Ads 468x60px

Buku 100 Tahun Fatima - Sebuah Memoar (3)

 " MARY - WOMAN AND MOTHER "
(RJK)


Bunda Maria dari Fatima,
sembuhkanlah orang-orang sakit yang berlindung kepadamu.
Bunda Maria dari Fatima,
hiburlah orang-orang menderita yang percaya kepadamu.
Bunda Maria dari Fatima,
berilah damai bagi dunia.
(Kutipan Doa Bunda Maria dari Fatima, Kardinal Patriarch,
Lisbon, 31 November 1938)

"FATIMA TODAY"
Terletak di utara kota Lisbon, Fatima kini menjadi salah satu pusat peziarahan yang paling terkenal dan dihormati di dunia. Orang-orang datang ke Fatima untuk memohon mukjizat dan bersyukur atas berkat yang diperoleh, khususnya atas perantaraan Maria Ratu Rosario.
Biasanya pada setiap tanggal 12 dan 13 Mei adalah puncak kepadatan para peziarah untuk prosesi perayaan penampakan Maria Fatima.
Disini sekarang berdiri Basilika Our Lady of Fatima. Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1928 dan diresmikan pada tahun 1953. Menara loncengnya setinggi 65 meter dan terdapat pada puncaknya, sebuah mahkota perunggu seberat 7,000 pounds (3 ton).

Sebuah patung besar Hati Maria Tak Bernoda yang dipahat oleh Fr. Thomas McGlynn, sesuai dengan deskripsi yang diberikan Suster Lucia, ditempatkan di relung depan Basilika pada 13 Juni 1959. Patung ini memiliki tinggi 4,73 meter dan berat 14 ton.

Pada bagian dalam interior Basilika terdapat makam dari tiga anak gembala, menghadap altar, sebelah kanan adalah makam Francisco Marto dan sebelah kiri makam Jacinta Marto dan Lucia dos Santos.

Dengan semakin banyaknya peziarah yang datang ke Fatima, Basilika pertama ini yang mampu menampung 3 ribu-an orang dirasa tidak mencukupi untuk menampung kelompok yang lebih besar, sehingga kemudian pada tahun 2007 dibangun Basilika Tritunggal Maha Kudus yang terletak di ujung lain pada lapangan Basilika Maria Fatima. Basilika "Holy Trinity-Tritunggal Maha Kudus" ini mampu menampung sampai 9 ribu orang.

Pada bagian lain, seperti atas permintaan Bunda Maria, dibangun sebuah kapel sederhana di tempat tepat terjadinya penampakan.

Kapel penampakan ini terletak di Cova da Iria, masih di dalam komplek peziarahan Fatima. Kapel ini dianggap jantung atau pusat dari keseluruhan tempat kudus ini. Pada bagian depan terdapat patung Hati Kudus Yesus dari perunggu dan di bagian belakang kapel terdapat replika bonggol kayu oak.

Tempat injakan patung Bunda Maria dari Fatima, menandai tempat di mana pohon oak kecil pertama berada. Pohon itu sendiri sudah tidak ada karena orang-orang mengambil dan membawa pulang bagian-bagiannya, menganggap bahwa bahkan sepotong rantingnya pun menjadi sebagai lambang kehadiran Maria. Para peziarah terkadang berjalan dan berdoa dari kapel ini ke Basilika dengan berlutut sebagai silih.

Di sebelah kapel penampakan, terdapat sebuah ruang lilin.
Di tempat ini dijual lilin dari berbagai ukuran dan para peziarah biasa menyalakannya pada tempat lilin di sana.
Kadang-kadang orang-orang yang mendoakan kesembuhan atas penyakit mereka, memasukkan tiruan dari bagian tubuh yang mereka mohonkan kesembuhannya, seperti kaki, tangan, hati, kepala, dan lainnya ke dalam nyala lilin.
Sebuah blok besar bekas dari tembok Berlin, juga diletakkan pada komplek Fatima dan menjadi sebuah monumen. Monumen tembok Berlin, sebagai simbol perdamaian dan penyatuan kembali Jerman, diresmikan pada 13 Agustus 1994.

Ditulis pada sebuah batu, kata-kata yang diucapkan oleh St. Yohanes Paulus II pada bulan Mei 1991: "thank you, celeste Shepherd for having guided with caring people to freedom!”



NB:

MARIA DAN TOKOH PROTESTANTISME: SELAYANG PANDANG.

Orang Protestan memegang sebuah doktrin yaitu “Sola Scriptura” yang berarti “Hanya Alkitab”, yang berarti bahwa seluruh ajaran Yesus yang benar harus terdapat dalam Alkitab. Doktrin ini tidak pernah dikenal sebelumnya dalam sejarah gereja dan baru lahir kemudian pada masa reformasi di abad 16. Doktrin ini diciptakan oleh seorang pastor bernama Martin Luther, ketika ia memisahkan diri dari Gereja Katolik dan kemudian menjadi tonggak ajaran dan fondasi dasar dari Protestantisme hingga kini.

Kacamata sola scriptura-lah yang telah secara bertahap menghilangkan ajaran-ajaran Gereja Katolik mengenai Maria dan yang lainnya, padahal sebenarnya Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli, tiga pelopor utama reformasi memiliki pandangan tegas dan sama mengenai Maria. Mereka mengaku bahwa Maria adalah Bunda Allah, penuh rahmat dan tanpa noda dosa.

Martin Luther menulis : 
“Dalam karya-Nya, sewaktu dia dijadikan Bunda Allah, segala yang baik diberikan-Nya sehingga manusia tidak dapat membayangkannya. Bukan hanya bahwa Maria adalah ibu Dia yang lahir di Bethlehem, akan tetapi Dia yang, sebelum jaman, sudah abadi lahir dari Bapa, Maria dan pada waktu yang sama adalah manusia dan Tuhan.” 
(Weimer, The Works of Luther, Concordia vol 7 hal 572.)

Dalam sebuah catatan pada biografi Luther sendiri diketahui bahwa Luther setelah memisahkan diri dari Gereja Katolik masih tetap berdoa rosario dan memiliki devosi kepada Bunda Maria hingga akhir hayatnya: “Apakah persamaan dari para dayang istana, bangsawan, raja, ratu, pangeran dan Kaisar dunia bila dibandingkan dengan Perawan Maria, Putri Daud. Ia adalah Bunda dari Allah kita, Pribadi yang amat agung di bumi ini. Setelah Kristus, dialah permata terindah dalam kekristenan. Sang Ratu yang ditinggikan di atas segala kebijaksanaan, kesucian dan ke¬agungan ini tak akan pernah cukup dipuji” (Martin Luther).

John Calvin menulis : 
Tidak dapat kita ingkari bahwa Tuhan telah memilih dan menentukan Maria sebagai ibu dan Putera-Nya, memberkatinya dengan segala hormat yang tertinggi. Elisabeth memanggilnya Bunda Allah, karena kesatuan dua alam Kristus yaitu manusia dan Tuhan pada waktu yang sama, karena selama Dia berada dalam rahimnya, Dia adalah tetap manusia dan Tuhan pada waktu yang sama.” 
(Calvini Opera, Corpus Reformatorum, braunschweig-Berlin. Vol 45, halaman 348 dan 335.)

Ulrich Zwingli menulis: 
“Telah diberikan kepada Maria dan yang tidak dapat dimiliki oleh semua ciptaan, bahwa dalam daging dia dapat melahirkan Putera Tuhan.” 
(Zwingli Opera Reformatorum, Berlin. Vol 6, halaman 639.)

Jauh hari sebelum keperawanan Maria dipertanyakan oleh umat Protestan, ternyata para pelopor reformasi Protestan juga selalu membela keperawanan Maria:
Matin Luther: 
“Adalah sebuah pengakuan iman bahwa Maria adalah Bunda Allah yang masih tetap perawan. Kami percaya Kristus lahir dari rahimnya dan sesudahnya Maria tetap sama seperti sebelumnya”. 
(The Works of Luther, vol. 11 halaman 319-320)

John Calvin dalam khotbahnya mengenai kitab Matius berkata: 
“Terdapat beberapa orang yang ingin mengartikan Matius 1:25 bahwa Maria mempunyai anak-anak selain Yesus Putera Allah, dan bahwa Yoseph berhubungan dengannya setelah kelahiran Yesus; adalah suatu kebodohan! Karena penulis Injil tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi sesudahnya akan tetapi keinginannya dalam menunjukan ketaatan Yoseph karena adalah benar bahwa itu adalah malaikat Allah yang dikirim kepada Maria. Karena itu Yoseph tidak pernah sekalipun bersama Maria”. 
(Sermon on Mathew 1:22-25, cetakan 1562.)

Zwingli menulis: 
“Dengan teguh, aku percaya bahwa Maria menurut Injil adalah perawan yang sempurna yang melahirkan Putera Allah, Maria sewaktu melahirkan-Nya dan sesudah melahirkan-Nya dan selamanya adalah tetap sebagai perawan suci” (Zwingli Opera, vol. 1 halaman 424.) 
=====


“Hendaklah kita mencari rahmat, dan marilah kita mencarinya melalui Maria.”
Maria, Oh Maria,
genggamlah tanganku,
peganglah hatiku,
terangilah mataku,
dan sertailah pucuk-pucuk cintaku........
Maria, oh Maria,
doakanlah aku juga,
Karena mataku sering salah melihat,
bibirku kerap salah berucap,
telingaku kadang salah mendengar,
dan hatiku tak ayal salah menduga......
Maria, Oh Maria,
Kerap, aku berserah di matamu
ketika hidup jatuh terpuruk - menghirup harum cahaya cintamu.
Kerap, aku singgah di bibirmu
ketika duka tak ber’asa - mencucup hangat anggur sapamu.
Kerap, aku bersimpuh pasrah di kakimu
ketika cinta dan karya tak terasa kaya makna – mendekap erat lembut doamu……...
Maria, Oh Maria,
suburkan gersangku di tenang hadirmu,
sembuhkan lukaku di hangat hatimu,
kuatkan rapuhku di rindang doamu,
pun segarkan letihku di harum sapamu”.
Maria, Oh Maria,
sekali lagi kukatakan padamu.....,
genggamlah tanganku,
peganglah hatiku,
terangilah mataku,
dan sertailah pucuk-pucuk cintaku...

(RJK)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar