Ads 468x60px

Medicus curat sed Deus sanat (Dokter mengobati tapi Tuhan yang menyembuhkan!)


Dalam Angelus hari Minggu, 17 Nopember, Bapa Suci telah membagikan sebanyak 20.000 kotak obat "Misericordina". Sebenarnya, obat itu adalah kalung Rosari dan gambar Yesus Kerahiman Ilahi yang dibungkus di dalam sebuah kotak mirip kotak obat dengan informasi tata-cara penggunaannya, indikasinya, kontra-indikasinya dan sebuah pertimbangan untuk berkonsultasi dengan seorang Imam apabila 'pasien' mengalami kesulitan, semua telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Sebuah bantuan rohani bagi jiwa kita dan untuk menghadirkan kasih, pengampunan dan persaudaraan di mana saja.

Ini adalah salah satu cara dari Vatikan yang disetujui oleh Bapa Suci untuk mengkonkretasikan buah-buah dari Tahun Iman yang akan berakhir pada hari Minggu 24 Nopember.

Paus Fransiskus menganjurkan umat yang hadir di Lapangan Santo Petrus untuk: "Jangan lupa untuk mengambil obat ini, karena baik bagi hati, jiwa dan seluruh hidup".

D.K.I
Cerita - Catatan Coretan dalam “4 W + 1 H”


1.WHAT:
APA ITU DEVOSI KERAHIMAN ILAHI ?
“DKI” adalah pengabdian total kepada Allah dengan 3 poros “U”:
- Untuk mengimani belas kasihanNya
- Untuk menerima belas kasihanNya
- Untuk mewartakan belas kasihanNya

APA PESAN UTAMA DEVOSI KERAHIMAN ILAHI ?
U: Universal: Allah mengasihi kita semua.
K: Kerahiman: BelaskasihNya lebih besar daripada dosa kita.
I: Inisiatif Allah supaya kita menanggapiNya:
a. come : datang kepadaNya dengan penuh iman kepercayaan,
b. see : melihat dan menerima belas kasihNya,
c. go : membiarkanNya mengalir melalui kita kepada sesama.

APA SALAM KERAHIMAN ILAHI ?

Ask for His Mercy ~ Mohon Belas Kasih Allah
Tuhan menghendaki supaya kita memiliki “HARAPAN”. Kita datang kepada-Nya dalam doa secara terus-menerus, menyesali dosa-dosa kita dan mohon kepada-Nya untuk mencurahkan belas kasih-Nya atas kita dan atas dunia.
“Jiwa-jiwa yang mohon belas kasih-Ku menyenangkan hati-Ku. Kepada jiwa-jiwa ini aku menganugerahkan bahkan lebih banyak dari yang mereka minta. Aku tak dapat menghukum bahkan seorang pendosa besar sekalipun, jika ia mohon belas kasih-Ku (1146)…. Mohonlah belas kasih bagi seluruh dunia (570)…. Tak satu jiwa pun yang mohon belas kasih-Ku akan dikecewakan (1541).”

Be Merciful ~ Berbelas Kasih kepada Sesama
Tuhan menghendaki supaya kita memiliki “KASIH”. Kita menerima belas kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama. Tuhan menghendaki kita memperluas kasih serta pengampunan kepada sesama seperti yang Ia lakukan kepada kita.
“Aku menghendaki dari kalian perbuatan-perbuatan belas kasih yang timbul karena kasih kepada-Ku. Hendaklah kalian menunjukkan belas kasih kepada sesama di setiap waktu dan di setiap tempat. Janganlah kalian berkecil hati atau berusaha mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya…. Bahkan iman yang terkuat sekalipun tak akan ada gunanya tanpa perbuatan (742)…. Apabila jiwa tak melakukan perbuatan belas kasih dengan cara apapun, ia tak akan mendapatkan belas kasih-Ku pada hari penghakiman (1317).”

Completely Trust ~ Percaya Penuh kepada-Nya
Tuhan ingin menghendaki supaya kita memiliki “IMAN”. Kita tahu bahwa rahmat-rahmat belas kasih-Nya tergantung pada besarnya iman - kepercayaan kita. Semakin kita percaya kepada-Nya, semakin berlimpah rahmat yang kita terima.
“Aku telah membuka Hati-Ku sebagai sumber belas kasih yang hidup. Biarlah segenap jiwa menimba hidup darinya. Biarlah mereka menghampiri samudera belas kasih ini dengan penuh kepercayaan (1520). Di salib, sumber belas kasih-Ku dibuka lebar-lebar dengan tombak bagi segenap jiwa - tak suatu jiwa pun Aku kecualikan! (1182). Aku menawarkan kepada manusia suatu timba dengan mana hendaknya mereka terus-menerus datang menimba rahmat-rahmat dari sumber belas kasih. Timba itu adalah lukisan dengan tulisan, `Yesus, Engkau Andalanku' (327). Rahmat-rahmat belas kasih-Ku diperoleh dengan sarana satu timba saja, yaitu - kepercayaan. Semakin suatu jiwa percaya, semakin banyak ia menerima (1578)”



2.WHO:

Bunda Kerahiman Ilahi: Bunda Maria
“Aku bukan saja Ratu Surga, melainkan juga Bunda Belas Kasih dan Bunda-mu (330)… “Aku Bunda bagi kalian semua, syukur kepada kerahiman Allah
yang tak terselami (449)”

“Salam Ratu Tersuci, Bunda Belas Kasih….” Selama berabad-abad umat beriman menyapa Bunda Maria dengan gelar ini, dan sekarang, pada abad modern, Paus Yohanes Paulus II menghadirkan kembali di hadapan kita pentingnya peran unik Bunda Maria dalam rencana belas kasih Allah yang kekal. Dalam ensikliknya, Dives In Misericordia, Bapa Suci menyisihkan satu bagian yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Santa Perawan Maria “Bunda Belas Kasih”.

Bagi St Faustina, Bunda Maria adalah sumber belas kasih Allah yang tak habis-habisnya, sebagai bunda, pelindung, guru, dan perantara. Dari Santa Perawan, ia menerima karunia kemurnian yang istimewa, kekuatan dalam penderitaan, dan pengajaran-pengajaran yang tak terhitung banyaknya mengenai kehidupan rohani. “Bunda Maria adalah instrukturku,” tulis St Faustina, “yang senantiasa mengajariku bagaimana hidup bagi Tuhan (620)…. Semakin aku meneladani Bunda Allah, semakin aku mengenal Allah secara lebih mendalam (843)… sebelum setiap Komuni Kudus, dengan sungguh aku mohon Bunda Allah untuk menolong mempersiapkan jiwaku bagi kedatangan Putranya (114)…. Bunda Maria mengajarkan kepadaku bagaimana mengasihi Tuhan dari lubuk hati yang terdalam dan bagaimana melaksanakan kehendak-Nya yang kudus dalam segala hal (40)…. O Bunda Maria, Bunda-ku, aku menempatkan segalanya dalam tanganmu (79)…. Engkaulah sukacita, sebab melalui engkau, Allah turun ke dalam dunia (dan) ke dalam hatiku (40).”

Paus Kerahiman Ilahi: Yohanes Paulus II
30 November 1980:
Ensiklik Dives In Misericordia (Kaya dalam Kerahiman):
Kristus sebagai “sumber belas kasih yang tak habis-habisnya.”
“Program “belas kasih ilahi” haruslah menjadi “program umat-Nya, program Gereja.”
Gereja mengemban “tugas dan kewajiban” untuk “memaklumkan dan mewartakan belas kasih Allah,” untuk “memperkenalkan dan mewujud-nyatakannya” dalam hidup segenap umat manusia, serta untuk “datang kepada belas kasih Allah,” memohonkannya dengan sangat bagi seluruh dunia.

22 November 1981:
Paus mengunjungi tempat ziarah Cinta yang Berbelas Kasih di Collevalenza, Italia, dalam perjalanan ziarah pertama di luar Roma setelah percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Di sana Sri Paus menegaskan, “Sejak awal mula pelayanan saya di Tahta St Petrus di Roma, saya menganggap pesan ini [Kerahiman Ilahi] sebagai tugas istimewa saya. Penyelenggaraan ilahi telah mempercayakannya kepada saya dalam situasi manusia, Gereja dan dunia sekarang ini.”

10 April 1991:
Dalam audiensi umum, Bapa Suci mengatakan “Pesan ensiklik mengenai Kerahiman Ilahi `Dives In Misericordia' secara istimewa dekat pada kita. Mengingatkan kita akan sosok Abdi Allah, Sr Faustina Kowalska. Biarawati yang bersahaja ini secara istimewa mendekatkan pesan Paskah dari Kristus yang Maharahim kepada Polandia dan kepada seluruh dunia.”

18 April 1993:
Paus Yohanes Paulus II memaklumkan Sr Faustina Kowalska sebagai beata. (Minggu DKI)

30 April 2000:
Bapa Suci mengangkat Beata Faustina, yang disebutnya sebagai “Rasul Besar Kerahiman Ilahi di jaman kita”, ke dalam himpunan para kudus Gereja. Semuanya itu, baik beatifikasi maupun kanonisasi St Faustina Kowalska, dilakukan sri paus di Roma, bukan di Polandia, guna menggarisbawahi bahwa Kerahiman Ilahi diperuntukkan bagi seluruh dunia. (Minggu DKI).
Dalam kanonisasi St Faustina, Paus secara resmi pula memaklumkan bahwa hari Minggu pertama sesudah Paskah wajib dirayakan Gereja semesta sebagai Minggu Kerahiman Ilahi.

13 Juni 2002
Adanya rahmat pengampunan dosa bagi mereka yang mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi.

17 Agust 2002:
Sri Paus bahkan mempersembahkan seluruh dunia kepada Kerahiman Ilahi saat beliau memberkati tempat ziarah internasional Kerahiman Ilahi di Lagiewniki, Polandia.

Kerahiman Ilahi tercurah atas umat manusia melalui hati Kristus yang tersalib: “Puteri-Ku, katakanlah bahwa Aku adalah inkarnasi cinta dan belas kasih,” demikian pinta Yesus kepada Sr Faustina (Buku Catatan Harian, h. 374).” ~ Paus Yohanes Paulus II, 30 April 2000

“Tak ada yang lebih dibutuhkan manusia selain daripada Kerahiman Ilahi - cinta yang berlimpah belas kasih, yang penuh kasih sayang, yang mengangkat manusia di atas segala kelemahannya ke ketinggian yang tak terhingga dari kekudusan Allah.” ~ Paus Yohanes Paulus II, 7 Juni 1997

“Di mana, jika tidak dalam Kerahiman Ilahi, dunia dapat menemukan tempat pengungsian dan terang pengharapan? Umat beriman, pahamilah kata-kata itu dengan baik.” ~ Paus Yohanes Paulus II, 21 April 1993

“Jadilah rasul-rasul Kerahiman Ilahi di bawah bimbingan keibuan penuh kasih sayang dari Santa Perawan Maria” ~ Paus Yohanes Paulus II, 22 Juni 1993

Rasul Kerahiman Ilahi: St Faustina
25 Agustus 1905:
Helena Kowalska dilahirkan di Glogowiec, Polandia, merupakan anak ketiga dari sepuluh putera-puteri Stanislaw Kowalski dan Marianna Babel. Ayahnya seorang petani merangkap tukang kayu. Mereka hidup miskin dan menderita dalam penjajahan Rusia.

Helena hanya sempat bersekolah hingga kelas 3 SD saja:
Ia cerdas dan rajin, juga rendah hati dan lemah lembut hingga disukai orang banyak. Sementara menggembalakan sapi, Helena biasa membaca buku; buku kegemarannya adalah riwayat hidup para santa dan santo. Seringkali ia mengumpulkan teman-teman sebayanya dan menjadi `katekis' bagi mereka dengan menceritakan kisah santa dan santo yang dikenalnya. Helena kecil juga suka berdoa. Kerapkali ia bangun tengah malam dan berdoa seorang diri hingga lama sekali. Apabila ibunya menegur, ia akan menjawab, “Malaikat pelindung yang membangunkanku untuk berdoa.”

Ketika usianya 16 tahun:
Helena mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar dapat meringankan beban ekonomi keluarga.

Ketika 17 tahun:
Helena minta ijin masuk biara tapi ditolak ayahnya. Ia patuh pada kehendak orangtuanya dan bekerja kembali sebagai pembantu. Ia hidup penuh penyangkalan diri dan matiraga

Juli 1924:
Tuhan menyapanya secara pribadi.

1 Agustus 1925:
Menjelang ulangtahunnya yang ke-20, Helena diterima dalam Kongregasi Suster-suster Santa Perawan Maria Berbelas Kasih.

30 April 1926:
Helena menerima jubah biara dan nama baru, yaitu Sr Maria Faustina; di belakang namanya, seijin kongregasi ia menambahkan “dari Sakramen Mahakudus”.

Dalam biara, tugas yang dipercayakan kepadanya sungguh sederhana, yaitu di dapur, di kebun atau di pintu sebagai penerima tamu. Semuanya dijalankan Sr Faustina dengan penuh kerendahan hati.

22 Februari 1931:
St Faustina mulai menerima pesan kerahiman ilahi dari Kristus yang harus disebarluaskannya ke seluruh dunia. Kristus memintanya untuk menjadi rasul dan sekretaris Kerahiman Ilahi, menjadi teladan belas kasih kepada sesama, menjadi alat-Nya untuk menegaskan kembali rencana belas kasih Allah bagi dunia.

Tahun 1934:
Ia mulai menulis buku catatan harian dalam ketaatan pada pembimbing rohaninya, dan juga pada Tuhan Yesus Sendiri. Selama empat tahun ia mencatat wahyu-wahyu ilahi, pengalaman-pengalaman mistik, juga pikiran-pikiran dari lubuk hatinya sendiri, pemahaman serta doa-doanya. Hasilnya adalah suatu buku catatan harian setebal 600 halaman, yang dalam bahasa sederhana mengulang serta menjelaskan kisah kasih Injil Allah bagi umatnya, dan di atas segalanya, menekankan pentingnya kepercayaan pada tindak kasih-Nya dalam segala segi kehidupan kita.

St Maria Faustina Kowalska, rasul kerahiman ilahi, wafat pada tanggal 5 Oktober 1938 di Krakow dalam usia 33 tahun karena penyakit TBC yang dideritanya. Jenasahnya mula-mula dimakamkan di pekuburan biara, lalu dipindahkan ke sebuah kapel yang dibangun khusus di biara. Pada tahun 1967, dengan dekrit Kardinal Karol Wojtyla, Uskup Agung Krakow, kapel tersebut dijadikan sanctuarium reliqui Abdi Allah Sr Faustina Kowalska. Pada Pesta Kerahiman Ilahi tanggal 18 April 1993, Sr Faustina dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II dan pada Pesta Kerahiman Ilahi tanggal 30 April 2000 dikanonisasi oleh paus yang sama. Pesta St Faustina dirayakan setiap tanggal 5 Oktober.



3.WHERE

TRILOGI DASAR KERAHIMAN ILAHI (TKI): E – K - A

E: EKARISTI
Beberapa kali dalam Buku Catatan Hariannya, St Faustina menulis ia melihat kedua sinar yang berwarna merah dan berwarna pucat memancar, bukan dari lukisan, melainkan dari Hosti Kudus; dan suatu ketika, sementara imam mengunjukkan Sakramen Mahakudus, ia melihat kedua sinar yang berasal dari lukisan menembusi Hosti Kudus dan dari Hosti memancar ke segenap penjuru dunia. Jadi, dengan mata iman, hendaknya kita juga melihat dalam setiap Hosti Kudus, Juruselamat yang Maharahim, yang mencurahkan DiriNya Sendiri sebagai sumber belas kasih kepada kita. Konsep Ekaristi sebagai sumber rahmat dan belas kasih bukan hanya didapati dalam Buku Catatan Harian, melainkan juga dalam ajaran Gereja. Gereja dengan jelas mengajarkan bahwa segala sakramen yang lain diarahkan kepada Ekaristi dan menimba kekuatan darinya.

Dalam Konstitusi Liturgi Kudus (#10), misalnya, dijelaskan, “terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita.” Dan dalam suatu catatan dalam Katekese Konsili Trente, para imam didorong untuk “memperbandingkan Ekaristi sebagai suatu sumber mataair sementara sakramen-sakramen lainnya sebagai anak-anak sungai. Ekaristi Kudus sungguh nyata dan penting disebut sebagai sumber segala rahmat, sebab di dalamnya terkandung sumber karunia dan rahmat surgawi itu sendiri, Sang Pencipta segala sakramen, Tuhan kita Yesus Kristus, daripada-Nya, sebagai sumber dari segalanya, berasal segala kebajikan dan kesempurnaan dari sakramen-sakramen lainnya.”

“O, betapa suatu misteri yang menakjubkan terjadi dalam Misa Kudus! ... Suatu hari kelak kita akan tahu apa yang Tuhan perbuat bagi kita dalam setiap Misa, dan karunia-karunia apa yang Ia sediakan bagi kita di dalamnya. Hanya kasih ilahi-Nya yang dapat memperkenankan suatu karunia yang sedemikian disediakan bagi kita… sumber hidup ini memancar dengan kemanisan dan kuasa yang begitu rupa (914)….”

“Segala yang baik dalam diriku berasal dari Komuni Kudus (1392)…. Di sinilah terletak segala rahasia kekudusanku (1489)…hanya satu hal saja yang menopangku, yaitu Komuni Kudus. Daripadanya aku menimba segala kekuatanku; daripadanyalah segala penghiburanku…. Yesus yang tersamar dalam Hosti Kudus adalah segalanya bagiku…. Aku tak akan tahu bagaimana memuliakan Tuhan jika aku tak memiliki Ekaristi dalam hatiku (1037)….”

“O Hosti yang hidup, satu-satunya daya dan kekuatanku, sumber cinta dan belas kasih, rengkuhlah seluruh dunia, perteguhlah jiwa-jiwa yang lemah. O, diberkatilah saat ketika Yesus menempatkan dalam diri kita HatiNya yang Maharahim! (223)

K: KORONKA
Bhs Polandia: “mahkota kecil atau untaian manik-manik indah”

“Doa ini dimaksudkan sebagai sarana untuk memadamkan murka-Ku. Hendaknya engkau mendaraskannya selama sembilan hari pada rosario biasa dengan cara ini:

Pertama-tama hendaknya engkau mengucapkan satu Bapa Kami, satu Salam Maria dan satu Aku Percaya, kemudian, pada manik-manik “Bapa kami” hendaknya engkau berdoa:
`Bapa yang kekal,
kupersembahkan kepada-Mu
Tubuh dan Darah
Jiwa dan Ke-Allah-an
PutraMu yang terkasih,
Tuhan kami Yesus Kristus,
sebagai pendamaian dosa-dosa kami
dan dosa seluruh dunia.'

pada manik-manik “Salam Maria” hendaknya engkau berdoa:
`Demi sengsara Yesus yang pedih,
tunjukkanlah belas kasih-Mu
kepada kami dan seluruh dunia'

Sebagai penutup hendaknya engkau mendaraskan tiga kali doa berikut:
`Allah yang Kudus,
Kudus dan berkuasa,
Kudus dan kekal,
kasihanilah kami
dan seluruh dunia' (474-476).”

“Doronglah jiwa-jiwa untuk mendaraskan Koronka yang telah Aku berikan kepadamu (1541)…. Barangsiapa mendaraskannya akan menerima rahmat berlimpah di saat ajal (67)…. Apabila koronka ini didaraskan di hadapan seorang yang di ambang ajal, Aku akan berdiri di antara BapaKu dengan dia, bukan sebagai Hakim yang adil, melainkan sebagai Juruselamat yang Penuh Belas Kasih (1541)…. Para imam akan menganjurkannya kepada para pendosa sebagai harapan keselamatan mereka yang terakhir. Bahkan andai ada seorang pendosa yang paling keras hati sekalipun, jika ia mendaraskan koronka ini sekali saja, ia akan menerima rahmat dari belas kasih-Ku yang tak terhingga (687)…. Aku hendak menganugerahkan rahmat-rahmat yang tak terbayangkan kepada jiwa-jiwa yang percaya kepada kerahiman-Ku (687)…. Melalui Koronka ini, engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika yang engkau minta itu sesuai dengan kehendak-Ku (1731).”

A: ADORASI
Adorasi berasal dari kata Latin adorare, artinya menyembah, bersembah sujud. Adoratio (dalam Yunani latria). berarti sembah sujud, suatu penyembahan manusia yang ditujukan secara khusus kepada Allah Yang Kudus.

Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 2 Desember 1981 sendiri mengawali Adorasi Ekaristi di kapel Basilika Santo Petrus Roma, dan berharap agar di setiap paroki diadakan Adorasi Ekaristi. Harapan tersebut dinyatakan lagi dalam Kongres International Ekaristi ke-45 di Sevilla, Spanyol, Juni 1993: “Saya berharap, bahwa bentuk adorasi abadi dengan pentahtaan tetap Sakramen Mahakudus dapat berlanjut di kemudian hari. “Bermurah hatilah menyisihkan waktu untuk menemui-Nya.”
Dalam tulisan-tulisannya Cardinal Joseph Ratzinger yang menjadi Paus Benediktus XVI juga menekankan makna adorasi Ekaristi sebagai bagian hidup Gereja, dengan semangat dasar: “Adoro te Devote”.



4.WHEN
Doa Koronka dapat didaraskan kapan saja, tetapi tepat juga didaraskan pada “Jam Kerahiman Ilahi” - setiap jam tiga siang, guna mengenangkan wafat Kristus di salib.

“Pada jam tiga, mohonlah belas kasih-Ku, teristimewa bagi para pendosa; dan, walau hanya sesaat saja, benamkanlah dirimu dalam Sengsara-Ku, teristimewa ketika Aku ditinggalkan seorang diri saat meregang nyawa. Inilah jam kerahiman agung…. Pada jam ini Aku tak akan menolak jiwa yang memohon pada-Ku demi Sengsara-Ku (1320).”

“Begitu engkau mendengar jam berdentang pada pukul tiga, benamkanlah dirimu sepenuhnya ke dalam kerahiman-Ku, sembari sujud menyembah dan memuliakannya; mohonlah kemahakuasaan-Nya bagi seluruh dunia, teristimewa bagi orang-orang berdosa yang malang; sebab saat itu belas kasih dibuka lebar bagi setiap jiwa. Pada jam ini engkau dapat memperoleh apa saja yang engkau minta bagi dirimu sendiri dan bagi orang-orang lain; inilah jam kerahiman bagi seluruh dunia - belas kasih menang atas keadilan….”

“Berdoalah Jalan Salib pada jam ini, sejauh hal itu mungkin; jika engkau tak dapat melakukan Jalan Salib, maka setidaknya mampirlah sebentar ke dalam kapel dan bersembah sujudlah di hadapan Sakramen Mahakudus, Hati-Ku yang berlimpah belas kasih; dan jika engkau tak dapat mampir ke kapel, walau hanya sesaat saja benamkanlah dirimu dalam doa di mana pun engkau berada saat itu (1572).”


DOA JAM KERAHIMAN
Ya Yesus, Engkau telah wafat,
namun sumber kehidupan telah memancar bagi jiwa-jiwa
dan terbukalah lautan kerahiman bagi segenap dunia.

0, Sumber Kehidupan,
kerahiman Ilahi yang tak terselami,
naungilah segenap dunia dan curahkanlah diri-Mu pada kami.

Darah dan Air,
yang telah memancar dari Hati Yesus
sebagai sumber kerahiman bagi kami.
Engkaulah andalanku!


SERUAN KEPADA KERAHIMAN ILAHI
Setiap seruan dimulai dengan:
`Bapa yang kekal,
kupersembahkan kepada-Mu
Tubuh dan Darah
Jiwa dan Ke-Allah-an
PutraMu yang terkasih,
Tuhan kami Yesus Kristus,
sebagai pemulihan dosa-dosa kami
dan dosa seluruh dunia.'

Hening sejenak, renungkanlah Sengsara Yesus. Kemudian, daraskanlah seruan berikut diakhiri dengan: kasihanilah kami dan seluruh dunia.

Demi Yesus yang menetapkan Ekaristi sebagai kenangan akan Sengsara-Nya, ….
Demi Yesus yang menderita sakrat maut di Taman Getsemani, ….
Demi Yesus yang didera dan dimahkotai duri, ….
Demi Yesus yang dijatuhi hukuman mati, ….
Demi Yesus yang memanggul salib-Nya, ….
Demi Yesus yang jatuh di bawah beban berat salib, ….
Demi Yesus yang berjumpa dengan BundaNya yang berduka, ….
Demi Yesus yang menerima uluran tangan dalam memanggul salib-Nya, ….
Demi Yesus yang menerima belas kasih Veronica, ….
Demi Yesus yang menghibur para perempuan, ….
Demi Yesus yang ditelanjangi, ….
Demi Yesus yang disalibkan, ….
Demi Yesus yang wafat di Salib, ….
Demi Yesus yang dimakamkan, ….
Demi Yesus yang dibangkitkan dari antara orang mati, ….

`Allah yang Kudus, Kudus dan berkuasa, Kudus dan kekal,
kasihanilah kami dan seluruh dunia'
(diserukan tiga kali)



5.HOW

TIGA JENIS BELAS KASIH DALAM “DKI”
1. K: Karya atau perbuatan belas kasih, apa pun jenisnya.
2. U: Ucapan belas kasih, bila kita tak dapat mewujudkannya dalam perbuatan.
3. D: Doa; kita selalu dapat menunjukkan belas kasih dengan doa.

TUJUH KARYA BELASKASIH JASMANI:
1. memberi makan kepada yang lapar
2. memberi minum kepada yang haus
3. memberi tumpangan kepada tunawisma
4. mengenakan pakaian kepada yang telanjang
5. mengunjungi orang miskin
6. mengunjungi orang tahanan
7. menguburkan orang mati

TUJUH KARYA BELASKASIH ROHANI:
1. mengajar
2. memberi nasehat
3. menghibur
4. membesarkan hati
5. mengampuni
6. menanggung dengan sabar hati
7. mendoakan mereka yang hidup dan mati

JURUS 5 M DALAM MEMPRAKTEKKAN DEVOSI KERAHIMAN ILAHI
• Mendaraskan Koronka Kerahiman Ilahi
• Merayakan Minggu Kerahiman Ilahi
• Mendoakan Jam Kerahiman Ilahi
• Menghormati Lukisan Kerahiman Ilahi
• Menyebarluaskan dan mewartakan Devosi Kerahiman Ilahi

“Wartakanlah bahwa kerahiman adalah sifat Allah yang utama. Segala karya tangan-Ku dimahkotai dengan belas kasih (301)….”

“Wartakanlah ke segenap penjuru dunia kerahiman-Ku yang tak terselami (1142)….”

“Jiwa-jiwa yang mewartakan kemuliaan kerahiman-Ku akan Aku lindungi sepanjang hidup mereka bagaikan seorang ibunda yang lembut hati menjaga bayinya, dan di saat ajal, Aku tak akan menjadi hakim bagi mereka, melainkan Juruselamat yang penuh Belas Kasih (1075)….”

“Wartakanlah dengan segala daya upayamu Devosi kepada Kerahiman Ilahi. Aku Sendiri yang akan menyempurnakan kekuranganmu. Katakanlah kepada segenap umat manusia yang sakit untuk datang merapat pada Hati-Ku yang berbelas kasih, Aku akan memenuhinya dengan damai sejahtera (1074).”

“Katakanlah kepada para imam-Ku bahwa para pendosa yang keras hati akan bertobat karena mendengarkan perkataan mereka saat para imam-Ku itu berbicara mengenai kerahiman-Ku yang tak terselami, mengenai cinta kasih dalam Hati-Ku bagi mereka. Kepada para imam yang mewartakan serta mengagungkan kerahiman-Ku, Aku akan menganugerahkan kuasa yang menakjubkan; Aku akan mengurapi perkataan mereka dan menyentuh hati orang-orang kepada siapa mereka berbicara (1521).”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar