skip to main |
skip to sidebar
Namaku Siao Min. Tahun itu,
seorang lelaki mendadak muncul memberi warna dalam hidupku, tampangnya tidak
seberapa, namanya Siao Cien. Secara perlahan, aku bersahabat denganya, dan
mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut. Hari
berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin menguat,
dan juga mendapat dukungan dari teman-teman. Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku: "Aku
telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi tetapi di Amerika, dan aku
tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah ?"
Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas
kepergiannya, aku mengangguk. Oleh karena itu sehari sesudah hari wisuda, hari
itulah merupakan hari pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa
lama, bersamaan dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia
menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah tempat yang jauh, sebuah negara yang
kerap disebut negeri Paman Sam. Aku juga mendapatkan sebuah pekerjaan yang
bagus, memulai hari bekerja dari jam 09.00 hingga jam 17.00. Telepon interlokal
merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan.
Suatu hari Sang Khalik
memanggil Air dan bersabda, ‘Hai Air, ciptaanku, maukah kau berbuat sesuatu
yang sulit tapi amat bermanfaat, bagiKu?’. ‘Silahkan, Tuhan’, sahut Air.
‘Begini’, kata
Tuhan, ‘Lihat di seberang gurun disana ada tanah yang amat memerlukan air.
Pergilah kesana dan buatlah tanah itu subur.’ ‘Maaf, Tuhan, untuk pergi kesana
aku harus lewat gunung, karang, jurang dan gurun. Apa aku bisa?’ Tuhan tak menyahut.
Hari ini “Hari Ayah”, setiap anak, termasuk Cica
diharapkan membawa ayahnya ke sekolah. Tapi mamanya mencoba menerangkan,
mungkin sebaiknya Cica tinggal di rumah. Sebab anak-anak yang lain mungkin tak
bisa mengerti, bila Cica datang ke sekolah sendiri. Namun Cica tak takut, ia
sudah tahu apa yang mau dikatakan. Apa yang harus diceritakan pada
teman-temannya sekelasnya, mengapa papanya tak hadir hari ini.
Sesampai di kelas, satu per satu gurunya memanggil
setiap murid untuk memperkenalkan sang ayah. Waktu perlahan berlalu dan
akhirnya guru memanggil Cica, tiap anak berbalik melongok. Masing-masing ikut
giat mencari-cari, seorang pria yang tak hadir di sana.
Alkisah, adalah seorang
pertapa yang sudah begitu suci sehingga Allah memperbolehkan pertapa itu untuk
melihat-lihat surga dan neraka lebih dahulu sebelum ia meninggal. Di neraka, ia
terkejut karena ternyata neraka itu tampak penuh kemilau kemewahan dan
kenikmatan. Semua orang berpakaian bagus-bagus. Makanan terlezat tersedia di
setiap meja. Kemudian ia dibawa malaikat ke surga. Ia terkejut lagi karena menyaksikan pemandangan yang sama. Lah, dia pikir, apa bedanya
surga dan neraka?