Ads 468x60px

WWF: Walking With Francis

Paus Fransiskus :
Seperti para Majus, mari kita juga pergi keluar mencari, memperhatikan tanda-tanda, tidak lelah, dan berani, dalam perjalanan untuk menemukan Allah yang berada di antara kita.

FAKTA MENARIK TENTANG PERSEMBAHAN DARI PARA MAJUS (EMAS, KEMENYAN, MUR)

Seperti yang kita tahu, Injil mencatat para Majus datang dari Timur guna menyembah bayi Kristus yang baru dilahirkan, sambil memberikan hadiah-hadiah kepada bayi Yesus. Hadiah-hadiah ini berupa emas, kemenyan, dan mur. Tahukah Anda bahwa masing-masing hadiah ini memiliki nilai simbolis yang luar biasa? Mari kita bahas satu-persatu.


EMAS, merupakan salah satu jenis logam mulia yang sangat berharga. Dulu logam jenis ini dipakai dalam membangun Bait Suci (I Raj. 7: 48-50), menghias rumah raja-raja (I Raj. 10: 17-22), dan dalam pembuatan perhiasan. Emas memperlihatkan martabat dan kekuasaan pemiliknya (Dan. 5: 29; Yak. 2: 2). Selain itu emas juga dipakai sebagai persembahan kepada raja-raja di masa itu. Jadi melalui pemberian ini, para Majus ingin menunjukkan penghormatan tertinggi mereka pada Sang Raja yang baru lahir.

KEMENYAN, dibuat dari getah pohon-pohonan yang terdapat di Arabia Selatan dan Abesinia. Kemenyan menjadi salah satu unsur ukupan yg kudus (Kel 30: 34) dan dibakar pada saat korban sajian dipersembahkan (Im 6: 15) sebagai lambang penaikan doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah (Mzm. 141: 2). Seorang imam yang memimpin upacara harus melengkapi seluruh upacara itu dengan bau yang harum dari kemenyan. Seperti sifat kemenyan, imam harus membawa jemaat kepada kemuliaan dan kebesaran Tuhan. Melalui pemberian ini, para Majus ingin menunjukkan Kristus sebagai Imam Agung yang akan membawa manusia menuju keselamatan dan kemuliaan, yaitu kepada Allah sendiri.

MUR, sejenis getah pada pohon yang rendah, berduri dan keras kayunya, yang bertumbuh di Arabia. Jenis rempah ini, meskipun berasa pahit, namun dianggap mewah pada masanya. Mur dipakai untuk persembahan (Mat 2: 11), sebagai bahan obat, dan untuk membalsem jenazah orang sebelum penguburan (Yoh 19: 39).

Melalui pemberian ini, para Majus ingin menunjukkan cawan penderitaan Yesus yang pahit, yang harus diminum Yesus hingga berujung pada pengorbanan-Nya di Kalvari, demi tujuan yang teramat mulia, yakni keselamatan umat manusia.

Sampai sekarang, Persembahan Kudus ini secara ajaib masih mengeluarkan harum wewangian yang semakin memancarkan aura kekudusan. Emas, terdiri dari 28 ubin berukuran kira-kira 7x5 cm dengan bentuk-bentuk yang berbeda namun didesain sangat artistik. Kemenyan dan mur berjumlah kira-kira 60 butir yang dipasang bercampuran menjadi manik-manik, masing-masing dari butir itu sebesar biji zaitun.

Konon, Bunda Maria memberikan Persembahan Kudus dari Para Majus ini kepada Gereja Yerusalem sebelum Sang Perawan tertidur dan diangkat ke Surga.

Persembahan Kudus ini tetap tersimpan di sana hingga pada tahun 400 saat Kaisar Bizantin, Arcadius, memindahkannya ke kota Konstantinopel sampai tahun 1204, saat kota diinvasi oleh pasukan Frank di masa Perang Salib.

Demi keamanan, relikui suci ini dipindahkan ke kota Nikea selama 60 tahun sampai mundurnya pasukan Perang Salib dari Konstantinopel pada masa kekaisaran Michael Paleologos. Persembahan Kudus kemudian dibawa kembali ke Konstantinopel hingga tahun 1453, ketika Konstantinopel diinvasi dan dijarah oleh oleh bangsa Arab. Beruntungnya, Persembahan Kudus ini berhasil diselamatkan oleh Permaisuri Naro, seorang Kristiani, istri Sultan Mourat II dan ibu tiri Sultan Muhammad II.

Permaisuri Naro kemudian membawa relikui ini ke Biara Suci St. Paulus di Gunung Athos, gunung yang amat disucikan oleh umat Kristiani di seluruh dunia. Biara ini dulu didirikan oleh ayahnya, George Vragkovits, sewaktu bertakhta sebagai penguasa di Serbia, sebagai penghormatan nya kepada St. George sang Martir Agung.

Konon ketika permaisuri Maro hendak memasuki biara, sebuah suara muncul di tengah-tengah mereka sambil berkata bahwa permaisuri tidak dapat masuk ke biara ataupun naik ke gunung, karena di sana ada ratu lain yang lebih mulia, Sang Perawan Maria sendiri.
Dengan hormat, Permaisuri Naro mematuhi apa yang dikatakan suara itu sambil menyerahkan relikui kudus itu kepada para biarawan penghuni biara.

Itulah sebabnya hingga sekarang, tidak ada satupun wanita yang dapat pergi ke Gunung Athos guna menghormati Sang Theotokos, Bunda Allah.

Persembahan Kudus dari Para Majus ini disimpan di biara tersebut sampai sekarang. Di sana, sebuah Salib didirikan guna mengenang peristiwa itu, yang disebut sebagai “Salib Sang Ratu”. Salib ini masih bisa dilihat sampai sekarang.
-----------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar