HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA MALAM NATAL 24 Desember 2017 :
Pope Francis places the infant Jesus into his crib during the Christmas Vigil Mass in St Peter's Basilica, Vatican (December 24, 2017).
NB:
HOMILI PAUS FRANSISKUS
DALAM MISA MALAM NATAL
24 Desember 2017 :
"JANTUNG NATAL ADALAH HARAPAN"
Bacaan Ekaristi :
Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14.
Maria "melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan" (Luk 2:7). Dengan kata-kata yang jelas dan polos ini, Lukas membawa kita ke jantung malam kudus tersebut : Maria melahirkan; ia memberi kita Yesus, Sang Terang dunia. Sebuah kisah sederhana yang menceburkan kita ke dalam peristiwa yang mengubah sejarah kita untuk selama-lamanya. Semuanya, malam itu, menjadi sumber harapan.
Marilah kita mengingat beberapa ayat. Karena keputusan Kaisar Agustus, Maria dan Yosef mendapati diri mereka terpaksa berangkat. Mereka harus meninggalkan sanak saudara mereka, tempat tinggal mereka dan kampung halaman mereka, serta melakukan perjalanan untuk mendaftarkan cacah jiwa. Ini bukan perjalanan yang nyaman atau mudah bagi pasangan muda yang akan memiliki seorang anak : mereka harus meninggalkan kampung halaman mereka. Pada hakekatnya, mereka penuh harapan dan pengharapan oleh karena anak yang akan dilahirkan itu; tetapi langkah mereka terbebani oleh ketidakpastian dan bahaya yang dihadapi orang-orang yang harus meninggalkan tempat tinggal mereka.
Kemudian mereka mendapati diri mereka harus menghadapi mungkin hal yang paling sulit. Mereka tiba di Betlehem dan mengalami bahwa Betlehem adalah tanah yang tidak mengharapkan mereka. Sebuah tanah di mana tidak ada tempat bagi mereka.
Dan di sana, di mana segala sesuatu menjadi sebuah tantangan, Maria memberikan Imanuel kepada kita. Putra Allah harus dilahirkan di kandang karena tidak ada tempat bagi-Nya. "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya" (Yoh 1:11). Dan di sana, di tengah kesuraman dari sebuah kota yang tidak memiliki ruang atau tempat bagi orang asing yang datang dari jauh, di tengah kegelapan dari sebuah kota yang hiruk-pikuk yang dalam hal ini sepertinya ingin membangun dirinya sendiri dengan membelakangi kota-kota lainnya ... justru di sanalah dikobarkan percikan revolusioner kasih Allah. Di Betlehem, sebuah celah kecil terbuka bagi orang-orang yang telah kehilangan kampung halaman mereka, negeri mereka, impian mereka; bahkan bagi orang-orang yang dikuasai oleh sesak napas yang dihasilkan oleh hidup terasing.
Begitu banyak jejak langkah lain yang tersembunyi dalam jejak langkah Yosef dan Maria. Kita melihat jejak seluruh keluarga yang terpaksa berangkat pada zaman kita sendiri. Kita melihat jejak jutaan orang yang tidak memilih untuk berangkat tetapi, terdesak dari tanah mereka, meninggalkan orang-orang terkasih mereka. Dalam banyak kasus keberangkatan ini dipenuhi dengan harapan, harapan akan masa depan; tetapi bagi banyak orang lainnya keberangkatan ini hanya bisa memiliki satu nama : kelangsungan hidup. Kelangsungan hidup Herodes-herodes saat ini, yang, demi memaksakan kekuasaan mereka dan memperbesar kekayaan mereka, tidak menganggap bermasalah menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah.
Maria dan Yosef, yang tidak memiliki tempat, adalah orang-orang pertama yang memeluk Dia yang datang untuk memberi kita seluruh dokumen kewargaan kita. Dia yang dalam kerendahan hati dan kepapaan-Nya mewartakan dan menunjukkan bahwa kekuatan sejati dan kebebasan otentik ditunjukkan dengan menghormati dan menolong orang-orang yang lemah dan rapuh.
Malam itu, Dia yang tidak memiliki tempat untuk dilahirkan diwartakan kepada orang-orang yang tidak memiliki tempat dalam Kerajaan Allah atau di jalan-jalan kota. Para gembala yang pertama-tama mendengar Kabar Baik ini. Karena pekerjaan mereka, mereka adalah laki-laki dan perempuan yang terpaksa tinggal di pinggiran masyarakat. Keadaan kehidupan mereka, dan tempat-tempat yang harus mereka diami, menghalangi mereka untuk mengikuti seluruh tatacara ritual pemurnian keagamaan; akibatnya, mereka dianggap najis. Kulit mereka, pakaian mereka, bau badan mereka, cara berbicara mereka, asal usul mereka, semua menyingkapkan mereka. Segala sesuatu berkenaan dengan mereka menimbulkan ketidakpercayaan. Mereka adalah laki-laki dan perempuan yang dijauhi, ditakuti. Mereka dianggap orang-orang kafir di antara orang-orang percaya, orang-orang berdosa di antara orang-orang benar, orang-orang asing di antara warga. Tetapi kepada mereka - orang-orang kafir, orang-orang berdosa dan orang-orang asing - malaikat itu berkata: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (Luk 2:10-11).
Inilah sukacita yang malam ini kita dipanggil untuk membagikan, merayakan dan mewartakannya. Sukacita yang dengannya Allah, dengan kerahiman-Nya yang tak terbatas, telah memeluk kita orang-orang kafir, orang-orang berdosa dan orang-orang asing, serta menuntut agar kita melakukan hal yang sama.
Iman yang kita wartakan malam ini membuat kita melihat Allah hadir dalam segala situasi di mana kita pikir Ia tidak hadir. Ia hadir dalam diri pengunjung yang tidak diharapkan, seringkali tidak dikenali, yang berjalan melewati kota-kota kita dan lingkungan sekitar kita, yang bepergian pada bis-bis kita dan mengetuk pintu-pintu kita.
Iman yang sama ini mendesak kita untuk memberi ruang bagi impian sosial baru, dan tidak takut mengalami bentuk-bentuk hubungan baru, yang di dalamnya tak seorang pun yang merasa tidak ada tempat baginya di bumi ini. Natal adalah saat untuk mengubah kekuatan rasa takut menjadi kekuatan cinta kasih, menjadi kekuatan untuk memimpikan cinta kasih yang baru. Cinta kasih yang tidak tumbuh terbiasa dengan ketidakadilan, seolah-olah itu sesuatu yang alamiah, tetapi cinta kasih yang memiliki keberanian, di tengah ketegangan dan konflik, untuk menjadikan dirinya "rumah roti", tanah keramahtamahan. Itulah yang dikatakan Santo Yohanes Paulus II kepada kita : "Jangan takut! Buka pintu lebar-lebar bagi Kristus" (Homili pada Misa Inagurasi Pontifikasi, 22 Oktober 1978).
Dalam diri Kanak Betlehem, Allah datang menemui kita dan menjadikan kita para pengikut serta yang aktif dalam kehidupan di sekitar kita. Ia mempersembahkan diri-Nya bagi kita, sehingga kita bisa menatang-Nya, mengangkat-Nya dan memeluk-Nya. Sehingga di dalam diri-Nya kita tidak akan takut menatang, membangkitkan dan merangkul orang yang haus, orang asing, orang telanjang, orang sakit, orang yang berada di dalam penjara (bdk. Mat 25:35-36) . "Jangan takut! Buka pintu lebar-lebar bagi Kristus". Di dalam diri Kanak ini, Allah mengundang kita untuk menjadi para utusan harapan. Ia mengundang kita untuk menjadi para pengawal bagi semua orang yang tertunduk lesu karena keputusasaan yang lahir oleh karena menghadapi begitu banyak pintu yang tertutup. Dalam diri Kanak ini, Allah menjadikan kita para perantara keramahtamahan-Nya.
Tergerak oleh sukacita akan karunia tersebut, Kanak Betlehem yang mungil, kami mohon agar tangisan-Mu bisa menggoncangkan kami dari ketidakpedulian kami dan membuka mata kami bagi orang-orang yang sedang menderita. Semoga kelembutan-Mu membangkitkan kepekaan kami dan mengenali panggilan kami untuk melihat-Mu dalam diri semua orang yang tiba di kota-kota kami, dalam sejarah-sejarah kami, dalam kehidupan kami. Semoga kelembutan-Mu yang revolusioner meyakinkan kami untuk merasakan panggilan kami guna menjadi para perantara harapan dan kelembutan umat kami. (PS)
Senin, 25 Desember 2017, pagi
HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Senin, 25 Desember 2017
Hari Raya Natal (Misa Fajar)
Yesaya (62:11-12)
(Mzm 97:1.6.11-12)
Titus (3:4-7)
Lukas (2:15-20)
"Fiat Lux - Jadilah Terang."
Inilah salah satu ajakan penuh harapan iman dan kasih pada hari Natal. Adapun tiga pendasaran supaya kita juga bisa belajar menjadi terang, al:
Pertama:
Perayaan Natal adalah perayaan kelahiran Yesus. Hal ini ada untuk menyadarkan agar kita semua mau “lahir kembali”, ke yang asli, yang sejati. Bukankah kita ini gambar dan rupa Allah, potret dan tanda kehadiran Ilahi dalam kehidupan? Apakah yang sudah dicerminkan dalam kehidupan kita? Ajakan untuk kembali ke fitrah, rasanya tidak jauh dengan ajakan bagi kita semua untuk bertobat, kembali ke sumber kehidupan yang tidak pernah kering, yaitu Yesus Kristus, sang Anak yang terkasih!
Kedua:
Kita diajak merenungkan makna Natal, bukan hanya sebagai peringatan kelahiran Yesus dalam sejarah. Itu pasti bermakna, tetapi bukankah kelahiran itu harus ditinggalkan? Tempat kelahiran, masa kanak-kanak-kanak dan sikap kekanak-kanakan, dalam proses kehidupan ternyata ditinggalkan, dan kita diajak beralih menjadi dewasa dan menampilkan kemuliaan Ilahi sebagaimana dipercayakan kepada kita semua. Kedewasaan sebagai anak Allah, itulah yang akhirnya harus diperjuangkan, sampai akhirnya kita boleh mengambil bagian dalam kemuliaan sebagaimana dimiliki oleh sang Anak itu. Bukankah inti iman Kristiani kita pada kebangkitan yang mulia itu, dan bukan dalam ulang tahun kita?
Ketiga:
Kita diajak menyongsong tahun baru 2017. Tahun bukan hanya merupakan deretan waktu atau saat, melainkan juga tantangan mutu. Bukan hanya momen menurut istilah Latin momentum, melainkan juga menurut istilah Yunani khairos, yaitu kesempatan, kemungkinan, rahmat dan perutusan. Itulah yang mestinya juga kita tanggapi dengan sikap yang terbuka. Tahun baru adalah ajakan untuk membaharui segalanya secara utuh. Semuanya itu, bukan sekedar ajakan untuk pesta pora, melainkan juga sebagai peringatan, bagaimana kita wajib menata dan mengelola kehidupan ini. Menata dan mengelola kehidupan dengan memperhitungkan rencana dan kehendak ilahi, yang menuntun kita semua ke dalam keselamatanNya.
Pastinya:
Natal bukan hanya kenangan masa lalu. Natal adalah tantangan dan sekaligus perutusan. Allah saja mengutus FirmanNya untuk menjadi daging dan berkemah di antara kita, apalagi kita, ciptaanNya, mesti memantulkan kemuliaan sebagaimana ada dalam diriNya di tengah kemajemukan kultural, tantangan global dan kemiskinan sosial.
Ya, Natal bukan hanya kenangan historis akan kelahiran Yesus, yang kerapkali memupuk nostalgia kita. Natal mestinya menjadi kelahiran rahmat dalam kehidupan kita semua. Dan lebih penting lagi: Natal adalah perutusan kita: kembali ke fitrah, mencerminkan kemuliaan Ilahi dalam kehidupan, membangun dunia dan kehidupan yang baru dengan kesempatan dan kemungkinan yang ada.
"Cari bantal di Kramat Jati - Selamat Natal, Tuhan Yesus selalu memberkati."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Kutipan Teks Misa:
“Percayalah kepada Putra Tunggal Allah yang demi menebus dosa kita turun ke dunia, dan mengambil bagi-Nya kodrat manusia seperti kita, dan dilahirkan oleh Perawan Maria dan dari Roh Kudus, dan menjadi manusia, tidak hanya kelihatannya saja atau hanya seperti sandiwara/ “show“, melainkan sungguh-sungguh terjadi; tidak hanya sekedar lewat melalui Perawan Maria seperti melalui sebuah saluran; tetapi daripadanya dibuat menjadi sungguh-sungguh daging, dan [Ia] makan dan minum seperti kita. Sebab jika Inkarnasi hanya sebuah bayangan, maka keselamatan kita hanyalah sebuah bayangan juga. Kristus terdiri dari dua kodrat, Manusia di dalam apa yang terlihat, namun [juga] Tuhan di dalam apa yang tak terlihat. Sebagai manusia [Ia] sungguh-sungguh makan seperti kita,…. namun sebagai Tuhan [Ia] memberi makan lima ribu orang dari lima buah roti (Mat 14:17- dst). (St. Sirilus dari Alexandria)
Antifon Pembuka (lih. Yes 9:2.6; Luk 1:33)
Hari ini cahaya bersinar atas kita, sebab Tuhan telah lahir bagi kita. Ia akan disebut Penasihat Ajaib, Allah Perkasa, Raja Damai, Bapa Kekal dan kerajaan-Nya takkan berakhir.
Today a light will shine upon us, for the Lord is born for us; and he will be called Wondrous God, Prince of peace, Father of future ages: and his reign will be without end.
Lux fulgebit hodie super nos: quia natus est nobis Dominus: et vocabitur Admirabilis, Deus, Principes pacis, Pater futuri sæculi: cuius regni non erit finis.
Mzm. Dominus regnavit, decorem indutus est: indutus est Dominus fortitudinem, et præcinxit se. (Graduale Romanum, p.44)
Pada Misa ini ada Madah Kemuliaan, ada Syahadat (berlutut saat "Ia dikandung dari Roh Kudus"), Prefasi Natal I, II atau III, Communicantes Natal.
Doa Pembuka
Allah yang Mahakuasa, kami sudah disinari oleh Terang yang baru. Dialah Sabda-Mu yang menjadi manusia. Semoga terang-Nya, yang bersinar dalam hati karena iman, bersinar juga dalam tindakan kami sehari-hari. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Yesaya (62:11-12)
"Katakanlah kepada putri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang."
Inilah yang telah diperdengarkan Tuhan sampai ke ujung bumi: Katakanlah kepada putri Sion: Lihat, Penyelamatmu datang! Mereka yang dikumpulkan dengan jerih payah-Nya ada bersama-sama dengan Dia, dan mereka yang dihimpun-Nya berjalan di hadapan-Nya. Orang akan menyebut mereka: "Bangsa-Kudus", Orang-orang Tebusan-Tuhan"; dan engkau akan disebut: "Yang-Dicari", "Kota-Yang-Tidak-Ditinggalkan".
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur Tanggapan, do = d, 3/4; 4/4, PS 806
Ref. Hendaklah langit bersuka cita, dan bumi bersorak-sorai dihadapan wajah Tuhan, kar'na Ia sudah datang.
Ayat. (Mzm 97:1.6.11-12)
1. Tuhan adalah Raja, biarlah bumi bersorak-sorai, biarlah banyak pulau bersukacita! Langit memberikan keadilannya dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.
2. Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena Tuhan, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Titus (3:4-7)
"Oleh kasih karunia-Nya, kita berhak menerima hidup yang kekal"
Saudaraku terkasih, ketika kerahiman dan kasih Allah serta Juruselamat kita telah nyata kepada manusia, kita diselamatkan oleh Allah. Hal itu terjadi bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya berkat permandian kelahiran kembali dan berkat pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita lantaran Yesus Kristus, Juruselamat kita. Dengan demikian kita sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya berhak menerima hidup yang kekal sesuai dengan pengharapan kita.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Luk 2:14; 2/4)
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi bagi orang yang berkenan kepada-Nya.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:15-20)
"Segala sesuatu yang mereka dengar dan lihat semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka."
Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke surga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yosef dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan
Hari ini adalah hari kelahiran Yesus Juru Selamat kita. Pada perayaan ulang tahun biasanya dimeriahkan oleh kado-kado dari orang-orang terdekat. Mereka berdatangan mengucapkan selamat. Hari ini pun kita datang ke gereja untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Yesus. Kelahiran-Nya ke dunia sungguh menjadi berkat bagi kita semua. Sebagai orang-orang terdekat Tuhan yesus, apa kado yang bisa kita berikan kepada-Nya?
Dalam hidup Yesus sudah memberikan kado yang paling berharga untuk kita, yakni hidup-Nya sendiri. Yesus rela wafat untuk menyelamatkan umat manusia. Kini giliran kita untuk memberikan kado ulang tahun untuk Yesus. Yesus tidak membutuhkan barang berharga. Yesus tidak membutuhkan uang dari kita. Yesus membutuhkan perhatian dan cinta kasih kita, baik kepada diri-Nya maupun kepada sesama kita. Kelahiran-Nya di kandang Betlehem mau menunjukkan cinta kasi Tuhan kepada sesama yang kecil dan sederhana. Yesus sudah memulai-Nya sejak awal hidup di dunia. Karena itu, marilah kita sekarang memulai hari-hari hidup kita dengan tindakan cinta kasih kepada sesama. Itulah bingkisan terindah yang Tuhan Yesus mau dari kita.
Antifon Komuni (Bdk. Za 9:9)
Bersorak-sorailah, hai Putri Sion! Bergiranglah, hai Putri Yerusalem! Lihat Rajamu datang: Dialah Yang Kudus dan Juru Selamat dunia.
Rejoice, O Daughter Sion; lift up praise, Daughter Jerusalem: Behold, your King will come, the Holy One and Savior of the world.
Exsulta filia Sion, lauda filia Ierusalem: ecce Rex tuus venit sanctus, et Salvator mundi
DOA MENGHORMATI KANAK-KANAK YESUS Di PALUNGAN
HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
DOA MENGHORMATI KANAK-KANAK YESUS Di PALUNGAN
Doa kepada Kanak-kanak Yesus dari Praha.
Ya Kanak-Kanak Yesus Ilahi!
Sebagaimana Engkau memanggil para gembala ke palungan-Mu melalui malaikat-malaikatMu yang kudus, dan memanggil para Majus melalui sebuah bintang ajaib, demikian sekarang Engkau memanggil kami untuk menghormati Keallahan serta Kemanusiaan-Mu; dalam Perayaan Ekaristi Malam Natal yang kudus ini.
Para gembala nempersembahkan hidup mereka; para Majus yang saleh mempersembahkan emas, kemenyan dan mur; namun kami mempersembahkan Engkau kepada Bapa-Mu di surga, melalui tangan imam yang mempersembahkan Dikau di altar, sebagaimana Engkau mempersembahkan diri kepada Allah dan kami, dengan berbaring di dalam palungan, sebagai seorang bayi tak berdaya.
Kami menyatukan intensi kami dengan intensi imam dan seluruh umat Gereja Katolik yang kudus untuk perdamaian dunia dan kesejahteraan keluarga-keluarga.
Kami ingin menghadiri misa kudus ini dengan hormat yang besar untuk menghormati Engkau yang lahir di Betlehem dan dibaringkan di palungan dibungkus kain lampin serta mengenangkan derita-Mu yang tak terperikan mulai sejak Engkau di kandang Betlehem hingga wafat di Golgota.
Kami mempersembahkannya sebagai ucapan syukur atas segala kebaikan yang telah kami terima, sebagai tanda tobat atas banyaknya dosa dan kelalaian kami, dan akhirnya, ya Yesus Anak yang amat baik, untuk mendapatkan pertolongan-Mu dalam kebutuhan-kebutuhan untuk setia mengikuti Dikau, terutama .................. (hening, menyebutkan intensi doa / kebutuhan dalam hati).
Kami menyatukan kurban ini dengan kurban curahan darah yang Kau persembahkan di salib. Kami mempersembahkannya bagi diri sendiri, bagi semua sanak-saudara, sahabat-sahabat dan para penderma, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, bagi para pemimpin Gereja maupun negara dan bagi seluruh umat manusia.
Dengarkanlah doa-doa kami serta terimalah dengan murah hati kurban persembahan keselamatan yang sedang kami unjukkan ke hadirat-Mu, sebab Engkaulah Putra Allah yang menjadi dalam diri Yesus Kristus, kini dan sepanjang masa. Amin.
===
Litani Kepada Kanak-Kanak Yesus
Tuhan, kasihanilah kami.
Kristus, kasihanilah kami.
Tuhan, kasihanilah kami.
Kristus, dengarkanlah kami.
Kristus, kabulkanlah doa kami.
Allah, Bapa di surga *......
Kasihanilah kami
Allah Putra, Penebus dunia,..
Allah Roh Kudus,..
Kanak-Kanak Yesus yang ajaib,..
Kanak-Kanak Yesus yang sungguh Allah dan Tuhan,..
Kanak-Kanak Yesus yang kemahakuasaan-Nya digelarkan dengan cara ajaib,..
Kanak-Kanak Yesus yang kebijaksanaan-Nya meliputi hati dan pikiran kami,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang kebaikan-Nya tak putus-putusnya membantu kami, ..
Kanak-Kanak Yesus,
yang penyelenggaraan-Nya membimbing kami ke tujuan dan cita-cita kami yang terakhir,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang kebenaran-Nya menerangi kegelapan hati kami,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang kemurahan-Nya memperkaya kepapaan kami,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang persahabatan-Nya menghibur orang yang sedih,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang belas kasih-Nya mengampuni dosa-dosa kami,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang kekuatan-Nya menyegarkan kami,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang kuasa-Nya mengenyahkan segala kejahatan,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang keadilan-Nya mencegah kami terhadap dosa,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang kuasa-Nya mengalahkan neraka,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang wajah-Nya menarik hati kami,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang keagungan-Nya menguasai semesta alam,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang hati-Nya penuh cinta mengobarkan hati kami yang dingin,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang tangan ajaib-Nya penuh berkat melimpahi kami dengan segala anugerah,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang nama-Nya yang manis dan kudus menyukacitakan hati umat beriman,..
Kanak-Kanak Yesus,
yang kemuliaan-Nya menyebar ke seluruh dunia,..
Kasihanilah kami, ya Yesus,
Sayangilah kami.
Kasihanlah kami, ya Yesus
Kabulkanlah doa kami.
Dari segala kejahatan,
Bebaskanlah kami, ya Yesus.
Dari segala dosa,..
Dari ketidak percayaan akan kebaikan-Mu yang tak terhingga,..
Dari segala keraguan akan kuasa ajaib-Mu,..
Dari sikap acuh tak acuh untuk menghormati-Mu,..
Dari segala cobaan dan kemalangan,..
Demi misteri masa Kanak-kanak-Mu yang kudus,..
Kami, orang berdosa, mohon:
Dengarkanlah kami.
Dengan perantaraan Bunda Maria, Bunda-Mu yang Perawan, dan Santo Yusuf, bapa angkat-Mu,
Kami mohon, kabulkanlah doa kami.
Ampunilah dosa-dosa kami,
Bimbinglah kami kepada pertobatan sejati,
Pertahankanlah dan kembangkanlah dalam diri kami kasih dan devosi kepada-Mu,
Kanak-Kanak yang kudus,
Janganlah menarik tangan ajaib-Mu dan kami,
Ingatkanlah kami selalu akan berkat-berkat-Mu yang tak terbilang banyaknya,
Nyalakanlah kasih kepada Hati-Mu yang kudus, agar semakin berkobar,
Kabulkanlah doa semua orang yang berseru kepada-Mu dengan penuh percaya,
Berilah damai-Mu kepada negeri kami,
Bebaskanlah kami dari segala kejahatan yang akan datang,
Karuniakanlah hidup kekal kepada semua orang yang bersikap baik terhadap-Mu,
Ucapkanlah keputusan penuh belas kasihan terhadap kami pada hari pengadilan,
Semoga Engkau, tetap menjadi tempat pengungsian bagi kami,
Yesus, Putra Allah dan Maria
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia,
luputkanlah kami, ya Yesus.
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia,
kabulkanlah doa kami, Yesus.
Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia,
kasihanilah kami.
Yesus, dengarkanlah kami.
Yesus, kabulkanlah doa kami.
Bapa kami ...
Marilah berdoa....
(Hening sejenak)
Ya Kanak-Kanak Yesus yang kudus,
sambil bersujud di hadirat-Mu,
kami mohon,
pandanglah hati kami yang susah dengan belas kasih-Mu.
Semoga Hati-Mu yang lembut dan penuh belas kasihan menjadi lunak karena doa-doa kami.
Limpahkanlah kepada kami rahmat yang dengan sangat kami minta daripada-Mu.
Angkatlah segala derita dan keputusasaan kami, segala cobaan dan kemalangan, yang sangat membebani kami.
Demi masa Kanak-Kanak-Mu yang kudus, dengarkanlah doa-doa kami, serta berikanlah hiburan dan bantuan, agar kami boleh memuji Engkau, bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan selama-lamanya.
Amin.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
Renungan Sabda untuk Misa Malam Natal.
HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Renungan Sabda untuk Misa Malam Natal.
A.
“PAX - Damai”
Inilah nama album Natal yang kami buat bersama Omah Poenakawan yang juga sebenarnya menjadi harapan iman kita menjelang misa di malam natal hari ini seperti yang dialami Zakaria dan Elisabeth pada bacaan hari ini.
Elisabeth yang mandul ternyata mengandung dan melahirkan dengan selamat. Zakharia yang bisu ternyata mendadak sembuh setelah ia memberi nama anaknya Yohanes.
Pastinya, saat-saat menjelang kedatangan Tuhan disertai banyak "berkat". Adapun Zakharia yang telah disembuhkan juga semakin merasakan bahwa ada karya Allah yang datang di balik berbagai peristiwa hidup keluarganya. Kebisuan telah memberinya banyak kesempatan untuk mensyukuri perjalanan hidupnya. Maka dari itu, yang pertama keluar dari mulutnya ketika ia sembuh adalah puji-pujian bagi Allah.
Ia bersyukur bukan hanya karena Allah menganugerahkan berkat bagi keluarganya tapi karena Allah berkenan mengunjungi umatNya untuk membebaskan mereka dari penderitaan.
Ya, kegelapan akan tunduk di hadapan sinarNya yang cemerlang. Lebih lagi Zakharia bersukacita, sebab anaknya akan ambil bagian dalam karya keselamatan itu.
Dkl: Kedatangan Yesus adalah tanda bagi kita untuk menghentikan setiap "kesedihan dan air mata dukacita" yang digantikan dengan "kegembiraan dan mata air sukacita". Seperti Zakharia, marilah kita bersukacita memuji-Nya karena Ia "melawat' umatNya (Kel 3:16; Kel 4:31; Kej 21:1; Kej 50:24-26, Maz 65:10; Maz 80:15; Yer 29:10).
"Dari Kuta ke Tarsus - Maranatha-Datanglah ya Tuhan Yesus!"
"METAL - MET menjelang naTAL."
B.
“Sagrada Familia – Keluarga Kudus.”
Natal (Bhs.Porto: "kelahiran") adalah hari raya kelahiran Yesus yang notabene adalah sebuah peristiwa keluarga, sebab Tuhan berkenan datang serta hidup dalam sebuah keluarga. Dan, sebetulnya, ada lima teladan natal yang bisa kita petik bagi keluarga kita juga, yakni:
1.Sukacita.
Natal adalah hari raya penuh makna yang memikat, sebab pada hari itu dirayakan kelahiran seorang bayi. Sosok bayi selalu bermakna pun memikat, apalagi bayi yang delapan hari kemudian diberi nama Yesus ini, “menjadikan segala-galanya baik” (Markus 7:37).
Cerita kelahiran Yesus sendiri dalam Injil Perjanjian Baru ditulis dalam kitab Matius (1:18-25) dan Lukas (2:1-21). "Menjadi anak" di depan Allah adalah syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan surga. Untuk itu, orang harus merendahkan diri, menjadi kecil; lebih lagi: seperti Nikodemus, orang harus "dilahirkan kembali" (Yoh 3:7), "dilahirkan dari Allah" (Yoh 1:13), supaya "menjadi anak Allah" (Yoh 1:12). Rahasia Natal terjadi di dalam kita, kalau "rupa Kristus menjadi nyata" (Gal 4:19) di dalam kita.
Jelaslah, Natal adalah misteri sukacita, "pertukaran yang mengagumkan":
"O pertukaran yang mengagumkan! Pencipta sudi menjadi manusia dan lahir dari perawan. Tidak diperanakkan oleh seorang laki-laki, Ia datang ke dunia dan menganugerahkan kepada kita kehidupan ilahi"
(Antifon Ibadat Sore 1 Januari).
2.Sederhana.
Dalam kisah Natal, dinyatakan, karena Maria dan Yusuf tidak menemukan tempat menginap, mereka membenahi sebuah tempat hina di sebuah kandang. Di tempat yang begitu sederhanalah, Maria melahirkan dan meletakkan Yesus di palungan, tepatnya di Betlehem Efrata, Yudea, di kampung halaman Daud, leluhur Yusuf.
Tampak juga, dalam kandang/goa Natal, Yesus kecil terbaring diantara orang-orang sederhana dan lemah. Ia mau menjadi lemah dalam dan bersama kita, manusia yang jelas-jelas lemah. Inilah kado Natal Tuhan bagi kita. Ia datang dalam kesederhanaan. Ia menjadi teman dalam kelemahan. Yesus datang ke dunia dalam kemiskinan: sebuah kandang, dalam keluarga yang tidak kaya; para gembala sederhana adalah saksi-saksi pertama kejadian ini.
Dalam kemiskinan ini bersinarlah kemuliaan surga. Gereja tidak bosan-bosan, menyanyikan kemuliaan malam Natal ini:
“Perawan melahirkan hari ini Yang Abadi
dan bumi menyediakan gua untuk yang tidak dapat dihampiri, para malaikat dan gembala memuji Dia dan para majus mendekat dengan bintang, karena Engkau dilahirkan tuk kami, Engkau Anak mungil, Engkau Allah abadi!”
(Kontakion oleh Romanos)
3.Setia.
Menurut Injil Lukas, Maria mengetahui dari seorang malaikat bahwa dia telah mengandung dari Roh Kudus tanpa persetubuhan. Setelah itu dengan setia, mereka meninggalkan rumah di Nazaret untuk berjalan ke rumah leluhur Yusuf di Betlehem, untuk mendaftar dalam sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Romawi, Agustus. Yusuf pun juga setia, walaupun dia tidak tahu siapa dan apa rencana Tuhan bagi keluarganya, dia tetap setia menemani Maria, bahkan sampai mengungi ke Mesir, yang begitu jauh tempatnya bukan?
4.Sabar.
Kedatangan Tiga orang Bijak dari Timur -- yang diduga berasal dari sekitar Arab atau Persia - untuk melihat Yesus yang baru dilahirkan menampakkan sifat sabar ini. Ketiga orang bijak tersebut, yang kerap disebut, Kaspar, Baltasar dan Melkhior ini, dengan sabar terus mengikuti Bintang, dari daerah Timur Tengah, sampai tiba di Yerusalem dan melaporkan kepada raja Yudea, Herodes Agung, sampai akhirnya merekapun tiba di kota Betlehem. Yohanes Pembaptis juga dengan sabar, terus bernubuat tentang pentingnya pertobatan.
5.Saling memberi.
Tiga raja memberikan emas, kemenyan, dan mur kepada bayi Yesus. Malaikat memberikan kabar sukacita kepada dunia, “Pada malam ketika Tuhan Yesus dilahirkan, para malaikat dan bala tentara surga memuji Allah dan berkata, "Damai sejahtera di bumi, diantara manusia yang berkenan kepadanya " (Lukas 2:14).
Para gembala memberikan kesiap-sediaannya untuk bergegas pergi ke kandang Yesus. Beberapa nyanyian Natal menyebutkan bahwa para gembala itu melihat sebuah bintang yang besar bersinar di atas kota Betlehem. Mereka mengikuti bintang itu hingga ke tempat kelahiran Yesus.
Para Nabi, dari Yesaya sampai Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian dan nubuatnya tentang kedatangan Tuhan, bertobatlah-siapkan jalan bagi Tuhan.
Yosef memberikan perasaannya karena tunangannya hamil terlebih dahulu sebelum dinikahi. Maria memberikan rahimnya buat Yesus.
Dan terakhir serta tak terlupakan, ternyata Tuhan Allah sendiri memberikan Putera Tunggalnya kepada kita semua.
Disinilah, kita bisa bertanya, bukankah setiap kali kita melakukan lima teladan ini, kita melahirkan natal kembali dalam hati kita?
"Cari bantal di Kramat Jati - Selamat menyambut Natal dan Tuhan memberkati."
C.
“KELUARGA”.
Salah satu fokus utama Natal tercandra bahwasannya kedamaian dan sukacita Natal dimulai dari keluarga kita sendiri, karena jelas bahwa Yesus juga datang dari sebuah rumah bernama “KELUARGA”.
Adapun empat gelar Yesus yang menjadi contoh sebuah “Keluarga Allah” adalah Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Dengan keempat gelar tersebut, Yesus tampil sebagai seorang yang datang dari Allah, misi-Nya adalah menegakkan Keluarga Kerajaan Allah
Penjelasan tentang empat gelar Yesus, al:
1). Mesias disebut "Penasihat ajaib", karena Dia sendiri akan menjadi keajaiban adikodrati yang membawakan hikmat sempurna dan karenanya, menyingkapkan rencana keselamatan yang sempurna.
2). Dia digelari "Allah yang perkasa", karena dalam DiriNya seluruh kepenuhan ke-Allah-an akan berdiam secara jasmaniah (bdk. Kol. 2:9, bdk. Yoh. 1:1.14).
3). Disebut "Bapa yang kekal" karena Mesias datang bukan hanya memperkenalkan Bapa Sorgawi, tetapi Ia sendiri akan bertindak terhadap umat-Nya secara kekal bagaikan seorang Bapa yang penuh dengan belas kasihan, melindungi dan memenuhi kebutuhan anak-anak-Nya (Bdk. Mzm. 103:3).
4). Raja Damai, karena pemerintahan-Nya akan membawa damai bagi umat manusia melalui pembebasan dari dosa dan kematian (bdk. Rm. 5:1; 8:2).
Nubuat nabi Yesaya mengenai tokoh Mesias tersebut selalu dihidupkan di dalam Gereja sebagai bahan renungan Natal. Memang sudah selayaknya nubuat itu, lebih-lebih yang berkaitan dengan gelar "Raja Damai" selalu direnungkan kembali. Dunia, khususnya keadaan negara dan bangsa kita masih harus menghadapi berbagai persoalan yang mengancam kedamaian dan keadilan.
Sejumlah permasalahan bangsa antara lain: masih adanya tindakan (gerakan) intoleransi yang merusak kehidupan beragama, perusakan alam dan lingkungan hidup, kejahatan korupsi, dan lemahnya integritas para pemimpin bangsa dan agama. Keprihatinan dan kegembiraan yang dialami negara dan bangsa kita menjadi renungan yang tepat di malam Natal ini karena kedatangan Yesus yang membawa keselamatan dan damai sejahtera belum dapat diwujudkan sepenuhnya karena berbagai kendala tersebut.
Boleh dikatakan bahwa dunia di sekitar Yesus pada waktu itu tidak jauh berbeda dengan zaman sekarang. Zaman Yesus juga diliputi oleh berbagai tindakan intoleransi, bahkan intoleransi internal ketika para pemuka agama saling berebut pengaruh dan menganggap kelompok mereka yang paling benar. Kelompok imam, kelompok Farisi, dan kelompok Herodian adalah kelompok-kelompok yang mempunyai masa sendiri-sendiri. Kelompok-kelompok tersebut tidak kompak.
Oleh karena itu, tekanan penjajahan Romawi tidak dapat dienyahkan. Meskipun tidak kompak namun anehnya mereka semua dapat satu kata ketika melawan Yesus dan menghendaki kematian-Nya.
Kondisi memprihatinkan di saat kelahiran Yesus
Kasus korupsi, merosotnya moral serta rapuhnya integritas para pemimpin rakyat dan umat sudah terjadi di zaman Yesus. Mungkin yang tidak menjadi issue pokok adalah soal pelestarian alam. Yesus dilahirkan di dalam situasi kemiskinan dan penindasan yang dialami oleh bangsa Yahudi pada umumnya. Yusuf dan Maria hanyalah sebagian dari bangsa jajahan yang harus tunduk kepada penjajah Roma untuk melakukan sensus. Hal itu terjadi sekitar tahun 6 sM.
Seperti kita tahu, sensus penduduk dilakukan untuk menentukan seberapa besar pajak yang dapat ditarik dari rakyat. Jadi, kepergian Yusuf dan Maria dari Nazaret ke Betlehem adalah demi kepentingan penjajah. Sensus semacam itu diadakan oleh pemerintah Roma setiap 14 tahun sekali. Orang-orang harus kembali ke tanah asal mereka, yaitu ke tempat di mana mereka masih mempunyai tanah hak milik mereka berdasarkan warisan. Jadi, yang penting bukan kembali ke daerah di mana mereka dilahirkan tetapi kembali ke daerah di mana mereka masih mempunyai tanah warisan. Diperkirakan Yusuf masih punya tanah warisan di Betlehem. Bisa jadi Yusuf memang dibesarkan di Betlehem sebelum migrasi ke Nazaret.
Yesus lahir di palungan
Maria disebut sebagai tunangan Yusuf. Ikatan pertunangan ini sudah punya kekuatan hukum, tetapi keduanya masih belum diperbolehkan berhubungan suami isteri. Sebenarnya cukup Yusuf saja yang harus ke Betlehem untuk mendaftarkan diri. Namun, Maria yang sedang mengandung tua itu dibawanya serta ke Betlehem meskipun jarak dari Nazaret ke Betlehem sekitar 120 km. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, dibutuhkan waktu sekitar 4 sampai 5 hari. Mengapa Maria dibawa serta? Kemungkinannya, Yusuf tidak mau meninggalkan Maria di Nazaret berhubung dengan kandungannya yang sudah besar itu. Yusuf membuktikan dirinya sebagai orang yang bertanggungjawab atas keluarganya.
Ternyata benar, Maria melahirkan anaknya ketika mereka berada di Betlehem. Tempat di mana Yesus dilahirkan ditunjukkan dengan ungkapan "dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan" (ay. 7). Karena Yesus dibaringkan di palungan, dapat diduga bahwa ia lahir di kandang hewan. Apalagi ayat 8 mengisahkan adanya para gembala dan kawanan ternak. Maria terpaksa melahirkan bayinya di tempat yang tidak semestinya karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
Para gembala sebagai kelompok pinggiran
Para gembala yang sederhana itu justru mendapat kehormatan didatangi malaikat dan diberi warta tentang kelahiran Yesus Juruselamat. Para gembala sebenarnya termasuk kelompok yang dipandang rendah oleh kelompok yang setia pada hukum kebersihan kultis. Mereka dianggap tidak akan mampu mengikuti hukum-hukum ibadat secara detil. Pekerjaan yang mereka lakukan tentu menjadi hambatan bagi mereka untuk secara hukum dan peraturan ibadat, misalnya keharusan untuk mencuci tangan, bersih dari hal-hal yang menajiskan, dsb. Para gembala itu berjasa menggembalakan domba-domba yang disediakan untuk upacara korban di Bait Allah Yerusalem. Betlehem berada sekitar 8 km sebelah Selatan Yerusalem.
Namun jasa mereka terhadap Bait Allah itu tidak menolong nama baik mereka. Bagaimanapun juga mereka biasa digolongkan sebagai kelompok yang kurang taat pada aturan-aturan agama, terasing dari dunia Bait Allah. Justru kepada kelompok yang tersingkir dari kalangan Bait Allah inilah Tuhan berkenan memberitakan warta gembira keselamatan. Isi dari pewartaan para malaikat adalah: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan" (ay. 10-12). Sunggubh ironis, bahwa para gembala yang tidak diperkenankan oleh para imam Bait Allah untuk menjadi saksi di pengadilan itu kini dikehendaki oleh Alah sendiri sebagai saksi dari kemuliaan dan karya keselamatan-Nya. Wartanya jelas, bahwa Juruselamat telah lahir, tempatnya juga jelas (kota Daud, Betlehem), dan tandanya juga jelas (bayi dibungkus lampin, berbaring di palungan). Yang belum jelas bagi para gembala tentunya: Siapakah Juruselamat itu? Apakah makna keselamatan yang dibawa-Nya bagi para gembala? Kisah-kisah selanjutnya menyatakan bahwa para gembala dengan cara mereka sendiri dapat merasakan kegembiraan dan keselamatan yang diwartakan oleh para malaikat itu.
Kontras-kontras
Yang menarik dari Injil Natal adalah adanya kontras-kontras yang ditampilkan. Kebesaran duniawi dari Kaisar Agustus dikontraskan dengan kelembutan ilahi dari Yesus. Kuasa duniawi kaisar Agustus dikontraskan dengan kuasa surgawi Yesus. Kaisar Agustus terkenal sebagai kaisar yang ingin menciptakan “PAX ROMANA” (damai Roma). Ia berusaha sebisa mungkin untuk menciptakan damai di seluruh wilayah negara Roma dan jajahannya.
Dalam Injil hari ini, kaisar Agustus yang sering dipuja sebagai "juruselamat dunia" itu dibandingkan dengan Yesus Sang Juruselamat sejati. Ia membawa damai, tetapi bukan damai yang artinya "asal tidak ada perang". Damai Kristus adalah damai yang harus diwujudkan dari hati yang tulus dan menghendaki apa yang terbaik bagi Allah, sesama dan diri sendiri.
Peristiwa Penyelamatan
Kelahiran Yesus yang dipenuhi dengan suasana sederhana dan miskin itu dijadikan sebagai momen karya penyelamatan Allah. Ini semua terjadi karena Allah sungguh mengasihi umat-Nya sampai berkenan menunjukkan kemuliaan-Nya dengan tindakan kasih yang membebaskan manusia dari kuasa dosa, menguduskan manusia dan mengembalikan keutuhan ciptaan.
Menggali pesan bacaan
- Perayaan Natal tidak pernah absen dirayakan oleh umat Kristiani dari tahun ke tahun. Apakah makna Natal selalu sama? Tidakkah ada yang baru bagi kita karena kita merayakan peristiwa yang sama setiap tahun?
Ada sebuah kisah pendek:
Seorang gadis kecil diajak oleh neneknya pergi ke Gereja dan mengagumi gua Natal yang dipasang di dekat panti imam. Sang nenek berkata : "Lihat betapa indah patung-patung itu, lihat domba-domba yang rapi berjejer di sekitar Yesus bersama gembala mereka. Lampu-lampu goa berwarna-warni. Indah bukan?" Gadis kecil itu menjawab: "Ya nek, semuanya indah sekali. Namun ada satu hal yang menggangguku. Kenapa Yesusnya kecil terus? Besarnya masih sama dengan tahun lalu. Mengapa Yesus tidak tumbuh besar?"
Memang benar, patung bayi Yesus di gua Natal selalu kecil. Natal bagi kita tidak untuk merayakan tumbuhnya bayi Yesus, tetapi merayakan semakin tumbuhnya iman kita, semakin berkembangnya kedewasaan kita, terciptanya kehidupan yang semakin damai sejahtera, semakin besarnya kasih kita kepada Tuhan dan sesama, dsb.
- Apakah yang menjadi perhatian utama kita di saat Natal?
Sebuah kisah inspiratif lain mungkin dapat menjadi renungan kita:
“Mimpi Bunda Maria”
Yosef, aku bermimpi.
Aku tidak dapat memahaminya, namun mimpi itu tentang ulangtahun anak kita.
Umat kristiani dalam mimpiku mempersiapkan pestanya sekitar lima minggu.
Mereka telah menghiasi rumah dan membeli pakaian-pakaian baru.
Mereka rajin berbelanja dan membeli bermacam-macam hadiah.
Aneh bagiku, karena hadiah-hadiah itu bukan untuk Anak kita.
Mereka membungkusnya rapi dan meletakkannya di bawah sebuah pohon.
Ya betul Yosef, pohon buatan itu ada di dalam rumah mereka.
Mereka menghias pohon itu dengan lampu dan hiasan warna-warni.
Mereka memasang patung malaikat kecil di puncak pohon itu.
Semuanya tertawa-tawa dan tampak bahagia.
Yosef, mereka saling berbagi hadiah, tetapi tidak untuk Anak kita.
Aku tidak yakin apakah mereka mengenal Anak kita.
Mereka tidak pernah menyebut nama-Nya.
Aku rasa, jika Yesus ikut datang dalam pesta mereka,
mungkin akan mereka anggap pengganggu.
Betapa sedih jika Yesus tidak boleh hadir
di pesta ulangtahunnya sendiri.
Aku bersyukur bahwa itu hanya mimpi.
Betapa pahitnya Yosef, jika itu adalah kenyataan.
- Kita sekarang ini hidup di zaman kontras-kontras. Ada kaya-miskin, kuat-lemah, suci-profan, duniawi-surgawi, dan sebagainya. Yesus telah memilih lahir di tengah kelompok yang tersingkir, dengan cara yang amat sederhana. Gereja saat inipun setiap kali ditantang untuk menentukan pilihan. Pesta Natal mengingatkan Gereja akan perjuangan terus-menerus untuk mewartakan dan mewujudkan keselamatan. Adakah karya keselamatan Allah lewat Gereja sudah menjangkau mereka yang tertindas, tersingkir, menderita, miskin, terancam? Kita boleh yakin bahwa Gereja senantiasa mengemban obsesi untuk berpartisipasi pada karya keselamatan. Yang lebih penting bukan obsesinya, tetapi sejauh mana obsesi itu telah terwujud. Yang penting bukan teori tentang Natal tetapi buah-buah iman dari Natal.
Ada sebuah kisah lagi:
Seorang isteri sudah lama merindukan bukti cinta dari suaminya. Suatu kali dia memancing kepekaan suaminya untuk itu dengan menceritakan mimpinya: "Pak, aku tadi malam bermimpi kauberi bingkisan Natal. Di dalamnya kudapati gaun yang indah, sepatu warna coklat yang saya inginkan, dan sebuah jam tangan mungil yang indah. Kira-kira apa arti mimpi itu ya pak? " Suaminya menjawab dengan kalimat pendek dan meyakinkan, "Bu, nanti sore ibu akan tahu apa arti mimpi itu." Sang isteri amat gembira dan yakin bahwa di hari natal ini dia akan mendapatkan bukti cinta dari suaminya: gaun, sepatu dan jam tangan yang indah. Sorenya sang suami pulang dari toko, membawa sebuah bungkusan. Begitu masuk rumah, dia langsung memanggil isterinya dan berkata. "Bu, ini ada bingkisan untukmu?" Sang isteri gembira sekali karena pancingannya rupanya berhasil. Dengan antusias dibukanya bungkusan itu, ternyata isinya adalah sebuah buku yang berjudul: "Berbagai Tafsir dan Makna Mimpi".
Natal memang kisah yang indah dan mengharukan, namun tidak ada maknanya jika kisah itu tidak mengubah diri kita. Di hari Natal, orang lain membutuhkan bukti bahwa Yesus sungguh lahir di hati kita dan mengubah diri kita menjadi manusia yang semakin mampu mengasihi sesama. Namun, kerapkali Natal hanya berhenti pada kisah Yesus, Maria dan Yosef dua ribu tahun yang lalu.
D.
St. Ambrosius: Demi kita, Kristus hadir sebagai anak yang sederhana
Dia adalah seorang bayi dan juga seorang anak agar kalian sungguh menjadi manusia yang sempurna.
Dia dibungkus dalam kain lampin, agar kalian dibebaskan dari jerat dosa.
Dia berada di palungan, agar kalian bisa berada di sekeliling altar.
Dia berada di bumi agar kalian berada di antara bintang-bintang.
Dia ditolak oleh pemilik penginapan, agar kalian bisa berada di puri surga.
"Dia, yang kaya, menjadi miskin untuk kalian, karena dengan kemiskinan-Nya, kalian menjadi kaya."
Maka kemiskinan-Nya adalah warisan bagi kita, dan kelemahan-Nya adalah keutamaan bagi kita. Dia memilih untuk mengosongkan diri-Nya sendiri agar dapat menjadikan kita semua berkelimpahan. Isak tangis bayi itu membersihkan aku, air mata-Nya membersihkan dosaku.
Maka, ya Tuhan Yesus, aku menerima lebih banyak dari penderitaan-Mu karena aku telah ditebus lebih dari segalanya atas tindakan yang telah aku lakukan. ... Kalian melihat bahwa Dia berada di dalam kain lampin. Kalian tidak melihatnya di surga. Kalian mendengar tangisan seorang bayi, tetapi kalian tidak mendengar lenguhan seekor sapi yang mengenali Tuhannya, meskipun sapi tersebut mengenali Pemiliknya dan keledai yang berada di kandang juga mengenali Tuannya. [Exposition of the Gospel of Luke]
E.
St. Yohanes Chisostomus (547-407): Seluruh pesta perjamuan berasal dari kelahiran Yesus.
"Saat perjamuan segera tiba, dan ini merupakan perjamuan yang paling kudus dan bermakna. Tidak ada salahnya menyebut perjamuan itu sebagai yang utama dan ibu atas seluruh hari kudus. Perjamuan apakah itu? Perjamuan kelahiran Yesus dalam rupa manusia.
Dari situlah dimulai seluruh perjamuan, mulai dati Teofani (penampakan Tuhan), Paskah, Kenaikan Tuhan dan Pentekosta.
Darisanalah perjamuan tersebut berasal. Jika Kristus tidak hadir dalam rupa manusia, Dia tidak akan dibaptis dan menampakkan diri. Atau jika Dia tidak wafat di salib, tidak ada dasar untuk Paskah. Atau jika Dia tidak mengirimkan Roh Kudus, maka tidak ada perayaan Pentekosta. Maka, seperti banyak sungai yang diperanakkan dari sumber yang sama dan satu, perjamuan-perjamuan tersebut berawal dari kelahiran Kristus." (ON THE INCOMPREHENSIBLE NATURE OF GOD 6.23-24)
Langganan:
Postingan (Atom)



