Ads 468x60px

Sabtu 23 Mrt 2013


Iluminata et Illuminatrix"
Prapaska V
Yeh 37:21-28; Yoh 11:45-56

“Iluminata et Illuminatrix – Cerah dan Mencerahkan.” Tuhan datang sebagai cahaya yang cerah dan mencerahkan karena Ia selalu sudi datang-mentahirkan dan memberkati kendati kita berdosa seperti yang saya tulis dalam buku “HERSTORY” (Kanisius). Ia juga mengadakan perjanjian damai: Ia menjadi Allah dan kita menjadi pilihanNya (bac 1). Dalam Yesus (bac Injil), perjanjian itu digenapi dan disempurnakan karena Ia menjadi cahaya yang cerah dan mencerahkan”, membuat semua menjadi baik.

De facto, ada "3 habitus dasar manusia" sehingga kita sulit belajar menjadi cahaya yang “cerah dan mencerahkan, al:

1. Menyebarkan kebencian:
Pasca Yesus membangkitkan Lazarus (Ibr: “pertolongan dr Allah”) di Betania (Ibr:”rumah kemiskinan”), ada segelintir orang yang kasak-kusuk menebar-sebarkan berita tentang Yesus. Mereka asyik “bicara tentang Yesus” tapi tak pernah “bicara dg Yesus”, sehingga kerap berita yang disebar-tebarkannya condong berlebih-negatif dan ”semper accusate- selalu menuduh”, apalagi ditambah idiom khas jurnalisme “bad news is a news”.

2. Merancang kejahatan:
Para imam dan ahli kitab suci/farisi berkumpul dalam Mahkamah Agama untuk ber-”konspirasi” dengan taktik-intrik yang licik dan penuh akal bulus. Alih-alih sebaga “pejabat agama” (“orang suci”), mereka malah munafik-tumpul/degil hatinya karena terkuasai iri-dengki dan keki karena merasa “tersaingi” oleh kiprah dan karya kehadiran Yesus.

3. Mengkambing-hitamkan orang lain:
Kayafas sebagai Imam Besar yang seharusnya menjadi teladan kebijaksanaan (“Filsuf”: Yun: “Philo-pecinta, Sophia- kebijaksanaan”) malahan tidak arifin dan arifat. Ia bermental “praktis dan utilitaris”: Dia korbankan nyawa satu orang demi “stabilitas+voluntas”-kemapanan dan kehendak pribadi: “Lebih berguna jika satu orang mati daripada seluruh bangsa binasa!”

Pastinya menjelang Pekan Suci ini, kita diajak masuk ke Yerusalem (“kota damai”) dengan hati yang bersih dari "3 habitus buruk" di atas. Biarlah kita dikuburkan bersamaNya sehingga kita juga layak bangkit bersamaNya karena bukankah benar bahwa mengikutiNya bukan langit biru yang dijanjikan, bukan juga bunga-bunga indah yang bertebaran, tapi jalan salib yang penuh lika liku, karena jalan itu pula yang dulu Dia pernah lewati?

“Makan jengkol di Jelambar - Jangann berhati dongkol tapi mari selalu bersabar.”


Tuhan memberkati+Bunda merestui.
Fiat Lux!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar