Ads 468x60px

DOA NOVENA PADRE PIO



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
SERIAL "PIO" - "Pax In Omnibus"
(Damai Semuanya. Semuanya Damai)
DOA NOVENA PADRE PIO.
DOA PERTOBATAN.
Ya Tuhan, aku sangat menyesal telah menghina Engkau,
aku membenci semua dosaku dan takut akan kehilangan Surga dan menderita Neraka, dan terutama karena dosaku telah menyinggung Engkau, Tuhanku, -yang Mahabaik dan layak kucintai seluruhnya.
Aku sungguh memohon, dengan bantuan rahmatMu, untuk mengakui dosa-dosaku, untuk melakukan penitensi, dan untuk mengubah hidupku. Amin.
DOA PEMBUKA
Santo Padre Pio, selama 50 tahun, pada tubuhmu engkau mengenakan luka-luka Kristus dan engkau dengan rela menderita bagi orang lain.
Engkau tidak pernah melepaskan mahkota sengsara melainkan terus menyediakan waktu untuk berbicara, untuk mendengarkan, dan untuk mendoakan orang lain.
Perolehkanlah bagiku sekarang, seperti yang pernah kau katakan, “seperti mutiara disatukan dengan seutas benang, demikianlah kebajikan disatukan oleh amal budi, dan seperti mutiara akan jatuh ketika benangnya putus, begitu pula kebajikan hilang jika perbuatan amal melemah.”
HARI ke-1.
“Adalah untuk kebaikanmu, untuk menjalani penderitaan yang dikirimkan Yesus kepadamu.
Yesus tidak dapat tahan melihat engkau menderita dan Ia akan datang kepadamu dan menghiburmu, memberkatimu dengan banyak rahmat bagi jiwamu.”
-Padre Pio
Padre Pio terkasih, engkau telah menerima tanda sengsara Tuhan kita Yesus Kristus pada tubuhmu. Engkau telah mengenakan luka-lukaNya untuk semua orang, menanggung derita pada raga dan mentalmu dalam pengorbanan terus menerus.
Kami memohon kepadamu, doakanlah kami, agar kami dapat rela menerima salib besar dan kecil yang juga harus kami tanggung di dalam hidup kami di dunia, dan mempersembahkan penderitaan kami kepada Allah, dan dengan demikian boleh memperolehkan tempat bagi kami bersamaNya dalam kehidupan abadi.
Dilanjutkan dengan
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
Ya Yesusku, Engkau telah berkata:
“Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu".
Di hadapanMu aku mengetuk, aku mencari, dan aku memohon rahmat untuk... (sebutkan permohonan).
Bapa Kami...
Salam Maria...
Kemuliaan...
Hati Yesus yang Mahakudus, aku percaya kepadaMu.
Ya Yesusku, Engkau telah berkata :
"Apa saja yang kau minta kepada BapaKu dalam NamaKu, Dia akan memberikannya kepadamu",
Di dalam NamaMu, aku memohon kepada Allah rahmat untuk... (sebutkan permohonan).
Bapa Kami...
Salam Maria...
Kemuliaan...
Hati Yesus yang Mahakudus, aku percaya kepadaMu.
Ya Yesusku, Engkau telah berkata :
"Langit dan bumi akan musnah, tetapi SabdaKu tidak akan musnah"
Dengan penuh kepercayaan kepada SabdaMu, aku memohon rahmat untuk... (sebutkan permohonan)
Bapa Kami...
Salam Maria...
Kemuliaan...
Hati Yesus yang Mahakudus, aku percaya kepadaMu.
O Hati Kudus Yesus, yang tidak pernah tidak menaruh belaskasih kepada orang yang menderita, kasihanilah kami pendosa malang dan karuniakanlah rahmat yang kami mohonkan kepadaMu, melalui Hati Berduka Maria, BundaMu dan Bunda kami.
Doa SALAM YA RATU
Salam, Ya Ratu, Bunda yang berbelas kasih,
hidup, hiburan dan harapan kami,
dengarkan kami anak Hawa yang terbuang.
Bunda, perhatikanlah keluh kesah kami
dalam lembah duka ini.
Ya Ibunda, ya pelindung kami, dengan mata
yang memancarkan belas kasihan pandanglah kami;
Dan kelak, tunjukkanlah kepada kami,
Yesus, buah rahimmu yang terpuji.
Maria, yang pemurah, ya Perawan yang baik hati.
O Ratu, o Ibu, o Maria Bunda Kristus.
Santo Yosep, doakanlah kami.
--------------
HARI Ke-2
"Miliki keberanian dan jangan takut akan serangan Iblis.
Ingatlah ini selamanya; bahwa adalah tanda yang baik jika iblis berteriak dan mengaum di sekitar hati nuranimu, karena ini menunjukkan bahwa dia tidak berada di dalam kehendakmu"
- Padre Pio
Santo Padre Pio, bersama dengan Tuhan kita Yesus Kristus, engkau telah dapat menahan godaan setan.
Engkau telah menderita dipukul dan ditindas iblis neraka, yang ingin agar engkau meninggalkan perjalanan kekudusanmu.
Kami memohon, doakanlah kami sehingga, dengan bantuanmu dan bantuan dari Kerajaan Surgawi, kami dapat menemukan kekuatan untuk menyingkirkan dosa dan bertekun dalam iman sampai saat kematian kami.
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
DOA SALAM YA RATU
--------------
HARI ke-3
"Maria adalah bintang yang menerangi jalanmu dan dia akan menunjukkan arah yang menuju kepada Bapa Surgawi.
Maria adalah jangkar yang harus kau pegang di saat pencobaan."
- Padre Pio
Santo Padre Pio yang saleh, engkau sangat mencintai Bunda Suci kita dan telah menerima rahmat dan penghiburan setiap hari darinya.
Tolonglah kami, doakanlah kami kepada Bunda Suci.
Tempatkan di tangannya segala kesedihan atas dosa-dosa kami, dan juga doa-doa kami, sehingga, seperti yang terjadi di Kana Galilea, Anak-Nya mengatakan 'ya' kepada Bunda-Nya, dan nama kami dapat ditulis dalam Kitab Kehidupan Kekal.
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
DOA SALAM YA RATU
--------------
HARI KE-4
"Libatkan dan mintalah selalu kepada Malaikat Pelindungmu, yang akan mencerahkan budimu dan membimbingmu.
Tuhan telah memberikan malaikat untuk melindungimu, oleh karena itu, kau harus memakainya untuk keperluan itu"
- Padre Pio
Santo Padre Pio, engkau yang mencintai Malaikat Pelindungmu, yang telah melayanimu dengan baik sebagai pemandumu, sebagai pembela dan pembawa pesan.
Para malaikat membawa doa putra putri rohanimu kepadamu.
Kami memohon, doakanlah kami, agar kami dapat belajar untuk memanggil Malaikat Pelindung kami yang selalu siap untuk membimbing kami kepada apa yang baik dan untuk menghindarkan kami terjatuh ke dalam perbuatan- perbuatan dosa.
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
DOA SALAM YA RATU
-----------------
HARI Ke-5
"Ya Tuhan, aku memohon,
Biarlah aku menanggung hukuman yang telah dipersiapkan untuk orang-orang berdosa dan jiwa-jiwa di Api Penyucian.
Lipat gandakan hukuman ini bagiku, agar Engkau bisa memaafkan dan menyelamatkan orang-orang berdosa dan membebaskan jiwa mereka dari api penyucian."
- Padre Pio
Santo Padre Pio yang suci, engkau memiliki pengabdian yang besar untuk Jiwa -jiwa di Api Penyucian, engkau menawarkan dirimu sebagai korban bagi hukuman mereka.
Doakanlah kami dan mintalah agar Tuhan memberikan kepada kami; perhatian, kasih sayang dan cinta yang sama seperti yang kau miliki untuk jiwa-jiwa ini.
Supaya dengan cara ini, kami juga akan membantu untuk mengurangi penderitaan mereka dan dengan pengorbanan dan doa kami, dapat memenangkan bagi mereka, indulgensi yang mereka butuhkan.
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
DOA SALAM YA RATU
-----------------
HARI KE-6
"Jika saya tahu bahwa seseorang menderita dalam pikiran, tubuh atau jiwanya, saya akan memohon kepada Tuhan untuk membebaskannya dari penderitaannya.
Saya dengan senang hati akan menerima pengalihan penderitaannya kepada diri saya sendiri, agar dia dapat diselamatkan, dan saya akan meminta agar dia mendapatkan keuntungan dari buah penderitaan ini ... jika Tuhan mengizinkan saya melakukannya."
-Padre Pio
Padre Pio yang patuh, engkau telah mengasihi orang-orang yang sakit lebih dari dirimu sendiri, karena engkau dapat melihat Yesus di dalam diri mereka.
Engkau telah melakukan banyak mukjizat dengan menyembuhkan orang dalam nama Yesus dan dengan demikian memberi mereka kedamaian.
Kami memohon, doakanlah kami, juga semua orang yang sakit, agar melalui perantaraan Bunda Maria, dapat disembuhkan dan kami dipulihkan sehingga boleh memperoleh manfaat dari Roh Kudus dan oleh karenanya, kami bersyukur dan memuji Tuhan selamanya.
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
DOA SALAM YA RATU
-----------------
HARI KE-7
"Jika saja orang-orang di dunia dapat melihat keindahan jiwa seseorang saat berada dalam kasih karunia Allah, semua orang berdosa dan orang-orang yang tidak percaya di dunia ini akan segera bertobat."
- Padre Pio
Santo Padre Pio, engkau telah turut bekerja dalam rencana keselamatan Allah, dengan menawarkan penderitaanmu untuk membebaskan orang-orang berdosa dari rantai Iblis.
Kami meminta, doakanlah kami, supaya orang-orang yang tidak percaya akan bertobat dan beralih kepada iman,supaya semua orang berdosa akan bertobat di dalam hati mereka dan mereka yang memiliki hati suam-suam kuku akan menemukan semangat baru dalam hidup Kristiani.
Doakanlah juga untuk semua orang yang setia, agar mereka bertekun dalam perjalanan menuju keselamatan.
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
DOA SALAM YA RATU
-----------------
HARI KE-8
"Akan paling memuaskan harapanku, jika Tuhan akan mengabulkan satu harapanku saja, jika mungkin; bahwa Dia akan berkata, "Masuklah ke Surga!"
Inilah satu-satunya harapan sejati saya; Bahwa Tuhan akan membawa saya ke Surga pada saat yang sama dengan yang terakhir dari anak-anak saya dan orang terakhir yang telah diserahkan ke dalam perawatan imamat saya telah masuk."
- Padre Pio
Santo Padre Pio yang murni, engkau memiliki cinta yang besar untuk anak-anak rohanimu dan telah membantu mereka dengan mendapatkan mereka untuk Kristus dengan pengorbanan darah.
Tolonglah dan berikanlah kepada kami, yang belum pernah bertemu dengan engkau secara pribadi, kesempatan untuk dianggap sebagai anak-anak rohanimu.
Dengan cara ini, dengan perlindungan, bimbingan dan kekuatanmu, engkau akan mendapatkan bagi kami berkat khusus dari Tuhan, sehingga kami dapat bertemu denganNya pada hari kematian kami di gerbang Surga.
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
DOA SALAM YA RATU
-----------------
HARI KE-9
"Kau harus selalu menjaga dirimu berada di jalan lurus dan sempit di Gereja Katolik Suci karena Gereja adalah satu-satunya Mempelai Kristus dan yang dapat memberimu kedamaian.
Gereja sendiri saja yang memiliki Yesus di dalam Sakramen Mahakudus, yang adalah Raja Damai sejati."
- Padre Pio
St. Padre Pio yang rendah hati, Engkau yang begitu mencintai Gereja Katolik Roma, doakanlah kami.
Semoga Sang Pemilik mengirim pekerja untuk mengumpulkan panenan dan memberi mereka kekuatan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi anak-anak Allah.
Doakanlah agar Bunda Suci kita akan mempersatukan orang-orang Kristen di mana saja, menghibur mereka semua di satu rumah besar Tuhan, pokok keselamatan kami dalam badai kehidupan, bagikan mercusuar yang menjadi tuntunan bagi keselamatan kembali ketika ada badai di laut.
DOA KEPADA HATI KUDUS YESUS.
DOA SALAM YA RATU
-----------------
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
------



SERIAL "PIO" - "Pax In Omnibus"
(Damai Semuanya. Semuanya Damai)
RIWAYAT - HIKAYAT PIO
KISAH MUKJIZAT PIO
ANEKA DEVOSI PIO
STIGMATA & PENJELASANNYA
VISION & MISSION
RELIKUI & TRADISI GEREJA
"Compassionate Motherhood - Keibuan yang Berbelaskasihan."
Padre Pio (Lat: Pater, Itali: Padre, Ing: Father) yang lahir pada 25 Mei 1887 di Pietrelcina, Italia dan meninggal pada 23 Sept 1968 adalah seorang biarawan Kapusin yang penuh “HIK” – “Harapan Iman Kasih”, dan juga mengalami Perang Dunia I & II, Konsili Vatikan II serta revolusi tahun 1960an.
Adapun 3 sikap compassionate motherhood-nya yang bisa kita ingat, al:
1. Kehangatan.
Ia kerap mengatakan kepada orang banyak: "Berdoalah, Berharaplah & Janganlah kuatir." Tiga kata itulah yang memberikan kehangatan ilahi: penghiburan dan penyembuhan kepada jutaan orang.
Inilah tiga kata singkat dari Francesco alias Padre Pio, dilahirkan pada 25 Mei 1887 di Pietrelcina, Italia sebagai anak ke-5 dari 8 anak keluarga petani Grazio Forgione & Maria Giuseppa De Nunzio.
Pada 6 Jan 1903, ia masuk novisiat Kapusin di Morcone. Pada 22 Jan, ia menerima jubah Fransiskan dan mendapat nama "Broeder Pio".
Karena kesehatannya yang buruk, setelah
ditahbiskan sebagai imam pada 10 Agust 1910 dan dikenal dengan nama Padre Pio (Lat: Pater, Itali: Padre, Ing: Father), ia harus tinggal kembali bersama keluarganya. Ia divonis infeksi paru dan hidupnya hanya tinggal sebulan saja.
Syukurlah, pada Sept 1916, ia membaik dan diutus ke Biara San Giovanni Rotondo. Disini, ia kerap tenggelam dalam doa yang khusuk: “Dalam kitab-kita mencari Tuhan, dalam doa-kita menemukanNya." 20 Sept 1918, ketika berdoa di depan Salib di kapel tua, ia mendapat stigmata yang terus terbuka dan mencucurkan darah selama 50 tahun.
Ya, Padre Pio adalah imam pertama yang menerima stigmata. Akibatnya, setiap pagi, sejak pukul 4 pagi, selalu ada ratusan bahkan ribuan orang menantinya. Ia tidur tak lebih dari 2 jam setiap harinya dan selalu mempersiapkan diri dalam Misa dan Sakramen Tobat.
Hidupnya penuh dengan karunia mistik: membaca batin, bilokasi, levitasi dan jamahan yang menyembuhkan. Hidupnya berpola salib: vertikal-dengan membentuk “Kelompok Doa” dan horizontal dengan mendirikan rumah sakit “Casa Sollievo della Sofferenza” (Rumah untuk Meringankan Penderitaan).
2. Kesetiaan.
Ia menjadi orang kudus bukan karena semata aneka karunia rohani tapi lebih karena setia pada Yesus & GerejaNya. Pada awalnya, ia setia mendengarkan pengakuan dosa ribuan orang yang datang kepadanya.
Karena kesetiaannya pada doa devosi & matiraga, ia juga menjadi pribadi yang "sensual", yakni peka/memiliki kemampuan membaca isi hati orang lain.
Nah, karena puluhan ribu orang datang kepadanya, termasuk yang pernah datang kepadanya ialah Karol Woytilla alias St.Yohanes Paulus II, ada juga banyak orang yang memfitnah dan mempergunjingkannya dengan pelbagai motivasi kurang baik.
Akhirnya pada Juni 1922, akses publik kepadanya dibatasi bahkan pada 9 Juni 1931, ia pernah mendapat suspensi, ia diminta untuk “menghentikan” semua kegiatan, bahkan dilarang mendengarkan pengakuan dan merayakan sakramen lainnya, kecuali misa kudus secara pribadi.
Yang pasti, selama dikekang dan dicap buruk, dia tidak pernah sekalipun mengeluh dan mencaci maki terhadap Gereja dan para pembesarnya.
Ketika dia ditanya soal perlakuan tidak adil yang diterimanya dari Gereja, dia berkata: "Kita harus tetap mencintai Gereja karena Gereja adalah Bunda kita." Ia mengingatkan kita akan nilai dari kesetiaan kepada Gereja, bahkan saat kita banyak dilukai oleh otoritas Gereja, oleh rekan seiman-seimam dan seperjalanan.
3. Kasih.
Inilah nada dasar hidupnya. Ia jelas mengasihi Tuhan, Gereja & semua orang diantarnya kepada sumber kasih yang sejati yakni Tuhan Allah sendiri: "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus." (Im 19:2).
Sebenarnya, yang paling luar biasa dalam hidupnya bukan mukjizat penyembuhan tapi pelayanannya di altar, di mana ia menjadi satu dengan Kristus yg tersalib: “Perbaharuilah imanmu dengan menghadiri Misa Kudus. Jagalah pikiranmu tetap terpusat pada misteri yang disingkapkan dihadapan kita. Dalam mata pikiranmu, pindahkanlah dirimu ke Kalvari dan renungkanlah Kurban yang mempersembahkan diri-Nya kepada Keadilan Ilahi, yang membayar harga penebusanmu” .
23 Sept 1968, ia wafat dan kamarnya dipenuhi harum semerbak seperti bau harum yang memancar dari luka-lukanya selama 50 tahun.
20 Febr 1971, Paus Paulus VI berbicara tentangnya kepada para Superior Ordo:
“Lihat, betapa masyhurnya dia, betapa seluruh dunia berkumpul! Mengapa? Apakah mungkin karena ia filsuf? Karena ia bijak? Karena ia cakap? Bukan! Tapi karena ia mempersembahkan Misa dengan rendah hati, mendengarkan pengakuan dosa dari fajar hingga gelap. Ia adalah dia yang menyandang luka-luka Tuhan karena ia adalah manusia yang berdoa dan yang menderita.”
Ia jelas menjadi "sahabat Tuhan". Proses persiapan pengumpulan informasi untuk beatifikasinya secara resmi dimulai oleh Uskup Manfredonia, Italia pada tanggal 4 November 1969. Proses beatifikasinya secara resmi dibuka pada tahun 1982 oleh Kongregasi yang menangani bidang ini di Vatikan.
Padre Pio dibeatifikasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 9 Mei 1999 dan Paus yang sama mengangkatnya menjadi seorang Santo pada tanggal 16 Juni 2002 di Roma.
Doa St. Padre Pio:
Tinggallah denganku Tuhan, karna kehadiranMu kuperlukan sehingga aku tidak melupakanmu.
Tinggallah denganku Tuhan, karna aku lemah dan membutuhkan kekuatanMu.
Tinggallah denganku Tuhan, karna Engkau adalah hidupku, dan tanpaMu, aku tanpa semangat.
Tinggallah denganku Tuhan, karna Engkau adalah terangku, dan tanpaMu, aku berada dalam kegelapan.
Tinggallah denganku Tuhan, untuk menunjukkan aku kehendakMu.
Tinggallah denganku Tuhan, sehingga aku mendengar suaraMu dan mengikutiMu.
Tinggallah denganku Tuhan, karna aku ingin mencintaiMu dan selalu berada dalam persahabatanMu.
Tinggallah denganku Tuhan, jika Engkau menghendakiku untuk setia padaMu.
Tinggallah denganku Tuhan, karna semiskinnya jiwaku, aku berharap jiwaku menjadi tempat penghibur dan persembunyian kasihMu.
Tinggallah denganku Tuhan, karna hari sudah sore dan akan berakhir berlalu.
Tinggallah denganku malam ini, Tuhan, dalam hidup dengan segala bahaya, aku memerlukanMu.
Ijinkan aku mengenalMu sebagai muridMu di saat pemecahan roti, sehingga persekutuan ekaristi menjadi terang yang menghilangkan kegelapan, kekuatan yang menahanku, kebahagiaan unik dari hatiku.
Tinggallah denganku Tuhan, karna pada saat kematianku, aku ingin tetap disatukan denganMu, jika bukan oleh komuni, paling tidak oleh kasih dan rahmatMu.
Tinggallah denganku, aku tidak meminta sukacita ilahi karna aku tidak pantas, tapi hadiah keberadaanMu.
Tinggallah denganku Tuhan, karna Engkau sendirilah yang kucari.
KasihMu, RahmatMu, RohMu, karna aku mencintaiMu dan tidak meminta hadiah lain kecuali untuk mencintaiMu lebih lagi.
Dengan kasih yang mantap, aku akan mencintaiMu di bumi dengan segenap hatiku dan tetap mencintaiMu dengan sempurna dalam keabadian.
Amin.
“Perbaharuilah imanmu dengan menghadiri Misa Kudus. Jagalah pikiranmu tetap terpusat pada misteri yang disingkapkan dihadapan kita. Dalam mata pikiranmu, pindahkanlah dirimu ke Kalvari dan renungkanlah Kurban yang mempersembahkan diri-Nya kepada Keadilan Ilahi, yang membayar harga penebusanmu” (Padre Pio).
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
A.
Beberapa Kisah Pertolongan Padre Pio:
Sebuah Antologi.
1. "Sembuh dari Kanker"
Suatu waktu, kami diminta untuk berdoa Novena kepada Padre Pio untuk seorang anak berusia 13 tahun yang sedang sekarat karena menderita tumor di bagian bawah perutnya.
Anak yang sakit tersebut bernama Michael Andrews, tumornya sebesar bola baseball di bagian perut bawah dan dapat terlihat jelas seperti bengkak yang besar.
Pada suatu malam, ibunya mendengarnya menjerit dalam kesakitan. Segera ibunya berlari masuk ke kamarnya tapi menemukan anak itu sedang tertidur. Ibunya merasa heran. Sesuatu membuatnya menoleh dan memperhatikan gambar Padre Pio yang tergantung di dinding kamar, semua bagian putih dari foto itu seakan bersinar dalam kegelapan.
Mengira itu adalah pantulan sinar dari luar, sang ibu menutup rapat pintu sehingga tidak ada cahaya apapun yang masuk.
Namun demikian, gambar Padre Pio tetap bersinar. Sang ibu meraba gambar itu dengan jari-jarinya dan sinar itu memang ada di sana.
Setelah sesaat, perlahan menghilang dan kamar kembali dalam kegelapan.
Keesokan paginya, Michael merasakan bagian bawah perutnya rata, tumor besarnya tidak terasa dan tidak teraba, hilang.
Ketika diperiksakan ke rumah sakit, dokter juga tidak dapat menemukannya.
- Dikisahkan oleh M. Shaw
===========
2. "Sarung tangan Padre Pio"
Elizabeth, putriku, berumur 8 tahun ketika ia didiagnosa menderita "hodgkin", sejenis kanker.
Ia dirawat di Rumah Sakit Our Lady's Children di Dublin berminggu- minggu.
Aku biasa mengunjunginya saat istirahat
makan siangku setiap hari dan pada sore hari sebelum pulang ke rumah.
Lehernya telah terjangkiti penyakitnya dan membuatnya tak dapat berbicara.
Suatu hari, suster kepala perawat yang merawat putriku, mengajakku untuk berbicara privat, ia tidak mau istriku mengetahui karena istriku agak terguncang dan kurang stabil emosinya.
Suster mengatakan padaku bahwa Elizabeth nampaknya tidak akan mampu bertahan lagi dengan kankernya.
Setelah mendengarnya, aku ke biara Kapusin St. Maria of the Angels di Dublin.
Salah seorang imam di sana, Pastor John, memiliki sarung tangan Padre Pio.
Aku memintanya untuk mengunjungi Elizabeth dan memberi berkat kepadanya.
Aku sendiri, berdevosi kepada Padre Pio sudah beberapa tahun, dan menghadiri misa harian sudah lebih dari 50 tahun, sejak dari tahun 1960.
Pastor John datang ke rumah sakit dan memberkati Elizabeth dengan memakai sarung tangan Padre Pio dan juga memberkati anak-anak sakit lainnya.
Tak lama setelahnya, aku saat itu sedang makan siang di restoran Fish and Chip di jalan Kimmage, ketika tiba-tiba sekeliling menjadi wangi bunga mawar.
Aku sadar seketika bahwa itu adalah kehadiran Padre Pio dan merasa agak aneh bahwa Padre Pio hadir di tempat seperti ini.
Beberapa hari kemudian, suster kepala perawat memberi-tahu kan berita luar biasa, bahwa semua hasil tes Elizabeth menunjukkan normal.
Putriku berangsur sembuh dengan sempurna dan suaranya juga pulih kembali.
Ketika ia bertambah dewasa, ia menjadi penyanyi profesional berkeliling Eropa.
Aku sungguh percaya, adalah lewat perantaraan Padre Pio lah, putriku mendapat kesembuhan ajaibnya.
- Dikisahkan oleh Michael Gormley
=======
3. "Medali Padre Pio"
Kakak lelakiku; ayah dari sepasang putri kembar yang manis; punya masalah minum-minum, mabuk dan suka memukul selama bertahun-tahun.
Saking kecanduan minum, ia tidak bersama keluarganya lagi dan tidak memberi perhatian kepada putri-putrinya, malahan ia tinggal di tenda bersama para tuna wisma, tidak jauh dari rumah orang tua kami.
Aku berdoa dan berdoa untuknya, agar ia menemukan kembali jalan yang benar dan kembali kepada keluarganya dan hidup yang baik.
Aku berbicara kepadanya tentang Tuhan, tentang Bunda Maria, tanpa hasil.
Terakhir, aku memberinya kartu doa dan medali Padre Pio.
Lalu, nampaknya doa-doaku mendapat jawaban. Kakakku mau masuk ke rehabilitasi untuk pecandu obat dan alkohol, mengikuti grup pendukung untuk menghentikan kecanduannya.
Ia kini memiliki pekerjaan dan kembali tinggal di rumah orang tua kami.
Dia juga mulai bertemu rutin mingguan dengan putri-putri manisnya.
Beberapa hari lalu, aku kebetulan melihat, pada jaket yang ia pakai sehari-hari, tergantung pada resletingnya, medali Padre Pio.
Aku menyadari, adalah Padre Pio lah yang telah membantunya bangkit dan memberinya kekuatan yang ia butuhkan.
- Dikisahkan oleh Bridget Walsh
=======
4. "Kembalinya 'si mantan'"
Suamiku seorang "mantan" Katolik.
Dia berhenti pergi ke Gereja.
Aku menaruh kartu doa yang ada relic Padre Pio di bawah bantalnya, ia tidak tahu hal itu, bahwa ia tiap hari tidur di atas kartu doa.
Pada ulang tahunnya di 23 September, pada kartu ucapan selamat ulang tahun untuknya, aku melampirkan kartu doa yang sama.
Aku berdoa kepada Padre Pio, memohon agar membawa suamiku kembali kepada iman dan bertobat.
3 hari kemudian, ketika aku sedang bersiap hendak tidur dan mengucapkan selamat malam, suamiku berkata padaku, "Lorna, tadi siang, aku pergi ke pengakuan dan bahkan naik bus untuk pergi ke Misa, dan menerima komuni."
Oh Puji Tuhan !!
Terima kasih Padre Pio !!
- Dikisahkan oleh Lorna Smyth
=======
5. "Doakan jiwa-jiwa di Api penyucian"
Pada tahun 1964, aku bepergian dari Filipina ke San Giovanni Rotondo bersama orang tua dan adik-adikku untuk mengunjungi Padre Pio. Akan tetapi sesampainya di sana, kami tak berhasil menemuinya karena beliau sedang sakit saat itu, dan kami meninggalkan San Giovanni dengan kecewa dan berat hati.
Pada Juni 2006, aku berkesempatan pergi ke sana lagi dalam perjalanan ziarah.
Kami melihat relic nya, rumahnya, Gerejanya, Gereja yang baru dibangun untuk menghormatinya adalah sebuah Basilika yang besar.
Tapi aku lebih tertarik kepada Gereja yang lama", Gereja Our Lady of Grace.
Aku merasakan dengan kuat kehadiran Padre Pio di sana.
Di Gereja lama ini, aku berlutut di samping tempat pengakuan Padre Pio dan berdoa kepadanya dan mengakukan dosa.
Aku mencoba mengingat-ingat dosa-dosa dalam hidupku dan dengan rendah hati meminta pengantaraannya akan pengampunan Tuhan.
Lalu, dalam hatiku, aku merasa seolah Padre Pio berbicara kepadaku.
Aku merasa bahwa ia menginginkan aku untuk berdoa satu kali Bapa Kami, satu kali Salam Maria, dan satu kali Kemuliaan, "untuk jiwa-jiwa di api penyucian"; setiap hari seumur hidupku.
Setelahnya, aku mengunjungi toko buku di samping Gereja, dan di sana aku menemukan buku dengan gambar wajah Padre Pio pada covernya dengan judul "The Holy Souls - Jiwa-jiwa Suci".
Aku membelinya dan kemudian mempelajari bahwa Padre Pio mempersembahkan Misa-Misa, doa-doa, dan amal bakti untuk menolong jiwa-jiwa di Purgatorium.
Aku tidak mengetahui hal ini sebelum aku membaca buku ini.
Aku merasa sungguh doaku didengar Padre Pio dan ia sungguh telah berbicara kepada hatiku.
- Dikisahkan oleh Carmelino P. Alvendia, Jr
===========
6.Pada Perang Dunia II, di Bari, Italia terdapat markas besar Angkatan Udara Amerika.
Banyak perwira yang mengaku "diselamatkan" Padre Pio selama perang.
Bahkan Komandan Jenderal pun mengalami dan menyaksikan hal yang menakjubkan.
Seorang Komandan Lapangan suatu waktu hendak memimpin sepasukan pengebom untuk menghancurkan tempat penyimpanan senjata Jerman yang terletak di San Giovanni Rotondo.
Sang komandan menceritakan, "ketika pesawat-pesawat mendekati sasaran, kami melihat, di angkasa, seorang pertapa dengan tangannya terangkat.
Bom bom yang kami bawa berjatuhan sendiri ke dalam hutan. Pesawat-pesawat kami berbalik sendiri tanpa digerakkan pilot.
Semua keheranan dan bingung bagaimana pesawat-pesawat kami seakan "patuh" pada pertapa tersebut. Salah seorang pilot berkata, "memang pernah mendengar ada pertapa di San Giovanni yang dapat membuat mukjizat."
Komandan bertekad, nanti setelah perang selesai dan aman, ia akan mengunjungi dan melihat apakah pertapa yang dimaksud, sama seperti yang mereka lihat di angkasa.
Setelah perang berlalu, ia pergi ke biara Kapusin bersama beberapa pilot.
Baru saja memasuki Sakristi, ia bertemu dengan banyak imam pertapa, yang salah satunya ia kenali sebagai yang ia lihat di angkasa yang menghentikan pesawatnya bertahun silam : Padre Pio.
Padre Pio, di saat yang sama, mendekatinya juga dan bertanya, "Apakah anda ini yang hendak membunuh kami semua ?"
Namun, dari bahasa tubuh, kata-kata, dan pandangan mata dari Padre Pio, komandan lega dan jatuh berlutut.
Padre Pio berbicara dengannya dengan bahasa aslinya, namun sang komandan yakin mendengar dan mengerti perkataannya dalam bahasa Inggris.
Ini rupanya salah satu "karunia" Padre Pio.
Keduanya menjadi sahabat, dan sang komandan, yang sebelumnya seorang Protestan, menjadi Katolik.
B.
Devosi Padre Pio.
Adapun butir-butir devosi di bawah ini disadur dari sebuah buku karangan Peter Dwan, “PADRE PIO – HIS MESSAGE FOR TODAY, terbitan A.C.T.S. Publications (# 1743), March 1981.
1.
MISA KUDUS.
Dalam menilai kehidupan Padre Pio, orang harus ingat bahwa Misa Kudus adalah peristiwa paling penting dalam kehidupannya sehari-hari. Hal inilah yang kita harapkan dari setiap imam yang baik, namun sayangnya banyak umat Katolik kurang menghargai arti dari Misa Kudus ini.
Menurut Peter Dwan, malah ada sejumlah katekis yang telah berani – pada waktu dia menulis bukunya itu – mengatakan bahwa Misa Hari Minggu bukan lagi suatu kewajiban bagi umat untuk menghadirinya. Sementara itu ada sejumlah imam yang begitu sibuk dengan berbagai kegiatan sehingga mereka mengklaim bahwa mereka tidak mempunyai waktu untuk merayakan Misa Kudus pada hari Minggu. Devosi Padre Pio dalam hal Misa Kudus ini merupakan pelajaran yang amat dibutuhkan dewasa ini.
2.
PENGAKUAN DOSA.
Kehidupan Padre Pio menunjukkan pentingnya kerasulan pengakuan dosa. Paus Paulus VI menegur para imam yang mencoba untuk menghindar dari berdiam cukup lama di dalam kamar pengakuan. Sekali peristiwa Padre Pio mengalami bilokasi ke Basilika Santo Petrus, Roma agar dapat mendengarkan pengakuan dosa seorang perempuan yang membutuhkan bimbingannya.
3.
MARIA.
Devosi Padre Pio kepada Bunda Maria sangatlah besar. Beberapa kali Bunda Maria menampakkan diri kepadanya. Paling sedikit satu kali, Maria menampakkan diri kepada Padre Pio selagi dia merayakan Misa Kudus.
Mengenai penglihatan itu, Padre Pio mengatakan:
“Dengan penuh perhatian dia (Maria) menemaniku ke altar pada pagi hari ini. Seakan-akan dia tidak mempunyai apa-apa untuk dipikirkannya selain agar aku mengisi hatiku dengan afeksi-afeksi yang kudus. Aku merasakan api yang misterius dari hatiku yang aku tidak dapat mengerti. Aku merasakan perlu untuk menaruh es dalam hatiku agar dapat menghilangkan api yang sedang membakar aku! Aku ingin mempunyai suatu suara yang cukup keras untuk mengundang para pendosa dunia agar mengasihi Bunda Maria.”
Padre Pio menjalani devosi rosario dengan tidak tanggung-tanggung dan ia seringkali terlihat sedang memegang rosario dan berdoa. Pada saat imam suci ini meninggal dunia, dia sedang memegang rosario, dan kata-katanya yang terakhir adalah “Yesus, Maria.” Kepada orang-orang yang datang kepadanya untuk bimbingan spiritual, Padre Pio memberi nasihat agar mereka berdoa rosario setiap hari. Padre Pio menggunakan semua waktu luangnya dengan berdoa rosario.
Disamping devosinya kepada Bunda Maria lewat doa rosario, Padre Pio sadar akan kuasa dari doa “Salam Maria”.
Ketika seorang laki-laki dari Milano datang mengunjunginya, Padre Pio bertanya kepadanya mengapa dia sampai ‘begitu-begitunya’ melakukan perjalanan yang jauh dari Milano untuk menemuinya.
Lalu Padre Pio meyakinkan orang itu bahwa mendoakan “Salam Maria” lebih menguntungkan bagi jiwanya daripada melakukan perjalanan jauh itu. Penting untuk diingat bahwa Santo Louis de Montfort mengklaim bahwa dia dapat mengatakan sampai seberapa jauh hidup seseorang bagi Allah dari devosi orang itu berdoa “Salam Maria” dan rosario.
Devosi Padre Pio kepada Bunda Maria dipengaruhi oleh penampakan-penampakannya di Fatima. Tahu bahwa Maria di Fatima telah minta kepada umat untuk berdoa rosario menyebabkan Padre Pio lebih bersemangat untuk mempromosikan doa rosario. Bala Tentara Biru Santa Perawan dari Fatima mencari bantuan dan doa-doa dari Padre Pio untuk mempromosikan pesan Fatima. Padre Pio bernubuat bahwa komunisme akan dikalahkan apabila anggota Bala Tentara Biru itu berjumlah sama dengan orang-orang komunis.
Pada tahun 1959 ketika kelihatannya bahwa Saudari Maut sudah datang mendekat, Patung Santa Perawan dari Fatima untuk para peziarah datang ke San Giovanni Rotondo.
Melihat bahwa para atasannya tidak melarang, Padre Pio bersikukuh untuk meninggalkan tempat tidurnya agar dapat menghormati patung ajaib itu. Pater Pio disembuhkan dari sakitnya. Setelah peristiwa itu Padre Pio membuat sebuah deklarasi formal tentang kesembuhan instan yang dialaminya berkat pengantaraan Santa Perawan dari Fatima. Sebagai rasa syukurnya, Padre Pio mengirimkan sebuah salib ke Fatima.
Beberapa bulan kemudian delegasi Bala Tentara Biru datang untuk menghadiahkan kepada imam suci ini sebuah patung Santa Perawan dari Fatima berupa ukiran tangan. Padre Pio menaruh patung itu di atas meja di sakristi di mana dia menyiapkan Ekaristi. Kemudian Padre Pio menerima sebuah patung lagi yang ditaruhnya di lorong biara dekat sel-nya.
Sebagai seorang putera sejati dari Santo Fransiskus dalam tradisi Fransiskan, Padre Pio selalu sadar akan prerogatif besar dari Bunda Maria, terkandungnya Maria tanpa noda, dan pentingnya hal itu semua. Dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya di dunia, Padre Pio hanya merayakan Misa Maria yang terkandung tanpa noda. Padre Pio juga tidak pernah ragu-ragu untuk meneguhkan mediasi universal dari Maria.
4.
SENGSARA YESUS.
Dengan menurunnya devosi kepada sengsara Yesus dan kenyataan bahwa devosi “Jalan Salib” sedikit terabaikan dewasa ini, baiklah kita melihat devosi imam suci ini kapada sengsara Yesus, dan teristimewa devosinya kepada “Jalan Salib”.
“Jalan Salib” adalah sebuah devosi Fransiskan yang tradisional. Dengan demikian tak mengherankanlah apabila Padre Pio secara teratur melakukannya. Namun yang penting kita tekankan di sini adalah manfaat-manfaat apa yang diperoleh Padre Pio dari devosi “Jalan Salib” itu.
Meditasinya atas perhentian-perhentian dalam “Jalan Salib” telah memimpin Padre Pio kepada kegiatan untuk mencoba menolong orang guna menyadari betapa buruknya dosa itu, apa yang diderita oleh Tuhan kita demi penebusan atas dosa-dosa kita dan juga memimpin dia untuk menyadari nilai penebusan dari penderitaan.
Pada waktu diusulkan agar perhentian-perhentian “Jalan Salib” baru didirikan di biara karena yang lama dirasakan sudah tidak cocok lagi (dekat jalan yang ribut, dst.), Padre Pio berkomentar: “Di antara banyak hal indah yang kami ingin lakukan, yang satu inilah yang paling indah.”
5.
PARA MALAIKAT.
Padre Pio menjalani devosi besar kepada para malaikat, teristimewa malaikat pelindungnya. Imam suci ini pun sangat intim dengan Santo Mikael dan para malaikat lainnya.
Menjelang akhir hidupnya di dunia, Padre Pio berbicara penuh afeksi tentang malaikat pelindungnya sebagai “teman sejak kecil”.
Pada masa kecilnya, malaikat pelindungnya menampakkan diri dalam rupa seorang anak kecil juga. Malaikat pelindungnya menolong dia dalam masa novisiatnya, juga selama dia studi guna mempersiapkan diri menjadi seorang imam.
Malaikat pelindungnya menolong Padre Pio untuk menjadi suci dan berada dekatnya pada saat-saat mengalami serangan-serangan Iblis dan seringkali menolongnya. Misalnya, dengan pertolongan malaikat pelindungnya, Padre Pio mampu untuk memahami isi surat-surat yang ditulis dalam bahasa Perancis dan Yunani, walaupun dia tidak mengerti kedua bahasa itu.
Baik di dalam kamar pengakuan maupun di luarnya, Padre Pio mendorong orang-orang untuk melakukan devosi kepada para malaikat.
Pada waktu melepas para peziarah yang hendak pulang, Padre Pio mengucapkan frase-frase seperti berikut ini:
“Semoga para malaikat Allah menemani anda.” Atau, “Semoga malaikat Allah menjadi terang, pertolongan, kekuatan, penghiburan dan bimbingan bagi anda.”
Kepada sejumlah pentobat yang memerlukan bantuan, Padre Pio mengatakan agar mereka mengirimkan malaikat-malaikat pelindung mereka kepadanya.
Dia mendorong para pentobat dan peziarah untuk mengunjungi tempat penghormatan kepada Santo Mikael Malaikat Agung di gunung Gargano sebelum kembali pulang ke rumah masing-masing.
Pada abad ke-5, Santo Mikael menampakkan diri secara kasat mata dalam sebuah gua di gunung Gargano dan mengungkapkan kepada Uskup lokal di sana bahwa gunung ini berada di bawah perlindungannya yang istimewa guna menghormati Allah dan para malaikatnya.
Pada suatu hari seorang ahli hukum tertidur selagi mengendara mobilnya dan mobilnya itu mampu berjalan sepanjang 43 kilometer tanpa mengalami kecelakaan.
Lalu ahli hukum itu mengunjungi Padre Pio dan bertanya kepada imam suci ini apa yang menyebabkan nasib baiknya itu. Padre Pio menjawab: “Anda tidur dan Malaikat Pelindungmu menggantikan anda menyetir mobilmu.”
PADRE PIO, DOAKANLAH KAMI !!!
C.
Apa itu “Stigmata”?
Selama berabad-abad, stigmata telah menjadi salah satu fenomena mistik yang juga kontroversial.
Stigmata adalah tanda seperti luka-luka Yesus pada saat penyaliban, yang muncul secara tiba-tiba pada tubuh seseorang, yang tidak dapat disembuhkan secara medis dan tidak dapat dijelaskan secara alamiah.
Kadang luka-luka ini menjadi sangat parah terutama pada hari Jumat atau hari Paskah dan menjadi sembuh pada hari lain, dan kemudian terjadi lagi berulang-ulang.
Termasuk dalam tanda sengsara ini adalah luka-luka bekas paku di kaki dan tangan, luka tombak di lambung, luka di kepala akibat mahkota duri, dan luka bilur-bilur penderaan di sekujur tubuh, teristimewa di punggung.
Seorang stigmatik, (orang yang menderita akibat stigmata) dapat memiliki satu, atau beberapa, atau bahkan semua tanda sengsara itu.
Stigmata bisa juga tidak terlihat/tidak menampakkan tanda-tanda pada fisik namun mengakibatkan penderitaan bagi penyandangnya.
Kasus stigmata yang pertama adalah yang dialami St. Fransiskus Asisi pada tahun 1224.
Pada suatu hari Sabtu, 14 September 1224, Fransiskus Assisi (kelak bergelar Santo) sedang bersiap untuk memasuki bulan kedua sebuah retret bersama dengan beberapa teman dekatnya di Monte La Verna, yang menghadap ke Sungai Arno di Tuscany.
Fransiskus telah menghabiskan beberapa minggu sebelumnya dalam perenungan yang panjang tentang Yesus Kristus yang menderita di kayu salib, dan mungkin ia saat itu sedang lemah akibat dari puasanya yang berkepanjangan.
Saat dia berlutut untuk berdoa fajar (seperti dicatat dalam buku Fioretti - 'Bunga Kecil Santo Fransiskus dari Assisi,' kumpulan legenda dan cerita tentang orang suci),
Fransiskus mulai merenungkan Jalan Salib dan perasaannya menjadi begitu kuat di dalam dirinya sehingga dia sepenuhnya seakan berubah menjadi Yesus dalam hal cinta dan kasih sayang.
Sementara dia dalam keadaan ekstasi, dia melihat serafim dengan enam sayap yang bersinar dan berapi-api turun dari surga. Serafim ini terbang cepat mendekati Fransiskus, dan ia bisa melihatnya dengan jelas dan menyadari bahwa Serafim itu memiliki bentuk seorang pria yang disalibkan.
Setelah beberapa saat, penglihatan misterius ini memudar, dan meninggalkan pada tubuhnya suatu gambaran yang indah gambar dan jejak salib Kristus.
Pada tangan dan kaki Fransiskus muncul luka bekas paku dengan cara yang sama seperti pada tubuh Yesus yang tersalib.
Secara keseluruhan, Fransiskus mendapat lima tanda: dua tanda paku di telapak tangannya dan dua tanda paku di kakinya, dan yang kelima di sisi tubuhnya, pada bagian di mana Yesus telah ditombak seorang perwira Romawi.
Stigmata yang dialami St. Fransiskus sering disebut sebagai yang pertama kali terjadi; (meskipun ada laporan kejadian serupa sebelumnya yang dialami orang lain), dikarenakan pada masa itulah, di abad ke-13 terutama di Italia, ada suatu tekanan/dorongan untuk menunjukkan sisi “kemanusiaan” Kristus.
Perenungan akan penderitaan fisik Yesus juga kemudian diwujudkan dalam ketetapan Hari Raya Tubuh dan Darah/ Corpus Christi.
Para seniman juga menanggapi perkembangan ini dengan mulai menampilkan karya yang menggambarkan penyaliban secara eksplisit untuk pertama kalinya, yaitu menggambarkan Yesus yang dengan jelas menderita karena luka yang meneteskan darah.
Tercatat ada sebuah kejadian yang terjadi di Oxford, Inggris, dua tahun sebelum peristiwa stigmata St. Fransiskus Asisi : seorang pemuda bernama Stephen Langton dibawa ke hadapan Uskup Agung Canterbury dengan tuduhan telah menyebarkan ajaran sesat karena telah menyatakan dirinya sebagai “Anak Allah”.
Di pengadilan, ditemukan bahwa pada tubuhnya terdapat lima luka penyaliban; namun tak dapat dibuktikan apakah luka-luka tersebut muncul secara alamiah ataukah ia telah menyiksa/menyalib dirinya sendiri, dengan motivasi ingin dipercayai bahwa ia adalah “Yesus Anak Allah”.
Pengalaman stigmata St. Fransiskus; dikarenakan ia adalah orang yang terkenal karena kesuciannya, dengan segera tersiar ke seluruh Eropa, dan tak lama sesudahnya, kasus stigmata lainnya mulai bermunculan.
Selama abad ke-13, setidaknya tercatat ada sepuluh kejadian yang terkenal, dan sebuah perkiraan baru-baru ini yang diteliti oleh mantan koresponden religius BBC Ted Harrison menetapkan jumlah total peristiwa stigmata yang dilaporkan sejak tahun 1224 ada lebih dari 400 orang, baik yang terjadi pada orang awam maupun orang kudus.
Di antaranya, kasus yang terkenal seperti pada Johann Jetzer, seorang petani Swiss yang menampilkan stigmata di tahun 1507, dan pada Therese Neumann, seorang stigmatik kontroversial Jerman yang mendapat tanda-tanda stigmata pada hari Jumat dari tahun 1926 sampai kematiannya pada tahun 1962.
Peristiwa stigmata juga sering dikaitkan atau disertai dengan peristiwa ajaib lain yang terjadi pada orang penyandangnya, seperti pada Padre Pio; yang bisa dikatakan adalah yang paling terkenal dibanding para stigmatik lain, dimana Padre Pio memiliki banyak keistimewaan lain dan terkenal dengan mukjizat penyembuhannya.
Gereja Katolik sendiri mengambil pandangan berhati-hati terhadap fenomena ini, menyatakan menerima bahwa mukjizat memang bisa terjadi namun menolak untuk secara formal mengakui stigmata.
Hal ini dapat dimengerti karena Gereja juga hendak memastikan bahwa stigmata tersebut bukanlah suatu tanda dari setan guna membangkitkan suatu kegemparan rohani yang dapat menyesatkan orang banyak; karena banyak juga kasus stigmata yang dipalsukan, dengan berbagai motif dan tujuan, dan juga bisa dikarenakan kondisi kesehatan fisik seseorang yang dapat menyebabkan luka-luka demikian.
Seperti kasus Magdalena de la Cruz, stigmatik Spanyol yang terkenal pada abad ke-16 yang ternyata sering melakukan penyiksaan diri dan luka spektakulernya menjadikan dia terkenal namun akhirnya di pengadilan, ia mengaku telah menimbulkan sendiri luka-lukanya itu.
Terlepas dari kasus-kasus “stigmata palsu”, stigmata merupakan suatu karunia dari Tuhan sendiri, tanda persatuan dengan Yesus yang tersalib.
Seorang yang benar-benar stigmatis biasanya hidup suci dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan iman, tabah dalam menanggung penderitaan baik fisik maupun jiwa, dan hampir senantiasa mencapai tingkat persatuan mendalam dengan Tuhan di dalam doa.
Orang-orang Kudus yang mengalami “stigmata asli” biasanya hidup dalam keutamaan-keutamaan ini, dan mereka tidak memamerkan; bahkan menyembunyikannya karena sifat kerendahan hati dan tidak mau menarik perhatian luas.
Mereka menerima rasa sakit dan luka Yesus dengan tabah dan dalam diam bahkan menyembunyikan dan menganggapnya sebagai suatu karunia luar biasa untuk boleh merasakan dan mengambil bagian, menyatukan diri dengan sengsaraNya.
Dikatakan, St. Fransiskus pada awalnya berusaha menyembunyikan tanda karunia ilahi ini, dengan membalut kedua tangannya dengan jubahnya dan mengenakan sepatu serta kaus kaki (yang tidak biasa ia lakukan).
Lama-kelamaan, rekan-rekan biarawannya memperhatikan perubahan dalam cara berpakaiannya dan juga penderitaan fisiknya, maka terungkaplah rahasia stigmatanya.
Demikian pula Padre Pio; yang seperti diungkapkan teman sebiaranya, bahwa ia menderita kesakitan yang luar biasa pada kakinya sampai memerlukan sepatu khusus dan harus dibantu setiap kali untuk memakai sepatu, dan bahwa setiap gerakan kecil pada kakinya akan menimbulkan rasa sakit yang besar namun Padre Pio tetap berusaha untuk mempersembahkan Misa dan menemui banyak orang yang datang meminta nasihatnya setiap hari.
Peristiwa stigmata pada Padre Pio awalnya terjadi pada tanggal 5 Agustus 1918, Padre Pio mendapat penglihatan di mana ia merasa dirinya ditikam dengan sebilah tombak; sesudahnya luka akibat tikaman tombak itu tinggal pada tubuhnya.
Kemudian, pada tanggal 20 September 1918, saat ia memanjatkan syukur sesudah perayaan Misa, ia juga menerima luka-luka Yesus di kedua kaki dan tangannya.
Setiap hari, Padre Pio kehilangan sekitar satu cangkir darah; dan luka-lukanya itu tidak pernah menutup ataupun bertambah parah. Walau demikian, luka-luka itu tidak berbau darah, melainkan bau harum yang semerbak terpancar dari luka-lukanya.
Pada St. Rita dari Cascia, stigmata yang ia terima adalah sebuah duri pada dahinya (yang ia dapatkan saat merenungkan sengsara mahkota duri Yesus) yang ia sandang sampai pada wafatnya.
St. Teresa dari Avila menerima tanda stigmata pada hatinya, yang setelah diperiksa oleh beberapa tenaga medis dari Universitas Salamanca, dikatakan disebabkan oleh “luka tusukan pada hati”.
Ia menuliskannya dalam catatannya di tahun 1559:
“... di sisi kiriku kulihat seorang malaikat dalam bentuk manusia, pada tangannya ia memegang sebuah panah panjang dengan nyala api kecil pada ujungnya.
Aku merasakan panah itu terhujam ke sisi badanku sampai ke dalam hatiku, dan ketika ia menariknya, aku merasakan sebagian hatiku terbawa keluar.
Dan ketika ia menghilang, aku diisi dengan rasa cinta yang besar kepada Allah.”
Selain Padre Pio, beberapa Orang Kudus yang diketahui juga mengalami stigmata antara lain :
St. Fransiskus of Assisi (1181-1226)
St. Lutgarde (1182-1246)
St. Margareta Cortona (1247-1297)
St. Gertrude (1256-1302)
St. Clare of Montefalco (1268-1308)
Bl. Angela of Foligno (wafat 1309)
St. Katarina dari Siena (1347-80)
St. Lidwina (1380-1433)
St. Frances of Rome (1384-1440)
St. Colette (1380-1447)
St. Rita of Cassia (1386-1456)
Bl. Osanna of Mantua (1499-1505)
St. Catherine of Genoa (1447-1510)
Bl. Baptista Varani (1458-1524)
Bl. Lucy of Narni (1476-1547)
Bl. Catherine of Racconigi (1486-1547)
St. John of God (1495-1550)
St. Catherine de' Ricci (1522-1589)
St. Mary Magdalene de' Pazzi (1566-1607)
Bl. Marie de l'Incarnation (1566-1618)
Bl. Mary Anne of Jesus (1557-1620)
Bl. Carlo of Sezze (wafat 1670)
St. Margaret Mary Alacoque (1647-90)
St. Veronica Giuliani (1600-1727)
St. Mary Frances of the Five Wounds (1715-91)
St. Gemma Galgani (1878-1903)
Bl. Anne Catherine Emmerich (1774-1824)
St. Rose de Lima (1586-1617)
St. Teresa of Avila (1515-1582)
St. Faustina
D.
Vision...
Pada tanggal 20 November 2016, yaitu pada hari Pesta Kristus Raja, dan penutupan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, sebuah peristiwa astronomi dimulai; yang akan berlangsung selama 9,5 bulan, yang secara sangat menakjubkan menunjuk kepada vision kitab Wahyu 12.
Pada 20 November 2016, Planet Jupiter ("Raja Planet", planet terbesar) masuk ke dalam (rahim) gugus bintang Virgo ("Virgin" / Perawan, salah satu gelar untuk Bunda Maria).
Jupiter, dengan gerakan mundurnya, akan berada di dalam (rahim) Virgo selama 9,5 bulan (9,5 bulan adalah waktu normal yang diperlukan untuk bayi manusia di dalam kandungan).
Setelah 9,5 bulan, Jupiter akan keluar (lahir) dari Virgo, yaitu pada 23 September 2017, persis pada hari peringatan Santo Padre Pio.
Pada hari itu, Virgo akan berada di depan matahari terbit.
Bulan akan berada di bawah Virgo, dan di atas Virgo ada 12 bintang terdiri dari 9 gugus bintang Leo dan tambahan planet Merkurius, Venus, dan Mars. (Wahyu 12:1, "Wanita BBM"...."seorang perempuan berselubung 'Matahari' dengan 'Bulan" di bawah kakinya dan bermahkota 12 'Bintang' di atas kepalanya").
Susunan bintang yang akan terjadi pada 23 Sept 2017 ini, yaitu di tahun kita persis memperingati 100 tahun penampakan Bunda Maria di Fatima, yang menurut perhitungan, adalah 3 minggu sebelum persis 100 tahun terjadinya “mukjizat matahari menari” pada 13 Oktober 1917 yang persis jatuh pada hari Jumat, "Friday the 13th". (Bdk. Buku "MEMOAR 100TH FATIMA", RJK. 2017)
Lebih lanjut, dalam rangka mempersiapkan diri menyambut perayaan Santo Padre Pio tanggal 23 September 2017, kita juga dapat berdoa Novena Hati Kudus Yesus, sebuah doa yang diajarkan St. Margaret Mary Alacoque, yang adalah doa favorit yang selalu dipakai Padre Pio jika ia diminta untuk mendoakan orang.
Padre Pio yang terkenal dengan banyaknya mukjizat yang ia lakukan untuk pertobatan dan kesembuhan orang-orang, adalah seorang yang sangat berdevosi kepada Ekaristi, Hati Kudus Yesus, dan juga kepada Bunda Maria.
E.
"Relikui Orang Kudus."
1.
* Apa itu “relikui” ?
Relikui mempunyai arti : pecahan, bagian, penggalan, atau belahan, yaitu “sisa-sisa atau bekas dari sesuatu yang dulu, yang kini sudah tidak ada.” Misalnya relikui dari perang dunia, atau hal bersejarah dalam suatu negara, dan lainnya.
Secara khusus, orang Katolik mengerti Relikui Orang Kudus sebagai : obyek/sisa peninggalan yang mempunyai hubungan dengan Orang Kudus atau dengan Allah.
Tradisi menghormati Relikui Orang Kudus sudah ada sejak awal mula Gereja. Beberapa relikui yang terkenal, antara lain; kain kafan dari Turin, jari St. Tomas, darah ajaib St. Januarius, otak St. Yohanes Bosco, jenazah utuh St. Bernadet Soubirous, dan lainnya.
Relikui Orang Kudus biasanya dibagi menjadi 3 kelas atau 3 tingkatan.
Relikui kelas 1, adalah bagian tubuh, misalnya sepotong tulang atau daging, rambut, darah, atau bagian tubuh lainnya dari seorang Kudus.
Relikui kelas 2 , adalah barang-barang yang dimiliki dan pernah dipergunakan secara pribadi oleh Orang Kudus, misalnya Rosario, Salib, pakaian, buku, topi, sarung tangan, dll.
Relikui kelas 3, adalah barang-barang yang pernah disentuh oleh Orang Kudus, atau yang ada hubungannya/pernah bersentuhan dengan reliqui kelas 1, kelas 2, atau kelas 3 dari seorang kudus. Bisa berupa sepotong sangat kecil kain yang pernah bersentuhan dengan barang-barang milik Orang Kudus atau sebagian kecil dari kayu peti dari makamnya atau lainnya.
Relikui yang bisa diperoleh di tempat-tempat tertentu pada masa sekarang, kebanyakan adalah relikui kelas 2 dan 3, yang biasanya juga disertai dengan sertifikat yang ditandatangani Uskup atau pejabat Gereja yang berwenang, yang menyatakan keasliannya.
Namun Gereja juga mengecam kalau relikui dijadikan semacam barang dagangan atau bisnis untuk mendapat keuntungan materi.
2.
* Darimana asal mula tradisi menghormati relikui Orang Kudus?
Kitab Suci mengajarkan bahwa Tuhan bertindak melalui “benda”, terutama dalam hal “penyembuhan”, :
2 Raja-Raja 13;20-21 menceritakan tentang mayat seseorang yang ketika tersentuh dengan tulang Nabi Elia, menjadi hidup kembali dan bangkit berdiri.
Matius 9:20-22, menceritakan kisah tentang wanita yang sakit pendarahan yang menjadi sembuh ketika menyentuh jubah Yesus.
Kisah Para Rasul 5:12-15 menceritakan tentang banyak orang sakit yang dikumpulkan di tepi jalan dengan harapan jika Petrus melangkah melewatinya, mereka akan sembuh jika “tersentuh” oleh bayangannya.
Kisah Para Rasul 19:11-12 mengatakan : bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat.
Dalam contoh-contoh di atas, Allah memberikan penyembuhan dengan menggunakan “benda”. Penyembuhan terjadi dari sentuhan “benda” tersebut.
Namun perlu digaris bawahi bahwa, penyembuhan itu diberikan oleh Tuhan.
Relikui adalah sarana nya saja. Jadi, relikui bukanlah semacam jimat atau magic, tidak memiliki kekuatannya sendiri, jika terpisah dari kuasa Allah.
Kita menghormati relikui karena kita menghormati dan memuliakan Allah. St. Jerome mengatakan : “Kita tidak menyembah relikui, kita tidak membungkuk kepada ciptaan lebih daripada penciptanya. Namun kita menghormati relikui para martir untuk menghormati mereka dengan lebih baik lagi.”
Banyaknya penyembuhan atau mukjizat yang terjadi lewat relikui Orang Kudus, adalah keinginan Allah sendiri untuk membawa kita lebih memberi perhatian kepada Para Kudus, supaya kita mendapat teladan dan juga perantaraan mereka (KKG 828).
Salah satu contoh,
Orang Kudus terbaru yang dikanonisasi Paus Fransiskus pada peringatan 100tahun penampakan Bunda Maria di Fatima bulan Mei 2017 lalu; St. Fransisco Marto dan St. Jacinta, dikanonisasi setelah terjadi mukjizat kesembuhan seorang anak yang mengalami kecelakaan besar setelah para biarawati, orang tua dan kerabat anak tersebut berdoa dan memohon kesembuhan kepada Allah lewat perantaraan relikui Fransisko dan Jacinta yang terdapat di kapel biara.
Juga ada banyak kisah kesembuhan yang didapatkan oleh orang-orang yang meminta berkat dari seorang Pastor dengan sambil memakai sarung tangan yang pernah dimiliki oleh Padre Pio dan banyak lagi kisah lainnya yang kita ketahui.
3.
* Bagian tubuh yang mana dari Orang Kudus yang dapat dipakai sebagai relikui ?
Semua bagian tubuh Orang Kudus adalah kudus dan karenanya, dapat dipakai dan disimpan dalam reliquary.
Setiap tulang pun boleh, atau bagian lainnya yang masih dapat diambil dari jasadnya, apakah daging, rambut, darah, lidah, bahkan kadang-kadang mereka diawetkan dengan seluruh peti/makamnya.
Ketika seseorang dinyatakan “Kudus” secara resmi oleh Gereja, sebelum upacara kanonisasi, ada ritual dimana makam orang tersebut digali dan sisa-sisa jasad/ relikuinya diambil dan dipindahkan ke dalam sebuah Gereja atau Kapel, atau tempat suci lainnya.
Dengan kanonisasi Orang Kudus tersebut, relikuinya juga menerima pengakuan sebagai “Relikui Kudus”.
Kita mengetahui banyak Gereja-Gereja yang di dalamnya terdapat relikui Orang Kudus pelindung Gereja tersebut.
4.
*Apakah orang awam diperbolehkan menyimpan relikui kelas 1 di rumah ?
Relikui sangatlah berharga.
Kita tidak memandangnya sebagai seonggok benda yang dulu pernah hidup namun sekarang sudah mati.
Mengenai relikui kelas 1, yaitu bagian tubuh Orang Kudus, kita memandangnya sebagai tubuh yang sedang menantikan kebangkitan, yaitu ketika jiwa Orang Kudus tersebut dipersatukan dengan raganya yang masih tersisa. Karena itulah, kita memperlakukan relikui dengan sangat istimewa.
Idealnya, relikui yang berupa potongan tubuh seorang kudus harus disimpan di Gereja atau Kapel supaya kepadanya dapat diberikan penghormatan publik.
Penghormatan terbesar yang dapat kita berikan adalah dengan menempatkan relikui pada Altar Gereja yang dipakai untuk merayakan Misa Kudus.
Tindakan ini sudah dilakukan sejak dari abad awal Gereja, dimana makam para martir dihormati dan dipergunakan sebagai Altar.
Jika tidak diletakkan pada Altar, relikui seharusnya diletakkan pada tempat yang sesuai agar dapat dihormati umat sehingga orang bisa mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam dan keintiman dengan Orang Kudus tersebut, dan mendapat pertolongan dengan perantaraannya.
Pada dasarnya, Gereja tidak melarang orang awam untuk boleh memiliki atau menyimpan relikui di rumah, namun dengan banyaknya temuan adanya penyalahgunaan, kini Gereja tidak lagi “menyalurkan” relikui kelas 1 kepada individual, tidak juga kepada klerus.
Penyalahgunaan yang pernah ditemukan misalnya, tidak diberi penghormatan yang layak, kecerobohan dan kelalaian dalam perawatan, membuang, bahkan menjualnya.
Kecerobohan-kecerobohan ini kadang bukan dilakukan oleh mereka -kepada siapa Gereja telah memberikan relikui itu, tetapi ketika orang yang diberi kepercayaan itu meninggal dan relikui diteruskan kepada ahli waris, sering kali itulah saat relikui menjadi rentan disalahgunakan.
Itulah sebab utamanya, Gereja kini hanya memberikan relikui yang sangat berharga ke Gereja, Kapel, dan tempat suci lainnya.
5.
* Bagaimana Gereja mengenali keotentikan suatu relikui, terutama yang sudah sangat tua dan berasal dari masa awal Kristen ?
Ke-otentik-an adalah sangat penting.
Untuk Para Kudus yang sudah lama/kuno, menentukan identitasnya sebenarnya lebih mudah dari yang kita kira.
Karena sejak dari awal masa Gereja, ada tradisi yang kuat untuk membangun bangunan Gereja di atas makam Orang Kudus.
Itu juga sebabnya Basilika Santo Petrus dibangun di atas makam Santo Petrus, dan juga sama halnya dengan Basilika Santo Paulus, yang dibangun dengan makam Santo itu berada tepat di bawah Altar nya.
Penemuan modern telah memastikan hal ini, meyakinkan kita apa yang telah kita percayai secara tradisi.
============
Kisah Relikui Santa Katarina dari Siena.
St. Katarina Siena adalah pemimpin/ pembaharu Ordo Dominikan di abad pertengahan.
Ketika ia meninggal di Roma; kota kelahirannya, Siena, menginginkan badannya. Menyadari mereka tidak mungkin bisa membawa seluruh jasadnya tanpa ketahuan, mereka mencuri kepalanya saja.
Ketika dihentikan para penjaga, mereka berdoa kilat meminta pertolongan Santa itu.
Para penjaga, ketika membuka kantong yang mereka bawa, tidak menemukan sebuah kepala, tetapi sekantong penuh kelopak mawar.
Setibanya di Siena, mawar-mawar itu berbentuk kepala St. Katarina lagi. Ini adalah salah satu keajaiban yang dikaitkan dengan St. Katarina Siena.
Kini, kepalanya ditempatkan di reliquiry di Basilika St. Dominikus di Siena bersama dengan jari jempolnya, sedangkan tubuhnya tetap berada di Roma, dan kakinya dihormati di Venisia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar