Ads 468x60px

Selasa, 10 Januari 2017

IBRANI 2:15-21 
MAZMUR 8:2a,5-9 
MARKUS 1:21b-28

"Sanctificetur nomen Tuum - Dikuduskanlah namaMu".
Di kompleks seminari menengah di Jakarta yang berlindung pada nama seorang kudus "St Aloysius Gonzaga", saya pernah mengenal sebuah motto yang saya tulis juga dalam buku "TANDA" (RJK,Kanisius), yakni: "S3" antara lain: "Scientas, Sanitas dan Sanctitas – Kecakapan, Kesehatan dan Kekudusan". Ya, setiap orang beriman diajak untuk selalu cakap, sehat dan hidup kudus.
Yesus sendiri juga hadir di rumah ibadat Kapernaum dengan segala kecakapan, “kebersihan” dan terlebih kekudusanNya. Secara khusus soal kekudusan, bukankah kita juga dipanggil untuk menjadi "Yang Kudus, yang datang dari Allah?"


Adapun 3 "dimensi" kekudusan, al:

1. Diberkati: "Benedicta". 
Setiap pagi sebelum berkarya dan setiap malam setelah berkarya, Yesus masuk dalam ruang hati dan sendirian untuk berdoa supaya semua karyanya dari awal sampai akhir selalu diberkati Bapa.
Bukankah dengan diberkati Bapa, kata-sapa dan wartaNya bisa menjadi berkat untuk orang lain? Orang yang dberkati juga pasti bisa memberkati orang lain juga.

2.Dikagumi: "Admiranda". 
Banyak orag kagum dan takjub mendengar pengajaranNya yang "bukan sekedar kata-kata". Bahkan roh-roh jahat pun mengakui karisma dan kuasa ilahi Yesus yg penuh daya. Mereka segan dan taat padaNya. HidupNya yang kudus jelas mengagumkan dan mengesankan bagi banyak orang.
Orang yang dikagumi karena kekudusannya pasti juga mudah mengagumi segala ciptaan Tuhan dalam hidupnya sehari-hari, lewat perjumpaan dengan alam, sesama dan dirinya sendiri.

3.Dicintai: "Amanda". 
Yesus dicintai Bapa dan dinyatakan di depan umum: "Ini Anak yang Kukasihi kepadaNya Aku berkenan". Ia juga menjadi "public figure" yang dicintai banyak orang karena kebersahajaan sekaligus keistimewaannya: Semua orang rindu datang padaNya karena Ia mempunya cinta yang tulus dan selalu ada untuk memberi: yang dingin jadi hangat- yang buta jadi melihat- yang sakit jadi sembuh, yang lumpuh jadi brjalan dll. Ia menjadi "gift" yang di "giving"kan, hadiah yang dikasih/diberikan bagi banyak orang.
Siapkah kita juga "diberkati, dikagumi dan sekaliguas dicintaiNya?

"Cari kardus di Taman Sari - Hiduplah kudus setiap hari."


NB:

1. "Omnipotentem - Mahakuasa."
Inilah yang dihadirkan Yesus lewat doa dan karya nyatanya. Adapun selama sehari penuh, Yesus melaksanakan 4 misi utama dengan penuh kuasa, antara lain: mengajar (ay.21-22.27),mengusir roh jahat (ay.23-26.32.34.39), menyembuhkan yg sakit (ay.30-31.32-34) dan memberitakan Injil (ay.38-39).

Berbeda dengan para ahli Taurat, Yesus hadir sebagai orang yang "memiliki kuasa”, terlebih kegiatan mengajar Yesus kerap terkait dengan pengusiran roh jahat walaupun sebenarnya Yesus hadir terutama untuk mengajar dan mewartakan Kerajaan Allah dan pengusiran roh adalah kelanjutan dari benarnya warta itu, bukan sebaliknya.

Mengacu pada bacaan hari ini, roh jahat itu meneriakkan tiga kalimat, antara lain:

A.“Apa urusanmu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret!”:
Roh jahat itu mudah marah dan merasa terganggu/tersaingi oleh kehadiran Yesus.

B.“Apakah engkau datang untuk membinasakan kami?”:
Inilah sebuah kegusaran skaligus ketakutan yang jahat ketika berhadapan dengan yang baik, menjadi mudah curiga dan kuatir dengan yang lain.

C.“Yang Kudus dari Allah.”:
Roh jahat itu mengenal Yesus dan mau membuat Yesus mulai takabur/merasa besar dengan puja puji semu. Adapun gelar “Yang Kudus” itu dikenakan kepada Allah sendiri (Yes 40:25, 57:15) atau kepada imam yang dipilih Allah untuk berkurban bagi umat (Mzm 106:16) atau kepada nabi besar Elisya dalam 2Raj 4:9.

Disinilah, Yesus sungguh hadir dengan penuh kuasa menghadapi "kemarahan-kegusaran dan kepalsuan" roh jahat. Ia tetap tenang dan berkuasa atas roh jahat yang berusaha mengacaukan karya-karya baiknya. Bagimana dengan kita?

"Cari pita di pinggir desa - Allah kita itu mahakuasa."

Tuhan memberkati & Bunda merestui.


2."Deus semper maior - Allah selalu lebih besar."
Hal ini menjadi lebih jelas ketika kata dan warta kehadiran Yesus selalu membawa kuasa ilahi yang benar-benar menyebar dan menjalar kepada semua orang yang diajarNya. Dalam bahasa orang Solo, “Spirit Of Loving Others”, Ia menjadi pengajar yang penuh dengan kuasa ilahi karena 3 jalan cinta yang dimilikiNya, antara lain:

A."Wasis": Kecakapan. 
Ia benar-benar tahu tentang apa yang diajarkanNya dan sekaligus konsisten melaksanakan apa yang dikatakanNya.

B."Waras": Kesehatan. 
Ia mengajar dengan akal sehat, tidak penuh dengan sentimen dan argumen yang menjatuhkan pihak lain. Pengajarannya selalu sehat karena obyektif dan benar-benar berangkat dari pengalaman pribadiNya tentang Allah.

C."Wareg": Kepenuhan. 
Ia “kenyang”, penuh dengan pengalaman kasih Tuhan. Karena diriNya adalah kasih itu sendiri dan semua ajarannya adalah berdasar kasih yang tulus, maka orang banyak menjadi takjub mendengar pengajaranNya yang penuh kuasa. Bahkan Roh-roh jahat pun juga taat kepadaNya. Dengan kata lain: Ia tidak lapar akan pujian/penghargaan, sanjungan/bualan. Ia sudah kenyang dan selalu hendak membagikan rasa "wareg"-Nya itu kepada semua orang lain di sekitarNya.

"Ada pita di tengah pasar- Allah kita memang maha besar." 

Tuhan memberkati + Bunda merestui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar