Ads 468x60px

Selasa 06 Oktober 2015


Pekan Biasa XXVII
Yun 3:1-10; Mzm 130:1-4ab.7-8;Luk 10:38-42

"Iluminata et Illuminatrix - Cerah dan Mencerahkan.
Itulah semangat iman yang mesti kita wartakan lewat “dokar”, doa dan karya, lewat dimensi aktif dankontemplatif kita setiap harinya.Mengacu pada bacaan hari ini, tercandra ada tiga kebiasaan buruk yang membuat kita sulit menjadi orang yang “cerah dan mencerahkan, al:
1. "Kurang bersekutu"
Keaktifan melakukan berbagai macam pelayanan seperti yang dilakukan Marta tentu baik tapi menjadi tidak baik kalau keaktifan itu menjadi berlebihan sehingga kita mengalami "kekeringan/turun mesin", karna tidak mengalami persekutuan dengan Tuhan seperti yang dilakukan Maria.

2."Mudah menggerutu"
Marta menerima Yesus di rumahnya dan sibuk sekali melayaniNya. Figur Marta adalah pewarta, yang menekankan dimensi “aktif” dari Gereja. Satu kelemahannya adalah mudah merasa diri lebih baik dan suka menggerutu: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Marta mudah membanding-bandingkan diri sehingga mudah menggerutu, lupa bersyukur tapi asyik berkeluh karena merasa beban hidupnya berat dan orang lain tidak memperhatikan dirinya. Dengan kata laiin: Hidup kita kadang hanya menyibukkan diri dengan perbuatan dan karya seperti Marta, padahal yang diinginkan Allah adalah hati kita, bukan?

3. "Kurang mengatur waktu"
Kita kadang kurang seimbang, "sibuk untuk Tuhan" tapi lupa "sibuk dengan Tuhan". Kita sibuk menjadi figur yang aktif tapi tidak kontemplatif sehingga bisa terjebak pada rutinitas harian yang dangkal dan tidak reflektif.

Disinilah kita diajak punyai habitus untuk mengatur waktu harian dengan lebih bijak, seimbang antara doa & karya sehingga tidak membuat timpang salah satunya.
Lebih lanjut, kisah Maria bisa dilihat sebagai sebuah cara menghayati keberimanan, yakni “kontemplatif”. Figur Maria hadir sebagai pendoa. Ia “duduk dekat kaki Tuhan”, bukankah Paulus juga “dididik dekat kaki Gamaliel” (Kis 22:3). Secara sederhana, istilah “dekat kaki” ini mau menunjuk sikap seorang yang ingin menjadi murid. Harapannya: Semoga kita bukan hanya menjadi murid yang "sibuk untuk Tuhan" seperti Martha tetapi terutama menjadi murid yang "sibuk dengan Tuhan" seperti Maria, karena bukankah setiap pagi dan sepanjang hari, kita diberkati oleh tangan Tuhan yang tak kelihatan?

“Ali baba pergi ke Pattaya - Mari berlomba dalam doa dan karya"

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh
Pin HIK: 7EDF44CE/54E255C0


NB:
SKI – Sekolah Kerahiman Ilahi
“MOM – Mary Our Mother",
7 Okt 2015, 17.30 - selesai
@ Gereja Keluarga Kudus,
Pasar Minggu Jaksel.
MAP – Misa Adorasi Prosesi Mawar 
Datanglah dan kamu akan melihatNYA
-----------------------


Tambahan Permenungan HIK:

“Gaudete - Bergembiralah!”
Allah mengajak kita bergembira seperti para tokoh dalam bacaan hari ini. Maria dan Martha bergembira karena dikunjungi Yesus. Mereka berdua yang adalah saudari dari Lazarus (Eleazar: Allah yang menyelamatkan) mempunyai tujuan yang sama yakni ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Martha mewakili orang yang berdaya roh karya/aksi, sedangkan Maria mewakili roh doa/kontemplasi. Bukankah kesibukan karya yang berlebihan sehingga melupakan hidup doa dapat menyebabkan kita teralienasi (terasing) dari diri sendiri, sesama dan Tuhan?

Oleh sebab itulah, tiga nilai kebaikan bisa kita petik agar kita benar benar bergembira, al:

1.Intimitas: 
Seperti Maria dan Martha, kita diajak memiliki intimitas, semacam “keakraban” dengan Tuhan lewat hidup doa dan karya kita, sehingga Tuhan berkenan hadir dan datang di hati kita. Kenyataan bahwa Tuhan berada di dekat kita dan kita tidak menyadari kehadiranNya, karena kita kerap hanya “mengetahui” tentang Tuhan tapi tidak "mengalami Tuhan". Disinilah, kita diajak untuk setia menemukan Tuhan di dalam segala doa dan karya atau dalam bahasanya Jerónimo Nadal: Contemplatio In Actione, yang memperlihatkan relasi antara aksi dan kontemplasi :“contemplatio in actione.”

2. Skala Prioritas: 
Martha memang sibuk dengan karya. Namun jika terlalu sibuk, ia bisa jatuh pada pastoral dan rutinitas kegiatan yang terus menerus. Disinilah, kita diajak untuk mempunyai skala prioritas dalam menjaga keseimbangan hidup beriman. Di tengah carut marut hidup karya, kita diajak untuk terus bertekun dan setia “duduk di dekat kaki Yesus.” Harapannya, kita bukan hanya "SIBUK UNTUK TUHAN " dengan pelbagai karya/aksi seperti Martha, tetapi terutama kita juga diajak untuk"SIBUK DENGAN TUHAN" seperti Maria lewat doa dan perjumpaan pribadi/kontemplasi kita dengan Tuhan karena sebenarnya puncak pengetahuan manusia mengenai Tuhan adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa mengenai Tuhan.

3. Diversitas:
Sebenarnya Yesus tidak sedang menyalahkan Marta, ketika berkata: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara". Sikap Maria juga tidak dipersalahkan karena mendengarkan dan merenungkan sabda adalah amat penting juga. Bisa jadi, tindakan Marta yang sangat sibuk itulah yang dianggap terlalu berlebihan (“lebay - alay”) sehingga Martha mudah menggerutu dan merasa tidak dipedulikan. Martha merasa bahwa yang penting hanyalah “berkarya”, padahal sebenarnya “berdoa” juga sangat penting. Disinilah kita diajak untuk menyadari adanya diversitas, semacam keanekaragaman karya dan karisma yang tentunya saling melengkapi, dan kita dajak untuk melakukannya dengan hati yang gembira. Idealnya: hendaklah kita mempersatukan doa Maria dengan karya Martha, dengan demikian keduanya saling menyucikan. Lebih jauh lagi, hidup orang banyak kadang hanya menyibukkan diri dengan perbuatan dan karya, padahal yang diinginkan Allah adalah hati mereka, bukan?


2. Philosophia – Pecinta Kebijaksanaan.
Kisah Injil hari ini sudah sering kita dengarkan dan renungkan. Marta dan Maria adalah dua bersaudara. Menurut Injil Yoh 11, mereka adalah dua saudari dari Lazarus, sahabat-sahabat Yesus. Lukas tidak memuat kisah mengenai Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus dari mati. Selain itu di dalam Lukas (lihat perikop di atas) tidak disebut bahwa kampung mereka bernama Betania (bdk. Yoh 11:1). Terjemahan Injil Yoh 11 dalam Indonesia memberi kesan bahwa Marta lebih muda dari Maria. Namun begitu, kita dapat meragukannya, karena teks aslinya tidak memberi penjelasan mengenai hal ini. Kisah Lukas memberi kesan yang lebih meyakinkan, Marta kiranya lebih tua daripada Maria.

Kalau kita membaca perikop Lukas mengenai Marta dan Maria, kita mungkin bertanya di manakah Lazarus waktu itu. Tidak ada keterangan mengenai hal ini. Oleh karena itu kita andaikan saja dia tidak berada di rumah sehingga Maria terpaksa menggantikan fungsi Lazarus yaitu menemui Yesus. Seperti biasanya, jika ada tamu, tuan rumah menemui tamu sedangkan isterinya sibuk di dapur mempersiapkan makanan. Oleh karena itu, cukup beralasan bahwa Marta protes ketika melihat Maria duduk di dekat kaki Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Seolah-olah Maria enak-enak saja menemui tamu. Itu adalah tugas yang seharusnya dilakukan oleh kepala keluarga (Lazarus?). Padahal, apa yang dilakukan Maria bukan sikap seorang kepala rumah tangga, tetapi sikap seorang siswa yang sedang mendengarkan pengajaran rabinya. Biasanya siswa-siwa dari para rabi adalah laki-laki.

Dari sini kita melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Maria memang tidak umum. Dia mengambil sikap seperti seorang siswa laki-laki yang sedang mendengarkan pengajaran rabinya. Dikatakan oleh Lukas dengan jelas bahwa Marta sibuk sekali melayani Yesus. Persoalannya, apakah tindakan Maria tersebut dapat disalahkan?

Dari segi logika, dapat kita bayangkan tentu akan aneh jika Yesus sebagai tamu ditinggalkan sendirian (bersama para murid, ay. 38) tanpa ada yang menyambutnya atau mengajak-Nya bicara. Apakah layak jika Maria dan Marta sibuk menyiapkan hidangan dan membiarkan tamu-tamunya duduk-duduk tanpa ada yang menemani? Kita dapat membuat perbandingan dengan sikap keramahan khas Timur seperti yang dilakukan Abraham dan Sara sewaktu menyambut malaikat Tuhan di Mamre (Kej 18:1-9).

Dalam kasus Marta dan Maria, sebenarnya sudah ada pembagian tugas yang bagus, yaitu ada yang menemui tamu dan ada yang menyiapkan makanan. Sekali lagi soalnya adalah Maria itu perempuan. Seharusnya Maria membantu tugas Marta yang cukup menyibukkan.
Yesus menginterpretasikan tindakan Marta dan Maria secara amat unik. Ada kesan bahwa Yesus mengritik tindakan Marta dan memuji tindakan Maria. Biasanya kita dibuat bingung dengan tanggapan Yesus ini. Benarkah Yesus menyalahkan Marta? Bukankah Marta juga sedang menunjukkan keramah-tamahannya meskipun caranya lain dengan Maria? Bukankah cara dia itupun wajar bagi dunia Timur?

Sebenarnya Yesus tidak sedang menyalahkan Marta. Ia hanya mau menunjukkan suatu pelajaran penting ketika berkata: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu..." Tekanan sabda Yesus ada pada ungkapan "engkau menyusahkan diri dengan banyak perkara". Marta telah menyusahkan diri dengan banyak perkara dan menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah satu-satunya cara untuk menyambut Yesus. Bagi Yesus, sikap Maria tidak dapat dipersalahkan. Mendengarkan dan merenungkan sabda Yesus adalah amat penting juga, dan Maria telah memilih apa yang penting baginya itu. Wajar jika Maria memanfaatkan pertemuan pribadi dengan Yesus yang cukup langka itu.

Bagi Yesus, tindakan Marta yang sangat sibuk itu berlebihan. Mungkin Yesus menganggap bahwa suatu sambutan yang sederhana saja sudah cukuplah, mengapa harus terlalu sibuk untuk itu? Karena begitu sibuknya, Marta sulit memahami kebutuhan rohani adiknya untuk mendengarkan Yesus. Lebih parah lagi, Marta menganggap sepertinya Yesus tidak peduli dengan kesibukannya. Tanpa perasaan dia meminta Yesus agar menyuruh Maria membantu pekerjaannya.

Dalam perikop ini kita memang melihat dua sikap yang berbeda dalam menanggapi Yesus. Biasanya para pembaca menganggap bahwa Marta dan Maria sama-sama benar meskipun cara mereka menyambut Yesus berbeda. Bahkan diharapkan bahwa di dalam diri kita hendaknya ada roh Marta dan Maria, yaitu roh karya dan roh doa/kontemplasi. Penafsiran ini tidak salah. Meskipun begitu, kita perlu melihat lebih teliti. Memang Marta punya semangat melayani yang hebat. Kekurangannya, dia sampai mengabaikan keramahan yang sifatnya lebih personal dengan Yesus. Dia melupakan kebutuhan itu karena kesibukannya.

Kalau kita merenung lebih jauh, bukankah kesibukan yang keterlaluan dapat menyebabkan kita terasing dari diri sendiri, sesama kita, dan Tuhan? Karena terlalu sibuk bekerja, kita melupakan kebutuhan kita untuk istirahat dan kesehatan. Akibat lainnya, kesibukan yang keterlaluan juga bisa membuat kita tidak peka lagi pada sesama yang mengharapkan kehadiran kita. Akibat lain lagi, karena terlalu sibuk, kita dapat melalaikan hidup doa kita yang sebenarnya adalah sarana pembangun hubungan personal dengan Tuhan. Maria memang pekerja yang hebat, patut kita teladan. Namun jika dia terlalu sibuk (menyusahkan diri dengan banyak perkara) maka sudah tidak ideal lagi. Bagaimana dengan Maria? Dia dengan tekun duduk di dekat kaki Yesus, mendengarkan sabda-Nya. Dapatkah kita menyalahkan dia? Bukankah dia sedang memanfaatkan sebaik-baiknya saat yang langka untuk bertemu dengan Yesus? Apakah bijaksana jika Marta memprotesnya? Bukankah Maria juga sedang menunjukkan keramahan dengan membuka hati dan telinga untuk mendengarkan sabda Tuhan? Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. Mengapa kesempatan yang langka untuk bertemu dengan Yesus itu harus ditinggalkan demi pekerjaan yang sudah sehari-hari kita lakukan?

Cukup menarik bahwa Yohanes mengisahkan tindakan Marta dan Maria secara kurang lebih mirip dengan kisah Lukas. Dalam Yoh 12:1-8 diceritakan bahwa Yesus mengunjungi ketiga bersaudara itu di Betania. Marta melayani perjamuan, Lazarus turut makan, sedangkan Maria mengambil minyak narwastu yang amat mahal untuk meminyaki kaki Yesus. Bahkan untuk menunjukkan kasih dan penghormatannya kepada Yesus, Maria mengusap kaki yang diminyaki itu dengan rambutnya. Tindakan Maria menunjukkan suatu perasaan kasih dan hormat yang khas kepada Yesus. Itulah cara Maria menyambut Yesus, sambutan yang berbeda dengan Marta dan Lazarus. Dari kisah Yohanes, kita dapat memahami dengan lebih baik kisah Marta dan Maria menurut Lukas.

Apa yang dapat kita renungkan? Kita dapat meneliti diri kita, apakah kita sering bersikap seperti Marta yang terlalu sibuk sehingga sering kurang peka terhadap relasi pribadi dengan Tuhan dan sesama? Apakah kita bisa meneladan Maria yang dengan tekun mendengarkan sabda Yesus dan dengan penuh tulus menunjukkan kasih kita yang nyata?


Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar