Ads 468x60px

Selasa 22 Desember 2015


Pekan Khusus Adven IV
Hari Ibu
1Sam 1:24-28; 1Sam 2:1,4-5,6-7,8abcd; Luk 1:46-56

"Magnificat - Kidung pujian Maria!"
Inilah salah satu judul buku terbaru saya yang diterbitkan Kanisius (2015), berisi aneka ria “magnificat”, puja dan puji dari para kudus kepada Bunda Maria. Pastinya, bersama dengan peringatan “Hari Ibu”, Maria, “Ibu Kita Semua”, mengakui dahaganya akan keselamatan, yang memerlukan Kristus sebagai "Juruselamat".

Magnificat Ibu Maria ini sendiri mirip dengan madah Hana, Ibu Samuel (1Sam 2:1-10). Kecuali kesamaan kalau ditinjau dari segi seni sastra, ada dua pokok utama yang sama, bahwa orang “KLMTD” – “Kecil Lemah Miskin Tersingkir dan Disable” ditolong dan diperHATIKAN Allah serta Israel merupakan bangsa yang disertai Allah (Ul 7:6), semenjak Abraham diberi janji oleh Allah (Kej 15:1; 17:1).


Pastinya, madah "magnificat" ini mengajak kita semakin ber-"tribute” kepada para ibu kita, terlebih kepada Ibu Maria, "Ibu Kita Semua”, dengan tiga pola hati, antara lain:

1.Suka hati:
Inilah luapan kegembiraan dan syukur hati Maria atas rahmat Allah baginya, yaitu menjadi ibu Penebus ("Jiwaku memuliakan Tuhan, hatiku bergembira karna Allah juruselamatku").

2.Rendah hati:
Maria menyadari diri sebagai hamba-Nya (Yun: “doule”, seorang budak perempuan).
Inilah keutamaan khas Maria yang siap dibentuk, yang "MAu Rendahhati Ikut Allah."

3.Sepenuh hati:
Maria sadar bahwa Allah telah melakukan pelbagai perbuatan besar dengan sepenuh hati. Itu sebabnya, ia juga mentaati perintahNya sepenuh hati, yang dalam bahasa populer bisa dibahasakan sebagai sebuah ajakan iman:

Saat sulit - carilah Tuhan.
Saat hening - sembahlah Tuhan.
Saat menyakitkan - berharaplah dan percayakanlah diri pada Tuhan.
Setiap saat - berterima kasihlah pada Tuhan.
"Dari Surabaya ke Sukabumi-
Bunda Maria doakanlah kami."

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh
Pin HIK: 7EDF44CE/54E255C0.


NB :

1. Holy Feast
Novena Kanak Kanak Yesus/
Novena Ayam Berkokok
Rabu 23 Des, 05.00 - 06.00
@ Gereja St. Kristoforus
Grogol - Jkt


2. St. Efrem (306-373): 
Maria mewartakan kerajaan yang baru
“Maria menunjukkan kepada Elisabeth apa yang dikatakan malaikat kepadanya secara rahasia, dan untuk itu dia disebut berbahagia karena Dia percaya pada pemenuhan nubuat dan pengajaran yang didengarnya (Luk 1,46-55). Kemudian, atas apa yang didingarnya dari malaikat dan Elisabeth, Maria berseru: "Jiwaku memuliakan Tuhan". Elisabeth berkata: "Terberkatilah engkau yang telah percaya" dan Maria menjawan: "Mulai sekarang, segala keturunan akan menyebut aku terberkati". Kemudian, Maria mulai mewartakan kerajaan yang baru. "Dia pulang ke rumah tiga bulan sesudahnya" sehingga Tuhan yang sedang dia kandung tidak akan mulai melayani sebelum hamba-Nya (Yohanes memulainya). Dia pulang kepada suaminya untuk menjelaskan apa yang terjadi." (excerpt from COMMENTARY ON TATIAN’S DIATESSARON 1.28)


3. Maria sungguh “ber-magnificat – bergembira”, sebab ia mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Bicara soal gembira, ada pelbagai macam kata yang bisa menyertainya: ada kabar gembira, ada susu soda gembira, ada lagu rohani dengan judul ”Dengan Gembira”, ada Villa Gembira di Bali, ada Wisma Gembira di Surabaya, ada jalan Gembira di Malaysia, ada panggung gembira di Trans TV, ada malam gembira di Ancol. Ada Kebun Binatang Gembira Loka di daerah Yogyakarta dan sebagainya.

Di lain matra, ada sebuah kisah tentang Jorge, salah satu tokoh antagonis dalam novel terkenal Umberto Eco, “The Name of the Rose”. Jorge adalah seorang rahib tua penjaga perpustakaan. Ia menemukan sebuah buku kuno yang membahas soal rasa gembira, dalam hal ini tertawa, dan mengajukan pendapat bahwa Allah itu tertawa dan bergembira ria. Bagi Jorge buku karangan Aristoteles ini amat berbahaya, bahkan menghujat Allah. Katanya,“Tertawa dan bergembira ria adalah kelemahan, pengrusakan, ketololan dari daging kita … tetapi dalam buku ini fungsi tertawa dan bergembira ria dibalik, dinaikkan derajadnya menjadi seni, pintu-pintu pengetahuan kita membuka ke arahnya, dijadikan pembicaraan filsafat, teologi yang bersifat durhaka …”

Meski demikian, sebagai pustakawan sejati, Jorge tidak tega membakar buku itu. Maka ia melumurinya dengan racun, sehingga siapa saja yang menemukan dan membacanya akan mati. Ia melakukan hal ini dengan tujuan mulia: melindungi para rahib lain dari ‘kejahatan’ tertawa dan gembira ria. Bagi Jorge, tertawa dan gembira ria membuat orang jahat lupa akan rasa takut dan menganggap sepi hukuman Allah. Apa jadinya kalau manusia tidak lagi takut pada neraka? Benarkah pandangan ini? Pandangan macam ini menyiratkan gagasan lain bahwa Allah dan manusia tidak mungkin berhubungan sebagai sahabat yang dapat saling bercanda dan bergembira ria. Padahal, dalam iman kita, Allah begitu dekat, dia bisa lahir lewat sebuah keluarga Nazaret, Yosef dan Maria, sehingga bukan tidak mungkin kedekatan itu terungkap dalam humor, canda, dan tawa yang penuh gembira. Bahkan tertawa dan gembira ria justru dapat semakin mengakrabkan kita dengan Allah, bukan?
Maka, kalau ternyata begitu baiknya rasa gembira, apa makna yang terkandung dalam kata gembira? Gembira bagi saya berarti, Gemakan Tuhan, Binasakan Setan dan Rayakan Iman.

1.GEM-akan Tuhan: 
Tuhan datang sebagai orang yang peduli, tapi sekaligus rendah hati: Bartimeus yang buta dibuat melihat, Zakeus yang kesepian dibuat bersukacita, Magdalena yang dibenci dibuat hangat, Lazarus yang mati dibuat hidup lagi. Yang lapar dikenyangkan, yang haus dipuaskan, yang kusta ditahirkan, yang tuli dibuat mendengar, yang lumpuh dibuat berjalan. Kita sendiri bisa melihat usaha Maria untuk gemakan Tuhan, dari kisah Kabar Sukacita. Ketika malaikat menampakkan diri dan memaklumkan kepadanya kehendak Allah, sebenarnya lewat perkataan dalam Lukas 1:39: “Aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu itu”, Maria menggemakan empat sifat ilahi Tuhan, al: “kerendahan hati, kekuatan iman, ketaatan dan kemurnian hidup”. Disinilah, seperti Maria, sebetulnya hidup kitapun adalah undangan untuk mau belajar gemakan Tuhan juga.
Mungkin barisan lirik ini bisa mengajak kita belajar setia menggemakan Tuhan:
“Sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara. Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan. Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau istrimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup. Sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga. Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya. Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan. Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh - Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama. Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para pengangguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu. Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan. Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini. Hidup sebenarnya adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu dengan setia gemakan Tuhan.

2.BI-nasakan setan: 
Mungkin orang bertanya, mengapa Yesus kadang tampaknya meremehkan kehormatan dan hak istimewa Maria? Ketika perempuan itu mengatakan, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau”, dst. Yesus sesungguhnya menjawab, “Ya.” Tetapi, Yesus mengatakan, “Yang berbahagia ialah ...”. Dan dalam suatu peristiwa lain, ketika orang memberitahukan kepada-Nya bahwa ibu-Nya dan saudara-saudaranya berusaha menemui Dia, Yesus menjawab “Siapa ibu-Ku?” dst. Dan di masa yang lebih awal, ketika Yesus mengadakan mukjizatNya yang pertama di mana Bunda-Nya mengatakan kepada-Nya bahwa para tamu dalam perjamuan nikah kekurangan anggur, Ia mengatakan: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan? Saat-Ku belum tiba.” Ayat-ayat ini sepertinya merupakan perkataan yang dingin terhadap Bunda Perawan, dan bisa jadi membuat Maria marah. Tapi apa yang terjadi, Maria menyimpan semuanya dan merenungkannya dalam hatiNya. Bukankah ini sebagai sebuah usaha nyata binasakan setan?
Setan sendiri adalah salah satu dari tujuh roh jahat (Ada tujuh roh jahat, malaikat neraka, yang ada dan berdiam dalam hati setiap pendosa. Mereka itu, al: Lucifer untuk orang yang sombong. Mamon untuk orang yang tamak dan mata duitan. Asmodeus untuk orang yang jatuh pada kejahatan seksual. Beelzebul untuk orang yang rakus-serakah. Leviathan buat orang yang mudah iri hati. Belphegore untuk orang yang suka malas. Satan sendiri untuk orang yang mudah marah).

3.RA-yakan iman: 
Mengacu pada pandangan para Bapa Gereja, bahwa Bunda Maria setia merayakan iman, karena ia bergembira dalam dua hal, yakni: Ia bergembira karena menjadi Bunda-Nya; serta ia bergembira karena dipenuhi dengan semangat iman dan ketaatan. St Agustinus mengatakan, “Bunda Maria bergembira dalam menerima iman Kristus, juga dalam menerima daging Kristus.” Serupa dengan itu, St Elisabet mengatakan kepada Bunda Maria saat kunjungannya, “Beata es quee credidisti - bergembiralah ia, yang telah percaya”. Kisah lawatan Maria ke rumah saudarinya Elisabet yang memuncak pada kidung Magnificat juga menunjukkan figur Maria yang setia rayakan iman. Kidung ini sendiri sesungguhnya merupakan nyanyian pujian kegembiraan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Lihatlah Lukas 1:46-56, “Semua bangsa akan menyebut aku bahagia”).

Disinilah, saya tampilkan sebuah puisi terakhir St. Theresia yang ingin juga merayakan imannya bersama Maria. Ia menulisnya secara utuh, Mei 1894:
Saat aku memandangimu dalam seluruh kemuliaanmu mengatasi kemilau dari semua orang kudus hampir-hampir aku tak percaya bahwa aku anakmu. 
Oh Maria, di hadapanmu aku ingin menundukkan mataku...
Oh Bundaku tercinta, dipantai pengasingan ini
Betapa banyak air matamu yang tercurah ketika Engkau mau merengkuhku kepadamu Saat merenungkan kisah hidupmu dalam Injil.
Aku memberanikan diri memandangmu dan mendekatkan diri padamu Tidaklah sulit bagiku untuk menyakinibahwa aku anakmu karena aku melihatmu sebagai manusia yang menderita sebagimana aku juga. 
Oh Perawan suci yang tak bernoda Ibu yang paling lemah lembut 
Saat mendengarkan Yesus, engkau berduka malah engkau bahagia manakala Dia mampu memahami kami
Betapa jiwa kami telah menjadi keluarganya didunia ini 
Ya, engkau bahagia karena Dia memberikan hidup-Nya untuk kami. 
Harta tak terperi dari keahlian-Nya.
Bagaimana mungkin kami tidak mencintaimu, Oh Bundaku tercinta menyaksikan sedemikian besar cintamu dan kerendahan hatimu.
Aku tak lagi takut akan kemilau kemuliaanmu Bersamamu aku telah ikut menderita, dan sekarang aku ingin bermadah dipangkuanmu, Maria mengapa aku mencintaimu dan senantiasa berucap bahwa aku anakmu...”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar