Ads 468x60px

Rabu 02 Maret 2016

Pekan Prapaskah III
Ul 4:1.5-9; Mzm 147:12-13.15-16.19-20; Mat 5:17-19


"Salus animarum suprema lex - Keselamatan jiwa jiwa adalah hukum yang terutama".
Itulah salah satu ide dasar dalam "KHK/Kitab Hukum Kanonik/Codex Iuris Canonici" bahwasannya hidup harian kita juga penuh dengan ruwet renteng hukum bukan? Ada hukum karma-hukum pidana-perdata-adat-agama-pajak-internasional dll.
Dalam mata iman, Allah juga telah memberikan hukumNya berupa Taurat Musa yang mengandung pelbagai hukum untuk mengatur kehidupan.


Secara real, hukum kita kerap alami pendangkalan makna, "banality of evil" ketika perangkat hukum disalahgunakan dan dijadikan instrumen kekuasaan/alat penindasan, padahal secara ideal seperti yang saya tulis dalam buku "HERSTORY" (RJK, Kanisius), hukum bisa berarti "Hadir Untuk Kesejahteraan Umat Manusia".

Adapun 3 jalan iman supaya kita bisa hadir untuk kesejahteraan umat manusia, al:

1."Donate - Berbagilah": 
Hukum cintakasih. Ia ajak kita berbagi kasih, "lex caritas" karena bukankah Allah adalah kasih dan hukum terutamanya adalah kasih? Kasih Yesus yang tulus hadir untuk menggenapi hukum Taurat yang kerap legalistis sehingga terlalu detail dan mudah disalahgunakan orang orang yang penuh akal bulus.

2."Servite - Layanilah": 
Hukum pelayanan. Bukankah Ia datang untuk melayani dan bukan dilayani? Dkl: Hukum jelasnya bukan tujuan u/kekuasaan (will to power) tapi alat u/pelayanan (will to truth), yakni mencapai hidup yang berkualitas dengan melayani Tuhan yang tampak hadir lewat sesama, sehingga hidup bersama yang "chaos"/kacau bs bertransformasi menjadi "kosmos"/teratur.

3."Dimitte - Ampunilah": 
Hukum pengampunan. Bukankah kita pernah lalai-ceroboh-gegabah serta berbuat salah pada Tuhan dan sesama? Bukankah rasa damai tercipta ketika kita mau saling berbenah-berbesar hati dan berinstrospeksi dengan asas keadilan? Inilah salah satu tujuan dasar hukum, yakni menciptakan keadaan yang harmonis yakni "bonum commune - kesejahteraan bersama, baik dg diri sendiri, dg sesama, alam dan dg Tuhan sendiri, sehingga tercipta "pacem in terris et pacem in cordis - damai di bumi dan damai di hati".

"Sekolah Yakum ada di kota Yogya - Cintailah hukum maka hidup kita jadi bercahaya."

Salam HIKers,
Tuhan berkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh
Pin HIK: 7EDF44CE/54E255C0

NB:

1.Ubi concordia, ibi victoria - Di mana ada keselarasan, di sana ada kemenangan.”
Yesus hari ini menampilkan dirinya sebagai penyelaras pelbagai hukum: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
Demikian pula, Yesus tidak pernah menyingkirkan atau meniadakan kita tetapi justru menyempurnakan hidup kita bukan?

Adapun tiga sikap dasar yang bisa kita petik dari Yesus, al:

A.Caritas:
Cinta kasih adalah dasar dari semua kata dan warta Yesus. Ya, cinta vertikal kepada Allah juga horizontal kepada sesama seharusnya menjadi dasar dari segala aturan dan hukum yg sebenarnya berarti baik, yakni “Hadir Untuk Kesejahteraan Umat Manusia.”
Bukankah jika tanpa didasari cinta yang tulus akan Tuhan dan sesama, hukum sangat bisa disalahgunakan dan dijadikan ajang kemunafikan serta instrument pembenaran diri? Bukankah kalau tidak didasari cinta kasih, wajar jika ada saudara/i yang dianggap melakukan kesalahan, kita lebih mudah menyingkiri dan menyingkirkannya? Bahkan ketika jelas bahwa sebenarnya orang tersebut tidak salah, kita masih terus mencari-cari kesalahannya sehingga ia semakin tersingkir bukan?

B.Unitas:
Semangat persatuan adalah pendorong dari semua pelaksanaan hukum, tentunya dengan tetap menghargai keanekaragaman karakter dan parameter setiap pribadi (“unitas in diversitas-bhineka tunggal ika-bersatu dalam perbedaan”).
Hal ini berangkat dari sebuah kesadaran iman bahwa Yesus sendiri bersatu dengan BapaNya dan pergulatan hidup semua orang di sekitarnya. Ia mengerti “bahasa”: suka duka masyarakatnya dan selalu menginginkan persatuan dan bukan perpecahan maka Ia tidak begitu saja menghapuskan hukum Taurat dan peran para nabi tapi menggenapi dan menyelaraskannya dengan kehadiranNya yang benar-benar mempersatukan. Ia sekaligus mengajak kita mengingat bahwa kita semua adalah saudara (se-udara), satu dalam bumi yang sama dan satu dalam Tuhan yang sama.
Bukankah dengan semangat persatuan, maka salah satu tujuan hukum yang adalah menciptakan kosmos/keteraturan dan bukan chaos/kekacauan semakin lebih mudah tercapai?

C.Libertas:
Kebebasan sebagai anak-anak Allah adalah buah dan tujuan dari pelbagai pelaksanaan hukum taurat, karena hukum jelasnya ada untuk manusia, bukan manusia untuk hukum.
Disinilah, Yesus sungguh menjadi Tuhan yang humanis (terbukakan pada aspek pastoralis/penggembalaan yang manusiawi) bukan sekedar legalis (terbutakan melulu pada aspek yuridis/hukum belaka).
Bukankah benar pepatah latin yang berkata, “salus animarum suprema lex – hukum yang tertinggi adalah keselamatan jiwa, jadi yang penting adalah manusianya bukan sekedar hukumnya. Manusia menjadi subyek hukum yang jelas-jelas memerdekakan.
Oleh karena itu, marilah kita meneruskan penggenapan ajaran Yesus melalui semua perbuatan baik yang benar-benar memerdekakan dengan “HIK-Hidangan Istimewa Kristiani” setiap harinya yakni: Harapan, Iman dan Kasih.

“Kalkuta kota sukacita - Kalikanlah kuatnya rasa cinta.”


2."Lex aeterna - Hukum abadi."
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat/kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya."

Secara sosiologis, orang Yahudi mempunyai banyak hukum yang secara padat terungkap dalam 10 Perintah Allah yang pada awalnya tertulis di dua loh batu yang dibawa Musa ketika turun dari Gunung Sinai (Jabal Musa جبل موسَÙ‰).

Pada kenyataannya banyak orang yang menjadi terbutakan oleh hukum padahal pada dasarnya, 10 Perintah Allah itu membukakan dua bagian besar: 4 perintah (Kel 20:3-11) ttg hubungan manusia dengan Allah dan 6 perintah (Kel 20:12-17) tentang hubungan manusia dengan sesamanya.

Dengan kata lain: Tuhan tidak ingin kita menjadi orang yang bijak, yang mempunyai hukum abadi, yang tidak legalis tapi benar-benar loyalis, yang sepakat dengan St. Paulus bahwa: "Barangsiapa mengasihi sesamanya, ia sudah memenuhi hukum Taurat."

Jelasnya, pelbagai hukum dan larangan, seperti: “jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini milik sesama” mengajak kita untuk selalu hidup dengan nada dasar c, cinta kasih, karena sebenarnya kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Rm 13:8-10) dan itulah yg dibuat Yesus.

Jadi, kegenapan pelbagai hukum Taurat adalah hukum kasih, yang oleh Yesus disebut sebagai hukum pertama dan utama (Mat 22:37-40), yakni "kasih berpola salib, kasihi Tuhan (dimensi vertikal) sekaligus juga sesama (dimensi horisontal).

"Bayar pajak di Taman Sari - Jadilah orang yang bijak setiap hari."


3.“Ecce Sacerdos Magnus - Pandanglah Imam Agung.”
Secara sederhana, ada empat pokok wejangan Yesus sebagai Imam Agung dalam Kotbah di Bukit, antara lain:
A. Semangat yang harus menjiwai anggota Kerajaan Allah. (Mat 5:3-48).
B. Semangat untuk "menggenapi" hukum/adat-istiadat leluhur. (Mat 6:1-18).
C. Sikap terhadap harta benda (Mat 6:19-34).
D. Perihal hubungan dengan sesama (Mat 7:1-12).

Yang pasti, Yesus sang Imam Agung ini datang ke dunia bukan untuk membatalkan Hukum Taurat tapi untuk menggenapinya menurut hakekat yang terdalam, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama.

Ia menegaskan bahwa Perjanjian Lama adalah firman Allah yang kekal. Maka, siapapun yang melalaikan/melanggar satu perintah saja dari firman Tuhan itu, ia telah melanggar seluruh firman Tuhan.

Lebih lanjut, Yesus sang Imam Agung menegur para imam, ahli Taurat dan orang Farisi sebagai orang yang tidak sejati hidupnya.

Nah, bagaimana mungkin orang yang kesehariannya bergaul dengan firman dan hukum Tuhan ternyata di mata Yesus tidaklah sejati dan bukanlah pewaris Kerajaan Surga?
Bisa jadi, ketaatan orang Farisi hanya bersifat lahiriah karena tidak didasarkan atas kasih kepada Allah dan sesama tapi demi cinta diri dan kesombongan rohani.
Dengan kata lain: Yesus ingin agar kita memberlakukan firman dan hukum Tuhan dengan sungguh mulai dari dalam hati bukan hanya sekadar ucapan/tingkah laku lahiriah karena sejatinya, hukum Taurat dan firmanNya diberikan Tuhan supaya kita hidup lebih bermutu.
Indahnya: hidup, ajaran dan karya penebusan Kristus adalah penggenapan hukum Taurat.
Hanya Kristus-lah yang dapat membebaskan kita untuk hidup benar di hadapan hukum Allah dan dalam hubungan yang benar dengan sesama karena Ia menghayati hukum Tuhan sepenuhnya dari hati yang tulus dan kudus.

"Cari kardus di Lebak Bulus - Jadilah kudus dan tulus."


4.“Lex aterna - Hukum sejati!””
Inilah yang mendasari pesan Yesus: "Aku datang bukan untuk meniadakan hukum taurat, melainkan untuk menggenapinya."

Maksudnya ialah agar tuntutan hukum Allah yang "Hadir Untuk Kselamatan Umat Manusia" itu dapat dilaksanakan dalam kehidupan (Rom 3:31; 8:4).

Adapun hubungan kita dg hukum Allah meliputi beberapa hal, al:

A) Hukum itu terdiri atas prinsip etis+moral di PL (Mat 7:12; 22:36-40; Rom 3:31; Gal 5:14) dan ajaran Yesus serta para rasul (Mat 28:20; 1Kor 7:19; 9:21; Gal 6:2).

B) Hukum Taurat hendaknya dilihat sbg panduan moral bagi kita yang sudah selamat dan yang dengan menaatinya menunjukkan kehidupan Kristus ada di dlm diri kita (Rom 6:15-22).

C) Iman kpd Kristus merupakan titik tolak untuk menggenapi hukum Taurat. Melalui iman kepada Kristus, Allah menjadi Bapa kita (bd. Yoh 1:12). Oleh karena itu, ketaatan kita bukan sekedar ketaatan kepada Allah sebagai Pemberi hukum tp lebih selaku anak kpd Bapanya (Gal 4:6).

D) Melalui iman kepada Kristus, maka kita oleh kasih karunia Allah (Rom 5:21) dan Roh Kudus yang mendiami diri kt (Rom 8:13; Gal 3:5,14), diberikan dorongan dan kuasa untuk menaati hukum Allah (Rom 16:25-26; Ibr 10:16) dan hidup menurut pimpinan Roh Kudus (Rom 8:4-14), yg mematikan perbuatan daging dan menggenapi kehendak Allah (Rom 8:13; Mat 7:21). Demikianlah, ketaatan lahiriah kepada hukum Allah harus disertai perubahan yg nyata (Mat 5:21-28).

E) Kita mengikuti prinsip "iman" dg hidup "di bawah hukum Kristus" (1Kor 9:21). Dengan demikian, kita menggenapi hukum Kristus (Gal 6:2) dan dengan sendirinya setia kpd tuntutan hukum Taurat (Rom 7:4, 8:4; Gal 3:19, Gal 5:16-25).

F) Melakukan kehendak Bapa adl syarat untuk memasuki Kerajaan Sorga (Mat 7:21).
"Dari Cikarang ke Pasar Koja - Jadilah orang yang bersahaja."


5.Wednesday, 2 March 
"Whoever relaxes one of the commandments"
Gospel Reading: Matthew 5:17-19
"Think not that I have come to abolish the law and the prophets; I have come not to abolish them but to fulfill them. For truly, I say to you, till heaven and earth pass away, not an iota, not a dot, will pass from the law until all is accomplished. Whoever then relaxes one of the least of these commandments and teaches men so, shall be called least in the kingdom of heaven; but he who does them and teaches them shall be called great in the kingdom of heaven.

Old Testament Reading: Deuteronomy 4:1,5-9
"And now, O Israel, give heed to the statutes and the ordinances which I teach you, and do them; that you may live, and go in and take possession of the land which the LORD, the God of your fathers, gives you. Behold, I have taught you statutes and ordinances, as the LORD my God commanded me, that you should do them in the land which you are entering to take possession of it. Keep them and do them; for that will be your wisdom and your understanding in the sight of the peoples, who, when they hear all these statutes, will say, `Surely this great nation is a wise and understanding people.' For what great nation is there that has a god so near to it as the LORD our God is to us, whenever we call upon him? And what great nation is there, that has statutes and ordinances so righteous as all this law which I set before you this day? "Only take heed, and keep your soul diligently, lest you forget the things which your eyes have seen, and lest they depart from your heart all the days of your life; make them known to your children and your children's children."

Meditation
Do you view God's law negatively or positively? Jesus' attitude towards the law of God can be summed up in the great prayer of Psalm 119: "Oh, how I love your law! It is my meditation all the day." For the people of Israel the "law" could refer to the ten commandments or to the five Books of Moses, called the Pentateuch, which explain the commandments and ordinances of God for his people. The "law" also referred to the whole teaching or way of life which God gave to his people. The Jews in Jesus' time also used it as a description of the oral or scribal law. Needless to say, the scribes added many more things to the law than God intended. That is why Jesus often condemned the scribal law. It placed burdens on people which God had not intended. Jesus, however, made it very clear that the essence of God's law - his commandments and way of life, must be fulfilled.
Jesus taught reverence for God's law - reverence for God himself, for the Lord's Day, reverence or respect for parents, respect for life, for property, for another person's good name, respect for oneself and for one's neighbor lest wrong or hurtful desires master us. Reverence and respect for God's commandments teach us the way of love - love of God and love of neighbor.

The transforming work of the Holy Spirit 
What is impossible to men and women is possible to God and those who put their faith and trust in God. Through the gift of the Holy Spirit the Lord transforms us and makes us like himself. We are a new creation in Christ (2 Corinthians 5:17) because "God's love has been poured into our hearts through the Holy Spirit which has been given to us" (Romans 5:5). God gives us the grace to love as he loves, to forgive as he forgives, to think as he thinks, and to act as he acts.

The Lord loves justice and goodness and he hates every form of wickedness and sin. He wants to set us free from our unruly desires and sinful habits, so that we can choose to live each day in the peace, joy, and righteousness of his Holy Spirit (Romans 14: 17). To renounce sin is to turn away from what is harmful and destructive for our minds and hearts, and our very lives. As his followers we must love and respect his commandments and hate every form of sin. Do you love and revere the commands of the Lord?

"Lord Jesus, grant this day, to direct and sanctify, to rule and govern our hearts and bodies, so that all our thoughts, words and deeds may be according to your Father's law and thus may we be saved and protected through your mighty help."

Psalm 147:12-13,15-16,19-20
Praise the LORD, O Jerusalem! Praise your God, 
O Zion! 
For he strengthens the bars of your gates; he 
blesses your sons within you. 
He sends forth his command to the earth; his 
word runs swiftly. 
He gives snow like wool; he scatters hoarfrost 
like ashes. 
He declares his word to Jacob, his statutes and 
ordinances to Israel. 
He has not dealt thus with any other nation; 
they do not know his ordinances. Praise the 
LORD!

Daily Quote from the Early Church Fathers
"As Christians, our task is to make daily progress toward God. Our pilgrimage on earth is a school in which God is the only teacher, and it demands good students, not ones who play truant. In this school we learn something every day. We learn something from the commandments, something from examples, and something from Sacraments. These things are remedies for our wounds and materials for our studies." (Augustine of Hippo, 345-430 A.D., excerpt from Sermon 16A,1)



6.SKI – Sekolah Kerahiman Ilahi

A.Holy Feast/Misa Kudus: “Cinta Doa Ekaristi” 
@ Grj Petrus Paulus Mangga Besar Jkt
Rabu, 2 Maret 19.00

B.Sarasehan “Mercy’s Way”: Mother Model Messenger
@ Grj Andreas Kedoya Jkt Barat
Sabtu, 5 Maret 09.00-11.00

C.Sarasehan ”MOM – Mary Our Mother”
(Maria Bunda Kerahiman Ilahi)
@ Grj Theresia Menteng Jkt Pusat
Sabtu, 5 Maret 13.00-15.00


D. Holy Feast/Misa Kudus: “Cinta Doa Ekaristi” 
@ FX - Senayan Jkt Selatan
Imago Dei 
Sabtu, 5 Maret 16.00-17.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar