Ads 468x60px

Siao Min


Namaku Siao Min. Tahun itu, seorang lelaki mendadak muncul memberi warna dalam hidupku, tampangnya tidak seberapa, namanya Siao Cien. Secara perlahan, aku bersahabat denganya, dan mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut. Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman. Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku: "Aku telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi tetapi di Amerika, dan aku tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah ?"

Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, aku mengangguk. Oleh karena itu sehari sesudah hari wisuda, hari itulah merupakan hari pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah tempat yang jauh, sebuah negara yang kerap disebut negeri Paman Sam. Aku juga mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 09.00 hingga jam 17.00. Telepon interlokal merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan. 

Air penyejuk


Suatu hari Sang Khalik memanggil Air dan bersabda, ‘Hai Air, ciptaanku, maukah kau berbuat sesuatu yang sulit tapi amat bermanfaat, bagiKu?’. ‘Silahkan, Tuhan’, sahut Air.

‘Begini’, kata Tuhan, ‘Lihat di seberang gurun disana ada tanah yang amat memerlukan air. Pergilah kesana dan buatlah tanah itu subur.’ ‘Maaf, Tuhan, untuk pergi kesana aku harus lewat gunung, karang, jurang dan gurun. Apa aku bisa?’ Tuhan tak menyahut. 

Hari Ayah



Hari ini “Hari Ayah”, setiap anak, termasuk Cica diharapkan membawa ayahnya ke sekolah. Tapi mamanya mencoba menerangkan, mungkin sebaiknya Cica tinggal di rumah. Sebab anak-anak yang lain mungkin tak bisa mengerti, bila Cica datang ke sekolah sendiri. Namun Cica tak takut, ia sudah tahu apa yang mau dikatakan. Apa yang harus diceritakan pada teman-temannya sekelasnya, mengapa papanya tak hadir hari ini. 

Sesampai di kelas, satu per satu gurunya memanggil setiap murid untuk memperkenalkan sang ayah. Waktu perlahan berlalu dan akhirnya guru memanggil Cica, tiap anak berbalik melongok. Masing-masing ikut giat mencari-cari, seorang pria yang tak hadir di sana. 

Surga & Neraka


Alkisah, adalah seorang pertapa yang sudah begitu suci sehingga Allah memperbolehkan pertapa itu untuk melihat-lihat surga dan neraka lebih dahulu sebelum ia meninggal. Di neraka, ia terkejut karena ternyata neraka itu tampak penuh kemilau kemewahan dan kenikmatan. Semua orang berpakaian bagus-bagus. Makanan terlezat tersedia di setiap meja. Kemudian ia dibawa malaikat ke surga. Ia terkejut lagi karena menyaksikan pemandangan yang sama. Lah, dia pikir, apa bedanya surga dan neraka?