Ads 468x60px

Sabtu 10 Oktober 2015


Pekan Biasa XXVII
Yoel 3:12-21; Mzm 97:1-2,5-6,11-12; Luk 11:27-28

"SOLO - Spirit Of Loving Others".
Inilah yang menjadi tema pokok pada waktu saya diminta mengisi acara pada "Doa untuk Bangsa" di Graha Sabha Buana Solo, jumat kemarin. Inilah juga yang diwartakan Yesus setelah memenangkan perdebatan dengan musuh2Nya yang menuduh/memfinahNya mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.

Adapun semangat kasih ini bisa dimulai dengan tiga sikap yan ditampakkkan pada bacaan injil hari ini, antara lain:

1. MemujiNya (dengan murah hati):
“Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Pujian yang berasal dari wanita yang sangat gembira dan kagum pada Yesus ini sebenarnya hendak mengungkapkan penghargaannya pada Kristus sekaligus mencerminkan rasa hormatnya terhadap Maria, ibuNya, karna hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Maria: "Segala keturunan akan menyebut aku berbahagia" (Luk 1:48)

2. MendengarkanNya (dengan rendah hati):
Yesus bukan tipe orang yang haus pujian tapi selalu mengarahkan kita ke masalah lain yang lebih tinggi dan lebih berkaitan langsung dengan diriNya sendiri: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah.". Dengan kata lain: Kita diajak selalu menjadi orang yang rendah hati di tengah dunia dimana banyak orang kerap menjadi besar mulut daripada lebar telinga.

3. MemeliharaNya (dengan sepenuh hati):
Yesus tidak hanya ajak kita untuk mendengarkan firmanNya tapi juga memelihara firman itu, dengan mengingat dan memakainya, mewartakan dan melaksanakannya sebagai "fons vitae", pondasi hidup.

Secara lebih mendalam, ajakan Yesus ini sekaligus merupakan pujian kepada sikap batin Maria, dalam bahasa Konsili Vatikan II:

"Dalam pewartaan Yesus, ia [Maria] menerima sabdaNya, ketika Puteranya mengagungkan Kerajaan di atas pemikiran dan ikatan akan daging dan darah, dan Ia menyatakan bahagia mereka yang mendengar dan melakukan sabda Allah (Mrk 3:35; Luk 11:27-28), seperti yang dijalankan Maria dengan setia (Luk 2:19 dan 51). Itulah juga yang menjadikan Maria berbahagia karena ia telah mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya (Luk 8:19, Mat 12:49-50, Mrk 3: 31-35)

"Dari Tangerang ke Jakarta - Jadilah Terang dengan penuh sukacita"

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh
Pin HIK: 7EDF44CE/54E255C0


NB:

“La vita e bella - Hidup itu indah!”
Inilah sebuah judul film tentang kehidupan dan perjuangan para korban Nazi yang menyadarkan bahwa hidup itu indah san sebaliknya indah itu hidup. Kita diajak menghidupi keindahan dan sekaligus mengindahkan kehidupan secara real dan aktual.
Adapun dua jalan sederhananya seperti yang dikatakan Yesus pada Injil hari ini yakni mendengarkan Firman Allah dan memeliharanya.

1. MendengarkanNya:
Pernahkah kita tidak didengarkan? Betapa kita kecewa ketika merasa tidak didengarkan, bukan? Betapa kita merasa malu atau ketinggalan jaman ketika tidak mendengar apa pun yang terjadi atas mereka yang dekat dengan kita: keluarga, tetangga, kerabat, sahabat juga, bukan?

De facto, kebanyakan orang mendengar, tetapi belum tentu mendengarkan. Misalnya: Orang Niniwe dipuji Tuhan karena mereka mendengarkan pewartaan Nabi Yunus. Ratu dari Selatan dipuji Yesus, karena ia mendengarkan hikmat Raja Salomo. Pewartaan Yunus maupun hikmat Salomo pun didengar oleh banyak orang. Maka yang dimaksudkan dengan "mendengarkan" rupanya punya arti: yang didengar itu lengket di hati dan menggerakkan hati. Yang didengar itu tidak hanya masuk - keluar telinga kita, tetapi masuk telinga, kemudian sampai ke lubuk hati.

Pernahkan terpikir bahwa daun telinga kita berlika-liku? Pasti bukan hiasan atau seni saja, melainkan untuk menyaring apa yang kita dengar, bukan? Bukankah mendengarkan suara hati dan suara Tuhan agaknya sulit di tengah kesibukan zaman sekarang ini? Bisa jadi, jika kita terbiasa mendengarkan orang lain, tak sulit bagi kita untuk mendengarkan Tuhan.


2. MewartakanNya:
Kita diajak untuk mempersembahkan kepadaNya apa yg kita lakukan, yang kita pikirkan, yang kita alami selama hari-hari ini dan hari berikut semata mata demi keluhuranNya. Dkl: Kita diajak memelihara iman dengan melaksanakan secara nyata apa yang menjadi firmanNya: tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik, tetap berhati tulus meski dunia kerap penuh dengan akal bulus. Harapannya: tetaplah sejuk di tempat yang panas, tetaplah manis di tempat yg pahit, tetaplah merasa kecil meskipun telah menjadi besar dan tetaplah tenang di tengah badai kehidupan. Live the life you love, and love the life you live!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar