Ads 468x60px

Selasa, 17 Januari 2017

Pekan Biasa II
PW S. Antonius, Abas
Markus 2:23-28


"Audiatur et altera pars - Dengar semua sisi."
Ini adalah sebuah ungkapan yuridis atau hukum dan sejatinya hidup kita tak lepas dari hukum: Ada hukum pidana-perdata, adat, agama dan kanonik.
Secara real, hukum kerap disalahgunakan/dipermainkan, padahal secara ideal, hukum artinya "Hadir Untuk Keselamatan Umat Manusia".

Itu sebabnya Yesus tidak mengajak kita untuk jatuh pada sikap mental "legalistis", apa-apa serba hukum, tapi hukum itu harus didasari dengan nada dasar "C" alias cinta kasih.
Bicara soal hukum dan kasih, beberapa waktu lalu saya mempersembahkan misa arwah untuk Ibu Suharsi. Dari namanya, kita diajak punya 3 tujuan dasar hukum seperti yang saya tulis dalam buku "Family Way" (RJK, Kanisius), antara lain:

1."SU"kacita dalam iman: 
Kita bersyukur karena hukum Allah ada untuk menciptakan kosmos/keteraturan, dan bukan khaos/kekacauan. Dialah "grand designer"-sang perancang besar untuk hidup kita.

2."HAR"gai kehidupan: 
Dalam setiap bab "KHK/Kitab Hukum Kanonik" dalam Gereja kita tertulis "salus animarum suprema lex - hukum yang terutama adalah keselamatan jiwa."
Jelas bahwa Tuhan benar-benar menghargai hidup kita: Hukum adalah alat, manusianya adalah tujuannya: "Hari sabat ada untuk manusia, bukan manusia untuk hari sabat". Tuhan jauh mementingkan aspek manusianya daripada hukumnya.

3."SI"apkan jalan Tuhan: 
Salah satu tujuan pokok hukum adalah "bonum commune -kesejahteraan bersama". Hal inilah yang perlu kita siapkan sebagai jalan Tuhan yang "menjadikan segalanya baik".
Hari inilah, kita diajak mempunyai 3 peran dasar untuk menciptakan "keteraturan, keselamatan dan kesejahteraan bersama lewat kata dan warta kita di tengah masyarakat.

"Kaisar Agustus dan Raja Arthur - Bersama Kristus, hidup kita terarah dan teratur".

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!


NB:
"APOPHTHEGMATA PATRUM "
SABDA PARA BAPA PADANG GURUN
EDISI SPESIAL “ANTONIUS ABAS”.
(Buku, "VIA VERITAS VITA", RJK)

01 JANUARI
Ketika Abas Antonius yang suci hidup di padang guru ia dihinggapi rasa bosan dan diserang oleh banyak pikiran jahat. Ia berkata kepada Allah: “Tuhan, aku ingin selamat tetapi pikiran-pikiran ini tidak mau hilang. Apa yang harus kuperbuat dalam kemalanganku ini? Bagaimana aku dapat diselamatkan?” tidal lama kemudian ketika ia bangun dan keluar, Antonius melihat seseorang seperti dirinya sedang duduk bekerja, lalu bangun dari kerjanya untuk berdoa, kemudian duduk lagi menjalin tali, lalu bangun lagi untuk berdoa. Itulah malaikat Tuhan yang diutus untuk menegur dan meyakinkan dia. Ia mendengar malaikat itu berkata kepadanya: “Lakukanlah ini dan engkau akan selamat”. Akibat perkataan itu, Antonius dipenuhi kegembiraan dan semangat. Ia melakukannya dan selamat.

02 JANUARI
Ketika Abas Antonius memikir-mikirkan rahasia pengadilan Allah, ia bertanya: “Tuhan, bagaimana bisa terjadi, ada beberapa orang yang mati muda, sementara yang lain hidup sampai usia sangat tua? Mengapa ada orang-orang miskin dan orang-orang kaya? Mengapa orang jahat hidupnya makmur dan orang baik hidupnya berkekurangan?” Lalu ia mendengar suatu suara menjawab: “Antonius, perhatikan saja dirimu sendiri. Serahkan hal-hal lainnya pada keputusan Allah. Tak ada gunanya bagimu untuk mengerti semuanya itu.”

03 JANUARI
Seorang bertanya kepada Abas Antonius: “Apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan Allah?” Sang penatua menjawab: “Perhatikanlah apa yang ingin kukatakan kepadamu: Siapa pun engkau, hendaknya selalu menempatkan Allah di muka matamu; apa pun saja yang kaulakukan, lakukanlah itu sesuai dengan ajaran Kitab Suci; di mana pun engkau tinggal, jangan meninggalkannya dengan mudah. Peganglah ketiga pedoman ini dan engkau akan selamat.”

04 JANUARI
Abas Antonius berkata kepada Abas Poemen: “Inilah karya agung seseorang: selalu menempat-kan kesalahan atas dosa-dosanya dihadapan Allah dan menantikan pencobaan sampai nafasnya yang terakhir.” Ia juga mengatakan: “Barang siapa tidak mengalami pencobaan tidak dapat masuk kedalam kerajaan Surga.” Ia bahkan menambahkan: “Tanpa pencobaan tidak ada seorang pun dapat selamat.”

05 JANUARI
Abas Pambo bertanya kepada Abas Antonius: “Apa yang harus kulakukan?” Sang penatua menjawab: “jangan percaya pada kesalehanmu sendiri, jangan cemas akan masa lampau, kuasailah lidah dan perutmu!”

06 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Aku melihat jerat-jerat musuh sudah disebarkan ke atas dunia dan aku mengeluh: Apa yang dapat melepaskan manusia dari jerat-jerat itu? Kemudian aku mendengar suatu suara berkata: ‘kerendahan hati’.” Ia juga berkata: “Beberapa orang menyesah tubuh mereka dengan mati raga, tetapi mereka tidak mempunyai penegasan roh, karena itu mereka jauh dari Allah.”

07 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Hidup dan mati kita ada bersama sesame kita. Kalau kita memenangkan saudara kita, kita sudah memenangkan Allah. Akan tetapi kalau kita membuat batu sandungan bagi saudara kita, kita sudah berdosa melawan Kristus.”

08 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Seperti ikan akan mati kalau terlalu lama tinggal di luar air, demikian juga rahib akan kehilangan kedamaian batinnya yang mendalam kalau berkeliaran di luar selnya atau melewatkan waktu mereka dengan orang-orang di dunia. Oleh karena itu seperti ikan harus segerah kembali ke laut, demikian pun kita harus bergegas kembali ke sel kita, karena khawatir kalau kita menunda-nunda tinggal di luar, kita akan kehilangan kewaspadaan batin kita.”

09 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Orang yang ingin hidup dalam kesunyian di padang gurun, dibebaskan dari tiga pergulatan batin yaitu yang berkaitan dengan pendengaran, pembicaraan, penglihatan. Hanya ada satu pergulatan yang harus ia hadapi: yang berkaitan dengan dosa percabulan.

10 JANUARI
Seorang pemburu di padang gurun melihat Abas Antonius sedang bersantai dengan para saudara sehingga ia menjadi terkejut. Untuk menunjukkan kepada si pemburu itu bahwa kadang-kadang perlu memenuhi kebutuhan para saudara, sang penetua berkata kepadanya: “Pasanglah sebuah anak panah pada busurmu dan panahlah.” Si pemburu melakukannya. Sang penatua berkata lagi: “Panahlah lagi.” Dan ia melakukannya. Kemudian sang penatua berkata: “Panahlah sekali lagi.” Si pemburu menjawab: “Kalau aku melengkungkan busurku begitu kerap, aku akan membuatnya patah.” Maka sang penatua berkata: “Begitu juga halnya dengan karya Allah. Kalau kita merentangkan saudara-saudara melampaui ukuran; mereka pun akan segera patah. Maka kadang-kadang perlu beristirahat untuk memenuhi kebutuhan mereka.” Ketika mendengar perkataan itu, si pemburu tertusuk oleh perasaan keremukredaman hati dan pergi sesudah memperoleh manfaat rohani yang demikian besar. Sedangkan para saudara pulang ke tempat mereka sambil merasa diteguhkan.

11 JANUARI
Para saudara memuji seorang rahib di hadapan Abas Antonius. Ketika rahib itu datang menemuinya, Antonius ingin mengetahui seberapa jauh ia dapat menanggung penghinaan-penghinaan. Ketika ia melihat bahwa si rahib ternyata tidak dapat menanggungnya sama sekali, Antonius berkata kepadanya: “Engkau seperti sebuah desa yang bagian luarnya dihiasi sangat indah, tetapi bagian dalamnya bobrok oleh perampok-perampok.”

12 JANUARI
Seorang saudara berkata kepada Abas Antonius: “Doakanlah aku.” Sang penatua menjawab: “Aku tidak akan berbelaskasihan kepadamu, juga Allah tidak, jikalau engkau sendiri tidak berusaha dan tidak berdoa kepada Allah.”

13 JANUARI
Pada suatu hari beberapa penatua datang mengunjungi Abas Antonius. Di antara mereka ada Abas Yosep. Karena ingin menguji mereka, Antonius mengutip sebuah teks Kitab Suci dan dengan mulai dari yang termuda ia bertanya apa artinya teks itu. Setiap orang memberikan pandangannya semampu mereka. Tetapi kepada setiap orang, sang penatua berkata: “Engkau tidak memahaminya.” Akhirnya ia bertanya kepada Abas Yosep: “Bagaimana Anda menjelaskan sabda ini?” Ia menjawab: “Saya tidak tahu.” Kemudian Abas Antonius berkata: “Sungguh, Abas Yosep telah menemukan jawabannya, ketika ia mengatakan, ‘Saya tidak tahu’.”

14 JANUARI
Beberapa saudara datang dari Scetis untuk menemui Abas Antonius. Ketika mereka menaiki perahu untuk pergi ke sana, mereka melihat sudah ada seorang rahib yang juga ingin ke sana, tetapi para saudara tidak mengetahuinya. Mereka duduk dalam perahu lalu mulai sibuk membicarakan sabda para Bapa, Kitab Suci dan kerja tangan mereka. Sedangkan rahib itu tetap diam. Ketika mereka tiba di pantai, mereka melihat bahwa rahib itu ternyata ingin pergi ke tempat Abas Antonius juga. Sesuda mereka tiba ditempat, Antonius bertanya kepada mereka: “Apakah kalian mendapatkan rahib ini sebagai teman perjalanan yang baik?” kemudian rahib itu berkata kepada Antonius: “Bapa telah menarik banyak saudara yang baik untuk datang ke tempat Bapa.” Antonius menjawab: “memang tak dapat diragukan bahwa mereka itu baik. Tetapi mereka tidak mempunai pintu untuk rumah mereka, sehingga setiap orang yang mau, dapat masuk begitu saja ke kandang dan melepaskan keledainya.” Yang ia maksudkan ialah bahwa para saudara mengatakan apa saja yang muncul dalam mulut mereka.

15 JANUARI
Para saudara datang kepada Abas Antonius dan berkata: “Katakanlah sepatah kata; bagaimana kami dapat selamat?” Sang penatua menjawab: “Kalian sudah mendengar dari Kitab Suci dan itulah yang seharusnya mengajar kalian bagaimana supaya selamat.” Akan tetapi mereka berkata: “Kami ingin mendengar juga dari Bapa.” Lalu sang penatua berkata: “Injil berkata, kalau seseorang menampar pipimu, berikan juga kepadanya pipi yang lain (Mat 5,39).” Mereka berkata: “kami tidak dapat melakukannya.” Sang penatua berkata lagi: “kalau kalian tidak dapat memberi pipi yang lain, sekurang-kurangnya kalian membiarkan satu pipi ditampar.” “kami tidak dapat melakukan itu juga.” Kata mereka. Maka ia berkata: “kalau kalian tidak dapat melakukan itu juga, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan.” Dan mereka berkata: “Itu pun tidak kami lakukan.” Lalu sang penatua berkata kepada muridnya: “Sediakan sedikit masakan jagung untuk orang-orang cacat ini.” “Kalau kalian tidak dapat melakukan ini atau itu, lalu apa yang dapat kulakukan untuk kalian? Yang kalian perlukan ialah doa-doa.”

16 JANUARI
Seorang saudara meninggalkan dunia dan memberikan miliknya kepada orang miskin, akan tetapi ia masih menyimpan sedikit untuk keperluan pribadinya. Ia datang menemui Abas Antonius. Ketika ia menceritakan hal itu kepadanya, sang penatua berkata: “Kalau engkau ingin menjadi rahib, pergilah kedesa, belikan daging, tutupi tubuhmu yang telanjang dengan daging itu dan datanglah kemari seperti itu.” Saudara itu melakukannya dan anjing-anjing serta burung-burung mencabik-cabik tubuhnya. Ketika ia kembali, sang penatua bertanya apakah ia telah melaksanakan anjurannya. Ia memperlihatkan tubuhnya yang luka-luka kepada sang penatua. Lalu santo Antonius berkata: “Mereka yang meninggalkan dunia tetapi masih ingin menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri akan dicabik-cabik dengan cara itu oleh iblis yang berperang melawan mereka.”

17 JANUARI
Pada suatu hari seorang saudara dari biara Abas Elias jatuh dalam godaan. Sesudah diusir dari biara, ia mendaki gunung ke tempat Abas Antonius. Ia tinggal di dekat Antonius untuk sementara waktu. Kemudian Antonius mengirim dia kembali ke biara yang telah mengusirnya. Ketika para sudara melihatnya, mereka mengusir dia lagi dan ia kembali ke Abas Antonius sambil berkata: “Bapaku, mereka tidak bersedia meneriama aku.” Kemusian sang penatua mengirim pesan kepada mereka demikian: “Sebuah perahu mengalami karam di laut dan kehilangan muatannya. Dengan susah paya perahu itu dapat mencapai pantai, tetapi kalian ingin melemparkannya lagi kelaut, padahal perahu itu telah menemukan pelabuhan yang aman di pantai.” Ketika para saudara mengerti bahwa Abas Antoniuslah yang mengirim rahib itu kepada mereka, segera mereka menerimanya.

18 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Aku yakin bahwa tubuh memiliki gerakan kodratinya sendiri dan tubuh menyesuaikan diri dengan gerak itu tetapi tidak dapat mengikutinya tanpa persetujuan jiwa. Ini untuk memperlihatkan bahwa dalam tubuh ada gerakan tanpa nafsu. Ada gerakan lain, yang berasal dari makanan, yang membuat tubuh menjadi hangat berkat makan dan minum, yang menyebabkan darah menjadi panas dan merangsang tubuh untuk bergiat. Oleh karena itu sang rasul berkata, ‘Jangan kamu mabuk oleh anggur karena anggur menimbulkan hawa nafsu’ (Ef 5,18). Dan dalam Injil Tuhan juga menasehati hal yang sama kepada para murid-Nya, ‘Jagalah dirimu supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan’ (Luk 21,34). Akan tetapi masih ada lagi gerakan lain yang menimpa mereka yang sedang berjuang dan yang berasal dari tipu muslihat serta iri hati iblis. Jadi engkau harus memahami ketiga gerakan tubuh ini: yang kodrati, yang berasal dari terlalu banyak makan dan yang disebabkan oleh iblis.”

19 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Allah tidak memberikan pergulatan dan pencobaan-pencobaan yang sama kepada angkatan ini seperti yang Ia lakukan kepada angkatan yang dulu, karena rahib sekarang menjadi lebih lemah dan tidak dapat menanggung demikian banyak.” Ia berkata lagi: “Akan tiba saatnya ketika manusia menjadi gila, mereka akan menyerangnya sambil berkata, ‘Engkau gila, sebab engkau tidak sama seperti kami’.”

20 JANUARI
Tiga orang Bapa biasa mengunjungi Antonius yang suci setiap tahun. Dua orang dari antara mereka biasa mendiskusikan pikiran-pikiran dan keselamatan jiwa mereka dengan Antonius. Akan tetapi yang ketiga selalu diam dan tidak bertanya apa-apa kepadanya. Sesudah waktu yang cukup lama, Abas Antonius berkata kepadanya: “Engkau kerap datang ke sini untuk mengunjungi aku. Akan tetapi engkau tidak pernah menanyakan apa-apa kepadaku. Ia menjawab: “Bagiku, melihat Bapa sudah cukup.”

21 JANUARI
Mereka mengatakan bahwa seorang penatua memohon kepada Allah supaya ia diperkenankan melihat para Bapa. Dan ia melihat mereka semua kecuali Abas Antonius. Maka ia bertanya kepada pemandunya: “Di mana Abas Antonius? “ Pemandu menjawab: “Di tempat dimana Allah berada, di situlah Antonius berada.”

22 JANUARI
Seorang saudara dalam sebuah biara mendapat tuduhan palsu berzinah. Lalu ia bangkit dan pergi ke Abas Antonius. Para saudara dari biara itu juga datang untuk menuduh dan membawa dia kembali. Mereka mulai membuktikan bahwa ia telah melakukan hal itu. Akan tetapi ia mempertahankan diri dan menyangkal bahwa ia tidak melakukan hal seperti yang di tuduhkan. Abas Paphnutius, yang disebut Cephalus, kebetulan ada disana, dan ia menceritakan kepada mereka perumpamaan ini: “Aku melihat seorang pria di tepi sungai terbenam dalam lumpur sampai kelututnya dan beberapa orang datang, bermaksud untuk membantu dia keluar dari lumpur. Akan tetapi mereka malah mendorong dia masuk lebih dalam lagi ke dalam lumpur sampai kelehernya. “Kemudian Abas Antonius berkata tentang Abas Paphnutius begini: “Inilah pria sejati yang dapat memelihara jiwa-jiwa dan menyelamatkan mereka.” Semua yang hadir tersentuh hatinya oleh kata-kata sang penatua dan mereka meminta maaf kepada saudara tertuduh itu. Demikianlah berkat nasihat para Bapa, mereka membawa saudara itu ke biara.

23 JANUARI
Beberapa orang berkata tentang santo Antonius bahwa ia adalah “pembawa Roh”, artinya, orang yang dikuasai oleh Roh Kudus. Akan tetapi Antonius sendiri tidak pernah mengatakan tentang hal itu kepada orang-orang. Orang-orang demikian, mampu melihat apa yang sedang terjadi di dunia dan juga mengetahui apa yang akan terjadi.

24 JANUARI
Pada suatu hari Abas Antonius menerima sepucuk surat dari Kaisar Konstansius yang meminta ia datang ke konstantinopel. Ia ragu apakah ia harus pergi, maka ia bertanya pada Abas Paulus, muridnya: “Apakah aku harus pergi?” Ia menjawab: “Seandainya Bapa pergi, Bapa akan disebut Antonius. Sedangkan kalau Bapa tinggal di sini, Bapa akan disebut Abas Antonius.”

25 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Barang siapa menempa sepotong besi, pertama-tama ia harus memutuskan terlebih dahulu mau membuat apa, sebuah sabit, sebilah pedang atau sebuah kapak. Begitu pun kita harus mengambil keputusan jenis keutamaan mana yang kita ingin tempa. Kalau tidak, kita akan bekerja sia-sia.” Ia juga berkata: “Ketaatan dan bertarak memberi manusia keutamaan untuk melawan binatang-binatang buas.”

26 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Sembilan rahib meninggalkan panggilannya sesudah banyak berjerih paya, karena dihantui oleh kesombangan rohani mereka yang menaruh kepercayaannya pada usaha mereka sendiri sehingga mereka jadi terperdaya. Mereka tidak mengindahkan perintah yang mengatakan, ‘Tanyakanlah kepada bapamu dan ia akan memberitahukannya kepadamu’ (Ul 32,7).”

27 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Kalau dapat, seorang rahib sebaiknya memberitahukan kepada para penatuanya secara pribadi, berapa bayak langkah yang ia jalani dan berapa bayak tetes air yang ia minum, dalam selnya. Janga sampai ia menjadi sesat dalam hal itu.” Ia juga berkata: “Aku tidak takut lagi akan Allah, akan tetapi aku mengasihi-Nya. Karena kasih meleyapkan ketakutan (1 Yoh 4,18).”

28 JANUARI
Abas Antonius berkata: “Hendaknya engkau selalu menempatkan takut akan Allah di depan matamu. Ingatlah akan Dia yang member kematian dan kehidupan. Bencilah dunia dan semua yang ada di dalamnya. Bencilah semua kedamaian yang berasal dari daging. Sangkallah hidup ini supaya engkau dapat hidup bagi Allah, karena hal itu akan dimintai pertanggungan jawab darimu pada hari pengadilan. Hendaknya engkau rela menderita kelaparan, kehausan, ketelanjangan. Berjaga-jagalah dan berduka-citalah; menangis dan merataplah dalam hatimu; ujilah dirimu untuk melihat apakah engkau pantas bagi Allah; hinalah daging sehingga engkau dapat menyelamatkan jiwamu.”

29 JANUARI
Ketika masih tinggal di istana, Abas Antonius berdoa kepada Allah dengan kata-kata ini: “Tuhan, bimbinglah aku di jalan keselamatan.” Lalu ada suara berkata: “Antonius, larilah, tinggalkan orang-orang maka engkau akan selamat.” Sesudah ia mengundurkan diri ke dalam hidup menyendiri, ia membuat doa yang sama lagi dan ia mendengar suara yang mengatakan kepadanya: “Antonius, larilah, diamlah dan berdoalah selalu. Hal-hal itulah sumber kehidupan tanpa dosa.”

30 JANUARI
Pernah terjadi ketika Abas Antonius sedang duduk dalam selnya ia diganggu iblis. Pelayan-pelayannya, ketika kembali, berdiri diluar selnya dan mendengar ia berdoa kepada Allah demikian: “Ya Allah, janganlah tinggalkan daku. Aku belum melakukan apapun yang baik dihadapan-Mu, akan tetapi karena kebaikan-Mu, semoga aku sekarang mulai melakukan yang baik.”

31 JANUARI
Seorang berkata kepada Antonius yang suci: “Bagaimana ini, kita dengan semua pendidikan dan pengetahuan kita yang luas tidak memperoleh apa pun juga, sedangkan rahib-rahib Mesir yang sederhana ini memperoleh begitu banyak keutamaan?” Abas Antonius menjawab: “Kita memang tidak memperoleh apa pun dari pendidikan duniawi kita, akan tetapi rahib-rahib Mesir yang sederhana ini memperoleh keutamaan-keutamaan berkat kerja keras.”

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar