Ads 468x60px

VOX - SUARA



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
"VOX - SUARA."
Inilah salah satu judul buku terbaru saya yang rencananya akan terbit.
Inilah juga yang menjadi salah satu inti pada bacaan hari ini ketika Yesus menyuarakan peringatannya.
Ya. Keruntuhan Yerusalem adalah sinyal/tanda peringatan untuk "parousia-kedatangan Yesus sebagai HAKIM" pada akhir jaman.
Di lain matra, kita seringkali bertanya tentang tanda dan waktunya supaya bisa me-nunda, bersantai dan menunggu saat terakhir (Luk 21:5-11) tapi suara Yesus mengingatkan agar kita ada dalam posisi "SIAP-Selalu Ingat Akan Panggilan", sehingga tidak mudah disesatkan oleh nabi nabi palsu:
"Waspadalah, jangan sampai kalian disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku .... Janganlah kalian mengikuti mereka."
Adapun "S3" yang menjadi prasyarat agar kita selalu siap mendengarkan suara Yesus, al:
1. Setia.
Seperti dikatakan dalam Kitab Wahyu 2:10c, "Kita harus setia sampai mati dan Allah akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan", Yesus mengajak kita untuk "SETIA - SElalu Taat dan Ingat Allah" , kapanpun-dimanapun dan dengan siapapun.
2. Siaga.
Kita diajak berjaga, "eling lan waspada", kita memang ada di tengah dunia tapi kita bukan milik dunia.
Kita ikut tapi tidak boleh larut hanyut dalam arus dunia, terlibat tanpa harus terlipat.
Dkl: Kita diajak berhati hati dalam hidup, dalam ucapan dan tindakan, dalam pikiran dan perasaan selalu membawa nama Tuhan, In Nomine Iesu.
3. Semangat.
Kita diajak untuk menjalani hidup dengan antusias, memiliki passion bukan melulu tension, punya api yang menghangatkan bukan membumihanguskan.
Jelasnya kita diajak bukan cuma nantinya "RIP-Rest In Peace" tapi juga mulai sekarang, "LIP-Live In Peace".
Kita ber-dokar, berdoa dan karya dengan semangat (in spirit- dalam roh kudus) karena yakin bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita sampai akan datang waktunya Ia akan memahkotai kita mahkota kehidupan selama-lamanya.
"Hodie mihi cras tibi - Sekarang aku, besok kamu (yang mati)."
"Cari galah di Gunung Sahari - Berjaga dan waspadalah setiap hari."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
1.
Soal Persembahan dan Janda Miskin.
"Non multa sed multum - Bukan banyaknya tapi mutunya"
Inilah yang diwartakan Yesus ketika memuji janda miskin di Bait Allah: "Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya tapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya!"
Ya, memberikan persembahan bisa dilakukan oleh semua orang, tak usah menunggu tua-kaya atau jaya. Tuhan melihat bukan pertama-tama berapa "kuantitas" jumlah yang dipersembahkan tetapi "kualitas" ketulusan pemberiannya dengan "dua tas" yang melengkapi, antara lain:
A. Totalitas-Keseluruhan:
Pemberian seseorang ditentukan bukan oleh jumlah yang ia berikan tetapi oleh jumlah pengorbanan yang terlibat dalam pemberian itu. Seringkali kita hanya memberi dari kekayaan kita dan hal ini tidak meminta pengorbanan. Sebaliknya, pemberian janda ini menuntut segalanya: Ia memberi sebanyak-banyaknya yang dapat diberikannya.
B. Loyalitas-Pengabdian:
Ia menilai pekerjaan/pelayanan kita tidak berdasarkan ukuran atau pengaruh atau keberhasilannya, tetapi berdasarkan kadar pengabdian, iman dan kasih yang tulus yang terlibat di dalamnya (Luk 22:24-30; Mat 20:26;Mrk 12:42)
Dari Kediri ke Kramat Jati - Berikanlah diri sepenuh hati."
2.
"Intentio pura - Maksud yang murni."
Inilah salah satu ciri orang beriman, hidupnya penuh kebaikan dan bukan kejahatan, penuh ketulusan dan bukan kepalsuan. Sebaliknya para ahli Taurat yang notabene adalah tokoh agama malahan kerap ber-"intentio pura pura."
Disinilah, Yesus mengingatkan kita agar hati-hati terhadap sikap hidup palsu dan munafik (Mat 23:13-15,23,25,29) yang mengutamakan kebenaran lahiriah semata (Mat 23:25-28). Orang semacam ini tidak didiami oleh Roh Kudus dan kasih karunia-Nya (Rom 8:5-14). Lebih lanjut, Yesus secara tulus memberi perHATIan bagi wanita yang hidup sendirian yang tetap bermurah hati.
Adapun, di daerah Bait Suci yang dinamakan Pelataran untuk perempuan, terdapat peti persembahan yang berisi tiga betas peti berbentuk nafiri untuk memasukkan persembahan. Rupanya Yesus terus mengawasi org-orang yang memberikan persembahan untuk beberapa waktu dan Ia melihat sejumlah orang kaya memberikan persembahan sebaliknya janda tersebut mempersembahkan uang seharga dua peser/satu duit (satu peser/lepton adalah kepingan mata uang terkecil senilai seperdelapan sen; Duit/kodrantēs adalah kepingan mata uang Romawi senilai seperempat sen).
Jelasnya, Yesus mengukur persembahan bukan dari jumlah yang dipersembahkan tapi dari kasih, pengabdian dan pengorbanan yang terkandung di dalamnya (Luk 21:1-4).
Janda ini telah mempersembahkan jumlah yang paling kecil, tapi justru lebih berharga daripada semua persembahan lainnya, sebab dia mempersembahkan semua yang ada padanya.
"Dari Kramat Jati ke Kalisari-
Jadilah orang yang murah hati setiap hari."
3. Catatan Mengenai Perpuluhan dalam Iman Katolik
Pertama:
Hukum persepuluhan seperti yang dipraktekkan banyak (tidak semua) Gereja Kristen berarti bahwa setiap anggota jemaat yang mempunyai penghasilan, wajib memberikan sepersepuluh (10 persen) dari penghasilan bulanan/mingguan mereka kepada Gereja.
Praksis ini didasarkan pada tindakan Abraham setelah menang perang, yaitu memberikan sepersepuluh dari hasil rampasan perang itu kepada Melkisedek, Imam Agung (Kej 14:17-24). Tindakan Abraham ini dipandang sebagai kewajiban yang harus dijalankan oleh umat Israel sebagai keturunan Abraham dalam tradisi mereka (Ul 14:22-23; 26:12-15; Bil 18:20-22; Neh 10:37-38; Im 27:32-33).
Karena orang-orang Kristiani adalah keturunan Abraham (Gal 3:7), maka mereka juga wajib membayar sepersepuluh dari penghasilan mereka kepada penerus imam Melkisedek, yaitu Yesus Kristus (bdk Ibr 7:1-28). Dalam hal ini, Kristus diwakili Gereja atau pemimpin Gereja. Praksis dalam kebanyakan Gereja Kristen ini dipandang sesuai dengan ungkapan Yesus berkaitan dengan persepuluhan (Mat 23:23), yaitu bahwa Yesus tetap menyetujui praksis persepuluhan itu.
Kedua:
Gereja Katolik tidak mempraktekkan persepuluhan, artinya umat Katolik tidak dikenakan kewajiban membayar persepuluhan kepada Gereja.
Namun demikian, dalam Konsili Trente, Gereja Katolik pernah mewajibkan umat Katolik untuk membayar persepuluhan. Tetapi, praksis membayar persepuluhan itu lenyap pelan-pelan, yaitu sejak Revolusi Perancis pada abad ke-XVIII, meskipun peraturan itu sendiri belum pernah dicabut. Keputusan Konsili Trente itu bukanlah keputusan dogmatis, karena itu bisa saja diubah oleh pemimpin Gereja berikutnya bila dipandang kurang tepat.
Lenyapnya praksis membayar pesepuluhan dalam Gereja Katolik ini sebenarnya sangat sesuai dengan catatan sejarah Gereja bahwa praksis persepuluhan itu tidak tampak dalam Perjanjian Baru dan tidak dilakukan pada Gereja apostolis.
Ada juga catatan dari bapa-bapa Gereja bahwa praksis persepuluhan itu kurang sesuai dengan semangat Perjanjian Baru, yaitu memberi secara sukarela seperti yang dikatakan Paulus: "Hendaknya masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Kor 9:7).
Ketiga:
Adalah sangat baik memberikan sumbangan kepada Gereja karena selama Gereja masih hidup di dunia ini, tetap akan dibutuhkan dana untuk mendukung kehidupan dan pelayanan Gereja. Demikian pula tetap dibutuhkan bantuan untuk orang-orang miskin.
Gereja mengajarkan dengan tegas bahwa membantu Gereja dan membantu orang miskin bukan bersifat manasuka tetapi suatu "kewajiban" (KHK Kan 222 # 1 dan 2; bdk Kan 1260-1266).
Namun demikian, pelaksanaan kewajiban ini tidak ditentukan dengan jumlah tertentu, misalnya sepersepuluh, tetapi diserahkan kepada kerelaan hati umat.
Keempat:
Perubahan penting yang hendak ditegaskan di balik "lenyapnya praksis persepuluhan" dalam Gereja Katolik ini ialah perubahan semangat dasar yang harus menggerakkan umat untuk memberikan sumbangan, yaitu dari semangat berdasarkan hukum (sebagai kewajiban) ke semangat cinta kasih kepada Allah dan sesama.
Janda miskin yang memberikan persembahan seluruh miliknya menjadi contoh cinta kasih yang memberikan diri tanpa batas (Luk 21:1-5). Cinta kasih ini bebas dari pamrih, yaitu memberi untuk menerima (do ut des). Cinta kasih ini yang menggerakkan kita untuk mengakui karunia kesejahteraan yang telah dilimpahkan Tuhan kepada kita, suatu ungkapan syukur atas berkat Tuhan disertai keinginan untuk membalas kasih-Nya. Cinta kasih inilah yang menggerakkan kita menyadari diri sebagai bagian dari Gereja, dan karena itu selalu bersedia untuk saling mendukung dalam karya pelayanan. Cinta kasih inilah yang menggerakkan kita membagikan harta milik kita kepada orang miskin (KGK 2443-2447).
Dengan ini menjadi nyata bahwa Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Mat 5:17). Juga menjadi nyata bahwa semua hukum dirangkum dalam perintah cinta kasih kepada Allah dan sesama krn sbenarnya hukum punya arti yg indah, "Hadir Untuk Kselamatan Umat Manusia."
Nah, itu dari perspektif historis dan teologis kristiani yg coba dimaknai dlm grj katolik, pastinya kita ingat sebuah kalimat dari St Ignatius Loyola, "Tujuan setiap manusia diciptakan adalah utk memuji dan memuliakan Tuhan, dan setiap benda yang ada di muka bumi ini ada untuk membantu manusia mencapai tujuan ia diciptakan itu."
4.
Itung itungan sederhana
Yuk itung2 berapa PERSEMBAHAN SI JANDA MISKIN di Luk 21:1-4
Seorang janda miskin memasukkan DUA PESER ke dalam peti itu. Dikatakan janda miskin itu memasukkan DUA PESER.
Dalam bhs Yunani:
LEPTA DUO = DUA KOIN TEMBAGA (Ing. TWO COPPERS).
Identitas perempuan ini dapat digali lebih dalam dari kata DUA PESER ini.
Dalam masyarakat Yahudi pada jaman Yesus ada 3 jenis bahan yang umum dipakai untuk membuat mata uang:
Ada KOIN PERAK, KOIN PERUNGGU, paling kecil nilainya adl KOIN TEMBAGA.
LEPTA atau LEPTOS sendiri dalam bahasa Yunani mengacu pada SESUATU YANG TIPIS dan KURUS.
Pada jaman itu nilai mata uang ditentukan pada BERAT logam yang dipakai.
Maka kadang uang logam itu dipotong-potong sebagai kembalian.
Nah potongan kecil2 itulah yang disebut PESER, sisa uang kembalian yang kadang dianggap tidak ada harganya dan kadang diberikan kepada PENGEMIS.
Begini cara hitungnya:
1 peser = 1/4 duit.
1 duit = 1/10 dinnar.
1 dinnar = upah kerja SATU HARI.
Kalau UMR Jakarta Rp.2,900,000
Maka 1 dinnar = Rp.93,500
Maka 1 duit = Rp.9,350.
Lalu 1 peser = Rp.2,300
Uang yang dimasukkan janda dalam kotak persembahan adalah 2 peser kurang lebih Rp.5,000
Yang menarik adalah uang kecil-kecil yang dianggap SISA/SAMPAH/TIDAK BERARTI oleh orang lain, namun menjadi SELURUH NAFKAH bagi si janda miskin ini.
Sebenarnya janda ini punya pilihan, dengan memasukkan 1 saja dari dua peser yang dia punya.
Tetapi dia memasukkan semuanya.
Mungkin setelah itu dia kembali mengemis lagi (baca: mencari nafkah lagi). Dia yakin dia pasti nanti juga dapat rejeki lagi untuk makan (mudah dibayangkan saat itu hari masih siang karena Yesus sedang mengajar dan ada banyak orang di Bait Allah).
Bagi janda miskin ini Allah dulu yang utama. Urusan perutnya bisa dikesampingkan.
Totalitasnya dalam memberi kepada Allah, itulah yang dipuji oleh Yesus.
Teks ini bukan bicara soal jumlah uang persembahan/kolekte tapi BAGAIMANA JANDA INI DENGAN LUAR BIASA MENEMPATKAN ALLAH DI ATAS SEGALANYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar