – Citarasa Kekatolikan.”
Inilah yang ditawarkan Yesus dengan tiga ciri dasarnya, antara lain:
1. Berdasar pada keselamatan jiwa.
“Salus animarum suprema lex” adalah sebuah prinsip dasar dari Kitab Hukum Kanonik yang berarti “keselamatan jiwa adalah hukum yang terutama”.
Hal ini dipertegas oleh Yesus yang berkata dan bertanya kepada kalian: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?”
Bukankah manusia tidaklah diciptakan dengan main-main, ataupun secara serampangan, namun diciptakan secara mengagumkan untuk sebuah tujuan yang agung?
2. Bertumbuh pada semangat keterbukaan.
Kasih dan kebaikan tidak dibatasi oleh hari, karena pada dasarnya kasih dan kebaikan itu bersifat universal (“Katholik: Universal, bersifat umum).
Setiap kasih dan kebaikan harus tetap dilakukan kapan saja karena di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan'.
Bagi Yesus, tidak ada batasan waktu untuk berbuat baik, menolong, dan menyelamatkan manusia. Meskipun ada aturan tidak boleh melakukan pekerjaan di hari Sabat, Yesus tetap menyembuhkan orang sakit karena Dia tahu bahwa menyembuhkan itu merupakan perbuatan baik.
Meski orang Farisi dan ahli Taurat marah atas tindakan-Nya itu, Yesus tidak mengurungkan niat-Nya untuk berbuat baik. Tuhan tidak pernah memisah-misahkan apalagi mengotak-kotakkan umatNya. Bukankah kita sendirilah yang kerap malah mengotak-kotakkannya?
3. Berbuah pada kesejahteraan.
Yesus mengingatkan lagi bahwa salah satu tujuan hukum adalah “bonum commune – kesejahteraan bersama.” Ia berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia.
Jelasnya, kita bukanlah "waduk" untuk menimbunan, kita adalah "saluran" untuk membagi maka terangilah jalan-jalan di dunia ini dengan terang Kristus yang kita bawa dalam hati dan diri kita
“Bolak balik cari kayu jati - Jadilah orang Katolik yang sejati.”
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
"WWF - WALK WITH FRANCIS"
Deus suo cum amore numquam regreditur! God never goes back on His love! Allah tidak pernah tidak setia pada kasih-Nya!
Deus suo cum amore numquam regreditur! God never goes back on His love! Allah tidak pernah tidak setia pada kasih-Nya!
Mementote quo plus aliis vos dare, eo plus vosmet ipsos recipere et felices fore! Remember the more you give yourselves to others, the more you will receive and be happy! Ingatlah semakin banyak kamu memberikan dirimu bagi orang lain, kamu akan semakin menerima dan bahagia!
Sine institutionis iure plena non datur libertas, quae efficit ut quisque propriae sortis sit actor! Without the right to education there is no real freedom, which allows every person to be the protagonist of their own destiny. Sesungguhnya tanpa hak atas pendidikan tidak ada kebebasan, yang memungkinkan setiap orang menjadi pelaku utama nasib mereka sendiri!
A.
"Liberator - Sang Pembebas!"
Inilah salah satu gelar yang dikenakan pada Yesus. Ia hadir untuk membebaskan, bukan hanya orang yang sakit fisik tapi juga orang yang sakit nuraninya karena belenggu hukum dan aturan yang menindas.
Bacaan hari ini sebenarnya adalah salah satu konflik antara Yesus vs Farisi, selain ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit busung lapar dan yang sakit punggungnya pada hari Sabat: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?"
Pada bacaan hari ini, Yesus membebaskan orang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat. Namun para ahli Taurat dan kaum Farisi mengawasi Yesus. Mereka menuduh-Nya melanggar hari Sabat hingga mereka meluap dalam amarah.
Disinilah, orang Farisi dan para ahli Taurat gagal memahami tindakan Yesus, mereka memandang apa yang dilakukanNya sebagai pelanggaran hukum. Sedangkan Yesus sendiri lebih mengutamakan perbuatan kasih dan menyelamatkan manusia daripada sekedar ketaatan buta terhadap peraturan.
Melalui tindakanNya, Yesus ingin menunjukkan kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat semangat hari Sabat yang sebenarnya, yakni Sabat merupakan anugerah Tuhan bagi umat manusia (Kel 16:21-30); dengan demikian hari Sabat bukanlah hambatan untuk berbuat kasih terhadap sesama manusia.
Disinilah menjadi nyata ketika seseorang tidak lagi peka mendengar keluh kesah orang yang terbelenggu tapi melulu sibuk pada aturan belaka, maka itu merupakan suatu ruang untuk jatuh dalam dosa (Luk 13:11-14). Bagaimana dengan kita?
"Sungai Sambas ada di Kalimatan - Jadilah pembebas dari segala kejahatan!"
B.
Kutipan Teks Misa:
“Orang-orang yang tidak mau melepaskan diri dari persekutuan anak-anak dunia tidak pernah dapat berkumpul dengan anak-anak Allah.” (St. Leo Agung)
Antifon Pembuka (1Kor 5:7)
Buanglah ragi yang lama, ragi keburukan dan kejahatan, dan jadilah adonan baru.
Doa Pembuka
Allah Bapa, sumber kedamaian, berkenanlah menunjukkan jalan. Tuntunlah kami dengan tangan-Mu. Berikanlah sabda-Mu sebagai pedoman, sebab kami berniat mencari kedamaian-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Dosa percabulan mudah hadir dalam hidup manusia. Dalam hal ini, sikap tegas sangat dibutuhkan. Kuasa Roh Yesus memberi kekuatan untuk mampu bersikap tegas dan berkata, "No!" terhadap percabulan.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (5:1-8)
"Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus."
Saudara-saudara, ada berita bahwa di antara kalian terdapat percabulan; bahkan percabulan yang begitu rupa yang di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun tidak terdapat; yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. Sekalipun demikian, kalian malahan menyombongkan diri. Tidakkah lebih patut kalian berdukacita dan menyingkirkan orang yang berbuat demikian dari tengah-tengah kalian? Sekalipun aku tidak hadir secara badani, namun secara rohani aku hadir, dan aku menjatuhkan hukuman atas orang yang berbuat demikian, seakan-akan aku hadir di tengah kalian. Jadi bila kita, kalian bersama dengan aku, berkumpul dalam Roh dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan kepada Iblis dalam nama Tuhan Yesus, sehingga tubuhnya binasa, tetapi rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. Maka tidak baiklah kalian menyombongkan diri. Tidak tahukah kalian, bahwa ragi yang sedikit saja dapat meresapi seluruh adonan? Maka buanglah ragi yang lama, supaya kalian menjadi adonan yang baru, sebab kalian memang tidak beragi. Sebab Kristus, Anak Domba Paskah kita sudah disembelih. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, melainkan dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, bimbinglah aku dalam keadilan-Mu.
Ayat. (Mzm 5:5-6.7.12)
1. Engkau bukanlah Allah yang berkenan akan kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu. Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau benci terhadap semua orang yang melakukan kejahatan.
2. Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, Tuhan jijik melihat penumpah darah dan penipu.
3. Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; karena Engkau, akan bersukarialah orang-orang yang mengasihi nama-Mu.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.
Menyelamatkan orang adalah hal utama. Itulah misi Yesus. Misi ini mengatasi hukum apa pun juga, termasuk tradisi Sabat.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:6-11)
"Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat."
Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, agar mereka mendapat alasan untuk menyalahkan Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Ia berkata kepada orang yang mati tangan kanannya, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri di tengah. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kalian: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia. Maka meluaplah amarah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat terlalu menyombongkan diri. Jabatan yang mereka emban membuat mereka lupa diri dan bahkan melupakan sesamanya. Mereka tidak peduli dengan penderitaan sesamanya. Namun, di saat Yesus menunjukkan belas kasih-Nya, mereka menganggap sebagai pelanggaran. Padahal, bagi Yesus, keselamatan manusia adalah yang utama. Dunia kita zaman ini butuh orang yang penuh belas kasih dan bukan orang yang kejam dan tidak berbelas kasih.
Antifon Komuni (1Kor 5:7)
Buanglah ragi yang lama, supaya kalian menjadi adonan segar, karena kalian memang tidak beragi.
Doa Malam
Ya Tuhan, ajarilah kami untuk dapat membedakan aturan berbuat baik dan berbuat jahat. Semoga kami tidak mengatasnamakan peraturan dalam melakukan sebuah perbuatan, yang nyata-nyata merupakan perbuatan yang bertentangan dengan semangat cinta kasih. Amin.
====
Bagiku, Yesus adalah harta yang melebihi segala harta (Sta. Teresia dari Avila)
(Mzm 62:67)
Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang dan Dialah segala harapanku. Hanya Dialah pelindung dan penyelamatku. Dia pendukungku, aku takkan goyah.
C.
WEJANGAN PAUS FRANSISKUS
DALAM DOA MALAIKAT TUHAN
9 September 2018 :
"TENTANG MUKJIZAT PENYEMBUHAN SEORANG YANG TULI DAN GAGAP"
Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!
Bacaan Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 7:31-37) mengacu pada kisah mukjizat penyembuhan seorang yang tuli dan gagap, yang diperbuat oleh Yesus. Mereka membawa seorang tuli dan gagap kepada-Nya dan meminta Dia untuk meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Ia, malahan, melakukan berbagai gerakan pada orang itu : pertama-tama, Ia memisahkan dia dari orang banyak.
Pada kesempatan ini, seperti pada orang-orang lainnya, Yesus selalu bertindak dengan kehati-hatian. Ia tidak ingin membuat orang-orang terkesan; Ia tidak sedang mencari ketenaran atau kesuksesan, tetapi Ia hanya ingin berbuat baik kepada orang-orang.
Ia mengajar kita dengan keteladanan ini bahwa kebaikan dilakukan tanpa hiruk-pikuk, tanpa pamer, tanpa “terdengar bunyi terompet”. Kebaikan dilakukan dengan keheningan.
Ketika Ia sendirian, Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang yang bisu dan gagap itu serta meraba lidahnya dengan air liur. Gerakan ini menunjuk pada Penjelmaan. Putra Allah yang sungguh manusia memasuki kenyataan manusia : Ia dijadikan manusia, oleh karena itu Ia dapat memahami kondisi lara dari orang lain dan Ia campur tangan dengan gerakan yang melibatkan kemanusiaan-Nya.
Pada saat yang sama, Yesus menginginkannya dipahami bahwa mukjizat terjadi karena persatuan-Nya dengan Bapa : maka Ia menengadah ke langit.
Kemudian Ia menarik napas dan dengan lantang mengatakan : "Efata", yang berarti, "terbukalah". Dan seketika itu juga orang tersebut sembuh : telinganya terbuka dan pengikat lidahnya terlepas. Bagi-Nya, penyembuhan yang diperbuat oleh-Nya adalah "keterbukaan" terhadap orang lain dan terhadap dunia.
Kisah ini menekankan perlunya penyembuhan ganda : terutama, penyembuhan penyakit dan penderitaan jasmani, memulihkan kesehatan tubuh; bahkan jika tujuan ini tidak dapat tercapai sepenuhnya dalam cakrawala duniawi, meskipun telah diupayakan secara ilmu pengetahuan dan medis.
Tetapi, ada penyembuhan kedua, mungkin lebih sulit, dan penyembuhan tersebut adalah penyembuhan rasa takut; penyembuhan rasa takut yang mendorong kita untuk menelantarkan orang sakit, menelantarkan orang yang sedang menderita, orang cacat.
Dan ada banyak cara penelantaran, juga dengan kesalehan semu atau dengan peniadaan masalah; kita tetap tuli dan bisu dalam menghadapi penderitaan orang-orang yang ditandai oleh penyakit, kesedihan, dan kesulitan.
Terlalu sering orang yang sakit dan menderita menjadi sebuah masalah, padahal mereka seharusnya menjadi kesempatan untuk mewujudkan kepedulian dan kesetiakawanan suatu masyarakat dalam hubungannya dengan orang-orang yang paling tak berdaya.
Yesus telah mengungkapkan kepada kita rahasia mukjizat yang juga dapat kita ulangi, menjadi para pelaku utama "Efata", para pelaku utama kata "terbukalah" yang dengannya Ia mengembalikan kata-kata dan pendengaran orang yang bisu dan gagap tersebut. Ini tentang membuka diri kita terhadap kebutuhan saudara-saudara kita yang sedang menderita yang membutuhkan bantuan, menghindari egoisme dan ketertutupan hati.
Pada kenyataannya, hati, sanubari kita, yang "terbuka", terbebaskan, membuat kita mampu melaksanakan sepenuhnya hubungan kita dengan Allah serta dengan orang lain. Ia menjadi manusia sehingga manusia, yang secara batiniah menjadi bisu dan tuli oleh dosa, mampu mendengarkan suara Allah, suara Sang Kasih yang berbicara kepada hatinya dan dengan demikian belajar untuk berbicara, pada gilirannya, bahasa kasih, menerjemahkannya menjadi gerakan kemurahan hati dan pemberian diri.
Semoga Maria, ia yang “membuka” diri sepenuhnya terhadap kasih Tuhan, mendapatkan bagi kita kemampuan untuk mengalami setiap hari dalam iman, mukjizat “Efata”, melaksanakannya dalam persekutuan dengan Allah dan dengan saudara-saudara kita.
[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari terkasih,
Kemarin di Loreto, di Tempat Suci Kepausan Rumah Kudus, dirayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria dan usulan spiritualitas untuk keluarga diluncurkan : Rumah Maria, rumah setiap keluarga. Kita mempercayakan ikhtiar Tempat Suci dan semua orang yang akan ambil bagian dalam berbagai kapasitas bagi Sang Perawan Suci.
Hari ini di Strasbourg diadakan Beatifikasi Alfonsa Maria Eppinger, Pendiri Suster-suster Sang Juru Selamat yang Mahakudus. Kita bersyukur kepada Allah atas perempuan yang pemberani dan bijaksana ini, yang menderita, dalam keheningan dan doa, memberi kesaksian kasih Allah terutama bagi mereka yang sakit jasmani dan rohani - semuanya bersama-sama bertepuk tangan untuk sang beata baru!
Saya menyambut kalian semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari beberapa negara : keluarga-keluarga, kelompok-kelompok paroki, lembaga-lembaga.
Saya menyambut umat Keuskupan Como, kaum muda para peserta dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Karya Gereja <dan> para calon penerima sakramen krisma dari Prevalle.
Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kalian semua. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya.
Selamat menikmati makan siang dan selamat tinggal! (PS)
D.
MADAH HARIAN PAGI
(Senin, 10 September 2018)
Sumber cahaya mulia
Yang menerangi dunia
Malam Kauhentikan sudah
Kauterbitkan fajar cerah.
Engkaulah terang sejati
Melebihi matahari
Dasar lubuk hati kami
Kausinari Kauselami
Terangilah diri kami
Ya Bapa yang murah hati
Dengan rahmat dan kasih-Mu
Agar selamat selalu
Terpujilah Allah Bapa
Bersama Putra tercinta
Dalam ikatan Roh suci
Sepanjang seluruh hari. Amin.
DOA
Tuhan Allah, raja surga dan dunia, bimbinglah dan kuduskanlah, pimpinlah dan tuntunlah jiwa dan raga kami, hati dan tangan kami, perkataan dan perbuatan kami. Semoga kami selalu mentaati perintah-Mu dan bekerja menurut sabda-Mu. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.
E.
Carpe Diem – Reguklah hari ini.
Sering kali kita terlalu sibuk menambah masalah-masalah baru sehingga kita lupa menghitung berkat-berkat yang kita peroleh padahal satu-satunya persiapan terbaik untuk hari esok adalah menggunakan hari ini sebaik-baiknya karena hari ini, niscaya endapan hari kemarin sekaligus proyeksi esok hari!
Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan; jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan; tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran. Jika kita terlalu sibuk melihat masa lalu atau bahkan cemas terhadap kehidupan masa mendatang, kita tidak akan mudah u/melihat Tuhan.
Jangan biarkan hidup kita terpuruk di masa lampau atau dalam mimpi di masa depan karena satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup u/seluruh waktu hidupmu. Tak ada orang yg akan tenggelam oleh beban satu hari.Tetapi bila beban esok ditambah ke beban hari ini, tak ada org yang sanggup menanggungnya.
Mari mengayuh dan mari melaju bersama Tuhan! Vaya con Dios – Pergilah bersama Tuhan.