Ads 468x60px

St. Alfonsus Maria de Liguori


HIK : HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI
HARAPAN IMAN KASIH.
DOA KEPADA SAKRAMEN MAHAKUDUS
St. Alfonsus Maria de Liguori
Tuhanku Yesus Kristus, kasih-Mu yang dahsyat kepada umat manusialah yang menahan-Mu siang malam dalam Sakramen ini, penuh belas kasihan dan cinta, menanti, mengundang, dan menyambut semua yang datang mengunjungi-Mu.
Aku percaya bahwa Engkau sungguh hadir dalam Sakramen dari altar. Dari kedalaman ketiadaanku, aku memuja-Mu; dan aku bersyukur kepada-Mu atas begitu banyak rahmat yang telah Kau anugerahkan kepadaku, teristimewa anugerah Diri-Mu sendiri dalam Sakramen ini, anugerah Bunda-Mu yang Tersuci sebagai perantaraku, dan anugerah hak istimewa mengunjungi-Mu dalam Gereja ini.
Sekarang aku berbicara kepada Hati-Mu yang Maharahim dengan tiga intensi: untuk mengucap syukur kepada-Mu atas anugerah agung Diri-Mu sendiri; untuk menyilih segala penghinaan yang ditimpakan para musuh ke atas-Mu dalam Sakramen ini; dan untuk menyembah-Mu di manapun kehadiran Ekaristi-Mu dicemarkan atau diabaikan.
Yesusku, aku mengasihi Engkau dengan segenap hatiku. Aku sungguh menyesal atas segala tidak tahu terima kasihku atas kebajikan-Mu yang tak terbatas. Sekarang aku berbulat hati, dengan pertolongan rahmat-Mu, untuk tidak pernah menghina Engkau lagi. Aku orang yang berdosa ini mempersembahkan kepada-Mu segenap keberadaanku, segenap kehendakku, kasihku, kerinduan dan segalanya yang aku miliki. Mulai saat ini, perbuatlah padaku dan pada segala milikku seperti yang Engkau kehendaki. Aku merindukan dan menginginkan hanya kasih-Mu, ketekunan hingga akhir, dan rahmat untuk senantiasa melakukan kehendak-Mu yang kudus.
Aku mohon pengantaraan-Mu bagi jiwa-jiwa di api penyucian, teristimewa jiwa-jiwa yang paling berdevosi kepada Sakramen Mahakudus
dan kepada BundaMu yang Tersuci. Aku mempersembahkan kepada-Mu pula, segenap pendosa yang malang. Dan yang terakhir, Juru Selamatku terkasih, aku mempersatukan segenap kerinduanku dengan kerinduan Hati-
Mu yang Maharahim. Bersatu dengan-Mu, aku persembahkan segala doaku kepada Bapa-Mu yang kekal, dan mohon kepada-Nya dalam Nama-Mu dan demi kasih-Nya kepada-Mu untuk mendengarkan dan menjawab doa doaku. Amin.
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

NB:
Alfonsus Maria de Liguori:
(Buku “XXI – INTERUPSI”, RJK, KANISIUS).
Prolog
Saya mempunyai seorang sahabat muda dari tanah Jawa, yang kini bekerja di Thailand. Ia tinggal dekat MBK Centre, setiap hari ia menjadi seorang supir tuk tuk, kendaraan khas di kota Bangkok, sejenis bajaj. Namanya Poniman; bisa berarti Pokoknya Ingin Beriman.
Di sinilah, saya mengangkat seorang beriman
bernama Alfonsus Maria de Liguori. Ia adalah seorang uskup, doktor Gereja, dan juga sekaligus pendiri Kongregasi Redemptorist. (CSsR; Redemptoris artinya Sang Penebus). Dengan segala usaha karya dan pelbagai bukunya, dia sungguh ingin menampilkan dan sekaligus mewartakan iman: pokoknya ingin beriman. Dia juga berani meninggalkan karirnya sebagai pengacara demi Tuhannya. Inilah juga yang menjadi harapan Gereja bahwa setiap orang juga mempunyai keinginan untuk “pokoknya semakin ingin beriman”, bukan?
A.
Sebuah Sketsa Profil
“Glorificate et portate Deum in corpora vestro
Muliakanlah Tuhan serta bawalah Dia di dalam tubuhmu ...”
Alfonsus Liguori (27 September 1696 – 1 Agustus 1787) terlahir dengan nama Alphonsus Marie Antony John Cosmos Damien Michael Gaspard de Liguori pada tanggal 27 September 1696 di Marianella, dekat Naples, Italia.
Keluarga Alfonsus adalah keluarga bangsawan Katolik yang saleh. Ayahnya, Don Joseph de Ligouri, seorang laksamana militer Kerajaan Napoli dan ibunya, Donna Anna Cavalieri, mendidik Alfonsus dengan disiplin yang tinggi terutama dalam hal iman dan cara hidup Katolik. Alfonsus sendiri sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, sering pergi retret bersama ayahnya.
Orang tuanya juga mendidiknya ala militer. Dengan disiplin yang tinggi, seminggu sekali ia diwajibkan tidur di lantai tanpa alas. Hal ini membuatnya tidak manja dan terbiasa dengan pola hidup yang teratur. Dengan bakat dan
kemampuan yang luar biasa, Alfonsus belajar hukum pada usia tiga belas tahun dan memperoleh gelar doktor hukum dengan predikat magna cum laude, pada usia 16 tahun.
Pada awalnya, ia berpraktik menjadi pengacara yang cemerlang. Semua kasus yang ditanganinya pasti dimenangkannya. Sampai suatu ketika, akhirnya ia kalah dalam sebuah kasus. Ketika itulah, Alfonsus mengurung diri selama tiga hari di kamar, merenungkan kekalahannya. Kekalahan ini membuat batinnya tertekan. Akan tetapi, ternyata kekalahan ini malahan membuatnya lebih dekat dengan Tuhan.
Suatu ketika, saat mengunjungi orang sakit di rumah sakit, Alfonsus dua kali mendengar suara ajaib yang berkata, ”Tinggalkanlah dunia dan serahkanlah dirimu kepada-Ku.”
Lama-kelamaan, ia sadar bahwa itu adalah suara Tuhan. Pada akhirnya dengan kesadaran ini, ia memutuskan untuk menjadi seorang imam yang sepenuhnya mempersembahkan hidup bagi Tuhan. Lalu Alfonsus pergi ke Gereja Maria Bunda Penebus, berdoa di depan tabernakel dan semakin mantap untuk menjadi seorang imam.
Setelah belajar teologi, Alfonsus akhirnya ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 21 Desember 1726, dan berkarya di seluruh daerah Napoli.
Awal abad ke-18 merupakan masa kesombongan dalam berkhotbah di mana
banyak khotbah yang bertele-tele (buah dari masa Renaissance). Abad itu juga merupakan masa di mana banyak terjadi penyimpangan dalam pengakuan dosa (buah dari Jansenisme).
Dengan keprihatinannya terhadap imbas Renaissance dan Jansenisme, sebagai seorang imam muda, ia terus berkhotbah di seluruh Kerajaan Napoli, terutama di desa-desa dan daerah-daerah kumuh. Karyanya lumayan berhasil: banyak orang kembali mengaku dosa, banyak pendosa berat kembali kepada Sakramen Ekaristi yang menyembuhkan, banyak musuh-musuh berdamai, dan konflik keluarga juga bisa didamaikan.
Akan tetapi, Alfonsus merasa belum maksimal dan masih sangat prihatin dengan keadaan Gereja waktu itu.
Kebetulan, pada tahun 1729 ia menjadi imam kapelan di sebuah kolese yang khusus mendidik para calon imam yang akan dikirim ke China. Disanalah, ia berkenalan dengan Mgr. Thomas Falcoia, seorang pribadi yang memberi inspirasi dan dorongan kepadanya untuk mendirikan sebuah institut yang baru. Kepadanya, Mgr. Falcoia menceritakan tentang kelompok para suster binaannya di Scala yang menghayati cara hidup yang keras dalam doa dan mati raga.
Terdorong oleh inspirasi dan semangat yang diberikan oleh Mgr. Falcoia, ia kemudian mendirikan sebuah tarekat religius baru di Scala pada tanggal 9 Nopember 1732 dengan nama Sanctissimi Redemptoris (Sang Penebus, Congregation of the Most Holy Redeemer/Congregatio Sanctissimi Redemptoris, C.Ss.R atau CSSR).
Tarekat religius ini mengabdikan diri dalam bidang pewartaan Injil kepada orang-orang pedesaan. Tanpa kenal lelah, mereka berkhotbah di alun alun, mendengarkan pengakuan dosa dan memberikan bimbingan khusus kepada orang muda, keluarga dan anak-anak.
Sejak Mgr. Falcoia meninggal pada tahun 1743, Alfonsus memimpin kongregasi barunya ini. Dengan berbagai permasalahan internal ataupun eksternal, Alfonsus berusaha untuk
mendapat pengakuan raja, dan menjalankan tugas-tugas di seluruh Napoli dan Sicilia.
Setelah tahun 1752, ia mendedikasikan lebih banyak waktunya untuk menulis buku. Ia juga menulis lagu puji-pujian, bermain organ dan
melukis. St. Alfonsus menulis enam puluh buah buku, di antaranya buku buku bertema moral kristiani.
Pada Juni 1767, Alfonsus diserang penyakit radang sendi yang tak dapat disembuhkan dan menjadikannya lumpuh. Ia kehilangan pendengarannya serta nyaris buta. Ia juga harus mengalami berbagai kekecewaan dan pencobaan dari orang-orang dekatnya sendiri. Namun, Alfonsus memiliki devosi yang amat mendalam kepada Sakramen Mahakudus dan Santa Perawan Maria, seperti yang dapat kita ketahui melalui bukunya yang terkenal yang berjudul Kemuliaan Maria. Dia juga yang mulai mengenalkan “Tujuh Duka Santa Perawan Maria.”
Akhirnya Alfonsus meninggal dunia di Pagani, dekat Napoli, Italia pada tahun 1787 dalam usia 91 tahun. Alfonsus dibeatifikasi pada tahun 1816, dan dikanonisasi pada tahun 1839, serta dinyatakan sebagai Pujangga Gereja pada tahun 1871.
B.
Refleksi Teologis
Bu Muaral: Budayakan Muatan Moral
Consuetudinis vis magna est.
Pengaruh sebuah kebiasaan sungguh luar biasa.
Saya mengenal seorang ibu, berusia 70an tahun di daerah Utara Jakarta. Namanya, Bu Muaral. Dia bersama beberapa relawan memimpin sekaligus mengurus kegiatan harian sebuah sekolah (semacam Taman Kanak-kanak), bagi anak-anak nelayan yang tidak mampu bersekolah karena terbentur masalah dana. Nama sekolahnya kerap disebut “Lumba-lumba”. Mungkin seperti ikan lumba-lumba yang kehadirannya menolong para awak kapal
atau nelayan yeng terjebak di laut, sekolah ini juga dihadirkan untuk menolong orang-orang yang kurang mampu di sekitarnya.
“Bu Muaral” sendiri bagi saya bisa berarti Budayakan Muatan Moral. Lewat kehadiran dan teladan karya Alfonsus Maria de Liguori, jelaslah bahwa ia juga ingin membudayakan muatan moral. Dengan kata lain, moral itu tidak terlepas dari hidup kita sehari-hari, juga tentunya dari hidup iman kristiani kita, bukan?
Sebuah kisah, pada tahun 1762, di usia 66 tahun, Alfonsus dipilih menjadi Uskup Agata dei Goti oleh Paus Klemens XIII. Agata merupakan
keuskupan kecil, dengan jumlah 30.000 jiwa, dengan 17 rumah biara dan 400 pastor. Di keuskupannya ini, terdapat banyak keluhan terhadap moralitas para imam yang merayakan misa sedemikian terburu-buru sehingga merusak makna ekaristi.
Sebagai uskup, Alfonsus berusaha membarui moralitas dan cara hidup para imamnya di keuskupan tersebut. Di sinilah, Alfonsus pernah
menulis sebuah risalah: Pastor di altar, kata Santo Siprianus, “mewakili Yesus Kristus”. Akan tetapi, siapa yang diwakili para pastor saat ini? Mereka hanya mewakili mata pencaharian mereka untuk memperoleh uang.
Di keuskupan inilah, ia mulai membenahi moralitas para imamnya. Ia juga mulai menganjurkan dua hal bagi para imamnya: kesederhanaan dalam berkhotbah serta kemurahan hati dalam pengakuan dosa. Dia juga mengajar dengan menulis banyak buku bertema moral.
Edisi pertama Teologi Moral Alfonsus sendiri diterbitkan di Napoli pada tahun 1748. Edisi kedua, yang merupakan karyanya yang jelas dan lengkap diterbitkan pada tahun 1753-1755.
Tujuh edisi berikutnya adalah autobiografi kehidupannya. Tulisan-tulisannya ini sangat membantu para imam dalam bidang pelayanan sakramen tobat. Ia juga tetap menganjurkan dua hal pokok bagi para imamnya: kesederhanaan dalam berkhotbah serta kemurahan hati dalam pengakuan dosa. Oleh
sebab itulah, sekarang Alfonsus diangkat sebagai pelindung para konfesor (imam yang memberikan sakramen tobat) dan para moralis karena sikapnya yang begitu menghargai sakramen tobat dan tulisan-tulisan moralnya yang begitu mendalam.
Seorang imam dari Keuskupan Napoli, Pastor Mazzini mengatakan, “Jika saya Paus, saya akan mengkanonisasinya tanpa proses.” “Ia
dipenuhi dengan jalan yang sempurna, persepsi moralnya yang ilahi tentang cinta Tuhan di atas segala-galanya, dengan seluruh hati dan dengan segenap kekuatan sepertinya semua sudah dilihat dan seperti yang saya lihat, cinta kasih Tuhan memancar dalam setiap tindakan dan perkataan, dalam cara berbicara yang sangat berdevosi kepada Tuhan dan Bunda Maria, kontemplasinya yang mendalam, penghormatannya terhadap Sakramen Mahakudus dan akan kehadiran ilahi.”
C.
Epilog
Spe gaudentes, in tribulation patientes, oration instants
Bersukacitalah dalam pengharapan, bersabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa.”
“Bersama Tuhan, penebusan berlimpah.” Itulah kalimat singkat-padat yang pernah dikatakannya kepada para pengikutnya di CSsR.
Jelaslah, bahwa pelbagai keutamaan dan ciri khas kebajikannya merupakan tujuan iman yang murni. Pada setiap hal dalam seluruh waktu, ia bertindak untuk, dalam dan yang pasti bersama
nama Tuhan. Bukankah merupakan hal yang benar jika segala sesuatu itu dikerjakan bersama Tuhan, maka segala sesuatu itu – seberapa pun beratnya, akan terasa lebih indah dan lebih mudah? Alfonsus Maria de Liguori telah memberikan contohnya. Bagaimana dengan kita sendiri?
Totus tuus ego sum et omnia mea Tua sunt.
Accipio Te in me omnia.
Praebe mihi cor Tuum, Maria
Aku adalah milikmu dan segala milikku adalah milikmu.
Engkau kuterima dalam diriku seluruhnya.
Berikan aku hatimu, ya Maria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar