Ads 468x60px

Sabtu 27 Juni 2015

Kej. 18:1-15; Mat. 8:5-17

“Laudate nomen Domini – Pujilah nama Tuhan.”
Kisah tentang perwira Romawi yang datang kepada Yesus dan memohon kepadanya untuk kesembuhan hambanya yang sakit lumpuh itu sangat penting bagi kita. Ia datang kepada Yesus tidak untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk kepentingan hambanya. Ia beriman dan berbelarasa:
"Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh."
Kalimat inilah juga yang selalu kita katakan sebelum menerima Komuni:
"Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, bersabdalah sepatah kata saja maka saya akan sembuh!"
Jelas, bahwa perwira Romawi itu merasa tidak pantas menerima Yesus di rumahnya tapi ia tetap datang dan memohon dengan rendah hati kpd Yesus krn ia percaya sepenuh hati kepada kuasa Yesus.



Disinilah, perwira itu sekaligus mengajarkan bahwa beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan termasuk kesadaran bhw kita tdk layak/tdk pantas di mataNya.
Nah, kalau kita memang sedang sungguh merasa tak pantas/tak layak di hadapanNya, kita tidak perlu sll menerima komuni.

KHK (Kitab Hukum Kanonik) jelas menegaskan:
"Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima sakramen pengakuan, jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal ini hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegera mungkin" (Kan 916).

Ya, meski kita tak selalu menerima komuni, kita tetap diajak untuk datang dengan rendah hati supaya menerima rahmat Tuhan, karna rahmat Tuhan tak dapat dibatasi oleh peristiwa sakramen. Tuhan tetap hadir, memberi rahmat dan berkarya dalam kerapuhan diri.

"Baca firman di balai desa -
Makin beriman dan makin berbelarasa."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh
Pin HIK: 7EDF44CE/54E255C0



Tidak ada komentar:

Posting Komentar