Ads 468x60px

Senin, 21 Mei 2018



HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Senin, 21 Mei 2018
Hari Biasa Pekan VII
Yakobus (3:13-18)
(Mzm 19:8.9.10.15)
Markus (9:14-29)
“Anima Christi - Jiwa Kristus.”
Inilah salah satu doa yang konon menjadi sebuah doa favorit St Ignatius Loyola dan kadang kita doakan setelah penerimaan komuni.
Seperti yang saya tulis dalam buku “HERSTORY” (RJK. Kanisius), doa yang membuat kita menghadirkan jiwa Kristus bisa berarti “Dikuatkan Oleh Allah,” karena bukankah pada kenyataannya, kita kerap merasa lemah: lemah iman, lemah semangat, lemah harapan dan lain sebagainya?
Walaupun kadang ada yang berkata, “Baik jika tanganmu kau lipat untuk berdoa, tetapi lebih baik lagi jika tanganmu kau buka untuk memberi,” doa tetap mendapatkan aktualitasnya karena doa mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mengusir dan mengalahkan roh jahat.
Bahkan ada jenis roh jahat tertentu, seperti yang merasuki seorang anak yang dikisahkan dalam Injil hari ini, yang hanya bisa diusir dengan doa (Mrk 9:29).
Dalam The Seven Different Types of Prayer, Soren Kiekegard bahkan mengatakan, “jika aku seorang ahli kejiwaan dan jika aku diijinkan untuk membuatkan resep bagi semua orang yang sakit di dunia, maka aku akan memberi resep mereka supaya mengusahakan keheningan dalam hidup mereka, dan keheningan itu bisa dicapai dalam hidup doa”.
St.Vincent Ferrer (1350 – 1419) juga pernah membuat sebuah perumpamaan: setiap burung melakukan empat hal dalam sehari: ia bersiul, terbang, lalu mandi dan makan.
Kita juga bisa belajar dari burung:
Pertama kali, pada pagi hari kita diajak ‘bersiul’ (berdoa/memuji Tuhan) sebelum ‘terbang’ meninggalkan rumah. Setelah terbang, kita diajak ‘mandi’: membersihkan diri dengan bertobat dan mengikuti misa. Terakhir, kita diajak untuk ‘makan’, caranya dengan berdoa lagi sebagai santapan rohani. Dengan kata lain; kita diajak membuka dan menutup hari dengan doa.
Jelaslah bahwa doa adalah intimitas cum Deo, relasi hangat dengan Allah, dengan tiga ciri khasnya, al:
1. Doa itu “berbuah” kebenaran.
Universitas Harvard mempunyai logo: “Veritas”: (Kebenaran, Truth). Menurut Rektor Harvard pertama, Henry Dunster, Veritas bisa dikenali dan didapat lewat hidup doa karena setiap kali kita berdoa, jika doa ini sungguh tulus, akan terjadi suatu perasaaan dan makna baru di dalamnya. Itu akan memberi kita keberanian yang menyegarkan, dan kita akan memahaminya sebagai sebuah kebenaran.”
Ya, doa membuat hidup kita lebih benar-benar “BENAR”, yang dalam bahasa teologi disebut “mistik”(Yun:‘ustikos’, rahasia-misterion) yang datang sebagai karunia sekaligus juga karisma karena doa bukan sekedar fenomen psikologis/emosi belaka.
2. Doa itu “berpola” salib/kayu palang.
Relasi doa itu tidak hanya “aku dan Tuhan” (vertikal), tetapi juga “aku dan sesama” (horisontal) juga.
Artinya, pelbagai doa apapun, betapapun bagusnya kata dan indahnya nuansa, jika tidak bermuara dalam relasi dengan sesama, menjadi hambar dan mungkin malah kehilangan nilainya: Tak ada gunanya kita berdoa "ampunilah aku Tuhan" tapi kita tak mau mengampuni orang lain. Atau 'berilah kami rejeki", sementara kita sendiri tidak pernah mau memberi. Karena itu Matius menuliskan sebuah pesan Yesus: "jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu akan mengampuni kamu juga. Jika tidak, Bapamu juga tidak akan mengampunimu juga.”
Jadi doa mesti bermuara ke dalam hidup kita, mesti diwujudkan dalam hidup bersama orang lain. Sebaliknya, doa akan menjadi penuh makna, jika diangkat dari hidup nyata: "Jangan minta, jika tidak pernah rela memberi!"
Itulah sebabnya, semakin kita berinteraksi dengan sesama, kita tak akan berdoa bertele-tele.
Doa akan mengangkat pengalaman hidup nyata dan sebaliknya, kita akan hidup lebih kaya makna dari inspirasi doa-doa kita.
3. Doa itu “bernada dasar” C/cinta.
Seperti cinta, doa adalah napas kehidupan umat beriman. Tanpa napas, kita tak mungkin terus hidup, bukan?
Maka semua usaha, pekerjaan, rencana dan perjuangan tanpa disertai doa yang berdasarkan cinta, tidak akan memiliki jiwa yang kuat.
Benarlah kalau orang mengatakan bahwa doa yang penuh cinta akan membersihkan hati dan membuat kita lebih berpeduli pada orang lain, bahkan orang yang membenci dan merusaka nama baik atau masa depan kita, karena doa juga terkait-erat dengan sensualitas (sensuum: indera).
Sepenggal contoh: St. Fransiskus Asisi berdoa sambil berjalan, bernyanyi, menari di tengah alam. Lewat pengalaman doanya yang “sensual”, ia merintis adanya doa “Jadikan Aku Pembawa Damai” dan tradisi “Goa Natal” untuk pertama kalinya.
Menurut Y. Hutchinson, “jika kita tak dapat berdoa baik, mungkin kita kurang “sensual”, karena bukankah buah doa adalah membuat indera kita lebih “sensual” (peka dan tajam merasakan) sehingga bisa lebih punya hati dan pikiran positif (positive vibration)?
Selamat berdoa, karena bukankah Yesus sendiri pernah berkata: “Omnis enim qui petit accipit, et qui quaerit invenit, et pulsanti aperietur, ‘Setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan (Luk 11:10).
“Masuk goa di Jayawijaya -
Rajin berdoa membuat iman smakin berjaya.”
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
Kutipan Teks Misa:
“Dalam rahim Maria, jiwa harus dilahirkan kembali seturut rupa Yesus Kristus.” (St. Maksimilianus Maria Kolbe)
Antifon Pembuka (Mzm 19:15)
Semoga Engkau berkenan akan ucapan mulutku, dan akan renungan hatiku di hadapan-Mu, ya Tuhan, gunung batu dan penebusku.
Doa Pembuka
Allah Bapa yang Mahabijaksana, ajarilah kami dengan hikmat-Mu agar dalam cara hidup kami bersama dengan orang lain tidak mementingkan diri sendiri, iri hati dan memegahkan diri. Sebaliknya, dengan penuh kasih kami menyatakan kebenaran yang berbuah dalam hidup rukun dan damai. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Orang yang bijak dan berbudi akan tampak dalam pola hidupnya yang baik dan lemah lembut. Sebaliknya, orang yang memiliki iri hati, egois dan sombong justru melawan kebenaran dan bisa menimbulkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Bacaan dari Surat Rasul Yakobus (3:13-18)
"Jika kalian puas dalam hati, janganlah membanggakan diri."
Saudara-saudara terkasih, siapakah di antara kalian yang bijak dan berbudi? Baiklah ia menyatakan perbuatannya dengan cara hidup yang baik dan lewat hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan. Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia dan dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas itu pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buahan yang baik; tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran itu ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = f, 2/4, PS 853
Ref. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah Roh dan kehidupan.
Ayat. (Mzm 19:8.9.10.15)
1. Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
2. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.
3. Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selama-lamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.
4. Mudah-mudahan Engkau sudi mendengarkan ucapan mulutku, dan berkenan akan renungan hatiku, ya Tuhan, Gunung Batu dan Penebusku!
Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, allleluya. Alleluya, alleluya.
Setelah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2Tim 1:10b)
Yesus Kristus, Penebus kita, telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.
Ketidakpercayaan para rasul membuat mereka tidak mampu mengusir roh jahat dalam diri seorang anak. Yesus geram akan ketidakpercayaan mereka ini. Akibatnya, para rasul menjadi jauh dari Allah. Namun, melalui doa dan puasa, relasi dengan Allah bisa dipulihkan.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (9:14-29)
"Aku percaya, ya Tuhan! Tolonglah aku yang kurang percaya ini."
Pada suatu hari Yesus bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, turun dari gunung, lalu kembali pada murid-murid lain. Mereka melihat orang banyak mengerumuni para murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka. Ketika melihat Yesus, orang banyak itu tercengang-cengang semua, dan bergegas menyambut Dia. Yesus lalu bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Kata seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang, anakku dibantingnya ke tanah. Lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan, dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah minta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Maka kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?” Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Lalu mereka membawanya kepada Yesus. Dan ketika roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya; dan anak itu terpelanting di tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Kemudian Yesus bertanya kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya! Seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api atau pun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu, jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu, ‘jika Engkau dapat?’ Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya! Tolonglah aku yang kurang percaya ini!” Ketika melihat makin banyak orang yang datang berkerumun, Yesus menegur roh jahat itu dengan keras, kata-Nya, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau: Keluarlah dari anak ini, dan jangan memasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncangkan anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang mengatakan, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangannya dan membangunkannya, lalu ia bangkit berdiri. Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab Yesus, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
Renungan
Doa orang benar itu sungguh besar kuasanya. Doa yang benar itu disertai sikap hati yang murni, pendamai, peramah, penuh belas kasih dan cinta damai. Yesus menyadarkan para murid untuk menyembuhkan penyakit dengan kekuatan doa. Artinya, para murid harus tetap mengandalkan kekuatan Allah. Allah menjadi dasar dan sumber kekuatan hidup kita. Sedangkan sikap egois, iri, dengki, dan sombong akan menghalangi doa. Mari kita terus berdoa agar Allah memurnikan hidup kita, terlebih agar kita makin bertumbuh dalam hidup doa, dan menghadapi si kuasa jahat dengan kuasa doa.
Doa Malam
Allah Bapa Mahakudus, singkirkanlah segala kuasa kejahatan dari dunia ini dan nyalakanlah api daya kehidupan yang telah disulut oleh Yesus Putra-Mu demi keselamatan semua orang. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
===
Berdamailah dengan dirimu sendiri dulu, kemudian surga dan bumi akan damai bersamamu....
“Datanglah, oh Roh Kudus! Terangilah pikiranku untuk mengetahui perintahmu; kuatkan hatiku melawan jerat musuh; kobarkan keinginanku... Aku telah mendengar suaramu, dan aku tidak ingin mengeraskan diriku dan menolak, berkata ‘Nanti saja..., besok.’ Nunc coepi! Sekarang aku mulai! Kalau-kalau tidak ada hari esok bagiku.” — St. Josemaria Escriva
“Come, O Holy Spirit! Enlighten my mind to know your commands; strengthen my heart against the snares of the enemy; inflame my will… I have heard your voice, and I don’t want to harden myself and resist, saying ‘Later…, tomorrow.’ Nunc coepi! Now I begin! In case there is no tomorrow for me.” — St. Josemaria Escriva
----------------


HIK. HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI.
HARAPAN IMAN KASIH.
Senin 21 Mei 2018
PW.Santa Perawan Maria Bunda Gereja
(Mater Ecclesiae)
(Kej 3:9-15, 20) / (Kis 1:12-14)
(Mzm 87:1-2,3 dan 5,6-7 Refren : 87:3)
(Yoh 19:25-34)
"Compassionate motherhood - Keibuan yang rahim/berbelaskasih."
Inilah sebuah keutamaan ilahi yang diwartakan Tuhan bersama Bunda Maria, Sang Bunda Gereja, ketika kita dihadapkan pada aneka "HTAG"-"Hambatan Tantangan Ancaman Gangguan" dengan salib kehidupan kita masing masing.
Di tengah hiruk-pikuk "HTAG" dan salib kehidupan kita masing masing, Tuhan selalu memberikan "compasssionate"-nya bersama Bunda Maria asal kita tetap bertahan dalam segala perbuatan baik, bertahan untuk tetap menjadi baik kendati ada banyak yang tidak baik. Tuhan berjanji untuk selalu hadir dan memberikan jaminan keselamatan (tidak sehelai rambut kita akan hilang) bahkan berkenan memberikan IbuNYA untuk kita.
Bersama teladan Bunda Maria, Sang Bunda Gereja, adapun 3 hal dasar yang dibutuhkan supaya kita juga ber-"impact" dan ber-"effect", sebagai orang yang berdaya tahan dan ber-"compassionate motherhood", antara lain:
1. Caring.
Inilah sebuah tindakan kasih, penuh perHATIan dan cinta kasih. Adapun dalam bahasa Yunani, ada 3 arti "caring" yang penuh kasih: Eros-Filia dan Agape, dan kita diajak "next level", naik tingkat dengan mempunyai "caring" yang ber-"agape", sebuah cinta tak bersyarat, unconditional love dan terarah kepada Tuhan.
2. Bearing.
Inilah sebuah tindakan nyata yang mau saling menanggung. Inilah sebuah dasar solidaritas ketika kita peka pada orang yang berbeban dan tergerak/bergerak untuk meringankannya karna benarlah kita memberi bukan karna kita sudah kaya tapi karna kita tahu apa rasanya saat kita tidak punya.
3. Sharing.
Inilah yang menjasi dasar untuk berbagi "HIK ": Harapan-Iman dan Kasih. Paus Fransiskus sendiri mengatakan: "Pergilah dan berbagilah sampai ke pinggiran2 (entah secara geografis, piskologis, sosiologis)".
Dengan kata lain:
Kita diajak berbagi berkat kepada yang terpinggirkan, seperti single parent, anak jalanan, korban hiv/narkoba, orang miskin, gelandangan, narapidana, orang sakit dll.
Inilah sebuah usaha "AI", "Apreciative Inquiry", ketika kita belajar untuk hidup dalam suasana saling berbagi penghargaan positif karna sama2 memiliki sebuah "dream dan design" tentang langit dan bumi baru yang lebih baik.
"Burung tekukur di Taman Ria - Kita bersyukur punya Bunda Maria."
Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)
NB:
PERINGATAN WAJIB SANTA PERAWAN MARIA BUNDA GEREJA 21 Mei 2018
Pada tanggal 11 Februari 2018 bertepatan dengan peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes, Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tertib Sakramen mengeluarkan dekrit tentang perayaan Santa Perawan Maria Bunda Gereja dalam kalender liturgi Gereja : Perayaan Santa Perawan Maria Bunda Gereja ditingkatkan menjadi peringatan wajib dan dirayakan pada hari Senin sesudah Hari Raya Pentakosta (untuk tahun 2018 ini, jatuh pada tanggal 21 Mei).
Barangkali banyak umat Katolik belum mengetahui bahwa hari Senin sesudah Minggu Pantekosta adalah peringatan Perawan Maria sebagai Bunda Gereja. Hal ini wajar karena hari ini adalah kali pertama Perawan Maria diperingati sbg Bunda Gereja.
Dalam Konsili Vatikan Kedua, Paus Paulus VI secara resmi menganugerahkan gelar 'Bunda Gereja' pada Santa Perawan Maria tapi tidak diperingati secara wajib. Baru pada tahun 11 Februari 2018, pada kesempatan 160 tahun penampakan Maria di Lourdes, Paus Fransiskus mengeluarkan dekrit yang menetapkan hari Senin sesudah Minggu Hari Raya Pentakosta sebagai peringatan wajib untuk menghormati Perawan Maria sebagi Bunda Gereja (Mariae Virginis, Ecclesiae Matris).
Dengan peringatan ini, Paus Fransiskus ingin mendorong pertumbuhan rasa keibuan Gereja dalam diri para pastor, kaum religious dan umat beriman, serta pertumbuhan rasa hormat yang sejati kepada Bunda Maria.
Gagasan tentang Maria sebagai Bunda Gereja berkaitan dengan fakta bahwa Maria adalah Bunda Yesus yang tubuhnya adalah Gereja dan dengan demikian hubungan dengan Maria sebagai Bunda Gereja mudah dipahami.
Bacaan I dari Kitab Kejadian mengingatkan kita tentang bagaimana dosa masuk ke dalam dunia melalui leluhur kita manusia pertama. Karena dosa mereka, Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus dan suatu rintangan ditempatkan antara manusia dan Allah. St. Maria berdiri sebagai sosok yang kontras dengan Adam dan Hawa dan karena itu sering dianggap sebagai Hawa baru, sebagai wanita yang membawa ke dalam dunia, Dia yang membaharui kehidupan kekal kepada kita.
Dalam bacaan Injil, Yohanes menampilkan adegan menyedihkan di Kalvari dimana Bunda Maria menyaksikan kematian Puteranya. Bahkan di saat penderitaan dan kematian, Yesus ingat akan bundaNya dan menyerahkannya kepada pemeliharaan satu dari keduabelas muridNya dengan perintah bahwa Bunda Maria sekarang menjadi bundanya. Murid itu mewakili kita semua dan kita juga diberitahu bahwa Maria adalah ibu kita dan kita memandang dan menghadapnya untuk penghiburan, bimbingan dan dukungan seperti yang kita lakukan kepada wanita yang melahirkan kita.
“Bapa Surgawi, Engkau menawarkan kepada kami kasih karunia, belas kasihan, dan pengampunan yang berlimpah melalui PutraMu, Tuhan kami Yesus Kristus. Tolonglah kami menjalani kehidupan yang dipenuhi rahmat seperti yang dilakukan St. Maria dengan mempercayai janji-janjiMu dan dengan menjawab "ya" tanpa pengecualian pada kehendak dan rencanaMu untuk hidup kami."
A.
BACAAN PERTAMA
Pilihan 1
Bunda Semua Yang Hidup
Bacaan dari Kitab Kejadian (Kej 3:9-15, 20)
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
Pilihan 2
Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama dengan Maria, Bunda Yesus
Bacaan dari Kisah Para Rasul (Kis 1:12-14)
Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
B.
MAZMUR TANGGAPAN
(Mzm 87:1-2,3 dan 5,6-7 Refren : 87:3)
Refren : Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya:
TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub.
Refren : Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
Tetapi tentang Sion dikatakan: "Seorang demi seorang dilahirkan di dalamnya," dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.
Refren : Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: "Ini dilahirkan di sana."
Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai: "Segala mata airku ada di dalammu."
Refren : Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
C.
ALLELUIA
Refren : Alleluia, alleluia.
Wahai Perawan yang bergembira, engkau melahirkan Tuhan;
Wahai Bunda Gereja yang yang berbahagia,
Engkau menghangatkan hati kami dengan Roh Putra-Mu Yesus Kristus.
Refren : Alleluia, alleluia.
D.
BACAAN INJIL
Ibu, inilah, putramu!
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (Yoh 19:25-34)
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia -- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci --: "Aku haus!" Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib -- sebab Sabat itu adalah hari yang besar -- maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar