Ads 468x60px

From East to West: Spirit of Buddhist & Christian Monasticism.



HIK: HIDANGAN ISTIMEWA KRISTIANI
HARAPAN IMAN KASIH.
From East to West: Spirit of Buddhist & Christian Monasticism.
"TTM - TRIBUTE TO THOMAS MERTON"
(By His Holiness the Dalai Lama)
Hari ini saya sangat terharu dalam memorial ini, mengingat kembali perjalanan hidup Thomas Merton dan saya senang kita telah melakukannya.
Melihatnya sebagai seorang praktisi religius, khususnya seorang praktisi monastik, Thomas Merton sungguh seseorang yang dapat kita teladani.
Pada satu sisi pandang, dia seorang yang memiliki kemampuan mendengarkan yang sempurna -yaitu belajar, kontemplasi, mengajar, dan meditasi.
Ia juga memiliki kemampuan untuk belajar, untuk berdisiplin, dan memiliki hati yang baik.
Ia tidak hanya dapat melakukannya bagi dirinya sendiri, namun memiliki pandangan yang sangat, sangat luas.
Itu sebabnya, bagi saya, pada momen memperingati beliau, kita harus mencari untuk mengikuti contoh yang telah ia berikan kepada kita.
Dalam hal ini, walaupun babak kehidupannya telah berakhir, apa yang ia harapkan ia ingin lakukan, akan tetap untuk selamanya.
Bukan saja dalam teladan indahnya yang diikuti dalam biara ini, namun nampak bagi saya, jika kita semua meniru teladan ini, akan menjadi tersebar luas dan dapat menjadi kebaikan yang besar bagi dunia.
Dan bagi diri saya sendiri, saya selalu menganggap diri saya sebagai salah satu saudara Budha nya.
Jadi, sebagai sahabat dekat, atau sebagai saudaranya, saya selalu mengingatnya, dan selalu mengagumi kegiatannya dan cara hidupnya.
Sejak pertemuan dengan nya, dan sering kali ketika sedang mengexamin diri sendiri, saya benar-benar mengikuti beberapa teladannya.
Dalam beberapa kesempatan, seperti pada pertemuan ini, saya benar- benar merasa puas mengetahui bahwa saya telah berkontribusi untuk mengabulkan keinginannya.
Dan untuk seumur hidup saya, pengaruh dari pertemuan dengannya akan tinggal pada saya sampai nafas terakhir.
Saya sungguh ingin menyatakan bahwa saya mengatakan ini, dan akan tetap demikian sampai nafas terakhir saya.
Terima kasih.
Abbey of Gethsemani,
Kentucky
Juli 1996.
NB:
A.
DIA.LO.GUE:
Dalai Lama dan Thomas Merton.
Dalai Lama dan Thomas Merton bertemu pada bulan November 1968 di Dharamsala, India ketika Dalai Lama tinggal di pengasingan. Mereka sendiri mengalami tiga kali pertemuan panjang selama delapan hari Merton tinggal bersama Dalai Lama.
Setelah pertemuan terakhir mereka, Merton menulis: “Itu adalah sebuah momentum diskusi hangat dan ramah, dan pada akhirnya saya merasa bahwa kami telah menjadi teman yang sangat baik. Saya merasa sangat menghormati, mengagumi dan menyenanginya sebagai seorang pribadi dan percaya juga bahwa ada ikatan spiritual yang nyata di antara kami.”
Dalam auto-biografinya, "Freedom in Exile" , Dalai Lama juga menggambarkan kunjungan Merton sebagai salah satu "memori atau kenangan yang sangat membahagiakan saat ini" dan mengatakan bahwa Thomas Mertonlah yang "mengenalkannya kepada makna sebenarnya dari kata 'Kristen'."
Kemudian, dalam sebuah wawancara, ketika ditanya tiga orang paling berpengaruh dalam hidupnya, Dalai Lama menjawab: "Guru Dharma, Ketua Mao Tse-tung dan Thomas Merton". Bahkan, berkali-kali selama bertahun-tahun dalam ajaran publiknya, Dalai Lama senantias mengangkat figur Thomas Merton sebagai model dialog antar agama dan perdamaian dunia.
Di Biara Trappist "Our Lady of Gethsemane" pada tahun 1996, Dalai Lama mengatakan: “Saya selalu menganggap diri saya sebagai salah satu saudara Buddhis [Thomas Merton]. Jadi, saya selalu mengingatnya dan sekaligus mengagumi aktivitas dan gaya hidupnya. Sejak pertemuan saya dengannya, saya benar-benar mengikuti beberapa contoh hidup rohaninya, jadi sepanjang sisa hidup saya, dampak pertemuannya akan tetap ada sampai nafas terakhir saya.”
Dalam sebuah acara di New York Times beberapa waktu lalu, Dalai Lama kembali berbicara tentang pertemuannya pada tahun 1968 dengan Thomas Merton dan perlunya agama-agama untuk menyoroti "apa yang menyatukan kita."
Menariknya, Merton sering dikritik oleh beberapa umat Katolik karena tidak "cukup Katolik" menjelang akhir hayatnya (ketika dia melakukan perjalanan menjelajah Asia dalam sebuah perjalanan ke sebuah konferensi antar agama di Thailand, di mana dia secara tidak sengaja tersengat listrik). Merton juga dikritik karena dianggap tidak menginginkan untuk kembali menjalani kehidupan religius setelah perjalanan menjelajah Asia. Kritik ini sendiri muncul saat Merton dimasukkan dalam daftar tokoh Katolik di "Katekismus Katolik Amerika Serikat untuk Orang Dewasa pada tahun 2005".
Kedua kritik ini dijawab oleh jurnalnya yang tebal, tulisannya yang diterbitkan pada saat itu, surat-surat yang dia kirim ke biara selama perjalanannya, serta komentar kuat dari saudara-saudaranya di Biara Gethsemani dan pastinya sebuah komentar dari Dalai Lama, yang meminta agar Merton untuk tetap "sangat setia" kepada agama Kristen:
“Memang, setiap agama memiliki eksklusivitas sebagai bagian dari identitas intinya. Meski begitu, saya yakin ada potensi asli untuk saling mengerti. Sementara melestarikan iman terhadap tradisi seseorang, seseorang dapat menghormati, mengagumi dan menghargai tradisi lainnya."
"Saya mengingat pertemuan awal saya dengan Thomas Merton di India sesaat sebelum kematiannya yang terlalu cepat di tahun 1968. Merton mengatakan kepada saya bahwa dia benar-benar setia kepada agama Kristen, namun sekaligus dapat juga belajar secara mendalam dari agama-agama lain seperti Buddhisme. Hal yang sama juga berlaku bagi saya untuk terdorong mempelajari agama besar dunia lainnya."
"Poin utama dalam diskusi saya dengan Merton adalah bagaimana cinta kasih itu menjadi pesan kunci agama Kristen dan Budha. Dalam bacaan saya tentang Perjanjian Baru, saya menemukan diri saya terilhami oleh kasih sayang Yesus. Keajaiban 5 roti dan 2 ikannya, pelbagai kesembuhan dan aneka ria pengajarannya semua dimotivasi oleh keinginan untuk meringankan penderitaan manusia.
Lebih lanjut, saya sangat percaya pada kekuatan kontak pribadi untuk menjembatani perbedaan, jadi saya sudah lama tertarik pada dialog dengan orang-orang dengan pandangan religius lainnya. Fokus pada belas kasihan yang diamati Merton dan saya dalam dua agama kami mengejutkan saya sebagai sebuah benang pemersatu yang kuat di antara semua agama besar.”
Ambil contoh lain, Yudaisme, misalnya. Saya pertama kali mengunjungi sebuah sinagoga di Cochin, India, pada tahun 1965, dan telah bertemu dengan banyak rabi selama bertahun-tahun. Saya ingat dengan jelas rabi di Belanda yang memberi tahu saya tentang Holocaust dengan intensitas sedemikian sehingga kami sama-sama menangis. Dan saya telah belajar bagaimana Talmud dan Alkitab mengulangi tema belas kasih, seperti dalam bagian dalam Imamat yang menasihati, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
"Dalam perjumpaan saya dengan para ilmuwan Hindu di India, saya telah melihat betapa sentralitas kasih sayang tanpa pamrih dalam Hinduisme - seperti yang diungkapkan, misalnya, dalam Bhagavad Gita, yang memuji orang-orang yang "senang dengan kesejahteraan semua makhluk". Saya tergerak oleh cara-cara nilai ini diungkapkan dalam kehidupan makhluk agung seperti Mahatma Gandhi, atau Baba Amte yang kurang dikenal, yang mendirikan sebuah koloni penderita kusta tidak jauh dari pemukiman Tibet di Negara Bagian Maharashtra di India. Di sana ia memberi makan dan melindungi orang kusta yang tidak dijauhi. Ketika saya menerima Hadiah Nobel Perdamaian saya, saya memberikan sumbangan ke koloninya."
"Belas kasih sama pentingnya dalam Islam - dan menyadari bahwa hal itu menjadi sangat penting di tahun-tahun sejak 11 September, terutama dalam menjawab mereka yang melukis Islam sebagai sebuah keyakinan militan. Pada peringatan pertama 9/11, saya berbicara di Katedral Nasional di Washington, memohon agar kita tidak membabi buta mengikuti jejak beberapa orang di media berita dan membiarkan tindakan kekerasan beberapa individu mendefinisikan keseluruhan agama."
"Mari saya ceritakan tentang Islam yang saya tahu. Tibet telah memiliki komunitas Islam selama 400 tahun, meskipun kontak terkaya saya dengan Islam telah berada di India, yang memiliki populasi Muslim terbesar kedua di dunia. Seorang imam di Ladakh pernah mengatakan kepada saya bahwa seorang Muslim sejati harus mencintai dan menghormati semua makhluk Allah. "
Dan menurut pemahaman saya, Islam mengabadikan kasih sayang sebagai prinsip spiritual inti, yang tercermin dalam nama Tuhan, "Yang Maha Pengasih dan Penyayang," yang muncul di awal hampir setiap bab Alquran. Menemukan kesamaan di antara agama dapat membantu kita menjembatani kesenjangan yang tidak perlu pada saat tindakan terpadu lebih penting daripada sebelumnya. Sebagai spesies, kita harus merangkul kesatuan manusia saat kita menghadapi isu global seperti pandemi, krisis ekonomi dan bencana ekologis. Pada skala itu, tanggapan kita harus sama seperti satu. Harmoni di antara agama-agama besar telah menjadi unsur penting koeksistensi damai di dunia kita. Dari perspektif ini, saling pengertian di antara tradisi-tradisi ini bukan semata-mata bisnis orang beragama - itu penting untuk kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan."
Akhir-akhir ini kita perlu menyoroti apa yang menyatukan kita. Di era di mana orang-orang di seluruh dunia merasa semakin terbelah oleh hal-hal seperti ras dan agama, kita dapat merasakan penghiburan dalam pengetahuan bahwa, baru-baru ini, Paus Fransiskus menilai Thomas Merton bersama Martin Luther King, Jr., Abraham Lincoln, dan Dorothy Day Sebagai orang Amerika yang paling dikagumi. Secara khusus, Paus Fransiskus merujuk pada Merton sebagai "seorang pria yang berdialog, promotor perdamaian antara masyarakat dan agama.
Hal ini terjadi setelah bertahun-tahun segelintir umat Katolik di Amerika Serikat mencoba mengecilkan pentingnya karya Merton sebagai tokoh pemahaman dialog antar agama.
Minat Merton terhadap agama-agama Timur khususnya membawanya ke Asia pada tahun 1968, di mana Merton dan Dalai Lama bertemu untuk diskusi tiga hari tentang agama dan spiritualitas di tanah pengasingan Dalai Lama di Dharamsala, India.
Jika momen itu bermakna bagi Merton , itu juga mungkin yang dirasakan oleh Dalai Lama sendiri yang waktu itu baru berusia 30-an (Merton sudah berusia 50-an tahun).
Dalai Lama merasakan hubungan spiritual dengan Merton dan kadang menggambarkannya hampir seperti ayah atau kakak laki-laki. Dia menggambarkan Merton sebagai yang memiliki dan mengenalkan saya pada arti sebenarnya dari kata 'Kristen'.
Meskipun Merton sendiri secara tragis tersengat listrik dan meninggal pada usia 53 tahun, dampak mendalam dari pertemuan ini terhadap Dalai Lama telah menumbuhkan harapan akan adanya lebih banyak lagi kasih sayang dan pengertian di seluruh agama selama dekade-dekade berikutnya.
Morgan C. Atkinson, seorang produser dan sutradara film dokumenter “The Many Storeys and Last Days of Thomas Merton”, yang menemui Dalai Lama menyatakan bahwa yang Dalai Lama ingin lakukan hanyalah membicarakan Thomas Merton: “Ini tidak terlalu mengejutkan karena kami mewawancarainya sebagai bagian dari sebuah film dokumenter tentang Merton. Meskipun demikian, pertemuan kami dijadwalkan lima menit tapi lima belas menit kemudian Dalai Lama masih berbicara dengan antusias tentang waktunya bersama Merton. Seolah-olah mereka telah berbicara kemarin daripada 45 tahun sebelumnya. Ini jelas merupakan persahabatan yang langgeng, seperti kata Dalai Lama: “Saya sendiri menganggapnya sebagai teman dekat, teman yang paling istimewa, saudara spiritual.”
Indahnya, Paus Fransiskus sendiri menempatkan Merton bersama Abraham Lincoln, Martin Luther King dan Dorothy Day sertamemuji keempatnya sebagai orang Amerika teladan yang paling dia kagumi. Dalam menggambarkan Merton, Paus Francis mengatakan “Dia adalah ... seorang pria dialog, promotor perdamaian antara masyarakat dan agama.”
Menurut Dalai Lama ketika mengenang waktu berjumpa Merton. Dia teringat kesan pertamanya. Dia mengagumi sabuk kulit lebar dan jubah Trappist yang dipakai Merton. Ia juga mengingat sambal tertawa lebar, “kepalanya cukup signifikan, sangat bersinar! Itu kesan yang sangat kuat.” Dalai Lama memang sering tertawa dalam menggambarkan waktu bersama Merton. Dengan nada yang lebih serius, dia mengamati bahwa Merton tampak menjadi seorang praktisi sejati dari iman Kristennya. Ia “membawa pesan Yesus 24 jam.”
Satu hal yang dicatat dan dihargai adalah bahwa Merton membuat “usaha serius untuk belajar dari berbagai tradisi, terutama Buddhisme ... Jadi, kali ini, momen ini sangat penting. Kontak dekat, dan kemudian, sebagai hasil hubungan yang lebih dekat, secara otomatis ada rasa saling menghormati. Seringkali ini digambarkan sebagai jembatan yang sangat, sangat kuat antara biarawan Katolik, tradisi Katolik dan tradisi Buddhis. “
Adapun percakapan dengan Dalai Lama ini dipimpin oleh Paul Pearson, Direktur Eksekutif Thomas Merton Center di Bellarmine University. Dr. Paul Pearson memberikan hadiah kenang-kenangan kepada Dalai Lama. Pada umumnya, Dalai Lama menerima banyak hadiah dalam perjalanannya dan biasanya menyerahkannya kepada seorang ajudan setelah dengan sopan memeriksanya secara singkat.
Tapi, satu hadiah Pearson ini diperlakukan dengan cara yang berbeda. Hadiah yang berupa foto Merton dan Dalai Lama yang diambil pada pertemuan mereka di tahun 1968, diperiksanya dengan seksama dan dipegangnya sendiri. Ya, Merton berada di puncaknya di usia 53, namun hanya beberapa minggu dari kematiannya dan Dalai Lama di usia 33 masih dalam perjalanannya yang luar biasa untuk menyebarkan pesan belas kasih. “Ini terlihat saya adalah anaknya,” kata Dalai Lama dengan sekali lagi tertawa lebar. Kemudian, dengan lebih serius, “Saya pikir memang secara spiritual dia lebih tua, dan saya lebih muda. Jadi secara spiritual saya berpikir seperti ini, ayah memang lebih berpengalaman, maka yang lebih muda, itu adalah anak laki-lakinya.”
Ketika waktu untuk berpamitan, Dalai Lama tampak enggan karena terbersit pikiran lain tentang hubungannya dengan Merton: “Saya selalu merasakan tanggung jawab dari apa yang dia harapkan dari saya sampai kematian juga menjemput saya. Ya, secara logis ada dua orang dengan konsep yang sangat mirip, sekarang seseorang telah berlalu dan hanya seorang lagi yang tersisa yang memiliki tanggung jawab lebih. Anda melihat satu orang melakukan usaha baik, itu bagus! Tapi kalau ada 10 orang yang melakukannya, tentu lebih baik! Jadi sekarang saatnya untuk maju. Lakukan sesuatu bersama yang lainnya.”
“Lakukan sesuatu”!
Sebuah nasihat yang perlu dipikirkan dan dilakukan, bukan?
B.
"Merton" : Transformasi Sang Pendo(s)a
“TM” alias Thomas Merton (31 Januari 1915 – 10 Desember 1968) adalah seorang rahib Trappist di "Abbey of Our Lady of Gethsemani", Kentucky Amerika dan pengarang buku buku rohani, pakar spiritual, penyair dan sekaligus aktivis sosial yang dilahirkan di Prades, tepatnya di département Pyrénées-Orientales, sebuah kota kecil di Perancis, pada tanggal 31 Januari 1915.
Ibunya, Ruth Jenkins Merton, adalah seorang wanita Amerika yang berbakat seni, penari, penulis puisi dan kronik hidup. Ayahnya, Owen Merton, adalah seorang pria Selandia baru yang berprofesi sebagai pelukis.
Ketika berumur satu tahun, orang tuanya pindah ke Amerika Serikat. Disanalah adiknya lahir dengan nama John Paul, empat tahun lebih muda dari dia. Ketika Merton berumur enam tahun, ibunya meninggal akibat penyakit kanker.
Setelah ibundanya meninggal, Merton ikut berpindah-pindah bersama ayahnya, karena itu sekolah dasarnya dilangsungkan di tiga negara: Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris. Ia sendiri melewati tahun-tahun awal hidupnya di bagian selatan Perancis, kemudian ia pergi ke Sekolah Oakham di Inggris dan ayahnya meninggal karena tumor otak ketika Merton berusia 16 tahun.
Merton lalu masuk di Universitas Cambridge dan menjalani hidup yang kacau, penuh dengan petualangan, foya-foya dan huru hara. Ia menjadi “sang pendosa” dan melulu asyik masyuk-khusyuk mencari kenikmatan duniawi, bahkan di tahun pertamanya di Universitas Cambridge, ia mendapatkan anak dari hubungan free-sex nya.
Akhirnya, Merton pindah ke Amerika Serikat dan tinggal bersama kakek-neneknya yang bekerja sebagai penerbit dan menyelesaikan pendidikannya di Columbia University, New York, jurusan Sastra Inggris.
Disanalah, ia berkenalan dengan sekelompok seniman dan penulis yang kelak menjadi sahabatnya seumur hidupnya dan mengajaknya ber-transformasi dari “sang pendosa” menuju ke “sang pendoa”. Selain sastra, ia berminat dalam bidang sosial dan filsafat, termasuk filsafat mistik timur. Ia juga sangat aktif melibatkan diri dalam kegiatan kampus. Ia banyak menulis dalam hampir semua majalah kampus. Ia berambisi menjadi seorang penyair, penulis dan kritikus terkenal.
Jiwa sosial Merton tumbuh ketika ia mulai mengenal kristianitas. Merton sendiri dibaptis dan menjadi pemeluk agama Katolik pada awal usia 20-an tahun ketika ia sedang menyusun tesis masternya tentang William Blake.
Meskipun hidup masa muda Merton dapat dikatakan”kafir”, namun pada inti batinnya ia merupakan seorang religius, dalam arti: selalu memiliki rasa kagum dan haus, yang tak pernah terpuaskan, akan suatu realitas tertinggi.
Kehausan akan realitas tertinggi tersebut sedikit terpenuhi setelah ia membaca buku ”The Medieval Philosophy” karangan Etiene Gilson. Merton mengatakan bahwa dengan membaca buku itu, inteleknya yang selama itu mencari arti Allah, benar-benar “melek” dan terpuaskan, sehingga ia mengalami perubahan radikal dari seorang”ateis”menjadi seorang yang “mistis”, membuka diri kepada pengalaman religius yang otentik.
Setelah bertobat, ia rajin melakukan praktek keagamaan: setiap hari menyambut komuni, seminggu sekali mengaku dosa,berdoa jalan salib, membaca bacaan rohani, antara lain karya-karya St.Yohanes dari Salib, St. Agustinus dan lain-lain.
Beberapa figur yang berpengaruh dalam membentuk dan membangun kepribadian Merton adalah Mark Van Doren, Daniel Walsh dan William Blake.
Mark Van Doren adalah seorang pujangga pemenang hadiah Pulitzer, menjadi model keunggulan mengajar, kefasihan sastra dan etika pribadi serta pengganti ayah bagi Merton. Sementara Daniel Walsh adalah seorang filsuf yang amat memahami Merton dan yang memperkenalkannya kepada kehidupan Trappist di Pertapaan Gethsemani. Pribadi lain yang juga amat berpengaruh terhadap kepribadian Merton adalah William Blake, yang kemudian hari akan memiliki pengaruh sangat banyak terhadap pemikiran-pemikiran dan tulisannya.
Merton sendiri pernah berkarya di Friendship House dan mulai memikirkan secara serius untuk menjadi imam. Ia mengajukan permohonan ke Ordo Fransiskan dan diterima. Tetapi beberapa bulan sebelum masuk novisiat ia dihantui oleh rasa tidak pantas, mengingat masa lalunya.
Kemudian, ia menjelaskan keraguannya kepada pemimpin Ordo Fransiskan dan ia dinasehati untuk menarik diri selama waktu tak terbatas, apalagi mengingat bahwa belum ada dua tahun sejak dia menjadi Katolik. Merton mengalami frustasi yang hebat namun menerima keputusan itu dengan tabah. Ia masuk Ordo Ketiga Fransiskan, karena ia berpikir sekurang-kurangnya dalam Ordo Ketiga ia masih kesempatan untuk menjadi suci sembari mengajar di Kolese St. Bonaventure, di Olean, New York
Pada liburan Paska, ia mengadakan retret/khalwat di Biara Trappist, Gethsemani, dekat Bardstown, Kentucky, dan merasa jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cara hidup Trappist yang keras. Ia melihat dalam cara hidup tersebut cita-cita hidupnya sendiri yang selalu ia cari.
10 Desember 1948, ia masuk ke pertapaan Trappist Gethsemani di Louisville, Kentucky. Disana, Merton menjalani kehidupan doa dan kerja dalam keheningan sebagai seorang rahib Trappist, sementara buah-buah pemikiran dan permenungannya ia tuangkan ke dalam tulisan-tulisannya.
Sebelum kaul kekalnya, ia tergoda untuk meninggalkan biaranya dan masuk biara Kartusian, untuk menghayati hidup eremit di sana. Tetapi hatinya tenang setelah membicarakannya dengan Abas dan Bapa pengakuannya. Tahun 1947, ia mengucapkan kaul kekal dan tahun 1949 menerima tahbisan imamat, meskipun sebelum tahbisan, godaan untuk memeluk eremit muncul kembali.
Setelah di tahbiskan, ia menjadi pembimbing para calon imam dalam biaranya sendiri di Biara Trappist, Gethsemani dari tahun 1951-1955. Dan tahun 1955-1965, ia bertugas sebagai pembimbing novis.
Waktu ia masih sebagai novis, dia disuruh menulis riwayat hidupnya, ”The Seven Storey Mountain” yang menjadi “best seller”. Adapun menurut pengakuan para pembacanya, mereka menemukan Tuhan kembali dan bertobat sesudah membaca buku ”The Seven Storey Mountain” itu.
Sementara itu Merton terus menulis dalam berbagai subyek, mulai dari hidup rohani, kesenian, sastra, sampai politik. Banyak orang yang membaca karya tulisnya, karena apa yang ditulisnya keluar dari hati dan penghayatan hidupnya.
Ya, pada tahun-tahun ia tinggal di Gethsemani, Merton berubah dari seorang biarawan muda yang sangat bersemangat dalam memeriksa hidup batinnya seperti yang digambarkan dalam buku otobiografinya yang paling terkenal, The Seven Storey Mountain, menjadi seorang penulis dan penyair yang kontemplatif yang menjadi terkenal karena dialognya dengan iman-iman lain dan sikapnya yang anti-kekerasan pada masa kerusuhan antar-ras dan Perang Vietnam pada tahun 1960-an.
Pada tahun 1965, setelah pergulatan selama lima belas tahun untuk meyakinkan komunitasnya bahwa panggilan hidup eremit adalah perkembangan wajar dan buah yang masak dari hidup seorang rahib trappist/cisterciensis, akhirnya ia mendapat ijin dari Abasnya untuk menjalani hidup eremit. Sebuah rumah di bangun khusus untuk itu, namun masih di dalam lingkungan biaranya.
Dengan menjalani hidup eremit, Merton semakin menjadi rahib trappist yang matang, manusiawi, dekat dengan manusia dan universal pandangannya. Hal ini nampak dari tulisan dan pengaruh tulisannya yang semakin luas dan mendalam. Pada tahun-tahun itu juga, ia sekaligus mengalami banyak sekali "pertikaian" dengan Abas/kepala biaranya karena ia dilarang keluar dari biara, mengimbangi reputasi internasionalnya dan korespondensinya yang sangat luas dengan banyak tokoh terkenal dari pelbagai bidang pada waktu itu,
Seorang kepala biara atau Abas yang baru memberikan kepadanya kebebasan untuk melakukan perjalanan ke Asia pada akhir 1968. Dalam perjalanan itu ia mengalami pertemuan yang tak terlupakan dengan Dalai Lama di India, juga dengan Thich Nhat Hanh dan D. T. Suzuki. Ia juga berkunjung ke Polonnaruwa (yang saat itu dikenal sebagai Ceylon), dan mendapatkan suatu pengalaman keagamaan ketika ia menyaksikan patung-patung Sang Buddha yang sangat besar.
Pada tahun 1968 itu juga, Merton di undang oleh suatu lembaga”pertemuan para rahib Asia” di Bangkok, untuk memberikan ceramah dalam pertemuan itu. Ia bermaksud beberapa bulan tinggal di Asia, dangan tujuan untuk memperdalam penghayatan kerahibannya dan berdialog dengan para rahib timur. Dia juga punya rencana untuk berkunjung ke pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah. Ada spekulasi bahwa Merton ingin menetap di Asia sebagai seorang pertapa.
Akan tetapi harapan itu tak dapat di penuhi karena di Bangkok, Thomas Merton, sang “rahib” ini-pun “raib”. Ia meninggal dunia di usia 53 tahun pada tanggal 10 Desember 1968, akibat suatu kecelakaan, terkena arus listrik dari sebuah kipas angin.
Jenazahnya diterbangkan ke Gethsemani dan di sana ia dikebumikan. Sejak kematiannya, pengaruhnya terus berkembang, dan ia dianggap oleh banyak orang sebagai mistikus Amerika pada abad ke-20.
Selama hidupnya, Merton menulis lebih dari 50an buku, 2000 puisi, dan tidak terhitung jumlahnya esai, tinjauan, dan ceramah yang telah direkam dan diterbitkan dimana Merton sendiri melarang buku-bukunya diterbitkan sebelum lewat masa 25 tahun sesudah kematiannya.
Sebagai penghargaan terhadap hubungannya yang erat dengan Universitas Bellarmine, arsip-arsip Merton disimpan di tempat penyimpanan resmi, yaitu "Thomas Merton Center" di kampus Bellarmine di Louisville, Kentucky. Ada juga “Penghargaan Thomas Merton” yakni sebuah hadiah perdamaian, yang telah dianugerahkan sejak 1972 oleh "Pusat Thomas Merton untuk Perdamaian dan Keadilan Sosial" ("Thomas Merton Center for Peace and Social Justice") di Pittsburgh, Pennsylvania, AS.
Pustakaloka:
• A Man in the Divided Sea, 1946
• The Seven Storey Mountain, 1948 (ISBN 0-15-601086-0)
• The Merton Annual, Fons Vitae Press
• Merton and Hesychasm-The Prayer of the Heart, Fons Vitae Press
• Merton and Sufism: The Untold Story, Fons Vitae Press
• Merton and Judaism - Holiness in Words, Fons Vitae Press
• Waters of Siloe, 1949 (ISBN 0-15-694954-7)
• Seeds of Contemplation, 1949 (ISBN 0-313-20756-9)
• The Ascent to Truth, 1951 (ISBN 0-86012-024-4)
• Bread in the Wilderness, 1953
• The Last of the Fathers, 1954
• The Living Bread, 1956
• No Man is an Island, 1955
• The Silent Life, 1957
• Thoughts in Solitude, 1958
• The Secular Journal of Thomas Merton, 1959
• Disputed Questions, 1960
• The Behavior of Titans, 1961
• The New Man, 1961 (ISBN 0-374-51444-5)
• New Seeds of Contemplation, 1962 (ISBN 0-8112-0099-X)
• Emblems of a Season of Fury, 1963
• Life and Holiness, 1963
• Seeds of Destruction, 1965
• Conjectures of a Guilty Bystander, 1966 (ISBN 0-385-01018-4)
• Raids on the Unspeakable, 1966
• Mystics and Zen Masters, 1967
• Cables to the Ace, 1968
• Faith and Violence, 1968
• My Argument with the Gestapo, 1969
• The Climate of Monastic Prayer, 1969
• Contemplation in a World of Action, 1971
• The Asian Journal of Thomas Merton, 1973
• Alaskan Journal of Thomas Merton, 1988
• The Intimate Merton: His Life from His Journals, 1999
• Peace in the Post-Christian Era, 2004
C.
TUJUH BENTUK KEBEBASAN ALA MERTON UNTUK MENUJU KEBEBASAN SEJATI
Basil Pennington, OCSO membagikan pengalaman kedekatannya dan pengenalannya akan Merton secara pribadi dan sebagai seorang saudara seperjalanan dalam hidup monastiknya. Basil mengulas seluruh rangkaian perjalanan hidup Merton secara kronologis dan beberapa tahap perkembangan hidup Merton yang telah dituliskan dan yang telah dibagikan ke dalam beberapa buku. Beberapa poin yang dibahas oleh Romo Basil dalam esai ini yaitu, tentang pencarian Merton akan kebebasan yang sejati; Free by Nature, Freedom of Faith, Freedom of Monasticism, Free to be the World, A Life Free from Care, Final Integration, Full Freedom of the Son of God.
Pemahaman Merton akan dirinya dan akan misteri kediriannya yang sejati telah ditemukannya melalui dan dalam keheningan. Dalam keheningan itu pulalah dia menemukan jati dirinya yang sebenarnya yang tak terjelaskan dan yang melampaui kata-kata, karena jati dirinya yang sejati memang benar-benar khusus dan unik.
Merton adalah seorang pribadi yang khusus dan unik. Keunikannya itu ditampakkannya dalam upayanya untuk menjadi dirinya sendiri. Kekhasan lain yang dimiliki oleh Merton yaitu bahwa hampir seluruh pembentukan kehidupan rohani pribadinya dimulainya dari konsep pemikirannya. Ia adalah manusia yang seutuhnya bebas (freedom), kebebasan ini pula yang membuat dirinya tidak melekatkan dirinya pada ke-aku-an yang secara humanis masih ada dalam setiap pribadi manusia.
Pengalaman awal hidupnya dalam memasuki keheningan telah menghantarkannya pada penemuan jati dirinya dalam Allah dan keberadaannya tidaklah membuat dirinya berbeda dan menjauhkannya akan tanggung jawabnya terhadap keselamatan jiwa orang-orang yang berada di dunia luar.
1.
Kebebasan Alamiah
Kematian-kematian menjadi bagian dalam kehidupan Thomas Merton. Ibunya, Ruth Jenkins, menderita kanker perut dan wafat ketika Merton berusia enam tahun. Ayahnya, Owen Merton, berpulang ketika Merton berusia enam belas tahun, setelah cukup lama bergulat dengan kanker otak yang membuatnya tidak lagi mampu berbicara. Adiknya, John Paul, meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang pada 1943, dua tahun setelah Merton masuk ke Pertapaan Our Lady of Gethsemani, Kentucky. Selama 53 tahun ia hidup, ada 65 juta orang yang mati terbunuh dalam peperangan. Itu berarti bahwa pada periode kehidupannya, rata-rata lebih dari sejuta jiwa korban per tahun.
Kematian ayahnya pada tahun 1931, membuat luka yang begitu dalam baginya. Dalam kedukaannya, ia menyadari bahwa ayahnya yang telah pergi tetap menyertainya. Kehidupan dan kematian ayah Merton turut menghiasi seluruh perjalanan rohaninya. Rentetan peristiwa kematian yang pernah ia saksikan dan ia alami membuatnya masuk ke dalam sebuah misteri kebebasan manusia dari yang natural (alami). Merton merasakan bahwa dalam menghadapi setiap peristiwa kematian, ia merasa dituntun oleh daya kekuatan misterius. Ia diajak keluar dari dirinya, dibimbing melampaui perasaan marah dan berontak yang bergejolak dalam hatinya, suatu protes atas kematian orang tuanya. Ia merasakan daya kekuatan rohani yang membuatnya dapat melihat keluhuran nilai atas setiap peristiwa dalam hidupnya.
2.
Kebebasan Iman
Dalam tulisannya yang berjudul Entering the Silence, Merton bercerita bahwa minatnya masuk biara sebenarnya adalah untuk lari meninggalkan segala permasalahan dunia. Baginya, dunia modern telah rusak dan dipenuhi dengan berbagai tragedi.
Dalam perjalanan waktu, motivasinya pun diganti untuk mengabdi Tuhan dan menceburkan diri dalam cinta-Nya yang tak terbatas. Kedewasaan rohani Merton semakin matang seiring perjalanan hidupnya. Relasinya dengan Allah membawanya pada pemahaman baru akan kebebasan iman dan pengenalannya akan Allah.
Menurut Merton, kebebasan iman akan membawa setiap orang kepada kesadaran akan kasih Allah, dan dari kesadaran itu manusia diajak untuk memandang sesamanya sebagai Kristus sendiri dan mengasihinya tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu, karena setiap manusia adalah representasi Allah sendiri.
3.
Kebebasan Monastik
Perjalanan waktu memang turut mengubah Merton dalam melihat realitas dan paradigma dalam hidupnya. Merton mengekspresikan gerak batinnya melalui tulisan-tulisannya. Ketika ia bergulat dengan identitas dirinya secara tidak sadar ia telah melihat dirinya walaupun masih dalam keraguan.
Dalam situasi itulah, Allah bekerja dan menggerakkan hati Merton untuk mencari kebenaran dan kesejatian hidup yang akan memenuhi hasrat dan dahaganya. Ia menemukan hasrat dan panggilannya di Gethsemani, di sebuah Pertapaan Ordo Cisterciensis yang kerap disebut Trappist.
Dalam pertapaan itulah, dia menemukan bahwa kehidupan monastik menjadi jalan yang dapat mengantarnya untuk mencari Allah yang merupakan sang kebenaran sejati itu sendiri.
4.
Kebebasan dan Dunia
Kehidupan monastik yang telah dipeluk oleh Merton merupakan cita-cita awal yang ideal baginya untuk masuk dalam keheningan yang memisahkan dia dari dunia dan yang akan mengantarnya kepada sebuah kesatuan mesra dengan Allah.
Kesadaran awal itu memang sempat merasuk dalam benaknya, dia beranggapan semula bahwa pilihan hidup monastik telah membuatnya sungguh-sungguh teralienasi dari dunia. Konsep dan pemikiran Merton berubah drastis seiring perjalanan hidupnya dalam mengahayati panggilan monastik Trappist.
Panggilannya sebagai rahib menyadarkan dia bahwa dia tidaklah terpisah dari dunia. Dalam buah-buah kontemplasinya, dia terbangun dari ilusi suci yang semula sempat tersembunyi dalam benak dan pikirannya. Pilihan hidupnya sebagai rahib menyadarkannya bahwa dia menjadi jantung bagi gereja dan dunia. Dengan penuh kesadaran, dia mengungkapkan demikian; “Pilihanku menjadi seorang kontemplatif secara penuh memiliki konsekuensi untuk membagikannya kepada sesama dan dunia. Dengan demikian aku memberikan kesaksian akan keutamaan monastik”.
5.
Kebebasan Hidup
Momen perubahan cara pandang Merton terhadap hakikat panggilannya sebagai seorang rahib telah membuka cakrawalanya dalam melihat dan memaknai segala sesuatu dalam hidup. Merton mengatakan “Aku rasanya seperti terbangun dari mimpi bahwa aku terisolasi dalam suatu dunia yang khusus, dunia kesucian. Seluruh ilusi mengenai kesucian yang terasing itu merupakan suatu mimpi”.
Sebagai seorang Trappist, Merton dapat berbicara dan mewartakan kebenaran yang berasal dari buah-buah kontemplasinya. Sebagai seorang mistikus dalam abad modern, dia berpendapat bahwa seorang rahib lebih sebagai seseorang yang sungguh-sungguh melihat segala sesuatu seperti apa adanya. Merton melihat seluruh kehidupan berasal dari Allah, ditopang oleh Allah, dan akan kembali kepada Allah.
6.
Keutuhan Final
Merton melihat kehidupannya yang unik seperti apa adanya yang dia alami dan rasakan. Hal itu tidaklah jauh berbeda dengan setiap orang dalam memahami dan melihat kehidupannya. Dia menggambarkan peristiwa hidupnya sebagai sebuah momen kedekatan yang intim bersama Allah. Perjalanan ziarah yang dia lakukan untuk mendalami mistisisme Kristen dan pengalaman mistik dalam Zen telah mengantarnya kepada sebuah final integration.
Merton menulis bahwa dalam realita, ketika kita menguji tradisi-tradisi besar kontemplatif Timur dan Barat dengan lebih mendalam, di samping beberapa perbedaan yang kadangkala sangat radikal namun keduanya menyetujui bahwa melalui disiplin-disiplin spiritual seorang manusia dapat mengubah hidupnya secara radikal, mencapai sebuah makna hidup yang lebih mendalam, sebuah integrasi dan kepenuhan yang lebih sempurna, serta sebuah kebebasan roh yang lebih total. Pengenalannya akan Zen, membantu Merton untuk menghancurkan kedirian palsu (the false self) dan mengantarnya untuk menemukan kedirian yang sejati (the true self).
7.Kebebasan Penuh Anak Allah
Thomas Merton telah menyelesaikan seluruh perjalanan hidupnya menuju kebebasan yang penuh, kebebasan sejati yang telah ia capai bersama Kristus dalam menapakai jalan salib dan sengsara-Nya. Kini ia bersukacita bersama Kristus dalam kerajaan surga, bersatu dengan-Nya sebagai anak Allah. Merton telah meninggalkan banyak hal berguna bagi kita dalam zaman modern ini. Dia mengajarkan banyak hal dan membagikan buah-buah kontemplatif yang sangat berguna bagi manusia modern untuk mencapai kesempurnaan Kristiani dan mencapai kebebasan sejati sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian seluruh perjalan panggilan Merton telah membuktikan bahwa pengalaman mistik mampu mentransformasi dan melahirkan makna, visi, dan kedirian baru bagi manusia. Saat manusia mengalami kesatuan dengan Allah, saat itu pula ia menyadari sebuah kesatuan yang lebih utuh dan mendalam di antara dirinya, sesamanya, dan dunianya di dalam Dia.
D.
Relevansi dan Signifikansi Ajaran Thomas Merton
Di dalam praktek hidup sehari-hari, ajaran atau tulisan Thomas Merton sangat relevan untuk dijalani. Thomas Merton mengatakan, bahwa kesucian adalah proses dimana seseorang berjuang, jatuh, gagal, dan sering tak pernah meraihnya secara sempurna.
Kita dihadapkan pada realita hidup bersama, dalam keluarga, komunitas, berbangsa dan bernegara, yang pada waktunya akan terjadi konflik. Konflik yang melukai batin sangat berpengaruh dalam pola relasi, pekerjaan, dan kehidupan doa kita. Segala kelemahan-kelemahan diripun muncul ke permukaan: kemarahan, pembalasan, ketidak pedulian dll, yang sebenarnya kita sadari bahwa semua sikap seperti itu hanya membawa kita dalam keterpurukan.
Namun anehnya, kita justru cenderung mengikuti emosi yang tidak baik itu. Sebenarnya, kita bisa bangkit dan berdoa pada Tuhan, agar segala kecenderungan diri (kerapuhan) untuk berdosa disembuhkan.
Menurut Thomas Merton dalam arti kebebasan kodrati: manusia diberikan kebebasan oleh Allah untuk memilih kebaikan atau memilih melakukan dosa dan kejahatan. Dengan pertolongan rahmat Allah, manusia akan berkembang menuju arah kebaikan. Merton meyakini bahwa puncak kesatuan kita dengan Allah ialah ketika kita menyatukan semua bentuk kehidupan pada cinta sederhana.
Satu lagi aspek menarik dalam diri merton adalah, kesadaran yang amat tajam akan sebuah kebutuhan dalam spiritualitasnya, yakni kebutuhan untuk dibebaskan dari kejahatan dalam dirinya.
Ia telah mengalami sebuah kehancuran pada kehidupan masa remajanya. Merton menggambarkan perjalanan spiritual sebagai pendakian tujuh tingkat gunung penyucian jiwanya, yang dimulai dengan kebutuhannya untuk dibebaskan dari kesalahannya serta kebutuhan akan transformasi terus-menerus (pertobatan).
Dalam kehidupan sehari-hari, memang cukup sulit untuk bangkit dari kejatuhan (dosa) yang sama terus menerus. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa Tuhan itu Maha Rahim dan sungguh sangat mengerti dan menerima kita. Dia menginginkan kita untuk terus berjuang menerima rahmatNya setiap hari. Ya, kelemahan-kelemahan adalah anugerah yang perlu kita sadari, sebab kelemahan-kelemahan itulah yang membawa kita kedalam hidup doa yang tekun dan mendalam, hingga buah-buah relasi yang intim dengan Allah menjadikan semangat baru dalam bertransformasi diri.
Thomas Merton sendiri terkesan oleh kata-kata Kardinal Newman yang mengatakan: “Hidup itu berarti siap berubah dan menjadi sempurna berarti selalu siap berubah, dan seluruh kehidupan kita merupakan pelepasan dan penerimaan. Lepaskan yang lama dan terima yang baru dari Tuhan.”
E.
Merton’s Wisdom (PART I)
“The beginning of love is the will to let those we love be perfectly themselves, the resolution not to twist them to fit our own image. If in loving them we do not love what they are, but only their potential likeness to ourselves, then we do not love them: we only love the reflection of ourselves we find in them”
― Thomas Merton, No Man Is an Island
“The beginning of love is the will to let those we love be perfectly themselves, the resolution not to twist them to fit our own image.”
― Thomas Merton, The Way of Chuang Tzu
“Art enables us to find ourselves and lose ourselves at the same time.”
― Thomas Merton, No Man Is an Island
“My Lord God, I have no idea where I am going. I do not see the road ahead of me. I cannot know for certain where it will end. Nor do I really know myself, and the fact that I think that I am following your will does not mean that I am actually doing so. But I believe that the desire to please you does in fact please you. And I hope I have that desire in all that I am doing. I hope that I will never do anything apart from that desire. And I know that if I do this you will lead me by the right road though I may know nothing about it. Therefore will I trust you always though I may seem to be lost and in the shadow of death. I will not fear, for you are ever with me, and you will never leave me to face my perils alone.”
― Thomas Merton, Thoughts in Solitude
“Love is our true destiny. We do not find the meaning of life by ourselves alone - we find it with another.”
― Thomas Merton, Love and Living
“You do not need to know precisely what is happening, or exactly where it is all going. What you need is to recognize the possibilities and challenges offered by the present moment, and to embrace them with courage, faith and hope.”
― Thomas Merton
“If you want to identify me, ask me not where I live, or what I like to eat, or how I comb my hair, but ask me what I am living for, in detail, ask me what I think is keeping me from living fully for the thing I want to live for.”
― Thomas Merton
“To be grateful is to recognize the Love of God in everything He has given us - and He has given us everything. Every breath we draw is a gift of His love, every moment of existence is a grace, for it brings with it immense graces from Him.
Gratitude therefore takes nothing for granted, is never unresponsive, is constantly awakening to new wonder and to praise of the goodness of God. For the grateful person knows that God is good, not by hearsay but by experience. And that is what makes all the difference.”
― Thomas Merton
“Our job is to love others without stopping to inquire whether or not they are worthy. That is not our business and, in fact, it is nobody's business. What we are asked to do is to love, and this love itself will render both ourselves and our neighbors worthy.”
― Thomas Merton
“The more you try to avoid suffering, the more you suffer, because smaller and more insignificant things begin to torture you, in proportion to your fear of being hurt. The one who does most to avoid suffering is, in the end, the one who suffers most.”
― Thomas Merton, The Seven Storey Mountain
“Do not depend on the hope of results. You may have to face the fact that your work will be apparently worthless and even achieve no result at all, if not perhaps results opposite to what you expect. As you get used to this idea, you start more and more to concentrate not on the results, but on the value, the rightness, the truth of the work itself. You gradually struggle less and less for an idea and more and more for specific people. In the end, it is the reality of personal relationship that saves everything.”
― Thomas Merton
“Instead of hating the people you think are war-makers, hate the appetites and disorder in your own soul, which are the causes of war. If you love peace, then hate injustice, hate tyranny, hate greed - but hate these things in yourself, not in another.”
― Thomas Merton, New Seeds of Contemplation
“Finally I am coming to the conclusion that my highest ambition is to be what I already am. That I will never fulfill my obligation to surpass myself unless I first accept myself, and if I accept myself fully in the right way, I will already have surpassed myself.”
― Thomas Merton
“If a man is to live, he must be all alive, body, soul, mind, heart, spirit.”
― Thomas Merton, Thoughts in Solitude
“The beginning of love is to let those we love be perfectly themselves and not to twist them to fit our own image.”
― Thomas Merton
“Our idea of God tells us more about ourselves than about Him.”
― Thomas Merton
“Anxiety is the mark of spiritual insecurity.”
― Thomas Merton
“But there is greater comfort in the substance of silence than in the answer to a question.”
― Thomas Merton
“Love seeks one thing only: the good of the one loved. It leaves all the other secondary effects to take care of themselves. Love, therefore, is its own reward.”
― Thomas Merton
“Solitude is a way to defend the spirit against the murderous din of our materialism.”
― Thomas Merton
“Only the man who has had to face despair is really convinced that he needs mercy. Those who do not want mercy never seek it. It is better to find God on the threshold of despair than to risk our lives in a complacency that has never felt the need of forgiveness. A life that is without problems may literally be more hopeless than one that always verges on despair.”
― Thomas Merton, No Man Is an Island
“A man knows when he has found his vocation when he stops thinking about how to live and begins to live.”
― Thomas Merton
“To allow oneself to be carried away by a multitude of conflicting concerns, to surrender to too many demands, to commit oneself to too many projects, to want to help everyone in everything, is to succumb to the violence of our times.”
― Thomas Merton
“Life is this simple: we are living in a world that is absolutely transparent and the divine is shining through it all the time. This is not just a nice story or a fable, it is true. ”
― Thomas Merton
“Peace demands the most heroic labor and the most difficult sacrifice. It demands greater heroism than war. It demands greater fidelity to the truth and a much more perfect purity of conscience.”
― Thomas Merton
“Keeping a journal has taught me that there is not so much new in your life as you sometimes think. When you re-read your journal you find out that your latest discovery is something you already found out five years ago. Still, it is true that one penetrates deeper and deeper into the same ideas and the same experiences.”
― Thomas Merton, The Sign of Jonas
“Souls are like athletes, that need opponents worthy of them, if they are to be tried and extended and pushed to the full use of their powers, and rewarded according to their capacity.”
― Thomas Merton, The Seven Storey Mountain
“If you write for God you will reach many men and bring them joy. If you write for men--you may make some money and you may give someone a little joy and you may make a noise in the world, for a little while. If you write for yourself, you can read what you yourself have written and after ten minutes you will be so disgusted that you will wish that you were dead.”
― Thomas Merton, Seeds of Contemplation
“The man who fears to be alone will never be anything but lonely, no matter how much he may surround himself with people. But the man who learns, in solitude and recollection, to be at peace with his own loneliness, and to prefer its reality to the illusion of merely natural companionship, comes to know the invisible companionship of God. Such a one is alone with God in all places, and he alone truly enjoys the companionship of other men, because he loves them in God in Whom their presence is not tiresome, and because of Whom his own love for them can never know satiety.”
― Thomas Merton, No Man Is an Island
“Reason is in fact the path to faith, and faith takes over when reason can say no more.”
― Thomas Merton

Tidak ada komentar:

Posting Komentar