Ads 468x60px

Omah Poenakawan

“Solo” – “Spirit Of Loving Others”. Inilah semangat dasar sekumpulan Orang Muda Katolik yang tergabung dalam Omah Poenakawan, yang bermarkas di sebuah bangunan arsitektural karya Romo Mangun, yakni Gereja Santa Maria Fatima Sragen, sebuah paroki di Kevikepan Surakarta, yang posisinya berada paling timur dalam wilayah Karesidenan Surakarta (sekarang Solo) dan Keuskupan Agung Semarang.

Adapun nama “Omah Poenakawan” yang berdiri sejak tahun 2013 ini sendiri diambil dalam khazanah budaya Jawa. “Omah” berarti rumah hunian/tempat tinggal. Poenakawan (menggunakan ejaan lama) bila dipisah menjadi “Poenak” (dibaca Penak) dan “Kawan”. Artinya suatu rumah yang enak untuk bersahabat atau berkawan. Mengacu pada cerita pewayangan, para poenakawan (Semar, Gareng Petruk dan Bagong) kerap dihadirkan sebagai “mitra”, teman seperjalanan para ksatria. Mereka hadir dengan sederhana dan menghibur dengan bersahaja lewat kritik sosial beserta aneka banyolan yang aktual dan faktual. Inilah juga yang menjadi harapan Omah Poenakawan: Menjadi “mitra”, sahabat atau teman seperjalanan bagi semua orang yang mencintai terang, yang “iluminata et illuminatrix” – yang cerah dan sekaligus mencerahkan!

Catholic Jeepers.
Omah Poenakawan mendapatkan embrionya dari sekelompok Orang Muda Katolik di kawasan Sragen yang suka mengendarai jeep wylis. Mereka kerap berkumpul dan blusak-blusukan di sekitar Solo dan Sragen sembari ber-wisata kuliner mencari warung “HIK” dengan beberapa jeep wylisnya. “HIK” sendiri adalah nama pelbagai warung angkringan yang cukup akrab bagi orang Sragen dan Solo, termasuk bagi Omah Poenakawan. Di atas meja atau gerobak warung HIK yang sederhana inilah, tersaji nasi yang dibungkus kecil-kecil dan berbagai lauk pauk yang sangat akrab di lidah karena merupakan makanan sehari-hari. Ada susu jahe, kopi, coklat, es jeruk atau teh tubruk yang nasgitelpet – panas legi kentel sepet. Ada juga ayam: dari ceker, leher sampai kepala ayam, dari usus, ati ampela sampai saren ayam. Ada juga pelbagai sate olahan, tahu tempe bacem atau goreng, kerupuk cemilan, rambak dan sebagainya. Bagi Omah Poenakawan, HIK sendiri tidak hanya sebagai tempat makan, tapi juga sarana bersantai, bertukar informasi serta refleksi kehidupan dan keberimanan dengan suasana sederhana.

Seiring berjalannya waktu, Orang Muda Katolik ini tak berhenti hanya pada wisata kuliner saja. Mereka juga menjadi lebih akrab dan bersahabat karena kadang touring bersama ke stasi, kunjungan ke pelbagai gereja dan berziarah ke goa-goa Maria atau sekedar jalan bersama ke Alaska (alas karet). Menurut Andreas Verru, salah seorang “jeepers”, beberapa jeep wylis tua dengan atribut bendera Vatikan ini menjadi sahabat seperjalanan bagi cikal bakal Omah Poenakawan untuk semakin menumbuhkan cita-rasa kekatolikan dengan semangat persaudaraan yang andal. Lewat kegiatan beberapa perintis Omah Poenakawan yang kerap disebut “Catholic Jeepers” (“Cj”) ini, beberapa tokoh Katolik yang sempat datang ke Solo dan Sragen juga pernah ikut touring dalam rombongan “Cj” sekaligus merasakan kehangatan Omah Poenakawan, seperti Arswendo Atmowiloto, Adi Kurdi, Didiek SSS, Didiek Nini Thowok, Hudson, Astutie, Lisa A Riyanto, Piyu dll.


Album: Trilogi HIK
Adalah para romo di paroki St Maria Fatima Sragen yang mulai memberikan tawaran dan tantangan supaya Omah Poenakawan juga bisa lebih berbagi “HIK” – Harapan, Iman dan Kasih secara nyata bagi semakin banyak orang. Di pertengahan tahun 2013, sekelompok jeepers dan orang muda di paroki Sragen, yang terdiri dari Yoseph Aji, Tibertius Putut, Danar, Bayu, Nanang, Dyah April dan Ninok, mulai mengaransemen lagu dan menyusun album rohani dengan menggunakan alat-alat akustik. Menurut pengakuan Yoseph Aji, pembiayaan album perdana mereka yang diambil dari salah satu judul buku Rm Jost Kokoh, yakni album “TTM-Tribute To Mary” (album lagu lagu Bunda Maria) dikerjakan dengan iuran sukarela antar mereka sendiri. Album “TTM” ini adalah bagian pertama dari trilogi “HIK” yang merupakan buah karya orisinal dari Omah Poenakawan sendiri, yakni: “Pacem in Terris – Pacem in Cordis” (album lagu lagu Natal) serta “Berkah Dalem” (album lagu rohani populer).


Berlandaskan semangat “SOLO-Spirit Of Loving Others”, team musik Omah Poenakawan yang dikordinasi oleh Mas Adjie cs ini terus membagikan “HIK”-nya, “Harapan Iman Kasih”dengan cara senantiasa ringan tangan untuk berpartisipasi dan memeriahkan aneka acara kekeluargaan yang hangat di seputaran Solo dan sekitarnya, al: Misa Sumpah Pemuda di Gereja Purbayan, Penutupan Tahun Iman 2013 dan Launching Buku Walikota di Loji Gandrung Solo, Natalan di Orient, Perayaan Natal Kota Sragen bersama TNI-Polri dan Muspida di GOR Diponegoro, Perayaan Natal bersama “YOS-Yayasan Oikumene Surakarta” di Graha Wisata dan Natalan “Dikpora” (Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) di Gereja El Syaddai Solo, dll. Dengan modal ketulusan tanpa harus menanti sempurna, mereka terus berbagi, bahkan mereka juga pernah ikut tampil bersama Citra Skolastika di Paragon Mall, Lisa A Riyanto di Graha Wisata, Sisi Idol di Orient dan Piyu di Taman Budaya Surakarta. Satu pesan bijak bestari St Agustinus yang selalu menggelorakan semangat team music Omah Poenakawan: “Qui bene cantat, bis orat “ yang secara harafiah berarti “Ia yang bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali.”


Merah darahku, Putih tulangku, Katolik imanku.
Selain belajar untuk mengisi di acara-acara besar, Omah Poenakawan juga belajar berbagi harapan iman dan kasih, terlebih bagi orang kecil dan tersingkir dengan semangat dasar yang ada di kaos mereka setiap kali berkonvoi bersama jeep wylisnya: “Merah darahku, Putih tulangku, Katolik imanku.” Yah, berlandaskan semangat keberimanan sekaligus kebangsaan, mereka tak sungkan untuk “turba”, turun ke bawah, tampil dan ikut memeriahkan acara di penjara dan panti jompo/panti asuhan. Bahkan sebulan sekali, di hari Minggu ke-4, mereka mulai ikut belajar untuk mengisi renungan “ORK-Oase Rohani Katolik” di Radio Metta FM Solo selama satu jam dengan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri.

Selain ber-jeep ria dan membuat album rohani, menurut Leo Agung W, didasari keprihatinan minimnya kaderisasi di akar rumput, beberapa OMK di Sragen yang bisa dikatakan nantinya tergabung dalam Omah Poenakawan dan dibantu oleh seorang frater TOP-er, juga mulai terus belajar untuk memberi training: retret, rekoleksi atau kaderisasi. Kadang, setiap sabtu sore mereka berkumpul bersama untuk berbagi kekayaan modul atau outbound dan sharing pengalaman dalam pelbagai pendampingan. Beberapa sekolah di kawasan Sragen dan Solo yang pernah mereka dampingi, seperti SMA Regina Pacis Ursulin, SMA St Yosef Pangudi Luhur, SMP-SMA Xaverius, dan beberapa sekolah negeri setempat.

Ada juga Mardhani Listiyono, seorang anggota Omah Poenakawan yang khusus membantu dalam bidang pewartaan iman. Selain mengelola facebook “Omah Poenakawan dan membantu selebaran mingguan, ia juga rutin menyebarluaskan renungan rohani yang diambil dari bacaan liturgi harian dan diberi tajuk “HIK”- Hidangan Istimewa Kristiani lewat pelbagai media sosial dan blackberry messenger. Semangatnya untuk menyebarluaskan renungan dan kekayaan iman kristiani ini didasari oleh keprihatinannya tentang semakin berkurangnya kualitas iman orang Katolik di tengah pelbagai macam tantangan zaman sekarang ini. Satu pesan yang diingatnya: “Ite inflammate omnia! Go, set the world alight! Pergilah dan kobarkanlah api Tuhan bagi dunia!" 

Vaya con Dios – mari pergi bersama Tuhan! 
Berkah Dalem!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar