Ads 468x60px

Minggu 20 September 2015


Hari Minggu Biasa XXV B
Keb 2:12.17-20; Yak 3:16-4:3; Mrk 9:30-37
Menjadi Besar Karena Melayani

9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; 9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." 9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. 9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" 9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." 9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 9:37"Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

Renungan :
01. Dalam Injil Markus, tiga kali Yesus memberitahukan kepada para murid mengenai sengsara, wafat dan kebangkitan yang akan dialami-Nya (Mrk 8:31-9:1; 9:30-32; 10:32-34) agar orang-orang terdekat-Nya itu memahami jalan salib yang akan ditempuh-Nya dan dapat mempersiapkan diri menghadapinya. Namun ternyata para murid tidak mampu memahami realitas salib itu. Mereka terjebak oleh mind-setnya sendiri. Sebagai utusan Allah, Mesias seharusnya adalah sosok pribadi yang agung, unggul, mulia, tak terkalahkan dan penuh kuasa. Karena itu ketika Yesus menubuatkan tentang sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, para murid menanggapinya dengan cara yang tidak tepat. Petrus bahkan berani menegur Yesus agar tidak mengatakan hal itu (Mrk 8:32); mereka malah sibuk bertengkar memperebutkan siapa yang terbesar diantara mereka (Mrk 9:34); dan agar tidak didahului oleh murid yang lain, Yohanes dan Yakobus secara khusus meminta posisi penting yaitu sebagai orang kedua dan ketiga pada saat Yesus mulia kelak (Mrk 10:37).

02. Bagi Yesus jalan salib merupakan sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi karena hal itu merupakan kehendak Allah yang harus dilaksanakan dan diselesaikan-Nya (accomplished). Dalam ay. 31 dipakai kata “diserahkan” (delivered, atau paradidotai) untuk menegaskan bahwa peristiwa salib merupakan prakarsa Allah. Anak Manusia diserahkan oleh Allah ke dalam tangan (kekuasaan) manusia. Di hadapan Pilatus yang merasa diri berkuasa terhadap hidup-Nya, Yesus menegaskan, “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas” (Yoh 19:11). Dialah orang benar, hamba Yahwe, yang diserahkan oleh Allah ke dalam kekuasaan orang jahat. Gagasan ini berbeda dengan ide dalam bacaan pertama (Keb 2:12.17-20) yang mengungkapkan prakarsa orang-orang jahat yang ingin menyiksa orang benar untuk menguji kualitas hidupnya dan membuktikan apakah benar Allah melindungi dan menolongnya, membebaskannya dari tangan para lawannya. Bagi Yesus penderitaan dan salib merupakan tugas dari Bapa yang harus dilaksanakan-Nya sebagai jalan untuk menyelamatkan banyak orang.

03. Namun dalam tradisi eksegese para Bapa Gereja melihat perikop dalam Kitab Kebijaksanaan itu sebagai nubuat tentang sengsara Kristus karena ada unsur-unsur yang mirip khususnya dalam Mat 27:43 “Ia menaruh harapan-Nya pada Allah, baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah”. Perikop ini mau mengingatkan bahwa harga yang harus dibayar untuk sebuah kesetiaan dan ketaatan kepada kehendak Allah, untuk melakukan yang baik, benar dan jujur itu memang cukup tinggi. Untuk mewujudkannya kita akan mengalami banyak kesulitan dan tantangan. Meskipun demikian berbuat jujur, melakukan hal yang baik dan benar itu lebih menguntungkan, memberikan ketenangan dan kebahagiaan batin daripada bertindak tidak jujur, mengingkari yang baik, benar dan suci. Ungkapan “wong jujur bakal ajur”tidak berlaku bagi orang beriman. Justru iri hati, egoisme, hawa nafsu yang tidak teratur, segala macam perbuatan jahat yang akan menimbulkan kekacauan (lih. Bacaan II).

04. Nampaknya ambisi untuk dihormati, dihargai, berkuasa, memiliki jabatan atau posisi penting dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam kehidupan religious merupakan kecenderungan yang dimiliki oleh banyak orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka mencitrakan diri sebagai orang saleh yang “suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan” (Mrk 12:38-39), mengumumkan sedekahnya di rumah-rumah ibadat atau di lorong-lorong jalan (lih. Mat 6:2), berdoa ”dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya” (Mat 6:5). Ambisi seperti itu ternyata juga dimiliki oleh para murid. 05. Yesus memeluk seorang anak kecil sebagai ilustrasi untuk ajakan-Nya agar menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya (ay. 35-36). Yesus mengambil anak sebagai ilustrasi bukan karena kelucuannya, senyumannya atau innocence-nya tetapi karena kerapuhannya, kelemahannya, ketidakberdayaannya serta ketergantungan total kepada orangtuanya. Kita sering marah dan mengusirnya karena terlalu ribut sehingga mengganggu ketenangan dan kekhidmatan dalam Perayaan Ekaristi. Anak kecil kurang dihargai dan diperhitungkan karena dianggap belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang memadai tentang hal ikhwal kehidupan ini. Dengan demikian anak kecil dipakai sebagai gambaran orang-orang yang dalam kehidupan sosial diremehkan, tidak dianggap penting. Tetapi Yesus menempatkannya di tengah-tengah para murid, di tengah-tengah Gereja (lih. ay. 36). Hal ini mengingatkan kita bahwa yang seharusnya berada di tengah-tengah Gereja, yang menjadi pusat perhatian dan pelayanan, yang menerima pelukan penuh kasih adalah yang lemah, miskin, terlantar, tertindas dan tidak berdaya.

05. Kita menghargai dan menghormati orang karena prestasinya, kekayaannya, jabatannya dan bukan karena pribadi atau keberadaannya. Yesus mengubah paradigma itu. Orang menjadi besar karena kehadirannya dibutuhkan, diharapkan. Kehadirannya diharapkan karena hidupnya mampu memberikan keuntungan, manfaat dan memberikan sumbangan positif bagi kehidupan sesama. Melayani menjadi sebuah cara hidup agar kehadiran kita dibutuhkan, bernilai dan bermanfaat bagi orang lain. Untuk melayani tidak perlu gelar, tidak perlu menguasai banyak ilmu pengetahuan, tidak dibutuhkan prasyarat usia tertentu. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang ikhlas, penuh kegembiraan, dan jiwa yang dipenuhi kasih, melihat pribadi dan dunia hanya dari sisinya yang baik. Menjadi pelayan itu sendiri adalah sebuah kebesaran.

06. Wayne Dyer, seorang penulis terkenal, mengisahkan pengalamannya yang mengesan dalam bukunya “YouWill See It When You Believe It”: Dalam perjalanan pulang dari sebuah urusan bisnis, Wayne Dyer menunggu antrian taksi di bandara. Tidak lama kemudian, sebuah taksi hitam mengkilap muncul dan mendekatinya. Sangsopir pun keluar dengan berpakaian rapi, tersenyum dan menyapa ramah lalu membukakan pintu mobil baginya.Sopir itu kemudian memberi sebuah kartu identitas dan berkata, "Nama saya Wally. Sementara saya memasukkan barang bawaan ke bagasi, silakan membaca pernyataan misi saya yang tertulis di balik kartu identitas ini“. Dyer kemudian membaca kartu identitas tersebut dan di sebaliknya tertulis “Misi Wally: Mengantar pelanggan ke tempat tujuan dengan cepat, aman, murah dan nyaman.” Wayne Dyer sangat heran, terutama setelah ia melihat bagian dalam taksi yang sangat bersih dan harum.

Setelah duduk di belakang kemudi, Wally berkata, “Apakah Anda ingin kopi? Saya punya yang biasa, tanpa kafein”. Dyer menjawab “Tidak, saya ingin minuman ringan saja.” Wally berkata, “No problem. Saya punya pendingin dengan Coke biasa dan Diet Coke, air mineral, serta jus jeruk.” Dengan terkagum-kagum, Wayne Dyer berkata “Saya mau Diet Coke saja.” Setelah memberikan sebotol Diet Coke, Wally pun kembali menawarkan, “Jika Anda ingin membaca koran, saya punya The Wall Street Journal, Time, Sports Illustrated danUSA Today." Ketika taksi mulai berjalan, Wally kembali menawarkan radio mana yang ingin didengar. Danternyata masih ada lagi: Wally menanyakan apakah AC nya sudah pas atau belum. Selama perjalanan, Wayne Dyer pun penasaran. “Apakah kau selalu melayani pelanggan seperti ini, Wally?” tanya Dyer. “Baru di dua tahun terakhir ini”, jawab Wally “Sebelumnya, saya banyak mengeluh seperti kebanyakan sopir taksi. Suatu ketika secara tidak sengaja saya mendengar seorang motivator di sebuah stasiun radio yang mengatakan bahwaketika Anda bangun dan mengharap hal buruk terjadi, maka itu hampir pasti terjadi pada hari itu. Maka jangan memulai hari dengan rasa pesimis, mengeluh atau berpikiran negatif. Berhentilah mengeluh! Jangan menjadi bebek melainkan jadilah elang. Bebek hanya mengeluh dan tidak punya inisiatif, hanya mengikuti saja kemana yang lain pergi. Elang dengan gagah perkasa membubung tinggi di angkasa. Pernyataan itu memukul saya.Rasanya ia sedang membicarakan saya. Saya kemudian mengubah sikap dan bertekad memilih untuk menjadi elang. Saya mengamati taksi-taksi lain: mobilnya kotor, sopirnya tidak ramah, akibatnya pelanggan merasa tidak nyaman. Lalu saya memutuskan untuk membuat perubahan sedikit demi sedikit. Ketika pelanggan suka, saya meningkatkannya.”

“Apakah kau sudah merasakan manfaatnya” tanya Dyer. Dengan tersenyum Wally menjawab, "Di tahun pertama saya sebagai elang, penghasilan saya naik dua kali lipat. Tahun ini mungkin menjadi empat kali lipat. Anda beruntung bisa mendapatkan saya hari ini. Saya tak menunggu di pangkalan lagi. Pelanggan saya menelpon.Jika saya tak bisa menjemput mereka sendiri, saya meminta bantuan teman saya.” Kisah Wally ini sangat inspiratif. Ia dicari dan dibutuhkan karena melayani dengan ikhlas dan penuh kegembiraan serta selalu memberi yang terbaik.
Berkah Dalem.



Minggu, 20 September 2015
Minggu Biasa XXV

Keb 2:12,17-20; Mzm 54:3-4,5,6,8; Yak 3:16-4:3; Mrk 9:30-37

“Servite in caritate - Layanilah dalam cinta kasih”
Inilah ajakan Yesus supaya kita bisa menjadi pribadi beriman yang terbesar dan terdahulu: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya" (Mrk 9:35).

Inilah jalan iman yang ditawarkan Yesus kepada kita hari ini, yakni belajar melayani dengan menjadi seperti anak-anak (children) dan bukan bersikap kekanak-kanakan (childish).
Adapun tiga indikasi dasar dari sikap anak-anak supaya kita bisa menjadi orang beriman yang terbesar dan terdahulu, antara lain:

1. Tulus dalam mengasihi: 
Di tengah dunia yang penuh akal bulus, ketika banyak orang berpola “citius altius fortius – lebih cepat lebih tinggi lebih kuat”, Tuhan malahan mengajak kita mempunyai cinta kasih yang tulus seperti anak-anak kecil, yang mengedepankan kemurnian hati tanpa banyak intrik, taktik dan aneka konflik. Ia mengharapkan cinta kasih kita adalah cinta kasih yang polos, murni dan tanpa banyak kepentingan terselubung.

2. Terbuka dalam melayani:
Hari ini, Yesus tergambarkan sedang memeluk anak kecil. Tindakan memeluk ini diawali dengan membuka dan merentangkan tangan untuk menyambut orang yang ingin dipeluk. Tangan yang terbuka dan terentang ini sesungguhnya mengungkapkan hati yang terbuka dalam melayani.

Hal ini berarti bahwa kita juga diharapkan membuka hati dengan penuh kasih dan sukacita untuk melayani semua sesama kita, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. 

Dalam diri merekalah, Kristus hadir secara nyata untuk kita peluk, kita kasihi, dan pastinya untuk kita layani.


3. Sederhana dalam mengimani:
"Simple is beautiful - Sederhana itu indah!” Inilah sikap seorang anak kecil pada umumnya. Mereka tidak mempunyai banyak pertanyaan, mudah menerima dan percaya. Bukankah Yesus sendiri datang dan terbaring sebagai anak kecil yang lemah di tempat yang sederhana? Kita bisa melihat dan mengingat Yesus kecil dengan tangan lemah terulur dan terbuka lebar. Ia memohon bantuan orang lain: Aku membutuhkan engkau. Tatapan mata bening dan uluran tangan lembutnya seolah menyapa siapa saja yang memandangnya. Begitu sederhana, bukan?

Pepatah Jawa yang berkata, “Aja Adigang, Adigung, Adiguna - Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti" kiranya tepat untuk membuat kita semakin mau sederhana dan rendah hati di hadapan Tuhan.

“Ada Wayan di kampung Bali - Jadilah pelayan bagi Sang Ilahi.”

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh
Pin HIK: 7EDF44CE/54E255C0


Tidak ada komentar:

Posting Komentar