Ads 468x60px

Kamis, 12 Januari 2017


Pekan Biasa I
Mrk 1:40-45

"Vox Dei - Suara Tuhan."
Adapun hari ini, Yesus yang menyembuhkan orang kusta hadir sebagai "Vox Dei, suara Tuhan di tengah umatNya dengan 3 perintah dasar, antara lain:



A."Pergilah": 
Ia mengajak orang kusta yang telah sembuh itu untuk "pergi", meninggalkan pola hidup yang lama.
Dkl: Kita juga diajak untuk berubah dan berbenah, hidup baru setiap harinya, tidak menjadi "golput", cuek bebek, tapi ikut terlibat dan tanggap zaman dengan masyarakat.

B."Perlihatkanlah dirimu kepada imam": 
Ia mengajak orang kusta itu untuk menyatukan pengalaman kesembuhannya bersama dengan iman Gereja sebagai umat Allah yang terwakili dalam para imamnya.
Dengan kata lain: Kita diajak untuk bersekutu, tidak menjadi orang yang "anonim", tapi memiliki semangat komunio/kesatuan dengan gereja, dalam bahasa Mgr Romero, "sentire cum ecclesia - sehati dengan Gereja," tidak apatis dan skeptis tapi optimis berjalan bersama Gereja.

C."Persembahkanlah u/pentahiranmu": 
Ia ajak orang itu untuk berserah, mempersembahkan hidup secara pribadi kepada Tuhan tanpa hiruk pikuk dan kebisingan. Kita juga diajak untuk mempersembahkan segala ruwet renteng pengalaman hidup kita kepadaNya tanpa banyak hiruk-pikuk dan kemeriahan yang dangkal.

Dengan kata lain: Kita diajak selalu mempersembahkan hidup secara pribadi kepadaNya, dengan sikap yang reflektif. Yang pasti, mengacu pada Injil hari ini, kendati Yesus melarangnya untuk memberitakan peristiwa penyembuhannya tapi orang kusta itu sebagai "vox populi-suara rakyat" tetap saja mewartakan kabar gembira kepada yang lain. Kita juga diajak untuk terus mewartakan kebaikan Tuhan dengan mau berubah-bersekutu dan berserah kepadaNya.

"Ada usus ada bakmie - Tuhan Yesus sembuhkanlah kami."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!


NB:
1. "Splagxnizomai- tergerak hati."
Inilah yang saya rasakan setiap kali mempersembahkan misa untuk para narapidana di penjara bersama para sahabat SOCIUS.

Adapun Yesus juga “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” saat seorang kusta datang dan berlutut di hadapanNya. Pada zaman itu, orang kusta membutuhkan dua hal; penyembuhan dan pernyataan ketahiran dari imam (Im 14:2- 32), yang harus disertai upacara korban.

Sialnya, banyak imam tidak suka "blusukan", mereka lebih suka berada di “kota” Yerusalem karena lebih memberi "income" dan prestise.

Gengsi dan ambisi duniawi inilah yang banyak menumpulkan hati yang peka, "sensible" kepada orang kecil, apalagi penyakit kusta dianggap penyakit yang "menyeramkan" dan tak tersembuhkan.

Disinilah, kita diajak mempunyai beberapa hal mendasar supaya punyai "ketergerakan hati", antara lain:

A.Kepasrahan:
Kita diajak selalu mengandalkanNya karena hanya kuasa Allah saja yang bisa menyembuhkan, itu sebabnya dikatakan bahwa menyembuhkan orang kusta dinilai ‘sederajat’ dengan membangkitkan orang mati.

B.Keberanian:
Si kusta berani datang kepada Yesus karena Ia mengimani Yesus sebagai Sumber Kehidupan. Kita juga diajak untuk membawa banyak orang, terlebih yang kecil dan miskin agar berani datang kepada Tuhan.

C.Kesabaran:
Ia memberi peringatan keras supaya jangan mengatakan apapun kepada siapapun.
Ia ajak kita mengenalNya dengan sabar, bukan hanya karena omongan orang tapi karena pengalaman pribadi bersamaNya.

"Dari LebakBulus ke Fatmawati - Jadilah orang yang tulus dan murahhati."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui.


2.“Nil sine numini - Tak ada yg dapat terjadi tanpa kehendak Ilahi.”
Mengacu pada bacaan hari ini, adalah seorang kusta dmana penderitanya tidak layak menyembah Allah di tempat ibadat dan dicap najis (Im. 13:1-3).
Ada beberapa pokok iman yang bisa kita petik dari dua tokoh utama, Yesus dan orang kusta, antara lain:

A.Orang Kusta:
a.Perjuangan hidup: Ia berjuang untuk datang sambil berlutut di hadapanNya dan memohon bantuanNya.

b.Pengakuan iman: Ia memiliki keyakinan kuat akan kuasa ilahi: “Engkau dapat mentahirkan aku”.

c.Penyerahan diri: Ia tunduk dan merendahkan hati: “kalau Engkau mau.”
Inilah sikap sederhana sebagai seorang beriman yang berpasrah pada kehendakNya: “Fiat voluntas Tua-Jadilah kehendakMu.”

B.Yesus:
a.Tergerak: Ia tergerak hatiNya oleh belas kasihan. Ini menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang rahim, yang selalu berbela rasa dan ikut hadir dalam derita/pergulatan hidup kita.

b.Bergerak: Ia bergerak mengulurkan tangan dan menjamah orang itu.
Ketika seorang raja/imam menjamah orang sakit, ia berkata: "Aku menjamah, Allah menyembuhkan". Namun, Yesus menjamah sekaligus menyembuhkan.

c. Berkuasa: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Kuasa Yesus bekerja juga di dalam dan melalui perkataanNya (Mzm. 107:20; Yoh. 15:3; 17:17). Ia dengan senang hati memberikan kuasa sekaligus kemurahan hati bagi mereka yang mau datang dan menyerahkan diri kepada kehendakNya.

Akhirnya, Yesus menyuruh orang itu pergi, atau secara lebih harafiah:
"mendorong ke luar" (exebalen). Disinilah kita diajak untuk juga mau "pergi", berangkat keluar dari kungkungan kenajisan dan cinta diri, mau lahir baru dengan penuh rasa syukur karena Tuhan selalu mengasihi kita.

"Dari Efesus ke Miami - Tuhan Yesus sembuhkanlah kami!"

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui


3. Daily Quote from the early church fathers:
“Why did Jesus touch the leper”, 
by Origen of Alexandria (185-254 AD)
"And why did [Jesus] touch him, since the law forbade the touching of a leper? He touched him to show that 'all things are clean to the clean' (Titus 1:15). Because the filth that is in one person does not adhere to others, nor does external uncleanness defile the clean of heart.

So, he touches him in his untouchability, that he might instruct us in humility; that he might teach us that we should despise no one, or abhor them, or regard them as pitiable, because of some wound of their body or some blemish for which they might be called to render an account...

So, stretching forth his hand to touch, the leprosy immediately departs. The hand of the Lord is found to have touched not a leper, but a body made clean!
Let us consider here, beloved, if there be anyone here that has the taint of leprosy in his soul, or the contamination of guilt in his heart? If he has, instantly adoring God, let him say: 'Lord, if you will, you can make me clean.'" 
(excerpt from FRAGMENTS ON MATTHEW 2.2–3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar