Ads 468x60px

SERI DOMINIKAN 9 dan 10



HARAPAN IMAN KASIH
SERI DOMINIKAN 9
Non nisi Te, Domine!
Thomas dengan cemas menanyakan apakah tulisannya tentang misteri iman Kristiani adalah benar. Dan Dia Yang Tersalib menjawab: “Kamu telah berbicara dengan baik tentang Aku, Thomas. Apa yang kau ingini sebagai upahmu?” Dan jawaban yang Thomas berikan adalah jawaban yang kita, teman-teman dan murid-murid Yesus, juga selalu ingin katakan kepada-Nya: “Non nisi Te, Domine!” “Tiada selain Engkau, Tuhan!” (Ibid., hal. 320). – Paus Benediktus XVI, Audiensi Umum tentang Sto. Thomas Aquinas
Thomas was anxiously asking whether what he had written on the mysteries of the Christian faith was correct. And the Crucified One answered him: “You have spoken well of me, Thomas. What is your reward to be?”. And the answer Thomas gave him was what we too, friends and disciples of Jesus, always want to tell him: “Nothing but Yourself, Lord!” (ibid., p. 320). – Pope Benedict XVI, General Audience on St. Thomas Aquinas
Veritas liberabit vos!
--------------


HARAPAN IMAN KASIH
SERI DOMINIKAN 10
Lima Luka Suci Kristus
Five Wounds of Christ..
Merupakan sebuah misteri mengapa Kristus mempertahankan 5 luka suci ini setelah kebangkitan. Kepada rasul Thomas, ia berkata : “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Kemudian Thomas menjawab Ia dan berkata ‘Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Jn 20,27-28).
St. Thomas Aquinas memberikan 5 alasan mendasar mengapa Kristus mempertahankan lima luka ini dalam tubuhnya yang mulia setelah kebangkitan (Summa III.54,4) :
Pertama, karena kelima luka ini memproklamasikan kemuliaan dan kemenangan Kristus. Seperti Adam yang memuliakan dirinya melalui kesombongan dan ketidaktaatan, yang kemudian dikalahkan oleh ular, begitu pula Kristus yang menyamakan dirinya melaui mazmur sebagai “cacing dan bukan manusia” (Maz 22 : 6), untuk mengingatkan kita akan ular perunggu yang diangkat oleh Musa untuk menyembuhkan orang yang terkena gigitan ular dan dosa mereka (bdk Bil 21 : 7-9), “mengosongkan dirinya…Ia merendahkan diri-Nya, taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Karenanya Allah memuliakan Ia, dan mengaruniakan kepada-Nya nama diatas segala nama;…setiap lidah akan mengakui bahwa Tuhan Yesus Kristus berada dalam kemuliaan Allah Bapa” (Filipi 2: 7-9, 11)
Kedua, Kristus mempertahankan luka-luka-Nya dalam kemuliaan, untuk meneguhkan para muridnya dalam iman dan harapan akan kebangkitan, dan memberi mereka keberanian untuk menderita demi nama-Nya. “Jika Kristus tidak bangkit, sia-sialah iman kalian, karena kalian masih berada dalam dosamu. Karenanya, mereka yang telah mati dalam Kristus, binasa semuanya. Jika kita berharap pada Kristus hanya untuk kehidupan sekarang ini, maka kita ini orang-orang paling malang. Tetapi sesungguhnya Kristus telah bangkit dari mati, Dialah yang pertama sebagai yang sulung dari semua yang telah meninggal. Seorang manusia telah mendatangkan kematian; seorang manusia juga yang mendatangkan kebangkitan diantara orang mati” (1 Kor 15 : 17-21). Diyakinkan akan harapan kita, kita tidak akan takut terhadap penderitaan dan kematian. St. Petrus menganjurkan :”Sebaliknya kamu harus bergembira karena ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus, sebab pada waktu kemulian-Nya dinyatakan, kamu juga akan turut bersuka cita!” (1 Pet 4:12-13)
Ketiga, Ia mempertahankan luka-luka-Nya dalam kemuliaan, agar Ia secara tetap menghadirkannya kepada Bapa di surga, untuk memohon demi keselamatan kita. “Yesus sebagai Imam Agung,” masuk melalui tabernakel yang sempurna dan lebih besar sekali untuk selamanya…melalui darah-Nya ke dalam tempat Terkudus, setelah memperoleh penebusan abadi” bagi kita. Ia masuk “ke dalam surga itu sendiri, sekarang ini Ia ada di hadirat Allah demi kita. Oleh karena itu, untuk segala masa Ia sanggup menyelamatkan mereka yang mendekati Allah melalui Dia, karena Ia hidup untuk menyampaikan permohonan untuk mereka” (Ibr 9:11-12, 24; 7:25)
Keempat, untuk mengesankan mereka yang telah Ia tebus melalui kematiaan-Nya, betapa dengan penuh kasih Ia datang menolong mereka dengan menempatkan luka-luka-Nya dihadapan mereka. Ini Ia lakukan tidak hanya untuk menggambarkan besarnya kasih-Nya (“Inilah kasih itu, bukan kita yang telah mengasihi Allah, melainkan Ialah yang pertama-tama mengasihi kita, dan mengurus putra-Nya sebagai kurban untuk menyilih dosa-dosa kita” – 1 Yoh 4:10), tapi untuk menguatkan harapan kita. “Bila Allah ada di pihak ktia, siapa berani melawan kita? Jika Allah tidak sayang akan Putra-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya untuk kita semua, bagaimana Ia tidak memberikan juga hal-hal yang lain bersama dengan Dia? (Roma 8:31-32). Ia tahu bahwa rasa syukur yang besar akan menguatkan kita dalam rasa takut akan Tuhan dan melindungi kita dari dosa. Hal ini menggerakkan St. Paulus untuk berseru kepada umat di Galatia untuk membawa mereka kembali kepada Kristus :”Betapa tololnya kamu, hai orang-orang Galatia! Bagaimana kamu dapat dipesona, meskipun dengan jelas sekali Kristus telah diwartakan sebagai yang tersalibkan? Hanya ini yang hendak kutanyakan kepadamu : Adakah kamu menerima Roh untuk melaksanakan hukum taurat, atau oleh karena percaya kepada injil? …Kalau begitu sia-sia kamu sudah mengalami semuanya ini! Kiranya tidak demikian”
Dan kelima, agar pada Hari Penghakiman tampak bagi semua, bahkan mereka yang terkutuk, betapa adil penghukuman itu sesungguhnya, di dalamnya mereka menolak dengan penghinaan suatu penebusan yang agung. Penulis kuno berseru kepada mereka dalam pribadi Kristus sang Hakin :”Lihatlah ia yang kami salibkan. Lihatlah luka-luka yang kamu timbulkan. Sadarilah sisi yang kamu tikam. Karena olehmulah sisi itu terbuka, dan kamu menolak masuk ke dalamnya” dan karenanya berbagi dalam kehidupan itu sendiri. Kita juga membaca dalam Wahyu :”Lihatlah, Ia datang dengan awan, dan segala mata akan memandang Ia bahkan mereka juga yang menikam Dia” (Wahyu 1:7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar