Ads 468x60px

Minggu 04 Oktober 2015.


Menjelang Pesta Nama St Faustina
Rasul Kerahiman Ilahi.
Hari Minggu Biasa XXVII B
Kej 2:18-24; Ibr 2:9:11; Mrk 10:2-16

Membangun Komitmen Seumur Hidup

10:2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" 10:3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" 10:4 Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." 10:5Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. 10:6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, 10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, 10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. 10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." 10:10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. 10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. 10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." 10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." 10:16Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.


Renungan :

01. Perikop hari ini diawali dengan keterangan bahwa orang-orang Farisi bermaksud untuk “mencobai” Yesus. Sebenarnya pada mulanya yang diajukan sebagai bahan testing bukan masalah boleh tidaknya bercerai tetapi alasan-alasan apa saja yang bisa dipakai untuk melakukan perceraian. Berdasarkan ketentuan dalam Ul 24:1-4 secara umum perceraian dapat diterima dalam masyarakat Yahudi. Alasan yang dipakai untuk membenarkan seorang suami menceritakan isterinya adalah bila suami “tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya” (Ul 24:1).

Terjemahan LAI dan LBI “melakukan tindakan yang tidak senonoh”sudah mempunyai pengertian yang lebih spesifik. Dalam teks asli pengertiannya sangat kabur atau tidak jelas yakni “something shameful”, maksudnya isteri melakukan suatu perbuatan yang membuat suami merasa malu.

Dua guru besar sekolah Taurat yang cukup berwibawa pada zaman Yesus membuat penafsiran yang berbeda. Rabi Shammai menafsirkan “something shameful” sebagai tindakan yang melanggar kesusilaan atau kesucian hidup berkeluarga (mis. perselingkuhan, kelainan seksual, kemandulan dsb.). Sedang Rabi Hillel membuat penafsiran yang sangat longgar. “Something shameful” mencakup kesalahan-kesalahan kecil yang membuat suami tidak merasa nyaman seperti sering terjadi konflik, kesalahan dalam menyediakan makanan, kelalaian dalam memasak sehingga misalnya menyebabkan roti menjadi gosong, tidak taat terhadap suami, dsb. Penafsiran yang terakhirlah yang diterima dan dipraktekkan secara umum.

Nampaknya pertanyaan orang-orang Farisi berkaitan dengan adanya kedua penafsiran itu, maka dalam Injil Mateus pertanyaan itu dirumuskan,“Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” (Mat 19:3). Karena kontroversi itu khas Yahudi dan tidak relevan dengan jemaat Markus yang sebagian besar orang Yunani, Markus menghilangkannya sehingga pertanyaannya menjadi “Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?” (ay. 2). Yesus mengubah pokok diskusi. Yang lebih penting untuk dibahas bukan alasan-alasan yang bisa dipakai untuk bercerai tetapi justru gagasan perceraian itu sendiri. Ketentuan tentang perceraian itu titik tolaknya salah yakni suatu kelonggaran untuk mentolerir kelemahan manusia dan bukan berdasar pada kehendak Allah Sang Pencipta Kehidupan.



02. Yesus mengajak orang-orang Farisi tidak hanya mencermati rumusan hukum secara harafiah tetapi menangkap kehendak Allah yang ada di balik rumusan itu. Ketentuan perceraian dalam Ul 24:1-4 harus dimengerti sebagai sebuah toleransi atau kelonggaran yang diberikan karena kelemahan manusia, “karena ketegaran hati” (ay. 5), untuk mengurangi “hidup dalam situasi dosa” entah perselingkuhan, perzinahan atau kumpul kebo.

Para ekseget berpendapat bahwa kemungkinan untuk bercerai nampaknya sudah diterima secara umum pada zaman Musa. Dalam Kitab Ulangan itu, justru Musa mengaturnya agar pihak yang lemah mendapatkan perlindungan, yakni suami harus memberikan surat cerai resmi kepada isterinya sehingga nasibnya tidak terkatung-katung dan dipermainkan oleh suami. Dengan adanya surat cerai itu suami tidak bisa seenaknya kembali menikahi lagi isteri yang telah diceraikannya. Hukum Taurat melarang suami isteri yang telah cerai untuk rujuk kembali. Larangan itu dimaksudkan agar suami berpikir masak-masak sebelum menceraikan isterinya.

Dengan demikian, tujuan utama dari ketetapan dalam Ul 24:1 bukan untuk “membenarkan tindakan yang salah” dengan mengesahkan perceraian melainkan untuk membatasi atau membendung akibat-akibat negatif yang timbul dari perceraian.



03. Dalam hukum Taurat, alasan yang paling kuat untuk bercerai ialah bila si istri berbuat zinah. Istilah “zinah” hanya dipakai untuk menyebut seorang isteri yang selingkuh. Namun bila perselingkuhan itu dilakukan oleh sang suami tidak disebut sebagai zinah. Memang laki-laki itu melanggar hak kepemilikan suami perempuan selingkuhannya tetapi tidak dianggap melanggar hak istrinya sendiri. Mengapa demikian? Dengan membayar mas kawin kepada orangtua mempelai wanita, isteri menjadi milik suami sepenuhnya. Maka bila seorang isteri berselingkuh, dia melanggar hak kepemilikan suami. Sebaliknya, bila suami selingkuh dia tidak melanggar hak apa pun dari isterinya. Dia hanya melanggar hak kepemilikan suami dari perempuan selingkuhannya. Dalam masyarakat Yahudi yang patriarkat, laki-laki memang lebih dominan dan berkuasa.

Dengan menyatakan bahwa suami yang berselingkuh itu “hidup dalam perzinahan dengan isterinya” (ay. 11) Yesus mengangkat derajat perempuan sehingga keduanya, laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama dan setara dalam hak dan kewajiban. Bukan hanya isteri yang harus setia kepada suami. Tetapi juga sebaliknya, suami pun harus setia kepada isteri. Nampaknya Yesus dalam Injil Markus mengambil alih cara pandang hukum Romawi yang memperlakukan laki-laki dan perempuan sama di hadapan hukum. Dalam hukum Taurat seorang isteri tidak bisa menceraikan suaminya dan membuat surat cerai untuknya. Karena itu dalam Injil Mateus ayat ini dihapus.



04. Yesus mengingatkan bahwa acuan tindakan kita bukan pada ketentuan yang dibuat untuk mentolerir kelemahan manusia tetapi pada kehendak Sang Pencipta ketika menciptakan laki-laki dan perempuan. Dalam Kitab Kejadian kehendak Sang Pencipta itu dapat kita pahami dengan jelas. Allah Pencipta menciptakan laki-laki dan perempuan dalam kesejajaran yang penuh. Keduanya diciptakan dari kesatuan dan ditanamkan dalam kodratnya untuk saling melengkapi dan menjadi satu. Perempuan dibangun dari tulang rusuk laki-laki dan keduanya akan bersatu kembali menjadi “satu daging”. Ungkapan “satu daging” menunjukkan kesatuan yang utuh dan menyeluruh antara suami dan isteri, yang mampu memutuskan ikatan erat seorang anak dengan orangtuanya (lih. Bacaan I).
Ungkapan “sebab pada awal dunia” (ay. 6) dipakai Yesus untuk menunjukkan kehendak Allah Sang Pencipta sejak semula yaitu bahwa persatuan laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan merupakan karya Allah yang tidak bisa dipisahkan oleh siapa pun. Kehendak Allah ini tidak bisa digantikan atau dibatalkan oleh ketentuan manusia. Karena itu ketentuan dalam Ul 24:1-4 yang tidak selaras dengan kehendak Allah yang sejati, tidak bisa dipakai sebagai acuan tindakan.


05. Setelah membahas mengenai hidup berkeluarga, Yesus memberkati anak-anak dan memakai mereka sebagai model. Bukan model kemurnian atau ketidakberdosaan tetapi ketidakberdayaan, kelemahan, tidak produktif dan berprestasi, sepenuhnya bergantung pada orangtua, selalu ingin tahu dan terbuka terhadap hal-hal yang baru. Seorang anak akan menerima dengan gembira dan antusias segala sesuatu yang diberikan dengan cuma-cuma. Seperti itulah sikap yang tepat untuk menerima Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah bukan merupakan balas jasa atau imbalan atas “amal kebaikan” atau hak yang bisa dituntut melainkan sebagai anugerah yang diberikan secara gratis. Kita harus menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil yang menerima hadiah yang diberikan kepadanya dengan cuma-cuma: dengan antusias, penuh kegembiraan, tanpa prasangka, penuh kepercayaan dan rasa terimakasih.



06. Dalam lagu-lagu pop, pengalaman cinta sering direduksi pada aspek perasaan. Memaknai cinta hanya sebagai suatu perasaan tentu saja tidak memadai karena perasaan itu bisa berubah-ubah, suatu saat menggebu-gebu tetapi di lain waktu bisa hilang tanpa bekas. Perkawinan yang hanya didasari oleh “perasaan cinta” tidak mungkin bertahan. Pada saat jatuh cinta kita buta terhadap keburukan pasangan. Kita terjebak dalam impian akan keindahan cinta. Harapan akan kebahagiaan di hari-hari yang akan dijalani bersama begitu melambung. Namun di saat harapan itu tidak terpenuhi, ketika berjumpa dengan konflik, kekecewaan dan sakit hati dengan mudah impian akan keindahan hidup berkeluarga itu menjadi sirna. Penyesalan akan terasa sangat mendalam dan menyakitkan.


Yesus menegaskan bahwa cinta itu merupakan sebuah keputusan rasional yang membutuhkan komitmen, tanggungjawab dan penyerahan diri satu sama lain dalam kebersamaan seumur hidup, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat dan sakit. Bukan berarti pemaknaan cinta seperti itu tidak melibatkan unsur perasaan. Justru sebaliknya! Berbagai perasaan menyertai cinta yang dewasa dan rasional. Selain perasaan romantis yang memabukkan, ada juga kerinduan, compassion, kecemasan, galau, lega, senang dan sebagainya. Namun cinta melebihi perasaan. Sebagai keputusan pribadi yang bebas dan bertanggungjawab, cinta harus terus menerus dibangun, diperbaharui dan diperkembangkan.

Ketika masih berpacaran, kita selalu ingin tampil sempurna di hadapan orang yang dicintai. Setelah menikah, tidak ada yang bisa ditutup-tutupi lagi. Dengan kebersamaan dan interaksi yang terjadi selama 24 jam seharisemua kelemahan akan tersingkap. Di sinilah letak perbedaan antara jatuh cinta dan membangun cinta. Di saat jatuh cinta, hati diliputi dengan keadaan yang serba indah dan menyenangkan. Namun membangun cinta justrudiperlukan di saat mengalami konflik, ketidaksepahaman, kecewa, marah dan sakit hati. Dalam keadaan konflik, cinta tidak lagi berwujud pelukan mesra, melainkan berbentuk itikad baik untuk bersama-sama mencari solusidari masalah yang sedang dihadapi. Solusi yang bisa diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg atau rahasia. Saling keterbukaan dalam segala hal termasuk hal-hal yang peka seperti masalah keuangan, kehidupan seksual, harapan dan kekecewaan, campurtangan mertua dsb. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar konflik tak berlarut.

Dalam dialog dari hati ke hati, kita harus saling menjaga perasaan satu sama lain, tidak saling menyalahkan dan melukai. Jika konflik dibiarkan berlarut rumah tangga akan berubah menjadi neraka. Apakah kondisi seperti itu bisa diperbaiki? Tentu saja bisa dengan mengingat komitmen awal: apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan?

Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, yang harus dilakukan seumur hidup adalah membangun cinta. Artinya berusaha mendewasakan cinta sehingga bisa saling memaafkan, menghargai, jujur, setia, menjaga komunikasi dengan mengusahakan quality time berdua dan bertanggung jawab.

Anda ingin mempunyai pasangan hidup? Jatuh cintalah. Tetapi sesudah itu bangunlah cinta dengan selalu memberi dan mengusahakan yang terbaik untuk yang dicintai.



07. Keterbukaan, intimitas dan komitmen merupakan faktor utama terciptanya perkawinan yang bahagia. Ketika saya bertanya pada beberapa pasangan suami dan istri yang berbahagia tentang pasanganya, mereka menyatakan bahwa pasangan hidup mereka adalah teman terbaik. Semakin mendalam intimitas relasi, keterbukaan dengan mudah tercipta. Mereka berpendapat bahwa komitmen yang kokoh merupakan dasar kelestarian perkawinan.

Selain itu, rasa humor juga memiliki kontribusi besar bagi terciptanya perkawinan yang berbahagia. Keindahan dan kenikmatan perkawinan dapat diperoleh melalui bercanda, nyek-nyekan, tertawa bersama. Humor juga bisa menetralkan konflik dan menyembuhkan stress. Tertawa merupakan reaksi emosional alamiah, tidak bisa dibuat-buat namun merupakan ekspresi jujur dari suasana hati seseorang. Orang yang mampu berbagi humor dia juga akan mampu berbagi nilai, keyakinan, dan kualitas hidup. Dalam pemahaman itu benarlah ungkapan ini: Urip iku mung sakderma mampir ngguyu.
Berkah Dalem.






 Illustrasi Homili Hari Minggu Biasa ke 27 B : 4 Oktober 2015

KECANTIKAN DAN KEKAYAAN
Seorang gadis muda dan cantik, memposting unek-uneknya di salah satu forum media sosial, dengan judul: “Apa Yang Harus Saya Lakukan Untuk Dapat Menikah dengan Pria Kaya ?”.

Saya akan jujur tentang apa yang akan coba saya katakan di sini. 

Tahun ini saya berumur 25 tahun. Saya sangat cantik & mempunyai selera yang bagus akan fashion. Saya ingin menikahi seorang pria dengan penghasilan minimal $500ribu/tahun(6 milyar / thn). Anda mungkin berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/tahun hanya dianggap sebagai kelas menengah di New York. Persyaratan saya tidak tinggi. Apakah ada di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun? Apa kalian semua sudah menikah ?

Yang saya ingin tanyakan: 
Apa yang harus saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti anda? Yang terkaya pernah berkencan dengan saya hanya berpenghasilan $250rb/tahun. Bila seseorang ingin pindah ke area pemukiman elit di City Garden New York, penghasilan $ 250rb/tahun tidaklah cukup.

Dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan: 
- Dimanakah para pria kaya sering hang out? 
- Kisaran umur berapa yang harus saya cari? 
- Kenapa kebanyakan istri dari orang-orang kaya hanya berpenampilan biasa? 
- Saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak menarik, tapi mereka bisa menikahi pria kaya? 
- Bagaimana anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa yang hanya bisa menjadi pacarmu?

Ttd. 
Si Cantik 

____________________
Beberapa hari kemudian, pertanyaan tersebut mendapat balasan dari seorang pria yang bekerja di Finansial Wall Street:
Saya telah membaca semua unek-unek Anda dengan antusias. Saya rasa banyak gadis-gadis di luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama.

Ijinkan saya untuk menganalisa situasimu dari sisi seorang profesional. Pendapatan tahunan saya lebih dari $500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap semuanya tidak berpikir jawaban saya main-main di sini. Dari sisi seorang investor, merupakan keputusan salah untuk menikahimu.

Jawabannya mudah saja, saya coba jelaskan, Anda coba tempatkan “kecantikan” dan “uang” secara bersisian, dimana anda mencoba menukar kecantikan Anda dengan uang: pihak A menyediakan kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yang masuk akal kelihatannya. Tapi ada masalah disini, kecantikan Anda akan menghilang, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa ada alasan yang jelas.

Faktanya, pendapatan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. Karena itu, dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. Bukan hanya penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.

Jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. Dari aturan yang kita gunakan di Wall Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda juga merupakan posisi tukar. Jika nilai tukar turun, kita akan menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama, seperti pernikahan yang anda inginkan.

Mungkin terdengar kasar, tapi untuk membuat keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi besar akan di jual atau “disewakan".

Siapa saja yang mempunyai penghasilan tahunan $500rb, jelas bukan orang bodoh, kami hanya mau berkencan dengan Anda, tapi tidak akan menikahi Anda.
Saya akan menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi orang kaya. Lebih baik anda menjadikan diri anda kaya dengan pendapatan $500rb/tahun.
Ini kesempatan yang jauh lebih mungkin daripada mencari orang kaya yang bodoh. Karena tidak ada pria sukses yang bodoh. Mudah-mudahan balasan ini dapat membantu. Tapi jika Anda tertarik untuk servis “sewa pinjam,” hubungi saya.

Ttd, 
J.P. Morgan
(Pendiri dari salah satu bank terbesar di Amerika yaitu J.P MORGAN CHASE BANK)
Jawaban yang masuk akal dan memberikan pencerahan bahwa kecantikan fisik tidak boleh dipandang sebagai aset yang akan memberikan kemudahan hidup. Yang paling berharga adalah Inner beauty (watak, cara berpikir, kepribadian), sebuah aset yang tidak akan menyusut untuk 10 - 30 tahun kemudian.maksudnya kecantikan fisik tidak bisa dipakai sebagai aset untuk hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar