Ads 468x60px

Minggu, 26 Maret 2017

Minggu Prapaskah IV
1Sam 16:1b.6-7.10-13a; Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Ef 5:8-14; Yoh 9:1-41
"Lux veritatis - Cahaya kebenaran!"

Inilah salah satu gelar untuk Yesus ketika Ia menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Cahaya kebenaranNya membuat orang buta itu dapat melihat.

Sebaliknya, orang Farisi yang merasa bisa melihat (merasa tahu dan lebih mengenal Allah) justru menjadi buta. Mereka tidak mampu melihat karya Allah dalam diri Yesus dan si buta yang disembuhkanNya karena hatinya penuh dengan kesombongan dan kemunafikan.

Adapun hari ini, Yesus meludah ke tanah lalu membuat lumpur yang dipoleskannya pada mata orang buta itu dan menyuruhnya pergi ke Siloam (“yang diutus”). “Yang diutus” adalah sebutan khas bagi Yesus, maka dapat dipastikan bahwa pertama-tama kita diajak pergi kepada Yesus untuk mendapat penyembuhan dari aneka "kebutaan" ("Buta - Banyak Urusan Tanpa Allah”).

Di lain matra, orang buta yang pergi ke "siloam" ini maju bertahap dan sejalan dengan proses “pemahaman para katekumen”: Awalnya, dari pengertian pertama mengenai kenyataan bahwa ada seseorang bernama Yesus (ay. 11), mereka akan maju ke dalam pemahaman mengenai tokoh ini sebagai "nabi" (ay. 17), sebagai "seorang yang berasal dari Allah" (ay. 33), sebagai "Anak Manusia yang ilahi" (ay. 35) dan akhirnya berpuncak pada pengakuan bahwa "Yesus adalah Tuhan" (ay. 38).

Proses kemajuan yang terjadi ini mencerminkan langkah-langkah katekumenat yang mengarahkan kepada iman yang utuh dan penuh. Orang buta itu sampai kepada iman akan Yesus tidak melalui Hukum Taurat dan berbagai tafsirannya seperti dilakukan oleh kaum Farisi tapi pengalaman pribadi diselamatkan oleh Yesus-lah yang menjadi alasan utamanya untuk beriman secara utuh.

Yang pasti, bukankah juga keselamatan itu datang bagaikan terang bagi orang buta? (Lih: Mzm 146,8; Yes 29,18; 35,5; 42,16.18; 43,8;Yer 31,8).

"Ada usus ada bakmie - Tuhan Yesus sembuhkanlah kami."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)


NB:

A.Kontemplasi Mini
Dapatkah kamu bayangkan bagaimana rasanya jika kamu tak dapat melihat? Tutuplah matamu rapat-rapat dan bayangkan bagaimana rasanya jika kamu tak dapat melihat apapun. Katakan pada Yesus bagaimana perasaanmu mengenai hal itu. Mungkin kamu bahkan dapat menunjukkan atau menceritakan pada Yesus beberapa hal yang tak akan lagi dapat kamu nikmati, hal-hal yang sekarang kamu suka melihatnya.
Tunjukkan pada Yesus betapa bahagianya kamu karena kamu dapat melihat. Jika kamu ingin tinggal lebih lama bersama Yesus, mungkin kamu dapat memikirkan orang-orang terhadap siapa kamu sulit melihatnya dari sisi yang baik, mungkin seseorang dengan siapa kamu bertengkar, atau orang-orang yang menjengkelkan hatimu. Katakan pada Yesus apa yang membuatmu sulit untuk berteman dengannya.
Kemudian mintalah Yesus untuk menolongmu agar dapat melihat dengan lebih baik. Ijinkan Yesus menyentuh “mata hati”-mu. Tinggallah sejenak bersama Yesus dan nikmatilah saat-saat bersama-Nya.

B. Kisah Penyembuhan yang Lain:“Si Buta dari Yerikho”

01. Kisah mukjizat penyembuhan Bartimeus merupakan mukjizat penyembuhan Yesus yang terakhir dalam Injil Markus karena kemudian langsung dilanjutkan dengan kisah Yesus, Anak Daud masuk ke kota Yerusalem, kota Daud untuk menyelesaikan tugas perutusan-Nya sebagai Mesias.
Kisah penyembuhan ini merupakan klimaks sekaligus kesimpulan dari kisah sebelumnya. Dalam kisah sebelumnya sampai tiga kali Yesus memberitahukan kepada para murid tentang sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya namun para murid tidak mampu memahaminya. Mereka seakan-akan tetap “buta”.
Kisah penyembuhan Bartimeus dari kebutaannya ini bisa dimaknai sebagai simbol usaha Yesus untuk menghalau kegelapan dalam hati para murid agar mampu memahami misteri sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Meskipun telah mengenal Yesus sebagai Mesias namun mereka tetap buta, buta terhadap jati diri-Nya, buta akan tugas perutusan-Nya, buta tentang cara-Nya melaksanakan karya penyelamatan.
Kisah Bartimeus menjadi model atau contoh bagaimana hendaknya para murid bersikap. Kendati dilarang dan mendapatkan perlawanan dari orang banyak, Bartimeus tetap nekat, ngotot memohon agar disembuhkan dari kebutaannya. Dengan penuh keberanian, tanpa takut mengakui Yesus sebagai Anak Daud, Mesias yang dinantikan. Dan setelah disembuhkan dengan mantab tanpa keragu-raguan ia berjalan mengikuti-Nya di jalan salib, jalan penderitaan untuk ikut serta melaksanakan karya penebusan-Nya.
Sikap itu didasari oleh keyakinan bahwa Yesuslah Sang Jalan yang benar (Kis 9:2; 19:9), yang akan menghantar kita menuju kehidupan dan kebahagiaan kekal.

02. Dalam Perjanjian Lama kebutaan dipakai sebagai kiasan untuk meng-gambarkan ketidakmampuan baik umat maupun para pemimpin untuk mendengarkan dan mengindahkan kehendak Allah sehingga meskipun “melihat banyak tetapi tidak memperhatikan” (Yes 42:20; Yes 56:10).
Perjanjian Baru memakai kata “buta” dalam pengertian yang berbeda-beda. Yesus menyamakan orang Farisi sebagai orang buta yang menun-tun orang buta karena mereka tidak mampu membuat prioritas dalam hidupnya. Agar dapat menjalankan adat istiadat nenek moyang mereka malah melalaikan atau mengesampingkan perintah Allah (lih. Mat 15:14).
St. Paulus memakai kata “buta” untuk orang-orang yang tidak percaya karena hati dan pikiran mereka melekat pada urusan duniawi belaka (lih. 2 Kor 4:4).
St. Petrus mempergunakannya untuk orang yang melalaikan entah kebajikan, pengetahuan iman, penguasaan diri, ketekunan berbuat baik, kesalehan maupun kasih kepada sesama (lih. 2 Ptr 1:5-9)
St. Yohanes memaksudkannya untuk orang-orang yang membenci sesamanya (lih. 1 Yoh 2:11).

03. Untuk pertama kalinya Yesus tidak melarang atau mencegah seseorang yang mengakui-Nya sebagai Anak Daud di depan umum. Gelar “Anak Daud” adalah gelar mesianik yang untuk pertama kalinya dipakai dalam Mazmur Salomo (17:21), sebuah literatur Yahudi kuno. Dalam Perjanjian Baru gelar itu dikenakan kepada Yesus (mis. Mrk. 10:47; Mat. 1:1; 21:9).
Orang Yahudi pada umumnya meyakini bahwa Mesias yang akan datang untuk menyelamatkan bangsa dari keterpurukan, dari penjajahan, berasal dari keturunan Daud. Daud adalah raja Israel yang dipandang paling baik sepanjang sejarah bangsa terpilih. Matius menunjukkan bahwa pengharapan itu terpenuhi dalam pribadi Yesus ketika Dia memasuki kota Yerusalem dan mendapat sambutan yang luar bisa dari rakyat yang mengelu-elukan-Nya sebagai Anak Daud. Kehadiran Yesus seperti itu mengejutkan orang-orang Farisi yang memuncak dengan perdebatan tentang Mesias (Mat 22:41-46).
Markus jarang sekali memakai gelar itu dalam injilnya. Sedang dalam Injil Matius gelar Anak Daud dipakai sembilan kali sebagai jawaban atas keberatan orang-orang Yahudi terhadap pengakuan Gereja bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Daud.
Melalui silsilah, Mateus dengan gamblang menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Daud karena memang mempunyai hubungan darah dengannya (lih. Mat. 2:2). Kalau orang Farisi tidak mengakui-Nya sebagai Mesias karena memang penampilan dan karya-Nya tidak cocok dengan pemahaman mereka akan Mesias yang akan datang. Keselamatan yang ditawarkan Yesus bukan keselamatan politis seperti yang menjadi dambaan umum pada waktu itu. Kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan rancangan Allah, bukan sebaliknya, Allah yang harus menuruti keinginan kita!

04. Setelah dibawa menghadap-Nya, Yesus menanyakan keinginan Bartimeus. Karena dicekam oleh kerinduan untuk sembuh dan yakin sepenuhnya bahwa Yesus mampu menyembuhkannya, dengan mantab ia memohon agar disembuhkan. Imannya yang mendalam terungkap dalam gelar yang dipakai untuk menyebut Yesus yakni Anak Daud.
Artinya? 
Bartimeus yakin bahwa Yesuslah Sang Mesias yang dinantikan oleh banyak orang. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa iman Bartimeus telah menyelamatkannya. Karena iman itulah, impiannya menjadi kenyataan.
Dalam dunia kedokteran modern, iman pun berperan penting dalam proses penyembuhan. Bila seorang pasien memiliki semangat yang kuat untuk sembuh dan percaya penuh pada kompetensi dokter yang merawatnya, dia sudah mengalami setengah kesembuhan karena dengan penuh keyakinan dia akan menjalani proses penyembuhan dengan mentaati semua petunjuk dan nasehat dokter.
Kisah Bartimeus dapat dipakai untuk memahami proses perkembangan hidup rohani. Pengalaman rohani yang otentik berawal dari kesadaran akan “kebutaan” dan “kemiskinan”, akan kegelapan, kegelisahan, ketidakberdayaan dan ketidakbahagiaan.
Kesadaran ini membawa kita kepada kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya yang dapat menyembuhkan dan memenuhi dambaan hati yang paling dalam.
Namun agar dapat menjumpai-Nya, kita harus melepaskan diri dari kelekatan yang tidak teratur dan dari tekanan-tekanan lingkungan sekitar yang menghalangi kita untuk menjumpai-Nya.
Bila kita tekun dan gigih memperjuangkan yang baik, benar dan suci, kita akan berjumpa dengan-Nya yang menanyai, “Apa yang kau inginkan”. Bila kita menjawab, “Aku ingin melihat, Tuhan”, mata batin kita akan terbuka. Kita akan mampu melihat semua pengalaman, perjumpaan dan peristiwa hidup yang kita alami dalam kacamata iman. Kita akan mampu melihat campur tangan Tuhan di balik semua peristiwa hidup. Semakin kita mengikuti-Nya semakin kita bersatu dengan-Nya dan mengalami pengalaman yang mentakjubkan.

05. Bartimeus juga dapat menjadi model kehidupan iman dan pribadi kita. Imannya kepada Yesus mengubah secara mendasar pola dan arah perjalanan hidupnya.
Di awal kisah dia digambarkan sebagai pengemis buta yang duduk di pinggir jalan, yang menggantungkan hidupnya pada belas kasih orang lain. Sebuah gambaran hidup yang pasif dan suram karena keterbatasan dan ketidakberdayaan yang menjadikannya tersisih, terpinggirkan dari hiruk pikuk kehidupan.
Bartimeus digambarkan sebagai orang yang reaktif. Orang yang reaktif adalah orang yang reaksi atau respon atas hidupnya ditentukan oleh hal-hal di luar dirinya (kondisi fisik, cuaca, sikap atau perlakuan orang lain, situasi sosial di sekitarnya).
Kehidupan emosionalnya seperti marah, tersinggung, sakit hati, putus asa, tidak berdaya, sedih, senang, bersemangat, nglokro ditentukan oleh pihak lain entah itu sesama atau suasana. Bartimeus senang bila orang lain memberinya sedekah tetapi murung bila tidak ada yang memperhatikannya.
Pada suatu ketika dia mendengar bahwa Yesus akan lewat di situ. Pendengaran itu menumbuhkan iman (bdk. Rom 10:17). Dan iman itu mengubah hidup Bartimeus dari reaktif menjadi proaktif. Dia sadar bahwa Dia sendirilah yang bertanggungjawab atas hidupnya maka dia mengambil inisiatif untuk bertindak menciptakan keadaan dan bukan dikuasai oleh keadaan.
Dengan demikian dia dapat mengatur, mengontrol emosi dan respon terhadap lingkungan sekitar. Pilihan tindakannya dan emosi yang menyertainya didasarkan pada nilai yang dipilih dan diyakininya. Fokus hidupnya bukan pada kekawatiran, masalah, kesulitan atau keterbatasan tetapi pada peluang, kesempatan, sisi positif.
Pilihan fokus hidup itu menciptakan optimisme, keyakinan dan harapan. Mengubah “seandainya” dengan “menjadi” dan mampu merumuskan tujuan hidupnya serta mempunyai komitmen untuk berusaha mewujudkannya.
Bartimeus kemudian bangkit berdiri dan berteriak mohon pertolongan Tuhan. Meskipun dicegah oleh banyak orang tetapi dia tetap nekat berteriak memohon pertolongan-Nya. Ketika Yesus memanggilnya dengan segera ia menanggalkan jubahnya dan dengan cepat menjumpai Yesus.
Bagi seorang pengemis seperti Bartimeus, jubah adalah milik yang paling berharga yang biasa dipakai untuk selimut atau alas tempat duduk. Dengan tindakan simbolis “menanggalkan jubah” maksudnya kita harus mau meninggalkan semua yang kita anggap berharga atau yang menjadi andalan kita yang bisa merintangi perjalanannya menuju Yesus.
Setelah disembuhkan dia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Jalan penderitaan yang membawa kepada kebangkitan dan kemuliaan.

06. Untuk membedakan seorang yang reaktif dan proaktif kisah singkat ini kiranya bisa membantu:
Seorang ibu merasa heran melihat sikap sahabatnya yang belanja bersamanya itu tetap tenang, santun dan sabar meskipun pelayan toko melayani mereka dengan muka cemberut, kasar dan kurang sopan.
Saking herannya ibu itu bertanya pada sahabatnya, “Kenapa mbakyu masih bisa tenang dan sabar menghadapi pelayan toko yang kurang ajar itu. Aku jengkel banget dengan sikapnya yang kasar itu. Bukankah pembeli adalah raja, jadi dia harus melayani kita dengan sopan!”.
Dengan tenang sahabatnya itu menjawab, “Kalau pelayan itu sedang jengkel atau bad mood itu kan urusannya sendiri. Bukan urusan kita. Aku tidak mau hidupku ditentukan oleh dia. Aku sendirilah yang harus menentukan hidupku. Tersinggung atau tidak itu kan sebuah pilihan. Aku tidak mau mengotori hati dan pikiranku dengan kemarahan hanya karena sikapnya yang tidak sopan”.
Kebahagiaan memang tidak berasal dari di luar sana tetapi berasal dari sini, dari dalam hati ini.

Berkah Dalem.


C.BYAAR! MELIHAT KEMBALI - KE ATAS!

Diceritakan dalam petikan di Mrk 10:46-52 bagaimana Bartimeus, seorang pengemis buta, ikut berdesak-desakan mengerumuni Yesus yang sedang berjalan lewat Yerikho. Ia berseru minta dikasihani oleh Yesus yang dipanggilnya sebagai "anak Daud", gelar Mesias yang dinanti-nantikan banyak orang itu.

Kendati orang banyak menyuruhnya diam, ia terus berteriak dan makin keras. Mendengar itu Yesus menyuruh membawa Bartimeus mendekat untuk ditanyai ingin apa darinya. Ketika ia minta agar bisa melihat kembali, Yesus mengatakan bahwa imannya telah menyelamatkannya.

Saat itu juga Bartimeus dapat melihat kembali dan mulai mengikuti Yesus dalam perjalanannya. Marilah kita tengok terlebih dahulu perihal orang buta dalam Alkitab sebelum mengamati beberapa peristiwa Yesus menyembuhkan orang buta dan menafsirkan kisah Bartimeus ini.

01.ORANG BUTA DALAM ALKITAB
Orang bisa buta sejak lahir (Yoh 9:1), atau berkurang penglihatannya karena usia lanjut (Ishak dalam Kej 27:1; Eli dalam 1Sam 3:2; Ahia dalam 1Raj 14:4). Di luar itu, kebutaan umumnya akibat penyakit mata yang kasep. Hukum agama dan hukum adat melindungi orang-orang buta (seperti halnya juga janda, musafir, orang sakit, orang miskin, dst.).
Ada ancaman keras jangan sekali-sekali menyesatkan atau membiarkan orang buta tersandung (Im 19:14 dan Ul 27:18). Hukum-hukum ini keramat. Tipe orang saleh seperti Ayub bisa berkata sudah menjalankan kebaikan terhadap orang buta (Ayb 29:15).
Kebutaan Saulus (Kis 9) dipakai untuk menyadarkannya bahwa hingga saat itu ia "buta" akan kehadiran Yesus. Selain itu, kebutaan fisik membuatnya kini makin menghargai kebesaran Allah yang mengasihani orang buta seperti dia lewat orang yang mengantarkannya mencari kesembuhan di Damsyik - di sana ia juga menerima baptisan, yang dimengerti secara teologis olehnya nanti dalam Rm 6:5 sebagai ikut mati, dikubur, dan dibangkitkan kembali bersama dengan Kristus.
Kebutaan bisa didatangkan sebagai hajaran kekuatan gaib, misalnya Saulus/Paulus dengan kekuatan matanya menyihir buta seorang nabi palsu bernama Baryesus alias Elimas yang menjalankan praktek santet di Pafos di Pulau Siprus (Kis 13:11). Sambil berdoa Elisa menenung buta sepasukan orang Aram (2Raj 6:8 dst.). Malaikat Allah membutakan mata orang-orang Sodom yang berniat berbuat keji terhadap mereka yang menyamar sebagai tetamu Lot (Kej 19:1). Praktek merusak mata lawan juga dikenal, misalnya orang Filistin mencungkil mata Simson (Hak 16:22), Nebukadnezar membutakan Zedekia (2 RW 25:7).
Kebutaan dapat menggambarkan tipisnya kepekaan rohani, misalnya umat yang tak lagi mengindahkan Allah (Yes 42:18-19), malah pemimpin umat juga buta (Yes 56:10); juga orang yang duniawi belaka pikirannya (2Kor 4:4) atau yang tak berbuat baik kepada sesama (2 Ptr 1:9) dan yang membenci sesama (1Yoh 2:11). Gereja Laodikea dikatakan buta karena tidak menyadari kemerosotan rohani sendiri (Why 3:17). Orang Farisi diibaratkan orang buta menuntun orang buta (Mat 15:14; Luk 6:3).

02.YESUS DAN ORANG BUTA
Seperti diutarakan dalam Mat 11:5 dan Luk 7:(21-)22, dalam menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis, Yesus menyebut penyembuhan orang buta sebagai salah satu tanda bahwa dirinya itu tokoh yang telah lama dinanti-nantikan orang banyak. Hal ini berhubungan erat dengan gagasan Alkitab bahwa keselamatan datang bagaikan terang bagi orang buta (lihat Mzm 146:8; Yes 29:18; 35:5; 42:16.18; 43:8; Yer 31:8).
Tiga kejadian penyembuhan orang buta diceritakan secara khusus dalam Injil-Injil:
Di Betsaida (Mrk 8:22-25; Mat 9:29): Markus melaporkan bahwa orang buta yang diludahi matanya dan ditumpangi tangan oleh Yesus mulai bisa samar-samar melihat kembali dan baru pulih sepenuhnya ketika matanya ditumpangi tangan sekali lagi. Matius mengandaikan pembaca mampu membayangkan tiap tindakan Yesus itu dan hanya melaporkan Yesus "menjamah mata" si buta. Akan tetapi, Matius menekankan orang buta itu ditanya dulu apa sungguh percaya Yesus bisa menolong mereka.
Mengenai peristiwa di Yerikho (Mrk 10:46 dst.; Luk 18:35 dst.; Mat 20:30 dst.) Markus dan Lukas berbicara tentang Bartimeus si buta yang menjadi peminta-minta, tapi entah bagaimana Matius menambahkan orang buta yang lain sehingga penyembuhannya terjadi pada dua orang buta tanpa nama. Boleh jadi ingatan Matius agak rancu dengan peristiwa yang pernah diceritakannya sendiri dalam Mat 9:27-29.
Bagaimanapun juga si buta itu, satu atau dua orang, berteriak minta tolong, "Anak Daud, kasihanilah...!" Dan Yesus langsung berbuat sesuatu. Tak perlu heran, menurut adat dan hukum orang buta wajib ditolong (lihat catatan di atas), apalagi kalau yang bersangkutan mengimbau kewajiban keramat Mesias untuk menunjukkan belas kasihan ilahi.
Di Yerusalem (Yoh 9:1-41, orang buta sejak lahir), Yesus meludah ke tanah dan membuat lumpur yang dipoleskannya pada mata orang buta sejak lahir itu lalu menyuruhnya pergi berendam di kolam Siloam dan kembali ke Yesus dan penglihatannya kini beres. Penyembuhan ini terjadi dengan maksud menunjukkan betapa karya Allah nyata-nyata terjadi dalam diri orang buta sejak lahir itu (ay. 3).
Yesus bertindak seperti penyembuh paranormal zaman itu, lengkap dengan gerak-gerik magis-ritual dan penyebutan syarat-syaratnya segala. Injil kadang-kadang merekamnya, kadang-kadang hanya mengandaikan pembaca sudah tahu dan bisa membayangkannya sendiri.

03.DIALOG IMAJINER DENGAN BARTIMEUS
TANYA: Pak Bartimeus, kenapa kok Anda bersikeras minta tolong kepada Yesus? Apa Anda tidak takut orang banyak yang mengomeli Anda?
BARTIMEUS: Itu hakku, bukan? Yesus itu kan Mesias keturunan Daud, betul kagak? Ia tidak bakal mengingkari kewajibannya kepada orang kayak gue-gue ini. Dan ngapain takut sama orang banyak? Mereka kan tidak bakal berani menjegalku, situ kan ahli Kitab Suci, apa kata Im 19:14 dan Ul 27:18?
TANYA: Okay, Pak. Lain hal, apa yang Anda rasakan waktu Yesus tanya ingin apa darinya?
BARTIMEUS: Wah, dag-dig-dug! Sampai saat itu aku pikir aku ini kena hukuman Allah kayak orang Aram atau orang kota Sodom, atau dukun belang yang kalian kenal dari Kitab Suci. Kebetulan Yesus lewat Yerikho. Dengar-dengar ia mengajarkan Allah itu Bapa yang baik. Ini perkara baru. Tapi kurang jelas apa juga berlaku bagi orang seperti aku ini. Maka mau tanya langsung kepadanya. Tahu-tahunya ia malah nyuruh aku datang mendekat dan bertanya aku mau dia lakukan apa bagiku. Lha, tentu saja gue bilang pengin bisa ngeliat kembali. Saat itu juga rasanya byaar!
TANYA: Omong-omong, persisnya Injil-Injil melaporkan "byaar" Anda itu tadi itu sebagai "saat itu juga ia bisa melihat kembali". Apanya yang "kembali"? Soalnya begini, sabar ya Pak, teks Injil mengatakan Anda itu "ana-eblepse". Lha, "eblepse", aorist orang ke-3 tunggal, artinya "mulai melihat" itu memiliki awalan "ana-" yang mengandung makna "kembali". Jadi, dengan "byaar" tadi Anda mulai bisa melihat hal-hal seperti dulu lagi. Tetapi awalan "ana-" itu juga berarti "ke atas", jadi "ana-eblepse" itu juga "mulai bisa memandang ke atas". Yesus sendiri misalnya ketika hendak memberi makan lima ribu orang dikatakan dalam Mat 14:19 "... menengadah smile emotikon ana-eblepsas) ke langit lalu mengucap syukur..." Apa Anda setuju dikisahkan dalam Injil-Injil dengan kata "ana-eblepse" yang sarat dengan dua nuansa itu?
BARTIMEUS: Waduh, waduh, terima kasih diajari Yunani! Memang cerita Injil-Injil itu jitu. Dalam "byaar" tadi rasa-rasanya mulai tampak juga apa yang dilihat Yesus ketika ia menengadah.
TANYA: Lha apa itu?
BARTIMEUS: Situ belum tahu? Kursus kilat Yunani saya balas dengan kursus kilat iman. Yesus bilang sama gue, "Imanmu sudah menyelamatkanmu." Ia tahu saat itu saya "byaar" dan mulai bisa juga melihat yang dilihatnya seperti ketika ia menengadah tadi. Inilah yang dia maksudkan. Aku mulai makin tertarik ikut melihat yang betul-betul dilihatnya, bukan hanya langit saja tapi siapa yang di sana. Karena itu, aku ikuti dia. Tiap hari aku mendengarkan ia bercerita mengenai Bapanya yang ada di surga, yang di atas sana. Maka Mrk 10:52 bilang tentang aku yang mantan pengemis buta ini "lalu ia mulai mengikutinya dalam perjalanannya". Maksudnya, jalan menuju Bapanya - tafsir ini ndak bisa Anda raih dengan eksegese tok lho, karena hanya terjangkau dalam iman yang disebut Yesus tadi. Luk 18:43 mengatakan yang sama ketika bilang tentang diriku "lalu ia mulai mengikuti dia sambil memuliakan Allah". Allah yang makin kupandangi dalam mengikut Yesus.
Pada akhir tanya jawab itu, terbayang Bartimeus berjalan mengikuti Yesus - ia yang tadi buta itu kini menuntun kita semua mulai memahami apa makna mengikuti Yesus dalam perjalanannya. Ia juga bukan peminta-minta lagi, ia bisa memberi banyak. Apa rekan-rekan berkeberatan bila dikatakan perjumpaan Bartimeus dengan Yesus itu justru karena si buta ingin lebih tahu cerita Yesus tentang Bapanya yang di atas sana, di surga, dan dalam hubungan ini ia memperoleh kembali penglihatannya?


D.“Miserere nobis - Kasihanilah kami.”
Inilah seruan yang kita ucapkan ketika mendaraskan “Litani Hati Kudus Yesus” atau mendaraskan “Anak Domba Allah”.
Adapun kita juga diajak untuk belajar meminta belaskasihan seperti Bartimeus ("Bar" = anak, “Timeus: nama bapaknya) yang adalah seorang pengemis buta dan miskin yang tinggal di pinggir kota Yerikho, yang ikut berdesak-desakan mengerumuni Yesus.
Bicara soal orang buta dalam Kitab Suci, ada beberapa penyebabnya: Ada yang buta sejak lahir (Yoh 9,1), karena usia lanjut (Ishak: Kej 27,1; Eli: 1 Sam 3,2; Ahia: 1 Raj 14,4). Di luar itu kebutaan umumnya akibat penyakit mata.
Kebutaan sebenarnya juga dapat menggambarkan tipisnya kepekaan rohani, misalnya umat yang tak lagi mengindahkan Allah (Yes 42,18-19); orang yang duniawi belaka pikirannya (2 Kor 4,4) atau yang tak berbuat baik kepada sesama (2 Pet 1,9) dan yang membenci sesama (1 Yoh 2,11). Gereja Laodikea juga pernah dikatakan buta karena tidak menyadari kemerosotan rohani sendiri (Why 3,17).
Dalam buku saya, “TANDA” (RJK, Kanisius), buta sendiri bisa berarti “Banyak Urusan Tanpa Allah”, Bersama Bartimeus, pengemis buta yang miskin ini, kita diajak untuk memiliki “lux aeterna-cahaya abadi” dengan 3 sikap dasarnya, al:

1. Berseru minta belaskasihan: 
Ketika Bartimeus mendengar bahwa Yesus datang, ia mulai berseru-seru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Walaupun banyak orang menegornya supaya ia diam, namun semakin keras ia berseru: "Yesus Anak Daud, kasihanilah aku!"
Nah, tidak seperti bacaan yang lain dimana para rasul yakni Yakobus dan Yohanes berseru meminta kemuliaan, hari ini Bartimeus malahan mengajak kita berseru untuk meminta belaskasihan.

2. Bersikap terbuka dalam keseharian:
Selain di Yerikho, Yesus juga pernah menyembuhkan orang buta di Betsaida (Mark 8,22-25//Mat 9,29) dan kolam Siloam, Yerusalem (Yoh 9,1-41).
Kesembuhan orang buta ini biasanya terjadi karena adanya keterbukaan hati dan diri. Ya, ketika orang banyak memanggil Bartimeus dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau," maka Bartimeus langsung menanggalkan jubahnya, segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Hati dan seluruh dirinya segera berbenah dari “keterbutaan” menuju “keterbukaan”.
Seperti Bartimeus yang terbuka dan menanggalkan jubahnya, adapun “tiga jubah” yang harus kita tanggalkan yang membuat kita sulit terbuka pada Tuhan dan sesama, yakni: kecurigaan-ketertutupan dan kesombongan hati.

3. Beriman di tengah pergulatan dan kehidupan: 
Pemazmur meyakini bahwa keselamatan itu datang bagaikan terang bagi orang buta yang beriman (lihat Mzm 146,8; Yes 29,18; 35,5; 42,16.18; 43,8;Yer 31,8).
Ya, ketika Yesus bertanya, "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?", dengan penuh iman Bartimeus menjawab, "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Dan mujizat diyatakan, "...seketika itu juga melihatlah ia."
Tidak seperti para rasul yang pada bacaan lain kadang bersikap “cari aman”, Bartimeus mengajak kita untuk semakin mencari iman yang hidup di tengah keterbatasan dan kerapuhan diri: “Tuhan Yesus sembuhkanlah kami, orang buta orang congkak hati. Dari mati hidupkanlah kami, dari dosa bersihkanlah kami, Tuhan Yesus.”

“Ada ikan paus dan cumi-cumi - Tuhan Yesus sembuhkanlah kami.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar