Ads 468x60px

Persiapan Kamis Putih


Persiapan Kamis Putih
Kel 12:1-8.11-14; Mzm 116:12-13.15-16bc.17-18; Yoh 13:1-15
"In Memoriam - Dalam Kenangan!"
Inilah yang selalu dirayakan Gereja pada awal Trihari Suci (Sacrum Triduum Paschale), dimana Gereja mengenangkan 5 misteri imannya, antara lain: pelayanan/pembasuhan kaki murid; kasih/perintah untuk mengasihi; ekaristi/dasar misa kudus; imamat/dasar tahbisan; serta "memoria passionis/kenangan sengsaraNya".
Inilah juga hari dimana Yesus memberikan kita "teladan" berdimensi "4 K":
k asih
k erendahan hati
k etulusan
k esederhanaan”.
Disinilah kita ingat orang Latin yang kerap ber-pepatah: "verba movent-exempla trahunt - kata-kata menguap tapi teladan itu menyentuh hati". Adapun jalan iman supaya kita bisa menjadi "teladan" ber-dimensi "4K", antara lain:
1. "TE"guhkan iman:
Yesus mengatakan dan melaksanakan apa yang disebutnya sebagai kasih yang meneguhkan iman kita: “Aku memberikan perintah baru, supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu hrs saling mengasihi." Ia teguhkan iman kita dengan kasih: tidak saling menghakimi, tapi saling memahami, tidak saling menyakiti tapi saling memberkati.
Dalam bahasa Leo Tolstoy, sastrawan besar Rusia: “kasihNya adalah kasih suci, yang mampu memberikan putihnya pada pakaian kita yang hitam dan memberikan cahayanya pada jiwa kita yang kelam."
2. "LA"yani Tuhan:
Kita juga mengenangkan Kristus yang melayani dengan membasuh kaki para rasul. Inilah inti visi dan misi manajemen pelayananNya: Ia merendahkan diri di hadapan muridNya: "Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kaki".
Dengan kata lain: Yesus mengajak kita melayani "Yang Ilahi" lewat kehadiran "yang insani", terlebih sesama kita yang sakit dan terjepit, yang tersingkir dan kurang diperHATIkan.
Dengan membasuh kaki para rasul, Ia memberikan teladan untuk menjadi pelayan yang tulus dan rendah hati (bdk. Yoh 13:1-15) karena biasanya membasuh kaki dilakukan oleh seorang hamba untuk tuannya. Ia mengosongkan diri untuk melayani sepenuh hati. Disinilah, kita diajak untuk menjadi orang yang tidak egois, tapi saling merendahkan hati dan saling melayani sekaligus memberkati.
3. "DAN" ikutlah perjamuan:
Hari inilah secara tegas, Yesus mengatakan: “Inilah TubuhKu-Inilah DarahKu yang akan membebaskan kamu. Bila kamu melakukan ini,” kataNya, “ingatlah akan Aku.”
Ya, lewat Kamis Putihlah, Ekaristi mendapatkan bentuk awalnya. Seperti yang selalu dikatakan oleh Paus Yoh Paulus II bahwa Kamis Putih adalah “Hari Ekaristi”, bahkan setiap Kamis Putih sejak 1979, Paus ini selalu membuat ensiklik untuk para uskup, imam-diakon-anggota tarekat dan semua umat beriman. Dkl: Gereja mengimani bahwa Ekaristi dipercayakan oleh Tuhan kepada para rasul dan penerusnya: “Justru dalam kesinambungan dengan praktek para Rasul dan dalam ketaatan pada perintah Tuhan, Gereja merayakan Ekaristi sepanjang abad” (EE 27).
Pastinya, sebagaimana Kristus memberikan tubuh dan darahNya bagi kita, kita diutus untuk menjadi "hosti" yang siap dipecah dan dibagi-bagi lewat tugas - kerja dan karya pelayanan kita.
"Dari Loji Wetan ke Laweyan - Jauhkan kejahatan dan belajarlah jadi pelayan."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

NB:

1."Mercy’s Way - Jalan Kerahiman."
Inilah salah satu judul buku terbaru saya yang juga menjadi pokok jalan kerahiman yang diajarkan Yesus pada awal trihari suci dengan pola dasar, “KPK”, antara lain:
A.Kerendahan hati:
Yesus "turun" untuk memenuhi sesuatu yang biasanya hanya pantas dilayankan oleh seorang budak non-Yahudi atau perempuan/anak-anak, bukan lelaki Yahudi dewasa. Kini, Ia yang adalah Guru dan Tuhan merekalah yang melakukan tindakan itu. Dengan kata lain: Dia mengajarkan sikap "turun", rendah hati dan murah hati karena keinginan untuk menjadi yang terbesar senantiasa mengganggu pikiran para muridNya. (Mat 18:1-4; 20:20-27; Mr 9:33-37; Luk 9:46-48).
B.Pelayanan:
Yesus menyatakan bahwa pembasuhan kaki merupakan tanda bahwa mereka ikut mengambil bagian dalam Dia, artinya ikut mengambil bagian dalam jalannya Yesus yakni jalan pelayanan. Dengan jalan inilah Ia memungkinkan kita memperoleh "bagian di dalam Dia" (ayat 8; bdk.Luk. 22:29-30) dan memperoleh "pembersihan" dari dosa (Yoh. 13:10; bdk. 1Yoh. 1:7)
C.Kasih:
Inilah dasar semuanya. Ia menunjukkan kepada murid-murid-Nya betapa besar kasih-Nya kepada mereka. Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya atau pada akhirnya. Ungkapan ini (eis telos) juga bisa berarti "sepenuh-penuhnya" (I Tes. 2:16).
Bagaimana dengan kita?
"Ada Silalahi ada juga Sibarani-
Mari saling mengasihi, melayani dan mengampuni."

2.Holy Thursday
"Jesus' supreme humility"
Gospel Reading: John 13:1-15
Now before the feast of the Passover, when Jesus knew that his hour had come to depart out of this world to the Father, having loved his own who were in the world, he loved them to the end. And during supper, when the devil had already put it into the heart of Judas Iscariot, Simon's son, to betray him, Jesus, knowing that the Father had given all things into his hands, and that he had come from God and was going to God, rose from supper, laid aside his garments, and girded himself with a towel. Then he poured water into a basin, and began to wash the disciples' feet, and to wipe them with the towel with which he was girded.

He came to Simon Peter; and Peter said to him, "Lord, do you wash my feet?" Jesus answered him, "What I am doing you do not know now, but afterward you will understand." Peter said to him, "You shall never wash my feet." Jesus answered him, "If I do not wash you, you have no part in me." Simon Peter said to him, "Lord, not my feet only but also my hands and my head!" Jesus said to him, "He who has bathed does not need to wash, except for his feet, but he is clean all over; and you are clean, but not every one of you." For he knew who was to betray him; that was why he said, "You are not all clean."

When he had washed their feet, and taken his garments, and resumed his place, he said to them, "Do you know what I have done to you? You call me Teacher and Lord; and you are right, for so I am. If I then, your Lord and Teacher, have washed your feet, you also ought to wash one another's feet. For I have given you an example, that you also should do as I have done to you.

Old Testament Reading: Exodus 12:1-8,11-14
The LORD said to Moses and Aaron in the land of Egypt, "This month shall be for you the beginning of months; it shall be the first month of the year for you. Tell all the congregation of Israel that on the tenth day of this month they shall take every man a lamb according to their fathers' houses, a lamb for a household; and if the household is too small for a lamb, then a man and his neighbor next to his house shall take according to the number of persons; according to what each can eat you shall make your count for the lamb. Your lamb shall be without blemish, a male a year old; you shall take it from the sheep or from the goats; and you shall keep it until the fourteenth day of this month, when the whole assembly of the congregation of Israel shall kill their lambs in the evening.

Then they shall take some of the blood, and put it on the two doorposts and the lintel of the houses in which they eat them. They shall eat the flesh that night, roasted; with unleavened bread and bitter herbs they shall eat it. In this manner you shall eat it: your loins girded, your sandals on your feet, and your staff in your hand; and you shall eat it in haste. It is the LORD's passover. For I will pass through the land of Egypt that night, and I will smite all the first-born in the land of Egypt, both man and beast; and on all the gods of Egypt I will execute judgments: I am the LORD. "This day shall be for you a memorial day, and you shall keep it as a feast to the LORD; throughout your generations you shall observe it as an ordinance for ever.

Meditation
Does your love waver when you encounter bitter disappointments and injury from others? As Jesus' hour of humiliation draws near he reveals to his disciples the supreme humility which shaped the love he had for them. He stoops to perform a menial task reserved for servants - the washing of smelly, dirty feet. In stooping to serve his disciples Jesus knew he would be betrayed by one of them and that the rest would abandon him through disloyalty. Such knowledge could have easily led to bitterness or hatred. Jesus met the injury of betrayal and disloyalty with the greatest humility and supreme love.
Jesus loved his disciples to the very end, even when they failed him and forsook him. The Lord loves each of us unconditionally. His love has power to set us free to serve others with Christ-like compassion and humility. Does the love of Christ rule in your heart, thoughts, intentions and actions?

Saint Augustine of Hippo in his sermon for this day, wrote:
"He had the power of laying down his life; we by contrast cannot choose the length of our lives, and we die even if it is against our will. He, by dying, destroyed death in himself; we are freed from death only in his death. His body did not see corruption; our body will see corruption and only then be clothed through him in incorruption at the end of the world. He needed no help from us in saving us; without him we can do nothing. He gave himself to us as the vine to the branches; apart from him we cannot have life.
Finally, even if brothers die for brothers, yet no martyr by shedding his blood brings forgiveness for the sins of his brothers, as Christ brought forgiveness to us. In this he gave us, not an example to imitate but a reason for rejoicing. Inasmuch, then, as they shed their blood for their brothers, the martyrs provided "the same kind of meal" as they had received at the Lord's table. Let us then love one another as Christ also loved us and gave himself up for us."
"Lord Jesus, your love conquers all and never fails. Help me to love others freely, with heart-felt compassion, kindness and goodness. Where there is injury, may I sow peace rather than strife."

Psalm 116:12-13, 16-18
What shall I render to the LORD for all his bounty to me?
I will lift up the cup of salvation and call on the name of
the LORD,
Precious in the sight of the LORD is the death of his
saints.
O LORD, I am your servant; I am your servant, the son of
your handmaid. You have loosed my bonds.
I will offer to you the sacrifice of thanksgiving and call on
the name of the LORD.
I will pay my vows to the LORD in the presence of all his
people.
Daily Quote from the Early Church Fathers
"Even though the man Christ Jesus, in the form of God together with the Father with whom He is one God, accepts our sacrifice, nonetheless He has chosen in the form of a servant to be the sacrifice rather than accept it. Therefore, He is the priest Himself Who presents the offering, and He Himself is what is offered." (Augustine of Hippo, 354-430 A.D., excerpt from excerpt from City of God, 10,20)


3.Actions Speak Louder Than Words
Kel 12:1-8, 11-14; 1Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15
13:1 Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 13:2 Mere-ka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. 13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 13:6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 13:7 Ja-wab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." 13:8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 13:9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 13:10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." 13:11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 13:12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13:13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 13:14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; 13:15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.


Renungan

01.Sejarah keselamatan menurut Yohanes bisa digambarkan seperti sebuah pendulum. Gerakan berawal dari atas turun ke bawah dan kemudian naik ke atas lagi. Prakarsa keselamatan berasal dari Allah yang turun ke dunia(katabatis) untuk mengajak manusia naik kembali ke surga agar dapat mengalami kemuliaan-Nya (anabatis).Dalam perspektif itu Injil Yohanes dapat dibagi menjadi 2 bagian besar. Bagian Pertama (Yoh 1-12) disebut Kitab Penjelmaan dan bagian Kedua (Yoh 13-20) disebut Kitab Kemuliaan. Kitab Kemuliaan diawali dengan kisah pembasuhan kaki. Kisah ini tidak hanya berisi pelajaran moral agar para murid saling melayani tetapi juga merupakan persiapan Kisah Sengsara. Membasuh kaki para murid merupakan tindakan simbolik yang menyertai pengajaran tentang kehidupan bersama yang mesti diwujudkan oleh para murid. Tindakan Yesus itu tidak lazim. Biasanya pembasuhan kaki dikerjakan oleh para pelayan kepada tamu yang sangat dihormati dan dilakukan sebelum perjamuan dimulai untuk membersihkan debu jalanan yang mengotori kaki para tamu. Dengan tindakan itu, Yesus sebagai Guru dan Tuhan ingin mengukir dalam hati dan pikiran para murid nilai yang telah dijalani-Nya yakni bahwa Ia datang untuk melayani dan bukan dilayani (Mat 20:28; Fil 2:6-11). Dari awal hingga akhir, hidup-Nya dipenuhi dengan kasih Allah yang selalu memberi dan bahkan memberikan Diri-Nya seutuhnya di salib (ay. 1). Dia memberikan hidup seutuhnya untuk melayani semua orang. Kita diajak untuk melakukan hal yang sama, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (ay. 15). Melakukan seperti yang diteladankan Yesus tidak hanya copy-paste tindakan itu secara lahiriah tetapi mencakup perubahan orientasi dasar seluruh hidup. Artinya kita masuk ke dalam inti gerak hidup dan misi Yesus: kita diciptakan dan ada untuk mencintai dan melayani!

02.Ay. 1-3 tidak hanya menjadi pengantar kisah pembasuhan kaki tetapi juga merupakan introduksi untuk bagian kedua Injil Yohanes (Yoh 13-20): Hidup Yesus telah mencapai klimaks, telah sampai pada “saat” Ia meninggalkan dunia ini untuk pergi kepada Bapa. Berbeda dengan Injil Sinoptik yang mengisahkan Perjamuan Terakhir sebagai Perjamuan Paskah, Injil Yohanes menempatkan kisah Perjamuan Terakhir “sebelum hari raya Paskah mulai” (ay. 1) sehingga penyaliban Yesus terjadi tepat pada hari Paskah Yahudi, saat domba-domba kurban disembelih di Bait Allah. Yohanes mau mewartakan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang dikorbankan secara sempurna, sekali untuk selamanya, sebagai tebusan bagi dosa-dosa kita. Dengan demikian Paskah atau penebusan kita, yakni peralihan dari kematian kepada kehidupan hanya dapat terjadi melalui perendahan diri di salib, yang dalam Perjamuan Terakhir perendahan diri itu disimbolkan dengan pembasuhan kaki para murid.

03.Pengertian “Paskah” dalam tradisi Yahudi berdasar pada Kel 12:12-13 yakni Tuhan melewati rumah orang-orang Yahudi yang telah ditandai dengan darah anak domba sehingga mereka tidak ikut dihukum atau dimusnahkan bersama dengan orang Mesir. Paskah Perjanjian Baru mempunyai makna yang jauh melampaui Paskah Yahudi. Dengan darah Anak Domba Allah kita tidak hanya dibebaskan dari hukuman tetapi juga diperkenankan mengambil bagian dalam kemuliaan Bapa (Yoh 17:5). Itulah sebabnya mengapa Yohanes dalam ay. 1 merumuskan Paskah sebagai “saat” Yesus beralih dari dunia ini untuk kembali kepada Bapa.

04.Ungkapan bahwa Yesus mengasihi murid-murid-Nya sampai pada kesudahannya (ay. 1, eis telos) mempunyai dua arti. Pertama, kasih Yesus itu sangat mendalam sampai akhir hidup dalam pengertian waktu kronologis.Kedua, kasih Yesus itu utuh, penuh dan sempurna. Dengan ungkapan itu penginjil mau menyatakan bahwa dengan menyerahkan Diri untuk para murid-Nya, Yesus menunjukkan kesempurnaan dan kepenuhan kasih-Nya,“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13). Pada saat Yesus wafat, Ia bersabda, “Sudah selesai” [Yoh 19:30, consummatum est (Latin) atau tetelestai (Yunani)]. Kasih itu diberikan dengan tuntas. Kasih yang penuh, sempurna dan tuntas itu disimbolkan dengan pembasuhan kaki.

05.Dengan teliti penginjil menceritakan proses pembasuhan kaki, “Yesus bangun dan menanggalkan (tithesin)jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkanair ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu." (ay. 4-5). Kata kerja tithenai juga berarti “memberikan nyawa” seperti yang dipakai dalam Yoh 10:11.15.17. Dengan demikian, sekali lagi, penginjil menghubungkan pembasuhan kaki dengan wafat-Nya. Keterkaitan itu oleh penginjil juga dinyatakan dalam ay. 3 : “Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.”. Dia yang merendahkan Diri sedemikian ekstrem itu sebenarnya adalah Putra Allah. Pembasuhan kaki itu oleh Yesus dilakukan sebagai persiapan untuk menyongsong saat “kembali kepada Allah”.

06.Dalam sebuah perjamuan keluarga, membasuh kaki lazimnya dilakukan oleh seorang budak. Dalam Midrash Mekilta atas Kel 21:3, tindakan itu tidak boleh dituntut dari budak Yahudi tetapi hanya dilakukan oleh budak bukan Yahudi. Namun di lain pihak, seorang isteri dan anak laki-laki atau perempuan dapat membasuh kaki suami atau ayah sebagai tanda bakti mereka. Kadang-kadang sebagai tanda kasih dan hormat, seorang murid dapat membasuh kaki gurunya. Dalam Perjamuan Terakhir Yesus membalikkan peran itu untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan-Nya. Yesus melakukan sendiri apa yang telah disabdakan-Nya melalui perumpamaan,“Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.” (Luk 12:37).
07.
Penolakan Petrus dalam ay. 7 menunjukkan kontras antara kehendak Yesus dengan ketidaktahuan Petrus. Perendahan diri Sang Sabda yang terwujud dalam inkarnasi menjadi cara yang dipilih Allah untuk menyelamatkan manusia. St. Paulus memberikan nasehat yang begitu indah, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Fil 2:5-8). Sulit bagi Petrus untuk memahami cara Allah menyelamatkan ini. Penolakan Petrus dalam ay. 8 seakan-akan mengulangi lagi protes yang pernah disampaikan kepada Yesus setelah Ia menubuatkan penderitaan-Nya (Mat 16:22). Kalau dalam Mat 16:23 tanggapan Yesus sangat keras, "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.", dalam ay. 8 tanggapan Yesus lebih halus tetapi tegas, "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.". Kitalah yang mesti bertobat, menyesuaikan diri dengan Allah, bukan sebaliknya.

08.Kesalahpahaman antara Petrus dengan Yesus terus berlanjut (ay. 9). Yesus berbicara tentang pembersihan atau purifikasi spiritual sebagai syarat ikut serta bersama-Nya dalam kemuliaan, sedangkan Petrus menangkapnya secara jasmaniah. Dalam Injil Yohanes kesalahpahaman seperti ini sering terjadi dan menjadi kesempatan bagi Yesus untuk menyampaikan pewahyuan. Misalnya kesalahpahaman dengan wanita Samaria tentang air kehidupan (Yoh 4:15) dan dengan orang Yahudi mengenai roti kehidupan (Yoh 6:34). Yesus selalu berbicara pada level spiritual, realitas yang melampaui kenyataan materialitas. Untuk mewahyukan realitas rohani itu Yesus memakai simbol-simbol material karena bagi-Nya simbol-simbol itu cukup memadai untuk menjelaskan kenyataan spiritual yang ingin diwahyukan-Nya. Bagi Yesus, para rasul, kecuali Yudas Iskariot, sudah bersih karena telah menerima dan mengimani Sang Sabda (Yoh 15:3). Para murid telah dilahirkan kembali dari air dan Roh (Yoh 3:5) artinya telah dibabtis, maka tidak perlu dibersihkan secara menyeluruh, hanya perlu disempurnakan dengan masuk ke dalam misteri sengsara dan wafat-Nya yang disimbolkan dengan pembasuhan kaki.

09.Tindakan Yesus yang begitu mengesan dan kaya akan makna baru bisa dipahami oleh para murid kemudian setelah peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya terjadi. Pemahaman yang utuh itu dimiliki oleh para murid berkat bimbingan dan penerangan Roh Kudus karena “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:26). Dari seluruh perikop ini setidaknya ada 2 pemaknaan yang saling melengkapi. Pertama, pembasuhan kaki menjadi simbol perendahan diri Yesus yang terlaksana pada salib dan wafat-Nya membersihkan dosa semua orang beriman. Gagasan ini selaras dengan Mrk 10:35-45 yang menghubungkan perendahan diri sebagai hamba agar dapat memberikan diri sebagai tebusan bagi semua orang. Kedua, pembasuhan kaki menjadi teladan bagi para murid untuk saling melayani. Gagasan ini sesuai dengan percakapan pada Perjamuan Terakhir dalam Injil Lukas (Luk 22:24-27) yang menegaskan bahwa kebesaran hidup seseorang itu terletak dalam perannya untuk kebaikan sesama yakni dengan melayani. Berikanlah hatimu untuk mencintai dan ulurkanlah tanganmu untuk melayani.

10.Orang mengatakan bahwa sebuah gambar lebih bernilai daripada ribuan kata-kata. Ungkapan itu sering kita temukan kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjelaskan cara kerja sebuah mesin yang rumit atau mencari alamat yang sulit kita mempergunakan skema, diagram atau peta. Untuk menggerakkan hati orang agar mau berbagi kepada anak-anak miskin yang menderita kurang gizi cukup dengan menampilkan gambar seorang anak yang kurus kering, kelaparan dan terbaring di pinggir jalan. Untuk memotivasi orang mencintai dan memajukan perdamaian kita menampilkan gambar-gambar yang menunjukkan kekejaman perang. Gambar itu juga bisa berbentuk cerita atau kisah, bisa juga berwujud tindakan simbolis. Kisah motivasi lebih menarik daripada serangkaian nasehat. Karena itu dalam pengajarannya, Yesus banyak mempergunakan kisah perumpamaan. Untuk mengajarkan tentang kerendahan hati, Yesus mengambil seorang anak kecil dan menjadikannya sebagai model. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus memakai tindakan simbolis untuk menyampaikan pesan-Nya. Tindakan yang tidak lazim dan membuat para murid bertanya-tanya. Lazimnya yang membasuh kaki itu pelayan kepada tuannya atau murid kepada gurunya. Tapi dalam perikop ini perannya dibalik. Seorang Guru Agung bahkan Putra Allah berjongkok di depan para murid dan membasuh kaki mereka, membersihkan debu kotoran yang menempel di kaki mereka. Tanpa kata-kata. Sebuah tindakan yang luar biasa, tidak masuk akal dan menghebohkan. Actions speak louder than words. Sesudah tindakan simbolis itu, Tuhan memberikan penjelasan singkat: hendaknya kamu saling melayani. Sebuah keteladanan memang lebih bermakna dan bernilai daripada seribu nasehat. Keselamatan dan kedamaian baru terwujud bila kita saling melayani. Kebahagiaan sejati dirasakan bila kita saling berbagi. Melayani dan berbagi merupakan wujud kasih. Mencintai itu sederhana, berawal dari senyuman dan kedamaian hati.

11.Seorang murid bertanya kepada guru kebijaksaaan, “Guru bagaimana kita dapat mewujudkan secara konkret nasehat untuk saling mencintai dan melayani? Mengapa kekerasan dan kebencian justru lebih dominan dalam dunia ini?”. Guru itu mengajak muridnya ke sebuah tanah lapang di pinggir desa. Sore itu cuaca sangat cerah. Di tanah lapang itu beberapa anak asyik bermain. Ada yang berkejaran, bercanda, bermain lompat-lompatan. Suasana begitu menyenangkan, penuh dengan suara gelak tawa dan teriak kegembiraan. Sang guru berkata, “Lihatlah anak-anak itu. Mereka bisa menikmati kegembiraan karena mereka melihat kawannya sebagai teman bermain. Mereka saling membutuhkan. Kehadiran teman dibutuhkan agar permainan dapat dilakukan. Tetapi aku bisa mengubah suasana yang penuh kegembiraan itu menjadi tangisan.” Guru itu kemudian memanggil agar anak-anak mendekatinya. Sang guru mengeluarkan segenggam uang koin dari sakunya sambil mengatakan, “Anak-anak, uang ini akan kusebar dan kalian boleh memperebutkan dan memilikinya”. Guru itu kemudian menyebarkan segenggam uang koin itu ke tengah anak-anak. Anak-anak mulai berebutan. Saling mendorong, saling menginjak, saling memukul. Suasana kegembiraan berubah menjadi kemarahan. Mulai terdengar jeritan tangis, bentakan kemarahan. Guru itu berkata, “Lihatlah anak-anak itu. Mereka berebut untuk mendapatkan koin itu. Mereka saling mendorong, memukul dan melukai. Mereka melihat temannya sebagai saingan yang harus disingkirkan. Kawan-kawannya tidak lagi dibutuhkan kehadirannya tetapi malah menjadi gangguan dan ancaman. Pada saat itulah muncul kebencian, sakit hati dan dendam”. Hidup kita ditentukan oleh sudut pandang. Cara kita memandang sesama menentukan sikap dan tindakan kita kepada mereka. Hanya bila kita memandang sesama secara positif yakni sebagai teman seperjalanan yang kehadirannya kita butuhkan, hanya bila kita berpikir, menduga dan berharap yang baik dan tidak berprasangka buruk serta tidak melihat sesama sebagai saingan sehingga kehadirannya mengganggu dan harus disingkirkan, barulah kita bisa melaksanakan kehendak Tuhan untuk saling melayani.

12.Pada spanduk promosi suatu Sekolah Dasar kubaca visi dan misinya yakni "menyiapkan lulusannya untuk siap BERSAING di dunia yang semakin KOMPETITIF". Bukankah "bersaing" berarti menciptakan musuh, membangun semangat rivalitas, saling mengalahkan dan menghancurkan? Bukankah semangat persaingan itu menjadikan kehadiran orang lain sebagai pengganggu dan ancaman yang harus disingkirkan? Mengapa tidak diubah menjadi "mempersiapkan lulusannya untuk siap dan bisa BEKERJASAMA menciptakan dunia yang nyaman untuk semua orang"?

Kisah Sang Guru yang membasuh kaki murid-murid-Nya mengajak kita untuk mengubah sudut pandang bahwa sahabat-sahabatku adalah teman seperjalanan yang kehadirannya kubutuhkan. Mereka adalah bagian dari hidupku yang membuat hidupku lebih bermakna, lebih penuh, lebih membahagiakan.

Berkah Dalem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar