Ads 468x60px

Jumat 28 Juni 2013

“Deus est medicus.” 
Pw. St. Irenius
Kej 17:1,9-10,15-22; Mat 8:1-4

“Deus est medicus – Tuhan adalah tabib.” Ia menyembuhkan pelbagai luka dan sakit hidup kita. Ia bukan hanya tampil sebagai “teacher, leader, giver”, tapi Ia juga hadir sebagai “healer”. Adapun hari ini, Ia menyembuhkan seorang yang sakit kusta. Kusta, dalam kacamata medis sendiri terjadi karena bakteri mycobacterium leprae yang membuat syaraf menjadi tumpul/mati rasa. Bisa jadi, kita juga hidup dan memiliki “kusta rohani”, ketika hati kita ditumpulkan karena lekat dan larut hanyut dengan hidup yang berpola “HEM-Hedonis – Egois dan Materialisme”.

Ada tiga keutamaan dasar yang bisa dipetik dari bacaan hari ini yang kerap saya sebut sebagai “HIK - Hidangan Istimewa Katolik” supaya kita juga bisa disembuhkan dari “kusta rohani”, al: 

1. Harapan: 
Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” (Mrk 1:40), begitulah bunyi permohonan seorang kusta yang terus berharap. Walaupun, dalam kacamata biblis, kusta adalah penyakit yang menyeramkan karena membuat si penderita dijauhi dan tak boleh ikut ibadat (dianggap najis), ternyata si penderita ini tetap mempunyai harapan dan tidak mengenal kata berputus asa: “Dum spiro, spero - Selama saya masih bernafas, saya tetap berharap!”


2. Iman:
Orang kusta ini memohon belaskasihan pada Yesus karena Ia beriman dan percaya bahwa Yesus dapat mentahirkannya. Menarik, kalau kita mencermati permohonan orang kusta kepada Yesus, "Tuan, jika Tuan MAU, Tuan DAPAT mentahirkan daku." Permohonan diungkapkan dalam kerendahan hati dengan mengatakan "Jika Tuan MAU" ("Jika sesuai dengan kehendak-Mu"). Hal ini bisa jadi didasari oleh iman yang besar, yakni keyakinan bahwa Tuhan DAPAT (bisa, mampu, punya kuasa) untuk menyembuhkannya. Sikap iman inilah yang membuat permohonannya dikabulkan: “Credo et fido –Aku percaya dan aku mengimani.” 

3. Kasih: 
Yesus jelas jelas “kasih” kesembuhan sekaligus “kasih” pengampunan bagi orang kusta yang serentak dianggap sebagai orang yang memiliki penyakit berbahaya sekaligus terbenam dalam kutukan dosa. Kasih sejati ala Yesus inilah yang tidak dimiliki oleh imam-imam Yahudi. Imam-imam Yahudi hanya bertugas memeriksa seseorang apakah ia terkena kusta atau tidak. Sebaliknya, dalam perjumpaan dengan Yesus, orang menemukan bahwa belaskasihan terbuka lebar. Allah yang dihadirkan oleh Yesus melalui pribadi dan karyaNya adalah Allah yang berwajah kasih: “Deus caritas est – llah adalah kasih.”

“Banyak lampu redup di Pantai Kuta - Jalanilah hidup dengan penuh cinta.”
Tuhan memberkati dan Bunda merestui. 
Fiat Lux!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar