Ads 468x60px

Tiga Bejana Mengatasi Bencana

Tell the truth
Sing with passion
Work with laughter
Love with heart, hand and head
Cause...
That's all that matters in the end

Buku "FAMILY WAY" (RJK, KANISIUS).
Tiga Bejana Mengatasi Bencana: 
“BE”rikan hati untuk bertobat, 
“JA”dikan Tuhan sebagai pegangan
“NA”ikkan rasa syukur.

Ada satu kata yang membebaskan kita dari segala beban dan sakitnya hidup; 
Apakah kata itu? Kata itu adalah cinta. 
– One word frees us of all the weight and pain of life: that word is love.

Ketika saya tinggal dan hidup dalam gulat-geliat bersama sebagai sebuah anggota keluarga dalam komunitas para frater Tahun Rohani KAJ (semacam Novisiat) di Wisma Puruhita Klender Jakarta Timur, saya menyukai sebuah lirik lagu berjudul, “Bagaikan Bejana.”

Begini liriknya, kira-kira: “Bagaikan bejana siap dibentuk, inilah hidupku di tanganMu, pakailah sturut kehendakMu, pakailah sesuai rencanaMu, ku mau sepertiMu Yesus disempurnakan slalu, dalam setiap jalanku, memuliakan namaMu....”
Bicara soal bejana, saya jadi teringat dengan Mas Eko, seorang saudara saya di daerah Bantul, yang kerap suka mengumpulkan bejana dalam rumahnya. Menurut pengakuan Eko, dahulu kala, bejana (guci/gentong/ember besar) kerap dijadikan wadah untuk memendam harta di dalam tanah, bisa berupa koin (baik emas maupun perak), batu permata, pelbagai perhiasan serta aneka barang berharga lainnya, terlebih dulu mungkin karena belum ada bank atau semacam ‘deposit box’.

Dalam kacamata biblis, Rasul Paulus sendiri pernah mengatakan kepada jemaat di Korintus, kita itu adalah bejana tanah liat: yang mudah pecah, retak, sakit: lemah baik secara fisik - psikis atau lemah secara finansial-intelektual atau emosional. Kita menjadi lemah secara fisik, ketika kita sakit. Kita menjadi lemah secara materi, ketika kita miskin. Kita menjadi lemah secara intelektual, ketika kita menjadi orang bodoh dan pemalas. Kita juga menjadi lemah secara emosional, ketika kita tidak berhasil mengolah pengalaman trauma, sakit hati, kepahitan, serta luka-luka batin kita masing-masing.

Selama saya menjadi imam muda yang mendengar-rasakan celoteh hingar bingar dan aneka cerita dari pelbagai keluarga dengan beraneka latar belakang, ada saja keluarga yang mengalami pelbagai kelemahan dan kerapuhan seperti bejana tanah liat, seperti krisis kepercayaan antar pasangan karena adanya penyimpangan/penyelewengan seksual salah satu pihak.

Yang jelas apakah suatu negara itu menganut ateisme secara resmi atau menyatakan diri sebagai beragama, tingkatan penyimpangan/penyelewengan seksual, termasuk Seks Pra Nikah tidak jauh berbeda. Suatu survei sederhana di kalangan sekolah bernafaskan Katolik di Jakarta beberapa tahun silam, mengungkapkan bahwa 32% pelajar SLTA sudah melakukan SPN (Seks Pra Nikah). Laporan jurnalistik di kalangan mahasiswa Yogyakarta (buku “Sex in the Kost” dan lainnya) menyebutkan bahwa SPN menjadi lazim di kalangan mereka. Bahkan, sebuah badan PBB pernah menyebut Indonesia sebagai pelakon pornografi nomor dua di dunia setelah Rusia.

Teks tak lepas dari konteks bukan? Berikut ini, beberapa pertanyaan sekaligus pernyataan yang cukup menakutkan. Tidak ada salahnya membuka mata terhadap kenyataan ini daripada terlambat menanganinya, bukan? 
1. Di beberapa negara pasangan nikah sesama jenis sudah disahkan oleh negara.
2. Perselingkuhan semakin dianggap umum sebagai keniscayaan.
3. Kendati isu gender merebak, kekerasan terhadap wanita terbukti tidak berkurang. 
4. Di 54 negara, aborsi (=pembunuhan janin) sudah dihalalkan oleh hukum, bahkan pelakunya dilindungi/ dibiayai oleh negara.
5. Pola single parent (orangtua tunggal) semakin merebak dan diklaim sebagai lebih baik, lebih praktis, lebih aman. 
6. Fungsi seks sesuai perintah Allah adalah prokreasi, tapi kini nyatanya sebatas rekreasi saja.
7. Di masa depan manusia dilahirkan di laboratorium yang dikuasai negara, tidak lagi melalui lembaga perkawinan. Seks diganti dengan imajinasi. 
8. Bukankah kenaikan tingkat perceraian dari tahun ke tahun naik terus?
9. Di beberapa negara, berkembang dan laku keras lembaga yang mengatur kontrak perkawinan sementara, perkawinan pesanan, sperma pesanan.
10. Pornografi menjadi konsumsi sehari-hari secara meluas termasuk di kalangan anak-anak dan remaja.

Seorang seksolog ibukota, dr. Boyke Nugroho pada tahun 1999 pernah menemukan bahwa banyak remaja telah berhubungan seks sebelum menikah. Hasil survei Moammar Emka (wartawan) tahun 2003 mengungkapkan bahwa 70% dari eksekutif di Jakarta mengenal dan bahkan berpengalaman dalam fenomen "BBS (‘bobok-bobok siang’).

Mungkin saja angka-angka itu berlebihan dan terkesan spekulatif, tetapi yang lebih mungkin adalah inilah gambaran wajah dunia kita: begitu maraknya perselingkuhan, trend-nya pelbagai istilah “tante girang, om senang, ayam kampus”, tersebar-pencarnya seks bebas dengan pelbagai praktek sejenisnya. TV 7 bahkan pernah mengekspos kehidupan seks bebas di suatu desa di Subang, desa miskin, dimana tiada lagi norma-norma menghargai seksualitas sebagai anugerah dari Tuhan.

Secara makro di kota-kota besar di Indonesia, sejak tahun 2003, tercandra juga kecenderungan menulis buku ‘hasil penelitian’ kehidupan seks di kalangan mahasiswa, di kalangan jetset dan eksekutif, dan di domain lainnya. Karena ditulis atas nama investigasi serta kerap dibumbui dengan pesan refleksi, buku itu menjadi amat laris bak kacang goreng. Tetapi isinya tetap saja kadang merangsang karena secara deskriptif mengungkapkan praktek seks menyimpang sampai mendetail juga.

Dalam bahasa biblis, pelbagai penyimpangan/penyelewengan seksual kerap kita kenal dengan sebuah kata singkat, yakni: “zinah”. Dalam dunia Perjanjian Lama, zinah sendiri adalah setiap jenis perbuatan yang melanggar bidang seksual atau berlawanan dengan kesusilaan perkawinan, dan dihukum dengan keras. Hukum kekudusan (Im 18:20) paling mementingkan tujuan mengatur hidup bersama di dalam keluarga.

Dunia Perjanjian Lama sendiri mengutuk adanya praktek perceraian, perkosaan, pencemaran darah, pederasti, sodomi, dosa onani, prostitusi dan pelbagai praktek perzinahan tertentu. Sebagai sebuah informasi: dalam Alkitab, terdapat juga pengertian zinah dalam tanda kutip, yakni: penyembahan berhala, ketidaksetiaan dan murtad terhadap Allah, khususnya dalam kitab Yehezkiel dan Hosea. Dan, seperti yang kita ketahui, zinah ini tidak pandang bulu, ia bisa menimpa siapa saja dan dari kalangan apa saja. Ingatlah kisah perzinahan antara Raja Daud dengan Betzeba isteri Uria.

Dalam dunia Perjanjian Baru, terdapat dua ungkapan penting mengenai zinah, yaitu: Akatharsia dan Porneia. Akatharsia adalah semacam kenajisan ibadat. Pada umumnya kata itu dipakai untuk menunjukkan kejatuhan susila religius pada zaman helenis (Rom 1:24; 2Kor 12:21; Gal 5:19). Porneia adalah semacam pengertian sederhana setiap pelanggaran seksual (1Kor 6:13-18; 7:2; Ef 5:3 dan lain-lain; hal-hal yang melanggar kesusilaan perkawinan: Mat 5:32; 1Kor 5:1). Sebetulnya, dari kata ‘porneia’, istilah pornografi (yang populer dan lebih kerap kita kenal) berasal mula.

Pornografi sendiri adalah segala kegiatan seks yang terkait dengan rangsangan seksual, yang ditimbulkan oleh perilaku, gambar, ekspresi, praktek yang menyimpang dari perilaku seksual yang sah, yang dipertontonkan di depan umum. Dalam ensiklopedi Britannica, pornografi dijelaskan sebagai sesuatu yang berkaitan langsung dengan ketidaksetiaan, dosa, hubungan seks di luar nikah, perselingkuhan, imoralitas, hawa nafsu, homoseksualitas, nafsu dan egoisme tinggi. Sebab itu seseorang pelakon, penikmat pornografi adalah orang seperti disebut di bawah ini, Ssst....Apakah anda termasuk di dalamnya?
1. Suka berselingkuh.
2. Egoisme tinggi
3. Kurang peduli pada penderitaan sesama.
4. Melakukan hubungan seksual dengan banyak orang.
5. Melakukan shooting kegiatan pornografi demi kepentingan komersial.
6. Mengkhianati tubuhnya sendiri.
7. Kecanduan menonton VCD/DVD porno 
8. Nafsu seks tak terkendali.
9. Sering melakukan onani/masturbasi.
10. Sering membiarkan pikiran larut-hanyut dalam fantasi seks.
11. Suka melihat, membaca, memfantasikan perilaku seks menyimpang secara berlebihan.
12. Suka memelototi gambar wanita/pria seronok - mengumbar nafsu seks.
13. Suka membaca berita, buku, komik yang menceriterakan seks.
14. Tidak punya rasa hormat terhadap kehidupan.

Secara umum, ukuran porno sering amat subyektif, sangat tergantung dari yang melakoni baik pelaku maupun penonton. Goyangan ngebor ala Inul Daratista adalah porno bagi orang yang mengimajinasikan goyangan itu terkait dengan gerakan sanggama, tapi bukan porno bagi yang melihatnya sebagai keindahan dan keajaiban seni tari.

Pornografi sendiri di lain matra memang membawa penyakit yang serius: 
- Penyakit fisik adalah HIV/AIDS, sipilis, gonorrhea, pelvic inflammatory, dan banyak STD’s (Sexual Transmitted Deseases) lainnya. 
- Penyakit non-fisik adalah pelecehan terhadap tubuh, egoisme, kecenderungan melihat orang lain hanya sebatas obyek seks, melemahnya kepribadian, pertumbuhan selera rendah, hilangnya kreatifitas (kerusakan imajinasi), dan batu-sandungan yang parah bagi masyarakat dan anggota keluarganya sendiri.

Berangkat dari konteks dunia yang dipapar-mekarkan di atas, dengan segala bahaya pornografi dan dosa-dosa seksualnya, sekaligus kesadaran bahwa kita adalah bejana-bejana tanah liat, yang rapuh dan mudah retak yang dikumpulkan dalam sebuah keluarga oleh seorang tukang periuk yang sama, baiklah kalau kita juga mengupayakan adanya tiga bejana dalam keluarga kita setiap harinya di tengah pelbagai derasnya ancaman zinah dan pornografi, al:

A.Bejana pertama, yakni: “Be”, berikan hati untuk bertobat.
Kita diajak bersadar diri bahwa kita adalah bejana tanah liat, yang lemah dan rapuh. Nabi Yesaya mengatakan, “Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” (Yes 64:8). Bukankah Allah sendiri menjadikan manusia dari debu tanah? (Bdk: Kej 2:7. Kata “Adam” sendiri berarti berasal dari tanah). Ingatlah juga setiap masa Prapaskah dimulai dengan misa Rabu Abu, dan di saat itulah pastor juga berkata kepada umatnya, “Kamu berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Bukankah juga, dalam setiap Ekaristi dengan tiga jalan utamanya, jalan pertama yang kita buat adalah, jalan purgativa/jalan pemurnian, ketika kita diajak bertobat dan mengakui dosa-dosa kita: “mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa” (saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa).

Dan, kini pertanyaannya, apakah panduan iman berikut ini dapat kita laksanakan untuk mendapatkan jenis bejana rohani yang pertama ini?
1. Seks di luar perkawinan/pernikahan adalah kejahatan. – Tob. 4:13
2. Jauhkan dirimu dari persetubuhan di luar nikah. Tiap dosa yang diperbuat manusia adalah di luar tubuh; tapi ia yang melakukan perselingkuhan berdosa terhadap tubuhnya sendiri 1 Kor 6:18
3. SPN (Seks Pra Nikah) bertentangan dengan kehormatan manusia dan merupakan korupsi yang serius terhadap kehidupan. Katekismus nomor 2353
4. Dosa-dosa seksual yang bertentangan dengan kesucian adalah masturbasi, SPN, pornografi, dan praktek homoseksualitas. Katekismus nomor 2396
5. Kutukan (Allah) akan menimpa mereka, para pelaku SPN -- Kolose 3:5-6
6. Rasul Paulus menegaskan betapa para pelaku SPN akan kehilangan warisan kerajaan Allah. Efesus 5:3-5
7. Perbuatan daging telah nyata yaitu percabulan, nafsu dan kebejatan. Galatia 5:16-21.
8. SPN termasuk zinah. Zinah adalah dosa. Lih. Amsal 3:23-33
9. SPN adalah bibit perceraian. Perceraian adalah kesalahan fatal. Lih. Markus 19:3-13
B.Bejana kedua yakni: “Ja”, jadikan Tuhan sebagai pegangan.
Kita menjadi kuat karena Tuhan sendiri yang berkarya, bukan? Musa, sebelum menjadi pemimpin besar Israel, adalah orang yang gagap, tidak percaya diri dan merasa tidak layak menjadi pemimpin (Keluaran 4:10). Maria Magdalena, saksi pertama kebangkitan Yesus dulunya adalah seorang wanita pendosa. Zakheus, jelas adalah seorang kepala pemungut cukai yang dulunya begitu dibenci karena sering menghisap uang rakyat. Martha, pribadi yang suka bergosip dan sibuk melulu. Raja Daud dulunya adalah seorang gembala biasa. Ingat juga, paus pertama kita, Rasul Petrus dan beberapa murid perdana adalah orang-orang sederhana yang bekerja sebagai nelayan biasa.
Mengapa kita mesti menjadikan Tuhan sebagai pegangan? Sebuah kenyataan, sudah menikah (bahkan mempunyai anak), tidak menjamin kita tidak akan mengalami kesepian lagi, bukan? Rasa kesepian akan datang jika kita merasa tidak dibutuhkan atau diabaikan, walau anggota keluarga berada di dekat kita: “Jangan pernah bilang bahwa perkawinan lebih banyak sukacitanya daripada sakitnya -- Never say that marriage has more of joy than pain.” -- Euripides (485 BC - 406 BC).
Ditengarai juga secara global, bahwa selain karena kesepian, banyak pernikahan kerap berakhir dengan konflik dan bahaya perceraian. Ada banyak sebabnya, dan kedangkalan iman (dan karena itu: kedangkalan komitmen atau cinta) menempati peringkat tertinggi. Sebab itu sebelum menikah pasangan perlu mendalami perihal iman.
Pelbagai survai mengenai keimanan akhir-akhir ini bisa merisaukan. Yang jelas, banyak orang mulai meninggalkan agama. Ketika saya mempunyai kesempatan untuk pergi ke beberapa negara Eropa, misalnya di Belanda: 90% rumah ibadat dan pendidikan agama telah berubah fungsi menjadi museum sejarah, simbol-simbol masa lalu, aula olah raga, disko, ruang pertemuan, bahkan hotel atau cafe.
Di negara lain, terutama negara kategori berkembang, agama menjadi dominan tapi bukan berarti imannya juga lebih baik bukan? Kitab Suci sendiri pernah menceriterakan bagaimana Allah mengutuk Sodom dan Gomora, dua kota maksiat yang mempraktekkan praktek sodomi dan penyimpangan seksual. Sejak itulah, setiap zaman dan kelompok selalu ada kota atau pusat maksiatnya, dan kota-kota itu akhirnya hancur berantakan, tetapi selalu muncul yang baru. Y
ang paling terkenal adalah Port Royal, sebuah kota maksiat di Jamaika, abad 18, yang merupakan persinggahan penjarah emas Spanyol, yang menurut sejarah melebihi kengerian Sodom-Gomora. Kota itu pada pertengahan abad 18 hilang lenyap ditelan laut. Di Amsterdam ada Kalverstraat, di Hamburg ada Repherbaan, di Singapura ada Geylang, dan di hampir setiap kota-kota besar, juga di Indonesia.
Saya sendiri bersama tujuh frater tingkat akhir yang sedang studi di Yogyakarta pada tahum 2005, pernah mendapatkan kesempatan untuk meneliti dan mewancarai beberapa pelaku seksual di beberapa pusat transaksi seksual seperti: Gang Dolly di Surabaya atau kawasan Mangga Besar dan sekitarnya di Jakarta.
C. Bejana yang ketiga, yakni: “Na”, Naikkan rasa syukur.
Bukankah tepat kata Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, “Segala perkara dapat kita tanggung di dalam Tuhan karena Dia yang memberi kekuatan” (Bdk: Filipi 4:13). Atau lebih jelasnya dalam pesan Nabi Yeremia ini, “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yer.18:4).
Dalam konteks sebuah keluarga, Dave Meurer, "Daze of Our Wives", pernah mengatakan, bahwa “perkawinan yang hebat adalah bukan ketika ‘pasangan harmonis’ seia-sekata satu sama lain, tetapi ketika pasangan yang tak sempurna menikmati perbedaan-perbedaan mereka -- A great marriage is not when the 'perfect couple' comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy their differences. Dkl: Bersyukurlah senantiasa. Atau dalam pepatah sederhana, “burung tekukur di kalvari, mari bersyukur setiap hari.”
Di bawah ini, ada sebuah permenungan kecil yang mengajak kita untuk senantiasa bersyukur dalam segala keadaan. Begini katanya:
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit.Di masa itulah kamu tumbuh.
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan. Mulailah semua rasa syukur ini dari rumahmu masing-masing.
Mungkin memang mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik, tapi ingatlah juga bahwa hidup yang berkelimpahan datang pada setiap keluarga yang juga bersyukur akan masa surut. Bukankah rasa syukur kerap dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif?
Akhirnya, kita sebagai seorang anggota keluarga diajak memohon rahmat tiga bejana itu. Kita sekaligus juga bisa mulai reflektif bertanya, selama ini ukuran bejana kita seberapa besar? Apakah sekecil tempat lilin atau apakah malahan sebesar tempayan (terbuka)? Apakah kita juga bejana yang berguna, fungsional atau hanya untuk hiasan dekoratif semata?
Lalu, kita ini juga bisa bertanya, kita ini bejana jenis apa? Apakah jenis cangkir, dimana orang dapat minum? Atau jenis mangkok, dimana orang dapat makan? Ataukah jenis pot tanaman, dimana muncul sesuatu yang bertumbuh-kembang? Ataukah kita ini jenis bejana, yang melulu menyimpan sebanyak-banyaknya hanya milik kita sendiri? Apakah kita juga bejana jenis pelita, yang menyimpan minyak cadangan? Apakah kita juga bejana yang terbuka atau bejana tertutup? Apakah kita bejana bertangan dan bertelinga, yang siap membantu sekaligus mendengarkan orang lain? Atau malahan kita sebuah bejana tanpa tangan dan telinga, yang tuli dan tumpul terhadap permasalahan hidup orang lain yang ada di dekat kita?
Bukankah Albert Einstein pernah berkata. “Dunia semakin berbahaya untuk dihuni, bukan karena banyaknya penjahat, melainkan karena kita diam, tidak melakukan apa-apa yang baik di tengah dunia itu.” Tulisan ini, saya tutup dengan sebuah kisah berjudul, “Bejana Pilihan.”
Begini kisahnya:
Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia - manakah yang akan terpilih? “Pilihlah aku, teriak bejana emas, aku mengkilap dan bercahaya. Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahan aku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang yang seperti engkau, Tuanku, emas adalah yang terbaik!”
Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. “Aku akan melayani engkau, Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujiMu.
Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga. Bejana ini lebar mulutnya dan dalam, dipoles seperti kaca. “Sini! Sini! teriak bejana itu, aku tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku di mejamu, maka semua orang akan memandangku”.
Lihatlah aku, panggil bejana kristal yang sangat jernih. Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan melayani engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu. Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh. Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila Engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti.
Kemudian Tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana Tuhan itu. 
“Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong. Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar. Tetapi yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakKu.”
Kemudian Ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki dan membersihkannya dan memenuhinya. Ia berbicara dengan lembut kepadanya: “Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah Kuperbuat bagimu.”
Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, 
supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu 
berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
Rasul Paulus, II Korintus 4:7
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar