Ads 468x60px

Minggu, 30 Desember 2018

HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Minggu, 30 Desember 2018
Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf (Oktaf Natal)
1 Samuel (1:20-22.24-28)
(Mzm 84:2-3.5-6.9-10; Ul: 1)
1 Yohanes (3:1-2.21-24)
Lukas (2:41-52)
"Jubilate Deo - Pujilah Tuhan."
Inilah ajakan iman supaya kita mempersembahkan suka-duka hidup kita sekeluarga dengan penuh pujian kepadaNya.
Adapun beberapa tokoh yang berperan, antara lain:
1.Yusuf dan Maria:
Mereka adalah orang yang "tulus", yang mengantar dan menyerahkan Yesus kepada Bapa. Dengan kata lain: Kita diajak untuk mau mengantar dan menyerahkan keluarga kita kepada Tuhan.
Adapun persembahan sepasang burung tekukur menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga sederhana (Im 12:8). Ya, sejak awal, Tuhan memilih untuk hadir di tengah orang sederhana. (Luk 9:58; Mat 8:20; Why 2:9).
2.Simeon:
Ia adalah orang yang "lurus", sungguh benar/tulus (Luk 1:6). Ini adalah terjemahan dari kata Yun: “dikaios” (Ibr: yasher), artinya "benar benar lurus".
Dalam Perjanjian Lama, kata ini tidak hanya berarti kepatuhan kepada perintah tapi menunjukkan bahwa ia benar di hadapan Allah, baik dalam hati maupun tindakan (Maz 32:2) dengan beberapa dasar:
a) Kebenaran yg dicari adalah kebenaran yang datang dari hati, berdasar harapan dan iman yang benar kepada Allah serta kasih kepada Allah (Ul 4:10,29; 5:29). Keadaan hati seperti ini juga terlihat dalam diri Zakaria yang hidup menurut "segala perintah Tuhan (Luk 1:6; Kej 7:1; 1Raj 9:4).
b) Orang benar bukan orang yang sempurna.
Ketika berdosa, mereka memperoleh pengampunan dengan jalan mempersembahkan korban kepada Allah sebagai pertobatan iman (Im 4:27-35). Adapun, simeon setia kepada Allah. Ia mempunyai kesabaran dan kerinduan iman, yang berjaga-jaga sepanjang malam, sambil menantikan tuannya kembali (Mat 24:45-47) karena berkat terbesar kita ialah memandang wajah Kristus (Luk 2:26; Why 22:4), siap siaga dan hidup selamanya di hadapan Dia (Why 21:1-22:21).
3. Hana:
Ia adalah seorang yang "kudus", nabi perempuan yg bertekun dan berharap akan kedatangan Kristus. Ia mengabdikan dirinya kepada Tuhan, "berpuasa dan berdoa" siang malam. Ia terus menyenangkan hati Tuhan dengan sepenuhnya menyerahkan diri kepadaNya (1Kor 7:32-35).
Bagaimana dengan kita?
"Cari baju di Korintus - Mari maju bersama Kristus."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
A.
"Sagrada Familia - Keluarga Kudus."
Inilah nama gereja megah di Spanyol yang sampai hari ini masih belum selesai pembangunannya. Kitapun diajak untuk selalu berjuang membentuk keluarga kudus karna keluarga adalah "ecclesia domestica-gereja basis".
Adapun "core values" untuk setiap keluarga yang mengandung 4 ajakan iman ( KE-cilkan emosi, LU-askan isi hati, AR-ahkan ke ilahi, dan GA-lang relasi ), antara lain:
a.Mencintai keimanan:
Yosef dan Maria hadir sebagai orang yang taat dan mencintai tradisi keimanannya. Mereka setia membawa Yesus untuk dipersembahkan ke Bait Allah: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah" (Luk 2:23). Sebagaimana Yusuf-Maria dahulu mencintai keimanannya dan mempersembahkan Yesus, demikianlah kita juga harus semakin beriman dan menyerahkan "hidup": suka duka dan pahit manis, semua anggota keluarga kita kepada Tuhan (Lat: Familia, Ing: Family, "Father And Mother I Love You").
b.Mencintai kesederhanaan:
Adapun persembahan sepasang burung tekukur menunjukkan bahwa Yusuf dan Maria itu adalah orang sederhana (Im 12:8). Dengan kata lain: Sejak awal Yesus telah digolongkan sebagai orang sederhana dan mencintai orang2 yang sederhana (Luk 9:58; Mat 8:20; Why 2:9). Lihatlah Natal: Yesus lahir di kandang hewan dan dihadiri oleh para gembala yang sederhana.
c.Mencintai ketulusan:
Selain Yosef dan Maria, Simeon dan Hana dihadirkan sebagai orang yang "benar/tulus"(Luk 1:6). Ini adalah terjemahan dari kata Yunani: dikaios (Ibr: "yasher, lurus"). Dalam Perjanjian Lama, kata ini tidak hanya berarti kepatuhan kepada perintah tapi menunjukkan bahwa kita menjadi benar di hadapan Allah, baik dalam hati/tindakan (Maz 32:2). Inilah kebenaran yang datang dari hati, berdasarkan iman yang benar kepada Allah serta kasih dan takut akan Allah (Ul 4:10,29; 5:29), yang hidup menurut "segala perintah dan ketetapan Tuhan" (Luk 1:6; Kej 7:1; 1Raj 9:4).
"Dari Telaga ke Sungai Gangga - Bersama keluarga mencapai surga."
B.
"Nunc dimittis!"
Inilah penggalan awal Kidung Simeon ketika kita merayakan Pesta Keluarga Kudus pada hari ini. Adapun "3K" supaya kita juga bisa menjadi persembahan yang hidup, antara lain:
a."Kekudusan":
Dipersembahkan berarti dikhususkan, yakni dikuduskan sebagai milik Allah. Nah, bersama Yesus yang dipersembahkan, ada juga dua nabi yang penuh Roh Kudus: Simeon seorang yang benar dan saleh hidupnya serta Hana seorang yang tidak pernah meninggalkan Bait Allah yang sepanjang hari berdoa dan berpuasa kepada Tuhan. Mereka peka akan kedatangan Keluarga Kudus karena terbiasa untuk hidup kudus. Dengan kata lain: Kita juga diajak untuk peka terhadap suara Tuhan dengan berlaku kudus setiap harinya.
b."Kepenuhan":
Dalam Imamat 12:1-8, Tuhan memerintahkan agar 40 hari setelah melahirkan, seorang ibu harus ditahirkan dan pada saat pentahiran, si anak sekaligus dipersembahkan kepada Tuhan (ay.6-8). Mereka diwajibkan membawa persembahan domba dan seekor burung merpati/tekukur (ay. 6). Tapi, jika tidak mampu, mereka cukup membawa 2 ekor burung tekukur/merpati. Inilah yang dibuat Yosef dan Maria. Mereka adalah orang yang sederhana tapi tetap total mengikuti hukum Tuhan. Mereka sepenuh hati datang dari desa Nazareth ke kota Yerusalem dengan membawa 2 ekor merpati.
c."Kebersamaan":
Tradisi Gereja Universal kerap memeriahkan pesta ini dengan prosesi lilin + pemberkatan lilin("Candlemass") bersama kidung "Nunc Dimittis servum tuum Domine secundum verbum tuum in pace-quia viderunt oculi mei salutare tuum-quod parasti ante faciem omnium populorum."
Disini, Gereja menekankan dimensi kebersamaan, bahwa iman tidak hanya berdimensi vertikal yakni personal kepada Allah tapi juga berdimensi horisontal yakni sosial/comunal kepada sesama.
Ya, seperti Yosef dan Maria, kita juga diajak untuk mempersembahkan dan membawa keluarga kita smakin dekat dan hangat dengan Tuhan.
"Ada karang di Tamansari - Jadilah terang setiap hari."
C.
Madah Ibadat Bacaan, Pagi, Siang.
(Minggu, 30 Des 2018)
Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, Yosep
Ya Allah, bersegeralah menolong aku
Ya Tuhan, perhatikanlah umat-Mu
MADAH IBADAT BACAAN
Yesus, cahaya ilahi,
Pujaan surga dan bumi
Engkau lahir bagai bayi
Dalam keluarga suci
O Maria penuh rahmat
Kautimang Juru selamat
Yang kaucium dan kaupangku
Dengan hati yang terharu
Santo Yusuf yang bahagya
Engkau keturunan raja
Sebutan manis “ayahKu”
Kautrima dari Yesusmu
Yesus yang patuh dan setya
Kepada ayah dan bunda
Mulya dengan Allah Bapa
Dan Roh kudus selamanya
Amin
MADAH IBADAT PAGI
Ya Yesus cahaya Bapa
Maria perawan murni
dan Yusuf pengasuh setya
Yang pantas kami kagumi
Rumah tanggamu bersinar
Penuh jasa yang gemilang
Dari situlah memancar
Damai penuh kasih sayang
S’moga pesta hari ini
Menggerakkan hati kami
Untuk giat meneladan
Keluarga kudus Tuhan
Yesus yang patuh dan setya
Kepada ayah dan bunda
Mulya dengan Allah Bapa
Dan Roh kudus selamanya
Amin
DOA
Bapa yang kekal, Engkau telah berkenan memberi kami teladan hidup keluarga kudus.
Bantulah rumah tangga kami semua untuk meniru kebajikan hidup mereka dalam ikatan cinta.
Semoga kelak kami menikmati kebahagiaan kekal sebagai anggota keluarga-Mu.
Demi Yesus Kristus, pengantara kami,
Amin.
SKI - JALAN KERAHIMAN
"Hiduplah Sebagai Keluarga Allah".
Keluarga :
KE cilkan emosi - bersabar
LU askan isi hati - berdamai
AR ahkan ke Ilahi - berdoa
GA lang relasi - berbagi
D.
ULASAN EKSEGETIS
BACAAN INJIL PESTA KELUARGA KUDUS
30 Desember 2018 (Luk 2:41-52)
BERADA DI BAIT ALLAH, DEMI DIA!
Injil bagi Hari Raya Keluarga Kudus kali ini ialah Luk 2:41-52. Dikisahkan bagaimana Yesus yang dalam kisah kali ini berumur 12 tahun diajak orang tuanya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah.
Ketika mereka kembali ke Nazaret, Yesus tertinggal. Mereka kembali ke Yerusalem mencarinya. Pada hari ketiga mereka menemukannya sedang duduk di tengah-tengah para ahli agama di Bait Allah.
MENGAPA YESUS TINGGAL DI BAIT ALLAH?
GUS: Apa maksud Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah? Supaya ia ikut Paskah?
JON: Mulai umur 12 tahun semua anak Yahudi wajib mengikuti upacara agama. Pada usia itu mereka diresmikan masuk dunia orang dewasa dalam sebuah upacara inisiasi. Dapat diperkirakan bahwa Yesus menerima upacara ini di Bait Allah di Yerusalem sebelum perayaan Paskah. Baru setelah ikut upacara itu, seorang anak dapat ikut serta penuh dalam perayaan Paskah. Ia juga boleh diterima dalam sekolah Taurat.
GUS: Penjelasannya?
JON: Orang Yahudi beranggapan bahwa tiap anak mem­punyai tiga guru utama. Yang pertama ialah ibunya sendiri. Dialah yang membesarkannya dari lahir hingga disapih. Setelah itu peran pendidik diambil alih ayahnya hingga anak itu memasuki masa pubertas pada umur 12-13 tahun. Pada usia itu seorang anak mulai masuk dunia orang dewasa dan wajib belajar hidup mengikuti ajaran Taurat. Kini gurunya ialah Taurat sendiri.
Maka itu, pada umur-umur itu seorang anak diinisiasi dengan upacara sebagai “Bar Mitzvah”, ungkapan Aram ini artinya “anak ajaran Taurat”, maksudnya hidup yang diarahkan untuk menghayati Taurat.
Hingga hari ini di kalangan orang Yahudi, “Bar Mitzvah” adalah pesta terbesar bagi anak-anak dan orang tua mereka. Meriahnya dan maknanya dirasa seperti pesta khitanan di Jawa pentingnya.
GUS: Tapi pada khitanan dijalankan sunat juga – apa begitu pula di kalangan orang Yahudi?
JON: Lain. Dalam “Bar Mitzvah” tidak diadakan sunatan karena sunat di kalangan Yahudi dilakukan ketika masih bayi, lihat Luk 2:21.
GUS: Setelah dinyatakan sebagai Bar Mitzvah, Yesus dapat ikut mendalami Taurat dan karena itu ia tinggal di Bait Allah bertanya jawab dengan para ahli agama?
JON: Betul! Di Bait Allah ada kelompok-kelompok sekolah Taurat. Kita bayangkan Yesus berpindah-pindah mengikuti pelajaran dari kelompok satu ke kelompok berikutnya sehingga terpisah dari orang tuanya. Yusuf dan Maria sendiri kiranya juga sibuk berbicara dengan para orang tua lain dan kenalan di situ.
GUS: Belum puas tanyanya nih. Apa maksudnya kisah Yesus diketemukan sesudah tiga hari (ay. 46)? Apakah ini menunjuk ke arah kebangkitan nanti?
JON: Begini penjelasannya. Orang tua Yesus sudah jauh meninggalkan Yerusalem pulang menuju Nazaret yang letaknya 150-an km di utara. Ketika menyadari Yesus tidak ada dalam rombongan, mereka terpaksa kembali ke Yerusalem. Perjalanan berangkat dari Yerusalem dan balik ke sana ini katakan saja memakan waktu dua siang hari. Hari berikutnya, yakni hari ketiga, mereka menemukannya di Bait Allah. Dengan penjelasan ini maka “hari ketiga” ini tidak perlu dihubung-hubungkan dengan peristiwa kebangkitan.
GUS: Kata-kata Yesus yang ditujukan kepada ibunya dalam ayat 49 menegaskan bahwa semestinyalah ia “terserap dalam urusan-urusan Bapaku” (Yunaninya “en tois tou patros mou”). Dalam konteks ini memang berarti tinggal di rumah Bait Allah seperti lazim diungkapkan dalam terjemahan. Betulkah?
JON: Setuju. Eh, omong-omong, di situ juga pertama kalinya dalam Injil Lukas ditampilkan Yesus berbicara. Perkataannya menjadi titik tolak untuk mulai mengenali siapa dia itu. Ia merasa wajib menyibukkan diri dengan perkara-perkara Bapanya. Dan mulai saat itu kehidupannya memang terpusat ke sana. Kita ingat kata-katanya yang terakhir ketika menghembuskan napas terakhir di salib. Dalam Luk 23:46, ia berseru kepada Bapanya dan menyerahkan nyawanya kepada-Nya. Kemudian dalam Luk 24:49, sebelum naik ke surga, ia masih meneguhkan hal yang dijanjikan Bapanya.
GUS: Jadi ini semacam ikhtisar kristologi Lukas ya? Yesus ditampilkan sebagai orang yang mulai dewasa dengan menyadari bahwa hidupnya itu demi urusan-urusan Bapanya. Dan komitmen ini dijalaninya terus sampai akhir, sampai di kayu salib nanti.
JON: Jitu!
GUS: Tanya lagi. Lukas juga menyebutkan pada akhir petikan ini bahwa Yesus makin dewasa, bertambah bijaksana, dan makin dikasihi Allah dan manusia. Apa maksudnya?
JON: Ini cara menggambarkan orang yang hidup bagi kepentingan Tuhan dan manusia. Mirip dengan yang dikatakan mengenai Samuel dalam 1 Sam 2:26. Akan tetapi, Lukas menambah satu unsur lain, yakni “hikmat”. Gagasan ini menunjuk pada pengalaman hidup yang mengajar orang makin peka memahami kebutuhan orang. Yang membuat orang solider dengan sesama. Dia yang sudah jadi “anaknya ajaran Taurat” dapat menghayatinya dengan hikmat. Ajaran agama menjadi hidup, tak mandek sebatas kewajiban dan larangan melulu. Dia itu Taurat hidup yang dikirim Bapa kepada umat manusia.
MENYIMPAN DALAM HATI
Dua kali Lukas mengatakan bahwa Maria menyimpan perkara yang dialaminya dalam hatinya. Pertama kali ketika mendengar para gembala mengisahkan pemberitahuan malaikat mengenai anak yang baru lahir di Betlehem (Luk 2:19) dan kedua kalinya di sini (Luk 2:51). Dalam gaya bahasa Semit, menyimpan dalam hati berarti memikirkannya berulang-ulang dan tiap kali menemukan arti yang makin dalam.
Ungkapan “menyimpan dalam hati” juga dipakai menggambarkan sikap Yakub ketika mendengarkan kisah mimpi anaknya, Yusuf (Kej 37:11). Sebenarnya Yakub menganggap Yusuf ini aneh-aneh saja. Namun demikian, Yakub menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Yang Ilahi yang menyampaikan sesuatu dengan cara yang belum begitu dimengertinya. Bukan seperti saudara-saudara Yusuf yang menurut ayat itu “iri hati”, atau dengki, njotak, menolak.
Contoh lain: Daniel mendapat penglihatan yang menggetarkan dan mendengar penjelasannya dari seorang makhluk ilahi. Dalam Dan 7:28, dikatakan bahwa ia amat gelisah dan ketakutan, tetapi di situ juga ditegaskan bahwa Daniel “menyimpan dalam hati”, maksudnya semakin meresapi makna penglihatan mengenai merajalelanya kejahatan dan diakhirinya kejahatan itu oleh kuasa ilahi. Maria lain lagi. Ia bukannya setengah percaya seperti Yakub atau tergetar seperti Daniel. Ia tahu siapa yang baru lahir darinya. Ia telah mendengarnya sendiri dari Gabriel (Luk 1:28-36). Akan tetapi, dalam peristiwa menemukan Yesus di Bait Allah, Maria memang belum sepenuhnya memahami yang dilakukan Yesus.
Dalam keempat pemakaian ungkapan “menyimpan dalam hati” itu, perasaan orang yang bersangkutan tidak sama. Itulah yang terjadi pada Maria. Pertama kali ia memahami sepenuhnya, yang kedua kalinya belum, Yakub malah rada skeptik, Daniel gelisah dan pucat ketakutan setengah mati. Namun demikian, ketiga orang ini tetap mau dan berusaha mengerti lebih jauh apa yang sedang terjadi. Mereka tidak berhenti dan menutup diri, puas dengan sikap sudah tahu, merasa lebih aman bila tidak begitu saja menerima, atau gemetar ketakutan melulu, atau pasrah asal percaya begitu saja. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa “menyimpan dalam hati” itu ialah sikap yang membuat orang makin memahami misteri. Dan sikap ini tidak ditentukan oleh suasana batin atau perasaan-perasaan yang mengitarinya seperti jelas dalam contoh-contoh di atas.
Satu tambahan. Ungkapan “menyimpan dalam hati” tidak berarti merahasiakan. Daniel malah membagikan yang dialaminya. Yakub tak memiliki alasan merahasiakannya karena Yusuf sendiri latah bercerita mengenai mimpinya kepada semua orang. Maria tentu berkali-kali menceritakannya ke orang-orang yang dekat kepadanya dan karena itulah Lukas mendapat bahan-bahan bagi Injil mengenai masa kanak-kanak Yesus.
Boleh jadi “menyimpan dalam hati” itu prinsip tafsir yang paling memungkinkan Sabda Tuhan betul-betul menyapa orang tanpa terikat pada keadaan dan suasana yang sering mengeruhkan kehadiran-Nya. Inilah yang menjadi kekuatan bagi yang bertugas menafsirkan Sabda Tuhan. Dia tetap bisa berbicara kepada orang banyak kendati kemampuan dan keadaan penafsir berbeda-beda. Satu syaratnya: mau “menyimpannya dalam hati” seperti Maria, seperti Daniel, seperti Yakub. (AG).
E.
Kutipan Teks Misa:
Keluarga Kristen adalah persekutuan pribadi-pribadi, satu tanda dan citra persekutuan Bapa dan Putera dalam Roh Kudus. Di dalam kelahiran dan pendidikan anak-anak tercerminlah kembali karya penciptaan Bapa. Keluarga dipanggil, supaya mengambil bagian dalam doa dan kurban Kristus. Doa harian dan bacaan. Kitab Suci meneguhkan mereka dalam cinta kasih. Keluarga Kristen mempunyai suatu tugas mewartakan dan menyebarluaskan Injil. (Katekismus Gereja Katolik, 2205)
Keluarga Kristen adalah tempat pendidikan doa yang pertama. Atas dasar Sakramen Perkawinan, keluarga adalah "Gereja rumah tangga", di mana anak-anak Allah berdoa "sebagai Gereja" dan belajar bertekun dalam doa. Teristimewa untuk anak-anak kecil, doa sehari-hari dalam keluarga adalah kesaksian pertama untuk ingatan Gereja yang hidup, yang dibangkitkan dengan penuh kesabaran oleh Roh Kudus. (Katekismus Gereja Katolik, 2685)
Antifon Pembuka (Luk 2:16)
Para gembala bergegas datang dan bertemu dengan Maria dan Yusuf serta Sang Bayi yang terbaring di palungan.
The shepherds went in haste, and found Mary and Joseph and the Infant lying in a manger.
Deus in loco sancto suo: Deus, qui inhabitare facit unamines in domo: ipse dabit virtutem et fortitudinem plebi suae.
Pada Misa ini ada Madah Kemuliaan dan Syahadat
Doa Pagi.
Ya Allah, Engkau berkenan memberikan kepada kami Keluarga Kudus sebagai teladan yang unggul. Semoga kami meneladannya dalam keutamaan hidup berkeluarga dan dalam ikatan cinta agar kami layak menikmati dengan penuh sukacita anugerah hidup abadi di dalam rumah-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Pertama Samuel (1:20-22.24-28)
"Seumur hidupnya Samuel diserahkan kepada Tuhan."
Setahun sesudah mempersembahkan kurban di Silo, mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Samuel, sebab katanya, “Aku telah memintanya dari Tuhan.” Lalu Elkana, suami Hana, pergi dengan seisi rumahnya untuk mempersembahkan kurban sembelihan tahunan dan kurban nazar kepada Tuhan. Tetapi Hana tidak ikut pergi. Katanya kepada suaminya, “Nanti, apabila anak itu sudah cerai susu, aku akan mengantarkan dia; maka ia akan menghadap ke hadirat Tuhan, dan tinggal di sana seumur hidupnya.” Setelah Samuel disapih oleh ibunya, ia dihantar ke rumah Tuhan di Silo, dan bersama dia dibawalah: seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur. Waktu itu Samuel masih kecil betul. Setelah menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli. Lalu Hana berkata kepada Eli, “Mohon bicara, Tuanku! Demi Tuhanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini, dekat Tuanku, untuk berdoa kepada Tuhan. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidupnya terserahlah anak ini kepada Tuhan.” Lalu sujudlah mereka semua menyembah Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do=g, 2/4, PS No. 841
Ref. Berbahagialah yang mendiami rumah Tuhan
Ayat. (Mzm 84:2-3.5-6.9-10; Ul: 1)
1. Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam! Jiwaku merana karena merindukan pelataran rumah Tuhan; jiwaku dan ragaku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.
2. Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang memuji-muji Engkau tanpa henti. Berbahagialah para peziarah yang mendapat kekuatan daripada-Mu, yang bertolak dengan penuh gairah.
3. Ya Tuhan, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga-Mu, ya Allah Yakub. Lihatlah kami, ya Allah perisai kami, pandanglah wajah orang yang Kauurapi!
Bacaan dari Surat Pertama Rasul 1 Yohanes (3:1-2.21-24)
"Kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah."
Saudara-saudaraku terkasih, lihatlah, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Allah. Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata bagaimana keadaan kita kelak. Akan tetapi kita tahu bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian penuh iman untuk mendekati Allah. Dan apa saja yang kita minta dari Allah, kita peroleh dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya itu: yakni supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan beginilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dalam Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do=f, 2/4, PS No. 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Kol 3:15a.16a)
Semoga damai Kristus melimpahi hatimu, semoga sabda Kristus berakar dalam dirimu.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:41-52)
"Yesus ditemukan orang tua-Nya di tengah para ahli kitab."
Tiap-tiap tahun, pada hari raya Paskah, orangtua Yesus pergi ke Yerusalem. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun, pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Seusai hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orangtua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Yesus ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu baru mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan. Karena tidak menemukan Dia, kembalilah orangtua Yesus ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari, mereka menemukan Yesus dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan dan segala jawab yang diberikan-Nya. Ketika Maria dan Yusuf melihat Dia, tercenganglah mereka. Lalu kata ibu-Nya kepada-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?” Lihatlah, Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Yesus makin bertambah besar, dan bertambah pula hikmat-Nya; Ia makin besar, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.
Renungan
Keluarga Katolik dewasa ini sarat dengan tantangan. Kita dapat menyebut tantangan tersebut, misalnya kesetiaan, komunikasi, gaya hidup, media digital, hedonisme, sekularisme, konsumerisme, dan individualisme. Singkatnya, arus zaman saat ini benar-benar melanda keluarga Katolik.
Di tengah-tengah segala tantangan, kita bersyukur dan masih dapat bernapas lega. Gereja Katolik memberikan model atau teladan hidup berkeluarga. Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Bunda Maria, dan Bapa Yusuf menjadi cermin bagi hidup keluarga kita. Keutamaan Keluarga Kudus Nazareth: keramahan, kelembutan, keterbukaan terhadap peran dan karya Allah, kesederhanaan dan keutamaan lainnya dapat menjadi sumber inspirasi yang membarui dan meneguhkan hidup keluarga kita.
Semoga Pesta Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Bunda Maria, dan Santo Yusuf yang kita rayakan pada akhir tahun ini menjadi sarana peneguhan dan penghayatan iman kita dalam keluarga, bahwa Allah menyertai kita untuk menyongsong dan mengisi tahun selanjutnya.
Antion Komuni (Bar 3:38)
Allah kita tampak di dunia, Ia bergaul dengan manusia.
Our God has appeared on the earth, and lived among us.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar