Ads 468x60px

Perayaan Ekaristi Minggu Hari Minggu Biasa

PENGANTAR

Ada dua pepatah paradoks yang kita kenal yaitu yang pertama “witing tresna jalaran saka kulina” sedangkan yang kedua “kebosanan berawal dari rutinitas”. Dari kedua pepatah itu muncul dua sikap kita yang berbeda terhadap Perayaan Ekaristi Minggu. Di satu sisi, Perayaan Ekaristi mingguan yang teratur akan membangun kecintaan dan kerinduan kita terhadap hubungan yang mesra dengan Tuhan. Dari sikap ini kita akan sungguh merasakan pentingnya Perayaan Ekaristi dalam mengisi hidup harian kita. Maka kalau kita tidak mengikuti Perayaan Ekaristi Mingguan rasanya ada sesuatu yang hilang dari diri kita untuk menjadi semangat dalam hidup harian, bahkan kadang muncul perasaan bersalah. 

Sebaliknya di sisi lain, rutinitas kita dalam mengikuti Perayaan Ekaristi Mingguan kalau tidak sampai pada “roh” nya akan muncul perasaan bosan dan jenuh. Dari sikap itu bisa muncul pertanyaan : “Apa gunanya kita harus pergi ke Gereja pada Hari Minggu?” Pertanyaan ini mulai banyak ditemukan di antara umat kita yang merasa hambar dalam mengikuti Perayaan Ekaristi Minggu. Orang sekarang terutama di kota-kota besar, cenderung cuek dan tidak peduli lagi dengan menghadiri Perayaan Ekaristi Minggu karena lebih mementingkan libur atau acaran lainnya di Hari Minggu. 

Dari keadaan di atas maka pentingnya suatu katekese umat untuk menangkap “roh” Ekaristi Mingguan yang nota bene sangat penting bagi perkembagan hidup rohani umat. Maka dari itu dalam makalah ini akan dipaparkan dasar Teologis, Liturgis dan pastoral dari Misa Hari Minggu lengkap dengan tata perayaan serta rubriknya untuk imam serta petugas dan sarana pendukungnya.

DASAR TEOLOGIS PERAYAAN EKARISTI MINGGU

Kristus Pemenang, bangkit pada hari Minggu Paska, pada hari Minggu ini Ia menampakan diri untuk pertama kalinya. Pada hari Minggu itu Kristus nampak juga kepada dua murid, yang karena rasa putus asa mau menjauh dari persekutuan para murid Yesus. Ia menerangkan kepada mereka arti dan maksud Kitab Suci, akhirnya Ia memperkenalkan diriNya kepada mereka dalam pemecahan roti. Pada hari Minggu berikutnya Kristus berdiri lagi di tengah-tengah para rasul. Dan rasanya, seperti dengan sengaja Kristus memilih irama mingguan untuk menampakan diri kepad para rasul, berbicara dan mengajajar mereka. Kedatangan Roh Kudus juga terjadi para hari Minggu. Kerygma pertama, yaitu pewartaan kabar gembira wafat dan kebangkitan Kristus di dunia luar, dilakukan juga pada hari Minggu. 
Dalam Konstitusi tentang Liturgi Konsili Vatikan II dikatakan : “Sejak itu tidap pernah lalui Greja berkumpul bersama untuk merayakan Misteri Paska dengan membaca apa yang terdapat dalam semua Kitab Suci mengenai Dia, dengan merayaan Ekaristi yang menghadirkan kemenangan dan kejayaanNya atas maut, serentak itu juga dengan bersyukur kepada Allah atas anugerah-anugerah yang tak terkatakan.” (SC art. 6).
Konsili Vatikan II mengungkapkan arti dan nilai hari Minggu bagi hidup Gereja. Sesuai dengan tradisi para rasul yang dimulai pada hari kebangkitan Krsitu, Gereja merayakan Misteri Paska pada setiap hari kedelapan, hari yang disebut Hari Tuhan, atau Hari Minggu. Pada hari tersebut kaum beriman harus datang berhimpun untuk mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta pada Perayaan Ekaristi, untuk memperingati sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucapkan syukur kepada Allah. Oleh karena itu Hari Minggu adalah hari raya tertua dan terpenting yang harus diperuntukkan bagi kebaktian umat beriman sedemikian rupa, sehingga menjadi hari gembira dan libur dari pekerjaan berat. 


DASAR LITURGIS DAN PASTORAL PERAYAAN EKARISTI MINGGU

RITUS PEMBUKA


1. PEMERCIKAN UMAT
Pemercikan umat dengan air suci sebelum Perayaan Ekaristi adalah kebiasaan yang baik untuk membuka Perayaan Ekaristi. Maksud upacara ini adalah mengingatkan kita akan permandian yang telah kita terima, pun pula akan perlunya tobat, pembersihan hati dari dosa yang kita lakukan sesudah permandian.


2. TANDA SALIB
Imam mengajak umat untuk membuat tanda salib. Tanda salib itu sangat kaya artinya. Dengan tanda salib kita mengungkapkan iman kepercayaan, bahwa peristiwa yang paling penting bagi keselamatan kita adalah wafat dan kebangkitan Kristus. Bagi kita salib merupakan lambang dan sarana keselamatan. Kita menyatakan kerelaan untuk memanggul salib kita masing-masing dan mengikuti jejak Kristus, dengan sabar dan tabah menanggung duka dan penderitaan dalam hidup sehari-hari. Dengan menandai diri kita dengan salib, kita relakan diri kita agar Kristus meletakan salib itu di atas bahu kita. Kata “Atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus” juga mempunyai arti : saya diutus Allah untuk mewartakan atau melaksanakan suatu tugas; menyampaikan suatu pesan dari Allah. Kita diutus untuk meneruskan karya Bapa Pencipta dalam segala dan karya usaha kita; meneruskan karya Putra yaitu karya penebusan dan keselamatan; meneruskan karya Roh Kudus yaitu penyucian dan cinta kasih. 


3. SALAM PEMBUKA
Salam pembuka menekankan kehadiran Kristus dan diri imam dan dalam diri umat. Kata: “Tuhan sertamu, dan sertamu juga” mempunyai arti. Maksud salam ini adalah Allah menyertai kita khususnya dalam Perayaan Ekaristi dan juga selama hidup kita. Penyertaan Allah hadir dalam segala situasi hidup kita. Tuhan selalu ada beserta kita. “Di dalam Dia kita hidup, bergerak dan ada”. Allah selalu mendampingi kita dengan perhatianNya, dengan rahmatNya.


4. UPACARA TOBAT
Dengan menyadari Allah sungguh hadir di tengah umatNya, dengan sendirinya menimbulkan dalam hati rasa tidak pantas untuk menghadap Allah. Ada jurang yang begitu besar antara Allah yang Maha Kudus dengan manusia yang begitu sering berpaling dari Allah, mengkhianatiNya dan tidak setia kepadaNya. Santo Yohanes menuliskan “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita akan membuat Dia menjadi pendusta, dan firmanNya tidak ada di dalam kita.” Tetapi Santo Yohanes juga mengatakan : “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 
Dalam permandian kita dipersatukan dengan Kristus. Perbuatan kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah melemahkan persatuan kita dengan Kristus itu. Dengan bertobat, kita dengan kesadaran penuh mau pulang kembali kepadaNya. Dia, Bapa yang baik akan sangat gembira menyambut anak-anakNya yang mau kembali kepadaNya. Dalam tobat ini diperlukan sikap hening agar umat dapat memeriksa batin dan menghayati rasa sesal dalam lubuk hatinya. 
Dalam rumusan tobat “Saya Mengaku...” pribadi Allah Bapa yang Maha kuasa ditonjolkan. Ditekankan pula bahwa dosa tidak hanya melukai hati Allah, tetapi juga melukai sesama manusia. Rumusan ini mengingatkan kita akan empat cara kita berbuat dosa : dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Di sini sudah mulai tampak karya rahmat di dalam hati kita. Rahmat mulai mempengaruhi kita. Rahmat sungguh mengubah sikap hati kita kepada Allah dan sesama.
Doa “Tuhan Kasihanilah kami” atau Kyrie bernada memohon merupakan litani yang sangat kuno dari Gereja perdana. Litani ini adalah doa kesayangan Gereja Ortodoks. Di Gereja purba, pada waktu doa ini mulai dipakai, orang sangat peka akan arti kata “Tuhan”, “Kristus”. Bagi banyak orang kedua kata ini menjadi amat biasa. Padahal kata “Tuhan” dalam bahasa Yunani “Kyrios” menggantikan nama Ibrani Allah yaitu “Yahwe”, ialah Sang Pencipta segala sesuatu, Sumber segala-galanya. Kata “Kyrios” mendapat arti Kristologi yang artinya selalu menunjuk pada pribadi Kristus, Penebus kita, Raja semesta alam.


5. KEMULIAAN (GLORIA)
Madah “Kemuliaan” adalah juga madah yang sangat kuno. Plinius Muda (tahun 112), seorang pegawai Romawi di Timur Tengah, dalam laporan yang dikirimkannya kepada Kaisar Traian, mengatakan bahwa orang-orang Kristiani “berkumpul dan menyanyikan lagu dan madah kepada Kristus, yang mereka akui sebagai Allah.” 
Madah ini dianggap sebagai Mazmur tidak resmi, artinya bukan dari Kitab Suci, walaupun isinya mempunyai dasar biblis. Rupanya pada permulaan madah ini dipakai dalam Madah Brevir (Ibadat Harian), kemudian dimasukan ke dalam Perayaan Ekaristi, tetapi hanya dalamPerayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Uskup. Lama kelamaan dan sampai sekarang madah ini dipakai dalam Perayaan Ekaristi pada hari pesta dan hari raya. 


6. DOA PEMBUKA
Ritus pembuka Perayaan Ekaristi diakhiri dengan doa yang disebut “kolekta”. Doa itu didahului oleh undangan atau ajakan imam : “Marilah berdoa”. Dalam katekismus , Perayaan Ekaristi dirumuskan sebagai kurban Kristus dan kurban kita. Tetapi Perayaan Ekaristi juga termasuk doa. Maka bisa dikatakan bahwa kita mempersembahkan kurban Ekaristi melalui doa.
Setelah diundang berdoa, semua umat diam diri sejenak, untuk merumuskan doa pribadi masing-masing. Inilah waktu bagi tiap orang untuk merumuskan maksud, intensi kedatangan mereka ke Perayaan Ekaristi. Doa singkat yang diucapkan oleh imam sesudah beberapa saat hening merupakan “kolekta” dari bahasa Latin yang artinya mengumpulkan. Doa dari tiap umat seakan-akan dikumpulkan oleh imam dan ditutup secara agak umum. Doa resmi Gereja yang didoakan imam dari buku misa membantu umat untuk membentuk kesadaran kristiani dan sikap kristiani mereka. 
Doa “kolekta” ini mempunyai bentuk atau struktur khusus yaitu : Alamat, Permohonan dan Penutup. Dalam Alamat, yang menjadi alamat selalu Allah Bapa atau Allah Tritunggal. Permohonan hampir selalu bersifat umum maksudnya berbicara atas nama seluruh umat beriman, atas nama seluruh Gereja. Sedangkan dalam Penutup ditekankan Kristus sebagai Pengantara Gereja kepada Allah Bapa. Doa pembukaan ini diakhiri dengan aklamasi umat : “Amin”. Dalam bahasa Ibrani berarti “ya” atau “setuju”.


LITURGI SABDA

7. BACAAN PERTAMA DAN KEDUA
Setelah dalam Ritus Pembuka umat dipersiapkan diri untuk menerima kehadiran Kristus dalam Perayaan Ekaristi, sekarang umat telah siap untuk menerima kehadiran Kristus dalam pembacaan Sabda dari Kitab Suci. Maka penting sekali bagi umat untuk tidak datang terlambat. Santo Paulus mengatakan “Iman timbul dari pendengaran, pendengaran oleh firman Tuhan.” Pewartaan menimbulkan iman, tanpa iman orang tidak bisa berkenan kepada Tuhan. Kristus sendiri sebelum memperbanyak roti, mengajar terlebih dahulu

Hubungan Ibadat Sabda dengan Ibadat Ekaristi dalam Misa Kudus diungkapkan dengan istilah “Misteri dua meja”. Yang satu adalah meja (altar) roti dari surga, yang kedua adalah meja Hukum Allah, Sabda Allah, pelajaran yang menanamkan iman. Dalam Perayaan Ekaristi, Kristus menampakan diri secara makin penuh dan makin jelas. Dalam Liturgi, Sabda Kristus nampak lebih jelas daripada dalam diri umat yang berkumpul atas namaNya. Dalam Liturgi Sabda, Ia tidak hanya hadir, tetapi Ia mulai berbicara kepada kita. 

Bacaan Pertama biasanya diambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama (KSPL). Banyak umat kita yang menganggap KSPL tidak begitu penting karena kerap sulit dimengerti. Sebenarnya KSPL dibacakan supaya mengajak umat pada misteri keselamatan Allah sejak awal mula melalui sejarah umat Israel, para nabi dan kitab-kitab lainnya. Dalam Bacaan kedua dibacakan Kitab Suci Perjanjian Baru, biasanya dari Kisah Para Rasul ataupun Surat-surat Apostolik. Bacaan kedua hanya dipakai pada Perayaan Ekaristi Minggu ataupun pada hari raya.

Tujuan dari Pembacaan Kitab Suci adalah untuk memberi pengajaran kepada umat. Dengan mendengar Sabda dari Kitab Suci dihadapkan tumbuh dalam diri umat harapan, iman dan kasih. Isi utama dari pewartaan Kitab Suci adalah soal cinta kasih. Allah adalah cinta kasih, dan Ia menuntut dari manusia cinta kasih juga. Kristus tersalib memberi kepada umatNya tubuhNya sendiri sebagai makanan. Kepada mereka yang menyantapNya Ia memberi pemberian yang paling besar yaitu cinta kasih Roh Kudus. 


8. MAZMUR TANGGAPAN
Sabda Allah menuntut perhatian dan konsentrasi cukup besar. Mazmur Tanggapan antara lain bermaksud memberi saat rileks. Tetapi rileks bukan berarti santai tetapi menyegarkan perhatian dan konsentrasi kepada bacaan selanjutnya. Dalam doa Mazmur terkandung begitu banyak harapan, iman, cinta kasih, rasa kagum, syukur, pujian, permohonan, tobat sehingga cocok sekali untuk mengungkapkan rasa dan isi hati kita. Mazmur tanggapan ini bisa diganti dengan lagu-lagu lain yang cocok dan sesuai dengan tema dan bacaan yang dipilih saat itu. 

9. HOMILI
Kitab Suci adalah sabda Allah, Sabda yang hidup, Sabda bagi semua orang, yang hidup sekarang ini, walaupun Sabda itu disusun dan dikarang ribuan tahun yang lalu. Seringkali sulit bafi orang untuk menemukan arti dan manfaat Sabda Allah itu bagi manusia sekarang ini, terutama bagi orang-orang yang jarang sekali membacanya. Maka untuk membantu orang untuk menemukan hubungan Sabda Allah dengan hidup konkret sehari-hari, perlu sekali keterangan dalam bentuk yang disebut Homili.
Memberi keterangan tidak sama dengan homili. Keterangan bersifat mendidik, menjelaskan, menolong dalam menemukan arti, maksud, isi bacaan. Sedangkan homili bertitik tolak dari teks dan bermaksud meresapkannya dan menerapkannya ke dalam hidup. 

10. AKU PERCAYA
Mulanya syahadat “Aku Percaya” termasuk liturgi baptis, bukan liturgi Ekaristi. Syahadat ini dimasukkan ke dalam Liturgi Ekaristi baru pada abad XI. Gereja ortodoks memakainya dalam Perayaan Ekaristi sejak abad VI. Syahadat ini bukan hanya suatu daftar kebenaran-kebenaran iman atau semacam ringkasan teologi. Syahadat “Aku Percaya” merupakan ringkasan seluruh sejarah Kitab Suci, mulai dari Penciptaan, Penjelmaan, Kebangkitan, kedatangan Roh Kudus, misteri Gereja, Sakramen-sakramen, sampai ke kehidupan kekal, suatu kenangan akan seluruh sejaran dan tata keselamatan. 
Maka penting bahwa Syahadat perlu diucapkan pelan-pelan, dengan perhatian sambil menyadari bahwa kita mengucapkannya bersama dengan jutaan orang lain yang tersebar di seluruh dunia. 


11. DOA UMAT
Doa umat dibuka dan ditutup oleh imam. Permohonan-permohonan dapat disampaikan oleh satu orang, boleh juga oleh beberapa orang , boleh juga secara spontan oleh para umat. Cara terakhir ini cocok dalam misa untuk kelompok tertentu seperti retret, pembukaan rapat dan lainnya.
Dalam menyusun Doa Umat perlu diperhatikan bahwa kita dalam umat bukan seorang diri. Maka tidak boleh doa ini hanya dibatasi oleh permohonan individualistis. Doa umat harus bercorak umum. Permohonan dapat diringkas menjadi empat kelompok : Keperluan seluruh umat manusia, kebutuhan umat paroki masing-masing, kedamaian bagi bangsa dan pemerintah, semua orang yang menderita. Akan sangat baik juga bila didoakan anggota-anggota paroki yang dikenal oleh seluruh umat paroki yang sedang sakit dan ditimpa musibah.


LITURGI EKARISTI

12. PERSIAPAN PERSEMBAHAN
Langkah pertama untuk pelaksanaan kurban adalah mempersiapkan roti dan anggur. Tahap yang pertama ini secara umum disebut persembahan. Tetapi istilah itu kurang tepat. Kata “persembahan” langsung memberi kesan bahwa inilah kurban, seakan-akan kurban Misa terlaksana pada saat itu. Padahal upacara yang berlangsung sekarang hanyalah Persiapan Liturgi Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi kita persembahkan Tubuh dan Darah Yesus Kristus, bukan roti dan anggur. Roti dan anggur itu baru dipersembahkan untuk konsekrasi. 

Di Gereja purba sesudah homili, umat mulai menjadi ramai. Para diakon dengan keranjang mulai berjalan-jalan di tengah umat dan mengumpulkan roti, anggur, pakaian, makanan, uang atau apa saja yang dibawa umat ke Gereja. Sesudah Perayaan Ekaristi semua barang itu dibagikan kepada orang-orang miskin, para janda, yatim piatu. Sebagian dari roti yang dikumpulkan, yang diperlukan untuk Perayaan Ekaristi dan komuni umat, diletakan di atas altar, begitu pula anggur.
Setelah semua dikumpulkan dan dipersiapkan, para diakon dan juga imam mencuci tangan. Acara ini dilakukan dengan alasan praktis sajam tanpa suatu arti yang khusus, sebab dalam pengumpulan barang, tangan imam menjadi kotor. 


13. DOA ATAS ROTI DAN ANGGUR
Persiapan persembahan adalah upacara lahir, suatu karya yang kelihatan. Imam mengambil roti dan anggur, mengangkatnya sambil mengucapkan doa syukur. Tanda penyerahan itu adalah paling penting dalam bagian Misa ini. Ada liturgi di mana dalam upacara ini sama sekali tidak terdengar doa apa-apa.
Sesudah mengangkat roti dan anggur, imam mengucapkan doa yang mengakhiri upacara persiapan persembahan. Karena dulu doa itu diucapkan oleh imam dengan diam-diam dalam batin, maka doa itu disebut “secreta”.

Tujuan doa adalah dengan lebih mendalam menyiapkan umat agar segala apa yang sebentar lagi akan terealisasi di altar dihayati pula dalam hati tiap orang; agar melalui Yesus Kristus yang menyerahkan diri dalam Misa, Allah mengizinkan kita mengambil bagian dalam kurban Kristus itu. Supaya dengan mengambil bagian dalam kurban salib, kita dituntun melalui maut kepada kebangkitan, dari dosa kepada kesucian. 


14. PREFASI
Doa atas persembahan mengakhiri persiapan untuk bagian Misa yang paling luhur. Prefasi, doa yang mendahului Sanctus dan bagian-bagian lain, diucapkan secara lantang dan meriah di hadapan umat membuka Doa Syukur Agung. Doa ini mengungkapkan karya-karya penyelamatan Allah yang memuncak dalam “Sabda menjadi daging”, yakni penyerahan diri Allah kepada manusia dalam diri Yesus Kristus. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” 

Cinta kasih yang terbesar itu kepada kita dinyatakan oleh Kristus di salib, di mana Ia menyerahkan nyawaNya untuk menyelamatkan kita. Penyerahan Kristus itu dihadirkan dalam Misa Kudus. Dan Kristus yang dengan penuh cinta kasih menyerahkan diri berpulang kepada Bapa, diterima dengan baik oleh Bapa dan dibangkitkan. Lalu Kristus membuka bagi kita jalan ke Bapa. Peristiwa itulah yang terlaksana dan dihadirkan di altar dalam setiap Misa Kudus, meskipun secara sakramental sulit terpahami. 
Kata “prefasi” berasal dari bahasa Latin “Prefatio” yang artinya pendahuluan, persiapan sesuatu yang akan menyusul. Maka dalam doa Prefasi, kita mempersiapkan kesadaran kita akan kehadiran Kristus secara sakramental dalam Tubuh dan DarahNya. 


15. DIALOG IMAM-UMAT
Sebagai pembuka prefasi, diadakan dialog antara imam dan umat. Waktu itu umat berdiri, sebab mengerti maksud kata-kata itu serta melihat tangan imam yang terangkat seakan-akan mengundang : Ayo, berdirilah, sebab sekarang kita masuk ke dalam lingkaran Allah. Maka sadarilah itu. Melalui Kristus Allah keluar dari alam bakaNya untuk bertemu dengan kita manusia. Sebentar lagi kita akan dapat menjamah Allah, seperti dulu orang-orang di Palestina menjamahNya.
Kata-kata “Marilah kita bersyukur kepada Tuhan, Allah kita” mau mengajak umat untuk bersyukur kepada Allah yang ada di antara kita. Kita bersyukur karena Dia ada, apalagi karena Dia mau mati agar kita hidup. Kita bersyukur karena Ia bangkit dan karena Ia mau menuntun kita kepada Bapa.
Kata-kata “Sudah layak dan sepantasnya” adalah persetujuan umat atas ajakan imam untuk bersyukur. Dialog yang singkat itu mengandung tiga kebenaran yang peting yaitu : Pertama, Allah hadir di tengah-tengah kita. Kedua, perlunya meningkatkan kesadaran dan sikap berjaga-jaga sebab di mana ada Kristus, di situ ada surga. Dan kalau kita bersama Dia, kita sudah di surga. Ketiga, kita wajib bersyukur selalu kepada Allah. 


16. KUDUS
Perfasi adalah bagian awal dari seluruh Doa Syukur Agung, yang ditutup dengan doa singkat : “Kudus, kudus, kudus...” Isi doa ini cukup sulit dimengerti Menjadi lebih jelas kalau dilihat dalam konteksnya. Doa ini masuk kanon Misa baru sekitar abad ke-4. Teks doa Kudus ini diambil dari Kitab Nabi Yesaya. 
Kudus atau Suci mengungkapkan sifat Allah. Allah itu kudus berarti lain dari segala sesuatu yang kita kenal di dunia. Allah memiliki kepenuhan hidup, kebaikan dan kesempurnaan. Bagi manusia, kesucian itu nampak sebagai kuasa yang dasyat, yang bisa membinasakan, tetapi juga bisa menyelamatkan, sebagai keadilan dalam menilai yang baik dan yang jahat, sebagai cinta kasih dan kesetiaan dalam menepati janji. Kesucian Allah itu seperti dipantulkan kepada mereka yang didekati Allah, sehingga mereka menjadi suci, bisa hidup dengan cara Allah.


17. DOA SYUKUR AGUNG
Sesudah Kudus mulailah bagian tersuci Perayaan Ekaristi, bagian yang paling penting. Bagian ini sangat singkat, sehingga sering tidak ada waktu untuk menyadari rahasia yang terlaksana di dalamnya. Dan sebenarnya tidak ada orang yang dapat mengatakan bahwa ia memahaminya sama sekali. 
Saat konsekrasi merupakan pokok Doa Syukur Agung. Segalanya yang berlangsung sejak pembukaan Misa, merupakan persiapan yang terarah kepada saat ini. Semua acara yang akan menyusul sesudahnya, merupakan konsekuensi dari konsekrasi. Boleh dikatakan bahwa bagi saat tersuci ini segalanya tunduk, tersusun di sekelilingnya. 

Tetapi apa yang kita lakukan pada saat sentral Misa Kudus itu hanya dapat kita mengerti dalam konteks dan dalam kontak dengna apa yang Kristus perbuat dua ribu tahun yang lalu. Apa yang Kristus perbuat pada waktu itu menjadi jelas kalau kita ingat lagi akan apa yang diperbuat orang-orang Yahudi pada waktu Perjamuan Paska. Secara singkat saja : Ekaristi, di mana imam mengulangi acara dan kata-kata Kristus atas roti dan anggur, merupakan Perjamuan Paska. 

Dalam setiap Perayaan Ekaristi pada saat konsekrasi, waktu imam mengulangi kata-kata Kristus, Allah sendiri turun tangan, berintervensi secara paling intensif. Intervensi itu terlaksana oleh Roh Kudus. Imam bersama umat memohon, agar Roh Kudus turun tangan dan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam doa yang disebut : Epiklesis. Permohonan ini ditujukan kepada Allah Bapa, agar Ia sudi mengutus Roh Kudus ke atas roti dan anggur untuk mengubahnya menjadi Tubuh dan Darah Kristus, dan juga ke atas umat beriman yang mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi, untuk mengubah, menyucikan dan mempersatukan mereka. 

Doa Syukur Agung dinamai juga : Kanon Misa, Doa Ekaristi, Anafora. Kata “anafora” berasal dari bahasa Yunani, berarti : mengangkat ke atas, mempersembahkan. Dalam bahasa Latin : “oblatio” berarti persembahan, kurban. 

Liturgi Romawi hanya mengenal satu kanon saja, yakni Doa Syukur Agung I. Dalam pembaharuan Liturgi, kanon ini diterjemahkan dengan beberapa perubahan yang tidak berarti dan dipertahankan sebagai suatu warisan terhormat, warisan tradisi dan devosi yang sangat kuno. Tetapi di samping Kanon Romawi ini, Kongregasi untuk Ibadat membuat tiga kanon baru yaitu Doa Syukur Agung II, III, IV. 
Doa Syukur Agung III lahir dari tradisi asli Gereja, mengungkapkan jiwanya. Doa Syukur Agung ini tidak mempunyai prefasi tersendiri, dimulai dengan ucapan syukur atas semya karya besar Allah, atas keselamatan. Karena itu setiap prefasi bisa cocok. Ciri khasnya : sejarah keselamatan dihubungkan dengan rahasia Gereja sebagai hasil penebusan. Di Gereja yang merayakan Ekaristilah, karya keselamatan dilangsungkan dan disalurkan ke dalam sejarah. Oleh karena itu ada permohonan, agar umat “dari Timur ke Barat, mempersembahka kurban yang murni” itu kepada Allah. Permohonan ini berubah menjadi epiklesis, yakni permohonan agar Roh Kudus mengubah roti dan anggur, persembahan kita menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Sesudah aklamasi, masih anamnesis singkat (anamnesis Paska), lalu sekali lagi rahasia Gereja. Kanon ini menyatukan kita dengan para kudus di surga, dengan “umat yang masih mengembara di dunia” dan dengan mereka yang masih di api pencucian.


18. BAPA KAMI
Semua yang berlangsung sesudah Doa Syukur Agung adalah pesiapan komuni. Orang sering bertanya, bagaimana mempersiapkan diri dengan baik untuk komuni. Ada persiapan langsung dan tidak langsung. Persiapan tidak langsung itu terutama pembersihan hati dengan mengaku dosa, dengan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Persiapan langsung adalah keterlibatan dalam seluruh upacara dan doa Perayaan Ekaristi, terutama dalam doa “Bapa Kami”. Sebelum mengucapkan atau menyanyikan “Bapa Kami”, imam mengajak umat untuk mengucapkannya dengan berani atas nama dan atas perintah Kristus sendiri. Imam mengingatkan umat bahwa Kristus, Allah yang menjadi manusia, memberikan keberanian kepada kita untuk mengambil sikap terhadap Allah Bapa, yakni sikap anak terhadap Bapa. “Bapa Kami” nampak meringkaskan semua permohonan, refleksi, gagasan pokok Doa Syukur Agung, yang baru saja diakhiri dengan Doxologi. 


19. SALAM DAMAI TUHAN
Tekanan utama dalam persiapan komuni dan syarat untuk menerima Sakramen Maha Kudus dengan pantas adalah keinginan dan kemauan teguh untuk berdamai dengan sesama, mengampuni orang yang bersalah, yang melukai, yang menindas kita. Damai dalam arti biblis, syalom, merupakan dan mencakup segala kesejahteraan, berlimpahnya kebaikan dan berkat. Damai berarti keadaan manusia yang hidup rukun dengan alam, dengan sesama, dengan Allah, kebahagiaan dan keselamatan. Ekaristi adalah Sakramen kesatuan dan damai. Orang yang mau menerima sakramen itu harus mempunyai damai di hati, dan harus mengusahan damai, menjadi rasul kedamaian. 


20. MENYAMBUT KOMUNI
Komuni menjadi saat yang istimewa dan luar biasa dalam hidup kita. Inilah sebaganya, bahwa Perayaan Ekaristi tidak bisa disingkirkan dari program mingguan orang katolik. Ekaristi tanpa komuni adalah sesuatu yang tidak lengkap. Komuni sebagai bagian dari Ekaristi harus ditempatkan dalam suatu kesatuan yang utuh seluruh unsur-unsur Perayaan Ekaristi. 

Dalam menyambut Komuni, kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Kiranya dalam hal ini kita tidak hanya menerima Kristus secara fisikNya saja, melainkan kita menerima dan mengamini seluruh hidup dan karya Kristus termasuk sabda, karya, wafat dan kebangkitanNya. 


21. DOA SESUDAH KOMUNI
Doa sesudah komuni tidak bercorak ucapan syukur, tetapi diarahkan ke masa depan, ke hidup yang akan kita jalani. Pada umumnya doa ini lebih terikat dengan Ekaristi daripada dengan pesta yang sedang dirayakan. Doa ini terdiri dari dua bagian. Yang pertama mengingat akan pemberian yang baru kita terima. Yang kedua merupakan permohonanm agar pemberian itu menghasilkan buah dalam diri kita dan dalam hidup sehari-hari. 


RITUS PENUTUP

22. PENGUMUMAN
Setelah doa ada kesempatan baik untuk mengadakan pengumuman. Pengumuman memberi tugas kepada umat, menunjukan apa yang harus dikerjakan dalam minggu ini, tugas yang bisa dikatakan mengalir dari Perayaan Ekaristi. Pada akhir Ekaristi pengumuman yang diartikan sebagai pembagian tugas mengingatkan kepada kita tentang Sakramen Penguatan yang telah kita terima. Di sini nampak dengan jelas hubungan liturgi dengan hidup sehari-hari.


23. BERKAT DAN PENGUTUSAN UMAT
Setelah pengumuman selesai imam memberi salam kepada umat : “Tuhan sertamu”. Salam ini merupakan salam perpisahan dengan umat dan dengna tempat suci. Melalui kurban Kristus yang secara sakramental diperbaharui di altar, Allah dan rahmat sekali lagi masuk ke dalam sejarah dan hidup umat masing-masing. Sekali lagi Allah melawati kita, bersatu dengan kita. Salam ini mengingatkan kenyataan : sampai akhir zaman ktia akan berjalan bersama-sama dengna Kristus, dengan misteri Ekaristi, Tubuh dan Darah Penebus kita. Ekaristi sebagai tanda kehadiran Kristus menjadi juga jaminan bahwa berakhirlah kesepian kita, sebab Allah selalu mendampingi, menyertai kita. 

Kemudian Imam memberi berkat. Kita ingat akan ciri sakramental Perayaan Ekaristi. Kristuslah yang memberkati umatNya melalui imam. Kurban yang baru selesai ini adalah Kurban Kristus, dan kita ambil bagian di dalamnya. Jika Allah memberkati, itu bukan dalam bentuk “semoga”, tetapi selalu dalam bentuk konkret, bentuk pemberian, suatu kewibawaan dan kuasa.

Kata-kata “Perayaan sudah selesai, pergilah dalam damai Tuhan” bukanlah ungkapan pamitan semata-mata. “Pulanglah” dan pergilah” merupakan gema sabda Kristus kepada para rasul : “Pergilah ke seluruh dunia...” Sebagai orang Kristiani kita diutus untuk memperpanjang Ekaristi dalam hidup, untuk menjadikan Ekaristi menjadi sungguh hidup. Ekaristi sekarang harus direlasisasikan di luar gedung gereja, dalam kesetiaan kepada Kristus dan kehendakNya. Hidup, karya, perjuangan, penderitaan, pengabdian kepada sesama merupakan ungkapan lain kurban Kristus dalam diri kita. Semua itu akan dibawa ke altar, pada kesempatan Ekaristi berikutnya. 



STRUKTUR DASAR

RITUS PEMBUKA 
PEMERCIKAN UMAT
TANDA SALIB
SALAM PEMBUKA
TOBAT
KEMULIAAN (GLORIA)
DOA PEMBUKA

LITURGI SABDA
BACAAN PERTAMA 
MAZMUR TANGGAPAN (LAGU)
BACAAN KEDUA
BAIT PENGANTAR INJIL
PEMBACAAN INJIL
HOMILI
AKU PERCAYA
DOA UMAT

LITURGI EKARISTI
PERSIAPAN PERSEMBAHAN
DOA ATAS ROTI DAN ANGGUR
PREFASI
DIALOG IMAM-UMAT
KUDUS
DOA SYUKUR AGUNG
BAPA KAMI
SALAM DAMAI TUHAN
MENYAMBUT KOMUNI
DOA SESUDAH KOMUNI

RITUS PENUTUP
PENGUMUMAN
BERKAT DAN PENGUTUSAN UMAT



TATA PERAYAAN EKARISTI MINGGU

RITUS PEMBUKA
Berdiri
Perarakan Masuk
Imam dan pelayan lainnya BERARAK menuju ruang altar, menggabungkan diri dengan umat yang sudah berhimpun. Setibanya di ruang altar, imam dan umat MENYATAKAN PENGHORMATAN kepada Allah yang hadir di tengah mereka dengan membungkuk khitmat. 

Pemercikan Umat (diiringi lagu “Percikilah Aku” MB. 103)
Setelah itu, semua pelayan menuju tempat duduk masing-masing; imam ke kursi pemimpin, menghadap ke arah umat; semua tetap berdiri.

Tanda Salib
Imam dan umat menandai diri dengan TANDA SALIB sambil berkata :
I : † Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus 
U : Amin.
Salam 
Sambil membuka tangan, imam menyampaikan SALAM kepada umat
I : Tuhan sertamu
U : Dan sertamu juga

Pengantar
Imam MENGARAHKAN umat kepada inti misteri yang dirayakan.
I : Saudara-saudari sekalian, pada hari Minggu biasa kesepuluh ini, Gereja mengajak kita semua untuk merenungkan kembali sikap dasar kita sebagai pengikut Kristus. Dalam bacaan pertama nanti akan diungkapkan bagaimana Allah mengharapkan belas kasih dari manusia bukan persembahan. Dalam bacaan Injil juga akan dikisahkan belas kasih Yesus kepada para pendosa. 
Berlutut

Tobat
I : Dengan penuh rasa syukur atas segala belas kasih Allah yang telah kita terima dan dengan kesadaran akan keteratasan dan kelemahan kita untuk dapat terus bertekun, bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih, marilah kita mohon pengampunan dan kekuatan dari Allah Bapa. 
Hening

Pernyataan Tobat :
Imam mengajak umat untuk menyesali dan mengakui dosa dengan kata-kata berikut
I + U : Saya mengaku 
kepada Allah yang Maha Kuasa
dan kepada Saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa
dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian
(baris berikut diucapkan sambil menepuk dada)
Saya berdosa, saya sungguh berdosa.
oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada Saudara sekalian, 
supaya mendoakan saya kepada Allah Tuhan kita.
I : Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihi kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal
U : Amin.
Tuhan Kasihanilah Kami (MB. 184)
Berdiri
Madah Kemuliaan (MB. 199)

Doa Pembuka
Sesudah madah kemuliaan, imam berdoa dengan tangan terkatup
I : Marilah berdoa, Hening
Allah Bapa sumber rahmat dan kasih, Engkau memanggil setiap pribadi untuk membagikan kasih kepada sesama. Engkau tidak mengharapkan kurban persembahan melainkan hati yang penuh belas kasih. Bukalah hati kami sehingga kami mampu menjadi murid PutraMu yang senantiasa mencerminkan kasih terutama kepada para pendosa dan mereka yang tersingkir. Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami yang bersatu dengan Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. 
U : Amin

LITURGI SABDA
Duduk

Bacaan I : Hos 6:3-6
Pembacaan dari Kitab Nabi Hosea 
Saudara-saudara, marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pad aakhir musim yang mengairi bumi. Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. Sebab itu aku meremukan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mreka dengan perkataan mulutKu, dan hukumKu keluar seperti terang. Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.
I : Demikianlan Sabda Tuhan.
U : Syukur kepada Allah.
Umat hening sejenak untuk meresapkan Sabda Allah

Lagu antar bacaan ( “Firman Tuhan Halus Mengundang” MB. 210)

Bacaan II : Rm 4:18-25

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma
Saudara-saudara terkasih, sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berhadap juga dan percaya, bahwa Ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan : “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya”, tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan kerena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita. 

I : Demikianlan Sabda Tuhan.
U : Syukur kepada Allah.

Berdiri

Bait Pengantar Injil :
Seluruh umat berdiri sebagai ungkapan hormat pada Sabda Tuhan
Refren : Alleuya….Alleluya
Ayat : 
Yang Kukehendaki adalah belas kasihan, 
Aku datang bukan untuk orang sehat tetapi orang sakit

Bacaan Injil Suci (Mat 9:9-13)
Imam berdoa dalam hati sebagai berikut 
I : Sucikanlah hati dan budiku, Ya Allah mahakuasa
supaya aku dapat mewartakan Injil dengan baik

Tangan imam terkatup
I : Tuhan sertamu.
U : Dan sertamu juga.

Sambil membuat tanda salib dengan ibu jari pada Kitab Injil, Imam berkata/bernyanyi

I : Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus, menurut Santo Matius
U : Dimuliakanlah Tuhan

Pada suatu ketika, Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya : “Ikutilah Aku”. Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus : “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata : “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini : Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan pesembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.
Setelah pembacaan Injil selesai, imam menyerukan/menyanyikan aklamasi

I : Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan
dan tekun melaksanakannya.

U : SabdaMu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami

Umat hening sejenak untuk meresapkan Sabda Allah

Sesudah itu imam mengecup Kitab Injil sambil berkata :
I : Semoga karena pewartaan Injil ini dileburkan dosa-dosa kita
Umat Duduk

Homili oleh imam 

Aku Percaya 
I : Saudara sekalian, marilah menanggapi Sabda Tuhan dengan mengucapkan Syahadat.
U : Aku percaya akan Allah .... 

Doa umat
Tangan imam terkatup dan mengajak umat untuk memanjatkan DOA UMAT
I : Saudara-saudari, marilah dengan segenap hati memanjatkan doa kepada Allah yang Maha pengasih dan penyayang, yang dengan murah hati mendengarkan doa umat beriman 

P : Bapa telah menetapkan bagiNya orang-orang pilihan yang secara khusus membaktikan hidupnya hanya kepada Allah dan sesama. Marilah kita berdoa untuk Bapa Paus, para Uskup, para imam, biarawan dan biarawati yang telah mempersembahkan diri mereka kepada Allah dan sesama, supaya mereka semakin menjalani dan menghayati panggilan hidup mereka yang sejati dengan setia dan penuh kegembiraan. Kami mohon….
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

P : Sepanjang segala jaman Gereja senantiasa menunjukan kasih kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Marilah kita berdoa bagi Gereja supaya melalui karya-karyanya, akan semakin banyak orang sungguh merasakan kasih Allah yang sungguh menyertai setiap manusia. Kami mohon….
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

P : Tuhan Yesus bersabda kepada muridNya untuk berbelas kasih kepada sesama. Marilah kita berdoa untuk orang-orang muda sehingga pada jaman ini meski nikmat dunia begitu menggoda, mereka pun semakin berani berbagi kasih dalam tindakan sederhana namun sungguh konkret. Kami mohon…
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

P : Bagi kita yang hadir di sini. Marilah kita berdoa agar hati kita semakin peka terhadap ajakan Allah untuk mempunyai sikap kasih dalam hidup sehari-hari. Sehingga kita semakin menunjukan Kerajaan Allah di dunia ini, sesuai dengan yang dikehendaki Allah dalam hidup kita. Kami mohon…
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

I : Allah Bapa yang penuh kasih, pandanglah umatMu yang berkumpul di sini, dengarlah doa-doa kami yang keluar dari hati yang penuh harapan kepadaMu. Demi Yesus, Tuhan dan pengantara kami. 
U : Amin


LITURGI EKARISTI
Umat Duduk

Persiapan Persembahan
Petugas persembahan membawa persembahan kepada Romo, diiringi lagu persembahan 

Lagu Persembahan (“Kami Bawa Persembahan” MB. 231)
Menghunjukan Persembahan
Imam mengambil patena dengan roti di atasnya, lalu mengangkatnya sedikit sambil berkata:

I : Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahanMu kami menerima roti yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari bumi dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan. 
Imam menaruh patena di atas korporale dan umat menanggapinya dengan aklamasi

U : Terpujilah Allah selama-lamanya
Kemudian imam menuangkan anggur dan sedikit air ke dalam piala sambil berkata dengan suara lembut

I : Sebagaimana dilambangkan oleh percampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam keallah Kristus, yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami.
Imam mengambil piala berisi anggur lalu mengangkatnya sedikit sambil berkata:
Terpujilah Engkau ya Tuhan, Allah semesta alam sebab dari kemurahanMu kami menerima anggur yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari pohon anggur dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi minuman rohani.

Imam menaruh piala di atas korporale. Umat menanggapi dengan aklamasi
U : Terpujilah Allah selama-lamanya.

Kemudian imam membungkuk khidmat dan berdoa dengan suara lembut : 

I : Dengan rendah hati dan tulus kami menghadap kepadaMu ya Allah, Bapa kami. Terimalah kami dan semoga persembahan yang kami siapkan ini berkenan kepadaMu.
Imam membasuh tangan di sisi meja altar sambil berdoa dalam hati :
Ya Tuhan bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan sucikanlah aku dari dosaku.
Berdiri

Imam kembali ke tengah menghadap arah umat. Ia membuka tangan dan mengatupnya kembali sambil berkata :

I : Berdoalah, Saudara-saudari, supaya perkembahanku dan persembahanmu berkenan kepada Allah, Bapa yang mahakuasa.

U : Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus.
kemudian sambil merentangkan tangan, imam mengucapkan Doa Persembahan 

I : Ya Tuhan, kabulkanlah dengan rela, doa kami dan sudilah menerima persembahan yang kami hunjukkan kepadaMu. Dengan persembahan ini kami menghunjukan kepadaMu sikap hati kami yang penuh kasih kepadaMu dan kepada sesama. Bersama persembahan ini kami sertakan juga segala kelemahan manusiawi kami yang masih membeda-bedakan sikap kami kepada sesama menurut derajat, pangkat dan harta. Demi Kristus Pengantara kami.
U : Amin.


DOA SYUKUR AGUNG III
Berdiri

PREFASI
Sambil membuka tangan, imam bernyanyi/berkata :

I : Tuhan besertamu
U : Dan sertamu juga
Sambil mengangkat tangan, imam melanjutkan :
I : Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan 
U : Sudah kami arahkan
I : Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita
U : Sudah layak dan sepantasnya.
I : Sungguh layak dan sepantasnya 
Ya Tuhan, Bapa yang kudus Allah yang kekal dan kuasa, 
bahwa di mana pun juga - kami senantiasa bersyukur kepadaMu. 
Sebab Engkau telah menciptakan semesta alam, dan mengatur musim-musimnya,
Engkau membentuk manusia menurut citraMu, 
dan memberi kuasa atas segala ciptaan, supaya dengan bertindak selaku wakilMu, 
ia menguasai segala sesuatu yang Engkau ciptakan sambil memuji Dikau 
karena semua karyaMu yang agung, dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. 
Kristus itu jualah yang dimuliakan di surga dan di bumi, 
serta para malaikat dan malaikat agung dengan tak henti-hentinya bernyanyi .
Pada akhir prefasi imam mengatup tangan, dan bersama umat menyanyikan Kudus

Kudus (MB. 255)

Umat Berlutut
Sambil merentangkan tangan, imam berkata :

I : Sungguh kuduslah Engkau ya Bapa, segala ciptaan patut memuji Engkau. Sebab, dengan pengantaraan PutraMu dan dengan daya kekuatan Roh Kudus, Engkau menghidupkan dan menguduskan segala sesuatu. Tak henti-hentinya Engkau menghimpun umatMu, sehingga dari terbitnya matahari sampai terbenamnya di seluruh bumi dipersembahkan kurban yang murni untuk memuliakan namaMu.

Imam mengatupkan tangan. Kemudian sambil mengulurkan tangan di atas roti dan anggur, ia berkata :

Maka kami mohon ya Bapa sudilah menguduskan persembahan ini dengan RohMu
Imam mengatupkan tangan, lalu membuat tanda salib satu kali atas roti dan anggur sambil berkata :
agar bagi kami menjadi Tubuh dan † Darah PutraMu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus,

Imam mengatupkan tangan

yang menghendaki kami merayakan misteri ini.
Sambil mengatupkan tangan, imam melanjutkan
Sebab pada malam Ia dikhianati,

Imam mengambil roti, dan sambil mengangkatnya sedikit di atas meja altar, ia melanjutkan

Yesus mengambil roti, Ia mengucap syukur dan memuji Dikau, memecah-mecahkan roti itu, dan memberikannya kepada murid-muridNya seraya berkata :
Imam membungkuk sedikit. Sabda Tuhan berikut hendaknya dibawakan dengan ucapan yang jelas, sesuai dengan sifatnya

TERIMALAH DAN MAKANLAH : 
INILAH TUBUHKU YANG DISERAHKAN BAGIMU

Imam memperlihatkan hosti suci kepada umat, lalu meletakkannya kembali pada patena. Kemudian ia berlutut menyembah. Konselebran menghormatinya dengan membungkuk khidmat. Sesudah itu, sambil mengatupkan tangan, ia melanjutkan : 

Demikian pula, sesudah perjamuan,
Imam mengambil piala dan sambil mengangkatnya sedikir di atas meja altar, ia melanjutkan : 
Yesus mengambil piala. Sekali lagi Ia mengucap syukur dan memuji Dikau, lalu memberikan piala itu kepada murid-muridNya seraya berkata :
Imam membungkuk sedikit. Sabda Tuhan berikut hendaknya dibawakan dengan ucapan yang jelas, sesuai dengan sifatnya
TERIMALAH DAN MINUMLAH
INILAH PIALA DARAHKU, DARAH PERJANJIAN
BARU DAN KEKAL YANG DITUMPAHKAN 
BAGIMU DAN BAGI SEMUA ORANG DEMI
PENGAMPUNAN DOSA. 
LAKUKANLAH INI 
UNTUK MENGENANGKAN DAKU.
Imam memperlihatkan piala kepada umat, lalu meletakannya di atas korporale. Kemudian ia berlutut menyembah. Konselebran mengghormatinya dengan membungkuk. Sesudah itu imam mengajak umat mengucapkan aklamasi :
I : Marilah menyatakan misteri iman kita
U : Wafat Kristus kita maklumkan,
KebangkitanNya kita muliakan
KedatanganNya kita rindukan. Amin.
Kemudian sambil merentangkan tangan, imam berkata :

I : Bapa, kami mengenangkan sengsara PutraMu yang menyelamatkan, dan kenaikanNya ke surga. Sambil mengharapkan kedatanganNya kembali dengan penuh syukur kami mempersembahkan kepadaMu kurban yang hidup dan kudus ini. Kami mohon, pandanglah persembahan GerejaMu ini dan indahkanlah kurban yang telah mendamaikan kami dengan Dikau ini. 
Kuatkanlah kami dengan Tubuh dan DarahNya, penuhilah kami dengan Roh KudusNya, agar kami sehati dan sejiwa dalam Kristus.

Semoga kami disempurnakan olehNya menjadi suatu persembahan abadi bagiMu agar kami pantas mewarisi kebahagiaan surgawi, bersama para pilihanMu, terutama bersama Santa Perawan Maria, Bunda Allah, para rasulMu yang kudus, dan para martirMu yang jaya, dan semua orang kudus yang selalu mendampingi dan menolong kami.

Ya Bapa, semoga berkat kurban yang mendamaikan ini, damai sejahtera dan keselamatan semakin dirasakan di seluruh dunia.

Kuatkanlah iman dan cinta kasih GerejaMu yang kini masih berziarah di bumi ini, bersama hambaMu, Paus kami Johanes Paulus II, Uskup kami Ignatius Suharyo, serta semua uskup, para imam, diakon serta semua pelayan umat dan seluruh umat kesayanganMu. Dengarlah doa-doa umatMu yang Engkau perkenankan berhimpun di sini. Demi kerahiman dan kasih setiaMu, ya Bapa, persatukanlah semua anakMu di manapun mereka berada.

Terimalah dengan rela ke dalam kerajaanMu : saudara-saudari kami dan semua orang yang berkenan kepadaMu, yang telah beralih dari dunia ini. 

Kami berharap, agar bersama mereka kamipun menikmati kemuliaanMu selama-lamanya dengan
perantaraan Kristus Tuhan kami.

Imam mengatupkan tangan

Sebab melalui Dialah Engkau melimpahkan segala yang baik kepada dunia.

Imam mengangkat piala dan patena dengan hosti di atasnya sambil berkata

Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, 
bagiMu, Allah Bapa yang Mahakuasa segala hormat dan kemuliaan sepanjang masa

U : Amin.


KOMUNI

Berdiri

Bapa Kami (MB. 144)
dengan tangan terkatup, imam mengajak umat menyanyikan doa Bapa Kami
I : Atas petunjuk penyelamat kita dan menurut ajaran Illahi, maka beranilah kita bernyanyi
U : Bapa kami…

Doa Damai:
I : Saudara-saudara, Tuhan Yesus Kristus bersabda kepada para rasul, “Damai kutinggalkan bagimu, damaiKu Keberikan kepadamu.” Maka marilah kita mohon damai kepadaNya. Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman GerejaMu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendakMu. Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa.
U : Amin.

Sambil membuka tangan imam mengucapkan SALAM DAMAI

I : Damai Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.

Salam Damai (dinyanyikan)
Pemecahan Roti (diiringi seruan Anak Domba Allah)
U : Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
Kasihanilah kami
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
Kasihanilah kami
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
Berilah kami damai

Imam mengambil roti besar, memecah-mecahkannya, lalu memasukan pecahan kecil ke dalam piala sambil berdoa dalam hati.

I : Semoga percampuran Tubuh dan Darah
Tuhan kita Yesus Kristus ini memberikan kehidupan abadi
Kepada kita semua yang menyambutnya

Duduk

Persiapan Komuni
Dengan tangan terkatup, imam berdoa dalam hati. Umat mempersiapkan diri dengan sikap doa pribadi

I : Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup, karena taat kepada Bapa dan dalam kuasa Roh Kudus, Engkau telah menanggung kematian untuk menghidupkan dunia. Bebaskanlah aku dari segala kejahatan dan dosa berkat Tubuh dan DarahMu yang maha kudus ini. Semoga aku selalu setia pada perintah-perintahMu, dan janganlah Engkau biarkan aku terpisah dariMu
Ya Tuhan Yesus Kristus, semoga Tubuh dan DarahMu, yang akan kusambut, melindungi dan menyehatkan jiwaku. 

Imam berlutut, mengambil roti kudus, mengangkatnya sedikit di atas patena atau piala, lalu berkata kepada seluruh umat 

I : Inilah Anak Domba Allah yang karena cinta kasihNya telah menghapus dosa-dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang ke perjamuaanNya.

U : Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh.

Membagi Tubuh dan Darah Kristus

Imam berkata dalam hati 
I : Semoga Tubuh Kristus selalu melindungi aku
Dengan Khidmat imam menyantap Tubuh Kristus.
Kemudian imam mengambil piala berisi anggur dan berdoa dalam hati
I : Semoga Darah Kristus selalu melindungi aku
Dengan khidmat imam menyambut Darah Kristus.

Komuni 
Membersihkan Piala setelah komuni selesai imam membersihkan patena dan piala sambil berdoa dalam hati
I : Ya Tuhan, semoga anugerahMu yang kami sambut sungguh meresap ke dalam hati, dan memulihkan kekuatan iman kami

Doa sesudah Komuni
I : Bapa sumber kebahagiaan kekal, kami mengucapkan syukur kepadaMu atas kurnia Ekaristi kudus ini. Kami selalu meletakan hidup kami dalam penyelenggaraaMu atas hidup harian kami. Semoga dengan berbagi kasih yang sederhana dan konkret kepada sesama kami kelak dipersatukan denganMu bersama anggota para kudusMu di surga. Demi Kristus Tuhan Juru Selamat kami yang berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus kini dan sepanjang segala masa.
U : Amin.

RITUS PENUTUP

Duduk

Pengumuman 

Berkat dan Perutusan

Imam membuka tangan
I : Tuhan berserta kita
U : Sekarang dan selama-lamanya.
Imam mengulurkan kedua belah tangan ke arah umat
I : Semoga saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa † Bapa, dan Putera dan Roh Kudus 
U : Amin
I : Saudara sekalian dengan ini Perayaan Ekaristi sudah selesai, marilah kita pulang, membagi damai Kristus dalam keluarga dan sesama kita.
U : Syukur kepada Allah.
Imam dan para petugas serta seluruh umat memberi hormat kepada altar. Imam dan para pelayan lalu meninggalkan ruang altar.

Lagu Penutup (“Dikau Tuhan dan Kawanku” MB. 300)


PETUGAS 
Liturgi merupakan ibadat seluruh umat. Maka setiap orang yang turut merayakan liturgi mempunyai hak dan kewajiban untuk ikut serta dengan aktif sesuai dengan kemampuan, tugas dan jabatannya. Dalam Liturgi terdapat pembagian peran sebagai lambang Gereja yang tersusun secara hirarkis dan menerima beraneka ragam anugerah dari Allah. 

Petugas yang lazim dalam Perayaan Ekaristi Minggu adalah :
a. Umat 
Para umat beriman yang berhimpun untuk ibadat merupakan umat kudus yang dipilih Allah dan dianugerahi martabat raja dan imam. Hendaknya mereka berusaha mengamalkan karunia ini, baik dengan sikap takwa yang mendalam, maupun dalam tindakan cinta kasih terhadap sesama saudara yang mengikuti perayaan yang sama. Hendaknya mereka merupakn satu tubuh dalam mendengarkan Sabda Allah, dalam berdoa dan bernyanyi bersama. Kesatuan ini tampak dengan baik bila mereka semua mengambil sikap badan yang sama dan menjalankan tindakan-tindakan liturgis yang sama.

b. Imam
Perayaan Ekaristi tidak pernah dirayakan tanpa pemimpin. Pemimpin resmi Perayaan Ekaristi adalah Uskup dan Imam. Imam adalah penanggung jawab utama tentang seluruh persiapan dan pelaksanaan Perayaan Ekaristi. Sebaiknya ia berkomunikasi dengan umat yang akan dipimpin. Ia bertanggung jawab tentang pembagian tugas, latihan dan persiapan para petugas dan untuk itu ia harus bekerja sama erat dengan mereka. 
Sebelum Perayaan Ekaristi, imam harus sungguh mempersiapkan diri supaya ia dapat menjadikan perayaan lebih hidup dan berarti bagi umat. Bila perlu naskah-naskah resmi harus diolah dan diterapkan pada kebutuhan umat konkret. Dalam Perayaan Ekaristi, Imam harus mempersatukan umat dan menciptakan suasana ibadat. 

c. Lektor/Pembaca
Bila Kitab Suci dibacakan pada saat Perayaan Ekaristi, maka Tuhan sendiri yang bersabda kepada umatNya, sedangkan umat diharapkan mendengarkan dan menjawabnya dengan iman. oleh sebab itu tugas lektor merupakan tugas yang amat luhur. Ia mewartakan Sabda Allah kepada umat. Pembaca hendaknya mempunyai keyakinan dan pengertian akan sabda yang dibacakannya. Maka ia harus mempersiapkan pembacaan dengan sebaik-baiknya. Tidak dapat dibenarkan bahwa seorang lektor membacakan Sabda Allah tanpa persiapan.

d. Pemazmur dan Solis
Pemazmur dan solis bertugas membawakan mazmur atau kidung dari Kitab Suci yang menanggapi sabda Allah. Pemazmur harus menguasai cara-cara menyanyikan mazmur dan harus mempunyai suara yang kuat serta ucapan yang jelas.

e. Komentator
Tugas komentator adalah memberikan penjelasan dan petunjuk kepada umat tentang ibadat yang dirayakan supaya mereka lebih mudah terlibat aktif dakam seluruh Perayaan Ekaristi. Petunjuk-petunjuk harus dipersiapkan dengan baik, singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugasnya, komentator berdiri di muka umat, mudah dilihat tetapi sebaiknya tidak dimimbar. 

f. Petugas tata tertib
Tugasnya adalah mengusahakan adanya suasana tertib sepanjang ibadat. Pertama mereka menyambut umat di pintu Gereja dan mengantar mereka ke tempat duduk. Mereka juga mengatur penerimaan komuni umat. Hendaknya mereka melalukan tugasnya dengan berwibawa tanpa menonjolkan diri. 

a. Kolektan dan Pembawa Persembahan
Tugasnya adalah mengumpulkan kolekte. Kolekte merupakan lambang bahwa umat ambil bagian dalam kebutuhan umat maupun untuk keperluan sosial untuk orang lain. Maka kolektan mempunyai tugas yang luhur. Mereka hendaknya dipilih dari wakil-wakil umat yang terhormat; hendaknya mereka bertugas tepat waktu, berpakaian bersih dan juur.

b. Koor
Tugas koor adalah mendorong dan menyemangati umat dalam bernyanyi, supaya umat lebih berpadu suara dan hati. Koor juga mewartakan Sabda Allah dan memperindah ibadat sehingga menjadi upacara yang mengesankan. Dalam memilih lagu, hendaknya menyesuaikan diri dengan kemampuan umat yang hadir.

c. Misdinar
Putra Altar bertugas untuk melayani imam di panti imam. Hendaknya dipilih anak-anak yang cakap dan tanggap dalam melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka duduk di panti imam dan dilihat oleh semua umat. Maka dari itu dalam menjalankan tugasnya mereka harus berkonsentrasi, tidak berbicara sendiri atau bercanda. Mereka juga harus tanggap dan akrab dengan alat-alat yang diperlukan umat seperti : Air suci dengan wadahnya, hisop, ampul, piala, sibori, purificatorium, korporale. 


SARANA

a. Salib
Salib termasuk simbol pokok dalam perayaan liturgi orang Kristen. Maka dalam Perayaan Ekaristi sebaiknya ada salib. Dalam gedung Gereja yang tetap hendaknya ada 2 salib. Pertama salib yang tergantung di belakang altar, salib ini menghadap umat. Kedua, salib di altar yang menghadap imam.

b. Altar 
Altar dalam Perayaan Ekaristi memainkan tempat sentral. Karena di altar itulah diselenggarakan persembahan umat beriman yang dilambangkan dengan roti dan anggur kepada Allah. Di altar juga menjadi tempat Liturgi Ekaristi, perubahan roti anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Maka dari itu altar harus diperhatikan kelayakan dan kebersihannya. Diusahakan semua umat dapat melihat altar dan apa yang terjadi di atasnya. Untuk Gereja Paroki atau kapel permanen, di altar biasanya ada reliqui atau peninggalan orang kudus.

c. Mimbar Sabda 
Mimbar sabda digunakan untuk imam dan lektor untuk membacakan Sabda Allah kepada umat beriman. Maka hendaknya mimbar ini dapat dilihat oleh seluruh umat. Mimbar sebaiknya terletak di panti imam. 

d. Lilin dan Bunga
Lilin diperlukan dalam liturgi untuk menjadi tanda kehadiran Sang Terang dan menciptakan suasana khidmat dan untuk menunjukan tingkat kemeriahan perayaan liturgis. Sedangkan bunga bertujuan untuk menghias dan menyemarakan altar. Jumlah lilin dan bunga dapat bervariasi sesuai dengan masa liturgi, pesta dan hari raya. Penataan lilin dan bunga tidak boleh menghalangi pandangan umat ke arah altar dan imam. 

f. Buku
Buku apapun yang dipakai dalam Perayaan liturgi harus pantas sebagai buku ibadat : ukurannya cukup besar, kuat, indah, anggun dan menarik. Buku Injil atau buku bacaan tentu saja paling penting, dan harus diperlakukan dengan hormat. Penggunaan lembaran-lembaran lepas untuk pemimpin atau petugas kuranglah sesuai dengan kaidah keanggunan buku-buku liturgi.

g. Pakaian Ibadat
Pakaian ibadat yang dipakai oleh pemimpin dan petugas lain merupakan lambang dari tugas pelayanan mereka, dan sekaligus merupakan unsur yagn menyemarakan liturgi. Warna dan bentuk pakaian itu serta perbedaan antara pakaian harian dan pakaian hari besar dapat membantu dan menarik perhatian umat, dan menggaris bawahi corak pesta serta perayaan liturgi yang sedang berlangsung. Warna pakaian sebaiknya disesuaikan dengan masa liturgi yang bersangkutan. Imam hendaknya dalam situasi normal mengenakan alba, stola, kasula. 

h. Perlengkapan Misa
Perlengkapan misa merupakan sarana yang penting dalam Perayaan Ekaristi. Misalnya : Roti dan Anggur, Air suci dan wadahnya, hisop, piala, sibori, ampul, purificatorium, korporale, wadah cuci tangan. Perlengkapan ini digunakan untuk mendukung materia sacramenti dari Perayaan Ekaristi. Maka dari itu harus diperhatikan kelayakan dan kebersihan dari tiap perlengkapan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar