Ads 468x60px

Refleksi Minggu Palma




PERSIAPAN PEKAN SUCI:
REFLEKSI MINGGU PALMA:

KELEDAI - Kerendahan hati – Lemah lembut dan Daya Tahan. Tak seorang pun sia-sia di dunia ini, 
ketika ia meringankan beban kehidupan bagi orang lain. 
-- No one is useless in this world who lightens the burden of it for anyone else."
(Charles Darwin)

Betfage! Itulah nama sebuah kampung kecil di Bukit Zaitun. Disanalah, Yesus pernah mengutus kedua muridNya agar mereka menyiapkan baginya seekor keledai yang hendak ditungganginya dalam perjalanan masuk ke kota Yerusalem (Mrk 11:1-8). Tempat kampung itu tidak diketahui sampai sekarang secara pasti. Tetapi di tempat yang secara tradisional ditunjuk Betfage dulu, kini berdiri sebuah biara Fransiskan serta sebuah kapel. Menurut laporan peziarah pada abad IV, di tempat itulah Yesus berbicara dengan Marta dan Maria setelah ia datang ke situ untuk membangkitkan Lazarus, yang sudah meninggal empat hari lamanya.


Sejak abad XII, perarakan Minggu Palma dimulai dari tempat itu. Perarakan itu selanjutnya menuruni Bukit Zaitun, Taman Getsemani, Gerbang Singa dan berakhir di Gereja St. Anna. Di atas altar utama gereja Betfage sekarang dapat disaksikan sebuah fresco yang menggambarkan meriahnya Yesus memasuki kota Yerusalem, dengan menaiki seekor keledai.

Secara pribadi, saya kerap menandai seluruh hidup dan karya Yesus dengan tiga fase sederhana: Ia lahir di Betlehem, mengalami hidup dan karya di Nazaret dan sekitar Danau Galilea dan Ia juga berani mengalami sengsara, wafat dan bangkit dari mati di kota Yerusalem. Bukankah setiap anggota keluarga juga mempunyai tahapan-tahapan seperti tiga fase sederhana dalam hidup Yesus: berjalan dari Betlehem (tempat lahir dan masa kecil kita), ke sekitar Danau Galilea (tempat karya dan masa-masa produktif kita) dan akhirnya menuju Yerusalem, kota damai (tempat masa tua, dan kematian kita).

Sepakat dengan George Bernard Shaw, bahwa hidup dengan melakukan kesalahan akan tampak lebih terhormat daripada selalu benar karena tidak pernah melakukan apa-apa, disinilah setiap orang beriman mesti berjalan, dan kita diajak kembali mengingat bahwa ketika Yesus berangkat dan memasuki kota Yerusalem, Ia menunggangi keledai sebagai kendaraannya.

Nah, disinilah, saya mengajak setiap anggota keluarga untuk juga belajar memiliki seekor keledai. Bagaimana caranya?
Pertama-tama, baiklah kita bertanya lebih dahulu, apa itu keledai? Keledai (Equus asinus) adalah sejenis mamalia dari keluarga Equidae, hewan jinak, seperti kuda kecil, yang digunakan untuk alat transportasi dan pelbagai macam kerja, seperti menarik kereta kuda/membajak ladang atau membawa beban. Keledai juga kerap menjadi bahan perumpamaan yang menarik, misalnya:
Suatu ketika, seorang ayah bersama anaknya pergi ke pasar membawa seekor keledai. Di tengah jalan mereka bersua dengan beberapa orang. Orang-orang itu berujar, ‘Ah, kasihan anakmu, kenapa tidak dinaikkan ke keledai itu?’

Orang itu menaikkan anaknya ke atas keledai. Beberapa saat kemudian sejumlah orang menegur lelaki itu. ‘Lho, kenapa anda tidak naik bersama anak anda di atas keledai? Pasar masih jauh!’
Lelaki itu naik ke atas keledai.

Beberapa waktu kemudian sejumlah orang yang berpapasan berkata, ‘Tidakkah anda mempunyai perasaan terhadap keledai kecil itu? Lihat ia sudah kelelahan memikul anda berdua. Harusnya anda malu.’ Lelaki itu kemudian berpikir. Keledai tidak dinaiki, salah. Dinaiki oleh hanya anaknya, salah, Dinaiki berdua, salah. Lalu akhirnya keledai itu diikat lalu mereka pikul berdua meneruskan perjalanan mereka.

Lepas dari cerita bijak bestari tentang keledai dan tuannya di atas, bagi saya “keledai” bisa berarti lain, yakni tiga sikap dasar supaya setiap anggota keluarga bisa memasuki ”Yerusalem” (“kota damai – memiliki kedamaian). Tiga sikap itu, antara lain:

1. -Ke-rendahan hati. 
Seperti kita ketahui, seekor kuda adalah lambang keperkasaan, tapi seekor keledai? Raja Daud, Raja Salomo, dan Herodes Agung memasuki kota dengan menari-nari dan menaiki seekor kuda perkasa. Tidak pernah ada seorang raja memasuki sebuah kota dengan menaiki seekor keledai. Keledai sendiri kerap menjadi mitos kebodohan: “keledai yang bodoh saja tidak mungkin masuk ke dalam lubang yang sama dua kali.” Keledai juga kerap terkesan diam, dengan sikap yang suka menunduk. Ia mengajak kita belajar menerima dengan rendah hati, apa yang dikehendaki Allah agar terjadi pada hidup kita. Yesus sendiri mengajarkan sikap rendah hati ini secara nyata: Ia lahir di kandang hewan di desa Betlehem, Ia menjadi anaknya tukang kayu, Ia rela menderita sengsara, ditolak, dihina dina, ditelanjangi, dimahkotai duri bahkan Ia rela wafat di kayu salib. Itu Yesus, kalau manusia? Pada kenyataannya, bukankah ada saja jenis manusia yang bila ia disuruh-suruh ke kiri, maka ia akan berusaha setengah mati ke kanan; bila ia makin ditekan, diarah-arahkan, dibina, makin ia juga menunjukkan dirinya yang berjiwa bebas, suka memberontak dan merusak. Ia seakan tak mau jadi kerbau ditusuk hidung. Orang-orang seperti ini mungkin sulit menjadi orang yang rendah hati, Memang benar jika dikatakan bahwa kita bukan zombie, humanoid, robot, android, yang harus selalu penurut, tapi disinilah juga kita diajak belajar rendah hati di hadapan Tuhan, karena benarlah bahwa cinta dan harga diri/gengsi tak bisa menempati rumah yang sama, bukan?

2. Le-mah lembut. 
Keledai itu sosok hewan yang kecil: “Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai” (Lihatlah Zak 9: 9-10). Setiap saya mempersembahkan Ekaristi, menjelang komuni, saya kerap mengatakan kepada umat, sebuah kalimat Yesus yang tercatat-pikat dalam Matius 11:28-29, “Marilah datang kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Yesus jelas lemah lembut bukan? Ingatlah juga ketika Ia bersabda kepada Petrus, “...ampunilah saudaramu sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali; Kasihi musuh dan doakan mereka yang menganiaya kamu. Atau juga salah satu sabda Yesus dari ketujuh sabda Yesus di atas kayu salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Bukankah jelas bahwa Allah itu adalah cinta, dan cinta itu sabar, cinta itu lembut, tidak iri, tidak sombong, dan tidak berlaku tak-senonoh? (1 Kor 13:3). Dalam sebuah konteks keluarga, setiap orang yang mau belajar memiliki sikap lemah lembut, Josh Billings pernah mengatakan, “Cintailah melalui teleskop; cemburuilah melalui mikroskop -- Love looks through a telescope; envy, through a microscope.”

3. Day-a tahan. 
Di kota kuno Petra, ada biara di puncak bukit. Untuk mencapainya, pengunjung harus melalui ribuan anak tangga sepanjang tiga kilometer. Jika berjalan kaki butuh waktu tiga jam, berapa lama jika naik ”taksi”? Taksi disana tak lain dan tak bukan adalah seekor keledai. Dan, ternyata dengan keledai kita hanya membutuhkan waktu selama empat puluh lima menit untuk sampai di biara tersebut. Jelaslah, keledai itu kuat untuk menahan beban berat: keledai memang bagus untuk mendaki, sedangkan kuda hanya bagus untuk jalan lurus. Hidup kita tak selamanya lurus, demikian pula arah perjalanan cinta memang tidak pernah selalu mulus bukan? Malah kadang mesti mendaki banyak bukit dan tebing percobaan. Sebuah petikan bijak bestari dari Gandhi baik kita ingat disini, “bila anda bisa bersikap tenang pada saat menghadapi sesuatu yang anda tidak suka, itu artinya anda sudah lebih dewasa.”
Di zaman yang semakin ruwet renteng oleh pelbagai intrik, konflik dan taktik, kita juga membutuhkan “kendaraan keledai” ini bukan? Keledai dengan tiga sikap dasarnya, “kerendahan hati, lemah lembut dan daya tahan” tentunya bisa mengantar cinta kasih Tuhan supaya lebih terasa bagi semakin banyak orang. Ssst, sudah mempunyai keledai belum dalam keluarga kita masing-masing? Semoga!

"Jangan takut, hai puteri Sion, 
lihatlah, Rajamu datang,
duduk di atas seekor anak keledai." (Yohanes 12:15)


Salam HIKers.!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar