Ads 468x60px

Senin, 09 Januari 2017

Pesta Pembaptisan Tuhan
Mateus 3:13-17

"Vidi aquam - Aku melihat air."
Inilah salah satu judul lagu yang biasa dipakai pada upacara pembaptisan/pemercikan air suci.
Adapun hari ini kita mengenangkan pesta pembaptisan Tuhan oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan sekaligus menutup masa Natal.

Beberapa core values, semacam nilai/keutamaan yang bisa kita petik dari Yesus sang "civita-air hidup", al:



1."Inisiatif": 
Yesus ber-inisiatif untuk datang dari Galilea ke Yordan dan minta dibaptis oleh Yohanes. Dengan kata lain: Ia mengajak kita untuk berani memulai berbuat dan berani menjadi "perintis" dalam segala hal yang baik

2."Integratif": 
Ia mau merendahkan hati secara utuh dan penuh demi menggenapkan seluruh kehendak Allah. Ia sungguh 100%" ikut masuk da tenggelam" ke dalam Sungai Yordan sehingga menjadi sama dan ada bersama dengan setiap pergulatan hidup kita. Ia menjadi teman seperjalanan yang sehati dan sejiwa dengan kita karena Ia juga ikut mau mengalami apa yang juga kita alami.

3."Komunikatif": 
Ia tak canggung berkomunikasi dengan Yohanes Pembaptis dan BapaNya. Hal ini dikarenakan Ia memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengan BapaNya. Hidup dan praksis komunikasinya setiap hari dipenuhi dengan Roh Allah yang turun kepadaNya seperti "merpati", yang penuh kedamaian, ketulusan dan kekudusan. Bagaimana dengan kita?

"Ikan teri ikan louhan – Setiap hari itu harinya Tuhan."

Salam Hikers.
Tuhan berkati dan Bunda merestui.
Fiat Lux!


NB:

1. Baptisan : Memiliki “KRS”
K asih
R endah Hati
S olider

3:15 Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, 3:16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

3:21 Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit 3:22 dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

Renungan

01. Peristiwa dimasukkannya Yohanes Pembabtis ke dalam penjara oleh Herodes (ay. 20) menjadi momentum berakhirnya zaman Perjanjian Lama dan mulainya zaman Kerajaan Allah yang ditandai dengan karya pelayanan Yesus. Pembedaan dua periode dalam sejarah keselamatan itu ditegaskan dalam Luk 16:16, “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang berebut memasukinya.”

Dalam ay. 21-22 diceritakan bahwa sebagai orang Yahudi Yesus dibabtis sama seperti yang dijalani oleh semua orang Yahudi lainnya. Tidak diceritakan bahwa Ia dibabtis oleh Yohanes Pembabtis. Nama Yohanes Pembabtis tidak disebut dalam proses pembabtisan-Nya. Nampaknya Lukas mau menggaris bawahi bahwa Yohanes Pembabtis merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Peran dan tugasnya untuk mendahului Tuhan mempersiapkan jalan bagi-Nya (Luk 1:17.76; 7:26-28) telah berakhir. Karya penyelamatan yang sesungguhnya diawali dan terlaksana hanya oleh dan dalam Yesus.

02. Pembabtisan Yesus hanya disebut sebagai keterangan tambahan dari anak kalimat yang menyatakan bahwa seluruh bangsa telah dibabtis. Maksudnya, sebagai seorang Yahudi, Yesus menerima pembabtisan sama seperti yang dijalani oleh semua orang Yahudi. Dengan cara itu Lukas mau menjelaskan bahwa dengan pembabtisan-Nya, Yesus menunjukkan solidaritas atau kesetiakawanan-Nya yang total dengan umat manusia. Dia mau terlibat dalam suka dan duka, kecemasan dan kegembiraan manusia, dalam kegagalan tetapi juga pertobatannya, dalam harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Selain itu kalau ay. 21-22 dibaca dengan teliti maka peristiwa pembabtisan itu sendiri bukan merupakan hal yang penting, hanya sebagai konteks dari sebuah pewahyuan. Yang lebih penting adalah pewahyuan atau penampakannya (theophany). Karena itu bagaimana Ia dibabtis tidak dijelaskan oleh Lukas. Dalam hal ini Injil Yohanes bahkan selangkah lebih maju. Yohanes menghilangkan kisah pembabtisan Yesus dan lebih mengedepankan theophany atau tepatnya kesaksian Yohanes Pembabtis tentang theophany yang dilihatnya, "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah." (Yoh 1:32-34).

03. Pewahyuan terjadi ketika Yesus sedang berdoa, seakan-akan sebagai jawaban atas doa-Nya itu. Dalam injilnya, Lukas memang menampilkan Yesus sebagai pendoa. Sebanyak 12 kali Lukas menceritakan Yesus yang sedang berdoa untuk menonjolkan bahwa doa itulah yang mengisi dan menjiwai seluruh hidup-Nya. Berdoa secara esensial merupakan permohonan agar hidup kita dijiwai oleh Roh Kudus, “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Luk 11:13). Dalam Kisah Para Rasul, karunia Roh Kudus dianugerahkan pada para murid yang sedang berdoa, “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (Kis 4:31). Demikian pula dalam tradisi apokaliptik doa merupakan persiapan yang lazim untuk menerima pewahyuan ilahi (lih. Dan 2:18; 9:3-21; 10:2-3; Luk 9:28-29; Kis 9:11; 10:30; 22:17). Lukas menggambarkan Roh Kudus seperti burung merpati yang secara obyektif kelihatan (Mateus dan Markus menceritakan bahwa yang melihat Roh Kudus hanya Yesus saja) untuk menekankan bahwa Roh Kudus itu bukan realitas yang abstrak tetapi kehadiran dan pengaruh-Nya sangat konkret dan bisa dirasakan.

04. Saat Yesus dibabtis langit terbuka (ay. 21), maksudnya hubungan yang mesra antara Allah dan manusia menjadi mungkin dan dapat diwujudkan karena tidak ada lagi penghalang. Dosa yang menghalangi relasi itu secara definitif telah dihapuskan. Yohanes Pembabtis membabtis dengan air, sedang Yesus membabtis dengan Roh Kudus dan api. Air hanya membersihkan bagian luar sedang api memurnikan baik bagian luar maupun dalam serta mengubah secara definitif dan menyeluruh. Roh Kuduslah yang memberi kekuatan untuk menjalani kehidupan yang baru itu. Melalui Yesus, kita mendapatkan akses baru kepada Allah, akses sebagai anak kepada Bapanya. Karena itu Yohanes meyakinkan kita, “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.” (1 Yoh 3:1).

05. Meskipun kelak Yesus akan membabtis dalam Roh Kudus dan dengan api, dan meskipun Allah Bapa sendiri yang telah menyatakan bahwa Dialah Putra-Nya yang terkasih, namun Yesus dengan rendah hati ikut menjalani pembabtisan seperti orang-orang Yahudi pada umumnya. Yesus memilih kerendahan hati atau pengosongan diri (kenosis) sebagai jalan menuju kemuliaan. Inkarnasi, Salib dan Ekaristi adalah tindakan pengosongan diri Ilahi terus menerus. Putra Allah Yang Kekal dan Kuasa, yang ada sebelum adanya waktu, merendahkan diri masuk dalam peredaran waktu, menjadi manusia lemah, mati di salib dan kini hadir dalam rupa roti ekaristi. Semua itu karena cinta. Inilah esensi kehidupan kristiani, mencapai kemuliaan melalui perendahan atau pengosongan diri. Menjadi putra-putri Allah yang rendah hati.

06. Kerendahan hati atau pengosongan diri merupakan salah satu indikator kecerdasan spiritual. Kata rendah hati dalam bahasa Inggis adalah “humility”. Kata itu berasal dari kata Latin “humus” yang berarti “bumi” atau “tanah”. Maka rendah hati berarti menempatkan diri di bumi atau tanah, maksudnya di dasar. Kerendahan hati sejati akan membuat kita rela merendahkan diri dari posisi kesombongan ke posisi rebah di atas tanah sebagai bukti penundukan diri kepada anugerah Allah yang berkuasa. Pada hari Rabu Abu, Gereja mengingatkan, “Ingatlah bahwa kamu adalah debu, dan kamu akan kembali menjadi debu” (Kej 3:19)

Seorang yang tidak bisa rendah hati, berarti belum mencapai kematangan pribadi dan spiritual. Orang yang rendah hati mampu mengenali, mengagumi dan mengapresiasi keunikan dan sisi-sisi positif sesamanya, sehingga membuat orang lain merasa penting dan berharga. Orang seperti itu akan membahagiakan hati sesama. Kalau dia seorang bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau dia seorang ibu, anak-anaknya tentu akan selalu merindukannya. Kalau dia seorang anak, orangtuanya pasti akan merasa bangga dan bahagia karenanya.

Salah satu ciri kerendahan hati adalah mau mendengar pendapat, saran dan menerima kritik. Tuhan memberi kita dua buah telinga dan satu mulut, maksudnya agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kadang hanya dengan mendengarkan saja kita dapat menguatkan orang yang sedang mengalami kesedihan atau kesulitan. Dengan hanya mendengar, kita dapat memecahkan sebagian masalah yang sedang kita hadapi. Mendengar juga berarti mau membuka diri dan rela menerima kelebihan dan kekurangan orang lain maupun diri sendiri. Kalau pun terpaksa harus bersaing tidak perlu menunjukkan kehebatan maupun memamerkan apa yang kita miliki, bahkan ketika kita menangpun tidak ada kesombongan yang terlihat.

Ciri kerendahan hati lainnya adalah kesediaan mengakui kesalahan dan meminta maaf jika memang salah atau menyinggung perasaan orang lain. Artinya kita peduli dengan perasaan orang lain. Sikap ini berbeda dengan rendah diri. Orang yang rendah diri atau tidak memiliki rasa percaya diri, selalu khawatir dengan apa yang dipikirkan atau dikatakan orang lain tentang dirinya. Rendah hati menjadikan kita realistis, sadar akan keterbatasan diri, mau membuka diri untuk terus belajar, menghargai pendapat orang lain, penuh rasa syukur dan ikhlas mengemban tugas kehidupan. Kerendahan hati sangat bernilai dan meruntuhkan hati Tuhan sehingga "Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati." (Mzm 25:9).

07. Langkah pertama untuk memupuk kerendahan hati, menurut St. Franciskus de Sales, adalah meditasi dan pemeriksaan batin yang teratur, yang menghantar kita pada pengenalan diri terutama kecenderungan untuk menyombongkan diri. Dengan merenungkan kematian, penghakiman terakhir, neraka, surga, dan kehidupan Yesus Penebus, kita akan sampai pada kesadaran tentang siapa diri kita di hadapan Allah. St. Franciskus de Sales menganjurkan, “Renungkanlah betapa besar kasih yang telah dianugerahkan Tuhan kepadamu, dan berapa banyak dosa yang sudah engkau lakukan melawan Dia. Saat engkau menghitung dosamu, hitunglah juga belas kasih dan kerahiman-Nya!”

Melalui pertobatan terus menerus yang diwujudkan dengan pengakuan dosa yang teratur, kita mengembangkan di dalam hati rasa syukur akan kerahiman Ilahi yang tidak terbatas untuk kita. Dengan bantuan rahmat kerahiman Tuhan itu, kita dapat mencabut akar kesombongan, cinta diri dan kecenderungan kepada dosa.

Teladan kerendahan hati yang sempurna adalah Bunda Maria. Dia menyadari diri sebagai hamba di hadapan Allah dan hanya ingin menjadi pelaksana kehendak Tuhan, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Bunda Maria menyadari bahwa segala yang baik pada dirinya adalah karunia belas kasih Tuhan. Kesadaran itu mendorong Bunda Maria untuk rendah hati, menyerahkan diri secara total kepada Tuhan dengan terlibat seutuhnya dalam karya penyelamatan Kristus. Di Tahun Yubelium Kerahiman Allah ini marilah kita berjuang untuk menjadi semakin rendah hati setiap hari, semakin mempercayakan diri ke dalam tangan Tuhan dengan berdoa, “Yesus, yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu”.
Berkah Dalem.


2."Altissimus - Yang Maha Tinggi."
Inilah yang diwartakan Yohanes Pembatis tentang diri Yesus. Kitapun diajak untuk menjadi "pewarta" yang berani bersaksi tentang keunggulan Yesus sebagai Yang Maha Tinggi dengan tiga modal dasar yang diteladankan Yohanes Pembaptis, antara lain:

A.Kesadaran diri:
Ia sadar dan jujur mengakui bahwa dirinya adalah "suara yang berseru-seru di padang gurun". Ia sadar bahwa dirinya bukan Mesias, bukan Elia dan bukan Nabi yang akan datang.

B.Kerendahan hati:
Ingatlah sepenggal kalimatnya,"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (Yoh 3:30). Pernyataan ini sarat dengan semangat kerendahan hati yang sejati, bukan?

C.Kesederhanaan:
Yohanes tinggalkan kemapanan. Ia hidup sederhana di padang gurun semata untuk menyiapkan jalan Tuhan. Ia mencukupkan hidup dengan apa yang ada: Ia memakai jubah bulu onta, makannya hanya belalang dan madu hutan. Simple!

"Dari Cikarang ke Surabaya - Jadilah orang yg hidupnya bercahaya." (RJK)


3. "Serviam - Aku Melayani:" 
Inilah semangat dasar pelbagai sekolah Ursulin dan sekaligus pesan pokok yang secara jelas ditampilkan oleh Yohanes Pembaptis. Ia hadir dengan rendah hati untuk menyiapkan kedatangan Yesus.
Adapun tiga kalimatnya sebagai seorang yang selalu siap ber-"serviam", antara lain:

A."Aku bukan Mesias tapi aku diutus untuk mendahuluiNya": 
Ia tulus hati, jujur dan terbuka akan identitas dirinya, tidak ada kepentingan untuk berdusta/memalsukan diri.
B."Yang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki, tapi sahabat mempelai yang berdiri dekat dia dan mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku dan sekarang sukacitaku itu penuh": 
Ia mengajak kita untuk suka hati dan selalu hidup dengan rasa syukur karena meyakini hidup dan karya kita sebagai bagian dari karya Allah yang besar.
C."Ia harus makin besar, tapi aku harus makin kecil": 
Ia mengajak kita untuk rendah hati, miskin di hadapan Allah karena kita semata hanyalah alat di tanganNya, dalam bahasa Bunda Teresa: "instrumentum cum Deo", dalam bahasa Jose Maria Escriva: "kuas di tangan sang pelukis, dalam bahasa Paulus: "bejana tanah liat, " dalam bahasa Maria: "Hamba Tuhan."

Pastinya, semoga tiga semangat hati ini: “tulus hati – suka hati dan rendah hati” boleh tinggal di hidup kita, lewat “KUD”, Karya - Ucapan dan Doa kita setiap harinya.

"Cari pines di Hutan Jati - St Yohanes ajar kami rendah hati." 
Tuhan memberkati + Bunda merestui.
Fiat Lux! (@RomoJostKokoh)


4.“In Omnibus Christus - Dalam semuanya adalah Kristus. ”
Itulah keutamaan iman Yohanes Pembaptis yang juga saya tulis dalam buku “HERSTORY” (RJK, Kanisius). Ia adalah seorang yg mempunya integritas: Ia berhati tulus dan tidak merasa tersaingi dengan kehadiran orang lain. Ia tidak mempunyai aneka intrik-taktik-politik yang kerap memandang orang lain sebagai “saingan/kompetitor.”
Bagi saya pribadi, spiritualitas seorang Yohanes Pembaptis adalah spiritualitas “misdinar” al:

A.”MIS’kin di hadapan Tuhan: 
Ia mempunyai “humilitas”, kerendahan hati. Kitab Suci sangat menjunjung sikap rendah hati: Ia mendahului kehormatan (Ams 15:33). Ganjarannya adalah kekayaan-kehormatan dan kehidupan (Ams22:4). Ia sadar diri bahwa hidup dan karyanya adalah alat/sarana, untuk membantu orang berjumpa dengan Tuhan. Ia adalah “keledai tunggangan Yesus”, yang dalam bahasa para orang kudus: “kuas di tangan Sang Pelukis” (Escriva), ‘instrumentum cum Deo - pensil di tangan Tuhan” (Bunda Teresa), “Ancilla Domini - Hamba Tuhan” (Bunda Maria). Disinilah, rendah hati adalah sikap yang selalu merendah dan terbuka kepada Allah serta ikut bersukacita akan hidup dan kebaikan yang ada pada sesama.

B.Mengab”DI” untuk Tuhan: 
Ia mempunyai “caritas”, cinta kasih. Hidup-warta dan karyanya hanya untuk cintanya pada Tuhan. Dalam bahasa Ignatius Loyola bagi para Jesuit, “Ad Maiorem Dei Gloriam - Semuanya demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar”. Dalam bahasa Angela Merici bagi para Ursulin, “Soli Deo Gloria - Hanya bagi kemuliaanNya”.

C.Bersi”NAR” karena Tuhan: 
Ia punyai “simplicitas”, kesederhanaan. Jelasnya, dia menjadi bersinar, dikagumi dan dicintai karena hidup dan imannya yang bersahaja. Bukankah Tuhan sendiri datang sebagai yang sederhana di tempat yang bersahaja? Bukankah semua cara di dunia, terlebih hidup yang sederhana dan hati yang bersahaja dapat menjadi sebuah kesempatan untuk berjumpa dengan Kristus? Dengan sikap dan hidup sederhana yang “tidak neko-neko”, ia menjauhkan diri dari bahaya kelekatan dan ketakutan yang kadang disebut 'post power syndrome'. "O sancta simplicitas - O kesederhanaan yang kudus”.

“Ada pena ada tinta - hiduplah sederhana dan penuh cinta.”

5.Daily Quote from the early church fathers
Christ is the husband of the church his bride, by Ambrose of Milan, 339-397 A.D.
"This means he alone is the husband of the church (John 3:29), he is the expectation of the nations, and the prophets removed their sandals while offering to him a union of nuptial grace. He is the bridegroom; I am the friend of the bridegroom. I rejoice because he is coming, because I hear the nuptial chant, because now we do not hear the harsh penalties for sinners, the harsh torments of the law, but the forgiveness of offenses, the cry of joy, the sound of cheerfulness, the rejoicing of the nuptial feast." (excerpt from ON THE PATRIARCHS 4.22)
"Fidelis est, qui vocat vos, qui etiam faciet" (1Tes 3:24)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar