Ads 468x60px

Kamis 05 Maret 2015

Yer. 17:5-10; Mzm 1:1-2,3,4,6; Luk. 16:19-31

“Lazarus- Allah adalah pertolonganku".
Inilah nama pengemis miskin yang dikontraskan dengan kehidupan orang kaya yang hidupnya terus berpusat pada diri sendiri, yang membuat pilihan yang salah dan menderita selama-lamanya.
(Luk 16:22-23) Akhir riwayat kedua orang itu tidak dapat diubah lagi pada saat kematian (Luk 16:24-26). Adapun mereka sama-sama mati dimana orang kaya itu menderita sedangkan Lazarus diangkat ke Firdaus bersama Abraham.(Luk 16:22; Luk 23:43; Kis 7:59; 2Kor 5:8; Fil 1:23). Ia “berada dalam pangkuan Abraham” yang berarti bahwa ia dibaringkan bersama dengan nenek moyang (Hak 2:10; bdk Kej 15:15; Kej 47:30; Ul 31:16). Ini juga adalah suatu kiasan untuk tempat tinggal orang saleh yang telah mati dan berbahagia bersama Abraham.
 

Jelasnya, dalam rangkaian pengajaran tentang materi (16:1-31), Yesus berbicara seputar bahaya kekayaan. Si orang kaya hidup mewah, sementara Lazarus mengais tempat sampah untuk mempertahankan hidupnya.

Sungguh kontras! Gelimang kekayaan membutakan mata hati orang kaya. Padahal ada Lazarus, si pengemis yang begitu kelaparan sehingga hanya bisa berbaring dekat pintu rumahnya. Kekayaan telah menjerat hatinya hingga menjadi “tumpul”: tuli dan buta terhadap teriakan orang miskin. Dengan kata lain: Yang Yesus ajarkan bukanlah supaya orang menghindari kekayaan tetapi bagaimana sikap orang seharusnya terhadap kekayaan.

Jangan gunakan kekayaan hanya untuk diri sendiri saja tetapi gunakan juga untuk manfaat orang lain. Keberhasilan mengumpulkan kekayaan hendaknya membuat kita semakin berpeduli dan berbelarasa karena sikap terhadap kekayaan diperhitungkan Allah dan mendatangkan ganjaran di akhir hidup kita nantinya.

"Dokter gigi makan sate rusa-
Mari berbagi dan berbelarasa."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar