Ads 468x60px

Beati pauperibus spiritu - Berbahagialah orang yang murah hati

Resminya, tidak ada istilah "mahal hati" dalam kamus bahasa Indonesia. Yang ada adalah istilah kebalikannya, "murah hati". Namun dalam kenyataan, sikap "mahal hati", mungkin saja lebih gampang ditemukan daripada "murah hati", apalagi dalam dunia kita yang penuh "perhitungan" untung-rugi/ kalah-menang. Karena itu Yesus berkata," Hendaklah kamu murah hati!"


Sebuah ajakan yang sulit tetapi sangat penting dan mendasar bagi para muridNya. Dalam "sekolah Yesus", salah satu tujuan terpenting adalah mendidik muridNya menjadi orang yang murah hati lewat "KUD", Karya Ucapan Doa. Kalau kita murah hati, kita pun akan mendapatkan kemurahan hatiNya. Nah, bagaimanakah murah hati itu? 

Dengan bagus sekali Yesus mengambil ilustrasi untuk altar dari dunia pasar. Dalam pasar tradisional, ketika belum dikenal ukuran "kiloan", dipakai "takaran". Ada sesuatu yang menarik. Misalnya, dulu ketika kita ikut ibu ke pasar induk kramat jati, teramati bahwa kadang ada saja pedagang dulu yang menakar beras dengan batok kelapa berlubang dibawahnya. Setiap mengukur, si pedagang memasukkan satu jarinya dari bawah. Jadi, setiap kali isi takaran berkurang "satu jari". Lalu, ia menakar beras dengan cepat tanpa mengoncang-goncangkan, sehingga takaran itu sungguh tidak padat dan tidak meluber. Sebuah takaran yang buruk. Tentu saja, si pedagang dapat untung lebih banyak.

Nah, Yesus tidak mau mendidik para muridNya dengan semangat jelek ini. Sebaliknya, Ia mau mendidik kita menjadi seorang "penjual yang murah hati" yang berani memberi takaran yang baik. Seperti seorang penjual beras yang mengoncang-goncangkan takarannya, sehingga menjadi padat, bahkan mengisi takaran itu sampai meluber. Pembeli gembira, dan ia pun, walalupun "tidak untung banyak", tidak kurang gembira.


"Dari Senggigi ke Kalimati-
Mari kita berbagi dengan murah hati."

Salam HIKers,
Tuhan berkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh
Pin HIK: 752D878C

Tidak ada komentar:

Posting Komentar